ppt tinjauan teori dan tinjauan teori askep kkp

advertisement
TINJAUAN TEORI DAN TINJAUAN
TEORI ASKEP KKP
KELOMPOK 7
I KETUT MARTADIPUTRA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Selain
untuk bertahan hidup, makanan juga berfungsi memenuhi
kebutuhan-kebutuhan tubuh akan zat-zat seperti karbohidrat,
protein, lemak, mineral, vitamin, dan zat-zat lain. Namun, di
zaman yang sudah modern ini justru banyak orang yang tidak
dapat memenuhi zat-zat tersebut.
Pada kali ini akan membahas secara khusus mengenai kekurangan
kalori protein. Protein yang berasal dari kata protos atau proteos
yang berarti pertama atau utama. Protein berfungsi sebagai zat
utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Kita
memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan
tumbuhan. Jika kita tidak mendapat asupan protein yang cukup
dari makanan tersebut, maka kita akan mengalami kondisi
malnutrisi energi protein.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada
klien dengan KKP
2. Tujuan khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :
1. definisi KKP
2. etiologi KKP
3. manifestasi klinik KKP
4. patofisiologi KKP
5. komplikasi KKP
6. penatalaksanaan KKP pada anak
7. asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien
dengan KKP
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. PENGERTIAN
Nama internasional KKP yaitu Calori Protien
Malnutrition atau CPM adalah suatu penyakit difisiensi
gizi dari keadaan ringan sampai berat, disebut juga
Protien Energi Malnutrisi ( PEM ).
Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi
pada anak yang kurang mendapat masukan makanan
yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein
kurang dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997).
Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit
gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori
dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada
defisiensi protein maupun energi (Sediatoema, 1999).
II.
ETIOLOGI KKP
Etiologi malnutrisi dapat primer, yaitu apabila kebutuhan
individu yang sehat akan protein, kalori atau keduanya, tidak
dipenuhi oleh makanan yang adekuat, atau sekunder, akibat
adanya penyakit yang menyebabkan asupan suboptimal,
gangguan penyerapan dan pemakaian nutrien, dan/atau
peningkatan kebutuhan karena terjadinya hilangnya nutrien
atau keadaan stres. Kekurangan kalori protein merupakan
penyakit energi terpenting di negara yang sedang berkembang
dan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas pada
masa kanak – kanak diseluruh dunia. (Rudolph, 2006).
Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori protein
dengan berbagai tekanan, sehingga terjadi spektrum gejalagejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi
klinik (kwashiorkor, marasmus, marasmus kwashiorkor).
Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga
penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan multifactoral.
Berikut ini merupakan sistem holistik penyebab
multifactoral menuju ke arah terjadinya KKP :
1. Ekonomi negara
rendah
2. Pendidikan umum
kurang
3. Produksi bahan
pangan rendah
4. Hygiene rendah
5. Pekerjaan rendah
6. Pasca panen kurang
baik
7. Sistem perdagangan
dan distribusi tidak
lancar
8. Persediaan pangan
kurang
9. Penyakit infeksi dan
investasi cacing
10. Konsumsi kurang
11. Absorpsi terganggu
12. Utilisasi terganggu
13. K K P
14. Pengetahuan gizi
kurang
15. Anak terlalu
banyak
III. MANIFESTASI KLINIK
1. KKP Ringan :
a. Pertumbuhan linear terganggu
b. Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan
turun
c. Ukuran lingkar lengan atas menurun
d. Maturasi tulang terlambat
e. Ratio berat terhadap tinggi normal atau cenderung
menurun
f. Anemia ringan atau pucat
g. Aktifitas berkurang
h. Kelainan kulit (kering, kusam)
i. Rambut kemerahan
2. KKP Berat :
a. Gangguan pertumbuhan
b. Mudah sakit
c. Kurang cerdas
d. Jika berkelanjutan menimbulkan kematian
IV. KOMPLIKASI
1. Defisiensi vitamin A (xerophtalmia) Vitamin A
berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi
visual purple bila mata terkena cahaya). Jika tidak segera
teratasi ini akan berlanjut menjadi keratomalasia
(menjadi buta).
2. Defisiensi Vitamin B1 (tiamin) disebut Atiaminosis.
Tiamin berfungsi sebagai ko-enzim dalam metabolisme
karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan
penyakit beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf,
mental dan jantung.
3. Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis) Vitamin
B2/riboflavin berfungsi sebagai ko-enzim pernapasan.
Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis
angularis (retak-retak pada sudut mulut, glositis,
kelainan kulit dan mata.
Con’t
4. Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.
5. Defisiensi Vitamin B12 Dianggap sebagai faktor anti
anemia dalam faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12
dapat menyebabkan anemia pernisiosa.
6. Defisit Asam Folat Menyebabkan timbulnya anemia
makrositik, megaloblastik, granulositopenia,
trombositopenia.
7. Defisiensi Vitamin C Menyebabkan skorbut (scurvy),
mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan
untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblas karena
merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel, pada
proses pematangan eritrosit, pembentukan tulang dan
dentin.
8. Defisiensi Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium,
Besi, Yodium Kekurangan yodium dapat menyebabkan
gondok (goiter) yang dapat merugikan tumbuh kembang
anak.
V.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kurang kalori protein (Suriand & Rita
Yuliani, 2001) :
1. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin
2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit
3. Penannganan diare bila ada : cairan, antidiare, dan
antibiotic
VI.
KLASIFIKASI KURANG KALORI PROTEIN (KKP)
1. Kwashiorkor
a. Pengertian
Kwashiorkor disebabkan oleh insufiensi asupan protein yang
bernilai biologis adekuat dan sering berkenaan dengan
defisiensi asupan energy ( Rudolph, 2006, hal : 1123).
Kwashiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
kekurangan protein baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan
mengakibatkan asam amino esensial dalam serum yang
diperlukan untuk sistesis dan metabolisme terutama sebagai
pertumbuhan dan perbaikan sel, semakin berkurangnya
asam amino dalam serum menyebabkan kurangnya produksi
albumin oleh hati (Suriand & Rita yuliani, 2001).
b. Etiologi
Penyebab utama dari kwashiorkor adalah makanan yang
sangat sedikit mengandung protein (terutama protein
hewani), kebiasaan memakan makanan berpati terusmenerus, kebiasaan makan sayuran yang mengandung
karbohidrat.
c. Patofisiologi
Kwashiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
kekurangan protein baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan
mengakibatkan asam amino esensial dalam serum yang
diperlukan untuk sistesis dan metabolisme terutama sebagai
pertumbuhan dan perbaikan sel, semakin berkurangnya
asam amino dalam serum menyebabkan kurangnya produksi
albumin oleh hati. Kulit akan tampak bersisik dan kering
karena depikmentasi. Anak dapat mengalami gangguan pada
mata karena kekurangan vitamin A. kekurangan mineral
khususnya Besi, kalsium dan Seng. Edema yang terjadi
karena hipoproteinnemia yang mana cairan akan berpindah
dari intravaskuler komperteman kerongga interstinal yang
kemudian menimbulkan asites. Gangguan gastrointestinal
seperti adanya perlemakan pada hati dan atropi pada sel
acinipankreas.
d. Manifestasi Klinik
1) Muka sembab
2) Lethargi
3) Edema
4) Jantung otot mengecil
5) Jaringan subkutan tipis dan lembut
6) Warna rambut pirang atau seperti rambut jagung
7) Kulit kering dan bersisik
8) Alopecia
9) Anorexia
10) Gagal dalam tumbuh kembang
11) Tampak anemia
2. Marasmus
a. Pengertian
Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).
Marasmus merupakan gambaran KKP dengan defisiensi
energi yang ekstrem (Sediaoetama, 1999).
Marasmus adalah penyakit yang timbul karena
kekurangan energi (kalori) sedangkan kebutuhan
protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997).
b. Etiologi
Penyebab marasmus yang paling utama adalah karena
kelaparan. Kelaparan biasanya terjadi pada kegagalan
menyusui, kelaparan karena pengobatan, kegagalan
memberikan makanan tambahan.
c. Patofisiologi
Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
kekurangan kalori dan protein. Pada marasmus ditandai
dengan atropi jaringan terutama lapisan subkutan dan
badan tampak kurus seperti orang tua. Pada marasmus
metabolisme kurang terganggu daripada kwasiorkhor
sehingga kekurangan vitamin biasanya minimal atau
tidak ada. Pada marasmus tidak ditemukan edema
akibat dari hipoalbuminemia dan atau retensi sodium.
Pemenuhan kebutuhan dalam tubuh masih dapat
dipenuhi dengan adanya cadangan protein sebagai
sumber energi.( Suriadi, 2001)
d. Manifestasi klinis
1) Selalu ada gangguan perkembangan dan hilangnya lemak
di otot dan di bawah kulit.
2) Kadang-kadang ada Mencret/diare atau konstipasi,
perubahan pada rambut, seperti pada kwashiorkor, Tandatanda dari defisiensi vitamin.dan dehidrasi (Jelliffe,1994).
3) Tanda dan Gejala yang lain yaitu: Anak menjadi cengeng,
sering bangun tengah malam, turgor kulit rendah dan
kulitnya nampak keriput, pipi terlihat kempot, vena
superfisialis tampak lebih jelas, ubun-ubun besar cekung,
tulang dagu dan pipi kelihatan menonjol, mata tampak besar
dan dalam, sianosi, ekstremitas dingin, perut buncit/cekung
dengan gambaran usus jelas, atrofi otot, apatis, bayi kurus
kering.
e. Komplikasi
Kwashiorkor : marasmus, infeksi tuberculosisi,
parasitosis, disentri, malnutrisi kronik, gangguan
tumbuh kembang.
3. Kwashiorkor Marasmus
a. Pengertian
Kwashiorkor Marasmus merupakan kelainan gizi yang
menunjukkan gejala klinis campuran antara marasmus dan
kwashiorkor. (Markum, 1996)
Kwashiorkor Marasmus merupakan malnutrisi pada pasien
yang telah mengalami kehilangan berat badan lebih dari
10%, penurunan cadangan lemak dan protein serta
kemunduran fungsi fisiologi. (Graham L. Hill, 2000).
Kwashiorkor - marasmus merupakan satu kondisi terjadinya
defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah
dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak
subkutan dan dehidrasi. (http.www.yahoo.com. Search
engine by keywords: malnutrisi pada anak).
b. Etiologi
Penyebab dari kwashiorkor - maramus sama pada
marasmus dan kwashiorkor.
B.
ASKEP TEORITIS
1. Pengkajian
a. Pemeriksaan Fisik
1) Kaji tanda-tanda vital.
2) Kaji perubahan status mental anak, apakah anak
nampak cengeng atau apatis.
3) Pengamatan timbulnya gangguan gastrointestinal,
untuk menentukan kerusakan fungsi hati, pankreas dan
usus.
4) Menilai secara berkelanjutan adanya perubahan
warna rambut dan keelastisan kulit dan membran
mukosa.
5) Pengamatan pada output urine.
Con’t
6) Penilaian keperawatan secara berkelanjutan pada
proses perkembangan anak.
7) Kaji perubahan pola eliminasi. Gejala : diare,
perubahan frekuensi BAB. Tanda : lemas, konsistensi
BAB cair.
8) Kaji secara berkelanjutan asupan makanan tiap hari.
Gejala : mual, muntahdan tanda : penurunan berat
badan.
9) Pengkajian pergerakan anggota gerak/aktivitas anak
dengan mengamati tingkah laku anak melalui
rangsangan.
b. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
a) pemeriksaan darah tepi memperlihatkan anemia
ringan sampai sedang, umumnya berupa anemia
hipokronik atau normokromik.
b) Pada uji faal hati tampak nilai albumin sedikit atau
amat rendah, trigliserida normal, dan kolesterol normal
atau merendah.
c) Kadar elektrolit K rendah, kadar Na, Zn dan Cu bisa
normal atau menurun.
d) Kadar gula darah umumnya rendah.
e) Asam lemak bebas normal atau meninggi.
c. Pemeriksaan Radiologik
Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan
osteoporosis ringan.
2. Diagnosa keperawatan
A. Pada Kwashiorkor
1. Gangguan nutrisi s/d intake yang kurang ( protien )
ditandai dengan pasien tidak mau makan, anoreksia,
makanan tidak bervariasi, BB menurun, tinggi badan
tidak bertambah.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi pasein terpenuhi dengan kreteria
timbul nafsu makan, BB bertambah ½ kg per 3 hari.
2. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik.
Tujuan :
Aktivitas pasien dapat maksimal dengan kreteria pasien
dapat melakukan aktivitas sehari-harinya tanpa dibantu
orang lain.
3. Potensial terjadinya komplikasi b.d rendahnya daya
tahan tubuh
Tujuan :
a.
Mencegah komplikasi
B. Pada marasmus.
1. gangguan pemenuhan nutrisi b.d intake yang kurang
adekuat ditandai dengan pasien tidak mau makan, BB
menurun, anoreksia, rambut merah dan kusam, fisik
tampak lemah.
Tujuan :
Kebutuhan nutisi pasien terpenuhi dengan kreteria; BB
bertambah ½ kg / 3 hari , rambut tidak kusam,
penderita mau makan.
2. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d
intake yang kurang adekuat ditandai dengan turgor kulit
yang jelek, bibir pecah-pecah. Pasien merasa haus ,nadi
cepat 120 / menit.
Tujuan :
Keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi dengan
kreteria ; turgor kulit normal, bibir lembab, pasien tidak
mengeluh haus, nadi normal.
3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik.
Tujuan :
Aktivitas pasien dapat maksimal dengan kriteria pasien
dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dibantu
orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Nelson. 2000. Ilmu kesehatan Anak,volume 2 Edisi 15.
EGC. Jakarta.
http://rabelanti.blogspot.com/2009/03/askep-anakdengan-kkp.html
http://texbuk.blogspot.com/2011/04/asuhankeperawatan-pada-anakkekurangan.html#ixzz1qE2Rw5wB
TERIMA KASIH
ATAS
PERHATIANYA
Download