Simpan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Telah banyak Negara mengadopsi International Financial Reporting Standars (IFRS)
sebagai pedoman dalam penyusunan laporan keuangan, bahkan terdapat negara yang
telah mengadopsi penuh (full adoption) dengan mengimplementasikan sepenuhnya
IFRS sebagai standar akuntansi di negaranya. Indonesia sebagai salah satu anggota G20 pun sudah mengadopsi IFRS ke dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) sejak 1 Januari 2012. Hal ini bermakna bahwa sejak tanggal tersebut pula
Indonesia sudah meninggalkan PSAK berbasis United Stated General Accounting
Acepted Principles (US-GAAP).
Perubahan konseptual yang dialami oleh dunia akuntansi di Indonesia, tentu akan
menimbulkan dampak beragam bagi perkembangan ilmu akuntansi di Indonesia.
Menurut ketua tim implementasi IFRS-IAI, Kurniawan (2010) melalui harian kompas
menyatakan bahwa dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan tujuh
manfaat, yaitu: (1) meningkatkan standar akuntansi keuangan (SAK); (2) mengurangi
biaya SAK; (3) meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan; (4)
meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan; (5) meningkatkan transparansi
keuangan; (6) menurunkan biaya modal peluang penghimpunan dana melalui pasar
modal; dan (7) meningkatkan efisiensi penyajian laporan keuangan.
Salah satu perubahan mendasar yang membedakan antara PSAK berbasis IFRS dengan
PSAK berbasis US-GAAP adalah penerapan principle based yang mengandung makna
bahwa, standar hanya mengatur hal-hal prinsip namun tidak untuk aturan detail.
Sehingga diperlukan professional judgement dalam menerapkan standar tersebut.
Sebagai konsekuensi atas peraturan tersebut (rule based menjadi principle based)
dibutuhkan tingkat pengungkapan yang lebih tinggi dibandingkan standar sebelumnya.
Adapun tujuan dari pengungkapan yang lebih luas tersebutagar pengguna laporan
keuangan mendapatkan informasi yang lebih luas, sehingga dapat mempertimbangkan
informasi untuk pengambilan keputusan.
Penelitian tentang tingkat pengungkapan (disclosure) laporan tahunan sebagai
konsekuensi dari penerapan IFRS telah banyak dilakukan oleh peneliti baik di Indonesia
maupun di luar Indonesia. Tas dan Lisa (2010) menguji tentang transisi ke IFRS pada
perusahaan yang terdaftar di yunani dengan membedakan perusahaan atas ukuran
auditor, dengan menggunakan indeks comparability gray implementasi IFRS
berdampak signifikan terhadap posisi keuangan dan kinerja.
Petreski (2006) menguji tentang dampak adopsi IFRS pada laporan keuangan
perusahaan dan pada manajemen perusahaan, dengan menggunakan wawancara (studi
kasus) menghasilkan pengungkapan laporan keuangan lebih tinggi dan manajemen
perusahaan menjadi lebih bertanggungjawab (accountable).
Wardhani (2010) menguji tentang dampak derajat konvergensi ke IFRS dan sistem
pemerintahan ke konservatisme akuntansi pada negara asia, dengan menggunakan
analisis regresi terdapat dampak yang positif konvergensi ke IFRS dan sistem
pemerintahan terhadap kualitas laba.
Annisa (2011) meneliti tentang pengaruh likuiditas, profitabilitas, dan porsi
kepemilikan saham publik terhadap pengungkapan laporan tahunan perusahaan, dengan
menggunakan analisis regresi, penelitian ini menyatakan bahwa likuiditas, profitabilitas,
dan kepemilikan saham publik tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan laporan
tahunan. Namun, dalam penelitian Permatasari (2013) dengan menggunakan indeks
comparability gray bahwa likuiditas, profitabilitas, dan porsi saham publik berpengaruh
terhadap pengungkapan laporan keuangan.
Banyaknya hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian terdahulu memotivasi peneliti
untuk menguji lebih lanjut dampak implementasi PSAK berbasis IFRS terhadap tingkat
keluasan pengungkapan laporan tahunan. Pengembangan yang peneliti akan lakukan
dan berbeda dari penelitian sebelumnya adalah; (1) Peneliti menggunakan laporan
tahunan sebagai dasar pengungkapan, tidak menggunakan laporan keuangan ; (2)
Metode penelitian yang digunakan menggunakan uji beda dua rata-rata berpasangan (ttest), tidak meneliti dari segi rasio keuanggannya; (3) Penelitian ini ingin mengetahui
reaksi pasar terhadap implementasi PSAK berbasis IFRS;
Beberapa alasan yang mendasari diambilnya penelitian pada pengungkapan laporan
tahunan setelah diterapkannya IFRS dikarenakan terdapat ketidak puasan pihak
eksternal (stakeholder) terhadap penyajian pengungkapan data keuangan saja. Penelitian
ini akan menggunakan data laporan tahunan pada saat menerapkan standar PSAK dan
yang telah menerapkan standar IFRS. Sehubungan dengan uraian di atas, penulis
melakukan penelitian dengan judul: “Dampak Penerapan PSAK Berbasis IFRS
Terhadap Tingkat Keluasan Pengungkapan Laporan Tahunan Pada Perusahaan
Go Publik di Bursa Efek Indonesia”.
1.2 Rumusan dan Batasan Masalah
1.2.1 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka rumusan masalah
yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah penerapan PSAK berbasis IFRS berpengaruh terhadap tingkat keluasan
pengungkapan laporan tahunan ?
2. Apakah pengungkapan laporan tahunan setelah penerapan PSAK berbasis IFRS
direspon positif oleh pasar ?
1.2.2 Batasan Masalah
Agar masalah yang diteliti dapat fokus dan tidak meluas, penelitian ini memiliki batasan
masalah. Maka batasan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini dilakukan pada laporan tahunan perusahaan manufaktur yang
listing selama periode pengamatan.
2. Penelitian ini dibatasi pada upaya untuk melihat tingkat keluasan pengungkapan
laporan tahunan dalam melihat bagaimana respon pasar atas penerapan IFRS.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. 3.1 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ada sebelumya maka penelitian ini
mempunyai tujuan untuk menganalisis dan memperoleh bukti empiris mengenai:
1. Pengaruh penerapan PSAK berbasis IFRS terhadap keluasan pengungkapan
laporan tahunan
2. Respon pasar atas pengungkapan laporan tahunan setelah penerapan PSAK berbasis
IFRS direspon positif atau tidak oleh pasar
1.3.2 Manfaat Penelitian
Dalam setiap penelitian tentunya peneliti ingin menyajikan sesuatu yang dapat berguna
bagi semua kalangan, berikut adalah manfaat dari penelitian yang dilakukan:
1.3.2.1 Manfaat Teoritis
a.
Bagi perusahaan, penelitian ini berguna sebagai sarana untuk mengetahui
bagaimana sesungguhnya perusahaan manufaktur mengaplikasikan standar
pelaporan internasional (IFRS) secara tepat dalam penyusunan, pengajian, dan
pengungkapan laporan tahunan.
b. Bagi pemerintah, manfaat penelitian ini sebagai bahan pertimbangan pemerintah
dan lembaga-lembaga penyusunan standar yang telah ada.
c. Bagi pihak lain, manfaat penelitian ini adalah sebagai salah satu referensi untuk
mencari alternatif solusi lain jika ingin melakukan penelitian dengan tema
serupa.
1.3.2.2 Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini sangat bermanfaat untuk mendapatkan
jawaban atas tujuan yang ingin dicapai dari permasalahan dalam penelitian.
b. Bagi civitas akademika, manfaat penelitian ini adalah sebagai referensi dalam
penyusunan penelitian selanjutnya, memberikan kontribusi bagi akademisi
dalam pengembangan ilmu akuntansi, terutama mengenai bagaimana dan apa
dampak yang diberikan pengguna IFRS pada keluasan pengungkapan laporan
tahunan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1. Teori Legitimasi
Menurut Tristanti (2012) teori legitimasi menyatakan bahwa perusahaan memiliki
kontrak dengan masyarakat. Teori legitimasi menjadi sumber yang menentukan
keberadaan perusahaan. Perusahaan dikatakan memiliki legitimasi ketika sistem nilai
perusahaan sejalan dengan system nilai masyarakat. Ini berarti bahwa legitimasi adalah
status atau kondisi yang terjadi ketika system nilai suatu entitas searah dan sejalan
dengan sistem nilai yang ada di sosial masyarakat. Legitimasi merupakan hubungan
yang kukuh sebagai hal yang benar dan tepat. Legitimasi adalah proses yang mengarah
ke sebuah organisasi yang dipandang sah.
Dengan melakukan pengungkapan perusahaan akan merasa bahwa keberadaan dan
aktivitasnya terlegitimasi. Pengungkapan merupakan jembatan informasi yang
menghubungkan perusahaan dengan masyarakat. Dengan adanya pengungkapan akan
memberikan informasi yang lebih luas tentang perusahaan kepada masyarakat sebagai
salah satu pengguna laporan keuangan.
2.1.2. Teori Signal
Teori signal menjelaskan alasan perusahaan menyajikan informasi kepada publik (Wolk
et al.,2001: 308) dalam Situmorang (2011). Informasi tersebut bias berupa laporan
keuangan, informasi kebijakan perusahaan maupun informasi lain yang dilakukan
secara sukarela oleh manajemen perusahaan.Teori signal mengemukakan tentang
bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan signal-signal kepada pengguna
laporan keuangan. Signal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh
manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Signal dapat berupa promosi atau
informasi lainnya yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada
perusahaan lainnya (Machfoedz, 1999, dalam Wirawan, 2010). Penggunaan peraturan
seperti IFRS yang meningkatkan kualitas pelaporan merupakan salah satu signal
perusahaan untuk menarik investor atau pengguna lainnya. Menurut (Marston, 2003)
dalam (Suta,2012), semakin besar perusahaan akan memiliki dorongan yang lebih besar
untuk memberi sinyal mengenai kualitas perusahaan melalui pengungkapan informasi
keuangan yang meningkat. Alasan utama yang melatar belakangi keadaan tersebut
adalah karena nilai perusahaan sangat tergantung pada persepsi investor mengenai
kemampuan manajer mengelola perusahaan, terutama dalam menghadapi perubahan di
masa mendatang (Healy dan Palepu, 2001). Dengan demikian memberikan sinyal
berupa pengungkapan kepada publik diharapkan dapat meningkatkan nilai pasar
perusahaan.
2.1.3. Laporan Tahunan
Laporan tahunan merupakan laporan perkembangan pencapaian keberhasilan yang
mampu diraih perusahaan dalam jangka waktu setahun.
2.1.3.1 Komponen Laporan Tahunan
Menurut Needles, et al. (1995) dalam Oktaviana (2009) di lalam laporan tahunan
terdapat tujuh komponen utama yang membentuk laporan tahunan, yaitu:
1. Sambutan kepada para pemegang saham.
Bagian awal yang berisi sambutan dari direktur utama perusahaan yang ditujukan
kepada para pemegang saham dan menjelaskan tentang kinerja perusahaan
selama periode tertentu dan prospek perusahaan ke depannya.
2. Ikhtisar data keuangan.
Berisi penyajian data keuangan penting selama 10 tahun terakhir, dilengkapi
dengan grafik untuk mempermudah pengguna laporan tahunan dalam melihat
tren pergerakan keuangan perusahaan, dan termasuk juga data non keuangan
seperti jumlah took yang dimiliki dari period ke periode.
3. Laporan keuangan.
Berisi empat jenis laporan keuangan yang diwajibkan, yaitu laporan laba rugi,
neraca, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas. Penyajian laporan
keuangan ini dilakukan secara komparatif untuk beberapa periode. Tujuannya
untuk membantu pengguna dalam membandingkan kinerja perusahaan periode
berjalan dengan periode-periode sebelumnya.
4. Catatan atas laporan keuangan.
Merupakan bagian yang tidak terpisah dari laporan keuangan, gunanya
membantu pengguna laporan keuangan dalam menginterpretasikan data yang
disajikan dalam laporan keuangan. Secara garis besat catatan atas laporan
keuangan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Ringkasan prinsip akuntansi yang digunakan oleh perusahaan dalam
pencatatan transaksinya.
b. Catatan penjelas atas item-item yang disajikan dalam laporan keuangan.
c. Catatan yang berupa informasi pelengkap.
5. Laporan pertanggungjawaban manajemen. Penyajian laporan keuagan harus disertai
dengan pernyataan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan struktur
pengendalian internal perusahaan.
6. Hasil diskusi dan analisis manajemen. Dalam bagian ini, manajemen akan melakukan
analisis dengan membandingkan
kinerja periode berjalan dengan beberapa periode sebelumnya dan melakukan analisis
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan.
7. Laporan hasil audit. Auditor bertugas untuk melakukan audit terhadap laporan
keuangan
yang disajikan oleh pihak manajemen. Hasil dari proses audit yang dilakukan auditor
adalah opini audit atas penyajian laporan keuangan oleh perusahaan.
2.1.3.2 Peraturan Terkait Penyajian Laporan Tahunan
Di Indonesia, peraturan mengenai pengungkapan informasi dalam laporan
tahunan diatur oleh Bapepam pada tahun 1996. Bapepam mengeluarkan Peraturan
Nomor VIII.G.2 dalam Lampiran Keputusan BAPEPAM No. Kep-38/PM/1996 yang
mengatur tentang kewajiban menyampaikan laporan tahunan bagi perusahaan yang
telah melakukan Penawaran Umum dan Perusahaan Publik, serta mengatur bentuk
dan isi laporan tahunan tersebut, yang terdiri dari: ketentuan umum, laporan
manajemen, iktisar data keuangan penting, analisis dan pembahasan umum oleh
manajemen, dan bagian mengenai laporan keuangan.
Kemudian pada tahun 2002, Bapepam kembali mengeluarkan peraturan dalam
Surat Edaran Nomor: SE-02/PM/2002 mengenai Pedoman Penyajian dan
Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik untuk tiga belas
industri, salah satunya termasuk industry manufaktur.
Pada tanggal 7 Desember 2006, Bapepam menerbitkan peraturan baru untuk
memperbaharui peraturan yang ada, yaitu Peraturan Nomor X.K.6 dalam Lampiran
Keputusan BAPEPAM No. Kep-134/BL/2006. Dalam peraturan ini menyoroti lebih
spesifik, yaitu bentuk dan isi laporan tahunan yang terdiri dari ketentuan umum,
iktisar data keuangan penting, laporan dewan komisaris, laporan direksi, profil
perusahaan, analisis dan pembahasan manajemen, tata kelola perusahaan (corporate
governance), tanggung jawab direksi atas laporan keuangan, laporan keuangan yang
telah diaudit, dan tanda tangan anggota direksi dan anggota dewan komisaris.
2.1.4 Pengungkapan Laporan Keuangan
2.1.4.1 Pengertian Pengungkapan
Pengungkapan laporan keuangan merupakan suatu cara untuk
menyampaikan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan suatu
perusahaan. Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan kepada investor,
kreditur, dan pengguna laporan keuangan lainnya dalam memahami risiko
portofolio investasi sebagai dasar untuk melakukan keputusan ekonomi yang
rasional (Prasetya, 2011). Purwandari (2012) menyatakan bahwa pengungkapan
laporan keuangan adalah suatu media pertanggungjawaban perusahaan kepada
investor yang berguna untuk memudahkan pengambilan keputusan alokasi sumber
daya ke usaha-usaha yang paling produktif.
Menurut Tanor (2009:3) pengungkapan (disclosure) adalah tingkat
pengungkapan atas informasi yang diberikan sebagai lampiran pada laporan
keuangan dalam bentuk catatan kaki atau tambahan. Informasi ini menyediakan
penjelasan yang lebih lengkap mengenai posisi keuangan dan hasil operasi
perusahaan. Pengungkapan laporan keuangan (disclosure) merupakan suatu cara
untuk menyampaikan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan suatu
perusahaan. Pengungkapan merupakan semua materi yang harus diungkapkan
termasuk informasi kuantitatif dan kualitatif yang sangat membantu pengguna
laporan keuangan.
Jika dikaitkan dengan data, Disclosure berarti memberikan data yang
bermanfaat kepada pihak yang membutuhkan. Sehingga data tersebut harus benarbenar
bermanfaat karena jika bermanfaat tujuan dari pengungkapan tersebut tidak
akan tercapai. Sedangkan bila dikaitkan dengan laporan keuangan, disclosure
berarti bahwa laporan keuangan harus memberikan informasi dan penjelasan yang
memadai mengenai hasil aktivitas suatu perusahaan (Irawan, 2010:22).
Pengungkapan merupakan sarana penyampaian informasi secara lengkap kepada
pihak-pihak yang terkait dalam proses pengambilan keputusan. Pengungkapan
juga dilakukan sebagai upaya untuk mempertangungjawabkan aktivitas
perusahaan selama periode tertentu dalam menggunakan sumber yang ada di
perusahaan.
Menjelaskan item-item yangbelum diakui dan untuk meyediakan ukuran
yang bermanfaat bagi item-item tersebut.
3. Untuk menyediakan informasi untuk membantu investor dan kreditur
dalam menentukan resiko, dan item-item yang potensial untuk diakui dan
yang belum diakui.
4. Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar di
masa mendatang.
5. Untuk menyediakan informasi penting yang dapat digunakan oleh
pengguna laporan keuangan untuk membanddingkan antar perusahaan dan
angka tahun.
6. Untuk membantu investor menetapkan return dan investasinya.
Menurut Belkoui dan Ahmed Riahi (2000:219), terdapat lima tujuan
pengungkapan yaitu:
1. Untuk menyediakan item-item yang belum diakui beserta ukuran yang
bermanfaat bagi item-item tersebut.
2. Untuk menjelaskan item-item yang diakui dan untuk menyediakan ukuran
yang relevan bagi item-item tersebut, selain ukuran dalam laporan
keuangan.
3. Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar
dimasa mendatang.
4. Untuk membantu investor dan kreditur dalam menentukan resiko atas
item-item tersebut.
Tujuan Pengungkapan secara umum adalah menyajikan informasi yang
dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani
berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda.
2.1.4.2 Jenis Pengungkapan
Tanor (2009:4) mengungkapakan disclosure terbagi menjadi dua yaitu:
1. Mandatory Disclosure: merupakan pengungkapan yang wajib
dikemukakan perusahaan, khususnya perusahaan publik kepada
masyarakat dan memiliki badan khusus yang meregulasi seperti IAI dan
Bapepam.
2. Voluntary Disclosure: merupakan pengungkapan yang diberikan oleh
perusahaan di luar item-item yang diwajibkan untuk diungkapkan.
Berdasarkan PSAK No. 10 bahwa penyajian laporan keuangan harus
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mencakup
dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material seperti
bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan, serta catatan atas laporan keuangan
yang meliputi istilah yang digunakan, rincian yang dibuat, penggolongan unsur
dalam laporan keuangan, dan dasar-dasar yang digunakan untuk menghasilkan
jumlah yang dicantumkan dalam laporan keuangan.
Sedangkan Mardiyah (2002) menyatakan pengungkapan dalam pasar
modal terdiri dari dua aspek yaitu:
1. Protective disclosure yaitu usaha badan pengawas pasar modal untuk
melindungi investor dari perlakukan tidak wajar oleh emiten.
Informative disclosure adalah pengungkapan yang disajikan dalam
keterbukaan emiten untuk tujuan analisis investasi.
Kelengkapan pengungkapan laporan keuangan adalah suatu bentuk
kualitas pengungkapan pada laporan keuangannya. Kualitas pengungkapan dapat
diukur dan digunakan untuk menilai manfaat potensial dariisi suatu laporan tahun.
Semakin tinggi kualitas informasi akuntansi sangat berkaitan dengan tingkat
kelengkapan pengungkapan. Ada tiga konsep umummengenai pengungkapan
yaitu:
1. Pengungkapan Cukup (Adequacy Disclosure)
Pengungkapan cukup merupakan pengungkapan minimum yang
disyaratkan peraturanyang berlaku dimana angka-angka yang disajikan dapat di
interpretasikan dengan benar oleh investor.
2. Pengungkapan Wajar (Fair Disclosure)
Pengungkapan wajar merupakan tujuan etis agar memberikan perlakuan
yang sama kepada semua pemakai laporan dengan menyediakan informasi yang
layak bagi pembaca yang potensial.
3. Pengungkapan Penuh (Full Disclosure)
Menyangkut kelengkapan penyajian informasi yang diungkap secara
relevan. Pengungkapan penuh memiliki kesan penyajian informasi secara
berlimpah sehingga beberapa pihak menganggapnya tidak baik. Sesuai undangundang
pasar modal dalam meningkatkan dan menjamin perlindungan terhadap
masyarakat pemodal, disebutkan bahwa setiap perusahaan menawarkan efeknya
melaluipasar modal wajib mengungkapkan seluruh informasi mengenai keadaan
usahanya termasuk keadaan keuangan. Berdasarkan SK Bapepam Nomor Kep347/BL/2012, terdapat dua jenis pengungkapan dalam laporan keuangan, antara
lain:
1. Pengungkapan wajib (Mandatory Disclosure)
Merupakan pengungkapan yang diwajibkan peraturan pemerintah artinya
pengungkapan yang sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku.
Jika perusahaan tidak bersedia untuk mengungkapkan secara sukarela maka
pengungkapan wajib akan memaksa perusahaan untuk mengungkapkannya.
2. Pengungkapan sukarela (Voluntary Disclosure)
Merupakan pengungkapan yang tidak diwajibkan peraturan, dimana
perusahaan bebas memilih jenis informasi yang akan diungkapkan yang sekiranya
dapat mendukung dalam pengambilan keputusan. Pengungkapan ini berupa butirbutir
yang dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan sesuai
peraturan yang berlaku (Standar Akuntansi Keuangan).
Ainun dan Fuad (2000) menjelaskan jenis pengungkapan dalam
hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan standar yaitu:
1. Pengungkapan Wajib (Mandatory Disclosure)
Pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh standar akuntansi yang
berlaku. Jika perusahaan tidak bersedia untuk mengungkapkan informasi secara
sukarela maka perusahaan wajib memaksa perusahaan untuk mengungkapkannya.
2. Pengungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure)
Pengungkapan sukarela dilakukan oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh
peraturan yang berlaku. Pengungkapan sukarela dapat meningkatkan kredibilitas
perusahaan dan membantu investor dalam memahami strategi bisnis manajemen.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengungkapan
adalah pengakuan perusahaan untuk menunjukkan sistematika yang digunakan
untuk mengukur kinerja dan mengetahui keadaan perusahaan baik
pengungkapan secara menyeluruh ataupun tidak.
2.1.4.3 Tujuan Pengungkapan
Irawan (2010) Menyebutkan bahwa tujuan pengungkapan laporan
keuangan yaitu sebagai berikut:
1. Menjelaskan item-item yang diakui danuntuk menyediakan ukuran relevan
bagi item-item tersebut, selain ukuran dalam laporan keuangan.
2.1.7.1 Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan
Kualitas tampak sebagai atribut yang penting dari suatu informasi akuntansi
(Imhoff, 1992 dalam Oktoviana, 2009). Menurut Simanjuntak dan Widiastuti (2004)
banyak penelitian yang menggunakan indeks of disclosure methodology untuk
mengukur kualitas pengungkapan, kemudian hasil dari perhitungan indeks tersebut
digunakan untuk menilai manfaat potensial dari sisi laporan keuangan. Sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa, tingginya kualitas informasi akuntansi berkorelasi
positif terhadap tingkat kelengkapan yang diungkapkan.
Berapa banyak informasi yang harus didisclose tidak hanya tergantung
pada keahlian pembaca, namun juga tergantung pada standar yang dianggap cukup.
Menurut Hendriksen (1997) dalam Putri (2011), terdapat tiga konsep yang umumnya
diungkapkan, yaitu:
1. Adequate disclosure (pengungkapan cukup) yang mengandung arti disclosure
minimal yang harus ada sehingga laporan yang disajikan dapat diinterpretasi
dengan benar dan tidak menyesatkan pengguna.
2. Fair disclosure (pengungkapan wajar) menyatakan tujuan-tujuan etis untuk
memberikan perlakuan yang sama kepada semua pemakai laporan keuangan
dengan menyediakan informasi yang layak bagi pembaca potensial.
3. Full disclosure (pengungkapan penuh) diartikan sebagai penyediaan semua
informasi yang dianggap cukup penting dalam mempengaruhi penilaian dan
keputusan yang akan diambil pengguna laporan keuangan. Pengungkapan
informasi yang berlebihan atau melimpah dipandang tidak baik dan dapat
membahayakan, karena dapat mengaburkan tafsiran informasi dan dapat
merugikan posisi kompetitif perusahaan sendiri.
Pada umumnya terdapat dua jenis pengungkapan terkait dengan persyaratan
yang ditetapkan standar, yaitu :
1. Pengungkapan yang didasarkan pada ketentuan atau standar (required/ regulated/
mandatory disclosure).
Merupakan pengungkapan minimum yang diwajibkan dan diatur dalam suatu
peraturan sehingga harus disajikan oleh perusahaan.
2. Pengungkapan yang bersifat sukarela (voluntary disclosure).
Merupakan pengungkapan informasi yang dilakukan perusahaan secara sukarela,
tanpa dipaksakan oleh peraturan.
Informasi yang diungkapkan dalam voluntary disclosure berbeda dalam hal
jumlah tambahan informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan.
Menurut Na’im dan Rakhman (2000) manfaat dari pengungkapan sukarela yang
diperoleh perusahaan antara lain meningkatkan kredibilitas perusahaan, membantu
investor memahami strategi bisnis manajemen, menarik perhatian analis
meningkatkan akurasi pasar, menurunkan ketidaksimetrisan informasi pasar, dan
menurunkan kejutan pasar.
2.1.5 International Financial Reporting Standard (IFRS)
2.1.5.1 Pengertian IFRS
Menurut Warta Ekonomi (November 2011), IFRS merupakan standar
akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard
Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting
Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi
Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional
(IFAC). Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (bahasa Inggris: International Financial Reporting Standards
(IFRS) adalah Standar dasar, Pengertian dan Kerangka Kerja (1989) yang
diadaptasi oleh Badan Standar Akuntansi Internasional (bahasa Inggris:
International Accounting Standards Board (IASB)). Sehingga dapat disimpulkan
bahwa International Financial Reporting Standart (IFRS) adalah Standar
penyusunan laporan keuangan berdasarkan pedoman internasional agar laporan
keuangan yang disajikan perusahaan dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang
memerlukannya.
2.1.5.2 Karakteristik IFRS
IFRS memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. IFRS menggunakan principle base sehingga lebih menekankan pada
interpretasi dan aplikasi atas standar sehingga harus berfokus pada spirit
penerapan prinsip tersebut.
2. Standar membutuhkan penilaian atas substansi transaksi dan evaluasi
apakah presentasi akuntansi mencerminkan realitas ekonomi.
3. Membutuhkan professional judgement dalam penerapan standar akuntansi.
4. Semakin banyak menggunakan fair value dalam penilaian.
5. Disclosure yang lebih banyak.
2.1.5.3 Tujuan IFRS
Menurut Ardian (2011) tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan
keuangan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam
laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
1. Transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang
peiode yang disajikan.
Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan
pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.
2.1.5.4 Manfaat IFRS
Menurut Ardian (2011) manfaat dari adanya suatu standar global:
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh
dunia tanpa hambatan berarti. Stadar pelaporan keuangan berkualitas
tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki
efisiensi alokasi lokal.
2. Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik.
3. Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan
mengenai merger dan akuisisi.
4. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standar dapat
disebarkan dalam mengembangkan standar global yang berkualitas
tertinggi.
Ersa Tri Wahyuni Direktur Teknis Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam
Antara News (2011) menyebutkan adanya beberapa manfaat yang bisa diperoleh
dari konvergensi IFRS (International Financial Reporting Standard) ke dalam
PSAK (Pedoman Standar Akutansi Keuangan), di antaranya:
1. Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.
2. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan
standar akutansi keuangan yang dikenal secara internasional.
3. Menurunkan biaya modal dengan membuka fund raising melalui pasar
modal secara global.
Pada sebuah artikel dalam Seputar Indonesia, Ketua Tim Implementasi
IFRS Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Dudi M Kurniawan mengatakan manfaat
IFRS di Indonesia, yaitu:
1. Bisa meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan dan mengurangi
biaya penyusunan laporan.
2. Meningkatkan kredibilitas dari laporan keuangan.
3. Menyelaraskan dengan pengaturan yang berlaku secara internasional.
4. Meningkatkan arus investasi ke dalam dan ke luar.
5. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan
2.1.6 Penelitian Terdahulu
Telah banyak penelitian mengenai pengadopsian IFRS namun penelitian yang secara
langsung berfokus pada suatu perusahaan dan suatu negara masih terbatas adapun penelitian
terdahulu adalah sebagai berikut:
Tabel..... Peneliti Terdahulu
Nama peneliti
Tujuan peneliti
IonnisTsalavoutas
untuk menguji
and Lisa
transisi ke
Metode penelitian
menggunakan
indeks
Hasil penelitian
implementasi IFRS
memiliki dampak
Evans,2010
IFRS pada
Perusahaan yang
terdaftar di yunani
dengan
membedakan
perusahaan atas
ukuran auditor yang
digunakan
comparability Gray
yang signifikan
pada posisi
keuangan dan
kinerja perusahaan
Marjan Petreski
(2006)
Menjelaskan
dampak adopsi
IFRS pada laporan
keuangan
perusahaan dan
pada manajemen
perusahaan
Wawancara: studi
kasus
Pengungkapan
laporan keuangan
lebih tinggi dan
manajemen
perusahaan menjadi
lebih
bertanggungjawab
(accountable)s
Untuk menganalisis
dampak derajat
konvergensi ke
IFRS dan sistem
pemerintahan ke
conservatisme
akuntansi:
Studi kasus pada
negara-negara
Analisis regresi
Konvergensi ke
IFRS dan sistem
pemerintahan
memiliki
Dampak yang
Positif terhadap
kualitas laba
Judul: Pengaruh
Likuiditas,
Profitabilitas, dan
Porsi
Kepemilikan
Saham Publik
terhadap
Pengungkapan
Laporan
Tahunan
Perusahaan
Analisis
Regresi
Tingkat likuiditas
yang
tinggi tidak
berpengaruh
terhadap luas
pengungkapan.
Begitu
pula dengan
profitabilitas,dan
kepemilikan
Saham
publik yang samasama
tidak berpengaruh
terhadap luas
pengungkapan
laporan
tahunan
Ratna Wardhani
(2010)
Wilujeng
Dwi Annisa
(2011)
2.1.7
Model Penelitian
Kerangka pemikiran penelitian ini akan dideskripsikan pada gambar berikut:
PSAK berbasis
US-GAAP
Keluasan
Pengungkapan
Laporan Tahunan
PSAK berbasis
IFRS
Keluasan
Pengungkapan
Laporan Tahunan
Reaksi Pasar
Reaksi Pasar
Model Dampak Penerapan PSAK Berbasis IFRS Terhadap Tingkat Keluasan
Pengungkapan Laporan Tahunan Pada Perusahaan Go Publik Di Bursa Efek
Indonesia
2.1.8 Hipotesis
1.4.8.1. Penerapan PSAK berbasis IFRS dan Pengaruhnya Terhadap
Tingkap Keluasan Pengungkapan
Penerapan PSAK berbasis IFRS memberikan berbagai dampak signifikan terhadap rasio
keuangan perusahaan dan menyebabkan pengaruh terhadap pengungkapan laporan
keuangan. Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan ditangkap oleh pihak
eksternal (stekeholder) sebagai suatu sinyal yang dapat menggambarkan prospek
perusahaan kedepan. Menurut Yuliasti (2008) dalam Suta (2012) keputusan investasi
sangat tergantung dari mutu dan luas pengungkapan (disclosure).
Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, terdapat fenomena ketidak puasan para pihak
eksternal (stakeholder) terhadap penyajian pengungkapan data keuangan saja.
Komponen keuangan saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan stakeholder
(Maines et al., 2002 dalam Taures, 2011). Ketidakpuasan stakeholder disebabkan oleh
beberapa faktor, salah satunya krisis kepercayaan akan rasa aman dalam berinvestasi.
Dalam principle based dibutuhkan pengungkapan yang luas dibandingkan dengan
standar sebelumnya, dengan melakukan pengungkapan perusahaan akan merasa bahwa
keberadaan dan aktivitasnya terlegitimasi. Berdasarkan hasil observasi dalam penelitian
ini, perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi lebih luas cenderung lebih
banyak menarik perhatian investor karena para investor merasa lebih banyak
mengetahui informasi mengenai perusahaan tersebut dan dapat memprediksi risikorisiko yang ada dalam perusahaan tersebut.
Berdasarkan fakta tersebut dan telaah pustaka, serta beberapa penelitian terdahulu yang
telah diungkapkan diatas, maka dapat diketahui bahwa tingkat pengungkapan wajib
pada laporan tahunan perusahaan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
melatarbelakanginya, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ha1 = Terdapat perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum dan sesudah
penerapan PSAK berbasis IFRS.
1.4.8.2 Reaksi Pasar terhadap Laporan Tahunan atas Implementasi PSAK
berbasis IFRS
Penggunaan IFRS diharapkan dapat menyempurnakan komparabilitas pernyataan
keuangan, memperkuat transparansi perusahaan, dan meningkatkan kualitas laporan
keuangan. Amstrong et al. (2007) dalam Siregar (2012) beranggapan bahwa laporan
IFRS membuat investor lebih hemat dalam membandingkan perusahaan lintas negara
dan pasar modal. Covrig et al. (2007) dalam Siregar (2012) menyatakan bahwa
pemusatan ke arah pelaporan IFRS dapat memfasilitasi investasi lintas batas dan juga
integrasi pasar modal. Berkaitan dengan pemusatan ke arah IFRS menyelidiki reaksi
pasar terhadap beberapa peristiwa berkaitan dengan pergerakan Uni Eropa terhadap
kewajiban pelaporan menggunakan IFRS atau meneliti dampak adopsi IFRS dalam
laporan keuangan pada negara tersebut diperoleh hasil terdapat pasar efisien yang
tercermin dalam average abnormal return dan cumulative average abnormal return
setelah penerapan IFRS. Berdasarkan uraian di atas, maka dikemukan hipotesis sebegai
berikut:
Ha2 = Terdapat perbedaan respon pasar atas laporan tahunan sebelum dan setelah
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menguji teori
yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui kerangka berpikir deduktif yang
dirumuskan dalam hipotesis penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen
berupa pengujian tentang perbedaan antara dua variabel atau lebih. Variabel yang
diteliti yaitu variabel konstruk yang diperoleh berdasarkan teori tertentu kemudian
dijabarkan sebagai indikator penelitian.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perusahaan perbankan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data yang diperoleh dari idx.co.id
hingga akhir Oktober 2012 jumlah perbankan yang terdaftar sebanyak 34 perusahaan
perbankan. Keputusan menjadikan perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI sebagai
populasi dari sampel penelitian dikarenakan perbankan merupakan salah satu lembaga
keuangan yang paling penting dalam kegiatan investasi di Bursa Efek Indonesia dimana
perbankan merupakan penyalur dana dari pihak investor. Pengadopsian IFRS tentu
membawa pengaruh besar terhadap laporan keuangan perbankan.
3.2.2 Sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sistem non random
sampling (nonprobability sampling) yaitu menggunakan purposive sampling. Purposive
sampling adalah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai
pertimbangan
Download