Abalistes stellaris - Universitas Syiah Kuala

advertisement
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
IDENTIFIKASI ENDOPARASIT PADA IKAN JEBONG (Abalistes stellaris) DI
TEMPAT PELELANGAN IKAN
(TPI) LAMPULO KOTA BANDA ACEH
Identification of Endoparasites on Starry Triggerfish (Abalistes stellaris) in Lampulo
Fish Auction Site (FAS) Banda Aceh
Muhammad Geraldy Zarry1, Muhammad Hambal2,, Zuhrawaty NA3
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala
2
Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala
3
Laboratorium Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala
E-mail: [email protected]
1
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi endoparasit pada Starry
Triggerfish (Abalistes stellaris) yang diperoleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Lampulo Banda Aceh. Penelitian dilakukan pada Mei 2016 di Laboratorium
Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah. Sebanyak 25 Abalistes stellaris
diperoleh dan kemudian diperiksa untuk mengetahui keberadaan endoparasit. Sebelum
diperiksa, panjang ikan diukur dan berdasarkan pada keberadaan telur di perut, jenis
kelamin ikan diidentifikasi. Pengamatan dari endoparasit dilakukan dengan mengamati
organ internal ikan secara makroskopik kemudian mikroskopik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ikan terinfeksi oleh Anisakis spp. dan Tetraphylidea di perut dan
usus ikan dengan tingkat prevalensi masing-masing endoparasit antara 12% dan 36%.
Hasil juga menunjukkan bahwa semakin panjang tubuh ikan, semakin banyak parasit
yang diperoleh.
Kata Kunci: Abalistes stellaris, Anisakis spp., endoparasit
ABSTRACT
This study aims to identify endoparasite on Starry Triggerfish (Abalistes
stellaris) obtained from the Lampulo Fish Auction Site (TPI) Banda Aceh. The study
was conducted in May 2016 at the Laboratory of Parasitology, Faculty of Veterinary
Medicine Unsyiah. As many as 25 Abalistes stellaris were collected and then examined
to find out endoparasites. Before examined, the length of fish were measured and based
on the existence of spawn in the abdomen, the sex was identified. Observations of the
endoparasites were done by observing internal organs of fish macroscopic then
microscopic. The results revealed that the fish were infected by Anisakis spp. and
Tetraphylidea in the stomach and intestines of fish with a prevalence rate of each
endoparasite between 12% and 36%. Results also showed that the longer the fish length
is, the more parasites were obtained.
Keywords: Abalistes stellaris, Anisakis spp., endoparasites
PENDAHULUAN
Ikan Jebong (Abalistes stellaris) (Bloch dan Schneider, 1801) merupakan salah
satu spesies ikan yang berasal dari famili Balistidae. Spesies ikan ini dapat ditemukan di
Indo-Pasifik (Laut Merah dan Afrika Timur ke Asia Tenggara, utara ke Jepang dan
selatan ke utara Australia, serta timur Atlantik bagian barat). Ikan ini hidup dengan
memakan hewan bentik (cacing laut). Ikan ini umum ditemukan di pasar di Thailand,
188
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
Indonesia, Filipina, dan Jepang. Di Aceh, ikan ini dipasarkan dalam keadaan segar dan
olahan. Selain diolah menjadi ikan asin, ikan ini juga sering diolah oleh sebagian
masyarakat menjadi dendeng ikan (Figueiredo dan Menezes, 2000; Carpenter dan Niem,
2001).
Ikan laut yang hidup bebas terutama yang memiliki sifat karnivora, sering
teridentifikasi dengan cacing endoparasit (Sarjito dan Desrina, 2005). Parasit
merupakan organisme yang hidup dengan beradaptasi dan menyebabkan kerugian pada
inangnya. Cacing parasit yang terdapat pada ikan yang hidup bebas di alam tidak
bersifat mematikan, namun ikan terinfeksi bias menularkan parasite kepada ikan lain
melalui interaksi satu sama lain (Indaryanto dkk., 2014).
Bebarapa larva dan cacing parasit dapat menyebabkan penyakit pada pencernaan
serta menghasilkan enzim yang dapat merusak tekstur dan kualitas dari daging ikan
(Buchmann dan Bresciani, 2001).
Parasit yang menginfeksi ikan akan menyebabkan pertumbuhan ikan terganggu
atau terhambat. Pada bagian dalam tubuh ikan lebih sering ditemukan parasit dari
kelompok trematoda (digenea) dan nematoda, sedangkan pada bagian luar tubuh ikan
lebih sering ditemukan dari kelompok monogenea (Chambers dkk., 2001; Cribb dkk.,
2002).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Oshmarin, Mamaev dan Parukhin
pada tahun 1961 dan Reimer pada tahun 1981, diidentifikasi 2 jenis endoparasit dari
Ikan Jebong yaitu, Diploproctodaeum macracetabulum dan Diploproctodaeoides
longipygum (Reimer, 1981; Oshmarin dkk., 1961 yang disitasi dari Bailey, 2015).
Kemudian pada tahun 2011, diidentifikasi endoparasit pada Ikan Jebong di laut merah
yaitu Hypocreadium Ozaki (Al-Zubaidy, 2011). Informasi tentang Ikan Jebong ini
masih sangat minim, bahkan untuk di Indonesia sendiri, masih jarang ditemukan adanya
penelitian tentang identifikasi parasit pada Ikan Jebong. Untuk itu, sebuah penelitian
yang memfokuskan pada parasit Ikan Jebong akan membantu memahami potensi ikan
ini.
MATERIAL DAN METODE
Penelitian ini menggunakan Ikan Jebong yang diambil langsung di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo Kota Banda Aceh. Sampel kemudian dimasukkan ke
dalam kantong plastik dan selanjutnya di bawa ke Laboratorium Parasitologi Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala untuk diperiksa. Pengamatan endoparasit
ikan dimulai dengan di letakkan Ikan Jebong pada cawan petri kemudian menyiapkan
alat bedah seperti, pisau bedah, gunting dan pinset. Ikan kemudian diukur. Rongga
tubuh bagian dalam ikan dibuka melalui bagian ventral tubuh ikan dengan menggunting
dari anus hingga operkulum. Diangkat bagian yang dipotong sehingga rongga perut
terbuka. Semua organ dalam dipisahkan dan ditempatkan pada masing-masing cawan
petri yang berisi NaCl fisiologis. Organ internal diperiksa secara makroskopis kemudian
mikroskopis. Jaringan otot ikan juga diperiksa dengan cara pengirisan mendatar
sehingga menghasilkan fillet. Setiap lapisan otot dibuka, diperiksa dan diteliti untuk
mengetahui adanya cacing. Bila saat diteliti ada cacing, cacing diambil dengan
menggunakan pinset dan ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi NaCl
fisiologis, kemudian diamati dibawah mikroskop (Yanong, 2008, Nurhayati dkk., 2007,
dan Rohde, 2005 yang disitasi oleh Pradipta dkk., 2014).
189
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis Parasit Yang Ditemukan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada 25 ekor Ikan Jebong yang
didapatkan secara acak di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo Kota Banda Aceh,
ditemukan endoparasit yaitu Anisakis spp. dan endoparasit dari ordo Tetraphyllidea.
Tabel 1. Jenis parasit, predileksi, dan prevalensi endoparasit pada Ikan Jebong (Abalistes stellaris)
Endoparasit
Anisakis spp.
Tetraphyllidea
Predileksi
Jumlah ikan terinfeksi
/ total sampel
Prevalensi
(%)
3/25
12
9/25
36
Usus dan
Lambung
Usus dan
Lambung
Dari tabel 1 tersebut dapat di lihat bahwa tingkat infeksi endoparasit pada Ikan
Jebong tidak terlalu tinggi, yaitu Anisakis spp. 12% dan endoparasit dari ordo
Tetraphyllidea sebanyak 36%. Jumlah Anisakis spp. yang ditemukan pada sampel
berkaitan dengan sifat Ikan Jebong yang karnivora dengan memakan ikan kecil, cumicumi dan udang yang merupakan inang perantara pertama dari Anisakis spp., sehingga
dari hasil yang didapatkan Ikan Jebong dapat dikategorikan sebagai inang perantara
kedua. Kebiasaan ikan memakan inang perantara ini mempengaruhi tinggi rendahnya
presentase larva Anisakis spp. yang ditemukan pada tubuh ikan. Larva Anisakis spp.
mempunyai distribusi dan rentang inang yang luas sehingga sering ditemukan pada ikan
laut yang bersifat karnivora (Utami, 2014).
Ditemukannya Anisakis spp. pada tubuh ikan menunjukkan bahwa ikan tersebut
memiliki kualitas daging yang buruk meskipun yang ditemukan hanya satu larva. Hal
ini juga sesuai dengan pendapat Utami (2014) yang meneliti keberagaman Anisakis spp.
pada beberapa jenis ikan laut seperti ikan kembung bahwa keberadaan Anisakis spp.
pada daging ikan dapat menyebabkan reaksi alergi pada manusia yang
mengkonsumsinya.
Umumnya parasit yang masuk ke dalam tubuh manusia merupakan larva
stadium ketiga dan tetap hidup sebagai larva stadium ketiga. Selain dari mengkonsumsi
ikan yang tidak matang, resiko zoonosis terhadap manusia juga bisa terjadi pada saat
kontak langsung dengan ikan pada proses preparasi sebelum diolah. Larva dapat
ditemukan dalam keadaan hidup saat terjadi muntah atau keluar melalui feses. Infeksi
dari larva tersebut dapat dicegah dengan mengkonsumsi ikan dalam keadaan matang
dikarenakan Anisakis spp. mampu bertahan hidup pada suhu kurang dari 70 °C dan
temperatur kurang dari -20 °C dan menghindari mengkonsumi organ internal ikan
(Arifudin dan Abdulgani, 2013; Utami, 2014; Jabal, 2015).
Tabel 2. Prevalensi endoparasit pada Ikan Jebong (Abalistes stellaris) berdasarkan ukuran tubuh ikan.
Kategori Ukuran
(cm)
<30cm
≥30cm
Banyak Sampel
6
19
Jumlah sampel
yang terinfeksi
2
9
190
Prevalensi
33.33%
42.36%
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
Dari tabel 2 tersebut dapat di lihat bahwa tingkat prevalensi endoparasit pada
Ikan Jebong yang memiliki ukuran tubuh yang lebih panjang, memiliki tingkat
prevalensi lebih besar daripada ikan yang lebih pendek. Ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Muttaqin dan Abdulgani (2013) dimana ikan yang berukuran lebih
panjang memiliki tingkat prevalensi yang lebih tinggi. Pada penelitiannya, ikan
berukuran 21-24 cm memiliki tingkat prevalensi mencapai 66,67% dan ikan berukuran
25-37 cm memiliki tingkat prevalensi mencapai 80%.
Beberapa penelitian lain juga menyebutkan adanya pengaruh dari panjang
ukuran ikan. Seperti yang dinyatakan Noble dan Noble pada tahun 1989, terdapat
beberapa faktor infeksi yang mempengaruhi jumlah, ukuran dan prilaku parasit seperti
umur, ukuran tubuh inang, iklim, musim dan lokasi geografik. Tingginya jumlah infeksi
juga dipengaruhi oleh kebiasaan makan, mikrohabitat dan jenis ikan, dan juga kondisi
perairan. Kimpel dkk. pada tahun 2004 menjelaskan bahwa, pertambahan panjang tubuh
ikan juga menyebabkan akumulasi parasit menjadi tinggi, ini disebabkan oleh
pertambahan jumlah dan jenis makanan yang dapat dimakan oleh ikan seiring
bertambah besarnya dimensi mulut ikan. Dimensi mulut ikan dapat menggambarkan
ukuran terbesar yang mampu ikan telan, sehingga semakin besar ukuran ikan, maka
semakin besar pula ukuran yang dapat ditelan, sehingga variasi dari makanan yang
dikonsmsi ikan bertambah. Saat ikan berada pada saat juvenil, ikan akan memakan
crustacean, gastropoda, chepalapoda dan organisme planktonik yang lebih kecil dari
tubuhnya, namun pada saat dewasa, ikan akan memulai memakan ikan lainnya sehingga
lebih mudah terjangkit dan mengakumulasi parasit seperti anisakis dalam jumlah yang
banyak (Noble dan Noble, 1989, dan Kimpel dkk., 2004 yang disitasi dari Muttaqin dan
Abdulgani, 2013).
Tabel 3. Prevalensi endoparasit pada Ikan Jebong (Abalistes stellaris) berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin
Banyak Sampel
Jantan
Betina
9
16
Jumlah sampel
yang terinfeksi
4
7
Prevalensi
44.44%
43.75%
Dari tabel 3 tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin ikan tidak
berpengaruh pada jumlah infeksi parasit. Ini sesuai dengan penelitian Indaryanto dan
Wardiatno (2014) dimana komposisi dan intensitas konsumsi serta kebutuhan energi
antara ikan jantan dan betina tidak berbeda, sehingga jenis kelamin tidak mempengaruhi
infeksi cacing parasitik pada tubuh ikan.
Karakteristik Dari Jenis Parasit Yang Ditemukan
Anisakis spp.
Anisakis spp. stadium ketiga (seperti yang terlihat pada Gambar 1) memiliki
tubuh bewarna putih kemerahan, kutikula yang keras, tiga bibir, gigi menonjol untuk
melubangi terdapat pada ventral mulut yang disebut dengan gigi pengebor (boring
tooth), lubang sekresi terdapat diantara bibir, mempunyai lubang pencernaan sederhana
(esophagus, ventrikulus, intestinum) dengan panjang total 10-29 mm. Berbeda dengan
ukuran cacing dewasa jantan yaitu 38-60 mm dan untuk cacing dewasa betina yaitu 4580 mm. Keberadaan larva paling banyak ditemukan di rongga perut dan saluran
pencernaan, diduga karena larva tersebut keluar dari saluran pencernaan dan
191
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
mengumpul atau bermigrasi ke organ-oragan viscera di dalam rongga abdomen dan
bahkan menembus daging menggunakan gigi pengebornya. Banyaknya parasit yang
ditemukan pada saluran pencernaan kemungkinan karena banyaknya makanan yang
tersedia bagi cacing. (Iglesias dkk, 1997 yang disitasi dari Arifudin dan Abdulgani,
2013; Utami, 2014).
Siklus hidup dari anisakis belum dapat dijelaskan sepenuhnya, namun
berdasarkan survey ekologi dan uji laboratorium, dapat dilihat bahwa anisakis hanya
melibatkan 3 host. Cacing dewasa dapat ditemukan pada mamalia laut seperti lumbalumba, singa laut dan paus. Telur cacing keluar dari tubuh dalam feses dari mamalia laut
dan fase embrionik terjadi dalam air laut. Larva tahap kedua yang menetas dimakan
oleh krustasea kecil seperti krill. Hospes perantara pertama yang terinfeksi ini kemudian
dimakan oleh ikan laut dan cumi-cumi, di mana larva menjadi larva tahap ketiga. Siklus
hidup selesai ketika mamalia laut makan ikan yang terinfeksi atau cumi-cumi. Krustasea
secara teoritis dapat menginfeksi mamalia laut, dalam hal ini ikan dan cumi-cumi akan
bertindak hanya sebagai host perantara. Infeksi pada manusia umumnya terjadi secara
tidak sengaja. Manusia merupakan host yang tidak sesuai bagi parasit ini. Di dalam
tubuh manusia, belum pernah dilaporkan adanya anisakis dewasa yang reproduktif
(Sakanari dan Mckerrow, 1989).
Gambar 1. Larva stadium III Anisakis spp. (A) Pada cawan petri dibawah stereoskop
(B) Boring tooth
Tetraphyllidea
Pada penelitian ini, terdapat 3 endoparasit yang berasal dari ordo Tetraphyllidea
seperti yang terlihat pada Gambar 2 namun belum dapat ditentukan genus dan spesies
dari masing-masing endoparasit. Menurut Sarjito dan Desrina (2005), sampai saat ini
informasi tentang infeksi cacing endoparasit pada ikan masih sangat minim disebabkan
pada umumnya infeksi parasit yang terjadi pada ikan liar tidak mematikan sehingga
tidak langsung dapat dirasakan dampaknya seperti pada ikan yang dibudidayakan.
Tetraphyllidea merupakan ordo dari Cestoda. Cestoda merupakan kelas dari
Platyhelmintes yang pada saat dewasa merupakan parasit obligat pada usus hewan
vetebrata. Morfologi dari parasit ini yaitu, skoleks umumnya memiliki 4 otot bothridia
yang bervariasi. Bothridia terkadang mengintai dengan atau tanpa kait, berpasangan kiri
dan kanan yang tersusun saling membelakangi. Proglotid umumnya hermaprodit
(kecuali Dioecotaenia). Terdapat beberapa testes. Vagina membuka anterior untuk
cirrus-sac. Pori genital umumnya lateral, terkadang sublateral. Ovarium posterior,
192
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
bilobeal atau tetrabeal. Tetraphylidea memiliki lebih dari 400 spesies dan 64 genus yang
diakui dan disahkan, namun klasifikasi famili dari parasit ini sangat tidak pasti. Kerabat
terdekat dari beberapa Tetraphylidea mencakup Proteocephalidea dan dalam beberapa
kasus lain Lecanicephalidea atau Cyclophylidea. Host definitif dari Tetraphylidea
adalah Elasmobranchs (hiu dan pari). Hampir semua Elasmobranchs yang diperiksa
merupakan host dari 1 atau lebih spesies tetraphylidea. Parasit umumnya ditemukan
pada usus hewan dengan mayoritas spesies berasal dari perairan tropis dan subtropis.
Siklus hidup dari parasit ini belum lengkap diketahui, namun pada tahap larva diketahui
tahapan embrio hexacanth, procercoid, diikuti dengan plerocercoid atau merocercoid
sebagai larva tahap akhir. Parasit ini kemungkinan besar memiliki 3-5 host dalam siklus
hidupnya (Caira dkk., 2016).
Gambar 2. Tetraphyllidea, dimana gambar A, B dan C meurupakan Parasit 1, gambar
D dan E merupakan Parasit 2, dan gambar F merupakan Parasit 3.
Pada gambar A, B, dan C (parasit 1) adalah parasit yang memiliki 4 buah alat
penghisap pada bagian anterior, bagian tengah yang bulat dan pada bagian posterior
tubuh parasit berbentuk kerucut. Pada saat dalam keadaan diam atau istirahat, parasit
menggulungkan bagian penghisap dan posterior ke bagian tubuh tengahnya sehingga
berbentuk bulat. Parasit ini bergerak dengan memanjangkan badannya.
Pada gambar D dan E (parasit2) adalah parasit yang memiliki bagian anterior
yang lebih besar dan bulat daripada bagian tengah yang berbentuk tabung, dan memiliki
bagian posterior yang kecil berbentuk bulat yang terpisah. Pada parasit ini, parasit
bergerak dengan menggunakan bagian anteriornya seperti ubur-ubur.
Pada gambar F (parasit 3) adalah parasit yang memiliki 2 bagian saja, anterior
yang lebih besar daripada posterior dan berbentuk bulat. Pada bagian anterior terdapat 3
buah sesungut. Parasit ini bergerak dengan menggerakkan bagian anteriornya seperti
ubur-ubur. Ketiga endoparasit yang ditemukan ini umumnya dalam keadaan hidup dan
berpredileksi pada usus dan lambung Ikan Jebong.
193
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa endoparasit yang menginfeksi Ikan Jebong yang diperoleh
dari TPI Lampulo Kota Banda Aceh yaitu Anisakis spp. dan endoparasit dari ordo
Tetraphyllidea yang berpredileksi di lambung dan usus ikan dengan tingkat prevalensi
masing-masing endoparasit sebanyak 12% dan 36%. Hasil juga menunjukkan bahwa
semakin panjang tubuh ikan, semakin banyak parasit yang diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Zubaidy, A.B. 2011. Hypocreadium cavum (Digenea: Lepocreadiidae:
Hypocreadium) in Marine Fishes, Abalistes stellaris. JKAU. 22(1):3-13.
Arifudin, S. dan N. Abdulgani. 2013. Prevalensi dan Derajat Infeksi Anisakis spp. pada
Saluran Pencernaan Ikan Kerapu (Epinephelus sexfasciatus) di TPI Brondong
Lamongan. Jurnal Sains dan Seni POMITS. 2(1):34-37.
Bailly, N. 2015. Abalistes stellaris (Bloch & Schneider, 1801). Dalam: Froese, R. dan
D. Pauly. (2015) FishBase. Diakses melalui : World Register of Marine Species
http://marinespecies.org/aphia.php?p=taxdetails&id=219872 16 Febuari 2016.
Buchmann, K. dan J. Bresciani. (2001). An Introduction to Parasitic Diseases of
Freshwater Trout. DSR Publishers, Denmark.
Caira, J. N., K. Jensen, E. Barbeau. 2016. Tetraphyllidea. Diakses melalui: Global
Cestode
Database.
World
Wide
Web
electronic
publication.
http://tapeworms.uconn.edu/tetraphyllidea.html. 16 Febuari 2017.
Carpenter, K.E. dan V.H. Niem. 2001. FAO species identification guide for fishery
purposes. The living marine resources of the Western Central Pacific. Volume
6. Bony fishes part 4 (Labridae to Latimeriidae), estuarine crocodiles, sea
turtles, sea snakes and marine mammals. FAO, Rome.
Chambers C.B., M.S. Carlisle, A.D.M. Dove, dan T.H. Cribb. 2001. A Description of
Lecithocladium invisorn (Digenea: Hemiuridae) and the pathology associated
with two species of Hemiuridae in Acanthurid Fish. The Journal Parasitology
Reseach. 87(8):666–673.
Cribb, T.H, LA Chisholm, dan RA Bray. 2002. Invited review diversity in the
Monogenea and Digenea: does lifestyle matter. International Journal for
Parasitology. 32(3):321–328.
Figueiredo, J.L. dan N.A. Menezes. 2000. Manual de Peixes Marinhos do Sudeste de
Brasil VI. Teleostei (5). Museu de Zoologia, Universidade de Sao Paulo, Brasil.
Indaryanto, F.R., Y. Wardianto, dan R. Tiuria. 2014. Penyebaran cacing parasitik pada
Ikan Kembung Betina (Rastrelliger brachysoma) di Pulau Jawa. Jurnal
Perikanan dan Kelautan. 4(4):215-220.
Indaryanto, F.R., dan Y. Wardianto,. 2014. Habitat Lechitocladium angustiovum pada
Ikan Kembung Perempuan (Rastrelliger brachysoma) di Perairan Teluk Banten
dan Pelabuhan Ratu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 19(3):145-149.
Jabal, A.R. 2015. Protozoa dan cacing parasitik pada Ikan Sidat (Anguila spp.) asal
Danau Lindu Sulawesi Tengah. Skripsi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Muttaqin, M.Z. dan N. Abdulgani. 2013. Prevalensi dan Derajat Infeksi Anisakis spp.
pada Saluran Pencernaan Ikan Kakap Merah (Lutjanus malabaricus). Jurnal
Sains dan Seni POMITS. 2(1):30-33.
194
JIMVET. 01(2): 188-195 (2017)
ISSN : 2540-9492
Pradipta, I.P.G.H., N.A. Suratma, dan I.B.M. Oka. 2014. Prevalensi infeksi cacing pada
Ikan Pisang-pisang (Pterocaesio diagramma) dan Ikan Sulir Kuning (Caesio
cuning) yang dipasarkan di Pasar Ikan Kedonganan, Badung. Buletin Veteriner
Udayana. 6(1):35-42.
Sarjito, dan Desrina. 2005. Analisa infeksi cacing endoparasit pada Ikan Kakap Putih
(Lates calcarifer Bloch) dari perairan Pantai Demak. Laporan Kegiatan Hasil
Penelitian Dosen Muda. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Diponegoro, Semarang.
Sakanari, J. A. dan J. H. McKerrow. 1989. Anisakiasis. Clinical Microbiology Reviews.
2(3):278-284.
Utami, P. 2014. Identifikasi Anisakis spp. pada beberapa ikan laut di beberapa Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap. Jurnal Matematika, Saint, dan Teknologi.
15(1):21-28.
195
Download