laporan ringkas hasil riset - KPU Provinsi Sulawesi Tenggara

advertisement
PARTISIPASI MASYARAKAT SULAWESI TENGGARA DALAM PEMILIHAN
PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2014
DR. M. Najib Husain, S.Sos, M.Si
Abstrak
Penelitian ini dilatar belakangi oleh penurunan angka partisipasi masyarakat
Sulawesi Tenggara dalam pemilihan Presiden 2014. Melalui penelitian ini
diharapkan
dapat
diketahui
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
partisipasi
masyarakat. Guna mengungkap hal itu, maka penelltian dirancang menggunakan
metode kuantitatif sebagai pendekatan utama dan kualitatif sebagai pendekatan
pelengkap. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara menyebarkan angket
kepada responden dengan teknik purposive multi stage random sampling. Hasil
penelitian berdasarkan uji statistic ditemukan partisipasi politik dipengaruhi oleh
beberapa faktor: pertama, faktor kesadaran politik; kedua, situasi; ketiga, afiliasi
partai dan organisasi; keempat, kinerja pemerintah dan pembangunan; kelima,
vote buying dan; keenam, kinerja penyelenggara Pemilu.
Kata Kunci: Partisipasi Masyarakat, Pemilihan Presiden, Sulawesi Tenggara
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Salah satu hal yang selalu ditunggu dan dihitung selain hasil pemilu adalah
angka partisipasi pemilih di dalam penyelenggaraan pemilu. Tingkat partisipasi
pemilih, setidaknya akan menggambarkan sejauh mana partisipasi politik warga
dalam kontestasi suatu pemilu. Bahkan di Negara Amerika Latin, partisipasi politik
menjadi indikator menilai kualitas demokrasi sebuah negara.1 Selain itu, angka
partisipasi pemilih juga menjadi ukuran seberapa kuat legitimasi seseorang dalam
menjalankan kepemimpinannya.
Pada sisi yang lain, partisipasi pemilih dalam proses penyelenggaraan
pemilu tidak hanya bisa dilihat ketika masyarakat pemilih datang ke TPS untuk
memberikan suaranya. Tetapi lebih dari itu, keterlibatan masyarakat untuk turut
berpartisipasi dalam seluruh tahapan pemilu seperti melaporkan adanya
kecurangan pemilu, turut memantau proses rekapitulasi penghitungan suara,
mendukung salah satu kandidat, melakukan survei tentang pemilu, juga
merupakan bagian dari bentuk partisipasi masyarakat yang penting dalam proses
penyelenggaraan pemilu.
DAVID ALTMAN and ANÍBAL PÉREZ-LIÑÁN, Assessing the Quality of Democracy: Freedom, Competitiveness and
Participation in Eighteen Latin American Countries. Democratization, Vol.9, No.2, Summer 2002, pp.85–100
1
2
Dalam hal angka partisipasi pemilih, Indonesia merupakan salah satu
Negara
yang
mengalami
pasang
surut.
Pemilu
era
orde
baru
yang
diselenggarakan dalam rezim otoritarian partisipasi pemilih tampak relatif tinggi,
bila dibandingkan dengan angka partisipasi Pemilih era reformasi. Era reformasi
dan demokratisasi yang diharapkan dapat mendorong kenaikan partisipasi, pada
kenyataannya
berkebalikan.
Fenomena
ini
salah
satunya
tampak
pada
penyelenggaraan Pemilu 2014, dimana tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu
Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 mengalami penurunan dibandingkan dengan Pemilu
Legislatif (Pileg) April 2014. Tren penurunan angka partisipasi ini hampir terjadi di
semua wilayah, tidak terkecuali Sulawesi Tenggara. KPU Sulawesi Tenggara
mencatat angka partisipasi pemilih pada Pemilu legislatif mencapai 72,34 %.
Selanjutnya, angka partisipasi pada pemilihan Presiden mengalami penurunan
hingga mencapai 62,49 %.
1.2.
Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penurunan partisipasi masyarkat
dalam Pemilihan Presiden 2014?
1.3.
Tujuan Penelitian
Tujuan formal dari riset kepemiluan ini adalah untuk melaksanakan tugas
KPU RI dan KPU Provinsi Sulawesi Tenggara tentang pelaksanaan Riset
Partisipasi dalam Pemilu. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui
3
faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarkat dalam Pemilihan Presiden
2014?
1.4.
Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan penelitian adalah menjadi bahan dalam penyusunan
kebijakan berupa penetapan peraturan dan penyusunan program yang berbasis
pada argumen empirik dan rasional berdasarkan temuan ilmiah. Karena itu, hasil
penelitian ini, diharapkan menjadi dasar perumusan gagasan sebagai rekomendasi
kebijakan bagi para pihak yang berkepentingan (stakeholders). Dalam konteks
manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan memberikan konstribusi praktis bagi
para penyelenggara pemilu dan peneliti berupa upaya-upaya meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum.
1.5.
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan hasil penelitian ini terbagi dalam 5 bagian, yaitu: Bab
1 berisi Pendahuluan yaitu meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan. Bab 2 berisi
Tinjauan Pustaka yang mengungkapkan uraian kajian teori, konsep, asas, norma,
atau doktrin yang relevan dengan tema dan masalah hukum yang diteliti. Bab 3
berisi Metodologi Penelitian yang menggambarkan metodologi penelitian. Bab 4
berisi Pembahasan yang mendeskripsikan gambaran umum objek penelitian, hasil
4
survei, analisis dan pembahasan masalah yang diteliti. Bab 5 berisi Penutup yang
meliputi simpulan dan rekomendasi.
5
BAB II
KAJIAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Kerangka Teori
2.1.1. Konsep Partisipasi Politik
Sebagai kajian teoritis didalam penelitian ini, peneliti mengajukan beberapa
teori yang dapat mendukung judul dan permasalahan penelitian. Sehubugan
dengan hal itu terlebih dahulu menguraikan konsep partisipasi politik. Miriam
Budiarjo (1992:183) mengartikan partisipasi politik sebagai kegiatan seseorang
atau kelompok orang untuk ikut secara serta aktif dalam kehidupan politik, yaitu
dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung
mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah (public policy). Budiarjo menyebutkan
bahwa kegiatan partisipasi politik dapat mencakup tindakan seperti memberikan
suara dalam pemilu, menghadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai politik
atau kelompok kepentingan, mengadakan pendekatan atau hubungan (contacting)
dengan pejabat pemerintah dan sebagainya.
Michael Rush dan Philip Althoff (1997:124) yang menguraikan bentuk
partisipasi politik disertai dengan hierarkinya sebagaimana terlihat dalam gambar
berikut ini :
6
Gambar 2.1 Bentuk-Bentuk Partisipasi Politik dan Hierarkinya
Menduduki jabatan politik atau administratif
Mencari jabatan atau administratif
Keanggotan aktif suatu organisasi politik
Keangotaan pasif suatu organisasi politik
Keanggotaan aktif suatu organisasi semu politik (quasi
political)
Keanggotaan pasif suatu organisasi semu politik
(quasi-political)
Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi, dan
sebagainya
Partisipasi dalam diskusi politik informal minat umum
dalam politik
Sum
Voting (pemberian suara)
Lain pula dengan Frank L. Wilson yang mengidentifikasi bentuk-bentuk
partisipasi sebagi berikut:
7
Gambar 2.2 Piramida Partisipasi Politik
Pejabat Umum
Aktivis
Partisipan
Pejabat Partai
Sepenuh
waktu,
Pimpinan
Petugas
kampanye
kelompok
kepentingan
Aktif dalam partai/kelompok
kepentingan
Aktif dalam proyek-proyek
sosial
Menghadiri rapat umum
Pengamat
Anggota kelompok kepentingan
Usaha meyakinkan orang
Sumber:
Memberikan suara dalam pemilu
Orang Apolitis
Budiarjo,1994:189
Mendiskusikan masalah politik
Perhatian terhadap perkembangan politik
Sumber : Budiarjo, 1994:189
Huntington (1990:16) berpendapat bahwa : “bentuk partisipasi politik
berdasarkan perilaku yang terdiri dari kegiatan pemilihan, lobbing, kegiatan
organisasi, mencari koneksi (contacting) dan tindakan kekerasan ”. Berkaitan
dengan hal tersebut di atas, Mas’oed (1995:46) membagi partisipasi politik ke
8
dalam dua bentuk yaitu, partisipasi politik dalam bentuk yang konvensional yang
merupakan
bentuk partisipasi “normal” dalam demokrasi modern. Sementara
partisipasi politik yang non konvensional yaitu menggunakan cara-cara yang
illegal. Kedua bentuk tersebut diuraikan dalam gambar sebagai berikut :
Tabel 2.1. Bentuk-Bentuk partisipasi Politik
-
Konvensional
Pemberian Suara (Voting)
Diskusi Politik
Kegiatan Kampanye
Membentuk dan bergabung
dalam Kelompok Kepentingan
Komunikasi individual dengan
pejabat politik dan administratif
-
-
Non- Konvensional
Pengajuan petisi
Berdemonstrasi
Konfrontasi
Mogok
Tindak
kekerasan
politik
terhadap
harta-benda
(perusakan,
pengeboman,
pembakaran)
Tindakan kekerasan politik
terhadap
manusia
(penculikan, pembunuhan)
Perang gerilya dan revolusi
Sumber : Mas’oed ,1995:45
Berdasarkan bentuk partisipasi politik tersebut, maka partisipasi yang
konvensional biasanya terdapat di negara-negara demokrasi modern sedangkan
partisipasi politik yang non konvensional menggunakan kekerasan yang sifatnya
revolusioner, biasanya terdapat dinegara yang kurang stabil. Dalam penelitian ini
hanya membahas bentuk partisipasi politik konvensional, khususnya dalam
pemberian suara saja (pemilihan).
Pemberian suara merupakan suatu bentuk partisipasi aktif yang paling luas
tersebar. Kegiatan pemberian suara dapat dianggap sebagai bentuk partisipasi
9
politik aktif yang paling kecil, karena itu menuntut suatu keterlibatan minimal.
Pemberian suara dalam Pemilihan Presiden dimaksudkan untuk memilih siapa
Calon Presiden. Pemberian suara dalam Pilpres secara langsung diwujudkan
dengan memberikan suara pada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden
yang didukungnya atau ditunjukkan dengan perilaku masyarakat dalam memilih
pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.
2.1.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi Pemilih
Faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi
politik seseorang yaitu kesadaran politik, situasi, afiliasi partai dan organisasi,
kinerja pemerintah dan pembangunan, vote buying, kinerja penyelenggara Pemilu
dan faktor kandidat.
a. Kesadaran politik
Kesadaran politik ialah kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga
negara. Hal ini menyangkut pengetahuan seseorang tentang lingkungan
masyarakat dan politik, dan menyangkut minat dan perhatian seseorang terhadap
lingkungan masyarakat dan politik tempat dia hidup. Berkaitan dengan itu Jeffry
M. Paige (dalam Surbakti, 1992:144) menyebutkan bahwa: “Apabila seseorang
memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah yang tinggi maka
partisipasi politik cenderung aktif. Sebaliknya, apabila kesadaran politik dan
kepercayaan kepada pemerintah rendah maka partisipasi politik cenderung pasiftertekan (apatis)”.
10
b. Situasi
Menurut
Ramlan Surbakti, situasi politik juga dipengaruhi oleh keadaan
yang mempengaruhi aktor secara langsung seperti cuaca, keluarga, kehadiran
orang lain, keadaan ruang, suasana kelompok, dan ancaman.2
c. Vote Buying
Vote buying menurut Schaffer3, merupakan pertukaran ekonomi sederhana.
Dalam konsep ini perilaku vote atau pilihan lebih dipahami sebagai interaksi
menjual atau membeli suara pemilih (voters) yang dilakukan oleh kandidat
(terhadap voters). Praktek dari vote buying biasanya berbentuk pemberian atau
hadiah terutama dalam bentuk uang, barang berharga, atau janji disertai dengan
pesan-pesan simbolik yang bertujuan mempengaruhi perilaku penerima. Bentuk
vote buying bukan hanya pemberian suap, tapi juga pembayaran untuk membiayai
jalan-jalan atau membiayai penyelenggara pemilihan. Termasuk didalamnya
situasi ketika pemilih diberi iming-iming atau janji seperti pemberian uang jika
memilih kandidat tertentu.
d. Afiliasi Politik dan Organisasi
Afiliasi berarti tergabung dalam suatu kelompok atau kumpulan.
Afiliasi
politik dapat dirumuskan sebagai keanggotaan atau kerjasama yang dilakukan
individu atau kelompok yang terlibat ke dalam aliran-aliran politik tertentu. Afiliasi
Ramlan Surbakti. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia
Frederic Charles Schaffer, “What is Vote Buying?,” in Prepared for MIT International Conference, (Cambrigde:
Department of Political Science MIT, 2002), 2-3
2
3
11
politik
mendorong tumbuhnya kesadaran dan
kedewasaan politik masyarakat
untuk menggunakan hak politiknya secara bebas dan bertanggungjawab dalam
melakukan berbagai aktifitas politik, seperti ikut dalam partai politik dalam
pemerintahan, ikut dalam proses pengambilan dan pelaksanaan
keputusan
politik.4
e. Kinerja Penyelenggara Pemilu
Pemilu diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan
Pengawas Pemilu (Bawaslu). KPU bertugas menyelenggarakan pemilu dan
Bawaslu bertugas mengawasi penyelenggaraan pemilu. Persoalan rendahnya
partisipasi diantaranya disebabkan oleh rendahnya kinerja penyelenggara Pemilu
dalam melakukan sosialisasi politik dan penyadaran politik, serta proses
pembuatan DPT yang mengalami berbagai permasalahan. Hal ini membuat
banyak masyarakat yang tidak tercantum dalam DPT.
f. Kinerja Pemerintah dan Pembangunan
Kinerja pemerintah ialah penilaian seseorang terhadap prestasi pemerintah.
Penilaian kinerja pemerintah berkaitan dengan perbaikan keadaan ekonomi dan
khususnya dalam menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Selain itu
penilaian terhadap kinerja pemerintah berkaitan pula dengan kemampuan
pemerintah dalam memecahkan masalah-masalah sosial dan ekonomi seperti
4
B.N. Marbun. 1996. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
12
sempitnya lapangan pekerjaan, mahalnya harga sembako, langkanya air bersih,
dan lainnya.
g. Faktor Kandidat
Faktor kandidat dapat dilihat dari dua dimensi yaitu kualitas instrumental
dan kualitas simbolis.5 Kualitas instrumental meliputi kompetensi menejerial dan
kompetensi fungsional. Kompetensi menejerial adalah kemampuan kandidat
dalam merencanakan, mengendalikan, mengorganisai dan memecahkan masalah
untuk mencapai satu tujuan. Sedangkan kompetensi fungsional adalah keahlian
tertentu yang dianggap penting dalam melaksanakan tugas seperti pendidikan dan
pengalaman. Dimensi simbolis meliputi prinsip hidup kandidat, aura emosional,
aura inspirasional dan aura sosial. Yang biasanya dilihat dari dimensi ini antara
lain integritas, keterbukaan, kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab,
keteladanan, reputasi dan cara bicara kandidat.6
5
6
Hugh A Bone dan Austin Ranney, Politics and Voters, (USA: McGraw-Hill, 1981), hlm. 9
Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu (Jakarta Gramedia, 2004), hlm.,208-209.
13
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Tipe Penelitian
Penelitian
ini
memadukan
Rancangan penelitian kuantitatif
tipe
penelitian
kuantitatif
yang digunakan termasuk
dan
kualitatif.
dalam tipe
eksplanatory research. Ciri utama tipe penelitian ini yakni termasuk rumpun
kuantitatif dengan tujuan menjelaskan fenomena atau pola hubungan diantara
konsep (Kothary, 2004). Selanjutnya tipe kualitatif digunakan untuk melengkapi
rancangan kuantitatif, guna mengungkapkan faktor-faktor mempengaruhi perilaku
pemilih
3.2.
Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi
Penelitian ini membatasi kriteria populasi yakni para pemilih yang tidak
menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden tahun 2014 di Sulawesi
Tenggara yaitu sejumlah 686.102 pemilih.
3.2.2. Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden, yang berarti
tingkat kepercayaannya 95 % dan margin of errornya 10 %. Rumus besar sampel
dan margin of error (MoE) dapat dilihat dan diaplikasikan dalam penelitian ini dapat
dilihat sebagai berikut :
14
n = N / N.d² + 1 (Bungin, 2008)
Di mana :
n : Jumlah Sampel
N : Banyak Anggota Populasi
d : Margin of error
Berangkat dari rumus diatas, hasil perhitungan sebagai berikut :
.686102/(686102).(0,1)² + 1 = 99,98 = 100.
Penarikan sampel dalam penelitian ini memadukan dua teknik yaitu
purposive sampling dan multistage random sampling. Purposive sampling
digunakan untuk memilih sampel Kabupaten/Kota dengan pertimbangan mewakili
wilayah kepulauan dan daratan (geografi) serta kabupaten dan kota (daerah urban
dan rural). Atas pertimbangan itu, maka dipilih Kota Kendari yang mewakili wilayah
daratan sekaligus daerah perkotaan (urban). Sementara untuk wilayah kepulauan
dipilih Kabupaten Muna sekaligus mewakili wilayah kabupaten (pedesaan/rural).
Multistage random sampling digunakan untuk menentukan sampel di tingkat
kecamatan (PPK), Desa/Kelurahan (PPS), TPS dan responden. Guna menentukan
Kecamatan (PPK) terpilih terlebih dahulu dilakukan acak sederhana di tingkat
Kab/Kota dengan memilih masing-masing lima kecamatan, sehingga total akan
terpilih 10 kecamatan. Selanjutnya guna menentukan PPS terpilih dilakukan
pengacakan PPS dengan mengambil masing-masing 2 PPS tiap kecamatan,
15
sehingga total akan terpilih 20 PPS. Selanjutnya acak sederhana kembali
dilakukan guna menentukan jumlah TPS dengan mengambil 1 TPS tiap PPS,
sehingga total terpilih 20 TPS. Setelah diketahui TPS terpilih, maka dilakukan
pengacakan untuk menentukan responden. Pada masing masing-masing TPS
diambil 5 responden secara acak, sehingga total ada 100 responden yang akan
diwawancarai.
3.3. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan dua variabel yakni berupa variabel bebas
dan variabel terikat. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah kesadaran
politik, situasi, vote buying, kinerja penyelenggara Pemilu, afiliasi partai dan
organisasi, kinerja pemerintah dan pembangunan, serta faktor kandidat.
Sedangkan variabel terikatnya adalah partisipasi pemilih.
3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian
yang
digunakan
dalam
penelitian
ini
adalah
angket/kuesioner dan wawancara. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data
melalui daftar pertanyaan yang diisi oleh responden sendiri. Jenis kuesioner yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan gabungan dari kuesioner tertutup dan
terbuka di mana untuk setiap pertanyaan telah disediakan jawabannya, dan
beberapa bagian pertanyaan juga mempunyai penjelasan dari responden atas
jawaban yang diberikan.
16
Jumlah instrumen yang digunakan tergantung pada jumlah variabel
penelitian yang telah dikembangkan menjadi indikator. Dari indikator-indikator
inilah dibuat pertanyaan dalam kuesioner. Sementara itu wawancara dipergunakan
untuk
menghimpun
dan
mengkaji
data
berkenaan
dengan
faktor
yang
mempengaruhi partisipasi pemilih.
Sementara itu, untuk pengukuran data untuk masing–masing variable bebas
dilakukan dengan memberi skor pada tiap-tiap jawaban dari butir pertanyaan dari
kuesioner. Pemberian skor dalam penelitian ini berdasarkan skala likert. Bentuk
skala likert yang digunakan dalam instrumen adalah sebagai berikut :
1. Sangat setuju diberi skor 5
2. Setuju diberi skor 4
3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor 3
4. Tidak setuju diberi skor 2
5. Sangat tidak setuju diberi skor 1
3.5. Operasionalisasi Variabel
Tabel. 3.1. Operasionalisasi Variabel
No
1
Variabel
PARTISIPASI POLITIK
(Y)
Indikator
Pengetahuan tentang pemilihan
Presiden 2014
Keikutsertaan dalam pemilihan
Presiden tahun 2014
Keikutsertaan dalam pemilihan
17
Skala
Pengukura
n
Nominal
Nominal
Nominal
2
KESADARAN POLITIK
(X1)
3
SITUASI (X2)
4
AFILIASI PARTAI DAN
ORGANISASI (X3)
5
KINERJA PEMERINTAH
DAN PEMBANGUNAN
(X4)
legislatif tahun 2014
Keikutsertaan dalam pemilihan
Presiden tahun 2009
Pengetahuan tentang jumlah
pasangan calon presiden dalam
pemilihan presiden 2014
Pemilihan presiden berlangsung jujur
dan adil
Pentingnya pemilihan Presiden
Keikutsertaan dalam pemilihan
Presiden dan wakil Presiden dapat
menciptakan kehidupan yang lebih
baik
Pemilihan presiden mampu melahirkan
pemimpin yang amanah dan lebih baik
Pemilih berada ditempat pada hari H
pemilihan
Kondisi kesehatan pemilih pada hari H
pemilihan
Kondisi cuaca pada hari H pemilihan
Kondisi keamanan pada hari H
pemilihan
Aktivitas/kegiatan pemilih pada hari H
pemilihan
Ancaman atau intimidasi terhadap
pemilih
Keanggotaan partai
Posisi keanggotaan partai
Keanggotaan organisasi
Posisi keanggotaan organisasi
Kepuasan terhadap kinerja presiden
(pemerintah) sebelumnya
Kondisi infrastruktur 5 tahun terakhir
Kondisi perekonomian 5 tahun terakhir
18
Nominal
Nominal
Nominal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Nominal
Nominal
Nominal
Nominal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
6
VOTE BUYING (X5)
7
KINERJA
PENYELENGGARA
PEMILU (X6)
Kondisi pembangunan 5 tahun terakhir
Pemilih ditawari uang/barang/bantuan
saat pemilihan Presiden 2014
Pemilih menerima
uang/barang/bantuan saat pemilihan
Presiden 2014
Pemilih ditawari uang/barang/bantuan
saat pemilihan legislatif 2014
Pemilih menerima
uang/barang/bantuan saat pemilihan
legislatif 2014
Melihat dan mendengar sosialiasasi
pemilihan presiden yang
diselenggarakan oleh KPU/PPK/PPS
Mengikuti dan menghadiri sosialiasasi
pemilihan presiden yang
diselenggarakan oleh KPU/PPK/PPS
Adanya informasi tentang jadwal
pelaksanaan pemilihan Presiden dari
KPPS/pemerintah setempat
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
8
FAKTOR KANDIDAT
(X7)
Adanya kartu panggilan memilih dari
petugas KPPS/pemerintah setempat
pada pemilihan presiden 2014
Hal-hal ideal yang harus dimiliki oleh
seorang Presiden dan wakil Presiden
Kualitas kandidat
Pertimbangan gender
Gender kandidat
3.6. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu:
19
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Nominal

Ho = Kesadaran politik, situasi, vote buying, kinerja penyelenggara Pemilu,
afiliasi partai dan organisasi, kinerja pemerintah dan pembangunan, serta
faktor kandidat secara bersama-sama (stimulant) berpengaruh terhadap
partisipasi pemilih.

Ha = Kesadaran politik, situasi, vote buying, kinerja penyelenggara Pemilu,
afiliasi partai dan organisasi, kinerja pemerintah dan pembangunan, serta
faktor kandidat secara bersama-sama (stimulant) tidak berpengaruh
terhadap partisipasi pemilih.

Ho = Kesadaran politik, situasi, vote buying, kinerja penyelenggara Pemilu,
afiliasi partai dan organisasi, kinerja pemerintah dan pembangunan, serta
faktor kandidat masing-masing (parsial) berpengaruh terhadap partisipasi
pemilih.

Ha = Kesadaran politik, situasi, vote buying, kinerja penyelenggara Pemilu,
afiliasi partai dan organisasi, kinerja pemerintah dan pembangunan, serta
faktor kandidat masing-masing (parsial) tidak berpengaruh terhadap
partisipasi pemilih.
3.7. Prosedur
Angket yang berisi pengukuran semua variabel diberikan kepada responden
yang sudah terpilih sebagai peserta atau sampel penelitian. Pengisian angket
dipandu langsung oleh peneliti. Kepada responden dikemukakan maksud
20
penelitian dan diminta kesediaan mereka berpartisipasi secara sukarela dalam
pengisian angket. Mereka diharapkan mengisi angket sejujur mungkin dengan
jaminan penuh akan kerahasiaan jawaban dan identitas mereka. Data yang
bersifat kualitatif terkumpul dari wawancara dengan responden, selain bersumber
dari penjelasan atas jawaban dari pertanyaan yang sudah disediakan dalam
angket atau kuesioner.
3.8. Teknik Analisis
Pertama-tama akan dilakukan analisis reliabilitas terhadap pengukuran
variabel dengan teknik Alpha Cronbach, guna mengetahui konsistensi internalnya.
Setelah itu dilakukan analisis validitas. Selanjutnya untuk menjawab permasalahan
penelitian sesuai dengan model teoretik yang telah dikemukakan, dilakukan
analisis dengan teknik regression analysis. Hasil persamaan struktural dilaporkan
dalam bentuk koefisien regresi.
3.8.1. Regresi Linier Berganda
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis regresi linier berganda.
Analisis ini fungsi utamanya untuk mengetahui pengaruh variabel X (dua atau lebih
dari dua) terhadap variabel Y. Adapun model penelitian yang dibangun dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ŷ = a + 𝑏1 . 𝑋1 + 𝑏2 . 𝑋2 + 𝑏3 . 𝑋3 + 𝑏4 . 𝑋4 + 𝑏5 . 𝑋5 + 𝑏6 . 𝑋6+ 𝑏7 . 𝑋7
Keterangan:
21
Ŷ : Partisipasi pemilih
X1 : Kesadaran politik
X2: Situasi
X3: Afiliasi partai dan organisasi
X4 : Kinerja pemerintah dan pembangunan
X5: Vote buying
X6: Kinerja penyelenggara Pemilu
X7: Faktor kandidat
a : Konstanta
b : Koefisien regresi
3.8.2. Uji Koefisien Regresi Secara Individu (t-test)
Secara parsial, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t-test. Menurut
Ghozali (2005) uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh
satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variabel
dependen.
Kriteria hipotesis yang diajukan adalah :
-
Ho : bi = 0 (tidak ada pengaruh antara variabel independen terhadap
variabel dependen secara stimulan)
-
Ha : bi ≠ 0 (ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel
dependen secara stimulan)
22
-
Ho : bi = 0 (tidak ada pengaruh antara variabel independen terhadap
variabel dependen secara parsial)
-
Ha : bi ≠ 0 (ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel
dependen secara parsial)
Dengan menggunakan taraf signifikansi  = 5%, sehingga kriteria pengujiannya
adalah:
1) Apabila sig. t < 0,05, maka Ho ditolak.
2) Apabila sig. t > 0,05, maka Ho diterima
3.8.3. Analisis Koefisien Determinasi (𝑹𝟐 )
Koefisien
determinasi
(𝑅2 )
pada
intinya
mengukur
seberapa
jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai (𝑅2 ) yang
kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen memberikan variasi variabel
dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection)
relatif
rendah
karna
adanya
variasi
yang
besar
antara
masing-masing
pengamatan, sedangkan untuk data runtun waktu (time series) biasanya
mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi.
23
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1.
Daftar Pemilih Tetap di Sulawesi Tenggara
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa daftar pemilih tetap
(DPT) Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 merupakan hasil dari
pemutakhiran daftar pemilih sementara (DPS) dan pencocokan penelitian (coklit)
daftar pemilih sementara (DPS) yang selanjutnya menjadi daftar pemilih
sementara hasil pemutakhiran (DPSHP) yang telah dilakukan oleh PPS dan
Pantarlih berdasarkan tanggapan masyarakat terhadap pengumuman daftar
pemilih sementara (DPS) dan hasil verikasi pemilih yang terdaftar dalam DPTb,
DPK, dan DPKTb pada Pemilu DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota serta penambahan Pemilih Pemula.
Atas dasar tersebut di atas, KPU Kabupaten/Kota dengan dibantu PPK
kemudian menyusun menjadi daftar pemilih tetap (DPT). Daftar pemilih tetap
(DPT) tersebut disusun kembali kedalam rekapitulasi daftar pemilih tetap (DPT)
oleh KPU kabupaten/kota untuk disampaikan kepada KPU Provinsi Sulawesi
Tenggara.
KPU Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan rekapitulasi dari masingmasing KPU Kabupaten/Kota menindaklanjuti dengan menyusun rekapitulasi
daftar pemilih tetap (DPT) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara. Rekapitulasi tingkat
24
provinsi tersebut selanjutnya disampaikan kepada KPU sebagai bahan KPU
menyusun rekapitulasi daftar pemilih tetap (DPT) tingkat nasional.
Berdasarkan gambaran di atas, rekapitulasi daftar pemilih tetap (DPT)
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Provinsi Sulawesi Tenggara
yang dikeluarkan oleh KPU Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Rapat Pleno
Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden Tahun 2014 tanggal 11 Juni 2014 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1 : DPT PILPRES TAHUN 2014
NO
NAMA
KABUPATEN/KOTA
JML
KEC
JML
DESA/KEL
JML
TPS
JUMLAH
PEMILIH
1.
Bombana
22
138
323
107.444
2.
Buton
21
242
574
205.545
3.
Buton Utara
6
90
145
43.071
4.
Kolaka
20
213
819
245.245
5.
Kolaka Utara
15
133
333
106.771
6.
Konawe
30
375
566
190.999
7.
Konawe Selatan
22
352
441
195.398
8.
Konawe Utara
10
145
161
44.027
9.
Kota Baubau
8
43
254
114.266
10.
Kota Kendari
10
64
572
243.680
11.
Muna
33
236
387
221.411
12.
Wakatobi
8
100
274
80.875
205
2.131
4.849
1.798.732
TOTAL
Sumber : KPU Sultra
25
Tabel 1 di atas menunjukkan, bahwa jumlah pemilih dalam daftar pemilih
tetap (DPT) Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Provinsi Sulawesi
Tenggara sebanyak 1.798.732 pemilih. Hasil rekapitulasi daftar pemilih tetap
(DPT) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut selanjutnya disampaikan ke
KPU dan ditetapkan sebagai rekapitulasi daftar pemilih tetap (DPT) Nasional
dalam Keputusan KPU Nomor477/Kpts/KPU/TAHUN 2014 tanggal 13 Juni 2014.
4.2. Daftar Pemilih Khusus di Sulawesi Tenggara
DPT Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 dilengkapi juga dengan
DPTb dan DPK. DPK adalah daftar pemilih yang memuat pemilih yang tidak
memiliki identitas kependudukan dan/atau pemilih yang tidak terdaftar dalam DPS,
DPT dan DPTb. DPK Pilpres 2014 ditetapkan oleh KPU Prov. Sultra. Dalam hal
menetapkan DPK, KPU Prov. Sultra dibantu oleh PPS, PPK dan KPU
Kabupaten/Kota. Tanggal 2 Juli 2014, KPU Prov. Sultra melakukan Rapat Pleno
Terbuka Rekapitulasi Daftar Pemilih Khusus (DPK) Pemilihan Umum Presiden dan
Wakil Presiden Tahun 2014 dengan mengundang Saksi dari Pasangan Calon
Peserta Pemilu dan Bawaslu Prov. Sultra. Rapat Pleno tersebut dihadiri oleh
Komisioner KPU RI yaitu Bapak Hadar Navis Gumay. Berikut rincian DPK Prov.
Sultra dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 :
26
Tabel 4.2 : Daftar Pemilih Khusus
No.
Kabupaten/Kota
Jumlah
Kec.
1
2
3
4
BOMBANA
BUTON
BUTON UTARA
KOLAKA
6
6
6
10
Jumlah
Desa/
Kelurahan
11
30
46
26
5
KOLAKA UTARA
5
6
KONAWE
KONAWE
SELATAN
KONAWE
UTARA
KOTA BAUBAU
KOTA KENDARI
MUNA
WAKATOBI
TOTAL
2
7
8
9
10
11
12
Jumlah Pemilih
Jumlah
TPS
L
P
L+P
15
46
52
49
37
227
125
103
40
292
110
92
77
519
235
195
12
14
28
35
63
11
13
33
22
55
1
1
1
1
1
2
-
-
-
-
-
-
4
8
8
6
62
7
16
12
15
187
18
44
12
20
284
16
234
15
22
841
23
176
14
27
832
39
410
29
49
1.673
Sumber : KPU Sultra
Tabel di atas, menggambarkan bahwa jumlah pemilih dalam daftar pemilih
khusus (DPK) Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Provinsi
Sulawesi Tenggara sebanyak 1.673 yang tersebar di 11 Kabupaten/Kota. 1
Kabupaten tidak memiliki DPK yaitu Kabupaten Konawe Utara.Hasil rekapitulasi
daftar pemilih khusus (DPK) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut
selanjutnya disampaikan kepada perwakilan Partai Politik Peserta Pemilu dan
Bawaslu Provinsi.
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 memiliki
karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan penyelenggaraan pemilu lainnya
baik pemilihan gubernur dan wakil gubernur maupun pemilihan umum anggota
27
DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Hal ini dapat dilihat dari
segi kompetisi dan kontestansi pasangan calon yang hanya diikuti dua pasang
calon yang turut mempengaruhi besarnya kemungkinan pergesakan antar
pendukung pasangan calon akibat kampanye hitam baik sebelum maupun
sesudah pemungutan suara.
Pemungutan dan penghitungan suara merupakan salah satu bagian dari
tahapan, program dan jadual dalam pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden pada pemilu tahun 2014, dilihat dari segi pelaksanaannya tidak memiliki
perbedaan dengan pemungutan dan penghitungan suara Pemilu Anggota DPR,
DPD, dan DPRD Tahun
Rapat rekapitulasi penghitungan suara Pemilihan Umum Presiden dan
Wakil Presiden Tahun 2014 dilaksanakan hari Jum’at tanggal 18 Juli 2014
pukul 09.00 Wita sampai selesai. Adapun hasil rekapitulasi penghitungan sebagai
berikut :
Tabel 4.3 : Jumlah Pemilih Dalam DPT
No
Kabupaten/Kota
Jumlah Pemilih
1
Bombana
107.444
2
Buton
205.545
3
Buton Utara
4
Kolaka
245.245
5
Kolaka Utara
106.771
6
Konawe
190.999
43.071
28
7
Konawe Selatan
8
Konawe Utara
44.027
9
Kota Baubau
114.266
10
Kota Kendari
243.680
11
Muna
221.411
12
Wakatobi
Jumlah
195.398
80.875
1.798.732
Sumber : KPU Sultra
Berdasarkan tabel 4.3. menunjukkan bahwa jumlah pemilih dalam daftar
pemilih tetap di Sulawesi Tenggara pada pemilihan presiden dan wakil presiden
2014 adalah 1. 798.732 pemilih, di mana pemilih yang terbanyak di Kota Kendari
sebanyak 243.680 dan yang terendah di kabupaten Buton Utara sebanyak 43. 071
pemilih. Untuk lebih jelas jumlah pemilih dalam DPT yang menggunakan hak pilih
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4 : Jumlah Pemilih Dalam DPT
Yang Tidak Menggunakan Hak Pilih
No Kabupaten/Kota
Jumlah Pemilih
1
Bombana
41.819
2
Buton
82.434
3
Buton Utara
15.672
4
Kolaka
91.024
5
Kolaka Utara
38.461
6
Konawe
54.881
7
Konawe Selatan
59.056
29
8
Konawe Utara
11.599
9
Kota Baubau
49.610
10
Kota Kendari
97.870
11
Muna
107.749
12
Wakatobi
Jumlah
35.927
686.102
Sumber : KPU Sultra
Berdasarkan tabel 4.4. menunjukkan bahwa jumlah pemilih dalam daftar
pemilih di Sulawesi Tenggara pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2014
yang tidak menggunakan hak pilihnya adalah 686.102 pemilih, di mana pemilih
yang terbanyak yang tidak menggunakan hak pilihnya ada di Kabupaten Muna
sebanyak 107.749 dan yang terendah di Kabupaten Konawe Utara sebanyak
11.599 pemilih. Untuk lebih jelas jumlah surat suara yang digunakan dalam DPT
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.5 : Jumlah Surat Suara Yang Digunakan
Oleh Pemilih Dalam DPT
No Kabupaten/Kota
Jumlah Pemilih
1
Bombana
65.625
2
Buton
123.111
3
Buton Utara
27.399
4
Kolaka
154.221
5
Kolaka Utara
68.310
6
Konawe
136.118
7
Konawe Selatan
136.342
30
8
Konawe Utara
32.428
9
Kota Baubau
64.656
10
Kota Kendari
145.810
11
Muna
113.662
12
Wakatobi
Jumlah
44.948
1.112.630
Sumber : KPU Sultra
Berdasarkan tabel 4.5. menunjukkan bahwa Jumlah Surat Suara Yang
Digunakan Oleh Pemilih Dalam DPT di Sulawesi Tenggara pada pemilihan
presiden dan wakil presiden 2014 adalah 1.112.630, di mana surat suara yang
terbanyak digunakan adalah di Kabupaten Kolaka sebanyak 154.221 dan yang
terendah di Kabupaten Buton Utara sebanyak 27.399 surat suara. Untuk lebih
jelas jumlah surat suara yang sah, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.6 Jumlah Suara Sah
No
Kabupaten/Kota
Jumlah Pemilih
1
Bombana
66.491
2
Buton
123.960
3
Buton Utara
28.147
4
Kolaka
157.280
5
Kolaka Utara
69.422
6
Konawe
137.038
7
Konawe Selatan
136.892
8
Konawe Utara
32.523
31
9
Kota Baubau
66.161
10
Kota Kendari
153.350
11
Muna
116.034
12
Wakatobi
Jumlah
46.053
1.133.351
Sumber : KPU Sultra
Berdasarkan tabel 4.6. menunjukkan bahwa jumlah surat suara yang sah
Yang Digunakan Oleh Pemilih Dalam DPT di Sulawesi Tenggara pada pemilihan
presiden dan wakil presiden 2014 adalah 1.133.351, di mana surat suara sah
terdapat di Kabupaten Kolaka
sebanyak
157.280
dan yang terendah di
Kabupaten Buton Utara sebanyak 28.147 surat suara.
Berdasarkan hasil penghitungan suara rekapitulasi KPU kabupaten/kota
yang dibacakan oleh Ketua KPU Kabupaten/Kota, hasil rekapitulasi perolehan
suara Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 untuk masingmasing ke 2 (dua) pasangan calon sebagai berikut :
Tabel 4.7 : Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara
Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara
NO
KABUPATEN/KOTA
H. PRABOWO
SUBIANTO
DAN
Ir. H. M. HATTA
RAJASA
Ir. H. JOKO
WIDODO
DAN
Drs. H. M. JUSUF
KALLA
JUMLAH
1
Bombana
25.165
41.326
66.491
2
Buton
54.793
69.167
123.960
32
3
Buton Utara
11.008
17.139
28.147
4
Kolaka
64.694
92.586
157.280
5
Kolaka Utara
15.394
54.028
69.422
6
Konawe
79.500
57.538
137.038
7
Konawe Selatan
62.741
74.151
136.892
8
Konawe Utara
14.245
18.278
32.523
9
Kota Baubau
28.461
37.700
66.161
10
Kota Kendari
72.705
80.645
153.350
11
Muna
67.604
48.430
116.034
12
Wakatobi
14.824
31.229
46.053
511.134
622.217
1.133.351
45,10%
54,90%
100,00%
JUMLAH TOTAL
PROSENTASE
Sumber : KPU Sultra
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa ada sepuluh Kab/Kota di Sulawesi Tenggara
yang menempatkan pasangan calon presiden Ir. H. JOKO WIDODO DAN Drs. H.
M. JUSUF KALLA sebagai pasangan yang memperoleh suara terbanyak, dan
terdapat dua kabupaten yang menempatkan pasangan calon presiden
H.
PRABOWO SUBIANTO DAN Ir. H. M. HATTA RAJASA sebagai peraih suara
terbanyak yaitu pada Kabupaten Konawe dan Kabupaten Muna. Dari hasil
rekapitulasi penghitungan suara dari dua pasangan calon tersebut di atas,
Selanjutnya dapat diketahui peringkat perolehan suara pasangan calon presiden
dan wakil presiden sebagai berikut :
33
Tabel 4.8 : Peringkat Suara Pemilih Provinsi Sulawesi Tenggara Dua Calon
Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Tahun 2014
JUMLAH
NO
PASANGAN CALON
SUARA
PROSENTASE
PERINGKAT
1.
Ir. H. JOKO WIDODO DAN Drs.
H. M. JUSUF KALLA
622.217
54,90%
1
2.
H. PRABOWO SUBIANTO DAN
Ir. H. M. HATTA RAJASA
511.134
45,10%
2
1.133.351
100,00%
Jumlah
Sumber : KPU Sultra
4.3.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian di Kota Kendari
Informasi tertulis tentang kota Kendari pertama kali diperoleh dari tulisan
Vosmaer (berkebangsaan Belanda) tahun 1831 yang mendatangi teluk Kendari
pada 9 mei 1832 lalu membuat petanya. Sejak saat itu teluk yang saat ini dinamai
teluk Kendari, dikenal dengan Vosmaer Baai (Teluk Vosmaer). Peristiwa 9 mei
tersebut kemudian diperingati sebagai hari jadi kota Kendari yang diperingati
setiap tahun.
Dalam catatan berikutnya, Vosmaer kemudian kembali datang ke teluk
Kendari pada 1832, lalu mendirikan Lodge (loji) atau kantor dagang dan istana
untuk Raja Ranomeeto (Lakina Laiwoi) bernama Tebau, yang sebelumnya
bermukim diwilayah lepo-lepo. Sumber Inggris (Heeren, 1972) menyatakan para
pelayar Bugis dan Bajo melakukan aktivitas perdagangan di Teluk Kendari dengan
34
penduduk setempat (Suku Tolaki) yang bermukiman disebelah selatan dan
sebelah barat Teluk Kendari pada akhir abad ke-18. Awalnya sebagai
kota
pelabuhan sekaligus berfungsi sebagai pusat Kerajaan Laiwoi pada 1832 ketika
dibangunnya iatana Raja di sekitar Teluk Kendari. Dimasa pemerintahan Belanda,
kota Kendari merupakan Ibukota Kewedanan dan Ibukota Onder Afdeeling Laiwoi
dengan luas wilayah kurang lebih 31.420 km.
Setelah Indonesia merdeka, dimana Sulawesi Tenggara masih bergabung
dengan Provinsi Sulawesi Selatan, kota kendari pertama kali tumbuh sebagai
Ibukota kecamatan dan selanjutnya berkembang menjadi Ibukota kabupaten
daerah Tingkat II berdasarkan Undang-undang nomor 29 Tahun 1959. Dengan
luas kota saat itu kurang lebih 31.400 km.
Dengan terbitnya Perpu Nomor 2 Tahun 1964 Jo,Undang-undang Nomor 13
Tahun 1964, Kota Kendari ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara
yang terdiri dari 2 (dua) wilayah kecamata, yakni Kecamatan Kendari dan
Kecamatan Mandongan dengan luas wilayah kuragang lebih 75,76 km.
Seiring dengan perkembangan kota dan pemerintahan, berdasarkan
peraturan pemerintah nomor 19 tahun 1978, Kendari menjadi Kota administratif
yang meliputi tiga kecamatan yakni Kecamatan Kendari, Mandonga, dan Poasia
dengan 26 kelurahan dengan luas wilayah kurang lebih 18.790 Ha.
35
Kota Kendari kemudian menjadi daerah Otonom berdasarka Undangundang Nomor 6 Tahun 1995 tanggal 27 september, dtetapkan menjadi Kota
Madya daerah Tingkat II Kedari, denfan luas wilayah mengalami perubahan
menjadi 295.89 km. Selanjutnya untuk mengetahui nama-nama Walikota Kendari,
sejak terbentuknya Kota Administratif Kendari hingga saat ini, yang menjadi
Walikota dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.9 : Nama-Nama Walikota Kendari
NO
NAMA
TAHUN
1
H. Mansyur Pamadeng
1978 - 1979
2
Drs. H.M Antero Hamra
1980 - 1985
3
Drs. H. Anas Bunggasi
1985 - 1988
4
H. Ady Mangilep (Plt)
1988 - 1991
5
Drs. H. Andi Kaharuddin (Plt)
1991 - 1992
6
Drs. H. Usman Sabara (Plt)
1992 - 1993
7
Drs. H. L.M. Salihin Sabora
1993 - 1995
8
Kol. (Inf) A. Rasyid Hamzah (Plt)
9
Drs. Lasjkar Koedoes (Pj)
1995 - 1996
10
Drs. H. Mansyhur Masie Abunawas
1996 - 2001
11
Drs. H. Andi Kaharuddin (Pj)
2001 - 2002
12
Drs. H. Mansyhur Masie Abunawas
2002 - 2007
13
Drs. Ir. H. Asrun, M.Eng, Sc
2007 - 2012
14
Drs. Ir. H. Asrun, M.Eng, Sc
Sumber : Pemerintah Kota Kendari.
36
1995
2012- 2017
4.3.1. Letak Geografis
Kota Kendari terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayh
daratannya sebagian besar terdapat didaratan, mengelilingi Teluk Kendari dan
terdapat satu pulau, yaitu pulau Bungkutoko, secara Goegrafis teretak dibagian
selatan garis khatulistiwa berada diantara 3 54’30” – 4 3’11” Lintang Selatan dan
122 23’ – 112 39’ Bujur Timur
Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe

Sebelah Timur : Laut Kendari

Sebelah Selatan : Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda,
Kabupaten Konawe Selatan

Sebelah Barat : Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan
dan Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.
4.3.2. Pemerintahan
Berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2003 telah dimekarkan menjadi 10
kecamatan dengan jumlah kelurahan setelah pemekaran pada bulan oktober 2006
sebanyak 64 kelurahan. Rincian kecamatan dengan luas wilayah dan jumlah
kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut :
37
Tabel 4.10 : Nama Kecamatan, Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan
di Kota Kendari
LUAS WILAYAH
JUMLAH
NO
KECAMATAN
(Ha)
KELURAHAN
1
Kendari
1.956
9
2
Kendari Barat
2.298
9
3
Mandonga
2.336
6
4
Puuwatu
4.271
6
5
Kadia
910
5
6
Wua-Wua
1.235
4
7
Baruga
4,958
4
8
Kambu
12.235
4
9
Poasia
4.352
4
10
Abeli
4.961
13
Total
39.512
64
Sumber : Pemerintah Kota Kendari.
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa Kecamatan Kambu yang terluas dan
memiliki paling banyak kelurahan sebanyak 13 kelurahan, dan kecamatan yang
terkecil adalah kecamatan Kadia dengan kelurahan sebanyak 5.
38
4.3.3 Penduduk
Tabel 4.11 : Jumlah pendududk Kota Kendari
berdasarkan hasil proyeksi sensus 2013 :
NO
KECAMATAN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
1
Mandonga
19.624
19.553
39.177
2
Baruga
10.451
10.44
20.981
3
Puuwatu
15.467
14.594
30.061
4
Kadia
21.175
21.34
42.515
5
Wua Wua
13.455
12.986
26.441
6
Poasia
13.801
13.257
27.068
7
Abeli
12.433
11.874
24.307
8
Kambu
14.856
14.539
29.395
9
Kendari
13.925
13.761
27.686
10
Kendari Barat
23.932
23.183
46.505
Kota Kendari
158.599
155.527
314.126
Sumber : Pemerintah Kota Kendari.
Tabel 4.11. menunjukaan bahwa kecamatan yang memiliki jumlah penduduk
terbanyak pada Kecamatan Kendari Barat sebanyak 46.505 jiwa, adapun
kecamatan yang jumlah penduduk terkecil pada Kecamatan Baruga dengan
jumlah penduduk sebanyak 20.981 jiwa.
39
4.3.3. Politik
Kota Kendari dipimpin Walikota Dr. H. Asrun, M.Eng. Sc yang berasan dari
Partai Amanat Nasional (PAN) dengan wakilnya H. Musadar Mapasomba, Sp.,Mp
seorang akademisi yang dikenal sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera atau
PKS.
Berdasarkan hasil pemilihan umum legislatif 2014, Kota Kendari menjadi
Lumbung PAN sehungga menjadi pemenang dengan perolehan suara sebesar
34.902 suara atau 20,25 % karena sebagai pemenang pemilu, maka ketua DPRD
Kota Kendari Abdul RaSak Sp juga berasal dari PAN. Secara lengkap perolehan
suara partai politik di Kota Kendari pada pemilu legislatif 2014 dapat dilihat pada
tabel berikut :
NO
Tabel 4.12 : Perolehan Suara Partai Politik dan Jumlah Kursi
di Kota Kendari
PARPOL
PEROLEHAN
JUMLAH KURSI
SUARA
1
NasDem
12.791
3
2
PKB
8.143
1
3
PKS
16.664
4
4
PDIP
19.206
5
5
Partai Golkar
13.157
4
6
Partai Gerindra
17.091
5
7
Partai Demokrat
18.050
4
8
PAN
34.902
8
40
9
PPP
7.713
1
10
Partai Hanura
11.264
2
11
PBB
9.169
1
12
PKPI
4.212
-
172.361
35
JUMLAH
Sumber : KPU Kota Kendari
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa di Kota Kendari 35 Kursi, di mana Partai
yang terbanyak memperoleh kursi yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dengan
jumlah kursi sebanyak 8 buah, dan ada tiga partai dengan jumlah kursi hanya satu
yaitu Partai : PBB, PKB dan PPP.
4.4.
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Di Kota Kendari
Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) di kota kendari
adalah bagian yang tidak terpishkan bagi pelaksanaan Pilpres yang berlangsung
secara nasional. Hal itu sebagaimana disebutkan pada pasal 3 ayat (2) Undangundang nomor 42 tahun 2008 tentang pemilihan umum Presiden dan Wakil
Presiden yaitu pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan diselurauh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai satu kesatuan daerah
pemilihan.
Pemilihan
Presiden
dan
Wakil
Presiden
secara
langsung
mulai
diselenggarakan sejak 2004, Khusus di Kota Kendari pelaksanaannya secara
41
umumberlangsung baik, dan sesuai dengan azas penyelenggaraannya yakni
dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum, bebes,
rahasia, jujur, dan adil.
Hal yang cukup mengembirakan bahwa partisipasi pemilih dalam Pilpres
sejak 2004, 2009, dan terlebih pada Pilpres 2014 menunjukan peningkatan yang
signifikan. Ini menunjukan bahwa makin tingginya kesadaran mmasyarakat untuk
menggunakan hak pilihnya dalam menentukan pemimpin nasional bangsa ini.
Setelah melalui proses pemilihan hingga pada putaran terakhir yang diikuti
dua pasang calon Presiden dan Wakil Presiden yakni, Hj Megawati Soekarno Putri
berpasangan dengan KH A Hasyim Muzadi dan Pasangan H Susilo bambang
Yudhoyono dengan H Muhammad Jusuf Kalla, diperoleh perolehan suara sebagai
berikut :
Tabel 4.13 : Perolehan Suara Capres dan Cawapres Tahun 2014
NO
NAMA PASANGAN
PEROLEHAN
PERSEN-
CAPRES DAN CAWAPRES
SUARA
TASE
1
Hj. Megawati – KH. A Hasyim Muzadi
14.480
13,93%
2
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono – H.
88.160
85,15%
901
0,87%
103.541
100 %
Muh. Jusuf Kalla
3
Suara tidak sah
Jumlah
Sumber : KPU Kota Kendari 2004
42
Dari data tersebut menunjukan pada Pilpres 2004, pasangan SBY – Jk
menjadi pemenang di Kota Kendari. Menurut sejumlah pengamat, kemenangan
SBY – JK tidak terlepas dari sosok Muh. Jusuf kalla yang memiliki kedekatan
psikologis dan primordial pemilih yang ada di Kota kendari.
Sedangkan data perbandingan jumlah pemilih dengan angka golput dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.14 : Jumlah Pemilih dan Angka Golput Tahun 2004
NO
DATA PEMILIH
JUMLAH
PRESENTASE
1
Pemilih yang menggunakan hak pilih
103.541
65.44 %
2
Pemilih yang tidak menggunakan hak
54.679
34.56 %
pilihnnya
Jumlah
Diolah dari data KPU Kota Kendari
Tabel 4.14 menunjukkan jumlah Golput pada pemilihan 2004 sebanyak
34,56 % jumlah yang tergolong tinggi untuk wilayah Kota Kendari. Adapun
Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2009 diikuti tiga pasangan
capres dan cawapres yakni Hj Megawati Soekarno Putri berpasangan dengan H
Prabowo Subianto, Dr. H Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan prof
Dr. Boediono, dan pasangan H Muh Jusuf Kalla berpasangan dengan H Wiranto.
Setelah proses pemungutan suara, perolehan masing-masing pasangan
capres-cawapres untuk daerah Kota Kendari dapat dilihat tabel sebagai berikut :
43
Tabel 4.15 : Perolehan Suara dari Capres dan Wapres Tahun 2009
MEGAWATI
SBY
JK
SUARA
PRABOWO
BOEDIONO
WIRANTO
TIDAK SAH
Kendari
446
6.754
6.150
497
Kendari Barat
969
10.920
10.831
635
Mandonga
660
9.360
8.343
592
Puuwatu
401
7.825
5.326
426
Wua Wua
443
6.402
4.619
243
Kadia
667
10.047
8.198
424
Baruga
357
4.138
3.559
292
Kambu
377
4.920
5.813
307
Poasia
313
5.390
5.363
344
Abeli
265
5.817
5.065
514
4.898
71.573
63.268
4.274
3,51 %
51,21 %
45,28 %
KECAMATAN
Jumlah
Presentase
Sumber : KPU Kota Kendari 2009
Pada pilpres 2009 di wilayah Kota Kendari dimenangkan pasangan H.
Susilo Bambang Yudhoyono dengan Boediono dari persaingan pasangan H. M.
Jusuf Kalla dengan H. Wiranto. Kemenangan SBY – Boediono sangan ditentukan
dengan pencitraan yang baik selama kepemimpinan pada periode pertama SBY
banyak melahirkan program yang pro rakyat, sehingga walaupun figur JK memiliki
kedekatan Kultural dengan masyarakat Kota Kendari belum bisa mengalahkan
44
kepopuleran dan keterpilihan SBY. Partisipasi pemilih pada pilpres 2009 dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.16 : Jumlah Pemilih dan Angka Golput Tahun 2009
NO
DATA PEMILIH
URUT
1
2
Pemilih yang menggunakan hak pilih
JUMLAH
PRESESNTASE
1.144.013
69,34 %
63.683
30,66 %
207.696
100 %
Pemilih yang tidak menggunakan hak
pilih
Jumlah
Sumber : Diolah dari data KPU Kota Kendari 2009
Proses pelaksanaan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2014
yang diikuti dua pasangan calon yakni Prabowo Subianti – Hatta Rajasa dan Joko
Widodo – Jusuf Kalla. Seperti didaerah lainnya, pada pilpres 2014 ini animo
masyarakat mengikuti pilpres cukup besar karena melalui pilpres ini masyarakat
Indonesia secara umum dan masyarakat Kota Kendari secara khusus menaruh
harapan besar terhadap penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut bisa
menghasilkan presiden dan wakil presiden terpilih yang benar-benar peduli dengan
rakyatnya, dan benar-benar bekerja untuk rakyatnya.
Animo masyarakat dapat dilihat dari kemeriahan masyarakat Kota Kendari
mengikuti setiap tahapan pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2014. Kota
Kendari merupakan Ibukota Provinsi, maka akses informasi begitu mudah
diperoleh. Dikantor-kantor, pasar-pasar, pusat perbelanjaan bahkan warung kopi,
45
hampir setiap hari ramai dibicarakan tentang figur-figur yang akan bersaing
merebut kursi RI-1 dan RI-2. Belum lagi peran media, baik media nasional maupun
media lokal, media cetak dan elektronik turut memberikan sumbangsih terhadap
kemeriahan terhadap penyelenggaraan pesta demokrasi pemilihan umum presiden
dan wakil presiden 2014.
Kehadiran tim kampanye kedua pasangan capres dan cawapres secara
resmi ditandai dengan adanya Surat Keputusan (SK), yakni untuk pasangan Tim
kampanye Prabowo – Hatta berdasarkan surat keputusan tim kampanye Prabowo
-Hatta provinsi Sultra Nomor : KEP-001/Timkamda-Sultra/VI/VI/2014 tentang
pengesahan tim kampanye Prabowo – Hatta Kota Kendari tertanggal 07 Juni 2014.
Berdasarkan SK tersebut Ketua Tim kampanye Prabowo – Hatta kota kendari
adalah Dr. Ir. H. Asrun, M. Eng. Sc, yang juga ketua DPD PAN Kota Kendari dan
Walikota Kendari.
Sedangkan Tim kampanye Joko Widodo – Jusuf Kalla didasarkan pada SK
Tim kampanye sosial Joko Widodo – Jususf kalla nomor : 029.11/KPTS/JKWJK/Kota Kendari/V/2014 tentang Tim Kampanye Ir. H. Jiko Widodo – Drs. H. M
Jusuf Kalla Kota Kendari.berdasarkan SK tersebut yang menjadi Ketua Tim
Kampanye Joko Widodo – Jusuf kalla Di Kota Kendari adalah Drs. H. Masyhur
Masie Abunawas M.Si dari partai NasDem dan juga mantan Walikota Kendari.
46
Kedua Tim kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak
begitu kelihatan dalam melaksanakan aktivitas kampanye, justru dinamika
lapangan tampak menonjol daripada relawan masing-masing pasangan capres,
dinamika yang nyata dilapangan dengan berbagai aksi-aksi simpatik untuk meraih
simpatik publik. Karena relawan tidak masuk dalam Tim Kampanye yang
didaftarkan kepada KPU Kota, maka panwaslu hanya menghimbau agar Tim
Kampanye dapat mengontrol para relawan yang ada, serta para relawan menaati
peraturan yang berlaku dalam hidup bermasyarakat dan bernegara demi ketertiban
dan ketentraman masyarakat.
Walaupun suasana politik penuh hingar bingar, namun suasana sosial
politik tetap kondusif dan tertib hingga pelaksanaan pemungutan suara . suasana
panas hanya terjadi di media sosial khususnya di grup facebookesrs yang
melibatkan publik Sultra yakni Sultra Watch, Sultra Smart, Wahli Sultra, HMI
Cabang Kendar, dan grup lainnya.
Sosok Jokowi yang dinilai relatif merakyat, ditambah JK yang memiliki
kedekatan kultural dengan masyarakat kota Kendari akhirnya pasangan ini
memenangkan Pilpres dik Kota Kendari, walaupun pasangan Prabowo-Hatta
diusung partai-partai besar termasuk parpol penguasa di kota Kendari (PAN, Partai
Golkar, Partai Gerindra, PKS, PPP, dan PBB). Perolehan suara hasil Pilpres 2014
di Kota Kendari dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
47
Tabel 4.17 : Perolehan Suara Capres dan Wapres Tahun 2014
KECAMATAN
PRABOWO-HATTA JOKOWI-JK
Kendari
6.397
7.410
Kendari Barat
9.274
12.711
Mandonga
8.626
10.097
Puuwatu
8.297
8.003
Wua Wua
7.120
8.880
Kadia
9.703
10.143
Baruga
4.871
5.547
Kambu
6.205
6.121
Poasia
6.554
7.268
Abeli
5.658
6.465
Jumlah
72.705
80.645
Presentase
47,41 %
52,59 %
Sumber : Diolah dari data KPU Kota Kendari 2009
JUMLAH
13.807
21.985
18.723
16.300
14.000
19.846
10.418
12.326
13.822
12.123
153.350
100 %
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa dari sepuluh kecamatan yang ada di Kota
Kendari, hanya Kecamatan Kambu Yang jumlah perolehan suara Prabowo-Hatta
mengalahkan Jokowi-JK
yaitu 6.205 berbanding 6.121. Berdasarkan tabel
tersebut dapat dilihat grafik perolehan suara pilpres 2014 di Kota Kendari sebagai
berikut :
Gambar 4.1. Suara Capres dan Wapres Tahun 2014
90.000
8.0000
70.000
60.000
80,645
72,705
(47,41 %)
50.000
40.000
30.000
20.000
48
10.000
0
PRABOWO-HATTA
JOKOWI-JK
Sedangkan data partisipasi pemilih pada pilpres 2014 di Kota Kendari
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.18 : Jumlah Pemilih dan Angka Golput Tahun 2014
NO
URUT
1
2
DATA PEMILIH
JUMLAH
PRESENTASE
Pemilih yang menggunakan hak
pilih
Pemilih yang tidak menggunakan
hak pilih
154.019
61,06 %
98.219
38,94 %
JUMLAH
252.238
100 %
Sumber : Diolah dari data KPU Kota Kendari 2009
Tabel 4.18 menunjukkan ada peningkatan jumlah Golput dibandingkan
tahun 2004 di mana jumlah golput di Kota Kendari sebanyak 34.56 % lalu tahun
2009 sebanyak 30,66 % dan tahun 2014 meningkat menjadi 38,94 %. Data hasil
pilpres dari 2004 hingga 2014 di Kota Kendari menunjukan bahwa pemilih di Kota
Kendari terus mengalami peningkatan, dari angka partisipasi pemilih cenderung
fluktuaktif, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.19 : Perbandingan jumlah pemilih, partisipasi pemilih dan angka
golput pada pilpres di Kota Kendari
PARAMETER
PILPRES 2004
JUMLAH
%
158.220
103.541 65,44
PILPRES 2009
JUMLAH
%
207.696
144.013
69,34
Jumlah pemilih
Pemilih
yang
memilih
Golput
54.679
34,56
63.683
Sumber : Diolah dari data KPU Kota Kendari 2009
49
30,66
PILPRES 2014
JUMLAH
%
252.238
%
154.019 38,94
98.219
38,94
4.5.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian di Kabupaten Muna
Kabupaten Muna adalah salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi
Tenggara, dengan Ibu kota di Raha. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 4.887 km²
dan
berpenduduk sebanyak 225.035
jiwa
(Data
Agregat
Kependudukan
Kabupaten Muna 2015). terletak di jazirah sulawesi bagian tenggara, meliputi
bagian pesisir timur dan utara pulau muna dan sebagian kecil wilayah pesisir barat
pulau buton serta pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar kawasan tersebut,
terletak di bagian selatan khatulistiwa pada garis lintang 4º06 - 5.15° LS dan
120.00° – 123.24° BT.
Luas daratan Kabupaten Muna seluas 3.865 km² atau 386.500 ha,
berbatasan dengan:
Sebelah Utara : Kabupaten Konawe Selatan dan Selat Tiworo
Sebelah Selatan : Kabupaten Buton Tengah
Sebelah Barat : Kabupaten Muna Barat
Sebelah Timur : Kabupaten Buton Utara dan Pulau Kajuangi
Kondisi topografi pada umumnya merupakan dataran rendah dengan
ketinggian rata-rata kurang dari 100 meter di atas permukaan laut, wilayah muna
bagian selatan terdiri dari tanah podsolik merah dan kuning. Kabupaten Muna
pada umumnya beriklim tropis dengan suhu rata-rata antara 25º C – 27º C. Musim
hujan terjadi antara bulan Nopember dan bulan Maret, dimana pada bulan tersebut
50
angin bertiup dari Benua Asia dan Samudera Pasifik mengandung banyak uap air
yang menyebabkan terjadinya hujan di wilayah Indonesia, sedangkan musim
kemarau terjadi antara bulan Mei dan bulan Oktober, pada bulan ini angin bertiup
dari Benua Australia yang sifatnya kering dan sedikit mengandung uap air.
Secara administratif sampai dengan Pelaksanaan Pemilihan Umum
Presiden dan wakil presiden tahun 2014, Kabupaten Muna terdiri dari 33
kecamatan definitif, selanjutnya terbagi atas 220 desa, 39 kelurahan dan 1 unit
pemukiman transmigrasi (UPT). Akan tetapi pada tanggal 23 Juli tahun 2014
terjadi pemekaran Kabupaten Muna Barat sehingga saat ini Kabupaten Muna
hanya terdiri dari 22 Kecamatan dengan 150 desa/kelurahan.
4.5.1. Jumlah Penduduk
Berikut ini adalah tabel Data Jumlah Penduduk Kabupaten Muna sesuai
dengan Data Agregat Kependudkan PerKecamatan
Tabel 4.20 : Data Jumlah Penduduk Kabupaten Muna sesuai
dengan Data Agregat Kependudkan PerKecamatan
NO
1
2
3
4
5
6
KECAMATAN
NAPABALANO
MALIGANO
WAKORUMBA SELATAN
LASALEPA
BATALAIWORU
KATOBU
JENIS KELAMIN
LAKI-LAKI
(JIWA)
PEREMPUAN
(JIWA)
5.937
3.069
2.454
5.432
7.807
16.402
5.970
2.984
2.452
5.467
7.902
16.983
51
PENDUDUK
(JIWA)
11.907
6.053
4.906
10.899
15.709
33.385
7
DURUKA
8
LOHIA
9
WATOPUTE
10 KONTUNAGA
11 KABANGKA
12 KABAWO
13 PARIGI
14 BONE
15 TONGKUNO
16 PASIR PUTIH
17 KONTUKOWUNA
18 MAROBO
19 TONGKUNO SELATAN
20 PASIKOLAGA
21 BATUKARA
22 TOWEA
JUMLAH TOTAL
Sumber : KPU kabupaten Muna
6.378
7.793
6.488
4.043
5.064
6.458
6.119
2.885
8.594
2.222
2.070
3.354
3.122
2.119
1.296
2.359
111.465
6.505
7.973
6.633
4.231
5.008
6.712
6.209
2.930
8.747
2.342
2.151
3.343
3.272
2.096
1.343
2.318
113570
12.883
15.766
13.121
8.274
10.072
13.170
12.328
5.815
17.341
4.563
4.221
6.697
6.394
4.215
2.639
4.677
225.035
Tabel 4.20 menunjukkan di Kabupaten Muna terdapat 22 Kecamatan, di mana
kecamatan yang terbanyak penduduk
sebanyak
adalah kecamatan Katobu dengan jumlah jiwa
33.385, adapun kecamatan yang terendah jumlah penduduknya kecamatan
Batukara yang berjumlah 2.639 jiwa.
Sekitar 60-70% mata pencaharian penduduk Kabupaten Muna adalah petani.
Jumlah pencari kerja yang terdaftar pada dinas tenaga kerja dan transmigrasi sebanyak
12.596 orang, berhasil ditempatkan selama tahun 2015 sebanyak 573 orang dan
dihapuskan sebanyak 2.726 orang. Dengan demikian sisa pencari kerja tahun 2015
sebanyak 9.297 orang.
4.5.2 Sarana dan Prasarana
4.5.2.1 Pendidikan
52
Pada tahun ajaran 2014/2015 jumlah sekolah Taman Kanak-kanak (TK)
bertambah 24 unit, yaitu dari 122 tahun 2013/2014 menjadi 146 unit tahun 2014/2015,
jumlah guru bertambah dari 315 orang tahun 2013/2014 menjadi 339 orang tahun
2014/2015. Demikian pula jumlah murid mengalami kenaikan dari 3.670 orang tahun
2013/2014 menjadi 6.906 orang tahun 2014/2015 atau naik sebesar 88,17 persen. Rasio
antara guru terhadap sekolah TK adalah 47 orang, rasio murid terhadap sekolah ratarata
47 orang dan murid terhadap guru rata-rata 20 orang. Rasio murid terhadap sekolah ratarata 3 orang dan murid terhadap guru rata-rata 20 orang. Jumlah Sekolah Dasar pada
tahun ajaran 2014/2015 berjumlah 362 unit, jumlah guru sebanyak 2.567 orang,
sedangkan jumlah murid sebanyak 52.137 orang. Rasio guru terhadap sekolah pada
tahun ajaran 2014/2015 rata-rata 7 orang setiap sekolah, rasio murid terhadap sekolah
rata-rata 144 orang, sedangkan rasio murid terhadap guru rata-rata 20 orang.
Pada tahun ajaran 2013/2014 jumlah sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP)
berjumlah 60 unit meningkat menjadi 65 unit tahun ajaran 2014/2015, guru berjumlah
1.324 orang dan murid sebanyak 16,934. Rasio antara guru dan sekolah rata-rata 20
orang per sekolah, rasio murid terhadap sekolah rata-rata 261 orang dan rasio murid
terhadap guru rata rata 13 orang.
Jumlah Sekolah Tanjutan Tingkat Atas (SLTA) pada tahun ajaran 2014/2015
berjumlah 14 unit, jumlah guru 857 orang dan murid sebanyak 11.976 orang. Rasio guru
per sekolah pada tahun ajaran 2014/2015 ratarata 24 orang, rasio murid terhadap sekolah
rata-rata 24 orang, rasio murid sekolah rata-rata 292 orang dan murid terhadap guru ratarata 14 orang.
53
Jumlah perguruan tinggi tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 7 (tujuh) unit dengan
jumlah mahasiswa sebanyak 2.265 orang dan tenaga pengajar/dosen tetap dan tidak
tetap sebanyak 359 orang.
4.5.2.2 Kesehatan
Jumlah fasilitas kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan
Puskesmas Plus) pada tahun 2004 berjumlah 127 unit . Fasilitas kesehatan tersebut terdiri
dari Rumah Sakit sebanyak 1 unit, Puskesmas 19 unit, Puskesmas Pembantu 100 unit
dan Puskemas Plus 7 unit. Tenaga kesehatan (tenaga medis dan paramedis) tahun 2005
berjumlah 554 orang yang terdiri atas tenaga dokter 33 orang, bidan 73 orang, perawat
325 orang, SKM/Apoteker 15 orang dan tenaga kesehatan lainnya 94 orang.
4.5.2.3 Agama
Pada tahun 2014 terlihat bahwa jumlah sarana peribadatan sebanyak 493 buah
yang terdiri atas masjid 350 buah, langgar/surau/mushallah 97 buah, gereja 24 buah dan
pura/vihara 22 buah.
4.5.2.4 Transportasi
Untuk melayani angkutan darat dari ibukota kabupaten ke provinsi dengan
menggunakan bus DAMRI dan mini bus, dari ibukota ke kecamatan dan pedesaan pada
umumya menggunakan mobil angkot, adapun untuk dalam kota biasanya dengan
menggunakan Ojek, mobar (motor barang) dan Bentor ataupun kendaraan pribadi seperti
mobil dan motor. Panjang jalan di Kabupaten Muna tahun 2014 tercatat sepanjang 1.224,2
km yang terdiri atas jalan provinsi sepanjang 268,5 km untuk jalan provinsi dan jalan
abupaten sepanjang 955,7 km. di mana jalan provinsi sudah termasuk bagian bagian dari
54
jalan kabupaten. Sekitar 91% jalan di Kabupaten Muna rusak parah, terutama jalanan
Kabupaten yang tak kunjung ada perbaikan. Masyarakat yang bermukim disepnjang jalan
Kabupaten mengekspresikan rasa kekesalannya dengan meletakan batang kayu di pinggir
jalan, menanam pisang di tengah jalan
karena jalan yang berlubang cukup parah,
sehinggah bisah di tanami pohon pisang.
4.6. Pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Muna
Dalam pemilihan umum Tahun 2014 ada bebarapa jenis pemilih yaitu
Daftar
Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar Pemilih Khusus (DPK) dan
Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) (Penggunaan KTP atau indentitas lain lain
atau paspor).
Daftar pemilih tetap yaitu pemilih yang ditetapkan oleh KPU setelah
melakukan pendataan dan diumumkan. Kemudian Daftar Pemilih Tambahan yaitu pemilih
yang terdaftar setelah pengumuman DPT sehingga dia masuk tambahan. Kemudian
Daftar Pemilih Khusus adalah mereka yang pindah memilih dengan menggunakan form
A5. Dan terakhir adalah Daftar Pemilih Khusus Tambahan adalah mereka yang
menggunakan KTP atau identitas lainnya meskipun tidak terdaftar dalam tiga kategori
daftar pemilih di atas.
Pemilihan umum Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Kabupaten Muna,
pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap yaitu 221.411 orang. Jumlah daftar
pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih Tambahan (DPtb) yaitu 221 orang. Pemilih
terdaftar dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK) yaitu sebesar 29 orang. Pemilih Khusus
Tambahan (DPKTb) /pengguna KTP atau identitas lain atau paspor 2954 orang. Total dari
55
semua pemilih yang terdaftar dalam semua kategori itu adalah 224.615 orang yang terdiri
dari laki-laki 107.284 orang dan pemilih perempuan sebanyak 117.331 orang.
Dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Kabupaten
Muna, pemilih yang datang ke lokasi TPS tetap masih dapat dikatakan banyak karena
masih diatas 50% lebih, meskipun disbanding sebelunya justru semakin jauh dari angka
100% dan menunjukkan kurangnya partisipasi masyarakat untuk hadir dalam pemilu. Hal
ini bisa dilihat jumlah pemilih yang terdaftar yaitu sebanyak 224.615 orang dan yang
datang ke lokasi TPS untuk melakukan pemungutan suara sebanyak 116.835 orang atau
sekitar 52,02 %. Jika dibanding Pileg 3 bulan sebelumnya terjadi penurunan kehadiran
pemilih sekita 10,46%
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Tabel 4.21 :
Jumlah Pemilih Yang Menggunakan Hak Pilih dalam Pilpres 2014
KECAMATAN
JUMLAH
JUMLAH
PERSENTASE
DAFTAR
KEHADIRAN
(%)
PEMILIH
PEMILIH
MAGINTI
5969
3540
59,31
TIWORO TENGAH
4870
3262
66,98
TIWORO KEPULAUAN
5092
3087
60,62
SAWERIGADI
4981
2781
55,83
KUSAMBI
8884
4495
50,60
NAPABALANO
8453
4355
51,52
MALIGANO
4219
2368
56,13
WAKORUMBA SELATAN
3337
1754
52,56
LASALEPA
7695
4560
59,26
BATALAIWORU
12550
5016
39,97
KATOBU
28276
12939
45,76
DURUKA
9185
5131
55,86
LOHIA
11604
5600
48,26
WATOPUTE
9356
5118
54,70
KONTUNAGA
5896
3233
54,83
BARANGKA
5094
2689
52,79
LAWA
6519
3194
49,00
KABANGKA
7807
4523
57,94
56
19. KABAWO
20. PARIGI
21. BONE
22. TONGKUNO
23. PASIR PUTIH
24. KONTUKOWUNA
25. MAROBO
26. TONGKUNO SELATAN
27. PASIKOLAGA
28. BATUKARA
29. WADAGA
30. NAPANO KUSAMBI
31. TOWEA
32. TIWORO SELATAN
33. TIWORO UTARA
(sumber : Formulir DB1-PPWP)
9901
8811
4572
12394
3030
3186
4797
4702
3286
1607
4312
3359
3287
4032
3552
4800
4254
2446
5430
1889
1741
2576
2281
1663
1065
2234
1916
2124
2312
2459
48,48
48,28
53,50
43,81
62,34
54,65
53,70
48,51
50,61
66,27
51,81
57,04
64,62
57,34
69,23
Tabel 4.21 menunjukkan bahwa ada 69,23 pemilih yang menggunakan hak
pilihnya dan terdapat 30,77 yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pemiihan
presiden dan wakil presiden tahun 2014. Besarnya jumlah golput pada Kota
kendari dan Kabupaten Muna yang menjadi rujukan peneliti menetapkan dua
lokasi tersebut, sekaligus mewakili wilayah daratan dan kepulauan.
4.7.
Deskripsi responden
Untuk melihat apakah responden dalam survei ini cukup mencerminkan
populasi, maka penting melakukan identifikasi terhadap responden. Hal-hal yang
dideskripsikan adalah persentase usia, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan,
agama dan penghasilan.
Rentang usia responden dirasa perlu untuk diketahui. Tabel di bawah ini
menggambarkan hal tersebut.
57
Tabel. 4.22. Pemetaan Responden Berdasarkan Usia
Golongan Usia
Frekuensi
Persentase (%)
19-29 Tahun
60
60
30-39 Tahun
22
22
40-60 Tahun
16
16
>60 Tahun
2
2
Total
100
100
Sumber: Olahan Data 2016
Tabel 4.22, menujukan rentangan usia responden berkisar antara 19-65
tahun. Rentangan usia tersebut dikategorikan menjadi empat kelompok yaitu 1729 tahun, 30 – 39 tahun , 40 – 60 tahun dan diatas 60 tahun. Hasil analisis data
menujukkan responden yang paling banyak terpilih (sasaran sampel) adalah
penduduk berusia antara 19 - 29 tahun dengan total 60 %. Selanjutnya responden
usia 30 – 39 berada pada posisi kedua dengan perolehan 22 %. Selanjutnya usia
40 – 60 tahun berada di peringkat ke tiga sebesar 16 %. Penduduk yang berusia
diatas 60 tahun menduduki peringkat terakhir dengan jumlah 2 %. Untuk diketahui
bahwa responden dipilih dalam penelitian ini adalah mereka yang tidak
berpartispasi dalam pemilihan presiden 2014 (tidak memilih). Dengan demikian,
hasil analisis ini sekaligus menujukkan bahwa kalangan muda merupakan
penduduk yang paling banyak tidak memilih pada pemilihan presiden tahun 2014.
58
Selanjutnya
identifikasi
responden
dilakukan
berdasarkan
status
pernikahan. Tabel dibawah ini menujukan gambaran responden berdasarkan
status pernikahan:
Tabel. 4.23. Responden Berdasarkan Status Pernikahan
STATUS PERNIKAHAN
FREKUENSI
PERSENTASE (%)
Menikah
52
52
Belum Menikah
42
42
Janda/Duda
6
6
Total
100
100
Sumber: Olahan Penelitian, 2016.
Tabel di atas menunjukan berdasarkan status pernikahan, responden paling
banyak adalah mereka yang sudah menikah/berkeluarga dengan jumlah 52 %,
belum menikah 42 % dan janda/duda sebesar 6 %. Selanjutnya dapat diketahui
tingkat pendidikan respoden dalam penelitian ini, lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
59
Tabel. 4.24. Tingkat Pendidikan Responden
TINGKAT PENDIDIKAN
FREKUENSI
PERSENTASE
TIDAK TAMAT SD
4
4%
TAMAT SD ATAU SEDERAJAT
8
8%
TAMAT SMP ATAU SEDERAJAT
9
9%
TAMAT SMA ATAU SEDERAJAT
45
45 %
TAMAT D1/D2
2
2%
TAMAT D3
1
1%
TAMAT D4/S1
28
28 %
TAMAT S2/S3
3
3%
Total
100
100 %
Tabel 4.24 menunjukkan, tingkat pendidikan responden paling banyak
adalah SMA atau sederajat (45 %), disusul dengan tamatan D4/S1 (28 %), tamat
SMP atau sederajat 9 %, tamat SD atau sederajat (8 %), tidak tamat SD (4 %),
tamat S2/S3 (3 %) dan tamat D3 (1 %). Berdasarakan tabel di atas menujukkan
mayoritas responden pernah mengenyam pendidikan.
Selanjutnya penting juga untuk melihat gambaran responden dari jenis
pekerjaannya. Di bawah ini adalah penggolongan responden berdasarkan jenis
pekerjaannya.
60
Tabel.4.25. Jenis Pekerjaan Responden
Jenis Pekerjaan
Frekuensi
Persentase (%)
Petani/Nelayan/Penggarap
2
2
Petani/Nelayan Pemilik
1
1
Buruh/Tukang (Kayu/Batu)
7
7
Pedagang Kecil
17
17
Pedagang Besar
1
1
Pengusaha
6
6
Pns/Pensiunan Guru
2
2
Pns/Pensiunan Non Guru
3
3
Pejabat
1
1
Profesional
2
2
Ibu Rumah Tangga
17
17
Mahasiswa/Pelajar
30
30
Tidak Bekerja
11
11
Total
100
100
Berdasarkan tabel di atas terlihat responden yang paling banyak berasal
dari kalangan pelajar (30 %), pedangan kecil dan ibu rumah tangga masingmasing 17 %, buruh/tukang kayu (7 %). Mereka yang berlatar belakang pengusaha
sebanyak 6 %, pensiunan PNS/pensiunan guru (3 %), PNS/pensiunan non guru (2
%). Selanjutnya, responden yang berpforesi sebagai pejabat, petani dan
pedangang besar masing-masing 1 %.
Selanjutnya, deskripsi responden akan dilihat berdasarkan agamanya
karena di data KPU tidak ditampilkan persentase agama pemilih.
61
Tabel. 4.26. Persentase Responden Beradasarkan Agama
Agama
Frekuensi
Persentase (%)
Islam
99
99
Protestan
1
1
Total
100
100
Sumber: Olahan Penelitian, 2016
Dari data di atas, diketahui bahwa responden mayoritas beragama Islam
(99 %) dan 1 % beragama protestan.
Selanjutnya
penting
pula
untuk
mengetahui
persentase
responden
berdasarkan penghasilan rumah tangga. Tabel di bawah ini menampikan
persentase penghasilan responden.
Tabel.4.27. Penghasilan Responden
Penghasilan
Frekuensi
Persentase (%)
< 1.000.000
56
56
1.000.000-2.000.000
29
29
> 2.000.000
15
15
Total
100
100
Data diatas menujukkan bahwa mayoritas responden memiliki penghasilan
di bawah satu juta (56 %), selanjutnya resonden yang memiliki penghasilan satu
sampai dua juta rupia sebanyak 29 % dan mereka yang memiliki penghasilan
diatas dua juta berjumlah 15 %.
Lebih lanjut, penting pula untuk mengetahui sumber informasi yang dimiliki
oleh responden pada saat pemilihan presiden. Gambar di bawah ini menampilkan
sumber informasi responden.
62
Gambar. 4. 2. Sumber Informasi
LAINNYA
1
MAJALAH
5
HP/TELEPON
6
SURAT KABAR
8
RADIO
20
TELEVISI
60
0
10
20
30
40
50
60
70
Data di atas menerangkan bahwa mayoritas responden yang di survey
mendapatkan informasi dari televise (60 %, radio 20 %, surat kabar 8 %,
HP/Telepon 6 %, majalah 5 % dan media lain 1 %.
63
4.8. Pemilu dan Partisipasi Pemilih di Sulawesi Tenggara
Keikusertaan masyarakat Sulawesi Tenggara dalam pemilihan telah
berlangsung sejak Pemilu pertama tahun 1955. Saat itu Sulawesi Tenggara masih
menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Penyelenggaran Pemilu 2014 di
Sulawesi Tenggara
menghadirikan beberapa catatan penting diantaranya
berkaitan dengan penurunan angka partisipasi pemilih.
Tabel. 4.27. Tren Partisipasi Pemilih Pada Pemilu Legislatif dan Pemilihan
Presiden 2014 di Sulawesi Tenggara
KAB/KOTA
KOTA KENDARI
KONAWE SELATAN
BOMBANA
MUNA
BUTON UTARA
BUTON
KOTA BAUBAU
WAKATOBI
KOLAKA
KOLAKA UTARA
KONAWE
KONAWE UTARA
SULAWESI TENGGARA
Sumber: KPU Sultra, 2014
TINGKAT PARTISIPASI
PILCALEG
PILPRES
72,86
61,21
80,86
70,04
74,89
61,58
62,48
52,07
80,61
64,26
64,38
60,15
64,69
57,49
67,29
56,41
74,68
63,53
72,13
64,53
81,05
71,66
84,14
74,14
72,34
62,49
Tabel 4.27 menunjukkan bahwa partisipasi pemilih pemilihan presiden 2014
lebih rendah dari pemilihan legislatif tahun 2014, paling terendah untuk pemilihan
presiden pada Kabupaten Muna yang mencapai 52,07 % sedangkan yang tertinggi
terdapat di Kabupaten Konawe Utara.
64
4.9.
Faktor Penurunan Partisipasi Pemilih
4.9.1. Kesadaran Politik
Berdasarkan
hasil
jawaban
responden
yang
menanyakan
tentang
pengetahuan penyelenggaraan pemilihan Presiden 2014, mayoritas responden
menjawab mengetahui akan adanya pemilihan presiden pada tahun tersebut.
Gambar. 4.3. Pengetahuan tentang Pemilihan Presiden
TAHU
TIDAK TAHU
2%
98%
Sumber: Olahan Penelitian, 2016
Selanjutnya pertanyaan angket yang menanyakan apakah responden ikut
memilih pada pemilihan legislatif 2014. Mayoritas responden menjawab tidak
memilih (81 %) pada Pemilu legislatif 2014, sebaliknya hanya 19 % yang
menjawab ikut memilih pada Pemilu legislatif 2014. Hal ini menujukkan bahwa
mereka yang tidak memilih pada pemilihan presiden 2014 adalah mereka yang
juga tidak memilih pada pemilihan legislatif 2014.
65
Gambar. 4.4 Keiksertaan Pada Pemilu Legislatif 2014
IKUT
TIDAK IKUT
19%
81%
Selanjutnya mayoritas responden yang menyatakan yang tidak memilih
pada pemilihan Presiden 2014 juga tidak pernah memilih pada Pemilihan Presiden
2009 (86 %), selebihnya hanya 14 % yang pada Pemilihan Presiden 2009 ikut
memilih. Data ini menggambarakan bahwa mayoritas yang tidak ikut memilih pada
pemilihan Presiden 2014 adalah mereka yang juga tidak memilih pada
penyelenggara pemilu-pemilu sebelumnya. Dimungkinkan mereka yang tidak
pernah memilih ini adalah adalah ‘spesialisasi golput’ dalam pemilu atau bisa jadi
pada saat pemilihan legislatif 2014 dan Pilpres 2009 para pemilih ini belum
terdaftar sebagai pemilih, karena usia yang belum cukup atau masih menjadi
anggota TNI/Polri.
66
Gambar. 4.5. Keiksertaan Pada Pemilu Legislatif 2014
IKUT
14%
TIDAK IKUT
86%
Lebih lanjut, berdasarkan jawaban respoden yang menanyakan tentang
jumlah pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, mayoritas dari mereka
mengetahui jumlah pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Gambar. 4.6. Pengetahuan Jumlah Pasangan Calon Presiden dan
Wakil Presiden
TIDAK TAHU
42%
TAHU
58%
Berdasarkan jawaban responden, mayoritas dari mereka menyatakan tidak
tahu ketika ditanyakan apakah penyelenggaraan pemilihan presiden telah
67
berlangsung jujur dan adil (63 %). Sebalikan responden yang menilai pemilihan
presiden telah berlangsung jujur dan adil sebanyak 9 %, selebihnya sebanyak 28
% menganggap pemilihan Presiden tidak berlangsung jujur dan adil.
Gambar. 4.7. Pandangan Respoden tentang Piplres Yang Berlangsung
Jujur Dan Adil
JUJUR DAN ADIL
PENUH KECURANGAN
TIDAK TAHU
9%
28%
63%
Selanjutnya pernyataan responden bahwa Pemilu merupakan hak setiap
warga negara untuk memberikan suaranya dalam setiap pesta demokrasi,
mayoritas responden menyatakan sangat tidak setuju (47 %) dan tidak setuju (43
%). Selebihnya yang menyatakan setuju dan sangat setuju jumlahnya sangat kecil
yaitu 4 % dan 6 %.
68
Gambar.4.8. Pemilu Merupakan Hak Setiap Warga Negara Untuk Memberikan
Suaranya Dalam Setiap Pesta Demokrasi
SANGAT TIDAK SETUJU
47
TIDAK SETUJU
SETUJU
SANGAT SETUJU
43
4
6
Senada dengan itu, pernyataan responden tentang apakah setuju dengan
mekanisme
pergantian
kepemimpinan
di Indonesia,
mayoritas responden
menjawab tidak setuju (37 %) dan sangat tidak setuju (41 %). Selebihnya 6 %
menjawab ragu-ragu dan masing-masing 8 % responden menjawab setuju dan
sangat setuju. Data ini menggambarkan bahwa mereka yang tidak memilih tampak
tidak memiliki kesadaran sebagai warga negara. Mereka juga tampak tidak setuju
dengan proses demokrasi.
69
Gambar. 4.9. Pernyataan Responden tentang Mekanisme Pergantian
Kepemimpinan di Indonesia
SANGAT TIDAK SETUJU
41
TIDAK SETUJU
37
RAGU-RAGU
6
SETUJU
8
SANGAT SETUJU
8
0
10
20
30
40
50
Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilihan Presiden
juga terlihat dari jawaban responden yang mayoritas menjawab ragu-ragu dan
tidak setuju bahwa pemilihan mampu melahirkan pemimpin yang lebih baik dari
sebelumnya.
Gambar. 4.10. Pendapat Responden tentang Pemilihan Mampu Melahirkan
Pemimpin Yang Lebih Baik
SANGAT TIDAK SETUJU
17
TIDAK SETUJU
25
RAGU-RAGU
32
SETUJU
15
SANGAT SETUJU
11
0
5
10
70
15
20
25
30
35
Lebih lanjut, kesadaran masyarakat akan petingnya Pemilihan Presiden
tergambar pula pada mayoritas jawaban responden yang menganggap pemilihan
presiden tidak penting bagi kehidupan mereka.
Gambar. 4.11. Pendapat Responden tentang Pentingya Pemilihan Presiden
Bagi Kehidupan Mereka
SANGAT TIDAK PENTING
16
TIDAK PENTING
41
RAGU-RAGU
20
PENTING
10
SANGAT PENTING
13
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
Rendahnya kesadaran politik terlihat pula dari pendapat mayoritas
responden yang tidak yakin bahwa keikusertaan mereka dalam pemilihan akan
berdampak pada kehidupan mereka.
Gambar. 4.12. Pendapat Masyarakat tentang Keikusertaan Dalam Pemilihan
Akan Berdampak Pada Kehidupan Mereka
SANGAT TIDAK SETUJU
10
TIDAK SETUJU
33
RAGU-RAGU
23
SETUJU
21
SANGAT SETUJU
13
0
5
10
71
15
20
25
30
35
4.9.2. Situasi
Berdasrkan hasil jawaban responden yang menanyakan apakah pada hari
H pemilihan presiden 2014 berada ditempat/sesuai alamat, mayoritas responden
menjawab tidak berada ditempat (54 %). Selebihnya sebanyak 46 % responden
berada ditempat.
Gambar. 4.13. Pernyataan Responden tentang Keberadaan Pemilih
Saat Pemilihan
TIDAK BERADA
DITEMPAT
54%
SEDANG
BERADA
DITEMPAT
46%
Pada hari H pemilihan presiden mayoritas responden menjawab sedang
terganggu kesehatannya (71 %), selebihnya sebanyak 29 % dalam kondisi sehat.
72
Gambar. 4. 14. Pernyataan Responden tentang Kondisi Kesehatan
saat hari H Pemilihan
Sehat
29%
Tidak Sehat
71%
Saat pemilihan presiden berlangsung, mayoritas responden menjawab
bahwa kondisi cuaca di tempat tingga mereka sedang tidak baik (65 %) dan hanya
35 % yang menyatakan cuaca dalam keadaan baik.
Gambar. 4.15. Pernyaan Responden tentang Kondisi Cuaca
Saat Hari H Pemilihan
BAIK
35%
TIDAK
BAIK
65%
73
Konidisi keamanan pada saat hari pemilihan presiden, mayoritas responden
menajawab di lingkungkan mereka dalam keadaan aman (52 %), selebihnya
sebanyak 48 % menyatakan tidak aman.
Gambar 4.16. Kondisi Kemanan Saat Pemilihan Presiden
Tidak
Aman
48%
Aman
52%
Selanjutnya
jawaban
responden
yang
menanyakan
apakah
bapak/ibu/saudara pada saat hari H pemilihan presiden tahun 2014 memiliki acara
keluarga. Mayoritas responden menjawab tidak memiliki acara keluarga (68 %),
selebihnya sebanyak 32 % memiliki acara keluarga.
74
Gambar. 4.17. Aktifitas/Kegiatan Responden Pada Pemilihan Presiden
Ya, ada
acara
keluarga
32%
Tidak
memiliki
acara
keluarga
68%
Selanjutnya jawaban responden, saat ditanyakan apakah pada saat hari
pemilihan bertepatan dengan kerja kantoran, jualan atau aktivitas lain. Mayoritas
responden menjawab pemilihan presiden tidak bertepatan dengan kegiatan kantor,
jualan atau aktivitas lain (51 %). Sedangkan sebanyak 49 % menjawab sedang
bekerja di kantor, jualan dan aktivitas lain.
75
Gambar. 4.18. Pernyataan Responden tentang Pemilihan Presiden Yang
bertepatan dengan kerja kantoran, jualan dan aktivitas lain.
Ya,
Bertepatan
49%
Tidak
Bertepatan
51%
Tanggapan responden apakah pada hari pemilihan mendapatkan ancaman
atau intimidasi, mayoritas responden menjawab tidak dalam kondisi terancam atau
diintimidasi (91 %). Selebihnya 9 % menjawab sedang dalam kondisi terancam
atau diintimidasi.
76
Gambar. 4.19. Pernyataan Responden tentang ancaman dan intimidasi
saat pemilihan
Mendapat
Ancaman
9%
Tidak
Mendapat
Ancaman
91%
4.9.3. Vote Buying
Salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih adalah praktek jual
beli suara (vote buying). Praktek ini biasanya diperankan oleh tim sukes pasangan
calon dengan memberikan uang, barang atau bantuan kepada pemilih. Terkait
dengan hal itu, pada saat pemilihan presiden 2014 responden pernah ditawari
uang/barang/bantuan untuk memilih calon presiden tertentu. Sebanyak 39 %
mengaku selalu ditawari uang/barang/bantuan, 20 % sering ditawari, 15 %
menjawab kadang-kadang ditawari, 14 % menjawab jarang dan hanya 12 % yang
menjawab tidak pernah ditawari.
77
Gambar. 4.20. Tanggapan Responden tentang praktek vote buying
TIDAK
PERNAH
12%
JARANG
14%
SELALU
39%
KADANGKADANG
15%
SERING
20%
Lebih lanjut praktek vote buying menurut jawaban responden paling banyak
diberikan saat malam hari sebelum pemilihan berlangsung(68 %), pagi hari 20 %
dan saat sebelum ke TPS 12 %.
Gambar. 4.21. Waktu Berlangsung Vote Buying
Sebelum ke
TPS
12%
Pagi Hari
20%
Malam Hari
68%
Jawaban responden yang menanyakan apakah pernah menerima uang dari
tim sukses agar memilih salah satu pasangan calon Presiden, mayoritas
78
responden menjawab tidak pernah menerima uang (88 %), sisanya sebanyak 12
% menyebut pernah menerima uang.
4.22. Sikap Responden atas tawaran uang
Pernah
Menerima
12%
Tidak
Pernah
Menerima
88%
Sebaliknya jawaban responden atas pertanyaan apakah pernah menerima
barang dari tim sukses pasangan calon, mayoritas responden menjawab pernah
menerima (90 %) dan sebanyak 10 % tidak pernah menerima. Barang yang
ditawarkan diantaranya baju dan sticker pasangan calon.
Gambar. 4.23. Sikap Responden Atas Tawaran Barang
Tidak Pernah
Menerima
10%
Pernah
Menerima
90%
79
Selanjutnya jawaban responden atas pertanyaan apakah pernah dijanjikan
bantuan berupa program dari tim sukses pasangan calon presiden, mayoritas
responden menjawab pernah dijanjikan 66 %, selebihnya 34 % menjawab tidak
pernah dijanjikan.
Gambar. 4.24. Jawaban Responden atas Janji/Tawaran Program Pemerintah
TIDAK
PERNAH
34%
SELALU
66%
4.9.4. Kinerja Penyelenggara Pemilu
Kinerja
penyelenggara
Pemilu
merupakan
salah
satu
faktor
yang
mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi pemilih.Guna meningkat partisipasi
pemilih, penyelenggara Pemilu sangat perlu mensosoisalisasikan tahapan, jadwal
hingga prosedur pemilihan. Langkah sosialisasi dapat dilakukan dengan
menyebarluaskan
informasi
melalui
media
massa,
melakukan
pertemuan
langsung, menempelkan poster atau papan pengumuman ditempat umum.
Berkaitan dengan penilaian atas kinerja penyelenggara Pemilu diajukan beberapa
80
pertanyaan diantaranya, apakah pernah melihat atau mendengar sosialisasi
pemilihan Presiden oleh penyelenggara Pemilu melalui media massa atau non
media massa. Mayoritas responden menjawab jarang melihat penyelenggara
Pemilu mensosialisasikan pemilihan presiden (48 %) dan sebanyak 20 % tidak
pernah melihat sosialisasi pemilihan presiden.
Gambar. 4.25. Sosialiasi Pemilihan Presiden oleh Penyelenggara Pemilu
TIDAK
PERNAH
20%
SELALU
22%
JARANG
48%
Selanjutnya
sebanyak
78
SERING
5%
KADANGKADANG
5%
%
responden
mengaku
pernah
mengikuti/menghadiri sosialisasi pemilihan Presiden yang diselenggarakan oleh
KPU.
81
Gambar. 4.26. Menghadiri Sosialisasi Pemilihan Presiden oleh KPU
TIDAK
PERNAH
22%
SELALU
78%
Lebih
lanjut
jawaban
responden
atas
pertanyaan
apakah
pernah
mengecek/melihat daftar pemilih tetap yang dikeluarkan oleh KPU, mayoritas
responden menjawab tidak pernah mengecek/mellihat 58 %, selebihnya sebanyak
42 % menyatakan pernah melihat daftar pemilih tetap yang dikeluarkan oleh KPU.
Gambar. 4.27. Melihat Daftar Pemilih Tetap
PERNAH
42%
TIDAK
PERNAH
58%
Selanjutnya jawaban responden atas pertanyaan apakah mendapat
informasi tentang jadwal pemilihan, mayoritas responden menjawab mengetahui
82
jadwal pemilihan presiden (69 %), hanya 31 % responden yang menjawab tidak
mendapatkan informasi.
Gambar. 4.28. Informasi Jadwal Pemilihan Presiden
TIDAK
PERNAH
31%
SELALU
69%
Lebih lanjut mayoritas responden mengaku menerima kartu panggilan untuk
memilih (69 %), dan sebanyak 31 % tidak menerima kartu panggilan.
Gambar. 4.29. Menerima Kartu Panggilan Memilih
TIDAK
MENERIMA
31%
MENERIMA
69%
83
4.9.5. Afiliasi Partai dan Organisasi
Keaktifan dalam partai politik dan organisasi akan mempengaruhi tingkat
partisipasi seseorang untuk memilih atau tidak memilih dalam pemilihan Presiden
2014. Berkaitan dengan itu, dalam penelitian ini diajukan sejumlah pertanyaan
guna mengukur korelasi antara afiliasi politik dan partipasi pemilih. Pertanyaan
yang diajukan diantarnya apakah setiap orang perlu aktif dalam partai politik.
Mayoritas responden menjawab perlu aktif (45 %), sedangkan 44 % menjawab
tidak perlu aktif dan 11 % menjawab ragu-ragu.
Gambar. 4.30. Perlu Aktif Dalam Partai Politik
TIDAK
PERLU AKTIF PERLU AKTIF
44%
56%
Selanjutnya jawaban responden yang menanyakan apakah setiap orang
perlu aktif di organisasi tertentu. Mayoritas responden menjawab tidak perlu (56 %)
dan 44 % menjawab perlu aktif.
84
Gambar. 4.31. Perlu Aktif Dalam Organisasi
PERLU AKTIF
44%
TIDAK PERLU
AKTIF
56%
Lebih lanjut jawaban responden yang menanyakan apakah pernah menjadi
anggota partai tertentu. Mayoriratas responden menjawab tidak pernah (58 %) dan
sisanya sebanyak 42 % menjawab pernah menjadi anggota partai tertentu.
Gambar. 4.32. Pernah Ikut Menjadi Anggota Partai
PERNAH
IKUT
42%
TIDAK
PERNAH
IKUT
58%
Selanjutnya apakah partai yang diikuti memberikan dukungan pada calon
presiden tertentu dalam pemilihan presiden 2014. Jawaban mayoritas responden
85
menyebut bahwa partai yang diikuti memberikan dukungan pada pemilihan
presiden 2014 (94%), sedangkan sebanyak 6 % responden menjawab partai yang
mereka ikuti tidak memberikan dukungan pada pemilihan Presiden 2014.
Gambar. 4.33. Partai Pilihan Memberikan Dukungan Pada Pemilihan Presiden
TIDAK
MENDUKUNG
6%
MENDUKUNG
94%
4.9.6. Kinerja Pemerintah dan Pembangunan
Kinerja pemerintah dan pembangunan merupakan salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih. Semakin baik kinerja pemerintah
dan pembangunan dimungkinkan akan berpengaruh pada peningakatan partisipasi
pemilih. Sebaliknya jika kinerja pemerintah dan pembangunan dinilai buruk, maka
dimungkinkan menurunkan tingkat partisipasi pemilih. Guna mengukur kinerja
pemerintahan
dan
pembangunan,
maka
diajukan
beberapa
pertanyaan
diantaranya apakah responden puas dengan kinerja Presiden sebelumnya.
Mayoritas jawaban responden mengaku puas dengan kinerja presiden sebelumnya
(86 %), sebaliknya sebanyak 14 % mengaku tidak puas dengan kinerja presiden.
86
Gambar. 4.34. Kepuasan atas Kinerja Presiden
TIDAK PUAS
14%
PUAS
86%
Lebih lanjut mayoritas responden menilai kondisi infrastruktur selama lima
tahun terakhir dianggap sudah baik (87 %), hanya 13 % responden yang
menjawab tidak baik.
Gambar. 4. 35. Penilaian Kondisi Infrastruktur
TIDAK BAIK
13%
BAIK
87%
Mayoritas responden juga menilai bahwa kondisi perekonomian selama lima
tahun terakhir sudah baik (94 %), hanya 6 % responden yang menjawab tidak baik.
87
Gambar. 4.36. Penilaian Kondisi Perekonomian
TIDAK BAIK
6%
BAIK
94%
4.9.7. Faktor Kandidat
Dalam banyak studi tentang partispasi pemilih, faktor kandidat atau figur
sering dianggap sebagai faktor yang paling menentukan dalam kemenangan
pasangan calon pemimpin. Secara common sense anggapan tersebut masuk
akal karena dalam pemilihan Presiden pemilih memilih orang bukan partai. Oleh
sebab itu, faktor kandidat tidak bisa dikesampingkan dalam konteks Pemilihan
Presiden 2014 sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini. Variabel kandidat
di sini diturunkan menjadi
beberapa yaitu penilaian masyarakat mengenai
pendidikan, kejujuran, kemampuan menyelesaikan masalah, integritas serta
kualitas kandidat.
Hasil survey menujukan pendapat mayoritas responden tentang tingkat
pendidikan calon presiden pada pemilihan Presiden 2014 dinilai sudah baik (88 %),
sisanya sebanyak 12 % responden menjawab tidak baik.
88
Gambar. 4.37. Penialian Tingkat Pendidikan Calon Presiden
TIDAK BAIK
12%
BAIK
88%
Selanjutnya penilain responden tentang kejujuran calon presiden,mayoritas
responden menjawab jujur (66 %), sedangkan yang menjawab tidak jujur sebanyak
34 %.
Gambar. 4.38. Penilaian Kejujuran Calon Presiden
TIDAK
JUJUR
40%
JUJUR
60%
Lebih lanjut penilaian responden atas kemampuan calon Presiden dalam
menyelelasikan masalah bangsa, mayoritas responden menjawab tidak yakin (60
%), selebihnya sebanyak 40 % menjawab mampu menyelesaikan masalah.
89
Gambar. 4.39. Penliaian Kemampuan Menyelesaikan Masalah
MAMPU
40%
TIDAK
MAMPU
60%
Selanjutnya penilaian responden tentang kepedulian yang dimiliki oleh calon
Presiden terhadap masyarakat, mayoritas responden menjawab calon presiden
tidak peduli terhadap masyarakat (90 %), dan hanya 10 % yang menyatakan
memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Gambar. 4.40. Penilaian Kepedulian terhadap Masyarakat
PEDULI
10%
TIDAK
PEDULI
90%
4.10. Hasil uji analisis regresi
Perhitungan koefisien regresi pada penelitian ini menggunakan analisis
regresi berganda dengan melihat pengaruh parsial pada model regresinya.
90
Berdasarkan hasil output analisis maka dapat dilihat pengaruh antar variabel
sebagai berikut :
Tabel.4.28. Pengaruh Antar Variabel
Pengaruh Antar Variabel
Koefis
ien
Beta
Kesadaran politik (x1) --partisipasi politik
Situasi (X2) --partisipasi politik
.147
.319
Afiliasi partai dan organisai (X3) -- partisipasi
politik
Kinerja pemerintah dan pembangunan (X4) -partisipasi politik
Vote Buying (X5) --partisipasi politik
Kinerja penyelenggara Pemilu (X6) -partisipasi politik
Faktor kandidat (X7)--partisipasi politik
-.146
-.074
-.252
-.338
-.075
t
hitun
g
2.34
3
3.20
3
2.63
3
2.77
8
2.87
7
3.18
0
-.840
Sig
.00
8
.00
2
.00
6
.00
9
.00
5
.00
2
.40
3
Ket.
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Tidak
signifikan
A
.622
R Square
.387
R
Didapatkan koefisien determinasi (R Square) untuk model regresi ini
sebesar 0,387 atau 38,7 %. Artinya keragaman data yang dapat dijelaskan oleh
model regresi dalam penelitian adalah sebesar 38.7 %, dengan kata lain informasi
yang terkandung dalam data sebesar 38,7 % dapat dijelaskan oleh model tersebut.
Sedangkan sisanya sebesar 61,3 % dijelaskan oleh variabel lain yang belum
terdapat dalam model atau error.
91
4.10.1.
Pengaruh Kesadaran Politik Terhadap Partisipasi Politik
Hasil analisis untuk pengujian hipotesis tentang pengaruh kesadaran politik
terhadap partisipasi politik didapatkan nilai t
hitung
sebesar 2,343 dengan p –value
sebesar 0.008. Karena nilai p-value < alpha 0,05 (0,008 < 0,05), dan nilai t
tabel
hitung
>t
(2,343 > 1,96) menunjukkan bahwa faktor kesadaran politik terhadap
partisipasi politik ditemukan berpengaruh signifikan. Koefisien beta bertanda positif
(0,319) mengindikasikan bahwa semakin tinggi kesadaran politik seseorang maka
ia semakin berpartisipasi dalam kegiatan politik. Sehingga hipotesis yang
menyatakan bahwa kesadaran politik berpengaruh terhadap partisipasi politik
dapat diterima.
4.10.2.
Pengaruh Situasi Terhadap Partisipasi Politik
Hasil analisis untuk pengujian hipotesis tentang pengaruh situasi terhadap
partisipasi politik didapatkankan nilai t
hitung
sebesar 3,203 dengan p –value
sebesar 0.002. Karena nilai p-value < alpha 0,05 (0,002 < 0,05), dan nilai t
tabel
hitung
>t
(3,203 > 1,96) menunjukkan bahwa faktor situasi berpengaruh siginifikan
terhadap partisipasi politik sesorang. Koefisien beta bertanda positif (0,147)
mengindikasikan bahwa semakin didukung oleh situasi yang baik, maka partisipasi
politik ikut pula mengalami peningkatan. Sehingga hipotesis yang menyatakan
bahwa situasi berpengaruh terhadap partisipasi politik dapat diterima.
92
4.10.3.
Pengaruh Afiliasi Partai dan Organisasi Terhadap Partisipasi
Politik
Hasil analisis untuk pengujian hipotesis tentang pengaruh afiliasi partai dan
organisasi terhadap partisipasi politik didapatkan nilai t
hitung
sebesar 2,633 dengan
p –value sebesar 0.006. Karena nilai p-value < alpha 0,05 (0,006 < 0,05), dan nilai
t
>t
hitung
tabel
(2,633 > 1,96) menunjukkan bahwa faktor afiliasi politik dan
organisasi ditemukan berpengaruh signifikan terhadap partisipasi politik. Koefisien
beta bertanda negatif (- 0,146) mengindikasikan bahwa semakin kurang afiliasi
politik dan organisasi akan semakin menurunkan partisipasi politik seseorang.
Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa afiliasi partai dan organisasi
berpengaruh terhadap partisipasi politik dapat diterima.
4.10.4.
Pengaruh Kinerja Pemerintah dan Pembangunan Terhadap
Partisipasi Politik
Hasil analisis untuk pengujian
hipotesis tentang pengaruh kinerja
pemerintah dan pembangunan terhadap partisipasi politik didapatkan nilai t
hitung
sebesar 2,778 dengan p –value sebesar 0.009. Karena nilai p-value < alpha 0,05
(0,009 < 0,05), dan nilai t
hitung
>t
tabel
(2,778 > 1,96) menunjukkan bahwa faktor
kinerja pemerintah dan pembangunan ditemukan berpengaruh signifikan terhadap
partisipasi politik. Koefisien beta bertanda negatif (- 0,074) mengindikasikan bahwa
semakin rendah kinerja pemerintah dan pembangunan akan menurunkan
partisipasi politik seseorang. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa kinerja
93
pemerintah dan pembangunan berpengaruh terhadap partisipasi politik dapat
diterima.
4.10.5.
Pengaruh Vote Buying Terhadap Partisipasi Politik
Hasil analisis untuk pengujian hipotesis tentang pengaruh vote buying
terhadap partisipasi politik didapatkan nilai t
hitung
sebesar 2,877 dengan p –value
sebesar 0.005. Karena nilai p-value < alpha 0,05 (0,005 < 0,05), dan nilai t
tabel
hitung
>t
(2,877 > 1,96) menunjukkan bahwa faktor vote buying ditemukan berpengaruh
signifikan terhadap partisipasi politik. Koefisien beta bertanda negatif (- 0,252)
mengindikasikan bahwa semakin kurang vote buying, semakin menurunkan
partisipasi politik seseorang. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa vote
buying berpengaruh terhadap partisipasi politik dapat diterima.
4.10.6.
Pengaruh Kinerja Penyelenggara Pemilu Terhadap Partisipasi
Politik
Hasil analisis untuk pengujian
hipotesis tentang pengaruh kinerja
penyelengara Pemilu terhadap partisipasi politik menyebutkan nilai t
hitung
sebesar
3,180 dengan p –value sebesar 0.002. Karena nilai p-value < alpha 0,05 (0,002 <
0,05), dan nilai t
hitung
>t
tabel
(3,180 > 1,96) menunjukkan bahwa faktor kinerja
penyelengara Pemilu ditemukan berpengaruh signifikan terhadap partisipasi politik
ditemukan berpengaruh signifikan. Koefisien beta bertanda negatif (- 0,338)
mengindikasikan bahwa semakin kurang kinerja penyelenggara Pemilu, maka
partisipasi politik ikut mengalami penurunan. Sehingga hipotesis yang menyatakan
94
bahwa kinerja penyelenggara Pemilu berpengaruh terhadap partisipasi politik
dapat diterima.
4.10.7.
Pengaruh Faktor Kandidat Terhadap Partisipasi Politik
Hasil analisis untuk pengujian hipotesis tentang pengaruh faktor kandidat
ditemukan tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik dimana didapatkan nilai t
hitung
sebesar - 0,840 dengan p –value sebesar 0.403. Karena nilai p-value < alpha
0,05 (- 0,840 < 0,05), dan nilai t
hitung
>t
tabel
(0,840 > 1,96) menunjukkan bahwa
faktor kandidat terhadap partisipasi politik tidak berpengaruh. Sehingga hipotesis
yang menyatakan bahwa faktor kandidat berpengaruh terhadap partisipasi politik
dapat ditolak.
95
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1.
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan partisipasi politik sangat dipengaruhi oleh
faktor kesadaran politik, situasi, afiliasi partai dan organisasi, kinerja pemerintah
dan pembangunan, vote buying dan kinerja penyelenggara Pemilu. Sementara
faktor kandidat tidak berpengaruh terhadap partispasi politik.
5.2.
Rekomendasi
a. Tingkat partisipasi pemilih yang ditunjukkan dengan kehadiran pemilih di
lokasi TPS untuk memberikan hak suaranya masih rendah meskipun masih pada
angka diatas 50% namun masih sangat jauh dari angka 100%. Trend partisipasi
pemilih masih cenderung lebih tinggi pada pemilihan umum legislatif dibanding
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden sehingga KPU harus bekerjasama
dengan partai politik untuk mendorong masyarakat dalam memberikan hak suaranya
di TPS seperti yang dilakukan pada pemilihan umum legislatif.
b. KPU Provinsi Sulawesi Tenggara harus memiliki perhatian serius pada faktorfaktor yang mempengaruhi peningkatan partisipasi politik masyarakat khususnya
yang bisa mendorong tingkat kehadiran pemilih untuk memilih dan melakukan
langka-langkah kongkrit untuk peningkatan partisipasi tersebut.
c. KPU perlu memiliki program untuk bekerjasama dengan berbagai stakeholder,
khususnya lembaga pendidikan, baik tingkat menengah maupun perguruan tinggi
untuk melakukan pembinaan mengenai kesadaran berpolitik dalam rangka
mewujudkan kecerdasan politik.
96
d. Partisipasi politik bukan saja dapat dilihat atau dinilai hanya dari partisipasi
pada saat pemungutan suara. Partisipasi politik konvensional yang terkait
dengan pemilu/elektoral dapat juga dilihat dari bagaimana partisipasi politik
masyarakat dalam memberikan sumbangan mereka kepada para calon
presiden/wakil presiden atau aktivitas mereka dalam membantu para
kandidat selama masa kampanye. Hal ini menjadi fenomena menarik dalam
pesta demokrasi di Indonesia, sehingga perlu mendapatkan perhatian
dalam dari KPU untuk melakukan riset pada dimensi lain dalam bentuk
partisipasi masyarakat.
97
Daftar Pustaka
Altman, David and Aníbal Pérez-Liñán, Assessing the Quality of Democracy:
Freedom, Competitiveness and Participation in Eighteen Latin American
Countries. Democratization, Vol.9, No.2, Summer 2002.
Bandura, A. 1977. Social Learning Theory. Printice Hall inc. The United State of
Amerika.
Baron, R.A., Byrne, D., N.R, Branscombe. 2006. Social Psychology. Eleventh
Edition. Pearson Education. United States of Amerika.
Berlo, D.K. 1960. The Process of Communication : An Introduction to Theory and
Practice. United States Of America.
Bungin, Burhan, 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi,
Kebijakan Publik dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainya. Jakarta: Graha Ilmu.
Cresswell, J.W. 2003. Research Design : Qualitative, Quantitative, and Mixed
Methods Approaches. Sage Publications.London.
Denzin, Norman K and Licoln Yvonna S. 2009. HandBook of Qualitative Research. (Di
terjemahan Dariyatno, Badrus Samsul Fata, Abi, John Rinaldi). Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Kothari, C.R, 2004. Research Metodology Methods and Techniques. Second
Revised Edition. New Delhi:New Age International (P) Limited, Publishers.
98
Ramadanil, Fadli. Dkk, Desain Partisipasi Masyarakat Dalam Pemantauan Pemilu.
Kemitraan Dan Perludem: 2015.
99
Download