Tanggung jawab profesi sebagai diplomat

advertisement
Tanggung jawab profesi sebagai
diplomat
Kuliah 1, 11 Oktober 2008
Oleh : Harry P. Haryono
(Dutabesar LBBP RI untuk Portugal 2000-2004)
From the desk of H.P.Haryono
Pendahuluan
Berbeda dengan profesi lain seperti Hakim, Jaksa, Advokat,
Arbiter, Mediator, Notaris atau Konsultan Hukum Pasar Modal
yang dilakukan didalam negeri, profesi diplomat pada
umumnya dilakukan di luar negeri meskipun juga di dalam
negeri. Namun tidak berarti bahwa fungsi diplomat di luar
negeri tidak ada kaitannya dengan hukum, justru sebaliknya
banyak sekali berhubungan dengan masalah hukum. Apabila
di awal kemerdekaan kebanyakan diplomat kita berpendidikan
Meester in de Rechten ( SH), maka sekarang untuk menjadi
diplomat tidak harus sarjana hukum melainkan bisa dari
berbagai disiplin pendidikan yang lain, seperti sarjana sospol,
ekonomi, sastra bahkan juga teknik dan pertanian.
From the desk of H.P.Haryono
Apakah diplomasi itu ?
a.
b.
c.
d.
e.
Diplomasi sering diartikan dengan beberapa
pengertian :
politik luar negeri
perundingan
proses dan perlengkapan perundingan
kemlu atau dinas lugri
ketrampilan berunding/bersilatlidah
From the desk of H.P.Haryono
Namun demikian ada beberapa definisi atau
batasan, a.l.
a. Menurut Peraturan Menteri PAN no PER/87/
M.PAN/8/2005 dan Konvensi Wina tentang
Hubungan Diplomatik,1961:
1. representing
2. negotiating
3. protecting
4. promoting
5. reporting
From the desk of H.P.Haryono
b. Oxford English Dictionary : “Diplomacy is the
management of international relations by
negotiation; the method by which these relations are
adjusted and managed by ambassadors and envoys,
the business or art of the diplomatist” ;
c. Sir Ernest Satow (mantan Dubes Inggris dan Kepala
Departemen Perjanjian Internasional, FCO) :
“Diplomacy is the application of intelligence and tact
to the conduct of official relations between the
government of independence States”.
From the desk of H.P.Haryono
d. R.P. Barston (Profesor Universitas Cardiff, mantan
pejabat FCO) : “Diplomacy is concerned with the
management of relations between States and
between States and other actors. From a state
perspective diplomacy is concerned with advising,
shaping and implementing foreign policy. As such it is
the means by which states through their formal and
other representatives, as well as other actors,
articulate, coordinate and secure particular or wider
interests, using correspondence, private talks,
exchange of views, lobbying, visits, threats and other
related activities”.
From the desk of H.P.Haryono
e. G.R.Berridge (Profesor Universitas Leceister) :
Diplomacy is the conduct of international
relations by negotiation rather than by force,
propaganda, or recourse to law, and by other
peaceful means (such as gathering
information or engendering goodwill which
are either directly or indirectly designed to
promote negotiation”.
From the desk of H.P.Haryono
Siapakah diplomat ?
• Diplomat adalah seorang Pejabat Dinas Luar
Negeri yang diberi tugas, tanggung jawab,
wewenang dan hak secara penuh oleh
Menteri Luar Negeri untuk melakukan
kegiatan diplomatik (Pasal 1.1, Permenpan no
PER/87/M.PAN/8/2005)
From the desk of H.P.Haryono
Pejabat Dinas Luar Negeri
Adalah Pegawai Negeri Sipil yang telah mengikuti
pendidikan dan latihan khusus untuk bertugas di
Departemen Luar Negeri dan Perwakilan Republik
Indonesia
(UU no 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar
Negeri, Peraturan Menpan PER/87/ M.PAN/8/2005)
Pendidikan berjenjang Departemen Luar Negeri
terdiri dari Sekdilu, Sesdilu dan Sesparlu.
From the desk of H.P.Haryono
Jenjang jabatan dan pangkat/gelar
diplomatik
• Diplomat Pertama : Atase/Gol.III/a ; Sekretaris
III/Gol.III/b.
• Diplomat Muda : Sekretaris II/Gol.III/c ;
Sekretaris I/Gol. III/d.
• Diplomat Madya : Counsellor/Gol/IV/a ;
Minister Counsellor/Gol. IV/b ; Minister/
Gol.IV/c.
• Diplomat Utama : Dutabesar/Gol.IV/d ;
Dutabesar/Gol.IV/e
From the desk of H.P.Haryono
Apakah tugas diplomat?
• Representing adalah mewakili Negara Republik
Indonesia secara keseluruhan di negara penerima
dan/atau organisasi internasional ;
• Negotiating adalah memperjuangkan kepentingan
bangsa, negara dan Pemerintah Indonesia melalui
pendekatan dan perundingan dgn negara penerima
dan organisasi internasional ;
• Protecting adalah melindungi kepentingan Negara
dan pemerintah Indonesia, warganegara Indonesia
dan badan hukum Indonesia ;
From the desk of H.P.Haryono
• Promoting adalah meningkatkan kerjasama
antara Indonesia dengan negara penerima
atau organisasi internasional di segala bidang
yang bermanfaat bagi kepentingan nasional ;
• Reporting adalah melakukan pelaporan atas
hasil pelaksanaan tugas, pengamatan dan
analisis di bidang politik, keamanan, ekonomi,
sosial budaya di negara penerima atau
organisasi internasional.
From the desk of H.P.Haryono
Tanggungjawab seorang sarjana hukum
sebagai diplomat
Tergantung di unit mana dia ditugaskan :
Departemen Luar Negeri : Di berbagai unit kerja baik
operasional (Direktorat Jenderal) maupun
pendukung (Sekretariat Jenderal, Inspektorat
Jenderal dan Badan Pengkajian& Pengem bangan
Kebijakan) dan lebih khusus lagi ada Direktorat
Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional yang
menangani masalah hukum dan perjanjian
internasional dan bertindak sebagai legal adviser dari
Pemerintah RI dan Direktorat Perlindungan WNI dan
BHI, Direktorat Konsuler dan Direktorat Fasilitas
Diplomatik.
From the desk of H.P.Haryono
Perwakilan Republik Indonesia :
1. bilateral di negara penerima, baik pada
tingkat Kedutaan Besar, Konsulat Jenderal
maupun Konsulat ;
2. multilateral di Organisasi Internasional
seperti Perwakilan Tetap RI pada PBB di New
York, Geneva dsb.
From the desk of H.P.Haryono
Fungsi diplomat sebagai Legal Adviser
Pemerintah RI
Legal adviser Pemerintah disini adalah Direktorat
Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional
Departemen Luar Negeri.
Direktorat ini berdasarkan UU no 24 tahun 2000 a.l.
mengendalikan semua perjanjian internasional yang
dilakukan oleh pemerintah RI baik di tingkat pusat
dan daerah ; mengkoordinasikan kegiatan
pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional
yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia dengan
negara lain dan Organisasi Internasional
From the desk of H.P.Haryono
Tugas diplomat di bidang Konsuler
Antara lain adalah :
1. legalisasi dokumen, seperti akta kelahiran, kematian,
perkawinan, kutipan akta nikah, akte notaris, surat kelakuan
baik, ijazah, surat keterangan dokter, SIM,Bill of lading,
Certificate of origin, surat kuasa dsb ;
2. fungsi cacatan sipil yaitu membuat akta kelahiran anak2
WNI yang lahir di luar negeri;
3. melindungi WNI di negara penerima;
4. menangani masalah visa, paspor, perijinan bagi
penerbangan dan pelayaran dsb.
From the desk of H.P.Haryono
Pegangan para diplomat
• Di samping berpegang pada peraturan perundang2an yang berlaku untuk
pegawai negeri sipil dan juga UU no 37 tahun 1999 dan UU no 24 tahun
2000, para diplomat Indonesia juga berpegang pada Konvensi2 Wina yang
sudah diratifikasi oleh Indonesia melalui UU no 1 dan 2 tahun 1982;
• Di Indonesia belum ada kode etik untuk para diplomat yang seyogyanya
dibuat oleh Organisasi Para Diplomat sehingga akan lebih obyektif
pendapatnya dan dapat digunakan sebagai masukan bagi pimpinan Deplu
untuk menjatuhkan sanksi jika terjadi pelanggaran oleh para diplomat.
Sayangnya organisasi profesi ini belum pernah terbentuk hingga jaman
reformasi ini.
• Namun demikian di Departemen Luar Negeri sudah ada rancangan
Peraturan Menteri Luar Negeri yang akan mengatur mengenai kode etik
para diplomat.
From the desk of H.P.Haryono
Pentingnya Konvensi Wina 1961 (Hub Diplo)
dan 1963 (Hub.Kons) :
• Indonesia belum mempunyai peraturan perundangan nasional
yang mengatur secara komprehensif kaidah hukum baru yang
dimuat dalam konvensi2 Wina tersebut, sehingga tidak
dimengerti oleh para penegak hukum di tanah air, hakim,
jaksa, polisi serta pejabat2 Ditjen Imigrasi, Ditjen Pajak dan
Ditjen Beacukai) jika harus menangani masalah privileges dan
immunities di Indonesia dan ini menimbulkan hal2 yang
merugikan kepentingan nasional (contoh kasus) ;
• Karena itu harus menjadi prioritas bagi Deplu untuk
menyusunnya.
From the desk of H.P.Haryono
Privileges dan Immunities bagi
diplomat RI di luar negeri
• Diplomat RI di luar negeri memperoleh privileges dan
immunities dalam menjalankan tugasnya di negara penerima
berdasarkan hukum internasional yang berlaku, namun tidak
berarti dia boleh melanggar hukum negara penerima ;
• Oleh karena itu apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan
oleh para diplomat di luar negeri, Deplu bisa mengenakan
sanksi kepada ybs.
• Pada dasarnya tujuan diberikannya privileges dan immunities
bukanlah untuk kepentingan pribadi namun untuk
memperlancar tugas2nya mewakili negara.
From the desk of H.P.Haryono
Diplomat melakukan kesalahan dan
pelanggaran ?
Diplomat bisa diberhentikan dan dibebaskan
sementara dari tugasnya jika:
a. selama 2 th berturut2 mendapat nilai SKI
cukup atau kurang;
b. dijatuhi hukuman disiplin tingkat
sedang/berat berupa penurunan pangkat;
c. diberhentikan sementara sbg PNS.
From the desk of H.P.Haryono
Terimakasih, kita istirahat 15 menit sebelum kita
lanjutkan lagi
• Apabila ada pertanyaan lebih lanjut dapat
dikirim melalui email :
[email protected] atau
[email protected] atau
[email protected] dan
• HP : 0817 6055 740 atau 0813 1579 7227
From the desk of H.P.Haryono
Tanggungjawab profesi sebagai diplomat
Kuliah 2, 11 Oktober 2008
Oleh :
Harry P. Haryono
From the desk of H.P.Haryono
Departemen Luar Negeri
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Sekretariat Jenderal
Ditjen Aspasaf
Ditjen Amerop
Ditjen Kerjasama ASEAN
Ditjen Multilateral
Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional
Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik
Ditjen Protokol dan Konsuler
Inspektorat Jenderal
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan
Staf Ahli
From the desk of H.P.Haryono
Direktorat Jenderal Hukum dan
Perjanjian Internasional
• mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan
dan standardisasi teknis di bidang hukum dan perjanjian
internasional ;
• dalam melaksanakan tugasnya Ditjen menyelenggarakan
fungsi2 sbb :
1) penyiapan kebijakan di bidang hukum dan perjanjian
internasional ;
2) penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan
prosedur di bidangnya ;
3) pemberian bimbingan teknis dan evaluasi ;
4) pelaksanaan administrasi Ditjen.
From the desk of H.P.Haryono
Susunan Ditjen Hukum dan Perjanjian
Internasional
•
•
•
•
Direktur Jenderal ;
Sekretaris Ditjen ;
Direktur Hukum ;
Direktur Perjanjian Politik Keamanan dan
Kewilayahan ;
• Direktur Perjanjian Ekonomi dan Sosial
Budaya.
From the desk of H.P.Haryono
Direktorat Jenderal Protokol an
Konsuler
•
•
•
•
•
•
Direktur Jenderal
Kepala Sekretariat Ditjen
Direktur Protokol
Direktur Konsuler
Direktur Fasilitas Diplomatik
Direktur Perlindungan WNI dan BHI
From the desk of H.P.Haryono
Perwakilan RI di Luar Negeri
•
•
•
•
•
Kedutaan Besar RI
Perwakilan Tetap RI pada Organisasi Internasional
Konsulat Jenderal RI
Konsulat RI
(Catatan : di samping wakil/pejabat Pemerintah RI
terdapat pula Konsul Jenderal Kehormatan dan
Konsul Kehormatan RI yang diangkat dari
warganegara setempat atau warganegara lain atas
biaya mereka sendiri)
From the desk of H.P.Haryono
Jabatan struktural Deplu dan jabatan fungsional
di Perwakilan RI
• Di Departemen Luar Negeri seperti halnya di
departemen lainnya terdapat jabatan struktural dari
Eselon 1 (Sekjen, Irjen, Dirjen), Eselon 2 (Kepala
Biro,Direktur), Eselon 3 (Kabag, Kasubdit) dan Eselon
4 (Kasi, Kasubag) ;
• Di Perwakilan RI tak ada jabatan struktural namun
jabatan fungsional. Di samping Kepala perwakilan
(Dubes, Konjen. Konsul) hanya ada seorang Head of
Chancery dan sejumlah diplomat fungsional sesuai
dengan tugas masing2 dan pejabat non-diplomatik
yang menangani masalah administrasi keuangan.
From the desk of H.P.Haryono
Perwakilan RI yang ditetapkan sebagai “Hardship
posts”
• Di masa yang lampau terdapat beberapa perwakilan
RI yang ditetapkan sebagai “hardship posts”, yaitu
perwakilan RI yang dianggap sulit karena faktor
keamanan maupun kesejahteraan, misalnya Hanoi di
masa yang lalu, demikian juga PNG dan Ethiopia.
• Bagi diplomat yang ditempatkan disini umumnya
penempatannya minimal hanya 2 tahun kemudian
dipindahkan ke perwakilan lain yang bukan hardship
post.
From the desk of H.P.Haryono
Belum ada kode etik bagi diplomat
Indonesia
• Hingga kini belum ada peraturan atau ketentuan
yang mengatur tentang kode etik bagi diplomat
Indonesia. Namun demikian karena diplomat
Indonesia adalah PNS, maka harus mematuhi
peraturan dan ketentuan yang berlaku bagi PNS,
khususnya “PP no 30 tahun 1980 tentang Peraturan
Disiplin Pegawai Negeri Sipil” di samping itu juga
mematuhi ketentuan hukum internasional yang
berlaku bagi kalangan diplomatik, yaitu Konvensi2
Wina mengenai hubungan diplomatik, hubungan
konsuler serta misi khusus.
From the desk of H.P.Haryono
• Kementerian Luar Negeri sudah memiliki
rancangan keputusan Menlu mengenai kode
etik yang masih dalam pembahasan dan jika
sudah tuntas akan menjadi kode etik yang
berlaku bagi diplomat Indonesia.
• Butir-butir yang penting mengenai kode etik
yang perlu untuk diplomat akan dijelaskan dan
mudah-mudahan akan menjadi kode etik di
masa yad.
From the desk of H.P.Haryono
Nilai nilai dasar bagi Diplomat
Indonesia
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
ketaqwaan kepada Tuhan YME ;
kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan UUD 1945 ;
memiliki semangat nasionalisme ;
mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau
golongan ;
menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah dan martabat Pegawai
Negeri Sipil;
ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan ;
menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia ;
kejujuran, profesionalisme, dan moral yang tinggi ;
netral dan tidak diskriminatif ;
memiliki semangat Jiwa Korsa yang tinggi.
From the desk of H.P.Haryono
Kode etik Diplomat Indonesia
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Dalam melaksanakan tugas kedinasan dan
kehidupan sehari-hari setiap Diplomat Indonesia
wajib bersikap dan berpedoman pada :
Etika dalam bernegara ;
Rtika dalam menjalankan tugas ;
Etika dalam berorganisasi ;
Etika dalam bermasyarakat ;
Etika terhadap diri sendiri ;
Etika terhadap sesama Diplomat atau Pegawai
Negeri Sipil.
From the desk of H.P.Haryono
Penegakan kode etik
• Diplomat Indonesia yang melakukan pelanggaran
Kode Etik dikenakan sanksi moral ;
• Sanksi moral ini dibuat secara tertulis oleh Menlu ;
• Sanksi berupa pernyataan tertutup atau terbuka;
• Pelanggaran kode etik yang dilakukan Diplomat
dinyatakan jenisnya ;
• Selain sanksi moral dapat dikenakan tindakan
administratif sesuai dgn peraturan perundangundangan atas rekomendasi Majelis kode Etik.
From the desk of H.P.Haryono
Majelis Kode Etik
• Akan ditetapkan oleh Menlu
• Terdiri dari seorang Ketua merangkap Anggota;
seorang Sekretaris merangkap Anggota; dan
sekurang-kurangnya 3 orang Anggota;
• Dalam hal Anggota Majelis Kode Etik lebih dari 5
orang, maka jumlahnya harus ganjil.
• Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode etik tidak
boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat PNS
yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik.
From the desk of H.P.Haryono
Majelis Kode Etik
• Keputusannya bersifat final dan diambil secara
musyawarah mufakat, setelah memeriksa Diplomat
Indonesia yang disangka melanggar kode etik ; ybs
diberi kesempatan membela diri ; apabila tidak
tercapai musyawarah mufakat keputusan diambil dgn
suara terbanyak ;
• MKE sampaikan keputusannya kepada pejabat yang
berwenang sebagai bahan dalam memberikan sanksi
moral dan/atau sanksi lainnya kepada Diplomat yang
bersangkutan.
From the desk of H.P.Haryono
Download