PENGARUH STRETCHING TERHADAP FL SISWA SEKOLAH

advertisement
PENGARUH MUSCLE ENERGY TECHNIQUE DAN STATIC
STRETCHING TERHADAP FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING PADA
SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA (SSB) ANGKASA SURAKARTA
NASKAH PUBLIKASI
Oleh :
ALI AHYAR RIDHA
NIM J 110090025
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Menyelesaikan Program Pendidikan DIV Fisioterapi
PROGRAM STUDI DIV FISIOTERAPI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH SURAKARTA
2013
LEMBAR PERSETUJUAN NASKAH PUBLIKASI
PENGARUH MUSCLE ENERGY TECHNIQUE DAN STATIC
STRETCHING TERHADAP
TERHADA FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING
PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA (SSB)
ANGKASA SURAKARTA
Diajukan Oleh :
Nama
: Ali Ahyar Ridha
NIM
: J.110.090. 025
Telah Membaca dan Mencermati Naskah Publikasi Karya Ilmiah, yang
Merupakan Ringkasan Skripsi Sebagai Tugas Akhir dari Mahasiswa Tersebut
Telah disetujui oleh :
Pembimbing Utama
NIK. 1016
ABSTRAK
“PENGARUH MUSCLE ENERGY TECHNIQUE DAN STATIC
STRETCHING TERHADAP FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING PADA
SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA (SSB) ANGKASA SURAKARTA”
ALI AHYAR RIDHA
J110090025
(Dibimbing oleh: Dwi Rosella Komalasari, M.Fis dan Wahyuni, M.Kes)
Latar Belakang: Sekolah Sepak Bola (SSB) Angkasa merupakan wadah yang
menyiapkan siswanya menjadi pemain sepak bola dimasa depan. Siswa SSB
selama berlatih sangat beresiko mengalami cidera terutama pada ekstremitas
bawah seperti strain hamstring Fleksibilitas otot yang baik akan mendukung
kualitas pemain karena dapat mencegah strain. Dibutuhkan penanganan untuk
mencegah strain hamstring salah satunya dengan meningkatkan fleksibilitas otot.
Kurangnya fleksibilitas otot menjadi faktor pencetus cedera pada otot hamstring.
Tujuan: untuk mengetahui pengaruh muscle energy technique dan static
stretching terhadap fleksibilitas otot hamstring pada siswa SSB Angkasa
Surakarta, serta mengetahui perbedaan pengaruh muscle energy technique dan
static stretching terhadap fleksibilitas otot hamstring pada siswa SSB Angkasa
Surakarta.
Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu
dengan menggunakan rancangan penilitian pre and post test two group design.
Sample sebanyak 13 siswa yang usianya 15-16 tahun. Pengukuran fleksibilitas
menggunakan geniometri sebelum dan sesudah diberikan perlakuan selama 4
minggu. Uji Pengaruh menggunakan wilcoxon, uji beda pengaruh dengan
menggunakan mann whitney test.
Hasil: Hasil pengujian wilcoxon MET sinistra (p=0,014) MET dextra (p=0,016).
Dan static stretching sinistra (p=0,034) static stretching dextra (p=0,063). Hasil
mann whitney hamstrings sinistra (p=0,016) hamstrings dextra (p=0,093).
Kesimpulan: MET dan Static stretching berpengaruh terhadap peningkatan
fleksibilitas hamstring. Antara MET dan static stretching tidak terdapat perbedaan
pengaruh yang signifikan.
Kata kunci: Muscle Energy Technique (MET), Static stretching, Fleksibilitas otot
hamstring.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sepak bola saat ini mendapat perhatian yang cukup intensif dari pemerintah
dikarenakan olah raga ini sering dijadikan media pengangkatan prestasi bangsa
pada ajang
kompetisi di tingkat internasional. Prestasi sepak bola dapat
ditingkatkan dengan banyak cara salah satunya pembentukan sekolah sepak bola.
Sekolah Sepak Bola (SSB) Angkasa merupakan salah satu SSB di Surakarta
sebagai wadah yang menyiapkan siswanya menjadi pemain sepak bola dimasa
depan. Siswa SSB selama berlatih sangat beresiko mengalami cidera terutama
pada ekstremitas bawah seperti strain hamstring sebagai jenis cedera yang paling
sering, diikuti oleh strain quadriceps, sprain ankle, dan cidera pada knee. Dari
hasil survei pendahuluan yang dilakukan peneliti, ditemukan lima dari tujuh siswa
SSB sering mangalami strain otot hamstring dan mengalami gangguan
fleksibilitas pada otot hamstring dengan adanya tight pada otot hamstring. Hal ini
menjadi perhatian kebutuhan rehabilitatif yang memadai
untuk mencegah
reinjuries (Arnason et al., 2004).
Fleksibilitas otot yang baik akan mendukung kualitas pemain karena dapat
mencegah strain. Fleksibiltas otot dapat ditingkatkan melalui fisioterapi.
Fisioterapi dalam Penerapannya banyak sekali teknik yang digunakan salah
satunya metode muscle energy technique (MET). Muscle energy technique (MET)
merupakan teknik manual yang memfokuskan pada kontraksi otot, teknik ini
dipercaya efektif untuk meningkatkan fleksibilitas otot dengan cepat dan
peningkatan LGS (Wassem et al., 2010). Teknik lain yaitu dengan metode
stretching salah satunya static
digunakan
stretching yaitu suatu metode umum yang
ini menyebabkan jaringan lunak yang memanjang melewati titik
resistensi jaringan selama periode waktu tertentu (Kisner, 2007).
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujan untuk mengetahui beda pengaruh muscle energy
technique dan static stretching terhadap fleksibilitas otot hamstring pada siswa
SSB Angkasa Surakarta.
TINJAUAN PUSTAKA
Sepak Bola
Permainan sepak bola memerlukan keterampilan yang berhubungan dengan
kebugaran tubuh, yaitu kekuatan atau kecepatan, kelincahan, dan ketahanan otot.
Kelincahan sangat memerlukan peran dari otot yang mana membutuhkan suatu
fleksibilitas otot untuk siap menanggapi gerakan (Husaini, 2002).
Peran Otot Hamstring pada Sepak Bola
Otot hamstring merupakan suatu group otot pada sendi paha (hip joint) yang
terletak pada sisi belakang paha yang berfungsi sebagai gerakan fleksi knee, serta
gerakan eksternal dan internal rotasi hip. Group otot ini terdiri atas otot
semimembranosus, otot semitendinosus, dan otot. biceps femoris. Pada Sepak bola
melibatkan banyak otot mulai dari otot besar sampai pada otot kecil salah satu
yang paling berperan adalah otot hamstring. Otot hamstring dalam permainan
sepak bola mempunyai banyak peran dilihat dari aspek biomekanikanya hampir
seluruh gerakan dalam permainan bola yang meliputi menggiring bola, pasing
bola, dan melakukan tendangan, derajat knee joint selalu pada posisi flexi pada
berbagai derajat. Hal ini menyebabkan otot hamstring bekerja lebih berat dalam
membentuk pola keseimbangan untuk penompang tubuh dan potensial mengalami
cedera (Shan, 2011).
Fleksibilitas Otot Hamstring
Fleksibilitas otot hamstring merupakan faktor penting dalam biomekanik
olah raga sepak bola yang mana perpanjangan jaringan otot memiliki peranan
penting dalam efisiensi dan efektifitas gerakan dalam mencegah strain (Wassem
et al., 2010). Strain besar kaitannya dengan tight muscle, menurut Dadebo (2004),
terjadi karena banyak faktor seperti: a) Ketidakseimbangan kekuatan otot, b)
Pemanasan yang tidak memadai, c) Kurangnya fleksibilitas otot, d) Kelelahan otot
dan e) Rehabilitatif tidak memadai.
Faktor yang mempengaruhi fleksibilitas
Menurut Frontera et al., (2006) yang dikutip oleh pujiastuti, (2011)
mengatakan bahwasannya faktor-faktor yang mempengaruhi fleksibilitas yaitu: a)
Muskuloskeletal, b) Keseimbangan, c) Sistem persyarafan dan d) Postur tubuh.
Pengukuran fleksibilitas otot hamstrings
Fleksibilitas otot hamstrings dapat diketahui dengan beberapa tes spesifik
seperti: 1) Sit and reach test, 2) Toe touch test, 3) Back saver sit and reach test, 4)
Passive straight leg raise test dan 5) Active knee extension test. Pada penelitian ini
peneliti menggunakan alat ukur active knee extension test yang mana fleksibilitas
otot hamstring diukur melalui lingkup gerak sendi (LGS) knee ekstensi dengan
geniometri.
Muscle Enegry Technique (MET)
Definisi Muscle Energy Technique
Muscle energy technique adalah bentuk terapi untuk jaringan lunak dimana
otot-otot responden secara aktif digunakan, dengan posisi tertentu dan gerakan
terkontrol dengan terapis melawan atau menahan gerakan tersebut.
Mekanisme muscle energy technique pada otot hamstring
Post Isometric Relaksasi (PIR) mengacu pada penurunan kontraksi
isometrik otot hamstring beberapa detik dan diikuti rileksasi. Hal ini terjadi
karena peregangan reseptor pada otot hamstring yang disebut golgi tendon organ
(GTO) yang terletak ditendon dari otot hamstring sebagai agonis. Implus aferen
saraf dari golgi tendon organ menuju dorsal root pada spinal cord dan bertemu
dengan hambatan motor neuron. Ini menghentikan debit impuls motor neuron
eferent oleh karena mencegah kontraksi lanjut, penurunan tonus otot, yang
kemudian menghasilkan otot hamstring yang santai dan memanjang saat
rileksasi(Chaitow, 2001).
Reciprocal Inhibition (RI) mengacu pada inhibisi otot antagonis yakni otot
quardiseps dengan kontraksi isometrik otot quardiseps. Hal ini terjadi akibat
peregangan reseptor proprioseptif pada muscle spindle untuk menjaga panjang
otot secara konstan, dengan cara ini proprioseptif pada muscle spindle akan
merangsang serabut saraf aferen dan bertemu dengan rangsangan motor neuron
pada otot agonis dan pada saat yang sama menghambat motor neuron otot
antagonis untuk mencegah kontraksi lanjut, penurunan tonus otot, yang pada
gilirannya menghasilkan agonis yang santai dan memanjang (Chaitow, 2001).
Pada penelitian ini peneliti menggunakan MET dengan penerapan prinsip
post isometric relaksasi (PIR). MET ini akan meregangkan, meningkatkan dan
memperpanjang jaringan myofascial pada otot hamstring yang berpotensi
menghasilkan viscoelastic dan perubahan struktural, perubahan gerakan
autonomic mediated dalam cairan ekstraselular otot dan mechanotransduction
fibroblast (Chaitow, 2001). Pada akhirnya MET bisa menstimulasi produksi dan
penyimpanan suatu bahan yang menyerupai gel glycosaminoglycans (GAGs). Zat
ini (GAGs) bersama-sama dengan air, asam hyaluronic melumasi dan menjaga
jarak kritis antara serat-serat jaringan penghubung dalam tubuh sehingga otot akan
mudah bergerak dan dapat memanjang dengan maksimal (Herawati, 2004).
Static Stretching
Pengertian
Stretching terdapat 3 tipe jenis, yaitu static stretching, ballistic stretching
dan proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF ) stretching (Freshmen,
2002).
Static stretching adalah metode umum yang digunakan yang menyebabkan
jaringan lunak memanjang melewati titik resistensi jaringan dan dilakukan
peregangan berkelanjutan selama periode waktu tertentu (Kisner, 2007).
Respon Mekanik Dan Neurofisiologi Otot Hamstrings Akibat Stretching
Respon mekanik otot terhadap peregangan bergantung terhadap myofibril
dan sarcomer otot. Setiap otot tersusun dari beberapa serabut otot. Satu serabut
otot terdiri atas beberapa myofibril. Serabut myofibril tersusun dari beberapa
myofilament yang terletak sejajar dalam serabut otot. Sarcomer merupakan unit
kontraktil dari myofilament dan terdiri atas filamen actin dan myosin yang saling
tumpang tindih. Sarcomer memberikan kemampuan pada otot untuk berkontraksi
dan rileksasi, serta mempunyai kemampuan elastisitas jika diregangkan.
Respon neurofisiologi otot terhadap stretching pada otot hamstring bergantung
pada struktur muscle spindle dan golgi tendon organ. Ketika otot hamstring
diregang dengan sangat cepat, maka serabut afferent primer merangsang α (alpha)
motor neuron pada medulla spinalis dan memfasilitasi kontraksi serabut
ekstrafusal yaitu meningkatkan ketegangan (tension) pada otot. Hal ini dinamakan
dengan monosynaptik stretch refleks. Tetapi jika peregangan dilakukan secara
lambat pada otot, maka golgi tendon organ terstimulasi dan menginhibisi
ketegangan pada otot sehingga memberikan pemanjangan pada komponen elastis
otot (Lederman, 1997).
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah Quasi Eksperimen atau disebut eksperimental
semu oleh karena tidak semua responden dikontrol oleh peneliti. Desain
penelitiannya adalah pre and post test two group design dengan membandingkan
antara dua perlakuan yaitu kelompok satu muscle energy technique (MET) dan
kelompok kedua static stretching. Responden diberikan intervensi MET dan Static
Stretching selama 4 minggu. Pada penelitian ini peneliti menggunakan alat ukur
Active knee extension test yang mana fleksibilitas otot hamstring diukur melalui
lingkup gerak sendi (LGS) knee ekstensi dengan geniometri. Penelitian dilakukan
di Sekolah Sepak Bola (SSB) Angkasa Surakarta pada bulan Mei-Juni 2013.
Teknik pengambilan sample dengan teknik Purposive Sampeling yang memenuhi
kriteria inklusi: Berusia 15 – 19 tahun, terdapat Tight otot hamstring (Tidak
mampu untuk mencapai lebih dari 160° dari ekstensi knee dengan hip fleksi pada
90°) tidak menderita Low back pain akut atau kronis, tidak menderita cidera
m.hamstrings akut atau kronis dan bersedia menjadi responden. Data-data prepost test yang telah terkumpul diuji secara statistik kuantitatif dengan softwere
SPSS.
HASIL PENELITIAN
Sekolah Sepak Bola (SSB) Angkasa merupakan salah satu SSB di Surakarta.
Kegiatan latihan para siswa SSB ini dilaksanakan 3 kali dalam seminggu.
Responden yang berjumlah 13 orang ini yang berumur 15-17 tahun dan dibagi
menjadi 7 responden kelompak MET dan 6 responden kelompok static stretching.
Dari data tersebut didapatkan hasil uji statistik sebagai berikut:
Uji Pengaruh Muscle Energy Tecknique (MET) dan Static Stretching dengan
Wilcoxon Test.
No
1
Data Uji
muscle energy technique
(MET)
2
static stretching
Bagian
dextra
sinistra
dextra
sinistra
Nilai Signifikansi
.016
.014
.063
.034
Hasil penelitian pengaruh muscle energy technique (MET) terhadap
peningkatan fleksibilitas otot hamstring dextra dan sinistra menunjukan hasil p <
0,05
yang
berarti
bahwa
muscle
energy
pengaplikasiannya selama 5 detik dan rileksasi
technique
(MET)
dalam
2 detik dilakukan 3 kali
pengulangan untuk setiap treatment sebanyak 3 kali seminggu selama 1 bulan
berpengaruh untuk meningkatkan fleksibilitas otot hamstring.
Hasil penelitian pengaruh static stretching terhadap peningkatan fleksibilitas
otot hamstring sinestra menunjukan hasil p < 0,05 yang berarti bahwa static
stretching dalam pengaplikasiannya durasi 15 detik sebanyak 3 kali seminggu
selama 1 bulan berpengaruh terhadap peningkatan fleksibilitas otot hamstring
sinistra.
Pada otot hamstring dextra, uji statistik menunjukan p > 0,05 yang berarti
static stretching tidak berpengaruh pada fleksibilitas otot hamstring dextra, hal ini
dikarenakan pada penelitian ini responden lebih dominan menggunakan tungkai
bagian dextra dari pada bagian sinistra saat permainan dan juga untuk menyikapi
semua gerakan tubuh, dimana otot bagian dextra memiliki kinerja yang lebih
besar dari pada bagian sinestra dan berpotensi mengalami delayed onset muscle
soreness (DOMS) yakni suatu fenomena yang sering ditemui dan terdokumentasi
dengan baik, sering terjadi sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau
intensitas tinggi seperti pada sepak bola (MacIntyre et al., 1995). Gejala-gejala yang
menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap gerak pasif,
bengkak, penurunan kekuatan, daya ledak otot dan sakit lokal. Gejala - gejala akan
sering muncul dalam 24 jam setelah latihan dan biasanya menghilang setelah 3 – 4
hari (Proske, 2001). Penggunaan tungkai bagian dextra secara berkepanjangan dapat
menimbulkan
DOMS yang mana dalam jangka panjangnya akan menyebabkan
respon adaptasi jaringan yaitu gangguan fleksibilitas jaringan otot.
Uji Beda Pengaruh Muscle Energy Tecknique (MET) dan Static Stretching dengan
Mann-Whitney Test.
No
1
2
Fleksibilitas
Dextra
Sinistra
MEAN MET
9.286
10.000
MEAN Static Stretching
5.000
5.000
Sig
.093
.016
Dari penelitian ini didapatkan bahwa uji beda pengaruh data menunjukan
perbedaan pengaruh antara MET dan static stretching, yang mana untuk bagian
sinistra p < 0,05 dan bagian dextra signifikansi nilai p > 0,05.
Pada
muscle
energy
technique
(MET)
dalam
pengaplikasiannya
memberikan efek terhadap fleksibilitas otot hamstring dikarenakan pada prinsip
Post Isometric Relaksasi (PIR) akan meregangkan, meningkatkan dan
memperpanjang jaringan myofascial pada otot hamstring yang berpotensi
menghasilkan gerakan autonomic mediated dalam cairan ekstraselular otot yang
mana menyebabkan air dan asam hyaluronic akan mengendorkan dan melumasi
gerakan antara fasia dan otot dan akan menyebabkan mechanotransduction
fibroblast yaitu fibroblast mensekresikan protein pada serabut otot dan tendon
sehingga menyebabkan otot memanjang (Chaitow, 2001). PIR juga akan
menstimulus golgi tendon organ (GTO) yang terletak di tendon dari otot
hamstring sebagai agonis. Implus aferen saraf dari golgi tendon organ menuju
dorsal root pada spinal cord dan bertemu dengan hambatan motor neuron. Ini
menghentikan debit impuls motor neuron efferent oleh karena mencegah
kontraksi lanjut, penurunan tonus otot, yang akan menghasilkan otot hamstrings
yang santai dan memanjang saat rileksasi (Chaitow, 2001).
Untuk penerapan static stretching memakai prinsip yang sama dimana akan
menstimulus golgi tendon organ (GTO) yang mana menghentikan debit impuls
motor neuron efferent oleh karena mencegah kontraksi lanjut, penurunan tonus
otot, yang pada gilirannya menghasilkan otot hamstrings yang santai dan
memanjang saat rileksasi.
Perbedaan pengaruh antara otot hamstring dextra dengan otot hamstring
sinestra dapat diindikasikan oleh karena pada penelitian ini responden lebih
dominan menggunakan tungkai bagian dextra dari pada bagian sinestra di tambah
dengan intensitas latihan yang dilakukan 3 kali dalam seminggu menyebabkan
otot hamstring tidak elastis dengan maksimal oleh karena efek dari DOMS yang
menyebabkan elastisiitas otot terganggu oleh karena gangguan mikroskopik pada
garis Z yakni sarkomer yang dapat menyebabkan aktin dan myosin cross bridges
sebelum relaksasi karena ATP yang diperlukan untuk mengangkut Ca+ terhambat,
sehingga Ca+ terakumulasi dan mengaktifkan protease dan phospholipases yang
menyebabkan peradangan pada serabut otot sekaligus perangsangan nosiseptor
muscle spindel sehingga serabut afferent primer merangsang α (alpha) motor
neuron pada medulla spinalis dan memfasilitasi kontraksi serabut ekstrafusal yaitu
meningkatkan ketegangan pada otot (Proske, 2001). Berbeda dengan tungkai
bagian sinestra yang tidak digunakan dengan dominan sehingga efek dari DOMS
dapat terminimalisir.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan uji statistik, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada pengaruh muscle energy technique (MET) terhadap peningkatan
fleksibilitas otot hamstrings pada siswa SSB Angkasa Surakarta.
2. Ada pengaruh static stretching terhadap peningkatan fleksibilitas otot
hamstrings pada siswa SSB Angkasa Surakarta.
3. Tidak ada perbedaan pengaruh muscle energy technique (MET) dan Static
Stretching
secara
signifikan
terhadap
peningkatan
hamstrings pada siswa SSB Angkasa Surakarta.
fleksibilitas
otot
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, seperti yang telah dikemukakan maka
dapat disarankan dengan beberapa saran sebagai berikut :
1. Peneliti selanjutnya perlu menambah jumlah responden, menggunakan
kelompok pengontrol, menghomogenkan hamstring yang akan ditelititi dan
menambah variabel-variabel yang lain serta metode penelitian lainnya.
2. Para altet dapat memperhatikan kelenturan otot untuk meminimalisir cedera
dan merawat sifat fisiologis otot, salah satunya dengan metode MET lebih
efektif untuk meningkatkan fleksibilitas otot.
3. Masyarakat dapat menerapkan metode MET untuk meningkatkan kelenturan
otot.
4. Metode ini dapat digunakan oleh olahragawan sebagai pemanasan sebelum
bertanding sesuai dosis yang telah ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA
Arnason, Arni, Stefan B. Sigurdsson, Gudmundsson, Ingar Holme, Lars
Engebretsen, dan Roald Bahr. 2004. Risk Factors for Injuries in Football.
The American Journal of Sports Medicine. Vol. 32: Hal: 1.
Ballantyne F, Fryer G, McLaughlin P. 2003. The effect of muscle energy
technique on hamstring extensibility: the mechanism of altered flexibility.
Journal of Osteopathic Medicine. Vol 6 (2): Hal: 59-63.
Chaitow L, Liebenson C. 2001. Muscle Energy Techniques. 2nd Edition. Donald
R Murphy. London.
Chaitow L, Lewis D. 2004. Maintaining Body Balance, Flexibility and Stability.
Philadelpia: Churchill Livingstone.
Dadebo B, J White, K P George. 2004. A survey of flexibility training protocols
and hamstring strains in professional football clubs in England.
www.bjsportmed.com. Vol 38: Hal : 388–394.
Emad T.Ahmed, Safa S. Abdelkarim. 2013. Efficacy of Muscle Energy
Technique versus Static Stretching Technique in Increasing Hamstring
Flexibility Post Burn Contracture. International Journal of Health and
Rehabilitation Sciences. Vol. 2: hal: 1.
Freshmen, F.H.S. 2002. flexibility. Rev:8-02 SJH. Fitnes unit # 4. American
college of sports medicine.
Gormley, Hussey, 2005. Exercise Therapy Prevention and treatment of disease.
India: Replika Press Pvt Ltd, Pondicherry.
Grubb ER, Hagedorn EM, Inoue N, Leake MJ, Lounsberry NL, Love SD, Matus
JR, Morris LM, Stafford KM, Staton GS dan Waters CM, 2010. Muscle
Energy. University of Kentucky, AT 690
Hashim Ahmed, Mohd, Miraj, Shveta Katyal. 2010. Effect of muscle energy
technique and static stretching on hamstring flexibility in healthy male
subjects. New Delhi: Indian Journal of Physiotherapy and Occupational
Therap. VOL 4: Hal: 3
Husaini, M.A. 2002. Peranan Gizi Dalam Meningkatkan Prestasi Olahraga.
Makalah disampaikan pada Pertemuan Penyusunan Gizi Atlet tanggal 2528 Nopember di Bogor.
Kisner, Colby, 2007. Therapeutic Exercise Foundations and Techniques. Fifth
edition. Philadelpia: F. A. Davis Company.
Lederman, Alan. 1997. Fundamentals of Manual Therapy Physiology, Neurology
and Psychology. Tokyo: Printed in Great Britain by The Bath Press.
MacIntyre DL, Reid WD, McKenzie DC. 1995. Delayed muscle soreness.
Theinflammatory response to muscle injury and its clinical implications.
Sports Medical. Vol 20 (1) : Hal : 24–40.
Odunaiya, Hamzat, Ajayi. 2004. The Effects of Static Stretch Duration on the
Flexibility of Hamstring Muscles. African Journal of Biomedical
Research, Vol. 8 (2005): Hal: 79 – 82 http://www.bioline.org.br/md.
Proske U, Morgan DL. 2001. Muscle damage from eccentric exercise:
Mechanism, mechanical signs, adaptation and clinical applications. J
Physiol, Vol 537(Pt 2) : Hal: 333–345.
Pujiastuti, nining (2011) Perbedaan Fleksibilitas Trunk pada anak laki-laki dan
Perempuan Usia 7-8 Tahun. Skripsi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Shan Zhang, Xiang Gongbing. 2011. From 2D leg kinematics to 3D full-body
biomechanics-the past, present and future of scientific analysis of maximal
instep kick in soccer. 3:23 http://www.smarttjournal.com/content/3/1/23
diakses: Kamis, 24 Januari 2013.
Isnaini, Wahyuni. 2004. latihan peregangan untuk meningkatkan fleksibilitas
punggung.
http://portalgaruda.org/OAI/index.php/record/view/7521
diakses: Jum’at, 22 Maret 2013.
Waseem. Mohd, Shibili Nuhmani, C. S. Ram, Anjani Agarwal, Shabana Begum,
Faheem Ahmad and Shamim Ahmad. 2010. A comparative study of the
impact of muscle energy Technique and eccentric training on popliteal
angle: hamstring flexibility in indian collegiate males. Serbian Journal of
Sports Sciences.Vol 4(1): Hal: 41-46
Download