bab 2 tinjauan teoritis dan perumusan hipotesis

advertisement
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN
HIPOTESIS
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1
1.
Pasar Modal
Pengertian Pasar Modal
Menurut Jogiyanto (2008), pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk
meningkatkan kebutuhan dan jangka panjang dengan menjual saham atau
mengeluarkan obligasi. Pasar modal berfungsi sebagai sarana alokasi dana yang
produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke peminjam. Alokasi
dana yang produktif terjadi jika individu yang mempunyai kelebihan dana dapat
meminjamkannya ke individu lain yang lebih produktif yang membutuhkan dana.
Menurut Sunariyah (2011:4), pasar modal adalah suatu pasar (tempat berupa
gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi,
dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai para jasa perantara pedagang
efek.
Menurut Fahmi dan Hadi (2011:41), pasar modal adalah tempat dimana
berbagai pihak khususnya perusahaan menjual saham (stock) dan obligasi (bond)
dengan tujuan dari hasil penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai
tambahan dana atau untuk memperkuat dana perusahaan.
Menurut Rusdin (2008:1), pasar
modal
merupakan kegiatan
yang
berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik
yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara
investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan
instrumen keuangan jangka panjang seperti obligasi, saham, dan lainnya.
Berdasarkan teori diatas, penulis berpendapat bahwa pasar modal layaknya
pasar tradisional yang mempertemukan pihak kelebihan dana (pembeli efek)
dengan pihak yang kekurangan dana (penerbit efek) yang terhimpun dalam
wadah jual beli instrumen pasar modal hingga terbentuknya permintaan dan
penawaran atas efek.
2.
Jenis Pasar Modal
Menurut Samsul (2008), pasar modal juga memiliki beberapa jenis dalam
perdagangan sekuritas, antara lain sebagai berikut :
a.
Pasar Pertama (Perdana)
Merupakan tempat dimana perusahaan pertama kali menjual surat berharga
yang baru dikeluarkan oleh perusahaan berupa penawaran perdana ke publik.
b.
Pasar Sekunder
Merupakan tempat perdagangan surat berharga antar sekuritas baru yang
sudah dijual di pasar perdana dengan sekuritas perusahaan lain yang berada
di pasar sekunder dan harga dibentuk oleh investor melalui perantara efek.
c.
Pasar Ketiga
Merupakan sarana transaksi perdagangan surat berharga antara market
marker investor dan harga dibentuk oleh market marker.
d.
Pasar Keempat
Merupakan sarana transaksi perdagangan antara investor jual dan investor
beli tanpa melalui perantara efek.
3.
Fungsi Pasar Modal
Pasar modal yang maju dan berkembang pesat merupakan impian banyak
negara. Banyak negara berlomba memajukan pasar modal melalui berbagai
kebijakan, baik bersifat langsung maupun tidak langsung.
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:2) mengemukakan bahwa pasar
modal berperan besar bagi perekonomian suatu negara karena menjalankan dua
fungsi sekaligus, yaitu ekonomi dan keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki
fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau wahana yang
mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki dana (investor) dan
pihak yang memerlukan dana (issuer). Dalam hal ini perusahaan dapat
memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu
tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi
keuangan karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh
imbalan (return) bagi pemilik dana sesuai dengan karakteristik investasi yang
dipilih.
4.
Manfaat Pasar Modal
Keberadaan pasar modal di Indonesia sangat strategis dan mempunyai
beberapa manfaat menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:2), antara lain:
a.
Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha
sekaligus memungkinkan alokasi sumber dan secara optimal.
b.
Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya
diversifikasi.
c.
Menyediakan indikator utama (leading indicator) bagi tren ekonomi negara.
d.
Memungkinkan
penyebaran
kepemilikan
perusahaan
hingga
lapisan
masyarakat menengah.
e.
Memungkinkan penyebaran kepemilikan, keterbukaan, dan profesionalisme
serta penciptaan iklim berusaha yang sehat
f.
Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik.
g.
Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai
prospek.
h.
Menjadi alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan
risiko yang bisa diperhitungkan melaui keterbukaan, likuiditas, dan
diversifikasi investasi.
i.
Membina iklim keterbukaan bagi duni usaha, memberikan akses kontrol
sosial.
j.
Mendorong pengelolaan perusahaan dengan iklim keterbukaan dan
pemanfaatan manajemen profesional.
2.1.2
1.
Investasi
Pengertian Investasi
Menurut Sunariyah (2010:4), investasi adalah penanaman modal untuk satu
atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan
harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.
Menurut Jogiyanto (2010:5), investasi adalah penundaan konsumsi sekarang
di dalam produksi yang efisien selama periode waktu tertentu.
Menurut Fahmi dan Hadi (2011:4), investasi pada hakekatnya merupakan
penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh
keuntungan di masa mendatang.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa investasi
adalah penempatan sejumlah dana saat ini pada satu atau lebih aktiva yang
dimiliki pada periode tertentu untuk memperoleh keuntungan di masa depan.
2.
Bentuk-bentuk Investasi
Menurut Fahmi dan Hadi (2011:7), dalam aktivitasnya investasi pada
umumnya dikenal ada dua bentuk yaitu :
a.
Investasi nyata
Investasi nyata (real investment) secara umum melibatkan aset berwujud,
seperti tanah, mesin-mesin atau pabrik.
b.
Investasi keuangan
Investasi keuangan (financial investment) melibatkan kontrak tertulis seperti
saha biasa (common stock) dan obligasi (bond).
3.
Tipe –tipe Investasi
Menurut Fahmi dan Hadi (2011:7), terdapat dua tipe investasi yaitu :
a.
Investasi langsung
Investasi langsung (direct investment) adalah mereka yang memiliki dana
dapat langsung berinvestasi dengan membeli secara langsung suatu aktiva
keuangan dari perusahaan yang dapat dilakukan baik melalui perantara atau
berbagai cara lainnya.
b.
Investasi tidak langsung
Investasi tidak langsung (indirect investment) adalah mereka yang memiliki
kelebihan dana dapat melakukan keputusan investasi dengan tidak terlibat
secara langsung atau pembelian aktiva keuangan cukup hanya dengan
memegang dalam bentuk saham atau obligasi saja.
4.
Tujuan Investasi
Tujuan investasi secara luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
investor. Kesejahteraan dalam hal ini adalah kesejahteraan moneter, yang dapat
diukur dengan jumlah pendapatan saat ini ditambah nilai saat ini pendapatan
masa datang.Secara lebih khusus lagi, menurut Tandelilin (2010:08), ada
beberapa alasan mengapa sesorang melakukan investasi antara lain sebagai
berikut:
a. Untuk mendapatkan kehidupan yang layang di masa yang akan datang,
b. Mengurangi tekanan inflasi, dan
c. Dorongan untuk menghemat pajak.
5.
Langkah-langkah Investasi
Berikut ini adalah langkah-langkah investasi menurut Husnan (2009:48):
a.
Menentukan kebijakan investasi
Disini pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya, dan berapa
banyak investasi tersebut akan dilakukan, karena ada hubungan yang positif
antara risiko dan keuntungan investasi, maka pemodal tidak bisa mengatakan
bahwa tujuan investasinya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya, ia harus menyadari bahwa ada kemungkinan untuk
menderita rugi. Jadi tujuan investasi harus dinyatakan baik dalam
keuntungan maupun risiko.
Pemodal yang bersedia menanggung risiko lebih besar (dan karenanya
mengharapkan
memperoleh
keuntungan
yang
lebih
besar),
akan
mengalokasikan dananya pada sebagian besar sekuritas yang lebih berisiko.
Dengan demikian portofolio investasinya mungkin akan terdiri dari saham
dan bukan obligasi. Sahampun akan dipilih dari perusahaan yang mempunyai
risiko tinggi. Sebaliknya untuk pemodal yang tidak bersedia menanggung
risiko yang tinggi mungkiin akan memilih sebagian besar investasinya pada
obligasi dari perusahaan-perusahaan yang dinilai aman. Dengan demikian
preferensi risiko perlu dipertimbangkan dalam proses investasi.
Jumlah dana yang akan diiinvestasikanpun mempengaruhi keuntungan yang
diharapkan dan risiko yang ditangggung. Pemodal yang meminjam dan dan
menginvestasikan pada berbagai saham, akan menangggung risiko yang lebih
tinggi daripada pemodal yang menggunakan seratus persen modal sendirinya.
b.
Analisis sekuritas
Tahap ini berarti melakukan analisis individual (atau kelompok) sekuritas.
Ada dua filosofi dalam melakukan analisis sekuritas. Pertama, adalah mereka
berpendapat bahwa ada sekuritas yang mispriced (harganya salah, mungkin
terlalu tinggi, mungkin terlalu rendah). Dan analisis dapat mendeteksi
sekuritas-sekuritas tersebut. Ada berbagai cara untuk melakukan analisis ini,
teteapi
pada
garis
besarnya
nampaknya
cara-cara
tersebut
bisa
dikelompokkan menjadi dua, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental.
Analisis teknikal menggunakan data (perubahan) harga di masa yang lalu
sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan
datang.
Analisis
fundamental
berupaya
mengidentifkasikan
prospek
perusahaan (lewat analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya)
untuk bisa memperkirakan saham di masa yang akan datang. Kedua, adalah
mereka yang berpendapat bahwa harga sekuritas adalah wajar. Kalaupun ada
sekuritas yang mispriced, analis tidak mampu mendeteksinya. Pada dasarnya,
mereka yang menganut pendapat ini berpendapat ini berpendapat bahwa
pasar modal efisien. Dengan demikian pemilihan sekuritas bukan didasarkan
atas faktor mispriced, tetapi didasarkan atas preferensi risiko para pemodal
(pemodal yang bersedia menanggung risiko tinggi akan memilih saham yang
lebih berisiko), pola kebutuhan kas (pemodal yang
menginginkan
penghasilan yang ajeg akan memilih saham yang membadikan dividen denga
stabil), dan sebagainya. Keuntungan yang diperoleh oleh pemodal, sesuai
dengan pendapat ini adalah sesuai dengan risiko yang meraka tangggung.
c.
Pembentukan portofolio
Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap yang menyangkut identifikasi
sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih, dan berapa proporsi dana yang
akan ditanamkan pada masing masing sekuritas tersebut. Pemilihan banyak
sekuritas (dengan kata lain pemodal melakukan diversifikasi) dimaksudkan
untuk mengurangi risiko yang ditanggung. Sebagaimana telah disebutkan di
atas, pemilihan sekuritas dipengaruhi anatara lain oleh preferensi risiko, pola
kebutuhan kas, status pajak dan sebagainya.
d.
Melakukan revisi portofolio
Tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan
maksud kalau perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah
dimiliki. Kalau dirasa bahwa portofolio yang sekarang dimiliki tidak lagi
optimal, atau tidak sesuai dengan preferensi risiko pemodal, maka pemodal
dapat melakukan perubahan terhadap sekuritas-sekuritas yang membentuk
portoflio tersebut.
e.
Evaluasi kinerja portofolio
Dalam
tahap
ini
pemodal
melakukan
penilaian
terhadap
kinerja
(performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang
diperoleh maupun risiko yang ditanggung. Tidak benar kalau suatu portofolio
yang memberikan keuntungan yang lebih tinggi mesti lebih baik dari
portofolio lainnya. Faktor risiko perlu dimasukkan. Karena itu diperlukan
standar pengukurannya.
2.1.3
1.
Saham
Pengertian Saham
Menurut Rusdin (2008:68), pengertian saham adalah sertifikat yang
menunjukan bukti kepemilikan suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki
hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan.
Menurut Fakhruddin (2008:175), saham adalah bukti penyertaan modal di
suatu perusahaan, atau merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan.
Dari uraian pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa saham
merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perusahaan, dimana dengan
dimilikinya saham tersebut maka investor akan mendapatkan keuntungan.
2.
Jenis-Jenis Saham
Saham merupakan surat berharga yang paling populer dan dikenal luas di
masyarakat. Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2011:6), ada beberapa jenis
saham yaitu:
a.
Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau kalim, maka saham
terbagi atas:
1) Saham biasa (common stock), yaitu merupakan saham yang menempatkan
pemiliknya paling junior terhadap pembagian deviden, dan hak atas harta
kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
2) Saham preferen (preferred stock), merupakan saham yang memiliki
karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa
menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa
tidak mendatangkan hasil seperti ini yang dikehendaki oleh investor.
b.
Dilihat dari cara peralihannya, saham dibedakan menjadi :
1) Saham atas unjuk (bearer stock), artinya pada saham tersebut tidak tertulis
nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke
investor lain.
2) Saham atas nama (registered stock), merupakan saham yang ditulis
dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana cara peralihannya harus
melalui prosedur tertentu.
c.
Ditinjau dari kinerja perdagangannya, maka saham dapat dikategorikan
menjadi:
1) Saham unggulan (blue-chip stock), yaitu saham biasa dari suatu
perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri
sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar
dividen.
2) Saham pendapatan (income stock), yaitu saham biasa dari suatu emiten
yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata
dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya.
3) Saham pertumbuhan (growth stock-well known), yaitu saham-saham dari
emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai
leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi. Selain itu
terdapat juga growth stock lesser known, yaitu saham dari emiten yang
tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki ciri growth stock.
4) Saham spekulatif (speculative stocks), yaitu saham suatu perusahaan yang
tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun,
akan tetapi memungkinkan penghasilan yang tinggi di masa mendatang,
meskipun belum pasti.
5) Saham siklikal (counter cyclical stocks), yaitu saham yang tidak
terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara
umum.
3.
Keuntungan dan Risiko Dalam Investasi Saham
Pada dasarnya setiap investasi memliki keuntungan dan kerugian (resiko),
disini akan dijelaskan keuntungan dan kerguian dalam investasi saham. Menurut
Darmadji dan Fakhruddin (2011:9-11) ada keuntungan dan risko dalam investasi
saham.
Keuntungan:
a.
Dividen
Dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit
saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen
diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai dan dividen
saham. Dividen tunai yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen
berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham. Dividen
saham yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah
saham, sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang investor akan
bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.
b.
Capital gain
Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain
terbentuknya dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.
Umumnya investor dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan
melalui capital gain.
Disamping dua keuntungan tersebut, maka pemegang saham juga
dimungkinkan untuk mendapatkan saham bonus. Saham bonus adalah saham
yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari agio
saham. Agio saham adalah selisih harga jual terhadapa harga nominal saham
tersebut pada saat perusahaan melakukan penawaran umum dipasar perdana.
Risiko:
a.
Tidak mendapat dividen
Perusahaan akan membagikan dividen jika operasinya menghasilkan
keuntungan. Sebaliknya, perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika
perusahaan tersebut mengalami kerugian. Dengan demikian potensi
keuntungan investor untuk mendapatkan dividen ditentukan oleh kinerja
perusahaan tersebut.
b.
Capital loss
Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu mendapatkan
capital gain alias keuntungan atas saham yang dijualnya. Dengan demikian
seorang investor mengalami capital loss.
Disamping risiko tersebut, seorang pemegang saham juga masih dihadapkan
dengan potensi risko lainnya, yaitu:
a.
Perusahaan bangkrut atau dilikuidasi
Jika suatu perusahaan bangkrut, maka tentu saja akan berdampak secara
langsung kepada saham perusahaan tersebut. Sesuai dengan peraturan
pencatatan saham di Bursa Efek, maka jika suatu perusahaan bangkrut atau
dilikuidasi, maka secara otomatis saham perusahaan tersebut akan
dikeluarkan dari bursa list atau di-delist. Dalam kondisi perusahaan
dilikuidasi, maka pemegang saham akan menempati posisi lebih rendah
dibanding kreditur atau pemegang obligasi, artinya setelah semua aset
perusahaan tersebut dijual, telebih dahulu dibagikan kepada kreditu atau
pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa baru dibagikan kepada
pemegang saham.
b.
Saham dikeluarkan dari bursa (delisting)
Risiko lain yang dihadapi oleh para investor adalah jika saham perusahaan
dikeluarkan dari pencatatan Bursa Efek alias di-delist. Suatu saham
perusahaan di-delist dari bursa umumnya karena kinerja yang buruk,
misalnya dala kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, megalami
kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividen secara berturut-turut
selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan peraturan
pencatatan Bursa Efek. Saham yang telah di-delist tentu saja tidak lagi
diperdagangkan
di
bursa.
Meskipun
saham
tersebut
tetap
dapat
diperdagngkan di luar bursa, tidak terdapat patokan harga yang jelas dan
tidak terjual biasanya dengan harga yang jauh dari harga sebelumnya.
c.
Saham diberhentikan sementara (suspensi)
Risiko lain yang menggangu para investor untuk melakukan aktivitasnya,
yaitu jika suatu saham disuspensi alias diberhentikan perdagangannya oleh
otoritas Bursa Efek. Dengan demikian investor tidak dapat menjual
sahamnya hingga suspensi dicabut. Suspensi biasanya berlangsung dalam
waktu singkat, misalnya satu sesi perdagangan, dua sesi perdagangan, tetapi
dapat pula berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan.
2.1.4
1.
Portofolio
Pengertian Portofolio
Investor dalam investasinya memiliki berbagai macam aset seperti
sekuritasdan saham. Hal tersebut dilakukan oleh investor sebagai upaya untuk
meminimalkan resiko yang ada. Karena investor menghadapi kesempatan
investasi yang berisiko, pilihan investasi tidak dapat hanya mengandalkan pada
tingkat keuntungan yang diharapkan. Apabila investor mengharapkan untuk
memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, maka ia harus bersedia menanggung
resiko yang tinggi pula (Husnan, 2005:47).
Teori portofolio pertama kali diperkenalkan secara formal oleh Harry
Markowitz pada tahun 1950- an dan memenangkan hadiah Nobel pada tahun
1990 untuk hasil karyanya tersebut. Ia menunjukkan bahwa secara umum risiko
mungkin dapat dikurangi dengan menggabungkan beberapa sekuritas tunggal ke
dalam bentuk portofolio (Jogiyanto, 2010:255).
Menurut Gitman dan Zutter (2012:310), “portofolio is a collection or group
of asset”.
Menurut Latumaerissa (2011:G-15), portofolio efek adalah kumpulan efek
yang dimiliki oleh suatu pihak.
Menurut Gumanti (2011:390), portofolio adalah gabungan beberapa aset atau
sekuritas yang dimiliki oleh investor yang memiliki tingkat resiko dan
pengembalian yang berbeda-beda.
Return realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return
realisasi masing-masing sekuritas tunggal portofolio. Menurut Jogiyanto
(2007:147) bahwa rumus dari return realisasi portofolio adalah sebagai berikut:
Rp =
Keterangan :
Rp
= Return realisasi portofolio
Wi
= Porsi dari sekuritas i terhadap seluruh sekuritas di portofolio
Ri
= Return realisasi dari sekuritas i
n
= Jumlah dari sekuritas tunggal
2.
Portofolio Efisien dan Portofolio Optimum
Dalam pembentukan portofolio, investor selalu ingin memaksimalkan return
harapan dengan tingkat risiko tertentu yang bersedia ditanggungnya, atau mencari
portofolio yang menawarkan risiko terendah dengan tingkat return tertentu.
Karakteristik portofolio ini disebut sebagai yang efisien (Tandelilin, 2010:157).
Untuk membentuk portofolio yang efisien, kita harus berpegang teguh pada
asumsi tentang bagaimana perilaku investor dalam pembuatan keputusan
investasi yang akan diambilnya. Salah satu asumsi yang paling penting adalah
bahwa semua investor tidak menyukai risiko (risk averse). Investor ini jika
diharapkan pada dua pilihan investasi yang menawarkan return sama dengan
risiko yang berbeda, akan cenderung memilih investasi dengan risiko yang lebih
rendah.
Portofolio optimum merupakan portofolio yang dipilih seorang investor dari
sekian banyak pilihan yang ada pada kumpulan portofolio efisien (Tandelilin,
2010:157). Portofolio yang dipilih investor adalah portofolio yang sesuai dengan
preferensi investor bersangkutan terhadap return maupun terhadap risiko yang
bersedia ditanggungnya.
3.
Aset Berisiko dan Aset Bebas Berisiko
Dalam berinvestasi, investor bisa memilih menginvestasikan dananya pada
berbagai aset baik aset yang berisiko maupun aset yang bebas risiko, ataupun
kombinasi dari kedua aset tersebut. Pilihan investor atas aset-aset tersebut akan
tergantung dari sejauh mana preferensi investor terhadap risiko. Semakin enggan
seseorang terhadap risiko (risk averse), maka pilihan investasinya akan
cenderung lebih banyak pada aset yang bebas risiko. Aset berisiko adalah asetaset yang tingkat return aktualnya di masa depan masih mengandung
ketidakpastian. Aset bebas berisiko merupakan aset yang tingkat return aktualnya
di masa depan sudah bisa dipastikan pada saat ini, dan ditunjukkan oleh varians
return yang sama dengan nol (Tandelilin, 2010:159).
4.
Model Indeks Tunggal
Single-indeks model sering disebut sebagai Sharpe single-indeks model
karena dikembangkan oleh Willian Sharpe. Model ini dapat digunakan untuk
memperkirakan hasil pengembalian (return) berbagai sekuritas individual
maupun portofolio. Model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa
harga dari suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar
(Jogiyanto, 2009:329).
Dapat diperhatikan bahwa saham-saham cenderung mengalami kenaikan
harga jika indeks harga saham naik, dan sebaliknya jika indeks harga saham turun
maka saham-saham mengalami penurunan harga. Model indeks tunggal ini
menghubungkan antara perhitungan return setiap aset pada return indeks pasar.
Menurut Tandelilin (2010:132), model indeks tunggal secara sistematis
adalah sebagai berikut:
a. Varians tiap sekuritas
b. Kovarians antara satu sekuritas dengan sekuritas lainnya
c. Bobot portofolio untuk masing-masing sekuritas
Untuk menghitung risiko portofolio yang terdiri dari dua sekuritas, formula yang
digunakan adalah (Tandelilin, 2010:122):
Keterangan :
= Deviasi standar portofolio
WA
= Bobot alokasi pada saham A
WB
= Bobot alokasi pada saham B
= korelasi saham A dan B
Koefisien korelasi (correllation) yang ditunjukan
dengan lambang
dalam
formula diatas menunjukan besarnya hubungan pergerakan antara dua variabel
relatif terhadap masing-masing deviasinya. Nilai koefisien korelasi berkisar dari
+1 sampai dengan -1. Nilai koefisien korelasi +1 menunjukan korelasi positif
sempurna, sedangkan nilai koefisien korelasi 0 menunjukan tidak adanya korelasi
dan nilai koefisien korelasi -1 menunjukkan korelasi negatif sempurna.
Jika
dua aktiva mempunyai return dengan koefisien kolerasi +1 (positif
sempurna), maka semua risikonya tidak dapat didiversifikasi atau risiko
portofolio tidak akan berubah sama dengan risiko aktiva individualnya.
Sedangkan apabila koefisien korelasi -1 (negatif sempurna), maka semua
risikonya dapat didiversifikasi atau risiko portofolio akan sama dengan nol. Jika
koefisien korelasi diantara +1 dan -1, maka akan terjadi penurunan risiko di
portofolio, tetapi tidak menghilangkan semua risikonya.
Risiko (varian return) sekuritas yang dihitung berdasarkan model indeks tunggal
ini terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu risiko yang berhubungan dengan pasar
(systematic risk) dan risiko unik masing-masing perusahaan (unsystematic risk).
Menurut Jogiyanto (2009:335), rumus varian return sekuritas berdasarkan
model indeks tunggal adalah:
Dimana :
= Varians return
= Risiko pasar
= Risiko sistematis
= Risiko tidak sistematis
5.
Diversifikasi
Untuk
menurunkan
risiko,
investor
perlu
melakukan
diversifikasi.
Diversifikasi (portofolio) bermakna bahwa investor perlu membentuk portofolio
melalui pemilihan kombinasi sejumlah aset sedemikian rupa hingga risiko dapat
diminimalkan tanpa menurangi return harapan (Tandelilin, 2010:115).
a.
Diversifikasi secara random
Diversifikasi secara random (naive diverfication) merupakan pembentukan
portofolio
dengan
memilih
sekuritas-sekuritas
secara
acak
tanpa
memperhatikan karakteristik aset-aset yang bersangkutan (misalnya tingkat
return harapan).
b.
Diversifikasi secara markowitz
Dengan mengkombinasikan saham-saham yang mempunyai korelasi nilai
lebih rendah dari +1 dapat menurunkan risiko portofolio.
2.1.5
Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, mengambil tiga sumber referensi dari penelitian yang
sudah dilakukan sebelumnya mengenai pembentukan atau penentuan portofolio
saham optimal menggunakan model indeks tunggal. Hal itu dilakukan untuk
membedakan penelitian ini dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mirah dan Trisnadi Wijaya
(2012) dengan judul “Analisis Model Indeks Tunggal Portofolio Saham di Bursa
Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2011”. Metode analisis yang digunakan
adalah model indeks tunggal. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa
pembentukan portofolio optimal pada periode 2009-2011 dari semua saham yang
masuk pada periode tersebut, diperoleh 17 saham yang akan dijadikan sampel.
Dan dari 17 saham sampel tersebut, ada 5 saham yang terbentuk dalam kandidat
portofolio optimal yaitu saham TLKM dengan nilai ERB tertinggi sebesar 1,87%,
ADRO dengan nilai ERB sebesar 1,20%, BBCA dengan nilai ERB sebesar 1,04%
dan UNTR dengan nilai ERB sebesar 0,78%.
Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Umanto Eko (2008) dengan judul
“Analisis dan Penilaian Kerja Portofolio Optimal Saham LQ-45”. Metode analisis
yang digunakan adalah model indeks tunggal dan model korelasi konstan. Dari
hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembentukan portofolio optimal
pada tahun 2002 – 2007, diperoleh 13 saham yang akan dijadikan sampel. Dan
dari 13 saham tersebut, ada 4 saham yang masuk pada kategori portofolio saham
optimal yaitu saham TLKM (52,53%), saham ASII (23,88%), saham INTP
(14,31%), dan saham PBBN (9,215%).
Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Suramaya Suci Kewal (2013)
dengan judul “Pembentukan Portofolio Optimal Saham-saham pada Periode
Bullish di Bursa Efek Indonesia”. Metode analisis yang digunakan adalah model
indeks tunggal. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembentukan
portofolio pada periode 2009 – 2011, diperoleh 23 perusahaan yang akan
dijadikan sampel yang terdiri dari 8 perusahaan kandidat portofolio dan 15
perusahaan kandidat nonportofolio. Dari 23 saham tersebut, diperoleh 4 saham
yang termasuk kategori portofolio optimal yaitu saham ASRI (48,72%), saham
INDF (28,24%), saham BBNI (16,32%), dan saham BKSL( 6,71%).
Untuk lebih jelasnya persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan
penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel 1 mapping persamaan dan perbedaan
dibawah ini :
Tabel 1
Mapping Persamaan dan Perbedaan Penelitian
Nama Peneliti
Judul
Mirah dan
Analisis Model Indeks
Trisnadi Wijaya Tunggal Portofolio Saham di
(2012)
Bursa Efek Indonesia (BEI)
Periode 2009-2011
Teknik Analisis
Data
Model Indeks
Tunggal
Umanto Eko
(2008)
Analisis dan Penilaian Kerja
Portofolio Optimal Saham
LQ-45
Model Indeks
Tunggal dan
Model Korelasi
Konstan
Suramaya Suci
Kemal (2013)
Pembentukan Portofolio
Optimal Saham-saham pada
Periode Bullish di Bursa Efek
Indonesia
Model Indeks
Tunggal
Linda Ratna
Sari (2015)
Analisis Perbandingan
Portofolio Saham Optimal
Berdasarkan Model Indeks
Tunggal Dan Model Random
pada Saham Kompas 100 di
Bursa Efek Indonesia
Model Indeks
Tunggal dan
Model
Random
Hasil Penelitian
Hasil penelitian
menunjukkan terdapat
4 saham yang
digolongkan portofolio
optimal yaitu TLKM,
ADRO, BBCA, UNTR.
Hasil penelitian
menunjukkan terdapat
4 saham yang
digolongkan portofolio
optimal yaitu TLKM,
ASII, INTP, PBBN.
Hasil penelitian
menunjukkan terdapat
4 saham yang
digolongkan portofolio
optimal yaitu ASRI,
INDF, BBNI, BKSL.
Hasil penelitian
menujukkan penentuan
portofolio saham
menggunakan model
indeks tunggal dapat
memberikan return
yang optimal
dibandingkan dengan
penentuan portofolio
saham menggunakan
model random.
Penelitian kali ini terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian-penelitian
terdahulu yang sudah dilakukan sebagai berikut :
1.
Persamaan
Dalam penelitian kali ini, peneliti sama-sama menguji tentang portofolio
saham optimal, serta teknik analisis data yang digunakan yaitu sama-sama
menggunakan model indeks tunggal.
2.
Perbedaan
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah tujuan
penelitian, objek yang digunakan, variabel yang digunakan serta tambahan
metode penelitian yang digunakan. Penelitian pertama dan kedua
menggunakan objek pada LQ45 yang terdaftar di BEI, dan yang ketiga
menggunakan objek saham pada periode bullish, sedangkan penelitian ini
menggunakan saham Kompas 100 di BEI. Jika pada penelitian pertama dan
ketiga hanya menggunakan metode indeks tunggal, lain halnya pada
penelitian kedua menggunakan 2 metode yaitu model indeks tunggal dan
model korelasi konstan, sedangkan pada penelitian ini menggunakan model
indeks tunggal dan satu tambahan metode lagi yaitu model random.
Melihat dari latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat, dan landasan
teori yang digunakan maka peneliti menyusun rerangka pemikiran pada gambar 1
dan rerangka konseptual pada gambar 2 sebagai berikut :
2.2 Rerangka Pemikiran
Landasan Teori
Landasan Empiris
Pasar Modal :
Jogiyanto (2008),
Fahmi dan Hadi
(2011), Rusdin
(2008), Samsul
(2006), Darmadji dan
Fakhruddin (2011)
Mirah dan Trisnadi
Wijaya (2012)
Investasi : Sunariyah
(2010), Jogiyanto
(2010), Fahmi dan
Hadi (2011),
Tandelilin (2010),
Husnan (2009)
Rumusan Masalah
Umanto Eko (2007)
Model Indeks
Tunggal
Model
Random
Saham : Rusdin
(2008), Fakhruddin
(2008), Darmadji dan
Fakhrudin (2011)
Portofolio : Husnan
(2005), Jogiyanto
(2010), Gitman dan
Zutter (2008),
Latumaerissa (2011),
Gumanti (2011),
Tandelilin (2010)
Analisis Model
Indeks Tunggal
Portofolio Saham di
Bursa Efek Indonesia
(BEI) Periode 20092011
Analisis dan Penilaian
Kinerja Portofolio
Optimal SahamSaham LQ-45
Suramaya Suci Kewal
(2013)
SKRIPSI
Gambar 1
Rerangka Pemikiran
Pembentukan
Portofolio Optimal
Saham-Saham pada
Periode Bullish di
Bursa Efek Indonesia
2.3 Rerangka Konseptual
Investasi Saham
Risiko
Return
Penentuan Portofolio
Optimal
Model Indeks
Tunggal
Model Random
Uji Perbedaan
(Uji Hipotesis)
ReturnOptimal
Gambar 2
Rerangka Konseptual
2.4 Perumusan Hipotesis
Perumusan hipotesis merupakan bagian dari langkah dalam suatu penelitian.
Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian menggunakan hipotesis.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pernyataan
(Sugiyono, 2008:64) seperti di bawah ini :
H0 :
Penentuan portofolio saham menggunakan model indeks tunggal dapat
memberikan return yang tidak optimal dibandingkan dengan penentuan
portofolio saham menggunakan model random.
H1 :
Penentuan portofolio saham menggunakan model indeks tunggal dapat
memberikan return yang optimal dibandingkan dengan penentuan
portofolio saham menggunakan model random.
Download