0123456737589843138 72 894 04 8

advertisement
83
0123456737589843138
72894
0
48
728483
30!"#
!$%&$8"
'()*+,-./'()+01+.+)/2+34-/5(,0()4+67/8(9+3/'+97/9()*+)/:+;+)*
<6;(,*7=-6/>7*(,/4(,.+9+;/:+)9-)*+)/?7)(,+=/:+=67-0@/5(,,-0/9+)
?+*)(67-0
A$BCD91E&D$E4B$D3$"&E
FG HFI
'()*+,-./;J/9+)/K+0+/5(,0()4+67/L=(./M)N70/O(=-=L6(/9+=+0/',L6(6
J79,L=7676/-)4-3/?()7)*3+43+)/>7=+7/P7N7/MQ()*/PL)9L3
B$E
FR HGS
'()*+,-./'(0+3+7+)/?7)T+3/U+*-)*4(,.+9+;/'L=+/K(0+3/8+,+.
:(=7)Q7
VE
GW HGX
'()*+,-./'(01(,7+)/Y,7)/O+;7;+9+/Z(,1+*+7/:L)6()4,+679+)/K+0+
'(,()9+0+)/Z()7./O()4,L/[\()4,L6(0+/'-1(6Q()6]4(,.+9+;/8+T+
:(Q+01+.@/^7*L,74+69+)/Z(,+4/:(,7)*/_+)+0+)
`$a$D
Gb HSI
O4-97/'()*+,-./:(,-6+3+)/Z(4+H:+,L4()9+=+0/'(=+,-4/J(36+)+@/<6(4L)
9+)/?(4+)L=6(,4+/_+);+/'(=+,-49+=+0/Y9+,+/_(,1-3+
!$B2"cd"&
SR HSX
e9()47f73+67/5-)*7/?73L,7N+/<,1-63-=+,/[5?<]97/J-4+)/K7)9-)*
?+)*,Lg(/'+)*3+=/Z+1-/:+1-;+4()/_+)h-)*/U+1-)*/Z+,+4/U+017
3"$E&2c6"i&$"$9$ED$EV$a$B
Sb HWI
^L=-0(/<017)*/9+)/ZL1L4/Z+9+)/<)+3/:+017)*/'(,+)+3+)/M4+j+.
6(1+*+7/k(6;L)/'(01(,7+)/5OJ/9+)/'?OP
4D$ED$Ei$l
WR HIS
e9()47f73+67/U()769+)/'(,1+)T+3+)/M)9L073L,7N+/KL3+=97/J-4+)
:+0;-6/Y)7g(,674+6/U+017
2c6"i&$"$9$E3"$E&D$E4#$CD
IW HIm
Mg+=-+67/?-4-/P+1+./'+97/KL3+=/'+6+)*/O-,-4/<6+=/:(Q+0+4+)/_-)*3+=
e=7,/:+1-;+4()/_+)h-)*/U+1-)*/Z+,+4
4CE"
In HRF
e9()47f73+67/?-4-/Z(,+69+,7/'+97/KL3+=/'+6+)*/O-,-4/<6+=/:(Q+0+4+)
'()*+1-+)/:+1-;+4()/_+)h-)*/U+1-)*/Z+,+4
`&C9$%a
RG HRX
<)+=7676/8+)/:+,+34(,76+67/O()T+j+/<=3+=L79/8+,7/_+)+0+)/:7)+
[\.7)Q.L)+/=(9*(,7+)+]
3%a$0BE
Ib HmI
6D$E6E"$E
Volume 14, Nomor 2, Hal. 35-42
Juli – Desember 2012
ISSN 0852-8349
VOLUME AMBING DAN BOBOT BADAN ANAK KAMBING PERANAKAN
ETAWAH SEBAGAI RESPON PEMBERIAN FSH DAN PMSG
Adriani dan Suparjo
Fakultas Peternakan Universitas Jambi
[email protected]
Abstrak
Telah digunakan sebanyak 15 ekor kambing Peranakan Etawah dara (BB 17-24 kg) untuk
melihat volume ambing pada saat kebuntingan , bobot lahir anak dan liter size sebagai respon
pemberian FSH dan PMSG. Rancangan acak kelompok telah digunakan dengan 3 perlakuan yaitu
P0= kontrol, P1= 1 ml FSH/kg BB, dan P3= IU/kg PMSG BB. Kambing percobaan dipelihara pada
kandang individu, sementara ransum yang diberikan berupa rumput alam dan konsentrat sesuai
kebutuhan. Sinkronisasi birahi menggunakan PGF2α dengan 2 kali penyuntikan interval 11 hari.
Dua puluh empat jam kemudian kambing yang mendapat perlakuan hormon disuntik dengan 1
mg/kg BB FSH dan 15 IU/kg BB PMSG. Dua belas jam kemudian dilakukan deteksi birahi
menggunakan pejantan. Kambing percobaan dikawinkan secara alami sebanyak 2 kali yaitu pada
10 jam birahi terlihat dan 10 jam berikutnya untuk mendapatkan kebutingan yang optimal. Pada
2/3 kebuntingan dilakukan pengukuran volume ambing sampai beranak. Untuk menentukan
performan anak yang dilahirkan, dilakukan penimbangan bobot lahir paling lama 24 jam setelah
lahir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing yang birahi setelah mendapat perlakuan
FSH dan PMSG sebanyak 14 ekor (93.3%) dan hanya 1 ekor kambing tidak mengalami birahi
(7,7%). Rataan volume ambing pada minggu ke-12 kebuntingan 266.3 cm3. Rataan volume
ambing akhir kebuntingan 1441.7 cm3 dan rataan pertambahan volume ambing 616.3 cm3.
Jumlah anak sekelahiran nyata lebih tinggi pada perlakuan FSH dan PMSG (0.25%)
dibandingkan kontrol, serta jumlah anak sekelahiran nyata lebih tinggi pada perlakuan FSH 28%
dan PMSG 29% dibanbanding kontrol . Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian hormon
FSH dan PMSG menghasilkan pertumbuhan volume ambing yang baik selama bunting, dengan
bobot dan jumlah anak yang meningkat pada saat dilahirkan dibandingkan dengan control.
Kata kunci : kambing Peranakan Etawah, FSH, PMSG, bobot lahir
PENDAHULUAN
Secara umum kambing Peranakan Etawah
merupakan kambing yang sudah berkembang
di Indonesia sebagai penghasil susu dan
daging. Potensi kambing Peranakan Etawah
(PE) sebagai penghasil daging (anak) dan
susu sudah banyak dilaporkan oleh beberapa
peneliti, tetapi produktivitasnya masih sangat
beragam. Kondisi ini karena sudah banyaknya
hasil persilangan keturanan kambing tanpa
recording. Produksi susu berkisar 0.45–2.2
kg/ekor/hari (Obst dan Napitupulu, 1984;
Adriani et al. 2003). Disisi lain kambing PE
berpotensi untuk beranak kembar, dengan
jumlah anak per kelahiran 1.53 ekor (Setiadi
dan Sitorus, 1986; Yulistiani et al., 1999).
Tentunya ini merupakan suatu potensi yang
sangat baik untuk dapat meningkatkan
produktivitas kambing PE baik dari segi
menghasilkan anak maupun menghasilkan
susu. Namun dalam pengembangannya masih
terbentur pada rendahnya jumlah anak per
kelahiran, terutama untuk kambing dara
(Sutama et al., 1995), atau masih tingginya
tingkat kematian anak terutama yang lahir
kembar (Adriani, et al., 2004a) dan masih
rendahnya produksi susu yang dihasilkan
(Thahar et al., 1996). Salah satu cara yang
diduga bisa meningkatkan produktivitas
kambing lokal dalam meningkatkan jumlah
anak dan produksi susu dengan peningkatan
35
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains
sekresi hormon mammogenik (estrogen,
progesteron) melalui pemberian hormon
secara eksogen.
Perlakuan hormon eksogen bisa dilakukan
dengan pemberian gonadotropin seperti
Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan
Pregnant Mare Serum Gonadotrophin
(PMSG) (Guiltbault et al, 1992; Bo et al,
1998). Pemakaian PMSG mempunyai
kelemahan yaitu waktu paruh PMSG yang
lama (5-6 hari) dan kehadiran PMSG dalam
sirkulasi darah setelah ovulasi berpengaruh
negatif terhadap embrio. Namun dari segi
harga relatif lebih murah. Sementara hormon
FSH mempunyai waktu paruh lebih pendek
(2–5 jam) sehingga harus diberikan beberapa
kali, selain itu harganya lebih mahal, tetapi
menghasilkan embrio lebih banyak dan
kualitas embrio yang dipanen pada sapi lebih
baik (Adriani, et al. 2009; Chandra et al,
1996; Arreseigor et al, 1998).
Proses diferensiasi embrio menjadi fetus
dipengaruhi
lingkungan
biologis
dan
hormonal di dalam kandungan. Keadaan
uterus yang baik diciptakan oleh kecukupan
hormon yang dihasilkan oleh ovarium.
Estrogen dan progesteron berperan dalam
pembuka kunci perkembangan embrio di
dalam uterus dan plasenta (Fowden, 1995).
Kedua hormon tersebut sangat berperan dalam
mengatur pertumbuhan kelenjar uterus dan
plasenta yang selanjutnya menghasilkan
hormon dan faktor pertumbuhan fetus
(Robinson et al., 1995). Kondisi ini akan
mempengaruhi pertumbuhan anak kambing
setelah lahir terutama bobot lahir.
Hormon estrogen akan meningkat karena
banyaknya folikel yang tumbuh akibat
pemberian PMSG dan FSH yang dapat
merangsang percabangan dan perpanjangan
duktus alveoli kelanjar ambing (Anderson,
1985; Wahab dan Anderson, 1989). Semakin
banyak terjadi ovulasi maka semakin tinggi
hormon progesteron yang dihasilkan (Turner
dan Bagnara, 1976). Sementara pada kelenjar
ambing akan meningkatkan percabangan
saluran kelenjar ambing dan pembentukan
lobul alveolar (Schmidt, 1971) dan dinatu
oleh hormon laktogen plasenta (Cowie et al.,
1980). Peningkatan hormon kebuntingan ini
36
tersebut bertanggung jawab atas pengendalian
pertumbuhan kelenjar ambing selama bunting
(Turner dan Bagnara, 1976). Dinama 80%
pertumbuhan ambing terjadi saat bunting (
Anderson, 1985).
Selama ini penelitian pemberian hormon
eksogen lebih banyak ditujukan untuk
meningkatkan ovulasi dan menghasilkan
anak. Sementara usaha untuk meningkatkan
produksi susu dilakukan pada saat laktasi
tanpa melihat pertumbuhan sel selama
kebuntingan. Padahal peningkatan sekresi
hormon estrogen dan progesteron selama
kebuntingan (Manalu et al., 1999; Manalu et
al., 2000a; Resolvon et a., 2007) memegang
peran utama untuk pertumbuhan sel kelenjar
ambing (Manalu dan Sumaryadi, 1998a).
Dengan banyaknya sel kelenjar ambing yang
tubuh, maka banyak sel yang siap
memproduksi susu pada saat laktasi.
Penelitian ini mencoba mengkombinasikan
sifat prolifit yang sudah ada pada kambing
dengan pertumbuhan ambing.
Kesederhanaan teknik yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah pemberian hormon
FSH dan PMSG hanya diberikan satu kali
pada awal kebuntingan pertama sehingga
ekspresi genetik kambing yang dihasilkan
dimodifikasi dalam kandungan melalui
perangsangan
hormon
endogen
yang
dihasilkan induk itu sendiri, diharapkan dapat
meningkatkan
kelahiran
kembar,
peningkatanbobot lahit dan pertumbuhan
ambing yang baik
METODE PENELITIAN
Ternak yang digunakan dalam percobaan
ini adalah kambing PE betina siap kawin
sebanyak 15 ekor. Kambing dipelihara dalam
kandang individu selama 7 bulan yang
dilengkapi tempat pakan dan minum.
Kambing PE percobaan diacak dalam suatu
rancangan acak kelompok dengan 5 ulangan.
Perlakuan terdiri atas kontrol (P0), pemberian
1 mg/kg BB FSH (foliclce stimulating
hormone) (P1) dan pemberian 15 IU/kg BB
PMSG (pregnant mare serum gonadotropin)
(P2). Kambing dipeliharaan sampai akhir
kebuntingan (saat beranak), Selama bunting
Adriani dan Suparjo : Volume Ambing dan Bobot Badan Anak Kambing Peranakan Etawah
sebagai Respon Pemberian FSH Dan PMSG
dilihat pertumbuhan ambing dan setelah
beranak dilihat jumlah anak yang dilahirkan
beserta bobot badan anak
Sebelum kambing diberi pelakuan, maka
kambing percobaan diadaptasikan dengan
pakan dan kandang selama 1 bulan. Sebelum
kambing dikawinkan dilakukan sinkronisasi
birahi menggunakan PGF2α dengan 2 kali
penyuntikan dengan interval 11 hari. Dua
puluh empat jam kemudian kambing yang
mendapat perlakuan disuntik dengan 1 mg/kg
bobot badan FSH dan 15 IU/kg bobot badan
PMSG. Dua belas jam kemudian dilakukan
deteksi birahi dengan menggunakan pejantan.
Kambing perbobaan dikawinkan secara alami
sebanyak 2 kali yaitu pada 10 jam setelah
tanda-tanda birahi terlihat dan 10 jam
kemudian untuk mendapatkan angka fertilitas
optimal.
Kambing
yang
sudah
dikawinkan
dipelihara pada kandang individu yang
dilengkapi dengan tempat pakan dan minum.
Ransum yang diberikan disesuaikan dengan
kebutuhan kambing yang terdiri atas hijauan
dan konsentrat. Selama bunting dilakukan
pengukuran pertumbuhan ambing mulai
kebuntingan minggu ke-12 sampai beranak.
Setelah anak lahir maka diukur berat lahir
anak dan jumlah anak yang dihasilkan.
Peubah yang diukur pada penelitian ini
adalah birahi kambing, kambing bunting,
volume ambing, berat lahir, jumlah anak
sekelahiran serta imbangan anak jantan dan
betina.
Pertumbuhan kelenjar ambing pada saat
kebuntingan ditentukan dengan pengukuran
volume ambing menggunakan metode Linzell
(1965) yaitu dengan mencelupkan ambing ke
dalam takaran plastik yang berisi air penuh
dengan kapasitas 2,5 liter dan ketelitian 10 ml.
Jumlah air yang terbuang karena pencelupan
ambing dihitung sebagai volume ambing
dalam cm3. Pengamatan volume ambing
dilakukan sekali dalam satu minggu mulai
dari minggu ke-12 kebuntingan sampai
dengan akhir kebuntingan.
Berat lahir anak ditenatukan paling lama
24 jam setelah anak lahir, sementara jumlah
anak dilihat dari berapa ekor anak yang
dilahirkan induk dalam satu kali kelahiran.
Data dinalisis sesuai dengan rancangan
percobaan yang dipakai. dan keragaman
semua data yang dikumpulkan, serta pengaruh
perlakuan FSH dan PMSG. Jika terdapat
perbedaan maka
dilanjutkan dengan uji
Duncant (Steel dan Torrie, 1991).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Birahi dan Kebuntigan Kambing Peranakan
Etawah
Setelah perlakuan sinkronisasi birahi
menggunakan PGF2α dan dan pemberian
hormon FSH dan PMSG, maka didapatkan
kambing yang mengalami birahi
dan
kambing bunting seperti Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Kambing Birahi dan Kambing
Bunting
Berdasarkan
Perlakuan
Pemberian Hormon FSH dan PMSG
Parameter
Perlakuan
Jumlah
Kontrol FSH PMSG
Kambing
4
5
5
14
Birahi
(Ekor)
Kambing
4
4
5
13
Bunting
(Ekor)
Rataan Kambing yang birahi setelah
mendapat perlakuan hormon secara eksogen
baik melalui sinkronisasi birahi dan ovulasi
super didapatkan sebanyak 14 ekor kambing
(93.3%) dan hanya 1 ekor sapi yang tidak
mengalami birahi (7,7%). Hasil ini lebih baik
daripada penelitian adriani et al. (2004a) pada
kambing
Peranakan
Etawah
yang
mendapatkan kambing birahi sebesar 88.2%
setelah sinkronisasi birahi menggunakan
intravaginal sponge yang mengandung 60
mg medroxyprogesterone acetate selama 14
hari. Hasil ini juga relatif sama dengan
penelitian pada sapi Brahman Cross dan Sapi
Simbrah yang mendapatkan sapi birahi
sebanyak 95% sebagai respon pemberian
hormon eksogen (Adriani et al., 2007: Adriani
et al., 2009). Berada dalam kisaran penelitian
lainnya yaitu keberhasilan birahi pada sapi
Eropa antara 62.5–100% (McMillan et al.,
1980; Pazaran, 1989).
Kambing bunting dari penelitian ini
sebanyak 13 ekor (86.7%), ini ditandai
37
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains
dengan tidak datangnya birahi berikutnya
selama 2 periode birahi. Hasil penelitian ini
relatif sama dengan hasil penelitian pada
kambing yang disuperovulasi menggunakan
PMSG menghasilkan kebuntingan sebanyak
78% (Adriani et al., 2004b).
Volume Kelenjar Ambing Akhir Kebuntingan
Volume kelenjar ambing kambing selama
bunting merupakan indikator pertumbuhan
dan perkembangan kelenkar ambing. Rataan
volume ambing kambing Peranakan Etawah
mulai pada kebuntingan minggu ke-12 sampai
beranak disajikan pada disajikan pada Tabel
2.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
perlakuan pemberian hormon FSH dan PMSG
sangat nyata meningkatkan volume ambing
kambing minggu ke-12 kebuntingan, pada
akhir kebuntingan (saat beranak) dan
pertambahan volume ambing slama bunting
(P<0.01) dibadingkan dengan kontrol.
Sementara antara perlakuan hormon FSH dan
PMSG tidak berbeda secara statistik, namun
ada kecenderungan bahwa pemebrian hormon
PMSG menghasilkan volume ambing yang
lebih baik daripada FSH sebesar 0.05%
(0.85 v 0.89).
Rataan volume ambing pada minggu ke-12
kebuntingan adalah sebesar 266.3 cm3,
dengan kisaran antara 150–370 cm3. Rataan
volume ambing pada akhir kebuntingan
adalah 1441.7 cm3, dengan rataan antara 650
– 2300 cm3. Volume ambing ini lebih rendah
dari penelitian Adriani et al., (2003) yang
mendapatkan volume ambing kambing pada
akhir kebuntingan sebesar 1854.2 cm3/ekor,
dengan
peningkatan
sebesar
66,4%
dibandingkan kambing tanpa pemberian
hormone PMSG. Peningkatan volume ambing
diduga karena terjadi pertumbuhan ambing
yang pesat terutama pasa sistem saluran,
sistem percabangan maupun perbanyakan selsel epitel akibat dari peningkatan stimulus
hormone estrogen,
progesteron maupun
laktogen plasenta pada saat kebuntingan.
Menurut Sujatmogo et al. (2001) bahwa
perlakuan superovulasi pada sapi
dapat
meningkatkan volume ambing
sapi
Peranakan Fries Holland sebesar 52,6%.
Rataan pertambahan volume ambing
kambing Peranakan Etawah sebesar 616.3
cm3, dengan kisaran antara 440–869 cm3.
Rataan volume kelenjar ambing kambing PE
yang didapat pada penelitian ini relatif sama
dengan penelitian Adriani et al. (2003) bahwa
pertambahan volume ambing kambing
Peranakan Etawah yang diberi
PMSG
sebesar 80,0% (822,9 vs 1481,3 cm3/ekor).
Pertumbuhan kelenjar ambing kambing
Perankan Etawah lebih baik terjadi pada
perlakuan hormon PMSG dan FSH, dimana
sampai minggu keempat belas kebuntingan
pertumbuhan kelenjar ambing hampir sama,
tetapi setelah minggu kelimabelas mulai
memperlihatkan pertumbuhan yang lebih
pesat dibandingan kontrol. Kondisi ini diduga
karena hormon-hormon reproduksi pada
kambing yang mendapatkan pemberian
hormon PMSG dan FSH menghasilkan corpus
luteum yang lebih banyak dibandingkan
kontrol, sehingga kehadiran progesterone
yang dihasilkan corpus luteum juga lebih
tinggi.
Hormon
progrsteron
selama
kebntingan
bertangung
jawab
untuk
memelihara kebuntingan dan memacu
pertumbuhan lobul alveoli dari kelenjar
ambing kambing (Manalu et al., 1998;
Adriani et al., 2003). Sehingga semakin
banyak progesterone yang dihasilkan maka
semakin tinggi pertumbuhan sel ambing
selama bunting.
Tabel 2. Volume Kelenjar Ambing Kambing Peranakan Etawah Minggu ke-12 Kebuntingan, Akhir
Kebuntingan dan Pertambahan Volume Kelenjar Ambing Sebagai Respon Pemberian FSH dan
PMSG
Peubah
Perlakuan
Rataan
Kontrol
FSH
PMSG
Volume
ambing
minggu
12 225.0± 57.0 a 285.0±66.9b
289.0± 77.9b
266.3± 193.8
3
kebuntingan (cm /ekor)
Volume ambing akhir kebuntingan 737.5±184.5a 1700±443.6b 1887.5±426.9b 1441.7±736.7
(cm3/ekor)
Tambahan Volume Ambing (cm3/ekor) 409.4±109.8a 643.7±226.3b 796.0±278.9b
616.3±245.6
38
Adriani dan Suparjo : Volume Ambing dan Bobot Badan Anak Kambing Peranakan Etawah
sebagai Respon Pemberian FSH Dan PMSG
Tabel 2. Rataan Jumlah Anak dan Bobot Lahir Anak Kambing Sebagi Rerpon Perlakuan FSH dan
PMSG
Perlakuan
Peubah
Rataan
Kontrol
FSH
PMSG
Rataan Jumlah Anak sekelahiran
Bobot Lahir Anak
Jenis Kelamin Anak (jantan : betina)
1,2 ±0.45a
2,72±0,57a
1:1
Jumlah dan Bobot Lahir Anak Kambing
Peranakan Etawah
Rataan jumlah anak yang dilahirkan dan
bobot lahir kambing Peranakan Etawah
beserta perbandingan jenis kelamin anak yang
dilahirkan
sebagai
respon
perlakuan
pemberian FSH dan PMSG disajikan pada
Tabel 2.
Perlakuan pemberian FSH dan PMSG
nyata meningkatkan jumlah anak sekelahiran
dan bobot lahir anak (P<0.05), namun tidak
mempengaruhi imbangan jenis kelamin
anak.
Pemberian
FSH
dan
PMSG
meningkatkan jumlah anak sekelahiran
sebesar 25% (1,2 vs 1,6) baik untuk FSH
maupun PMSG. Hasil penelitian ini relatif
sama dengan penelitian Artiningsih (1999)
bahwa kambing PE yang disuperovulasi
dengan PMSG mempunyai jumlah anak
sekelahiran 1,5, dan lebih tinggi dari hasil
penelitian tanpa pemberian PMSG yaitu 1,0
(Sutama et al., 1995). Kondisi ini diduga
karena pemberian FSH dan PMSG dapat
merangsang terjadinya ovulasi ganda,
sehingga jumlah anak yang dihasilkan juga
meningkat. Jumlah anak sekelahiran seekor
ternak bergantung pada jumlah ovum yang
diovulasikan, pembuahan dan kemampuan
hidup embrio (Hulet dan Shelton, 1987).
Subandryo et al. (1986) menyatakan bahwa
faktor yang mempengaruhi jumlah anak
sekelahiran pada kambing adalah bangsa
ternak, umur induk, nutrisi dan lingkungan
dan rangsangan hormon secara eksogen.
Pemberian hormon FSH dan PMSG juga
nyata meningkatkan bobot lahir anak
dibandingkan control (P<0.05). Pemberian
FSH meningkatkan bobot lahir anak sebesar
28% (2.72 vs 8.80) dan pemberian PMSG
sebesar 29% (2,72 vs 3.85) dibandingkan
control. Hasil ini relative sama dengan
penelitian Adriani et al. (2003) bahwa
1,6±0,55b
3,80±0,23b
1:1.7
1,6±0,55b
3,85±0,38b
1:1.7
1.5±0,52
3,46±0,63
1:1,5
pemberian PMSG pada kambing dapat
meningkatkan bobot lahir anak kambing
sebesar 36%.
KESIMPULAN
Kesimpulan
penelitian
ini
adalah
pemberian hormon
FSH dan
PMSG
menghasilkan pertumbuhan volume ambing
yang baik selama bunting, dengan bobot dan
jumlah anak yang meningkat pada saat
dilahirkan dibandingkan dengan kontrol.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan pada
DP2M DIRJEN DIKTI atas bantuan dana
penelitian sehingga penelitian ini bisa
dilakukan yang dibiayai oleh DIPA UNJA sesuai
dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian
Hibah Bersaing Nomor: 03/UN21.6/PL2012,
Tanggal 15 Februari 2012. Ucapan terima kasih
juga disampaikan kepada semua pihak yang
telah membantu sarana dan prasarana, tenaga
sehingga penelitian bisa berlangsung dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, A. Sudono, T. Sutardi, W. Manalu
dan I-K Sutama. 2003. Optimalization
of kids and milk yield of Etawah-Grade
does by superovulation and zinc
supplementation. J. Forum Pascasarjana
IPB. Vol 26(4):335-352.
Adriani, A. Sudono, T. Sutardi, W. Manalu
dan I-K Sutama. 2004a. The Effect of
Superovulation and Dietary Zinc in
Does on the Prepartum and Postpartum
Growth of Her Kids . J. Pengembangan
Peternakan Tropis. 29(4):177-183.
Adriani, I-K Sutama, A. Sudono, T. Sutardi,
dan W. Manalu. 2004b. The effects of
39
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains
superovulation prior to mating and zinc
supplementation on milk yield in
Etawah-Grade
does.
J.
Anim.
Production. 6 (2): 86-94.
Adriani, Depison, B. Rosadi, Y. Supriondo
dan Isroli. 2007. The Effect of
Superovulation on Corpus Luteum in
Simbrah cow. J. Indonesian Tropical
Animal Agriculture . 32(3): 207-212.
Adriani, B. Rosadi dan Depison 2009.
Penggunaan
Follicle
Stimulating
Hormone (FSH) dan Pregnant Mare
Serum Gonadotrophin (PMSG) Untuk
Superovulasi pada Sapi Persilangan
Brahman. J. Media Peternakan 23
(3):162-169
Anderson, R.R. 1985. Mammary Gland. In.
B.L Larson: Lactation. Iowa State
University Press. Ames. pp:3-38.
Arreseigor, C.J., A. Sisul, A.E. Arreseigor and
R.C. Stahringer. 1998. Effect of
cryoprotectant,
thawing
method,
embryo grade and breed on pregnancy
rates of cyopreserved bovine embryos.
Theriogenology 49:160 (Abst).
Artiningsih, M.N., B. Purwantara, R.K.
Achjadi and I-K. Sutama. 1996. Effect
of
Pregnant
Mare
Serum
Gonadotrophin injection on litter size
young Etawah-Cross does. J. Ilmu
Ternak dan Vet. 2(1):11-16.
Bo, G.A., H. Tribulo, M. Caccia and R.
Tribullo.
1998.
Superovulatory
response of beef heifers treated with
estradiol benzoate, progesterone and
CIDR-B
vaginal
device.
Theriogenology 49: 375 (Abst).
Chandra, R., P.C. Sanwal, A.G. Majmudar
and M.R. Ansari. 1996. Superovulation
in dairy cows: efect of GnRH
treatment. Proceeding of the Twelfth
International Congress on Animal
Reproduction (The Hague), Sydney
Cowie, A.T., I.A. Forsyth and I.C. Hart. 1980.
Hormonal Control of Lactation. Berlin
Heidelberg. New York.
Fawden A.L. 1995. Endocrine regulation of
fetal growth. In. Progres in perinatal
Physiology. Reprod. Ferli. Dev. 7:351363.
40
Guiltbault, L.A., J.G. Lussier and F. Grasso.
1992. Interrelationship of hormonal and
ovarian responses in superovulated
response heifers pretreated with FSH-P
at the beginning of the estrous cycle.
Theriogenology 37: 1027-1040.
Hulet, C.V. and M. Shelton. 1987. Sheep and
Goats. In. E.S.E. Hafez: Reproduction
in Farm Animals. 5th ed. Lea &
Febiger. Philadelphia. pp: 346-357.
Manalu, W. and M. Y. Sumaryadi. 1998a.
Maternal
serum
progesterone
concentration during pregnancy and
lamb birth weight at parturition in
Javanese Thin-Tail ewes with different
litter sizes. Small Rumin. Res. 30:163169.
Manalu. W. and M.Y. Sumaryadi. 1898b.
Maternal
serum
progesterone
concentration during gestation and
mammary
gland
growth
and
development ot parturation in Javanese
Thin-Tail ewes carrying a single or
multiple fetuses. Small Rumin. Res.
27:131-136.
Manalu, W., M.Y. Sumaryadi, Sudjatmogo,
and
A.S.
Satyaningtijas.
1999.
Mammary gland differential growth
during pregnancy in superovulated
Javanese Thin-Tail ewes. Small Rumin.
Res. 33:279-284.
Manalu. W dan Adriani. 2002. Peningkatan
ekspresi gen pertumbuhan selama fase
diferensial embrio melalui Peningkatan
sekresi estrogen dan progesteron pada
kambing
McMillan, K.L., R.I. Henry, V.K. Terife, and
P. Philips. 1990. Calving patterns in
seasonal dairy herds. New Zealand
Veterinary J. 38:151-155.
Obst, J.M. and Z. Napitupulu. 1984. Milk
yields of Indonesian goats. Proc. Austr.
Soc. Anim. Prod. 15: 501-504.
Pazaran, H.A.G. 1989. Effect of reduction
doses of PGF 2 administered into the
uterus of Holastein Frisian cows. Anim.
Bredd. Abstr. 57(4): 294.
Robinson, T.J. 1995. Reproduction in Cattle.
In. H.H Cole and P.T. Cups.
Reproduction in Domestic Animal.
Adriani dan Suparjo : Volume Ambing dan Bobot Badan Anak Kambing Peranakan Etawah
sebagai Respon Pemberian FSH Dan PMSG
Academic Press. 3 ed. New York.
pp:433-355.
Revolson AM, SH Nasution, N Kusumorini,
W Manalu. 2007. Growth and
development of the uterus and placental
of superovulated gilts. J. Hayati
Biocience.(14) 1. Abstract.
Setiadi, B. and P. Sitorus. 1986. Synchronization
of oestrus using medroxyprogesterone
acetate intravaginal sponges in goat.
Reproductive Performance. Ilmu dan
Peternakan 2:87-90.
Schmidt. G.H. 1971. Biology of Lactation.
Freeman and Company. San Francisco.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1991. Prinsip
dan Prosedur Statistika. PT. Gramedia.
Pustaka Utama. Jakarta.
Sutama,IK, IGM. Budiarsana, H. Setiyanto
and A. Priyanti. 1995. Productive and
reproductive performances of young
Etawah-cross does. J. Ilmu Ternak dan
Vet. 1(2):81-85.
Sujatmogo, B. Utomo, Subhiarta, W. Manalu
dan Ramelan. 2001. Milk production
and mammary gland differential growth
as affected by pregnant mare serum
gonadotrophin injection on mating
program of Holstein Friesien cows. J.
Trop. Anim. Dev. 26(1):8-13.
Thahar, A., E. Juarini, A. Priyanti, D. Priyanto
dan B. Wibowo. 1996. Usaha kambing
perah rakyat sebagai salah satu sumber
pendapatan rumah tangga di Jawa
Timur. Proc. Temu Ilmiah Hasil
Penelitian Peternakan. BPT. Ciawi.
pp:195-203.
Turner, C.D. and J.T. Bagnara. 1976. General
Endocrinology.
6
ed.
Saunders
Company.
Philadelphia.
London.
Toronto.
Wahab, I.M. and R.R. Anderson. 1989.
Physiologic role of relaxin on
mammary gland growth in rats. Proc.
Soc. Exp. Biol. Med. 192:285-289.
Yulistiani, D., I.W. Mathius, I.K. Sutama, U.
Adiati, R.S.G. Sianturi, Hastono and
I.G.M. Budiarsa. 1999. Production
response of Etawah Cross breed (PE)
doe to improvement of feeding
management during late pregnancy and
lactation period. J. Ilmu Ternak dan
Vet. 4(2):88-94.
41
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains
42
Download