Uploaded by triamonica1404

Makalah Etnofarmasi: Pengobatan Tradisional Etnis Sumatera

advertisement
MAKALAH ETNOFARMASI
ANALISIS SISTEM PENGOBATAN TRADISIONAL PADA
MASYARAKAT ETNIS SUMATERA: KAJIAN ETNOBOTANI DAN
ETNOFARMASI PADA ETNIS BATAK MANDAILING,BATAK KARO,
BATAK TOBA, MELAYU, DAN MINANGKABAU
Dosen Pengampu :
apt. Nina Irmayanti Harahap,S.Farm.,M.Si
Disusun Oleh:
Kelompok 7
Dinda Winata Simanjuntak
Erwin Marbun
Mardiah Aini
Nurhaliza
Suci Hidayah
Triya Monica Permadi
(23.18.048)
(23.18.057)
(23.18.089)
(23.18.126)
(23.18.164)
(23.18.174)
PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM SARJANA
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA DELI TUA
T.A 2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Analisis Sistem Pengobatan
Tradisional pada Masyarakat Etnis Sumatera: Kajian Etnobotani dan Etnofarmasi
pada Etnis Batak Mandailing, Batak Toba, Melayu, Minangkabau, dan Karo” dapat
diselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Etnofarmasi pada Program Studi Sarjana Farmasi.
Makalah ini membahas sistem pengobatan tradisional pada beberapa etnis di
Sumatera, meliputi jenis tanaman obat, bentuk ramuan tradisional, cara pengolahan,
serta faktor budaya, sosial, dan lingkungan yang memengaruhi pemanfaatannya.
Pembahasan disusun berdasarkan berbagai jurnal penelitian dan referensi ilmiah
yang relevan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah
wawasan bagi pembaca, khususnya dalam bidang etnofarmasi.
Delitua,21 September 2025
Kelompok 7
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................... ………1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................. 3
1.4 Manfaat ........................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................ 4
2.1 Konsep Sistem Pengobatan Tradisional ......................................... 4
2.2 Gambaran Umum Masyarakat Etnis Sumatera .............................. 6
2.3 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Batak Mandailing ............... 8
2.3.1 Tanaman Obat Batak Mandailing ........................................... 8
2.3.2 Analisis Etnofarmasi Batak Mandailing ................................. 9
2.4 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Batak Karo ........................ 10
2.4.1 Tanaman Obat Batak Karo ................................................... 11
2.4.2 Analisis Etnofarmasi Etnis Karo .......................................... 12
2.5 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Batak Toba ....................... 13
2.5.1 Tanaman Obat Etnis Batak Toba .......................................... 15
2.5.2 Analisis Farmakologi Tanaman Zingiberaceae .................... 16
2.6 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Melayu .............................. 16
2.6.1 Tanaman Obat Etnis Melayu ................................................ 17
2.7 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Minangkabau .................... 19
2.7.1 Tanaman Obat Etnis Minangkabau ...................................... 20
2.7.2 Ramuan Tradisional Ureh Nan Ampek ................................ 21
2.8 Faktor yang Memengaruhi Pengobatan Tradisional .................... 21
2.8.1 Faktor Budaya ....................................................................... 21
2.8.2 faktor social .......................................................................... 22
2.8.3 Faktor Lingkungan ............................................................... 23
2.9 Analisis Pengobatan Tradisional dari Perspektif Farmasi ............ 24
ii
2.9.1 Kandungan Senyawa Aktif Tanaman ................................... 24
2.9.2 Potensi sebagai Obat Herbal ................................................. 24
2.9.3 Khasiat Berdasarkan Penelitian ............................................ 25
2.9.4 Keamanan Penggunaan......................................................... 25
2.9.5 Interaksi Obat Herbal dan Obat Modern .............................. 25
2.9.6 Peran Farmasis dalam Edukasi Masyarakat ......................... 26
2.9.7 Standarisasi Obat Tradisional ............................................... 26
BAB III PENUTUP ...................................................................... 27
3.1 Kesimpulan ................................................................................... 27
3.2 Saran ............................................................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA ................................................................... 29
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati dengan sekitar 30.000 spesies
tumbuhan, yang 90% di antaranya berpotensi sebagai obat. Di tingkat Asia, terdapat
940 jenis tanaman obat tradisional, tetapi baru 120 spesies yang terdaftar secara
resmi dalam Materia Medica Indonesia. Penggunaan tanaman herbal sebagai
alternatif pengobatan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia
lintas generasi dan usia, mulai dari bayi hingga dewasa (Indrayani & Shakila,
2025).
Pengobatan tradisional merupakan metode penyembuhan yang didasarkan
pada pengetahuan, keterampilan, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun
dalam masyarakat. Metode ini mencakup penggunaan ramuan herbal dan
keterampilan terapis yang dianggap lebih holistik, aman, dan ekonomis
dibandingkan pengobatan modern. Persepsi masyarakat terhadap pengobatan
tradisional dipengaruhi oleh budaya, kepercayaan, pendidikan, akses layanan
kesehatan, dan pengalaman pribadi. Pengobatan tradisional adalah hasil dari
pengumpulan pengetahuan, keterampilan, dan praktik yang didasarkan pada
berbagai teori, kepercayaan, dan pengalaman yang berkembang dalam berbagai
kebudayaan. Metode ini bertujuan untuk mempertahankan kesehatan fisik dengan
menjaga kondisi fisik dan mental serta menentukan dan mengobati berbagai
penyakit. Penggunaan tanaman obat lebih banyak digunakan dalam pengobatan
tradisional dibandingkan bahan hewani (Andini et al., 2025).
Pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari kearifan lokal karena
mencakup pengetahuan turun-temurun masyarakat dalam memanfaatkan sumber
daya alam dan ramuan lokal untuk menjaga kesehatan serta merawat penyakit.
Praktik ini bukan sekadar alternatif medis, melainkan sebuah manifestasi budaya
yang mengakar kuat pada identitas suatu komunitas dalam menyelaraskan
kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Melalui uji coba empiris selama
berabad-abad, masyarakat adat mampu mengidentifikasi khasiat berbagai tanaman
obat, akar-akaran, hingga ritual penyembuhan spesifik yang terbukti efektif bagi
komunitas mereka. Di era modern ini, pelestarian sistem pengobatan tradisional
menjadi krusial bukan hanya untuk menjaga ketahanan dan kemandirian kesehatan
secara mandiri di tingkat lokal, tetapi juga sebagai fondasi penting bagi
pengembangan farmasi berbasis keanekaragaman hayati yang berkelanjutan
(Indrayani & Shakila, 2025).
Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki
keanekaragaman etnis dan budaya yang sangat tinggi. Secara umum, masyarakat
Sumatera didominasi oleh rumpun Melayu yang terbagi menjadi berbagai suku dan
subsuku, serta dihuni oleh etnis besar lainnya seperti Batak, Minangkabau, Aceh,
Karo, Nias, Lampung, Rejang, Komering, Gayo, Jawa, hingga etnis Tionghoa dan
India yang banyak bermukim di wilayah pesisir maupun kota-kota besar.
Keanekaragaman etnis tersebut melahirkan berbagai pengetahuan tradisional yang
berbeda, termasuk dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pengobatan.
Tradisi pengobatan pada setiap masyarakat tidak terlepas dari budaya, lingkungan,
serta pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun sehingga menghasilkan
variasi jenis tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan, serta cara pengolahan
yang khas di setiap daerah (Bauran et al., 2026).
Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan sumber daya
hayati yang melimpah, salah satunya berupa tumbuhan obat yang telah lama
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit.
Pemanfaatan tumbuhan obat menjadi bagian penting dalam kajian etnobotani, yaitu
ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan tumbuhan dalam konteks
budaya dan kehidupan masyarakat. Etnobotani tidak hanya berperan dalam
mendokumentasikan pengetahuan lokal mengenai tumbuhan obat, tetapi juga
memiliki kontribusi penting dalam konservasi flora, pelestarian kearifan lokal,
ketahanan pangan, serta pengembangan obat herbal berbasis sumber daya alam
(Bauran et al., 2026).
Kajian etnobotani di beberapa daerah di Sumatera menunjukkan bahwa
masyarakat masih memanfaatkan berbagai tumbuhan obat secara tradisional, dan
sebagian besar berasal dari famili Zingiberaceae karena mudah dibudidayakan di
pekarangan rumah serta memiliki banyak manfaat sebagai bahan obat maupun
rempah. Keanekaragaman etnis dan kekayaan pengetahuan tradisional tersebut
menjadikan Pulau Sumatera sebagai wilayah yang memiliki potensi besar dalam
pengembangan penelitian etnobotani tumbuhan obat. Dokumentasi dan kajian
terhadap pemanfaatan tumbuhan obat pada berbagai etnis di Sumatera penting
dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal, mendukung konservasi
keanekaragaman hayati, serta menjadi dasar dalam pengembangan obat tradisional
dan fitofarmaka yang berbasis potensi sumber daya alam Indonesia (Bauran et al.,
2026).
Pengobatan tradisional merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat
Indonesia yang memanfaatkan tumbuhan sebagai upaya pencegahan maupun
pengobatan berbagai penyakit. Pengetahuan mengenai jenis tumbuhan obat, bagian
yang digunakan, cara pengolahan, serta aturan penggunaannya diwariskan secara
turun-temurun berdasarkan pengalaman dan budaya masyarakat setempat.
Hubungan antara masyarakat dengan tumbuhan tersebut dikaji dalam ilmu
etnobotani, yaitu bidang yang mempelajari interaksi manusia dengan tumbuhan
dalam konteks budaya, pemanfaatan, dan lingkungan. Sementara itu, etnofarmasi
atau etnofarmakologi berperan menjembatani pengetahuan pengobatan tradisional
dengan pendekatan ilmiah melalui identifikasi, karakterisasi, dan validasi senyawa
aktif tumbuhan obat sehingga khasiat yang telah digunakan secara empiris dapat
dibuktikan secara ilmiah. Dengan demikian, etnobotani menjadi dasar dalam
mendokumentasikan pengetahuan lokal, sedangkan etnofarmasi berkontribusi
dalam pengembangan obat herbal berbasis bukti (evidence-based herbal medicine)
tanpa mengabaikan nilai budaya yang melatarbelakangi praktik pengobatan
tradisional masyarakat (Putri et al., 2026).
2
Pengkajian sistem pengobatan tradisional dari perspektif farmasi menjadi
penting karena pengobatan tradisional tidak hanya merupakan warisan budaya,
tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber pengembangan obat modern.
Berbagai tumbuhan obat telah diketahui mengandung senyawa bioaktif yang
memiliki aktivitas farmakologis sehingga berpeluang dikembangkan menjadi obat
herbal terstandar maupun fitofarmaka. Namun, pemanfaatan pengobatan tradisional
masih menghadapi berbagai tantangan, seperti belum meratanya standardisasi mutu
bahan baku, keterbatasan bukti ilmiah mengenai keamanan dan efektivitas, potensi
efek samping serta interaksi obat, dan belum optimalnya regulasi terhadap produk
obat tradisional yang beredar. Dalam ilmu farmasi, kajian terhadap pengobatan
tradisional diperlukan untuk memastikan kualitas, keamanan, khasiat, dan
formulasi sediaan obat melalui penelitian praklinik, uji klinik, standardisasi, serta
pengawasan yang berbasis bukti ilmiah. Oleh karena itu, pendekatan farmasi
berperan penting dalam menjembatani pengetahuan empiris masyarakat dengan
pengembangan obat tradisional yang aman, efektif, dan dapat diintegrasikan ke
dalam sistem pelayanan kesehatan modern (Suci & Dioso, 2024).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud sistem pengobatan tradisional pada masyarakat etnis
Sumatera?
2. Bagaimana sistem pengobatan tradisional pada etnis Sumatera dan Apa saja
tanaman obat dan bentuk ramuan tradisional pada masing-masing etnis?
3. Faktor apa saja yang memengaruhi penggunaan pengobatan tradisional pada
masyarakat etnis Sumatera?
4. Bagaimana analisis sistem pengobatan tradisional dari perspektif etnofarmasi?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dilakukan praktik lapangan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menjelaskan sistem pengobatan tradisional masyarakat etnis Sumatera.
2. Untuk mengidentifikasi tanaman obat pada setiap etnis dan menjelaskan
bentuk ramuan atau produk tradisional.
3. Untuk menganalisis faktor budaya, sosial, dan lingkungan.
4. Untuk menjelaskan peran farmasi dalam pengobatan tradisional.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dilakukan praktik lapangan ini adalah sebagai berikut :
1. Agar dapat menjelaskan sistem pengobatan tradisional masyarakat etnis
Sumatera.
2. Agar dapat mengidentifikasi tanaman obat pada setiap etnis dan dapat
menjelaskan bentuk ramuan atau produk tradisional.
3. Agar dapat menganalisis faktor budaya, sosial, dan lingkungan.
4. Agar menjelaskan peran farmasi dalam pengobatan tradisional.
3
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Sistem Pengobatan Tradisional
Penggunaan obat tradisional masih digemari masyarakat. Sebagian masyarakat
yang menggunakan obat tradisional menganggap bahwa obat tradisional lebih
aman dibandingkan obat-obatan kimia, serta lebih murah harganya. Sebanyak 40%
penduduk Indonesia menggunakan obat tradisional dan sebanyak 70% berada di
daerah pedesaan sekitar 59,12% penduduk Indonesia pernah mengkonsumsi jamu
dan sebanyak 95,6% diantaranya merasakan jamu berkhasiat dalam meningkatkan
kesehatan (Rahmasiah dkk, 2024).
Pengobatan tradisional merupakan metode pengobatan yang telah digunakan
secara turun-temurun oleh masyarakat sejak zaman dahulu sebagai bagian dari
warisan budaya dalam menjaga dan memulihkan kesehatan. Pengobatan ini
memanfaatkan bahan atau ramuan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral,
sediaan sarian (galenik), maupun campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara
empiris telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dan diterapkan sesuai
dengan norma yang berlaku di masyarakat. Di Indonesia, praktik pengobatan
tradisional berkembang seiring dengan melimpahnya sumber daya alam yang
memiliki khasiat obat, sehingga masyarakat memanfaatkan tanaman di sekitar
lingkungan sebagai alternatif pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.
Pengetahuan mengenai penggunaan pengobatan tradisional diwariskan dari
generasi ke generasi berdasarkan pengalaman dan kepercayaan masyarakat,
sehingga menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dipertahankan
hingga saat ini (Rahmasiah dkk, 2024).
Pengobatan tradisional dan pengobatan modern merupakan dua pendekatan
kesehatan yang masih digunakan secara berdampingan oleh masyarakat Indonesia.
Pengobatan tradisional umumnya dipandang sebagai pengobatan yang
memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti tumbuhan, hewan, dan mineral, serta
didasarkan pada pengalaman empiris dan pengetahuan yang diwariskan secara
turun-temurun. Sebaliknya, pengobatan modern dikembangkan melalui penelitian
ilmiah dengan dukungan teknologi farmasi, sehingga setiap obat harus melalui
tahapan uji praklinik, uji klinik, standardisasi dosis, serta pengawasan mutu
sebelum digunakan dalam pelayanan kesehatan. Perbedaan tersebut tidak hanya
terletak pada asal bahan dan proses pembuatannya, tetapi juga pada dasar
pembuktian keamanan, efektivitas, dan aturan penggunaannya. Meskipun
demikian, masih banyak masyarakat yang membedakan kedua jenis pengobatan
berdasarkan anggapan bahwa pengobatan tradisional lebih alami dan aman,
sedangkan pengobatan modern lebih cepat memberikan efek terapi karena telah
teruji secara ilmiah. Perbedaan persepsi ini menunjukkan pentingnya pemahaman
yang lebih komprehensif mengenai karakteristik masing-masing sistem pengobatan
agar penggunaannya dapat dilakukan secara tepat, aman, dan rasional (Mustapa et
al., 2025).
Pengobatan tradisional dan pengobatan modern memiliki perbedaan mendasar
dalam sumber pengetahuan, pendekatan terapi, dan proses pembuktian ilmiahnya.
Menurut World Health Organization (WHO), pengobatan tradisional merupakan
sistem pelayanan kesehatan yang mencakup pengetahuan, keterampilan, praktik,
dan filosofi yang berkembang dalam berbagai budaya serta diwariskan dari
generasi ke generasi untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Sebaliknya,
pengobatan modern atau biomedis dikembangkan melalui pendekatan ilmiah yang
didukung penelitian laboratorium, uji praklinik, uji klinik, serta pengawasan mutu
untuk menjamin keamanan, efektivitas, dan kualitas obat. Pengobatan tradisional
umumnya menekankan penggunaan bahan alam dan pendekatan yang bersifat
holistik serta personal, sedangkan pengobatan modern lebih berfokus pada terapi
berbasis bukti (evidence-based medicine) dengan standar dosis dan regulasi yang
jelas. Meskipun memiliki karakteristik yang berbeda, WHO menegaskan bahwa
kedua sistem tersebut tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat saling melengkapi
melalui pendekatan pengobatan integratif yang mengutamakan keamanan,
efektivitas, dan kebutuhan pasien dalam sistem pelayanan kesehatan ((WHO),
2026)
Pengobatan tradisional dan pengobatan modern merupakan dua sistem
pelayanan kesehatan yang memiliki karakteristik dan pendekatan yang berbeda,
tetapi sama-sama digunakan dalam upaya menjaga dan memulihkan kesehatan
masyarakat. Pengobatan tradisional merupakan bentuk pengobatan yang telah
berkembang sejak lama dan didasarkan pada pengalaman, keterampilan, serta
pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun secara empiris dan diterapkan
sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sebaliknya, pengobatan modern
dikembangkan berdasarkan pendekatan ilmiah melalui penelitian, uji praklinik, uji
klinik, serta standardisasi mutu, keamanan, dan efektivitas sebelum diterapkan
dalam pelayanan kesehatan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga mendorong
pemanfaatan pengobatan tradisional tidak hanya sebagai alternatif, tetapi juga
sebagai terapi komplementer yang dapat mendampingi pengobatan medis modern.
Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan tradisional dan pengobatan modern bukan
merupakan dua sistem yang saling menggantikan, melainkan dapat saling
melengkapi apabila penggunaannya dilakukan secara tepat, aman, dan berdasarkan
bukti ilmiah serta kebutuhan pasien (Purwoko et al., 2023).
Etnobotani dan etnofarmasi merupakan dua bidang ilmu yang saling berkaitan
dalam mengkaji pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat. Etnobotani
mempelajari hubungan antara manusia dengan tumbuhan dalam konteks budaya,
termasuk pengetahuan lokal mengenai jenis tumbuhan, habitat, cara pengolahan,
serta pemanfaatannya sebagai obat yang diwariskan secara turun-temurun.
Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang berkembang sesuai
dengan budaya dan lingkungan setiap kelompok masyarakat. Sementara itu,
etnofarmasi berperan menghubungkan pengetahuan tradisional tersebut dengan
pendekatan ilmu farmasi melalui identifikasi senyawa aktif, pengujian aktivitas
farmakologis, serta pembuktian keamanan dan efektivitas tumbuhan obat secara
ilmiah. Pendekatan etnofarmasi tidak hanya mendokumentasikan praktik
pengobatan tradisional, tetapi juga mendukung pengembangan obat herbal berbasis
bukti (evidence-based herbal medicine) sehingga pemanfaatan tumbuhan obat
5
dapat diintegrasikan secara lebih aman dan rasional dalam pelayanan kesehatan
modern (Putri et al., 2026).
Tanaman obat memiliki peran yang sangat penting dalam sistem kesehatan
tradisional karena menjadi sumber pengobatan yang mudah diakses, terjangkau,
dan telah dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia. Sebagai
negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati berupa
berbagai jenis tanaman obat yang digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah
penyakit, dan mengatasi berbagai gangguan kesehatan melalui pengobatan
tradisional. Pemanfaatan tanaman obat, terutama tanaman yang dibudidayakan di
pekarangan rumah, mendukung kemandirian masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan obat secara berkelanjutan, khususnya di wilayah pedesaan yang masih
memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan modern. Selain
memberikan manfaat bagi kesehatan, penggunaan tanaman obat juga menjadi
bagian dari pelestarian kearifan lokal karena pengetahuan mengenai jenis tanaman,
cara budidaya, pengolahan, dan penggunaannya diwariskan dari generasi ke
generasi. Oleh karena itu, tanama.n obat tidak hanya berfungsi sebagai alternatif
pengobatan tradisional, tetapi juga berperan dalam mendukung kesehatan
masyarakat, menjaga keanekaragaman hayati, serta memperkuat ketahanan
kesehatan berbasis sumber daya local (Duryat et al., 2025).
2.2 Gambaran Umum Masyarakat Etnis Sumatera
Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki
keanekaragaman etnis dan budaya yang sangat tinggi. Keberagaman ini terbentuk
melalui proses sejarah, migrasi, dan interaksi sosial yang berlangsung dalam waktu
yang panjang sehingga menghasilkan masyarakat yang bersifat multietnik. Di
Sumatera Utara, misalnya, masyarakat terdiri atas berbagai kelompok etnis seperti
Batak, Melayu, Jawa, Mandailing, Minangkabau, Karo, Aceh, Tionghoa, dan etnis
lainnya yang hidup berdampingan dalam lingkungan sosial yang sama. Berdasarkan
Sensus Penduduk Tahun 2020, suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar di Kota
Medan dengan proporsi 33,03%, diikuti oleh Batak, Tionghoa, Mandailing,
Minangkabau, Melayu, Karo, dan Aceh. Keanekaragaman etnis tersebut
menciptakan kekayaan budaya, bahasa, adat istiadat, serta pengetahuan lokal yang
berbeda pada setiap kelompok masyarakat, termasuk dalam praktik pemanfaatan
sumber daya alam sebagai bagian dari sistem kesehatan tradisional. Oleh karena
itu, keberagaman etnis di Sumatera menjadi dasar penting dalam kajian etnobotani
dan etnofarmasi karena setiap etnis memiliki pengetahuan dan praktik yang khas
dalam memanfaatkan tanaman obat sesuai dengan budaya dan lingkungan tempat
mereka hidup (Yudhawirawan, R. A., Mulyana, D., & Indriani, 2024).
Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia yang
memiliki kondisi geografis dan geomorfologi yang sangat beragam. Secara
geografis, Sumatera terletak pada koordinat 5° LU–6° LS dan 95° BT–106° BT
dengan luas wilayah sekitar 473.481 km². Pulau ini berbatasan dengan Laut
Andaman di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di
sebelah timur, dan Selat Sunda di sebelah selatan. Bentang alam Sumatera terdiri
atas pegunungan yang membentang di bagian barat, dataran tinggi, dataran rendah,
serta kawasan pesisir di bagian timur. Letak geografis tersebut menyebabkan
6
Sumatera memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun
dan suhu yang relatif stabil. Kondisi geografis dan iklim yang beragam ini
mendukung tingginya keanekaragaman hayati, termasuk keberadaan berbagai jenis
tumbuhan obat yang tumbuh pada habitat yang berbeda-beda, sehingga menjadi
potensi penting dalam pemanfaatan tanaman obat oleh berbagai kelompok etnis di
Sumatera (Dewi et al., 2025).
Pulau Sumatera merupakan salah satu kawasan dengan tingkat
keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia karena memiliki ekosistem yang
sangat beragam, mulai dari ekosistem laut, pesisir, sungai, danau, hutan rawa, hutan
gambut, hutan dataran rendah, hingga hutan pegunungan. Ekoregion Sumatera
mencakup 16 dari 22 tipe ekosistem alami yang terdapat di Indonesia, sehingga
menjadi habitat bagi ribuan spesies flora dan fauna dengan tingkat endemisitas yang
tinggi. Tercatat lebih dari 10.000 spesies tumbuhan dan sekitar 5.000 spesies fauna
hidup di Sumatera, termasuk berbagai spesies endemik seperti Rafflesia arnoldii,
harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak Sumatera (Dicerorhinus
sumatrensis), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), dan orangutan
Sumatera (Pongo abelii). Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut memberikan
potensi yang besar sebagai sumber pangan, obat-obatan, dan berbagai produk hayati
lainnya. Namun, perubahan tata guna lahan, deforestasi, dan fragmentasi habitat
telah menyebabkan penurunan luas hutan di Sumatera, sehingga pelestarian
keanekaragaman hayati menjadi sangat penting untuk mendukung pemanfaatan
sumber daya alam secara berkelanjutan, termasuk pengembangan tanaman obat dan
obat tradisional (Keanekaragaman & Ekoregion, 2024).
Budaya memiliki hubungan yang erat dengan penggunaan tanaman obat karena
menjadi salah satu faktor yang membentuk pengetahuan, kepercayaan, dan
kebiasaan masyarakat dalam memilih pengobatan. Penggunaan tanaman obat di
berbagai daerah umumnya merupakan warisan budaya yang diturunkan secara
turun-temurun dari nenek moyang dan terus dipraktikkan dalam kehidupan seharihari sebagai bagian dari kearifan lokal. Kebiasaan tersebut memengaruhi cara
masyarakat mengenali khasiat tanaman, mengolah, menyimpan, serta
menggunakannya untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan maupun menjaga
daya tahan tubuh. Penelitian di Desa Terombongsari menunjukkan bahwa budaya
berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku penggunaan Tanaman Obat
Keluarga (TOGA), di mana masyarakat yang memiliki budaya penggunaan TOGA
yang kuat cenderung memiliki perilaku penggunaan tanaman obat yang lebih baik
dan lebih rasional. Selain dipengaruhi oleh tradisi, penggunaan tanaman obat juga
diperkuat oleh kondisi lingkungan yang mendukung budidaya TOGA di
pekarangan rumah serta adanya interaksi sosial antarmasyarakat dalam berbagi
pengalaman mengenai manfaat tanaman obat. Oleh karena itu, budaya menjadi
faktor penting dalam mempertahankan praktik pemanfaatan tanaman obat sebagai
bagian dari sistem kesehatan tradisional masyarakat (Shofia et al., 2022).
Pengetahuan mengenai obat tradisional merupakan bagian dari kearifan lokal
masyarakat yang diperoleh melalui pengalaman dan diwariskan secara turuntemurun antargenerasi. Pewarisan pengetahuan ini mencakup informasi tentang
jenis tanaman obat, bagian tanaman yang dimanfaatkan, cara pengolahan, dosis
7
penggunaan, hingga khasiatnya dalam mengatasi berbagai penyakit. Pada
masyarakat pedesaan, pengetahuan tersebut umumnya disampaikan secara lisan
oleh orang tua, sesepuh, dukun, atau tokoh masyarakat, sehingga menjadi bagian
dari tradisi pengobatan yang terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, proses pewarisan yang lebih banyak dilakukan secara lisan menyebabkan
pengetahuan obat tradisional rentan mengalami penurunan bahkan kepunahan,
terutama karena generasi muda semakin terintegrasi dengan kehidupan modern dan
cenderung kurang mempelajari pengetahuan tradisional yang dimiliki
masyarakatnya. Oleh karena itu, dokumentasi dan kajian ilmiah mengenai
pengetahuan obat tradisional menjadi penting sebagai upaya pelestarian kearifan
lokal sekaligus menjaga keberlangsungan pemanfaatan tanaman obat dalam sistem
kesehatan tradisional (Nopiyanti et al., 2023).
2.3 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Batak Mandailing
Masyarakat Batak Mandailing merupakan salah satu subetnis Batak yang
banyak mendiami wilayah Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Batak Mandailing masih memanfaatkan
pengetahuan lokal mengenai tanaman obat yang diwariskan secara turun-temurun
dari orang tua atau masyarakat yang lebih mengetahui pengobatan tradisional.
Pengetahuan tersebut digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan,
seperti demam, sakit perut, diare, batuk, luka, dan penyakit lainnya. Tanaman obat
umumnya diperoleh dari lingkungan sekitar, seperti pekarangan rumah, kebun,
hutan, maupun tanaman yang sengaja dibudidayakan, terutama tanaman yang juga
digunakan sebagai bumbu masakan. Bagian tanaman yang paling banyak
dimanfaatkan adalah daun karena mudah diperoleh, selain buah, rimpang, batang,
dan bagian tanaman lainnya. Dalam pengolahan ramuan, tanaman obat biasanya
dimanfaatkan melalui proses tradisional, seperti direbus, ditumbuk, atau digunakan
secara langsung sesuai dengan jenis tanaman dan tujuan pengobatannya. Ramuan
yang telah diolah kemudian digunakan oleh masyarakat untuk membantu mengatasi
keluhan kesehatan tertentu. Namun, pengetahuan mengenai tanaman obat dan cara
pengolahannya mulai mengalami penurunan karena generasi muda semakin kurang
tertarik mempelajari pengobatan tradisional, serta beberapa bahan tanaman semakin
sulit diperoleh. Oleh karena itu, pengetahuan lokal masyarakat Batak Mandailing
mengenai jenis tanaman obat, cara memperoleh, mengolah, dan menggunakan
ramuan perlu didokumentasikan dan dilestarikan agar tetap dapat diwariskan
kepada generasi berikutnya (Silalahi et al., 2022)
2.3.1 Tanaman Obat Batak Mandailing
Berikut ini merupakan beberapa contoh tanaman obat Batak Mandailing:
Tanaman
Bunga jopan
Nama Latin
Clibadium
surinamense
Cara Pengolahan
Daun atau bagian
tanaman direbus
dengan air,
kemudian air
rebusannya
diminum.
8
Manfaat Tradisional
Membantu mengatasi
sakit perut.
Sirampas para
Mikania
cordata
Kunyit
Curcuma
domestica
Val.
Jahe
Zingiber
officinale
Daun direbus
dengan air,
kemudian air
rebusannya
diminum sebagai
ramuan tradisional.
Rimpang
kunyit
dicuci, diiris atau
dimemarkan,
kemudian direbus
dengan air dan
diminum
sebagai
jamu.
Rimpang jahe
dicuci, dimemarkan
atau diiris,
kemudian direbus
dengan air dan
diminum sebagai
ramuan herbal.
Membantu mengatasi
sakit perut.
Membantu menjaga
kesehatan pencernaan.
Membantu
menghangatkan tubuh.
Berdasarkan tabel tersebut, masyarakat Batak Mandailing memanfaatkan
beberapa jenis tanaman sebagai bahan pengobatan tradisional yang diolah menjadi
berbagai bentuk ramuan. Bunga jopan digunakan dalam bentuk ramuan rebusan
yang secara tradisional dipercaya dapat membantu mengatasi sakit perut. Tanaman
sirampas para juga diolah dengan cara direbus dan dimanfaatkan untuk keluhan
yang sama, yaitu sakit perut. Selain itu, kunyit dimanfaatkan sebagai jamu rebusan
yang berkhasiat secara tradisional untuk membantu menjaga kesehatan dan
mengatasi gangguan pencernaan. Sementara itu, jahe digunakan dalam bentuk
ramuan herbal yang dipercaya dapat memberikan rasa hangat pada tubuh, terutama
ketika tubuh terasa dingin atau kurang nyaman. Penggunaan tanaman-tanaman
tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Batak Mandailing masih mengandalkan
sumber daya alam di sekitarnya sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Cara
pengolahan yang sederhana, seperti perebusan, membuat tanaman obat lebih mudah
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan mengenai jenis tanaman,
bentuk ramuan, dan manfaatnya diperoleh secara turun-temurun dari orang tua
maupun masyarakat yang memiliki pengalaman dalam pengobatan tradisional
(Silalahi et al., 2022).
2.3.2 Analisis Etnofarmasi Batak Mandailing
Masyarakat Batak Mandailing memanfaatkan berbagai jenis tanaman obat
yang secara empiris dipercaya memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan dan
mengatasi berbagai penyakit. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa
aktif alami yang berpotensi memberikan efek farmakologis, walaupun jurnal yang
dikaji lebih menekankan pada pengetahuan etnobotani dan pemanfaatan tanaman
oleh masyarakat, bukan pada identifikasi senyawa kimia secara mendalam.
Beberapa tanaman yang dimanfaatkan antara lain kunyit, jahe, seledri, dan kumis
kucing. Tanaman kunyit dan jahe umumnya dimanfaatkan bagian rimpangnya,
9
sedangkan seledri dan kumis kucing lebih banyak digunakan bagian daunnya.
Setiap bagian tanaman dapat mengandung komponen kimia yang berbeda, sehingga
pemilihan bagian tanaman disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat dan tujuan
pengobatannya. Daun menjadi bagian tanaman yang paling banyak digunakan
karena mudah diperoleh dan dapat dipanen tanpa harus mematikan seluruh tanaman
(Silalahi et al., 2022).
Pengolahan tanaman obat secara tradisional dilakukan dengan cara yang sederhana
dan menggunakan peralatan yang tersedia di rumah. Tanaman dapat direbus untuk
menghasilkan air ramuan, ditumbuk atau dihaluskan, maupun digunakan secara
langsung pada bagian tubuh yang membutuhkan. Pada tanaman tertentu, bagian
rimpang seperti kunyit dan jahe dapat dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diolah
menjadi ramuan sesuai kebiasaan masyarakat. Pengolahan tersebut dilakukan
dengan tujuan mempermudah penggunaan tanaman serta mengambil kandungan
yang terdapat di dalamnya. Meskipun demikian, jurnal tidak menjelaskan secara
rinci mengenai suhu perebusan, lama pengolahan, jumlah bahan, dosis, maupun
konsentrasi ramuan untuk setiap tanaman. Oleh karena itu, cara pengolahan yang
dijelaskan dalam penelitian lebih menggambarkan praktik pengobatan tradisional
yang diwariskan secara turun-temurun, bukan prosedur pembuatan obat yang telah
distandarkan secara farmasetik (Silalahi et al., 2022).
Tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Batak Mandailing memiliki
potensi farmakologi yang beragam berdasarkan khasiat empirisnya. Kunyit
dimanfaatkan untuk membantu mengatasi demam, luka, sakit perut, dan diare,
sedangkan jahe digunakan untuk membantu meredakan demam, masuk angin, dan
keluhan tertentu lainnya. Seledri dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membantu
mengatasi hipertensi, sementara kumis kucing digunakan untuk keluhan seperti
batuk, demam, dan batu ginjal. Pemanfaatan tersebut menunjukkan adanya potensi
aktivitas farmakologi, seperti aktivitas antipiretik, antiradang, antimikroba,
antihipertensi, dan diuretik. Namun, khasiat tersebut dalam jurnal masih didasarkan
pada pengalaman dan pengetahuan masyarakat, sehingga belum dapat langsung
dianggap sebagai bukti klinis. Diperlukan penelitian lanjutan berupa skrining
fitokimia, isolasi senyawa aktif, uji aktivitas antioksidan atau antimikroba, uji
praklinik, serta penelitian klinis untuk membuktikan keamanan, efektivitas,
mekanisme kerja, dan dosis yang tepat dari tanaman-tanaman tersebut (Silalahi et
al., 2022).
2.4 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Batak Karo
Suku Batak Karo merupakan salah satu subetnis Batak yang mendiami wilayah
dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, dan sebagian wilayah Dairi di
Sumatra Utara. Masyarakat Batak Karo memiliki kebudayaan dan pengetahuan
tradisional yang masih dipertahankan, salah satunya dalam bidang pengobatan
tradisional. Pengobatan tradisional dalam masyarakat Batak Karo dilakukan oleh
guru atau tabib yang memiliki pengetahuan mengenai tanaman obat dan cara
pengolahan ramuan. Obat tradisional tidak hanya digunakan untuk kebutuhan
pribadi dan menjaga kesehatan, tetapi juga diperjualbelikan di beberapa pasar,
seperti Pasar Kabanjahe, Berastagi, Pancur Batu, Pasar Horas, dan Pasar Raya.
Beberapa ramuan tradisional yang dikenal dalam masyarakat Batak Karo adalah
10
parem, tawar, dan minyak urut (Melfa Aisyah Hutasuhut, Nurul Khairunnisa
Sofyan, 2023).
Pengetahuan lokal masyarakat Batak Karo mengenai tanaman obat merupakan
warisan budaya yang diperoleh melalui pengalaman dan diwariskan secara turuntemurun, baik secara lisan maupun melalui praktik langsung. Masyarakat Batak
Karo memiliki filosofi pengobatan tradisional, yaitu “lit bisa lit tawar” yang berarti
setiap penyakit pasti memiliki obatnya. Tanaman yang digunakan sebagai obat
dapat berupa daun, biji, bunga, buah, akar, maupun bagian tanaman lainnya.
Tanaman-tanaman tersebut diolah berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, dan
pengalaman masyarakat untuk membantu mencegah maupun mengobati penyakit.
Pengetahuan ini tidak hanya berkaitan dengan jenis tanaman, tetapi juga mencakup
cara memilih bahan, mengolahnya menjadi ramuan, serta menentukan cara
penggunaannya. Namun, pengetahuan tradisional tersebut berisiko mengalami
penurunan karena adanya modernisasi dan berkurangnya ketertarikan generasi
muda terhadap pengobatan tradisional (Lavenia et al., 2020).
Tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Batak Karo diperoleh dari
lingkungan sekitar, hasil budidaya, maupun melalui kegiatan jual beli di pasar
tradisional. Masyarakat dapat memperoleh bahan tanaman dari kebun, pekarangan,
atau daerah tempat tumbuhnya tanaman obat. Selain memperoleh tanaman dalam
bentuk bahan mentah, masyarakat juga dapat membeli ramuan yang telah diolah
oleh pedagang atau anggota keluarga yang memiliki pengetahuan mengenai
pengobatan tradisional. Beberapa pasar di Sumatra Utara, seperti Pasar Kabanjahe
dan Pasar Berastagi, dikenal sebagai tempat penjualan tumbuhan obat dan ramuan
tradisional. Di pasar tersebut, masyarakat dapat menemukan berbagai jenis ramuan,
seperti parem, tawar, dan minyak urut. Cara memperoleh tanaman obat tersebut
menunjukkan adanya hubungan antara pemanfaatan sumber daya alam,
pengetahuan tradisional, dan kegiatan ekonomi masyarakat Batak Karo (Lavenia et
al., 2020).
Masyarakat Batak Karo mengolah tanaman obat menjadi beberapa bentuk ramuan
tradisional, antara lain parem, tawar, dan minyak urut. Parem merupakan ramuan
yang ditambahkan tepung beras sebagai bahan pemadat. Pembuatan parem
menggunakan lima jenis tumbuhan dasar yang dikenal dengan filosofi kesaya
silima-lima, yaitu bahing atau jahe, lada, keciwe atau kencur, pia atau bawang
merah, dan lasuna atau bawang putih. Parem dapat dibedakan menjadi parem anakanak, parem dewasa atau parem melas, dan parem rematik. Sementara itu, tawar
merupakan obat tradisional berbentuk serbuk kering yang dibuat dengan cara
menggiling atau menumbuk bahan tanaman yang telah dikeringkan. Minyak urut
berbentuk cair, berwarna hijau, dan dibuat dari ekstrak lebih dari 80 spesies
tumbuhan dengan penambahan minyak kelapa. Pengolahan tersebut dilakukan
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang diwariskan dari
generasi ke generasi (Melfa Aisyah Hutasuhut, Nurul Khairunnisa Sofyan, 2023)
2.4.1 Tanaman Obat Batak Karo
Berikut ini merupakan beberapa contoh tanaman obat Batak Karo:
11
Tanaman
Nama Latin
Cara Pengolahan
Behing atau jahe
Zingiber
officinale
Dicampur
bersama
bahan
tanaman
lain,kemudian dibuat
parem
Lada atau merica
Piper nigrum
Keciwe atau kencur
Kaempferia
galangal
Dihaluskan
dan
dicampurkan
dalam
ramuan kesaya silimalima untuk membuat
parem
Dihaluskan bersama
bahan
lain,kemudia
dicampurkan dengan
tepung beras
Pia atau
merah
bawang Alium cepa
Dihaluskan
dan
dicmapurkan ke dalam
ramuan parem
Lasuna atau bawang Allium
putih
sativum
Dihaluskan bersama
jahe,lada,kenucr,dan
bawang merah untuk
dibuat parem
Berbagai tanaman Beragam jenis
obat
(jahe,kencur,bawang
merah,dll)
Dikeringkan,kemudian
dihaluskan
lalu
diseduh dengan air
panas
Berbagai tanaman Beragam jenis
obat
(jahe,kencur,bawang
merah,dll)
Diekstrak
dan
dicampurkan dengan
minyak kelapa hingga
menjadi
cairan
berwarna hijau
Manfaat
Tradisional
Memberikan
rasa hangat pada
tubuh
dan
membantu tubuh
terasa
lebih
segar
Membantu
memberikan
efek hangat pada
tubuh
Digunakan
dalam
parem
untuk
menghangatkan
dan
menyegarkan
tubuh
Membantu
memberikan
rasa hangat pada
tubuh
Digunakan
sebagai bagian
dari
ramuan
penghangat
tubuh
Dibuat menjadi
tawar,seperti
tawar
maag,tawar
latih,tawar batuk
dan
tawar
rematik
Dibuat menjadi
minyak
urut
yang digunakan
untuk mengurut
tubuh
2.4.2 Analisis Etnofarmasi Etnis Karo
Masyarakat Karo memanfaatkan berbagai bagian tumbuhan, seperti daun, akar,
batang, biji, bunga, dan buah untuk membantu mengatasi keluhan kesehatan.
Pemanfaatan tersebut tidak hanya menunjukkan kekayaan sumber daya alam, tetapi
juga menggambarkan adanya pengetahuan lokal yang telah berkembang dan
12
dipertahankan oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Dengan demikian,
pengobatan tradisional Karo tidak hanya dapat dipandang sebagai penggunaan
tumbuhan obat, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya, warisan leluhur,
dan sistem pengetahuan kesehatan masyarakat (Daulay & Idris, 2026).
Masyarakat Karo mengenal beberapa bentuk obat tradisional yang cukup khas,
yaitu parem, tawar, dan minyak urut. Ketiga bentuk tersebut memiliki bahan, cara
pembuatan, serta cara penggunaan yang berbeda (Daulay & Idris, 2026).
Bentuk obat
Bentuk sediaan Cara penggunaan
tradisional
Parem
Tawar
Minyak urut
Pemanfaatan
Menghangatkan tubuh,
membantu mengatasi pegal
dan keluhan tertentu
Diseduh dengan Membantu mengatasi
Serbuk atau
air panas lalu
keluhan maag, batuk, diare,
ramuan kering
diminum
dan rematik
Sediaan cair
Digunakan untuk urut dan
Dioleskan sambil
berbahan minyak
membantu memberikan rasa
dipijat
dan tumbuhan
nyaman pada tubuh
Pasta atau adonan Dioleskan pada
herbal
tubuh
Ketiga sediaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Karo telah mengenal
prinsip dasar formulasi obat, yaitu pemilihan bahan, pengolahan bahan, bentuk
sediaan, serta rute penggunaan obat. Walaupun pembuatannya masih berdasarkan
pengetahuan tradisional, konsep tersebut memiliki kemiripan dengan
pengembangan sediaan farmasi modern (Daulay & Idris, 2026).
2.5 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Batak Toba
Masyarakat Batak Toba merupakan salah satu kelompok etnis yang berasal dari
Sumatera Utara, salah satunya bermukim di Desa Sipituhuta, Kecamatan Pollung,
Kabupaten Humbang Hasundutan. Sejak dahulu, masyarakat Batak Toba telah
mengenal sistem pengobatan tradisional yang memanfaatkan tumbuhan di
lingkungan sekitar. Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui
keluarga dan pengalaman langsung dalam menggunakan tanaman sebagai obat.
Bahan obat diperoleh dari alam, kemudian diolah secara sederhana sesuai dengan
pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat. Pengobatan tradisional ini tidak hanya
berfungsi untuk membantu mengatasi penyakit, tetapi juga menjadi bagian dari
budaya dan identitas masyarakat Batak Toba. Berdasarkan penelitian, ditemukan
sekitar 40 jenis tumbuhan dari 21 famili yang dimanfaatkan sebagai obat
tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak Toba memiliki
pengetahuan etnobotani yang cukup luas dalam mengenali tumbuhan dan
manfaatnya bagi kesehatan (Nasution et al., 2021).
Famili Zingiberaceae merupakan kelompok tumbuhan yang paling banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat Batak Toba di Desa Sipituhuta. Famili ini ditemukan
sebanyak 6 jenis, yaitu hunik atau kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber
officinale), burle atau temulawak (Curcuma xanthorhiza), rias atau kecombrang
13
(Etlingera elatior), kencur (Kaempferia galanga), dan kapulaga (Amomum
compactum). Tumbuhan dari famili Zingiberaceae banyak digunakan karena mudah
ditemukan, mudah dibudidayakan di sekitar rumah, serta telah dikenal oleh
masyarakat secara turun-temurun. Selain digunakan sebagai obat, beberapa
tanaman Zingiberaceae juga dimanfaatkan sebagai bumbu dan pemberi aroma
makanan sehingga umumnya tersedia di rumah penduduk. Dalam pengobatan
tradisional Batak Toba, kunyit digunakan untuk membantu mengatasi amandel,
jahe untuk batuk, temulawak dan kencur untuk masuk angin, rias untuk batuk,
sedangkan kapulaga digunakan untuk membantu mengatasi batuk. Famili ini juga
dikenal memiliki kandungan minyak atsiri dan resin yang secara tradisional
dikaitkan dengan fungsi sebagai penghangat tubuh, karminatif, stimulan, serta
pemberi aroma. Oleh karena itu, Zingiberaceae memiliki kedudukan penting dalam
sistem pengobatan tradisional Batak Toba karena menggabungkan fungsi
kesehatan, kebutuhan rumah tangga, dan pengetahuan budaya (Nasution et al.,
2021).
Pengolahan tumbuhan obat oleh masyarakat Batak Toba dilakukan dengan cara
yang sederhana dan menggunakan peralatan yang mudah ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari. Bagian tumbuhan yang digunakan dapat berupa daun,
rimpang, umbi, batang, buah, biji, getah, atau seluruh bagian tumbuhan. Sebelum
diramu, bahan biasanya dibersihkan terlebih dahulu, terutama bagian daun yang
masih segar, agar kotoran yang menempel dapat dihilangkan. Berdasarkan hasil
penelitian, cara pengolahan yang paling dominan adalah direbus. Tumbuhan yang
telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam air, kemudian direbus hingga
sari atau komponen yang terkandung di dalamnya keluar ke dalam air rebusan. Air
hasil rebusan tersebut kemudian digunakan sebagai ramuan obat. Masyarakat
meyakini bahwa proses perebusan dapat membantu mengeluarkan senyawa
berkhasiat dari tumbuhan sehingga lebih mudah dikonsumsi. Cara ini dipilih karena
mudah dilakukan, murah, dan bahan dapat direbus kembali apabila masih
diperlukan. Selain direbus, beberapa tumbuhan juga dapat diolah dengan cara
ditumbuk, diremas, atau digunakan secara langsung sesuai dengan bagian tanaman
dan jenis keluhan yang ingin diatasi (Nasution et al., 2021).
Cara penggunaan obat tradisional oleh masyarakat Batak Toba dapat dilakukan
melalui penggunaan dalam dan penggunaan luar. Penggunaan dalam umumnya
dilakukan dengan cara meminum air rebusan tumbuhan obat atau mengonsumsi
bagian tumbuhan tertentu secara langsung. Cara diminum merupakan metode yang
paling banyak digunakan karena masyarakat meyakini bahwa ramuan yang masuk
ke dalam tubuh dapat memberikan reaksi lebih cepat dan membantu
menyembuhkan penyakit yang dirasakan. Ramuan yang diminum digunakan untuk
berbagai keluhan, seperti batuk, masuk angin, demam, sakit lambung, diare, dan
keluhan kesehatan lainnya. Sementara itu, penggunaan luar dilakukan dengan cara
dioleskan, ditempelkan, diteteskan, disemburkan, atau digunakan untuk mandi,
tergantung jenis tumbuhan dan tujuan pengobatannya. Pemilihan cara penggunaan
biasanya disesuaikan dengan bagian tubuh yang mengalami keluhan serta kebiasaan
yang telah diwariskan oleh masyarakat. Walaupun demikian, penggunaan obat
tradisional tetap perlu memperhatikan kebersihan bahan, ketepatan jenis tumbuhan,
14
jumlah yang digunakan, serta kemungkinan efek samping atau interaksi dengan
obat modern (Nasution et al., 2021).
2.5.1 Tanaman Obat Etnis Batak Toba
Berikut beberapa tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Batak Toba,
khususnya dari famili Zingiberaceae:
No.
Nama
tanaman
1
Kunyit atau
hunik
2
3
4
5
6
Nama latin
Cara pengolahan
Kegunaan
tradisional
Rimpang dibersihkan,
Membantu mengatasi
kemudian direbus. Air
amandel.
rebusannya diminum.
Rimpang dicuci,
Membantu
Zingiber
dimemarkan atau diiris, meredakan batuk dan
Jahe
officinale
lalu direbus dengan air. memberikan rasa
Air rebusan diminum.
hangat pada tubuh.
Rimpang dibersihkan,
Temulawak Curcuma
Membantu mengatasi
diiris, kemudian direbus.
atau burle
xanthorrhiza
masuk angin.
Air rebusan diminum.
Bagian tumbuhan yang
Kecombrang Etlingera
digunakan diolah dengan Membantu mengatasi
atau rias
elatior
cara direbus, kemudian batuk.
airnya diminum.
Rimpang dicuci,
Kaempferia dihaluskan atau direbus, Membantu mengatasi
Kencur
galanga
kemudian digunakan
masuk angin.
sebagai ramuan.
Buah atau biji direbus
Amomum
Membantu
Kapulaga
dengan air, kemudian air
compactum
meredakan batuk.
rebusannya diminum.
Curcuma
domestica
Tanaman obat dari famili Zingiberaceae banyak digunakan oleh masyarakat
Batak Toba karena mudah ditemukan dan telah dikenal secara turun-temurun.
Bagian tanaman yang paling sering dimanfaatkan adalah rimpang, buah, atau biji.
Pengolahan umumnya dilakukan dengan cara direbus karena dianggap praktis dan
dapat membantu mengeluarkan komponen dari tanaman ke dalam air rebusan.
Ramuan kemudian diminum sesuai dengan kebiasaan pengobatan tradisional
masyarakat (Ayu, 2024).
Secara farmasi, tanaman seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur
diketahui mengandung berbagai senyawa aktif, termasuk minyak atsiri,
kurkuminoid, dan senyawa fenolik. Namun, kegunaan yang tercantum dalam tabel
merupakan pemanfaatan secara tradisional, sehingga tidak dapat langsung
disamakan dengan khasiat obat yang telah terbukti secara klinis. Penggunaan tetap
perlu memperhatikan jenis tanaman, kebersihan bahan, takaran, serta
kemungkinan interaksi dengan obat modern (Ayu, 2024).
15
2.5.2 Analisis Farmakologi Tanaman Zingiberaceae
a. Kurkumin
Kurkumin merupakan senyawa aktif yang banyak dikenal terdapat pada
rimpang kunyit (Curcuma domestica). Dalam jurnal Nasution dkk., kunyit atau
hunik tercatat sebagai salah satu tanaman famili Zingiberaceae yang digunakan
oleh masyarakat Batak Toba untuk mengobati amandel. Bagian yang
dimanfaatkan adalah rimpangnya. Secara farmakologi, kurkumin dikenal
memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Aktivitas antiinflamasi tersebut
dapat menjelaskan potensi penggunaan kunyit secara tradisional pada gangguan
yang berhubungan dengan peradangan, seperti amandel. Akan tetapi, jurnal
Nasution tidak melakukan pengujian khusus terhadap kandungan kurkumin
maupun aktivitas farmakologi kunyit, sehingga manfaat tersebut tidak dapat
dianggap sebagai hasil uji klinis dari jurnal ini.
b. Gingerol
Gingerol merupakan senyawa aktif khas pada jahe (Zingiber officinale).
Dalam penelitian Nasution dkk., jahe termasuk tanaman Zingiberaceae yang
digunakan masyarakat Batak Toba untuk mengobati batuk. Bagian tanaman yang
digunakan adalah rimpang. Gingerol secara farmakologi dikenal memiliki
aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antiemetik atau membantu mengurangi
mual. Kandungan gingerol dapat menjadi salah satu dasar ilmiah dari penggunaan
jahe sebagai tanaman obat tradisional. Namun, jurnal Nasution hanya mencatat
pemanfaatan jahe secara etnobotani dan tidak mengukur kadar gingerol secara
langsung.
c. Minyak Atsiri
Minyak atsiri merupakan salah satu kandungan kimia yang disebutkan dalam
jurnal pada tanaman famili Zingiberaceae. Jurnal menjelaskan bahwa tanaman
Zingiberaceae mengandung minyak esensial dan resin. Senyawa tersebut berperan
dalam memberikan aroma khas serta mendukung penggunaan tanaman sebagai
karminatif, stimulan, dan penyedap. Beberapa tanaman Zingiberaceae yang
ditemukan dalam penelitian, seperti jahe, kunyit, kencur, lengkuas, kecombrang,
dan kapulaga, diketahui secara umum memiliki minyak atsiri. Secara farmakologi,
minyak atsiri dapat memberikan aktivitas antimikroba, antiinflamasi, dan
membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan. Dalam jurnal
Nasution, tanaman Zingiberaceae dimanfaatkan untuk mengobati amandel, batuk,
masuk angin, dan rematik.
d. Flavonoid
Flavonoid merupakan kelompok senyawa metabolit sekunder yang memiliki
aktivitas terutama sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Akan tetapi, jurnal
Nasution dkk. tidak menyebutkan secara khusus jenis flavonoid yang terdapat
pada tanaman Zingiberaceae yang diteliti.
2.6 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Melayu
Masyarakat Melayu yang menjadi objek penelitian berada di Desa Bagan
Punak Pesisir, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.
16
Masyarakat Melayu merupakan suku mayoritas di desa tersebut. Walaupun sudah
terdapat masyarakat pendatang seperti suku Batak dan Jawa, masyarakat Melayu
masih mempertahankan adat dan pengetahuan pengobatan tradisional yang
diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun. Pengobatan tradisional masyarakat
Melayu di Desa Bagan Punak Pesisir dikenal dengan istilah Tetomeh dan Ubek
Tekojuik. Pengetahuan mengenai pengobatan tersebut diperoleh secara lisan dari
generasi sebelumnya. Penelitian dilakukan melalui wawancara dan observasi
terhadap lima orang informan, yaitu ketua lembaga adat, tetuah Melayu, penghulu
desa, dukun kampung, dan masyarakat asli Melayu (Banurea et al., 2025).
Sistem pengobatan tradisional Melayu di Desa Bagan Punak Pesisir
memanfaatkan tumbuhan yang terdapat di lingkungan sekitar. Penelitian
menemukan 7 spesies tumbuhan dari 5 famili, yaitu Zingiberaceae, Piperaceae,
Acoraceae, Arecaceae, dan Rubiaceae. Famili yang paling banyak dimanfaatkan
adalah Zingiberaceae, yaitu kunyit (Curcuma longa), kencur (Kaempferia
galanga), dan kunyit bangle (Zingiber cassumunar) (Banurea et al., 2025).
Dua bentuk pengobatan tradisional yang digunakan adalah:
 Tetomeh, yaitu pengobatan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi
demam dan sakit kepala yang dipercaya berkaitan dengan keteguran atau
gangguan gaib.
 Ubek Tekojuik, yaitu pengobatan yang digunakan untuk mengembalikan
semangat dan menghilangkan rasa terkejut setelah seseorang mengalami
kecelakaan atau peristiwa tertentu yang dipercaya berkaitan dengan gangguan
makhluk gaib (Banurea et al., 2025).
2.6.1 Tanaman Obat Etnis Melayu
Bahan tumbuhan yang digunakan meliputi:
Nama tumbuhan
Nama latin
Bagian yang digunakan Pemanfaatan
Kunyit
Curcuma longa
Rimpang
Tetomeh
Kencur
Kaempferia galanga Rimpang
Ubek Tekojuik
Kunyit bangle
Zingiber cassumunar Rimpang
Ubek Tekojuik
Sirih
Piper betle
Daun
Ubek Tekojuik
Jerangau
Acorus calamus
Rimpang
Ubek Tekojuik
Pinang
Areca catechu
Buah
Ubek Tekojuik
Gambir
Uncaria gambir
Getah
Ubek Tekojuik
Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah rimpang sebesar
57,14%, sedangkan daun, getah, dan buah masing-masing sebesar 14,28% (Banurea
et al., 2025).
Dekokta adalah metode pengolahan bahan obat dengan cara merebus bagian
tanaman, terutama bagian yang relatif keras seperti rimpang, akar, kulit batang, atau
biji, menggunakan air hingga senyawa yang terkandung di dalamnya berpindah ke
air rebusan. Namun, berdasarkan jurnal Wahyuni dkk. (2025), metode utama yang
17
digunakan dalam pengobatan tradisional Melayu Bagan Punak Pesisir bukanlah
perebusan atau dekokta. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa bahan obat tradisional
seperti Tetomeh dan Ubek Tekojuik digunakan dengan cara dioleskan, sedangkan
pada Ubek Tekojuik bahan terlebih dahulu dikunyah, kemudian air kunyahannya
dioleskan ke tubuh orang yang sakit (Banurea et al., 2025).
Pada pengobatan Tetomeh, rimpang kunyit dibelah menjadi dua bagian,
kemudian dilakukan proses ritual tertentu. Kunyit diberi kapur dan ditusuk-tusuk
hingga berubah warna menjadi kemerahan. Setelah itu, kunyit dioleskan pada
beberapa bagian tubuh, seperti:





dahi,
telinga,
bahu,
lengan kanan dan kiri,
kaki kanan dan kiri.
Pada pengobatan Ubek Tekojuik, bahan berupa sirih, kencur, jerangau, pinang,
kunyit bangle, dan gambir dicampurkan. Bahan tersebut dilipat menggunakan daun
sirih, kemudian dikunyah. Air hasil kunyahan selanjutnya dioleskan pada beberapa
bagian tubuh orang yang sedang sakit (Banurea et al., 2025).
Bentuk pengobatan tradisional Melayu dalam jurnal ini tidak berupa jamu cair
hasil rebusan, serbuk seduhan, atau kapsul. Bentuknya lebih berupa ramuan segar
yang digunakan secara luar, yaitu:
a. Ramuan oles Tetomeh
Ramuan Tetomeh menggunakan rimpang kunyit (Curcuma longa). Kunyit
diproses secara tradisional melalui pembelahan, pemberian kapur, dan penusukan
hingga berubah warna. Ramuan tersebut kemudian dioleskan pada bagian tubuh
tertentu.
b. Ramuan kunyah dan oles Ubek Tekojuik
Ubek Tekojuik menggunakan campuran:






daun sirih,
kencur,
jerangau,
pinang,
kunyit bangle,
gambir.
Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam daun sirih, dilipat, kemudian
dikunyah. Air kunyahannya digunakan sebagai ramuan oles pada tubuh (Banurea
et al., 2025).
18
2.7 Sistem Pengobatan Tradisional Etnis Minangkabau
Masyarakat Minangkabau merupakan salah satu kelompok etnis yang berasal
dari Sumatera Barat. Kehidupan masyarakat Minangkabau sangat erat dengan adat
dan agama Islam yang dikenal melalui prinsip “Adat Basandi Syara’, Syara’
Basandi Kitabullah”. Prinsip ini menunjukkan bahwa adat istiadat masyarakat
Minangkabau berjalan berdampingan dengan ajaran Islam.Pengetahuan
pengobatan tradisional Minangkabau telah diwariskan secara turun-temurun
melalui pengalaman, kebiasaan masyarakat, serta naskah-naskah kuno. Naskah
tersebut ditemukan di berbagai tempat, seperti surau, rumah gadang, museum, dan
perpustakaan. Pengobatan tradisional tidak hanya menggunakan tanaman obat,
tetapi juga dapat berupa mantra, gabungan ramuan dan mantra, serta jimat
(Masfalinda, Wela Yulia Fitri, Welda Wilis, 2021).
Pengetahuan lokal masyarakat Minangkabau mengenai tanaman obat diperoleh
dari pengalaman dan diwariskan antargenerasi. Ramuan tradisional di
Minangkabau disebut juga panawa. Panawa dapat berasal dari tumbuhan, hewan,
air, atau benda tertentu. Tanaman biasanya diramu dengan air atau minyak,
kemudian digunakan pada bagian tubuh yang sakit. Contohnya, bawang putih dan
bawang merah ditumbuk, dicampur dengan minyak tanah dan minyak goreng, lalu
diurutkan pada bagian perut dan betis untuk pengobatan sakit perut (Masfalinda,
Wela Yulia Fitri, Welda Wilis, 2021).
Dalam pengobatan tradisional Minangkabau, terdapat beberapa bentuk
pengobatan yang dapat dikelompokkan menjadi Ureh Nan Ampek, yaitu empat
bentuk pengobatan tradisional:
a. Pengobatan dengan ramuan
Pengobatan dilakukan menggunakan bahan alami, seperti daun, umbi, bunga, akar,
bawang, kunyit, limau, dan bahan tumbuhan lainnya. Ramuan dapat ditumbuk,
dicampur dengan air atau minyak, kemudian diminum, dioleskan, atau digunakan
untuk mengurut bagian tubuh yang sakit.
b. Pengobatan dengan mantra
Pengobatan dilakukan dengan membaca atau menuliskan mantra tertentu. Mantra
dalam naskah Minangkabau banyak menggunakan bahasa Minang dan unsur
keagamaan Islam, seperti penyebutan Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an.
c. Pengobatan dengan gabungan ramuan dan mantra
Pada bentuk ini, ramuan obat digunakan bersamaan dengan pembacaan mantra.
Contohnya, ramuan dimasukkan ke dalam air yang telah dimantrai, kemudian air
tersebut digunakan untuk pengobatan.
d. Pengobatan dengan jimat
Jimat merupakan benda tertentu yang dipercaya memiliki fungsi perlindungan atau
pengobatan. Jimat dapat dibuat dari logam, kulit hewan, kertas, atau dibungkus
menggunakan kain. Jimat biasanya dipakai atau ditempelkan pada tubuh, misalnya
sebagai perlindungan bagi anak-anak dari gangguan yang dipercaya bersifat gaib
(Masfalinda, Wela Yulia Fitri, Welda Wilis, 2021).
19
Cara penggunaan ramuan tradisional Minangkabau cukup beragam,
bergantung pada jenis bahan dan penyakit yang ingin diobati.
a. Diminum
Air yang telah diberi ramuan atau mantra dapat diminum oleh orang yang sakit.
Cara ini digunakan ketika ramuan ditujukan untuk pengobatan dari dalam tubuh.
b. Dioleskan
Ramuan tumbuhan yang dicampur dengan air atau minyak dapat dioleskan pada
bagian tubuh yang sakit. Contohnya, ramuan dari limau, bawang, kunyit, atau
tumbuhan lainnya.
c. Diurutkan
Ramuan tertentu digunakan sambil melakukan pengurutan pada bagian tubuh yang
mengalami keluhan. Contohnya, campuran bawang putih, bawang merah, minyak
tanah, dan minyak goreng yang diurutkan pada bagian perut dan betis untuk sakit
perut.
d. Dipercikkan
Air yang telah diberi ramuan dan mantra dapat dipercikkan ke tubuh, rumah, atau
tempat usaha. Cara ini dikenal dalam proses paureh.
e. Dimandikan
Ramuan dimasukkan ke dalam air mandi. Orang yang sakit kemudian mandi
menggunakan air tersebut sebagai bagian dari proses pengobatan tradisional.
f. Digunakan untuk manyilau dan paureh
Manyilau adalah proses melihat atau mengetahui penyakit menggunakan media
tertentu, seperti limau, air, atau ayam. Paureh adalah proses memasang atau
menggunakan obat yang diberikan oleh pengobat tradisional. Ramuan dapat
dimasukkan ke dalam air mandi atau digunakan dengan cara memercikkan air yang
telah diberi mantra (Masfalinda, Wela Yulia Fitri, Welda Wilis, 2021).
2.7.1 Tanaman Obat Etnis Minangkabau
Berikut beberapa tanaman obat yang
Minangkabau:
No. Tanaman Obat Nama Ilmiah
1
Sitawa
Costus
speciosus
2
Kunyit
Curcuma longa
3
Jahe/Sipadeh
4
Daun jambu
biji/Paraweh
Zingiber
officinale
Psidium
guajava
dimanfaatkan
oleh
masyarakat
Produk/Ramuan
Tradisional
Manfaat
Ramuan rebusan daun
Demam dan sakit
gigi
Ramuan tradisional
dari rimpang
Ramuan tradisional
dari rimpang
Ramuan tradisional
dari daun
20
Batuk dan maag
Batuk dan masuk
angin
Diare
Temulawak
Curcuma
xanthorrhiza
Ramuan tradisional
dari rimpang
6
Serai/Sarai
Cymbopogon
citratus
Ramuan tradisional
dari batang
7
Daun sirih/Siriah Piper betle
8
Seledri
9
Kumis kucing
10
Daun
pepaya/Kalikih
5
Apium
graveolens
Orthosiphon
aristatus
Carica papaya
Ramuan tradisional
dari daun
Ramuan tradisional
dari daun
Ramuan tradisional
dari daun
Ramuan tradisional
dari daun
Nyeri sendi
Masuk angin,
demam, dan nyeri
sendi
Mata, batuk, dan
keputihan
Diabetes
Batu ginjal dan
nyeri pinggang
Demam,
detoksifikasi, dan
kolesterol
Tanaman yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Nagari Sijunjung
adalah sitawa (Costus speciosus). Daun sitawa biasanya direbus, kemudian air
rebusannya diminum untuk membantu mengatasi demam dan sakit gigi. Penelitian
ini mencatat bahwa masyarakat Nagari Sijunjung menggunakan 42 jenis tumbuhan
obat dari 29 famili, dan sebagian besar tumbuhan obat digunakan dengan cara
diminum atau dikonsumsi secara oral (Andania et al., 2024).
2.7.2 Ramuan Tradisional Ureh Nan Ampek
Ureh Nan Ampek merupakan pengobatan tradisional masyarakat Minangkabau
di Nagari Simanau yang terdiri dari empat tanaman obat, yaitu sitawa, sidingin,
cikarau, dan cikumpai. Tanaman tersebut digunakan melalui praktik pengobatan
tradisional yang dapat berupa dioleskan atau diminum (Tresno et al., 2025).
Nama
Bagian Tubuh
No.
Nama Ilmiah
Fungsi Tradisional
Tanaman
yang Dikaitkan
Enydra fluctuans
Penawar panas atau
1 Sitawa
Paru-paru
DC
penyakit
Pendingin atau
Cheilocostus
2 Sidingin
Hati
menghilangkan rasa
speciosus
dingin
Bryophyllum
Usus besar dan
3 Cikarau
Penghancur penyakit
pinnatum
rektum
Sacciolepis
Penghampai atau
4 Cikumpai
Usus halus
interrupta
pembuang penyakit
2.8 Faktor yang Memengaruhi Pengobatan Tradisional
2.8.1 Faktor Budaya
a. Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat merupakan salah satu faktor budaya yang sangat
memengaruhi penggunaan pengobatan tradisional. Masyarakat meyakini bahwa
obat tradisional yang berasal dari tanaman memiliki manfaat dalam menjaga
kesehatan maupun mengatasi berbagai keluhan penyakit, serta dianggap lebih alami
dan memiliki efek samping yang lebih ringan dibandingkan obat modern. Tingkat
21
kepercayaan tersebut terbentuk melalui pengalaman pribadi, pengalaman orang
lain, serta informasi yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Penelitian di
Kecamatan Kintamani menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki
tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap obat tradisional sehingga penggunaan
obat tradisional masih menjadi pilihan dalam pengobatan mandiri maupun sebagai
terapi pendamping pengobatan modern (Apsari & Wintariani, 2022).
b. Adat Istiadat
Adat istiadat menjadi bagian penting dalam mempertahankan praktik
pengobatan tradisional di berbagai daerah di Indonesia. Setiap kelompok
masyarakat memiliki kebiasaan dan aturan tersendiri mengenai jenis tanaman obat
yang digunakan, bagian tanaman yang dimanfaatkan, cara pengolahan, serta tujuan
penggunaannya. Praktik tersebut merupakan bentuk kearifan lokal yang
berkembang sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Penelitian etnobotani
pada masyarakat Aceh Tamiang menunjukkan bahwa penggunaan tanaman obat
masih dipengaruhi oleh tradisi dan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi
sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat (Silalahi et al.,
2022).
c. Pewarisan Pengetahuan
Pengetahuan mengenai pengobatan tradisional umumnya diwariskan secara
turun-temurun melalui keluarga maupun tokoh masyarakat. Proses pewarisan
dilakukan secara lisan maupun melalui praktik langsung dalam mengenali tanaman
obat, cara meramu, dosis penggunaan, hingga aturan pemakaian berdasarkan
pengalaman masyarakat. Pewarisan pengetahuan tersebut menjadi salah satu alasan
mengapa pengobatan tradisional tetap bertahan meskipun pelayanan kesehatan
modern semakin berkembang. Studi etnobotani di Aceh menunjukkan bahwa orang
tua dan anggota keluarga menjadi sumber utama pengetahuan mengenai tanaman
obat yang kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya (Silalahi et al., 2022).
d. Peran Pengobat Tradisional
Pengobat tradisional memiliki peran sebagai penjaga sekaligus penyebar
pengetahuan pengobatan tradisional di masyarakat. Mereka dipercaya memiliki
pengalaman dalam mengenali jenis tanaman obat, menentukan ramuan yang sesuai,
serta memberikan petunjuk penggunaan berdasarkan kondisi pasien. Selain
memberikan pelayanan pengobatan, pengobat tradisional juga berperan dalam
mempertahankan praktik budaya dan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan
tanaman obat. Penelitian pada masyarakat Kampung Dukuh menunjukkan bahwa
keberadaan pengobat tradisional masih dipercaya karena memiliki kedekatan sosial
dengan masyarakat dan memahami pemanfaatan tanaman obat berdasarkan budaya
local (Santhyami & Sulistyawati, 2021).
2.8.2 faktor social
a. Pendidikan
Tingkat pendidikan memengaruhi pengetahuan masyarakat mengenai manfaat,
keamanan, dan cara penggunaan obat tradisional. Semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang, semakin besar peluang untuk memperoleh informasi
kesehatan dari berbagai sumber sehingga masyarakat dapat menggunakan obat
22
tradisional secara lebih rasional. Sebaliknya, masyarakat dengan tingkat pendidikan
yang lebih rendah cenderung memperoleh informasi dari pengalaman keluarga atau
lingkungan sekitar. Penelitian mengenai penggunaan obat tradisional menunjukkan
adanya hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan penggunaan obat
tradisional dalam kehidupan sehari-hari (Ramadhiani et al., 2022).
b. Ekonomi
Kondisi ekonomi merupakan faktor yang turut memengaruhi keputusan
masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional. Obat tradisional sering dipilih
karena bahan bakunya mudah diperoleh dan biaya pengobatannya relatif lebih
murah dibandingkan pengobatan modern. Selain itu, masyarakat dengan kondisi
ekonomi tertentu cenderung memanfaatkan tanaman obat yang tersedia di sekitar
rumah sebagai alternatif pengobatan. Penelitian mengenai faktor sosiodemografi
menunjukkan bahwa tingkat pendapatan dan kondisi ekonomi memiliki hubungan
dengan tingkat kepercayaan dan penggunaan obat tradisional di masyarakat
(Adiyasa & Meiyanti, 2021).
c. Peran Keluarga
Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan pilihan pengobatan anggota
keluarga. Informasi mengenai jenis tanaman obat, cara meracik, dan aturan
penggunaan sering kali diperoleh dari orang tua, kakek-nenek, maupun anggota
keluarga lainnya. Dukungan keluarga juga memengaruhi keputusan seseorang
untuk menggunakan pengobatan tradisional sebagai pengobatan utama maupun
pendamping terapi medis. Penelitian di Kecamatan Kintamani menunjukkan bahwa
keluarga merupakan sumber informasi utama dalam penggunaan obat tradisional
sehingga berperan dalam mempertahankan praktik pengobatan tradisional di
masyarakat (Apsari & Wintariani, 2022).
d. Akses Kesehatan
Akses terhadap pelayanan kesehatan turut memengaruhi penggunaan
pengobatan tradisional. Masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan atau
memiliki keterbatasan biaya transportasi dan pelayanan kesehatan cenderung
memanfaatkan tanaman obat yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai alternatif
pengobatan. Selain faktor jarak, kemudahan memperoleh bahan obat tradisional
juga menjadi alasan masyarakat memilih pengobatan tradisional. Penelitian
mengenai penggunaan obat tradisional menunjukkan bahwa kemudahan akses
terhadap tanaman obat dan pelayanan kesehatan memengaruhi perilaku masyarakat
dalam memilih jenis pengobatan (Apsari & Wintariani, 2022).
2.8.3 Faktor Lingkungan
a. Keanekaragaman Hayati Sumatera
Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki
keanekaragaman hayati sangat tinggi, termasuk berbagai spesies tanaman yang
dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kekayaan flora tersebut menyediakan
sumber bahan baku alami yang digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai
penyakit. Penelitian etnobotani di Aceh Timur menunjukkan bahwa masyarakat
memanfaatkan puluhan jenis tanaman obat dari berbagai famili tumbuhan yang
tumbuh secara alami maupun dibudidayakan di lingkungan sekitar.
23
Keanekaragaman tanaman obat tersebut menjadi potensi penting dalam mendukung
keberlangsungan pengobatan tradisional di Sumatera (Silalahi et al., 2022).
b. Pekarangan dan Hutan
Lingkungan tempat tinggal, seperti pekarangan rumah, kebun, dan hutan,
merupakan sumber utama tanaman obat yang dimanfaatkan masyarakat. Banyak
keluarga menanam tanaman obat di pekarangan sebagai Tanaman Obat Keluarga
(TOGA) sehingga mudah digunakan ketika diperlukan. Selain pekarangan,
masyarakat juga memperoleh tanaman obat dari kawasan hutan yang masih
memiliki berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat. Penelitian pada masyarakat
Kampung Dukuh menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman obat berasal dari
pekarangan, kebun, huma, dan kawasan hutan di sekitar permukiman masyarakat
(Santhyami & Sulistyawati, 2021).
c. Konservasi Tanaman Obat
Pemanfaatan tanaman obat secara terus-menerus perlu diimbangi dengan upaya
konservasi agar keberadaan tanaman obat tetap terjaga. Konservasi dilakukan
melalui budidaya tanaman obat di pekarangan, perlindungan habitat alami, serta
pelestarian pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tanaman obat. Upaya tersebut
penting untuk menjaga ketersediaan tanaman obat sebagai sumber pengobatan
tradisional sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati. Penelitian pada
masyarakat Melayu di Indonesia menunjukkan bahwa konservasi tanaman obat
dilakukan melalui pemeliharaan tanaman di lingkungan rumah, pemanfaatan secara
bijaksana, dan pelestarian pengetahuan etnomedisin sebagai bagian dari kearifan
lokal masyarakat (Henri & Erpandi, 2021).
2.9 Analisis Pengobatan Tradisional dari Perspektif Farmasi
2.9.1 Kandungan Senyawa Aktif Tanaman
Tanaman obat mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang
berperan sebagai zat aktif dan menjadi dasar aktivitas farmakologinya. Senyawa
tersebut meliputi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, steroid, fenolik,
minyak atsiri, dan glikosida yang memiliki mekanisme kerja berbeda-beda terhadap
tubuh. Flavonoid diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi,
alkaloid banyak berperan sebagai antimikroba dan analgesik, sedangkan saponin
memiliki efek imunomodulator dan hipokolesterolemik. Farmakope Herbal
Indonesia menjelaskan bahwa setiap simplisia dan ekstrak tanaman obat memiliki
karakteristik kandungan kimia yang harus memenuhi persyaratan mutu sebagai
identitas bahan baku obat tradisional. Identifikasi kandungan senyawa aktif
dilakukan melalui pemeriksaan organoleptik, makroskopik, mikroskopik, serta
analisis kimia sehingga mutu bahan herbal dapat dipastikan sebelum digunakan
sebagai bahan obat tradisional (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
2.9.2 Potensi sebagai Obat Herbal
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar sehingga
berpotensi menjadi sumber pengembangan obat herbal. Dari perspektif farmasi,
tanaman obat tidak hanya digunakan berdasarkan pengalaman empiris, tetapi juga
dapat dikembangkan menjadi produk herbal yang memiliki mutu, keamanan, dan
khasiat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam sistem
24
pengembangan obat tradisional di Indonesia, tanaman obat diklasifikasikan
menjadi jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Jamu didasarkan
pada bukti empiris, OHT telah melalui uji praklinik dengan bahan baku terstandar,
sedangkan fitofarmaka telah dibuktikan melalui uji klinik sehingga dapat digunakan
dalam pelayanan kesehatan formal. Pengembangan tersebut bertujuan
meningkatkan kualitas produk herbal agar memenuhi standar kefarmasian dan
mampu bersaing sebagai bagian dari pelayanan kesehatan berbasis bukti
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
2.9.3 Khasiat Berdasarkan Penelitian
Khasiat obat tradisional saat ini semakin banyak dibuktikan melalui penelitian
farmakologi, praklinik, maupun uji klinik. Berbagai tanaman obat Indonesia, seperti
temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa), kumis kucing
(Orthosiphon stamineus), meniran (Phyllanthus niruri), dan secang (Caesalpinia
sappan), telah menunjukkan aktivitas farmakologis berupa antiinflamasi,
antihipertensi, antihiperlipidemia, hepatoprotektif, antidiabetes, antioksidan, dan
imunomodulator. Tinjauan sistematis mengenai jamu Indonesia menunjukkan
bahwa sebagian besar penelitian praklinik memberikan hasil yang mendukung
penggunaan tradisional tanaman tersebut, meskipun bukti klinis pada manusia
masih perlu diperkuat melalui penelitian dengan desain yang lebih baik dan jumlah
sampel yang lebih besar. Oleh karena itu, penggunaan obat tradisional perlu
didasarkan pada bukti ilmiah agar manfaat terapinya dapat dipastikan secara
objektif (Yusmaniar et al., 2024).
2.9.4 Keamanan Penggunaan
Keamanan merupakan aspek penting dalam penggunaan obat tradisional dari
perspektif farmasi. Meskipun berasal dari bahan alam, obat tradisional tidak selalu
bebas dari efek samping atau risiko toksisitas apabila digunakan secara tidak tepat.
Faktor yang memengaruhi keamanan meliputi jenis tanaman, bagian tanaman yang
digunakan, dosis, lama penggunaan, proses pengolahan, serta kualitas bahan baku.
Farmakope Herbal Indonesia menetapkan persyaratan mutu simplisia dan ekstrak,
termasuk identitas, kadar air, cemaran mikroba, logam berat, pestisida, dan
parameter kimia untuk menjamin keamanan produk herbal. Selain itu, WHO
menegaskan bahwa penggunaan obat herbal harus mempertimbangkan kualitas
produk, dosis yang sesuai, kondisi pasien, serta pemantauan efek samping agar
risiko penggunaan dapat diminimalkan (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2017).
2.9.5 Interaksi Obat Herbal dan Obat Modern
Penggunaan obat herbal secara bersamaan dengan obat modern dapat
menimbulkan interaksi yang bersifat menguntungkan maupun merugikan. Interaksi
dapat terjadi melalui mekanisme farmakokinetik, seperti perubahan absorpsi,
distribusi, metabolisme, dan eliminasi obat, maupun farmakodinamik, yaitu
perubahan efek kerja obat pada reseptor atau sistem fisiologis. WHO menjelaskan
bahwa beberapa tanaman herbal dapat memengaruhi aktivitas enzim sitokrom P450
dan transporter obat sehingga mengubah kadar obat dalam tubuh. Risiko interaksi
menjadi lebih penting pada obat dengan indeks terapi sempit, seperti warfarin,
digoksin, antidiabetes, antihipertensi, dan antikoagulan. Kajian farmasi juga
25
menunjukkan bahwa banyak masyarakat mengonsumsi herbal bersamaan dengan
obat resep tanpa berkonsultasi kepada tenaga kesehatan sehingga meningkatkan
risiko interaksi dan efek samping. Oleh karena itu, identifikasi penggunaan herbal
harus menjadi bagian dari pelayanan kefarmasian (World Health Organization,
2021).
2.9.6 Peran Farmasis dalam Edukasi Masyarakat
Farmasis memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan obat
tradisional yang rasional, aman, dan efektif melalui pelayanan informasi obat serta
edukasi kepada masyarakat. Edukasi yang diberikan meliputi pemilihan produk
herbal yang telah memiliki izin edar BPOM, penggunaan sesuai dosis, cara
penyimpanan, lama penggunaan, kemungkinan efek samping, kontraindikasi, dan
potensi interaksi dengan obat modern. WHO menekankan bahwa tenaga kesehatan,
termasuk farmasis, memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi penggunaan
herbal pada pasien, memberikan konseling mengenai potensi interaksi, serta
melaporkan efek samping melalui sistem farmakovigilans. Dalam praktik
kefarmasian, farmasis juga berperan meningkatkan literasi masyarakat agar tidak
menganggap semua produk herbal pasti aman hanya karena berasal dari bahan
alami(World Health Organization, 2021).
2.9.7 Standarisasi Obat Tradisional
Standarisasi obat tradisional merupakan proses penetapan persyaratan mutu
bahan baku maupun produk jadi agar khasiat, keamanan, dan kualitasnya konsisten.
Dalam Farmakope Herbal Indonesia, standarisasi dilakukan melalui penetapan
identitas simplisia, parameter spesifik dan nonspesifik, kandungan senyawa
penanda, metode analisis, serta batas cemaran kimia, mikrobiologi, dan logam
berat. Standarisasi menjadi dasar pengembangan jamu menjadi Obat Herbal
Terstandar dan fitofarmaka sehingga produk herbal memiliki mutu yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. WHO juga menegaskan bahwa standardisasi
merupakan komponen utama dalam pengembangan obat herbal karena menjamin
konsistensi kandungan bahan aktif, keamanan penggunaan, efektivitas terapi, serta
memudahkan pengawasan mutu dan registrasi produk herbal di berbagai Negara
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017).
26
27
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem pengobatan tradisional pada masyarakat etnis Sumatera merupakan bagian
dari kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih
dimanfaatkan sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan masyarakat. Pengobatan
tradisional tidak hanya memanfaatkan tanaman obat sebagai bahan utama, tetapi
juga dipengaruhi oleh nilai budaya, kepercayaan, pengalaman empiris, serta kondisi
lingkungan tempat masyarakat hidup. Kajian etnobotani dan etnofarmasi
menunjukkan bahwa setiap etnis memiliki pengetahuan yang berbeda mengenai
jenis tanaman, cara pengolahan, dan cara penggunaan ramuan tradisional.
Masyarakat Batak Mandailing memanfaatkan berbagai tanaman obat lokal, seperti
bunga jopan, sirampas para, kunyit, dan jahe, yang diolah menjadi ramuan rebusan
atau ramuan herbal untuk mengatasi berbagai penyakit. Penelitian etnobotani
menunjukkan bahwa masyarakat Batak Mandailing menggunakan lebih dari 160
spesies tanaman obat sebagai bagian dari sistem pengobatan tradisional yang
diwariskan secara turun-temurun.
Pada masyarakat Batak Toba, tanaman dari famili Zingiberaceae, seperti jahe,
kunyit, temulawak, lengkuas, dan kencur, menjadi kelompok tanaman yang paling
banyak dimanfaatkan sebagai bahan jamu rebusan dan ramuan herbal. Pemanfaatan
tanaman rimpang tersebut menunjukkan adanya pengetahuan lokal mengenai
manfaat tanaman obat yang berkaitan dengan kesehatan pencernaan, masuk angin,
nyeri, dan pemeliharaan kesehatan tubuh.
Masyarakat Melayu di Desa Bagan Percut memanfaatkan berbagai tanaman obat,
seperti daun sirih, jahe, kunyit, kencur, dan temulawak, yang sebagian besar diolah
dengan metode perebusan menjadi jamu tradisional. Cara pengolahan tersebut
merupakan metode yang paling banyak digunakan karena dianggap sederhana dan
sesuai dengan pengetahuan tradisional masyarakat Melayu.
Masyarakat Minangkabau memiliki sistem pengobatan tradisional yang
memanfaatkan tanaman seperti sitawa, sidingin, kunyit, jahe, dan daun jambu biji.
Selain itu, terdapat ramuan tradisional Ureh Nan Ampek yang menjadi bagian dari
budaya pengobatan masyarakat Minangkabau dan menunjukkan hubungan antara
pengetahuan lokal dengan praktik etnofarmakologi. Penelitian di Nagari Sijunjung
menunjukkan bahwa sebagian besar ramuan digunakan dalam bentuk rebusan untuk
diminum.
Sementara itu, masyarakat Etnis Karo memiliki produk obat tradisional yang lebih
beragam, yaitu parem, tawar, dan minyak urut. Ramuan tersebut dibuat dari
campuran beberapa tanaman obat dan masih diperjualbelikan di pasar tradisional
Berastagi dan Kabanjahe sebagai bagian dari budaya kesehatan masyarakat Karo.
Secara keseluruhan, sistem pengobatan tradisional masyarakat etnis Sumatera
memiliki potensi besar sebagai sumber pengembangan obat herbal berbasis bahan
alam. Namun, pemanfaatannya tetap perlu didukung oleh penelitian ilmiah
mengenai kandungan senyawa aktif, efektivitas, keamanan, dosis, serta mutu bahan
obat agar dapat digunakan secara rasional dan aman dalam pelayanan kesehatan.
3.2 Saran
Berdasarkan hasil pembahasan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan
sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat, pengetahuan mengenai tanaman obat tradisional perlu
terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya, namun
penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana dan memperhatikan
keamanan serta cara pengolahan yang benar.
2. Bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan, khususnya di bidang farmasi, perlu
meningkatkan pemahaman mengenai etnofarmasi dan pemanfaatan
tanaman obat tradisional sehingga dapat memberikan edukasi kepada
masyarakat berdasarkan bukti ilmiah.
3. Bagi peneliti, diperlukan penelitian lanjutan mengenai kandungan
fitokimia, aktivitas farmakologi, toksisitas, dan uji klinis tanaman obat yang
digunakan oleh masyarakat etnis Sumatera agar manfaatnya dapat
dibuktikan secara ilmiah.
4. Bagi pemerintah dan institusi kesehatan, perlu mendukung upaya
pelestarian tanaman obat lokal melalui konservasi, budidaya, serta
pengembangan obat tradisional yang memenuhi standar mutu, keamanan,
dan khasiat sesuai pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
5. Bagi pengembangan ilmu farmasi, hasil penelitian etnobotani dan
etnofarmasi di Sumatera diharapkan dapat menjadi dasar dalam
pengembangan obat herbal Indonesia yang berkualitas serta mendukung
pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia secara berkelanjutan.
28
29
DAFTAR PUSTAKA
(WHO), W. H. O. (2026). 9789240124738-eng.pdf. World Health Organization.
Adiyasa, M. R., & Meiyanti, M. (2021). Pemanfaatan obat tradisional di Indonesia:
distribusi dan faktor demografis yang berpengaruh. Jurnal Biomedika Dan
Kesehatan, 4(3), 130–138. https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.130138
Andania, M. M., Yesika, R., & Ferdian, A. (2024). Studi Etnobotani Pemanfaatan
Tumbuhan Obat Tradisional oleh Masyarakat Nagari Sijunjung. Jurnal
Biologi UNAND, 12(1), 01–04. https://doi.org/10.25077/jbioua.12.1.0104.2024
Andini, A., Wasiyem, W., Hafizza, C. M., Vellina, S., Ramadhina, D. A., Thamrin,
N. A., & Afnanin, F. A. (2025). Persepsi Masyarakat Terhadap Pengobatan
Tradisional dan Pengobatan Medis di Kelurahan Nelayan Indah. Journal of
Health Education Law Information and Humanities, 2(1), 868–874.
https://doi.org/10.57235/helium.v2i1.5320
Apsari, D. P., & Wintariani, N. P. (2022). Pengetahuan, Sikap Dan Praktik
Masyarakat Kecamatan Kintamani Terhadap Penggunaan Obat Tradisional.
MEDFARM: Jurnal Farmasi Dan Kesehatan, 11(2), 193–203.
https://doi.org/10.48191/medfarm.v11i2.95
Ayu, I. (2024). Pengobatan Tradisional Etnik Batak Toba. Vitamin :Jurnal Ilmu
Kesehatan Umum, 2(1), 54–70.
Banurea, A., Susilo, F., Nasution, J., Rahmiati, R., & Riyanto, R. (2025). Kajian
Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Etnis Melayu di Desa Bagan Percut,
Sumatera Utara. Jurnal Ilmiah Biologi UMA (JIBIOMA), 7(2), 120–133.
https://doi.org/10.31289/jibioma.v7i2.6650
Bauran, P., Terhadap, P., Kunjungan, M., Astriani, W., Jak, Y., & Garnida, A. P.
(2026). Jurnal Inovasi Kesehatan dan Ilmu Farmasi. 10(1), 1.
https://journal.fexaria.com/j/index.php/jikif
Daulay, R., & Idris, M. (2026). ETNOBOTANI TUMBUHAN LIAR YANG
DIMANFAATKAN SEBAGAI OBAT OLEH MASYARAKAT SUKU
MANDAILING DI KECAMATAN LUBUK BARUMUN KABUPATEN
PADANG LAWAS. Jurnal Pendidikan Biologi Dan Sains (BIOEDUSAINS),
9, 306–312.
Dewi, T. A. S., Rossalia, N., & Malik, A. (2025). Tiara+Ayu+Safitri+Dewi+(3).
4(2), 4410–4419.
Duryat, D., Dewi, B. S., Qurniati, R., Bakri, S., Manaf, L. A., & Rodiani, R. (2025).
Edukasi Khasiat Obat Tanaman Pekarangan untuk Kesehatan Masyarakat
Mitra Taman Hutan Raya Wan Abdurachman Provinsi Lampung. Jurnal
Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 4(1), 126–141.
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPFP/article/view/10857
Henri, & Erpandi, E. (2021). Local Ethnic Malay Community Knowledge in
Traditional Medicine Utilization and Its Conservation Strategy in East
Belitung Regency, Indonesia. Media Konservasi, 26(1), 44–51.
https://doi.org/10.29244/medkon.26.1.44-51
Indrayani, F., & Shakila, A. N. (2025). Ori SWAMEDIKASI DENGAN OBAT
TRADISIONAL : STUDI EVALUATIF DI KELURAHAN CEMPANIGA ,
SELF-MEDICATION WITH TRADITIONAL MEDICINES : AN
EVALUATIVE STUDY IN CEMPANIGA VILLAGE , MAROS
REGENCY. Journal of Pharmaceutical Science and Herbal Technology,
10(1), 21–32.
Keanekaragaman, S., & Ekoregion, H. (2024). Status keanekaragaman hayati
ekoregion sumatra. In Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian
Lingkungan Hidup. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bappenas, dan
Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia
Edisi II. In Pocket Handbook of Nonhuman Primate Clinical Medicine.
ementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://doi.org/10.1201/b12934-13
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Suplemen I Farmakope
Herbal Indonesia Edisi II. In Jakarta: Departement Kesehatan Republik
Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Lavenia, C., Febrianti, N., Dewi, M., Indonesia, U., Cina, P., Barat, J., Indonesia,
U., Cina, P., & Barat, J. (2020). Pengarsipan Obat Tradisional Suku Batak
Karo Archiving Traditional Medicine. Jurnal Kearsipan, 15(1), 79–91.
Masfalinda, Wela Yulia Fitri, Welda Wilis, dan A. T. H. (2021). PENGOBATAN
TRADISIONAL DI MINANGKABAU. Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat,
Budaya, Agama Dan Humaniora, 25, 83–88.
Melfa Aisyah Hutasuhut, Nurul Khairunnisa Sofyan, dan K. M. (2023). Etnobotani
Tumbuhan Obat pada Suku Karo di Desa Garingging Kecamatan Merek
Kabupaten Karo Sumatera Utara. BEST Journal, 6(1), 176–182. bisnis ritel ekonomi
Mustapa, A., Pujianti, A., & Melati, I. S. (2025). The Studies of Social Science. The
Studies
of
Social
Science,
03(02),
30–35.
https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/ssj/article/view/64993/51048
Nasution, J., Riyanto, R., & Gaol, M. L. (2021). Kajian Etnobotani Tumbuhan Obat
Etnis Batak Toba di Desa Sipituhuta Kecamatan Pollung, Kabupaten
Humbang Hasudutan, Sumatera Utara. Jurnal Biologi Papua, 13(2), 106–111.
https://doi.org/10.31957/jbp.1646
Nopiyanti, N., Eliska, A., Nuryani, I., & Febrianti, Y. (2023).
triyanti2010,+Journal+editor,+28.+Publish.pdf. BIOEDUSAINS: Jurnal
Pendidikan Biologi Dan Sains, 6(1), 306–314.
Purwoko, S., Khairunnisa, M., Hidayat, T., Susanti, D., Laksono, A. D., &
Suharmiati, S. (2023). Promosi Pelayanan Pengobatan Tradisional di Jawa
Tengah: Siapakah Sasaran yang Tepat? Jurnal Kesehatan Vokasional, 8(1),
54. https://doi.org/10.22146/jkesvo.77089
Putri, N. K., Kurniatin, N., & Aricindy, A. (2026). Pola pemanfaatan tumbuhan
obat dalam praktik pengobatan tradisional etnobotani di Indonesia: systematic
literature review 2021–2026. Jurnal Media Akademik, 4(5), 3031–5220.
Rahmasiah dkk. (2024). Sosialisasi Penggunaan Obat Tradisional di Desa Tuncung
Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Rahmasiah1*, Shabran Hadiq2, Andi
Nurpati3, Hasma4 1,2Program. Jurnal Inovasi Dan Pengabdian Masyarakat,
04 (2), 2024, 31-36., 04(July), 31–36.
Ramadhiani, A. R., Indriani, O., & Sari, Y. R. (2022). Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah
Multi Science Kesehatan HUBUNGAN PENGETAHUAN MASYARAKAT
DENGAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL. 14(2), 126.
https://jurnal.stikes-aisyiyah-palembang.ac.id/index.php/Kep/article/view/
30
Santhyami, & Sulistyawati, E. (2021). Pengetahuan Tumbuhan Obat Masyarakat
Adat.
Pdfs.Semanticscholar.Org,
14(1),
162–183.
https://www.academia.edu/80149066/Medicinal_Knowledge_of_Traditional
_Community_in_Kampung_Dukuh_Garut_Regency_West_Java
Shofia, D. V. H., Yuwindry, I., & Rahman, F. (2022). PENGARUH BUDAYA
TERHADAP PENGGUNAAN TOGA ( Tanaman. Journal of Pharmaceutical
Care and Services, 3(1), 87–98.
Silalahi, M., Nisyawati, N., & Wahyuningtyas, R. S. (2022). The ethnobotani study
of medical plants by local community of ethnic Batak Mandailing in Tanjung
Julu Village, Mandailing Natal District, North Sumatra [in Bahasa]. AlKauniyah: Jurnal Biologi, 15(1), 107–120.
Suci, A., & Dioso, R. (2024). International Journal of Health Sciences ( IJHS )
International Journal of Health Sciences ( IJHS ). International Journal of
Health Sciences (IJHS), 2, 705–715.
Tresno, Ilham, I., Fajriani, S. W., Hartani, M., & Meliana, U. (2025). UREH NAN
AMPEK:
SEBUAH
DIKOTOMI
KESEIMBANGAN
ETNOFARMAKOLOGI MINANGKABAU. JURNAL ILMIAH KAJIAN
ANTROPOLOGI, 8(2), 224–240.
World Health Organization. (2021). Key technical issues of herbal medicines with
reference to interaction with other medicines. World Health Organization.
Yudhawirawan, R. A., Mulyana, D., & Indriani, S. S. (2024). PUJAKESUMA DI
MEDAN SUMATERA UTARA Radhi Abimanyu Yudhawirawan Universitas
Padjadjaran , Indonesia Deddy Mulyana Universitas Padjadjaran , Indonesia
Sri Seti Indriani Universitas Universitas Padjadjaran , Indonesia Abstrak
Sumatra Utara merupakan provinsi. Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan
Kemasyarakatan,
18(6),
4610–4633.
https://www.jurnal.stiqamuntai.ac.id/index.php/al-qalam/article/view/4208/2154
Yusmaniar, Y., Hasbi, F., & Rani, R. (2024). A systematic review of Indonesian
traditional Jamu medicine. Tropical Journal of Pharmaceutical Research,
23(6), 1021–1029. https://doi.org/10.4314/tjpr.v23i6.13
31
Download