studi kasus di Rw 05 Kelurahan Situgede

advertisement
METODE PENELITIAN
Paradigma Penelitian
Paradigma
secara
umum
dapat
diartikan
sebagai
seperangkat
kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak di
kehidupan sehari-hari (Salim, 2001). Lincoln dan Guba dalam Denzin dan Lincoln
(2000), mengemukakan empat paradigma utama yang bersaing dalam ilmu
pengetahuan dengan berbagai asumsi-asumsi yang mendasarinya, yaitu
positivisme, post-positivisme, teori kritis dan konstruktivisme.
Paradigma konstruktivisme digunakan dalam penelitian dikaitkan dengan
beberapa pertimbangan, misalkan secara ontologis (sifat realita), aliran ini
menyatakan bahwa realitas sosial adalah wujud bentukan (construction) individuindividu subyek yang terlibat dalam penelitian yaitu terutama tineliti dan peneliti,
bersifat subyektif dan majemuk. “Subyektif” di sini berarti “melihat dari sudut
pandang tineliti sebagai subyek penelitian”. Realitas sosial bersifat subyektif,
maka secara epistemologi (hubungan antara peneliti dan tineliti) terjadi interaksi
sosial yang dinamis, informal, dan akrab. Hubungan antara peneliti dan tineliti
dirumuskan sebagai hubungan “subyek-subyek”, bukan hubungan “subyekobyek” seperti pada penelitian kuantitatif. Dalam arti bahwa antara peneliti dan
tineliti memiliki kedudukan sebagai orang yang sama-sama belajar memaknai
realitas sosial yang diteliti bahkan kadang peneliti bisa menjadi orang yang
diteliti. Sedangkan secara metodologis, proses penelitiannya bersifat induktif
yang berorientasi pada pengembangan pola dan teori untuk mendapatkan
pemahaman yang bersifat kontekstual atas suatu kejadian atau gejala sosial
(Creswell, 1994; Sitorus, 2003 dalam Ihsaniyati, 2010).
Desain Penelitian
Paradigma konstruktivisme merupakan bagian dari pendekatan penelitian
kualitatif. Pendekatan kualitatif bersifat “emic” artinya memperoleh data bukan
“sebagaimana seharusnya,” bukan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh peneliti,
tetapi berdasarkan “sebagaimana adanya” yang terjadi di lapangan, yang
dialami, dirasakan, dan difikirkan oleh sumber data (Sugiyono, 2008).
Penelitian kualitatif adalah meneliti subyek penelitian atau informan dalam
lingkungan hidup kesehariannya. Peneliti kualitatif sedapat mungkin berinteraksi
secara langsung dan mengenal secara dekat dunia kehidupan informan,
mengamati dan mengikuti alur kehidupan informan secara apa adanya.
40
Pemahaman simbol-simbol dan bahasa asli masyarakat menjadi salah satu kunci
keberhasilan dalam penelitian kualitatif (Rianse & Abdi, 2008). Sedangkan tujuan
penelitian kualitatif adalah untuk memahami situasi sosial, peristiwa, peran,
kelompok atau interaksi tertentu. Penelitian ini merupakan sebuah proses
investigasi dimana secara bertahap berusaha memahami fenomena sosial
dengan
membedakan,
membandingkan,
meniru,
mengkatalogkan
dan
mengelompokkan obyek studi (Miles & Haberman, 1992).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif guna menemukan
komunikasi partisipatif pendamping, perangkat kelurahan serta tokoh masyarakat
dalam kegiatan Posdaya. Penelitian kualitatif deskriptif dilakukan dengan
mengembangkan konsep serta menghimpun data, tetapi tidak melakukan
pengujian hipotesis (Singarimbun & Effendi, 1995).
Metode yang digunakan adalah studi kasus, yaitu melakukan penelitian
secara terinci tentang seseorang (individu) atau sesuatu unit sosial selama kurun
waktu tertentu. Metode ini melibatkan penyelidikan yang lebih mendalam dan
pemeriksaan yang menyeluruh terhadap perilaku seseorang individu (Sevilla dkk,
2006). Metode studi kasus memiliki keunikan atau keunggulan tersendiri dalam
kancah penelitian sosial. Studi kasus memberikan akses atau peluang yang luas
kepada peneliti untuk menelaah secara mendalam, detail, intensif dan
menyeluruh terhadap unit sosial yang diteliti. Studi kasus juga dapat memasuki
unit-unit sosial terkecil seperti perhimpunan, kelompok, dan berbagai bentuk unit
sosial lainnya. Studi kasus dalam khasanah metodologi dikenal sebagai suatu
studi yang bersifat komprehensif, intens dan mendalam serta diarahkan sebagai
upaya menelaah masalah-masalah atau fenomena yang bersifat kontemporer.
Sebuah definisi yang lebih tegas dan bersifat teknis sehingga sangat
membantu tentang studi kasus diberikan Yin dan Mudzakir (2002) yang
menyebutkan bahwa studi kasus adalah inkuiri empiris yang menyelidiki
fenomena dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara
fenomena dan konteks tidak tampak dengan tegas dan dimana multi sumber
bukti dimanfaatkan. Lebih terinci studi kasus mengisyaratkan keunggulankeunggulan berikut:
1. Studi kasus dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antar
variabel serta proses-proses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman
yang lebih luas lagi.
41
2. Studi kasus memberikan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh
wawasan mengenai konsep-konsep dasar perilaku manusia. Melalui
penyelidikan intensif dapat ditemukan karakteristik dan hubungan-hubungan
yang (mungkin) tidak diharapkan/diduga sebelumnya.
3. Studi kasus dapat menyajikan data-data dan temuan-temuan yang sangat
berguna sebagai dasar untuk membangun latar permasalahan bagi
perencanaan penelitian yang lebih besar dan dalam rangka pengembangan
ilmu-ilmu sosial.
Diletakkan dalam konteks pendekatan kualitatif studi kasus atau desain
penelitian studi kasus tidaklah kaku sifatnya, studi kasus menawarkan keluwesan
dan sewaktu-waktu dapat diubah sesuai dengan perkembangan yang lebih
menarik, unik dan penting dari fakta empiris yang tengah dicermati. Hal ini tidak
berarti terjadi inkonsistensi. Sebab fenomena dan praktek-praktek sosial sebagai
sasaran buruan penelitian kualitatif tidak bersifat mekanistis melainkan penuh
dinamika dan keunikan dan karenanya tidak bisa diciptakan menurut kehendak
peneliti (Bungin, 2003).
Penelitian menggunakan strategi studi kasus, dengan pertimbangan
bahwa:
(1)
pertanyaan penelitian berkenaan dengan “bagaimana”
dan
“mengapa” (deskripsi), (2) penelitian memberikan peluang yang besar bagi
peneliti untuk
mengungkapkan gejala sosial sebagaimana adanya,
(3)
menyangkut peristiwa atau gejala sosial kontemporer dalam konteks kehidupan
nyata. Menurut Yin dan Mudzakir (2002) studi kasus bermanfaat untuk
pengembangan teori (generalisasi analitis), bukan untuk menghitung frekuensi
(generalisasi statistik). Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus
instrumental. Menurut Stake (1994) dalam Ihsaniyati (2010), studi kasus
instrumental yaitu kajian atas suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan
atas isu atau untuk penyempurnaan teori. Studi kasus berfungsi sebagai
pendukung atau instrumen untuk membantu peneliti dalam memahami suatu
permasalahan tertentu.
Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) yaitu RW 05
Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor Provinsi Jawa Barat
dengan pertimbangan: pertama, bahwa RW 05 Kelurahan Situgede menjadi
salah satu wilayah pelaksana program Posdaya yang berada di lingkar kampus
IPB dinyatakan telah berhasil melaksanakan kegiatan Posdaya dan menjadi
42
rujukan bagi Posdaya-Posdaya yang lain di Kota Bogor; kedua, hubungan baik
dengan kader, koordinator Posdaya dan perangkat kelurahan setempat yang
telah terjalin memudahkan dalam menjalankan penelitian serta mempermudah
memperoleh data dan informasi serta komunikasi dalam proses penelitian
sehingga dapat berjalan dengan lancar; ketiga, lokasi penelitian dekat dengan
tempat tinggal serta kampus IPB, ini diharapkan dapat mengurangi hambatan
ekonomis dan budaya dengan subyek penelitian. Penjajagan lokasi penelitian
dilakukan pada bulan Maret 2011. Pengambilan dan pengumpulan data serta
penyempurnaan panduan wawancara dilaksanakan sejak April sampai dengan
Mei 2011, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data dan penyusunan hasil
penelitian pada bulan Mei sampai dengan Juni 2011.
Berinteraksi dengan masyarakat RW 05 Kelurahan Situgede selama satu
bulan lebih, rasanya tidak cukup untuk mengungkapkan dan memahami seluruh
gejala dan situasi yang terjadi di Kelurahan Situgede. Selama penelitian,
berdiskusi dengan ketua RW 05 yang merangkap menjadi koordinator Posdaya
Kenanga dilakukan untuk mengetahui tentang narasumber dan Kelurahan
Situgede. Menginap di rumah informan hanya dilakukan satu kali, selebihnya
pengambilan data dilakukan dengan datang pukul 07.00 WIB dan pulang pukul
05.30 WIB. Penelitian yang dilaksanakan selama satu bulan lebih menjadikan
keakraban dengan masyarakat RW 05 Kelurahan Situgede terutama tineliti.
Kedekatan dan keakraban tersebut menambah kepercayaan tineliti dan
masyarakat, sehingga keterangan (data dan informasi) yang diberikan oleh tineliti
adalah benar dan jujur.
Penentuan Subjek Penelitian
Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh
Spradley dinamakan situasi sosial yang terdiri atas tempat (place), pelaku
(actors), dan aktivitas (activity). Istilah populasi tidak digunakan tetapi situasi
sosial yang digunakan yaitu komunikasi partisipatif (aktivitas) kader (pelaku)
pada kegiatan Posdaya (tempat) (Sugiyono,2008).
Subyek penelitian dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden
tetapi sebagai narasumber, atau partisipan, informan, teman, dan guru dalam
penelitian. Subyek penelitian dalam penelitian dinamakan informan. Informan
dalam penelitian kualitatif bukan disebut sampel statistik yang harus mewakili
kondisi populasi untuk kepentingan generalisasi populasi, melainkan subyek
penelitian yang dipilih sesuai pertimbangan dan tujuan penelitian yaitu
43
mengembangkan konsep/teori (Sugiyono, 2008). Subyek kasus penelitian adalah
kader yang melaksanakan kegiatan program Posdaya di lokasi penelitian.
Penelitian kualitatif, situasi sosial tertentu dijajaki terlebih dahulu,
observasi dan wawancara dilakukan kepada orang-orang yang dipandang tahu
tentang situasi/realitas sosial yang diteliti. Penentuan informan dilakukan secara
sengaja yaitu dipilih sesuai pertimbangan dan tujuan tertentu, penentuan
informan dilakukan dengan teknik bola salju (snowball sampling), yaitu suatu
metode sampling nonprobability yang sering digunakan dalam penelitian di
lapangan di mana masing-masing orang yang diwawancara memberikan
informasi
tentang
siapa
saja
yang
memungkinkan
untuk
diwawancara
selanjutnya, dengan pertimbangan dan tujuan tertentu sesuai kebutuhan
penelitian, sampai didapatkan informasi yang memadai.
Kunjungan ke Posdaya Kenanga pertama kali dilakukan saat Focus
Group Discussion (FGD) dilaksanakan sekitar bulan Oktober 2010 mengenai
rapat kerja kegiatan Posdaya. Selama FGD yang dilakukan adalah mempelajari
dan melihat aktivitas para kader, pendamping dalam menyampaikan pendapat,
masukan, keinginan terhadap rencana kerja Posdaya Kenanga selama 3 tahun
ke depan. Pada saat itu tidak langsung dilakukan aktivitas pengambilan data dari
informan, namun dilakukan pra survey terlebih dahulu untuk beradaptasi
mengetahui dengan jelas kondisi Kelurahan Situgede serta Posdaya Kenanga.
Kurang lebih tiga bulan melakukan penjajakan di lokasi penelitian sambil
proposal tesis disusun, beradaptasi dan mengenal RW 05 Kelurahan Situgede
dilakukan dengan berjalan-jalan menyusuri jalan RW 05 Kelurahan Situgede, ke
danau yang ada di Situgede, ke tempat-tempat fasilitas umum. Lebih dekat dan
diterima di masyarakat setempat, berbincang-bincang dengan kader, shalat
berjamaah di Masjid Nurul Yaqin, belanja dan mengobrol di warung-warung
terdekatpun dilakukan. Proses adaptasi dilakukan guna mengetahui gambaran
umum RW 05 Kelurahan Situgede dan persiapan mental secara pribadi
(keyakinan diterima masyarakat).
Hasil proses adaptasi dan pengamatan didapatkan beberapa gambaran
umum tentang kondisi fisik dan non fisik Kelurahan Situgede. Kondisi fisik di
antaranya kondisi pemukiman, jalan, masjid, sekolah, kantor kelurahan, dan yang
tidak kalah penting adalah danau Situgede. Kondisi non fisik meliputi aktivitas
para kader Posdaya, aktivitas pekerjaan di kegiatan Posdaya, interaksi kader,
bahasa yang digunakan penduduk, serta rutinitas penduduk RW 05 Kelurahan
44
Situgede, pertemuan-pertemuan (forum) masyarakat yang ada dan sebagainya.
Gambaran umum Kelurahan Situgede selengkapnya diuraikan pada Bab
Gambaran Umum Wilayah Penelitian.
Setelah melakukan adaptasi di lokasi penelitian, didapatkan nama-nama
informan yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan kemudian dilakukan diskusi
dengan koordinator Posdaya Kenanga. Diskusi tersebut dilakukan di rumah
koordinator Posdaya Kenanga sekaligus Ketua RW 05 dan beliau memberikan
tanggapan serta dukungan yang baik.
Hasil diskusi didapatkan daftar calon informan yang tersebar di kegiatan
Posdaya Kenanga. Namun seiring dengan perkembangan data, informasi dan
situasi, daftar informan bertambah dan mengalami perubahan pada beberapa
informan. Perubahan pada daftar informan disebabkan karena kondisi kader
yang tidak begitu aktif dalam kegiatan Posdaya, serta kesibukan informan
sehingga sulit ditemui.
Informan penelitian adalah para kader Posdaya Kenanga dan seseorang
atau lembaga yang mendukung data penelitian. Seseorang atau lembaga
tersebut yaitu pemerintah kelurahan (Lurah, kepala urusan sosial dan
kemasyarakatan), tokoh masyarakat. Selanjutnya informan berkembang sesuai
perkembangan data penelitian.
Besarnya jumlah informan dalam penelitian didasarkan pada pernyataan
Powell (1999) yang dikutip oleh Kurnadi (2004) dalam Ihsaniyati (2010) bahwa
tidak ada formula paling benar yang memberikan pedoman mengenai besarnya
informan (subyek penelitian). Kedalaman dan kekayaan data merupakan hal
yang dianggap paling penting karena pemahaman terhadap masalah yang diteliti
merupakan tujuan utama penelitian kualitatif. Jumlah informan yang berhasil
ditemui sebanyak 27 orang yang terdiri dari 18 orang kader Posdaya Kenanga,
dua orang pendamping, dua orang perangkat kelurahan, satu orang tokoh
masyarakat dan empat orang masyarakat..
Hasil penelitian tidak digeneralisasikan ke populasi karena penentuan
informan tidak dilakukan secara acak (random). Hasil penelitian dengan metode
kualitatif hanya berlaku untuk kasus situasi sosial tersebut. Hasil penelitian dapat
ditransferkan atau diterapkan ke situasi sosial (tempat) lain apabila situasi sosial
lain tersebut memiliki kemiripan atau kesamaan dengan situasi sosial yang diteliti
(Sugiyono, 2008).
45
Data dan Metode Pengumpulan Data
Sumber data primer adalah data yang diperoleh dari subyek kasus dan
informan. Hasil survei pendahuluan digunakan informan sebagai berikut : para
kader, pendamping, perangkat kelurahan, serta tokoh masyarakat; dan
pengamatan lapangan (kondisi usaha ekonomi produktif, dan interaksi antara
kader dan kelompok).
Terdapat lima kriteria untuk pemilihan key informan atau informan yang
dijadikan sumber pengambilan data di antaranya:
1. Subyek yang telah cukup lama dan intensif menyatu dengan kegiatan atau
medan aktivitas yang menjadi informasi, yang menghayati secara sungguhsungguh sebagai akibat dari keterlibatan yang cukup lama dengan lingkungan
atau kegiatan yang bersangkutan. Biasanya ditandai oleh kemampuan dalam
memberikan informasi tentang sesuatu yang ditanyakan.
2. Subyek yang masih terlibat secara aktif pada lingkungan atau kegiatan yang
menjadi perhatian penelitian.
3. Subyek yang mempunyai cukup waktu atau kesempatan untuk diwawancara.
4. Subyek yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau
dipersiapkan terlebih dahulu.
5. Subyek yang sebelumnya tergolong cukup asing dengan penelitian sehingga
lebih mudah menggali informasi (Bungin, 2003).
Data primer didapatkan dengan menggunakan tiga metode pengumpulan
data yaitu: pengamatan berperan serta, wawancara mendalam dan diskusi
kelompok terarah (FGD/Focused Group Discussion). Metode tersebut digunakan
untuk memenuhi bahan penelitian kualitatif. Masing-masing metode digunakan
sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan penelitian. Data yang diperoleh
dari masing-masing metode dianalisis berdasarkan penggunaan data tersebut.
Pertama, pengamatan berperan serta terhadap tokoh-tokoh masyarakat
yang terlibat dan menjadi obyek penelitian untuk memahami keseharian subjek
penelitian serta makna dari tindakan mereka. Terdapat dua alasan metodologis,
kenapa menggunakan teknik pengumpulan data berperan serta (Moleong,
1989:138 dalam Ihsaniyati 2010). (1) pengamatan memungkinkan melihat,
merasakan dan memaknai dunia beserta ragam peristiwa dan gejala sosial di
dalamnya sebagaimana tineliti melihat, merasakan dan memaknainya. (2)
pengamatan memungkinkan pembentukan pengetahuan secara bersama
dengan tineliti. Salah satu rumah penduduk dipilih sebagai tempat tinggal dalam
46
penelitian. Pilihan didasarkan pada informasi yang luas dan dipercaya serta
menghubungkan dengan orang-orang yang diperlukan dalam rangkaian
penelitian. Informan dapat menguasai informasi di RW 05 dan relasi yang luas di
luar RW 05, sehingga tidak saja informasi tentang warga di wilayahnya saja
tetapi informasi di RW lain juga bisa diperoleh.
Rentang waktu satu bulan lebih di lapangan memang cukup singkat untuk
mampu mengungkap secara jujur dan apa adanya pendapat para kader.
Penelitian sangat terbantu oleh informan kunci Kelurahan Situgede yaitu Bapak
Skn beserta istri, beliau sebagai Ketua RW 05, Ketua BKM Kelurahan Situgede,
koordinator Posdaya Kenanga serta guru olahraga di SMA Kornita IPB. Dengan
profesinya sebagai guru, ketua RW 05, Ketua BKM Kelurahan Situgede dan
koordinator Posdaya Kenanga yang bersangkutan menguasai informasi di RW
05 khususnya dan di Kelurahan Situgede pada umumnya. Melalui beliau
dipertemukan dan diperkenalkan kepada tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki
kapasitas dan dapat memberikan referensi untuk mendapatkan data penelitian.
Kedua, metode wawancara mendalam digunakan dalam penelitian.
Wawancara mendalam adalah komunikasi antara peneliti dan subyek kasus atau
informan untuk memperoleh informasi melalui tatap muka berulang kali di fokus
lokasi penelitian. Wawancara ini bersifat fleksibel dengan susunan outline
wawancara yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lokasi
penelitian. Wawancara mendalam ditujukan kepada kader yang ikut dalam
kegiatan program Posdaya, perangkat
kelurahan, tokoh masyarakat dan
pendamping. Informasi yang ingin diperoleh adalah peran serta pendamping,
perangkat kelurahan, dan tokoh masyarakat serta komunikasi partisipatif dalam
kegiatan Posdaya untuk pemberdayaan masyarakat.
Sebelum wawancara dengan seluruh informan, pendekatan informan
dilakukan dengan mendatangi rumah informan, memperkenalkan diri, dan
melakukan perbincangan ringan seputar keluarga. Wawancara dilakukan sesuai
dengan pedoman wawancara dengan perbincangan santai. Teknik wawancara
dilakukan secara tidak terstruktur di mana wawancara bersifat “lepas” dan
informal
dengan
informan,
namun
terlebih
dahulu
dibuat
pokok-pokok
pertanyaan. Alat bantu voice recorder (alat rekam audio) dan kamera digital
digunakan untuk merekam apa yang disampaikan para informan serta kemudian
memasukkan data yang diperoleh ke dalam catatan lapangan. Wawancara
dilakukan sesuai dengan kesepakatan dengan informan meliputi waktu dan
47
tempat wawancara. Tempat wawancara dilakukan di rumah, atau tempat bekerja
informan sesuai kesepakatan. Wawancara dilakukan pada pagi, siang, dan sore,
sesuai waktu luang yang dimiliki informan.
Wawancara siang hari tidak menjadi masalah karena jarak rumah informan
yang satu dengan informan yang lain cukup berdekatan yaitu sama-sama di
lingkungan RW 05. Untuk perangkat kelurahan kegiatan wawancara dilakukan di
kantor Kelurahan Situgede. Dalam satu hari wawancara dengan informan
maksimal dilakukan sebanyak empat kali dengan informan yang berbeda.
Ketiga, Focused Group Discussion (FGD) adalah suatu kegiatan diskusi
terfokus yang ditujukan untuk menggali informasi dari sekelompok narasumber
(informan) terpilih yang memahami betul tentang kegiatan program Posdaya di
lokasi penelitian. Sesuai dengan namanya, yakni Focused Group Discussion
(FGD), maka metoda penggalian informasi dalam kegiatan penelitian ini memiliki
tiga kata kunci, yakni : (1) Diskusi, adalah kegiatan “tukar pendapat” atau “curah
pendapat” untuk mendapatkan informasi lebih mendalam dari para peserta
secara
subyektif
baik
berdasarkan
pengalaman,
pemahaman
maupun
pengetahuan peserta mengenai topik-topik yang berhubungan dengan peran
serta pendamping, perangkat kelurahan dan tokoh masyarakat serta komunikasi
partisipatif dalam kegiatan Posdaya. (2) Kelompok, adalah sekumpulan orang
yang terdiri dari unsur-unsur yang mewakili kedudukannya dalam kegiatan
Posdaya. (3) Terfokus, dimana kegiatan “tukar pendapat” atau “ curah pendapat”
dilaksanakan sesuai dengan panduan dan topik-topik pembahasan yang spesifik
sesuai dengan tujuan dilaksanakannya FGD itu sendiri, sehingga kegiatan
diskusi menjadi terstruktur.
Teknik pengamatan dilakukan untuk melengkapi data dan informasi yang
tidak dapat diperoleh dari teknik wawancara. Diskusi kelompok dilakukan di ujung
pengumpulan data yaitu pada tanggal 14 Mei 2011 pukul 15.30 WIB sampai
dengan selesai di rumah Koordinator Posdaya Kenanga RW 05 Kelurahan
Situgede. Diskusi kelompok tersebut dilakukan untuk mengklarifikasi data dan
informasi penelitian yang telah diperoleh dari wawancara dengan subyek tineliti.
Diskusi kelompok dihadiri oleh informan penelitian. Sebagai pendukung
penyimpanan data dari ketiga teknik yang dipakai, maka dibuat catatan harian,
rekaman wawancara, dan foto-foto.
Sumber data sekunder yaitu data yang
diperoleh melalui dokumen-dokumen antara lain: dokumen Yayasan Damandiri,
48
dokumen P2SDM LPPM IPB, serta dokumen di Kelurahan yaitu monografi
Kelurahan Situgede.
Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan terus-menerus selama penelitian berlangsung,
bahkan sejak pengumpulan data dimulai dari sebelum data benar-benar
terkumpul sampai dengan penulisan laporan penelitian. Tahap-tahap analisis
data meliputi:
1. Reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan
pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya. Dengan demikian
maka data yang telah direduksi memberikan gambaran yang jelas
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan
mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian data yaitu menyajikan data dalam berbagai bentuk seperti cuplikan
percakapan, narasi, deskripsi situasi sosial, foto dengan tujuan untuk
memudahkan dalam memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja
selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. Menurut Miles dan
Huberman (1992) bahwa data kualitatif disajikan dalam bentuk narasi, bukan
dalam bentuk angka. Data penelitian disajikan dalam bentuk narasi yang
dilengkapi dengan kutipan-kutipan pernyataan narasumber dan foto-foto.
3. Interpretasi data yaitu memberikan penafsiran/interpretasi atas data yang ada
dalam penelitian.
4. Pengambilan kesimpulan dan verifikasi yaitu menyimpulkan dan mengecek
ulang data-data yang telah direduksi dan disajikan (Miles dan Huberman,
1984; Creswell, 1994 dalam Ihsaniyati, 2010). Kesimpulan-kesimpulan
diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan cara: (1) memikir ulang
selama penulisan, (2) tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, (3)
peninjauan
kembali
dan
tukar
pikiran
antar
teman
sejawat
untuk
mengembangkan “kesepakatan intersubyektif,” dan (4) upaya-upaya yang
luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang
lain.
Ketiga kegiatan analisis (reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan) yang dilakukan ini merupakan proses siklus dan interaktif. Ketiga
tahapan tersebut berlangsung secara simultan. Analisis data dapat digambarkan
(Miles & Huberman 1992) adalah sebagai berikut :
49
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Simpulan :
Verifikasi
Reduksi Data
Gambar 2 Proses Analisis Data
Kredibilitas dan Dependabilitas (Reliabilitas) Penelitian
Uji kredibilitas atau dalam penelitian kuantitatif disebut validitas dilakukan
untuk menguji apakah data umum penelitian yang telah dikumpulkan adalah
benar (valid). Menguji kredibilitas penelitian kualitatif digunakan triangulasi.
Triangulasi meliputi triangulasi sumber, teknik pengumpulan data dan waktu.
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah
diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang telah dianalisis menghasilkan
suatu kesimpulan, selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan
sumber-sumber data tersebut. Member check dilakukan dengan diskusi
kelompok informan. Triangulasi teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara
mengecek kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Teknik yang
digunakan dapat berupa wawancara atau pengamatan. Reliabilitas pada
penelitian
kualitatif,
disebut
dependabilitas.
Suatu
penelitian
dikatakan
dependable apabila dapat mengulang/mereplikasi proses penelitian tersebut
(Sugiyono, 2008). Uji dependalibilitas dilakukan dengan mengaudit terhadap
keseluruhan proses penelitian.
Download