pengaruh model pembelajaran bandura terhadap

advertisement
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BANDURA
TERHADAP KINERJA ILMIAH DAN HASIL BELAJAR IPA
SISWA KELAS IV SD
L. Ade Sri Lestari1, Md. Sumantri2, Kd. Suartama3
1,2
Jurusan PGSD, 3Jurusan TP, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
[email protected]
Abstrak
Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar IPA siswa. Hal ini
dilihat dari rata-rata capaian siswa antara 66 hingga 76,dengan KKM 70. Jika di
konversi ke PAP skala lima, nilai siswa tersebut tergolong baik dan cukup. Selain itu,
pembelajaran IPA yang dialami siswa, jarang melibatkan kinerja ilmiah. Dengan
demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan: (1) kinerja ilmiah antara
siswa yang belajar dengan penerapan model pembelajaran Bandura dan konvensional,
(2) hasil belajar IPA antara siswa yang belajar dengan penerapan model pembelajaran
Bandura dan konvensional, (3) kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA antara siswa yang
belajar dengan penerapan model pembelajaran Bandura dan konvensional. Jenis
penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini yaitu siswa
kelas IV SD di gugus IX kecamatan Buleleng sebanyak 207 siswa. Sampel penelitian ini
antara lain kelas IVA dan IVB SD No. 1 Astina. Data yang digunakan adalah data posttest kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA siswa. Data kinerja ilmiah dikumpulkan dengan
menggunakan lembar observasi sedangkan data hasil belajar IPA dikumpulkan dengan
menggunakan tes hasil belajar. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji-t dan Manova.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan: (1) kinerja ilmiah antara siswa
yang belajar menggunakan model pembelajaran Bandura dan konvensional dengan
signifikansi 0,47<0,05; (2) hasil belajar IPA antara siswa yang belajar menggunakan
model pembelajaran Bandura dan konvensional dengan signifikansi 0,000<0,05; dan (3)
kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA antara siswa yang belajar menggunakan model
pembelajaran Bandura dan konvensional dengan signifikansi kurang dari 0,05.
Kata kunci: Bandura, Kinerja Ilmiah, Hasil Belajar IPA
Abstract
The problem in this study was the low of student science learning outcomes. It can be
seen from the average performance of students between 66 to 76, with the KKM 70. If
the conversion to PAP skala lima, scores of student are classified as good and enough.
In addition, students experienced learning science, rarely involves the scientific
performance of this study. Therefore, this experiment aimed to determine: (1) the
scientific performance differences between students who were thaught by using
Bandura’s learning model and conventional learning model, (2) the differences of
science learning outcomes between students who were thaught by using Bandura’s
learning model and conventional learning model, (3) the performance of scientific and
science learning outcomes differences between students who were thaught by using
Bandura’s learning model and conventional learning model. The experiment was a
quasi-experiment. The population of this experiment was the whole fourth grade
students at Gugus IX Kecamatan Buleleng who were 207 students. The samples of this
experiment were the class of IVA and IVB in SD No. 1 Astina. The data were used in the
experiment was a data post-test of scientific performance and science learning
outcomes. The data of scientific performance were collected by using observation
sheets and the data of science learning outcomes were collected by using achievement
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
test. The collected data were analyzed by using t-test and Manova. The result of
analysis showed that: (1) there was differences in scientific performance between
students who were thaught by using Bandura’s learning model and conventional
learning model with significance at 0.47<0.05; (2) there was differences in science
learning outcomes between students who were thaught by using Bandura’s learning
model and conventional learning model with significance at 0.000<0.05; and (3) there
was differences in scientific performance and science learning outcomes between
students who were thaught by using Bandura’s learning model and conventional
learning model with significance less than 0.05.
Keywords: Bandura, Scientific Performance, Science Learning Outcomes
PENDAHULUAN
Belajar adalah suatu proses yang
melibatkan kegiatan seleksi, pengaturan,
dan penyampaian pesan yang pantas
kepada lingkungan dan bagaimana cara
pebelajar berinteraksi dengan informasi
tersebut. Belajar juga dikatakan sebagai
proses multi segi yang biasanya dianggap
sesuatu yang biasa saja oleh individu
sampai mereka mengalami kesulitan saat
menghadapi tugas yang kompleks, akan
tetapi kapasitas belajar adalah karakteristik
yang membedakan manusia dari yang
lainnya (Gredler, 2011). Belajar adalah hal
yang penting karena belajar merupakan
dasar bagi kemajuan masyarakat di masa
mendatang. Mengingat pentingnya belajar,
maka masyarakat maupun individu tidak
bisa mengabaikan proses pendidikan begitu
saja. Dalam proses pendidikan ini,
pengajaran yang berlangsung melibatkan
guru sebagai pengajar dan siswa sebagai
pebelajar.
Dalam melakukan pembelajaran, guru
harus menentukan metode maupun model
pembelajaran yang akan diterapkan.
Penentuan atau pemilihan metode tersebut,
hendaknya
melalui
pertimbangan-pertimbangan yang matang sehingga dapat
menghasilkan keputusan yang tepat dan
sesuai dengan sasaran yaitu proses belajar
siswa dan luaran yang dihasilkan.
Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah,
guru menggunakan pemikiran yang praktis
yang mudah diterapkan dalam pelaksanaan
pembelajaran. Guru sudah terbiasa melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
yang menempatkan guru sebagai pusat
dalam pembelajaran. Pelaksanaannya,
siswa di sekolah hanya mendapat teori-teori
dari penjelasan guru, tanpa dapat meng-
ekspresikan kemampuannya dalam materi
yang dipelajari.
Hal ini terjadi pada siswa di sekolah
dasar di gugus IX Kecamatan Buleleng,
Kabupaten Buleleng. Berdasarkan hasil
observasi (wawancara dan pengamatan)
awal yang dilakukan, didapatkan bahwa
cara mengajar guru masih menggunakan
teacher center atau pembelajaran yang
berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan
siswa menjadi kurang aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Selain itu, hal ini juga berpengaruh pada tingkat hasil belajar yang
dicapai siswa. Hasil belajar yang dicapai
siswa pada gugus tersebut termasuk
kategori baik dan cukup pada konversi
skala lima. Namun, kebanyakan sekolah di
gugus IX ini berada pada kategori cukup.
Kisaran skor rata-rata capaian siswa yaitu
66 hingga 76.
Berdasarkan kegiatan observasi awal
dapat diketahui bahwa masih terdapat
permasalahan pada pelaksanaan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran
IPA di sekolah dasar di gugus IX
Kecamatan Buleleng ini. Hal ini didasarkan
pada metode pengajaran guru yang tidak
menempatkan siswa sebagai pebelajar
yang mampu mengeksplorasi pengetahuannya. Selain itu, karakteristik dari mata
pelajaran IPA yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa dan menekankan
pentingnya belajar aktif, belum dipenuhi
sehingga perolehan hasil belajar siswa
tergolong rendah.
Dengan melihat karakteristik siswa
yang mampu mengeksplorasi pengetahuannya
sendiri,
dan
memperhatikan
karakteristik IPA, maka terdapat ketidaksesuaian dengan penerapan model pembelajaran konvensional yang turun temurun
dijalankan tersebut. Sudah saatnya guru
mencari dan menerapkan model pem-
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
belajaran yang sesuai dengan karakteristik
siswa dan mata pelajarannya. Dengan
memperhatikan karakteristik siswa dan
mata pelajaran inilah guru juga bisa disebut
praktis dalam hal memilih model pembelajaran yang akan diajarkan. Seperti
halnya pendapat Ginnis (2008:18) bahwa
guru menginginkankan ide-ide praktis
dalam
melaksanakan
pembelajaran.
Dengan demikian guru harus dapat membuka wawasannya untuk dapat mengetahui
manfaat yang didapatkan oleh pendidik
untuk mengetahui alasan terkait dengan
sesuatu berjalan, atau tidak. Hal tersebut
akan berguna apabila guru-guru mempunyai prinsip-prinsip untuk menuntun
dalam merancang pelajaran, dan juga akan
bermanfaat bila mengetahui cara siswa
belajar sehingga guru tidak selalu bertindak
secara otomatis dari cara pembelajaran
yang rutin ia jalankan yaitu pembelajaran
dengan ceramah penuh.
Dengan demikian, guru hendaknya
memikirkan model pembelajaran yang akan
digunakan sehingga model yang dipilih
sesuai dengan materi yang akan dipelajari
siswa, dan juga sesuai dengan karakteristik
siswa yang belajar. Melalui pertimbanganpertimbangan itulah guru dapat dikatakan
berhasil karena telah menemukan model
pembelajaran yang tepat dan berhasil
menerapkannya
dalam
pembelajaran.
Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari
hasil capaian siswa ketika model tersebut
telah dijalankan. Dalam Uno (2010)
dipaparkan bahwa model pembelajaran
dapat berperan sebagai pola atau dasar
yang dapat digunakan dalam pembelajaran.
Model pembelajaran yang dipilih dan
digunakan oleh guru sudah memuat teoriteori yang dapat digunakan sebagai
panduan atau tuntunan dalam melaksanakan pembelajaran. Teori-teori yang dimuat
khususnya berkenaan dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik
pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran.
Berdasarkan berbagai pengertian dan
pemahaman tentang belajar dan model
pembelajaran di atas, model pembelajaran
yang diangkat dalam penelitian ini adalah
model Pembelajaran Bandura. Pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Bandura ini akan mengarahkan
siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran tidak lagi
menitik beratkan pada aktivitas guru. Hal ini
sangat baik untuk perkembangan siswa
secara
aktif
untuk
membangun
pengetahuan yang ia dapatkan dalam
proses pembelajaran.
Bandura merupakan nama dari
seorang ahli psikologi yaitu Albert Bandura.
Albert Bandura sangat terkenal dengan
teori
pembelajaran
sosialnya
yang
merupakan salah satu konsep dalam aliran
behaviorime yang menekankan pada
komponen
kognitif
dari
pemikiran,
pemahaman, dan evaluasi. Teori kognitif
sosial (social cognitive theory) yang dikemukakan
oleh
Albert
Bandura
menyatakan bahwa faktor sosial dan
kognitif serta faktor pelaku memainkan
peran penting dalam pembelajaran. Faktor
kognitif
berupa ekspektasi/penerimaan
siswa untuk meraih keberhasilan, faktor
sosial mencakup pengamatan siswa
terhadap model.
Albert Bandura yang
merupakan salah satu perancang teori
kognitif sosial memandang bahwa ketika
sisa
belajar
mereka
dapat
merepresentasikan
atau
mentrasformasi
pengalaman mereka secara kognitif.
Bandura
mengembangkan
model
deterministic resipkoral yang terdiri dari tiga
faktor utama yaitu perilaku, person/kognitif,
dan lingkungan yang cocok dengan mata
pelajaran IPA yang mengarah pada
lingkungan siswa itu sendiri. Ketiga faktor
ini bisa saling berinteraksi dalam proses
pembelajaran. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, faktor perilaku mempengaruhi lingkungan, dan faktor person/
kognitif mempengaruhi perilaku. Faktor
person Bandura tidak mempunyai kecenderungan kognitif terutama pembawaan
personalitas dan temperamen. Faktor
kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan,
strategi pemikiran dan kecerdasan.
Dalam Winarto (2011) dijelaskan
bahwa model pembelajaran Bandura,
dipengaruhi oleh faktor prilaku, person/
kognitif, dan lingkungan. Faktor yang berperan penting dari ketiganya adalah faktor
person (kognitif). Menurut teori Bandura ini,
proses mengamati dan meniru baik perilaku
dan sikap orang lain sebagai model
merupakan tindakan belajar yang dapat
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
dilakukan oleh setiap individu. Teori
Bandura menjelaskan perilaku manusia
dalam konteks interaksi timbal balik yang
berkesinambungan antara kognitif, perilaku,
dan
pengaruh
lingkungan.
Kondisi
lingkungan
sekitar
individu
sangat
berpengaruh pada pola belajar sosialnya.
Penerapan
model
pembelajaran
Bandura tidak lagi menempatkan guru
sebagai pusat pelaksanaan pembelajaran,
melainkan siswa yang mengobservasi
melalui model yang telah disiapkan oleh
guru. Peran guru hanya menyediakan
model, fasilitator, mengarahkan, dan membimbing siswa. Siswalah yang berperan
penting dalam mengkonstruksi pengetahuan dan pemahamannya melalui pengamatan atau observasi dan modeling atau imitasi
dari model yang disediakan.
Dengan demikian, dari kenyataan
pembelajaran yang diterapkan di sekolahsekolah, data capaian hasil belajar siswa
khususnya pada mata pelajaran IPA, dan
teori dari model pembelajaran Bandura,
maka peneliti tertarik untuk meneliti apakah
terdapat pengaruh model pembelajaran
Bandura terhadap kinerja ilmiah dan hasil
belajar IPA siswa kelas IV sekolah dasar di
gugus IX Kecamatan Buleleng Kabupaten
Buleleng tahun pelajaran 2013/2014.
Penelitian tersebut dilakukan dengan
menganalisis perbedaan pembelajaran
yang menggunakan model pembelajaran
Bandura dengan model pembelajaran
konvensional terhadap kinerja ilmiah dan
hasil belajar khususnya pada mata
pelajaran IPA siswa kelas IV sekolah dasar
di
gugus
IX
Kecamatan
Buleleng
Kabupaten Buleleng tahun pelajaran
2013/2014. Hal ini dikarenakan untuk
meneliti atau mengetahui ada tidaknya
pengaruh, akan dilihat pada ada tidaknya
perbedaan hasil yang diperoleh setelah
menerapkan suatu model baru terhadap
model lama yang diterapkan.
METODE
Jenis penelitian ini adalah kuasi
eksperimen. Rancangan kuasi penelitian ini
berfungsi untuk memperoleh informasi yang
merupakan perkiraan bagi informasi yang
diperoleh dengan eksperimen dalam
keadaan yang tidak memungkinkan untuk
mengadakan kontrol atau manipulasi ter-
hadap semua variabel yang relevan (Noor,
2011:118). Penelitian ini menggunakan
Post Test Only Group Design. Desain ini
merupakan desain yang paling sederhana
dari desain eksperimen, karena responden
benar-benar dipilih secara random dan
diberi perlakuan serta ada kelompok
pengontrolnya (Noor, 2011). Desain ini
telah memenuhi kriteria dari penelitian kuasi
eksperimen, yakni melibatkan kegiatan
manipulasi variabel, pemilihan kelompok
yang diteliti secara random, dan seleksi
perlakuan. Mengacu dari teori tersebut,
dalam rancangan ini digunakan dua
kelompok. Satu kelompok diberi perlakuan
tertentu yang disebut dengan kelompok
eksperimen yakni kelompok yang mendapat
perlakuan Model Pembelajaran Bandura.
Sementara kelompok yang satunya lagi
dijadikan kelompok kontrol yakni kelompok
yang, hanya menggunakan model pembelajaran
konvensional
yang
biasa
diterapkan di sekolah tersebut.
Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah siswa kelas IV sekolah
dasar di gugus IX kecamatan Buleleng,
kabupaten Buleleng tahun pelajaran
2013/2014. Gugus IX di kecamatan
Buleleng, Kabupaten Buleleng ini meliputi
SD No. 1 Astina, SD No. 1 Banjar Jawa, SD
No. 3 Banjar Jawa, dan SD No. 5 Banjar
Jawa.
Banyaknya populasi dalam
penelitian ini yaitu 207 siswa. Sebelum
ditentukannya sampel penelitian, terlebih
dahulu dilakukan uji kesetaraan dengan
menggunakan uji-t pada populasi. Setelah
dilakukan uji ke-setaraan, kemudian
dilakukan random pada pasangan kelas
sebagai
sampel
penelitian.
Setelah
pasangan
kelas
didapat,
kemudian
pasangan tersebut dirandom kembali untuk
menentukan kelas eksperimen dan kontrol.
Sampel dari hasil random yang dilakukan
adalah SD No. 1 Astina Singaraja dengan
kelas IVA dan IVB sebagai kelas
eksperimen dan kontrol. Banyaknya siswa
pada kelas eksprimen yaitu kelas IVA
adalah 24 siswa dan kelas kontrol yaitu
kelas IVB adalah 20 siswa.
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: (1) instrumen kinerja
ilmiah yaitu dengan lembar observasi; dan
(2) instrumen hasil belajar IPA dengan tes
hasil belajar. Sebelum instrumen diguna-
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
kan, terlebih dahulu diuji oleh dua ahli
(judgest) yakni dosen yang membidangi
IPA. Instrumen kinerja ilmiah juga diseleksi
oleh judgest sehingga indikator-indikator
yang dinilai pada lembar observasi tersebut
layak untuk diterjunkan pada kegiatan post
test. Pada instrumen hasil blajar IPA, soalsoal pada tes hasil belajar IPA diseleksi,
dan dilakukan revisi hingga soal-soal pada
tes hasil belajar tesebut siap untuk dilakukan uji coba. Uji coba dilakukan di SD No. 3
Banjar Jawa pada kelas VA, VC, dan IVB.
Jumlah siswa yang dilibatkan dalam
validasi soal sebanyak 99 siswa dengan 50
butir soal. Dari 50 butir soal yang diuji
cobakan, sebanyak 31 butir soal dinyatakan
valid sehingga dilakukan random untuk
mengeliminasi 1 butir soal karena soal yang
digunakan pada post test sebanyak 30
butir. Selain analisis validitas yang
dilakukan,
dilakukan
juga
analisis
reliabilitas. Berdasarkan hasil analisis,
didapatkan reliabilitas tes sebesar 0,85 dan
tergolong pada reliabilitas tinggi sehingga
soal-soal yang valid tersebut layak untuk
Berdasarkan tabel tersebut, kinerja
digunakan pada kegiatan post test. Analisis
yang digunakan pada pengujian hipotesis
pertama (untuk mengetahui perbedaan
kinerja ilmiah antara kelompok eksperimen
dan kontrol) dan hipotesis kedua (untuk
mengetahui perbedaan hasil belajar IPA
antara kelompok eksperimen dan kontrol)
menggunakan uji-t dua ekor. Sedangkan uji
hipotesis ketiga (untuk mengetahui perbedaan kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA
antara kelompok eksperimen dan kontrol)
menggunakan MANOVA yang terdiri dari uji
Pillai’s Trace, Wilk’s Lambda, Hotteling’s
Trace, dan Roys Largest Root dengan
bantuan program SPSS-PC 16 for Windows
(Priyatno, 2009:126).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk dapat mendeskripsikan hasil
penelitian, dilakukan analisis statistik
deskriptif pada masing-masing variabel
terikat kelas eksperimen dan kontrol.
Adapun rekapitulasi hasil perhitungan
statistik deskriptif tersebut dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi hasil perhitungan statistik deskriptif
Statistik
Deskriptif
Mean
Median
Modus
Varians
Standar Deviasi
Skor Maksimum
Skor Minimum
Kinerja Ilmiah
Kelompok
Kelompok
Eksperimen
Kontrol
79,50
73,21
77,44
71,10
67,53
88,31
89,95
118,80
9,48
10,90
91,88
88,31
67,53
55,84
ilmiah pada kelompok eksperimen diketahui
Modus<Median<Mean sehingga kurva pada
kelompok ini adalah kurva juling positif
(Koyan, 2012:19). Kurva tersebut dapat
dilihat pada gambar 1 di samping ini.
Hasil Belajar IPA
Kelompok
Kelompok Kontrol
Eksperimen
85,14
65,00
86,67
66,67
93,33
50,00
94,67
140,94
9,73
11,87
96,67
63,33
63,33
40,00
Tabel 1 tersebut di atas juga dapat
diketahui kinerja ilmiah pada kelompok
kontrol. Kurva kinerja ilmiah kelompok ini
adalah tidak mengikuti kurve juling positif
dengan Modus<Median<Mean. Selain itu,
kurve kinerja ilmiah kelompok ini juga tidak
mengikuti kurve juling negatif dengan
Modus>Median>Mean. Hal ini dikarenakan
kurve kinerja ilmiah kelompok konvensional
menggambarkan Modus>Median, Modus>
Mean, dan Median<Mean. Kurva kinerja
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
ilmiah kelompok kontrol dapat dilihat pada
gambar 2 di bawah ini.
Kurva hasil belajar IPA kelompok
konvensional juga dapat digambarkan berdasarkan tabel 1 di atas. Dari data tersebut,
didapatkan kurva seperti gambar 4 di
bawah ini.
Gambar 2. Kurva kinerja ilmiah kontrol
Tabel 3. Rangkuman analisis Manova
Selain kinerja ilmiah, hasil belajar IPA
Effect juga dapat diketahui dengan melihat
Value
siswa
Intercept
Pillai's
Trace
tabel
1 di atas.
Hasil
belajar IPA siswa .985
eksperimen digambarkan
dengan Modus> .015
Wilks' Lambda
Median>Mean sehingga didapatkan kurva
Hotelling's Trace
63.967
juling negatif (Koyan, 2012:19). Kurva
Largest
63.967
tersebut dapatRoy's
dilihat
pada Root
gambar 3 di
samping
ini. Pillai's Trace
X
.547
Wilks' Lambda
Hotelling's Trace
Roy's Largest Root
a. Exact statistic
b. Design: Intercept + X
F
Hypothesis df Error df
Sig.
a
1.311E3
41.000
.000
Gambar 4. Kurva2.000
hasil belajar
IPA kontrol
a
1.311E3
2.000 41.000
.000
a
.000
Setelah dilakukan
analisis statistik
1.311E3
2.000 41.000
a
deskriptif,
kemudian
dilakukan
analisis
1.311E3
2.000 41.000
.000
hipotesis.
Namun
sebelum
analisis
a
24.733 dilakukan,
2.000
41.000
.000
hipotesis
terlebih
dahulu dilakua
.000
.453 kan
24.733
41.000
uji prasyarat 2.000
yaitu uji normalitas
dan
uji
a
homogenitas.
Berdasarkan
uji
prasyarat
1.206 24.733
2.000 41.000
.000
yang dilakukan,
diperoleh bahwa .000
data
a
1.206 kinerja
24.733 ilmiah dan
2.000
41.000 IPA siswa
hasil belajar
kelompok eksprimen dan kontrol normal
dan homogen. Selanjutnya dilakukan
analisis hipotesis pertama dan kedua
dengan menggunakan uji-t. Rangkuman ujit dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.
Gambar 3. Kurva hasil belajar IPA
eksperimen
skor sig. (2-tailed) kinerja ilmiah siswa
Pengambilan keputusan uji-t berkelompok eksprimen dan kontrol adalah
dasarkan sig. (2-tailed) dilakukan dengan
0,047, dan skor sig. 2-tailed hasil belajar
membandingkan skor sig. 2-tailed dengan
IPA siswa kelompok eksperimen dan
sig. 0,05. Apabila sig. 2-tailed sama dengan
kontrol adalah 0,000. Kedua sig. 2-tailed
atau lebih kecil dari 0,05, artinya terdapat
tersebut <0,05 sehingga hipotesis pertama
perbedaan yang signifikan diantara dua
dan hipotesis kedua diterima.
kelompok. Dan apabila skor sig. (2-tailed)
Setelah uji-t dilakukan, selanjutnya
diatas 0,05, artinya tidak terdapat perdilakukan uji hipotesis terakhir yaitu
bedaan yang signifikan diantara dua
hipotesis ketiga dengan analisis Manova.
kelompok tersebut. Dari tabel di atas,
dapat
Rangkuman
analisis Manova disajikan pada
Tabel 2. Rangkuman
uji-t
dilihat bahwa hasil uji-t kinerja ilmiah antara
tabel 3 berikut ini.
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
Kinerja Ilmiah
Hasil Belajar IPA
Uji-t
(Sig. 2-tailed)
0,047
0,000
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
Tabel di atas dapat diketahui bahwa
signifikansi dari Pillai’s Trace, Wilk’s
Lambda, Hotteling’s Trace, dan Roys
Largest Root adalah<0,05, sehingga
hipotesis ketiga dapat diterima.
Berdasarkan hasil penelitian di atas,
dapat dideskripsikan bahwa kinerja ilmiah
siswa kelompok eksperimen lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa kelompok
kontrol. Tinjauan ini didasarkan pada ratarata skor kinerja ilmiah siswa dan
kemiringan kurve histogram. Rata-rata skor
kinerja ilmiah siswa kelompok eksperimen
adalah 79,50 yang berada pada kategori
tingkat penguasaan baik (berdasarkan
pedoman konversi skala lima) dan skor
kinerja ilmiah siswa pada kelompok kontrol
adalah 73,21 yang juga berada pada
kategori baik (berdasarkan pedoman
konversi skala lima). Skor kinerja ilmiah
siswa kelompok eksperimen digambarkan
dalam grafik histogram tampak kurva
sebaran data merupakan juling positif yang
menunjukkan bahwa sebagian besar skor
cendrung rendah dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Akan tetapi, dilihat dari
sebaran data yang diperoleh siswa klompok
eksperimen, skor siswa tidak tergolong
cenderung rendah dan jika dikonversi ke
PAP skala lima, maka skor siswa berada
pada kategori memuaskan. Sedangkan
pada kelompok kontrol, hasil skor kinerja
ilmiah siswa digambarkan dalam grafik
histogram tampak bahwa kurva sebaran
data tidak mengikuti kurve juling positif
maupun juling negatif sehingga data skor
siswa tidak cenderung rendah maupun
tinggi. Namun, jika dilihat dari sebaran skor
siswa, dapat dikatakan bahwa skor kinerja
ilmiah siswa pada kelompok kontrol lebih
rendah dibandingkan dengan skor siswa
pada kelompok eksperimen walaupun
sama-sama
berada
pada
kategori
memuaskan. Dengan demikian, maka
dapat dilihat bahwa jika siswa dibelajarkan
dengan model pembelajaran Bandura,
setidaknya terjadi kenaikan skor dilihat dari
rata-rata capaian siswa dibandingkan
dengan pembelajaran konvensional.
Selain data kinerja ilmiah, data hasil
belajar IPA siswa kelompok eksperimen
juga lebih tinggi dibandingkan dengan
siswa kelompok kontrol. Hal ini didasarkan
pada rata-rata skor hasil belajar IPA siswa
dan kemiringan kurve histogram. Rata-rata
skor hasil belajar IPA siswa kelompok
eksperimen adalah 85,14 yang berada
pada katagori tingkat penguasaan sangat
memuaskan dan skor hasil belajar IPA
siswa pada kelompok kontrol adalah 65,00
yang berada pada kategori cukup. Skor
hasil
belajar
IPA
siswa
kelompok
eksperimen digambarkan dalam grafik
histogram tampak kurve sebaran data
merupakan kurve juling negatif yang
menyatakan bahwa sebagian besar skor
cendrung tinggi. Sedangkan pada kelompok
kontrol, skor hasil belajar IPA siswa yang
digambarkan dalam grafik histogram
tampak bahwa kurve sebaran data tidak
mengikuti kurve juling positif maupun juling
negatif sehingga data skor siswa tidak
cenderung rendah maupun tinggi. Namun,
jika dilihat dari sebaran skor siswa, dapat
dikatakan bahwa skor hasil belajar IPA
siswa pada kelompok kontrol tergolong
rendah.
Setelah data dianalisis dengan uji
statistik
deskriptif,
selanjutnya
data
dianalisis dengan menggunakan uji-t.
Berdasarkan uji-t yang digunakan untuk
menguji hipotesis pertama dan kedua,
didapatkanlah hasil sebagai berikut: (1) Uji-t
independent pada kinerja ilmiah siswa kelas
eksperimen dan kontrol menyatakan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara
kinerja ilmiah siswa kelas ekperimen yang
belajar
melalui
pe-nerapan
model
pembelajaran Bandura dan siswa kelas
kontrol yang belajar melalui penerapan
model pembelajaran konven-sional dengan
signifikansi
yang
didapat
sebesar
0,47<0,05. Dengan signifikansi yang kurang
dari 0,05 inilah maka H1 diterima yakni
terdapat perbedaan kinerja ilmiah antara
siswa yang belajar meng-gunakan model
pembelajaran Bandura dan siswa yang
belajar menggunakan model pembelajaran
konvensional pada siswa kelas IV sekolah
dasar di gugus IX kecamatan Buleleng
kabupaten Buleleng tahun pelajaran
2013/2014; dan (2) Uji-t independent pada
hasil belajar IPA siswa kelas eksperimen
dan kontrol menyatakan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan data hasil belajar
IPA siswa kelas ekperimen yang belajar
melalui penerapan model pembelajaran
Bandura dan kontrol yang belajar melalui
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
penerapan model konvensional dengan
signifikansi
yang
di-dapat
sebesar
0,000<0,05. Dengan capaian signifikansi
yang kurang dari 0,05 itulah maka H2
diterima yaitu terdapat perbedaan hasil
belajar IPA antara siswa yang belajar
menggunakan
model
pembelajaran
Bandura dan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional
pada siswa kelas IV sekolah dasar di gugus
IX kecamatan Buleleng kabupaten Buleleng
tahun pelajaran 2013/2014.
Berbeda dengan uji hipotesis pertama
dan kedua, uji hipotesis ketiga dilakukan
dengan analisis Manova. Pada analisis ini
didapatkan bahwa signifikansi semuanya
(empat jenis analisis: uji Pillai’s Trace,
Wilks’ Lamda, Hotelling’s Trace, Roy’s
Largest, dan Root) 0,00<0,05, sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
model pembelajaran terhadap kinerja ilmiah
dan hasil belajar IPA siswa kelas
eksperimen dengan penerapan model pembelajaran Bandura dan kelas kontrol
dengan penerapan model pembelajaran
konvensional. Uji selanjutnya pada analisis
Manova ini adalah uji probabilitas
(signifikansi) untuk menyelidiki ada tidaknya
perbedaan. Uji ini menghasilkan capaian
signifikansi kurang dari 0,05 sehingga
dikatakan H3 diterima yaitu terdapat perbedaan kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA
antara siswa yang belajar menggunakan
model pembelajaran Bandura dan siswa
yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV
sekolah dasar di gugus IX kecamatan
Buleleng
kabupaten
Buleleng
tahun
pelajaran 2013/2014.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan kinerja ilmiah dan hasil
belajar IPA siswa antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol secara teori, yaitu pada
teknis pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran konvensional pada
kelas kontrol yang dirapkan sehari-hari oleh
guru cenderung lebih berpusat pada guru
(teacher center).
Sudjana
(2009:13)
menyatakan
bahwa konvensional merupakan suatu cara
yang diterapkan dalam penyampaian
informasi dengan lisan kepada sejumlah
pendengar. Hal ini menandakan bahwa
pembelajaran yang menerapkan model
konvensional di suatu sekolah ditandai
dengan kegiatan berceramah oleh guru
terhadap siswa-siswanya. Kegiatan ini berpusat pada guru, dan komunikasi terjadi
bersifat searah. Dengan pembelajaran yang
demikian, siswa menjadi cepat bosan
sehingga konsentrasi siswa untuk mengikuti
pembelajaran tersebut berkurang dan kebermaknaan pembelajaran menjadi sangat
kurang bagi siswa. Siswa yang belajar
dengan model konvensional ini hanya
sekadar mengikuti pembelajaran dan guru
juga hanya menuntut hasil yang dicapai
siswa tanpa mempertimbangkan proses
yang dilalui siswa, sehingga dampaknya
terlihat pada kinerja dan hasil belajar yang
dicapai siswa menjadi kurang maksimal.
Berbeda dengan kelas eksperimen
yang dibelajarkan dengan penerapan model
pembelajaran Bandura. Siswa di kelas ini
diajak untuk lebih aktif dalam mengikuti
pembelajaran sehingga siswa menjadi
pusat dalam kegiatan pembelajaran atau
yang sering disebut dengan student center
dan peran guru hanya sebagai fasilitator
yang mengarahkan dan memfasilitasi siswa
dalam kegiatan pembelajaran. Siswa tidak
terus-terusan diceramahi materi oleh guru,
melainkan siswa diajak untuk mengeksplorasi kemampuan yang ia miliki,
dibiasakan untuk belajar dalam lingkungan
tempat ia tumbuh, dan juga dibiasakan
untuk bekerja secara ilmiah sehingga pembelajaran yang diterapkan menjadi bermakna bagi siswa. Kebermaknaan ini
terjadi karena siswa lebih memahami materi
yang dipelajari yang kemudian dikaitkan
dengan kehidupan siswa sehingga bukan
hanya sekadar teori yang diketahui siswa,
melainkan juga penerapan dalam kehidupannya sehari-hari. Dampak yang diberikan melalui penerapan model pembelajaran ini sangat terlihat baik dari kinerja
maupun hasil belajar yang dicapai siswa
secara maksimal.
Terjadinya peningkatan kinerja ilmiah
dan hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan dengan penerapan model pembelajaran
Bandura
sejalan
dengan
pendapat Piaget (dalam Hergenhahn &
Matthew, 2009:388) bahwa pembelajaran
sangat perlu materi konkret di tangan siswa
(bukan sekadar gambar) dan siswa perlu
menyusun hipotesis dan memverifikasi
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
materi itu (atau tidak memverifikasinya)
secara langsung.
Teori Bandura dapat membuat siswa
lebih memahami dan berkontribusi dalam
pembelajaran. Dengan demikian, dapat
diartikan bahwa pemodelan dari model
pembelajaran Bandura itulah yang berfungsi untuk memberikan gambaran awal
kepada siswa terkait dengan apa yang
harus ia lakukan kedepannya. Melalui
pemodelan siswa akan mendapat gambaran yang harus ia kerjakan, dan akhirnya
siswa dapat mengeksplorasi pengetahuannya dengan mengembangkan model yang
ia amati. Dari pengamatan tersebut siswa
akan
memantapkan
pengetahuannya
dengan cara menghubungkan pengalaman
baru yang ia dapatkan dengan pengalaman
sebelumnya
dengan
pengulanganpengulangan yang dilakukannya. Dengan
terpenuhinya unsur-unsur penting yang
mendasari penerapan model pembelajaran
Bandura ini, maka pembelajaran yang dilaksanakan akan menjadi bermakna bagi
siswa sehingga bisa meningkatkan kinerja
ilmiah dan hasil belajarnya. Berdasarkan
hasil yang dicapai pada penelitian ini dan
juga secara teori, maka dapat dikatakan
bahwa model pembelajaran Bandura lebih
unggul daripada model pembelajaran
konvensional.
Selain itu, hasil penelitian ini juga
sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Yoda, dkk., Jurusan
Pendidikan Jasmani Kesehatan dan
Rekreasi, FOK Universitas Pendidikan
Ganesha, dalam Penelitian Pengembangan
Pendidikan pada Desember 2011 berjudul
“Pengembangan Modul Bermuatan Model
Pembelajaran Bandura untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Penjasorkes dan Kecerdasan
Kinestetik Siswa Sekolah Dasar”. Hasil
penelitian Yoda, dkk., menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar siswa dengan
model pembelajaran bandura yang diterapkan. Sejalan dengan penelitian
tersebut, penelitian ini yang menerapkan
model pembelajaran bandura pada siswa
kelas IV juga dapat meningkatkan kinerja
ilmiah dan hasil belajar IPA siswa. Terbukti
dengan meningkatnya skor capaian siswa
baik secara kinerja ilmiah maupun hasil
belajar. Peningkatan skor capaian siswa ini
disebabkan oleh cara membelajarkan siswa
yang berbeda. Dengan pembelajaran
Bandura, siswa dituntut untuk aktif bukan
hanya dari segi mencari informasi atau
teori, melainkan secara aktivitas. Siswa
dituntut untuk melakukan percobaan
sehingga dari percobaan tersebut siswa
akan lebih memahami teori yang ia pelajari.
Dengan demikian, maka pembelajaran
dengan model Bandura berpengaruh positif
terhadap capaian siswa.
Temuan-temuan yang membuktikan
adanya pengaruh positif yang merupakan
akibat dari penerapan model pembelajaran
Bandura yakni dipaparkan sebanyak empat
poin. Poin pertama, siswa aktif mengikuti
pembelajaran. Mulai dari timbulnya rasa
ingin tahu yang terlihat dari pertanyaanpertanyaan yang di-tanyakan siswa ketika
proses pembelajaran berlangsung. Siswa
juga aktif mengamati pemodelan yang
ditampilkan dan aktif mengerjakan tugas
yang diberikan untuk memenuhi rasa ingin
tahunya. Dengan pengerjaan tugas yang
diselesaikan secara pribadi maupun berkelompok ini akan berdampak pada pengetahuan yang didapat siswa akan lebih diingat daripada pengetahuan yang diberikan
oleh guru secara langsung dengan cara
ceramah. Hal ini dikarenakan siswa akan
memahami materi dengan baik melalui
proses yang harus dilalui untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, bukan mendapatkannya secara
instan.
Poin kedua, mengasah kemampuan
kinerja ilmiah siswa. Penerapan model
pembelajaran Bandura ini mengarahkan
siswa untuk melakukan observasi. Dengan
diadakannya observasi lebih banyak, maka
siswa akan menjadi lebih terampil untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan ilmiah sejenis observasi ilmiah. Dan hasil observasi
yang didapatkan akan lebih bermakna.
Poin ketiga, meningkatnya interaksi
antar siswa, maupun interaksi siswa
dengan guru. Hal ini terlihat dari interaksi
antara siswa maupun interaksi siswa
dengan guru pada saat melakukan kegiatan
ilmiah. Selain memberikan bimbingan, guru
juga memberikan arahan bahwa kegiatan
ilmiah yang dilakukan berkaitan dengan
kejadian yang terjadi dilingkungannya.
Begitu pula interaksi siswa dalam kelompok
lebih kondusif. Hal ini juga ditandai dengan
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
peran guru dalam penyampaian materi
yang semakin berkurang.
Dan terakhir yaitu poin keempat,
terbukti bahwa kinerja ilmiah dan hasil
belajar IPA siswa dapat meningkat sebagai
akibat dari pengaruh model pembelajaran
Bandura. Hal ini didasarkan pada pembelajaran Bandura yang menekankan
pembelajaran yang berpusat pada siswa
dengan mengarahkan siswa untuk melakukan observasi atau pengamatan dan
analisis terhadap materi yang dipelajari
dengan lingkungan sekitar siswa. Dengan
demikian siswa dapat terlibat secara
langsung dalam proses pembelajarannya.
Keterlibatan langsung siswa dalam pembelajaran tersebut, dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki
atau pengetahuan awal siswa pada
kegiatan berinteraksi antar kelompok serta
dapat juga meningkatkan keterampilan
ilmiah siswa dalam mengerjakan kegiatan
ilmiah yang diberikan. Selain itu pembelajaran yang dilakukan akan lebih bermakna, karena melalui kegiatan ilmiah yang
diberikan akan memberikan pengalaman
langsung bagi siswa, sehingga akan berdampak pada meningkatnya kinerja ilmiah
dan hasil belajar siswa.
Ini berarti bahwa terdapat perbedaan
kinerja ilmiah dan hasil belajar yang
signifikan antara siswa yang belajar pada
kelas eksperimen dengan penerapan model
pembelajaran Bandura dan siswa yang
belajar pada kelas kontrol dengan penerapan model pembelajaran konvensional.
Adanya perbedaan yang signifikan ini
menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran Bandura berpengaruh terhadap
kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pembahasan, dapat
disimpulkan bahwa: (1) terdapat perbedaan
kinerja ilmiah antara siswa yang belajar
dengan menggunakan model pembelajaran
Bandura dan siswa yang belajar dengan
menggunakan
model
pembelajaran
konvensional; (2) terdapat perbedaan hasil
belajar IPA antara siswa yang belajar
dengan menggunakan model pembelajaran
Bandura dan siswa yang belajar dengan
menggunakan
model
pembelajaran
konvensional; dan (3) terdapat perbedaan
kinerja ilmiah dan hasil belajar IPA antara
siswa yang belajar dengan menggunakan
model pembelajaran Bandura dan siswa
yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional.
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, dapat disampaikan be-berapa
saran sebagai berikut: (1) bagi pendidik,
agar dapat menerapkan model pembelajaran Bandura khususnya dalam
pembelajaran IPA agar tercapai kompetensi
secara maksimal, tercipta suasana belajar
yang kondusif dan menyenangkan dalam
pembelajaran IPA; (2) bagi siswa, dengan
diterapkannya
model
pembelajaran
Bandura diharapkan dapat berpartisipasi
aktif dalam pembelajaran khususnya IPA,
sehingga
pemahaman
materi
juga
meningkat dan meningkatkan hasil belajar
dan kinerja siswa; dan (3) bagi peneliti dan
mahasiswa, agar dapat mengadakan
penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran
Bandura
dengan
mempertimbangkan kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini sebagai acuan
perbaikan.
DAFTAR RUJUKAN
Ginnis, Paul. 2008. Trik dan Taktik
Mengajar: Strtegi Meningkatkan
Pencapaian Pengajarandi Kelas.
Terjemahan
Wasi
Dewanto.
Teacher’s
Toolkit:
Classroom
Achievement with Strategies for
Every Learner. 2008. Jakarta:PT
Indeks.
Gredler, Margaret E. 2011. Teori dan
Aplikasi Edisi Keenam. Terjemahan
Tri
Wibowo.
Learning
and
Instruction.
2011.
Jakarta:
Kencana.
Hergenhahn, B. R. dan Matthew H. Olson.
2009. Theories of Learning, Edisi
Ketujuh. Terjemahan Tri Wibowo.
Theories of Learning. 2009.
Jakarta: Kencana.
Koyan, I Wayan. 2012. Statistik Pendidikan:
Teknik Analisis Data Kuantitatif.
Singaraja: Universitas Pendidikan
Ganesha Press.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
Noor,
Juliansyah.
2011.
Metodologi
Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi,
dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Priyatno, Duwi. 2009. SPSS untuk Analisis
Korelasi, Regresi, dan Multivariate.
Yogyakarta: Gava Media.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar Proses
Pembelajaran. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Uno,
H. Hamzah B. 2010. Model
Pembelajaran: Menciptakan Proses
Belajar Mengajar yang Kreatif dan
Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Winarto, Joko. 2011. Teori Belajar Sosial
Albert Bandura. Tersedia pada
http://edukasi.kompasiana.com
(diakses tanggal 28 November
2013).
Yoda, I Ketut., dkk. 2011. Pengembangan
Modul
bermuatan
Model
Pembelajaran
Bandura
untuk
Meningkatkan
Hasil
Belajar
Penjasorkes
dan
Kecerdasan
Kinestetik Siswa Sekolah Dasar.
Penelitian Pengembangan (tidak
diterbitkan). Jurusan Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi,
FOK. UNDIKSHA Singaraja.
Download