REKONSTRUKSI SISTEM EVALUASI HASIL

advertisement
REKONSTRUKSI SISTEM EVALUASI
HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA1
Oleh: Wagiran2
PENDAHULUAN
Topik penelitian ini diangkat dari adanya kesenjangan antara praktik
evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia di sekolah menengah pertama dengan teori
evaluasi hasil belajar bahasa yang semestinya menjadi acuan. Kesenjangan tersebut
terjadi karena beberapa teori evaluasi pembelajaran bahasa terabaikan dalam
praktik atau beberapa teori evaluasi yang secara konseptual ideal tetapi sulit
diterapkan dalam praktik. Hal ini perlu dikaji secara mendalam untuk
menjembatani terbangunnya keselarasan antara teori dan praktik evaluasi hasil
belajar bahasa Indonesia.
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi hasil
belajar menunjukkan banyaknya malapraktik dalam pelaksanaan evaluasi.
Penelitian tersebut, misalnya Purwati dan Wulandari (2008), Sulistya (2009), dan
Wagiran dan Doyin (2010). Bukti adanya malapraktik dalam evaluasi yang
terungkap pada penelitian-penelitian tersebut diduga hanya sebagian kecil dari
kenyataan yang sebenarnya. Kondisi ini ibarat fenomena “gunung es”.
Hal yang mengkhawatirkan bukan pada malapraktik evaluasi hasil belajar
tersebut tetapi dampak negatifnya. Malapraktik evaluasi dapat menimbulkan
washback negatif terhadap cara guru mengajar dan cara siswa belajar serta dapat
mengaburkan pencapaian tujuan pendidikan yang sebenarnya. Hal ini telah
ditunjukkan oleh hasil penelitian tentang washback evaluation yang dilansir pada
beberapa jurnal internasional, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Alderson &
Wall (1993), Biggs (1995, 1996), dan Burrows (2004).
Alderson & Wall (1993) membuktikan bahwa ketidaktepatan praktik evaluasi
telah mempengaruhi cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Selain itu, dia juga
mengungkapkan bahwa tes dapat menjadi penentu yang kuat, baik positif maupun
negatif, dari apa yang terjadi di kelas. Biggs (1995, 1996) juga telah membuktikan
adanya pengaruh tes pada praktik pengajaran. Biggs menjelaskan bahwa tes atau
ujian dapat mendorong keberhasilan pengajaran. Burrows (2004) dalam
1
2
Bagian dari disertasi yang berjudul Sistem Evaluasi Komprehensif Hasil Belajar Bahasa
Indonesia
Dosen Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Jurusan BSI, FBS Unnes.
1
penelitiannya yang berjudul Washback in Classroom-Based Assessment: A Study of
the Washback Effect in the Australian Adult Migrant English Program 113
mengungkapkan bahwa para guru akan cenderung mengabaikan kompetensi
komunikatif yang sebenarnya bila penilaian tidak dilakukan berdasarkan
pendekatan komunikatif. Mereka juga akan mengabaikan penilaian kelas bila
penilaian kelas tidak memberikan kontribusi yang signifikan pada prestasi belajar
siswa. Demikian juga bila aspek yang diukur tidak sesuai dengan apa yang
seharusnya diukur dapat menimbulkan ketidakbermaknaan pembelajaran.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian tersebut, perlu ditegaskan kembali
bahwa kiranya sudah cukup alasan untuk merekonstruksi sistem evaluasi hasil
belajar bahasa Indonesia sebagai upaya mengurangi dampak negatif terhadap
proses dan hasil belajar bahasa Indonesia. Berkenaan dengan itu, rumusan
permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah kebutuhan
akan sistem evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia di SMP pada
tingkat kelas? (2) Bagaimanakah kaidah sistem evaluasi komprehensif hasil belajar
bahasa Indonesia di SMP pada tingkat kelas yang didasarkan pada hasil analisis
SWOT?
KAJIAN PUSTAKA
Tinjauan terhadap hasil penelitian yang telah dilaksanakan, baik di
Indonesia maupun di luar negeri yang berkaitan dengan artikel ini di antaranya
adalah rintisan penelitian tentang penilaian bahasa yang komunikatif (Wagiran
2007), penilaian bahasa berbasis life skill (Wagiran 2008), penelitian yang
menunjukkan banyaknya malapraktik dalam praktik evaluasi, penilaian, ujian, dan
tes diungkapkan oleh Purnomosidi (1990), Rustam (2001), Purwati dan Wulandari
(2008), dan Effiyaldi (2009) serta penelitian tentang banyaknya efek negatif
pelaksanaan penilaian serta anjuran untuk memodifikasi pelaksanaan penilaian
untuk mengubah efek negatif menjadi efek positif telah dilakukan oleh Shohamy,
Donitsa-Schmidt, dan Ferman (1996), McNamara (20001), Shahrzad Saif (2006),
2
dan Kanchana Prapphal (2008). Penelitian lain yang berkaitan dengan artikel ini
tentu masih banyak yang belum terungkap karena berbagai kendala dan
keterbatasan wawasan penulis. Namun demikian, beberapa hasil penelitian yang
relevan tersebut telah penulis anggap cukup memberikan dasar berpijak bagi
perlunya penelitian untuk mengembangkan sistem evaluasi hasil belajar bahasa
Indonesia.
Penelitian tentang banyaknya malapraktik dalam praktik evaluasi, penilaian,
pengujian, maupun tes, seperti yang telah diungkapkan di atas tidak diragukan lagi.
Namun hasil-hasil penelitian tersebut pada umumnya masih terbatas pada ekslorasi
jenis kesalahan, bentuk pelanggaran, dan penyebabnya. Oleh karena itu, masih
diperlukan penelitian lebih lanjut khususnya dalam penciptaan sistem evaluasi yang
komprehensif yang bisa mengantisipasi dan mengurangi munculnya malapraktik
evaluasi, penilaian, pengujian, maupun tes tersebut.
Penelitian tentang efek penilaian (washback) terhadap cara guru mengajar
dan cara siswa belajar juga memberikan dasar berpijak dalam penelitian ini, seperti
yang diungkapkan oleh Dianne Wall dan Alderson (1993), Shohamy, DonitsaSchmidt, Ferman (1996), McNamara (20001), dan Kanchana Prapphal (2008).
Rekomendasi para peneliti tersebut berkisar pada masih diperlukannya rekayasa
evaluasi untuk mengurangi efek negatif penilaian atau mengubah efek negatif
menjadi positif.
Berdasarkan analisis hasil penelitian yang telah diungkapkan tersebut, perlu
dilakukan penelitian lanjutan dalam bidang evaluasi untuk mengurangi munculnya
malapraktik dalam evaluasi, serta mengubah efek negatif menjadi positif. Penelitian
tentang sistem evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia ini dilakukan
3
sebagai tindak lanjut atas berbagai rekomendasi hasil penelitian terdahulu yang
telah dikaji tersebut.
METODE
Untuk merekonstruksi sistem evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa
Indonesia digunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan dua metode, yaitu
metode field research untuk menjawab rumusan masalah pertama “Bagaimanakah
kebutuhan guru bahasa Indonesia SMP akan sistem evaluasi komprehensif hasil
belajar bahasa Indonesia?” dan metode literature review untuk menjawab rumusan
masalah kedua “Bagaimanakah kaidah sistem evaluasi komprehensif hasil belajar
bahasa Indonesia SMP yang didasarkan pada kebutuhan guru bahasa Indonesia?“
Kebutuhan guru akan sistem evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa
Indonesia dijawab dengan analisis SWOT. Pengumpulan data yang berkaitan
dengan kelemahan dan keunggulan sistem evaluasi hasil belajar dilakukan dengan
teknik wawancara mendalam, FGD, dan telaah dokumen. Pengumpulan data yang
berkaitan dengan kaidah sistem evaluasi komprehensif hasil belajar dikumpulkan
dengan metode literature review dengan memanfaatkan hasil analisis SWOT.
Sumber data primer adalah tiga puluh lima guru bahasa Indonesia SMP
negeri dan swasta yang tersebar di Jawa Tengah dan sumber data sekunder adalah
dokumen evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia SMP yang digunakan oleh guru
bahasa Indonesia SMP di Jawa Tengah.
Data berupa skor kualitas perangkat soal dianalisis dengan persentase. Data
berupa informasi verbal dianalisis secara kualitatif dengan langkah (1) bekerja
dengan data, (2) mengorganisasikan data, (3) memilah-milahnya menjadi satuan
yang dapat dikelola, (4) mensintesiskannya untuk mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting, apa yang dicari, apa yang menjadi tujuan penelitian
yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif, serta (5) memutuskan apa yang
dapat dilaporkan sebagai hasil penelitian (Bogdan & Biklen 2003).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini disajikan dua subjudul, yakni kebutuhan sistem evaluasi
komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia dan kaidah sistem evaluasi hasil
4
belajar bahasa Indonesia. Hasil penelitian dan pembahasan kedua masalah tersebut
disajikan secara terintegrasi pada kedua subjudul tersebut.
Kebutuhan Sistem Evaluasi Komprehensif Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Untuk
mendapatkan
gambaran
akan
kebutuhan
sistem
evaluasi
komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia dilakukan analisis SWOT. Analisis
SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi
kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan
ancaman (threats) dalam suatu proyek (Wikipedia.com). Pada konteks ini, proyek
yang dimaksudkan adalah terwujudnya sebuah sistem evaluasi komprehensif hasil
belajar bahasa Indonesia.
Berdasarkan hasil analisis dokumen perangkat evaluasi, wawancara
mendalam dengan guru bahasa Indonesia sebagai pelaksana kegiatan evaluasi hasil
belajar, serta telaah literature dapat dirumuskan analisis SWOT sebagai berikut.
Tabel
Analisis SWOT Pengembangan Sistem Evaluasi Hasil Belajar Bahasa
Indonesia
Kondisi Internal
Kekuatan (strength)
Kelemahan (Weakness)
 SDM guru bahasa Indonesia telah
 Evaluasi pada ranah sikap terabaikan
memenuhi syarat sebagai guru
karena dianggap tidak berkontribusi
profesional
dalam penentuan prestasi belajar
siswa.
 Perencanaan dan pelaksanaan
evaluasi hasil belajar pada tingkat
 Evaluasi pada ranah keterampilan
kelas menjadi kewenangan penuh
belum maksimal karena banyak
guru
menyita waktu sehingga banyak
ditingalkan.
 Nilai ulangan harian memiliki bobot
yang tinggi dalam penentuan hasil
 Adanya instrumen evaluasi yang tidak
belajar siswa
memenuhi kriteria mengakibatkan
hasil pengukuran tidak valid.
 Guru sebagai evaluator sangat
mengenal kondisi dan karakteristik
 Tindak lanjut evaluasi (remedial dan
siswa
pengayaan) belum dilakukan secara
profesional.
Kondisi Eksternal
Peluang (opportunity)
Ancaman (threath)
 Tujuan pendidikan nasional menuntut  Efek negatif UN masih membelenggu
pencapaian ranah sikap, pengetahuan,
pelaksanaan evaluasi pada tingkat
dan keterampilan secara
kelas
komprehensif (UU Sisdiknas)
 Adanya kebijakan ulangan harian
terpadu membuat ulangan harian tidak
 Renstra Depdiknas menuntut sistem
evaluasi yang sesuai dengan tuntutan
berfungsi secara maksimal
masa depan (Permendiknas No 2
 Kebanggaan orang tua dan pejabat
Tahun 2010)
terhadap hasil tes ranah pengetahuan
membuat ranah keterampilan dan
 Kompetensi pedagogik guru
5
menuntut guru dalam melaksanakan
penilaian dan evaluasi proses dan
hasil belajar (Permendiknas No
16/2007)
 Teori pembelajaran bahasa modern
menuntut evaluasi bahasa secara
komunikatif
sikap menjadi tidak berarti
 Evaluasi hasil belajar belum mampu
meningkatkan kualitas proses dan
hasil belajar
 Nilai mata pelajaran bahasa Indonesia
tidak mencerminkan kompetensi
berbahasa yang sebenarnya
Penentu keberhasilan pengembangan dan pelaksanaan sistem evaluasi
komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia adalah sumber daya manusia yang
professional. Guru bahasa Indonesia SMP di Jawa Tengah yang menjadi
narasumber penelitian ini semua sudah tersertifikasi. Sebagai guru profesional yang
telah tersertifikasi, guru bahasa Indonesia di Jawa Tengah memiliki tanggung jawab
untuk memenuhi berbagai tuntutan standar kompetensi, termasuk standar
kompetensi pedagogik, di antaranya adalah “melaksanakan penilaian dan evaluasi
proses dan hasil belajar” serta “memanfaatkan hasil evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran”. Penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar pada tingkat kelas
menjadi kewenangan penuh guru (Permendiknas No 20/2007 dan Permendikbud
No 66/2013). Kekuatan lainnya adalah pemberian bobot nilai ulangan harian
(formatif) lebih tinggi daripada nilai ulangan akhir semester (sumatif) di beberapa
sekolah yang disurvai, menandakan bahwa kerepotan guru dalam merencanakan
dan melaksanakan penilaian dan evaluasi secara komprehensif mendapatkan
penghargaan yang pantas. Selain itu, seorang guru professional tentunya sangat
mengenal kondisi dan karakteristik siswa sehingga memudahkan dalam
merencanakan dan melaksanakan evaluasi komprehensif hasil belajar.
Beberapa kekuatan tersebut memberikan peluang bagi guru profesional
untuk mengembangkan sistem evaluasi hasil belajar yang sesuai tuntutan UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional, di antaranya adalah pencapaian hasil belajar
secara komprehensif yang mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan
secara proporsional. Pencapaian aspek hasil belajar secara komprehensif tentu
membutuhkan teknik dan perangkat evaluasi yang komprehensif pula. Selain itu,
guru
professional
juga
memiliki
peluang
yang
memungkinkan
untuk
mengembangkan sistem evaluasi di dalam kelas untuk mengembangkan kecerdasan
majemuk siswa sehingga potensi siswa dapat berkembang secara maksimal sesuai
karakteristik mata pelajaran (Permendiknas No 2/2010). Seorang guru professional
6
juga dituntut untuk bisa melakukan penilaian dan evaluasi hasil belajar secara
komprehensif sebagaimana tuntutan Permendiknas No. 16/2007
tentang Standar Guru. Pengembangan teori pembelajaran dan penilaian
bahasa yang berkembang pesat sudah seharusnya dimanfaatkan oleh guru
profesional
untuk
merekonstruksi
dan
mengembangan
sistem
evaluasi
komprehensif hasil belajar.
Beberapa kekuatan guru profesional sebagaimana telah teridentifikasi
tersebut tentunya tidak hanya dapat memanfaatkan peluang untuk merancang dan
mengembangkan sistem evaluasi komprehensif hasil belajar tetapi juga memiliki
kemampuan untuk mengatasi berbagai kelemahan sistem evaluasi yang ada.
Terabaikannya pencapaian hasil belajar pada ranah sikap dan keterampilan dalam
pembelajaran bahasa Indonesia tentu tidak sulit untuk diperbaiki dan ditata kembali
sesuai dengan tuntutan kurikulum terbaru. Sistem evaluasi komprehensif hasil
belajar bahasa Indonesia akan dapat mengatasi kelemahan pencapaian hasil belajar
ranah sikap dan keterampilan karena sistem evaluasi komprehensif menuntut
pencapaian hasil belajar secara komprehensif.
Beberapa kelemahan guru dalam pengembangan instrumen evaluasi hasil
belajar akan dapat diatasi dengan sistem evaluasi komprehensif menuntut
pencapaian hasil belajar secara komprehensif. Hal ini karena sistem evaluasi
komprehensif memberikan panduan berbagai teknik pengembangan instrumen
evaluasi, baik yang berupa tes (lisan, tertulis, dan perbuatan) maupun instrumen
nontes. Kelemahan sistem evaluasi yang berupa belum dilaksanakannya tindak
lanjut evaluasi hasil belajar secara benar, baik yang berupa pembelajaran remedial
maupun pembelajaran pengayaan akan dapat diatasi dengan sistem evaluasi
komprehensif hasil belajar. Hal ini karena system tersebut menawarkan panduan
pelaksanaan evaluasi proses dan tindak lanjutnya secara terperinci.
Pengembangan sistem evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia
yang dilaksanakan secara benar oleh guru profesional tentu akan dapat mengatasi
beberapa ancaman (threath) yang ada. Ancaman tersebut berupa kebijakan ulangan
harian terpadu (UHT) yang membuat ulangan harian selama ini tidak berfungsi
secara maksimal karena UHT hanya menggunakan teknik tes tertulis sementara itu
ulangan harian membutuhkan beragam teknik penilaian sesuai jenis aspek yang
akan dinilai. Ulangan harian dengan sistem evaluasi formatif harus dikembalikan
sepenuhnya menjadi kekuasaan penuh guru mata pelajaran di kelas agar penilaian
7
dan evaluasi formatif
dapat berfungsi secara maksimal untuk meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar. Pelaksanaan sistem evaluasi komprehensif hasil
belajar bahasa Indonesia yang dilaksanakan secara benar akan menghasilkan nilai
bahasa Indoneia yang mencerminkan kompetensi berbahasa yang sebenarnya.
Berdasarkan hasil analisis SWOT dapat disimpulkan bahwa diperlukan
rekonstruksi sistem evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia untuk mengoptimalkan
keunggulan system yang ada untuk mengurangi beberapa kelemahan pelaksanaan
system evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia. Selain itu, pemanfaatan beberapa
peluang pengembangan sistem evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia dapat
digunakan untuk mengatasi berbagai ancaman pelaksanaan dan pengembangan
sistem evaluasi hasil belajar yang ada.
Kaidah Sistem Evaluasi Komprehensif Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Analisis SWOT yang didasarkan atas hasil wawancara, FGD, studi
dokumentasi, dan telaah pustaka berkaitan dengan evaluasi hasil belajar bahasa
Indonesia menunjukkan perlunya rekonstruksi sistem evaluasi hasil belajar bahasa
Indonesia.
Rekonstruksi
sistem
evaluasi
tersebut
diperlukan
agar
dapat
mengembalikan fungsi evaluasi secara maksimal.
Selama ini, kegiatan evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia tidak dikelola
secara tepat. Hal tersebut membuat kegiatan evaluasi hasil belajar justru
kontradiktif terhadap tujuan evaluasi hasil belajar. Kegiatan evaluasi tidak dapat
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar secara berkesinambungan. Alih-alih
dapat meningkatkan kualitas, justru yang didapatkan sebaliknya. Proses
pembelajaran bahasa Indonesia tidak lagi berbasis kompetensi komunikatif
sebagaimana tuntutan kurikulum tetapi lebih menekankan hal-hal pragmatis untuk
mengejar nilai UN dengan menggunakan teknik drill untuk mencapai tujuan
pembelajaran jangka pendek. Karakter santun berbahasa sebagai dampak pengiring
pembelajaran tergantikan dengan pembentukan pola berpikir instan dalam
mencapai tujuan. Dalam hal pencapaian hasil belajar juga telah terjadi reduksi
tujuan pembelajaran dari tiga aspek (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) yang
seharusnya tercermin dalam kompetensi komunikatif menjadi hanya mencapai
aspek pengetahuan bahasa sesuai dengan kisi-kisi UN. Nilai mata pelajaran bahasa
Indonesia tidak mencerminkan kompetensi berbahasa yang sesungguhnya.
8
Kondisi tersebut sesuai dengan teori washback evaluation yang telah
dibuktikan oleh Wall dan Alderson (1993), Shohamy, Schmidt, dan Ferman (1996),
Messick (1996), McNamara (2001), dan Saif (2006). Wall dan Alderson (1993)
dalam artikel yang berjudul Examining Washback: The Sri Lankan Impact Study
dalam jurnal Language Testing. Vol. 10, No. 1, 41-69 mengungkapkan bahwa ujian
bahasa seringkali menyebabkan efek buruk dalam pengajaran bahasa. Beberapa
penulis mempercayai bahwa hal ini sangat mungkin untuk diubah kearah yang
positif dengan perbaikan sistem evaluasi. Shohamy, Schmidt, dan Ferman (1996)
dalam Language Testing, Vol. 13, No. 3 memodifikasi ujian nasional yang
dilakukan selama dua tahun berturut-turut untuk dua bahasa, yakni bahasa Arab
sebagai bahasa kedua (Arabic as a second language (ASL) dan bahasa Inggris
sebagai bahasa kedua (English as a foreign language (EFL dapat menciptakan
dampak positif dalam kegiatan pengajaran, waktu yang dialokasikan untuk
persiapan tes, pembuatan bahan pengajaran baru, dll. Meskipun perilaku-perilaku
negatif mengenai tes tetap ada. Mereka percaya bahwa test tersebut menciptakan
sebuah perubahan yang berarti dan merupakan kekuatan yang cukup untuk memacu
perubahan tanpa adanya sebuah kebutuhan untuk memberikan pelatihan dan
kurikulum baru.
Messick (1996) dalam artikel berjudul Validity and Washback in Language
Testing pada jurnal Language Testing Vol. 13, No. 3 memberikan rekomendasi
bahwa sebuah penilaian autentik dan penilaian langsung memiliki efek positif dan
negatif. Artikel ini membahas efek pengujian sebagai sebuah akibat dari validitas
konstruk. McNamara (2001) dalam jurnal Language Testing, Vol. 18, No. 4
menulis artikel tentang Language Assessment as Social Practice: Challenges for
Research. Dalam artikel tersebut, McNamara merekomendasikan perlunya
pemikiran ulang penilaian bahasa sesuai dengan kemajuan teori pembelajaran
bahasa yang dipacu oleh postmodernisasi.
Saif (2006) dalam artikel yang berjudul Aiming for positive washback: a
case study of international teaching assistants yang dimuat pada jurnal Language
Testing, Vol. 23, No. 1, menunjukkan adanya kemungkinan penciptaan efek positif
dengan memfokuskan
pada latar belakang proses pengembangan ujian dan
mengantisipasi kondisi-kondisi yang memungkinkan munculnya efek positif. Saif
(2006) lebih lanjut melaporkan hasil penelitian empirikal multifase yang
menunjukkan adanya pengaruh pengujian pada sebuah tes berbasis kebutuhan.
9
Hasil analisis SWOT serta kecocokkannya dengan beberapa rekomendasi
hasil penelitian memberikan penguatan akan perlunya dirumuskan kembali kaidah
sistem evaluasi. Perumusan kaidah sistem evaluasi komprehensif hasil belajar
bahasa Indonesia didasarkan pada hasil analisis SWOT. Perumusan kaidah tersebut
perlu diselaraskan dengan tuntutan sebagai guru yang profesional khususnya
kompetensi pedagogik pada kompetensi inti guru “melaksanakan penilaian dan
evaluasi proses dan hasil belajar” dan “memanfaatkan hasil evaluasi untuk
peningkatan kualitas pembelajaran” (Permendiknas No 16 Tahun 2007) serta
perkembangan teori pembelajaran dan evaluasi bahasa yang mutakhir.
Kaidah sistem evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia dapat
dibagi menjadi tiga, yaitu (1) landasan konseptual evaluasi komprehensif, (2)
landasan operasional evaluasi komprehensif, dan (3) tindak lanjut evaluasi
komprehensif yang dapat disajikan ke dalam enam bagian seperti bagan berikut.
Kaidah
Sistem Evaluasi Komprehensif
Hasil Belajar Bahasa Indonesia
(1) Konsep Dasar
Sistem Evaluasi Komprehensif
(2) Pembelajaran dan Penilaian
Bahasa Indonesia
(3) Evaluasi Hasil Belajar
pada Tahap Input Pembalajaran
(4) Evaluasi Hasil Belajar
pada Tahap Proses Pembelajaran
(5) Evaluasi Hasil Belajar pada
Tahap Akhir Pembalajaran
(6) Tindak Lanjut Evaluasi:
Pemb. Remedial dan Pengayaan
Bagan: Sistem Evaluasi Komprehensif Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Berkaitan dengan landasan konseptual, kaidah pertama yang dikaji adalah
“konsep dasar sistem evaluasi komprehensif” yang meliputi (1) hakikat evaluasi
pembelajaran, (2) Sistem evaluasi komprehensif, dan (3) etika evaluasi
komprehensif.
Hakikat evaluasi pembelajaran mencakup pengertian evaluasi, perbedaan
evaluasi dengan pengukuran dan penilaian, serta kedudukan evaluasi dalam
pembelajaran. Pengertian evaluasi perlu diungkapkan lebih dahulu sebagai konsep
yang paling dasar. Dalam konteks evaluasi hasil belajar, evaluasi dipahami sebagai
10
kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu hasil belajar (PP No 32
Tahun 2013). Kegiatan pengendalian mutu hasil belajar dilakukan pada tahap input,
proses, dan output pembelajaran. Pada tahap input pembelajaran tercakup konteks
pembelajaran yang meliputi sarana dan prasarana pembelajaran.
Kegiatan pengendalian mutu hasil belajar dilakukan dengan penilaian hasil
belajar pada tahap proses pembelajaran dengan mekanisme evaluasi formatif.
Kegiatan penjaminan mutu hasil belajar dilakukan dengan cara menetapkan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) hasil belajar serta penggunaan instrumen
pengukuran yang memenuhi kriteria. Penetapan mutu hasil belajar dilakukan
dengan mekanisme evaluasi sumatif dengan tindak lanjut berupa penetapan hasil
belajar berupa tuntas atau tidak tuntas.
Pemahaman tentang evaluasi yang benar akan membuat para guru benarbenar memanfaatkan kegiatan evaluasi sebagai sebuah upaya peningkatan kualitas
proses dan hasil belajar secara berkelanjutan. Perbedaan evaluasi dengan
pengukuran dan penilaian perlu dipahami secara benar agar dalam penggunaannya
tidak ada kesimpangsiuran. Penegasan ini diperlukan mengingat masih ada guru
atau calon guru yang mengangggap evaluasi sama dengan penilaian dan tes
(pengukuran). Padahal ketiga konsep tersebut berbeda dalam pelaksanaannya.
Evaluasi merupakan tindak lanjut dari penilaian dan penilaian baru dapat dilakukan
bila telah tersedia data dan informasi hasil pengukuran. Pengukuran dilakukan
dengan teknik tes dan nontes (Lihat Masden 1983; Groundlund 1990; dan
Stufflebeam & Shinkfield 1986).
Kedudukan evaluasi dalam pembelajaran merupakan informasi yang perlu
diketahui oleh pendidik agar dapat memaksimalkan fungsinya dalam peningkatan
kualitas proses dan hasil belajar. Dengan mengetahui kedudukan evaluasi dalam
pembelajaran yang sangat strategis dalam pembelajaran diharapkan tidak ada guru
yang mengabaikannya. Hasil wawancara dan FGD yang telah dipaparkan
sebelumnya menunjukkan ada gejala para guru telah mengabaikan kegiatan
evaluasi hasil belajar. Bahkan secara formal, pemerintah melalui kebijakan ujian
nasionalnya juga telah mengabaikan kegiatan evaluasi pendidikan.
Kaidah kedua berkaitan dengan landasan konseptual yang perlu dikaji
adalah konsep dasar “sistem evaluasi komprehensif” yang meliputi penjelasan
beberapa kaidah tentang (1) karakteristik evaluasi komprehensif, (2) fungsi evaluasi
komprehensif, dan (3) prinsip-prinsip evaluasi komprehensif.
11
Beberapa ciri utama evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia
adalah sebagai berikut. Pertama, evaluasi dilakukan terhadap hasil belajar peserta
didik mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output dan outcame)
pembelajaran. Kedua, pencapaian hasil belajar mencakup aspek sikap, pengetahuan,
dan keterampilan, baik sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring
pembelajaran. Ketiga, kegiatan pengukuran, penilaian, dan evaluasi hasil belajar
menyatu dengan perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Keempat,
Evaluasi komprehensif memanfaatkan berbagai teknik pengukuran, baik teknik tes
maupun teknik nontes secara simultan. Kelima, Evaluasi komprehensif tidak
sekadar untuk menentukan ketuntasan belajar dan menindaklanjutinya dengan
pembelajaran remedial atau pengayaan, namun juga untuk memotivasi peserta didik
agar lebih bergairah dalam belajar, mendeteksi potensi peserta didik yang
membutuhkan pengembangan lebih lanjut, menentukan posisi peserta didik,
memprediksi kesulitan belajar, serta memperbaiki program pembelajaran secara
keseluruhan.
Evaluasi komprehensif hasil belajar memiliki beberapa fungsi di antaranya
adalah sebagai berikut ini. Evaluasi terhadap input pembelajaran berfungsi untuk
mengetahui kualitas input pembelajaran, baik dari sisi kompetensi awal peserta
didik, kompleksitas kurikulum, dan keterdukungan sarana dan prasarana. Informasi
ini berguna untuk melakukan prediksi pencapaian hasil belajar (KKM) secara
akurat. Evaluasi terhadap proses pembelajaran berfungsi untuk mengontrol dan
menjamin ketercapaian hasil belajar secara benar dan maksimal. Selain itu, evaluasi
selama proses pembelajaran juga berfungsi untuk mendeteksi dini dan mengatasi
berbagai kendala pencapaian hasil pembelajaran. Evaluasi terhadap output
pembelajaran berfungsi untuk menjamin keputusan hasil pembelajaran didasarkan
pada data dan pengolahan hasil pembelajaran secara benar dan dapat
dipertanggungjawabkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain fungsifungsi tersebut, masih banyak fungsi lain yang diemban oleh sistem evaluasi hasil
pembelajaran yang perlu diungkapkan ke dalam buku panduan.
Evaluasi komprehensif hasil belajar dikembangkan dengan memegang
prinsip utama “komprehensif” dalam batas kewenangan seorang guru di dalam
kelas. Prinsip komprehensif dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar akan
menjamin keputusan evaluasi tersebut dilakukan secara adil, proporsional,
transparan, relevan, dan akuntabel.
12
Mengingat kegiatan evaluasi dilakukan atas dasar hasil penilaian dan
kegiatan penilaian dilakukan atas dasar hasil pengukuran, tentu saja prinsip-prinsip
yang mengatur penilaian dan pengukuran perlu dipahami oleh seorang evaluator
agar tidak menggunakan evaluasi yang didasarkan pada hasil penilaian yang keliru
dan penilaian juga tidak dilaksanakan dengan dasar hasil pengukuran yang salah.
Pelaksanaan evaluasi hasil belajar perlu memperhatikan etika kegiatan
evaluasi. Pokok bahasan ini penting untuk memberikan rambu-rambu moral
pelaksanaan evaluasi hasil belajar. Tanpa mengetahui etika evaluasi secara benar
boleh jadi seorang guru keliru dalam melakukan tindakan evaluasi sehingga
berakibat merugikan peserta didik. Misalnya, seorang guru yang menempelkan
hasil ujian secara terbuka di papan pengumuman dengan maksud melakukan
prinsip transparansi hasil belajar bisa berakibat negatif terhadap beberapa peserta
didik. Di samping etika evaluasi tersebut, guru perlu mengetahui beberapa hal
praktis berkaitan dengan evaluasi untuk dapat memaksimalkan fungsi evaluasi hasil
belajar dan mengurangi efek negatif dari evaluasi.
Evaluasi komprehensif hasil belajar bahasa Indonesia tidak mungkin bisa
diterapkan bila pendidik atau evaluator tidak mengenal benar karakteristik
pembelajaran bahasa Indonesia serta tes bahasa. Berbagai perkembangan keilmuan
dari hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa perlu diketahui
oleh seorang pendidik dan evaluator hasil belajar bahasa. Pembelajaran bahasa
modern
menuntut
perlunya
diperhatikan
kompetensi
komunikatif,
aspek
keterampilan berbahasa, aspek berpikir, aspek kebahasaan, dan aspek kewacanaan
(Depdiknas 2012).
Selain kelima hal tersebut, tentu saja seorang pendidik dan evaluator bahasa
Indonesia perlu mengkaji apa yang diinginkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia
yang berlaku. Oleh karena itu, pokok bahasan karakteristik dan tujuan
pembelajaran bahasa Indonesia perlu disampaikan lebih dahulu sebelum melakukan
evaluasi hasil belajar.
Evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia membutuhkan tes bahasa. Tes
bahasa bersifat unik dan tidak sama dengan jenis tes untuk mata pelajaran lain. Hal
yang perlu diperhatikan berkaitan dengan tes bahasa adalah karakteristik tes bahasa
dan jenis-jenis tes bahasa. Ada sepuluh bentuk tes bahasa (Akhadiah 1988;
Djiwandono 1996)
yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni (1) tes
komponen kebahasaan, yang mencakup: tes bunyi bahasa, tes kosa kata, dan tes
13
tatabahasa, (2) tes kemampuan berbahasa yang mencakup: tes menyimak, tes
membaca, tes menulis, dan tes berbicara, dan (3) tes gabungan antara komponen
kebahasaan dan kemampuan berbahasa yang mencakup: tes dikte, tes cloze, dan
tes-C. Kesepuluh jenis tes bahasa tersebut dapat digunakan untuk mengukur
pencapaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan bahasa Indonesia. Teknik
ini saja belum memadai untuk mengukur, menilai, dan mengevaluasi hasil belajar
bahasa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian penilaian autentik dalam
evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia.
Berkaitan dengan landasan operasional sistem evaluasi komprehensif, hal
yang perlu dikaji adalah kaidah sistem evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia pada
tahap awal¸ proses, dan akhir pembelajaran. Evaluasi pada awal pembelajaran
berupa evaluasi input pembelajaran. Evaluasi input mencakup evaluasi terhadap
intake siswa, kompleksitas kompetensi dan materi pembelajaran, dan daya dukung
sarana dan prasarana. Input tersebut diperlukan untuk menentukan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM).
KKM diperlukan sebagai patokan dalam
melaksanakan evaluasi hasil pembelajaran.
Selain evaluasi input pembelajaran juga diperlukan evaluasi hasil belajar
pada tahap proses pembelajaran. Evaluasi pada tahap proses pembelajaran menjadi
jaminan kualitas pencapaian hasil belajar karena tahap demi tahap pencapaian hasil
belajar selalu terpantau. Pemantauan dan penjaminan kualitas pencapaian hasil
belajar dalam evaluasi proses dilaksanakan melalui mekanisme penilaian formatif.
Evaluasi hasil belajar pada tahap akhir pembelajaran merupakan bagian inti
dari evaluasi komprehensif hasil pembelajaran. Evaluasi ini membutuhkan berbagai
data atau informasi mengenai pencapaian kompetensi pengetahuan, keterampilan,
dan sikap yang didapatkan dari kegiatan pengukuran dan penilaian seluruh aspek
hasil pembelajaran, baik yang dilakukan selama proses pembelajaran maupun pada
akhir pembelajaran. Evaluasi hasil belajara didasarkan pada pengukuran dan
penilaian hasil pembelajaran secara komprehensif. Evaluasi ini memanfaatkan hasil
evaluasi input pembelajaran untuk menetapkan pencapaian hasil belajar dan
memanfaatkan
evaluasi
proses
pembelajaran
untuk
merencanakan
dan
melaksanakan tindak lanjut evaluasi hasil belajar.
Sasaran evaluasi hasil pembelajaran adalah pencapaian kompetensi
pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara berimbang untuk menentukan posisi
relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Perbandingan
14
pencapaian hasil belajar dengan KKM yang telah ditentukan pada input
pembelajaran akan menjadi dasar pengambilan keputusan evaluasi hasil belajar,
apakah tuntas atau belum tuntas. Evaluasi hasil belajar memerlukan perangkat
evaluasi yang lengkap karena perlu melakukan pengukuran untuk kompetensi
sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sasaran evaluasi hasil pembelajaran dapat
dicapai dengan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut (1) menentukan desain
evaluasi hasil pembelajaran, (1) mengembangkan instrumen evaluasi, (3)
mengumpulkan data dan informasi, (4) menganalisis dan menginterpretasikan hasil
pengukuran, (5) melakukan tindak lanjut.
Salah satu ciri evaluasi komprehensif hasil belajar adalah adanya kegiatan
tindak lanjut sebagai bentuk pelayanan belajar tuntas dan memperhatikan
perbedaan individual peserta didik. Sistem evaluasi komprehensif dimulai dengan
evaluasi input pembelajaran untuk mengetahui kesiapan belajar peserta didik serta
memprediksi kompetensi minimal yang bisa dicapai peserta didik sebagai acuan
kriteria minimal. Selanjutnya dilakukan evaluasi proses pembelajaran untuk
mengetahui tahap-tahap pencapaian kompetensi serta mengungkap berbagai
kelemahan dan keunggulan proses pembelajaran. Evaluasi hasil belajar sebagai
bentuk penentuan pencapaian hasil belajar.
Berkaitan dengan tindak lanjut pelaksanaan sistem evaluasi hasil belajar
bahasa Indonesia, kaidah yang perlu dikaji adalah bagaimana prosedur pelaksanaan
pembelajaran remedial dan pengayaan. bagi peserta didik yang belum berhasil
mencapai KKM, pembelajaran pengayaan bagi peserta didik yang telah mencapai
KKM sementara teman-temannya belum berhasil pencapai KKM, dan tindak lanjut
dengan program khusus, baik program remedial kasus khusus maupun program
pengayaan kasus khusus yang penanganannya memerlukan peran guru sebagai
konselor, konselor sekolah, ahli psikologi, bahkan dokter, pemandu bakat, dan ahli
lainnya.
SIMPULAN
Berdasarkan analisis SWOT terhadap pelaksanaan sistem evaluasi hasil
belajar bahasa Indonesia di SMP dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan rekonstruksi
terhadap sistem evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia agar pelaksanaan evaluasi
hasil belajar dapat lebih berdaya guna. Rekonstruksi sistem evaluasi tersebut dapat
digunakan untuk memaksimalkan keunggulan dan peluang yang ada dan
15
mengurangi kelemahan dan mengatasi tantangan pengembangan sistem evaluasi
hasil belajar.
Untuk pengembangan sistem evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia
diperlukan beberapa kaidah system evaluasi yang dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
(1) landasan konseptual evaluasi komprehensif yang mencakup hakikiat evaluasi,
system evaluasi komprehensif hasil belajar, etika evaluasi komprehensif,
karakteristik pembelajaran bahasa Indonesia, karakteristik tes bahasa, dan penilaian
autentik
dalam
pembelajaran
bahasa
(2)
landasan
operasional
evaluasi
komprehensif yang mencakup prosedur pelaksanaan evaluasi hasil belajar pada
tahap awal pembelajaran, tahap proses pembelajaran, dan tahap akhir pembelajaran,
dan (3) tindak lanjut evaluasi komprehensif
yang mencakup pembelajaran
remedial, pembelajaran pengayaan, dan pembelajaran remedial dan pengayaan
kasus khusus.
Berdasarkan hal tersebut disampaikan rekomendasi berupa perlunya
dikembangkan buku panduan pendidik: sistem evaluasi komprehensif hasil belajar
bahasa
Indonesia
yang
memuat
berbagai
kaidah
pelaksanaan
evaluasi
komprehensif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Prof. Dr. Dandan Supratman,M.Pd.
(Promotor), Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum. (Ko-Promotor), dan Dr.Vismaia S
Damaianti, M.Pd. (Anggota Promotor) yang telah membimbing penyusunan
disertasi dan artikel ini dengan amat sabar.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti. 1988. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta: Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dirjen. Dikti.
Alderson, J. C., & Wall, D. 1993. Does Washback Exist? Applied Linguistics, 14,
115–129.
Biggs, J. B. (1995). Assumptions underlying new approaches to educational
assessment. Curriculum Forum, 4(2), 1–22.
16
Biggs, J. B. (Ed.). (1996). Testing: To educate or to select? Education in Hong
Kong at the cross-roads. Hong Kong: Hong Kong Educational Publishing.
Bogdan, R. C & Biklen, S. K. (2003). Qualitative Research for Education: An
introduction to Theories and. Methods (4th ed.). New York: Pearson
Education group
Burrows, C. (2004). Searching for washback: The impact of assessment in the
Certificate in Spoken and Written English. In G. Brindley & C. Burrows
(Eds.), Studies in immigrant English language assessment: Vol. 2. Sydney,
Australia: National Center for English Language Teaching and Research.
Dianne Wall dan J. Charles Alderson. 1993. Examining washback: the Sri Lankan
Impact Study dalam Language Testing. Vol. 10, No. 1, 41-69 (1993)
Djiwandono, M. Soenardi.1996. Tes Bahasa Dalam Pengajaran. Bandung: ITB.
Doyin, Mukh dan Wagiran. 2007. “Pengembangan Penilaian Bahasa dan Sastra
Indonesia Berbasis Komunikatif di SMP”. Laporan Penelitian Universitas
Negeri Semarang.
Effiyaldi. 2009. “Analisis Validitas dan Reliabilitas Soal Tes Penerimaan
Mahasiswa Baru pada STIKOM Dinamika Bangsa”. Laporan Penelitian
STIKOM Dinamika Bangsa.
Gronlund, N.E., dan Linn, R.L. (1990). Measurement and evaluation in teaching.
New York: McMillian Publishing Company.
Kanchana Prapphal . 2008. “Issues and trends in language testing and assessment in
Thailand” dalam Language Testing, Vol. 25, No. 1, 127-143 (2008).
Kluwer Nichost Publishing.
Masden, Harold S. 1983. Techniques In Testing. New York: Oxford University
Press.
McNamara (2001) dalam jurnal Language Testing, Vol. 18, No. 4
McNamara, T. (2001). “Language Assessment as Social Practice: Challenges for
Research “ Measuring second language performance. London: Longman.
McNamara, T.F. 2001. “ The effect of Interlocutor and Assessment Mode Variables
in Overseas Assessments of Speaking Skills in Occupational I Settings”
dalam Language Testing, Vol. 14, No. 2, 140-156 (1997)
Messick, S. (1996). Validity and washback in language testing. Language Testing,
13, 241–256
Purnomo Sidi. 1990. Pola Kecenderungan Penempatan Kunci Jawaban pada Soal
Tipe D Melengkapi Berganda. Laporan Penelitian. Universitas Terbuka.
17
Purwanti, Ani dan Irni Wulandari. 2008. “Studi Kualitas Soal Ujian Akhir Sekolah
Berstandar Nasional (UASBN) Mata Pelajaran Matematika Provinsi DKI
Jakarta Wilayah Jakarta Timur”. Laporan Penelitian Universitas Terbuka.
Purwanti, Ani dan Irni Wulandari. 2008. Studi Kualitas Soal Ujian Akhir Sekolah
Berstandar Nasional (UASBN) Mata Pelajaran Matematika Provinsi DKI
Jakarta Wilayah Jakarta Timur. Laporan Penelitian. Universitas Terbuka.
Rustam. 2001. “Penyetaraan Perangkat Tes Matematika Program DII PGSD
Universitas Terbuka”. Laporan Penelitian Universitas Terbuka.
Saif (2006) dalam artikel yang berjudul Aiming for positive washback: a case study
of international teaching assistants yang dimuat pada jurnal Language
Testing, Vol. 23, No. 1
Shahrzad Saif. 2006. “Aiming for positive washback: a case study of international
teaching assistants”. dalam Language Testing. Vol. 23, No. 1, 1-34 (2006).
Shohamy Elana, Smadar Donitsa-Schmidt, Irit Ferman. 1996. “Test impact
revisited: washback effect over time” dalam Language Testing, Vol. 13, No.
3, 298-317 (1996).
Shohamy, E., Donitsa-Schmidt, S., & Ferman, I. (1996). Test Impact revisited:
Washback effect over time. Language Testing, 13, 298–317.
Stuflebeam, D.L. and Shinkfield, A.J. 1986. Systematic Evaluation. Boston:
Sulistya. 2009. “Validitas Prediksi Hasil Belajar Bahasa Inggris”. Tesis. Universitas
Negeri Yogyakarta.
Wagiran dan Mukh Doyin. 2008. Pengembangan Penilaian Bahasa dan Sastra
Indonesia Berbasis Life Skill”. Laporan Penelitian Universitas Negeri
Semarang.
Wagiran. 2007. Pendekatan Komuniatif dalam Penilaian Bahasa dan Sastra
Indonesia di SMP”. Laporan Penelitian Universitas Negeri Semarang.
18
Download