148 kejadian diare berdasarkan perilaku hidup

advertisement
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
KEJADIAN DIARE BERDASARKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
(PHBS) DAN SANITASI LINGKUNGAN RUMAH DENGAN DI WILAYAH
PUSKESMAS TAMIS DI NUSA TENGGARA TIMUR
Sandu Siyoto
STIKes Surya Mitra Husada Kediri
Permasalahan rendahnya kondisi sanitasi dan pelaksanaan PHBS yang kurang
menyebabkan tingginya permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh vektor penyakit
khususnya diare. Kondis lingkungan yang buruk sangat berpengaruh terhadap
meningkatnya perkembangan vektor diare di lingkungan tersebut dan diperparah oleh
perilaku yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian
diare di wilayah puskesmas Tamis Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi NTT.
Desain penelitian ini adalah adalah analitik dengan pendekatan cross sectional.
Populasinya adalah semua keluarga di wilayah puskesmas Tamis Kabupaten Timor
Tengah Utara Propinsi NTT berjumlah 295 rumah, dengan menggunakan teknik Simple
Random Sampling, diperoleh sampel sebagian keluarga di Wilayah Puskesmas Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi NTT berjumlah 170 rumah. Variabel indepen
dalam penelitian ini adalah PHBS dan sanitasi lingkungan rumah, sedangkan variabel
dependennya adalah kejadian diare. Instrumen yang dipergunakan adalah kuesioner.
Hasilnya dianalisa dengan menggunakan uji regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dari responden
melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kategori kurang yaitu 91
orang (53,5%), sebagian besar dari responden melaksanakan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) dalam kategori kurang yaitu 91 orang (53,5%), dan sebagian besar dari
responden pernah mengalami diare, yaitu 92 orang (54,1%).Hasil analisa data
menunjukkan bahwa untuk variabel PHBS nilai p-value = 0,000 < α = 0,05 sehingga H0
ditolak dan H1 diterima yang berarti ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) dengan kejadian diare, untuk variabel sanitasi lingkungan rumah (X2)
menunjukkan nilai p-value = 0,000 < α = 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang
berarti ada hubungan antara sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian diare.
Permasalahan PHBS mencerminkan perilaku responden dalam pelaksanaan
upaya hidup sehat diantaranya adalah kebiasaan cuci tangan yang dapat menyebabkan
terjadinya kontaminasi tangan oleh e-colli, kontaminasi ini mungkin terjadi ketika kondisi
sanitasi lingkungan rumah tidak terjaga.
Kata Kunci : PHBS, Diare, Sanitasai Lingkungan Rumah
148
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
DIARRHEA EVENT BASED ON CLEAN AND HEALTHY BEHAVIOR
AND ENVIRONMENTAL SANITATION IN THE HOME AT HEALTH CENTER
COMMUNITY TAMIS IN EAST NUSA TENGGARA
Sandu Siyoto
STIKes Surya Mitra Husada Kediri
Problems of poor sanitary conditions and lack of implementation of CHLB causes
high health problems caused by disease vectors, especially diarrhea. Condition of poor
environmental influence on the increasing development of diarrhea vectors in the
environment and exacerbated by unhealthy behaviors. The purpose of this study was to
determine the relationship between clean and healthy living behavior (CHLB) and
sanitary home environment with the incidence of diarrhea in health centers community
Tamis region of North Central Timor NTT Province.
The design of this study is a cross sectional analytic approach. The population
was all families in health centers Tamis region of North Central Timor NTT Province
totaled 295 homes, using simple random sampling technique, the sample obtained part of
the family in the village of North Central Timor NTT Province totaling 170 homes.
Independence variables in this study were CHLB and sanitary home environment, while
the dependent variable was the incidence of diarrhea. The instrument used was a
questionnaire. The results were analyzed using logistic regression.
The results showed that most of the respondents done a clean and healthy living
behaviors (CHLB) in the category of less that 91 people (53.5%), most of the respondents
done a clean and healthy living behaviors (PHBs) in the category of less that 91 people
(53.5%), and most of the respondents had experienced diarrhea, which is 92 people
(54.1%). Result Data analysis showed that for PHBs variable p-value = 0.000 <α = 0.05
so H0 is rejected and H1 is accepted, which means there is a relationship between a
clean and healthy living behavior (PHBs) with the incidence of diarrhea, for sanitary home
environment variable (X2) shows the p-value = 0.000 <α = 0.05 so H0 is rejected and H1
is accepted which means that there is a relationship between the environmental
sanitation with the incidence of diarrhea.
Problems of CHLB shows the behavior of respondents in the implementation
effort of healthy living habits include hand habits that can lead to contamination of hands
by e-colli, this contamination may occur when the environmental sanitation conditions are
not maintained
Keyword: Behavior And Healthy Living, Diarrhea, Sanitary Home Environment
PENDAHULUAN
Peningkatan
kesehatan
lingkungan
dimaksudkan
untuk
perbaikan mutu lingkungan hidup yang
dapat menjamin kesehatan melalui
kegiatan peningkatan sanitasi, dasar
kondisi fisik dan biologis yang tidak
baik
termasuk
berbagai
akibat
sampingan pembangunan. Sanitasi
dasar meliputi penyehatan air bersih,
penyehatan pembuangan kotoran,
penyehatan lingkungan perumahan,
penyehatan air buangan / limbah,
pengawasan sanitasi tempat umum
dan
penyehatan
makanan
dan
minuman. (Hiswani, 2008). Kondisi
sanitasi lingkungan, bila tidak didukung
oleh perilaku hidup yang bersih dan
sehat tetap akan menyebabkan
terjadinya berbagai permasalahan
kesehatan. Hal ini disebabkan karena
terjadinya berbagai macam penyebab
penyakit yang disebabkan oleh kondisi
sanitasi lingkungan diantaranya adalah
berkembangnya
vektor
penyakit
(Notoatmodjo,
2010).
Kondisi
lingkungan yang buruk dan tidak
dilaksanakannnya
PHBS
menyebabkan
terjadinya
berkembangnya
vektor
penyakit
karena tersedianya media penyebab
penularan
berbagai
penyakit
khususnya diare (Kemenkes RI, 2011).
Permasalahan rendahnya kondisi
sanitasi dan pelaksanaan PHBS yang
kurang
menyebabkan
tingginya
149
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
permasalahan
kesehatan
yang
disebabkan oleh vektor penyakit.
Untuk angka kejadian diare pada
tahun 2013 sebesar 21,9 per seribu
penduduk, meningkat dibanding angka
kesakitan diare pada tahun 2012
(13,75/1000 penduduk). Sedangkan
diare pada balita sebesar 661,21/1000
balita, menurun dibanding kasus diare
balita pada tahun 2012 (125,2/1000
balita) dan tahun 2011 (108,7/1000
balita) (Dinkes Timor Tengah Utara,
2013). Menurut Depkes RI (2013),
pada tahun 2013, 72% penyakit
menular disebabkan karena vektor
penyakit yang tidak terkendali misalnya
diare karena perkembangan lalat.
Sedangkan menurut Dinas Kesehatan
Propinsi NTT pada tahun 2013
terdapat 17.115 kasus malaria, 2.711
kasus DBD dan kasus diare yang
mencapai hampir 35 ribu kasus.
Sedangkan data dari Puskesmas
Fafinesu B Kabupaten TTU selama
tahun 2013 terdapat 68 kasus diare.
Hasil
studi
pendahuluan
yang
dilakukan pada tanggal 4 Januari 2014
terhadap 10 rumah di Desa Fafinesu B
Kabupaten
TTU
Propinsi
NTT
diketahui
bahwa
seluruhnya
teridentifikasi adanya kejadian diare .
Penyakit berbasis lingkungan
memang
berhubungan
dengan
sanitasi. Menurut Notoatmodjo (2010)
sanitasi lingkungan adalah status
kesehatan suatu lingkungan
yang
mencakup perumahan, pembuangan
kotoran, penyediaan air bersih dan
sebagainya. Kondis lingkungan yang
buruk sangat berpengaruh terhadap
meningkatnya perkembangan vektor di
lingkungan
tersebut,
misalnya
lingkungan
yang
pengelolaan
sampahnya tidak baik menyediakan
media perkembang biakan lalat yang
dapat menularkan penyakit diare,
kondisi
ini
diperparah
dengan
pegelolaan tinja yang buruk dimana
lalat dapat berkembang biak pada tinja
sehingga memudahkan penyebaran
bakteri e-colli (Hiswani, 2008).
Kondisi
tersebut
diperparah
dengan tidak dilaksanakannya PHBS
secara
baik,
termasuk
dalam
penyediaan sarana sanitasi dasar
yang memadai. Sanitasi dasar adalah
sanitasi minimum yang diperlukan
untuk
menyediakan
lingkungan
pemukiman sehat yang memenuhi
syarat kesehatan meliputi penyediaan
air bersih, pembuangan kotoran
manusia (jamban/ wc), pembuangan
air limbah dan pengelolaan sampah
(tempat sampah). Sarana sanitasi ini
merupakan prasarana pendukung
untuk melakukan program Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
(Azwar, 2009).
Upaya yang diperlukan untuk
meningkatkan
kondisi
sanitasi
lingkungan
adalah
dengan
memberikan penyuluhan dan asistensi
kepada
masyarakat
tentang
penyediaan sarana sanitasi dasar,
misalnya dengan menyediakan desain
penampungan air bersih yang ideal
serta pengelolaan air limbah secara
memadai. Selain itu untuk mencegah
perkembangan vektor penyakit, perlu
dilakukan sosialisasi tentang PHBS
sehingga
masyarakat
dapat
melaksanakan PHBS secara tepat dan
optimal.
TUJUAN
Mengetahui hubungan antara
perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dan sanitasi lingkungan rumah
dengan kejadian diare di wilayah
puskesmas Tamis Kabupaten Timor
Tengah Utara Propinsi NTT.
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Dalam penelitian ini rancangan
penelitian yang digunakan adalah
korelasi dengan menggunakan metode
cross sectional
Penelitian dilakukan di Wilayah
Puskesmas Tamis Kabupaten Timor
Tengah Utara Propinsi NTT pada
tanggal 24 Juni-24 Juli 2014.
Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi dalam penelitian ini
adalah semua rumah di Desa Tamis
150
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT, dengan menggunakan
metode simple random sampling
diperoleh sampel sejumlah 170 rumah.
Variabel Penelitian
Variabel
Independen
dalam
penelitian ini adalah perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) (X1) dan
sanitasi lingkungan rumah (X2)
sedangkan variabel dependen dalam
penelitian ini adalah kejadian diare (Y).
Instrumen yang digunakan untuk
pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah Lembar Kuesioner.
Analisa Data
Uji statistik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah uji regresi logistik.
Dalam proses perhitungannya dibantu
dengan
menggunakan
bantuan
program komputer dengan tingkat
kemaknaan
(α)
0,05,
sehingga
kesimpulan dalam penelitian ini
adalah:
1. p < α maka H0 ditolak dan H1
diterima
yang
berarti
ada
hubungan
2. p > α maka H0 diterima dan H1
ditolak yang berarti tidak ada
hubungan
Keterbatasan Penelitian
Pengukuran PHBS serta sanitasi
dilakukan
dengan
menggunakan
kuesioner
dan
tidak
dilakukan
observasi boleh penelitian sehingga
hasil penelitian tergantung pada
kejujuran responden dalam mengisi
kuesioner tersebut.
HASIL PENELITIAN
Perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) di Wilayah Puskesmas
Tamis Kabupaten Timor Tengah
Utara Propinsi NTT
Tabel 1. Perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) di Wilayah Puskesmas
Tamis Kabupaten Timor Tengah
Utara Propinsi NTT
No
1
2
3
PHBS
Kurang
Cukup
Baik
Frekuensi
91
75
4
%
53,5
44,1
2,4
Jumlah
170
100,0
Berdasarkan tabel 1 diketahui
bahwa sebagian besar dari responden
melaksanakan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) dalam kategori
kurang yaitu 91 orang (53,5%).
Sanitasi lingkungan rumah di
Wilayah
Puskesmas
Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT
Tabel 2. Sanitasi lingkungan rumah di
Wilayah
Puskesmas
Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT Tahun 2014
Frekuens
%
No
Sanitasi
i
1 Kurang
99
58,2
2 Cukup
66
38,8
3 Baik
5
2,9
Jumlah
170
100,0
Berdasarkan tabel 2 diatas
diketahui bahwa sebagian besar dari
responden melaksanakan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam
kategori kurang yaitu 91 orang
(53,5%).
Kejadian
Diare
di
Wilayah
Puskesmas Tamis Kabupaten Timor
Tengah Utara Propinsi NTT
Tabel 3. Kejadian Diare di Wilayah
Puskesmas Tamis Kabupaten
Timor Tengah Utara Propinsi
NTT
No
1
2
Kejadian Diare
Tidak Diare
Diare
Jumlah
Frekuensi
%
78
92
170
45,9
54,1
100,0
Berdasarkan tabel 3 diatas
diketahui bahwa sebagian besar dari
responden pernah mengalami diare,
yaitu 92 orang (54,1%).
ANALISA DATA
Hasil Analisis Hubungan antara
perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dan sanitasi lingkungan
rumah dengan kejadian diare di
wilayah
puskesmas
Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT
151
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
Tabel 6. Hasil Analisis Hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
dan sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian diare di wilayah
puskesmas Tamis Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi NTT
Variables in the Equation
Step
a
1
B
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
PHBS
-2.209
.551
16.103
1
.000
.110
sanitasi
-3.751
.592
40.075
1
.000
.023
Constant
8.688
1.167
55.439
1
.000
5.929.432
a. Variable(s) entered on step 1: PHBS, sanitasi.
Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa variabel perilaku hidup bersih dan
sehat (X1) menunjukkan nilai p-value = 0,000 < α = 0,05 sehingga H0 ditolak dan
H1 diterima yang berarti ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dengan kejadian diare di wilayah puskesmas Tamis Kabupaten Timor
Tengah Utara Propinsi NTT. Berdasarkan nilai Exp(B) dapat diinterpretasikan
bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) mempunyai hubungan positif
dengan kejadian diare, yang berarti bahwa dengan menerapakan PHBS yang
baik maka kecenderungan untuk terjadi diare 0.110 kali lebih rendah jika
dibandingkan dengan orang yang tidak menerapakan PHBS dengan baik dan
variabel sanitasi lingkungan rumah (X2) menunjukkan nilai p-value = 0,000 < α =
0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada hubungan antara
sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian diare di wilayah puskesmas Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi NTT. Berdasarkan nilai Exp(B) dapat
diinterpretasikan bahwa sanitasi lingkungan mempunyai hubungan positif dengan
kejadian diare, yang berarti bahwa dengan kondisi sanitasi lingkungan yang baik
maka kecenderungan untuk terjadi diare 0,023 kali lebih rendah jika
dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki sanitasi lingkungan yang baik.
PEMBAHASAN
A. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di Wilayah Puskesmas
Tamis Kabupaten Timor Tengah
Utara Propinsi NTT
Perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) di Wilayah Puskesmas Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT
diketahui bahwa
sebagian besar dari responden
melaksanakan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) dalam kategori
kurang yaitu 91 orang (53,5%).
Salah
satu
faktor
yang
berpengaruh terhadap pelaksanaan
PHBS adalah ketersediaan sarana air
bersih, tanpa adanya sarana air bersih
maka sulit bagi masyarakat untuk
dapat melaksanakan PHBS dengan
baik, misalnya untuk cuci tangan
membutuhkan tersedianya air bersih
yang mengalir (Wibowo, 2009).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) merupakan perilaku kesehatan
yang dilakukan atas kesadaran
sehingga anggota keluarga atau
keluarga dapat menolong dirinya
sendiri di bidang kesehatan dan dapat
berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan
kesehatan dan berperan aktif dalam
kegiatan-kegiatan
kesehatan
di
masyarakat (Depkes RI, 2007).
Manusia hidup di berbagai tatanan,
yaitu di berbagai tempat atau sistem
sosial dimana ia melakukan kegiatan
sehari-harinya. Di setiap tatanan,
faktor-faktor individu, lingkungan fisik
dan lingkungan sosial berinteraksi dan
menimbulkan
dampak
pada
kesehatan. Oleh sebab itu dapat pula
dikatakan bahwa satu tatanan adalah
suatu tepat dimana manusia secara
aktif
memanipulasi
lingkungan,
sehingga menciptakan dan sekaligus
juga mengatasi masalah-masalahnya
152
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
di bidang kesehatan. (Depkes RI,
2011).
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar responden
melaksanakan PHBS dalam kategori
kurang, kondisi ini disebabkan oleh
banyak faktor baik faktor yang bersifat
fisik misalnya ketersediaan sarana dan
prasarana dan faktor non fisik yaitu
pengetahuan
responden
tentang
PHBS.
Pelaksanaan
PHBS
membutuhkan sarana dan prasarana
yang memadai, misalnya untuk dapat
mencuci tangan dengan air bersih
yang mengalir maka dibutuhkan
sarana air bersih yang mengalir.
Kondisi ini pada daerah penelitian
sangat sulit untuk dapat dipenuhi
karena kondisi budaya dan lingkungan
yang tidak memungkinkan. Pada
daerah penelitian, air bersih khususnya
pada musim kemarau sangat sulit
diperoleh
sehingga
air
yang
dipergunakan untuk mencuci tangan
ditempatkan pada tempat tertentu dan
dipakai bergantian, sedangkan dari sisi
budaya
masyarakat
terbiasa
menampung air dan tidak terbiasa
menggunakan air yang mengalir
misalnya menggunakan pompa atau
PDAM, kondisi ini menyebabkan
sebagian besar responden tidak bisa
melaksanakan PHBS dengan baik.
Hasil
tabulasi
silang
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden berusia 36-45 tahun
dengan pelaksanaan PHBS dalam
kategori kurang, yaitu 67 responden
(60,4%). Kondisi ini menunjukkan
bahwa responden memasuki usia yang
sudah mapan, apa yang dipercayai
menjadi sulit untuk diubah, misalnya
kebiasaan responden merokok di
dalam
rumah,
akan
mendapat
tantangan ketika berusaha diubah,
karena dianggap tidak memberikan
efek apapun kepada dirinya maupun
keluarganya. Hal ini menyebabkan
sulitnya merubah kebiasaan yang telah
dilaksanakan sejak lama dan secara
turun menurun dilaksanakan.
Hasil
tabulasi
silang
menunjukkan bahwa bahwa sebagian
besar responden memiliki anggota
keluarga berjumlah 4-6 orang dengan
pelaksanaan PHBS dalam kategori
kurang, yaitu 56 responden (51,9%).
Dengan jumlah keluarga yang cukup
banyak
maka
keluarga
harus
menyediakan sarana yang lebih
banyak pula misalnya menyediakan air
bersih yang lebih banyak untuk
membilas saat cuci tangan, hal ini
disiasati
oleh
keluarga
dengan
menyediakan air yang ditampung
dalam satu tempat untuk cuci tangan
bergantian, hal ini menyebabkan lamakelamaan akan menjadi kotor dan tidak
memenuhi syarat untuk mencuci
tangan.
B. Sanitasi Lingkungan Rumah di
Wilayah
Puskesmas
Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT
Sanitasi lingkungan rumah di
Wilayah Puskesmas Tamis Kabupaten
Timor Tengah Utara Propinsi NTT
diketahui bahwa sebagian besar dari
responden melaksanakan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam
kategori kurang yaitu 91 orang
(53,5%).
Sanitasi
lingkungan
rumah
merupakan sanitasi minimum yang
diperlukan
untuk
menyediakan
lingkungan
rumah
sehat
yang
memenuhi syarat kesehatan yang
menitikberatkan pada pengawasan
berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi
derajat
kesehatan
manusia (Azwar, 2006). Salah satu
kriteria rumah sehat menurut Depkes
(2007) adalah tersedianya sarana
sanitasi yang meliputi penyediaan air
bersih, jamban keluarga, pembuangan
sampah dan saluran pembuangan air
limbah. Kondis lingkungan yang buruk
sangat
berpengaruh
terhadap
meningkatnya perkembangan vektor di
lingkungan
tersebut,
misalnya
lingkungan
yang
pengelolaan
sampahnya tidak baik menyediakan
media perkembang biakan lalat yang
dapat menularkan penyakit diare,
kondisi
ini
diperparah
dengan
153
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
pegelolaan tinja yang buruk dimana
lalat dapat berkembang biak pada tinja
sehingga memudahkan penyebaran
bakteri e-colli (Hiswani, 2008).
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kondisi sanitasi lingkungan
pada sebagian besar responden dalam
kategori kurang, hal ini disebabkan
karena ketidak mampuan responden
dan keluarganya untuk menyediakan
sarana
yang
layak,
misalnya
ketersediaan jamban yang tertutup
jarang sekali dijumpai pada daerah
penelitian. Kebanayakan keluarga
menyediakan jamban dalam bentuk
terbuka
sehingga
memungkinkan
vektor dapat mengakses tinja yang
berpengaruh
pada
terjadinya
pencemaran lingkungan. Selain itu
sarana air bersih juga terbatas, karena
terbatasnya jumlah sumur gali dan
akses ke mata air yang terbatas.
Kondisi ini menyebabkan responden
dan keluarganya sangat berhemat
dalam penggunaan air bersih, yang
kebayakan hanya diutamakan untuk
memenuhi kebutuhan memasak dan
minum.
Hal
ini
menyebabkan
responden rentan terhadap penaykit
lingkungan.
Terkait dengan pengelolaan
sampah hampir seluruh keluarga
mengelolanya
sendiri
dengan
menimbul sampah dalam lubang atau
dengan membakarnya. Pada proses ini
muncul kerentanan pada sampah
dikumpulkan dapat dijadikan sebagai
media berkembang biaknya vektor
penyakit sehingga memungkinkan
terjadinya permasalahan penyakit
lingkungan misalnya diare, mutaber
atau demam berdarah.
Hasil
tabulasi
silang
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden bekerja sebagai petani /
buruh tani dengan kondisi sanitasi
lingkungan rumah dalam kategori
kurang, yaitu 49 responden (70,0%).
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa sebagian besar responden
adalah petani atau buruh tani, kondisi
ini menyebabkan responden dalam
bekerja jauh dari sumber-sumber
informasi tentang sanitasi lingkungan
sehingga
responden
hanya
melaksanakan
apa
yang
telah
dilaksanakan oleh para pendahulunya
kondisi ini menyebabkan tidak terjadi
perbaikan kondisi sanitasi rumah.
C. Kejadian Diare di Wilayah
Puskesmas Tamis Kabupaten
Timor Tengah Utara Propinsi
NTT
Kejadian Diare di Wilayah
Puskesmas Tamis Kabupaten Timor
Tengah Utara Propinsi NTT diketahui
bahwa sebagian besar dari responden
pernah mengalami diare, yaitu 92
orang (54,1%).
Pada
diare
akan
terjadi
kekurangan air (dehidrasi), gangguan
keseimbangan asam-basa (asidosis
metabolik), yang secara klinis berupa
pernapasan Kussmaul, hipoglikemia
gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi.
(Setiowulan, 2001). Penyebab diare
diantaranya adalah infeksi yaitu virus
(Rotavirus,
Adenovirus,
Norwalk),
bakteri (Shigella, Salmonella, E. Coli);
parasit (protozoa: E. Histolytica, G.
Lamblia, Balantidium coli; cacing perut
Askaris, Strongiloideus; dan jamur:
Kandida),
malabsorpsi
yaitu
karbohidrat
(intoleransi
laktosa),
lemak, atau protein, makanan yaitu
makanan
basi,
beracun,
alergi
terhadap makanan, dan Psikologis:
rasa takut dan cemas (Hiewani, 2004).
Diare cair membutuhkan penggantian
cairan dan elktrolit tanpa melihat
etiologinya. Tujuan terapi rehidrasi
untuk mengoreksi kekurangan cairan
dan elektrolit secara cepat (terapi
rehidrasi) kemudian mengganti cairan
yang hilang sampai diarenya berhenti
(terapi rumatan) (Depkes RI, 2007).
Hasil
penelitian
yang
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden pernah mengalami diare
menunjukkan
ada
berbagai
permasalahan baik dipandang dari
sudut pandang kesehatan lingkungan
maupun perilaku kesehatan. Pada
daerah peneitian sangat jarang
dijumpai wastafel yang diepruntukan
154
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
anggota keluarga mencuci tangan
dengan sabun dengan menggunakan
sabun,
kebanyakan
responden
mencuci
tangan
dengan
cara
dicelupkan
air
dalam
bak
penampungan untuk cuci tangan,
kondisi ini memungkinkan terjadinya
penularan diantara anggota keluarga
karena menggunakan tempat cuci dan
air yang sama. Kebiasaan di daerah
penelitian mencuci tangan kebanyakan
hanya dilakukan jika secara fisik
tangan terlihat kotor, misalnya terkena
tanah, baru responden mencuci
tangan.
Hasil
tabulasi
silang
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden terdapat kejadian diare di
wilayah RTnya dengan kejadian diare
dalam kategori terjadi, yaitu 64
responden
(63,4%).
Kondisi
ini
menunjukkan
rentannya
terjadi
penularan diare antar keluarga karena
adanya beberapa kebiasaan yang
memunkinkan yaitu diantaranya adalah
penggunaan tempat penampungan
sampah
yang
terbuka
dan
penggunaan jamban terbuka sehingga
vektor penyakit diare dapat hinggap
dari rumah satu ke rumah lainnya
sehingga menyebabkan terjadinya
permasalahan kontaminasi lingkungan
jika
ada
salah
satu
anggota
masyarakat yang menderita diare.
D. Hubungan
Antara
Perilaku
Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
Dan
Sanitasi
Lingkungan
Rumah Dengan Kejadian Diare
Di Wilayah Puskesmas Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT
Kejadian Hasil analisis regresi
logistik tersebut menunjukkan nilai
probabilitas untuk variabel perilaku
hidup
bersih
dan
sehat
(X1)
menunjukkan nilai p-value = 0,000 < α
= 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1
diterima yang berarti ada hubungan
antara perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dengan kejadian diare di
wilayah puskesmas Tamis Kabupaten
Timor Tengah Utara Propinsi NTT.
Nilai probabilitas variabel sanitasi
lingkungan rumah (X2) menunjukkan
nilai p-value = 0,000 < α = 0,05
sehingga H0 ditolak dan H1 diterima
yang berarti ada hubungan antara
sanitasi lingkungan rumah dengan
kejadian diare di wilayah puskesmas
Tamis Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT.
Kondisi sanitasi lingkungan, bila
tidak didukung oleh perilaku hidup
yang bersih dan sehat tetap akan
menyebabkan terjadinya berbagai
permasalahan kesehatan. Hal ini
disebabkan karena terjadinya berbagai
macam penyebab penyakit yang
disebabkan oleh kondisi sanitasi
lingkungan
diantaranya
adalah
berkembangnya
vektor
penyakit
(Notoatmodjo,
2010).
Kondisi
lingkungan yang buruk dan tidak
dilaksanakannnya
PHBS
menyebabkan
terjadinya
berkembangnya
vektor
penyakit
karena tersedianya media penyebab
penularan
berbagai
penyakit
khususnya diare (Kemenkes RI, 2011).
Kondisi tersebut diperparah dengan
tidak dilaksanakannya PHBS secara
baik, termasuk dalam penyediaan
sarana sanitasi dasar yang memadai.
Sanitasi
dasar
adalah
sanitasi
minimum yang diperlukan untuk
menyediakan lingkungan pemukiman
sehat
yang
memenuhi
syarat
kesehatan meliputi penyediaan air
bersih, pembuangan kotoran manusia
(jamban/ wc), pembuangan air limbah
dan pengelolaan sampah (tempat
sampah).
Sarana
sanitasi
ini
merupakan prasarana pendukung
untuk melakukan program Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
(Azwar, 2009).
Hasil penelitian menunjukkan
adanya korelasi antara pelaksanaan
PHBS dan sanitasi dengan kejadian
diare.
Sanitasi
lingkungan
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden memiliki kondisi sanitasi
lingkungan yang kurang dalam arti
banyak mengalami permasalahan
diantaranya adalah penggunaan air
155
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
bersih yang tidak memenuhi syarat
sehingga menyebabkan responden
mengalami berbagai permasalahan
yang terkait dengan kontaminasi air
bersih karena sumber air bersih yang
terbatas. Selain itu pengelolaan
sampah yang tidak dilaksanakan
dengan baik akan menyebabkan
terjadinya kkontaminasi lingkungan
sehingga berdampak pada terjadinya
diare pada responden.
Permasalahan
PHBS
mencerminkan perilaku responden
dalam pelaksanaan upaya hidup sehat
diantaranya adalah kebiasaan cuci
tangan yang dapat menyebabkan
terjadinya kontaminasi tangan oleh ecolli sehingga dapat masuk kedalam
saluran pencernaan dan menyebabkan
terjadinya diare. Permasalahan lainnya
adalah penggunaan air untuk cuci
tangan serta penggunaan sabun untuk
cuci tangan. Selain permasalahan
terkait
dengan
cuci
tangan
permasalahan pemenuhan nutrisi yang
sehat juga dapat menyebabkan diare,
dimana responden yang konsumsi
nutrisinya kurang dapat berdampak
pada terjadinya penurunan daya tahan
tubuh sehingga dapat menyebabkan
infeksi diare.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Sebagian besar dari responden
melaksanakan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) dalam kategori
kurang yaitu 91 orang (53,5%).
2. Sebagian besar dari responden
pernah mengalami diare, yaitu 92
orang (54,1%).
3. Variabel perilaku hidup bersih dan
sehat (X1) menunjukkan nilai pvalue = 0,000 < α = 0,05 sehingga
H0 ditolak dan H1 diterima yang
berarti ada hubungan antara
perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dengan kejadian diare di
wilayah
puskesmas
Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT.
4. Nilai probabilitas variabel sanitasi
lingkungan
rumah
(X2)
menunjukkan nilai p-value = 0,000 <
α = 0,05 sehingga H0 ditolak dan
H1 diterima yang berarti ada
hubungan
antara
sanitasi
lingkungan rumah dengan kejadian
diare di wilayah puskesmas Tamis
Kabupaten Timor Tengah Utara
Propinsi NTT.
Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan
dapat
meningkatkan kepustakaan tentang
Kejadian diare khususnya terkait
dengan
hubungan
kelayakan
sarana sanitasi dasar penduduk
dan PHBS.
2. Bagi Institusi Kesehatan
Diharapkan
dapat
meningkatkan kegiatan penyuluhan
tentang pencegahan diare dan
penyediaan sarana sanitasi dasar
yang layak umum, misalnya MCK
umum.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan
dapat
melaksanakan
PHBS
dengan
sebaik-baiknya, khususnya dalam
menyediakan sarana cuci tangan
dan sarana sanitasi yang memenuhi
syarat.
DAFTAR PUSTAKA
Ashwill. 2001. Dehydration Mechanism
of Ether FormationUsing an
Alumina Catalyst, J. of Catalysis,
Azwar, S, 2009, Sikap Manusia, Teori
dan Pengukurannya, Jakarta :
Pustaka Pelajar.
________. 2009. Metodologi Penelitian
Kedokteran
dan
Kesehatan
Masyarakat. Jakarta : Binnarupa
Aksara.
Chandra, Budiman. 2006. Pengantar
Kesehatan Lingkungan. EGC.
Jakarta
156
Kejadian Diare Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Lingkungan
Rumah dengan di Wilayah Puskesmas Tamis di Nusa Tenggara Timur
Darwis, S. D. 2003. Metode Penelitian
Kebidanan Prosedur Kebijakan &
Etik. Jakarta, EGC
Depkes
RI.,
2001.
Pedoman
Pelayanan
Pusat
Sterilisasi
(CSSD)
di
Rumah
Sakit.
Departemen Kesehatan RI,
DepKes RI, 2004. Sistem Kesehatan
Nasional 2004, Jakarta.
_________. 2007. Pedoman Sanitasi
Total
Berbasis
Masyarakat.
Jakarta.
_________. 2011. Profil Indonesia
Sehat. Jakarta: PT Rineka Cipta
_________. 2010. Indikator PHBS
Rumah Tangga. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Hiswani. 2008. Diare Merupakan Salah
Satu
Masalah
Kesehatan
Masyarakat Yang Kejadiannya
Sangat Erat Dengan Keadaan
Sanitasi Lingkungan. E-Journal :
Universitas Sumatra Utara
Nursalam,
2008.
Manejemen
Keperawatan Aplikasi dalam
Praktik keperawatan Profesional
Edisi Profesional. Jakarta :
Salemba Medika
Nursalam.
2011.
Manajemen
Keperawatan.edisi 3. Jakarta :
Salemba Medika
Praditya, Sofie. 2011. Gambaran
Sanitasi Lingkungan Rumah
Tinggal
Dengan
Kejadian
Penyakit
Demam
Berdarah
Dengue (DBD). Jember: Jurnal
Kesehatan
Masyarakat
Universitas Negeri Jember.
Pratiknya, A.W. 2005, Dasar-dasar
Metodologi
Penelitian
Kedokteran
&
Kesehatan,
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono, 2007. Statiska Untuk
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Setiowulan. 2001. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi 3 Jilid 2.
Jakarta : Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. p.307-313.
Kemenkes
RI.
2011.
Pedoman
Pembinaan Perilaku Hidup Besih
dan Sehat. Jakarta : Kementrian
Kesehatan RI
Notoadmodjo, S. 2005. Metodelogi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
__________.
2007.
Promosi
Kesehatan dan Ilmu Perilak.
Jakarta:Rineka Cipta
__________. 2010. Ilmu
Kesehatan.
Jakarta:
Cipta.
Perilaku
Rineka
157
Download