Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan

advertisement
Volume 1, Nomor 2
Agustus 2012
ISSN: 2089-7790
DEPIK
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
(Journal of Aquatic, Coastal and Fishery Sciences)
DEPIK
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
(Journal of Aquatic, Coastal and Fishery Sciences)
ISSN: 2089-7790
Penerbit
: Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala
Penanggung Jawab
: Prof. Dr. Adlim, M.Sc (Ketua Pelaksana Koordinatorat Kelautan dan Perikanan)
Ketua Dewan Editor
: Dr. Muchlisin Z. A., S.Pi, M.Sc
(Manajemen SDP dan Budidaya Perairan)
Editor Pelaksana
: Ichsan Setiawan, M.Si (Oseanografi)
Sekretaris Editor
: Drs. Muhammad, M.Si (Hydrodinamika)
Anggota Dewan Editor :
Prof. Dr. Adlim, M.Sc
(Kimia Lingkungan)
Prof. Dr. Syamsul Rizal
(Fisika Perairan)
Dr. Musri Musman, M.Sc (Kimia Perairan)
Dr. M. Ali Sarong, M.Si
(Ekologi Perairan)
Dr. Indra, M.Si
(Manejemen Pesisir & Kelautan)
Dr. Edi Rudi, M.Si
(Biologi Laut)
Dr. Abrar Muslim, M.Eng (Kimia Lingkungan)
Farok Afero, Ph.D
(Biometrik dan Sosial Ekonomi Perikanan)
Teknisi IT/Web Master
Sirkulasi dan Dokumentasi
: Achmad Muhadjier
: Muhammad Saumi, A.Md
Ikan Depik, Rasbora tawarensis
Alamat Redaksi:
Koordinatorat Kelautan dan Perikanan - Universitas Syiah Kuala
Kopelma Darussalam – Banda Aceh 23111, Provinsi Aceh , Indonesia.
Email : [email protected] Website : depikjurnal.unsyiah.ac.id
Kontak Redaksi : +62-(0)852-6091-2084
DEPIK
JURNAL ILMU-ILMU PERAIRAN, PESISIR DAN PERIKANAN
VOLUME 1, NOMOR 2, AGUSTUS 2012
ISSN : 2089-7790
DAFTAR ISI
1.
2.
3.
4.
5.
Aplikasi model hidrologi HBV di DAS Peusangan Aceh sebagai studi
pengantar pengembangan konsep ekohidrologi berkelanjutan…………………………
Yopi Ilhamsyah, Syahrizal Koem, Andi Syahid Muttaqin
86 - 92
Komunitas fitoplankton di perairan Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh
Tengah, Provinsi Aceh………………………………………………………………………………………………………………………
Nurfadillah, Ario Damar, Enan M. Adiwilaga
93 - 98
Selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak etil asetat(EtOAc) biji
putat air (Barringtonia racemosa)terhadap keong mas (Pomacea
canaliculata) dan ikan lele lokal (Clarias batrachus)…………………………………
Musri Musman , Sofia , Viqqi Kurnianda
Karakter bilateral simetri ikan betutu (Oxyeleotris sp.): Kajian
keragaman morfologi sebagai dasar pengembangan budidaya……………………………
Muh. Nadjmi Abulias dan Dian Bhagawati
Analisis subsidi bahan bakar minyak (BBM) solar bagi nelayan di
Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh…………………………………………………………………………………
Zainal A.Muchlisin, Nur Fadli, Arifsyah M. Nasution, Rika Astuti,
Marzuki, Darmawi Musni
6.
Keragaman ikan karang di perairan Pulau Makian Provinsi Maluku
Utara…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Najamuddin Samar Ishak Adityawan Ahmad
7.
Uji selektivitas fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji putat air
Barringtonia racemosa) terhadap ikan mujair (Oreochromis
mossambicus)………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Musri Musman, Sofia, Adli Waliul Perdana
8.
Keragaman jenis dan persen penutupan tumbuhan air di ekosistem
Danau Laut Tawar, Takengon, Provinsi Aceh…………………………………………………………………
Irma Dewiyanti
99 - 102
103 – 106
107 - 113
104 - 120
121 - 124
125 - 130
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Aplikasi model hidrologi HBV di DAS Peusangan Aceh sebagai studi pengantar
pengembangan konsep ekohidrologi berkelanjutan
Application of HBV hydrological model in Peusangan Watershed Aceh as a
preface study to the development of sustainable ecohydrological concept
Yopi Ilhamsyah1*, Syahrizal Koem2, Andi Syahid Muttaqin3
1Jurusan
Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 23111; 2Jurusan
Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Gorontalo 21752; 3Dept. Geofisika dan Meteorologi, Fakultas MIPA Institut
Pertanian Bogor; 3. *Email korespodensi: [email protected]
Abstract. A study of HBV hydrological model in Peusangan watershed Aceh as a preface study to the development of sustainable
ecohydrological concept was done. The objective of the study was to apply and to test the HBV subtropical model into a tropical region Peusangan
watershed. Peusangan watershed, situated in northern Aceh, covers an area of 2268.39 km2 and 128 km in length. The HBV model was
manually calibrated by trial adjustment of each parameter to obtain the appropriate physical characteristics of Peusangan watershed. The result
showed that the model was nearly consistent with the observation data. In fact, the correlation and error bias of the model were 0.623 and 0.11,
respectively. However, the weakness of the model reported in the study is due to the coverage of the weather station data which locate far in the
downstream of Peusangan watershed. In the meantime, both of model result and observation showed a good agreement to catch the peakflow of
Peusangan watershed. The two peakflow arise on May and October which were 212 m 3dt-1 and 250 m3dt-1, respectively.
Keywords: HBV Hydrological model, Peusangan watershed, peakflow
Abstrak. Telah dilakukan studi mengenai aplikasi model hidrologi HBV di DAS Peusangan sebagai studi pengantar untuk
pengembangan konsep ekohidrologi berkelanjutan. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengaplikasikan dan menguji model
subtropis HBV ke daerah tropis DAS Peusangan Aceh. DAS Peusangan berlokasi di Aceh bagian utara memiliki luas
2268,39 km2 dan panjang 128 km. Model HBV dikalibrasi secara manual melalui ujicoba penyesuaian parameter untuk
mendapatkan kondisi fisik yang sesuai dengan DAS Peusangan. Hasil studi menunjukkan bahwa model hampir sesuai
dengan data observasi dengan nilai korelasi 0,623 dan bias error 0,11. Akan tetapi, kelemahan model pada studi ini
dikarenakan oleh cakupan data stasiun cuaca yang berlokasi di hilir DAS Peusangan. Kedua hasil model dan observasi
menunjukkan kesesuaian dalam menggambarkan debit puncak DAS Peusangan. Debit puncak tersebut terjadi pada Mei dan
Oktober yang masing-masing bernilai 212 m3dt-1 dan 250 m3dt-1.
Kata kunci: Model hidrologi HBV, DAS Peusangan, debit puncak
Pendahuluan
Singh (1995) mengartikan model hidrologi sebagai tiruan proses hidrologi untuk keperluan analisis tentang
keberadaan air menurut aspek jumlah, waktu, tempat, probabilitas dan runtutan waktu (time series). Sistem hidrologi yang
umum dikaji adalah Daerah Aliran Sungai (DAS). Model yang akan dikaji pada studi ini adalah model Hydrologiska Byråns
Vattenbalansavdelning (HBV). Model HBV merupakan model hujan-limpasan (rainfall-runoff) yang memasukan konsep
numerik dari proses-proses hidrologi pada skala DAS. Model HBV dikembangkan oleh Institusi Meteorologi dan Hidrologi
Swedia dan penggunaannya banyak diterapkan di daerah subtropis dengan bentuk presipitasi berupa salju dan beberapa
parameter DAS lainnya yang memiliki banyak kesesuaian. Beberapa aplikasi model HBV untuk mengkaji berbagai kondisi
hidrologi DAS di subtropis antara lain seperti yang dilakukan oleh Kobold et al. (2006) dan Grillakis et al. (2010) masingmasing untuk mengkaji banjir bandang serta peramalannya pada DAS di Slovenia serta te Linde et al. (2007), Normand et al.
(2010) dan Jia et al. (2012) masing-masing mengkaji performa model HBV pada DAS Rhine di Eropa, DAS di Nepal dan
DAS Liao di China.
Untuk aplikasi di daerah tropis maka model HBV memerlukan penyesuaian parameter yang sesuai dengan kondisi
daerah tropis. Beberapa model HBV telah diaplikasikan di daerah tropis namun peneliti belum menjumpai aplikasi model
HBV untuk DAS di Indonesia. Oleh karenanya, peneliti mencoba mengadaptasikan model HBV untuk kondisi DAS
Peusangan, Aceh. Model HBV juga dapat diaplikasikan untuk mendukung manajemen DAS seperti studi yang dilakukan
oleh Götzinger dan Bárdossy (2005) di mana mereka menggunakan model HBV untuk mendukung pengelolaan DAS
Neckar di Eropa tengah. Dengan demikian diharapkan aplikasi model HBV di DAS Peusangan ini nantinya dapat menjadi
suatu studi pengantar untuk pengembangan konsep ekohidrologi di sekitar DAS Peusangan, Aceh.
Berdasarkan WWF-Indonesia (2011), DAS Peusangan termasuk dalam kategori kritis 1 nasional yang harus segera
diselamatkan dari kerusakan. Hal ini diakibatkan oleh rusaknya ekosistem akibat degradasi lahan hutan di daerah hulu DLT.
Isu utama lainnya dilaporkan bahwa di daerah hulu Danau Laut Tawar (DLT) mengalami pendangkalan akibat sedimentasi
dan erosi tanah yang berdampak terhadap pengurangan debit air DLT. Selain itu, konversi lahan tanpa rencana tata ruang
86
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
yang baik di sepanjang DAS Peusangan juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang berdampak terhadap kelangsungan
hidup beragam etnik masyarakat (Gayo dan Aceh) yang mendiami wilayah hulu, tengah dan hilir DAS Peusangan.
Mengingat pentingnya keberadaan DAS Peusangan sebagai water resources bagi masyarakat Gayo dan Aceh, water intake
bagi perusahaan-perusahaan besar berskala nasional dan internasional yang beroperasi di Aceh Utara serta sebagai water
energy penyuplai kebutuhan tenaga listrik untuk kabupaten/kota melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Peusangan
maka kerusakan ekosistem hidrologi DAS Peusangan harus sesegera mungkin direstorasi. Upaya yang dapat dilakukan
antara lain menyusun konsep tata ruang yang mengedepankan integrasi ekosistem-hidrologi berkelanjutan, konservasi
daerah kawasan hutan di hulu DLT serta konservasi kawasan tangkapan air di bagian tengah dan hilir DAS Peusangan dan
melakukan kajian pemodelan hidrologi secara intensif untuk menyusun prototipe DAS serta faktor-faktor fisik yang
berperan pada DAS Peusangan. Konsep pemodelan ini bermanfaat sebagai suatu tinjauan sintesis untuk mendukung
perencanaan manajemen DAS berkelanjutan, di samping kemampuan model untuk melakukan simulasi prediksi yang tentu
saja didasari oleh pendekatan-pendekatan matematika serta asumsi-asumsi fisik. Dengan demikian diharapkan melalui
aplikasi model Hidrologi HBV ini konsep pembangungan ekohidrologi berkelanjutan dapat terwujud dengan baik di DAS
Peusangan Aceh.
Tujuan dalam studi ini adalah mengaplikasikan model HBV pada DAS Peusangan Aceh berdasarkan data
hidrometeorologi yang dibutuhkan seperti curah hujan harian, suhu udara harian dan evapotranspirasi potensial bulanan.
Keluaran debit air pada model selanjutnya dibandingkan dengan data debit air observasi. Tingkat keberhasilan model
ditentukan oleh koefisien korelasi dan bias error model. Keluaran debit air ini nantinya bermanfaat untuk memprediksi
terjadinya banjir serta dapat pula digunakan untuk potensi pengembangan PLTA yang tentu saja sifatnya sebagai pengantar
perencanaan awal pengembangan konsep ekohidrologi berkelanjutan di DAS Peusangan.
Bahan dan Metode
Model HBV dipilih terutama karena pendekatan konseptual di mana proses hidrologi mengalami penyederhanaan
dalam fungsi aljabar sehingga dapat dengan mudah dikomputasikan menggunakan Spreadsheet. Berdasarkan Aghakouchak
dan Habib (2010), model HBV mengasumsikan daerah kajian DAS sebagai satu zona tunggal di mana parameter tidak
mengalami perubahan secara spasial di seluruh DAS. Model HBV terdiri dari empat parameter utama: (a) curah hujan
kumulatif, (a) kelembaban tanah, (c) evapotranspirasi, serta (d) limpasan permukaan.
Gambar 1. Diagram alir model HBV yang diaplikasikan pada DAS Peusangan, CH = curah hujan(mm),
ETp = Evaporasi potensial(mm)dan Q = debit air (m 3 dt-1).
Diagram alir model HBV ditunjukkan pada Gambar 1. Model HBV dijalankan dalam langkah waktu harian. Input
data yang dibutuhkan meliputi deret waktu observasi curah hujan dan suhu harian serta laju evapotranspirasi potensial
bulanan. Hasil utama dari model HBV adalah debit air pada outlet DAS yang terdiri dari tiga rutin, yaitu: limpasan
permukaan, interflow (kontribusi dari limpasan permukaan) dan baseflow (kontribusi dari aliran dasar). Ketiga rutin ini masingmasing memiliki parameter utama seperti ditunjukkan pada tabel 1. Aghakouchak dan Habib (2010) selanjutnya menjelaskan
bahwa curah hujan diproses dalam rutin kelembaban tanah di mana curah hujan efektif memberikan kontribusi terhadap
87
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
limpasan permukaan. Bagian sisa curah hujan memberikan kontribusi untuk kelembaban tanah yang dengan sendirinya akan
menguap selama ada kadar air yang cukup di bawah permukaan. Kalibrasi parameter model HBV pada studi ini dilakukan
secara manual di antara nilai minimum dan maksimum pada tabel 1 yang bertujuan untuk mendapatkan karakteristik fisik
yang sesuai dengan DAS Peusangan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Uhlenbrook et al. (1998) pada empat DAS dengan
skala berbeda di Jerman dan Berglöv et al. (2009) untuk DAS Rhine di Jerman.
Data curah hujan dan suhu udara harian pada tahun 1991 sebagai input model diperoleh dari stasiun BMKG Kelas
III Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe yang berlokasi di hilir DAS Peusangan. Pemilihan tahun 1991 didasari sematamata oleh karena ketersediaan data. Karena studi ini sifatnya hanya ingin menguji model HBV untuk daerah tropis maka
pemilihan tahun 1991 tidak memiliki implikasi berarti untuk kondisi hidrologi lainnya.
Tabel 1. Parameter model HBV.
No.
Parameter
Satuan
1.
2.
3.
4.
Koefisien bentuk kelembaban tanah (Beta)
Koefisien resesi reservoir atas 1 (K1)
Koefisien resesi reservoir atas 2 (K2)
Perkolasi (PERC)
Hari-1
Hari-1
mm hari-1
Minimum
1
0,001
0,001
0,001
Nilai
Maksimum
7
0,7
0,3
0,7
Parameter model HBV pada Tabel 1 didasarkan pada studi yang dilakukan Lindström (1997). Koefisien korelasi
ditulis dalam bentuk
Di mana O adalah nilai debit air observasi (m3 dt-1) dan P adalah nilai debit air simulasi (m 3 dt-1). Koefisien korelasi
ini juga digunakan dalam studi yang dilakukan oleh Grillakis et al. (2010) untuk menghitung kriteria efisiensi model HBV,
namun pers. (1) pada Grillakis et al. (2010) ditulis dalam bentuk persamaan kuadrat.
Hasil dan Pembahasan
Kondisi geografis
Peusangan adalah nama daerah tangkapan air terpenting di Aceh. DAS Peusangan melintasi empat kabupaten yakni
kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireun dan Aceh Utara sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2. Secara geografis
DAS Peusangan terletak pada 4,51-5,28 LU dan 96,45–97,05 BT. DAS Peusangan memiliki panjang ± 128 km. Hulu
utamanya berada di DLT yang berada di dataran tinggi Gayo di kota Takengon. Selain itu ada 107 sungai yang terdiri dari
sub DAS yang berasal dari hutan-hutan di sekitar Bukit Barisan yang turut mengalirkan airnya ke DAS Peusangan. DAS
Peusangan bermuara di Selat Malaka di Kabupaten Bireun. Bentang lahan yang menjadi daerah tangkapan air DAS
Peusangan mencapai luas 2268,39 km2 (WWF-Indonesia, 2011).
Analisa data iklim dan hidrologi
Data klimatologi (curah hujan harian, suhu udara harian
serta evaporasi potensial bulanan dan data hidrologi (debit air
harian) untuk tahun 1991 digunakan sebagai masukan (input)
untuk simulasi model HBV untuk DAS Peusangan Aceh.
Namun, data curah hujan harian untuk jangka waktu panjang
yang mencakup keseluruhan wilayah DAS Peusangan tidak
tersedia. Sehingga dalam studi ini digunakan data curah hujan
yang diperoleh dari stasiun BMKG Kelas III Lhokseumawe,
Bandara Malikussaleh demikian juga dengan data suhu udara
harian diperoleh dari stasiun yang sama. Stasiun ini berlokasi di
hilir DAS Peusangan. Untuk evaporasi potensial bulanan
diperoleh melalui perhitungan menggunakan rumusan
Thornthwaite. Gambar 3.a, 3.b dan 3.c menunjukkan curah
hujan harian (mm), suhu udara harian (°C) dan evaporasi
potensial bulanan (mm) di stasiun Meteorologi kelas III
Lhokseumawe, Bandara Malikussaleh. Suhu udara harian di hilir
DAS Peusangan pada tahun 1991 seperti ditunjukkan pada
gambar 3.b mencapai suhu tertinggi 27,1oC pada awal musim
kemarau di bulan Juni sementara suhu terendah 25,1oC terjadi
Gambar 2. Lokasi geografis DAS Peusangan
pada awal musim hujan pada bulan November dan Desember.
(Khasanah et al., 2010).
Untuk musim kemarau yang berlangsung antara Juni-Agustus,
88
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
suhu udara rata-rata berkisar 26,9oC. Pada pertengahan musim pancaroba di bulan April, hilir DAS Peusangan mengalami
curah hujan terendah 19 mm (gambar 3.a). Keadaan ini juga menunjukkan bahwa pada bulan ini hilir DAS Peusangan
mengalami kondisi kering dikarenakan suhu serta penguapan yang tinggi tidak diimbangi oleh ketersediaan air di permukaan.
Suhu udara bulanan rata-rata pada bulan April berkisar 26,9oC seperti ditunjukkan pada gambar 3.b dan besar penguapan
adalah sekitar 140 mm sebagaimana ditunjukkan pada gambar 3.c. Keadaan ini tentunya juga berpengaruh terhadap
berkurangnya debit air yang mengalir di DAS Peusangan. Gambar 4 menunjukkan penurunan debit air pada bulan April.
Kondisi kering ini juga terjadi pada awal musim kering di bulan Juni dengan curah hujan bulanan sebesar 49 mm dan
pada awal musim pancaroba di bulan September dengan jumlah curah hujan 37 mm (Gambar 3.a). Pada pertengahan musim
kering di bulan Juli, hilir DAS Peusangan menerima curah hujan rata-rata 97 mm. Besarnya curah hujan pada bulan Juli ini
dipengaruhi oleh besarnya penguapan pada bulan Juni yang mendorong terbentuknya awan konvektif dan terjadi hujan
dengan intensitas sedang hingga tinggi di bulan Juli. Pada awal musim hujan di bulan Oktober hilir DAS Peusangan
menerima curah hujan yang banyak sebesar 195 mm kemudian meningkat pada bulan November dengan curah hujan ratarata 206 mm. Rata-rata curah hujan pada musim hujan adalah 177 mm (Gambar 3.a). Secara keseluruhan curah hujan
tahunan di hilir DAS Peusangan pada tahun 1991 sebesar 1271 mm. Gambar 3.a juga menunjukkan curah hujan harian di
DAS Peusangan dengan dua puncak musim hujan yang terjadi pada bulan Mei dan Oktober yang sekaligus menggambarkan
pola iklim ekuatorial yang merupakan ciri khas tipe iklim di daerah Khatulistiwa (Boer dan Subbiah, 2005).
Gambar 3. a) Curah hujan harian (mm); b) Suhu udara harian ( ºC); dan c) Evaporasi potensial bulanan (mm)
di hilir DAS Peusangan, Aceh pada tahun 1991.
89
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Kalibrasi model HBV
Kalibrasi parameter model HBV diperlukan untuk memenuhi persyaratan optimisasi sebuah model DAS. Dalam hal
ini memenuhi kriteria efisiensi model. Kriteria efisiensi ini salah satunya dapat dihitung menggunakan koefisien korelasi
pada persamaan (1). Kalibrasi model curah hujan-limpasan HBV dilakukan secara manual menggunakan penyesuaian uji
coba terhadap parameter model untuk mendapatkan hasil yang cocok antara deret waktu observasi dan model. Kalibrasi
parameter model HBV ditunjukkan pada tabel 2. Hasil kalibrasi menyajikan parameter beta dan perkolasi berpengaruh
terhadap simulasi model HBV. Hal ini juga sesuai dengan nilai kalibrasi maksimum antara dua parameter ini seperti
ditunjukkan pada tabel 2. Kondisi ini mengindikasikan bahwa debit air DAS Peusangan dipengaruhi oleh faktor kelembaban
tanah dan aliran dasar dan sekaligus menunjukkan bahwa kondisi DAS Peusangan pada tahun 1991 masih dalam kondisi
baik.
Tabel 2. Kalibrasi parameter model HBV.
Nilai
No.
Parameter
Satuan
Kalibrasi
Minimum
Maksimum
1.
Beta
1
7
6
-1
2.
K1
Hari
0,001
0,7
0,7
3.
K2
Hari-1
0,001
0,3
0,001
4.
PERC
mm hari-1
0,001
0,7
0,7
Simulasi model HBV
Hasil model HBV DAS Peusangan untuk debit air (m3dt-1) di DAS Peusangan tahun 1991 ditunjukkan pada gambar
4. Hasil simulasi telah menunjukkan pola fluktuasi yang hampir sesuai dengan data observasi. Debit puncak limpasan terjadi
pada Mei dengan debit air 212 m3dt-1 dan Oktober mencapai 250 m3dt-1. Debit puncak ini juga berkaitan dengan curah
hujan tinggi pada bulan Mei (173 mm) dan Oktober (195 mm) seperti ditunjukkan pada gambar 3.a. Debit puncak pada Mei
dapat disimulasi dengan baik, namun untuk debit puncak pada Oktober model menunjukkan simulasi yang kurang baik.
Koefisien korelasi DAS Peusangan bernilai 0,623 dengan bias 0,1131. Mengacu pada nilai korelasi ini maka model
HBV DAS Peusangan dapat dikatakan baik. Kekurangan model ini hanya menggunakan data satu tahun. Bergström (1995)
mengatakan untuk kalibrasi model HBV menggunakan data harian 10 tahun. Demikian juga dengan Hägström et al. (1990)
mengatakan bahwa sangat diharapkan untuk menyimpan beberapa tahun data untuk periode uji independen. Tes semacam
ini akan menunjukkan apakah model tersebut juga valid di luar dari periode kalibrasi. Hägström et al. (1990) juga
mengatakan bahwa untuk mendapatkan hasil model yang baik dibutuhkan biasanya data observasi debit air > 2 tahun.
Untuk kasus DAS Peusangan, simulasi model hanya berlangsung selama 1 tahun. Peneliti berasumsi bahwa hasil simulasi
model HBV DAS Peusangan masih dalam tahap menuju kestabilan model sehingga diperleh pola yang tidak begitu sesuai
dengan data observasi dan untuk mencapai hasil yang mampu menyajikan interpretasi yang representatif sesuai dengan debit
air DAS Peusangan sesungguhnya maka diperlukan waktu simulasi lebih dari dua tahun dengan pengujian kestabilan model
pada tahun pertama. Ini juga sesuai dengan Primožič et al. (2008) yang menyatakan bahwa kinerja model yang kurang juga
dapat disebabkan oleh kekurangan data.
Gambar 4. Simulasi model HBV untuk debit air (m3dt-1) di DAS Peusangan, Aceh pada tahun 1991 dengan korelasi 0,623.
90
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Sebagai informasi tambahan, stasiun BMKG Bandara Malikussaleh juga berlokasi jauh dari hilir DAS Peusangan,
sehingga mempengaruhi keakurasian hasil model HBV DAS Peusangan. Untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan
beberapa stasiun observasi yang berdekatan dengan lokasi DAS. Stasiun penakar curah hujan dengan jumlah yang banyak
bermanfaat untuk menaksir curah hujan wilayah. Sementara jumlah stasiun yang sedikit berdampak terhadap penyimpangan
nilai limpasan dari nilai observasi.
Kaitan model HBV dengan water resources dan ekohidrologi
Dari hasil model diperoleh bahwa potensi debit air DAS Peusangan dalam satu tahun sebesar 26581,2 m 3 dt-1.
Jumlah ini berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai sumber listrik tenaga air. Studi ini menggunakan data hidrometeorologi
tahun 1990 yang sekaligus merepresentasikan kondisi kawasan daerah tangkapan air yang masih terjaga dengan baik. Tentu
saja, kondisi ini sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini di DAS Peusangan. Hasil model dengan data tahun
1990 menunjukkan debit air dalam jumlah besar. Kondisi ini seyogyanya harus terus dipertahankan pada saat ini dan pada
akhirnya ini menjadi alasan kuat untuk mengembangkan konsep ekohidrologi berkelanjutan di DAS Peusangan sekaligus
rekomendasi bagi pengembangan PLTA Peusangan.
Selanjutnya, keluaran debit air dari model HBV dapat digunakan untuk memahami hubungan antara proses hidrologi
dan ekologi pada skala DAS sehingga perbaikan kualitas air, peningkatan biodiversiti dan pembangungan berkelanjutan
dapat diwujudkan. Selain itu, kaitan hasil model dan ekohidrologi juga bermanfaat untuk menurunkan potensi banjir yang
terjadi di sepanjang DAS Peusangan. Melihat hasil simulasi model HBV bahwa debit puncak DAS terjadi pada Mei dan
Oktober yang masing-masing bernilai 212 m3dt-1 dan 250 m3dt-1. Artinya pada bulan Mei dan Oktober perlu diwaspadai
terjadinya banjir dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Untuk menanggulangi resiko banjir di DAS Peusangan perlu
adanya pengelolaan melalui Green Cover di sekitar DAS Peusangan. Hal ini dilakukan, karena pada saat terjadi debit puncak
dengan curah hujan yang tinggi peran dari vegetasi yang dapat memperbesar ukuran pori-pori tanah akan mempermudah
terajdinya infiltrasi. Pengelolaan lahan disekitar DAS Peusangan terutama sawah, perlu menyesuaikan masa tanam pada saat
terjadi intensitas curah hujan yang tinggi. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan air sawah pada disekitar DAS Peusangan.
Upaya ini sangat efektif untuk mengurangi limpasan permukaan.
Kesimpulan
Simulasi model HBV untuk debit air di DAS Peusangan tahun 1991 telah menunjukkan pola fluktuasi yang hampir
sesuai dengan data observasi. Koefisien korelasi dari model ini adalah 0,623 dengan bias model 0,1131. Kelemahan dari
model ini adalah menggunakan satu stasiun penakar hujan yaitu stasiun BMKG Bandara Malikussaleh yang berada jauh dari
hilir DAS Peusangan sehingga mempengaruhi keakuratan hasil simulasi. Oleh karenanya untuk mendapatkan hasil model
yang baik disarankan menggunakan data curah hujan wilayah dengan stasiun penakar hujan yang lebih rapat di sekitar DAS
Peusangan. Selain itu, panjang data atau interval waktu memiliki pengaruh terhadap keakuratan hasil simulasi. Hal ini
disebabkan karena model melakukan penyesuaian pada rentan waktu awal simulasi. Sehingga, apabila kajian serupa akan
dilakukan, perlu diperhatikan simulasi dalam jangka waktu yang panjang (data masukan lebih dari 2 tahun dan didukung data
observasi lain yang lengkap). Keluaran debit air model HBV DAS Peusangan terkait water energy berpotensi untuk
pengembangan PLTA. Kaitannya dengan konsep ekohidrologi sangat bermanfaat untuk diterapkan di DAS Peusangan
karena dapat meningkatkan kualitas siklus air, peningkatan biodiversiti selain juga dapat meminimalisir potensi terjadinya
banjir di bantaran DAS Peusangan.
Ucapan terima kasih
Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Hidayat Pawitan atas masukan, saran dan
koreksi yang bermanfaat menuju kesempurnaan studi ini. Demikian juga kepada reviewer dan editor jurnal Depik. Lisa
Tanika atas pemberian data Hidrometeorologi DAS Peusangan Aceh. Penghargaan penulis berikan kepada DIKTI melalui
beasiswa BPPS dan Beasiswa Unggulan untuk kelangsungan studi dan publikasi ini.
Daftar Pustaka
Aghakouchak, A., E. Habib. 2010. Application of a conceptual hydrologic model in teaching hydrologic processes.
International Journal of Engineering Education, 26(4): 963-973.
Berglöv, G., J. German, H. Gustavsson, U. Harbman, B. Johansson. 2009. Improvement HBV model Rhine in FEWS.
Final report SMHI Hydrology 112, Koblenz, Germany.
Boer, R., A. R. Subbiah. 2005. Agriculture drought in Indonesia. Monitoring and predicting agricultural drought, halaman
330-344 dalam V. S. Boken, A. P. Cracknell, R. L. Heathcote (Ed), A global study. Oxford University Press, UK.
Götzinger, J., A. Bárdossy. 2005. Integration and calibration of a conceptual rainfall-runoff model in the framework of a
decision support system for river basin management. Advances in Geosciences, 5: 31–35.
Grillakis, M. G., I. K. Tsanis, A. G. Koutroulis. 2010. Application of the HBV hydrological model in a flash flood case in
Slovenia. Natural Hazards and Earth System Sciences, 10: 2713–2725.
Häggstöm, M. 1990. Application of the HBV model for flood forecasting in six Central American Rivers. Working paper
SMHI Hydrology 27, Norrköping, Sweden.
91
Depik, 1(2): 86-92
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Jia, Q. Y., F. H. Sun. 2012. Modeling and forecasting process using the HBV model in Liao river delta. Procedia
Environmental Sciences, 13: 122 – 128.
Khasanah, K., E. Mulyoutami, A. Ekadinata, T. Asmawan, L. Tanika, Z. Said, M. van Noordwijk, B. Leimona. 2010. Kaji
cepat hidrologi di daerah aliran sungai Krueng Peusangan, NAD, Sumatra. Working paper 122 World Agroforestry
Centre, Bogor, Indonesia.
Kobold, M., M. Brilly. 2006. The Use of HBV model for flash flood forecasting. Natural Hazards and Earth System
Sciences, 6: 407–417.
Lindström, G., B. Johansson, M. Persson, M. Gardelin, S. Bergström. 1997. Development and test of the distributed HBV96 hydrological model. Journal of Hydrology, 201: 272-288.
Normand, S., M. Konz, J. Merz. 2010. An application of the HBV model to the Tamor Basin in Eastern Nepal. Journal of
Hydrology and Meteorology, 7(1): 49-58.
Primožič, M., M. Kobold, M. Brilly. 2008. The implementation of the HBV model on the Sava River Basin, dalam
Proceeding of XXIVth Conference of the Danubian Countries on the Hydrological Forecasting and Hydrological Bases
of Water Management. Slovenia 2-4 June 2008.
Singh, V. P. 1995. Computer models of watershed hydrology. Water Resources Publications, USA.
te Linde, A. H., J. C. J. H. Aerts, R. T. W. L. Hurkmans, M. Eberle. 2007. Comparing model performance of two rainfallrunoff models in the Rhine basin using different atmospheric forcing data sets. Hydrology and Earth System Science
Discussion, 4: 4325–4360.
Uhlenbrook, S., J. Holocher, C. Leibundgut, J. Seibert. 1998. Using a conceptual rainfall-runoff model on different scales by
comparing a headwater with larger basins, halaman 297-305 dalam Proceedings of the HeadWater'98 Conference.
Merano, Italy April 1998.
WWF-Indonesia. 2011. Aceh insight. Laporan 1(3), Banda Aceh.
92
Depik, 1(2): 93-98
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Komunitas fitoplankton di perairan Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah,
Provinsi Aceh
Community of phytoplankton in Lake Laut Tawar, Aceh Tengah, Aceh Province
Nurfadillah1*, Ario Damar2, Enan M. Adiwilaga2
1Jurusan
Budidaya Perairan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda aceh 23111; 2Jurusan
Manajemen Sumberdaya Perikanan, FPIK Institut Pertanian Bogor, Bogor; *Email korespodensi: [email protected]
Abstract. The aims of the present study was to evaluate community structure and biomass of phytoplankton based on the depth stratification in
the waters of Lake Laut Tawar. Sampling was conducted during March and April 2010. The results showed that 43 species of phytoplankton
belonging to five classes were found in Lake Laut tawar. The most common class was Chlorophyceae with 20 genera, followed by
Bacillariophyceae (diatoms) by 9 genera, Cyanophyceae (10 genera), Dinophyceae (2 genera), and Euglenophyceae (2 genera). The highest species
composition was found at II with 15 m depth (24 genera), while the highest abundance of phytoplankton was occured at station with 10 depth
(155600 cells/l), while the lowest abundance was obtained at 15 depth (12745 cells/l). Overall the phytoplankton population in Lake Laut
Tawar was dominated by Bacillarophyceae. In addition, the diversity index of phytoplankton was in moderate level (2.34), while the evenness
index was ranged from 0.43 to 0.87, indicate the distribution of the individuals of each species was varied, however there was no predominant
species detected..
Keywords: Phytoplankton, structure community, Laut Tawar Lake.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dinamika struktur komunitas dan biomassa fitoplankton berdasarkan
stratifikasi kedalaman di Perairan Danau Laut Tawar. Sampling dilakukan pada empat stasiun dengan masing-masing empat
kedalaman, yaitu 0,2 m, 3 m, 10 m, dan 15 m. Pengambilan sampling air dilakukan sebanyak 4 kali dengan interval waktu 14
hari, yaitu selama bulan Maret sampai April 2010. Fitoplankton yang tersaring diamati dibawah mikroskop cahaya. Hasil
penelitian mendapati sebanyak 43 jenis fitoplankton yang terbagi kedalam lima kelas, dimana klas yang paling dominan
adalah kelas Chlorophyceae (20 genera), diikuti oleh Bacillariophyceae (diatom) sebanyak 9 genera, Cyanophyceae sebanyak
10 genera, kelas Dinophyceae (dinoflagellata) dan Euglenophyceae, masing-masing 2 genera. Komposisi jenis fitoplankton
tertinggi terdapat pada stasiun II dengan kedalaman 15 m yaitu sebanyak 24 genera. Kelimpahan fitoplankton tertinggi
diperoleh pada stasiun I dengan kedalaman 10 m (38900 sel/l), sedangkan kelimpahan terendah diperoleh pada stasiun III
di kedalaman 15 m (3355 sel/l). Kelimpahan fitoplankton secara keseluruhan di dominasi oleh kelas Bacillarophyceae. Selain
itu, nilai indeks keanekaragaman fitoplankton menunjukkan keanekaragaman yang relatif sedang 2,34. Nilai indeks
keseragaman jenisnya bervariasi dan relatif sedang berkisar antara 0,43 - 0,87, ini menunjukkan bahwa penyebaran jumlah
individu tiap jenis juga bervariasi namun tidak ada jenis yang mendominansi.
Kata kunci : Fitoplankton, struktur komunitas, Danau Laut Tawar
Pendahuluan
Danau Laut Tawar terletak di Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah pada ketinggian 1.250 m di atas permukaan
laut. Danau ini memiliki luas 5.472 ha dan kedalaman rata-rata 51,13 meter. Aliran air permukaan atau sungai yang menuju
ke danau Laut Tawar berjumlah 25 buah yang berasal dari 18 daerah hulu/kawasan tangkap dengan debit air bervariasi dari
11 sampai 2.554 liter per detik (Bappeda Aceh Tengah, 2004).
Saat ini Danau Laut Tawar telah dimanfaatkan antara lain sebagai lokasi penangkapan, budidaya karamba jaring apung
dan pariwisata. Kegiatan-kegiatan tersebut telah mengindikasikan terjadinya degradasi sumberdaya, peningkatan unsur hara
yang dapat meningkatkan kesuburan perairan, serta terjadinya penurunan kualitas sumberdaya perairan. Beban masukan dari
kegiatan-kegiatan domestik, karamba jaring apung, kegiatan pertanian baik langsung maupun tidak langsung akan
berpengaruh terhadap keberadaan organisme perairan khususnya plankton sebagai organisme yang peka terhadap
perubahan kualitas air. Beban masukan yang nyata biasanya akan membawa partikel tersuspensi, nutrien serta bahan organik
terlarut yang akan mendukung terjadinya eutrofikasi.
Perubahan yang terjadi pada ekosistem danau saat ini sangat cepat akibat pengaruh dari kegiatan-kegiatan tersebut,
akibatnya danau mengalami penurunan fungsi dan perubahan status perairan. Keberadaan unsur hara di Danau Laut Tawar
akan berpengaruh terhadap peningkatan biomassa fitoplankton dan kesuburan danau. Pada perairan danau yang dalam
seperti Danau Laut Tawar kemungkinan terjadi pengadukan sampai dasar perairan sangat kecil sehingga adanya perbedaan
keberadaan unsur hara serta perbedaan suhu yang mencolok antara lapisan dasar dan lapisan permukaan sehingga diduga
adanya hubungan komponen biotik (struktur komunitas fitoplankton) dan abiotik (ketersediaan unsur hara) yang berbeda
pada setiap stratifikasi kedalaman perairan danau. Sulawesty (2007) mengungkapkan bahwa kelimpahan fitoplankton tinggi
pada lapisan permukaaan dan menurun sesuai dengan semakin bertambahnya kedalaman dan semakin menurunnya daya
tembus cahaya matahari. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dinamika
93
Depik, 1(2): 93-98
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
struktur komunitas dan biomassa fitoplankton berdasarkan stratifikasi kedalaman di Perairan Danau Laut Tawar.
Bahan dan Metode
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2010 berlokasi di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh
Tengah. Kegiatan penelitian dibagi dalam dua tahap, yaitu kegiatan di lapangan dan di laboratorium. Kegiatan di lapangan
meliputi pengambilan sampel air yang dilakukan sebanyak 4 kali sampling dengan selang waktu 14 hari Penentuan titik
sampling dilakukan secara horizontal dan vertikal. Secara horizontal terdiri dari 4 stasiun pengamatan. Stasiun I di daerah
One-one (096o51’55,4’’BT - 04036’29,0’’ LS) yang mewakili daerah karamba jaring apung (KJA). Stasiun II di daerah
Mampak (096o51’48,1’’BT - 04o38’12,2’’ LS) yang mewakili daerah pusat kota serta kawasan pemukiman. Stasiun III
merupakan daerah pertengahan danau (096o 56’03,8’’ BT - 04o36’47,4’’ LS). Stasiun IV di daerah Bewang (096o58’28,4’’ BT 04o35’37,1’’LS) yaitu daerah yang aktivitas penduduknya sedikit.
Penentuan pengambilan sampel didasarkan pada kedalaman perairan di tiap stasiun pengamatan dengan
mempertimbangkan pola umum stratifikasi suhu dan penetrasi cahaya pada lapisan perairan yaitu pada kedalaman 0,2 m, 3
m, 10 m, dan 15 m (Gambar 1).
Mampa
k
Kp. Kala
Klitu
ST 2
Outlet
One-one
ST 3
ST 1
ST 4
Bewang
INL
ET
Provinsi Aceh
Gambar 1. Peta Danau Laut Tawar yang menunjukkan lokasi pengambilan sampel
Pengambilan data
Pengambilan sampel air pada berbagai strata kedalaman (0,2 m, 3 m, 10 m, dan 15 m) dengan menggunakan
Vandorn water sampler volume 2 liter. Sampel air yang diambil sebanyak 20 liter, air tersebut kemudian disaring dengan
menggunakan jaring plankton ukuran mata jaring 40 µm. Contoh air yang tersaring (100 ml) dimasukkan dalam botol
koleksi yang berlabel kemudian diawetkan dengan lugol 2 % sebanyak 8 – 10 tetes, selanjutnya diamati di bawah mikroskop,
dan diidentifikasi dengan menggunakan buku petunjuk Prescott (1970), Belcher and Swale (1979), dan Mizuno (1979).
Selain itu juga diukur beberapa parameter kualitas air antara lain pH, oksigen terlarut, nitrat, nitrit, amonia, silika, orthofosfat
dan total fosfat; sedangkan parameter biologi berupa kelimpahan fitoplankton.
Perhitungan kelimpahan plankton dilakukan dengan menggunakan metode sapuan Sedgwick Rafter Counting Cell
dengan tiga kali ulangan. Rumus perhitungan kelimpahan plankton berdasarkan APHA (2005) yaitu sebagai berikut:
Dimana, N adalah kelimpahan plankton (sel/l), n jumlah plankton yang tercacah (sel), a luas gelas penutup (mm2), v volume
air terkonsentrasi (ml), A luas satu lapangan pandang (mm2), vc volume air dibawah gelas penutup (ml) dan V volume air
yang disaring (l).
Perhitungan indek biologi
Indeks keragaman
Indeks yang digunakan dalam mengetahui tingkat keragaman jenis yang ada dalam suatu komunitas yaitu
menggunakan indeks keanekaragaman (Odum 1971).
94
Depik, 1(2): 93-98
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
H
S
'
p i ln p i
i 1
Dimana, H’= iIndeks keanekaragaman jenis, pi= suatu fungsi peluang untuk masing-masing bagian secara keseluruhan
(ni/N), ni= Jumlah individu jenis ke-i, N= jumlah total individu. Kisaran nilai indeks keanekaragaman dapat
diklasifikasikan sebagai berikut (Legendre dan Legendre 1998):
H’ < 2,3
= keanekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah
2,3 H’ 6,9
= keanekaragaman sedang dan kestabilan komunitas sedang
H’ > 6,9
= keanekaragaman besar dan kestabilan komunitas tinggi
Indeks keseragaman
Indeks keseragaman ini digunakan untuk mengetahui berapa besar kesamaan penyebaran sejumlah individu setiap
marga pada tingkat komunitas. Indeks keseragaman (evenness index) berdasarkan persamaan (Odum 1971) :
H'
e
ln S
Dimana, e =
indeks keseragaman, H’= indeks keanekaragaman, S = jumlah jenis. Odum (1971) menyatakan indeks
keseragaman berkisar antara 0 – 1. Apabila nilai e mendekati 1 sebaran individu antar jenis merata. Nilai e mendekati 0
apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada sekelompok jenis tertentu yang dominan.
Indeks dominansi
Indeks dominansi diperoleh dengan menggunakan indeks Simpson (Odum 1971).
s
( ni / N ) 2
C
i 1
Dimana, C=
indeks dominansi Simpson, ni=
jumlah individu jenis ke-i, N= jumlah total individu. Nilai kisaran
dominansi antara 0 – 1. Jika nilai C mendekati 0 tidak ada jenis yang dominan, dan biasanya diikuti dengan nilai e yang besar.
Untuk nilai C yang mendekati 1 berarti terdapat jenis yang mendominansi dan nilai e semakin kecil (Odum 1971).
Hasil dan Pembahasan
Kondisi lingkungan
Nilai rata-rata kualitas air di semua stasiun pengamatan selama penelitian berfluktuatif. Pada umumnya kondisi
perairan danau Laut Tawar masih dalam kisaran optimum bagi pertumbuhan fitoplankton.
Tabel 1. Nilai kisaran rata-rata kualitas air pada setiap stasiun dan kedalaman selama penelitian
pada bulan Maret hingga April 2010.
Stasiun
Parameter
I
II
III
IV
Suhu oC
24,6 - 25,9
24,5 - 25,6
24,6 - 25,8
24,2 - 25,4
Kecerahan (cm)
320 - 500
360 - 630
390 - 650
475 - 645
Kedalaman (m)
19,36
18,80
75,55
55,20
pH
7,8 - 8,7
7,8 - 8,4
7,3 - 8,5
7,8 - 8,4
DO (mg/l)
3,09 - 6,54
4,06 - 6,48
4,98 - 6,43
4,75 - 6,38
Nitrat (mg/l)
0,045 - 0,279
0,246 - 0,393
0,028 - 0,342
0,008 - 0,283
Nitrit (mg/l)
0,002 - 0,003
0,0021 - 0,0023
0,0021- 0,005
0,0018 - 0,0024
Amonia (mg/l)
0,045 - 0,054
0,043 - 0,056
0,042 - 0,052
0,046 - 0,064
Orthofosfat (mg/l)
0,013 - 0,042
0,009 - 0,018
0,010 - 0,027
0,015 - 0,025
Total Fosfat (mg/l)
0,037 - 0,105
0,042 - 0,047
0,038 - 0,056
0,040 - 0,047
Silika (mg/l)
12,22 - 13,64
10,99 - 13,02
12,70 - 13,12
12,33 - 12,74
Klorofil-a (µg/l)
1,531 - 3,744
0,933 - 3,148
1,867 - 4,993
1,093 - 8,131
Ketengan: stasiun I= One one, stasiun II= Mampak, stasiun III= Tengah Danau , stasiun IV= Bewang
Secara umum terlihat bahwa unsur hara yang mempengaruhi kelimpahan fitoplankton adalah ortofosfat dan total
fosfat, nitrat dan amonia. Ortofosfat, nitrat dan amonia merupakan unsur hara yang dapat langsung dimanfaatkan oleh
fitoplankton. Sedangkan keeratan antara suhu dan pH merupakan komponen yang seiring meningkat satu sama lain, suhu
semakin menurun dengan bertambahnya kedalaman, sama halnya dengan kondisi pH dan DO.
95
Depik, 1(2): 93-98
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Struktur komunitas fitoplankton
Komposisi jenis
Komposisi fitoplankton yang ditemukan di perairan Danau Laut Tawar terdiri dari 43 jenis (genera), terdiri dari
lima kelas yaitu kelas Bacillariophyceae (diatom) sebanyak 9 genera, kelas Chlorophyceae sebanyak 20 genera, kelas
Cyanophyceae sebanyak 10 genera, kelas Dinophyceae (dinoflagellata) sebanyak 2 genera, dan Euglenophyceae sebanyak 2
genera. Komposisi fitoplankton yang ditemukan pada setiap kedalaman pengamatan menunjukkan kelas chlorophyceae yang
paling banyak jenisnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Siege (2005) disitasi oleh Prabandani (2007) bahwa perairan
tergenang yang eutrofik pada umumnya berlimpah fitoplankton dari kelas chlorophyceae. Komposisi kelas fitoplankton dari
hasil pengamatan pada 4 stasiun dan 4 kali pengamatan di perairan Danau Laut Tawar disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Jumlah genera fitoplankton berdasarkan kelas yang ditemukan pada seluruh stasiun
dan kedalaman pengamatan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada keempat stasiun dan keempat kedalaman terlihat jenis Nitzschia sp, Eunotia sp,
Cosmarium sp, Staurastrum sp, Spirulina sp, Anaebaena sp dan Peridinium sp keberadaannya selalu ada pada setiap pengamatan
dan merupakan penyusun utama komunitas fitoplankton di setiap lapisan kedalaman perairan.
Komposisi jenis fitoplankton tertinggi terdapat di stasiun II pada kedalaman 15 m yaitu sebanyak 24 genera. Hal
ini terkait dengan kondisi perairan dimana letak stasiun ini berada di sekitar pemukiman penduduk sehingga unsur hara yang
tersedia relatif tinggi sehingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan jenis fitoplankton.
Kelimpahan
Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan di perairan Danau Laut Tawar pada setiap stasiun pengamatan dan
kedalaman 0,2 m, 3 m, 10 m, dan 15 m memperlihatkan perbedaan yang bervariasi. Kelimpahan rata-rata fitoplankton di
perairan Danau Laut Tawar berkisar antara 3355 – 38900 sel/l, dengan kelimpahan fitoplankton yang didominasi oleh kelas
Bacillarophyceae yaitu berkisar antara 53,75 – 56,02 %. Kelimpahan rata-rata fitoplankton berdasarkan stasiun disajikan
pada gambar 3.
Gambar 3. Kelimpahan rata-rata fitoplankton berdasarkan stasiun pengamatan di perairan Danau Laut Tawar
Kelimpahan fitoplankton tertinggi diperoleh pada stasiun I kedalaman 10 m yaitu 38900 sel/l. Hal ini terkait
dengan kondisi perairan yang berada di kawasan karamba jaring apung dimana ketersediaan unsur hara tinggi khususnya
kadar nitrat yang mencapai 0,4 mg/l, sehingga pertumbuhan fitoplankton juga optimal. Dalam perkembangan fitoplankton
untuk tumbuh ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kekeruhan, proses fotosintesis serta ketersediaan
96
Depik, 1(2): 93-98
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
unsur hara yang cukup. Kelimpahan terendah diperoleh pada stasiun III di kedalaman 15 m yaitu sebesar 3355 sel/l, hal ini
diduga karena rendahnya unsur hara pada stasiun ini seperti kadar nitrat 0,0067 mg/l. Kelimpahan fitoplankton
menunjukkan perbedaan fluktuasi pada setiap waktu pengamatan yaitu selama 14 hari sekali. Hal ini sesuai dengan penelitian
Umar (2003) yang menyatakan bahwa fluktuasi kelimpahan fitoplankton berkaitan dengan siklus hidup dari fitoplankton di
perairan yaitu sekitar 15 – 21 hari. Goldman dan Horne (1983) menyatakan bahwa fitoplankton merespon perubahan fisika
dan kimia lingkungan secara fluktuasi populasi. Perubahan variasi fitoplankton di daerah tropis dapat terjadi karena adanya
pengaruh musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Kelimpahan fitoplankton berdasarkan kedalaman menunjukkan kelas Bacillariophyceae melimpah di setiap
kedalaman dan stasiun pengamatan. Kelimpahan tertinggi yaitu pada kedalaman 10 m. Hal ini terkait dengan intensitas
cahaya relatif berkurang pada kedalaman 10 m, dimana beberapa fitoplankton tidak menyukai cahaya matahari dan
menempati lapisan kedalaman ini, terutama dari kelas Bacillariophyceae dan Dinophyceae. Tingginya kelimpahan dari kelas
Bacillariophyceae diduga karena tingginya kadar silika, selain itu kelas Bacillariophyceae merupakan jenis diatom yang paling
toleran terhadap kondisi perairan seperti suhu dan mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan perairannya sehingga
dapat berkembang biak dengan cepat dan memanfaatkan kandungan nutrien dengan baik. Kemampuan reproduksi dari
diatom lebih besar dibandingkan dengan kelompok fitoplankton lainnya. Pada saat terjadi peningkatan konsentrasi zat hara,
diatom mampu melakukan pembelahan mitosis sebanyak tiga kali dalam 24 jam. Dinoflagellata hanya mampu melakukannya
satu kali dalam 24 jam pada kondisi zat hara yang sama (Praseno dan Sugestiningsih 2000).
Indek biologi
Rata-rata indeks keanekaragaman fitoplankton di stasiun I berkisar antara 1,66 – 1,99, pada stasiun II berkisar
antara 1,77 – 2,00. Indeks keanekaragaman di stasiun III dan IV masing-masing berkisar antara 1,70 – 1,99 dan 1,68 – 1,87.
Berdasarkan kriteria nilai indeks keanekaragaman dari Odum (1971) menunjukkan bahwa keanekaragaman dan kestabilan
komunitas fitoplankton di perairan Danau Laut Tawar tergolong sedang (moderat). Keanekaragaman fitoplankton antar
kedalaman juga menunjukkan hal yang sama bahwa keanekaragaman jenis fitoplankton di kedalaman permukaan, 3 m, 10 m,
dan 15 m memiliki keanekaragaman sedang. Hal ini terlihat dari komposisi genera fitoplankton yang relatif tinggi. Indeks
kemerataan secara keseluruhan di setiap stasiun pengamatan dan kedalaman berkisar antara 0,62 – 0,73. Basmi (2000)
menjelaskan bahwa nilai indeks kemerataan jenis berkisar antara 0-1. Berdasarkan nilai indeks tersebut terlihat bahwa
perairan Danau Laut Tawar memiliki kemerataan fitoplankton yang tinggi.
Kisaran indeks dominansi pada setiap stasiun dan kedalaman secara keseluruhan adalah 0,19 – 0,29. Berdasarkan
nilai tersebut terlihat bahwa indeks dominansi di perairan Danau Laut Tawar tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa
relatif tidak ada jenis plankton yang mendominansi perairan tersebut. Menurut Basmi (2000) nilai indeks dominansi
plankton berkisar antara 0 – 1, bila indeks dominansi mendekati 0, berarti di dalam struktur komunitas biota yang kita amati
tidak terdapat jenis yang secara menyolok mendominansi jenis lainnya.
Secara umum struktur komunitas fitoplankton di perairan Danau Laut Tawar menggambarkan kondisi yang relatif
stabil namun dapat berubah sewaktu-waktu dengan adanya perubahan kondisi lingkungan, hal ini dindikasikan dengan
indeks keanekaragaman fitoplankton yang tergolong sedang, indeks keseragaman yang relatif merata dan indeks dominansi
yang relatif rendah. Hal ini terlihat dari komposisi genera fitoplankton yang relatif tinggi pada setiap waktu pengamatan.
Adanya beberapa jenis fitoplankton yang keberadaannya selalu hadir di setiap kedalaman dan stasiun pengamatan pada
empat kali waktu pengamatan seperti jenis Nitzschia sp, Eunotia sp, Cosmarium sp, Staurastrum sp, Spirulina sp, Anaebaena sp
dan Peridinium sp. Sehingga tidak adanya perubahan yang nyata terhadap jenis fitoplankton yang muncul di empat kali
pengamatan. Beberapa faktor dapat menjadi pertimbangan untuk menjelaskan fenomena perkembangan komunitas
fitoplankton ini, antara lain faktor lingkungan, waktu sampling, keberadaan unsur hara yang relatif tidak berbeda antar waktu
pengamatan.
Kesimpulan
Komposisi fitoplankton yang ditemukan di perairan Danau Laut Tawar terdiri dari 43 jenis (genera) fitoplankton.
Kelimpahan fitoplankton tertinggi diperoleh pada stasiun I kedalaman 10 m yaitu 38900 sel/l. Kelimpahan terendah
diperoleh pada stasiun III di kedalaman 15 m yaitu sebesar 3355 sel/l. Kelimpahan fitoplankton secara keseluruhan di
dominasi oleh kelas Bacillarophyceae yaitu berkisar antara 53,75 – 56,02 % dengan jenis yang melimpah yaitu Nitzschia sp.
Secara umum struktur komunitas fitoplankton Danau Laut tawar menunjukkan keanekaragaman yang relatif sedang, dengan
nilai indeks keanekaragaman plankton tertinggi ditemukan di stasiun I kedalaman 15 meter (2,34). Nilai indeks keseragaman
jenisnya bervariasi dan relatif sedang berkisar antara 0,43 - 0,87, ini menunjukkan bahwa penyebaran jumlah individu tiap
jenis juga bervariasi namun tidak ada jenis yang mendominansi dan ini terlihat dari indeks dominansinya yang relatif rendah
yaitu berkisar antara 0,12 – 0,55. Beberapa jenis fitoplankton yang keberadaannya selalu hadir di setiap kedalaman dan
stasiun pengamatan pada empat kali waktu pengamatan sehingga tidak adanya perubahan yang nyata terhadap jenis
fitoplankton yang muncul di empat kali pengamatan.
Daftar Pustaka
American Public Health Association. 2005. Standard methods for the examination of water and wastewater, 21th edition.
Washington: APHA, AWWA (American Waters Works Association) and WPCF (Water Pollution Control
Federation). Hal 3 – 42.
Amalia, F.J. 2010. Pendugaan status kesuburan perairan Danau Lido, Bogor, Jawa Barat, melalui beberapa pendekatan
[skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Bogor : Institut Pertanian Bogor. 82 hal.
97
Depik, 1(2): 93-98
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Bappeda Kabupaten Aceh Tengah. 2004. Laut Tawar selayang pandang (karateristik Danau Laut Tawar). Brosur. Takengon.
9 hal.
Basmi, J.H. 2000. Planktonologi: Plankton sebagai bioindikator kualitas perairan. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan
IPB. Bogor. 59 hal.
Belcher, H., E. Swale. 1979. An Illustrated guide to river phytoplankton. London: Institute of Terrestrial Ecology,
Camridge. 64 p.
Bengen, D.G. 2000. Teknik pengambilan contoh dan analisa data biofisik sumberdaya pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya
Pesisir dan Lautan-IPB. Bogor. 88 hal.
Damar, A. 2003. Effects of enrichment on nutrien dynamics, phytoplankton dynamics and primary production in
Indonesian tropical waters : a comparison between Jakarta Bay, Lampung Bay and Semangka Bay. Forschung-und
Technologiezentrum Westkueste Publ. Ser No. 199: 196 p.
Kartamihardja, E.S., H. Satria, A.S. Sarnita. 1995. Limnologi dan potensi produksi ikan Danau Laut Tawar, Aceh Tengah.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 1(3): 11-25.
Mizuno, T. 1979. Illustration of the freshwater plankton of Japan. Hoikusha Publishing Co. Ltd., Osaka. 353 p.
Odum, E.P. 1971. Fundamentals of ecology. Third Ed. W.B. Saunders Company, Philadelphia. 574 p.
Prabandani, D. Diah, B.S. Setiani, A. Sabar. 2007. Komposisi plankton di perairan Waduk Saguling, Jawa Barat. Lingkungan
tropis edisi khusus Agustus 2007. IATPI. Bandung. Indonesia.
Prescott, G.W. 1970. How to know the freshwater algae. WMC Brown Company Publisher, IOWA. 384 p.
Sulawesty, F., Yustiawati. 1999. Distribusi vertikal fitoplankton di Danau Kerinci. Jurnal Limnotek, 6 (2): 13 – 21.
Sulawesty, F. 2007. Distribusi vertikal fitoplankton di Danau Singkarak. Jurnal Limnotek, 14 (1): 37 – 46.
Vollenweider, R.A., F. Giovanardi, G. Montanari, A. Rinaldi. 1998. Characterization of the trophic conditions of marine
coastal waters with special reference to the NW Adriatic Sea: Proposal for a trophic scale, turbidity and generalized
water quality index. Journal Environmetric, 9 (1): 329 – 357.
Wetzel, R.G., G.E. Liken. 1991. Limnological analyses, 2nd. Springer-Verlag, New York.
98
Depik, 1(2): 99-102
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Selektivitas fraksi Rf < 0,5 ekstrak etil asetat (EtOAc) biji putat air (Barringtonia
racemosa)terhadap keong mas (Pomacea canaliculata) dan ikan lele lokal
(Clarias batrachus)
The selectivity of fraction Rf < 0.5 of ethyl acetate extract (EtOAc) of putat air
kernel (Barringtonia racemosa) on golden apple snail (Pomacea canaliculata)
and local catfish (Clarias batrachus)
Musri Musman1* , Sofia2 , Viqqi Kurnianda1
Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 23111; Fakultas Kedokteran,
Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 23111. Email korespondensi: [email protected]
Abstract. Research to determine the selectivity of fraction Rf < 0.5 of ethyl acetate extract (EtOAc) of putat air kernel (Barringtonia racemosa)
on golden apple snail(Pomacea canaliculata) and local catfish (Clarias batrachus) was conducted in February 2012 at the Laboratory of
Chemistry of Teacher Training and Education Faculty and Laboratory of Marine Chemistry of Coordinatorate of Marine and Fisheries of Syiah
Kuala University. Thin-layer chromatography was used to separate components in the extract samples, and testing of biological activity based on
the procedures recommended by FAO. Golden apple snail and local catfish mortality data were analyzed using Probit program, and value of
selectivity (S) was processed according to the Wang and Feng’s formula.The values of LC50 of the fraction Rf < 0.5 were 29.26 ppm for P.
canaliculata and 44.47 ppm for C. batracus. The selectivity value for the tested organisms was 1.51. This study revealed that the tested extract
has bioactive property as molluscicide of P. canaliculata.
Key words: Biological activity, thin-layer chromatography, mortality, bioactive property, molluscicide, LC50.
Abstrak.Penelitian untuk mengetahui selektivitas fraksi Rf < 0,5 ekstrak EtOAc biji putat air (Barringtonia racemosa) terhadap
keong mas (Pomacea canaliculata) dan lele lokal (Clarias batrachus) telah dilakukan pada bulan Februari 2012 di Laboratorium
Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Laboratorium Kimia Laut Koordinatorat Kelautan dan Perikanan
Universitas Syiah Kuala. Kromatografi lapis tipis digunakan sebagai teknik pemisahan komponen senyawaan dalam ekstrak
cuplikan, dan pengujian keaktifan biologi didasarkan pada kaedah yang dianjurkan oleh FAO. Data mortalitas keong mas
dan lele lokal yang diperoleh karena pemberian fraksi Rf < 0,5 ekstrak EtOAc biji B. racemosa dianalisa dengan program
Probit, dan harga selektivitas (S) diolah berdasarkan formula Feng dan Wang. Harga LC50 fraksi Rf< 0,5 ekstrak EtOAc biji
B. racemosa terhadap P. canaliculata dan C.batracus masing-masing adalah 29,26 ppm dan 44,47 ppm. Nilai selektivitas fraksi
Rf< 0,5 ekstrak EtOAc biji B.racemosa terhadap organisme uji adalah 1.51. Penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi Rf < 0,5
ekstrak EtOAc biji putat air memiliki bioaktif sebagai moluskosida keong mas.
Kata kunci: Keaktifan biologi, kromatografi lapis tipis, mortalitas, bioaktif, moluskosida, LC 50.
Pendahuluan
Musman et al. (2012) melaporkan bahwa ekstrak EtOAc biji putat air menunjukkan selektivitas racun terhadap
keong mas (Pomacea canaliculata). Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan terhadap bahan alam ekstrak EtOAc yang
berpotensi sebagai moluskosida keong mas. Kajian ini berdasarkan dari fakta bahwa ekstrak EtOAc terdiri atas campuran
bahan alam yang memiliki sifat kutub dan tankutub. Campuran bahan alam tersebut dapat dipisah-pisahkan menjadi fraksi
kutub dan fraksi tankutub. Salah satu cara pemisahan dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis.
Pada pemisahan kromatografi lapis tipis, ekstrak EtOAc diaplikasikan pada fasa diam silika gel dan dibawa oleh
pelarut sebagai fasa gerak. Berdasarkan berat molekul, ekstrak EtOAc terpisah-pisah menjadi fraksi-fraksi oleh daya gerak
pelarut yang digunakan. Keterpisahan fraksi-fraksi dimaksud dihitung berdasarkan harga faktor retardasinya dalam rentang
0≤ Rf ≤ 1. Harga Rf rendah menunjukkan fraksi berafinitas besar atau fraksi kutub, dan sebaliknya harga Rf tinggi
menunjukkan fraksi berafinitas kecil atau fraksi tankutub. Dalam penelitian ini, fraksi-fraksi yang memiliki Rf<0,5
diakumulasi sebagai fraksi kutub dari ekstrak EtOAc.
Keong mas dan lele lokal merupakan biota air tawar yang dapat hidup bersama-sama dalam suatu ekosistim
misalnya di sawah. Oleh karena itu, perlu dikaji apakah pemberian fraksi R f < 0,5 dari ekstrak EtOAc B. racemosa terhadap
keong mas sebagai organisme sasaran memberikan pengaruh merugikan bagi lele lokal yang merupakan organisme bukan
sasaran dalam pengendalian hama padi di sawah.
Suripto (2009) menyatakan bahwa untuk menilai kualitas suatu pestisida bukan saja ditentukan oleh toksisitasnya
terhadap organisme sasaran, tetapi juga perbandingan toksisitas terhadap organisme lain yang bukan sasaran. Terkait
penelitian ini, fraksi-fraksi Rf <0,5 dari ekstrak EtOAc B. racemosa akan diuji selektivitas racunnya terhadap keong mas dan
lele lokal.
99
Depik, 1(2): 99-102
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Bahan dan Metode
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2012 di Laboratorium Kimia FKIP Universitas Syiah Kuala dan
Laboratorium Kimia Laut Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala.
Ekstraksi dan fraksinasi
Pemisahan komponen ber-Rf < 0,5 dari ekstrak sampel dilakukan sebagai berikut. Ekstrak EtOAc dari biji B.
racemosa sebanyak 1,89 g dihidrolisa dengan menggunakan prosedur Wang et al. (2011). Hasil hidrolisa dipisahkan atas
lapisan kloroform dan air. Lapisan kloroform dikeringkan dengan pengawa putar dan diperoleh residu sebanyak 0,5g
(dinyatakan sebagai A). Residu ini selanjutnya difraksinasi dengan kromatografi lapis tipis Si60 (Merck Kieselgel 60F 254, 20 x
20 cm)dengan pengembang diklorometana. Komponen ber-Rf < 0,5 dikerok dan diekstraksi dengan EtOAc, dan diperoleh
residu sebanyak 0,22g (dinyatakan sebagai B).
Organisme uji
Organisme yang digunakan untuk uji selektivitas ini adalah keong mas (Pomacea canaliculata) yang dikumpulkan dari
Desa Cot Irie, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, dan lele lokal (Clarias batrachus) yang dipasok dari
lokasi pembenihan ikan budidaya di daerah Bogor, Jawa Barat. Masing-masing jenis organisme yang dibutuhkan 180
individu dan sebagai cadangan organisme masing-masing 20 individu, sehingga masing-masing organisme dibutuhkan
sebanyak 200 individu.
Persiapan wadah uji
Wadah uji untuk penelitian ini adalah aquarium kaca berukuran 45cm x 30cm x 35cm sebanyak 36 unit. Ketinggian
air dari dasar wadah adalah 10 cm( Musman, 2010).
Proses pencampuran fraksi ber-Rf < 0,5 dalam wadah uji
Untuk pencampuran fraksi ber-Rf < 0,5 disiapkan aquarium kaca sebanyak 36 unit yang dikelompokkan atas 18
unit untuk keong mas dan 18 unit untuk lele lokal. Selanjutnya, larutan B dibuat dengan konsentrasi masing-masing 20, 40,
60, 80, dan 100 ppm. Kemudian, air diambil dari lokasi pengambilan keong mas, lalu dimasukkan ke dalam akuarium uji
setinggi 10 cm yang diukur dari dasar aquarium (volume air 13,5L), dan diisi 10 individu uji pada setiap aquarium.
organisme uji terlebih dahulu didiamkan (adaptasi) di dalam aquarium selama lebih kurang 30 menit tanpa diberi makanan,
selanjutnya dituangkan larutan B sebanyak 100 mL kedalam setiap aquarium sesuai dengan konsentrasinya.
Pengamatan kondisi dan mortalitas organisme uji
Pengujian keaktifan biologi dilakukan berdasarkan kaedah yang dianjurkan oleh FAO (Reish dan Oshida, 1987).
Pengamatan dilakukan setelah penuangan larutan ekstrak ke dalam aquarium yang berisi organisme uji. Pengamatan ini
dilakukan untuk mengetahui angka mortalitas setelah 48 jam pemberian ekstrak. Mortalitas keong mas ditandai dengan
keluarnya cairan melalui celah operculum atau kakunya pergerakan operculum bila ditekan ke arah dalam (Musman, 2004).
Ciri-ciri keracunan ikan dirujuk pada Rudiyanti dan Ekasari (2009)yang menyatakan bahwa ikan yang terkena racun
dapat diketahui dengan gerakan yang hiperaktif, lebih sering berada di permukaan, menggelepar, lumpuh sehingga
kemampuan ikan untuk beradaptasi semakin berkurang dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Analisa data
Data mortalitas keong mas dan lele lokal yang diperoleh karena pemberian fraksi R f < 0,5 ekstrak EtOAc biji B. racemosa
dianalisa dengan program Probit (Finney, 1971). Menurut Feng dan Wang (1984), harga LC50 yang diperoleh digunakan
untuk menghitung harga selektivitas (S) melalui formula:
S = LC50 lele lokal/LC50 keong mas
Dimana :
S = harga selektivitas, LC50 lele lokal sebagai organisme non sasaran, LC50 keong mas sebagai organisme sasaran.
Kesimpulan terhadap harga S adalah:
Jika S > 1 berarti ekstrak uji merupakan racun yang selektif terhadap keong mas, dan jika S
1 berarti ekstrak uji
merupakan racun yang tidak selektif terhadap keong mas.
Hasil dan Pembahasan
Data mortalitas keong mas dan lele lokal yang diberi perlakuan fraksi R f < 0,5 dari ekstrak EtOAc biji B. racemosa
dengan konsentrasi berbeda diolah ke dalam diagram batang(Gambar 1). Data mortalitas yang telah diperoleh, diproses dan
dianalisa dengan program Probit, untuk mendapatkan nilai LC 50 sebagaimana diungkapkan pada Tabel 1. Nilai selektivitas
fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak EtOAc biji putat air dihitung berdasarkan harga LC 50 masing-masing organisme uji. Nilai
selektivitas yang diperoleh adalah 1,51.
Teramati dalam uji ini bahwa keong mas memperlihatkan respon dengan menutup operculum-nya rerata lima menit
setelah dipajan larutan uji. Hal ini diperkirakan bahwa larutan uji tersebar keseluruh badan air uji dalam waktu kurang dari
lima menit. Ini mengindikasikan kelarutan larutan uji dengan air sangat besar. Keong mas mendeteksi adanya toksikan di
badan air tersebut, dan seketika menarik kakinya ke dalam cangkangnya melalui operculum untuk menghindari kontak dengan
toksikan. Keadaan diam keong mas dengan menutup operculum diduga sebagai upaya keong mas meminimalkan kontak
dengan toksikan. Namun, keinginan makan yang besar dari keong mas menjadi pemicu terbukanya operculum untuk mencari
makanan. Keaktifan keongmas bergerak untuk mencari makanan berakibat pada seringnya terjadi kontak kaki dengan bahan
moluskosida (Musman, 2009).
100
Depik, 1(2): 99-102
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Tabel 1. Nilai LC50 yang diperolehmasingmasing organisme uji
Organisme uji
LC50 [ppm]
Keong mas (P. canaliculata)
29,259
Lele lokal (C. batracus)
44,471
Gambar 1. Mortalitas keong mas dan lele lokal versus konsentrasi larutan
Dalam upaya menetralisir pengaruh racun uji, keong mas mengeluarkan cairan berupa lendir dari tubuhnya.
Diduga, lendir yang dikeluarkan oleh keong mas justru mengakumulasi toksikan di tubuhnya. Akibat terakumulasi toksikan
di tubuhnya, keong mas bergerak ke permukaan badan air untuk bernafas melalui siphon. Francis et al. (2002) menyatakan
bahwa terhambatnya proses pernafasan pada keong mas terjadi karena difusi oksigen melalui insang terhalang oleh lendir
tersebut. Namun, dalamnya badan air dalam wadah uji menghalangi keong mas menarik oksigen terus menerus, dan
memaksa keong mas tenggelam ke badan air berisi toksikan.
Produksi lendir dari tubuh keong mas dalam jumlah yang berlebihan diperkirakan menghambat proses
pernafasannya dan mengakibatkan kematian biota tersebut. Musman (2010) menyatakan bahwa pada biji putat air
terkandung senyawa saponin. Diduga, adanya senyawa kelompok glikosida tersebut dalam ekstrak biji putat air
menyebabkan kematian pada keong mas.
Pengamatan terhadap lele lokal menunjukkan lele lokal tetap bergerak aktif menuju tepi dan dasar wadah meskipun
larutan uji telah dipajan dalam kurun waktu 15 menit. Tanggapan lele lokal terhadap kehadiran toksikan di badan air uji
diperlihatkan dengan kegiatan yang tak normal seperti “berguling-guling (twisting), berputar-putar (whirling), gerakan lambat
(sluggishness), dan hilangnya kemampuan apung (loss of buoyancy) (Pierce et al., 1994).
Perubahan tingkah laku pada lele lokal diduga karena adanya pengaruh pemberian fraksi R f < 0,5 dari ekstrak
EtOAc biji putat air yang mengandung senyawa saponin. Perubahan tingkah laku dimaksud tidak teramati pada kontrol.
Saponin merupakan racun bagi organism poikiloterm karena dapat menghemolisis sel darah merah (Musman, 2004).
Hemolisis sel darah merah diduga terjadi di insang yang berakibat pada kelumpuhan sistem saraf pusat lele lokal sehingga
lele lokal tidak dapat bernafas dan berakibat pada kematiannya. Hal ini diperlihatkan dengan jelas oleh lele lokal melalui
kegiatan yang paling menonjol dilakukan oleh ikan uji tersebut, dalam upaya beradaptasi dengan badan air yang telah dipajan
toksikan, adalah tingginya frekwensi muncul ke permukaan air sebagai upaya untuk menghirup udara melalui organ
arborescent. Rudiyanti dan Ekasari (2009) menguatkan amatan pada penelitian ini bahwa ikan yang terkena racun dapat
diketahui dengan gerakan yang hiperaktif, lebih sering berada di permukaan, menggelepar, lumpuh sehingga kemampuan
ikan untuk beradaptasi semakin berkurang dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Pengamatan uji ini berlangsung selama 48 jam. Kurun waktu ini dikategorikan sebagai jenis bioassay periode waktu
pendek (Reish dan Oshida, 1987).Selama kurun waktu ini, senyawaan toksikan menunjukkan kestabilan struktur. Pemajanan
fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak EtOAc biji putat air terhadap organisme uji menunjukkan pengaruh mematikan terhadap
organisme dimaksud dari waktu ke waktu selama kurun waktu penelitian. Itu berarti, struktur senyawa toksikan dimaksud
tidak mengalami deformasi selama berada dalam badan air. Bila terjadi deformasi struktur suatu toksikan, sifat biologi
racunnya akan hilang dan tidak dapat memberikan efek mematikan bagi organisme uji dalam kurun waktu pengujian
(Musman, 2010).
Pengaruh konsentrasi larutan uji terhadap kematian organisme uji teramati dengan sangat jelas. Kematian
organisme uji berbanding lurus dengan konsentrasi larutan uji (Gambar 1). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak
zat toksikan yang dipajan maka semakin banyak organisme uji yang merespon mati dalam kurun waktu penelitian ini. Hasil
analisa probit menunjukkan harga LC50 untuk keong mas dan lele lokal masing-masing sebesar 29,26 ppm (dengan batas
bawah sebesar 20,07 ppm dan batas atas sebesar 37,25 ppm) dan 44,47 ppm (dengan batas bawah sebesar 31,11 dan batas
atas sebesar 57,27 ppm). Konsentrasi batas bawah merupakan konsentrasi dimana organisme mulai mengalami kematian,
sedangkan batas atas merupakan konsentrasi dimana seluruh organisme yang dipajankan mengalami kematian.
Harga LC50 di atas mengindikasikan bahwa lele lokal merespon mati pada rentang konsentrasi larutan uji 31,11
ppm dan 57,27 ppm atau pada rerata konsentrasi 44,47 ppm. Dipihak lain, keong mas merespon mati pada rentang
101
Depik, 1(2): 99-102
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
konsentrasi larutan uji 20,07 ppm dan 37,25 ppm atau pada rerata konsentrasi 29,26 ppm. Harga LC 50 ini bermakna pada
konsentrasi 29,26 ppm lele lokal belum merespon mati sebesar 50% bila dibandingkan dengan keong mas. Nilai dimaksud
menunjukkan bahwa larutan uji yang dipajan ke badan air uji direspon mati oleh lele lokal pada konsentrasi 44,47 ppm pada
rentang terendah 31,10 ppm dan rentang tertinggi 57,27 ppm. Itu bermakna, konsentrasi larutan uji sebesar 29,26 ppm telah
memberi efek mati bagi keong mas tapi tidak mematikan bagi lele lokal.
Nilai selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ektrak EtOAc biji putat air yang diperoleh dari perbandingan LC 50 lele lokal
terhadap LC50 keong mas adalah 1,51. Nilai ini menunjukkan bahwa fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak EtOAc biji putat air
menunjukkan selektivitas racun terhadap keong mas sebagai biota sasaran.
Kesimpulan
Pemberian fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak EtOAc biji putat air kepada keong mas dan lele lokal menyebabkan
mortalitas keong mas dan lele lokal. LC50 fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak EtOAc biji putat air terhadap keong mas dan lele lokal
masing-masing adalah 29,26 ppm dan 44,47 ppm berdasarkan analisa Probit. Nilai selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak
EtOAc biji putat air terhadap organisme uji adalah 1,51. Senyawaan yang terkandung dalam fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak
EtOAc biji putat air memperlihatkan moluskosida keong mas.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kavinta Melanie yang telah memberikan ekstrak AtOAc dari biji B.
racemosa untuk digunakan pada penelitian ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada reviewer atas arahannya sehingga
paper ini menjadi lebih baik.
Daftar Pustaka
Feng, H.T., T.C. Wang. 1984. Selectivity of insecticides to Plutella xylostella (L) and Apanteles plutellae. Plan Prot. Bull., 26:
275-284.
Finney, D.J. 1971. Probit analysis. 3rd ed. Cambridge Univ. Press, Cambridge.
Francis, G., Z. Keren, H.P.S. Makkar, K. Becker. 2002. The Biological action of saponin in animal system, A review. British
Journal of Nutrition, 88:587-605.
Musman, M. 2004. Effect of methanol extract of fruit of Penteut (Barringtonia asiatica) to mortality of golden apple snail
(Pomacea canaliculata). Jurnal Natural, 4(2): 9-11.
_______, M., 2009.The Potency of Penteut Ie (Acehnese, Barringtonia racemosa (L.) Spreng) as molluscicide of Pomacea
species (Ampullariidae), in Abidin dkk. (eds.), Understanding disaster and environmental issue with science and
engineering towards sustainable development. Proceeding The International Conference on Natural and
Environmental Sciences 2009 (ICONES’09). Banda Aceh, 6-8 May 2009.
_______, M. 2010.Toxicity of Barringtonia racemosa(L.) kernel extract on Pomacea canaliculata (Ampullariidae). Tropical Life
Science Research, 21(2): 41-50.
_______, M., S. Karina, K. Melanie. 2012. Uji selektivitas ekstrak etil asetat (EtOAc) biji putat air (Barringtonia racemosa)
terhadap keong mas (Pomacea canaliculata) dan ikan lele lokal (Clarias batracus). Depik, 1(1): 27-31.
Pierce, R.A., T.W. May, V. C. Suppes. 1994. Collection and submission of samples of fish-kill investigation and toxicsubstances analysis. University of Missouri Extension, Columbia, MO. Publication No. G9402.
Reish, D.L., P.S. Oshida. 1987. Manual of methods in aquatic environment research. Part 10: Short – term Static Biossay.
FAO Fisheries Technical Paper No. 247.
Rudiyanti, S., A.D. Ekasari. 2009. Pertumbuhan dan survival rate ikan mas (Cyprinus carpio Linn) pada berbagai konsentrasi
pestisida regent 0,3 g. Jurnal Saintek Perikanan, 5(1): 39-47.
Suripto. 2009. Selektifitas anti Moluska dari tanaman Jayanti {Sesbania sesban (L.) Merr.}. Jurnal Biol. Trop., 10(1): 24-32.
Wang, L., X. Wang, X. Yuan, B. Zhao. 2011. Simultaneous Analysis of Diosgenin and Sarsasapogenin in Asparagus officinalis
Byproduct by Thin-layer Chromatography. Phytochem. Anal., 22: 14-17.
102
Depik, 1(2): 103-106
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Karakter bilateral simetri ikan betutu (Oxyeleotris sp.): Kajian keragaman
morfologi sebagai dasar pengembangan budidaya
Bilateral symmetry fish character: The study of morphological diversity as a basis
for aquaculture development
Muh. Nadjmi Abulias*, Dian Bhagawati
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Kampus UNSOED Grendeng Purwokerto 53122 *Email korespodensi :
[email protected]
Abstract. Genetic diversity information of Gobiidae is needed as a basis for management of its culture or conservation efforts. Mean while, the
stability development of the paired organs in animals is closely related to the level of their genetic diversity. In this regard, a study has been
conducted to determine of bilateral symmetry characteristics of marble gobies from Jenderal Soedirman reservoir of Banjarnegara and Rawapening
Swamp of Salatiga. A survey method was used with purposive sampling technique. The observed variables were abnormalities and meristic
bilateral characters. The characters including the number of soft rays on pectoral fins and pelvic fins, and the number of scales on lateral lines. The
results showed that both marble gobies from Jenderal Soedirman Reservoir and Rawapening Swamp did not show abnormalities. However, their
bilateral meristic characters had been fluctuated, especially for pectoral fins and lateral lines; whereas pelvic fins seem to be symmetry. According to
their observed bilateral symmetry characters, in general, it could be concluded that marble gobies from Jenderal Soedirman Reservoir had a better
genetic diversity compare to those from Rawapening Swamp. Therefore, it can be used as local genetic resources.
Key words: Bilateral symmetry character, marbel gobies, Jenderal Soedirman Reservoirs, Rawa pening Swamp
Abstrak. Informasi keragaman genetik betutu diperlukan sebagai dasar pengelolaan dalam pemeliharaan ataupun upaya
konservasinya. Sementara itu, kestabilan perkembangan organ-organ berpasangan pada hewan terkait erat dengan tingkat
keragaman genetiknya. Sehubungan dengan hal tersebut maka telah dilakukan penelitian untuk mengetahui karakter simetri
bilateral pada ikan betutu yang berasal dari waduk Panglima Besar Soedirman Banjarnegara dan Rawa Pening Salatiga.
Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara purvosive sampling. Variabel
utama yang diamati adalah abnormalitas dan karakter meristik bilateral. Karakter meristik bilateral mencakup jumlah jari-jari
lemah sirip dada, sirip perut, dan jumlah sisik linea lateralis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan betutu yang diamati
tidak mengalami abnormalitas, baik yang berasal dari waduk Rawa Pening maupun Pangsar Soedirman. Namun, mengalami
fluktuasi karakter meristik bilateral untuk organ sirip dada dan linea lateralis, sedangkan untuk rumus jari-jari sirip perut,
semuanya dalam keadaan simetris. Secara umum berdasarkan karakter simetri bilateral yang diamati, diperoleh informasi
bahwa populasi betutu asal waduk Pangsar Soedirman memiliki keragaman genetik yang lebih baik dari pada populasi Rawa
Pening, sehingga dapat digunakan sebagai sumber genetik lokal.
Kata kunci : Karakter simetri bilateral, betutu, waduk Rawa Pening dan Pangsar Soedirman
Pendahuluan
Ikan betutu (Oxyeleotris sp) merupakan salah satu jenis ikan air tawar dari familia Eleotrididae berukuran sedang dan
dapat dibedakan dari anggota familia Gobiidae oleh sirip perutnya yang terpisah (tidak berbentuk mangkok) dan adanya
enam jari tulang penguat tutup insang. Terdapat tiga species ikan betutu yang telah diketahui, yaitu O. marmarata., O.
uropthalmoides dan O. uropthalmus (Kottelat et al., 1993). Lebih lanjut dijelaskan bahwa ikan tersebut kebanyakan hidup di
muara sungai, rawa, atau danau. Bentuk tubuh ikan betutu menyerupai ikan lele, khususnya kepalanya yang pipih
dorsoventral. Akan tetapi, ikan betutu tidak memiliki sungut dan patil. Selain itu, tubuhnya tertutup oleh sisik. Bagian dorsal
tubuh mulai dari kepala sampai dengan ekor dihiasi oleh ornamen-ornamen spesifik berwarna gelap dan terang. Oleh karena
itu, di Kalimantan ikan betutu dikenal sebagai ikan hantu. Di luar negeri ikan betutu disebut the sleeper fish karena ikan ini
senang tidur atau berdiam diri (Nyuwan, 2000; Larson, 2000).
Ikan betutu (Oxyeleotris sp) mempunyai potensi besar sebagai komoditas ekspor ke berbagai negara. Namun, hingga
kini ketersediaannya belum dapat memenuhi peluang tersebut karena sepenuhnya masih bergantung kepada hasil
penangkapan di alam (Nyuwan, 2000). Apabila kegiatan eksploitasi ikan betutu dari alam tidak diimbangi dengan usaha
budidayanya, maka dikhawatirkan akan menurunkan populasinya di alam dan mengancam kelestariannya. Usaha budidaya
ikan mencakup kegiatan pembenihan dan pembesaran memerlukan modal pengetahuan dan keterampilan yang memadai
bagi pembudidayanya. Terutama terkait dengan kualitas induk yang akan dipijahkan. Mengingat, kualitas induk ikut
berperan dalam menentukan kualitas keturunannya. Satyani (2007) menyatakan bahwa calon induk ikan yang akan
digunakan dalam pembenihan, sebaiknya memenuhi persyaratan dalam hal umur, ukuran dan asal-usul genetisnya.
Salah satu pendekatan yang dapat ditempuh dalam melakukan estimasi studi genetika pada suatu populasi species
organisme dimaksudkan untuk memberikan evaluasi mengenai variasi genetik populasi tersebut. Suryadi (2002) studi tentang
variasi genetik merupakan aspek yang sangat penting dalam pelestarian dan juga pemanfaatan plasma nutfah.
103
Depik, 1(2): 103-106
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Evaluasi karakter dari suatu populasi dapat dilakukan dengan studi analisis protein (protein elektroforesis) ataupun
melalui studi morfometrik. Kedua cara tersebut dapat digunakan untuk menentukan keragaman genetik dalam struktur
populasi (Taniguchi dan Sugama,1990).
Kestabilan perkembangan organ-organ berpasangan pada hewan berhubungan erat dengan tingkat keragaman
genetiknya. Kestabilan organ-organ berpasangan tersebut, disebut dengan fluktuasi asarsimetri (Clarke,1992). Atas dasar hal
tersebut, maka untuk mengetahui keragaman genetik ikan betutu asal Waduk PB Soedirman Banjarnegara dan Waduk Rawa
Pening Salatiga, telah dilakukan karakterisasi morfologi, khususnya pemeriksaan karakter meristik bilateralnya. Hasil
penelitian yang diperoleh diharapkan mampu menjadi landasan dalam upaya pelestarian ikan betutu di alam dan kegiatan
budidayanya.
Bahan dan Metode
Materi penelitian berupa ikan betutu dari Waduk PB Soedirman Banjarnegara dan Waduk Rawa Pening Salatiga. Alat
yang digunakan adalah kontainer plastik, sarung tangan, bak preparat, disecting set, jangka sorong (ketelitian 0,1 mm),
timbangan teknik (ketelitian 0,01 gram), jarum preparat, kaca pembesar dan mikroskop bcinokuler.
Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Random Sampling. Jumlah
sampel ikan betutu dari masing-masing waduk sebanyak 30 ekor. Data utama yang diamati yaitu karakter meristik bilateral
yang mencakup jumlah jari-jari lemah sirip dada, sirip perut dan sisik pada garis rusuk (linea lateralis). Untuk melakukan
karakterisasi tersebut, langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut (Saanin, 1984 dan Nurhidayat et al., 2003) :
a. ikan sampel, yang memiliki organ tubuh berpasangan pada sisi kiri dan kanannya tidak tumbuh sama sekali,
dipisahkan dari perhitungan asimetri dan dikelompokkan pada individu yang abnormal untuk menentukan tingkat
abnormalitasnya.
b. sirip dada dan sirip perut, dipisahkan dari tubuh ikan sampel dengan cara memotong dari bagian pangkal tanpa
merusak jari-jari lemahnya.
c. dilakukan penghitungan bagian kiri dan bagian kanan organ-organ tersebut di bawah mikroskop binokuler serta
dilakukan penghitungan jumlah sisik pada linea lateralis.
Hasil pengukuran dan penghitungan jumlah jari-jari lemah sirip dada, sirip perut, serta jumlah sisik linea lateralis,
selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai fluktuasi asimetri besaran dan bilangan berdasarkan petunjuk dari Leary et al.
(1985). Fluktuasi asimetri besaran (FAm), yaitu jumlah absolut perbedaan karakter organ kiri dengan kanan dari sejumlah
individu yang diamati. Fluktuasi asimetri bilangan (FAn), yaitu jumlah karakter individu asimetri dari sejumlah individu yang
diamati.
FA m = Σ ( L – R )
N
FA n = Σ Z
n
Keterangan :
FA m
: fluktuasi asimetri besaran (magnitude)
FA n
: fluktuasi asimetri bilangan (number)
L
: jumlah organ sisi kiri
R
: jumlah organ sisi kanan
Z
: jumlah individu asimetri untuk ciri meristik tertentu
N, n
: jumlah sampel
Tingkat abnormalitas, diamati berdasarkan persentase abnormalitas dari masing-masing organ yang diamati. Data
hasil pengamatan selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
Hasil dan Pembahasan
Hasil determinasi dan identifikasi terhadap ikan betutu hasil tangkapan di Waduk PB Soedirman dan Waduk Rawa
Pening, mengarah pada Oxyeleotris marmorata Blkr. Bentuk kepala gepeng, tubuh bagian anterior silindris, sedangkan bagian
posteriornya pipih. Mempunyai dua sirip punggung yang terpisah, sirip perut sepasang, bentuk membulat dan terletak
berdekatan. Mempunyai sepasang sirip dada yang bentuknya membulat serta sebuah sirip ekor dengan ujung membulat.
Terdapat perbedaan warna tubuh ikan betutu asal Waduk PB Soedirman dengan yang berasal dari Waduk Rawa Pening.
Ikan betutu asal Waduk PB Soedirman mempunyai warna tubuh coklat kehitaman dengan bercak-bercak hitam di seluruh
tubuhnya., sedangkan yang berasal dari Waduk Rawa Pening tubuhnya berwarna coklat kekuningan dengan bercak hitam.
Warna sirip dada dan perut pada ikan betutu asal Waduk PB Soedirman kekuningan, sedangkan yang berasal dari Waduk
Rawa Pening warna kemerahan. Ikan betutu asal Waduk PB Soedirman yang diamati mempunyai panjang tubuh berkisar
antara 15,5 – 24,8 cm dengan bobot berkisar 190 –347,5 gram, sedangkan yang berasal dari Waduk Rawa Pening,
mempunyai panjang tubuh berkisar antara 19 – 29,2 cm dengan bobot berkisar 250,1 – 494,8 gram.
Menurut Komarudin (2000), rumus jari-jari pada ikan betutu adalah D.1. VI; D.2. I-9; A I. 7-8; P. 17-19; L.l 80-90;
L.tr. ± 25. Pada penelitian ini, organ berpasangan yang diamati meliputi : rumus jari-jari sirip dada, sirip perut dan jumlah
sisik pada linea lateralis. Keadaan asimetri dialami pada rumus jari-jari pada sirip dada dan jumlah sisik pada linea lateralis.
Sampel ikan yang diamati, semuanya dalam kondisi normal. Organ yang dikategorikan abnormal atau mengalami
104
Depik, 1(2): 103-106
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
penyimpangan pada penelitian ini yaitu : apabila kedua organ tidak tumbuh sama sekali, salah satu organ tidak tumbuh sama
sekali serta apabila jumlah sisik linea lateralis , rumus jari-jari sirip dada maupun sirip perut mengalami penyimpangan.
Mengingat bahwa semua individu ikan betutu dari kedua populasi yang diamati dalam keadaan normal, maka
perhitungan hanya dilakukan terhadap fluktuasi karakter meristik bilateralnya. Hasil perhitungan persentase fluktuasi
asimetri bilangan (FAn) dan besaran (FAm) untuk karakter meristik dari linea lateralis, rumus jari-jari sirip dada dan sirip
perut terangkum dalam tabel berikut (Tabel 1 dan Tabel 2).
Tabel 1. Nilai fluktuasi asimetri bilangan (FAn) pada karakter sirip dada, sirip perut dan linea lateralis ikan betutu
asal Waduk Soedirman dan Waduk Rawa Pening
No Asal Sampel
Fluktuasi asimetri bilangan (FAn)
Sirip dada
Sirip perut
Linea lateralis
1.
Soedirman
0,136
0
0,227
2.
Rawa Pening
0,333
0
0,619
Tabel 1. memperlihatkan bahwa ikan betutu asal waduk PB Soedirman dan Rawa Pening mengalami fluktuasi
karakter meristik bilateral untuk organ sirip dada dan linea lateralis, sedangkan untuk rumus jari-jari sirip perut, semuanya
dalam keadaan simetris. Hasil perhitungan tersebut juga menunjukkan bahwa linea lateralis mempunyai nilai fluktuasi
asimetri bilangan lebih tinggi (0,227 sampai 0,619) dibandingkan karakter sirip dada (0,136 sampai 0,333).
Umumnya jumlah jari-jari lemah pada sirip dada bagian kiri jumlahnya relatif lebih banyak dari pada bagian kanan,
sedangkan jumlah sisik pada linea lateralis bagian kanan jumlahnya relatif lebih banyak daripada yang kiri. Keadaan ini dapat
dilihat berdasarkan tanda negatif (-) pada hasil perhitungan fluktuasi asimetri besaran (Tabel 3.).
Tabel 2. Nilai fluktuasi asimetri besaran (FAm) pada karakter sirip dada, sirip perut dan linea lateralis
ikan betutu asal Waduk Soedirman dan Waduk Rawa Pening
No Asal Sampel
Fluktuasi asimetri besaran (FAm)
Sirip dada
Sirip perut
Linea lateralis
1.
Soedirman
0,045
0
0,045
2.
Rawa Pening
0,048
0
-0,095
Besarnya fluktuasi asimetri bilangan dan besaran dari ketiga karakter meristik bilateral pada ikan betutu asal Waduk
PB Soedirman dan Waduk Rawa Pening, maka dilakukan penghitungan nilai gabungan. Hasil perhitungan nilai fluktuasi
asimetri bilangan dan besaran gabungan tersebut tertera pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai fluktuasi asimetri bilangan (FAn) dan besaran (FAm) gabungan (jari-jari lemah sirip dada,
sirip perut dan sisik linea lateralis) ikan betutu asal Waduk Soedirman dan Waduk Rawa Pening
No. Asal ikan
Fluktuasi bilangan (FAn)
Fluktuasi besaran (Fam)
1.
Soedirman
0,363
0,090
2.
Rawa Pening
0,952
-0,047
Hasil perhitungan nilai fluktuasi bilangan dan besaran dari karakter meristik bilateral yang diamati, diperoleh
informasi bahwa ikan betutu dari waduk Soedirman mempunyai nilai fluktuasi asimetri bilangan (0,363) yang lebih rendah
dibanding yang berasal dari Rawa Pening (0.952). Namun, untuk fluktuasi asimetri besaran, nilainya sama yaitu sebesar
0,045. Hasil perhitungan yang tertera pada tabel tersebut memberikan gambaran bahwa jumlah individu ikan betutu yang
hidup di waduk Rawa Pening, yang kurang mampu berkembang secara tepat serta normal, jumlahnya lebih banyak
dibandingkan yang berasal dari waduk Soedirman. Menurut Van Valen (1962), adanya perbedaan fenotip pada individu
untuk sifat meristik yang bilateral dapat menunjukkan fluktuasi asimetri, yaitu adanya perbedaan antara karakter sisi kiri dan
sisi kanan, yang menyebar secara normal dengan rataan mendekati nol, sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk
berkembang secara tepat dan normal.
Terkait dengan lebih tingginya nilai fluktuasi asimetri pada populasi betutu asal Rawa Pening, kemungkinan karena
dari waktu ke waktu jumlah populasinya terus berkurang, sehingga keragaman genetiknya menurun. Hal tersebut terjadi
akibat dari intensitas penangkapan betutu di Rawa Pening relatif lebih tinggi dibanding di waduk Soedirman, Menurut Hall
dalam Harteman (2003) penurunan keanekaragaman genetik dapat disebabkan oleh penangkapan secara berlebihan (over
fishing), yang mampu berpengaruh terhadap dinamika populasinya.
Hasil pengamatan di Waduk Soedirman Banjarnegara. dan Waduk Rawa Pening Salatiga, pada kedua perairan
tersebut telah mulai dilakukan pemeliharaan ikan betutu dalam karamba. Namun demikian, hasilnya kurang mencukupi
kebutuhan pasar, karena benih yang dipelihara berasal dari hasil tangkapan di waduk, sehingga jumlahnya tidak mencukupi.
Akibatnya warga di sekitar perairan tersebut sering melakukan penangkapan langsung dari waduk daripada mengandalkan
hasil budidaya. Keadaan tersebut, terutama terjadi di Waduk Rawa Pening yang penduduknya telah bertahun-tahun dikenal
sebagai pemasok betutu ke beberapa wilayah di dalam maupun luar negeri, sehingga penangkapan betutu di Waduk Rawa
Pening dilakukan setiap hari. Adanya penangkapan yang berlangsung terus menerus dan bersifat pengurasan sumberdaya,
maka hal tersebut dapat menurunkan keragaman genetik ikan betutu di Waduk Rawa Pening.
105
Depik, 1(2): 103-106
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Ikan betutu di Waduk PB Soedirman keberadaannya relatif lebih aman dari tingginya tingkat penangkapan, karena
warga sekitar kurang menyukai daging ikan betutu. Penduduk setempat juga belum banyak yang tahu bahwa harga jual ikan
betutu di pasaran cukup tinggi serta merupakan komoditas ekspor, sehingga warga tidak melakukan penangkapan secara
berlebihan.
Kesimpulan
Ikan betutu asal Waduk PB Soedirman dan Waduk Rawa Pening yang diamati masih dalam keadaan normal, tetapi
mengalami fluktuasi karakter meristik bilateral untuk organ sirip dada dan linea lateralis, sedangkan untuk rumus jari-jari sirip
perut, semuanya dalam keadaan simetris.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada DP2M DIKTI selaku penyandang dana dari penelitian
STRANAS BATCH IV tahun 2009 yang dilaksanakan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja Penelitian Nomor:
4453.6/H23.6/PL/2009, tanggal 6 Agustus 2009 serta STRANAS lanjutan tahun 2010 yang dilaksanakan sesuai dengan
Surat Perjanjian Kerja Penelitian Nomor: 1595.7/H23.6/DT.01.00/2010, Tanggal 1 April 2010.
Daftar Pustaka
Clark, A.M, F.W.E. Rowe. 1971. Monograph of Swallow Water Indo-West Pasific Echinoderms. Pitman Press, London.
Harteman, E. 2003. Ancaman Manusia terhadap Keanekaragaman hayati dan Upaya Perlindungan di Indonesia. Makalah
Falsafah Sains, Program Pasca Sarjana, IPB Bogor.
Komarudin, U. 2000. Betutu. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater fishes of Western Indonesia and Sulawesi.
Periplus Edition Ltd., Singapore.
Larson, H.K. 2000. Gobiidae (gobies and sleepers)., p. 635-640. In J.E. Randall and K.K.P. Lim (eds). A checklist of the
Fishes of the South China Sea. Raffles Bull. Zool., (8): 569-667.
Leary, R.F., F.W. Allendorf, K.L. Knudsen. 1985. Development instability as an indicator of reduced genetic variation in
hatchery trout. trans. American Fish. Soc., 114 : 230 – 235.
Nurhidayat, M.A., O. Carman, E. Haris, K. Sumantadinata. 2003. Fluktuasi Asimetri dan Abnormalitas Pada Ikan Lele
Dumbo (Glorias sp.) Yang Dibudidayakan di Kolam. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia., 9 (1): 55 - 59.
Nyuwan, S.B. 2000. Ikan betutu masih menangkap dari alam. Trubus. Juli, 2000.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan kunci identifikasi ikan. Binacipta, Bandung.
Satyani, D.L. 2007. Reproduksi dan pembenihan ikan hias air tawar. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan
dan Perikanan, Jakarat
Surjadi, H. 2002. Draft Dokumen IBSAP Bagian 3/8, Tinjauan : Keanekaragaman Hayati Sebagai Aset Produkstif
Pembangunan Berkelanjutan. www. polarhome. com
Taniguchi, N., K. Sugama. 1990. Genetic variation and population structur of red sea bream in the coastal waters of Japan
and the East China Sea. Nipon Suisan Gakkaishi, 56(7): 1069-1077.
Van Valen, L. 1962. A study of fluctuating asymmetry. Evolution, 16:125-142.
106
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Analisis subsidi bahan bakar minyak (BBM) solar bagi nelayan di Kabupaten
Aceh Besar, Provinsi Aceh
Analysis of fuel subsidy (diesel) for fishermen in Aceh Besar District, Aceh
Province
Zainal A. Muchlisin1*, Nur Fadli1, Arifsyah M. Nasution2, Rika Astuti3, Marzuki3,
Darmawi Musni3
1Jurusan
Budidaya Perairan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 23111.
World Wildlife Fund (WWF), Banda Aceh; 3Jaringan Kualisi Untuk Laut Aceh (Kuala), Banda Aceh. Email
korespodensi: [email protected]
2The
Abstract. Fuel is one of important components in fishing activity. The objectives of this research were to analyze the need and the receiver of fuel
subsidy in Aceh Besar t as well as to analyze the problems that faced by fisherman in Aceh Besar district. The survey was done on June-August
2012 in five sub-district in Aceh Besar namely: (1) Baitussalam, (2) Mesjid Raya, (3) Leupung (4) Lhoknga dan (5) Mesjid Raya. The result
shown that the average cost of one trip of fishing activities in Aceh Besar were Rp700.000. The lowest operational cost was found in Seulimum
(Rp96.200 per trip) and the highest was found in Baitussalam sub-district (Rp1, 793,710 per trip). Fuel was the biggest cost for fishing activity;
it was ranged 40%-73% with average 57.9%. The lowest proportion of fuel consumption was found in Baitussalam sub-district and the highest
was found in Lhoknga sub-district. In average, the fisherman’s fuel consumption was 1,237L. per month; with total subsidy was Rp 5,824,737
per fisherman per month. The profit will be decreased up to 89.5% if there was no fuel subsidy. In addition, the result also shown that the
fisherman in Aceh Besar did not have any skill to generate their alternative income. As the consequence, in the future there is a need to develop
programs to generate the alternative livelihood for Aceh Besar fisherman as well as their family.
Keywords: Capture fishery, conservation, budget allocation, and climate changes
Abstrak. Bahan bakar minyak (BBM) salah satu komponen penting dalam suatu operasi penangkapan ikan. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis kebutuhan dan penerimaan subsidi solar oleh nelayan di Kabupaten Aceh Besar dan beberapa
permasalahan dalam perikanan tangkap. Survey dilakukan pada Juni sampai Agustus 2012. Lokasi survey meliputi lima
kecamatan di Aceh Besar, yaitu: (1) Baitussalam, (2) Mesjid Raya, (3) Leupung (4) Lhoknga dan (5) Seulimum. Hasil penelitian
menunjukkan biaya operasional per trip rata-rata nelayan di Kabupaten Aceh Besar lebih kurang Rp700.000, dimana biaya
operasional terendah didapati pada nelayan di Kecamatan Seulimum (Rp96.200 per trip) dan tertinggi di Kecamatan
Baitussalam (Rp1,793,710). Komponen BBM merupakan komponen terbesar dalam kegiatan penangkapan ikan nelayan Aceh
Besar yaitu berkisar 40%-73% (rata-rata adalah 57.9%) dari total biaya operasional. Proporsi pemakaian BBM terendah
dijumpai pada nelayan di Kecamatan Baitussalam dan tertinggi pada nelayan Lhoknga. Rerata nelayan di Kabupaten Aceh
Besar menghabiskan BBM sebanyak 1,237 liter per bulan, dengan total jumlah subsidi yang diterima adalah Rp 5,824,737 per
orang setiap bulan. Jika nelayan tidak mendapatkan subsidi BBM akan dapat menurunkan keuntungan sampai dengan 89.5%.
Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan Aceh Besar tidak memiliki ketrampilan tambahan
selain melaut. oleh sebab itu, dimasa depan program insentif perikanan Aceh Besar untuk sektor perikanan tangkap harus
diarahkan untuk peningkatan kapasitas nelayan terutama introduksi dan diversifikasi ketrampilan yang produktif baik untuk
nelayan maupun untuk keluarga mereka.
Kata kunci: Perikanan tangkap, konservasi, alokasi anggaran, dan perubahan iklim
Pendahuluan
Provinsi Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar terutama di
sektor perikanan. Sektor perikanan telah menjadi salah satu sektor andalan Provinsi Aceh, lebih kurang 55% penduduk Aceh
bergantung kepada sektor ini baik secara langsung maupun tidak langsung (Yusuf, 2003). Oleh karena itu pengembangan
sektor perikanan harus menjadi salah satu prioritas pembangunan di Provinsi Aceh sehingga dapat memberikan dampak
positif bagi perkembangan ekonomi secara umum di kawasan ini. Namun sayangnya kondisi perekonomian sebagai besar
nelayan Aceh khususnya dan Indonesia umumnya masih sangat memprihatinkan (Muchlisin et al., 2012). Menurut data BPS,
Provinsi Aceh adalah salah satu provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi di Sumatra, yaitu mencapai 19.57%
(BPS, 2012). The World Bank (2008) melaporkan bahwa dari 975,374 kepala keluarga di Aceh atau setara dengan 4,16 juta
jiwa, lebih kurang 510,633 kepala keluarga (52.35) tergolong keluarga miskin.
Kabupaten Aceh Besar adalah salah satu kabupaten yang berada di pesisir Aceh, kabupaten ini secar a administrasi
terdiri dari 26 Kecamatan, 8 kecamatan diantaranya adalah kecamatan pesisir. Aceh Besar memiliki potensi garis pantai
sepanjang 344 km dengan luas wilayah perairan lautnya adalah 2.796 km 2 dan jumlah pulau-pulau kecil sebanyak 21 Buah
serta pulau-pulau kecil terluar 2 buah . Menurut data statistik yang ada pada tahun 2010 tercatat 1,543 orang nelayan tetap dan
107
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
513 orang nelayan sambilan (DKP Aceh Besar, 2010). Selain itu, pesisir dan laut Aceh Besar juga memiliki keanekaragaman
hayati pesisir antara lain, terumbu karang seluas 1.155 ha dan ekosistem mangrove seluas 980,82 ha (DKP Aceh Besar, 2010).
Bahan bakar minyak (BBM) adalah salah satu komponen penting dalam suatu operasi penangkapan ikan, komponen
ini menyumbang 60% dari total biaya operasi (Hermawan, 2006). Subsidi BBM yang dijalankan oleh pemerintah diharapkan
dapat membantu meringankan beban nelayan. Namun kenyataannya saat ini nelayan mengeluhkan kesulitan dalam
mendapatkan BBM (solar) dengan harga resmi pemerintah, umumnya mereka mendapatkannya dari pihak ketiga dengan
harga jauh lebih tinggi dari harga resmi, kondisi ini menyebabkan meningkatnya biaya operasional dan mengurangi
keuntungan nelayan.
Kebijakan subsidi termasuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah selalu menimbulkan
pendapat pro dan kontra, ada pihak yang menolak dengan alasan membebani anggaran dan rentan penyalaggunaan, namun
tidak sedikit pula yang mendukung dengan alasan sebagian besar nelayan Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan
(Handoko dan Patriadi, 2005). Hal ini senada dengan Martadiningrat (2009) yang menyebutkan bahwa 90% masyarakat
nelayan Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu kebijakan subsidi BBM khususnya bagi nelayan di Aceh
Besar dirasa masih diperlukan. Namun, sampai saat ini belum ada analisa kebutuhan bahan bakar minyak bagi nelayan Aceh
Besar dan berapa jumlah subsidi yang mereka terima melalui pembelian bahan bakar minyak. Survey ini bertujuan untuk
menganalisis kebutuhan dan penerimaan subsidi solar oleh nelayan di Kabupaten Aceh Besar dan beberapa permasalahan
dalam perikanan tangkap.
Bahan dan Metode
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada mulai Juni sampai Agustus 2012. Servey lapangan dilaksanakan pada 21-28 Juni 2012.
Lokasi survey meliputi lima kecamatan di Aceh Besar, yaitu: (1) Baitussalam, (2)Mesjid Raya, (3) Leupung (4) Lhoknga dan (5)
Mesjid Raya (Gambar 1).
Gambar 1. Peta Kabupaten Aceh Besar
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh dari
instansi terkait, diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Besar, Badan Pusat Statistik Daerah, dan jurnaljurnal yang terkait. Sedangkan data primer diperoleh dari wawancara terhadap nelayan lokasi penelitian. Wawancara dengan
berpedoman kepada kuisioner (semi terbuka) dilakukan terhadap 50 orang responden yang berprofesi sebagai nelayan,
dengan sebaran sebagai berikut; Kecamatan Baitussalam 11 orang, Kecamatan Leupung 7 orang, Kecamatan Lhoknga 8
orang, Kecamatan Mesjid Raya 14 orang dan Kecamatan Seulimum 10 orang.
Jenis informasi yang dikumpulkan melalui wawancara tersebut antara lain; biaya operasional dan biaya tetap serta
pemasukan, trip per bulan, lama waktu operasional, daerah penangkapan dan jumlah konsumsi BBM setiap trip. Biaya
operasional dalam penelitian ini adalah biaya BBM ditambah biaya lainnya, yaitu biaya konsumsi dan es, sedangkan biaya
perbaikan dan penyusutan kapal dan alat tangkap tidak dimasukkan sebagai komponen biaya operasional disini. Informasi
tambahan yang dikumpulkan antara lain; permasaalahn dan perikana tangkap, dan isu-isu konservasi.
108
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian diolah secara manual dan menggunakan komputer dengan program Microsoft
Office Excel 2007 dan disajikan dalam bentuk gambar dan tabel, selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
Hasil dan Pembahasan
Rerata besaran biaya operasional per trip nelayan di Kabupaten Aceh Besar lebih kurang Rp700.000, dimana biaya
operasional terendah didapati pada nelayan di Kecamatan Seulimum (Rp96.200 per trip) dan tertinggi di Kecamatan
Baitussalam (Rp1,793,710). Secara umum besaran biaya per trip nelayan berbeda bergantung kepada jenis dan kondisi kapal,
dan alat tangkap yang digunakan (Wikaniati, 2011), jarak tempuh ke lokasi penangkapan (fishing ground) dan umur mesin juga
memberikan pengaruh kepada konsumsi BBM dan berdampak kepada naiknya biaya operasional.
Komponen bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar merupakan komponen biaya terbesar dalam sebuah operasi
penangkapan ikan, dan biaya konsumsi menempati urutan kedua. Berdasarkan hasil survey terlihat komponen BBM berkisar
40%-73% dari total biaya operasional. Proporsi pemakain BBM terendah dijumpai pada nelayan di Kecamatan Baitussalam
dan tertinggi pada nelayan Lhoknga. Rerata komponen biaya BBM nelayan Aceh Besar adalah 54.9% (Tabel 1), kondisi ini
lebih tinggi berbanding dengan nelayan di Kabupaten Tegal, dimana biaya operasi untuk BBM hanya 47.40% (Hermawan,
2006).
Umumnya nelayan dari Baitussalam melakukan penangkapan ikan di daerah Pulo Aceh, Pulau Breah dan Bate 13
dan umumnya mereka beroperasi selama 3-4 hari per trip dan bermalam di kawasan Pulo Aceh berhampiran dengan daerah
penangkapan, dengan demikian mereka dapat menghemat pemakaian BBM, dan konsekuensinya biaya konsumsi meningkat.
Sebaliknya nelayan dari Lhoknga umumnya melakukan penangkapan ikan sampai ke Zona Ekonomi Ekkusif (ZEE) namun
masih tergolong one day fishing hal menyebabkan pemakaian BBM meningkat dan berkontribusi terhadap tingginya proporsi
biaya untuk BBM.
Secara umum nelayan Kabupaten Aceh Besar tergolong nelayan kecil (artisanal fishermen) menangkap ikan di daerah
pesisir dan tergolong one day fishing, umumnya nelayan dengan tipe tersebut dijumpai di Kecamatan Leupung, Lhoknga dan
Mesjid Raya. Nelayan one day fishing umumnya mempunyai waktu operasi 10-12 jam, misalnya nelayan yang menangkap ikan
di siang hari berangkat melaut pada pagi dan kembali sore hari, sedangkan nelayan yang beroperasi pada malam hari
berangkat melaut pada sore hari dan kembali pagi hari esoknya. Suatu temuan menarik diperoleh pada nelayan responden di
Kecamatan Seulimun (Lampanah Lengah), mereka memiliki rerata 2 trip penangkapan setiap hari sehingga waktu operasi
setiap trip menjadi lebih singkat, yaitu rerata 7.2 jam. Umumnya nelayan di Lampanah Lengah melakukan penangkapan pada
siang hari, yaitu mulai pagi hari dan kembali ke pantai pada siang hari, setelah beristirahat makan dan sholat di darat mereka
kembali melaut dan kembali ke pantai pada sore hari. Nelayan dengan waktu operasi lebih panjang dijumpai di Kecamatan
Baitussalam, rerata nelayan disana memiliki waktu operasi lebih dari 62 jam, dengan total trip per bulan rerata 12 trip.
Tabel 1. Total biaya operasional dan proporsi biaya bahan bakar minyak (BBM) per trip nelayan
Kabupaten Aceh Besar berdasarkan kecamatan.
∑
Komponen
sampel
No.
Kecamatan
Total biaya operasi
BBM (Rp)
Persentase komponen
per trip (Rp)
biaya BBM (%)
1.
11
Baitussalam
1,793,710
775,400
43.2
2.
Leupung
7
940,475
380,000
40.4
3.
Lhoknga
8
653,625
478,125
73.1
Mesjid Raya
14
154,771
93,750
60.6
Seulimum
Rerata
10
96,200
727,756
55,200
344,095
57.4
54.9
4.
5.
Secara umum terlihat bahwa kelompok nelayan yang memiliki jumlah trip paling banyak dengan jarak areal
penangkapan yang lebih jauh akan menghabiskan jumlah BBM lebih banyak, misalnya nelayan Leupung dan Lhoknga dengan
areal penangkapan di sekitar Pulau Rusa dan Batee Dua sampai ke ZEE. Namun demikian, nelayan di Kecamatan Mesjid
Raya yang memiliki jumlah trip tergolong tinggi namun mengkonsumsi jumlah solar lebih rendah, hal ini disebabkan nelayan
disini menangkap tidak jauh dari lokasi tempat tinggal mereka, yaitu disekitar Lhok Krueng Raya dan Kampung Baro (Tabel
2).
Hasil survey menunjukkan bahwa penerima subsidi terbesar adalah nelayan di Kecamatan Leupung dan Kecamatan
Lhoknga. Total pemakain solar rerata per bulan setiap nelayan di Kecamatan Mesjid Raya dan Seulimen tidak jauh berbeda,
namun jumlah subsidi yang diterima oleh nelayan di Kecamatan Seulimun jauh lebih rendah, hal ini disebabkan harga jual
eceran solar di Seulimum (Lampanah Leungah) lebih tinggi berbanding di Mesjid Raya (Krueng Raya) (Tabel 3). Subsidi
maksimum hanya dinikmati oleh nelayan di Kecamatan Leupung karena mereka dapat membeli solar pada harga eceran resmi
pemerintah (Rp 4,500/L).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nelayan belum menikmati subsidi solar secara maksimal karena mereka
harus membeli diatas harga resmi pemerintah, hal ini disebab karena belum adanya tempat penjualan resmi (dealer Pertamina)
109
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
pada hampir semua kawasan/tempat pendaratan ikan (TPI/PPI). Nelayan harus mengeluarkan uang ektra berkisar Rp500
sampai Rp1,500 untuk setiap liter solar yang dibeli. Oleh karena itu kedepan pengadaan stasiun pengisian BBM disetiap pusatpusat nelayan perlu dipertimbangkan. Pohan (2010) melaporkan bahwa pembangunan stasiun pengisian BBM di PPN
Pelabuhanratu, Jawa Barat berdampak langsung pada penurunan biaya operasional nelayan dan peningkatan keuntungan.
Sebenarnya subsidi yang diterima oleh nelayan bukan hanya dari BBM semata, beberapa komponen lain yang sering disubsidi
adalah kapal dan alat tangkap, namun beban subsidi non BBM ini relatif lebih ringan berbanding subsidi BBM (Handoko dan
Patriadi, 2005).
Jika kebijakan subsidi BBM dicabut, maka akan berdampak sangat buruk bagi nelayan dimana dapat menurunkan
pendapatan rerata 89.5%, bahkan untuk nelayan kecil khususnya akan menyebabkan kerugian karena pendapatan tidak dapat
menutupi biaya operasional, sebagaimana ditemukan pada nelayan di Kecamatan Lhoknga, Mesjid Raya dan Seulimum (Tabel
4). Oleh karena itu subsidi BBM untuk nelayan khususnya nelayan kecil mutlak diperlukan. Hal ini senada dengan Zulham
(2005) yang menyebutkan bahwa subsidi perikanan tetap diperlukan dalam pengembangan perikanan tangkap di Indonesia.
Wikaniati (2011) telah melakukan kajian tentang subsidi solar bagi nelayan ikan teri nasi di Kabupaten Pekalongan,
menyimpulkan bahwa pemberian subsidi solar tidak menyebabkan kelestarian sumberdaya ikan teri terganggu, lebih lanjut
dijelaskan bahwa subsidi solar berpengaruh nyata dan positif terhadap pendapatan nelayan. Sehingga semakin besar nelayan
meningkatkan tingkat pemanfaatan subsidi solar, maka pendapatan akan meningkat.
Rerata nelayan di Kabupaten Aceh Besar menghabiskan BBM sebanyak 1,237 liter per bulan, dengan total jumlah
subsidi yang diterima adalah Rp5,824,737 per orang setiap bulan. Menurut data statistik Tahun 2010, tercatat lebih kurang
1,543 orang nelayan tetap di Kabupaten Aceh Besar, dengan demikian dapat diprediksi jumlah BBM yang diperlukan
sebanyak lebih kurang 1,908,691 liter per bulan dengan jumlah subsidi lebih kurang Rp8,987,569,191 per bulan. Sebagai
gambaran secara nasional nelayan Indonesia telah menerima subsidi BBM sebanyak Rp3.6, Triliun pada tahun 2006 (Ghofar
et al., 2008). Secara rerata nelayan Indonesia mengkonsumsi lebih kurang 2.61 milyar liter BMM per tahun atau setara dengan
Rp2.2 Triliun (238 juta USD) (Antara News, 2006). Jumlah ini masih tergolong rendah (hanya 0.92%) berbanding jumlah
subsidi BBM secara menyeluruh yang mencapai Rp234.2 Triliuin pada tahun 2012 (Anatara News, 2012)., dan secara global
jumlah subsidi BBM untuk sektor perikanan mencapai 4.2-8.5 Milyar USD per tahun (Sumaila et al., 2008).
Dari hasil wawancara dengan dengan nelayan Aceh Besar diperoleh informasi bahwa mereka mengaku terjadi
penurunan hasil tangkapan saat ini berbanding 5 tahun lalu (Gambar 2), menurut mereka hal ini disebabkan karena
perubahan iklim dan kerusakan habitat (Gambar 3). Kendala utama yang dihadapi oleh nelayan Aceh Besar adalah iklim yang
tidak menentu (disebabkan oleh perubahan iklim) sehingga mereka sulit memprediksi ruaya ikan dan musim barat yang
berlangsung lebih awal dan lebih panjang, kendala lainnya adalah mahal dan kelangkaan BBM solar (Gambar 4).
Tabel 2. Jumlah trip penangkapan dan total pemakaian solar oleh setiap nelayan di Kabupaten Aceh Besar
berdasarkan kecamatan.
No.
Kecamatan
Jumlah
Waktu/trip Harga beli
Jumlah
Total
Trip/bulan
(Jam)
BBM/L
BBM/ trip
BBM/bulan (L)
(Rp)
(L)
1.
Baitussalam
11.5
62.67
5,150
150.56
1,080
2.
3.
Leupung
24
11.7
4,500
84.43
2,026
Lhoknga
24
10
5,125
91.88
2,205
4.
Mesjid Raya
24
12
5,000
18.75
450
5.
Seulimum
38.4
7.2
6,000
9.2
422
Rerata
24.4
20.7
5,155
71.0
1,237
No.
Tabel 3. Penerimaan subsidi rerata per bulan nelayan di Kabupaten Aceh Besar berdasarkan kecamatan.
Total
Harga solar
Total pembelian
Pembelian pada
pemakaian
Subsidi/Bulan
Kecamatan
non-subsidi
per bulan pada
harga non-subsidi
per bulan
(Rp)
(Rp)
harga subsidi (Rp)
(Rp)
(L)
1.
Baitussalam
1,080
9,685
5,562,000
10,459,800
4,897,800
2.
Leupung
2,026
9,685
9,118,285.714
19,624,577.14
10,506,291.43
3.
Lhoknga
2,205
9,685
11,300,625
21,355,425
10,054,800
4.
Mesjid Raya
450
9,685
2,250,000
4,358,250
2,108,250
5.
Seulimum
422
9,685
2,534,400
4,090,944
1,556,544
1,237
9,685
6,153,062
11,977,799
5,824,737
Rerata
110
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Table 4. Analisis biaya pada harga BBM subsisi dan non-subsidi nelayan di Kabupaten Aceh Besar
No.
Kecamatan
1.
2.
3.
4.
5.
Baitussalam
Leupung
Lhoknga
Mesjid Raya
Seulimum
Rerata
Biaya
Operasional/trip
dengan BBM
subsidi (Rp)
1,793,710
940,475
653,625
154,771
96,200
727,756
Biaya
Operasional/trip
dengan BBM
non-subsidi (Rp)
2,538,484
1,378,180
1,065,358
242,615
130,102
1,070,948
Pendapatan
rerata/trip
(Rp)
Keuntungan
dengan
subsidi (Rp)
Keuntungan/kerugi
an tanpa subsidi
(Rp)
3,350,000
2,528,000
1,050,000
201,500
130,000
1,451,900
1,556,290
1,587,525
396,375
46,729
33,800
3,620,719
811,516
1,149,820
-15,358
-41,115
-102
380,952
Tabel 4. Analasisi biaya pada harga BBM sudsidi dan non-subsidi nelayan di Kabupaten Aceh Besar
Gambar 2. Persepsi masyarakat nelayan terhadap hasil
tangkapan ikan.
Gambar 3. Persepsi masyarakat terhadap penyebab perubahan
hasil tangkapan ikan selama beberapa tahun terakhir.
Gambar 4. Beberapa kendala yang dihadapi oleh nelayan
Aceh Besar.
Gambar 5. Jenis pekerjaan sampingan yang ditekuni
oleh nelayan Kabupaten Aceh Besar
111
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Pada musim barat umumnya nelayan tidak melaut mereka menghabiskan waktunya di darat, sebagian memperbaiki
jaring atau kapal yang rusak dan sebagian lagi tidak melakukan apapun kegiatan yang produktif, hal ini disebabkan karena
sebagian besar (>45%) nelayan Aceh Besar tidak memiliki ketrampilan tambahan selain melaut (Gambar 5). Hal senada juga
dijumpai pada nelayan di Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya dimana lebih kurang 76% nelayan disana tidak memiliki
pekerjaan alternatif, dimana hampir 68% diantaranya menghabiskan waktunya berjam-jam di warung kopi dan hanya 24%
saja menggunakan waktu senggangnya untuk kegiatan produktif (Mussawir, 2009).
Dalam masa sulit seperti itu umumnya nelayan mengandalkan pinjaman (berhutang) kepada toke bangku (tengkulak)
dengan imbalan hasil tangkapan mereka harus dijual kepada toke bangku berkenaan, kondisi ini menyebabkan mereka selalu
terjerat dan sulit melepaskan diri dari sistim ijon tersebut. Oleh karena itu dimasa depan program insentif perikanan Aceh
Besar untuk sektor perikanan tangkap harus diarahkan untuk peningkatan kapasitas nelayan terutama introduksi dan
diversifikasi ketrampilan yang produktif baik untuk nelayan maupun untuk keluarga mereka. Oleh karena itu lebih dari 50%
responden menyatakan bahwa usaha perikanan tangkap dimasa depan akan semakin sulit (Gambar 6).
Gambar 6. Persepsi nelayan responden terhadap kondisi perikanan
tangkap dimasa depan.
Kesimpulan
Nelayan di Kabupaten Aceh Besar belum menikmati subsidi BBM secara maksimal karena mereka umumnya harus
membeli BBM diatas harga resmi pemerintah. Biaya operasional per trip rata-rata nelayan di Kabupaten Aceh Besar lebih
kurang Rp700.000, dimana biaya operasional terendah didapati pada nelayan di Kecamatan Seulimum (Rp96.200 per trip) dan
tertinggi di Kecamatan Baitussalam (Rp1,793,710). Komponen BBM merupakan komponen terbesar dalam kegiatan
penangkapan ikan nelayan Aceh Besar yaitu berkisar 40%-73% (rata-rata adalah 57.9%) dari total biaya operasional. Proporsi
pemakaian BBM terendah dijumpai pada nelayan di Kecamatan Baitussalam dan tertinggi pada nelayan Lhoknga. Rerata
nelayan di Kabupaten Aceh Besar menghabiskan BBM sebanyak 1,237 liter per bulan, dengan total jumlah subsidi yang
diterima adalah Rp 5,824,737 per orang setiap bulan. Jika subsidi BBM dicabut maka pendapatan nelayan rerata menurut
89.5%. Oleh karena itu, subsidi BBM untuk nelayan perlu dipertahankan dan kedepan pengadaan stasiun pengisian BBM
disetiap pusat-pusat nelayan perlu dipertimbangkan. Sebagian besar nelayan Aceh Besar juga tidak memiliki keterampilan
tambahan selain melaut. oleh sebab itu, dimasa depan program insentif perikanan Aceh Besar untuk sektor perikanan tangkap
harus diarahkan untuk peningkatan kapasitas nelayan terutama introduksi dan diversifikasi ketrampilan yang produktif baik
untuk nelayan maupun untuk keluarga mereka.
Ucapatan Terima Kasih
Penelitian ini didanai oleh The World Wildlife Fund (WWF bekerjasama dengan Jaringan Kualisi untuk Laut Aceh
(Kuala) dan Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih
kepada pihak penyandang dana dan semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka
Antara News. 2006. Goverment provides subsidized fuel supply for fishermen. Antara News, www.antara.co.id/en/. Tanggal
akses 20 Agustus 2006.
Antara News. 2012. Subsidi BBM membengkak sampai Rp234,2 triliu. http://www.antaranews.com/berita/309074/subsidibbm-membengkak-sampai-rp2342-triliun. Tanggal akses 18 Agustus 2012.
112
Depik, 1(2): 107-113
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
DKP Aceh Besar. 2010. Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Besar Tahun 2010. Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Aceh Besar, Jantho.
Ghofar, A., D.K. Schoor, A. Halim. 2008. Selected Indonesian fisheries subsidies: quantitative and qualitative assessment of
policy coherence and effectiveness. The Nature Conservation – Coral Triangle, Bali.
Handoko, R. and P. Patriadi. 2005. Evaluasi subsidi Non BBM. Kajian Ekonomi dan Keuangan, 9(4): 42-64.
Badan Pusat Statistik. 2012. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1dandaftar=1danid_subyek=23dannotab=1.
Tanggal akses, 18 Agustus 2012.
Hermawan, M.. 2006. Keberlanjutan perikanan tangkap skala K=kecil : Studi perikanan pantai di Serang dan Tegal. Disertasi,
Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Muchlisin, Z.A., M. Nazir dan Musri Musman. 2012. Pemetaan potensi daerah untuk pengembangan kawasan minapolitan di
beberapa lokasi dalam Provinsi Aceh: suatu kajian awal. Depik, 1(1): 68-77.
Mussawir. 2009. Analisis masalah kemiskinan nelayan tradisional di Desa Padang Panjang Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh
Barat Daya. Thesis Magister, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumetera Utara, Medan.
Sumaila, U.R., L. Teh, R. Watson, P. Tyedmers, D. Pauly. 2008. Fuel price increase, subsidies, overcapacity, and resource
sustainability. Journal of Marine Science, 65: 832–840.
Wikaniati, 2011. Analisis kebijakan pemberian subsidi perikanan (solar) terhadap kelestarian sumberdaya ikan teri nasi dan
pendapatan nelayan payang gemplo (Kasus TPI Wonokerto, Kabupaten Pekalongan). Skripsi Sarjana, Fakultas Ekonomi
dan Manejemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Yusuf, Q. 2003. Empowerment of panglima laot in Aceh. International workshop on Marine Science and Resource. Banda
Aceh, 11-13 March, 2003.
Zulham, A. 2005. Implementasi kebijakan subsidi perikanan pada pengembangan perikana tangkap. Thesis Magister, Sekolah
Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
113
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Keragaman ikan karang di perairan Pulau Makian Provinsi Maluku Utara
Diversity of reef fish at waters of Makian Island in North Maluku
Najamuddin1*, Samar Ishak2, Adityawan Ahmad1
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Khairun, Ternate 95778. 2Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Stasiun Penelitian Lapangan, Ternate. Email korespondensi: [email protected]
1
Abstract.. The objective of the present study was to identify and evaluate reef fish community structure at Makian Island. Sampling was
conducted in two stations at coordinate position of 00º.22’15.75”N -127 º.25’12.00”E to 00 º.22’7.90”N - 127 º.25’17.40”E with two
different depths i.e. 5 meters and 10 meters. Coral reef data were collected using line intercept transect method, while the reef fish data were taken
using a census visual method. A total of 138 species of coral reef fishes were recorded during the survey belong to 47 genera and 21 families. The
fish diversity on station 1 for both depths (5 meters and 10 meters) were a medium level, while on station 2 at 5 meters water depth was also a
medium category, but a higher diversity was detected at 10 meters depth. The percentage coral covers on station 1 at 5 meters depth was a medium
level, at 10 meters depth was classified as high covered, while on station 2 at 5 meters and 10 meters depth were classified very high percent covers.
Key words: Diversity, coral, percent covers, and line intercept transect
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis struktur komuntas ikan karang di perairan pantai
Pulau Makian. Pengambilan data dilakukan pada dua titik pengamatan yaitu pada posisi geografis 00.22’15.75” LU127.25’12.00” BT dan 00.22’7.90” LU - 127.25’17.40” BT dengan dua kedalaman berbeda yaitu pada kedalaman 5 meter
dan 10 meter. Metode pengumpulan data karang dilakukan dengan transek garis, sedang pengamatan ikan karang dilakukan
dengan metode sensus visual. Hasil identifikasi ditemukan sebanyak 138 spesies yang tergolong dalam 47 genus dan 21
famili. Keragaman ikan karang pada stasiun 1 pada kedua kedalaman (5 meter dan 10 meter) tergolong sedang sedang dan
pada stasiun 2 pada kedalaman 5 meter juga menunjukkan keanekaragaman sedang, sedangkan pada kedalaman 10 meter
menunjukkan keanekaragaman tinggi. Persentase tutupan karang di stasiun 1 pada kedalaman 5 meter tergolong cukup,
kedalaman 10 meter tergolong tinggi dan stasiun 2 pada kedalaman 5 meter dan 10 meter tergolong sangat tinggi.
Kata kunci: Keragaman, karang, persen tutupan, dan transek garis
Pendahuluan
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan tropik, dengan keanekaragaman jenis biota yang
tinggi. Biota yang hidup di terumbu karang merupakan suatu komunitas yang terdiri dari berbagai tingkatan tropik, dimana
masing-masing komponen dalam komunitas ini saling tergantung satu sama lain, sehingga membentuk suatu ekosistem yang
lengkap. Salah satu jenis biota yang hidup di terumbu karang adalah ikan karang, yang umumnya memiliki tingkat
keanekaragaman jenis yang tinggi pada ekosistem tersebut (Odum, 1993).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan ikan karang dipengaruhi oleh kondisi terumbu karang,
dimana pada daerah yang terlindung (leeward) dan daerah terbuka (windward) biasanya terdapat terumbu karang yang
mempunyai struktur morfologi yang berbeda. Allen et al. (2003) menyatakan bahwa dari perkiraan 12.000 spesies ikan laut
dunia, kurang lebih 7.000 spesies (58,3%) merupakan ikan yang hidup didaerah terumbu karang. Selanjutnya dikatakan
bahwa wilayah antara bagian utara dan selatan Sulawesi hingga ujung barat Papua termasuk kepulaun Raja Ampat dan
Halmahera merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi, terutama untuk karang dan ikan karang (Allen,
2005). Komunitas ikan karang ditemukan beragam disetiap perairan dan kawasan. Terumbu karang yang jauh dari
pemukiman umumnya memiliki kondisi relatif baik dibandingkan dengan yang dekat pemukiman akibat tekanan dari
aktifitas masyarakat (Suharsono, 2007).
Perairan pantai Pulau Makian, yang secara administratif termasuk wilayah pemerintahan Kabupaten Halmahera
Selatan, Provinsi Maluku Utara memiliki ekosistem terumbu karang dengan berbagai jenis ikan yang berasosiasi dengannya,
diharapkan potensi ini dapat dimanfaatkan secara bijak guna mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Namun berapa besar potensi terumbu karang dan biota yang berasosiasi di dalamnya khususnya komuntas ikan karang
belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan dengan harapan hasilnya dapat menjadi dasar dalam
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan karang secara berkelanjutan.
Bahan dan Metode
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2011 di perairan pantai Pulau Makian Kabupaten Halmahera Selatan,
Provinsi Maluku Utara (Gambar 1). Pengambilan data dilakukan pada dua stasiun yaitu pada posisi geografis 00.22’15.75”
LU-127.25’12.00” BT (stasiun 1) dan 00.22’7.90” LU - 127.25’17.40” BT (stasiun 2) dengan dua kedalaman berbeda yaitu
pada kedalaman 5 m dan 10 m. Penentuan dua stasiun didasarkan pada keterwakilan kondisi perairan dimana stasiun 1
terletak dekat dengan pemukiman sedang stasiun 2 jauh dari pemukiman.
114
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Prosedur pengambilan data
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan peralatan selam scuba. Data yang diambil yaitu karang tutupan
karang dan keragaman jenis ikan karang. Data karang diambil berdasarkan bentuk tutupan karang (life form) dengan
menggunakan metode transek garis (line intercept transect) sedangkan data ikan karang diambil dengan menggunakan sensus
visual (underwater census visual) (English et al., 1997). Panjang garis transek yang digunakan adalah 50 meter. Pengamatan
dilakukan pada dua kedalaman berbeda yaitu kedalaman 5 m dan 10 m.
Analisis data
Persentase tutupan karang
Persen tutupan karang dihitung mengikuti
formula yang diajukan oleh English et al. (1997) sebagai
berikut:
C
a
X 100%
A
Dimana: C = Persentase tutupan karang, a = Panjang
transek life form ke-I, A = Panjang total transek.
Dengan kriteria persentase tutupan karang:
76% - 100% = sangat tinggi
51% - 75% = tinggi
31% - 50% = sedang
11% - 30% = rendah
0% - 10% = sangat rendah
Indek keragaman
Indeks keragaman jenis ikan dihitung mengikuti Ludwig
n
dan Reynolds (1988):
ni
ni
H'
(
i
1
N
) Ln (
N
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian
)
Dimana: ni = Jumlah individu jenis ke-I, N = Jumlah individu seluruh jenis, ni = Jumlah individu jenis ke-i, H' =
Indeks keanekaragaman jenis. Dengan kriteria sebagai berikut:
H‘ < 1 = Keanekaragaman rendah
1 ≤ H‘≤ 3 = Keanekaragaman sedang
H‘ > 3 = Keanekaragaman
Indeks kemerataan
Indek kemerataan jenis dihitung berdasarkan Krebs (1989):
H'
H max
E
Dimana: H’ = Indeks keanekaragaman, H max = ln s, S = Jumlah seluruh individu. Dengan kreteria sebagai berikut:
> 0,81 : penyebaran jenis sangat merata
0,61-0,81 : penyebaran jenis lebih merata
0,41-0,60 : penyebaran jenis merata
0,21-0,40 : penyebaran jenis cukup merata
< 0,21 : penyebaran jenis tidak merata
Indeks dominasi
Indek dominansi jenis dihitung dengan rumus:
s
D
i 1
ni
N
2
Dimana: D = Indeks dominansi jenis, Ni = jumlah individu jenis ke-i, N = jumlah total individu . Nilai indeks dominansi
berkisar antara 0-1, dimana:
D
0, artinya tidak terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam
keadaan stabil.
D 1, artinya terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya atau struktur komunitas labil.
Hubungan keanekaragaman ikan karang dengan tutupan karang
Hubungan keanekaragaman ikan karang dengan persentase tutupan karang dianalisis dengan persamaan regresi linier
sederhana (Sarwono, 2006) dengan persamaan:
Y = a + bx
Dimana: Y = Keanekaragaman ikan karang, x = Persentase tutupan karang, a = intercept, dan b = slope. Kriteria
hubungan berdasarkan nilai koefisien regresi:
100 % = hubungan sempurna
> 75 % – 99 % = hubungan sangat kuat
> 50 % – 75 % = hubungan kuat
115
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
> 25 % – 50 % = hubungan cukup
> 0 % – 25 % = hubungan sangat lemah
0 % = tidak ada hubungan
Hasil dan Pembahasan
Komposis jenis ikan karang
Jumlah ikan karang yang tercatat dari hasil sensus visual di perairan pantai Pulau Makian sebanyak 138 spesies,
tergolong dalam 47 genus dan 21 famili dengan total individu sebanyak 2.404 ekor. Pada stasiun 1 di kedalaman 5 meter
tercatat sebanyak 19 spesies dan di kedalaman 10 meter tercatat sebanyak 9 spesies. Pada stasiun 2 di kedalaman 5 meter
tercatat sebanyak 42 spesies dan di kedalaman 10 meter tercatat sebanyak 68 spesies. Hasil pengamatan disajikan pada Tabel
1 dan Tabel 2.
Kondisi stasiun 1 yang letaknya cukup dekat dengan pemukiman penduduk dan pelabuhan menyebabkan kondisi
karang di stasiun ini mendapatkan tekanan lingkungan cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap komposisi ikan karang
yang ditemukan yang relatif lebih sedikit dibanding pada stasiun 2. Komposisi ikan karang di stasiun 1 terdiri 8 family, 14
genus dan 28 spesies.
Topografi di stasiun 1 terdiri dari rataan terumbu (reef flat) pada kedalaman 2 - 5 meter kemudian reef slope sampai
kedalaman 15 meter. Aktifitas masyarakat di Pulau Makian tidak jauh beda dengan kehidupan masyarakat pesisir pada
umumnya di Maluku Utara yaitu sebagai petani kebun dan nelayan. Transportasi laut dan perikanan sangat menonjol, hal ini
dapat dilihat dengan adanya sarana pelabuhan yang dipadati dengan speed boat, perahu dan kapal penangkapan ikan yang
berlabuh di sepanjang areal pelabuhan. Dampak aktivitas masyarakat tersebut memberikan pengaruh terhadap terjadinya
perubahan kualitas lingkungan perairan yang kemudian secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi
pertumbuhan dan kelangsungan hidup karang dan ikan karang.
Tabel 1. Komposisi jenis ikan karang pada stasiun 1
Family
Cirrihitidae
Pomacentridae
Genus
Spesies
Cirrihitichthys
Amphiprion
Ablyglyphidodon
Abudefduf
Chromis
Acanthuridae
Caesionidae
Labridae
Mullidae
Nemipteridae
Chaetodontidae
Dascyllus
Pomacentrus
Zebrasoma
Pterocaesio
Halichoeres
Thallassoma
Parupeneus
Scolopsis
Chaetodon
Cirrihitichthys oxycephalus
Amphiprion ocellaris
A. perideraion
A. clarkii
Ablyglyphidodon aureus
A. curacao
Abudefduf sexfasciatus
A. vaigiensis
Chromis viridis
C. ternatensis
Dascyllus trimaculatus
Pomacentrus coelestis
Zebrasoma scopas
Pterocaesio tile
Halichoeres melanurus
Thallassoma lunure
Parupeneus multifascitus
Scolopsis bilineatus
Chaetodon kleinii
C. lunula
C. trifasciatus
C. vagabundus
Jumlah
Kedalaman
5 meter
10 meter
(jumlah
(jumlah
individu)
individu)
1
4
2
2
2
50
20
10
20
50
50
100
20
10
10
10
10
100
2
2
5
5
2
2
2
6
2
1
311
189
Kondisi umum stasiun 2 agak berbeda dengan stasiun 1, dimana pusat pemukiman penduduk cukup jauh dari stasiun
2 sehingga aktivitas masyarakat seperti transportasi laut, pelabuhan yang dipadati dengan speed boat, perahu dan kapal
penangkapan ikan yang bertambat di sepanjang areal pelabuhan sehingga pada stasiun 2 tidak ada tekanan perubahan
lingkungan yang dapat mengganggu dan merusak ekosistem karang. Ikan karang memberikan respons terhadap struktur
habitat, yang akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahannya. Oleh karena terumbu karang pada stasiun terlihat
perbedaan nyata dimana komposisi jenis ikan karang pada stasiun 2 cukup melimpah dibanding pada stasiun 1.
Walaupun ekosistem habitat kehidupan karang terlihat stabil, tidak berubah, namun sebenarnya terjadi perubahan
dari waktu ke waktu. Karang dapat mati dan tumbuh dalam suatu keseimbangan yang dinamis (dynamic equilibrium). Dalam
habitat kehidupan karang terjadi persaingan ruang hidup dan penyesuaian (proses adaptasi) yang terus menerus terhadap
116
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
dinamika perubahan faktor lingkungan habitat tersebut. Karang dapat berubah atau mati karena pengaruh gelombang besar
atau ulah manusia. Namun perubahan atau gangguan yang kecil dapat berpengaruh baik bagi perkembangan karang dan
penting untuk perkembangan keanekaragaman jenis dan koloni karang.
Habitat karang dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi merupakan tempat hidup, tempat mencari makan (feeding
ground), daerah asuhan (nursery ground) dan tempat memijah (spawning ground) untuk berbagai ikan karang. Terumbu karang
selain menjadi barier alami, penahan gelombang dari tengah laut, untuk pesisir pantai menyebabkan pula berkembangnya
kehidupan ikan-ikan karang yang beraneka ragam jenisnya. Keberadaan ikan-ikan kecil mengundang ikan yang lebih besar
untuk hidup dan mencari makan di tempat tersebut. Terumbu karang merupakan tempat pembiakan ikan dan menjadi
tempat berlindung serta mencari makan baik bagi pemakan plankton maupun bagi ikan predator. Semakin berkembang
habitat karang semakin banyak pula populasi dan jenis ikan yang ada di sekitarnya.
Tabel 2. Komposisi jenis ikan karang pada stasiun 2
Family
Genus
Spesies
Apogonidae
Apogon
Anthiinae
Pseudanthias
Cirrihitidae
Cirrihitichthys
Paracirrhites
Engraulidae
Pomacentridae
Stolephorus
Amphiprion
Apogon fleurieu
Archamia fucata
Pseudanthias huchtii
P. tuka
Cirrihitichthys oxycephalus
Paracirrhites arcatus
P. forsteri
Stolephorus heterolubus
Amphiprion ocellaris
A. perideraion
A. clarkia
A. frenatus
Premnas biaculeatus
Ablyglyphidodon leucogaster
A. aureus
A. curacao
Abudefduf sexfasciatus
A. vaigiensis
Chromis analis
C. caudalis
C. opercularis
C. viridis
C. retrofasciata
C. ternatensis
Dascyllus trimaculatus
D. reticulatus
Neoglyphidodon nigoris
Pomacentrus nigromarginatus
P. coelestis
P. auriventris
P. moluccensis
Genicanthus lamarck
Pygoplites diacanthus
Pomacanthus imperator
P. sexstiatus
P. navarchus
Pseudochromis splendens
Zanclus cornutus
Acanthurus lineatus
A. auranticavus
Naso caeruleacudus
Zebrasoma scopas
Caesio lunaris
Pterocaesio tile
Caranx melampygus
Platax pinnatus
Plectorhinchus polytaenia
P. chaetodonoides
P. lineatus
Myrpristis berndti
M. amaena
Sargocentron caudimaculatum
Anampes caeruleopunctatus
Cheilinus undulates
C.celebicus
Coris gaimard
Halichoeres melanurus
Premnas
Ablyglyphidodon
Abudefduf
Chromis
Dascyllus
Pomacentrus
Pomacanthidae
Genicanthus
Pygoplites
Pomacanthus
Pseudochromidae
Zanclidae
Acanthuridae
Pseudochromis
Zanclus
Acanthurus
Carangidae
Ephippidae
Haemullidae
Naso
Zebrasoma
Caesio
Pterocaesio
Caranx
Platax
Plectorhinchus
Holocentridae
Myrpristis
Labridae
Sargocentron
Anampes
Cheilinus
Caesionidae
Coris
Halichoeres
117
Kedalaman
5 meter
10 meter
(jumlah
jumlah
individu)
individu)
50
100
50
50
50
4
2
1
200
4
4
2
4
4
1
1
1
1
50
50
50
10
20
10
20
20
50
100
20
50
20
50
20
10
20
20
10
100
10
2
2
5
1
3
1
5
2
5
10
5
50
10
20
15
50
150
3
5
10
2
2
10
10
10
2
3
2
2
2
-
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Lanjutan Tabel 2…
Labroides
Labrichthys
Thalassoma
Lutjanus
Lutjanidae
Labroides dimidiatus
Labrichthys unilineatus
Thalassoma lunare
Lutjanus kasmira
L. deccusatus
Macolor macularis
M. niger
Parupeneus multifascitus
P. bifasciatus
Scolopsis bilineatus
Cephalopholis miniata
C. cyanostigma
Epinephelus polyphekadion
E. merra
E. fasciatus
Anyperodon leucogrammicus
Siganus vulpinus
Chaetodon lineolatus
C. kleinii
C. lunulatus
C. trifasciatus
C. baronessa
C. speculum
C. vagabundus
C. bennetti
C. rafflesii
C. triangulum
C. punctatofasciatus
Forcipiger flavissimus
Heniochus varius
H. pleorataenia
Macolor
Mullidae
Parupeneus
Nemipteridae
Serranidae
Scolopsis
Cephalopholis
Epinephelus
Anyperodon
Siganus
Chaetodon
Siganidae
Chaetodontidae
Forcipiger
Heniochus
2
10
2
5
1
2
1
1
4
4
2
2
642
Jumlah
2
3
2
5
10
10
20
5
4
10
2
1
1
1
4
6
10
2
6
4
2
4
2
2
2
4
4
2
1.262
Kelompok ikan karang
Komposisi ikan karang dapat pula dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu kelompok ikan mayor, ikan target, dan
ikan indikator. Kelompok ikan major umumnya hidup dalam kelompok besar (schooling fish) dan banyak terdapat di
daerah terumbu karang yang memiliki tipe terumbu karang bercabang. Kelompok ikan target merupakan ikan konsumsi atau
ikan ekonomis penting yang hidup berasosiasi kuat dengan perairan. Kelompok ikan indikator umumnya hidup soliter dan
merupakan jenis-jenis ikan yang umumnya digunakan sebagai indikator bagi kesehatan ekosistem terumbu. Hasil
pengelompokan spesies ikan karang yang temukan di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 3.
Hasil pengelompokan ikan karang di lokasi penelitian ditemukan kelompok ikan major dengan jumlah spesies
terbesar yaitu sebanyak 65 spesies yang didominasi oleh spesies Chromis ternatensis dan Chromis viridis. Kelompok ikan target
sebanyak 50 spesies yang didominasi oleh spesies Pterocaesio tile dan kelompok ikan indikator sebanyak 23 spesies yang
sebagian besar adalah spesies Chaetodon trifasciatus dan Chaetodon kleinii. Tingginya kelimpahan spesies ikan major di lokasi
penelitian karena kondisi terumbu karang di perairan pantai Pulau Makian umumnya berupa tipe terumbu karang bercabang.
Hal ini sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan (Lieske and Myers, 2001) bahwa umumnya kelompok ikan major hidup
dalam kelompok besar (schooling fish) dan banyak terdapat di daerah terumbu karang yang memiliki tipe terumbu karang
bercabang.
Tabel 3. Hasil Pengelompokan Spesies Ikan Karang di Perairan Pantai Pulau Makian.
Stasiun 1
Stasiun 2
Jumlah
Kelompok Ikan Karang
Spesies
5 meter
10 meter
5 meter
10 meter
Ikan Major
12
3
24
26
65
Ikan Target
5
2
14
29
50
Ikan Indikator
2
4
4
13
23
Total
138
Struktur komunitas ikan karang
Hasil analisis komunitas ikan karang di perairan pantai Pulau Makian yang terdiri dari indeks keanekaragaman,
kemerataan, dan dominasi spesies disajikan pada Tabel 4.
118
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Tabel 4. Hasil analisis komunitas ikan karang di perairan Pantai Pulau Makian
Stasiun
Pengamatan
Indeks Keanekaragaman
5 meter
10 meter
Indeks Kemerataan
5 meter
10 meter
Indeks Dominasi
5 meter
10 meter
Stasiun 1
2.19
1.30
0.38
0.25
0.17
0.36
Stasiun 2
2.84
3.27
0.44
0.46
0.08
0.07
Pada stasiun 1 indeks keanekaragaman jenis ikan karang masuk dalam kriteria keanekaragaman sedang dengan pola
penyebaran jenis cukup merata dan tidak ada yang dominan. Pada stasiun 2 terdapat perbedaan indeks keanekaragaman di
kedalaman 5 meter dan 10 meter, dimana pada kedalaman 5 meter keankeragaman ikan karang masuk kriteria
keanekaragaman sedang dan pada kedalaman 10 meter masuk dalam kriteria keanekaragaman tinggi. Adapun indeks
kemerataan dan dominasi diperoleh pola penyebaran jenis merata dan tidak ada yang dominan.
Persentase tutupan karang
Analisis persentase tutupan karang dilakukan berdasarkan penilaian terhadap bentuk pertumbuhan karang (life form)
di perairan pantai Pulau Makian hasilnya disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Persentase tutupan karang di perairan pantai Pulau Makian
Stasiun 1
Stasiun 2
Bentuk Pertumbuhan
5 meter
10 meter
5 meter
10 meter
Coral
45.0
52.8
79.6
86.6
Sponge
3.4
0.8
15.2
10.0
Algae
1.6
0.8
-
-
Dead coral
0.8
-
-
0.6
Abiotik
49.2
45.6
5.2
2.8
Total
100
100
100
100
Persentase total tutupan karang hidup tertinggi diperoleh pada stasiun 2 di kedalaman 10 meter berkisar 86,6 % dan
kedalaman 5 meter 79,6% yang masuk dalam kriteria sangat tinggi, sedangkan pada stasiun 1 di kedalaman 10 meter 53%
masuk kriteria tinggi dan kedalaman 5 meter 45,0% tergolong kriteria sedang. Kategori other benthic tercatat bentuk sponge
pada stasiun 2 di kedalaman 5 meter yaitu 15,2% (kategori rendah) dan kedalaman 10 meter 10,0 % (kategori sangat
rendah), pada stasiun 1 di kedalaman 5 meter yaitu 3,4% (kategori sangat rendah) dan kedalaman 10 meter 0,8% (kategori
sangat rendah).
Komponen abiotik lain yang terdiri dari karang mati (dead coral) hanya tercatat pada stasiun 2 di kedalaman 10 meter
yaitu 0,6% (kategori sangat rendah), sedangkan dead coral with alga (DCA) hanya tercatat di kedalaman 5 meter pada stasiun 1
yaitu 0,8% (kategori sangat rendah). Pecahan karang (rubble) tercatat pada stasiun 1 di kedalaman 5 meter yaitu 0,8%
(kategori sangat rendah) dan kedalaman 10 meter yaitu 4 % (sangat rendah), sedangkan pada stasiun 2 di kedalaman 5 meter
yaitu 1,6% (kategori sangat rendah) dan kedalaman 10 meter yaitu 0,2% (kategori sangat rendah). Pasir (sand) hanya tercatat
pada stasiun 2 di kedalaman 5 meter yaitu 3,6% (kategori sangat rendah) dan kedalaman 10 meter yaitu 2,6% (kategori
sangat rendah). Sedangkan lumpur (silt) hanya tercatat pada stasiun 1 di kedalaman 5 meter yaitu 48,4% (kategori tinggi) dan
kedalaman 10 meter yaitu 41,6% (kategori sedang). Bentuk tutupan karang yang mendominasi di stasiun 1 yaitu Acropora
branching, Coral foliose dan Acropora submassive. Sedangkan pada stasiun 2 yaitu Acropora tabulate, Coral millepora, Coral mushroom,
Acropora submassive, Acropora branching, dan Acropora digitate.
Hubungan keanekaragaman ikan karang dan tutupan karang
Hubungan keanekaragaman ikan karang dengan persentase tutupan karang dianalisis berdasarkan pengelompokan
jenis ikan karang dalam 3 kelompok yaitu ikan major, ikan target, dan ikan indikator. Hasil analisis hubungannya dilakukan
dengan pendekatan persamaan regresi linier sederhana. Analisis hubungan keanekaragaman jenis ikan major terhadap
persentase tutupan karang diperoleh nilai persamaan regresinya Y = 40.53+37.59x dengan nilai koefisien regresi R 2 = 0,787
atau 78,7%. Dengan demikian hubungannya sangat kuat. Hubungan keanekaragaman jenis ikan target terhadap persentase
tutupan karang diperoleh nilai persamaan regresinya Y = 52.29+51.23x dengan nilai koefisien regresi R 2 = 0,547 atau 54,7%
yang artinya bahwa terdapat hubungan yang kuat. Adapun hasil analisis regresi hubungan antara keanekaragaman jenis ikan
indikator terhadap persentase tutupan karang diperoleh persamaan regresinya Y = 52.03+279.3x dengan nilai koefisien
regresi R2 = 0,547 atau 54,7% berarti menunjukkan hubungan yang kuat pula.
119
Depik, 1(2): 114-120
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Tabel 6. Hasil analisis keanekaragaman kelompok ikan karang dan persentase penutupan karang
Indeks Keanekaragaman
Persentase
Titik
Tutupan
Kedalaman
Pengamatan
Ikan Major
Ikan Target
Ikan Indikator
Karang
5 meter
0.47
0.06
0.02
45,0
Stasiun 1
10 meter
0.13
0.16
0.02
52,8
Stasiun 2
5 meter
0.89
0.15
0.03
79,6
10 meter
1.22
0.70
0.13
86,6
Pola hubungan yang diperoleh bahwa keberadaan terumbu karang yang baik berperan penting bagi keragaman dan
kelimpahan ikan karang seperti spawning, nursery, feeding, shelter. Wooton, 1992 mengemukakan bahwa sejumlah spesies ikan
karang akan memilih habitat terumbu karang yang baik yang mampu mendukung kelangsungan hidupnya.
Hal senada dikemukakan oleh Allen et al. (2003), bahwa sejumlah besar spesies ikan karang yang ditemukan pada
ekosistem terumbu karang adalah refleksi langsung dari besarnya kesempatan yang diberikan oleh habitat terumbu karang.
Ikan karang akan memberikan respons terhadap struktur habitat, yang akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahannya.
Interaksi spesisifk spesies ikan karang untuk berlindung di terumbu karang telah menjadikan komunitas ikan karang
memiliki variasi yang tinggi. Walaupun beberapa spesies ikan karang muncul pada sebaran bervariasi dari tipe dasar perairan.
Kesimpulan
Komposisi spesies ikan karang yang teridentifikasi di perairan pantai Pulau Makian terdiri dari 138 spesies, 47 genus
dan 21 famili dengan tingkat keragaman pada stasiun 1 tergolong sedang dan pada stasiun 2 di kedalaman 5 meter tergolong
sedang dan di kedalaman 10 meter tergolong keanekaragaman tinggi. Persentase tutupan karang di stasiun 1 pada kedalaman
5 meter tergolong sedang dan kedalaman 10 meter tergolong tinggi. Stasiun 2 pada kedalaman 5 meter dan 10 meter
persentase tutupan karang sangat tinggi.
Daftar Pustaka
Allen, G. R., R. Steene, P. Humann, N. Deloach. 2003. Reef fish identification tropical pacific. New World Publication, Inc.
Jacksonville, Frorida USA.
Allen, G.R. 2005. Coral Reef Fishes of Southwestern Halmahera, Indonesia. Report of Halmahera Survey, 2005.
English, S., C. Wilkinson, V. Baker. 1997. Survey manual for tropical marine resources. Australian Institute of Marine
Science, Townsvile.
Krebs, C. J. 1989. Ecological methodology. Harper dan Row Pub., New York.
Lieske, E., R. Myers. 2001. Reef fishes of the world. Periplus, Singapore.
Ludwig, J.A., J.F. Reynolds. 1988. Statistical ecology. A primer on methods and computing. Jhon Wiley dan Son, New York.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar ekologi. Terjemahan: S. Samingan (edisi ketiga) Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.
Sarwono. 2006. Metode penelitian kualitatif, mengenal analisis korelasi. http://www.jonathansarwono.com. Diakses pada
tanggal 10 Juli 2011.
Suharsono. 2007. Kondisi terumbu karang di Indonesia. http://www.antaranews.com. Diakses pada tanggal 3 Desember
2010.
Wooton, R.J. 1992. Tertiary level biology : Fish ecology. Blackie. Glasgow and London. Chapman and Hall, New York.
120
Depik, 1(2): 121-124
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Uji selektivitas fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji putat air (Barringtonia
racemosa) terhadap ikan mujair (Oreochromis mossambicus)
The selektivity of Rf < 0.5 fraction of MeOH extract of putat air kernel’s
(Barringtonia racemosa) on tilapia (Oreochromis mossambicus)
Musri Musman*1, Sofia2, Adli Waliul Perdana1
1Jurusan
Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, 2Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda
Aceh 23111; *Email korespondensi: [email protected]
Abstract. The objective of the present study was to evaluate the selectivity of the R f < 0.5 fraction of MeOH extract of putat air kernels
(Barringtonia racemosa) on golden snail (Pomacea canaliculata) and tilapia (Oreochromis mossambicus). The research was conducted on
November 2011 to February 2012 at Chemical Laboratory of Teacher Training and Education Facultyand Marine Chemical Laboratory
of Coordinatorate of Marine and Fisheries of Syiah Kuala University. Thin-layer chromatography was used as the separation technique
towards component compounds in the extract samples. The research was used five levels concentration of Rf < 0.5 fraction of MeOH solution
(20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm) with three repetitions. Mortality rates of golden snails and tilapia were detected when they
were exposure to Rf < 0.5 fraction of MeOH extract of B. racemosa kernels. The data were analyzed by Probit, and selectivity value (S) was
calculated by Feng and Wang formula. The results revealed that Rf < 0.5 fraction of MeOH extract of putat air kernels was selective to
golden apple snails.
Key words: Thin-layer chromatography, mortality, Probit, and moluscida
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selektivitas fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji putat air (Barringtonia
racemosa) terhadap keong mas (Pomacea canaliculata) dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Penelitian telah dilakukan
pada bulan November 2011 sampai Februari 2012 di Laboratorium Kimia FKIP dan Laboratorium Kimia Laut
Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Kromatografi lapis tipis digunakan sebagai teknik
pemisahan komponen senyawaan dalam ekstrak cuplikan. Penelitian ini menggunakan lima konsentrasi Rf < 0.5 MeOH
yaitu 20, 40, 60 , 80, dan 100 ppm dengan tiga kali ulangan. Data mortalitas keong mas dan ikan mujair yang diperoleh
dari hasil pemberian fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji B. racemosa dianalisa dengan program Probit, sedangkan harga
selektivitas (S) diolah menggunakan formula Feng dan Wang. Penelitian ini mengindikasikan bahwa fraksi Rf < 0,5
ekstrak MeOH biji putat air selektif sebagai moluskosida terhadap keong mas.
Kata kunci: Kromatografi lapis tipis, kematian, Probit, dan moluskosida
Pendahuluan
Keong mas (Pomacea canaliculata) pada awal masuknya ke Indonesia untuk hewan hias dalam akuarium
(Hendarsih dan Kurniawati, 2009). Hewan ini sangat rakus sehingga membutuhkan biaya yang besar untuk
memeliharanya dan berkembang biak sangat cepat. Namun saat ini keong mas dapat dijumpai dengan mudah dialam
bebas dan hewan ini menjadi hama utama padi yang sangat merugikan para petani (Damborenea et al., 2006).
Sejak hama keong mas ini merebak, banyak cara sudah dilakukan untuk mengendalikan hama tersebut baik
secara mekanik seperti pemasangan perangkap telur maupun biologis dengan memungut langsung telur dan keong mas.
Petani-petani juga telah menggunakan pestisida sintesis di sawah untuk mengendalikan hama ini. Dalam penerapan di
bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida sintesis yang digunakan efektif membunuh hewan sasaran. Sa’id (1994)
menyatakan kurang lebih hanya 20% pestisida mengenai sasaran sedangkan 80% tidak efektif dan masuk dan
terakumulasi dalam tanah. Residu pestisida sintesis ini dapat memberikan efek samping, seperti terjadi pencemaran
lingkungan dan dapat menyebabkan kematian ikan-ikan dan hewan ternak lainnya di sawah (Suripto, 2009).
Saat ini para pakar mulai meneliti tumbuhan-tumbuhan yang dapat dijadikan pestisida alami untuk mencegah
terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pestisida sintetis. Beberapa tumbuhan tropis telah terbukti
mengandung senyawa anti moluska yang biasa disebut moluskosida. Kelompok senyawa asal tumbuhan yang telah
teridentifikasi aktif moluskosida adalah golongan saponin, tanin, alkaloid, dan flavonoid (Musman, 2009; Hui-Chi
Huanget al., 2003). Barringtonia racemosa atau putat air merupakan salah satu tumbuhan tropis yang mengandung senyawa
moluskosida dan telah diuji terhadap organisma keong mas (Musman, 2010). Biji tumbuhan ini mengandung saponin
dan flavonoid (Ojewole et al., 2005; Gowri et al., 2009). Dua senyawa ini memberikan efek yang signifikan terhadap
kematian keong mas (Musman, 2010).
Pada penelitian ini dilakukan pengujian selektivitas Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B. racemosa kepada
organisma lain yang ada di ekosistem sawah, salah satunya ikan mujair. Pemilihan ikan mujair dikarenakan ikan mujair
sering didapati hidup di areal persawahan terutama di saluran irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak metanol biji putat air (Barringtonia racemosa) terhadap keong mas (Pomacea
canaliculata) yang dibandingkan dengan ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Hasil penelitian ini diharapkan dapat
121
Depik, 1(2): 121-124
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
memberi informasi tentang penggunaan fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH dari biji B. racemosa sebagai racun keong mas
(Pomacea canaliculata) yang dibandingkan dengan ikan mujair (Oreochromis mossambicus).
Bahan dan Metode
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FKIP Universitas Syiah Kuala dan Kimia Laut Koordinatorat
Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai
Februari 2012.
Pengumpulan organisma uji
Organisma uji yang digunakan adalah keong mas (Pomacea canaliculata) yang diperoleh dari persawahan di desa
Tandjung Selamat, Aceh Besar dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) diperoleh dari Desa Penteut, Lhokseumawe.
Keong mas yang digunakan sebanyak 180 individu dengan panjang cangkang 2–3 cm, sedangkan ikan mujair yang
digunakan sebanyak 180 ekor dengan panjang total 3–4 cm.
Hidrolisa ekstrak MeOH biji B. racemosa
Ekstrak MeOH sebanyak 7,77 g dihidrolisa dengan 70 mL larutan HCl 4,87 M selama 3 jam, lalu didinginkan,
kemudian ditambahkan larutan NaOH 40% sebanyak 37,5 mL pada larutan tersebut. Produk hidrolisa diekstraksi
dengan 600 mL CHCl3, kemudian dievaporasi lapisan CHCl3 dengan rotary evaporator. Produk hidrolisa diperoleh
sebanyak 0,62 g.
Penentuan pelarut untuk hasil hidrolisa
Bilah pralapis silika gel disiapkan dengan ukuran 5 cm x 1 cm sebanyak 3 (tiga) bilah. Garis awal dan garis akhir
dibuat pada bilah yang telah disiapkan sebelumnya. Kelarutan produk hidrolisa diuji dengan tiga pelarut tunggal yaitu
Diklorometana, Metanol, dan Etil asetat. Produk hidrolisa yang telah dilarutkan kemudian ditotolkan pada garis awal
dengan pipet kapiler. Wadah kromatografi diisi dengan salah satu pelarut tunggal, kemudian wadah kromatografi ditutup
selama 2 menit untuk menjenuhkannya dengan pelarut, kemudian tutup wadah kromatografi dibuka. Bilah pralapis silika
gel yang telah ditotolkan produk hidrolisa dimasukkan ke dalam wadah kromatografi dengan menyangga pada dinding
wadah kromatografi. Bilah pralapis silika gel yang tercelup ke pelarut tidak boleh melewati garis awal. Wadah
kromatografi ditutup. Pengembangan pralapis silika gel dilakukan hingga pelarut mencapai garis akhir. Tutup wadah
kromatografi dibuka dan bilah pralapis silika gel dikeluarkan. Bilah pralapis silika gel dikeringkan dengan hair dryer.
Bilah pralapis silika gel yang telah kering tersebut disinari dengan sinar UV untuk melihat bercak noda, lalu bercak noda
ditandai dan dicatat warnanya. Keterpisahan noda diperiksa atas fraksi-fraksi berdasarkan nilai Rf. Bilah pralapis silika gel
yang telah ditandai nodanya disemprot dengan larutan kromatogenik (H2SO4). Kemudian bilah tersebut dipanaskan di
atas hot plate hingga muncul bercak berwarna, dan bercak warna tersebut ditandai dan dihitung nilai Rf –nya.
Fraksinasi produk hidrolisa
Pralapis silika gel disiapkan dengan ukuran 20x20 cm2. Garis awal dan garis akhir dibuat dengan pensil pada
pralapis silika gel. Dilarutkan sebanyak 0,62 g produk hidrolisa dalam pelarut metanol. Produk hidrolisa yang telah
dilarutkan ditotolkan pada garis awal. Pelarut yang telah disiapkan dituang ke dalam wadah kromatografi. Pada penelitian
ini pelarut yang baik untuk fraksinasi produk hidrolisa adalah etil asetat. Fraksinasi dilakukan hingga pelarut mencapai
garis akhir, setelah pelarut mencapai garis akhir pralapis silika gel dikeluarkan. Pralapis silika gel dikeringkan dengan hair
dryer. Pralapis yang telah kering tersebut disinari dengan sinar UV untuk melihat bercak noda. Bercak noda ditandai dan
dicatat warnanya, kemudian ditentukan nilai Rf pada masing-masing bercak noda. Pralapis silika gel dipotong dibahagian
kanannya seukuran 20x1 cm2 (akan digunakan sebagai rujukan kromatogenik).
Selanjutnya bilah pralapis silika gel disemprot dengan larutan kromatogenik, lalu dipanaskan di atas hot plate,
kemudian ditandai bercak yang muncul dan dihitung masing-masing nilai Rf –nya. Bercak yang muncul pada bilah
dibandingkan dengan pralapis silika gel dengan cara ditandai sesuai bercak pita yang muncul pada bilah. Silika gel sesuai
dengan zona pita yang telah ditandai dikerok dan dipisahkan kerokan silika gel yang memiliki harga R f < 0,5 dengan
kerokan silika gel yang memiliki harga R f ≥ 0,5 dalam gelas kimia. Selanjutnya masing-masing kerokan silika gel direndam
dalam pelarut etil asetat, kemudian disaring campuran dengan kertas saring Whatman No. 1. Larutan yang diperoleh
dikeringkan dengan rotary evaporator. Komponen ber-Rf < 0,5 ditimbang. Hasil yang diperoleh digunakan sebagai cuplikan
uji selektivitas.
Prosespencampuran ekstrak dalam wadah uji
Wadah uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium berukuran 45 cm x 30 cm x 35 cm sebanyak 36
unit. Ketinggian air dari dasar wadah adalah 10 cm (Musman, 2010). Ekstrak MeOH biji B. racemosa fraksi Rf < 0,5 dibuat
dalam beberapa larutan konsentrasi yaitu 20, 40, 60, 80, dan 100 ppm serta kontrol. Akuarium kaca diatur dalam 2
kelompok (keong mas dan ikan mujair) yang terdiri masing-masing 6 akuarium. Setiap kelompoknya dilakukan tiga kali
ulangan. Setiap akuarium kemudian diisi sebanyak 10 individu keong mas dan 10 ekor untuk ikan mujair. Organisma
yang akan diuji terlebih dahulu diaklimatisasi selama 30 menit agar organisma uji merasa nyaman dan dapat bergerak
bebas. Kelima jenis larutan konsentrasi tersebut kemudian dituangkan sebanyak 100 mL ke dalam masing-masing
akuarium yang telah berisi organisma uji (Musman et al., 2012).
Pengamatan kondisi dan mortalitas organisma uji
Pengujian keaktifan biologi ini dilakukan berdasarkan kaedah yang dianjurkan oleh FAO (Reish and Oshida,
1987). Pengamatan dilakukan setelah penuangan larutan ekstrak ke dalam akuarium organisma uji. Pengamatan ini
dilakukan untuk mengetahui mortalitas organisma uji setelah 48 jam pemberian ekstrak. Mortalitas keong mas ditandai
122
Depik, 1(2): 121-124
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
dengan keluarnya cairan lendir melalui celah operculum atau kakunya pergerakan operculum bila ditekan ke arah dalam
(Musman, 2004). Ikan mujair yang terkena racun gejalanya hampir sama dengan ikan lainnya seperti yang dinyatakan
Rudiyanti dan Ekasari (2009) bahwa ikan yang terkena racun dapat diketahui dengan gerakan yang hiperaktif,
menggelepar, lumpuh sehingga kemampuan ikan untuk beradaptasi semakin berkurang dan akhirnya menyebabkan
kematian.
Analisa Data
Data mortalitas keong mas dan ikan mujair yang diperoleh karena pemberian ekstrak MeOH biji B. racemosa
fraksi Rf < 0,5 dianalisa dengan program Probit (Finney, 1971). Menurut Feng and Wang (1984), nilai LC50 yang
diperoleh digunakan untuk menghitung nilai selektivitas (S) melalui formula:
S= LC50 ikan mujair/LC50 keong mas
Kreteria terhadap nilai S adalah, jika nilai S > 1 berarti ekstrak uji merupakan racun yang selektif terhadap keong mas,
dan jika nilai S 1 berarti ekstrak uji merupakan racun yang tidak selektif terhadap keong mas.
Hasil dan Pembahasan
Tabel
50 organisma uji
Tabel1.1.Nilai
NilaiLC
LC
50 organisma uji
Organisma Uji
Keong mas
Ikan mujair
Nilai LC50 [ppm]
46,76
64,06
mortalitas
Rerata
organisma (individu)
Data rerata mortalitas keong mas dan ikan mujair setelah diberi perlakuan fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji B.
racemosa dengan menggunakan konsentrasi yang berbeda ditunjukkan pada Gambar 1. Nilai LC50 yang telah diperoleh
dari masing-masing organisma uji digunakan untuk menghitung nilai selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B.
racemosa. Nilai selektivitas yang diperoleh adalah sebesar 1,36.
Pengamatan secara visual pada keong mas menunjukkan bahwa keong mas yang berada di akuarium kontrol
masih terlihat aktif bergerak dan menempel di kaca akuarium. Pengamatan visual pada keong mas ini sesuai dengan
pernyataan Yati (2006) bahwa keong mas (P. canaliculata) pada perlakuan kontrol tetap aktif bergerak dan merayap di
dasar akuarium. Keong mas yang berada di akuarium yang telah diberikan larutan uji fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji B.
racemosa terlihat menarik kaki mereka ke dalam cangkangnya melalui operculum tidak lama setelah racun dimasukkan.
Tindakan keong mas ini dilakukan untuk menghindari tubuhnya terkontaminasi oleh racun fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak
MeOH biji B. racemosa. Keong mas merupakan hewan yang sangat rakus (Hendarsih dan Kurniawati, 2009), keinginan
untuk terus makan inilah yang menyebabkan keong mas membuka kembali operculum-nya untuk bergerak mencari
makanan. Keaktifan keong mas bergerak untuk mencari makanan berakibat pada seringnya terjadi kontak kaki dengan
bahan moluskosida (Musman, 2009). Untuk mengurangi kontak lebih lanjut permukaan tubuhnya dengan moluskosida,
keong mas mengeluarkan lendir. Namun pembentukan lendir dalam jumlah yang berlebihan ini, dapat menghambat
proses pernapasannya dan mengakibatkan kematian (Musman et al., 2012). Data mortalitas yang telah diperoleh dari
kedua organisma uji diolah dengan menggunakan program Probit untuk mengetahui nilai LC50. Hasil LC50 yang
diperoleh tertera pada Tabel 1. Musman (2010) menyatakan bahwa kematian yang tinggi pada keong mas disebabkan
oleh senyawa saponin dan flavonoid yang memberikan efek biologis pada keong mas. Hadirnya saponin dalam badan air
menyebabkan terhambatnya proses pernafasan pada keong mas (Musman, 2009).
8
7
6
5
4
Keong Mas
3
Ikan Mujair
2
1
0
0
20
40
60
Konsentrasi (ppm)
80
100
Gambar 1. Diagram batangrerata mortalitas sampel uji keong mas
dan ikan mujair terhadap konsentrasi (ppm).
Pengamatan secara visual terhadap ikan mujair setelah larutan uji dipajan ialah ikan mujair terlihat bergerak
dengan cepat dan tidak teratur di dalam akuarium seperti berputar-putar. Hal ini menandakan larutan uji sangat cepat
larut di dalam air. Ikan mujair yang terkena racun menjadi tidak teratur pergerakannya, kehilangan keseimbangan dan
cenderung berada di dasar. Racun fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji B. racemosa masuk ke dalam tubuh ikan mujair
melalui insang. Ikan mujair mati karena telah terakumulasinya racun dalam tubuh ikan dan terhambatnya reaksi serta
fungsi sistem saraf dalam tubuh ikan mujair (Rahmanpiu, 2007). Peristiwa ini berbanding terbalik dengan kondisi ikan
mujair yang berada di akuarium kontrol. Ikan mujair yang berada diakuarium kontrol terlihat tenang dan bebas bergerak.
123
Depik, 1(2): 121-124
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Pengamatan dalam penelitian ini berlangsung selama 2x24 jam. Jangka waktu ini dikategorikan sebagai jenis
bioassay periode waktu pendek (Reish dan Oshida, 1987). Pemajanan fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B. racemosa
terhadap organisma uji menunjukkan pengaruh mortalitas terhadap organisma uji dari waktu ke waktu selama masa
penelitian. Hal ini menandakan bahwa struktur senyawa toksikan dimaksud tidak mengalami deformasi selama berada di
dalam air. Apabila terjadi deformasi struktur suatu toksikan, sifat biologi pada racun tersebut akan hilang dan tidak dapat
memberikan efek mematikan bagi organisma uji dalam kurun waktu pengujian (Musman, 2010).
Pengaruh konsentrasi larutan uji fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B. racemosa terhadap mortalitas
organisma uji keong mas dan ikan mujair terlihat dengan jelas. Angka mortalitas yang didapat dari organisma uji
berbanding lurus dengan konsentrasi larutan uji yang diberikan. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi konsentrasi
larutan uji yang dipajan maka semakin tinggi pula mortalitas organisma uji yang mati dalam kurun waktu penelitian.
Nilai selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B. racemosa yang diperoleh dari perbandingan LC50 ikan
mujair terhadap LC50 keong mas adalah 1,36. Harga selektivitas ini menunjukkan bahwa fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak
MeOH biji B. racemosa memiliki selektivitas yang tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa sifat racun fraksi Rf < 0,5 dari
ekstrak MeOH biji B. racemosa ini sangat selektif terhadap organisma uji keong mas, karena pada batasan harga
konsentrasi tertentu ekstrak ini sudah mampu membunuh organisma yang menjadi sasaran uji pada penelitian ini, yaitu
keong mas, akan tetapi tidak banyak membunuh organisma yang bukan sasaran utama, yaitu ikan mujair.
Kesimpulan
Pemberian fraksi Rf < 0,5 ekstrak MeOH biji B. racemosa menyebabkan kematian terhadap organisma uji. LC50
fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B. racemosa terhadap keong mas adalah 46,76 ppm dan 64,06 ppm untuk ikan
mujair. Nilai selektivitas fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak MeOH biji B. racemosa adalah 1,36. Fraksi Rf < 0,5 dari ekstrak
MeOH biji B. racemosa menunjukkan sifat biologisnya sebagai moluskosida keong mas.
Daftar Pustaka
Damborenea, C., F. Brusa. and A. Paola. 2006. Variation in worm assemblagesassociated with Pomacea canaliculata
(Caenogastropoda, Ampullariidae) in sites near the Rio de la Plata estuary. Argentina. Biocell (Mendoza), 3(3):
457-468.
Feng, H. T., T. C. Wang. 1984. Selectivity of insecticides to Plutella xylostella (L) and Apanteles plutellae. Plant Prot. Bull.,
26: 275–284.
Finney, D. J. 1971. Probit analysis. 3nd edition. Cambridge University Press, Cambridge.
Gowri, P. M., S. V. Radhakrishnan, S. J. Basha, A. V. Sarma, J. M. Rao. 2009. Oleanane-type isomeric triterpenoids
from Barringtonia racemosa. Journal of Natural Products, 72(4): 791–795.
Hendarsih, S., N. Kurniawati. 2009. Keong mas dari hewan peliharaan menjadi hama utama padi sawah. Balai Besar
Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat.
Hui-Chi Huang, Liao Sin-Chung, ChangFang-Rong, Kuo Yao-Haur, W. Yang-Chang. 2003. Moluscicidal saponins from
Sapindus mukorossi, Inhibitory Agents of Golden Apple Snail, Pomacea canaliculata. Journal Agriculture Food
Chem., 51(17): 49 16-19.
Musman, M. 2004. Effect of methanol extract of fruit of penteut (Barringtonia asiatica) to mortality of golden snail
(Pomacea canaliculata). Jurnal Natural, 4(2): 9-11.
Musman, M. 2009. The potency of penteut ie (Acehnese, Barringtonia racemosa (L. Spreng) as molluscicide of Pomacea
species (Ampullaridae), Abidin ddk.(eds.), Understanding Disaster and Environmental Issues with Science and
Engineering towards Sustainable Development. Proceeding of the International Conference on Natural and
Environmental Sciences 2009 (ICONES ’09). Banda Aceh, 6-8 May 2009.
Musman, M. 2010. Toxicity of Barringtonia racemosa (L.) kernel eextract on Pomacea canaliculata (Ampullariidae). Tropical
Life Science Research, 21(2): 41-50.
Musman, M., S. Karina, K. Melanie. 2012. Uji selektivitas ekstrak etil asetat (EtOAc) biji putat air (Barringtonia racemosa)
terhadap keong mas (Pomacea canaliculata) dan ikan lele lokal (Clarias batracus). Depik. 1(1):27-31.
Ojewole, J. A. O., N. Nundkumar, C. O. Adewunmi. 2005. Molluscicidal, cercariacidal, larvacidal and antiplasmodial
properties of Barringtonia racemosa fruit and seed extracts. BLACPMA, 3(5): 88-92.
Rahmanpiu. 2007. Toksisitas ekstrak buah pandita (Anamirta cocculus) terhadap bioindikator ikan mujair (Tilapia mosambica)
pada pemeliharaan udang windu (Penaeus monodon). Gema Pendidikan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Universitas Haluoleo, Kendari.
Reish, D. L., P. S. Oshida. 1987. Manual of methods in aquatic environment Research: Part 10 – Short-term Static
Bioassay. FAO Fisheries Technical Paper 247, Rome.
Rudiyanti, S., A. D. Ekasari. 2009. Pertumbuhan dan survival rate ikan mas (Cyprinus carpio Linn) pada berbagai
konsentrasi pestisida regent 0,3 g. Jurnal Saintek Perikanan, 5(1): 39-47.
Sa’id, E. G. 1994. Dampak negatif pestisida, sebuah catatan bagi kita semua. Agrotek, 2(1): 71-72.
Suripto. 2009. Selektivitas anti moluska dari tanaman jayanti {Sesbania sesban (L.) Merr.}. Jurnal Biol. Trop., 10(1): 24-32.
Yati, N. 2006. Aktivitas moluskisida ekstrak biji teh (Camelia sinensis) (THEACEAE) terhadap keong mas (Pomacea
canaliculata) (Mesogastropoda: Ampulariidae). Laporan penelitian, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.
Fakultas Pertanian. Universitas Padjajaran, Bandung.
124
Depik, 1(2): 125-130
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Keragaman jenis dan persen penutupan tumbuhan air di ekosistem Danau Laut
Tawar, Takengon, Provinsi Aceh
Diversity and percent covers of aquatic plants in Lake Laut Tawar ecosystem,
Takengon, Aceh Province
Irma Dewiyanti
Jurusan Budidaya Perairan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh,
23111. Email korespodensi: [email protected]
Abstract. Primary production in freshwater can be observed with the existing of aquatic plants includes micro and macrophyte. The study of
aquatic plant is necessary due to the plant has important in aquatic environments, such as providing habitat, spawning ground, feeding ground,
and nursery ground for aquatic biota. This study was conducted in June 2012, and the purposes were to identify species of aquatic plants and their
percent cover in Lake Laut Tawar, Takengon. Sampling were conducted using quadrate transects of 0.5 x 0.5 m2, and the every transect was
divided into 25 sampling points. A total of 10 species of aquatic plants were found and there were divided into four groups based on their morphoecology i.e. emergent, free floating, free submerged and rooted with floating leaves. Of these, emergent group was the most predominant (six species),
followed by free floating (two species), free submerged (one species), and rooted with floating leave (one species). Hydrilla verticillata (free submerged
group) and Eichhornia crassipes (free floating group) had the highest percent covers and density.
Key words: Macrophytes, morphoecological, percent cover, H. verticillata, E. crassipes
Abstrak. Produksi primer pada perairan air tawar dapat diukur dari keberadaan tumbuhan air. Penelitian mengenai
tumbuhan air perlu dilakukan karena memiliki peranan yang penting pada lingkungan perairan, diantaranya sebagai habitat,
daerah mencari makan, pengasuhan dan pemijahan untuk biota perairan. Penelitian ini dilakukan di Danau Laut Tawar,
Takengon. Pengambilan data menggunakan transek kuadrat 0,5 x 0,5m2 yang dibagi menjadi 25 bagian yang diamati secara
terpisah. 10 jenis tumbuhan air ditemukan pada lokasi penelitian yang termasuk kedalam empat tipe habitat tanaman air.
Diantara tipe habitat yang teramati, tipe habitat daun tersembul merupakan species yang paling sering ditemukan (enam
spesies), diikuti oleh tipe habitat terapung sempurna sebanyak dua spesies, tipe habitat terendam sempurna (satu spesies),
dan tipe habitat daun terapung dengan akar tenggelam (satu spesies). Hydrilla verticillata (terendam sempurna) dan Eichhornia
crassipes (terapung sempurna) memiliki persen penutupan yang tertinggi dan termasuk dalam kriteria sangat rapat.
Kata kunci: Tumbuhan air, tipe habitat, persen penutupan, H. verticillata, E. crassipes
Pendahuluan
Danau Laut Tawar terletak pada ketinggian 1.200 m dari permukaan laut dengan luas lebih kurang 7.000 Ha dan
kedalaman rerata ± 80 m. Salah satu komunitas yang memiliki peranan penting dan terdapat di sekeliling danau ini adalah
komunitas tumbuhan air (macrophytes). Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan didalam air yang
berfungsi sebagai produsen penghasil energi pada suatu ekosistem (Odum dan Barrett, 2005). Produsen pada suatu
ekosistem air tawar terdiri dari dua tipe yaitu, tanaman bentik yang kebanyakan anggota Devisi Spermatophyta (tanaman
berbiji) dan fitoplankton atau tanaman hijau yang mengapung. Keberadaan tumbuhan air yang hidup dengan baik akan
menciptakan produktivitas perairan yang tinggi dan menghasilkan keanekaragaman biota akuatik yang tinggi pula. Beberapa
peranan tumbuhan air yang sangat penting adalah sebagai produsen primer, sebagai habitat biota, tempat perlindungan dan
tempat menempel berbagai hewan dan tumbuhan atau alga (Boyd, 1968). Disamping itu, tumbuhan air dapat juga sebagai
daerah asuhan, padang pengembalaan dan makan dari berbagai jenis ikan herbivora, hal ini terlihat dari banyaknya larvalarva dan juvenil biota air yang ditemukan pada tumbuhan air. Daun tumbuhan air yang lebat dan besar pada jenis tertentu
akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang
dan akar dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaaan.
Chambers (1970) menegaskan bahwa tumbuhan air memiliki peranan yang penting dalam struktur dan fungsi ekosistem
perairan.
Selama ini data dan informasi tentang keanekaragaman jenis tumbuhan air di kawasan Danau Laut Tawar belum
tersedia dengan baik. Ketersediaan data dan informasi ini sangat dibutuhkan dalam rangka pengelolaan sumberdaya danau
dan menghasilkan nilai konservasi, oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan awal berupa identifikasi jenis tumbuhan air yang
terdapat pada Danau Laut Tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan air yang terdapat di
Danau Laut Tawar beserta tipe habitatnya, dan persen penutupan setiap jenis yang ditemukan.
Metode Penelitian
Lokasi dan waktu penelitian
Danau Laut Tawar, Aceh Tengah - Takengon, Provinsi Aceh secara Geografis terletak pada 04°36′43″ LU dan
096°55′25″ BT. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni, 2012. Kegiatan penelitian dibagi dalam dua tahap, yaitu kegiatan di
125
Depik, 1(2): 125-130
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
lapangan dan di laboratorium. Penentuan stasiun penelitian dilakukan dengan metode acak berstratifikasi yaitu dengan
membagi lokasi penelitian menjadi beberapa lapisan atau strata berdasarkan keterwakilan kawasan kajian. Pengambilan data
dilakukan pada 5 stasiun di kawasan Danau Laut Tawar. Stasiun yang menjadi kawasan penelitian adalah Toweran (stasiun
1), Bintang (stasiun 2), Boom (stasiun 3), Kelitu (stasiun 4), dan Mandale (stasiun 5). Pada setiap stasiun pengamatan diambil
3 plot sebagai ulangan.
Gambar 1. Danau Laut Tawar yang menunjukkan lokasi penelitian (Dimodifikasi dari http:/maps.google.com)
Pengambilan data tumbuhan air
Data tumbuhan air diambil dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 0,5 m x 0,5 m yang meliputi jenis
tumbuhan air dan proporsi substrat yang tertutupi tumbuhan air sehingga dapat diketahui kelasnya pada setiap plot
penelitian. Setiap plot pengamatan (transek 0,5 m x 0,5 m) dibagi menjadi 25 bagian yang diamati secara terpisah.
Tumbuhan air yang sudah terkumpul disimpan dalam plastik contoh dan diawetkan dengan alkohol 40% dan
diidentifikasi di Laboratorium Biologi Laut Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Jenis tumbuhan air juga difoto untuk membantu proses identifikasi. Identifikasi jenis tumbuhan air merujuk pada referensi
taxonomi berdasarkan Sainty and Jacobs, (1988); dan Cook et al. (1974). Setelah diidentifikasi tumbuhan air tersebut
kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis dan dihitung persen penutupannya pada setiap petak pengambilan contoh
(plot).
Analisa data
Menurut Brower et al. (1990) rumus yang dapat digunakan dalam perhitungan persen penutupan jenis sebagai
berikut: C = ∑ (Mi x fi)/∑f
Dimana: C = nilai penutupan vegetasi (%), Mi = nilai tengah kelas penutupan ke-i, fi = frekuensi munculnya kelas
penutupan ke-i, ∑f = jumlah total frekuensi seluruh penutupan kelas. Nilai penutupan tiap jenis mengacu pada Tabel 1
sehingga pada setiap bagian pada transek kuadrat dapat ditentukan kategori kelas dan nilai tengahnya. Menurut Brower et al.,
(1990), kriteria penutupan sebagai berikut: C < 5% = sangat jarang, 5% ≤ C< 25% = jarang
25% ≤ C< 50% = sedang, 50% ≤ C< 75% = rapat, C≥ 75% = sangat rapat
Tabel 1. Kelas penutupan yang digunakan untuk mencatat kelimpahan tumbuhan air (Brower et al., 1990)
Kelas (i)
Proporsi substrat yang tertutupi
% Substrat yang tertutupi
Nilai tengah (M)
5
½ - seluruhnya
50 – 100
75
4
¼-½
25 – 50
37,5
3
1/8 – ¼
12,5 – 25
18,75
2
1/16 – 1/8
6,25 – 12,5
9,38
1
Kurang dari 1/16
< 6,25
3,13
0
Kosong
0
0
126
Depik, 1(2): 125-130
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Hasil dan Pembahasan
Keragaman jenis
Data yang diperoleh selama pengamatan meliputi jenis tumbuhan air, tipe habitat, dan persen penutupannya dapat
dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada lima stasiun penelitian diperoleh 10 jenis tumbuhan
air yang terdapat di sekitar kawasan Danau Laut Tawar. Total jenis tumbuhan air yang ditemukan lebih sedikit dibandingkan
hasil penelitian yang dilakukan Pereira et al. (2012) dimana teridentifikasi 44 species tumbuhan air macrophytes pada kawasan
Rio Grande lakes, Brazil. Tingginya keanekaragaman jenis tumbuhan air pada kawasan Rio Grande Lakes, disebabkan
kawasan ini merupakan perairan konservasi dan tingginya penyebaran macrophytes.
Tabel 2. Jenis-jenis tumbuhan air beserta persen penutupannya
Stasiun
penelitian
I (Toweran)
No.
Species
1
Gramineae
Brachiaria mutica
3
Hydrocharitaceae
Hydrilla verticillata
Poaceae
Oryza sativa
4
Polygonaceae
Polygonum sp.
2
2
Pontederiaceae
Eichhornia crassipes
Araceae
Pistia stratiotes
Commelinaceae
Murdannia sp.
3
Convolvulaceae
Ipomoea aquatic
4
Cyperaceae
Rhynchospora corymbosa
5
Gramineae
Brachiaria mutica
5
II (Bintang)
1
6
7
8
III (Boom)
1
2
3
4
IV (Kelitu)
V (Mandale)
Hydrocharitaceae
Hydrilla verticillata
Poaceae
Oryza sativa
Pontederiaceae
Eichhornia crassipes
Pontederiaceae
Eichhornia crassipes
Gramineae
Brachiaria mutica
Araceae
Pistia stratiotes
Araceae
Colocasia esculenta
Gramineae
Brachiaria mutica
Pontederiaceae
Eichhornia crassipes
Morpho-Ecology Group/ Tipe Habitat
Persen Penutupan
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
23,4%
Terendam sempurna (Free Submerged)
75%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
26,4%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
3%
Terapung Sempurna (Free floating)
27,1%
Terapung sempurna (Free floating)
25 %
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
3,9%
Daun terapung dengan akar tenggelam
(Rooted with floating leave)
2,4%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
8,6%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
9,0 %
Terendam sempurna (Free Submerged)
11,6 %
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
33,8 %
Terapung Sempurna (Free floating)
48,8 %
Terapung Sempurna (free floating)
75%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
33,8%
Terapung sempurna (free floating)
28,5%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
9%
Tanaman berakar dengan daun tersembul
(Emergent)
34,9%
Terapung Sempurna (Free floating)
3,2%
Jumlah jenis-jenis tumbuhan air yang ditemukan berbeda untuk setiap stasiun penelitian, stasiun 1 yang terletak di
Toweran ditemukan 5 jenis tumbuhan air yang di dominasi oleh spesies Hydrilla verticillata, stasiun 2 yang terletak di Bintang
ditemukan 8 jenis tumbuhan air yang didominasi oleh Eichhornia crassipes dan diikuti jenis Oryza satyva, stasiun 3 yang terletak
di Boom ditemukan 4 jenis tumbuhan air yang didominasi oleh spesies Eichhornia crassipes, stasiun 4 dan 5 yang terlatak di
Kelitu dan Mandale hanya di ditemukan 1 jenis tumbuhan air (Tabel 2). Penentuan dominasi jenis tertentu pada lokasi
127
Depik, 1(2): 125-130
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
pengamatan dilihat dari hasil persen penutupan jenis yang tertinggi. Stasiun 2 yang berlokasi di Bintang memiliki total jenis
tumbuhan air yang paling tinggi yaitu 8 jenis. Kovaks (1992) menyatakan bahwa tingginya kehadiran tumbuhan air di dalam
suatu perairan baik yang sejenis ataupun berbeda jenis menandakan daerah tersebut memiliki tingkat kesuburan tinggi dan
dapat terjadi eutrofikasi.
Hydrilla verticillata mendominasi dibandingkan jenis lainnya pada stasiun 1 disebabkan jenis ini merupakan
tumbuhan air yang cukup produktif dalam air yang dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat, dan keberadaannya
didukung dengan arus yang cenderung tenang. H. verticillata dapat tumbuh dengan subur pada kawasan yang kaya bahan
organiknya, stasiun ini banyak mendapatkan bahan organik dari kegiatan pertanian, limbah rumah tangga, dan kegiatan
perikanan malalui masukan air (water inlet) yang juga sangat mempengaruhi kualitas air. Kondisi substrat di stasiun ini juga
tergolong kasar dimana banyak ditemukan pasir, kondisi ini memungkinkan H. verticillata dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik sampai kedalaman 2 m. Jenis ini tumbuh secara horizontal sehingga membentuk tikar padat vegetasi (Cook et
al., 1974). H. verticillata merupakan kelompok tumbuhan yang paling banyak dijumpai dan memegang peranan yang sangat
penting sebagai pengikat lapisan dan endapan lumpur. Berdasarkan hasil penelitian Wiriadinata and Seyowati (2008) jenis H.
verticillata merupakan saringan lumpur yang terbawa arus aliran karena tumbuhnya berkelompok dan mampu mengurangi
laju pendangkalan.
Jenis Eichhornia crassipes atau yang lebih dikenal dengan Eceng Gondok yang mendominasi di stasiun 2 dan 3 hidup
mengapung di air dan terkadang berakar dalam tanah jika hidup di perairan yang dangkal. E. crassipes memiliki
perkembangbiakan yang sangat cepat. Eceng gondok mampu mengikat unsur logam dalam air, sehingga tanaman ini cocok
hidup di air yang kotor dibandingkan air bersih, seperti pada stasiun 3 yang terletak di kawasan pemukiman penduduk
sehingga banyak terdapat limbah/buangan sampah organik dan anorganik. Lokasi ini terletak di pinggiran kota Takengon
yang langsung berhadapan dengan hilir danau. Chambers (1970) menyatakan bahwa E. crassipes merupakan jenis tumbuhan
air yang memilki tingkat toleransi yang tinggi terhadap pencemaran. E. Crassipes juga dapat hidup dengan baik di perairan
yang berarus seperti di stasiun 3. Tingginya dominansi jenis ini dapat menyebabkan tertutupnya kawasan permukaan
perairan sehingga membatasi penetrasi cahaya yang masuk kedalam perairan, dan dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem didalamnya. Kehadiran species E. Crassipes yang tinggi dimana mencapai persen penutupan 75% menghalangi
pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan air lainnya, hal ini terlihat dari sedikitnya jenis yang ditemukan di stasiun ini dan juga
dapat mengurangi nilai keindahan dari danau.
Lokasi penelitian juga ditemukan famili rumput-rumputan yaitu Poaceae dan jenis yang ditemukan adalah Oriza
sativa atau yang sering dikenal dengan sebutan padi. Pada stasiun 2, jenis ini memiliki persen penutupan yang cukup tinggi
setelah jenis E. crassipes yaitu 33,8 %. Jenis O. sativa di temukan di pinggiran danau yang bersebelahan dengan sawah milik
masyarakat setempat. Wiriadinata dan Seyowati (2008) mengatakan bahwa famili rumput-rumputan merupakan kelompok
yang sangat banyak jumlahnya, tumbuh di tepian danau, sawah secara berkelompok dan sangat rapat sehingga dapat
menutupi daerah yang luas, dan juga dapat menahan lumpur dalam volume yang besar sehingga cocok ditanam di mulut
danau.
Jenis Brachiaria mutica dari family Gramineae ditemukan hampir disemua stasiun penelitian kecuali stasiun 5. Jenis
ini ditemukan pada kawasan yang bersubstrat halus sampai substrat agak kasar dengan kawasan perairan yang tenang sampai
berarus. Akar B. mutica merupakan akar serabut dan dapat mengikat sedimen, sehingga menguatkan dan menstabilkan dasar
permukaaan. Batang bagian bawah jenis B. Mutica tumbuh menjalar sehingga memperkokoh keberadaannya (Sainty dan
Jacobs, 1988).
Perbedaan jumlah jenis tumbuhan air yang ditemukan pada setiap stasiun berhubungan dengan kondisi substrat
yang berbeda, dimana daerah perairan Toweran, Bintang, dan Klitu memiliki tipe substrat cenderung kasar seperti pasir
sedangkan di daerah Boom tipe substratnya adalah lumpur. Tipe arus perairan juga berbeda pada setiap stasiun, dimana
kawasan Boom, dan Toweran tidak/sedikit berarus, dan kawasan lainnya cenderung berarus sedang sampai kuat. Aktivitas
penduduk juga sangat mempengaruhi keberadaan dan kelimpahan tumbuhan air seperti di bidang pertanian yaitu
keberadaan sawah dan kebun kopi serta masukan limbah rumah tangga yang membawa bahan organik dan menyuburkan
perairan. Boyd (1968) mengatakan bahwa tumbuhan air sebagai produsen erat hubungannya dengan nutrient yang
terkandung disekitarnya yang diperoleh dari hasil aktivitas masyarakat setempat.
Tipe habitat
Tumbuhan air yang ditemukan selama penelitian memiliki 4 tipe habitat yaitu tipe habitat tanaman berakar dengan
daun tersembul (Emergent) terdiri dari jenis Brachiaria mutica, Polygonum sp, Oryza sativa, Murdannia sp., Rhynchospora corymbosa,
dan Colocasia esculenta, tipe habitat terendam sempurna (Free Submerged) hanya ditemukan satu jenis yaitu Hydrilla verticillata,
tipe habitat terapung sempurna (Free floating) terdiri dari jenis Eichhornia crassipes, dan Pistia stratiotes, sedangkan jenis Ipomoea
aquatic memiliki tipe habitat daun terapung dengan akar tenggelam (Rooted with floating leave).
Odum dan Barrett (2005) mengelompokkan tumbuhan air menjadi terrestrial plants yaitu tumbuhan air yang seluruh
organ tubuhnya belum tertutup oleh air, emerget plants yaitu tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lainnya
berada di permukaan air, submerged plants yaitu tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya berada dalam air, dan floating
plants yaitu tumbuhan air yang bagian akar dan batangnya mengapung di perairan (Odum dan Barrett, 2005). Esteves (1998)
disitasi oleh Pereira (2012) membagi tipe habitat (morphoecological group) tumbuhan air menjadi enam kategori yaitu emergent,
rooted with floating leaves, submerged rooted, free submerged, dan free floating. Umumnya, empat tipe habitat digunakan untuk
mengklasifikasi tumbuhan air macrophytes yaitu submerged, floating-leaved, emergent dan free-floating. Jenis-jenis tumbuhan air yang
termasuk pada empat kategori diatas mampu hidup dengan baik pada beberapa tipe lingkungan perairan seperti danau, dan
sungai (Sculthorpe, 1985).
128
Depik, 1(2): 125-130
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Pada kawasan penelitian lebih banyak ditemukan jenis tumbuhan air dengan tipe habitat Emergent yaitu sebanyak 6
(enam) jenis. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pereira (2012), menunjukkan bahwa tumbuhan air macrophytes di danau Rio
Grande (Brazil) dengan tipe habitat emergent lebih banyak ditemukan dan hampir mewakili daerah kajiannnya yaitu sebanyak
28 jenis dari 43 jenis yang ditemukan yang tersebar pada tipe habitat yang berbeda. Banyaknya jenis-jenis tumbuhan air dari
tipe habitat ini disebabkan karena tanaman berakar dengan daun timbul (emergent) memiliki pola adaptasi yang baik pada
derah perairan tergenang maupun lingkungan darat dan memiliki sebaran tipe substrat yang luas. Piedade, et al., (1991)
menegaskan bahwa jenis-jenis tumbuhan air dengan tipe Emergent sering diamati karena peranannya yang penting dan
sebagai produksi utama yang luar biasa di perairan. Odum dan Barrett (2005) menambahkan bahwa Tanaman yang
menyembul ini membentuk rantai penting yang menghubungkan lingkungan darat dengan air dan memiliki distribusi hidup
yang luas.
Tipe habitat terapung sempurna (free floating) dan terendam sempurna (free sumerged) merupakan tipe habitat dari
jenis-jenis tumbuhan air yang memiliki persen penutupan yang paling tinggi di lokasi pengamatan. Tipe habitat terapung
sempurna (free floating) menggunakan semua bagian permukaan berfotosintesis horizontal dan dapat mengurangi penetrasi
cahaya ke dalam air. Howard-Wiliams dan Al-lanson (1981) disitasi oleh Goldsborough dan Kemp (1988) menyataan bahwa
produksi primer dari tumbuhan dengan tipe habitat terendam (submersed) merupakan sumber utama bahan organik yang
penting untuk kehidupan di ekosistem perairan. Distribusi serta seluruh produksi dari tumbuhan tipe ini sangat
berhubungan dengan keberadaan cahaya dan penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan.
Persen penutupan
Persen penutupan tumbuhan air menggambarkan luas daerah yang tertutup oleh tumbuhan air. Berdasarkan
kriteria penutupan vegetasi berdasarkan Brower et al. (1990), persen penutupan tumbuhan air di Danau Laut Tawar berkisar
2,4 % - 75 %, dengan kategori sangat jarang sampai sangat rapat. Tumbuhan air dari species Hydrilla verticillata
(Hydrocharitaceae) di stasiun 1 dan Eichhornia crassipes (Pontederiaceae) di stasiun 3 memiliki persen penutupan yang paling
tinggi dibandingkan jenis tumbuhan air lainnya yaitu 75% dan bisa dikatakan substrat yang tertutupi jenis-jenis ini mencapai
100%, sehingga termasuk dalam kriteria luas penutupan sangat rapat. Rapatnya penutupan tumbuhan air kedua jenis ini
menyebabkan adanya kecenderungan bagi jenis tersebut mendominasi pada kawasan tersebut (stasiun 1 dan 3) dan
dipengaruhi oleh tingginya kerapatan jenis tersebut. Jenis H. verticillata dan E. crassipes memiliki ketahanan yang tinggi untuk
mengatasi lingkungan yang ekstrim dan menyukai kawasan yang tinggi akan unsur haranya.
Kriteria penutupan sedang terdapat pada jenis O. sativa, P. stratiotes, dan B. mutica, kriteria penutupan jarang terdapat
pada jenis R. corymbosa dan C. esculenta, sedangkan yang memiliki krteria penutupan sangat jarang ditemukan pada jenis
Polygonum sp., Murdannia sp., dan Ipomea aquatic. Rendahnya persen penutupan pada beberapa jenis tumbuhan air
berhubungan dengan kesesuaian substrat, kompetisi dalam memperoleh unsur hara, dan faktor lingkungan fisika-kimia
perairan.
Kesimpulan
Jumlah jenis tumbuhan air yang ditemukan di kawasan Danau Laut Tawar adalah 10 jenis, dimana stasiun 2
(Bintang) memiliki jumlah jenis yang tertinggi yaitu 8 jenis. Persen penutupan yang tertinggi terdapat pada jenis Hydrilla
verticillata family Hydrocharitaceae dan Eichhornia crassipes famili Pontederiaceae dengan persen penutupan mencapai 75%
kategori sangat rapat dengan tipe habitat terendam sempurna (free submerged) dan terapung sempurna (free floting). Tipe
habitat yang sering ditemukan di lokasi penelitian adalah tanaman berakar dengan daun tersembul (Emergent) dengan persen
penutupan kategori jarang dan sedang.
Ucapan Terimakasih
Penelitian ini didanai oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan
Pertamanan. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ridwan Iriadi atas bantuan dan dukungannya selama
pengambilan data dan penghargaan kepada tim peneliti dan tenaga lapangan dari Koordinatorat Kelautan dan Perikanan,
Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan, informasi, dan saran dari mereka.
Daftar Pustaka
Boyd, C. E. 1968. Fresh water plants: a potential sources of protein. Econ. Bot., 22:359-368.
Brower, J.E., J.H. Zar., C.N von Ende. 1990. Field and laboratory methods for general ecology, 3rd edition. Wn.C
Publishing, Dubuque.
Chambers, K. L. 1970. Biochemical coevolution. Twenty-ninth Biology Colloquium, Oregon state, University Press.
Eugene.
Cook, C.D.K., B.J. Gut., E.M. Rix., M. Seitz. 1974. Water plants of the world: A manual for the identification of the genera
of freshwater macrophytes. Dr. W.Junk Publisher, The Hague. England.
Goldsborough, W.J., W.M. Kemp. 1988. Light responses of a submersed macrophyte: implication for survival in turbid tidal
water. Ecology, 69(6): 1775-1786.
Kovaks, M. 1992. Biological indicators in environmental protection. Ellis Horwood Liimited, England.
Odum, E.P., G. W. Barrett., 2005. Fundamentals of ecology. 5th Edition. Thomson Learning, United State. 598 p.
Pereira, S. A., C. R. Trindade., E. F. Albertoni., C. P. Siva. 2012. Aquatic macrophytes of six subtropical shallow lakes, Rio
Grande do Sul, Brazil. Check List, 8(2): 187-181.
129
Depik, 1(2): 125-130
Agustus 2012
ISSN 2089-7790
Piedade, M. T. F., Junk, W. J., Long, S.P. 1991. The productivity of the C4 grass Eichinocloa polystachya on the Amazon
floodplain. Ecology, 72(4): 1456-1463.
Sainty, G.R., S.W.L. Jacobs. 1988. Water plants in Australia. Royal Botanic Gardens, Sydney. Australian Water Resources
Council. 144p.
Sculthorpe, C. D. 1985. The biology of aquatic vascular plants. Königstein-West Germany: Koeltz Scientific Books. 597 p
Wiriadinata, H., F.M. Setyowati. 2008. Tumbuhan riparian untuk Danau, Situ dan Rawa di Jabodetabek. Laporan Penelitian,
387-396 pp.
130
Download