9 BAB II KAJIAN PUSTAKA Cedera ligamen kolateral medial sendi

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Cedera ligamen kolateral medial sendi lutut merupakan kondisi sangat
kompleks, untuk memahami secara mendalam tentang kondisi cedera ligamen
kolateral medial sendi lutut, maka perlu diketahui struktur jaringan spesifik,
patologi cedera, dan mekanisme gangguan muskuloskeletal, dan penerapan
pelaksanaan fisioterapi pada kondisi ini.
2.1 Anatomi Lutut
Secara sekilas sendi lutut hanyalah sebuah sendi sederhana, tetapi
sebenarnya sendi lutut adalah sendi yang terbesar dan sendi paling kompleks
pada tubuh manusia. Sendi ini diklasifikasikan dalam synovial hinge joint
dengan gerakan yang terjadi adalah fleksi dan ekstensi. Pada sendi lutut juga
terdapat gerakan rotasi tetapi bukan rotasi murni yang dilakukan oleh sendi
lutut tetapi merupakan kerjasama dengan sendi lain. Sendi lutut merupakan
sendi yang memperoleh beban besar dengan gerakan yang luas, dan berfungsi
sebagai pembentuk sikap tubuh, berperan dalam gerak weight transfer, dan
dalam pergerakan seperti berjalan, berlari, melompat, menendang, mendorong,
menarik dan lain sebagainnya (Higgins, 2011).
Karena struktur dan fungsinya yang kompleks, maka sendi lutut
memiliki susunan anatomis dan fungsi yang berbeda, sesuai dengan struktur
pembentuknya. Oleh karena itu sendi lutut dapat disegmentasikan sebagai
berikut:
9
10
2.1.1 Tulang dan Sendi
Sendi lutut dibentuk oleh tiga tulang yaitu; tulang femur, tibia,
dan patella, mempunyai dua derajat kebebasan gerak serta dibentuk
oleh tiga persendian yaitu tibiofemoral joint, patellofemoral joint, dan
proksimal tibiofibular joint yang ditutupi oleh kapsul sendi (Syaifudin,
2013).
Tulang femur merupakan tulang terpanjang dan terberat dalam
tubuh, yang bertugas meneruskan berat tubuh dari tulang coxae ke tibia
sewaktu berdiri. Bagian proksimal dari tulang ini terdiri dari caput
femoris yang bersendi dengan acetabullum, collum femoris dan dua
trochanter major. Ujung distal tulang femur berakhir menjadi dua
condylus yaitu epicondylus medialis dan epicondylus lateralis yang
bersendi dengan tibia (Pearce, 2011).
Tulang tibia yang besar merupakan tulang kuat satu-satunya
yang menghubungkan antara femur dengan pergelangan kaki dan
tulang-tulang kaki, serta merupakan tulang penyangga beban. Bagian
proksimal tulang ini bersendi dengan condylus femur dan bagian distal
bersendi dengan talus (Syaifudin, 2013).
Tibiofemoral joint merupakan sendi dengan jenis sinovial hinge
joint (sendi engsel) yang mempunyai dua derajat kebebasan gerak.
Sendi tibiofemoral dibentuk oleh condylus medialis dan condylus
lateralis tibia serta condylus femoris. Sendi ini mempunyai permukaan
11
yang tidak rata yang dilapisi oleh lapisan tulang rawan yang relatif tebal
dan meniscus (Pearce, 2011).
Patella merupakan tulang sesamoid terbesar pada tubuh
manusia. Tulang ini berbentuk segitiga yang basisnya menghadap ke
proksimal dan apex/puncaknya menghadap ke distal. Tulang ini
mempunyai dua permukaan, yang pertama menghadap ke sendi (facies
articularis) dengan femur dan yang kedua menghadap kedepan (facies
anterior). Facies anterior dapat dibagi menjadi tiga bagian dan
bergabung dengan tendon quadriceps. Pada sepertiga atas merupakan
tempat perlekatan tendon quadriceps, pada sepertiga tengah merupakan
tempat beradanya saluran vascular dan pada sepertiga bawah termasuk
apex merupakan tempat awal ligamentum patella. Patellofemoral joint
merupakan sendi dengan jenis modified plane jointdan terletak diantara
tulang femur dan patella. Sendi ini berfungsi membantu mekanisme
kerja dan mengurangi friction quadriceps. Proksimal tibio fibular joint
merupakan sendi dengan jenis plane sinovial joint yang dibentuk antara
caput fibula dengan tibia. Dilihat dari segi fungsional sendi ini lebih
cenderung termasuk ke dalam persendian ankle karena pergerakan yang
terjadi di lutut merupakan pengaruh gerak ankle ke arah cranial-dorsal
(Syaifudin, 2013).
12
2.1.2 Muskular
Jaringan otot ditandai oleh adanya myofibril yang dibentuk dari
myofilamen pada sel-sel yang memanjang. Myofibril ini berperan
terhadap kontraksi sel-sel otot. Myofibril ini terbagi dalam beberapa
filamen atau serat dan filamen-filamen tersebut terbentuk dari proteinprotein kontraktil, antara lain myosin, actin, tropomyosin, dan troponin.
Filamen-filamen yang tersusun dari protein kontraktil dibagi dalam dua
jenis yaitu filamen tipis dan filamen tebal. Filamen tipis tersusun dari
actin, tropomyosin dan troponin, sedangkan filamen tebal tersusun dari
myosin dengan diameter kurang lebih dua kali diameter filamen tipis
(Pearce, 2011).
1. Tipe serabut otot
Ada tiga jenis jaringan otot yang dapat dibedakan atas dasar
strukturnya dan ciri-ciri fisiologisnya : Yaitu otot polos, otot bercorak /
lurik dan otot jantung. Dimana otot-otot penggerak adalah jenis otot
bercorak. Otot bercorak sendiri terbagi menjadi dua tipe berdasarkan
serabut ototnya (Guyton and Hall, 1997)
2. Kelompok otot-otot.
Ada banyak otot yang terdapat disekitar sendi lutut. Meskipun
ada di antara otot-otot itu yang tidak berperan langsung sebagai
penggerak sendi lutut namun otot-otot itu berfungsi sebagai stabilisasi
dinamik. Sesuai dengan osteo kinematiknya, otot penggerak sendi lutut
dibagi dalam kelompok fleksor dan kelompok ekstensor.
13
1) Kelompok Otot Fleksor
Grup otot fleksor terdiri dari M. Hamstring, juga
terdapat m. Gracilis, m. Sartorius dan otot yang membantu
gerak fleksi lutut yakni m. Plantaris dan m. Gastrocnemius
pada tungkai bawah. M. Hamstring merupakan otot
penggerak utama dari fleksi lutut yang memiliki 3 otot yakn
m. biceps femoris pada bagian lateral, serta m. Semi
membranosus pada bagian tengah, dan m. Semitendinosus
pada bagian medial (Safirin Arifin dan Sriyani, 2013).
Lingkup gerak sendi saat aktif fleksi adalah 140º dan
120º jika hip dalam keadaan ekstensi. Saat pasif fleksi dapat
mencapai 160º dimana tumit dapat menyentuh bokong
(Kapanji, 1987).
Gambar 2.1 : Otot-otot fleksor lutut
(Sumber : Guyton A.C and Hall J.E, 1997)
14
2) Kelompok Otot Ekstensor
Grup ekstensor lutut terdiri dari M. Quadriceps
femoris terdapat 4 otot yakni m. Rectus femoris, m. Vastus
medialis, m. Vastus lateralis, dan m. Vastus intermedius.
Grup otot ini berorigo pada Spina Iliaca Anterior
Superior (SIAS) pada pelvis berjalan ke bawah dan
berinsertio tuberositas tibia. Berfungsi sebagai ekstensor
menjadikan otot ini bekerja juga sebagai penopang tubuh saat
posisi tegak (Kisner and Colby, 2013). Ke 4 otot ini memiliki
tipikal otot yang berbeda. Rectus femoris merupakan otot tipe
I, m. Vastus medialis memiliki serabut tipe II, m. Vastus
lateral memiliki serabut tipe I dan m. intermedius merupakan
campuran antara serabut otot tipe I dan II.
Fungsi m. Vastus medialis pada sendi lutut disamping
berperan sebagai ekstensor sendi juga berperan dalam
menjaga stabilisasi posisi patella
bersama–sama dengan
ligament.
Sendi patellofemoral. Otot ini bekerja optimal sebagai
ekstensor lutut pada 5º - 10º ekstensi lutut dan bila otot ini
dapat berfungsi dengan efisien bersama dengan ketiga otot
lainnya maka gerakan ekstensi penuh dapat dilakukan.
Lingkup gerak sendi saat ekstensi adalah 5º - 10º
hyperekstensi. Mengenai fungsi m.Vastus Medialis, literatur
15
lain menyatakan bahwa meskipun digambarkan sebagai
ekstensor lutut, studi anatomis dan elektromyograprafik oleh
Lieb dan Perry menyatakan bahwa otot tersebut tidak saja
sebagai ekstensor, tetapi sebagai suatu otot yang didesain
untuk mengontrol dan menyanggah patella selama gerakan
lutut” (Richardson, 1999).
Innervasi syaraf pada otot-otot sekitar sendi lutut
yaitu N. Sciaticus untuk grup M. Hamstring dan N. Femoralis
untuk grup M. Quadriceps Femoralis. N. Sciatic berasal dari
akar syaraf L5, S1–S2 sedangkan N. Femoralis berasal dari
akar syaraf L2– L4 (Guyton and Hall, 1997).
Gambar 2.2 : Otot-otot ekstensi lutut
(Sumber : Guyton A.C and Hall J.E, 1997)
16
3) Pes anserinus dan otot iliotibial band.
Otot ini berpengaruh pada stabilitas lutut, otot ini
membentang sejauh facies medialis tibiae yang berinsersio
bersama-sama dengan m.semi tendinosus dan m.sartorius
sebagai pes anserinus. Otot ini terletak paling medial,
langsung dibawah permukaan medial sendi lutut dan bila
paha di abduksikan tampak jelas gambaran lengkungnya.
Otot ini berfungsi sebagai adductor panggul dan bila lutut
difleksikan otot anserinus ini bersama-sama otot lain
berfungsi sebagai rotator medial tungkai bawah dan juga
penting mempertahankan secara aktif agar tidak terjadi genu
valgus.
Sementara terusan dari m.gluteus maximus dan
m.tensor facia lata yang berasal dari spina iliaca anterior
superior membentang ke distalis sampai trochanter major
terus ke tractus iliotibialis berinsertio pada condylus lateralis
tibiae, otot ini berfungsi sebagai abductor dan juga sangat
penting mempertahankan secara aktif gerak berlebihan varus.
17
Gambar 2.3 : Otot iliotibial band dan pes anserinus
(Sumber : Guyton A.C and Hall J.E, 1997)
3. Jenis-jenis kontraksi otot
1) Isotonik
Kontraksi ini merupakan kontraksi otot dengan beban
konstan dan terjadi perubahan panjang otot. Pada kontraksi
isotonik dengan menggunakan beban dapat meningkatkan
kekuatan otot sepanjang ruang lingkup gerak sendi sehingga
kontraksi ini dapat digunakan dalam aktifitas bekerja. Selain itu
kontraksi isotonik dengan beban juga dapat menimbulkan
hipertrofi otot, pelebaran kapiler yang menyebabkan peredaran
darah meningkat sehingga tidak cepat menimbulkan kelelahan.
Pada kontraksi isotonik koordinasi neuromuscular dapat
dihasilkan lebih baik karena innervasi pada nerve-mus cle lebih
kompleks, dengan kata lain pada kontraksi isotonik lebih
menerapkan prinsip motor performance.(Jensen, et al., 2009).
18
2) Eksentrik
Kontraksi otot dimana kedua ujung/perlekatan otot
(origoinsertio) saling menjauh, atau otot dalam keadaan
memanjang.
3) Kosentrik
Kontraksi otot dimana kedua ujung atau perlekatan otot
(origo-insertio) saling mendekat atau otot dalam keadaan
memendek (Kapanji, 1987).
4) Isometrik atau statik kontraksi.
Kontraksi otot dimana tidak terjadi perubahan panjang
otot dengan beban dapat berubah-ubah. Isometrik juga sering
disebut statik kontraksi yaitu kontraksi otot dimana sendi dalam
keadaan stastis. Pada kontraksi isometrik terjadi: Resiprocal
innervation (Reserve Innervation) yaitu kelompok otot agonis
berkontraksi maka akan diikuti oleh rileksasi pada kelompok
otot antagonisnya. Pada latihan isometrik banyak menimbulkan
sisa metabolisme sehingga akan cepat menimbulkan kelelahan
karena sirkulasi yang kurang bagus, yaitu akibat adanya proses
pumping action yang meningkatkan sistem sirkulasi darah
sehingga terjadi vasokontriksi pembuluh darah akibat adanya
tekanan dari kontraksi otot yang menyebabkan metabolisme
menurun dan dapat mengakibatkan ischemic (Kapanji, 1987).
19
2.1.3 Vaskularisasi dan Persarafan Sendi Lutut
Lutut mendapat suplai darah dari artery poplitea yang
merupakan terusan dari artery iliac external yang menjadi artery
femoralis di daerah proximal paha. Artery femoralis berjalan menuju
ke arah posterior lutut dan menjadi artery poplitea.
Untuk persarafan, sendi lutut dikelilingi oleh otot-otot yang
mendapat
persarafan
dari
serabut-serabut
saraf
yang
juga
mempersarafi anggota gerak bawah. Ada nervus femoralis dan nervus
obturator yang berasal dari plexus lumbosacral dan menginervasi sisi
depan dan anteromedial paha.
2.1.4 Ligamen
Untuk fungsi stabilisasi pasif sendi lutut dilakukan oleh
ligamen. Ligamen-ligamen yang terdapat pada sendi lutut adalah
ligamen cruciatum yang dibagi menjadi dua yaitu ligamen cruciatum
anterior dan ligamen cruciatum posterior, ligamen collateral yang juga
dibagi menjadi dua bagian yaitu ligamen collateral medial dan ligamen
collateral lateral, ligamen patellaris, ligamen poplitea oblique dan
ligamen transversal.
Ligamen cruciatum merupakan ligamen terkuat pada sendi lutut
meskipun tidak menutupi kapsul sendi. Dinamakan ligamen cruciatum
karena saling menyilang antara satu dengan yang lain. Ligamen ini
berada pada bagian depan dan belakang sesuai dengan perlekatan pada
tibia. Fungsi ligamen ini adalah menjaga gerakan pada sendi lutut,
20
membatasi gerakan ekstensi, dan mencegah gerakan rotasi pada posisi
ekstensi, juga menjaga gerakan slide ke depan dan belakang femur pada
tibia dan sebagai stabilisasi bagian depan dan belakang sendi lutut (Putz
and Pabst, 2008).
Ligamen crusiatum anterior membentang dari bagian anterior
fossa intercondyloid tibia melekat pada bagian lateral condylus femur
yang berfungsi untuk mencegah gerakan slide tibia ke anterior terhadap
femur, menahan eksorotasi tibia pada saat fleksi lutut, mencegah
hiperekstensi lutut dan membantu saat rolling dan gliding sendi lutut
(Putz and Pabst, 2008).
Ligamen crusiatum posterior merupakan ligamen yang lebih
pendek tetapi lebih kuat dibanding dengan ligamen cruciatum anterior.
Ligamen ini berbentuk kipas membentang dari bagian posterior tibia ke
bagian depan atas dari fossa intercondyloid tibia dan melekat pada
bagian luar depan condylus medialis femur. Ligamen ini berfungsi
untuk mengontrol gerakan slide tibia ke belakang terhadap femur,
mencegah hiperekstensi lutut dan memelihara stabilitas sendi lutut
(Putz and Pabst, 2008).
Ligamen collateral medial merupakan ligamen yang lebar,
datar, dan membranosus bandnya terletak pada sisi tengah sendi lutut.
Ligamen ini terletak lebih posterior di permukaan medial sendi
tibiofemoral, yang melekat di atas epicondylus medial femur di bawah
tuberculum adductor dan ke bawah menuju condylus medial tibia serta
21
pada medial meniscus. Seluruh ligamen collateral medial menegang
pada gerakan penuh ROM ekstensi lutut, ligament kolateral medial ini
juga melekat pada meniscus medialis. Ligamen ini sering mengalami
cedera, cedera ligamen ini sering menyertai cedera meniscus medialis
dan fungsinya untuk menjaga gerakan ekstensi dan mencegah gerakan
ke arah luar (Putz and Pabst, 2008).
Ligamen collateral lateral merupakan ligamen yang kuat dan
melekat diatas ke belakang epicondylus femur dan dibawah permukaan
luar caput fibula. Fungsi ligamen ini adalah untuk mengawasi gerakan
ekstensi dan mencegah gerakan ke arah medial. Dalam gerak fleksi
lutut ligamen ini melindungi sisi lateral lutut (Putz and Pabst, 2008).
Ligamen patellaris merupakan ligamen kuat dan datar yang
melekat pada lower margin patella dengan tuberositas tibia, dan
melewati bagian depan atas patella dan serabut superficial yang
berlanjut pada pusat serabut pada tendon quadriceps femoris (Putz and
Pabst, 2008).
Ligamen popliteal oblique merupakan ligamen yang lebar dan
datar. Menutupi bagian belakang sendi dan melekat diatas upper
margin fossa intercondyloid dan permukaan belakang femur dan
dibawah margin posterior caput tibia. Pada bagian tengah terpadu
dengan tendon otot semimembranosus dan bagian luar dengan lateral
head otot gastrocnemius.
22
Ligamen ini juga berfungsi untuk mencegah hiperekstensi lutut
(Putz and Pabst, 2008). Ligamen transversal merupakan ligamen yang
pendek dan tipis dan berhubungan dengan margin convex depan
meniscus lateral dan ujung depan meniscus medial. Selain itu terdapat
tractus iliotibial yang berfungsi seperti ligamen yang menghubungkan
crista illiaca dengan condylus lateral femur dan tuberculum lateral
tibia. Pada sendi lutut tractus iliotibial berfungsi untuk stabilisasi
ligamen antara condylus lateral femur dengan tibia.
Gambar 2.4 : Ligament-ligament sendi lutut
(Sumber : Guyton A.C and Hall J.E, 1997)
2.1.5 Meniscus
Meniscus terdiri jaringan penyambung dengan bahan-bahan
serabut kolagen yang juga mengandung sel-sel seperti tulang rawan.
Meniscus ini disuplai oleh pembuluh darah dari A. genu inferior dan A.
23
genu medial, bersama-sama membentuk arcade arteria perimeniscus
marginalis.
Meniscus ini dibagi menjadi 2 : Meniscus medialis
berbentuk semi sirkularis (setengah lingkaran) dan bersatu dengan
ligamentum collaterale tibiale.
Meniscus medialis lebih lebar di
posterior daripada anterior, karena itu crus anterior lebih tipis dari pada
crus anterior. Meniscus lateralis hampir berbentuk sirkular (lingkaran).
Meniscus lateral lebih mudah bergerak daripada meniscus medial dan
meniscus ini tidak menyatu dengan ligamentum collateral fibulare oleh
karena itu ini kurang mendapat
regangan pada bermacam-macam
gerakan.
Gambar 2.5 : meniscus
(Sumber : Guyton A.C and Hall J.E, 1997)
2.1.6 Biomekanik Sendi Lutut
Sendi lutut mempunyai dua derajat kebebasan gerak yaitu fleksi
dan ekstensi pada bidang sagital dengan sumbu gerak medial lateral
24
dan rotasi pada bidang transversal atau longitudinal dengan sumbu
gerak vertikal.
Nilai ROM gerak fleksi dari 120° sampai 150° tergantung pada
ukuran massa otot pada betis yang kontak dengan bagian posterior
paha. Pada pria normal yang berusia 18 bulan sampai 54 tahun, Boone
dan Azen (1979) meneliti bahwa nilai ROM rata-rata gerakan fleksi
adalah 143° (SD = 5,4). Ketika hip ekstensi, ROM fleksi knee
berkurang karena keterbatasan pada otot rectus femoris yang bagian
proksimalnya berada pada spina iliaca anterior inferior. Hiperekstensi
minimal dan tidak normal ketika mencapai 15°.
Secara normal ketika lutut bergerak ke arah ekstensi, terjadi
gerakan eksternal rotasi sekitar 20° dimana femur terfiksir. Gerakan
yang dapat diamati pada akhir 20° ekstensi lutut dinamakan terminal
rotasi lutut atau screw home mechanism. Ini merupakan gerakan yang
terjadi baik pada gerakan ekstensi lutut secara aktif atau pasif dan tidak
dapat dihasilkan atau dicegah secara volunter. Pada gerakan dengan
closed-chain seperti saat berdiri dari kursi, terminal rotasi terjadi pada
internal rotasi femur pada tibia yang terfiksir.
Mekanisme ini memberikan stabilitas mekanik untuk menahan
tekanan yang timbul pada bidang sagital. Juga untuk mempertahankan
posisi tegak tanpa kontraksi otot quadriceps dan menahan tekanan
depan-belakang ketika ekstensi lutut ketika kekuatan otot berkurang.
25
Meskipun nilai terminal rotasi pada lutut kecil seperti pada rotasi aksial
tetapi penting pada fungsi lutut yang normal.
2.2 Patofisiologi cedera ligamen kolateral medial sendi lutut.
2.2.1 Penyebab cedera ligamen kolateral medial.
Cedera ligamen kolateral medial merupakan type injury atau
trauma yang terjadi pada berbagai aktivitas olahraga, seperti atlet sepak
bola, pelari, ski dan beberapa jenis olahraga kontak lainnya terutama
bila sendi ini digerakkan melebihi kapasitasnya akan menyebabkan
kerusakan ligamen ini. Cedera pada ligamen kollateral medial
dihasilkan oleh gaya valgus dan rotasi ektensi lutut yang tiba-tiba,
dimana seringkali terjadi selama olahraga atletik atau exercise ketika
berat tubuh yang diterima oleh lutut saat menyangga berat badan tidak
sempurna atau tidak stabil menyebabkan lutut dalam posisi rotasi saat
gaya tersebut terjadi. Akibatnya, ligamen kolateral medial mengalami
over stretch atau sprain. Jika gaya yang terjadi pada lutut lebih hebat,
maka ligament menjadi ruptur.
Ada dua jenis cedera dalam berolahraga yaitu cedera langsung
atau Traumatik injury maupun tidak langsung Overuse injury.
Traumatik injuri disini dapat dilihat dengan jelas penyebabnya
Misalnya Jatuh, salah gerak, tertabrak dan lain-lain sehingga
menyebabkan robekan/putusnya jaringan lunak (soft tissue) seperti
ligamen, otot, tendon hingga terjadinya fraktur.
26
Sedangkan Overuse injury yaitu cedera yang diakibatkan karena
pemakaian jaringan yang berlebih berhubungan dengan beratnya beban
latihan, istirahat yang kurang. Perawatan cedera sebelumnya yang
kurang tepat serta persiapan dalam pertandingan seperti warming up,
stretching dan cooling down setelah pertandingan yang kurang
maksimal dan efektif.
Selain itu cedera dapat terjadi oleh sebab-sebab non traumatik
seperti post arthritis, tendinitis kronik, serta mekanik tubuh yang buruk
misalnya adanya kelemahan otot-otot, kondisi struktur sendi valgus
dapat juga mengalami cedera.
2.2.2 Gejala dan Tanda Klinis Cedera Ligamen Kolateral Medial
Ketika seseorang mengalami cedera maka akan terjadi
kerusakan struktur jaringan sekitarnya dan menimbulkan banyak
problem diantaranya :
1. Nyeri
Nyeri timbul segera setelah cedera ketika adanya
aktivitas pembebanan pada jaringan seperti pada ektensi
maupun fleksi lutut atau pada penguluran ligamen kolateral
medial,
dimana
terproteksi
daerah
dengan
yang
timbulnya
mengalami
iritan
kerobekan
noxious
yang
mengisyaratkanadanya suatu kerusakan jaringan. Ujungujung saraf pada daerah tersebut mengeluarkan tachykinine
27
yang mengakibatkan sensitisasi yang ditimbulkan dari
mekanosensori.
2. Sweling atau inflamasi
Inflamasi atau peradangan dapat timbul setelah 24 –
36 jam setelah cedera yang meruan suatu reaksi setempat
daripada jaringan tubuh terhadap trouma atau rangsangan
yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang
terlarut dan sel-sel dari yang bersirkulasi ke dalam jaringanjaringan interstisial pada daaerah cedera atau ischemik.
Adanya peradangan tersebut akan menimbulkan
iritasi kimiawi, pelengketan antara jaringan. Sistem
metabolisme terganggu, gangguan keseimbangan asam basa
jaringan, spasme otot dan timbul rasa nyeri.
3. kekakuan
Kekakuan disebabkan oleh spasme otot tonik yang
bertanda adanya proteksi cedera pada sekeliling otot-otot
tersebut. Kekakuan terproteksi pada ruang gerak sendi yang
terbatas baik gerak aktif maupun pasif, pada ekstensi lutut
secara pasif ruang gerak sendi terbatas dengan rasa nyeri
yang tajam menyebar kesekeliling lutut dan sampai ke
proximal maupun ke distal.
28
2.2.3 Tingkat cedera ligamen
Beberapa orang yang mengalami cedera igamen sering
melaporkan adanya bunyi “ceklek” atau “letupan” saat terjadi cedera.
Setelah cedera terjadi, pasien mengalami gangguan gerak dan fungsi
tergantung dari derajat kerusakan yang diakibatkan oleh cedera
tersebut. Cedera ligament dapat dikelompokkan menjadi 3 derajat
berdasarkan derajat kerusakannnya, yaitu :
1. Derajat I, ditandai dengan :
1) Cedera ringan, nyeri ringan, sedikit bengkak, dan mungkin
muncul kekakuan sendi.
2) Stretch ligamen atau kerobekan kecil pada ligamen.
3) Biasanya terjadi pada ligament krusiatum anterior.
4) Penurunan fungsi yang minimal.
5) Dapat kembali beraktivitas dalam beberapa hari setelah injury
(dengan menggunakan brace atau taping).
2.
Derajat II, ditandai dengan :
1) Nyeri yang sedang sampai nyeri hebat, pembengkakan, dan
muncul kekakuan sendi.
2) Kerobekan parsial pada ligamen sendi .
3) Penurunan fungsi yang cukup berat dengan kesulitan
berjalan.
4) Membutuhkan waktu 2 – 3 bulan sebelum memperoleh
kembali kekuatan dan stabilitas sendi.
29
3. Derajat III, ditandai dengan :
1) Timbul nyeri hebat setelah cidera, yang kemudian diikuti
oleh sedikit nyeri atau tanpa nyeri akibat kerusakan total dari
serabut saraf.
2) Pembengkakan yang besar dan sendi menjadi kaku selama
beberapa jam setelah cidera.
3) Ruptur secara komplet pada ligament kolateral (laxity yang
berat).
4) Biasanya memerlukan beberapa bentuk immobilisasi selama
beberapa minggu.
5) Hilangnya fungsi secara komplet (functional disability) dan
memerlukan kruk.
6) Biasanya
memerlukan
terapi konservatif
dengan
program rehabilitasi exercise, tetapi dalam jumlah yang kecil
memerlukan pembedahan.
7) Masa recovery selama 4 bulan
Sementara itu. kronik cedera ligamen dapat terjadi pada
penderita atau olahragawan yang mengalami overstretch (injury) ringan
dan terjadi berulang kali tanpa mendapatkan pengobatan yang adequat.
Cedera ini sering menjadi kronik cedera karena pasien tidak begitu
memperhatikan cedera yang dialaminya sehingga tidak diobati atau
mendapatkan pengobatan yang tidak adequat. Pada kronik cedera
ligamen, nyeri yang dirasakan adalah dull aching (sakit tumpul),
30
bersifat intermitten atau kadang-kadang konstan, nyeri cenderung
meningkat jika melakukan aktivitas atau olahraga yang melibatkan
lutut.
2.2.4 Proses Penyembuhan Cedera ligamen
Pada saat tubuh mengalami kerusakan jaringan atau luka maka
akan terjadi peradangan yang ditandai dengan nyeri, bengkak, panas
kemerahan dan gangguan fungsi. Hal ini perlu diuraikan sehubungan
dengan patofisiologi cedera ligamen dan nantinya peneliti dapat
menyesuaikan
tahapan-tahapannya
dengan
usaha
penyembuhan
berdasarkan modalitas yang diterapkan.
Adapun fase – fase penyembuhan luka secara fisiologis adalah
sebagai berikut :
a. Fase Perdarahan
Fase perdarahan adalah fase yang terjadi antara 20
– 30 menit setelah terjadi trauma. Pada fase tahap ini
perdarahan berhenti setelah dikeluarkan fibrin untuk
menutupi luka. Pada fase ini ditandai dengan keluarnya
hematoma dan keluarnya zat – zat iritan.
b. Fase Peradangan
Fase peradangan adalah fase yang terjadi antara 24
– 36 jam setelah trauma. Fase peradangan aktif ditandai
dengan radang tinggi dengan gejala – gejala panas, merah
31
dan bengkak pada daerah trauma. Pada fase ini terjadi
aktualitas nyeri yang tinggi dimana fase ini sebagai awal
dari proses penyembuhan luka.
c. Fase Regenerasi
Pada fase ini terdiri dari tiga fase :
1) Fase proliferasi (2 – 4) hari
Pada fase ini ditandai dengan menurunnya rasa
nyeri, jumlah protein pertahanan tubuh banyak dan
jumlah fibroblast meningkat. Pada fase ini juga terjadi
rekonstruksi jaringan pembentukan jaringan permukaan
dan memberikan kekuatan pada daerah trauma. Sel – sel
lain peningkatan, juga terjadi peningkatan sel – sel
macrophage dan sel – sel endothelial untuk membentuk
pembuluh – pembuluh darah baru yang terkenal dengan
proses angiogenesis.
2) Fase produksi (4 hari – 3 minggu)
Pada fase ini ditandai dengan penurunan proses
pertahanan tubuh, diikuti dengan peningkatan fibroblast
yang tinggi, telah terjadi pelekatan kolagen dan jaringan
granulasi baru serta peningkatan oksigenisasi pada
daerah cidera. Beberapa fibroblast terbentuk menjadi
myofibroblast yang memberikan efek wound contraction.
32
3) Fase remodeling (3 minggu – 3 bulan)
Fase ini merupakan fase pembentukan jaringan
yang normal. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrous
dan kekurangan vaskuler untuk membentuk jaringan
fibrous yang rapat seperti scar tissue. Selama tiga
minggu kekuatan pada daerah yang cedera sekitar 15%.
Proses ini berlanjut sampai tiga bulan hingga terjadi
pembentukan jaringan yang baru. Jumlah pembuluh
darah berkurang untuk mempertahankan viabilitas
jaringan. Arteri, vena dan lympa berkembang kembali
dan terjadi regenerasi pada serabut saraf yang kecil.
2.2.5 Kelemahan Otot
Kelemahan otot adalah penurunan kekuatan kontraksi otot.
Kelemahan otot dapat disebabkan oleh akibat sistemik, chemical ,
atau lesi terhadap suatu saraf pada system saraf perifer atau sistem
saraf pusat atau pada myojunction. Kelemahan otot juga diakibatkan
adanya gangguan langsung pada otot atau karena inaktivitas.
Kelemahan otot disebabkan oleh :
1) Inaktivitas akibat immobilisasi dan keterbatasan gerakan.
2) Jumlah
motor
unit
dan
menurun.
3) Gangguan sirkulasi pada otot.
aktivitas
neurotransmitter
33
4) Penurunan kualitas otot akibat proses degenerasi dan
penuaan
Otot sebagai stabilisator aktif dan sebagai penggerak sendi akan
mengalami penurunan fungsinya oleh hal-hal tersebut diatas sehingga
kecenderungan terjadinya cedera skunder akan lebih besar seperti pada
Pes anserinus dan otot iliotibial band ( Kisner C , Colby LA, 2013).
Otot ini berpengaruh pada stabilitas lutut dibentuk oleh otot tibialis
serta membentuk gerakan kuat dan cepat lebih ke otot quadricep. Pes
anserinus dan otot iliotibial band berpengaruh penting terhadap
stabilitas lutut, untuk pes anserinus begian medial lutut sangat penting
mempertahankan secara aktif agar tidak terjadi genu valgus sementara
iliotibial band penting mempertahankan gerak berlebihan varus.
Apabila otot – otot ini mengalami kelemahan maka akan
kehilangan
fungsinya
sebagai
stabilisator
penting
dalam
mempertahankan secara aktif agar tidak terjadi genu valgus.
2.2.6 Gangguan Gerak dan Fungsi
Disebabkan oleh :
1) Rasa nyeri saat melakukan aktivitas yang memerlukan posisi
lutut ekstensi maupun fleksi yang disertai pembebanan.
2) Ketidak
seimbangan
kekuatan
fungsi daripada kerja sendi.
otot sehingga tidak stabilnya
34
2.2.7 Konsep Nyeri dan Proses Timbulnya Nyeri
Nyeri adalah perasaan majemuk yang bersifat subyektif, yang
disertai perasaan tidak enak, pedis dan dingin, rasa tertekan dan ngilu,
pegal dan sebagainya. Sebagai aikibat adanya stimulasi ataupun trauma
dari dalam dan dari luar neuromuscular sistem, yang mengakibatkan
terangsangnya nociseptor pada saraf perifer diatas nilai ambang
rangsang yang diteruskan ke korteks cerebri kemudian diterjemahkan
kedalam bentuk nyeri dengan bentuk dan kualitas rangsangan yang
berbeda. Sedangkan menurut International Association For The Study
Of Pain, nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
nyaman, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau berpotensi
terjadi kerusakan jaringan, atau menggambarkan adanya kerusakan
jaringan.
2.2.8 Mekanisme Timbulnya Nyeri Pada Cedera Ligamen
Secara fisiologis rasa nyeri terjadi oleh karena kerusakan
jaringan, atau penyakit yang mengawali perubahan kimiawi dan elektris
didalam tubuh. Bila terdapat interaksi rangsangan mekenik, kimia dan
suhu terhadap nicoseptor, maka tubuh akan menghantar rangsangan
tersebut melalui aliran listrik pada ujung saraf sensori. Nyeri akibat
cidera ligamen kollateral media ada nyeri yang dirasakan pada sisi
bagian dalam dari sendi lutut akibat adanya overstrertch pada ligamen
colarteral media sendi lutut. Adanya overstrertch pada ligamen kolateral
35
menyebabkan cedera atau kerusakan pada ligamen tersebut, sehingga
merangsang serabut saraf afferen bermyelin tipis (serabut saraf A delta
dan tipe C). Implus tersebut dibawa ke ganglia akar saraf dorsalis dan
merangsang produksi “P” substance yang memicu terjadinya reaksi
radang. Kemudian implus tersebut dibawa ke cornum dorsalis medula
spinalis dan dikirim ke level SSP yang lebih tinggi melalui traktus
spinothalamicus. Padsa level SSP yang lebih tinggi (cortex sensorik,
hipothalamus, & limbik system) implus tersebut mengalami proses
interaksi yang kemudian menghasilkan suatu perasaan subjektif yang
dikenal dengan persepsi nyeri. Nyeri yang ditimbulkan akan
menyebabkan spasme otot dan keterbatasan lingkup gerak sendi. Jika
hal ini tidak ditanggani dengan baik maka akan timbul kelemahan otot,
contraktur dan akhirnya kaku sendi. Selain itu akibat dari spasme otototot dan keterbatasan ruang gerak sendi akan mengalami pemendekatan
cupsulo ligamenter sendi, sehingga menimbulkan nyeri rengang.
2.3 Pemeriksaan Fisik Cedera Ligamen Kolateral Medial Sendi Lutut
Untuk dapat memastikan cedera ligamen kolateral medial sendi lutut
memerlukan pemeriksaan spesifik yang akurat :
1. Tahapan pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik cedera ligamen kolateral medial sendi
lutut dimulai dari pemeriksaan Inspeksi yang dilakukan saat pasien
sedang berdiri dan Inspeksi sambil telentang, Pemeriksaan palpasi
36
lutut yang sedang inflamasi adalah mengamati gejala dan tanda
radang seperti pembengkakan, kemerahan, panas, dan nyeri.
Pembengkakan dan kemerahan harus terbukti dengan pemeriksaan.
Nyeri diperoleh dari keluhan riwayat pasien dan panas dengan
palpasi.
2. Tes Khusus Untuk cedera ligamen Sendi Lutut
Fisioterapi dapat langsung mendiagnosa cedera pada
ligamen kolateral medial sendi lutut ini dangan melihat bagaimana
cedera terjadi dengan disertai pemeriksaan fisik. Ada beberapa
jenis tes pemeriksaan sendi lutut. Setiap tes pemeriksaan khusus
untuk cedera
ligamen. Empat tes kusus untuk mendiagnosa
kerusakan pada ligamen adalah laci sorong anterior, laci sorong
posterior, tes valgus dan tes varus. Jika terdapat laxity (kelemahan)
pada ligament ini maka hasilnya positf berarti terdapat kerusakan
pada ligamen.
2.4 Pelaksanaan fisioterapi
Melalui proses management pelayanan fisioterapi yaitu : Pemeriksaan,
evaluasi, diagnosis, prognosis dan intervensi. Pelaksanaan atau penerapan
didesain guna untuk mengoptimalkan hasil yang diharapkan.
37
2.4.1 Penerapan Bandage elastic
1. Pengertian.
Bandage elastic merupakan tindakan yang umum dilakukan
bila terjadi cidera atau trauma akut. Bandage elastic atau
pembalutan adalah suatu upaya kompresi bagian yang cedera untuk
mengurangi perdarahan dan edema, mengurangi gerak pada cedera
tulang, mobilisasi, supporting, membatasi gerak sendi dan
mencegah cedera berulang (Williams and Wilkins, 2009).
2. Bahan bandage elastic
Bentuk Bandage elastic yang sering digunakan sangat
ditentukan oleh tujuan, fase cedera dan lokasi cedera.
a) Bandage elastic terdiri atas berbagai ketebalan dan ukuran
(5cm 7,5cm, dan 10cm).
b) Bandage elastic memiliki karakteristik elastis, sangat kuat
dan terbuat dari bahan Zinc-oxida, terdiri dari bermacam
ukuran (12mm, 25mm dan 50mm).
Bentuk pemasangan pembalut Bandage elastic sebagai berikut:
a) Bentuk spiral, sederhana yaitu bentuk sederhana dari
pembalut elastic bandage yang mengelilingi tungkai atas
maupun bawah, setiap putaran menutupi 1/2 atau 2/3
putaran sebelumnya, fungsi pembalut elastis bandage ini
adalah untuk menahan penutup luka agar tidak bergerak
atau untuk kompresi.
38
b) Bentuk delapan, diawali dengan sekali putaran, lalu
menyeberangi
sendi dan selanjutnya memutari bagian
sebelah atas sendi untuk melengkapi bentuk balutan ini.
Melihat pengulangan putaran pembalutan dan bentuk
balutannya dikenal sebagai spica. Bentuk ini digunakan
untuk kompresi sendi dan juga agar sendi dapat melakukan
fleksi disamping membatasi gerak ektensi.
c) Bentuk asendens, dimulai dengan balutan bentuk delapan
diatas sendi lalu seterrusnya menjauh dari sendi
d) Balutan jangkar, balutan pertama sebelum melanjutkan
pemasangan balutan berikutnya.
3. Tujuan dan Manfaat Bandage elastic
Bandage elastic, digunakan pada profilaktik, pengobatan
dan rehabilitasi cedera. Tujuannya ialah untuk mencegah dan
mengurangi
hematoma
dan
immobilisasi, membatasi gerak
berlebihan dan mencegah cedera berulang (Williams and Wilkins,
2009).
Pada cedera akut dapat digunakan agar cedera atau luka
tetap pada posisinya atau untuk kompressi (mengurangi oedema),
dan untuk mengurangi rasa nyeri. Pembalut elastis dapat digunakan
untuk mengurangi gerak sendi dan cedera tulang. Pada cedera
kronik dapat digunakan untuk mengurangi gerakan sendi maupun
otot.
Aplikasi
Bandage
elastis
bertujuan
untuk
memberi
39
kesempatan pada penderita yang sedang mengalami cedera kronis
atau cidera ringan untuk tetap dapat beraktifitas.
Pada saat rehabilitasi penderita sebaiknya secepatnya
kembali bergerak, melakukan latihan otot dan lain-lain agar tidak
terjadi kekakuan sendi dan kelemahan otot. Bila telah melewati
fase penyembuhan penderita ataupun atlet telah dapat kembali
berlatih dengan memakai pembalut atau pita perekat agar bagian
tubuh yang cedera dapat digerakkan dengan leluasa namun tetap
dalam batas – batas yang aman. Selain itu untuk mencegah trauma
baru pada bekas lokasi cedera dan untuk mencegah cedera ulang.
4. Mekanisme Pengurangan nyeri pada penerapan Bandage elastic
Penerapan bandage elastic pada kondisi cedera ini akan
memberi efek mengurangi nyeri pada level sensorik oleh sebab
adanya pumping action dari otot-otot sehingga memperbaiki
sirkulasi darah perifer dan akan terabsorbsi zat-zat iritan yang
diikuti oleh relaksasi otot-otot yang spasme oleh adanya zat-zat
iritan tersebut. Selain itu juga berfungsi sebagai support dimana
otot-otot terpriksir dengan merata sehingga memungkinkan
pemblokiran gangguan metabolik (osmose zat iritan) pada saat
peregangan jaringan (Williams and Wilkins, 2009).
5. Prosedur penerapan Bandage elastic
Prosedur pemasangan Bandage elastic pada ligamentum
Kollateral Media sendi lutut.
40
a) Persiapan penderita.
Daerah yang mau dipasang Bandage elastic
dibersihkan
dari
kotoran
dan
dikeringkan
untuk
menghindari gatal saat setelah di pasang. Penderita
diberitau bahwa pemasangan elastis bermanfaat terhadap
cedera yang dialaminya, kemudian atur posisi penderita
dengan lutut fleksi 200 atau secomportable mungkin.
b) Persiapan pembalut Bandage elastis
Pastikan pembalut dalam keadaan bersih dan
tergulung agar mudah pembalutan.
c) Pembalutan :
(1) Pembalutan elastis dimulai dari bawah keatas atau
arah ke atas diawali 2 kali putaran, ketika memasang
elastis bandage rol menghadap keatas pada tangan
yang dominan. Selalu balut dengan arah yang dapat
memendekkan struktur yang cedera.
(2) Jangan memakai tungkai atau bagian tubuh lainnya
untuk ankor untuk menghindari pembalutan terlalu
ketat sehingga menghambat sirkulasi darah dan
menimbulkan rasa nyeri.
(3) Pembalutan elastis ini didesain untuk kompresi dan
tidak untuk menyokong. Namun banyak tehnik
41
pemasangan
akan
lebih
menyenangkan
bila
dilanjutkan pemasangan kinesio taping.
(4) Pemasangan sebaiknya overlap 1/2 - 1/3 dari putaran
pertama ke putaran berikutnya agar pembalutnya kuat
dan merata.
(5) Dianjurkan pemasangan selama 4 minggu dan 3 kali
setiap minggunya.
(6) Setelah selesai periksa kembali bagian distal
(7) Bila ada keluhan perlu diperiksa kembali.
Gambar 2.6 pemasangan Bandage elastic pada cedera ligamen kolateral medial
sendi lutut.
(Sumber : dokumen Pribadi)
2.4.2 Penerapan Kinesio Taping
1. Definisi Kinesio taping
Definisi kinesio taping diciptakan oleh kenzo Kase pada
tahun (1996), kinesio taping adalah pita khusus yang tipis, elastic,
dan dapat ditarik hingga 120% - 140% dari panjang aslinya sehingga
cukup dikatakan elastis dibanding dengan taping yang konvensional.
42
Hal ini memungkinkan pergerakan yang maksimal dari otot
dan sendi, adanya tarikan pada kulit oleh pita perekat (taping)
bertujuan untuk meningkatkan ruang antara kulit dan otot, sehingga
mengurangi tekanan lokal dan membantu meningkatkan sirkulasi dan
drainase limfatik, akibat dari proses tersebut dapat mengurangi nyeri,
mengurangi oedema, dan mengurangi spasme otot.
Kinesio taping adalah teknik yang didasarkan pada proses
alami penyembuhan tubuh secara sendiri, proses dari teknik ini
mengfasilitasi system saraf dan peredaran darah. Metode ini pada
dasarnya berasal dari ilmu “Kinesiologi”, maka dari itu dinanamakan
“kinesio”. Otot tidak hanya sebagai penyokong dan penggerak tubuh,
tetapi juga mengontrol peredaran darah vena dan aliran getah bening,
suhu tubuh, dan lain-lain. Oleh karena itu, kegagalan system fungsi
musculoskeletal dapat menyebabkan berbagai macam gejala (Kase,
2003).
Kinesio taping dikembangkan oleh Dr. Kenzo Kase pada
tahun 1970-an. Pada awal penggunaannya Kinesiotaping banyak
digunakan untuk dunia olahraga. Kinesiotaping dibuat menyerupai
kulit, ketebalannya menyerupai epidermis kulit manusia dan dapat
diregangkan
hingga
140%
dari
panjang
normal
sebelum
diaplikasikan ke kulit, sehingga memberikan ketegangan yang kuat
saat diaplikasikan pada kulit (Prientice, 2011; Thelen, 2008).
43
Kinesio taping terdiri dari polimer elastis yang dibungkus
serat katun 100%. Serat katun memungkinkan untuk terjadinya
penguapan kelembapan tubuh dan cepat kering. Tidak terdapat lateks
di dalam kinesio taping, perekat ini 100% acrylic dan pengaktif
panas.
Tegangan
mempengaruhi
atau
uluran
keberhasilan
pada
yang
kinseio
taping
diharapkan.
akan
Dalam
pengaplikasian, jika tehnik yang diperlukan adalah 25%, Namun
pengukuran persentase penguluran tersebut sangatlah deskriptif dan
tergantung dari kemampuan feeling dan pengalaman.
2.
Tujuan dan manfaat Kinesio taping
Kinesio Taping dapat di aplikasikan berdasarkan letak dan
tujuannya antara lain sebagai berikut :
a. Mechanichal correction
Hal yang harus diperhatikan pada koreksi mekanik
ini adalah posisi jaringan harus dalam keadaan bebas, dan
bukan membuat jaringan atau sendi berada dalam posisi
terfiksasi. taping diaplikasikan untuk memberikan stimulus
pada mechanoreseptor pada jaringan atau sendi. Teknik ini
dapat digunakan untuk membantu posisi dari otot, fascia,
atau sendi untuk menstimulasi mechanoreseptor sehingga
akan membantu tubuh beradaptasi dengan stimulus
tersebut.
44
b. Fascia correction
Fascia correction ini diaplikasikan untuk membuat
fascia pada posisi yang benar, dan menjaga fascia untuk
tidak kembali ke posisi yang tidak diinginkan. Teknik ini
dimaksudkan untuk mengurai keterbatasan fascia secara
perlahan melalui gerakan kulit dan kemampuan elastisitas
dari taping itu sendiri.
c. Space correction
Space corection ini diaplikasikan untuk membuat
ruang lebih langsung di area nyeri, inflamasi, atau oedem.
Ruang yang meningkat akan menurunkan tekanan dengan
cara mengkerutkan kulit pada area cidera. Hasil dari
penurunan tekanan akan menurunkan tingkat iritasi receptor
kimia dan akan menurunkan nyeri.
d. Ligamen/ tendon correction
Ligamen/ tendon correction ini diaplikasikan untuk
membuat peningkatan pada daerah ligamen atau tendon
yang
dihasilkan
dari
peningkatan
stimulasi
mechanoreceptor. Stimulus ini dipercaya akan dirasakan
sebagai
propioceptive
stimulation
yang
akan
diinterpretasikan oleh otak sebagai tegangan jaringan yang
normal.
45
e. Functional correction
Functional correction digunakan ketika membantu
keterbatasan
gerak
melalui
stimulasi
sensoris.
Kinesiotaping diaplikasikan dengan tanpa tarikan selama
gerak aktif. Tegangan yang muncul dipercaya akan
memberikan stimulasi pada mechanoreceptor. Persepsi
stimulasi dipercaya diinterpretasikan sebagai stimulasi
propioceptif yang bertindak sebagai penanda pada posisi
akhir gerakan.
f. Lymphatic correction
Lymphatic corection digunakan untuk membantu
mengurangi bengkak dengan cara mengarahkan cairan
menuju nodus lympatik yang lebih longgar.
3.
Pedoman Penerapan kinesio taping
Hal yang perlu dipahami pada aplikasi penerapan Kinesio
taping pada cedera ligamen kolateral medial sendi lutut adalah
derajad dari penguluran pada area target yaitu 75 % , hal ini
dimaksudkan agar ligamen tersupport dan membantu ligamen
sebagai stabilisasi tetap pada fungsinya.
46
Tabel 2.1 Tarikan kineosiotape (Kemampuan Uluran Kinesiotape)
Tarikan Kinesiotape
Persentase
Penuh
= 100%
Berat
= 75%
Sedang
= 50%
Ringan (ketika kertas dilepas)
= 15-25%
Sangat ringan
= 0-15%
Tidak diulur
= 0%
(Sumber : Kase et al., 2003)
Pemasangan Kinesio taping diawali dengan mengukur
lembar
taping mulai 2 inci dibawah origo atau 2 inci diatas
insersio otot. Pemasangan diharuskan menyesuaikan bentuk
anatomis tubuh manusia. Dasar pemasangan taping selalu diawali
dan diakhiri
tanpa adanya tegangan dari taping. Hal ini
dimaksudkan untuk meminimalisir rasa kurang nyaman dari
aplikasi taping (Kase et al., 2003).
Penerapan Kinesio taping memiliki 4 fungsi utama yaitu:
1. Supporting muscle
Penerapan
Kinesio
Taping
dapat
meningkatkan
kemampuan otot yang lemah, mengurangi nyeri dan rasa lelah,
dan menjaga otot dari keadaan kram, ketegangan dan kontraksi
yang berlebihan.
47
2. Melancarkan sistem sirkulasi
Penerapan Kinesio Taping dapat meningkatkan sirkulasi
darah dan sistem limfatik, juga mengurangi pembengkakan yang
terjadi pada jaringan.
3. Mengaktifkan sistem analgesik endogen
Penerapan Kinesio taping dapat memfasilitasi tubuh
untuk melakukan Self healing dan memproduksi zat analgesik
sehingga dapat mengurangi nyeri.
4. Memperbaiki masalah persendian.
Tujuan
dari
penerapan
Kinesio
taping
adalah
memperbaiki Range of motion dan menyesuaikan posisi sendi
yang salah yang dihasilkan dari otot yang tegang.
5. Standar operasional prosedur pemasangan Kenesio Taping
Hal yang harus selalu diperhatikan pada pemasangan
Kinesio taping adalah posisi dari bagian tubuh yang akan
ditaping diusahakan berada pada posisi yang lebih pendek ,
untuk mencegah tarikan pada bagian yang cedera sehingga
proses penyembuhan dapat berlangsung dengan lebih baik.
Pemasangan Kinesio taping yang beulang–ulang dapat
menyebabkan kulit penderita mengalami iritasi.
Sebelum melakukan pemasangan Kinesio taping, perlu
diperhatikan beberapa hal dibawah ini , yaitu :
a) Asess, tape, re asses
48
b) Tape untuk nyeri dan karena nyeri
c) Bersihkan dan keringkan sebelum penggunaan
d) Potong ujung setiap penggunaan
e) Lakukan tanpa tarikan pada jangkar dan ekor
f) Jangkar pada kulit diusahakan pada posisi netral
g) Rambut dan bulu sebaiknya dibersihkan
h) Edukasi ke pasien memudahkan penggunaan
i) Tarikan yang sesuai diaplikasikan antara jangkar dan akhir
disebut zona terapi
j) Zona terapi adalah tempat dimana diaplikasikan tarikan
pada target jaringan
k) Sendi harus mampu bergerak dengan ROM penuh setelah
aplikasi
l) Setelah pemasangan gosok yang kuat untuk melengketkan
m) Jangan pasang saat aktifitas, pasang 30 menit sebelum
aktifitas
a) Persiapan penderita.
Setelah dipastikan kulit penderita bersih dan telah
dikeringkan, kemudian atur posisi lutut fleksi 200 dengan
memeberi support dibawah tumit. Penderita diberitahu
bahwa manfaat pemasangan Kinesio taping pada kondisi
cederanya, bila ada keluhan nyeri atau kesemutan beritahu
terapist.
49
b) Persiapan alat
(1)
Peralatan
yang akan digunakan harus sudah
disiapkan terlebih dahulu agar saat pelaksanaan
tidak ada yang tertinggal.
(2)
Pilih jenis tape yang hendak dipasang yaitu
memiliki karakterristik
elastis, adhesive, sangat
kuat dan terbuat dari bahan Zinc-oxida,
(3)
Dan juga pilih tape yang memiliki karakteristik
elastis, non adhesive, teridiri atas berbagai kerebalan
dan ukuran (5cm, 7,5cm dan 10cm)
c) Pemasangan
(1)
Setelah dipastikan Posisi Lutut fleksi (20 degree),
kemudian terapist mendorong sedikit tungkai yang
mengalami cedera kearah adduksi tungkai bawah
atau searah varus agar ligamen dapat terfiksir
dengan sempurna
(2)
Pasang ankor
5-8 cm dibawah lutut terfiksasi
ligamen medial dari epicondilus lateralis menuju
bidang atas lutut medial.
(3)
Kemudian pasang pita Taping 5 cm diatas ankor
kemudian
pita
taping
diatas
ligamen
yang
mengalami cedera atau daerah zona target sekitar 75
50
% menuju atau searah dengan otot pes anserinus,
taping atau pita rekat dipasang
(4)
Pasang ankor penutup pada ankor proksimal tanpa
tarikan.
(5)
Dianjurkan pemasangan selama 6 sampai 8 minggu
dan disertakan latihan stabilisasi, dengan durasinya
3 kali perminggu.
(6)
Setelah selesai pariksa bagian distal
(7)
Bila ada keluhan perlu diperiksa kembali.
Gambar 2.7 : Penerapan Kinesio taping pada ligamen Kolateral medial sendi
lutut. (Sumber : Dokumen pribadi)
5. Mekanisme pengurangan nyeri pada penerapan Kinesio taping
Nyeri
yang
disebabkan
oleh
peregangan
jaringan
(pembebanan jaringan saat ekstensi maupun fleksi) atau propokasi
aktivitas yang menyebabkan timbulnya sensitilisasi nosiceptor
afferen dapat diatasi dengan adanya fiksasi atau stabilisasi pasif
pada ligamen ini, sehingga memungkinkan untuk diberikan latihan
51
stabilisasi sendi atau penguatan otot-otot stabilisator yang
mengalami cedera serta dapat dicapai stimulasi proprioseptif
berupa reflek stumlasi langsung dan proses belajar (learning
proses). Adanya fiksasi pada ligamen (stabilisasi pasif) dapat
terjadi pemblokiran nyeri pada tingkatan sensorik level dan adanya
pumping action dari otot-otot disekitar, meningkatkan system
aliran darah capiler, meningkatkan proses metabolisme dan
membantu proses absorbsi zat-zat iritan dan terjadi relaksasi otototot yang mengalami spasme dan kekakuan dapat diatasi.
2.4.3 Intervensi Latihan Stabilisasi
1. Pengertian.
Cedera
ligamen
kolataral
media
sendi
lutut
sering
menimbulkan rasa sakit serta ketidak mampuan untuk mencapai
fungsinya. Nyeri dan ketidak mampuan akan bertambah dengan
munculnya kelemahan dan atropi otot. Sedangkan otot-otot ini
adalah merupakan komponen yang penting dalam membantu
menstabilisir persendian, sementara kelemahan otot-otot seperti pes
anserium dapat mengakibatkan semakin parahnya cidera. Sebaliknya
dengan latihan stabilisasi akan terjadi penguatan otot-otot sehingga
dapat mengurangi atropi otot dan membantu melindungi serta
perbaiki problem yg muncul akibat instabilitas atau nyeri yang
diakibatkan oleh kelemahan.
52
Penurunan protein yang rata-rata tinggi di sekililing lutut
yang mengalami cedera dapat mengganggu stabilitas. Akan tetapi
akibat dari latihan stabilitasi, maka otot-otot stabilisator aktif pada
sendi lutut dapat memperbaiki kekuatan, ukuran, daya kenyal, serta
mencegah peradangan. Berkurangnya nyeri akan menimbulkan
peningkatan
kemampuan
menyangga
beban
tubuh
sehingga
meningkatkan kemampuan fungsional.
Sebagai akibat pengaruh latihan stabilisai maka setelah
latihan akan meningkatkan peredaran darah pada persendian dan
nutrisi tulang disamping karena memperbaiki kekuatan dan fungsi
jaringan (tissue) sekililing persendian. Dengan demikian akan
mengurangi resiko terluka atau cidera kronik pada persendian.
Latihan stabilisasi juga memperbaiki sistem peredaran darah tepi dan
getah bening oleh adanya pumping sehingga mengatasi terjadinya
pembengkakan yang dapat mengganggu gerak dan fungsi sendi.
2. Jenis Latihan stabilisasi.
Latihan stabilisasi sebagai salah satu modalitas fisioterapi,
dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan otot yaitu dengan
memberikan latihan strengthening. Karena dengan memberikan
latihan strengthening maka akan terjadi penambahan jumlah
sarkomer dan serabut otot (filamen aktin dan miosin yang diperlukan
dalam kontraksi otot), sehingga dengan terbentuknya serabut-serabut
53
otot yang baru maka kekuatan otot dapat meningkat dan
memperoleh stabilisasi aktif daripada sendi tersebut.
Dalam memberikan latihan strengthening banyak teknik
latihan yang dapat dilakukan, antara lain dengan teknik latihan
isometrik, isokinetik dan isotonik (Kisner, 2007).
Latihan isometrik adalah suatu jenis latihan statik kontraksi
yaitu kontraksi muskular melawan tahanan tanpa ada perubahan
panjang otot atau tidak diikuti oleh adanya gerakan sendi. Latihan
isokinetik adalah suatu jenis latihan dinamik dimana kecepatan otot
untuk memendek dan memanjang terjadi secara konstan. Latihan
isotonik adalah suatu jenis latihan dinamis dengan kontraksi otot
yang menggunakan resisten/beban yang tetap dan terjadi perubahan
panjang otot pada lingkup gerak sendi.
Latihan isotonik sebagai latihan penguatan otot yang paling
sering digunakan pada latihan dinamik mempunyai beberapa
metode, antara lain;
De Lorme, Oxford,DAPRE, Circuit Weight
Training, dan Plyometric Training. Metode-metode ini merupakan
metode isotonic resistance exercise yang pendekatannya dilakukan
dengan meningkatkan kekuatan otot pada seluruh lingkup gerak
sendi yang ada, sehingga aktifitas fungsional dari sendi tersebut.
3. Tujuan Latihan stabilisasi.
Tujuan umum program latihan stabilisasi adalah untuk
mencapai gerak dan fungsi yang bebas gejala atau suatu
54
symptom. Melalui proses pemikiran klinis , seoramg fisioterapis
harus menentukan jenis terapi latihan yang dapat digunakan
untuk mencapai hasil fungsional yang terukur.
Latihan isotonic adalah suatu jenis latihan dinamis dengan
kontraksi otot yang menggunakan resisten/beban tetap dan terjadi
perubahan panjang otot pada lingkup gerak sendi. Latihan isotonic
dapat diberikan dalam bentuk latihan dengan tetap dan berubahubah, eksentrik dan konsentrik (American Geriatric Society, 2001).
Latihan dengan teknik isotonik ini merupakan suatu teknik
latihan yang paling sering dilakukan untuk meningkatkan kekuatan
otot. Latihan ini adalah latihan dinamik yang dilakukan dengan
prinsip resisten/beban yang konstan dan terjadi perubahan panjang
otot. Pada latihan isotonik dapat diberikan dengan beban atau sering
disebut dengan ‘heavy resistance exercise’, yaitu
metode yang
paling berguna untuk latihan penguatan otot. Karena latihan ini
merupakan
latihan
meningkatkan
yang
tekanan
dinamik
maka
intramuskuler
latihan
dan
ini
dapat
menyebabkan
meningkatnya aliran darah, sehingga latihan ini tidak cepat
menimbulkan kelelahan Pada latihan ini dilakukan dengan
memberikan beban dari beban rendah ke tinggi.
Tujuan
terapi
latihan
termasuk
untuk
mencegah
dysfungsi melalui pengembanmgan , perbaikan , pengembalian ,
atau peliharaan :
55
a.
Strength
b.
Endurance and cardiopulmonal fitness
c.
Mobility and flexibility
d.
Stability
e.
Relaxation
f.
Coordination , balance , and functional skill.
(Kisner dan Colby, 1996)
Salah satu tujuan terapi latihan yang dikemukakan diatas
adalah Strength atau kekuatan otot. Kekuatan adalah kemampuan
otot atau group otot untuk menghasilkan tegangan/tention dan
menghasilkan gaya saat upaya maksimal , baik secara statik atau
dinamik.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kekuatan otot normal
antara lain:
1) Ukuran
cross – sectional
otot – diameter
terbesar,
kekuatan terbesar.
2) Length – tention yang berhubungan terhadap suatu otot
pada waktu kontraksi – suatu otot menghasilkan tention
terbesar ketika
sedikit
memanjang
pada
waktu
kontraksi.
3) Rekruitmen motor unit - jumlah dan sinkronisasi dari
motor unit terdepolarisasi lebih banyak , output gayanya
lebih besar.
56
4) Distribusi tipe serabut – karakteristik tipe serabut otot
mempengaruhi jumlah properti kontraktil otot seperti
kekuatan,
endurance,
power,
kecepatan/speed,
dan
resistensi terhadap kelelahan.
5) Simpanan
energi
membutuhkan
dan
suplay
sumber energi
darah
yang
- suatu
cukup
otot
untuk
berkontraksi, menimbulkan tegangan / tension, dan tahan
lama.
6) Kecepatan kontraksi.
7) Motivasi pasien – pasien sebaiknya memiliki motivasi
untuk melakukan upaya maksimal untuk menimbulkan
kekuatan maksimal
4. Pedoman latihan stabilisasi
Pedoman latihan untuk meningkatkan kekuatan otot adalah
sebagai berikut :
1) Prinsip pembebanan atau overload.
Untuk meningkatkan kekuatan,
suatu beban harus
digunakan melebihi kapasitas metabolik otot selama latihan. Hal
ini akan menimbulkan hipertropi dan rekruitmen motor unit
dan kemudian akan meningkatkan kekuatan otot.
2) Kapasitas otot untuk menghasilkan tegangan yang lebih besar
dapat dicapai dengan intensitas latihan
yang tinggi, latihan
57
dilakukan
melawan
beban,
dengan
jumlah
pengulangan
minimal.
3) Variasi jenis dan struktur
program latihan, didesain untuk
meningkatkan kekuatan.
Pemilihan metoda dan tehnik latihan disarankan “untuk
menggunakan penguatan pada Vastus medialis sebagai pendekatan
awal”
untuk penanganan nyeri akibat cidera ligament collateral
medial.
Latihan
penguatan
untuk
m.vastus
medialis
dapat
menggunakan teknik dan metoda , berupa :
1)
Quadriceps setting in n pain – free position.
Posisi pasien dalam posisi lutut bebas rasa nyeri
saat melakukan gerakan latihan dengan beban minimal atau
nondestructive loading.
2)
Short – arch terminal extention.
Dimulai dengan knee fleksi sekitar 20º. Jika dapat
ditoleransi dan gerakan tidak menimbulkan nyeri, beban
ringan dapat ditempatkan dipergelangan kaki. Penguatan
dalam terminal extension untuk melatih fungsi otot dengan
efisien karena pada posisi tersebut kompressi patellar
minimal lebih besar pada trochlea femoris.
5. Standar operasional prosedur latihan stabilisasi.
58
Berdasarkan metoda dan tehnik latihan stabilisasi, disusun
standar operasional prosedur dalam program latihan stbilisasi
sebagai berikut :
a) Posisi pasien : berbaring lurus terlentang dengan lutut
disanggah pada posisi 20º fleksi.
b) Arah dan gerakan : Pasien meluruskan lutut dengan
gerakan ritmis dalam pola diagonal kemudian ditambah
dengan Straight leg raising.
c) Pembebanan
: Pemberian
kondisi nyeri
beban disesuaikan
dengan
pasien. Pemberian beban berdasarkan
prosentase berat
tubuh
dan lokasi grup otot, untuk
universal leg extension menggunakan 10% berat badan.
d) Pengulangan
:
Metoda
Delorme
menggunakan
10
Repetisi maksimal.
e) Durasi
latihan
: Program
Latihan
dilakukan
3
kali
perminggu selama kurang lebih 4 minggu.
f)
Perhatian : Hindari posisi penguncian sendi dan gerakan
dihentikan bila timbul rasa nyeri.
Latihan penguatan dilakukan dalam pengawasan fisioterapis
untuk mengobservasi ketepatan arah gerakan dan tujuan latihan yang
diharapkan.
59
6. Mekanisme pengurangan nyeri pada Latihan Stabilisasi.
Intervensi latihan stabilisi atau pengutan otot-otot stabilitor
dapat mengurangi atropi otot dan membantu melindungi serta
memperbaiki problem yang muncul akibat instabilitas atau nyeri
yang diakibatkan oleh kelemahan. Sebagai mamfaat dari latihan
penguatan otot maka setelah latihan akan merangsang serabut
afferen tipe Ia dan II yang berdiameter besar (Proprioseptor),
sehingga aktivitas dari serabut afferen tersebut dapat menurunkan
spasme otot disamping memperbaiki sistem pendarahan darah
tepidan getah bening oleh adanya pumping action sehingga
mengatasi terjadinya pembengkakan, penurunan spasme otot dan
mampu mengurangi nyeri pada level sensorik yang dapat
mengganggu gerakan dan fungsi sendi.
Dengan demikian akan memperbaiki kekuatan dan fungsi
jaringan (tissue) sekeliling persendian berikut akan mengurangi
resiko cidera kronik pada persendian.
2.4.4 Pengukuran nyeri
Visual Analog Scale (VAS) adalah suatu cara pengukuran nyeri.
Dikatakan bahwa VAS merupakan sistim pengukuran nyeri yang valid
dan lebih sensitif dibanding metode-metode lain. VAS terdiri dari
sebuah garis lurus yang horisontal sepanjang 10 cm yang tidak diberi
pembagian skala (gbr 4). Awal garis menunjukkan tidak adanya rasa
60
nyeri, sedang ujung garis menunjukkan nyeri yang tidak tertahankan.
Pasien diminta
menunjukkan lokasi nyeri pada garis tersebut,
kemudian diukur dan dinyatakan dalam millimeter.
0
100 mm
Tidak nyeri
nyeri tak tertahankan
Gambar 2.8 : Skala VAS. ( APTA 1995).
Skor tersebut dicatat untuk melihat kemajuan pengobatan
selanjutnya Pasien diminta menunjukkan intensitas nilai rasa nyerinya
pada garis tersebut, kemudian diukur dan dinyatakan dalam
millimeter.
Konsep ini dalam VAS dan dapat dipahami bahwa:
1. Objek yang diukur adalah manusia tergantung intensitas nyeri
pada masing-masing individu.
2. Alat ukur yang digunakan berupa garis lurus horizontal dengan
panjang 100 mm.
3. Satuan ukur yang ditetapkan dalam cm atau millimeter.
Prosedur pelaksanaan pengukuran nyeri adalah :
1. Peneliti membuat garis sepanjang 10 cm.
61
2. Pada ujung kiri diberi skala 0 mm “tidak ada nyeri ” dan pada
ujung kanan diberi skala 100 mm “nyeri tak tertahankan”.
3. Sampel diberikan penjelasan untuk memberikan tanda titik di
sepanjang garis tersebut sesuai dengan tingkat nyeri yang
dirasakan.
4. Setelah pasien memberikan tanda titik pada garis tersebut,
kemudian dilakukan pengukuran dari ujung kiri garis hingga
tanda titik yang diberikan pasien. Panjang ukuran tersebut,
yang dinyatakan dalam millimeter itulah yang menjadi nilai
yang menunjukkan derajat nyeri yang dirasakan pasien.
5. Nilai tersebut kemudian dicatat sebagai nilai nyeri pasien
sebelum intervensi.
6. Setelah intervensi, pasien kembal diminta untuk memberikan
tanda pada garis tersebut.
7. Kemudian kembali dilakukan pengukuran untuk mendapatkan
nilai yang menunjukkan derajat nyeri dan dicatat sebagai nilai
nyeri setelah intervensi.
Download