Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013 - PSKB

advertisement
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI
BERAT LAHIR RENDAH DI IRNA KEBIDANAN DAN PENYAKIT
KANDUNGAN RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
TAHUN 2013
Oleh
Suci Sulistyorini
STIK Bina Husada Palembang
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian
perinatal dan neonatal. Studi pendahuluan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang dari
tahun 2012 sampai tahun 2013 mengalami peningkatan yaitu dari 256 BBLR meningkat menjadi 450 BBLR.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian bayi berat lahir
rendah di IRNA Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Tahun 2013. Penelitian ini dilakukan di IRNA Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 15-23 Oktober
2013. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain Case Control pendekatan retrospective.
Populasi penelitian ini adalah seluruh bayi dengan berat badan lahir rendah sebesar 450 responden dan bayi
dengan berat badan lahir normal sebesar 2050 responden, jadi jumlah populasi sebesar 2500 responden.
Pengambilan sampel dengan cara acak sistematis (Systematic Random sampling). Perbandingan sampel kasus :
kontrol adalah 1:1, sehingga perbandingan sampel minimal adalah 113:113, jadi jumlah sampel sebesar 226
responden.
Berdasarkan data univariat diperoleh hasil responden paritas risiko tinggi 97 (42,9%), paritas risiko rendah 129
(57,1%), usia kehamilan preterm 118 (52,2%), usia kehamilan aterm 108 (47,8%), preeklampsia berat 95 (42%),
dan normal 131 (58%).
Berdasarkan data bivariat diperoleh hasil ada hubungan bermakna antara paritas dengan kejadian BBLR dengan
p value = 0,003 OR 2,325 dan Ada hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian BBLR dengan p value =
0,005 OR 2,204 serta ada hubungan preeklampsia berat dengan kejadian BBLR dengan p value = 0,007 OR
2,166. Dalam hal ini disarankan pada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur ke petugas
kesehatan.
Kata Kunci
Daftar Pustaka
: Paritas, usia kehamilan, preeclampsia berat, BBLR
: 25 (2005 - 2011)
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini 201
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak tahun 1961
WHO telah mengganti istilah
premature baby dengan low birth weight baby (bayi
dengan berat lahir rendah = BBLR). Hal ini dilakukan
karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500
gram pada waktu lahir bayi prematur. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh : 1) masa kehamilan kurang dari 37
minggu dengan berat yang sesuai (masa dihitung
dihitung mulai hari pertama haid haid terakhir dari haid
yang teratur), 2) bayi small for gestational age (SGA)
yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya
menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa
kehamilan/KMK),
3)
kedua
–
duanya
(1+2)(Wiknjosastro,2007).
Berdasarkan data WHO tahun 2005, angka
kematian bayi (AKB) masih berada pada kisaran 32 per
1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2002 beberapa Negara
ASEAN angka kematian bayi yaitu Malaysia 4,6 kali
lebih rendah dari AKB di Indonesia, Filipina 1,3 kali
lebih rendah dari AKB di Indonesia dan Thailand 1,8
kali lebih rendah dari AKB di Indonesia
(Eurekaindonesia, 2009).
Menurut Manuaba (2010), faktor – faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya berat badan lahir rendah adalah
faktor ibu yaitu riwayat kelahiran prematur sebelumnya,
perdarahan antepartum, malnutrisi, kelainan uterus,
hidramnon, penyakit jantung/penyakit kronik lainnya,
hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari
35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi,
trauma, dan lain-lain, Faktor janin cacat bawaan,
kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini,
keadaan sosial ekonomi yang rendah, pekerjaan yang
melelahkan, merokok ,dan tidak diketahui
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang maka dapat
dirumuskan faktor - faktor apa saja yang berhubungan
dengan kejadian bayi berat lahir rendah di IRNA
Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun
2013.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Adakah hubungan antara usia ibu, pendidikan
paritas, usia kehamilan, dan preeklampsia berat
dengan kejadian bayi berat lahir rendah di IRNA
Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2013.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian bayi berat lahir rendah di IRNA
Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun
2013.
1.4.2
Tujuan Khusus
Penelitian ini secara khusus bertujuan
sebagai berikut:
1) Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian
bayi berat lahir rendah di IRNA
Kebidanan Dan Penyakit Kandungan
Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun
2013
2) Diketahuinya distribusi frekuensi paritas
dengan kejadian bayi berat lahir rendah di
IRNA
Kebidanan
Dan
Penyakit
Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun
2013
3) Diketahuinya distribusi frekuensi usia
kehamilan dengan kejadian bayi berat
lahir rendah di IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2013
4) Diketahuinya
distribusi
frekuensi
preeklampsia berat dengan kejadian bayi
berat lahir rendah di IRNA Kebidanan
Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Tahun 2013
5) Diketahuinya hubungan antara paritas
dengan kejadian bayi berat lahir rendah di
IRNA
Kebidanan
Dan
Penyakit
Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
202
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
Mohammad Hoesin Palembang Tahun
2013
6) Diketahuinya hubungan antara usia
kehamilan dengan kejadian bayi berat
lahir rendah di IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2013
7) Diketahuinya
hubungan
antara
preeklampsia berat dengan kejadian bayi
berat lahir rendah di IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2013
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi RSUP dr. Mohammad Hoesin
Palembang
Diharapkan
dapat
bermanfaat
guna
perbaikan
perencanaan
maupun
implementasi program kesehatan ibu dan
bayi terutama masalah yang berkaitan
dengan BBLR
1.5.2 Bagi Peneliti
Dapat mengembangkan wawasan peneliti
dan pengalaman berharga dalam melakukan
penelitian khususnya yang berkaitan dengan
kejadian BBLR.
1.5.3 Bagi Peneliti Lain
Sebagai
data
dasar
dan
bahan
pertimbangan untuk penelitian selanjutnya
2. METODE PENELITIAN
2.1 Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
desain survey analitik dengan pendekatan case control
yaitu BBLR dan kontrol BBLN.
Sampel dalam penelitian ini adalah perbandingan
1: 1 yaitu kelompok kasus sebanyak 113 responden dan
kontrol sebanyak 113 responden.
2.3. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang, pelaksanaan penelitian
ini pada bulan Oktober 2013.
2.4. Pengumpulan dan Pengolaan data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data
adalah studi dokumentasi dengan cara observasi rekam
medik bayi baru lahir yang dirawat inap di IRNA
Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun
2013.
2.5. Analisa Data
1. Analisis univariat: Distribusi Frekuensi
2. Analisis bivariat : Uji chi-square
3.HASIL PENELITIAN
1. Analisa Univariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui distribusi
frekuensi dan persentase dari variabel dependen yaitu
kejadian bayi berat lahir rendah dan variabel independen
yaitu paritas, usia kehamilan, dan preeklampsia berat.
a. Variabel Dependen
Kejadian Berat Badan Bayi
Pada penelitian ini variabel kejadian berat badan
bayi dikatagorikan menjadi 2 kelompok yaitu bayi berat
lahir rendah (BBLR) dan bayi berat lahir normal
(BBLN). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada table 3.1
Tabel 3.1
Distribusi Frekuensi Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah
Di IRNA Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rumah
Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2013
No
Berat Badan Bayi
f
%
1.
BBLR
113
50%
2.
BBLN
113
50%
Jumlah
226
100%
Sumber : Penelitian Suci Sulistyorini, 2013
2.2. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi baru
lahir dengan berat badan lahir rendah yang berjumlah
450 responden dan bayi dengan berat badan lahir normal
yang berjumlah 2050 responden yang dirawat di Instalasi
Rawat Inap Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah
Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
periode 1 Januari – 30 September 2013, jadi jumlah Berdasarkan tabel 3.1 diatas dari 226 responden kejadian
BBLR sebagai kasus sebanyak 113 (50%) responden dan
populasi sebanyak 2500 responden.
BBLN sebagai kontrol sebanyak 113 (50%) responden.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
203
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
b.
Variabel independen
Tabel 3.2
Hasil Analisis Univariat
Variabel
Persentase
Berat badan bayi
- BBLR
50 %
- BBLN
50%
Paritas
- Risiko tinggi
- Risiko rendah
Usia Kehamilan
- Preterm
- Aterm
PEB
- PEB
- Normal
42,9%
57,1%
1.
2.
Berdasarkan nilai OR 2,325 berarti paritas risiko tinggi
mempunyai peluang 2,325 kali terhadap kejadian bayi
berat lahir rendah dibanding paritas risiko rendah.
b.
Hubungan Antara Usia kehamilan Dengan Kejadian
Bayi Berat Lahir Rendah
Tabel 3.4
Hubungan Antara Usia Kehamilan Dengan Kejadian
Bayi Berat Lahir Rendah Di IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
52,2%
47,8%
42%
58%
Dari tabel 3.2. diatas dapat dilihat bahwa
Proporsi paritas ibu lebih banyak paritas risiko
rendah dibanding dengan paritas risiko tinggi yaitu
sebanyak 57,1%, proporsi usia kehamilan preterm
lebih banyak dibanding dengan usia kehamilan aterm
yaitu sebanyak 52,2%, dan proporsi ibu normal lebih
banyak disbanding dengan ibu PEB yaitu sebanyak
58 %.
N
o
paritas dengan kejadian bayi berat lahir rendah. Dengan
demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan
bermakna antara paritas dengan kejadian bayi berat lahir
rendah terbukti secara statistik.
No
Usia
kehamil
an
1.
Preterm
Berat Badan Bayi
BBLR
BBLN
f
70
%
61,9
f
48
%
42
,5
57
,5
10
0
T
O
T
A
L
n
118
p
va
lu
e
O
R
0,
00
5
2,
20
4
2. Analisa Bivariat
2.
Aterm
43
38,1 65
108
a. Hubungan Antara Paritas Dengan Kejadian Bayi
Berat Lahir Rendah
113 100
113
226
Tabel 3.3
Hubungan Antara Paritas Dengan Kejadian Bayi
Berat Lahir Rendah Di IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Berdasarkan tabel 3.4 hasil uji statistik Chi-square
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
diperoleh nilai p value = 0,005 lebih kecil 0,05 hal ini
Paritas
Berat Badan Bayi
T
p
O
menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia
O
value R
BBLR
BBLN
kehamilan dengan kejadian bayi berat lahir rendah.
T
Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada
A
hubungan bermakna antara usia kehamilan dengan
L
kejadian bayi berat lahir rendah terbukti secara statistik.
f
%
f
%
n
Berdasarkan nilai OR 2,204 berarti usia kehamilan
2,
Risiko
60
53,1 37
32,7 97
preterm
mempunyai peluang 2,204 kali terhadap
0,003
32
tinggi
kejadian
bayi berat lahir rendah dibanding usia
5
Risiko
53
46,9 76
67,3 129
kehamilan preterm
rendah
113
100
113
100
226
Berdasarkan tabel 3.3 diatas hasil uji statistik Chi-square
diperoleh nilai p value = 0,003 lebih kecil 0,05 hal ini
menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
204
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
c. Hubungan Antara PEB Dengan Kejadian Bayi Berat
Lahir Rendah
Tabel 3.5
Hubungan Antara PEB Dengan Kejadian Bayi
Berat Lahir Rendah Di IRNA Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan Rumah
Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Tahun 2013
No
PEB
1.
2.
PEB
Normal
Berat Badan Bayi
BBLR
BBLN
f
58
55
113
%
51,3
48,7
100
f
37
76
113
%
32,7
67,3
100
T
O
T
A
L
n
95
131
226
p
val
ue
0,0
07
Masih tingginya angka kejadian bayi berat lahir
rendah di IRNA Kebidanan Dan Penyakit Kandungan
Rumah Sakit Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang
periode 1 Januari- 30 September 2013, hal ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melatar belakangi,
tidak terlepas dari keadaan ibu pada saat hamil,
pemeliharaan kesehatan ibu selama kehamilan sangat
menentukan bayi yang dilahirkan, pemeliharaan
kesehatan ibu selama hamil contohnya dengan
pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC)
secara teratur akan dapat mununjang kesehatan ibu
O
selama hamil. Dengan pemeriksaan kehamilan secara
R
teratur akan memberikan deteksi dini terhadap ibu
yang berisiko tinggi melahirkan bayi BBLR. Sehingga
upaya preventif maupun kuratif dapat dilakukan secara
optimal, agar dapat menurunkan angka morbiditas dan
2,
mortalitas pada bayi, serta faktor lain yang dapat
16
memicu kejadian BBLR ini adalah status ekonomi yang
6
rendah sehingga pemenuhan kebutuhan gizi sulit untuk
dicapai.
Berdasarkan tabel 3.5 hasil uji statistik Chi-square
diperoleh nilai p value = 0,007 lebih kecil 0,05 hal ini
menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara
preeklampsia berat dengan kejadian bayi berat lahir
rendah. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan
bahwa ada hubungan bermakna antara preeklampsia
berat dengan kejadian bayi berat lahir rendah terbukti
secara statistik.
b. Hubungan Antara Paritas Dengan Kejadian Bayi
Berat Lahir Rendah
Hasil analisa univariat didapatkan paritas risiko
tinggi sebanyak 97 (42,9%) responden dan paritas risiko
rendah sebanyak 129 (57,1%) responden.
a. Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah
Pada penelitian ini sampel sebesar 226 responden,
kelompok kasus yaitu kejadian BBLR sebanyak 113
(50%) responden dan kelompok kontrol yaitu BBLN
sebanyak 113 (50%) responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian
Ningsih Jaya (2009) Analisis Faktor Risiko Kejadian
BBLR di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Kota
Makasar, untuk mengetahui hubungan antara paritas
dengan kejadian BBLR didapatkan p value 0,0013 <
0,05, ada hubungan bermakna antara paritas dengan
kejadian berat bayi lahir rendah di Rumah Sakit Ibu Dan
Anak Siti Fatimah Kota Makasar Tahun 2008. Hasil
penelitian ini sejalan juga dengan hasil penelitian
Nurbaity (2011) hubungan antara umur ibu dan paritas
dengan kejadian BBLR di Instalasi Rawat Inap
Kebidanan
Dan
Penyakit
Kandungan
RSUP.
DR.Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012, untuk
Hasil analisa bivariat uji statistik Chi-square
diperoleh nilai p value = 0,003 lebih kecil dari α =0,05
dengan CI (Confidence Interval) 95%, ada hubungan
Berdasarkan nilai OR 2,166 berarti preeklampsia yang bermakna antara paritas dengan kejadian bayi berat
berat mempunyai peluang 2,166 kali terhadap kejadian lahir rendah dan paritas merupakan faktor risiko terhadap
kejadian BBLR. Nilai OR 2,325 berarti paritas risiko
bayi berat lahir rendah dibanding normal.
tinggi mempunyai peluang 2,325 kali terhadap kejadian
4.PEMBAHASAN
bayi berat lahir rendah daripada paritas risiko rendah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Suwoyo dkk (2010) Hubungan Preeklampsia Berat Pada
Kehamilan Dengan Kejadian BBLR di RSUD Dr.
Hardjono Ponorogo tahun 2010 dengan sampel sebesar
262 responden pada keompok kasus yaitu BBLR
sebanyak 131 (50%) responden dan pada kelompok
kontrol yaitu BBLN sebanyak 131 (50%) responden.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
205
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian
BBLR didapatkan p value = 0,0008 lebih kecil dari 0,05,
ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan
kejadian berat bayi lahir rendah di Instalasi Rawat Inap
Kebidanan
Dan
Penyakit
Kandungan
RSUP.
DR.Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013.
kejadian bayi berat lahir rendah daripada usia kehamilan
aterm.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian
Sianturi (2007) Karakteristik Ibu Yang Melahirkan Bayi
Dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Rumah Sakit
Santa Elisabeth pada tahun 2003 – 2006, untuk
mengetahui hubungan antara usia kehamilan dengan
kejadian BBLR didapatkan p value=0,000 < 0,05, hal ini
menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia
kehamilan dengan kejadian berat bayi lahir rendah di di
Rumah Sakit Santa Elisabeth tahun 2003 – 2006.
Menurut Winkjosastro (2008) paritas 1 dan paritas >
3 anak merupakan faktor kematian perinatal dan salah
satunya bayi dengan berat badan lahir <2500 gram, hal
ini disebabkan karena pada paritas 1 ketidaksiapan ibu
untuk menerima tugas dan tanggung jawabnya sebagai
orang tua dan paritas lebih dari 3 karena risiko
Menurut Wiknjosastro (2007) kematian perinatal
komplikasi yang serius, seperti perdarahan dan infeksi
sebagian
besar terjadi pada bayi prematur yaitu bayi
meningkat pada persalinan keempat dan seterusnya,
sehingga ada kecenderungan bayi lahir dengan kondisi yang dilahirkan dari kehamilan < 37 minggu. Maka
makin pendek masa kehamilan maka makin kurang
BBLR bahkan terjadinya kematian ibu dan bayi.
sempurna pertumbuhan alat – alat dalam tubuhnya,
Dengan demikian peneliti memperoleh hasil bahwa dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan
paritas risiko tinggi 53,1 % lebih besar mengalami makin tingginya angka kematian bayi.
kejadian bayi berat lahir rendah dibanding dengan paritas
Dengan demikian peneliti memperoleh hasil bahwa
risiko rendah 46,9% karena dipengaruhi berbagai faktor
usia
kehamilan
preterm 61,9% lebih besar mengalami
diantaranya faktor umur, sosial, budaya serta masih
kejadian
bayi
berat
lahir rendah daripada usia kehamilan
kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang jumlah anak
yang ideal untuk persalinan yang aman dan masih ada aterm 38,1% karena semakin pendek usia kehamilan
anggapan atau asumsi dari masyarakat bahwa banyak semakin kecil pula berat badan bayi yang dilahirkan.
Walaupun tidak dapat pungkiri banyak usia kehamilan
anak banyak rezeki.
aterm juga mempunyai kemungkinan melahirkan bayi
Paritas risiko rendah sebesar 46,9% mengalami dengan berat lahir rendah, karena berdasarkan teori
kejadian BBLR dikarenakan sosial ekonomi rendah, status gizi ibu hamil yang kurang tidak hanya dapat
karena status ekonomi yang rendah ini kebutuhan mempengaruhi kesehatan ibu tetapi juga dapat
pencapaian gizi sulit untuk di penuhi sehingga memicu mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam kandungan
kejadian BBLR. Hal ini dapat dilihat dari status dan dapat menyebabkan bayi berat badan lahir rendah.
pekerjaan dan penggunaan surat keterangan miskin /
d. Hubungan Antara Preeklampsia Berat Dengan
JAMKESMAS untuk pengobatan di Rumah Sakit.
Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah
Hasil penelitian ini didapatkan preeklampsia berat
c. Hubungan Usia Kehamilan Dengan Kejadian
sebanyak 95 (42%) responden dan normal sebanyak 131
Bayi Berat Lahir Rendah
Hasil analisa univariat didapatkan usia kehamilan (58%) responden.
preterm sebanyak 118 (52,2%) responden dan usia
Hasil analisa bivariat dengan uji statistik Chikehamilan aterm sebanyak 108 (47,8%) responden
square diperoleh nilai p value = 0,007 dan) lebih kecil
Hasil analisa bivariat dengan uji statistik Chi- dari α =0,05 dengan CI (Confidence Interval) 95%, ada
square diperoleh nilai p value = 0,005 dan lebih kecil hubungan yang bermakna antara preeklampsia berat
dari α =0,05 dengan CI (Confidence Interval) 95%, hal dengan kejadian bayi berat lahir rendah. dan
ini menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara preeklampsia berat merupakan faktor risiko terhadap
usia kehamilan dengan kejadian bayi berat lahir rendah kejadian BBLR. Nilai OR 2,166 berarti preeklampsia
dan usia kehamilan merupakan faktor risiko terhadap berat mempunyai peluang 2,166 kali terhadap kejadian
kejadian BBLR. Nilai OR 2,204 berarti usia kehamilan bayi berat lahir rendah daripada ibu normal.
preterm mempunyai peluang 2,204 kali terhadap
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
206
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian
Suwoyo dkk (2011) Hubungan Preeklampsia Berat Pada
Kehamilan Dengan Kejadian BBLR Di RSUD Dr.
Hardjono Ponorogo Tahun 2010, didapatkan p value =
0,001 <0,05, ada hubungan bermakna antara
preeklampsia berat dengan kejadian berat bayi lahir
rendah di RSUD Dr. Hardjono Ponorogo Tahun 2010.
Menurut Winkjosastro (2007) preeklampsia
berat dan eklampsia dapat menyebabkan BBLR.
Preeklampsia berat merupakan penyakit dengan tandatanda gejala hipertensi, edema, dan proteinuria. Gejala
hipertensi disebabkan meningkatnya tekanan darah
karena meningkatnya hambatan pada pembuluh darah
perifer. Kedaaan ini mengakibatkan sirkulasi utero
plasenta yang kurang baik dan berpengaruh pada
gangguan pertumbuhan janin (dismaturitas), premature,
kematian janin dalam kandungan, bahkan dapat
menyebabkan solusio plasenta yang dapat berakibat
buruk bagi ibu maupun janin.
Dengan demikian peneliti memperoleh hasil bahwa
sebagian besar ibu dengan diagnosa preeklampsia berat
51,3% melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah
dibanding ibu normal 48,7%, karena kita ketahui gejala
preeklampsia berat (PEB) adalah tekanan darah tinggi,
edema, dan proteinuria yang dapat memicu kejadian bayi
berat lahir rendah. Salah satu cara yang efektif untuk
menurunkan angka kematian perinatal adalah mencegah
terjadinya BBLR yaitu dengan cara melakukan
pengawasan kehamilan dengan seksama dan teratur,
melakukan konsultasi terhadap penyakit ibu yang dapat
mengakibatkan BBLR, memberikan penyuluhan tentang
kebutuhan gizi saat hamil, meningkatkan penerimaan
Program Keluarga Berencana, menganjurkan istirahat
yang cukup pada saat hamil. Dengan diagnosa awal dan
terapi yang tepat, kelainan tersebut tidak menyebabkan
resiko besar baik terhadap ibu maupun bayinya dan
diharapkan dapat mencegah kejadian BBLR, sehingga
dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang
akan datang.
5.SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian bayi berat lahir rendah di
IRNA Kebidanan dan Penyakit kandungan RSUP dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Distribusi frekuensi kejadian bayi berat lahir
rendah sebesar 113 (50%) responden dan Bayi
berat lahir normal sebesar 113 (50%) responden.
2. Distribusi frekuensi paritas risiko tinggi sebanyak
paritas risiko tinggi sebanyak 97 (42,9%)
responden dan paritas risiko rendah sebanyak 129
(57,1%) responden.
3. Distribusi frekuensi usia kehamilan preterm
sebanyak 118 (52,2%) responden dan usia
kehamilan aterm sebanyak 108 (47,8%) responden.
4. Distribusi frekuensi preeklampsia berat sebanyak
95 (42%) responden dan normal sebanyak 131
(58%) responden.
5. Ada hubungan bermakna antara paritas dengan
kejadian bayi berat lahir rendah dengan uji
statistik didapatkan p value = 0,003 lebih kecil dari
α = 0,05, hipotesa terbukti secara statistik.
6. Ada hubungan yang bermakna antara usia
kehamilan dengan kejadian bayi berat lahir rendah
dengan uji statistik didapatkan p value = 0,005
lebih kecil dari α = 0,05, hipotesa terbukti secara
statistik.
7. Ada hubungan yang bermakna antara preeklampsia
berat dengan kejadian bayi berat lahir rendah
dengan uji statistik didapatkan p value = 0,007
lebih kecil dari α = 0,05, hipotesa terbukti secara
statistik.
4.2 Saran
4.2.1
Bagi RSUP dr. Mohammad Hoesin
Palembang
Diharapkan kepada petugas kesehatan
(RSUP dr. Mohammad Hoesin) dapat
memberikan pelayanan antenatal care (ANC)
dengan menggunakan standar 14T dapat
dilaksanakan secara kompeten oleh petugas
kesehatan khususnya bidan untuk dapat
medeteksi secara dini komplikasi yang mungkin
terjadi pada pasien bayi baru lahir sehingga
deteksi dini kejadian BBLR dapat dihindari.
4.2.2 Bagi STIK Bina Husada
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bahan referensi dan informasi yang bermanfaat
untuk perkembangan pengetahun menangani
faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan
kejadian BBLR, dan dapat menjadikan
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
207
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
penelitian
ini
untuk
menjadi
bahan Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian
perbandingan dan sebagai studi pendahuluan
Kesehatan. Jakarta : Rineka
bagi peneliti selanjutnya.
Cipta.
4.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
. 2010. Metodologi Penelitian
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
dapat mengembangkan penelitian ini dengan
menggali faktor lain yang berhubungan dengan Nurbaity. 2011. Hubungan antara umur ibu dan paritas
dengan kejadian berat badan lahir rendah di RSUP
kejadian ketuban pecah dini pada ibu bersalin
. DR. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2010.
sehingga hasilnya dapat dijadikan sebagai
Jurnal Kesehatan dan Pembangunan ISSN:2088masukan dalam upaya penurunan kejadian
5628) Vol 1 No 1.
KPD.
Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan metodelogi
penelitian, penelitian ilmu keperawatan pedoman
DAFTAR PUSTAKA
skripsi,
tesis,
dan
instrumen
penelitian
Ambarwati, Eny Retna dan Y. Sriati Rismintari. 2009.
keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Asuhan Kebidanan Komunitas.Yogyakarta: Nuha
Pantiawati, Ika. (2010). Bayi Lahir dengan BBLR).
Medika.
Jogjakarta: Muha Medika.
Dedy, M. 2012. Jumlah Penduduk Palembang
Meningkat. Dinas Komunikasi dan Informatika. Prawirohardjo, Sarwono.2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta :
YBPSP.
http:// kominfo.palembang.go.id diakses tanggal 18
/ 7/2012
Eurekaindonesia.
2009.
Angka
Bayi.www.euerkaindonesia.org.
Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan tahun
2010.Http :// depkes.go.id.diakses 13 juni 2012.
Kematian
Profil Kesehatan Kota Palembang tahun 2010. Http ://
depkes.go.id.diakses 13 juni 2012.
Hastono, Sutanto Priyo dan Luknis Sabri. 2011. Statistik
Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.
Ramli. A. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambatan
Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Metodologi Keperwatan
Rochmah, dkk. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi, & Balita.
dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba
Jakarta: 2011
Medika.
.2009. Ilmu Keperawatan Anak
1.Jakarta : Salemba Medika
Sastroasmoro, Sudigdo dkk. 2006. Dasar- Dasat
Metodologi Penelitian Klinik Edisi Ke-2. Jakarta :
Sagung Seto.
Jaya, Ningsih. (2009). Analisis faktor resiko kejadian
Sianturi, Irma D.M. 2007. Karakteristik Ibu Yang
bayi berat lahir rendah Di rumah sakit ibu dan
Melahirkan Bayi Dengan Berat Badan Lahir
anak siti Fatimah Kota Makassar. Jurnal Media
rendah (BBLR) Di Rumah Sakit Santa Elisabeth
Gizi Pangan, Vol. VII, Edisi 1, Januari – Juni 2009
Pada Tahun 2003-2006. Bagian Gizi Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Manuaba, I.A Chandranita IBG. 2007. Buku Ajar:
Universitas Sumatera Utara. Skripsi.
Patologi Obstetri, Untuk Mahasiswa Kebidanan.
Jakarta: EGC.
Sistiarani, Colti. 2008. Faktor Maternal dan Kualitas
Pelayanan Antenatal Yang berisiko terhadap
. 2010. Ilmu Kebidanan,
kejadian berat badan lahir rendah (BBLR).
Penyakit Kandungan, KB. Jakarta: EGC.
Semarang: Universitas Diponegoro. Thesis.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
208
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
Suwoyo, dkk. 2011. Hubungan Preeklampsia Berat
Pada Kehamilan Dengan Kejadian BBLR Di RSUD
Dr. Hardjono Ponorogo Tahun 2010. Jurnal
Penelitian Kesehatan Suara Forikes, Volume II
Nomor Khusus Hari Kesehatan Internasional, April
2011.
Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Zubaidah. 2005. Hubungan pekerjaan ibu dengan
kejadian BBLR. http:// docs.finder.com. Diakses
tanggal
15
mei
2011
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini
209
Jurnal Harapan Bangsa Vol.1 No.2 Desember 2013
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat lahir Rendah………..…......Suci Sulistyorini 210
Download