64 TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI

advertisement
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
DALAM ERA GLOBALISASI
Oleh, Syamsu S.**
Abstrak: Era globalisasi memberikan ciri-ciri antara lain: penyerbuan
komunikasi dan informasi tanpa batas, tingginya laju informasi sosial,
terjadinya perubahan gaya hidup, semakin tajamnya gap antara negara
industri dengan negara berkembang. Pada era globalisasi kini,
perubahan semakin cepat terjadi dengan adanya kemajuan dari negara
maju di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Produk temuan
dan kemajuan iptek telah memengaruhi bangunan kebudayaan dan
gaya hidup manusia yang menjadi ciri era globalisasi. Menyikap
tantangan era globalisasi yang telah masuk ke wilayah pendidikan,
perlu ditelaah permasalahan pendidikan Islam di Indonesia,
mengidentifikasi tantangan pendidikan Islam, dan merumuskan sikap
yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan arus globalisasi itu.
A. Pendahuluan
Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah suatu proses perwujudan
nilai-nilai ideal islami yang terbentuk dalam pribadi manusia. Nilai-nilai
itu memengaruhi dan mewarnai pola kehidupan manusia, sehingga
menggejala dalam perilaku lahiriah. Dengan kata lain, perilaku lahiriah
adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal islami yang telah
mengacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses kependidikan
Islam. Muzayyin Arifin, (2009:109) memandang nilai-nilai islami
menekankan keseimbangan dan keselarasan hidup duniawi-ukhrawi
menjadi landasan ideal yang hendak dikembangkan atau dibudayakan
dalam pribadi manusia melalui pendidikan sebagai alat pembudayaan.
Perilaku lahiriah yang mengandung nilai-nilai islami hendaknya
diperkuat melalui pendidikan agama di sekolah, bukan hanya dilakukan
dalam lingkungan rumah dan masyarakat saja, karena pendidikan agama di
sekolah sangat berperan dalam pembinaan dan penyempurnaan
pertumbuhan kepribadian seseorang. Pendidikan agama di sekolah dapat
*
Syamsu S., Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Palopo dalam Bidang Pendidikan
dan Keguruan.
64
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
65
menerapkan praktik keagamaan, sehingga diharapkan mampu membentuk
kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Ketika kedua bentuk kesalehan ini
mengakar dalam jiwa seseorang, tantangan kehidupan di era globalisasi ini
dapat tersaring dengan baik.
Tantangan pendidikan Islam di era globalisasi kini semakin kuat.
Tampak dengan jelas perubahan terjadi begitu cepat. Kemajuan di
berbagai bidang terutama teknologi dan komunikasi memacu perubahan
gaya hidup yang membuat dunia begitu sempit tanpa batas. Pola kehidupan
modern merambah ke setiap pelosok di tanah air. Budaya manusia di
pelosok manapun kini terbuka untuk berubah mengikuti budaya global
yang mendominasi dunia.
Pola kehidupan masyarakat saat ini sebagai ekses dari globalisasi
sering dihadapkan pada berbagai masalah yang amat kompleks, merupakan
bagian daripada fenomena sosial yang menjadi perhatian berbagai pihak.
Salah satu masalah tersebut adalah semakin menurunnya tatakrama
kehidupan sosial dan etika moral dalam praktik kehidupan, baik di rumah,
sekolah, maupun lingkungan sekitarnya yang mengakibatkan timbulnya
sejumlah efek negatif di masyarakat yang semakin merisaukan, misalnya,
maraknya penyimpangan di berbagai norma kehidupan agama dan sosial
yang terwujud dalam bentuk perilaku antisosial seperti pencurian, korupsi,
pembunuhan, penyalahgunaan jabatan, dan perbuatan amoral lainnya. (Aat
Syafaat, 2008:2). Dalam kenyataannya semakin hari terus meningkat,
dampak negatif di era globalisasi semakin tampak di tengah masyarakat.
Era kehidupan global dan kemajuan teknologi yang pesat semakin
membuka ruang ke arah yang lebih ekstrim. Pola kehidupan pun semakin
bergeser pada pola hidup individualis, materialis, dan liberalis.
Pendidikan Islam merupakan alat yang cukup ampuh untuk
menangkal dan menyaring segala unsur negatif sebagai dampak globalisasi
itu. Upaya penanaman nilai-nilai islami dalam rangka memperkokoh iman
dan takwa pada setiap pribadi muslim harus diciptakan. Menegakkan
sistem nilai dengan mengaktualisasikan agama sebagai falsafah hidup,
diikuti dengan upaya pembinaan dan pendidikan agama dalam berbagai
aspek kehidupan, menormalisasikan kehidupan agama dalam lingkungan
keluarga, masyarakat atau lembaga keagamaan lainnya. Hal ini sesuai
dengan tujuan pendidikan Islam yakni membentuk manusia agamis dengan
menanamkan keimanan, amaliah, dan akhlak yang terpuji untuk menjadi
manusia yang bertakwa kepada Allah swt.
Menyikapi tantangan era globalisasi tersebut, yang telah masuk ke
wilayah pendidikan, perlu ditelaah permasalahan pendidikan Islam di
66
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
Indonesia sebagai dampak era globalisasi, mengidentifikasi tantangan
pendidikan Islam di era globalisasi, dan merumuskan sikap yang perlu
ditempuh dalam menghadapi tantangan arus globalisasi itu.
B. Permasalahan Pendidikan Islam dalam Era Globalisasi
Temuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyebarkan hasil
yang membawa kemajuan, dan dampaknya terasa bagi kehidupan seluruh
umat manusia. Pada era globalisasi kini, perubahan semakin cepat terjadi
dengan adanya kemajuan dari negara maju di bidang teknologi informasi
dan komunikasi. Produk temuan dan kemajuan iptek itu telah
memengaruhi bangunan kebudayaan dan gaya hidup manusia yang
menjadi ciri era globalisasi. (Muhaimin, 2002:85).
Ainur Rafiq Sophiaan (1993:74), menyebutkan, bahwa era
globalisasi memberikan ciri-ciri antara lain yaitu: Pertama, semakin
tingginya peradaban yang ditopang oleh keberadaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kedua, penyerbuan komunikasi dan informasi tanpa batas.
Ketiga, tingginya laju informasi sosial. Keempat, terjadinya perubahan
gaya hidup (lifestyle). Kelima, semakin tajamnya gap antara negara
industri dengan negara berkembang.
Ciri-ciri tersebut telah tampak di tengah masyarakat Indonesia, tidak
mustahil memunculkan dampak pada nilai-nilai dan sikap negatif
bersamaan dengan nilai-nilai dan sikap positif. Nilai negatif era globalisasi
adalah timbulnya konflik dan krisis sehingga terjadi gap, seperti kuat
versus lemah, kaya versus miskin, penindas dan tertindas. Dalam problema
sosial terkait kemiskinan, kekerasan, terorisme, kriminalitas, narkoba dan
penyalahgunaan jabatan. Sedangkan nilai positifnya adalah terbukanya
wawasan keilmuan, kesejahteraan, akulturasi budaya pluralis. (Abd. Majid,
2000:18). Di sinilah letak pentingnya pendidikan Islam dihidupkan,
diimplementasikan dalam semua lini kehidupan sebagai upaya
mengantisipasi perkembangan iptek di era globalisasi. Dalam arti,
mampukah para intelektual muslim menegakkan landasan akhlak alkarίmah di tengah dominasi temuan iptek tersebut.
Pendidikan nasional di era globalisasi ini dibalut sejumlah
permasalahan yang memerlukan paradigma baru. Demikian halnya
pendidikan Islam sebagai subsistem pendidikan nasional dengan
sendirinya memerlukan paradigma baru. Paradigma baru pendidikan
diarahkan dalam rangka menuju masyarakat Indonesia baru, yaitu:
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
67
demokrasi, menghormati HAM, dan otonomi daerah yang ditujukan
kepada tanggung jawab masyarakat di dalam kehidupannya.
Tantangan pendidikan Islam di Indonesia sangat kompleks,
memunculkan permasalahan tidak ubahnya seperti benang kusut. Tulisan
ini hanya dapat merangkum sebagian kecil saja permasalahan yang dapat
dilihat secara nyata dalam keseharian.
1. Masalah Kualitas Pendidikan Islam
Deskripsi mengenai kualitas pendidikan di Indonesia dapat disimak
pada laporan dari beberapa institusi bidang pendidikan, antara lain: Human
Development Index (UNDP) tahun 2004 Indonesia menempati peringkat
109 dari 117 negara. Dalam bidang IPTEK perguruan tinggi terbaik di
Asia dan Australia, ITB peringkat 21 dari 39 perguruan tinggi. Pada Multi
Diciplinary University, tercatat UI urutan 61, UGM urutan 68, UNDIP
urutan 73, dan UNAIR urutan 75 dari 77 universitas. Hal ini
mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah,
apa pula pendidikan Islam tidak satupun PTAIN yang dapat terakomodir
dalam indeks prestasi perguruan tinggi terbaik. Selain itu, dukungan dana
pendidikan dalam kurun empat tahun terakhir ini pemerintah hanya
mengalokasikan sekitar 1,4% dari GNP, dianggap rendah dibanding ratarata negara berkembang mencapai 3,8% dan untuk negara maju 5,1%.
(Haidar Putra Daulay , 2004:66).
Hal tersebut menujukkan indikasi kualitas pendidikan di Indonesia
terutama pendidikan Islam masih tergolong rendah, belum
menggembirakan, belum kompetitif di era globalisasi yang memerlukan
handalan kompetitif. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas
pendidikan tersebut, di antaranya raw inputnya sendiri, yaitu manusia yang
akan mengalami proses pendidikan, instrumen inputnya, guru, kurikulum,
sarana/fasilitas, buku daras, dan lain sebagainya. Selain itu, enviromental
inputnya, yaitu lingkungan sosial budayanya, termasuk sikap terhadap
pendidikan baik pemerintah maupun masyarakat, dan penganggarannya
amat sedikit untuk sektor pendidikan.
Kritik terhadap kualitas pendidikan Islam dari berbagai elemen
masyarakat Islam semakin menguat. Kritikan tersebut tertuju pada aspek
antara lain: Pertama, pendidikan Islam lebih terkonsentrasi pada
persoalan-persoalan teoretis keagamaan yang bersifat kognitif, kurang
dimaknai dengan nilai yang terinternalisasikan dalam diri peserta didik.
Kedua, metodologi pendidikan Islam berjalan secara konvensionaltradisional dan monoton. Ketiga, pendekatan pendidikan cenderung
68
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
normatif tanpa ilustrasi konteks sosial budaya. Keempat, guru PAI terlalu
terpaku pada silabus mata pelajaran PAI. Kelima, guru PAI lebih
bernuansa guru spritual, kurang diimbangi dengan nuansa intelektual dan
profesional. (Muhaimin, et. al, 2002:111).
Kualitas output pendidikan Islam tidak hanya diukur dari kemajuan
intelektualnya saja, tetapi juga harus ditinjau dari segi mental, misalnya
etos kerja guru, disiplin, semangat belajar peserta didik, dan sebagainya.
Oleh karena itu, kunci utama di dalam peningkatan kualitas pendidikan
Islam adalah kualitas guru PAI. Untuk meningkatkan kualitas guru PAI,
banyak aspek yang terkait antara lain tingkat pendidikan guru, kemampuan
mengkomunikasikan ilmunya kepada peserta didik, moralitas, dan loyalitas
terhadap tugas, yang kesemuanya ini telah dikemas dalam bingkai
kompetensi guru, dan tidak kalah pentingnya adalah kesejahteraan guru.
2. Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan salah satu tujuan negara
Republik Indonesia adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dalam
batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat (1) disebutkan bahwa “Tiap-tiap
warga negara berhak mendapat pendidikan”. Selanjutnya berkenaan
dengan itu, dituangkan pula di dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 (1) bahwa “Setiap warga
negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu”.(UURI, 2006:70).
Berdasarkan diktum di atas dipahami betapa semangat perundangundangan yang ada menyahuti pemerataan pendidikan, akan tetapi
kenyataannya hal itu belum bisa diwujudkan. Ada beberapa faktor
penyebabnya antara lain faktor ekonomi, sosial kultur, daya tampung yang
terbatas. Masyarakat dari kalangan ekonomi lemah sangat sulit
menyekolahkan anaknya karena ketiadaan dana, sekali pun anaknya
memiliki intelegensi tinggi. Pemerintah mengucurkan dana ke sekolah
dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS), atau Bantuan Khusus
Miskin (BKM) yakni bantuan dana bagi siswa yang kurang mampu segi
ekonomi namun memiliki kecerdasan tinggi. Akan tetapi jumlah dana
bantuan pemerintah itu belum mencukupi untuk kebutuhan lainnya selain
membayar sumbangan pendidikan. Realitas ini menafikkan program
pemerataan pendidikan terwujud. Program ini masih butuh waktu dan
kemauan tinggi untuk merevisi dan memperbaiki kekurangan sistem
pendidikan yang ada agar prestasi pendidikan di negeri ini bisa berada
pada baris terdepan.
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
69
3. Masalah Kurikulum
Ada beberapa masalah pendidikan Islam di seputar kurikulum.
Pertama, terlalu sentralistik, kurang menunjukkan ciri dan spesifik
kedaerahan baik dalam bentuk geografis maupun sosial budaya. Kedua,
kurikulum terlalu sarat dan padat. Ketiga, relevansi kurikulum dengan
pasar kerja kurang menyebabkan terjadi penumpukan pengangguran dari
output lembaga pendidikan.(Haidar Putra Daulay, 2004:69).
Dalam kurikulum mata pelajaran PAI padat materi dengan muatan
teoretis keagamaan diperkeruh lagi dengan pendekatan pembelajaran yang
cenderung monoton, orientasi kognitif yang tinggi dan kurang berorientasi
pada afektif dan skill, output lembaga pendidikan Islam kurang berkualitas
sehingga cenderung dimarginalkan setiap rekrukmen pegawai. Kondisi
seperti ini menjadikan lembaga pendidikan Islam kurang diminati peserta
didik.
Kekurangan pendidikan Islam disebabkan praktik pendidikannya
hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran
nilai-nilai agama, dan mengabaikan pembinaan aspek afektif, yakni
kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama.
Pendidikan agama banyak dipengaruhi oleh trend Barat, yang lebih
mengutamakan pengajaran dari pada pendidikan moral, padahal intisari
dari pendidikan agama adalah pendidikan moral. Pendidikan Islam selama
ini jalan di tempat, perlu dicarikan solusi pemecahannya baik oleh guru
PAI itu sendiri maupun para pemerhati dan pengembang pendidikan Islam.
C. Tantangan pendidikan Islam dalam Era Globalisasi
Abad ke-21 ini atau milenium ketiga terjadi perubahan yang cepat
disebabkan kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transpormasi
melahirkan fenomena globalisasi. Segala peristiwa dan perubahan di
negara maju dengan cepat sampai ke berbagai negara yang sekaligus akan
menerima dampak baik positif maupun dampak negatif. Fenomena
globalisasi tersebut membuka peluang dan tantangan terhadap dunia
pendidikan. Globalisasi telah mengubah cara hidup manusia sebagai
individu, sebagai warga masyarakat, dan sebagai warga bangsa. Tidak
seorang pun yang dapat menghindar dari arus globalisasi. Setiap individu
dihadapkan pada dua pilihan, yakni menempatkan diri dan berperan
sebagai pemain dalam arus perubahan globalisasi, atau menjadi korban dan
terseret derasnya arus globalisasi.
70
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
Tantangan yang dihadapi oleh umat Islam pada zaman ini adalah
tantangan pengetahuan yang dipahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia
oleh peradaban Barat. Karena itu, sistem pendidikan Islam telah dicetak di
dalam sebuah karikatur Barat, sehingga ia dipandang sebagai inti
pendidikan Islam mengalami kondisi serba sulit, tak menentu (malaise)
yang menyebabkan penderitaan dialami umat Islam. (Muhaimin, 2004:
90).
Muzayyin Arifin (2009:199) melihat fenomena pada era
globalisasi, bahwa ada dua event (kejadian, peristiwa) yang hampir
bersamaan muncul di Indonesia saat memasuki milenium ketiga. Pertama,
globalisasi diakibatkan kemajuan ilmu dan teknologi komunikasi dan
transportasi sehingga dunia semakin menjadi tanpa batas, akibatnya
muncul budaya global. Dalam bidang ekonomi terbentuknya pasar bebas,
dalam bidang politik tumbuh semangat demokratisasi, dalam bidang
budaya terjadi pertukaran budaya antar bangsa yang saling memengaruhi,
dalam bidang sosial muncul semangat konsumeris yang tinggi. Kedua,
reformasi memunculkan wajah baru Indonesia. Wajah baru itu akan
memunculkan masyarakat madani, yakni masyarakat berperadaban dengan
menekankan kepada demokratisasi dan hak-hak asasi manusia, serta hidup
dalam berkeadilan.
Setiap orang akan mengalami arus globalisasi yang memang sudah
mengglobal dalam semua sektor kehidupan manusia. Arus globalisasi juga
masuk dalam wilayah pendidikan dengan berbagai implikasi dan
dampaknya, baik positif maupun negatif.
Pendidikan Islam bertujuan menciptakan manusia bertakwa dalam
arti sebenarnya, yaitu membangun struktur pribadinya sesuai dengan
syariah Islam serta melaksanakan segenap aktivitas kesehariannya sebagai
wujud ketundukannya pada Allah swt. Pendidikan Islam pada dasarnya
adalah suatu proses menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada
setiap muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji, sehingga
diharapkan akan bermunculan “anak-anak muda energik yang berotak
Jerman dan berhati Makkah” seperti yang sering dikatakan oleh mantan
Presiden B.J. Habibie. Akan tetapi, tujuan pendidkan Islam tersebut masih
sebatas harapan.
Muzayyin Arifin (2009:40) mengemukakan, bahwa tantangan yang
dihadapi pendidikan Islam saat ini meliputi bidang-bidang sebagai berikut
ini.
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
71
1. Politik
Dalam kehidupan politik berkaitan dengan masalah bagaimana
membimbing, mengarahkan, dan mengembangkan kehidupan bangsa
dalam jangka panjang. Pengarahan tersebut didasarkan atas falsafah negara
yang mengikat semua sektor perkembangan bangsa dalam proses
pencapaian tujuan nasional. Lembaga pendidikan merupakan sektor
kehidupan budaya bangsa yang pengembangannya terikat dengan tujuan
nasional. Oleh karena itu, kehidupan politik akan memberi warna pada
perkembangan pendidikan Islam, dalam arti ikut memberi warna
pembinaan watak kepribadian, kreativitas, etos kerja penyelenggara
pendidikan Islam.
2. Kebudayaan
Perkembangan kebudayaan dalam abad modern saat ini tidak dapat
terhindar dari pengaruh kebudayaan bangsa lain. Kondisi demikian
menyebabkan timbulnya akulturasi. Faktor nilai yang melandasi
kebudayaan sangat menentukan proses akulturasi tersebut. Bilamana nilainilai kultur suatu bangsa melemah karena berbagai sebab, kebudayaan
bangsa itu akan mudah terperangkap atau tertelan oleh kebudayaan lain
yang memasukinya, sehingga identitas kebudayaan bangsa itu sendiri akan
lenyap.
3. Ilmu pengetahuan dan teknologi
Teknologi sebagai ilmu pengetahuan terapan adalah hasil kemajuan
budaya manusia yang banyak bergantung pada manusia yang
menggunakannya. Teknologi sebagai suatu kekuatan kebudayaan yang
bersifat netral dalam tugas dan fungsinya, bergantung pada manusianya
dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Di sinilah tantangan lembaga
pendidikan Islam untuk memberi jawaban terhadap tantangan yang
ditimbulkan oleh teknologi.
4. Ekonomi
Ekonomi merupakan tulang punggung kehidupan bangsa yang
dapat menentukan maju-mundurnya, lemah-kuatnya, lambat-cepatnya
proses pembudayaan bangsa. Pengaruh kehidupan ekonomi banyak
mewarnai corak perkembangan sistem kependidikan dalam masyarakat
terutama pada negara berkembang seperti masyarakat Indonesia. Oleh
karena itu, kehidupan ekonomi Indonesia banyak mempengaruhi
72
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
pertumbuhan lembaga pendidikan Islam dan penyelenggaraan pendidikan
Islam bahkan mempengaruhi sistem pendidikan secara nasional.
5. Kemasyarakatan
Perubahan yang terjadi dalam sistem kemasyarakatan dapat
mengalami ketidakpastian tujuan hidup. Hal ini akan menimbulkan
problem-problem kemasyarakatan. Oleh karena itu, tantangan dalam hal
perubahan masyarakat (social change) menuntut jawaban dari lembaga
pendidikan terutama lembaga pendidikan Islam.
6. Sistem nilai
Norma-norma yang dipegang oleh masyarakat merupakan nilai
hidup dan pedoman dalam hidup bermasyarakat. Namun demikian, sistem
nilai akan mengalami perubahan-perubahan apabila berhadapan dengan
kemajuan berpikir manusia itu sendiri maupun oleh desakan dari sistem
nilai lain yang dianggap maju dan lebih baik.
Patut dipahami, bahwa saat ini sedang dilanda perubahan sistem
nilai yang lebih cenderung untuk meninggalkan sistem nilai tradisional
yang ada sehingga memunculkan pertanyaan, apakah hal ini disebabkan
oleh karena naluri manusia yang cenderung untuk menyukai hal-hal yang
baru ataukah ada semacam “kekuatan mendesak” (pressure power) dari
luar. Hal inilah yang menjadi titik sentral problem yang melahirkan
tantangan terhadap lembaga pendidikan Islam.
D. Sikap dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Islam dalam Era
Globalisasi
Menyikapi tantangan pada era globalisasi, pendidikan masa depan
perlu sejak dini melatih peserta didik untuk mampu belajar secara mandiri
dengan memupuk sikap gemar membaca dan mencari serta memanfaatkan
sumber informasi (buku, komputer, intrnet, TV, radio) yang diperlukan
untuk dapat menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi. Semua
teknologi informasi, komputer, teknologi transfortasi, dan lainnya yang
memudahkan kehidupan perlu dikuasai. Peran pendidikan Islam sebagai
religius nation character building (pembentukan watak bangsa yang
agamis) harus tetap diberikan porsi yang cukup agar kesatuan dan
persatuan bangsa tetap terpelihara di tengah budaya yang semakin
mengglobal.
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
73
Dalam memberikan jawaban terhadap tantangan yang dihadapi
pendidikan Islam di era globalisasi di atas, Muzayyin Arifin (2009:46)
memberikan alternatif-alternatif yang perlu dipertimbangkan untung
ruginya bagi lembaga kependidikan Islam, sebagai berikut:
1. Sikap tak acuh terhadap tantangan
Sikap ini adalah yang paling murah dilakukan karena tidak
memerlukan konsep pemecahan masalah yang dihadapi, cukup hanya
mengamati dan membiarkan segala apa yang terjadi. Sikap ini mempunyai
landasan pendirian, yaitu bahwa suatu perubahan pada hakikatnya
merupakan sunnah Allah yang memang dikehendaki oleh hukum alam
yang telah ditakdirkan oleh Allah. Alasan lain, bahwa perubahan yang
terjadi dari globalisasi itu bersifat sementara yang hakikatnya adalah salah
satu putaran kehidupan sosial itu sendiri yang pada gilirannya akan
kembali kepada posisinya semula. Sikap ini bersifat optimis, agnostis
(masa bodoh), serta mengandung nilai-nilai yang kondusif terhadap
isolationistis yang tidak menguntungkan bagi dunia pendidikan Islam pada
khususnya.
2. Sikap mengakui adanya perubahan, namun menyerahkan
pemecahannya pada pihak lain
Sikap ini bersifat moderat dengan latar belakang pandangan bahwa
segala perubahan yang ada itu bukan untuk dijawab oleh lembaga
kependidikan. Sekolah atau lembaga kependidikan tidak perlu
menganalisis mengapa dan bagaimana serta kemana perubahan masyarakat
itu terjadi dan akan terjadi lagi, cukuplah orang atau lembaga atau pihak
lain yang menanganinya.
3. Sikap yang mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam perubahan
Sikap ini lebih positif dari sikap-sikap sebelumnya. Sikap ini
memandang bahwa fungsi lembaga pendidikan sangat terkait dengan
kehidupan masyarakat yang sedang berlangsung. Transisi kebudayaan
(culture in transition) sebenarnya sedang berlangsung di dalam realita
kehidupan masyarakat.
Mencermati sikap ketiga ini maka lembaga pendidikan harus
mampu menerjemahkan keadaan masyarakat untuk masyarakat itu sendiri.
Bila masyarakat itu mengalami perubahan karena ia berada dalam arus
globalisasi maka lembaga pendidikan itu sendiri harus menjadi pengubah
masyarakat itu. Karena itu, lembaga pendidikan wajib berpartisipasi dalam
74
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
usaha pengubahan kehidupan masyarakatnya serta sanggup menolong
generasi muda belajar mengenai perubahan itu.
4. Sikap melibatkan diri dalam perubahan dan menjadikan dirinya
sebagai pusat perubahan
Sikap ini lebih militan dan progresif daripada yang sebelumnya,
karena ia berpendirian bahwa lembaga kependidikan harus bertanggung
jawab terhadap perubahan sosial tersebut. Suatu perubahan adalah suatu
realita yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Lembaga pendidikan adalah
bagian dari masyarakat, karena itu ia harus terlibat dalam perubahan
masyarakat.
Berdasarkan pandangan ini, patut dipahami kalau lembaga
pendidikan yang mengambil sikap seperti ini tampaknya tidak hanya
dinamis sepanjang waktu, melainkan pula menyesuaikan mekanisme sosial
dengan tuntutan masyarakat teknologis.
Empat macam sikap pelaku pendidikan atau lembaga pendidikan
termasuk pendidikan Islam sebagai alternatif menghadapi tantangan
perubahan sosial akibat globalisasi. Mana di antara sikap tersebut yang
lebih baik untuk dipegang atau dipedomani adalah sangat bergantung pada
dimensi filosofis dari masing-masing institusi kependidikan itu sendiri.
E. Penutup
Berdasarkan uraian sebelumnya, pada bagian ini dikemukakan
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan nasional di era
globalisasi ini dibalut sejumlah permasalahan. Permasalahan tersebut
meliputi: kualitas pendidikan Islam belum dapat berkompetitif, pemerataan
pendidikan yang belum menyentuh semua lapisan masyarakat, dan
kurikuluam yang sifatnya desentralisasi namun realitas praktiknya masih
sentralistik.
2. Tantangan pendidikan Islam di Indonesia dalam era globalisasi
adalah sistem pendidikan Islam telah dicetak di dalam sebuah karikatur
Barat, sehingga ia dipandang sebagai inti pendidikan Islam mengalami
kondisi serba sulit. Tantangan tersebut meliputi: bidang-bidang politik,
kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kemasyarakatan, dan sistem
nilai.
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
75
3. Sikap dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam di Indonesia
dalam era globalisasi antara lain yaitu:
a. Sikap tak acuh terhadap tantangan.
b. Sikap mengakui adanya perubahan, namun menyerahkan
pemecahannya pada pihak lain.
c. Sikap yang mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam perubahan.
d. Sikap melibatkan diri dalam perubahan dan menjadikan dirinya
sebagai pusat perubahan.
Daftar Rujukan
Arifin, Muzayyin. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Cet. IV; Jakarta: Bumi
Aksara.
Daulay, Haidar Putra. 2004. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan
Nasional di Indonesia. Cet. I; Jakarta: Kencana.
Majid, Abd. 2000. Tantangan dan Harapan Umat Islam di Era
Globalisasi. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia.
Muhaimin. 2004. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Cet. II;
Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik dan Masyarakat (PSAPM).
Muhaimin, et. al. 2002. Paradigma Pendidikan Islam Upaya
Mengefektifkan Pendidikan Islam di Sekolah. Cet. II; Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sophiaan, Ainur Rafiq. 1993. Tantangan Media Informasi Islam, Antara
Profesionalisme dan Dominasi Zionis. Surabaya: Risalah Gusti.
Syafaat, TB. Aat., dkk. 2008. Peranan Pendidikan Islam dalam Mencegah
Kenakalan Remaja. Cet. I; Jakarta: Rajawali Pers.
76
Volume 14, Nomor 1, Januari 2012
Download