KADAR INTERFERON GAMMA (IFN

advertisement
KADAR INTERFERON GAMMA (IFN-γ) CAIRAN
PLEURA PADA EFUSI PLEURA TUBERKULOSIS
DAN NON-TUBERKULOSIS
TESIS
Oleh :
FAHMI NOFRIANDI
1250306201
BAGIAN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS /
RSUP.Dr.M.DJAMIL
PADANG
2016
KADAR INTERFERON GAMMA (IFN-γ) CAIRAN
PLEURA PADA EFUSI PLEURA TUBERKULOSIS
DAN NON-TUBERKULOSIS
TESIS
Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Spesialis Paru
Pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Paru
FK Unand / RSUP. Dr.M. Djamil Padang
Oleh :
FAHMI NOFRIANDI
1250306201
BAGIAN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS /
RSUP.Dr.M.DJAMIL
PADANG
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan
penyusunan
tesis
dengan
judul
judul
“KADAR
INTERFERON GAMMA (IFN-γ) CAIRAN PLEURA PADA EFUSI
PLEURA TUBERKULOSIS DAN NON-TUBERKULOSIS”. Tesis ini
merupakan tugas penelitian akhir dalam menyelesaikan pendidikan PPDS
bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Padang. Penyusunan tesis ini, merupakan salah satu
syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada Program Pendidikan Dokter
Spesialis Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Andalas/RSUP. DR. M. Djamil Padang.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis banyak mengalami kesulitan,
namun berkat bimbingan, pengarahan dan bantuan berbagai pihak
akhirnya penelitian ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu pada
kesempatan
ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang setulus-
tulusnya kepada :
1. Bapak dr. Oea Khairsyaf, SpP(K) selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas
Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M. Djamil Padang sekaligus sebagai
pembimbing dalam penelitian ini.
2. Bapak dr. Irvan Medison, SpP(K) selaku Ketua Bagian Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M.
Djamil Padang sekaligus sebagai pembimbing dalam penelitian ini.
3. Bapak Prof. dr. Taufik, SpP(K) selaku Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu
Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M. Djamil
Padang.
4. Bapak dr. Yusrizal Chan, SpP(K) selaku staf pengajar Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M.
Djamil Padang.
5. Bapak dr.Zailirin YZ SpP(K) selaku staf pengajar Pulmonologi dan Ilmu
Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M. Djamil
Padang.
6. Bapak dr. Masrul Basyar, SpP(K) selaku Sekretaris Bagian Pulmonologi
dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR.
M. Djamil Padang.
7. Ibu dr. Yessy S Sabri, SpP(K) selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas/RSUP. DR. M. Djamil Padang sekaligus
sebagai pembimbing dalam penelitian ini.
8. Ibu dr. Sabrina Ermayanti, Sp.P(K) selaku staf pengajar Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M.
Djamil Padang
9. Bapak dr.Deddy Herman, SpP(K),FCCP,FAPSR,MCH, selaku staf
pengajar
Pulmonologi
dan
Ilmu
Kedokteran
Respirasi
Fakultas
Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M. Djamil Padang
10. Ibu dr. Russilawati, Sp.P selaku staf pengajar Pulmonologi dan Ilmu
Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Andalas/RSUP. DR. M. Djamil
Padang
11. dr. Dewi Wahyu Fitrina SpP, dr. Taufiq Hidayat, SpP, dr. Yenny Muchtar,
SpP, dr. Sari Nikmawati, Sp.P, Dr. Herudian Ahmadin, Sp.P dan dr. Surya
Hajar, SpP(K) , dr. Nofriyanda, Sp.P selaku staf pengajar Bagian
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Padang.
12. Kepala dan seluruh staf medis dan paramedis RS Paru Lubuk Alung
Padang-Pariaman
13. Kepala Ruangan dan seluruh staf Bangsal Paru RSUP. DR. M. Djamil
Padang.
14. Kepala Instalasi dan seluruh staf Bagian Patologi Klinik RSUP. DR. M.
Djamil Padang.
15. Kepala dan seluruh staf Laboratorium Klinik Prodia Padang
16. Ayah dan ibunda H. Kiwar dan Hj. Rahmawati, S.Sn, mertua H. Muharjon
dan
Hj.
Yanti
Rahma
Gusti,
istri
tercinta
Citra
Harrya
Yohanova,Amd.RM,SKM, ananda tersayang Syafiq Gian Rafandi, Al
Khalifi Putra Rafandi. Terimakasih atas dukungannya.
17. Rekan-rekan peserta PPDS Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP. DR. M. Djamil Padang
yang telah membantu dan memberikan masukan dalam penelitian ini,
terutama kepada Tim jaga 4 ( dr.Povi Pada Indarta, dr. Eka Irawan, dr.
Suyastri), dr. Desi Susanti,Sp.P, dr. Nora Amalia,Sp.P, dr. Aleksis,Sp.P,
dr.Hendresta,Sp.P.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih
banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan
koreksinya. Semoga penelitian ini dapat bermamfaat, dengan ucapan
terima kasih yang sedalam-dalamnya dan juga dengan iringan doa semoga
segala bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak menjadi amal
sholeh, Amin.
Padang,
Juni 2016
Penulis
Kadar IFN-γ Cairan Pleura pada Efusi Pleura TB dan Non-TB
ABSTRAK
Latar Belakang: Diagnosis efusi pleura TB sampai saat ini masih jadi
permasalahan, karena tingkat kepositifan M.Tb pada efusi pleura TB rendah pada
beberapa pemeriksaan seperti pewarnaan BTA langsung cairan pleura,bahkan
pemeriksaan molekular seperti GeneXpert. Kadar IFN-γ dalam cairan pleura
tinggi sebagai respon tubuh terhadap adanya kuman M.tb sehingga bisa dijadikan
sebagai biomarker dalam diagnosis TB. Tujuan penelitian adalah untuk
membandingkan nilai IFN-γ pada cairan pleura TB dan non-TB dengan nilai cut
off point yang sudah ada di referensi (Light,kadar IFN-γ TB> 140pg/ml)
Metode: Penelitian cross sectional menilai kadar IFN-γ pada efusi pleura TB dan
non-TB di RSUP.Dr.M.Djamil Padang dan RS Paru Lubuk Alung sejak April
2015- Februari 2016.
Hasil: Total subjek penelitian adalah 34 orang terdiri dari efusi pleura TB (17
orang) dan efusi pleura non-TB (17 orang) yaitu keganasan 15 orang dan
parapneumoni 2 orang. Kadar rerata IFN-γ untuk kelompok efusi pleura TB
secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok efusi pleura non-TB
(651,72 ± 513,96 vs 3,93 ± 1,46 pg/ml [p=0,0001], CI:95%). Semua efusi pleura
TB kadar IFN-γ diatas nilai cut off point
Kesimpulan: Kadar IFN-γ cairan pleura pada pasien efusi pleura TB pada
penelitian ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai cut off point referensi
yang ada (lima kali lipat).
Kata kunci: Efusi pleura tuberkulosis, Interferon gamma.
Pleural Fluid IFN-γ Level in TB the Pleural Effusion and Non-TB
ABSTRACK
Background: Diagnosis of TB pleural effusion is still a problem, because of the
the low positivity level in various examination of pleural effusion, such as pleural
fluid AFB and even using molecular examination like GeneXpert. High level of
IFN-γ in pleural fluid as body response to M.tb could be used as biomarker in TB
diagnosis. The aim of this study is to compare the pelural effusion IFN-γ level in
TB pleural effusion and non-TB with cut off point value based on the reference
(Light, TB IFN-γ level > 140pg / ml)
Methods: Cross sectional study assessing the IFN-γ level in TB pleural effusion
TB and non-TB at Dr.M.Djamil Hospital Padang and Lubuk Alung Hospital since
April 2015- February 2016.
Results: Total study subjects were 34, divided in two groups of TB pleural
effusion (17) and non-TB pleural effusion (17, 15 malignancy and 2 pneumoniea).
The mean level of IFN-γ for TB pleural effusion group was significantly higher
than non-TB pleural effusion (651,72 ± 513,96 vs 3,93 ± 1,46 pg/ml [p=0,0001],
CI:95%). All TB pleural effusion IFN-γ level were above the cut-off point
Conclusion: IFN-γ levels of pleural fluid in patient TB pleural effusion in this
study was much higher than the cut off point value reference (five folds).
Keywords: Tuberculosis pleural effusion, Interferon gamma.
DAFTAR ISI
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Grafik
…………………………………………………………
…………………………………………………………
…………………………………………………………
…………………………………………………………
i
ii
iii
iv
BAB 1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
Pendahuluan………………………………………….
Latar Belakang…………………………………………
Perumusan Masalah……………………………………
Hipotesis……………………………………………….
Tujuan Penelitian………………………………………
Manfaat Penelitian…………………………………..…
1
3
3
3
3
4
BAB II
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
Tinjauan Pustaka…………………………………….
Efusi Pleura……………………………………………
Efusi Pleura TB……………………………………….
Efusi Pleura Keganasan……………………………….
Efusi Pleura Pneumonia……………………………….
IFN-γ………………………………………………….
5
5
6
11
12
13
BAB III
Kerangka Konsep……………………………………..
19
BAB IV
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
Metode Penelitian…………….……………….……..
Desain Penelitian………………………………………
Tempat dan Waktu Penelitian………………………….
Populasi Penelitian dan Sampel……………………….
Kriteria Inklusi dan Eksklusi…………………………..
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional…………
Cara Kerja Penelitian…………………………………
Pengukuran Kadar IFN-γ………………………………
Analisis Data…………………………………………..
Alur Penelitian…………………………………………
20
20
20
20
22
22
24
24
28
29
BAB V
BAB VI
BAB VII
Daftar Pustaka
Lampiran
Hasil Penelitian………………………………………
Pembahasan………………………………………….
Kesimpulan dan Saran………………………………
…………………………………………………………
………………..………………………………………
30
34
39
40
42
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Tes baru dan biomarker untuk diagnosis efusi pleura TB……
Tabel 2.2
Karakteristik cairan pleura dan serum pada 220 pasien
10
dengan efusi pleura…………………….……………………
17
Tabel 5.1
Karakteristik penderita efusi pleura TB dan non-TB……….
31
Tabel 5.2
Profil analisa cairan pleura pada efusi pleura TB dan non-TB
32
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Interaksi M. Tb dengan sistem imun tubuh …………………………
8
Gambar 2.2
Efek biologik IFN-γ…………………………………………………
14
Gambar 2.3
Skema representasi dari jalur dan sistem yang terlibat dalam
biomarker untuk TB pleura………………………………………….
15
DAFTAR GRAFIK
Grafik 5.1
Kadar IFN-γ pada Efusi Pleura TB dan Non-TB…………………
32
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global dengan
perkiraan 1,4 juta kematian dan 8,7 juta kasus baru pertahun yang dilaporkan pada
tahun 2011. TB paru sering bermanifestasi ke organ-organ lain selain paru.
Manifestasi ke pleura berupa pleuritis TB atau efusi pleura TB merupakan salah
satu manifestasi TB ekstra paru sekitar 15% kasus, angka kejadian meningkat
sekitar 50% pada daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi. Mendiagnosis TB
pleura masih sulit karena membutuhkan tindakan diagnosik yang invasif, mahal,
dan waktu yang lama, seperti biopsi pleura, usg guiding biopsi pleura, dan operasi
torakoskopi. 1
Efusi pleura TB hampir selalu eksudat. Diagnosis efusi pleura TB
ditegakkan dengan menemukan basil Microbacterium tuberculosis (M.Tb) pada
cairan pleura dan gambaran granuloma pada spesimen biopsi pleura. Tetapi
menemukan basil M.Tb pada cairan pleura untuk pemeriksaan basil tahan asam
positif sekitar < 5% dari kasus pleuritis TB. Sedangkan kultur M.Tb cairan pleura
juga memiliki sensitivitas yang rendah sekitar 24-58%, dan memerlukan waktu
sampai 8 minggu untuk pertumbuhan M.Tb pada media. Pemeriksaan histologi
pada spesimen biopsi
pleura dilaporkan sensitivitas sekitar 71-80%, tetapi
tindakan ini invasif, mempunyai komplikasi, dan membutuhkan keahlian untuk
membuktikan TB pleura. Pada tes GeneXpert MTB/RIF menggunakan cairan
pleura dengan sensitivitas sekitar 22,5% dan spesifisitas 98%. Beberapa tahun
terakhir ini telah berkembang tes cepat dalam mendiagnosis TB dengan biomarker
dalam diagnostik efusi pleura TB. Beberapa biomarker seperti ADA (Adenosin
Deaminase), IL2, dan IFN-γ (interferon gamma) bisa digunakan untuk
mendiagnosis TB. 1,2
IFN-γ spesifik ini merupakan suatu produk sitokin yang diaktifasi oleh sel
T yang berperan pada sistem imun Beberapa tahun belakang ini, IFN-γ banyak
digunakan untuk mendiagnosis TB yang memiliki sensitivitas tinggi baik melalui
serum maupun cairan pleura. IFN-γ pada serum dengan pemeriksaan EnzymeLinked Immunospot Assay for Interferon-γ (ELISPOT) dapat mendiagnosis infeksi
laten M. Tb dalam praktek klinis. Meskipun sensitivitas serum untuk diagnosis
TB paru aktif secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan tes rutin seperti
kultur sputum M. Tb, tetapi spesifisitas tidak memuaskan, terutama karena
ketidakmampuan untuk membedakan infeksi TB aktif dan laten. Sedangkan
pemeriksaan kadar IFN-γ pada cairan pleura TB cenderung mempunyai kadar
IFN-γ yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien dengan efusi pleura non-TB
yang merupakan petanda TB aktif. 3
Pemeriksaan kadar IFN-γ merupakan pemeriksaan sensitif, spesifik, dan
juga cepat dimana kita bisa mendapatkan hasilnya dalam waktu 1 hari, karena itu
diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dalam membuktikan peningkatan kadar IFN-γ
pada efusi pleura TB. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kadar IFN-γ pada
efusi pleura TB yang belum banyak dilakukan penelitian di Indonesia dan
membandingkan kadar IFN-γ dengan cut off point pada referensi yang ada.
1.2
Perumusan Masalah
Diagnosis efusi pleura TB sampai saat ini masih jadi permasalahan, karena
tingkat kepositifan M.Tb pada efusi pleura TB rendah pada beberapa pemeriksaan
seperti pewarnaan BTA langsung cairan pleura, bahkan pemeriksaan molekuler
seperti GeneXpert, maka perlu diteliti bagaimana IFN-γ cairan pleura sebagai
biomarker diagnosis efusi pleura TB, sehingga dapat membedakan antara efusi
pleura TB dan non-TB dengan cepat.
1.3
Hipotesis
Terdapat perbedaan kadar IFN-γ cairan pleura pada efusi pleura TB
dengan non-TB.
1.4
Tujuan Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Untuk melihat perbandingan kadar IFN-γ cairan pleura pada efusi pleura
TB dengan non-TB yang ada di RSUP.DrM.Djamil Padang dan RS Paru Lubuk
Alung
1.4.2
Tujuan Khusus
1. Mendapatkan perbandingan karakteristik penderita efusi pleura TB dengan
non-TB.
2. Mendapatkan perbandingan profil analisa cairan pleura pada efusi pleura
TB dengan non-TB.
3. Mendapatkan perbandingan kadar IFN-γ cairan pleura pada efusi pleura
TB dengan non-TB.
1.5
Manfaat Penelitian
1.5.1
Bagi Peneliti
Penelitian ini bisa menambah pengetahuan, pemahaman, wawasan, dan
pengalaman dalam mendiagnosis cepat efusi pleura TB selain tes yang sudah ada.
15.2
Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang efusi pleura TB
dan non-TB, dan menggenalkan pemeriksaan biomarker cairan pleura dalam
mendiagnosis efusi pleura TB dan non-TB.
1.5.3
Bagi Institusi
Hasil yang didapatkan dari penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai data
untuk penelitian selanjutnya dan penelitian serupa dalam skala yang lebih luas.
1.5.4
Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian dapat dijadikan rujukan untuk mendiagnosis cepat efusi
pleura TB dan mengetahui batasan nilai IFN-γ cairan pleura untuk diagnosis efusi
pleura TB.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Efusi Pleura
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan
dalam rongga pleura. Selain cairan dapat juga terjadi penumpukkan pus atau
darah. Efusi pleura bukanlah suatu penyakit melainkan manifestasi dari berbagai
macam penyakit. Dalam keadaan normal cairan masuk ke dalam rongga pleura
dari kapiler–kapiler di pleura parietal dan diserap melalui pembuluh limfe yang
berada di pleura viseral. Cairan juga bisa masuk ke rongga pleura melalui rongga
intersisial paru melalui pleura viseral atau dari rongga peritonium melalui celah
sempit yang ada di diafragma. Berdasarkan jenis cairannya efusi pleura dibagi
menjadi efusi pleura transudat dan efusi pleura eksudat. Efusi pleura transudat
terjadi apabila faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan
cairan, sedangkan efusi pleura eksudat terjadi apabila faktor lokal yang
mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan. Dari keduanya, efusi pleura
eksudat lebih sering ditemukan, dan penyebab utama efusi pleura eksudat adalah
infeksi bakteri, infeksi jamur, infeksi virus, keganasan dan emboli paru. Di
Indonesia TB adalah penyebab utama efusi pleura, diikuti oleh keganasan 4,5
2.2
Efusi Pleura TB
Efusi pleura TB adalah penumpukan cairan dalam rongga pleura karena
infeksi M.Tb. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa setiap efusi
pleura yang eksudatif harus dicurigai sebagai efusi pleura TB. Dalam penelitian
Amerika Serikat tahun 2003, efusi pleura TB adalah penyebab ketiga terbanyak
terjadinya efusi pleura masif (12%), setelah keganasan (55%), pneumonia (22%)
dan merupakan salah satu manifestasi ekstra paru tersering pada pasien TB paru
setelah limfadenitis.6,7,8,9
2.2.1 Epidemiologi Efusi Pleura TB
Persentase pasien efusi pleura TB sangat bervariasi dari beberapa negara.
Di Burundi lebih dari 25% pasien dengan TB memiliki efusi pleura TB, sementara
di Afrika Selatan 20% dari pasien TB memiliki efusi pleura TB. Sebaliknya hanya
3-5% dari pasien di Amerika Serikat dilaporkan memiliki efusi pleura TB.
Persentase rendah di Amerika Serikat karena kurangnya pelaporan penyakit ini,
dan juga kultur cairan pleura yang sering negatif. Pleuritis TB karena reaksi
hipersensitivitas tipe lambat. Pasien dengan immunokompromais lebih mungkin
untuk menderita TB dan efusi pleura TB dibandingkan dengan pasien dengan nonimmunokompromais. Persentase pasien dengan TB paru yang memiliki efusi
pleura lebih tinggi pada pasien HIV-positif dibandingkan pasien HIV-negatif pada
laporan dari Afrika Selatan (38% vs 20%), Uganda (23% vs 11%), dan Zimbabwe
(27% vs 13%).9,10
2.2.2 Imumunopatogenesis TB
Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB. Melalui
inhalasi droplet nuclei yang mengandung kuman TB, kuman masuk saluran napas
hingga mencapai paru. Saat terinhalasi kuman terperangkap dalam mukosa
saluran napas, trakea dan bronkus, dan tubuh berusaha mengeliminasi kuman
tersebut melalui sistem pertahanan mekanik. Akan tetapi oleh karena ukuran
partikel droplet yang kecil, kurang dari 5µm. Partikel droplet dapat melewati
sistem pertahanan ini dan mencapai saluran napas bawah, terutama di alveoli. Di
alveoli, kuman TB akan difagositosis oleh neutrofil dan makrofag alveolar. Proses
selanjutnya dipengaruhi oleh patogenesitas atau virulensi dari kuman TB serta
kemampuan sel tubuh menggeliminasinya. Pada sebagian besar kasus, kuman TB
berhasil dihancurkan oleh makrofag alveolar melalui proses fagositosis.11,12
Makrofag alveolar adalah lini pertahanan pertama melawan infeksi basil
TB, pada sebagian kecil kasus makrofag alveolar tidak mampu menahan
pertumbuhan bakteri, basil akan hidup dan bereplikasi didalam makrofag dan
menyebabkan makrofag yang terinfeksi menjadi lisis. Makrofag yang terinfeksi
akan melepaskan sitokin-sitokin inflamasi. Kemudian respon proinflamasi lokal
terbentuk melalui Toll like receptor agonist yang mengelilingi permukaan bakteri.
Sel Natural Killer (sel NK) merupakan sel yang penting yang tiba ditempat
infeksi pertama sebelum kemudian disusul oleh populasi sel limfosit T yang
memproduksi IFN-γ dan TNF-α dan kemokin inflamasi diproduksi oleh makrofag
yang terinfeksi akan merekrut sel-sel darah putih dan melanjutkan serangkaian
peristiwa imunologis ditempat tersebut. Sementara kuman TB dalam makrofag
terus berkembang biak dan membentuk koloni ditempat tersebut. Secara bersama-
sama, sel-sel ini memulai kaskade proses yang diperantai kemokin dan sitokin
yang menarik makrofag dan sel T bergerak menuju ke tempat infeksi terjadi.
Kemudian terjadi eksudat plasma dan pembentukan bekuan. agregasi makrofag
membentuk formasi awal dari inti granuloma.13,14
Granuloma merupakan petanda dari penyakit TB, granuloma dibentuk oleh
kumpulan fagosit mononuclear (MN) dan sel T pada tempat replikasi bakteri
dengan makrofag yang terinfeksi berada ditengahnya. Makrofag yang terinfeksi
berdifferensiasi ke dalam berbagai bentuk mulai dari makrofag jaringan, sel
epiteloid dan sel raksasa yang dikenal sebagai sel datia Langhan’s. Sel T yang
diaktivasi mengeluarkan berbagai macam sitokin untuk mengendalikan basil TB
dan mengaktifkan sel limfosit T sitotoksik. Karakteristik granuloma TB adalah
pada pusatnya terdapat jaringan nekrotik, sel-sel debris, dan basil TB yang telah
mati. Basil TB ditemukan pada zona antara pusat nektorik dan dinding dari
granuloma. Makrofag secara metabolik aktif mengkonsumsi oksigen yang ada
sehingga daerah granuloma menjadi anoksik dan nekrotik.15,16,17
Gambar.2.1 Interaksi M. Tb dengan sistem imun tubuh
Dikutip dari (15)
2.2.3 Patogenesis Efusi Pleura TB
TB pleura terjadi akibat dari antigen TB memasuki rongga pleura,
biasanya melalui pecahnya fokus subpleural dan terjadi interaksi dengan limfosit
yang akan menghasilkan suatu reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Limfosit akan
melepaskan limfokin yang akan menyebabkan peningkatan permeabilitas dari
kapiler pleura terhadap protein yang akan menghasilkan cairan pleura. Sel T
helper tipe 1 (Th 1) subset memperantarai limfosit dalam memberikan respon
terhadap infeksi M.Tb. Efusi pleura ini dapat terjadi setelah infeksi primer atau
reaktivasi TB yang mungkin terjadi jika penderita mengalami imunitas rendah,
dan juga tidak melibatkan basil yang masuk ke rongga pleura.2,18
2.2.4 Biomarker Diagnostik Efusi Pleura TB
Biomarker merupakan karakteristik yang obyektif yang dapat diukur dan
dievaluasi sebagai indikator normal proses fisiologis atau patologis untuk
intervensi terapeutik. Biomarker TB spesifik memberikan informasi prognostik,
baik untuk individu atau untuk penelitian, status kesehatan dan dapat memajukan
pengetahuan tentang patogenesis penyakit dalam memprediksi reaktivasi dan
kesembuhan. Sitokin dan kemokin, sebagai molekul kunci yang mengatur respon
imun yang telah dipelajari secara ekstensif dalam kaitannya sebagai biomarker
diagnostik dan prognostik tuberkulosis. 19
Sitokin dan kemokin adalah molekul protein kecil yang mengatur respon
imun pada tingkat sel. Mereka merangsang dan merekrut berbagai sel yang
terlibat dalam sistem imun dan inflamasi. Salah satu sitokin seperti IFN-γ
berperan pada infeksi TB. Beberapa kemokin memiliki peran untuk merespon
sinyal spesifik penting untuk pematangan sel dan penarik leukosit dari darah ke
tempat infeksi.18,19,20
Beberapa tes yang telah dikembangkan berguna dalam mendiagnosis
pleuritis TB, yaitu enzim Adenosin Deaminase (ADA), reseptor interleukin-2
(sIL-2R),
Polimerase
Chain
Reaction
(PCR)
untuk
mendeteksi
DNA
mikrobakterium, dan sitokin interferon gamma (IFN-γ) yang dapat dilihat pada
tabel 1.21
Tabel.2.1 Tes baru dan biomarker untuk diagnosis efusi pleura TB
ADA: adenosine deaminase; IFN: interferon; IL: interleukin; TNF: tumour necrosis factor;
secreted antigenic target; CFP: culture filtrate protein; NAAT: nucleic acid
ESAT:early
amplification test; TB:
tuberculosis; TBGL: tuberculous glycolipid
Dikutip dari (2)
2.3
Efusi Pleura Keganasan
Ada beberapa mekanisme yang berbeda pembentukan efusi pleura pada
pasien dengan keganasan. Penumpukan cairan di rongga pleura bisa terjadi akibat
peningkatan permeabilitas kapiler karena reaksi inflamasi yang ditimbulkan oleh
infiltrasi sel kanker pada pleura parietal atau visceral. Ada mekanisme lain
pembentukan efusi pleura seperti invasi langsung tumor yang berdekatan dengan
pleura, obstruksi pada kelenjar limfe, penyebaran hematogen atau tumor primer
pleura (mesotelioma). Gangguan penyerapan cairan oleh pembuluh limfe pada
pleura parietal akibat deposit sel kanker itu menjadi penyebab akumulasi cairan di
rongga pleura.Teori lain menyebutkan terjadi peningkatan permeabilitas yang
disebabkan oleh gangguan fungsi beberapa sitokin antara lain tumor necrosing
factor-α (TNF-α), tumor growth factor-β (TGF-β) dan vascular endothelial
growth factor (VEGF). Penulis lain mengaitkan efusi pleura ganas (EPG) dengan
gangguan metabolisme, menyebabkan hipoproteinemia dan penurunan tekanan
osmotik yang memudahkan perembesan cairan ke rongga pleura. Efusi pleura
ganas juga dapat terjadi karena obtruksi duktus torasikus, efusi pleura yang
dihasilkan adalah chylothorax. Limfoma penyebab utama 75% dari chylothorax
sekunder pada penyakit keganasan. Mekanisme lain dimana tumor ganas
menghasilkan efusi pleura karena obstruksi bronkus. Tumor menyebabkan
obtruksi bronkus utama atau bronkus lobaris, obtruksi distal paru menjadi
atelektasis yang akan mengakibatkan tekanan pleura lebih negatif, dan mudah
penumpukan cairan pleura. Insiden emboli paru lebih tinggi pada pasien dengan
penyakit ganas, dan emboli dapat menyebabkan efusi pleura eksudatif. Pasien
dengan tumor intratoraks sering yang mendapatkan terapi radioterapi, dan
pengobatan ini juga dapat mengakibatkan efusi pleura. 22,23
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa mekanisme pembentukan
efusi pleura pada penyakit keganasan sebagai berikut :23
1. Secara langsung
-
Metastasis pleura dengan peningkatan permeabilitas
-
Metastasis pleura dengan obstruksi pembuluh limfatik pleura
-
Keterlibatan kelenjer getah bening mediastinum dengan penurunan
drainase limfatik pleura
-
Gangguan duktus torasikus (chylothorax)
-
Obstruksi bronkus (penurunan tekanan pleura)
-
Keterlibatan perikardial
2. Secara tidak langsung
2.4
-
Hipoproteinemia
-
Pneumonitis post obstructive
-
Emboli paru
-
Terapi setelah radiasi
Efusi Pleura karena Pneumonia
Efusi pleura pneumonia dapat terjadi pada fase eksudat, karena terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler pleura akibat respon inflamasi. Hal ini
menyebabkan
transfer cairan intersisial melewati pleura visceral. Sitokin
proinflamasi termasuk interleukin (IL) 6, IL 8 dan tumor necrosis factor (TNF) ά
menyebabkan perubahan bentuk anatomi sel mesotelial pleura yang membuat
gaps interselular yang selanjutnya merubah permeabilitas dan menambah
akumulasi cairan pleura. Efusi pleura pada pneumonia mempunyai karakteristik
cairan pleura dengan glukosa >40 mg/dL dan pH >7,2, dan tanpa ditemukan
bakteri pada pemeriksaan mikrobiologi, fase ini juga disebut sebagai simple
parapneumonia efusi.23,24
2.5
Interferron- γ (IFN- γ)
2.5.1 Pengertian IFN- γ
IFN-γ ditemukan oleh Isaacs dan Lindenmann tahun 1957 sebagai protein
yang pembentukannya diinduksi oleh sel yang terinfeksi virus dan berperan
mengganggu replikasi virus. Interferon mempunyai fungsi pengatur imun seperti
penambahan produksi dan aktivasi sel NK serta berfungsi sebagai pengatur sel,
misalnya penghambat pertumbuhan sel. Berdasarkan sumber selnya interferon
diklasifikasikan sebagai interferon fibroblast dan interferon imun. Ada 3 jenis IFN
yaitu alfa, beta dan gamma. IFN-α diproduksi oleh leukosit, IFN-β oleh sel
fibroblast yang bukan limfosit dan IFN-γ yang dihasilkan oleh limfosit T.25,26,27
Sel T adalah mediator utama pertahanan imun melawan M.Tb. Sel T
terdiri dari limfosit T helper, disebut juga clusters of differentiation 4 (CD4)
karena mempunyai molekul CD4+ pada permukaannya, jumlahnya 65% dari
limfosit T darah tepi. Sebagian kecil (35%) lainnya berupa limfosit T supresor
atau sitotoksik, mempunyai molekul CD8+ pada permukaannya dan sering juga
disebut CD8. Sel T helper (CD4) berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel T
helper 1 (Th1) dan sel T helper 2 (Th2). Subset sel T tidak dapat dibedakan
secara morfologik tetapi dapat dibedakan dari perbedaan sitokin yang
diproduksinya. Sel Th1 membuat dan membebaskan sitokin tipe 1 meliputi IL2,IL-12, IFN- γ dan tumor nekrosis faktor alfa (TNF-α). Sitokin yang dibebaskan
oleh Th1 adalah aktivator yang efektif untuk membangkitkan respon imun seluler.
Sel Th2 membuat dan membebaskan sitokin tipe 2 antara lain IL-4, IL-5,IL-6, IL9 dan IL-10. Sitokin tipe 2 menghambat proliferasi sel Th1, sebaliknya sitokin
tipe 1 menghambat produksi dan pembebasan sitokin tipe 2. IFN- γ dapat juga
disebarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. IFN-γ yang diproduksi
berbagai sel sistem imun merupakan sitokin utama MAC (Macrophage Activating
Cytokine) dan berperan terutama dalam imunitas yang tidak spesifik dan spesifik
seluler. IFN-γ adalah sitokin yang mengaktifkan makrofag untuk fagosit mikroba.
IFN-γ merangsang ekspresi MHC-I dan MHC-II dan kostimulator APC. IFN-γ
dapat mengalihkan sel B mengaktifkan komplemen yang berpartisipasi dalam
eliminasi mikroba.25,26,27
Gambar 2.2 Efek biologik IFN-γ
Dikutip dari (25)
Adanya antigen M.Tb pada pleura memunculkan respon imun yang kuat.
Respon imun awal yang berperan pada antigen M.Tb adalah neutrofil dan
makrofag, limfosit, yang menghasilkan efusi eksudatif dan yang predominan yaitu
limfosit. Perjalanan selular ini difasilitasi oleh penanda permukaan dan kemokin.
Respon imun lokal ini intens namun kurang peka terhadap antigen TB. Sebuah
studi
terbaru
menunjukkan
bahwa
sel-sel
dari
profil
sel
T,
CD4+/CD25+/FoxP3+,T-sel regulator, diperbanyak pada efusi pleura TB dan
dapat menekan beberapa respon efektor. Pada gambar 2.3 dibawah ini dapat
dilihat sistem yang terlibat dalam biomarker pada TB pleura. 2
Gambar 2.3. Skema representasi dari jalur dan sistem yang terlibat dalam biomarker untuk TB
pleura. IFN: interferon; ESAT: early secreted antigenic target; CFP: culture filtrate protein; ADA:
adenosine deaminase; TNF: tumour necrosis factor; IL:interleukin
Dikutip dari (2)
Penelitian yang dilakukan oleh Richard Meldau dkk dari 93 pasien yang
dievaluasi, 40 menderita TB dan 48 tidak menderita TB didapatkan kadar IFN-γ
tinggi pada efusi pleura TB dengan sensitivitas 92,5%, spesifisitas 95,9% dengan
cut of point 107,7 pg/ml.1
Penelitian oleh Baris Poyraz dkk mendapatkan efusi pleura TB kadar IFNγ diatas 12 pg/mL,sedangkan pada efusi pleura transudat kadar IFN-γ dibawah 12
pg/mL. pada kelompok efusi pleura keganasan hanya 1 dari 20 pasien dengan
kadar IFN-γ diatas 12 pg/mL (cut of point 11,9 pg/mL). Kadar IFN-γ pada efusi
pleura TB ini dengan sensitivitas 87% dan spesifisitas 95%. 28
Kim dan Sharma dkk menemukan signifikan secara statistik kadar IFN-γ
tinggi pada pleuritis TB. Penelitian mereka melaporkan bahwa setelah ditindak
lanjut 6-9 bulan, kadar IFN- γ signifikan tinggi pada pasien dengan penebalan
pleura lebih dari 10 mm karena peran penting IFN- γ dari respon imun lokal.29,30
Penelitian lain yang dilaporkan oleh Fahmi yousef khan dkk di Qatar,
mereka meneliti 103 pasien efusi pleura, kadar IFN-γ tinggi pada kelompok
dengan efusi pleura TB dibandingkan dengan efusi pleura non-TB (efusi
parapneumonik, efusi pleura keganasan, dan efusi lainnya) (1.98 ± 81 vs 0.26 ± 10
pg/mL [P<0.0001]) dengan sensitivitas dan spesifitas 100% (cut of point 0,50
pg/mL).
Mereka
juga
menyatakan
kinerja
tes
IFN-γ
pada
pasien
immunokompromais (misalnya, pasien HIV) dan efek imunosupresi pada tes ini
masih belum jelas, karena banyak penelitian telah menunjukkan tidak konsisten.31
Penelitian yang telah dilakukan oleh Villena dkk yang mengukur kada
IFN- γ cairan pleura dari 595 pasien, dimana 82 kasus penyebabnya adalah TB,
dan dilaporkan bahwa level cutt-of 3,7 IU/ml, dengan nilai sensitivitas 98% dan
spesifisitas 98% dalam menegakkan diagnosis efusi pleura TB.32
Penelitian yang dilakukan oleh Koung-sun lee dkk mendapatkan hasil
bahwa pleuritis TB melibatkan sitokin IFN-γ dan TNF lebih tinggi pada efusi
pleura TB dibandingkan efusi pleura akibat penyakit yang lain (keganasan,
parapneumonia, dan gangguan jantung). Penelitian mereka ini juga menemukan
fakta bahwa ratio kosentrasi darah sirkulasi pasien efusi pleura TB memiliki kadar
sitokin yang tinggi. Pada tabel 2 dibawah ini dijelaskan mengenai beberapa
penyebab efusi pleura TB dan non-TB ( keganasan, pneumonia, dan efusi pleura
kardiogenik) disertai dengan perbandingan pemeriksaan pada cairan pleura dan
serum.33
Tabel 2.2 Karakteristik cairan pleura dan serum pada 220 pasien dengan efusi pleura.
Dikutip dari (33)
2.5.2 IFN- γ pada HIV
Pasien TB dengan HIV memiliki reaksi pleura lebih kuat daripada pasien
TB tanpa HIV. Sel T yang ada dirongga pleura lebih aktif memproduksi IFN-γ
daripada darah perifer pada pleuritis TB. Beberapa penelitian telah mengevaluasi
hubungan antara jumlah sel CD4+ dan IFN-γ, 14 dari 16 studi yang membahas
pengaruh jumlah CD4 pada IGRA (Interferon Gamma Release Assay) dengan
melaporkan rendahnya IFN-γ sesuai dengan penurunan CD4+. Selama infeksi
HIV, produksi IFN-γ menurun dengan pengurangan jumlah sel limfosit T CD4+,
yang akhirnya meningkatkan risiko reaktivasi atau reinfeksi M.Tb. Sebaliknya,
TB juga dapat mempengaruhi HIV. Produksi proinflamasi sitokin oleh granuloma
tuberkulosis (khususnya TNFa) telah dikaitkan dengan peningkatan viral load
HIV, yang mungkin mempercepat beratnya imunosupresi. Risiko kematian pasien
dengan TB terinfeksi HIV dua kali lipat daripada pasien terinfeksi HIV tanpa TB
34,35,36
BAB III
KERANGKA KONSEP
Penyakit paru Non-TB
Infeksi M. Tb
Fagositosis
Makrofag
Proinflamasi
sitokin (IFN-γ)
Aktivasi sel
Th1
Aktivasi sel
Th2
Proinflamasi
sitokin (IFN-γ)
Antibodi
Makrofag
Aktif
Produksi
kemokin
Eliminasi M.tb
terhambat
Migrasi sel
radang
Peningkatan permiabilitas
membran pleura
Aktivasi
komplemen
Inflamasi
dinding pleura
Peningkatan permiabilitas
membran pleura
Efusi pleura
Efusi pleura
IFN - γ
IFN - γ
Quantikine Human IFN-γ
Immunoassay
(R&D Systems
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu penelitian analitik dengan pendekatan
cross sectional menilai kadar IFN-γ pada efusi pleura eksudatif yang telah jelas
penyebabnya dibagi 2 kelompok menjadi efusi pleura TB dan non-TB.
4.2
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dibangsal paru RSUP.Dr.M.Djamil Padang dan RS
Paru Lubuk Alung. Penelitian dilakukan sejak April 2015 – Februari 2016.
4.3
Populasi Penelitian dan Sampel
4.3.1
Populasi
Semua penderita efusi pleura eksudatif yang dirawat dibangsal paru
RSUP.Dr.M.Djamil Padang dan RS Paru Lubuk Alung.
4.3.2
Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian populasi yang memenuhi kriteria inklusi.
Pengambilan sampel dilakukan secara berurutan (consecutive sampling)
4.3.3
Perkiraan Besar Sampel
Jumlah sampel yang dibutuhkan di hitung dengan rumus besar sampel
untuk uji diagnostik dengan keluaran sensitivitas adalah sebagai berikut:
n = Besar Sampel
Zα = Tingkat kemaknaan= 1,96 dengan α = 95%
Sen= Sensitivitas yang di inginkan dari nilai diagnostik (98 %)
d = Presisi penelitian (10%)
α = Tingkat keslahan (α = 5%)
P = Proporsi hasil positif menderita penyakit pada pasien yang diduga
menderita penyakit (50%)
n =
(1,96)2 * 0,98 (1-0,98)
(0,1)2 0,5
n
=
3,84 * 0,02
0,01 * 0,5
n =
0,076
0,005
n = 15
Jumlah sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 15. Untuk
menghidari adanya drop out di perlukan adanya sampel cadangan sebanyak 10%
dari jumlah sampel. Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 17.
4.4
Kriteria Inklusi dan Eksklusi.
4.4.1
Kriteria inklusi
Semua efusi pleura pleura TB dan non-TB dengan syarat yaitu :
1. Usia > 18 tahun.
2. Penderita efusi pleura TB dan efusi pleura non-TB yang etiologinya
diketahui pasti infeksi TB dan non-TB
3. Bersedia mengikuti penelitian yang ditandai dengan persetujuan pada
lembaran inform consent.
4.4.2
Kriteria eksklusi
-
Penderita HIV.
4.5
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.5.1
Variabel Penelitian
1. Variabel dependen adalah IFN-γ cairan pleura
2. Variabel independen adalah efusi pleura TB dan non-TB
4.5.2
Definisi Operasional
1. Penderita efusi pleura TB adalah efusi pleura yang disebabkan oleh
infeksi kuman M.Tb dengan ditemukan salah satu atau lebih metode
pemeriksaan sebagai berikut:
-
M.Tb pada pewarnaan BTA sputum dan cairan pleura.
-
M.Tb pada kultur M.Tb sputum
-
Proses spesifik pada sitologi sputum dan cairan pleura, biopsi pleura
dan TTNA.
2. Penderita efusi pleura non-TB yaitu efusi pleura yang disebabkan
infeksi selain M.Tb yang tidak memenuhi kriteria pada poin 1 dan
ditemukan sel keganasan berdasarkan pemeriksaan ditemukan salah
satu atau lebih metode sebagai berikut :
-
Sel ganas pada sitologi sputum, cairan pleura biopsi pleura, TTNA,
bilasan, sel ganas dari keganasan dari organ lain.
3. Penderita efusi pleura non-TB yaitu efusi pleura yang disebabkan
infeksi selain M.Tb yang tidak memenuhi kriteria pada poin 1 dan 2 dan
diberdasarkan pemeriksaan ditemukan salah satu atau lebih metode
sebagai berikut:
-
Proses akut pada analisa cairan pleura.
-
Kuman non-TB pada kultur cairan pleura.
4. Pemeriksaan kadar IFN-γ pada pasien efusi pleura TB dan non-TB
dengan metode Quantikine Human IFN-γ Immunoassay
5. Profil analisa cairan pleura pada efusi pleura TB dan non–TB : jumlah
sel, sel PMN dan MN, protein, LDH dan glukosa.
6. Karakteristik dasar penelitian:
a. Umur adalah usia pasien dalam tahun pada saat penelitian ini
dilakukan. Pada penelitian ini hanya dibatasi pada pasien yang
berusia lebih dari 18 tahun.
b. Jenis kelamin terdiri atas laki-laki dan perempuan
c. Status merokok pasien dikelompokan atas :
 Tidak merokok: orang yang tidak pernah merokok atau pernah
menghisap rokok < 100 batang selama hidupnya.
 Perokok: orang yang merokok > 100 batang selama hidupnya, dan
belum berhenti merokok
 Bekas perokok: orang pernah merokok >100 batang selama
hidupnya dan sudah berhenti minimal satu tahun
4.6
Cara Kerja Penelitian
1. Penderita yang datang ke bangsal paru RSUP.Dr.M.Djamil dan RS
Paru Lubuk Alung dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan foto
toraks
2. Penderita efusi pleura diminta persetujuan untuk dilakukan tindakan
torakosintesis.
3. Sebagian cairan pleura dikirim ke laboratorium mikrobiologi dan
patologi RSUP.Dr.M.Djamil Padang dan RS Paru Lubuk Alung untuk
dilakukan pemeriksan analisa cairan pleura, BTA sputum dan cairan
pleura, sitologi sputum dan cairan pleura, kultur sputum. Dan sebagian
spesimen cairan pleura dikirim ke laboratorium PRODIA untuk
dilakukan pemeriksan IFN-γ
4. Setelah semua hasil pemeriksaan didapat maka dapat ditegakkan
diagnosis penyebab efusi pleura.
4.7
Pengukuran kadar IFN –γ
4.7.1
Prinsip Pemeriksaan
Pemeriksaan ini
menggunakan teknik kuantitatif sandwich enzyme
immuno-assay. Sebelumnya antibody Poliklonal spesifik untuk IFN-γ telah di-
coated ke dalam microplate. Standar (duplo) dan sampel dipipet ke dalam well
dan keberadaan IFN-γ akan disandwich (dipasangkan) oleh immobilized antibody
dalam well.
Setelah inkubasi, dilakukan pencucian untuk menghilangkan substansisubstansi yang tidak terikat (dengan wash buffer), kemudian ditambahkan enzymelinked polyclonal antibody yang spesifik terhadap IFN-γ. Kemudian setelah
dilakukan pencucian kembali untuk menghilangkan reagen antibody-enzyme yang
tidak berikatan, selanjutnya larutan substrat ditambahkan ke dalam well dan
kemudian terbentuklah warna yang sebanding dengan jumlah IFN-γ yang terikat.
Pembentukan warna dihentikan oleh stop solution dan kemudian intensitas warna
diukur.
4.7.2
Penanganan Reagen
1.
Wash Buffer Concentrate
Encerkan 20 ml wash buffer concentrate dengan air deionized atau
distilled hingga diperoleh 500 ml larutan Wash Buffer
2.
Standard
Larutkan IFN-γ standard dengan calibrator diluent RD6-21. Larutan
ini merupakan larutan stok 1000 pg/mL. Sebelum dilarutkan standar
dikocok perlahan selama minimal 15 menit.
Pipet 500 ul calibrator diluent RD6-21 masukkan ke dalam tabung
500 pg/mL. Pipet 500 ul kemudian masukkan kedalam sisa tabung
lainnya. Gunakan larutan stok untuk mendapatkan serial larutan
seperti gambar di bawah ini.
3.
Larutan Substrat
Campurkan color reagent A dan B dalam jumlah yang sama dalam
waktu 15 menit sebelum digunakan. Lindungi dari sinar matahari.
4.7.3
Prosedur Kerja
1. Siapkan semua reagen, working standard, sampel dan control
2. Tambahkan 100 ul Assay Diluent RD1-51 ke dalam well
3. Tambahkan 100 ul standar, control atau sampel ke dalam masingmasing well, campur dengan baik
4. Tutup plate dengan plate sealer yang tersedia dan inkubasi pada suhu
kamar selama 2 jam
5. Buang isi dari tiap well dan cuci dengan menambahkan 400 ul wash
buffer ke dalam masing-masing well. Ulangi proses tersebut sebanyak
3 kali (total pencucian sebanyak 4 kali). Setelah pencucian terakhir,
buang isi dari well, buang sisa wash buffer dengan mengetukngetukkan plate secara terbalik pada lap kertas yang bersih
6. Segera tambahkan 200 ul conjugate ke dalam masing-masing well.
Tutup plate dengan plate sealer baru, inkubasi pada suhu kamar selama
2 jam
7. Ulangi kembali proses pencucian seperti pada no. 5
8. Segera tambahkan 200 ul substrate solution ke dalam masing-masing
well. Tutup plate dengan plate sealer baru, inkubasi pada suhu kamar
selama 30 menit. Lindungi dari sinar matahari.
9. Tambahkan 50 ul stop solution ke dalam masing-masing well. Warna
dalam well akan berubah dari biru ke kuning. Jika warna yang
ditimbulkan pada well hijau atau perubahan warnanya tidak terlihat
seragam, goyang perlahan-lahan untuk memastikan bahwa sudah
tercampur sempurna.
10. Tentukan optical density dari tiap well dalam waktu 30 menit
menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 450 nm
4.8
Analisis Data
Analisis data dilakukan secara bertahap yaitu analisis univariat dan
bivariat. Tahapan analisis data penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Analisis univariat
Analisis univariat dimaksudkan untuk melihat gambaran distribusi
frekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti yaitu distribusi frekuensi jenis
kelamin, umur, riwayat merokok, riwayat DM, profil analisa cairan pleura
(protein, LDH, sel, PMN dan MN) dan kadar IFN-γ. Uji yang digunakan adalah
uji Fisher’s Exact, dan Uji-t.
2.
Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat perbedaan antara variabel
independen dan variabel dependen. Untuk melihat perbedaan kedua variabel
tersebut digunakan uji-t berpasangan dengan alternatif mean whitney u test dengan
derajat kepercayaan 95% dan α = 0,05. Apabila nilai p < 0,05 berarti terdapat
perbedaan yang bermakna antara variabel yang diteliti.
ALUR PENELITIAN
Efusi Pleura
-
Anamnesis
-
Pemeriksaan fisik
-
Foto toraks
-
Darah lengkap
-
Analisa cairan pleura
-
Mikrobiologi sputum
dan cairan pleura
-
Sitologi sputum dan
cairan pleura
-
Kultur M. Tb cairan
pleura
-
Biopsi pleura
-
GeneXpert
Non TB
TB
IFN-γ :
Quantikine Human IFN-γ Immunoassay
(R&D Systems)
HASIL
BAB V
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan terhadap penderita efusi pleura eksudatif yang
dikelompokkan berdasarkan etiologinya menjadi efusi pleura TB dan efusi pleura
non-TB. Diagnosis efusi pleura TB didasarkan dengan ditemukannya BTA
langsung
pada pemeriksaan apusan cairan pleura dan sputum penderita (10
orang), pemeriksaan sitologi cairan pleura (4 orang), TTNA (1 orang) dan biopsi
pleura (2 orang) yang memberikan gambaran suatu peradangan kearah spesifik.
Diagnosis efusi pleura non-TB terdiri dari proses keganasan dan
parapneumonia efusi. Dari keganasan didapatkan 15 orang dan parapneumonia
efusi 2 orang. Efusi pleura non-TB didiagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan
sitologi cairan (12 orang), biopsi pleura (1 orang), TTNA (3 orang), sitologi
bilasan bronkus (1 orang). Efusi pleura keganasan ditemukan jenis sel berupa
adenocarcinoma cell 7 orang (41,2%), squamous cell carcinoma 7 (41,2%) orang,
dan large cell carcinoma 1 (5,9%) orang.
Dari seluruh subjek penelitian didapatkan bahwa 23 orang (67,6%)
penderita berjenis kelamin laki-laki. Kelompok efusi pleura TB didapatkan 11
orang (64,7%) penderita efusi pleura TB adalah laki-laki dan 6 orang (35,3%)
perempuan. Sedangkan, pada kelompok efusi pleura non-TB didapatkan 12 orang
(70,6%) laki-laki dan 5 orang (29,4%) perempuan. Hasil uji statistic chi-square
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin
pada kelompok TB dan non-TB (p= 1,00)
Semua data karakteristik subjek penelitian ini kemudian diamati dan
dideskripsikan seperti yang tertera pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.1 Karakteristik Penderita Efusi Pleura TB dan Non-TB
Karakteristik
TB
Non TB
Pvalue
Subjek (n)
17
17
11(64,7%)
12 (70,6%)
1,00
36,65 ± 17,78a
57,88 ± 10,07 a
0,0001
Jenis Kelamin (n, %)
Laki-laki
Umur
0,734
Riwayat Merokok (n, %)
Bekas Perokok
4 (23,5%)
4 (23,5%)
Perokok
6 (35,3%)
8 (47,1%)
Bukan Perokok
7 (41,2%)
5 (29,4%)
a. menyatakan mean ± standar deviasi
b.menyatakan median (Q1-Q3), Q1=Nilai batas kuartil ke 1; Q3=Nilai batas kuartil ke 3
Berdasarkan tabel 5.1 terlihat banyak jenis kelamin laki-laki pada efusi
pleura TB dan non-TB. Dari variabel umur terlihat bahwa umur rerata tertinggi
pada efusi pleura non-TB, setelah di uji dengan chi–square menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang bermakna terhadap variabel umur pada kelompok TB
dan non-TB dengan nilai p=0,0001. Kelompok efusi pleura TB didapatkan 4
orang (23,5%) merupakan bekas perokok dan 6 orang (35,3%) perokok, dan 7
orang (41,2%) bukan perokok. Sedangkan, kelompok efusi pleura non-TB
didapatkan 4 orang (23,5%) merupakan bekas perokok dan 8 orang (47,1%)
perokok dan 5 orang (29,4%) bukan perokok. Hasil uji statistik menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara riwayat merokok pada
kelompok TB dan non-TB (p= 0,734).
5.1
Profil Analisa Cairan Pleura pada Efusi Pleura TB dan Non-TB
Konsentrasi protein, glukosa, jumlah sel, sel PMN, dan sel MN cairan
pleura pada kedua kelompok ini tidak menunjukkan perbedaan seperti yang
ditampilkan pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.2 Profil Analisa Cairan Pleura pada Efusi Pleura TB dan Non TB
Variabel
TB
Non TB
Pvalue
4,09 ± 1,70 a
4,40 ± 1,16 a
0,54
76,59 ± 49,88 a
110,71 ± 47,39 a
0,23
LDH
1247 ± (422-2582,5)b
431 ± (370,5-733) b
0,04
Sel
775 ± (117,5-1850) b
1350 ± (600-3000) b
0,06
PMN
20 ± (8-60) b
20 ± (10-30) b
0,60
MN
80 ± (40-94) b
80 ± (70-90) b
0,73
Protein (g/dl)
Glukosa (mg/dl)
a. menyatakan mean ± standar deviasi
b. menyatakan median (Q1-Q3), Q1=Nilai batas kuartil ke 1; Q3=Nilai batas kuartil ke 3
Berdasarkan tabel 5.2 terlihat bahwa kadar LDH cairan pleura memiliki
nilai yang sangat signifikan pada kelompok TB dan non-TB dengan nilai p= 0,04
5.2
Gambaran Kadar IFN-γ pada Penderita Efusi Pleura TB dan Non-TB
Hasil pemeriksaan kadar IFN-γ cairan pleura pada semua penderita efusi
pleura TB dan non-TB ditunjukkan pada grafik dibawah ini:
Grafik 5.1 Kadar IFN-γ pada Efusi Pleura TB dan Efusi Pleura non-TB
Berdasarkan grafik batang diatas menunjukkan bahwa rata-rata IFN-γ pada
kelompok TB adalah 651,72 (pg/ml). Sedangkan, rata-rata IFN-γ pada kelompok
non-TB adalah 3,93 (pg/ml).
5.3
Perbedaan Kadar IFN-γ Cairan Pleura pada Penderita Efusi Pleura
TB dan Non-TB
Perbedaan kadar IFN-γ cairan pleura pada kedua kelompok dengan rata-
rata IFN-γ pada efusi pleura TB adalah 651,72 dengan standar deviasi 513,96,
sedangkan rata-rata IFN-γ pada efusi pleura non-TB adalah 3,93 dengan standar
deviasi 1,46. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang
sangat signifikan nilai IFN-γ pada kelompok TB dan Non TB dengan nilai Pvalue=
0,0001.
BAB VI
PEMBAHASAN
Penelitian ini didapatakan sampel efusi pleura TB 17 orang dan efusi
pleura non-TB 17 orang. Efusi pleura TB didiagnosis berdasarkan pemeriksaan
BTA positif pada sputum dan cairan pleura, proses spesifik pada sitologi sputum
dan cairan pleura dan biopsi pleura. Pemeriksaan apusan BTA cairan pleura
secara Ziehl-Nielsen (ZN) cepat didapatkan hasil, tetapi sensitifitinya rendah
sekitar 35%. Sedangkan pada kultur M.TB cairan pleura lebih sensitivitasnya 1150%, tetapi kultur M.TB memerlukan waktu yang lebih lama yaitu 6 minggu
untuk menumbuhkan kuman M.TB. Sementara pada efusi pleura non-TB
penyebabnya terdiri dari keganasan 15 orang dan parapneumonia efusi sebanyak 2
orang. Keganasan didiagnosis berdasarkan setelah mendapatkan jenis sel dari
hasil pemeriksaaan sitologi cairan pleura, biopsi pleura, TTNA, bilasan bronkus.
Jenis sel keganasan yang ditemukan adalah adenocarcinoma cell 7 (41,2%) orang
dan squamous cell carcinoma 7 (41,2%) orang, sedangkan large cell 1 orang
(5,9%). Parapneumonia efusi ditegakkan berdasarkan dijumpai kuman pada
pemeriksaan kultur cairan pleura dan dominan sel PMN dibandingkan MN pada
analisa cairan pleura.
Dari data karakteristik jenis kelamin didapatkan hasil bahwa tidak
terdapat perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok penelitian ini, dimana
pada kedua kelompok ini ternyata efusi pleura cenderung lebih banyak didapatkan
pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Penelitian yang dilakukan Akio
dkk juga mendapatkan penderita laki-laki sebanyak 42 orang (76,36%) dan
perempuan 13 orang (23,63%). Gerogianni dkk mendapatkan 24 orang laki-laki
(77%) dan 7 orang perempuan (23,63%). Insidens efusi pleura TB terbanyak
pada laki-laki sesuai dengan epidemiologi dan prevalens TB. Secara epidemiologi
dibuktikan terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal penyakit
infeksi, progresitivitas penyakit, insiden dan kematian akibat TB.37,38,39
Umur penderita yang terbanyak adalah diatas 30 tahun, dengan umur
termuda 14 tahun dan tertua 76 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Akio dkk
mendapatkn umur termuda 22 tahun dan tertua 97 tahun dengan median umur 67
tahun. Insiden efusi pleura TB meningkat dengan meningkatnya usia, biasanya
terjadi pada usia 15-45 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Richard Meldau dkk
juga mendapatkan perbedaan yang bermakna dari segi umur. Dominasi efusi
pleura TB terbanyak terdapat pada kelompok usia 25-34 tahun secara sosial
ekonomi merupakan kelompok usia produktif sesuai dengan buku Pedoman
Nasional TB Indonesia menyatakan sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia
yang paling produktif secaara ekonomi (15-50 tahun). 1,23,40,41
Dari kedua kelompok penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang
bermakna pada nilai-nilai kadar beberapa karakteristik cairan pleura seperti pada
kadar protein, LDH, jumlah sel, PMN, MN walaupun nilainya bervariasi. Dari
hasil penelitian ini didapatkan kadar protein cairan pleura minimal 2,3 g/dl,
maksimal 7,5 g/dl dengan rerata 4,09 ± 1,70 g/dl untuk kelompok efusi pleura TB
sedangkan rerata 4,40 ± 1,16 g/dl untuk kelompok efusi pleura non-TB. Saat
kedua kelompok ini dianalisis dengan uji-t ternyata tidak tampak perbedaan yang
bermakna antara kedua kelompok (p=0,54).
Kadar LDH cairan pleura minimal 86 U/L, maksimal 22050 U/L dimana
nilai rerata 1247 ± (422-2582,5U/L) pada kelompok efusi pleura TB dan nilai
rerata 431 ± (370,5-733 U/L) pada kelompok efusi pleura non-TB. Terdapat
perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dimana nilai p=0,04. Kadar
LDH berkorelasi dengan derajat proses peradangan. Kadar LDH yang tinggi
menunjukkan proses peradangan yang luas. Pada penelitian ini tidak ada
membandingkan kadar LDH cairan pleura dengan serum. Kadar LDH yang
rendah pada beberapa penderita yang berada pada level < 200, tidak berarti jenis
cairan yang memiliki nilai tersebut bukan eksudat.40
Kadar glukosa cairan pleura yang paling rendah 5 mg/dl, paling tinggi 205
mg/dl dengan rerata 76,59 ± 49,88 mg/dl pada kelompok efusi pleura TB dan
110,71 ± 47,39 mg/dl pada kelompok efusi pleura non-TB. Setelah diuji keduanya
menunjukan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,23). Kadar glukosa
pada efusi TB relatif lebih rendah pada kebanyakan kasus. Namun beberapa
penelitian menunjukkan nilai bervariasi.7
Sel leukosit yang paling sedikit 25/mm3 , sedangkan jumlah paling tinggi
50200/mm3 dengan rerata 775 ± (117,5-1850) /mm3 untuk kelompok efusi pleura
TB, sedangkan 1350 ± (600-3000)/mm3 pada kelompok efusi pleura non-TB.
Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara keduanya dan nilai p=0,69.
Beberapa penderita dengan jumlah sel < 1000 bukan berarti cairan transudat tetapi
rendahnya kadar ini disebabkan oleh teknik pengambilan sampel. Sel PMN
minimal 2%, maksimal 93%, rerata 20 ± (8-60) % untuk kelompok efusi pleura
TB, sementara untuk kelompok efusi pleura non-TB 20 ± (10-30) %. Sel MN
minimal 32%, maksimal 96%, rerata 80 ± (40-94) % untuk kelompok efusi pleura
TB, sementara untuk kelompok efusi pleura non-TB 80 ± (70-90)%. Namun jug
tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Menurut kepustakaan karakteristik
cairan pleura eksudatif profil sel > 1000, sedangkan pada efusi pleura TB sekitar
1000-6000 dengan 50-90% limfosit (MN), jarang eosinofil >5% dan beberapa
mesotel. Jika hitung jenis sel cairan pleura dominan limfosit diagnosis tersering
adalah keganasan dan TB, apabila limfositnya lebih dari 90-95% lebih
mengindikasikan pleuritis TB. 5,42
Dari hasil pemeriksaan IFN-γ cairan pleura didapatkan kadar IFN-γ pada
kelompok efusi pleura TB mempunyai nilai rerata 651,72 ± 513,96 pg/ml.
Sementara pada kelompok efusi pleura non-TB mempunyai nilai rerata 3,93 ±
1,46 pg/ml. Setelah kedua kelompok ini diuji ternyata menunjukkan hasil yang
bermakna dengan nilai p=0.0001, dimana pada penderita efusi pleura TB tampak
peningkatan kadar IFN-γ yang cukup bermakna. Beberapa penelitian kadar IFN-γ
pada efusi pleura TB bervariasi dengan alasan untuk variasi ini belum jelas dapat
dipahami. Banyak pendapat, seperti respon variabel sitokin, beratnya infeksi,
malnutrisi, perbedaan metode antara laboratorium, epidemiologi suatu daerah, dan
infeksi.31
Dan penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya. Richard Meldau
dkk mendapatkan hasil nilai IFN-γ dievaluasi dalam 93 pasien (40 penderita TB, 5
kemungkinan-TB dan 48 non-TB). Tingkat IFN-γ median yang kira-kira 100 kali
lebih tinggi dibandingkan efusi pleura non-TB, penderita TB dengan nilai IFN-γ:
131,8 pg/ml (131,8-162,7) versus 0,57 pg/ml (0,0-5,71) dengan p<0,0001. Light
menyatakan kadar IFN-γ pada efusi pleura TB jika > 140 pg/ml. Penelitian lain
yang dilaporkan oleh Fahmi yousef khan dkk di Qatar nilai kadar IFN-γ tinggi
pada kelompok dengan efusi pleura TB dibandingkan dengan efusi pleura non-TB
(efusi parapneumonia, efusi pleura keganasan, dan efusi lainnya) (1.98 ± 81 vs
0.26 ± 10 pg/mL [P<0.0001]) dengan sensitivitas dan spesifitas 100% (cut of
point 0,50 pg/mL). Penelitian yang dilakukan oleh Aoe dkk membandingkan
kadar IFN-γ cairan pleura antara kelompok efusi pleura TB dan non-TB
didapatkan perbedaan yang bermakna diantara keduanya (37±230 IU/ml vs 0,41 ±
0,05 IU/ml) (p<0,0001). 1,31,42
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1
Kesimpulan
1.
Penderita efusi pleura TB dan non-TB tidak ada perbedaan yang
bermakna dari jenis kelamin, riwayat merokok, sedangkan ada
perbedaan yang bermakna pada segi umur.
2.
Kadar LDH pada efusi pleura TB lebih tinggi dibandingkan efusi
pleura non-TB, sedangkan konsentrasi protein, glukosa, jumlah sel,
sel PMN, dan sel MN cairan pleura pada kedua kelompok tidak
menunjukkan perbedaan yang bermakna.
3.
Kadar IFN-γ cairan pleura pada semua pasien efusi pleura TB pada
penelitian ini jauh lebih tinggi dengan nilai reratanya mencapai 5x
nilai cut off point pada referensi yang ada.
7.2
Saran
1.
Penderita efusi pleura eksudatif bila ditemukan usia >36 tahun,
glukosa rendah pada analisa cairan pleura, kadar LDH tinggi dan
IFN-γ yang tinggi perlu dipikirkan efusi pleura TB.
2.
Kadar IFN-γ pada efusi pleura TB lebih tinggi pada cut off point
yang sudah ada sehingga perlu penelitian yang lebih lanjut dengan
sampel yang lebih banyak dan membandingkan antara IFN-γ
dengan biomarker lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
M Richard, P Jonny et al, Comparison of same day diagnostic tools
including Gene Xpert and unstimulated IFN-γ for the evaluation of pleural
tuberculosis: a prospective cohort study, BMC Pulmonary Medicine;
p.2014: 1-10.
A. Trajman, M. Pai et al, Novel tests for diagnosing tuberculous pleural
effusion: what works and what does not?, Eur Respir Journal;2008; 31:p.
1098–1106.
M Losi, A Bossink et al, Use of a T-cell interferon-c release assay for the
diagnosis of tuberculous pleurisy, Eur Respir Journal 2007; 30: p.1173–79.
S.Febrianti, ZS Priyanti. Diagnosis dan penata laksanaan Efusi pleura
Tuberkulosis dalam Jurnal Respirologi Indonesia , Vol 17 no 4; 1997:p.
206-209.
Light RW , Clinical manifestations and useful tests, Pleural Diseases, Ed
5th; 2007: 7: p.74-80.
Hariadi S, Efusi pleura, dalam : Wibisono MJ, Winariani, Hariadi S
editors. Buku ajar ilmu penyakit paru FK Unair; 2010:hal.111-19
Light RW, Update on Tuberculous Pleural Effusion, Invited Review
Series: Tuberculosis, Respirology; 2010.15; p. 451-8.
G Arun, Sethu M et al, Diagnosis and Treatment of Tuberculous Pleural
Effusion in 2006 ,Chest Journal; 2007;131; p.880-89.
J Ferrer, Pleural Tuberculosis, Eur Respir Journal; 1997; 10:p.942–47
V Villena, A Lopez-Encuentra et al, Interferon-γ in 388
immunocompromised and immunocompetent patients for diagnosing
pleural tuberculosis, Eur Respir J; 1996: 9:p.2635–39.
Rahajoe NN,Setyanto DB, Patogenesis dan perjalanan alamiah infeksi
tuberculosis, dalam : Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, eds. Buku
ajar respirologi anak, Edisi I, Badan penerbit IDAI, Jakarta; 2008: hal.16977.
Dheda K, Booth H, Hugget JF et al, Lung remodeling in Pulmonary
Tuberculosis, The journal of infect dis, 2005; 192: p.1201-10.
Pieters J, Mycobacterium tuberculosis and the macrophage: maintaining a
balance. Cell Host and Microbe-Elsevier, 2008; 10: p.399-406.
Zuniga J, Garcia DT et al, Cellular and humoral mechanim involved in the
control of tuberculosis. Clinical and developmental immunology, 2012:
p.1-18.
Harding C. Regulation of antigen presentation by Mycobacterium
tuberculosis : a role for Toll-like receptors. Nature reviews
microbiology,2010 ; 8 (3):p.296-307.
Rubin EJ, The granuloma in tuberculosis, Eng J Med; 2009: 360
(23):p.2471-73.
Ramakrishnan L, Revisiting the role of the granuloma in tuberculosis.
Nature Immunol J; 2012:12:p.352-66.
F Wolfgang, Tuberculous Pleural Effusion, Intech Journal; 2013: 14:
p.267-87.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
M Adane, A Markos, Cytokines and Chemokines as Biomarkers of
Tuberculosis, J Mycobac Dis; 2013: p.1-4.
M. Losi, A. Bossink et al, Use of a T-cell interferon-ᵧ release assay for the
diagnosis of tuberculous pleurisy, Eur Respir J; 2007: 30: p.1173–1179.
S Mohamed, L Abdel et al, Interferon gamma (IFN-γ) and soluble
interleukin-2, International Journal of Immunology; 2013: 1(1): p.7-13.
C Dong-sheng, R Michael, Vascular Endothelial Growth Factor in Pleural
Fluid, Chest Journal; 1999: p.760-63.
Light RW , Pleural Effusions Related to Metastatic Malignancies, Pleural
Diseases, Ed 5th; 2007: 10: p.134-6.
Light RW, Parapneumonic Effusions and Empyema, Proc Am Thorac Soc;
2006: Vol 3: p.75–80.
Garna K.B., Reangganis I. Sitokin. Edisi ke-8. Balai penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2009: hal.217-47.
Abbas AK, Licht man AH, Pober JS. Cellular and molecular immunology.
Philadelphia:WB Saunders Company; 1994:p.325-6.
Kauffman SHE. Immunity to intracellular bacteria. Ann Rev Immunol
1993;11:p.12963
P Baris, A Kaya, Diagnostic significance of gamaa-interferon in
tuberculosis pleurisy, Tuberculosis of Thorax journal; 2004: 52(3): p.21117.
Kim YK, Lee SY et al. Gamma-interferon and soluble interleukin 2
receptor in tuberculous pleural effusion.Lung 200;179:p.1759-84.
Sharma SK,Mitra FK, Balamurugan A et al.cytokine polarization in
military and pleural tuberculous. J clin Immunol 2002;22:p.345-52.
Khan FY, H Maha et al, Diagnostic value of pleural fluid interferongamma and adenosine deaminase in patients with pleural tuberculosis in
Qatar, International Journal of General Medicine; 2013: 6: p.13–18.
Victoria V, Lopez A et al, Interferon gamma levels in pleural fuid for
diagnosis of tuberculosis , Am J Med; 2003: 115: p.365-370
Lee KS, Kim HR, Association between Elevated Pleural Interleukin-33
Levels and Tuberculous Pleurisy, Ann Lab Med; 2013:33: p.45-51.
B Kamaldeen, S Steinar et al, Evaluation of immune responses in HIV
infected patients with pleural tuberculosis by the QuantiFERON® TBGold interferon-gamma assay, BMC Infectious Diseases; 2008: p.1-8.
H Matthias, R Pernille et al, The Use of Interferon-gamma Release Assays
in HIV-positive Individuals, European Infectious Disease; 2010: 4(1):
p.23–29.
L. Aaron, D Saadoun et al, Tuberculosis in HIV-infected patients: a
comprehensive review, Clin Microbiol Infect; 2004: 10: p.388–98.
Akio Y, Katoh O et al, A Comparison Study of IFN-γ, ADA and CA125
as The Diagnostic Parameters in Tuberculous Pleuritis, Respir Med 1994;
88:p.139-43.
Gerogianni I,Papala M et al,Could IFN-γ PredictThe Development of
Residual Pleural Thickening in Tuberculous Pleurisy?,Monaldi Arch Chest
Dis 2008; 699:p.18-23.
39.
40.
41.
42.
Losi M, Bossink et al, Use of a T-cell Interferon-c Release Assay For The
Diagnostic of Tuberculous Pleurisy. Eur Respir J 2007; 30:p.1173-79.
Khatami K, Pleural Tuberculosis, SEMJ 2002; 3: p.1-10.
Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Eds 2, Jakarta,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2015.
Aoe K, Hiraki A et al, Diagnostic Significance of IFN-γ in Tuberculous
Pleural Effusions, Chest 2003; 123: p.740.
PENJELASAN UNTUK PERSETUJUAN
Judul penelitian: Perbandingan kadar IFN-γ cairan pleura pada efusi
pleura TB
dengan non-TB yang ada di
RSUP.DrM.Djamil Padang dan RS Paru Lubuk Alung
Nama peneliti : Dr. Fahmi Nofriandi
Sebelum Bapak/Ibu/Saudara/i menyetujui untuk ikut serta pada penelitian
ini, mohon untuk membaca dan memahami semua informasi yang ada dalam
lembaran berikut ini. Bila ada sesuatu yang tidak dipahami atau bila
Bapak/Ibu/Saudara/i memerlukan informasi tambahan baik sebelum dan sesudah
penelitian berlangsung, dapat segera meminta penjelasan lebih lanjut kepada
dokter peneliti.
Perlu diketahui bahwa efusi pleura masih sulit dan keterbatasan sarana,
metode, dan waktu dalam mendiagnosis efusi pleura TB pada kasus tertentu maka
perlu diteliti bagaimana IFN-γ cairan pleura sebagai biomarker diagnosis TB,
sehingga dapat membedakan antara efusi pleura TB dan non-TB dan mencari
faktor yang paling berpengaruh pada efusi pleura TB
Anda bebas mengikuti penelitian ini tanpa paksaan apapun dan bebas pula
untuk mengundurkan diri. Semua data dalam penelitian ini akan dirahasiakan,
sehingga tidak mungkin orang lain menghubungkannya dengan anda. Selama
anda ikut dalam penelitian ini, segala informasi terbaru yang akan mempengaruhi
pertimbangan anda untuk ikut serta dalam penelitian ini akan selalu disampaikan
kepada anda. Bila anda tidak mengikuti instruksi yang telah ditetapkan oleh
peneliti, maka anda dapat dikeluarkan kapan saja dari penelitian ini. Bila anda
memutuskan untuk tidak ikut dalam penelitian ini, maka anda akan menerima
pelayanan rutin sebagaimana biasanya.
Bapak/Ibu/Sdr/i berhak mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan
partisipasi dalam penelitian ini. Bapak/Ibu/Sdr/i dapat menghubungi dokter yang
memeriksa atau melalui nomor telepon yang tercantum di bawah ini.
Nama
: Dr. Fahmi Nofriandi
Alamat kantor : Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FK.UNAND,
No Hp
RS Dr. M. Djamil Padang.
: 08128563414
Demikianlah keterangan ini diuraikan untuk dapat dipahami oleh
bapak/ibu sebelum bapak/ibu menanda tangani surat persetujuan (Informed
concent).
PERSETUJUAN IKUT PENELITIAN (INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
Tahun
Alamat Lengkap :
Telepon
:
Bukti diri / KTP :
Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan
PERSETUJUAN untuk ikut penelitian dengan judul “Perbandingan kadar IFN-γ
cairan pleura pada efusi pleura TB dengan non-TB yang ada di
RSUP.DrM.Djamil Padang dan BP4 Lubuk Alung, terhadap diri saya sendiri
dengan:
Nama
:
Umur / Kelamin
:
Alamat Lengkap
:
Nomor rekam medis :
Yang tujuan, sifat dan perlunya tindakan medis tersebut di atas, serta risiko
yang dapat ditimbulkannya telah cukup dijelaskan oleh dokter dan telah saya
mengerti sepenuhnya.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa
paksaan.
Padang,
Saksi
(
Saya yang menyatakan
)
Peneliti
(dr. Fahmi Nofriandi)
(
)
Download