sistem perencanaan, keserasian kebijakan

advertisement
Sistem Perencanaan, Keserasian Kebijakan,
dan Dinamika Pelaksanaan Otonomi Daerah
Mustopadidjaja AR *)
Kebijakan perimbangan keuangan dan desentralisasi kewenangan kepada Daerah Kabupaten/
Kota yang luas, nyata, dan bertanggung jawab sebagai wujud dari pelaksanaan otonomi daerah telah
melahirkan tantangan tersendiri di bidang perencanaan pembangunan, baik pada tingkat Pusat,
Provinsi, maupun Kabupaten dan Kota. Di antara berbagai tantangan tersebut, yang cukup krusial
adalah masalah ketidakseimbangan ketersediaan sumber-sumber antar daerah yang dihadapkan pada
tuntutan terwujudnya peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi yang berkeadilan di seluruh daerah.
Hal tersebut menjadi terasa lebih krusial, karena sumber-sumber yang dimiliki Pusat dengan berlakunya
kebijakan perimbangan keuangan dan desentralisasi kewenangan tersebut cenderung relatif mengalami
penurunan. Dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut, sistem perencanaan di samping harus
mampu mendayagunakan pemanfaatan sumber-sumber yang tersedia secara optimal, juga adalah
mengembangkan kebijakan-kebijakan yang inovatif yang mendorong transformasi ekonomi daerah
berbasis sumber daya setempat. Dalam hubungan itu, perlu senantiasa diingat bahwa fungsi seorang
perencana adalah mengembangkan langkah-langkah kebijakan inovatif guna mewujudkan
perkembangan masa depan yang lebih baik, termasuk pengembangan sistem pembiayaan alternatif;
bukan hanya melakukan langkah-langkah rutin apalagi yang mendatangkan keaiban. Fungsi sistem
perencanaan adalah melakukan antisipasi per-kembangan ke depan serta memberikan alternatif langkah
yang harus ditempuh guna mencapai kondisi yang diharapkan atau pun untuk mencegah perkembangan yang
tidak diinginkan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat bangsa. Untuk itu lembaga-lembaga
perencanaan Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, harus saling menunjang; dan dapat
mengembangkan langkah-langkah kebijakan yang serasi dan saling memperkuat. Sekarang ini
merupakan momentum bagi para perencana untuk membuktikan bahwa “teknik dan manajemen
perencanaan pembangunan” (TMKP) mempunyai makna dalam mengatasi masalah-masalah bangsa,
dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa ber-NKRI.
Dewasa ini perencanaan pembangunan menghadapi tantangan berat, bukan saja karena
perkembangan lingkungan stratejik domestik dan internasional menghadapkan batasan-batasan
terhadap kiprah perencanaan dalam mendorong pembangunan masa depan yang lebih baik; tetapi juga
berkembang anggapan bahwa lembaga perencanaan pembangunan tidak diperlukan, karena
keberadaannya selama ini hanya memperpanjang jalur alokasi sumber-sumber yang bukan merupakan
tanggung jawabnya yang hakiki, dan telah menimbulkan dampak negatif dalam peningkatan efisiensi
anggaran. Dan dikala masyarakat mengharapkan manajemen pemerintahan dapat mengembangkan
kebijakan yang efektif dalam mewujudkan pemulihan perekonomian dan mendorong bangkitnya
kembali pembangunan di seluruh tanah air, perencanaan pembangunan belum juga menggemakan
suatu irama yang membangkitkan.
Ungkapan di atas menggambarkan tantangan-tantangan tidak ringan yang harus dihadapi dan
dijawab perencanaan pembangunan dewasa ini dan di masa datang. Inti dari permasalahannya adalah
“perubahan dalam sistem dan proses serta kinerja perencanaan pembangunan” sesuai dengan tuntutan
reformasi di bidang manajemen pemerintahan, dan dengan tantangan perkembangan dan kondisi
lingkungan stratejik internal dan eksternal yang dihadapi bangsa. Perencanaan pembangunan
*)
Prof. Dr. Mustopadidjaja AR, SE, MPIA adalah Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN). Pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini
pernah disampaikan pada Lokakarya “Dinamika Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah” kerja sama Bappeprov Jawa Timur
dengan Pusdiklat SPIMNAS Bidang TMKP LAN, Surabaya, 1 Agustus 2002-red.
D:\317533049.doc
Halaman 1
menghadapi tuntutan untuk dapat bersikap lebih arif dalam menawarkan langkah-langkah kebijakan,
baik dalam menghadapi berbagai peluang dan kendala yang ada, dalam mengembangkan iklim dan
perkembangan kondusif bagi perubahan kondisi yang diharapkan dan bagi terwujudnya kemajuankemajuan yang diinginkan, maupun dalam mendayagunakan potensi riil yang tersedia pada negara dan
masyarakat bangsa. Perencanaan sebagai bagian dari fungsi manajemen pemerintahan, apabila dapat
memenuhi persyaratan bagi dan dapat membuktikan bahwa kehadiran dan kiprahnya dapat lebih
memantapkan terselengggaranya manajemen pemerintahan yang baik (good governance), tentunya masih
sangat diperlukan dan legitimate. Demikian pula halnya dengan lembaga-lembaga perencanaan, baik
pada tingkat Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota, keberadaannya masih diperlukan untuk
mewadahi berbagai kegiatan perencanaan pembangunan dalam berbagai sektor, lembaga, dan kawasan
yang perlu dilakukan secara sistematis, terkoordinasi, dan berkesinambungan. Sebagai bagian dari sistem
manajemen pemerintahan yang dituntut publik untuk menunjukan akuntabilitasnya, perencanaan
pembangunan harus senantiasa mengindahkan dan dapat membuktikan kredibilitasnya dalam
membumikan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan. Sementara itu, dalam suasana yang sering dihinggapi ketidakpastian perkembangan
internal dan eksternal dewasa ini, apakah akibat perubahan pola hubungan kelembagaan dan
kewenangan desentralisasi dalam kehidupan nasional atau pun karena fluktuasi perkembangan ekonomi
dan keuangan dalam perekonomian internasional yang juga mempengaruhi aktivitas lokal, fungsi
perencanaan adalah memberikan gambaran obyektif mengenai perkembangan yang terjadi atau pun
mungkin terjadi dan tawaran langkah-langkah yang lebih pasti ke arah pemantapan pemulihan ekonomi
dan terselenggaranya kembali pembangunan bangsa di seluruh sektor, kawasan, dan wilayah negara.
Kompleksitas dan dinamika perencanaan pembangunan semakin mengemuka pada era
Otonomi Daerah yang dewasa ini ditandai dengan pelimpahan kewenangan yang besar kepada Daerah
Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Daerah. Dengan perkataan
lain, kewenangan yang luas dan nyata dalam “mengatur dan mengurus” masalah-masalah pemerintahan
dan pembangunan Daerah telah dilimpahkan Pusat kepada Daerah Kabupaten dan Kota telah
menimbulkan tantangan tersendiri yang perlu mendapatkan perhatian dalam perencanaan
pembangunan. Dalam hubungan itu timbul pertanyaan mengenai peran yang perlu dilakukan, atau
tugas dan fungsi yang harus diemban oleh sistem perencanaan nasional pada tingkat Pusat dan Provinsi
dalam menghadapi dinamika perencanaan pembangunan daerah Kabupaten dan Kota, selaras dengan
hak dan tanggung jawab, serta kewenangannya masing-masing.
Ada baiknya dalam hubungan ini diperhatikan posisi dan peran perencanaan pembangunan
dalam keseluruhan konstelasi sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang
berlaku dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI). Sebagai wahana
perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan suatu bangsa dalam bernegara, pengembangan setiap
sistem administrasi negara didasarkan pada konstitusi negara bangsa bersangkutan. SANKRI didasarkan
pada dan merupakan penjabaran dari UUD 1945, dan setiap sistem kelembagaan di dalam SANKRI
termasuk bidang perencanaan pembangunan berkewajiban mengemban misi perjuangan mewujudkan
cita-cita dan tujuan NKRI.
UUD 1945 menegaskan bahwa Republik Indonesia adalah negara hukum yang demokratis,
berbentuk negara kesatuan dengan sistem dan proses kebijakan yang mengakomodasikan peran masyarakat
yang luas (terbuka, partisipatif, dan akuntabel). Pengambilan keputusan politik yang stratejik seperti
GBHN dan kebijakan-kebijkan lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan, itu dilakukan bersama secara musyawarah dan mufakat melalui lembaga-lembaga
perwakilan [MPR, DPR(D)] sebagai representasi rakyat bangsa dari dan di seluruh wilayah negara yang
terbagi atas daerah besar (Provinsi) dan kecil (Kabupaten/Kota, dan Desa) dengan kewenangankewenangan otonomi tertentu. Berbagai kebijakan pemerintahan tersebut kemudian dituangkan dalam
peraturan perundangan tertentu (Ketetapan MPR, UU, PP, Perpu, Keppres, dan Perda. UU, PP, dan
D:\317533049.doc
Halaman 2
Perda tentang susbstansi masalah publik tertentu ditetapkan Pemerintah setelah mendapatkan
persetujuan DPR(D), dan pelaksanaannya harus dilaporkan dan dipertanggungjawab-kan kepada publik.
Sebagai kebijakan yang dikembangkan dalam rangka penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa
untuk mencapai tujuan bernegara, keseluruhannya harus terjaga keserasian dan keterpaduannya satu sama
lain. Dari sini kita melihat dimensi penting dalam SANKRI yaitu “kepastian hukum, demokrasi,
kebersamaan, partisipasi, keterbukaan, desentralisasi kewenangan serta pengawasan dan pertanggungjawaban”.
Melekatnya berbagai dimensi konstitusional tersebut dalam SANKRI dimaksudkan agar kita dapat
berjalan lurus dan mantap dalam mengemban perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita dan
tujuan NKRI.
Semua itu menunjukan komitmen kuat dari konstitusi negara kita terhadap nilai dan prinsip
kepemerintahan yang baik (good governance, GG), suatu pemerintahan yang amanah; dan merupakan
amanat para founding fathers bangsa dan negara ini kepada generasi kini dan mendatang untuk
mewujudkannya dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa, di pusat dan daerah.
Sebagaimana kita ketahui, nilai dan prinsip dasar yang menandai GG secara universal antara lain adalah
“kepastian hukum, transparansi, partisipasi, profesionalitas, dan pertanggungjawaban (akuntabilitas)”;
yang dalam konteks nasional perlu ditambahkan dengan nilai dan prinsip “daya guna, hasil guna, bersih
(clean government), desentralisasi, kebijakan yang serasi dan tepat, serta daya saing”.
Keseluruhan nilai dan prinsip GG tersebut merupakan dimensi operasional yang melekat dalam
SANKRI. Di dalamnya terdapat nilai dan prinsip desentralisasi sebagai essensi otoda yang telah
dikembangkan bukan saja merupakan nilai dan prinsip yang secara inhaerent dianut UUD 1945 seperti
ditetapkan pada Pasal 18 beserta penjelasannya tetapi juga sebagai responsi terhadap perkembangan
lingkungan stratejik nasional dan internasional.
Penyelenggaraan pemerintahan yang efisien dan pembangunan yang terarah pada perwujudan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat di seluruh wilayah tanah air mensyaratkan berkembangnya otonomi
daerah. Agar perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan bernegara dapat tercapai secara optimal di
seluruh daerah, Otoda dalam SANKRI mengimperasikan hak, kewajiban, dan tanggung jawab ataupun
kewenangan tertentu pada pemerintahan daerah untuk mengatur dan mengurus “rumah tangga
(pemerintahan dan pembangunan)” daerah; namun untuk bidang-bidang tertentu terdapat kewenangan
pusat yang tidak dapat didesentralisasikan kepada daerah. Sejalan dengan itu, setiap daerah dalam
rangka penyelenggaraan otoda perlu memperhatikan sasaran, (1) meningkatkan kapabilitas dan
kesejahteraan rakyat daerah, (2) meningkatkan prakarsa, kreativitas, dan peranserta masyarakat di
daerah, dan (3) menjaga keserasian hubungan antar daerah dan antara Pusat dan Daerah, termasuk
keserasian kebijakan dalam dan antar daerah, serta antara kebijakan nasional dan daerah. Hal serupa
perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari pemerintahan pusat.
Otonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu autos dan nomos (Webster’s Student Dictionary of English
Language). Autos artinya sendiri, sedangkan nomos berarti hukum atau aturan. Sebagai istilah, pengertian
otonomi autos nomos atau autonomous dalam bahasa Inggris menurut kamus tersebut adalah kata sifat
yang berarti: (1) keberadaan atau keberfungsian secara bebas atau independen (functioning or existing
independently); dan (2) memiliki pemerintahan sendiri, sebagai negara atau kelompok dan sebagainya (of
or having self-government, as a state, group, etc.). Sedangkan pengertian otonomi (autonomy) sebagai kata
benda (noun) adalah (1) keadaan atau kualitas yang bersifat independen, khususnya kekuasaan atau hak
memiliki pemerintahan sendiri (the power or right of having self-government); dan atau (2) negara,
masyarakat, atau kelompok yang memiliki pemerintahan sendiri yang independen (a self-governing state,
community or group).
Beranjak dari rumusan pengertian otonomi tersebut dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah
secara ringkas adalah daerah yang menyelenggarakan pemerintahan sendiri, atau daerah yang memiliki
D:\317533049.doc
Halaman 3
pemerintahan sendiri yang berdaulat atau independen. Dalam konteks Indonesia pengertian
independen atau bebas atau berdaulat inilah barangkali yang tidak diinginkan, karena akan berkonotasi
adanya negara didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tidak sesuai dengan UndangUndang Dasar 1945. Professor Bagir Manan (1993) misalnya menyatakan bahwa: “Otonomi dicurigai
memiliki ‘cacat alami’ yang senantiasa mengancam kesatuan”. Menurutnya hal itu dapat dipahami,
karena kurangnya pemahaman yang tepat, atau karena pengalaman masa lalu yang diwarnai berbagai
peristiwa pemberontakan yang mengarah kepada disintegrasi nasional.
Oleh sebab itu di Indonesia pada dasarnya dianut pemahaman otonomi daerah yang bersifat
administratif, yaitu kebebasan untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan sendiri yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia
(SANKRI). Dengan demikian dalam konteks Indonesia, pengertian Otonomi Daerah menunjukkan
hubungan keterikatan antara daerah yang memiliki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri
dengan kesatuan yang lebih besar yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bukan berarti
daerah otonom yang merdeka dan berdiri sendiri bebas dari ikatan dengan NKRI.
Hal tersebut antara lain dijelaskan oleh Professor Bagir Manan (1993:2) – yang mendefinisikan
otonomi daerah sebagai “kebebasan dan kemandirian (vrijheid dan zelfstandigheid) satuan pemerintahan
lebih rendah untuk mengatur dan mengurus sebagian urusan pemerintahan” – bahwa kebebasan dan
kemandirian itu adalah dalam ikatan kesatuan yang lebih besar (NKRI), karena dalam teori negara
kesatuan, otonomi adalah subsistem dari Negara Kesatuan.
Dengan demikian dalam SANKRI, masing-masing satuan pemerintahan baik pusat maupun
daerah bertanggung jawab untuk kelangsungan dan kesuksesan perjuangan mewujudkan cita-cita bangsa
dan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam hubungan itu setiap daerah diharapkan
dapat memberikan kontribusi berarti dalam mencapai cita-cita dan tujuan luhur bangsa dan negara.
Untuk itu kepada daerah dilimpahkan kewenangan untuk mengatur dan mengurus masalah-masalah
pemerintahan dan pembangunan daerah. Sedangkan pemerintahan pusat berkewajiban
mengembangkan kebijakan, norma, standar, dan prosedur yang memungkinkan optimalitas karya dan
kinerja daerah dalam memikul tanggung jawab pemerintahan negara dan pembangunan pada masingmasing daerah. Sebagaimana kita ketahui, berbagai hal tersebut telah diakomodasikan dalam Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, serta berbagai aturan
pelaksanaannya.
Dengan semangat demikianlah perlu kita pahami arti dan implikasi Pasal 70 dan Pasal 7 ayat
(1) dan (2) dari Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999. Pasal 70 menetapkan bahwa Perda tidak boleh
bertentangan dengan aturan perundangan yang lebih tinggi, dan kewenangan Pusat dalam bidangbidang seperti ditentukan dalam Pasal 7 ayat (2) tidak menutup kemungkinan Daerah untuk
mengembangkan langkah-langkah kebijakan yang realistis dan rasional sesuai kondisi dan aspirasi
daerah; namun tetap mengacu pada pedoman yang ditetapkan secara nasional, termasuk dalam bidang
perencanaan pembangunan. Pedoman tersebut mestinya berisikan ketentuan-ketentuan yang dapat
mewujudkan keserasian dan keterpaduan antar berbagai kebijakan daerah dan antara kebijakan
nasional dan daerah, agar dihasilkan kinerja dan manfaat yang optimal (teknis dan sosial) bagi
perkembangan dan kemajuan daerah dan antar; dan akhirnya bermakna bagi kepentingan seluruh
masyarakat bangsa di seluruh wilayah nusantara, bumi pertiwi tercinta.
Dalam hubungan perencanaan pembangunan, hal itu mempunyai makna bahwa lembagalembaga perencanaan pembangunan daerah memiliki degree of freedom tertentu untuk mengembangkan
dan menawarkan rencana kebijakan yang bersasaran mengoptimalkan pemanfaatan keunggulan
komparatif dan peningkatan keunggulan kompetitif yang ada di daerah. Dengan skim kebijakan seperti
itulah terentang tantangan-tantangan luas untuk mengembangkan potensi-potensi lokal melalui
pengembangan berbagai langkah kebijakan inovatif yang dapat mendorong akselerasi perkembangan
D:\317533049.doc
Halaman 4
dan pembangunan daerah. Secara implisit hal itu juga mengandung arti bahwa relokasi sumber-sumber
dari sesuatu daerah ke daerah lain akan mendorong perkembangan di daerah bersangkutan, yang pada
gilirannya akan meningkatkan permintaan efektif dari daerah tersebut serta mendorong arus
permintaan pada daerah satunya, sehingga terjadi peningkatan kemajuan pada kedua daerah. Secara
eksplisit hal itu juga mengandung makna bahwa diperlukan kerja sama antar daerah yang baik,
perkiraan biaya dan manfaat yang tepat, manajemen yang profesional, dan ditunjang sistem
kelembagaan yang mantap dengan mengindahkan prinsip-prinsip good governance atau pun good corporate
governance, baik dalam pengelolaan kerja sama antar organisasi publik, maupun antara organisasi publik
dan dunia usaha yang ada di tengah masyarakat.
Dari catatan di atas tersurat dan tersirat pentingnya relokasi sumber-sumber bagi perkembangan
antar daerah yang mendatangkan kemajuan bagi seluruh daerah. Dalam hubungan ini perlu dicatat pula
pentingnya alokasi anggaran (budget allocation) untuk meningkatkan pelayanan publik, pengentasan
kemiskinan, penanggulangan pengangguran, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
daerah, serta untuk mendorong perkembangan daerah. Semua itu dikembangkan dengan semangat (=
sasaran, langkah-langkah kebijakan dan kegiatan) meningkatkan pemanfaatan keunggulan komparatif
dan keunggulan kompetitif daerah. Dalam hubungan itu perlu diingat, bahwa desentralisasi menekankan
“besarnya tanggung jawab” kepada para penyelenggara pemerintahan, baik yang berada pada lembagan
eksekutif, mau pun yang berada pada lembaga legislatif dan yudikatif, serta kepada masyarakat pada
umumnya, untuk “mengatur dan mengurus penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah
serta hubungan pusat dan daerah secara baik dan efektif”. Dasar dari pelimpahan kewenangan tersebut
adalah keyakinan bahwa
efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah oleh daerah akan mencapai tingkat yang lebih tinggi, lebih baik, dan lebih
bertanggung jawab. Dengan desentralisasi diharapkan akses terhadap pelayanan, pengelolaaan
pelayanan, dan tingkatan partisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sebagai
wujud kehidupan dan budaya demokrasi dapat berkembang secara lebih efisien dan lebih baik. Apabila
perkembangan dalam realita menunjukan hal-hal yang sebaliknya dan tidak diperbaiki secepatnya, maka
kepercayaan rakyat terhadap demokratisasi dan desentralisasi - yang tengah berlangsung sekarang ini akan menurun dan semakin memburuk.
Dalam hubungan itu perlu dipenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan agar sistem dan
proses penyelenggaraan otonomi berjalan baik dan berhasil mencapai kinerja yang sesuai dengan citacita dan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah”. Di antara berbagai persyaratan tersebut, termasuk
yang termuat dalam prinsip-prinsip good governance, seperti transparansi, partisipasi, profesionalitas, dan
akuntabilitas. Hal tersebut pada esensinya berfokus pada “penguasaan pengetahuan, keariefan,
kejujuran, moralitas, keterbukaan, dan integritas dalam mengemban amanat republik, dalam upaya
memenuhi kepentingan publik, dalam kesiapan memberikan pertanggungjawaban dan akuntabilitas
kinerja di hadapan publik”.
Perencanaan pembangunan berkewajiban untuk memberikan alternatif-alternatif keputusan
terbaik kepada seluruh stakeholders pemerintahan dan pembangunan di daerah, agar kewenangan
“mengatur dan mengurus” masalah-masalah pemerintahan dan pembangunan daerah oleh daerah itu
berjalan secara lebih baik; lebih rasional dan realistis, lebih efisien dan efektif. Keterkaitan antar
perencanaan makro dan mikro baik dalam pengertian sektoral dan lintas sektor, mau pun dalam
pengertian satuan wilayah dan antar wilayah, harus jelas skenario dan proyeksinya, serta terukur biaya
dan manfaatnya. Harus jelas pula siapa, di mana, memikul beban atau biaya apa, dan bagaimana
distribusi manfaat dari kebijakan, program, atau pun kegiatan yang direncanakan. Perencanaan
pembangunan memikul tanggung jawab pelaksanaan fungsi manajemen pemerintahan dan
pembangunan, dari penyiapan kebijakan sampai dengan pertanggungjawaban kinerja kebijakankebijakan pembangunan yang ditetapkan. Ilmu pengetahuan si bidang teknik dan manajemen
perencanaan pembangunan (TMPP) memungkinkan perencana pembangunan memikul kewajiban dan
tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya.
D:\317533049.doc
Halaman 5
Desentralisasi dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI)
berarti pelimpahan kewenangan pusat “dalam mengatur dan mengurus masalah-masalah pemerintahan
dan pembangunan daerah” kepada daerah, kepada pemerintahan dan masyarakat daerah, yang
ditujukan pada perwujudan cita-cita dan tujuan NKRI di daerah, pada terwujudnya masyarakat “adil
makmur” di seluruh daerah.
Sebab itu, pada Undang-undang Nomor 22 dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999
terdapat prinsip-prinsip pelimpahan kewenangan sebagai berikut: (1) pada dasarnya semua kewenangan
pemerintah diserahkan kepada daerah, kecuali bidang pertahanan dan keamanan, politik luar negeri,
moneter dan fiskal, peradilan, agama serta kewenangan pemerintah lainnya yang secara nasional lebih
berdaya guna dan berhasil guna bila dikelola pemerintah pusat; (2) pelimpahan kewenangan di bidang
pemerintahan kepada daerah harus disertai dengan pembiayaan, sumber daya manusia, serta sarana dan
prasarana; (3) Pelaksanaan kewenangan pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah didasarkan
pada norma, standar, kritreria, dan prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah; dan (4) perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang memberikan deskresi yang lebih besar kepada
daerah untuk mengelola sumber-sumber keuangannya.
Instrumen penting dalam manajeman keuangan daerah adalah anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APBD) dalam keseluruhan unsur sistem dan prosesnya; termasuk aspek-aspek penerimaan dan
pengeluaran; dan keseluruhan siklus proses pengelolaannya (budget cycle) dari perencanaan, pelaksanaan,
hingga pertanggungan jawabannya.
Sesuai ketentuan Pasal 7, dan Pasal 70 UU No 22 Tahun 1999, keseluruhan tahapan dan
kegiatan dalam pengelolaan anggaran tersebut harus mengacu pada norma, kriteria, standar, dan
prosedur yang ditetapkan pemerintah yang essensinya adalah mengacu prinsip-prinsip good governance
tersebut. Secara lebih spesifik hal ini berarti bahwa keseluruhan kegiatan dalam budget cycle harus
dilakukan secara transparan, partisipatif, aspiratif, legitimatif, dan profesional; serta akuntabel, artinya
harus jelas apa yang merupakan indikator dan besaran kinerja dari keseluruhan sistem dan proses
anggaran tersebut, termasuk pada unsur-unsur penerimaan dan pengeluaran APBD antara lain seperti di
bawah ini.
Penerimaan Daerah. Sesuai Undnag-undang Nomor 22 Tahun 1999, perimbangan keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah dalam rangka desentralisasi fiskal mengandung pengertian bahwa kepada daerah
diberikan kewenangan untuk memanfaatkan “sumber-sumber keuangan sendiri” (= pajak daerah dan retribusi
daerah) dan didukung dengan “dana perimbangan keuangan pusat dan daerah” (= pembagian keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah serta pemerataan antar daerah secara proporsional, sesuai dengan potensi, kondisi
dan kebutuhan daerah, dan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan dan tata cara penyelenggaraannya).
Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 sumber penerimaan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi antara lain meliputi: (1) pendapatan asli daerah (PAD), (2) dana perimbangan;
bersumber dari penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan
daerah yang terdiri dari (a) bagian daerah dari PBB, (b) bea perolehan hak atas tanah dan bangunan
(BPHTB), (c) pajak penghasilan perseorangan (PPh), dan (d) penerimaan sumber daya alam (SDA); (e)
dana alokasi umum (DAU); (f) dana alokasi khusus (DAK); (3) pinjaman daerah; dan (4) lain-lain
penerimaan yang syah.
Adapun pembagian dana perimbangan berdasar Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999
tersebut menurut prosentasi bagi hasil antara pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten/kota)
digambarkan pada Lampiran 1 (Tabel IV.15). Sedangkan besarnya pengeluaran negara (= alokasi APBN)
untuk penyediaan dana perimbangan tersebut yang kemudian ditransfer kepada daerah (= pos
penerimaan dalam APBD) digambarkan pada Lampiran 2 (Tabel IV.9).
D:\317533049.doc
Halaman 6
Pada Lampiran 2 terlihat total dana APBN yang dialokasikan kepada daerah sebagai dana
perimbangan pada APBN 2000 mencapai Rp 33, 5 triliun lebih (sekitar 3,7 % dari PDB), sekitar 22%
dari Penerimaan Dalam Negeri atau sekitar 17,8 % dari keseluruhan Belanja Negara; dan pada APBN
2001 meningkat mencapai sekitar Rp 81,7 triliun (5,7 % dari PDB), menjadi sekitar 31% dari PDN atau
sekitar 25,8% dari Belanja Negara. Besarnya dana perimbangan yang ditransfer ke daerah dan
peningkatannya yang signifikan tersebut, mengakibatkan beban pengelolaan fiskal yang menjadi
tanggung jawab daerah juga meningkat secara signifikan pula. Perubahan peta pengelolaan fiskal dari
pusat ke daerah di mana daerah mempunyai fleksibilitas cukup tinggi bahkan deskresi penuh dalam
pemanfaatan sumber-utama pembiayaan tersebut dikenal sebagai desentralisasi fiskal.
Besarnya dana perimbangan dari APBN yang dialokasikan pada APBD atau ditransfer ke daerah
tersebut sekalipun sudah cukup signifikan dan penyebarannya sudah diupayakan berimbang (berdasar
formula tertentu yang terus disempurnakan), namun dirasakan oleh beberapa daerah jauh dari cukup
untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan dan upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Sebab itu, beberapa daerah berkeinginan dan berupaya meningkatkan penerimaan dan
anggaran pembangunan, baik melalui pajak dan retribusi baru maupun penerimaan bukan pajak dan
bukan retribusi.
Komposisi penerimaan daerah provinsi dan kabupaten/kota dan perkembangannya dalam
beberapa tahun yang lalu, untuk daerah provinsi digambarkan pada Lampiran 3 (Tabel V.1) dan untuk
daerah kabupaten/kota digambarkan pada Lampiran 4 (Tabel V.2).
Pengeluaran Daerah. Pemanfaatan dana perimbangan terarah pada upaya (1) untuk mengatasi
masalah vertical imbalance; dilakukan melalui bagian daerah dengan pemberian bagi hasil dari
penerimaan perpajakan dan penerimaan SDA; (2) untuk mengatasi masalah horizontal imbalance;
dilakukan melalui DAU, dan (3) untuk kebutuhan khusus daerah dan kepentingan nasional, termasuk
untuk kegiatan reboisasi; dilakukan melaui DAK.
Perkembangan pengeluaran daerah provinsi baik untuk keperluan rutin mau pun
pembangunan, komposisi pengeluaran rutin, dan alokasinya menurut provinsi baik untuk belanja rutin
maupun pembangunan digambarkan pada Tabel V.3, Tabel V.25, Tabel V. 26, Tabel V. 28 dan V. 29
masing-masing pada Lampiran 5, 6, 7, 8 dan 9. Sedangkan untuk hal-hal yang sama pada daerah
kabupaten dan kota digambarkan pada Tabel V.4, Tabel V.27, dan Tabel V.30, masing-masing pada
Lampiran 10, 11, dan 12.
Dari Tabel V.3 dan Tabel V.25, serta dari Tabel V.4 dan Tabel V.27 terlihat bahwa baik untuk
daerah provinsi maupun daerah kabupaten dan kota pengeluaran rutin masih lebih tinggi dari
pengeluaran pembangunan, dan belanja pegawai menduduki porsi pengeluaran rutin terbesar dengan
kondisi yang terus meningkat.
APBD merupakan unsur stratejik dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah untuk mencapai tujuan realistis sesuai aspirasi, kebutuhan, potensi, dan
perkembangan daerah. Ia berperan sebagai instrumen kebijakan dan program untuk mencapai berbagai
tujuan dan sasaran pelayanan publik dan pembangunan daerah yang disusun dan dilaksanakan menurut
prinsif-prinsif kepemerintahan yang baik yang berujung pada akuntabilitas publik (public accountability).
Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah harus dipertanggungjawabkan baik langsung kepada atasan
masing-masing, lembaga legislatif, mau pun kepada publik. Sebab itu pemantauan dan evaluasi kinerja
perlu dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan baik dalam rangka pengawasan internal, mau pun
eksternal yang dilakukan oleh publik dan lembaga legislatif.
Dalam hubungan itu, manajemen pemerintahan dan pembangunan kita telah mengembangkan
media yang penting dalam menjaga akuntabilitas pemerintahan, yaitu pertama sistem akuntabilitas
D:\317533049.doc
Halaman 7
kinerja instansi pemerintah dan pelaporan akuntabilitas kinerja (SAKIP dan LAKIP), dan laporan
pertanggungjawaban kepala daerah (LPJ). Yang perlu kita perhatikan adalah korelasi antar keduanya, di
samping kemungkinan persamaan dan perbedaan antar keduanya. Selain itu perlu pula diperhatikan
hubungan antara Propeda dengan APBD sebagai wujud Repetada, dan peran rencana stratejik daerah
(Renstrada) dalam keduanya.
Pada kesempatan ini saya ingin menekankan peran LPJ. LPJ dalam pandangan saya adalah
merupakan media pertanggungjawaban ataupun pengendalian yang sejalan dengan nilai dan prinsip
transparansi, profesionalitas dan akuntabilitas dari paradigma kepemerintahan yang baik (GG) yang
lazim dikembangkan dalam sistem dan proses administrasi negara modern yang demokratis dan
konstitusional. Dengan perkataan lain LPJ adalah suatu laporan pertanggungjawaban kepada publik
(akuntabilitas publik) mengenai kinerja yang telah dicapai oleh seseorang Pejabat Pemerintahan
tertentu, baik di Pusat maupun di Daerah, secara vertikal kepada atasannya langsung dan bermuara pada
Presiden sebagai Kepala Pemerintahan, maupun secara horisontal kepada sesama lembaga pemerintahan
khususnya lembaga legislatif maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam kedudukan mereka yang
setara sebagai mitra pemerintahan; serta kepada masyarakat langsung sebagai pemilik kedaulatan negara.
Sebagai laporan pelaksanaan tugas dan pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan
negara dan daerah, LPJ tersebut harus didasarkan kepada tolok ukur kinerja yang sebelumnya disepakati
bersama sebagai produk kebijakan publik antara pihak eksekutif dengan pihak legislatif yang mewakili
rakyat. Tanpa adanya kesepakatan mengenai tolok ukur kinerja kebijakan, program, dan kegiatan baik
dalam penyelenggaraan pembangunan maupun pelayanan publik, bagaimana lembaga legislatif ataupun
rakyat dapat menilai kinerja Kepala Daerah ataupun instansi pemerintah ?
Fenomena yang terjadi dewasa ini justru cenderung menunjukkan adanya arah yang asymetris
dalam hal penilaian akuntabilitas publik, khususnya di daerah-daerah. Dari berbagai informasi yang saya
ketahui permasalahan yang berkaitan dengan LPJ, ternyata bukan disebabkan oleh sistemnya yang salah,
melainkan oleh sikap dan penafsiran yang salah mengenai fungsi LPJ tersebut. LPJ seharusnya dapat
berfungsi sebagai bagian dari pembelajaran demokrasi, transparansi, partisipasi politik, profesionalitas,
serta akuntabilitas publik bukan hanya bagi Kepala Daerah atau eksekutif daerah, melainkan juga bagi
anggota legislatif daerah dan masyarakat. Mekanisme LPJ bukanlah ajang atau wahana politik untuk
menjatuhkan Kepala Daerah yang tidak disukai oleh sebagian elit politik dan elit masyarakat lokal,
tetapi justru sebagai wahana untuk mengendalikan agar penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan
daerah, dan pelayanan kepada masyarakat tetap konsisten dengan arah dan tujuan otonomi daerah,
dengan sasaran dan kebijakan yang telah disepakati DPRD selaku lembaga legislatif dan Pemerintah
Daerah selaku lembaga eksekutif.
Kalaupun ada kekurangan dalam kinerja eksekutif daerah dalam mengemban amanat otonomi
daerah tersebut, melalui mekanisme LPJ tersebut DPRD dapat berperan mengemban fungsi
pengawasannya secara lebih efektif dan konstruktif dengan mengingatkan dan sekaligus menekan pihak
eksekutif untuk melakukan berbagai perbaikan dan penyempurnaan yang diperlukan agar tercapai
kinerja yang lebih optimal, sehingga berbagai aspirasi dan tuntutan kesejahteraan sosial ekonomi
masyarakat dapat lebih terakomodasikan dan terpenuhi.
Kalau di daerah memang terjadi hal-hal yang menyimpang sebagaimana sering kita dengar, maka
merupakan peran masyarakat dan media massa untuk secara demokratis menggunakan haknya dalam
mengawasi jalannya pemerintahan, di samping yang dilakukan oleh lembaga pengawasan lainnya. Selain
itu, aparat penegak hukum juga harus berperan lebih aktif dalam mengusut dan menyelesaikan berbagai
penyimpangan hukum dan praktek-praktek “new KKN” secara tuntas dan tanpa pandang bulu demi
tegaknya supremasi hukum di Indonesia yang note bene adalah suatu Negara Hukum Yang Demokratis.
D:\317533049.doc
Halaman 8
Liberalisasi perekonomian yang menandai gelombang globalisasi sejak dekade-dekade terakhir
abad 20, serta krisis multi dimensi yang melanda kehidupan bangsa dan negara kita di awal abad 21
sekarang ini, bukan saja menuntut peningkatan efisiensi dan mutu pelayanan, tetapi juga kemampuan
dalam pengelolaan kebijakan publik secara arif dan efektif ke arah pemulihan perekonomian, integrasi
nasional, serta peningkatan ketahanan daya saing perekonomian bangsa. Oleh karena itu dinamika
perkembangan tersebut mensyaratkan kompetensi yang tinggi, tanggung jawab yang besar dari seluruh
unsur aparatur negara dan segenap warga negara, serta pemahaman yang mendalam mengenai posisi,
peran, dan kewenangan masing-masing dalam sistem dan proses kebijakan serta dalam sistem
administrasi negara kesatuan kita.
Sementara itu, otonomi daerah dengan desentralisasi kewenangan yang besar dan luas pada
Kabupaten/Kota sebagai koreksi sentralisme kekuasaan masa lalu, yang diharapkan mampu
meningkatkan tanggung jawab dan efisiensi, mutu, serta efektivitas pelayanan dan pengelolaan
kebijakan, dalam prakteknya dewasa ini masih belum terselenggara secara memadai. “Euforia”
demokrasi terasa juga mewarnai dinamika otonomi yang seakan menjauhi makna desentralisasi dan
tanggung jawab otonomi dalam negara kesatuan. Kewenangan lokal seakan telah menghilangkan
kewenangan koordinasi regional, sedangkan kewenangan sentral dianggap menyimpang dari semangat
otonomi. Sebagai akibatnya yang bermunculan adalah fenomena-fenomena konflik kepentingan lokal
yang melemahkan terwujudnya keserasian dan keterpaduan kebijakan (pada suatu daerah, antar daerah,
dan antara kebijakan nasional dan daerah) yang diperlukan untuk mencapai cita-cita dan tujuan bangsa
bernegara secara optimal. Semua itu menimbulkan kesan bahwa kita semua, seluruh unsur aparatur
negara, telah mengabaikan atau melupakan keberadaan kita dan tanggung jawab kita masing-masing
dalam SANKRI.
Dalam menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang demikian kompleks, diperlukan
suatu dasar pendekatan bersama atau paradigma di mana setiap “stakeholders” dapat beranjak, dan
selanjutnya menyusun strategi, program, dan instrumen-instrumen kebijakan untuk menghadapi
masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, bangsa, sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawab
masing-masing dalam SANKRI. Perencana-perencana pembangunan harus siap mengemban tugas itu.
Di samping harus memahami visi tentang masa depan bangsa, peka terhadap perkembangan
lingkungan, memiliki kemampuan dan keariefan dalam pengelolaan perencanaan dan kebijakan publik,
serta komitmen dan integritas tinggi terhadap perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa
bernegara; perencanaan pembangunan di era otonomi dengan muatan desentralisasi yang nyata, luas,
dan bertanggung jawab dewasa ini, dituntut bukan saja harus memiliki kompetensi dalam (a) lingkup
permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya secara baik dan utuh; tetapi juga memahami: (b)
kompleksitas dan dinamika fenomena pembangunan yang dihadapi secara komprehensif, dan (c)
keterkaitan antara “bidang atau wilayah” yang menjadi tanggung jawabnya dengan “bidang-bidang atau
wilayah-wilayah” lainnya secara serasi dan proporsional.. Selain itu juga dituntut untuk memiliki
kemampuan menumbuhkan kreativitas masyarakat; kemampuan interaktif dann kerjasama antar
daerah, lembaga, bahkan antar bangsa; mampu mengembangkan “learning commitment” dan peningkatan
pemberdayaan serta partisipasi masyarakat sesuai bidang tugas masing-masing.
Sebagai catatan penutup perlu sekali lagi ditekankan bahwa perencanaan pembangunan dalam
mengembangkan berbagai langkah kebijakan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi
masyarakat bangsa, dan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa dalam bernegara, baik di pusat
maupun di daerah-daerah, perlu memperhatikan antara lain prinsip-prinsip berikut.1
1
Lihat Mustopadidjaja AR.; “Format Bernegara Menuju Masyarakat Madani”; dalam Administrasi Negara, Demokrasi dan Masyarakat
Madani, LAN-1999, hal 10-16
D:\317533049.doc
Halaman 9
Pertama, demokrasi dan pemberdayaan. Hidupnya demokrasi dalam suatu negara bangsa,
dicerminkan oleh adanya pengakuan dan penghormatan negara atas hak dan kewajiban warga negara,
termasuk kebebasan untuk menentukan pilihan dan mengekspresikan diri secara rasional sebagai wujud
rasa tanggung jawabnya dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa. Dalam pada itu,
aparatur pemerintah dalam mengemban tugas pembangunan, tidak harus berupaya melakukan sendiri,
tetapi mengarahkan ("steering rather than rowing"), atau memilih kombinasi yang optimal antara steering
dan rowing apabila langkah tersebut merupakan cara terbaik untuk mencapai kesejahteraan sosial yang
maksimal. Yang jelas sesuatu yang sudah bisa dilakukan oleh masyarakat, jangan dilakukan oleh
pemerintah. Apabila masyarakat atau sebagian dari mereka belum mampu atau tidak berdaya, maka
harus dimampukan atau diberdayakan (empowered). Pemberdayaan berarti pula memberi peran kepada
masyarakat lapisan bawah di dalam keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan pembangunan.
Dalam rangka memberdayakan masyarakat dalam memikul tanggung jawab pembangunan,
peran pemerintah dapat ditingkatkan antara lain melalui (a) pengurangan hambatan dan kendalakendala bagi kreativitas dan partisipasi masyarakat, (b) perluasan akses pelayanan untuk menunjang
berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat, dan (c) pengembangan program untuk lebih meningkatkan keamampuan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat berperan aktif dalam
memanfaatkan dan mendayagunakan sumber daya produktif yang tersedia sehingga memiliki nilai
tambah tinggi guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Kedua, pelayanan. Upaya pemberdayaan memerlukan semangat untuk melayani masyarakat ("a
spirit of public services"), dan menjadi mitra masyarakat ("partner of society"); atau melakukan kerja sama
dengan masyarakat ("co production"). Hal tersebut memerlukan perubahan perilaku yang antara lain
dapat dilakukan melalui pembudayaan kode etik ("code of ethical conducts") yang didasarkan pada
dukungan lingkungan ("enabling strategy") yang diterjemahkan ke dalam standar tingkah laku yang dapat
diterima umum, dan dijadikan acuan perilaku aparatur pemerintah baik di pusat maupun di daerahdaerah.
Pelayanan berarti pula semangat pengabdian yang mengutamakan efisiensi dan keberhasilan
bangsa dalam membangun, yang dimanifestasikan antara lain dalam perilaku "melayani, bukan dilayani",
"mendorong, bukan menghambat", "mempermudah, bukan mempersulit", "sederhana, bukan berbelitbelit", "terbuka untuk setiap orang, bukan hanya untuk segelintir orang". Makna administrasi publik
sebagai wahana penyelenggaraan pemerintahan negara, yang esensinya "melayani publik", harus benarbenar dihayati para penyelenggara pemerintahan negara.
Ketiga, transparansi dan akuntabilitas. Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, di samping
mematuhi kode etik, aparatur dan sistem manajemen publik harus mengembangkan keterbukaaan
dan sistem akuntabilitas, serta bersikap terbuka untuk mendorong para pimpinan dan seluruh sumber
daya manusia di dalamnya berperan dalam mengamalkan dan melembagakan kode etik dimaksud, serta
dapat menjadikan diri mereka sebagai panutan masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan
pertanggungjawaban kepada masyarakat dan negara.
Upaya pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha, peningkatan partisipasi dan kemitraan,
selain (1) memerlukan keterbukaan birokrasi pemerintah, juga (2) memerlukan langkah-langkah yang
tegas dalam mengurangi peraturan dan prosedur yang menghambat kreativitas dan otoaktivitas mereka,
serta (3) memberi kesempatan kepada masyarakat untuk dapat berperanserta dalam proses penyusu-nan
peraturan kebijakan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan. Pemberdayaan dan keterbukaan
akan lebih mendorong akuntabilitas dalam pemanfaatan sumber daya, dan adanya keputusan-keputusan
pembangunan yang benar-benar diarahkan sesuai prioritas dan kebutuhan masyarakat, serta dilakukan
secara riil dan adil sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakat.
D:\317533049.doc
Halaman 10
Keempat, partisipasi. Masyarakat diikutsertakan dalam proses menghasil-kan public good and
services dengan mengembangkan pola kemitraan dan kebersamaan, dan bukan semata-mata dilayani.
Untuk itulah kemampuan masyarakat harus diperkuat ("empowering rather than serving"), kepercayaan
masyarakat harus meningkat, dan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi ditingkatkan.
Konsep pemberdayaan ("empowerment") juga selalu dikaitkan dengan pendekatan partisipasi
dan kemitraan dalam manajemen pembangunan, dan memberikan penekanan pada desentralisasi
dalam proses pengambilan keputusan agar diperoleh hasil yang diharapkan dengan cara
yang paling efektif dan efisien dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam hubungan ini perlu dicatat
pentingnya peranan keswadayaan masyarakat, dan menekankan bahwa fokus pembangunan yang hakiki
adalah peningkatan kapasitas perorangan dan kelembagaan ("capacity building"). Jangan diabaikan pula
penyebaran informasi mengenai berbagai potensi dan peluang pembangunan nasional, regional, dan
global yang terbuka bagi daerah; serta privatisasi dalam pengelolaan usaha-usaha negara.
Kelima, kemitraan. Dalam membangun masyarakat yang modern di mana dunia usaha menjadi
ujung tombaknya, terwujudnya kemitraan, dan modernisasi dunia usaha terutama usaha kecil dan
menengah yang terarah pada peningkatan mutu dan efisiensi serta produktivitas usaha amat penting,
khususnya dalam pengembangan dan penguasaan teknologi dan manajemen produksi, pemasaran, dan
informasi.
Dalam upaya mengembangkan kemitraan dunia usaha yang saling meng-untungkan antara
usaha besar, menengah, dan kecil, peranan pemerintah ditujukan ke arah pertumbuhan yang serasi.
Pemerintah berperan dalam menciptakan iklim usaha dan kondisi lingkungan bisnis, melalui berbagai
kebijakan dan perangkat perundang-undangan yang mendorong terjadinya kemitraan antarskala usaha
besar, menengah, dan kecil dalam produksi dan pemasaran barang dan jasa, dan dalam berbagai
kegiatan ekonomi dan pembangunan lainnya, serta pengintegrasian usaha kecil ke dalam sektor modern
dalam ekonomi nasional, serta mendorong proses pertumbuhannya. Dalam proses tersebut adanya
kepastian hukum sangat diperlukan.
Keenam, desentralisasi. Dalam Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah, otonomi
dilaksanakan dengan pelimpahan kewenangan yang luas kepada daerah Kabupaten/Kota, dan Daerah
Provinsi berperan lebih banyak dalam pelaksanaan tugas dekonsentrasi, termasuk urusan lintas
Kabupaten/Kota yang memerlukan penyelesaian secara terkoordinasi. Penguatan kelembagaan sangat
diperlukan dalam mewujudkan format otonomi daerah yang baru tersebut, termasuk kemampuan
dalam proses pengambilan keputusan. Ini adalah langkah yang tepat, sebab perubahan-perubahan yang
cepat di segala bidang pembangunan menuntut pengambilan keputusan yang tidak terpusat, tetapi
tersebar sesuai dengan fungsi, dan tangungjawab yang ada di daerah.
Karena pembangunan pada hakekatnya dilaksanakan di daerah-daerah, berbagai kewenangan
yang selama ini ditangani oleh pemerintah pusat, diserahkan kepada pemerintah daerah. Langkahlangkah serupa perlu diikuti pula oleh organisasi-organisasi dunia usaha, khususnya perusahaanperusahaan besar yang berkantor pusat di Jakarta, sehingga pengambilan keputusan bisnis bisa pula
secara cepat dilakukan di daerah. Dengan kata lain desentralisasi perlu juga dilakukan oleh organisasiorganisasi bisnis.
Perbedaan perkembangan antardaerah mempunyai implikasi yang berbeda pada macam dan
intensitas peranan pemerintah, namun pada umumnya masyarakat dan dunia usaha memerlukan (a)
desentralisasi dalam pemberian perizinan, dan efisiensi pelayanan birokrasi bagi kegiatan-kegiatan
dunia usaha di bidang sosial ekonomi, (b) penyesuaian kebijakan pajak dan perkreditan yang lebih
nyata bagi pembangunan di kawasan-kawasan tertinggal, dan sistem perimbangan keuangan pusat dan
daerah yang sesuai dengan kontribusi dan potensi pembangu-nan daerah, serta (c) ketersediaan dan
D:\317533049.doc
Halaman 11
kemudahan mendapatkan informasi mengenai potensi dan peluang bisnis di daerah dan di wilayah
lainnya kepada daerah di dalam upaya peningkatan pembangunan daerah.
Ketujuh, konsistensi kebijakan, dan kepastian hukum. Tegaknya hukum yang berkeadilan
merupakan jasa pemerintahan yang terasa teramat sulit diwujudkan, namun mutlak diperlukan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, justru di tengah kemajemukan, berbagai ketidak
pastian perkembangan lingkungan, dan menajamnya persaingan. Peningkatan dan efisiensi nasional
membutuhkan penyesuaian kebijakan dan perangkat perundang-undangan, namun tidak berarti harus
mengabaikan kepastian hukum. Adanya kepastian hukum merupakan indikator professionalisme dan
syarat bagi kredibilitas pemerintahan, sebab bersifat vital dalam penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan, serta dalam pengembangan hubungan internasional. Tegaknya kepastian hukum juga
mensyaratkan kecermatan dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan. Sebab berbagai
kebijak-sanaan publik tersebut pada akhirnya harus ditungkan dalam sistem perundang-undangan
untuk memiliki kekuatan hukum, dan harus mengandung kepastian hukum.
Dalam era globalisasi, dalam ekonomi yang makin terbuka, meskipun untuk meningkatkan
efisiensi perekonomian harus makin diarahkan kepada ekonomi pasar, namun intervensi pemerintah
harus menjamin bahwa persaingan berjalan dengan berimbang, dan pemerataan terpelihara. Yang
terutama harus dicegah terjadinya proses kesenjangan yang makin melebar, karena kesempatan yang
muncul dari ekonomi yang terbuka hanya dapat dimanfaatkan oleh wilayah, sektor, atau golongan
ekonomi yang lebih maju. Peranan pemerintah makin dituntut untuk lebih dicurahkan pada upaya
pemerataan. Penyelenggara pemerintahan negara harus mempunyai komitmen yang kuat kepada
kepentingan rakyat, kepada cita-cita keadilan sosial.
Untuk itu, keserasian dan keterpaduan antar berbagai kebijakan pemba-ngunan harus
diupayakan baik pada tingkat nasional maupun daerah. Pengentasan kemiskinan, kesenjangan,
peningkatan kualitas sumber daya manusia pembangu-nan, dan pemeliharaan prasarana dasar, serta
peningkatan kuantitas, kualitas, dan diversifikasi produksi yang berorientasi ekspor ataupun yang dapat
mengurangi impor harus pula dijadikan prioritas dalam agenda kebijakan pembangunan nasional dan
daerah. Upaya mendasar di bidang industri dan perdagangan perlu mendapatkan perhatian khusus, dan
diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi dan daya saing, agar memberikan dampak positif dalam
persaingan global yang juga berlangsung di tengah kehidupan masyarakat kita di seluruh wilayah tanah
air.
Pemerintah melalui berbagai perangkat kebijakan makro ekonomi yang tepat, dan berbagai
kebijakan lainnya di sektor riil, disertai pembenahan kelembagaan yang mantap akan dapat mendorong
peningkatan efisiensi, produktivitas, pemerataan alokasi dan pemanfaatan sumber daya ekonomi. Selain
itu, melalui kebijakan anggaran, aparatur pemerintah harus dapat mengarahkan dan memperlancar
aliran sumber daya untuk mendorong pemberdayaan, pemerataan dan pertumbuhan, penguasaan iptek,
dan pengembangan sistem manajemen modern seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya
manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya berbagai upaya ini perlu dilakukan secara mantap untuk memperkuat daya saing
ekonomi nasional, mendorong demokratisasi kehidupan perekonomian, memantapkan stabilitas
nasional yang dinamis, memperkokoh posisi neraca pembayaran, meningkatkan ketahanan nasional dan
daya saing perekonomian bangsa dalam arena persaingan duniaï‚¡
D:\317533049.doc
Halaman 12
Download