Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Tentang Manfaat

advertisement
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Tentang Manfaat Daun
Bangun-Bangun Di Poli Rumah Sakit Kebun Laras Kab. Simalungun Tahun
2014.
Syaferi Anwar,S.Kep,Ners,MSi
Sujud Alfian
Ahmad Muttaqin
ABSTRAK
Daun tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) merupakan
salah satu tanaman pangan yang memiliki fungsi dan kegunaan yg beragam, daun
ini juga sebagai laktagogum, yaitu dapat meningkatkan sekresi dan produksi air
susu ibu. Penggunaan laktagogum (lactagogue) merupakan salah satu cara yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan laju sekresi dan produksi ASI. Air susu ibu
merupakan makanan alamiah atau susu terbaik bernutrisi tinggi dan berenergi
tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu
hamil tentang manfaat daun bangun-bangun untuk meningkatkan produksi ASI di
Poli Rumah Sakit Kebun Laras.
Jenis penelitian ini menggunakan deskriftif korelasi. Dengan desain
penelitian metode pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 33 orang
dengan metode accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan
kuesioner tertutup yang telah di uji validitas dan realibitasnya. Teknik analisa data
dengan analisa univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisa bivariat
dengan menggunakan chi square.
Hasil penelitian terhadap 33 respondendi Poli Rumah Sakit Kebun Laras
Kab. Simalungun diperoleh 22 responden (66,6%) berpengetahuan baik, 8
responden (24,3%) berpengetahuan sedang, 3 responden (9,1%) berpengetahuan
kurang. Sedangkan sikap 27 responden (81%) dengan hasil signigfikan sebesar
0,00<0,05.
Kesimpulan penelitian bahwa terdapat ada hubungan pengetahuan dan
sikap ibu hamil tentang manfaat daun bangun-bangun di poli rumah sakit kebun
laras kab. Simalungun tahun 2015 memiliki sikap baik, 6 responden (18,2%)
memiliki sikap tidak baik. Diharapkan kepada pihak tim kesehatan agar
memberikan penyuluhan kepada seluruh ibu hamil tentang manfaat daun bangunbangun.
Kata Kunci
Daftar pustaka
: Pengetahuan, Sikap, Daun Bangun-Bangun
: 14 Buku (2005-2013)
Jurnal/Skripsi (2005-2013)
1.1
Latar Belakang
Daun
tanaman
bangunbangun (Coleus amboinicus Lour)
merupakan
salah satu tanaman
pangan yang memiliki fungsi dan
kegunaan yg beragam dengan
kandungan berbagai jenis flavonoid,
seperti quercetin, apigenin, luteolin,
salvigenin, genkwanindipercaya bisa
menyembuhkan berbagai penyakit
seperti demam malaria, hepatopati,
batu ginjal dan kandung kemih,
cekukan, bronkitis, cacingan, kolik
dan kejang. batuk, bahkan hingga
penyakit asma kronik (Adisty, 2013).
Selain itu ternyata juga
ditemukan fungsi dari daun bangunbangun lainnya yaitu daun ini juga
sebagai laktagogum, yaitu dapat
meningkatkan sekresi dan produksi
air susu ibu. Penggunaan laktagogum
(lactagogue) merupakan salah satu
cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan laju sekresi dan
produksi
ASI(Santosa
2001;
Damanik et al. 2001; 2006; Permana
2008; Rumetor 2008).
Penggunaan
laktagogum
(lactagogue) merupakan salah satu
cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan laju sekresi dan
produksi ASI. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa ada sejumlah
bahan pangan di Indonesia yang
memiliki fungsi sebagai laktagogum.
Pemanfaatan dan pengembangan
tanaman pangan yang memiliki
fungsi sebagai laktagogum tersebut
dapat menjadi salah satu strategi
untuk mengatasi gagalnya pemberian
ASI eksklusif karena sekresi dan
produksi ASI yang rendah (Santosa
2001).
Daun bangun-bangun (Coleus
amboinicus) sebagai lactogogum
merupakan tumbuhan yang banyak
dikonsumsi oleh ibu-ibu setelah
melahirkan di daerah Toba, Sumatera
Utara. Tumbuhan ini dipercaya dapat
meningkatkan
produksi
ASI.
Tumbuhan ini banyak ditemukan di
daerah Sumatra Utara dan dijadikan
panganan
pendamping
nasi,
misalnya sebagai sayuran.
Konsumsi daun bangunbangun oleh penduduk Sumatra
Utara biasanya dalam bentuk sop
yang dimasak secara tradisional
dengan santan. Suatu penelitian telah
mencoba membuktikan karakteristik
mutu sop daun bangun-bangun yang
dikemas dalam kaleng sebagai suatu
bentuk usaha komersil. Selain dipetik
langsung dari pohonnya, ibu-ibu
menyusui
diharapkan
dapat
mengkonsumsinya dalam bentuk sop
kemasan kaleng yang lebih praktis
karena tidak perlu menanam
pohonnya dan memasaknya terlebih
dahulu untuk mendapatkan efek
laktagogumnya. Tanaman ini terbukti
mengandung zat besi dan karotin
yang tinggi. Selain itu konsumsi
tanaman ini dapat meningkatkan
kadar zat besi, kalium, seng, dan
magnesium
dalam
ASI
serta
meningkatkan berat badan bayi
(Warsiki, 2009).
Komposisi kandungan kimia
daun Bangun-bangun yang sudah
pernah diteliti bahwa dalam daun ini
mengandung minyak atsiri (0,043%
pada daun segar atau 0,2% pada daun
kering).Minyak atsiri dari daun
Bangun-bangun
selain
berdaya
antiseptika ternyata juga mempunyai
aktivitas tinggi melawan infeksi
cacing.Phytochemical
database
melaporkan bahwa dalam daun ini
terdapat juga kandungan vitamin C,
vitamin B1, vitamin B12, beta
karotin, niasin, karvakrol, kalsium,
asam-asam lemak, asam oksalat, dan
serat. Senyawa-senyawa tersebut
berpotensi terhadap bermacammacam aktivitas biologik, misalnya
antioksidan, diuretik, analgesik,
mencegah
kanker,
antitumor,
antivertigo,
immunostimulan,
antiradang,
antiinfertilitas,
hipokolesterolemik, hipotensif, dan
lain-lain khasiat yang perlu diteliti
lebih lanjut. Di kepulauan China, jus
daun ini diberikan untuk obat batuk
anak-anak ditambah gula. Manfaat
lain adalah sebagai obat asthma dan
bronkitis.Disamping itu, komponen
daun ini sudah pernah dimasukkan
sebagai komponen obat jamu ibu
hamil yang ternyata menurut
penelitian
mempunyai
sifat
oksitosikdan analgesik. Infus ekstrak
daun tersebut dapat meningkatkan
volume air susu induk tikus dan berat
badan
anaknya.
Penelitian
selanjutnya pada ibu-ibu masa laktasi
menunjukkan bahwa sayur daun
Bangun-bangun yang dikonsumsi
terbukti dapat meningkatkan total
volume Air Susu Ibu (ASI), berat
badan bayi, dan komposisi zat besi,
seng, dan kalium dalam ASI
Sejalan dengan hal di atas
dalam penelitian yang dilakukan oleh
Rizal Damanik tahun 2001 mengenai
daun bangun-bangun menunjukkan
bahwa daun bangun-bangun sudah
terbukti secara ilmiah bermanfaat
bagi ibu-ibu hamil dan menyusui
untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas ASI. Pada tahun 2003 Rizal
Damanik kembali
melakukan
percobaan dengan membandingkan
daun bangun-bagun dengan moloco
(yang mengandung bahan kimia dari
extract plasenta sapi), dan fenugreek,
yakni
tanaman
yang
biasa
dimanfaatkan orang Eropa untuk
meningkatkan kualitas ASI. Hasil
penelitian menunjukkan ternyata ASI
dari
kelompok
ibu
yang
menggunakan daun bangun-bangun
itu yang terbaik.
Air susu ibu merupakan
makanan dari tuhan yang diciptakan
khusus bagi ibu yang melahirkan
bayinya.
Berkembangnya
ilmu
pengetahuan juga membuat kita
semakin tahu bahwa ASI adalah
nutrisi yang paling baik,paling
berkualitas, dan paling cocok untuk
bayi. Mengapa? Kerena ternyata
banyak ibu yang lupa atau tidak tahu,
lalu menganggap ASI sama saja
dengan susu formula (Sri Budiasih,
2006:40).
Air
susu
ibu
juga
mengandung beberapa mikronutrien
yang dapat membantu memperkuat
daya tahan tubuh bayi. Selain itu
pemberian ASI minimal selama 6
bulan jga dapat menghindarkan bayi
dari obesitas atau kelebihan berat
badan karena ASI membantu
menstabilkan pertumbuhan lemak
bayi.
ASI diproduksi
pada
semester ke-2 kehamilan atau
memasuki kehamilan atau memasuki
minggu ke 16. Pada masa ini,
hormon prolaktin sudah mulai aktif
bekerja.
hormon
ini
mulai
memproduksi
ASI
untuk
mempersiapkan ketersediaan ASI
pada saat bayi dilahirkan sampai
dengan periode menyusui selesai.
Seringkali kita mendengar,
bahwa ASI baru akan keluar pada
hari ke-2 dan ke-3 atau ASI tidak
keluar sama sekali ketika bayi baru
saja dilahirkan. Anggapan itu tentu
saja tidak tepat, karena tubuh ibu
sudah mempersiapkan makanan yang
terbaik bagi bayi yaitu ASI sejak
memasuki
trisemester
ke-2
kehamilan.
Colostrum
yang
jumlahnya masih sangat sedikit akan
keluar dalam bentuk cairan seperti
minyak, berwarna putih/kekuningan,
dan akan semakin lancar keluar jika
distimulasi dengan isapan mulut
bayi. Oleh karena itu, sangatlah
penting untuk melakukan proses
inisiasi menyusu dini segera setelah
bayi lahir dan dilanjutkan dengan
rawat gabung untuk membantu ibi
sukses menyusui bayinya.
Seorang bayi selama dalam
kandungan telah mengalami proses
tumbuh kembang sedemikian rupa,
sehinngga waktu bayi lahir berat
badannya sudah mencapai berat
badan normal.
Pertumbuhan
dan
perkembangan
bayi
terus
berlangsung sampai dewasa. Proses
tumbuh kembang ini dipengaruhi
oleh makanan yang di berikan pada
anak. Makanan yang paling sesuai
untuk bayi adalah Air Susu Ibu(ASI),
karena
ASI
memang
untuk
diperuntukan bagi bayi sebagai
makanan pokok bayi.
Para ahli anak di seluruh
dunia telah mengadakan penelitian
terhadap keunggulan ASI. Hasil
penelitian tersebut menjelaskan
keunggulan
ASI
dibandingkan
dengan susu sapi atau susu buatan
lainnya. Hal itu disebabkan oleh zatzat kekebalan tubuh di dalam ASI
memberikan perlindungan langsung
melawan serangan penyakit.
Adapun masalah pada ibu
saat ibu memberikan ASI kepada
bayinya yaitu kurang informasi,
puting susu yang pendek/terbenam
dan produksinya yang kurang.
Banyak ibu-ibu yang mengatakan
tidak bisa memberikan ASI kepada
bayinya karena produksi ASI-nya
kurang. Sering kenyataannya ASI
tidak benar-benar kurang. Tandatanda yang sering di anggap ibu
produksi ASI-nya kurang antara lain,
bayi tidak puas setiap selesai
menyusui, sering kali menyusu,
menyusu dengan waktu yang sangat
lama, tapi juga terkadang bayi lebih
cepat menyusu disangka produksinya
berkurang padahal dikarenakan bayi
telah pandai menyusu, bayi sering
menangis atau bayi menolak
menyusu, tinja bayi keras, keringat
atau berwarna hijau, payudara tidak
membesar
selama
kehamilan
(keadaan yang jarang) atau ASI tidak
“datang” pasca lahir.
Adapun faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi ASI adalah
makanan
ibu,
ketenangan
jiwa/pikiran,
penggunaan
alat
kontrasepsi dan perawatan payudara.
Praktik
pemberian
ASI
eksklusif masih rendah disebagian
besar negara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan
data
UNICEF,
persentase anak Indonesia yang
diberi ASI secara eksklusif (usia 0 3 bulan) selama tahun 1986 – 1991
hanya sebesar 39 %.Penelitian
Afriansyah
mengenai
praktik
pemberian ASI- eksklusif
di 3
propinsi di Indonesia menunjukkan
praktik pemberian ASI eksklusif di
Jawa Barat sebesar 19,2 persen,
Sumatera Barat 10,4 persen dan Nusa
Tenggara Timur 8,9 persen.Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 1997 dan 2002 menunjukkan
bahwa praktik menyusui 1 jam
setelah bayi lahir di Indonesia masih
sangat rendah yaitu 3% pada tahun
1997 dan 3,7 % pada tahun 2002.
Riskedas
2010
menunujukan
Persentase proses mulai menyusui
kurang dari satujam (< 1 jam) setelah
bayi lahir adalah 29,3%.
Menurut
World
Health
Organization (WHO) Pemberian ASI
eksklusif selama enam bulan
merupakan salah satu dari strategi
global
untuk
meningkatkan
pertumbuhan,
perkembangan,
kesehatan dan kelangsungan hidup
bayi. Meskipun banyak manfaat
pemberian ASI eksklusif bagi bayi,
ibu, keluarga, dan masyarakat namun
cakupannya masih rendah di
berbagai negara termasuk Indonesia.
Data
Riskesdas
tahun
2010
menunjukkan
bahwa
cakupan
pemberian ASI eksklusif pada bayi
sampai enam bulan hanya 15,3%
(Kemenkes 2010).
Di desa kebun laras tentang
mengkonsumsi daun bangun-bangun
biasanya dalam bentuk sayuran yang
di masak untuk kebutuhan seharihari. Namun penduduk di desa kebun
laras tidak mengetahui apa manfaat
dari daun bangun-bangun peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian
di desa kebun laras tentang manfaat
daun bangun-bangun.
Berdasarkan survei awal yang
dilakukan peneliti di Desa Laras
melalui wawancara, terdapat 10
orang ibu hamil, dan peneliti
memberikan pertanyaan kepada ibu
hamil tersebut untuk mengetahui
pengetahuan dan sikap ibu hamil
tentang manfaat daun bangunbangun.
Peneliti
memberikan
pertanyaan sebagai berikut: Apakah
ibu tahu apa itu daun bangunbangun, Apakah ibu tahu manfaat
daun bangun-bangun, Bagaimana
ciri-ciri
daun
bangun-bangun,
Apakah ibu pernah mengkonsumsi
daun Bangun-Bangun.
Dari uraian pertanyaan diatas,
karena ibu hamil di desa laras tidak
paham
dan
tidak
pernah
mengkonsumsi daun bangun-bangun,
peneliti tertarik untuk melakuan
penelitian tentang pengetahuan dan
sikap ibu hamil tentang manfaat daun
bangun-bangun untuk meningkatkan
produksi ASI di Poli Rumah Sakit
Kebun Laras.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar
belakang di atas dapat di simpulkan
bahwa rumusan masalah sebagai
berikut: bagaimana pengetahuan dan
sikap ibu hamil terhadap manfaat
daun
bangun-bangun
untuk
meningkatkan produksi ASI di Di
Poli Rumah Sakit Kebun Laras tahun
2015.
1.3
1.3.1
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari
penelitian
ini
adalah
untuk
mengetahui pengetahuan dan sikap
ibu hamil tentang manfaat daun
bangun
–
bangun
untuk
meningkatkan produksi ASI di Poli
Rumah Sakit Kebun Laras.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk megetahui pegetahuan ibu
hamil tentang manfaat daun bangunbangun
untuk
meningkatkan
produksi ASI di Poli Rumah Sakit
Kebun Laras
b. Untuk megetahui sikap ibu hamil
tentang manfaat daun bangunbangun
untuk
meningkatkan
produksi ASI di poli Rumah Sakit
Kebun Laras.
c.
Untuk mengetahui hubungan
pengetahuan dan sikap ibu hamil
tentang manfaat daun bangunbangun
untuk
meningkatkan
produksi ASI di Poli Rumah Sakit
Kebun Laras.
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian dan Desain
Penelitian
3.1.1 jenis penelitian
Dalam
penelitian
ini
menggunakan desain penelitian
deskriftif korelasi yang bertujuan
untuk
mengetahui
Hubungan
Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil
Tentang Manfaat Daun BangunBangun
Untuk
meningkatkan
Produksi ASI Di Rumah Sakit Kebun
Laras kab. Simalungun tahun 2015.
3.1.2 desain penelitian
Pada
penelitian
ini
menggunakan metode korelasional
dengan pendekatan cross sectional
yang
menjelaskan
Hubungan
Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil
Tentang Manfaat Daun BangunBangun
Untuk
meningkatkan
Produksi ASI Di Rumah Sakit Kebun
Laras Kab. Simalungun untuk
mendeskripsikan data hasil angket
dari variabel bebas pengetahuan dan
hasil
dari
variabel
terikat
pengetahuan dan sikap.
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian
3.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 6-14 Oktober 2015
3.2.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Rumah Sakit Kebun Laras, karena
belum pernah diteliti, adanya
permasalahan yang akan diteliti yaitu
masih ada ibu hamil yang belum
mengerti tentang manfaat daun
bangun-bangun untuk meningkatkan
produksi ASI mengenai pengetahuan
dan sikap ibu.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah
generalisasi terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu. Ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian
ditarik
kesimpulan
(Sugiyono, 2008:115). Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh
Ibu hamil di Rumah Sakit Kebun
Laras. Berdasarkan data rekam
medik Rumah Sakit Kebun Laras
diketahui rata – rata jumlah ibu hamil
setiap bulan sebanyak 56 orang
dengan datang ke poliklinik lalu
peneliti mencatat data yang sudah
ada.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari
jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut
(Sugiyono, 2011: 120). Sedangkan
menurut pendapat lainnya, yang
dimaksud sampel atau contoh adalah
sebagian atau wakil populasi yang
diteliti (Arikunto, 2010: 174).
Sampel dalam penelitian ini adalah
sebagian Ibu hamil di Rumah Sakit
Kebun Laras. Teknik pengambilan
sampel dalam penelitian ini adalah
Accidental
Sampling
yaitu
mengambil kasus atau responden
yang kebetulan ada atau tersedia di
suatu tempat sesuai dengan konteks
penelitian.
3.4
Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah
mendefenisikan variabel
secara
operasional berdasarkan karateristik
yang
diamati,
memungkinkan
peneliti untuk melakukan observasi
atau pengukuran secara cermat
terhadap suatu objek atau fenomena
(Hidayat 2010:8)
Agar variabel penelitian dapat diukur
maka
perlu
dibuat
defenisi
operasional seperti tabel dibawah ini:
Table 1. Defenisi Operasional
Variabel Penelitian hubungan pengetahuan
Variabel
Defenisi
Alat ukur
Variabel
independen:
Pengetahuan
ibu hamil
Variabel
dependen:
Sikap
ibu
hamil tentang
manfaat daun
bangunbangun
Hasil ukur
Skala
ukur
Segala sesuatu Kuesioner
yang diketahui yang terdiri
ibu
hamil Dari 14 soal.
tentang manfaat
daun bangunbangun
Di nilai dari Ordinal
hasil
kuesioner:
Baik:11-14
Sedang:6-10
Kurang:0-5
Persepsi yang Kuesioner
dimiliki
ibu yang terdiri
hamil tentang dari 11 soal.
manfaat daun
bangun-bangun
Di nilai dari Ordinal
hasil
kuesioner:
Baik: 23-44
Tidak Baik:
1-22
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di
Poli Rumah Sakit Kebun Laras Kab.
Simalungun Tahun 2015. Penelitian
yang saya gunakan ini menggunakan
teknik accidental sampling dengan
jumlah sampel yaitu 33 orang.
Dimana penelitian ini saya lakukan
selama 2 minggu dimana rata-rata
setiap hari buka Poli hari selasa dan
kamis ada 8 orang ibu hamil yang
berkunjung di poliklinik Rumah
Sakit Kebun laras.
4.2 Distribusi Data Demografi
Data
demografi
dalam
penelitian ini meliputi umur, kelas,
jurusan,
pernah
mengalami
kehamilan, agama, dan sumber
pengetahuan. Secara rincinya berikut
adalah tabel yang menunjukkan data
demografi responden.
Berdasarkan data demografi
diatas menunjukkan hasil bahwa
responden
dalam
penelitian
ini
mayoritas berumur 25-30 tahun yaitu
sebanyak 17 responden (51,5%).
Sedangkan mayoritas responden yang
selesaikan pendidikan pada tingkat SMA
16 orang (48,5%). Di lihat dari
pekerjaan
mayoritas
responden
berpropesi sebagai IRT 22 orang
(66.7%).
4.3 Hasil Penelitian
4.3.1 Pengetahuan Ibu hamil Tentang
Manfaat daun Bangun-Bangun Di
Poli Rumah Sakit kebun Laras Tahun
2015
Dari tabel di atas dapat di
lihat bahwa mayoritas responden
memiliki Pengetahuan baik tentang
manfaat daun bangun-Bangun di Poli
Rumah Sakit Kebun Laras Kab.
Simalungun yaitu sebanyak 22 orang
(66,6%)
4.3.2 Sikap Ibu Hamil Tentang
Manfaat Daun Bangun-Bangun Di
Poli Rumah Sakit Kebun Laras Kab.
Simalungun Tahun 2015.
Dari tabel diatas dapat di lihat
bahwa mayoritas responden memiliki
Sikap Ibu Hamil Tentang Manfaat
Daun Bangun-Bangun Di Poli
Rumah Sakit kebun laras kab.
Simalungun yaitu sebanyak 27 orang
(81,8%)
4.3.3
Hubungan
Pengetahuan
Dengan Sikap Ibu Hamil Tentang
Manfaat Daun Bangun-Bangun Di
Poli Rumah Sakit Kebun Laras kab.
Simalungun tahun 2014.
Dalam penelitian ini, uji yang
dipakai untuk mengetahui Hubungan
Pengetahuan Dan sikap Ibu hamil
Tentang manfaat Daun BangunBangun di poli Rumah Sakit Kebun
Laras Tahun 2015 adalah uji Chi
Square. Uji Chi Square adalah uji
non parametris yang dilakukan pada
dua variabel. Hasil hubungan antara
kedua variabel pengetahuan dan
sikap
ini
ditampilkan
dalam
lampiran.
Hasil Hubungan Pengetahuan
Dan Berdasarkan analisa data
mengenai Hubungan Pengetahuan
Dan Sikap Ibu hamil Tentang
Manfaat Daun Bangun-Bangun di
Poli Rumah Sakit Kebun Laras
Tahun 2014 didapatkan nilai P value
= 0,00 dengan α < 0,05. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa ada
Hubungan Pengetahuan Dengan
Sikap Ibu Hamil Tentang manfaat
Daun bangun-Bangun Di Poli Rumah
Sakit kebun laras kab. Simalungun
tahun 2015.
4.4 Pembahasan
4.4.1 Pengetahuan Ibu Tentang
Manfaat
Daun
BangunBangun
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan didapatkan
mayoritas Pengetahuan responden
tentang Dengan Sikap Ibu Hamil
Tentang manfaat Daun BangunBangun Di Poli Rumah Sakit Kebun
Laras Kab. Simalungun yaitu cukup
sebanyak 22 responden (66,6%).
Menurut Notoadmojo (2010),
faktor
yang
mempengaruhi
pengetahuan adalah pengalaman,
pendidikan, kepercayaan, dukungan
keluaga, informasi/media, sosial
budaya, lingkungan dan usia.
Pengalaman merupakan suatu cara
untuk
memperoleh
kebenaran
pengetahuan, baik dari pengalaman
sendiri
maupun
orang
lain.
Pendidikan adalah suatu kegiatan
atau proses pembelajaran untuk
meningkatkan kemampuan tertentu,
tingkat pendidikan turut pula
menentukan
mudah
tidaknya
seseorang menyerap dan memahami
pengetahuan mereka yang diperoleh,
pada umumnya semakin tinggi
pendidikan seseorang maka semakin
baik
pula
pengetahuannya.
Kepercayaan adalah sikap untuk
menerima suatu pernyataan percaya
berdasarkan keyakinan dan tanpa
adanya pembuktian terlebih dahulu.
Kepercayaan dapat timbul bila
berulang kali mendapatkan informasi
yang sama. Dukungan dari orang lain
apalagi orang terdekat sangat
berperan dalam sukses tidaknya
penerapan dalam manfaat daun
bangun-bangun yang dilakukan oleh
ibu hamil. Informasi/media adalah
sarana komunikasi, berbagai bentuk
media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, internet, majalah dan
lain-lain mempunyai pengaruh besar
terhadap
pembentukan
opini
kepercayaan responden. Semakin
banyak informasi yang masuk
semakin banyak pula pengetahuan
yang didapat tentang manfaat daun
bangun-bangun.
Pengukuran
pengetahuan pada umumnya dapat
dilakukan
melalui
tes
atau
wawancara dengan menggunakan
angket yang menanyakan tentang
materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian/responden.
Kedalaman
pengetahuan yang ingin diukur dapat
disesuaikan dengan doman kognitif,
sumber pengetahuan diperoleh lewat
kemampuan berpikir rasional dan
melalui pengalaman yang kongkrit
yaitu
berasal
dari
seminar,
penyuluhan, pendidikan formal dan
lain-lain.
Responden yang pengetahuan
cukup selain disebabkan latar
belakang responden seperti sumber
pengetahuan disebabkan oleh tingkat
pendidikan responden. Sebagaimana
telah diketahui bahwa mayoritas
responden pada penelitian ini hanya
berpendidikan pada tingkat Sekolah
Menengah Atas yakni 16 orang
(48,5%).
(Mubarak,
2011),
menyebutkan
semakin
tinggi
pendidikan
seseorang
semakin
mudah menerima informasi sehingga
semakin banyak pula pengetahuan
yang didapatnya. Responden yang
memilki pengetahuan yang baik,
selain disebabkan latar belakang
responden seperti pendidikan juga
disebabkan oleh umur dan pekerjaan.
Sebagaimana telah diketahui bahwa
mayoritas umur responden 25-30
tahun (51,5%). Sedangkan mayoritas
pekerjaan responden sebagai Ibu
Rumah Tangga (66.7%). Meskipun
responden mampu dan memiliki
pengetahuan yang baik, namun ada
beberapa
responden
memiliki
pengetahuan yang cukup (24.3%)
dan kurang (9,1%) di karenakan
kurang
memehami
pentingnya
manfaat daun bangun-bangun.
Menurut asumsi peneliti
mayoritas responden berpengetahuan
baik tentang manfaat daun bangunbangun. Hal ini terlihat dari jawaban
responden
yang
mayoritasnya
menjawab benar tentang jawaban
kuesioner yang diberikan.
Berdasarkan uraian diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengetahuan ibu hamil dalam
katagori baik.
4.4.2 Sikap Ibu Hamil Tentang
Manfaat Daun Bangun-bangun
Berdasarkan hasil penelitian
yang
dilakukan
terhadap
33
responden didapatkan mayoritas ibu
mempunyai sikap baik sebanyak 27
orang (81,8%). Hal ini disebabkan
oleh banyaknya responden yang
mengetahui manfat daun bangunbangun.
Menurut Saifuddin Azwar
(2013;30)
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
sikap
adalah
pengalaman pribadi, pengruh orang
lain
yang
dianggap
penting,
pengaruh kebudayaan, media massa,
lembaga pendidikan dan lembaga
agama, pengaruh faktor emosional.
Pengalaman pribadi adalah Apa yang
telah dan sedang kita alami akan ikut
membentuk dan mempengaruhi
penghayatan kita terhadap stimulus
sosial. Tanggapan akan menjadi
salah satu dasar terbentuknya sikap,
untuk dapat mempunyai pengalaman
yang berkaitan dengan objek
psikologis.Pengaruh Orang lain yang
Dianggap Penting Orang lain di
sekitar kita merupakan salah satu di
antara komponen sosial yang ikut
mempengaruhi sikap kita. Seseorang
yang kita anggap penting, atau
seseorang yang berarti khusus bagi
kita, akan banyak mempengaruhi
pembentukan sikap kita terhadap
sesuatu.
Pengaruh
Kebudayaan
adalah dimana kita hidup dan di
besarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap kita.
Tanpa kita sadari, kebudayaan telah
menanamkan garis pengaruh sikap
kita terhadap berbagai masalah.
Media Massa adalah Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media
massa seperti televisi, radio, surat
kabar, majalah, dan lain-lain
mempunyai pengaruh besar dalam
pembentukan opini dan kepercayaan
orang. Pesan-pesan sugestif yang
dibawa informasi tersebut, apabila
cukup kuat, akan memberi dasar
afektif dalam menilai sesuatu hal
sehingga terbentuklah arah sikap
tertentu.Lembaga Pendidikan dan
Lembaga Agama sebagai suatu
sistem mempunyai pengaruh dalam
pembentukan sikap dikarenakan
keduanya
meletakkan
dasar
pengertian dan konsep moral dalam
diri individu, pemahaman akan baik
dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan yang tidak
boleh dilakukan, diperoleh dari
pendidikan dan dari pusat keagamaan
serta ajaran-ajarannya. Pengaruh
Faktor Emosional adalah Tidak
semua bentuk sikap yang ditentukan
oleh
situasi
lingkungan
dan
pengalaman
pribadi
seseorang.
Kadang-kadang suatu bentuk sikap
merupakan pernyataan yang didasari
oleh emosi yang berfungsi sebagai
semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan
bentuk
mekanisme
pertahanan ego..
Menurut asumsi peneliti
sikap adalah salah satu pendorong
ibu hamil dalam melakukan manfaat
daun bangun-bangun, dimana ibu
menyadari
betapa
pentingnya
manfaat daun bangun-bangun bagi
ibu hamil untuk meningkatkan
produksi ASI. Dimana ibu akan
merasa bahwa ASI nya tidak keluar
sedikit dan bayi merasa puas dengan
ASI ibunya.
4.4.3 Hubungan Pengetahuan Dan
Sikap Ibu Hamil Tentang
Manfaat Daun Bangun-Bangun
Di Poli Rumah Sakit Kebun
Laras Kab. Simalungun Tahun
2015.
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan di poli rumah sakit
kebun laras kab. Simalungun
terdapat ada Hubungan Pengetahuan
Dan Sikap Ibu Hamil Tentang
Manfaat Daun Bangun-Bangun.
Penelitian ini dikatakan mempunyai
hubungan
karena
pada
hasil
pengolahan data yang menunjukkan
nilai signifikan sebesar 0,00 yang
artinya nilai p value < 0,05 maka
dikatakan adanya hubungan yang
signifikan antara Pengetahuan dan
sikap ibu hamil tentang manfaat daun
bangun-bangun di Poli Rumah Sakit
Kebun Laras Kab. Simalungun
bersifat searah dan saling berkaitan.
Hasil penelitian tersebut
sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Rizki Rika Ayu
Efendi (2015) menunjukkan bahwa
terdapat
hubungan
antara
pengetahuan dan sikap ibu dalam
menghadapi perubahan fisik pada
menopause yaitu 0,02<0,05 sehingga
menunjukkan
bahwa
adanya
hubungan
antara
pengetahuan
tentang perubahan fisik ibu pada
masa menopause sangat cukup. Hal
ini
menunjukkan
masih
dibutuhkannya
tambahan
pengetahuan ibu dalam meyikapi
perubahan
fisik
pada
masa
menopause ini. Maka diharapkan
kepada ibu untuk lebih meningkatkan
pengetahuan tentang menaopause
sehingga dapat disikapi dengan baik.
Dengan
demikian
hasil
penelitian ini memberikan implikasi
betapa
pentingnya
faktor
pengetahuan dalam kaitan dengan
pencapaian sikap yang baik dalam
manfaat
daun
bangun-bangun.
Semakin tinggi derajat kesehatan
seseorang maka kualitas hidup juga
semakin tinggi yang artinya semakin
baik pengetahuan ibu maka semakin
tinggi
pula
sikap
yang
didapatkannya.
4.5 Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti
telah berupaya semaksimal mungkin
untuk memperoleh data yang
sebenarnya dan mengontrol kondisi
yang berkaitan dengan proses dan
hasil penelitian
secara optimal,
namun berbagai kendala tidak jarang
muncul
sehingga
berbagai
kelemahan dan keterbatasan pada
saat pelaksanaan penelitian ini.
Adapun keterbatasan dalam
penelitian ini yaitu:
1. Keterbatasan
dalam
membagikan kuesioner
2. Kesulitan dalam mengisi
jawaban dikarenakan kondisi
ibu yang lemas dan keadaan
pusing dan mual sehingga
responden tidak fokus pada
pertanyaan dan jawaban.
Karena
keterbatasanketerbatasan itu menyebabkan hasil
penelitian ini perlu pengkajian yang
lebih seksama dimasa mendatang
dengan melihat faktor-faktor diluar
keterbatasan sekarang serta dengan
metode yang lebih bervariasi untuk
memberikan keyakinan terhadap
hasil yang diperoleh, sehingga
hasilnya lebih bermanfaat dan dapat
diterapkan.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Ada 3 kesimpulan yang
ditarik dari penelitian ini, berikut
adalah kesimpulan tersebut.
1. Mayoritas responden memiliki
pengetahuan yang baik tentang
manfaat daun bangun-bangun di
poli rumah sakit kebun laras
tahun 2015 sebanyak 22 orang
(66,6%).
2. Mayoritas responden di poli
rumah sakit kebun laras memiliki
sikap yang baik tentang manfaat
daun bangun-bangun dengan
jumlah 27 orang (81,8%).
3. Ada hubungan yang signifikan
antara Pengetahuan Dan Sikap
Dalam Manfaat Daun BangunBangun Di Poli Rumah Sakit
Kebun laras Kab.simalungun
Tahun 2015 dengan Nilai Chi
Square 0,00 < 0,05.
5.2 Saran
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dijadikan untuk
dapat melaksanakan penyuluhan
terlebih dahulu tentang betapa
pentingnya
Daun
BangunBangun bagi ibu hamil. Sehingga
ibu hamil dapat paham dengan
Daun Bangun-bangun Untuk
meningkatkan produksi ASI nya.
53
2. Institusi Penelitian
Di
harapkan
pada
pihak
pendidikan sekolah tinggi ilmu
kesehatan rumah sakit haji medan
agar
terus
meningkatkan
kemampuan dan keterampilan
mahasiswa/i keperawatan agar
nantinya dapat di terapkan dalam
berbagai kegiatan.
3. Peneliti Selanjutnya
Di harapkan bagi peneliti
selanjutnya
agar
dapat
mengembangkan penelitian ini
untuk
mengkaji
tingkat
pengetahuan ibu hamil tentang
manfaat daun bangun-bangun
dan mengetahui sikap ibu hamil
dalam menyikapi manfaat daun
bangun-bangun dengan sampel
yang lebih banyak dan dengan
metode yang lain agar bisa lebih
representatif.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S.2010. Prosedur
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Budiasih, Sri,2010. Handbook Ibu
Menyusui. Bandung: PT Karya Kita.
Hidayat, R,. Dkk. 2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan dan Teknik
Analisa
Data.
Jakarta:
Salemba Medika.
Jitowiyono, Sugeng, 2010. Asuhan
Keperawatan Neonatus dan Anak.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Mubarak, 2012. Promosi Kesehatan
Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika.
Maulana Mirza,2007. Cara
Cerdas Menghadapi Kehamilan dan
Mengasuh
Bayi.yogyakarta: Katahati.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010.
Metodologi Penelitian. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Natia Wiji, Rizki. 2013. ASI
dan Panduan Ibu Menyusui.
Yogyakarta: Edisi Nuna Medika.
Ramadhani, Anis, 2013. 1001
Keajaiban dan Khasiat Dedaunan.
Edisi Febrian Adi Wicaksono.
Santosa, C.M. 2002. Pengaruh
Konsumsi Daun Bangun-Bangun
(Coleus
Amboinicus Lour.
Terhadap Potensi Sekresi ASI Dan
Komposisinya Pada Ibu Menyusui.
Majalah
Farmasi
Indonesia
MFI) 13 (3): 133-139. (diakses 14
Mei 2015, jam
20.00).
Santosa , C.M 2002. Efek Ekstrak
Daun
Bangun-Bangun
(Coleus
Amboinicus Lour) Pada Aktivitas
Limfosit
Tikus
Putih.
Jurnal
Kedokteran (Diakses 24
Mei
2015, jam 15.00 WIB.
Syarif, Hidayat. 2014. Pemanfaatan
Daun
Bangun-Bangun
Dalam
Pengembangan
Produk
Makanan Tambahan Fungsional
Untuk Ibu
Menyusui. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia (diakses 14 Mei
2015, jam
20.00 WIB).
Setiadi, 2007. Konsep Dan Penulisan
Riset Keperawatan, yogyakarta:
Graha Ilmu.
Download