KODE/RUMPUN: 622/ILMU KOMUNIKASI LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA REVITALISASI MEDIA LUAR RUANG UNTUK BERIKLAN DENGAN MEDIA INSTALASI SEBAGAI IMPLEMENTASI PENGALIHAN MEDIA BILLBOARD DAN BALIHO DI SEPANJANG TUGU HINGGA NOL KILOMETER KOTA JOGJA Oleh : Hardoyo, S.Sos, MA. NIDN.0516.0472.01 Karina Rima Melati, S.Sn, M.Hum NIDN.0530.0982.01 AKINDO AKADEMI KOMUNIKASI INDONESIA YOGYAKARTA 2016 HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN DOSEN PEMULA Judul Kegiatan : Revitalisasi Media Luar Ruang untuk Beriklan dengan Media Instalasi sebagai Implementasi Pengalihan Media Billboard dan Baliho di Sepanjang Tugu hingga Nol Kilometer Kota Jogja 622 / Ilmu Komunikasi Kode/Nama Rumpun Ilmu : Ketua Peneliti A. Nama Lengkap : HARDOYO M.A B. NIDN : 516047201 C. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli D. Program Studi : Periklanan E. Nomor HP : 081215642020 F. Surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1) A. Nama Lengkap : KARINA RIMA MELATI S. Sn M. Hum. B. NIDN : 0530098201 C. Perguruan Tinggi : Akademi Komunikasi Indonesia YPK Lama Penelitian Keseluruhan : 1 Tahun Penelitian Tahun ke : 1 Biaya Penelitian yang diajuakan: Rp. 15.000.000,00 Biaya Penelitian Keseluruhan yang disetujui : Rp 11.600.000,00 Biaya Penelitian yang diterima pada Tahap I :Rp 8.120.000,00 Mengetahui Direktur Kota Yogyakarta, 7 - 8 - 2016, Ketua Peneliti, (Drs Ahmad Muntaha M.Si) NIP/NIK 002203295 (HARDOYO M.A) NIP/NIK030.2031.05 Menyetujui, P3M (Drs Heroe Poerwadi MA) NIP/NIK 011203197 DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... RINGKASAN ........................................................................................................ BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1.1. Latar belakang Masalah ............................................................... 1.2. Rumusan Masalah ........................................................................... 1.3. Pendekatan dan Konsep .................................................................. 1.4. Hipotesis ......................................................................................... 1.5. Batasan penelitian ........................................................................... 1.6. Tujuan penelitian secara ringkas .................................................... 1.7. Target luaran yang ingin dicapai .................................................... 1.8. Kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan ..................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 2.1. Iklan dan Perkembangannya ........................................................... 2.2. Sudut Pandang Konsumen .............................................................. 2.3. Penciptaan Iklan Billboard ............................................................. 2.4. Ruang Publik di Yogyakarta ........................................................... 2.5. Seni Instalasi ................................................................................... BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 3.1. Jenis Penelitian ............................................................................... 3.2. Proses Pengumpulan ....................................................................... 3.3. Analisis Informasi ........................................................................... 3.4. Penafsiran ....................................................................................... 3.5. Kesimpulan Penelitian .................................................................... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Obyek .............................................................................................. 4.2. Hasil Penelitian ............................................................................... BAB V KESIMPULAN BAB VI BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ................................................. 4.1. Anggaran Biaya .............................................................................. 4.2. Jadwal Penelitian ............................................................................ DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian . Lampiran 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas Lampiran 3.Biodata Peneliti Lampiran 4. Surat pernyataan ketua peneliti. RINGKASAN Industri pemasaran semakin massif, dan perkembangan media komunikasi luar ruang mengikuti pasar dan demand. Yogyakarta memiliki icon sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar. Namun ruang publik bagi seniman dan budayawan semakin terkurangi, salah satu penyebabnya karena perkembangan media luar ruang yang semakin tidak terkontrol sehingga menyebabkan pemasangan yang sembarangan. Sehingga meninggalkan permasalahan dengan ketidakteraturan penempatan media luar ruang tersebut dan banyak dipasang sembarangan tanpa memperhatikan estetika ruang publik. Saat ini pemerintah Kota masih menggunakan Perda Kodya Dati II YK No.8/1998 tentang izin penyelenggaraan reklame, saat ini perubahannya sedang dalam proses penggodokan. Salah satu jenis reklame yang belum dimasukan kedalam Raperda adalah media iklan instalasi. Media Iklan instalasi ini merupakan bentuk baru yang ditawarkan nantinya kepada pelaku usaha atau vendor terutama dalam hal mencari tempat yang strategis tanpa merusak pandangan atau dianggap sebagai sampah visual. Karena permasalahan tersebut maka tawaran yang bisa dilakukan adalah dengan merevitalisasi media luar ruang dari billboard dan baliho ke bentuk media instalasi yang selain bermuatan seni, budaya dan kreativitas juga lebih bermartabat. Implementasi dari media instalasi dapat bersenyawa dengan harapan dan slogan kota, yaitu ‘Jogja Istimewa’ sehingga tidak hanya mengedepankan PAD tetapi juga memperhatikan estetika penempatan media promosi yang terencana dan sesuai dengan blue print atau master plan. Selain itu penelitian ini juga dibuat untuk memberikan masukan dan mensikronkan kerja antara biro iklan, pemerintah, stekholder, dan masyarakat kota Jogja itu sendiri. Dengan menggunakan metode kualitatif penelitian ini akan mengedepankan analisa mendalam terhadap situasi, pelaku, serta mengimplementasikan berbagai media instalasi yang ditawarkan. Analisa akan didapat dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, kuisioner serta menggunakan kajian pustaka. Dengan penawaran serta aturan main yang akan dibuat di penelitian ini, penerapan media instalasi dapat menjadi Peraturan Daerah kota Jogjakarta yang saat ini sedang dalam tahap penggodokan Perda tentang penyelenggaraan reklame sehingga nantinya sesuai dengan kebutuhan tentang nilai-nilai tata ruang public, bermuatan estetika, dan bermuatan kreatif. Pada akhirnya antara pemerintah, biro iklan, seniman, dan terutama stekholder memiliki sudut pandang yang sama tentang penempatan media promosi yang sebelumnya dalam bentuk billboard dan baliho direvitalisasi dalam bentuk media instalasi. Keyword: Reklame. Media Iklan Instalasi, Ruang Publik, Perda tentang Penyelenggaran BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Masalah Perkembangan Iklan Media Luar Ruang di Yogyakarta terlihat pesat, dari mulai ukuran yang kecil hingga yang besar, tinggi dan memanjang bisa kita lihat di sepanjang jalan. Kita tidak hanya disuguhi dengan banyaknya traffic light, tetapi Iklan Media Luar Ruang (MLR) turut serta mendominasi setiap jalan protokol, pertokoan dan perkantoran. Penempatan Iklan Media Luar Ruang (MLR) yang strategis bagi pengiklan merupakan hal yang utama agar mudah dilihat dan dibaca. Tapi lokasi yang strategis saja belum tentu mampu mendukung efektifitas sebuah Iklan Media Luar Ruang (MLR). Perilaku konsumen merupakan materi yang harus dipertimbangkan. Prilaku konsumen dapat sebagai penghubung antara pesan (iklan) dan penerima pesan sehingga pesan dapat mempengaruhi sikap yang diharapkan mampu mempengaruhi konsumen untuk perhatian, mendorong minat, menciptakan keinginan, dan mengundang tindakan. Konsumen adalah raja pepatah ini sering dilontarkan oleh pelaku iklan sebagai pengingat bahwa pesan yang disampaikan bisa saja diterima atau ditolak penerima pesan sehingga pesan dianggap tidak berhasil. Keberhasilan sebuah iklan bukan hanya berdasarkan ukuran, visual dan permainan kata-kata tetapi ada factor yang mempengaruhi antara lain ekonomi, psikologis, dan sosial budaya. Regulasi pemerintah tentang penyelenggaraan reklame masih mengacu pada Perda Kodya Dati II Yk.No.8/1998 tentang izin Penyelenggaraan Reklame, dengan acuan Perda lama dan melihat kondisi saat ini tidak lagi dapat membuat nyaman masyarakat. Walaupun pemerintah sedang menggodok Perda Penyelenggaraan reklame yang baru serta inginnya Daerah Istimewa Yogyakarta indah, bersih dan menarik tetapi kenyataannya pelaku usaha/vendor hanya menginginkan tempat yang strategis sehingga lokasi-lokasi yang seharusnya tidak digunakan untuk reklame dan indah dipandang jadi tertutupi. Pemerintah Kota Yogyakarta masih belum mampu merancang corak ragam paduan atau keseimbangan antara ruang publik, seni instalasi, pelaku usaha atau vendor dengan kewenangan pemungutan pajak. Saat ini, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta penempatan media luar ruang sudah sangat mengawatirkan dengan pemasangan yang sembarangan sehingga memunculkan adanya gerakan sampah visual yang digawangi Sumbo Tinarbuko (Dosen ISI) karena merasa hak masyarakat untuk menikmati ruang publik tercederai dengan banyaknya media luar ruang yang tidak teratur. Permasalahan lainnya karena penempatan media luar ruang tumpang tindih, sehingga perlu dilakukan perumusan peraturan untuk revitalisasi bentuk media luar ruang dari billboard ke media instalasi. Saat ini peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklame belum berpihak pada pemanfaatan ruang publik yang semestinya. Sehingga tawarannya adalah media iklan instalasi untuk menggantikan media billboard dan baliho. 1.2. Rumusan masalah Masyarakat sudah jenuh dan pelaku industry memiliki niatan yang sama untuk memperbaiki. Perda Kodya Dati II Yk.No.8/1998 tentang izin Penyelenggaraan Reklame yang sudah ditetapkan sejak tahun 19988 namun belum berdampak secara nyata. Karena itu berarti perlu rujukan melalui Raperda dan dimasukan dalam Perda baru yang menawarkan solusi nyata dengan pergantian media dari billboard ke media instalasi. Berdasarkan dari latar belakang diatas, peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai berikut : Masalah Umum Bagaimana proses revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi sebagai implementasi pembersihan sampah visual di sepanjang tugu hinggatitik nol, kota Jogja? Rincian masalah 1. Bagaimana proses revitalisasi bisa berjalan dengan mengubah perspektif dari media konvensional billboard ke media instalasi? 2. Bagaimana mensinergikan penerapan media instalasi untuk beriklan bagi pemerintah kota Jogja, biro iklan, pelaku usaha/vendor dan masyarakat kota Jogja secara umum? 1.3. Pendekatan dan Konsep Dengan membuat perencanaan yang didapatkan dari komite khusus perda media instalasi yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti seni, budaya, kebijakan tata kelola, dan biro iklan, diharapkan pengesahan Perda instalasi dapat terealisasi temasuk menentukan titik penempatan yang berada di sepanjang tugu hingga titik nol kota Jogja, termasuk bentuk media instalasinya. 1.4. Hipotesis Tawaran dengan kreativitas seni atau media instalasi yang dibuat justru akan meningkatkan atensi atau perhatian dari konsumen sehingga memaksimalkan pesan yang disampaikan pada iklan Menjadikan ruang publik sebagai wahana yang nyaman bagi masyarakat dan terlindungi dari sampah visual dengan tampilan media instalasi yang ditata rapi, unik, apik dan menarik. Konsephamemayu hayuning bawono lan manungsoyang berarti sustainability ruang public yang melindungi hak public untuk menikmati keindahan kota sekaligus magnet pariwisata khususnya di wilayah sepanjang tugu hingga Nol Kilometer. Ini juga mendukung slogan ‘Jogja Istimewa’ atau sebagai kota pendidikan, kesenian dan kebudayaan. 1.5. Definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian Media Instalasi, ruang public, batasan penelitian ada perancangan penerapan media instalasi di sepenjang Tugu hingga Nol Kilometer kota Jogja yang merupakan Zona Khusus. 1.6. Tujuan penelitian secara ringkas Umum: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wacana tata kelola ruang kota dengan media instalasi yang ditata rapi, indah, unik, apik dan menarik Khusus: revitalisasi media luar ruang billboard dan baliho 1.7. Target luaran yang ingin dicapai Berkontribusi pada kesepakatan Raperda dan hasilnya diwujudkan melalui Perda baru tentang izin penyelenggaraan reklame yang didalamnya termuat aturan seni instalasi untuk penerapan media luar ruang. Memberi gambaran dan wacana untuk pembentukan komite bersama penyelenggaraan reklame yang melibatkan pemerintah kota dan dinas terkait, seniman, budayawan, akademisi, biro iklan, dan masyarakat. 1.8. Kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan 1. Edukasitentang ruang public di kota Jogja 2. Perancangan desain media instalasi 3. Strategi penerapan elemen-elemen rupa dalam desain grafis untuk pembuatan iklan media luar ruang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Iklan dan Perkembangannya Secara konseptual, iklan dapat diterapkan pada bermacam-macam media. Asal muasal periklanan sendiri adalah bahasa latin yaitu ad-vere yang berarti mengoperasikan pikiran dan gagasan kepada pihak lain (Otto Klepper, 1986). Iklan juga dianggap sebagai bentuk kegiatan komunikasi non-personal yang disampaikan lewat media dengan membayar ruang yang dipakainya untuk menyampaikan pesan yang bersifat membujuk (persuasif) kepada konsumen oleh perusahaan, lembaga non-komersial, maupun pribadi yang berkepentingan (Dunn & Barban 1978:8). Iklan merupakan suatu suatu proses komunikasi yang mempunyai kekuatan yang sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu menjual barang, memberikan layanan, serta gagasan atau ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif (Liliweri,1992:20). Sedangkan dari sudut pandang pemasaran, iklan adalah bentuk penyajian non-personal, promosi ide-ide, promosi barang produk atau jasa yang dilakukan oleh sponsor tertentu yang dibayar (Kotler 1991:237). Sementara Masyarakat Periklanan Indonesia menganggap iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu media dan ditujukan kepada sebagian atau seluruh lapisan masyarakat. Untuk istilah periklanan merupakan keseluruhan proses yang meliputi persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan (Riyanto, 2001) Kesamaan ide dari beberapa sudut pandang tentang iklan dapat dirangkum dalam enam prinsip dasar, yaitu: 1. Adanya pesan tertentu Sesuatu yang disampaikan dan dapat diterima alat indera manusia adalah pesan. Bentuk dari pesan bisa perpaduan dari pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal adalah pesan yang biasa kita pergunakan sehari-hari dalam berinteraksi, berupa lisan atau tulisan. Pesan non verbal adalah semua pesan yang bukan pesan verbal. Tanpa adanya pesan, tidak akan ada pihak yang bereaksi. 2. Dilakukan oleh sponsor (komunikator) Aksi iklan didahului oleh sponsor sebagai pihak yang berkepentingan menyampaikan pesan kepada khalayak. Bila tidak ada sponsor, tidak akan ada pesan iklan yang disampaikan. Komunikator dalam iklan dapat datang dari perseorangan, kelompok masyarakat, lembaga atau organisasi, bahkan negara. 3. Dilakukan secara non personal Disepakati bahwa iklan merupakan penyampaian pesan yang dilakukan tidak secara tatap muka. Iklan membutuhkan media sebagai sarana penyampaian pesan. Media yang dikenal dalam periklanan adalah media lini atas dan media lini bawah dengan kemampuan jangkau yang berbeda-beda. 4. Disampaikan untuk khalayak tertentu Tidak semua segmen pasar dapat mengartikan makna iklan yang diketahuinya. Ini adalah strategi pemasaran berdasarkan pertimbangan, setiap kelompok masyarakat mempunyai kesukaan, kebutuhan, keinginan, karakteristik, dan keyakinan yang khusus. 5. Dalam pelaksanaannya ada proses pembayaran Dalam perkembangannya, pesan komunikasi yang disampaikan dengan cara tidak membayar akan dimasukkan dalam kategori kegiatan komunikasi yang lain. Makna membayar pun sekarang meluas, tidak hanya dengan alat tukar uang, melainkan bisa dengan cara barter berupa ruang, waktu dan kesempatan. 6. Penyampaian pesan tersebut mengharapkan dampak tertentu. Setelah ada aksi, pasti yang diharapkan adalah reaksi. Yang diharapkan dari sponsor dapat berupa pengaruh ekonomis yaitu produk laku di pasar ataupun dampak sosial yaitu terbangunnya citra baik. Dalam ilmu pemasaran, citra baik yang dibentuk pada suatu produk pada akhirnya akan membawa keuntungan ekonomi, diterima baik oleh khalayak sehingga akhirnya banyak dibeli. Jauh sebelum manusia mengenal tulisan, aktivitas komunikasi sudah dimulai. Menurut Jack Angel (1980), bentuk iklan paling awal disampaikan melalui komunikasi lisan berupa tatap muka dan dari mulut ke mulut. Bentuk kegiatan iklan semacam ini terjadi pada jaman Batu Muda kurang lebih 5000 tahun sebelum Masehi. Karena belum ada aturan berbahasa, maka pesan-pesan banyak disampaikan dalam komunikasi non verbal visual melalui gerakan tubuh. Kehadiran barang pun dibutuhkan, karena keterbatasan kemampuan baca tulis. Di kota Athena misalnya, sudah mulai diperdagangkan keliling produk kosmetik untuk wanita bermerek Aesclyptos. Para penjualnya menawarkan produk malalui nyanyian semacam puisi. Ketika tulisan sudah mulai dikenal, digunakan media tulis seperti batu, tanah liat, daun papyrus, dan kulit binatang. Kala itu di kota tua Pompei dekat Roma ditemukan iklan dinding dari daun papyrus berisi informasi budak-budak yang melarikan diri. Iklan cetak dimulai pada jaman Mesopotamia dan Babilonia sekitar tahun 3000 sebelum Masehi. Simbol dan logo sebagai tanda khas suatu produk sudah mereka tempelkan pada produk yang diperdagangkan, dan mereka menganggapnya sebagai ciri keunggulan produk. Yang sudah juga mereka lakukan adalah pengenalan calon konsumen sebelum menawarkan barang, maksudnya agar barang dagangannya cepat laku. Menurut beberapa literetur, praktik periklanan di jaman Romawi lebih maju dibandingkan yang dilakukan bangsa Mesopotamia, Babilonia, dan Mesir. Konsumen pun mulai digiring menuju produk-produk yang ditawarkan, sehingga konsumen mulai mencari barang yang dibutuhkannya. Perkembangan iklan bertambah pesat setelah ditemukannya kertas, 1275 di Cina. Yang kemudian dianggap sebagai iklan pertama yang dicetak di atas kertas adalah iklan yang menawarkan buku-buku doa agama Kristen di Inggris pada tahun 1472. Iklan tersebut dalam bentuk poster. Sinergi iklan dan suratkabar dimulai di Inggris pada tahun 1650, Weekly News. Barang-barang yang ditawarkan kebanyakan obat-obatan karena saat itu di Inggris tengah berjangkit banyak penyakit yang menyebabkan puluhan ribu orang meninggal. Pesatnya perkembangan periklanan didorong suksesnya penerbitan yang ada. Fenomena ini adalah akibat dari makin meningkatnya kemampuan membaca masyarakat ( Kotler, 1987:212-213) seiring program wajib belajar di sekolahsekolah modern Amerika. Pada tahun 1920 saat dunia cetak mencetak mulai mampu menghasilkan cetakan berwarna, muncullah inovasi-inovasi baru dalam beriklan yang menjadikannya sebagai bisnis yang mendukung perekonomian. Sayangnya dampak dari Perang Dunia II berimbas pada perekonomian dunia, yang juga menyebabkan periklanan terpukul. Tak berapa lama, perekonomian bangkit dengan munculnya media baru yang langsung merebut perhatian pasar, radio. Jangkauannya luas dan menembus batas geografis yang selama ini sulit dilakukan media cetak. Era periklanan radio terjadi sampai akhir tahun 1940. Tuntutan kebutuhan masyarakat mulai tinggi, didukung ditemukannya media televisi. Pada tahun 1960-an, iklan mengalami pergeseran penekanan dari keistimewaan produk menjadi citra atau personalitas merek. Era ini adalah era dimana iklan mengkaitkan produk dengan citra tertentu, sehingga pada tahuntahun ini iklan disebut dengan,’The image of advertising.” Pada awal abad 20, iklan kembali mendorong masyarakat untuk menambah konsumsinya, bahkan menjadikannya sebagai gaya hidup (Douglas Kellner, 1990:243) . Produsen berusaha sedemikian rupa agar target pasar siap menerima produk yang dihasilkan. Sikap hidup hedonis yang mengutamakan belanja dan konsumerisme tumbuh di lingkungan masyarakat. Hal ini didukung oleh aplikasi sinergis segala lini media untuk mendorong pembelanjaan uang. 2.2.Sudut Pandang Konsumen Perilaku konsumen adalah proses yang mendahului dan menyusuli tindakan dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa. Mempelajari sikap-sikap dasar konsumen penting bagi pencapaian target produsen. Konsumen bukan lagi raja. Menyediakan segala kebutuhan bukan lagi tugas produsen. Saat ini sebagai akibat sikap hedonis, produsen menciptakan produk yang belum dibutuhkan konsumen. Sudut pandang konsumen dapat dilihat dari berbagai macam perspektif, yaitu: 1. Pengaruh konsumen (consumer influence) Konsumen adalah penentu dalam proses pembelian (buying process), menurut Tom Peters dan Nancy Austin ada dua cara untuk menciptakan dan mempertahankan prestasi unggul dalam waktu yang lama. Pertama, beri perhatian luar biasa kepada pelanggan anda… lewat pelayanan yang unggul dan kualitas unggul. Kedua, teruslah berinovasi. 2. Menyeluruh (wholistic) Perspektif ini lebih mengarah kepada perluasan konsumsi konsumen dalam mendapatkan, menggunakan, atau menghabiskan produk apa pun yang dapat mencapai suatu tujuan, memenuhi suatu kebutuhan, atau memuaskan suatu keinginan (Morris B. Holbrook, 1987:130) 3. Antarbudaya (intercultural) Prekspektif ini mengutamakan pada kebutuhan manusia yang bersifat universal, walaupun ada perbedaan budaya yang dalam dan tidak dapat disangkal di dalam pengungkapannya. Menurut Surat kabar Cina 13 Juni, 1988:6 kata yang sedang digemari di Cina dewasa ini adalah “Huoli 28,” ucapan dalam bahasa Cina untuk “Power 28,” yang hampir seketika menjadi detergen paling populer di negara ini. Keputusan yang mendasari konsumen dalam menentukan suatu produk yang akan dibeli terdiri dari 3 kategori: 1. Pengaruh lingkungan Pada dasarnya konsumen hidup di dalam lingkungan yang kompleks. Perilaku proses keputusan mereka dipengaruhi oleh (1) budaya; (2) kelas sosial; (3) pengaruh pribadi; (4) keluarga; dan (5) situasi. 2. Perbedaan dan pengaruh individual Faktor internal turut serta menggerakan dan mempengaruhi perilaku. Pengaruh perilaku konsumen memiliki lima cara penting yang berbeda: (1) sumber daya konsumen; (2) motivasi dan keterlibatan; (3) pengetahuan; (4) sikap; dan (5) kepribadian, gaya hidup, dan demografi. 3. Proses psikologis. Dalam proses psikologis ada beberapa pemahaman prilaku konsumen: (1) pengolahan informasi; (2) pembelajaran; dan (3) perubahan sikap dan prilaku. Selain itu proses dan prilaku keputusan konsumen memiliki berbagai macam pandangan mengenai sifat dan fungsinya dalam pemecahan masalah: (1) pengenalan kebutuhan; (2) pencarian informasi; (3) evaluasi alternatif; (4) pembelian; dan (5) hasil (khususnya tingkat kepuasan). 2.3.Penciptaan Iklan Billboard Iklan billboard yang terdapat di sepanjang jalan yang lalu lintasnya ramai bertujuan untuk memperkenalkan nama merek. Dalam perancangannya memerlukan ide dan konsep yang dapat mengejutkan orang-orang yang melihat, baik dengan kata atau gambar. Cara mendapatkan konsep, langkah-langkah strategisnya adalah: (1) strategi menetapkan audiens sasaran; (2) strategi menetapkan sasaran dan anggaran iklan outdoor; (3) strategi mencari keunggulan produk yang diiklankan; (4) strategi kreatif merancang iklan outdoor; (5) strategi merancang daya tarik pesan iklan outdoor; (6) strategi merancang gaya dalam mengeksekusi pesan iklan outdoor; (7) strategi merancang warna, kata, logo, simbol dan format dalam iklan outdoor. 2.4.Ruang Publik di Yogyakarta Ruang secara mudah diasosiasikan dengan sebuah tempat. Dan jika ruang tersebut merupakan sebuah kota maka muatannya tidak hanya pada fisik-spasialarsitektural, melainkan mencangkup ranah-ranah kultural, sosial, ekonomi, politik, hukum dan sebagainya . Ruang kemudian menjadi bernilai jika publik mampu mengisi dan menghidupi dengan harmoni. Publik bukan didasarkan pada asal-usul kedaerahannya tetapi pada kebersamaan di ruang yang sama. Intinya bahwa publik di sini adalah pihak-pihak yang memiliki koordinasi kehidupan bersama sehingga memiliki sensivitas akan hal-hal esensial dari kota tersebut, dan pada saat yang sama. Dengan demikian ruang publik berarti menjadi valueable place yang menjadi pusat optimasisasi masyarakatnya. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa publik Jogja sudah semakin dinamis dengan berbagai latar belakang kedaerahan mereka. Dikotomi antara orang asli dengan pendatang memang menjadi agenda yang terus diwacanakan oleh sebagaian kelompok yang memiliki chauvinisme tinggi. Namun jika kita kembali ke pengertian awal tentang publik maka ia dianggap setara; menjadi sebuah komunitas yang menduduki tempat yang sama, sehingga pada akhirnya diidentifikasi dengan tempat yang mereka tinggali bersama tersebut. Karena apapun yang kemudian dianggap sebagai ranah maupun aset, barang, jasa, ruang atau gugus infrastruktur bersama kinerjanya menjadi penyangga watak sosial suatu masyarakat, sehingga masyarakat tersebut berevolusi dari sekedar ‘kerumunan’ crowd menjadi komunitas community . Karenanya ruang publik menjadi pusat bertemunya publik sehingga dekat dengan berbagai kepentingan untuk publik. Bagi sebagian besar kota-kota, ruang publik digunakanan untuk pergerakan percepatan pembangunan dengan jaringan-jaringan modern, termasuk, dan ini yang paling penting dan tak terhindarkan adalah menjadi ranah pesan komunikasi visual dalam bentuk media komunikasi luar ruang. Modern sendiri sering dianggap, atau disalahartikan sebagai sesuatu yang baru, mutakhir, canggih, agar pesan didalamnya mudah dipercaya oleh masyarakat. 2.5. Seni Instalasi Seni instalasi dalam kamus bahasa indonesia, instalasi artinya pemasangan. Secara keseluruhan seni intalasi memiliki arti seni menyambung, menyatukan, mengkonstruksi dengan menggunakan benda baik dari bahan daur ulang atau bahan baku baru, sehingga menjadi satu kesatuan. Hasil penciptaan seniman melalui konsep, ide yang karyanya dapat dinikmati orang lain atau pencinta seni. Karya seni jenis ini umumnya diletakkan di luar ruang atau khususnya ruang publik sehingga memiliki makna ‘menghidupkan suasana’ dengan karya-karya yang menyedot perhatian penonton di jalan. Lebih jauh dengan menaruh karya ini di ruang publik juga bisa mengekspresikan community values, menambah kualitas lingkungan, menyatakan opini atas permasalahan sosial, budaya, dan lingkungan fisik kota BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini berjenis penelitiankualitatif menurut Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln (2009,p.6) dalam bukunya Hanbook of Qualitative Research, penelitian kualitatif penekanannya pada sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan yang erat antara peneliti dengan subyek yang diteliti, dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan. Ciri penelitian kualitatif menurut Rahardjo adalah: (1) realitas bersifat subjektif dan banyak seperti yang dipahami oleh para partisipan; (2) peneliti menjalin interaksi dengan objek yang diteliti; (3) informal, mengembangkan keputusan, bersifat personal memakai istilah-istilah kualitatif yang diterima; (4) metodologi: proses induktif, bersifat simultan, rancangan muncul (kategorikategori diidentifikasi selama proses penelitian), terikat konteks, teori-teori dikembangkan untuk menciptakan pemahaman, akurasi dan reliabilitas melalui verifikasi (dalam Birowo, 2004,p.3). 3.2. Proses Pengumpulan Pemetaan ruang publik dari titik “0” hingga Tugu dapat dikumpulkan melalui hasil survei, data wawancara, kuesioner, dan data sekunder pendukung baik yang didapat melalui pemerintah, biro iklan/pelaku usaha/vendor/stekholder, dan masyarakat kota Jogja sehingga diketahui secara jelas dan benar, tujuan serta maksud revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi di zona khusus. 3.3. Analisis Informasi Penelitian ini menggunakan survei. Menurut Setiawan (2007), pendekatan survei adalah pendekatan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui tanggapan dari orang atau kelompok tertentu di masyarakat yang dicari melalui kuesioner, wawancara dan observasi yang melibatkan sejumlah orang (responden) tertentu. Dengan demikian, survei meneliti sejumlah sampel tertentu. Survei dilakukan untuk mendapatkan data-data pokok atau jenis data primer. Data primer adalah informasi tentang peran desainer grafis di Perguruan Tinggi dalam membuat konten visual media cetak dan informasi dalam tim penerimaan mahasiswa baru. 3.4. Penafsiran Ruang publik menjadi pusat bertemunya publik sehingga dekat dengan berbagai kepentingan untuk publik. Ruang kemudian menjadi bernilai jika publik mampu mengisi dan menghidupi dengan harmoni. Publik bukan didasarkan pada asalusul kedaerahannya tetapi pada kebersamaan di ruang yang sama. Intinya bahwa publik di sini adalah pihak-pihak yang memiliki koordinasi kehidupan bersama sehingga memiliki sensivitas akan hal-hal esensial dari kota tersebut, dan pada saat yang sama. Dengan demikian ruang publik berarti menjadi valueable place yang menjadi pusat optimasisasi masyarakatnya. Di Yogyakarta saat ini semakin crowded oleh tempelan-tempelan reklame atau MLR antara lain billboard, baliho, spanduk dan sebagainya. Tidak cukup disitu, kini dinding-dinding strategis di pinggiran jalan seakan tidak bisa dibiarkan menganggur untuk kemudian dihiasi pula dengan pesan visual. Gambaran kondisi ini kurang lebih seperti cerita salah satu kawan berikut: Jika 10 tahun lalu hendak pergi ke arah utara Jogja pasti dengan mudah melihat gundukan gunung Merapi nan perkasa (gunung Merapi berada di ujung utara kota Jogja), tetapi kini tampilan Merapi seolah hilang ditelan semarak iklan luar ruang yang hampir pasti ada di sepanjang jalan-jalan utama, terutama yang berada di kawasan utara kota Jogja. Karena itu perlu adanya revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi mulai di titik “0” hingga tugu yang termasuk zona khusus. 3.5. Kesimpulan Penelitian Dengan menggunakan metode kualitatif penelitian ini akan mengedepankan analisa mendalam terhadap situasi, pelaku, serta mengimplementasikan berbagai media instalasi yang ditawarkan. Analisa akan didapat dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, kuisioner serta menggunakan kajian pustaka. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Obyek 4.2.1. Sejarah Malioboro Jalan Malioboro berasal dari nama ‘The First Duke of Marlborough’ pertama (1650 – 1722), seorang jenderal pejuang Inggris. Marlborough merupakan jenderal yang meraih kemenangan yang mengagumkan dalam setiap pertempurannya. Selain Jalan Malioboro, nama Marlborough juga digunakan sebagai nama benteng Inggris yang terletak di Bengkulu (1714). Namun yang perlu menjadi pembahasan lebih lanjut, pada masa itu terjadi perbedaan kondisi antara Bengkulu dan Yogyakarta. Bengkulu mengalami penjajahan Inggris hingga 1824, sedangkan Yogyakarta tidak pernah berada di bawah kendali Inggris secara formal selama periode 1811 – 1816, walaupun militer Inggris pernah menyerang Keraton di tahun 1812. Jalan Malioboro berasal dari bahasa sansekerta malyabhara, yang mempunyai arti; malya (karangan bunga, untaian bunga atau tasbih), malyakarma (mendapatkan untaian bunga) dan malyabharin (terhiaskan atau mengenakan untaian bunga). Pengertian-pengertian tersebut dapat ditemukan dalam Ramayana berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada pertengahan abad ke-9 dan dalam Adiparwa dan wirathaparwa yang ditulis pada akhir abad ke10. Malioboro dari asal kata malio boro, yaitu terdiri dari kata molimo (madat, maling, main, madon, mabuk) dan boro yang artinya dibakar pakai obor Peraturan dan Hukum Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa yang terbagi menjadi 5 Wilayah administrasi dalam beberapa wilayah yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Kulonprogo. Keberadaan etnis Tionghoa di Kawasan Malioboro, tepatnya di sepanjang jalan Malioboro, jalan Pajeksan dan Ketandan, merupakan bagian dari peranan Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat (1760-1831). KRT. Secodiningrat atau Tan Jing Sin, merupakan seorang kapiten Tionghoa di Kedu (1793-1803) dan Yogyakarta (1803-1813). Keberadaan Dalem Secodiningratan dan Kawasan Pecinan yang berada di dekat pusat pemerintahan, namun di luar beteng Kraton (Jobo Beteng), dipengaruhi Paugeran Kraton yogyakarta. Dimana dalam Paugeran tersebut disebutkan bahwa orang asing, termasuk etnis Tionghoa tidak boleh bertempat tinggal di dalam beteng (Jero Beteng) dan juga tidak diperbolehkan adanya tempat ibadah selain Masjid dan Musholla. Maka pada masa pemerintahan HB IX, keberadaan Pecinan di pertegas dengan adanya Perjanjian/Prasati Pikola. Dimana Prasasti/Perjanjian Pikola berisikan bahwa untuk orang Tionghoa disediakan tanah Pikola atau tanah yang strategis untuk bermata pencaharian, beribadah dan bertempat tinggal. (Sumber: Romo Tirun / KRT. Jatiningkrat, 6 Agustus 2015) 4.2.2.1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta Pengaturan Keistimewaan DIY dalam peraturan perundang-undangan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap konsisten dengan memberikan pengakuan keberadaan suatu daerah yang bersifat istimewa.Bahkan, Pasal 18B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan pengakuan terhadap eksistensi suatu daerah yang bersifat istimewa dalam kerangka NKRI.Namun, konsistensi pengakuan atas status keistimewaan suatu daerah belum diikuti dengan pengaturan yang komprehensif dan jelas mengenai keistimewaannya. Hal itu pula yang dialami DIY, kewenangan yang diberikan kepada DIY awalnya melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 yang semata-mata hanya mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. isi dari UU a quo memperlakukan sama semua daerah di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada masa berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah sampai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Status keistimewaan DIY yang tidak secara tegas diatur dalam sebuah undang-undang tersendiri memunculkan tuntutan dari masyarakat Yogyakarta.Secara sosiologis, tuntutan masyarakat untuk memperoleh pengakuan menjadi salah satu alasan dari dibentuknya peraturan perundang- undangan.Tuntutan tersebut merupakan bagian dari kehendak masyarakat serta kebutuhan hukum yang perlu direspon dengan suatu peraturan perundang- undangan. Oleh karena itu, diperlukan perubahan, penyesuaian dan penegasan terhadap substansi keistimewaan yang diberikan kepada Daerah Istimewa melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1955 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 junto Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, dalam rangka perubahan dan penyesuaian serta penegasan Keistimewaan DIY, dibentuk undang-undang tentang keistimewaan DIY dengan nomenklatur Undang-undang Nomor 13 Tahun tentang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Undang-undang ini disahkan pada tanggal 31 Agustus 2012 dan diundangkan pada tanggal 3 September 2012.Undang-undang yang tercatat dalam Lembaran Negara Tahun 2012 Nomor 170 ini sebelumnya mengalami perdebatan yang cukup alot.Namun, setelah berbagai kompromi, Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya menetapkan rancangan undang-undang yang mengatur mengenai keistimewaan Yogyakarta ini menjadi undang-undang. Menurut pembentuk undang-undang, status istimewa yang melekat pada DIY merupakan bagian integral dalam sejarah pendirian negara-bangsa Indonesia.Pilihan dan keputusan Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Paku Alam VIII untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia, serta kontribusinya untuk melindungi simbol negara-bangsa pada masa awal kemerdekaan telah tercatat dalam sejarah Indonesia.1 Undang-undang ini terdiri dari 16 bab dan 51 pasal. Muatan bab dalam undang-undang tersebut antara lain: a. Bab I mengatur mengenai Ketentuan Umum yang memuat definisi berbagai kata dan/atau frasa sebagaimana tercantum dalam pasal-pasal berikutnya. b. Bab II mengatur tentang batas wilayah dan pembagian wilayah. Pada bagian ini diatur bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kotamadya2 dan berbatasan dengan: 1 Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta 2 Keempat kabupaten sebagaimana dimaksud yakni Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, dan Kabupaten Gunung Kidul.Sedangkan 1 kotamadya yakni Kota Yogyakarta. 1. sebelah utara dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah; 2. sebelah timur dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah; 3. sebelah selatan dengan Samudera Hindia; dan 4. sebelah barat dengan Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. c. Bab III mengatur tentang asas dan tujuan. Disebutkan bahwa pengaturan keistimewaan DIY bertujuan untuk: 1. mewujudkan pemerintahan yang demokratis; 2. mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat; 3. mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin ke- bhinneka-tunggal-ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; 4. menciptakan pemerintahan yang baik; dan 5. melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa. d. Bab IV mengatur tentang kewenangan keistimewaan DIY yang meliputi: tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur; kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; kebudayaan; pertanahan; dan tata ruang. e. Bab V mengatur tentang bentuk dan susunan pemerintahan. f. Bab VI mengatur tentang pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur. g. Bab VII mengatur tentang mekanisme penggantian gubernur dan/atau wakil gubernur jika berhalangan tetap atau tidak memenuhi persyaratan lagi atau diberhentikan sebelum berakhirnya masa jabatan Gubernur. h. Bab VIII mengatur mengenai aspek kelembagaan Daerah Istimewa Yogyakarta. i. Bab IX mengatur mengenai aspek kebudayaan. j. Bab X mengatur tentang pertanahan yang pada prinsipnya memberi kewenangan kepada Kasultanan dan Kadipaten untuk mengelola dan memanfaatkan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten ditujukan untuk sebesar-besarnya pengembangan kebudayaan, kepentingan sosial, dan kesejahteraan masyarakat. k. Bab XI mengenai tata ruang. l. Bab XII mengatur mengenai Perda, Perdais, Peraturan Gubernur, dan Keputusan Gubernur. m. Bab XIII mengatur mengenai pendanaan dalam rangka penyelenggaraan urusan Keistimewaan DIY. n. Bab XIV memuat ketentuan lain-lain yang diantaranya mengatur mengenai tugas Gubernur selaku Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta dan/atau Wakil Gubernur selaku Adipati Paku Alam yang bertakhta untuk: a. melakukan penyempurnaan dan penyesuaian peraturan di lingkungan Kasultanan dan Kadipaten; b. mengumumkan kepada masyarakat hasil penyempurnaan dan penyesuaian peraturan sebagaimana dimaksud pada huruf a; c. melakukan inventarisasi dan identifikasi tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten; d. mendaftarkan hasil inventarisasi dan identifikasi tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten sebagaimana dimaksud pada huruf c kepada lembaga pertanahan; e. melakukan inventarisasi dan identifikasi seluruh kekayaan Kasultanan dan Kadipaten selain sebagaimana dimaksud pada huruf c yang merupakan warisan budaya bangsa; dan f. merumuskan dan menetapkan tata hubungan antara Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam sebagai satu kesatuan. o. Bab XV memuat ketentuan peralihan p. Bab XVI memuat tentang ketentuan penutup. Dilihat dari kontennya, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan pengaturan lebih khusus dari pengaturan tentang Pemerintahan Daerah, meskipun kewenangan keistimewaan DIY berada di tingkat Provinsi. 3 Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 yang berbunyi: “Daerah Istimewa Yogyakarta, selanjutnya disebut DIY, adalah daerah provinsi yang 3 Pasal 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan: “Kewenangan Istimewa DIY berada di Provinsi”. Pasal 6 UU ini menegaskan bahwa DIY adalah tetap provinsi sebagaimana daerah-daerah provinsi lainnya tetapi dengan pemberian kewenangan khusus kepadanya yang bersifat istimewa. mempunyai keistimewaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Keistimewaan yang dimiliki oleh DIY adalah berdasarkan sejarah dan hak asal-usul menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk mengatur dan mengurus kewenangan istimewa.Kewenangan istimewa dimaksud adalah wewenang tambahan tertentu yang dimiliki DIY selain wewenang sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tentang pemerintahan daerah. Kewenangan dalam urusan keistimewaan DIY meliputi: tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur; kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; kebudayaan; pertanahan; dan tata ruang. sebagaimana Penyelenggaraan dimaksud kewenangan didasarkan pada dalam nilai-nilai urusan keistimewaan kearifan lokal dan keberpihakan kepada rakyat.Untuk melaksanakan kewenangan istimewa ini, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 memberikan kewenangan kepada DIY untuk membentuk peraturan daerah istimewa (Perdais).4 Pada kontek rencana pembentukan peraturan daerah tentang peraturan zonasi Puro Pakualaman dan sekitarnya dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 ini, maka setidaknya akan berkaitan dengan penyelenggaran kewenangan keistimewaan khususnya dalam hal kebudayaan dan tata ruang. Pada aspek kebudayaan, Pasal 31 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 menyatakan bahwa kewenangan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. Sedangkan pada aspek tata ruang, Pasal 34 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 menyatakan bahwa kewenangan dalam tata ruang terbatas pada pengelolaan dan pemanfaatan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten melalui penetapan kerangka umum kebijakan tata ruang dengan memperhatikan tata ruang nasional dan tata ruang DIY. Untuk melaksanakan kewenangan di bidang tata ruang, Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 mengamanatkan kepada Kasultanan dan Kadipaten untuk menetapkan kerangka umum kebijakan tata 4 Pasal 1 angka 13 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Perdais adalah Peraturan Daerah DIY yang dibentuk oleh DPRD DIY bersama Gubernur untuk mengatur penyelenggaraan Kewenangan Istimewa. ruang tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten sesuai dengan Keistimewaan DIY. Berkaca pada beberapa ketentuan di atas, maka penyusunan peraturan zonasi merupakan satu hal yang niscaya harus dilakukan dalam rangka menjaga dan melestarikan nilai-nilai, adat istiadat, benda, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. 4.2.2.2. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang merupakan undang-undang pengganti dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang yang dianggap sudah tidak sesuai dengan kebutuhan pengaturan penataan ruang. Undang-undang ini disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 26 April 2007 dan dicatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68 yang terdiri dari 8 bab dan 80 pasal. Selain untuk mengganti Undang-undang Nomor 24 tahun 1992, Undangundang Nomor 26 Tahun 2007 dibentuk berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut: 5 Pertama, bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara kepulauan berciri Nusantara, baik sebagai kesatuan wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi, maupun sebagai sumber daya, perlu ditingkatkan upaya pengelolaannya secara bijaksana, berdaya guna, dan berhasil guna dengan berpedoman pada kaidah penataan ruang sehingga kualitas ruang wilayah nasional dapat terjaga keberlanjutannya demi terwujudnya kesejahteraan umum dan keadilan sosial sesuai dengan landasan konstitusional Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kedua, bahwa perkembangan situasi dan kondisi nasional dan internasional menuntut penegakan prinsip keterpaduan, keberlanjutan, demokrasi, kepastian hukum, dan keadilan dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang yang baik sesuai dengan landasan idiil Pancasila. Ketiga, bahwa untuk memperkukuh Ketahanan Nasional berdasarkan Wawasan Nusantara dan sejalan dengan kebijakan otonomi daerah yang memberikan kewenangan semakin besar kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang, maka 5 Ruang. Lihat konsideran menimbang Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan kewenangan tersebut perlu diatur demi menjaga keserasian dan keterpaduan antardaerah dan antara pusat dan daerah agar tidak menimbulkan kesenjangan antardaerah. Keempat, bahwa keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman masyarakat yang berkembang terhadap pentingnya penataan ruang sehingga diperlukan penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Kelima, bahwa secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia berada pada kawasan rawan bencana sehingga diperlukan penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kehidupan dan penghidupan. Penataan ruang menurut undang-undang ini adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 6 Kegiatan penataan ruang bertujuan 7 untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman 8 , nyaman 9 , produktif 10 , dan berkelanjutan 11 berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan: a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan; b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. Penataan ruang berdasarkan undang-undang ini harus dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah potensi sumber daya alam, 6 Pasal 1 angka 5 Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Merujuk pada norma sebelumnya (Pasal 1 angka 1), yang dimaksud dengan “ruang” adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. 7 Pasal 3 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 8 Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “aman” adalah situasi masyarakat dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan terlindungi dari berbagai ancaman”. 9 Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “nyaman” adalah keadaan masyarakat dapat mengartikulasikan nilai sosial budaya dan fungsinya dalam suasana yang tenang dan damai”. 10 Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “produktif” adalah proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saing”. 11 Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “berkelanjutan” adalah kondisi kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, termasuk pula antisipasi untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya sumber daya alam tak terbarukan”. sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, dan lingkungan hidup.Untuk menjamin terwujudnya tujuan maka diberikan beberapa kewenangan kepada aparatur pemerintah baik di pusat maupun daerah. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 memberikan kewenangan kepada Provinsi yang meliputi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi, dan kabupaten/kota, serta terhadap pelaksanaan penataan ruang kawasan strategisprovinsi (KSP) dan kabupaten/kota. Penataan ruang KSP, dilakukan melalui penetapan KSP, perencanaan tata ruang KSP, pemanfaatan ruang KSP, dan pengendalian pemanfaatan ruang KSP. Wewenang Pemerintah Daerah Provinsi dalam pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tersebut meliputi: 1. perencanaan tata ruang wilayah provinsi; 2. pemanfaatan ruang wilayah provinsi; dan 3. pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi. Sedangkan wewenang provinsi dalam penataan ruang kawasan strategis provinsi meliputi: 1. penetapan kawasan strategis provinsi; 2. perencanaan tata ruang kawasan strategis provinsi; 3. pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi;12 dan 4. pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi. Untuk melaksanakan kewenangannya tersebut, pemerintah daerah provinsi: 1. menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan: a. rencana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi; b. arahan peraturan zonasi untuk sistem provinsi yang disusun dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi; dan c. petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang; 2. melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang. Pasal 10 ayat (4) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 menyatakan: “Pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dan huruf d dapat dilaksanakan pemerintah daerah kabupaten/kota melalui tugas pembantuan”. 12 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 juga mengatur mengenai pentingnya menyusun peraturan zonasi. Peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang.Bersama dengan rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten/kota, peraturan zonasi menjadi salah satu dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang sehingga pemanfaatan ruang dapat dilakukan sesuai dengan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Peraturan zonasi digunakan sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang (Pasal 35 dan Pasal 36 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007).Penyusunan peraturan zonasi berdasarkan rencana detail tata ruang (Pasal 14 ayat (6) Undangundang Nomor 26 Tahun 2007). Berdasarkan Pasal 36 ayat (3) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 dinyatakan bahwa Peraturan zonasi ditetapkan dengan: a. peraturan pemerintah untuk arahan peraturan zonasi sistem nasional; b. peraturan daerah provinsi untuk arahan peraturan zonasi sistem provinsi; dan c. peraturan daerah kabupaten/kota untuk peraturan zonasi. 4.2.2.3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya Kebudayaan Indonesia perlu dihayati oleh seluruh warga negara. Untuk itu, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 32 ayat (1) mengamanatkan bahwa: “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Oleh karena itu, kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus dilestarikan guna memperkukuh jati diri bangsa, mempertinggi harkat dan martabat bangsa, serta memperkuat ikatan rasa kesatuan dan persatuan bagi terwujudnya cita-cita bangsa pada masa depan. Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.13Dalam rangka menjaga Cagar Budaya dari ancaman pembangunan fisik, baik di wilayah perkotaan, pedesaan, maupun yang berada di lingkungan air, maka diperlukan pengaturan untuk menjamin eksistensinya.Oleh karena itu, upaya pelestariannya mencakup tujuan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya.Hal itu berarti bahwa upaya pelestarian perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan akademis, ideologis, dan ekonomis. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya disahkan pada tanggal 24 November 2010 oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan diundangkan pada tanggal yang sama di Jakarta sebagaimana tercatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130. Selain karena alasan mengenai pentingnya pelestarian cagar budaya, undang-undang ini dibentuk sebagai ganti dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan zaman. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 itu sendiri merupakan perubahan peraturan perundang-undangan mengenai cagar budaya yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Setidaknya ada 2 (dua) peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Belanda mengenai pelestarian cagar budaya, yakni Monumenten Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238) dan Monumenten Ordonnatie Nomor 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomor 515. Pergantian dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 ke Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 memperlihatkan adanya perubahan paradigma antara undang-undang yang lama dengan undang-undang yang baru. Perubahan paradigma tersebut tampak dalam beberapa aspek pengaturan di dalam UndangUndang Nomor 11 Tahun 2010. Beberapa perbedaan yang cukup mendasar antara Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 antara lain berkaitan dengan: a. Tujuan dan ruang lingkup Tujuan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 dapat dilihat pada Pasal 2 sedangkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 terlihat pada 13 Konsideran huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pasal 3. Perbedaan tujuan kedua undang-undang sebagaimana terlihat dalam tabel berikut: UU No. 5 Tahun 1992 UU No. 11 Tahun 2010 (Pasal 2) (Pasal 3) Perlindungan benda cagar budaya dan Pelestarian Cagar Budaya bertujuan: situs bertujuan melestarikan dan a. melestarikan warisan budaya memanfaatkannya untuk memajukan bangsa dan warisan umat manusia; kebudayaan nasional Indonesia. b. meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui Cagar Budaya; c. memperkuat kepribadian bangsa; d. meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan e. mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional. Berdasarkan tabel di atas, tampak adanya perbedaan paradigma diantara kedua undang-undang yang mengatur mengenai cagar budaya tersebut.Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 menitikberatkan pada upaya perlindungan.Hal tersebut berbeda dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 yang menitikberatkan pada aspek pelestarian.Pelestarian cagar budaya dinilai lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Selain itu, pelestarian juga mempunyai nilai penting mengingat nilai sejarah untuk senantiasa dijadikan pelajaran bagi generasi di masa yang akan datang. Jika dilihat dari definisinya, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 membatasi definisi pelestarian sebagai upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar mengembangkan, Budaya dan dan nilainya memanfaatkannya. dengan 14 cara Sedangkan melindungi, makna kata “perlindungan” itu sendiri oleh Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 dibatasi dengan upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran Cagar Budaya. b. Kepemilikan dan penguasaan benda cagar budaya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 secara tegas menyatakan bahwa semua benda cagar budaya dikuasai oleh negara sebagaimana dinyatakan 14 Pasal 1 angka 22 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. dalam Pasal 4 ayat (1) undang-undang dimaksud.15 Makna penguasaan negara atas benda cagar budaya dipertegas di dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 yang menyatakan: “Penguasaan oleh Negara mempunyai arti bahwa Negara pada tingkat tertinggi berhak menyelenggarakan segala perbuatan hukum berkenaan dengan pelestarian benda cagar budaya. Pelestarian tersebut ditujukan untuk kepentingan umum, yaitu bahwa pengaturan benda cagar budaya harus dapat menunjang pembangunan nasional di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan lain-lain”.Dengan kata lain, negara mengambil peran penuh dalam kegiatan pelestarian benda cagar budaya untuk mencapai tujuan demi kepentingan umum terutama dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan nasional di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan lain sebagainya. Hal demikian berbeda dengan ketentuan di dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 yang memberikan kesempatan kepada setiap orang memiliki dan/atau menguasai benda cagar budaya. Pasal 12 ayat (1) Undangundang Nomor 11 Tahun 2010 menyatakan bahwa setiap orang dapat memiliki dan/atau menguasai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang ini. Kepemilikan tersebut berlaku hanya jika jumlah dan jenis Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya tersebut telah memenuhi kebutuhan negara. Kepemilikan sebagaimana dimaksud dapat diperoleh melalui pewarisan, hibah, tukar-menukar, hadiah, pembelian, dan/atau putusan atau penetapan pengadilan, kecuali yang dikuasai oleh negara. Kepemilikan tersebut tidak berlaku bagi Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya yang tidak ada ahli warisnya atau tidak diserahkan kepada orang lain berdasarkan wasiat, hibah, atau hadiah setelah pemiliknya meninggal. Kepemilikan benda-benda tersebut 15 Pasal 4 ayat (2) selanjutnya menyatakan bahwa penguasaan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi benda cagar budaya yang terdapat di wilayah hukum Republik Indonesia. Kemudian pada ayat (3) dinyatakan bahwa pengembalian benda cagar budaya yang pada saat berlakunya Undang-undang ini berada di luar wilayah hukum Republik Indonesia, dalam rangka penguasaan oleh Negara, dilaksanakan Pemerintah sesuai dengan konvensi internasional. diambil alih oleh negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Negara dapat menguasai seluruh benda cagar budaya, kecuali Kawasan Cagar Budaya hanya dapat dimiliki dan/atau dikuasai oleh negara, kecuali yang secara turun-temurun dimiliki oleh masyarakat hukum adat.Sementara untuk Cagar Budaya yang tidak diketahui kepemilikannya dikuasai oleh Negara. c. Penemuan benda cagar budaya Kedua undang-undang tentang cagar budaya berbeda memberi batasan penyampaikan laporan atas penemuan benda cagar budaya. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 menegaskan bahwa setiap orang yang menemukan atau mengetahui ditemukannya benda cagar budaya atau benda yang diduga sebagai benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, wajib melaporkannya kepada Pemerintah selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak ditemukannya. Laporan dimaksud akan ditindaklanjut dengan penelitian mengenai cagar budaya yang ditemukan. Hal tersebut berbeda dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 yang menyatakan bahwa setiap orang yang menemukan benda yang diduga Benda Cagar Budaya, bangunan yang diduga Bangunan Cagar Budaya, struktur yang diduga Struktur Cagar Budaya, dan/atau lokasi yang diduga Situs Cagar Budaya wajib melaporkannya kepada instansi yang berwenang di bidang kebudayaan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan/atau instansi terkait paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak ditemukannya. d. Pencarian benda cagar budaya Perbedaan selanjutnya adalah mengenai pencarian cagar budaya. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 menyatakan bahwa melarang setiap orang untuk mencari benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dengan cara penggalian, penyelaman, pengangkatan, atau dengan cara pencarian lainnya, tanpa izin dari Pemerintah. Sedangkan menurut Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 dinyatakan bahwa Pemerintah yang memiliki kewajiban untuk melakukan pencarian benda, bangunan, struktur, dan/atau lokasi yang diduga sebagai Cagar Budaya. Jika pencarian itu dilakukan oleh setiap individu, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 membolehkan pencarian Cagar Budaya atau yang diduga Cagar Budaya tersebut dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat dan/atau di air. Terlepas dari berbagai perbedaan yang ada di dalam kedua undangundang, jika kita lihat ketentuan-ketentuan di dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010, maka tampak jelas pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam pelestarian cagar budaya. Beberapa kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah provinsi di dalam upaya pelestarian cagar budaya antara lain terlihat di dalam pasal-pasal sebagai berikut: 1. Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyatakan: “Pengelolaan Register Nasional Cagar Budaya di daerah sesuai dengan tingkatannya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota”. 2. Pasal 40 ayat (4) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyatakan: “Pemerintah provinsi melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap Register Nasional Cagar Budaya yang dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota”. 3. Pasal 72 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Gubernur menetapkan sistem zonasi apabila telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya provinsi atau mencakup 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. Sistem zonasi sebagaimana dimaksud berupa penetapan batas-batas keluasannya dan pemanfaatan ruang perlindungan Cagar Budaya berdasarkan hasil kajian. Penetapan luas, tata letak, dan fungsi zona ditentukan berdasarkan hasil kajian dengan mengutamakan peluang peningkatan kesejahteraan rakyat (Pasal 73 ayat (4)) 4. Sistem zonasi pelestarian cagar budaya mengatur fungsi ruang cagar budaya baik vertikal maupun horizontal. Pengaturan Zonasi secara vertikal dapat dilakukan terhadap lingkungan alam di atas Cagar Budaya di darat dan/atau di air. Sistem zonasi dapat terdiri dari: zona inti, zona penyangga, zona pengembangan dan/atau zona penunjang. Zona inti adalah area pelindungan utama untuk menjaga bagian terpenting Cagar Budaya. Zona penyangga adalah area yang melindungi zona inti. Zona pengembanganan adalah area yang diperuntukan bagi pengembangan potensi cagar budaya bagi kepentingan rekreasi, daerah konservasi lingkungan alam, lanskap budaya, kehidupan budaya tradisional, keagamaan, dan kepariwisataan. Sedangkan zona penunjang adalah area yang diperuntukan bagi sarana dan prasarana penunjang serta untuk kegiatan komersial dan rekreasi umum. 5. Pasal 93 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Gubernur dapat mengeluarkan izin kepada seseorang dalam rangka memanfaatkan Cagar Budaya peringkat provinsi. 6. Pasal 96 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) berwenang: a. menetapkan etika pelestarian Cagar Budaya; b. mengoordinasikan pelestarian Cagar Budaya secara lintas sektor dan wilayah; c. menghimpun data Cagar Budaya; d. menetapkan peringkat Cagar Budaya; e. menetapkan dan mencabut status Cagar Budaya; f. membuat peraturan pengelolaan Cagar Budaya; g. menyelenggarakan kerja sama pelestarian Cagar Budaya; h. melakukan penyidikan kasus pelanggaran hukum; i. mengelola Kawasan Cagar Budaya; j. mendirikan dan membubarkan unit pelaksana teknis bidang pelestarian, penelitian, dan museum; k. mengembangkan kebijakan sumber daya manusia di bidang kepurbakalaan; l. memberikan penghargaan kepada setiap orang yang telah melakukan Pelestarian Cagar Budaya; m. memindahkan dan/atau menyimpan Cagar Budaya untuk kepentingan pengamanan; n. melakukan pengelompokan Cagar Budaya berdasarkan kepentingannya menjadi peringkat nasional, peringkat provinsi, dan peringkat kabupaten/kota; o. menetapkan batas situs dan kawasan; dan p. menghentikan proses pemanfaatan ruang atau proses pembangunan yang dapat menyebabkan rusak, hilang, atau musnahnya Cagar Budaya, baik seluruh maupun bagian-bagiannya. 4.2.2.4. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia.Oleh karena itu, penyelenggaraan bangunan gedung perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, andal, berjati diri, serta seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. Hal demikian setidaknya yang muncul dalam alam pikiran para pembentuk Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung saat undang-undang ini dibahas dan disahkan. Undang-undang tentang Bangunan Gedung mengatur fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, termasuk hak dan kewajiban pemilik dan pengguna bangunan gedung pada setiap tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan tentang peran masyarakat dan pembinaan oleh pemerintah, sanksi, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup. Keseluruhan maksud dan tujuan pengaturan tersebut dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya, bagi kepentingan masyarakat yang berperikemanusiaan dan berkeadilan. Undang-undang ini juga mengatur mengenai peran serta masyarakat dan peran penyedia jasa konstruksi.Kepada masyarakat, undang-undang ini berharap masyarakat dapat terlibat dan berperan secara aktif bukan hanya dalam rangka pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi juga dalam meningkatkan pemenuhan persyaratan bangunan gedung dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung pada umumnya.Sedangkan kepada penyedia jasa konstruksi, undang-undang ini mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pembangunan gedung harus mengacu pada peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai jasa konstruksi. Pasal 38 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 baik secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan upaya penyusunan peraturan daerah tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro. Pasal 38 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 sebagaimana dimaksud menyatakan: (1) Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya sesuai dengan peraturan perundang-undangan harus dilindungi dan dilestarikan.16 (2) Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.17 (3) Pelaksanaan perbaikan, pemugaran, perlindungan, serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya.18 (4) Perbaikan, pemugaran, dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya, harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) serta teknis pelaksanaan perbaikan, pemugaran dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 4.2.2.5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemeritahan Daerah Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 ini merupakan pengganti dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.Undang-undang yang lahir dalam suasana hangat pasca Pemilihan Umum Legislatif ini disahkan pada tanggal 30 September 16 Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah Undang-undang tentang Cagar Budaya. Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. 18 Yang dimaksud mengubah, yaitu kegiatan yang dapat merusak nilai cagar budaya bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. Perbaikan, pemugaran, dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula, atau dapat dimanfaatkan sesuai dengan potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah. 17 2014. Sebagai koreksi atas undang-undang sebelumnya, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 hendak memperbaiki beberapa hal: Pertama, pola hubungan pemerintah pusat dan daerah.Sebagai koreksi atas penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan undang-undang sebelumnya, undang-undang ini hendak menegaskan bahwa kedaulatan pemerintahan negara hanya berada di pemerintah pusat.Pemberian otonomi yang seluas-seluasnya kepada Daerah harus dilaksanakan berdasarkan prinsip negara kesatuan.Dalam negara kesatuan kedaulatan hanya ada pada pemerintahan negara atau pemerintahan nasional dan tidak ada kedaulatan pada Daerah. Oleh karena itu, seluas apa pun otonomi yang diberikan kepada Daerah, tanggung jawab akhir penyelenggaraan Pemerintahan Daerah akan tetap ada di tangan Pemerintah Pusat. Untuk itu, Pemerintahan Daerah pada negara kesatuan merupakan satu kesatuan dengan Pemerintahan Nasional.Sejalan dengan itu, kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh Daerah merupakan bagian integral dari kebijakan nasional. Pembedanya adalah terletak pada bagaimana memanfaatkan kearifan, potensi, inovasi, daya saing, dan kreativitas Daerah untuk mencapai tujuan nasional tersebut di tingkat lokal yang pada gilirannya akan mendukung pencapaian tujuan nasional secara keseluruhan. Kedua, penegasan mengenai bentuk penyelenggaraan pemerintahan daerah. Berbeda dengan penyelenggaraan pemerintahan di pusat yang terdiri atas lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan kepala daerah. DPRD dan kepala daerah berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang diberi mandat rakyat untuk melaksanakan urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah.Dengan demikian maka DPRD dan kepala daerah berkedudukan sebagai mitra sejajar yang mempunyai fungsi yang berbeda. Sebagai konsekuensi posisi DPRD sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah maka susunan, kedudukan, peran, hak, kewajiban, tugas, wewenang, dan fungsi DPRD tidak diatur dalam beberapa undang-undang namun cukup diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 secara keseluruhan guna memudahkan pengaturannya secara terintegrasi. Ketiga, urusan pemerintahan. Sebagaimana diamanatkan oleh UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, terdapat Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat yang dikenal dengan istilah urusan pemerintahan absolut dan ada urusan pemerintahan konkuren. Di samping urusan pemerintahan absolut dan urusan pemerintahan konkuren, dalam Undang-Undang ini dikenal adanya urusan pemerintahan umum. Urusan pemerintahan umum menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan yang terkait pemeliharaan ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, menjamin hubungan yang serasi berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara serta memfasilitasi kehidupan demokratis. Presiden dalam pelaksanaan urusan pemerintahan umum di Daerah melimpahkan kepada gubernur sebagai kepala pemerintahan provinsi dan kepada bupati/wali kota sebagai kepala pemerintahan kabupaten/kota. Keempat, Peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah. Mengingat kondisi geografis yang sangat luas, maka untuk efektivitas dan efisiensi pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota, Presiden sebagai penanggung jawab akhir pemerintahan secara keseluruhan melimpahkan kewenangannya kepada gubernur untuk bertindak atas nama Pemerintah Pusat untuk melakukan pembinaan dan pengawasan kepada Daerah kabupaten/kota agar melaksanakan otonominya dalam koridor Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Untuk efektivitas pelaksanaan tugasnya selaku wakil Pemerintah Pusat, gubernur dibantu oleh perangkat gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat.Karena perannya sebagai Wakil Pemerintah Pusat, maka hubungan gubernur dengan Pemerintah Daerah kabupaten/kota bersifat hierarkis. Kelima, Penataan Daerah. Salah satu aspek dalam Penataan Daerah adalah pembentukan Daerah baru.Pembentukan Daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat disamping sebagai sarana pendidikan politik di tingkat lokal. Keenam, Perangkat Daerah. Besaran organisasi Perangkat Daerah baik untuk mengakomodasikan Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan paling sedikit mempertimbangkan faktor jumlah penduduk, luasan wilayah, beban kerja, dan kemampuan keuangan Daerah. Untuk mengakomodasi variasi beban kerja setiap Urusan Pemerintahan yang berbeda-beda pada setiap Daerah, maka besaran organisasi Perangkat Daerah juga tidak sama antara satu Daerah dengan Daerah lainnya. Dari argumen tersebut dibentuk tipologi dinas atau badan Daerah sesuai dengan besarannya agar terbentuk Perangkat Daerah yang efektif dan efisien. Ketujuh, Keuangan Daerah. Penyerahan sumber keuangan Daerah baik berupa pajak daerah dan retribusi daerah maupun berupa dana perimbangan merupakan konsekuensi dari adanya penyerahan Urusan Pemerintahan kepada Daerah yang diselenggarakan berdasarkan Asas Otonomi. Untuk menjalankan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangannya, Daerah harus mempunyai sumber keuangan agar Daerah tersebut mampu memberikan pelayanan dan kesejahteraan kepada rakyat di Daerahnya.Pemberian sumber keuangan kepada Daerah harus seimbang dengan beban atau Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. Kedelapan, peraturan daerah (Perda).Perda yang dibuat oleh Daerah hanya berlaku dalam batas-batas yurisdiksi Daerah yang bersangkutan.Walaupun demikian Perda yang ditetapkan oleh Daerah tidak boleh bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya sesuai dengan hierarki peraturan perundang-undangan.Disamping itu, Perda sebagai bagian dari sistem peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum sebagaimana diatur dalam kaidah penyusunan Perda. Dalam rangka menciptakan tertib administrasi pelaporan Perda, setiap Perda yang akan diundangkan harus mendapatkan nomor register terlebih dahulu. Perda Provinsi harus mendapatkan nomor register dari Kementerian, sedangkan Perda Kabupaten/Kota mendapatkan nomor register dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Dengan adanya pemberian nomor register tersebut akan terhimpun informasi mengenai keseluruhan Perda yang dibentuk oleh Daerah dan sekaligus juga informasi Perda secara nasional. Kesembilan, inovasi daerah.Majunya suatu bangsa sangat ditentukan oleh inovasi yang dilakukan bangsa tersebut.Untuk itu maka diperlukan adanya perlindungan terhadap kegiatan yang bersifat inovatif yang dilakukan oleh aparatur sipil negara di Daerah dalam memajukan Daerahnya.Perlu adanya upaya memacu kreativitas Daerah untuk meningkatkan daya saing Daerah.Untuk itu perlu adanya kriteria yang obyektif yang dapat dijadikan pegangan bagi pejabat Daerah untuk melakukan kegiatan yang bersifat inovatif. Dengan cara tersebut, inovasi akan terpacu dan berkembang tanpa ada kekhawatiran menjadi obyek pelanggaran hukum. Berdasarkan rencana koreksi di atas, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 menetapkan bahwa urusan pemerintahan konkuren wajib Pemerintah Provinsi yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar diantaranya mengenai pekerjaan umum dan penataan ruang (Pasal 12 ayat (1) huruf c). Urusan Pemerintahan konkuren Wajib Pemerintah Provinsi yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar antara lain mengenai kebudayaan (Pasal 12 ayat (2) huruf p). Berkaitan dengan pembentukan peraturan daerah, undang-undang ini mengamanatkan bahwa peraturan daerah harus memuat materi muatan mengenai penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan, penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dan materi muatan lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 236). Peraturan daerah sebagaimana dimaksud dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan, ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), ancaman pidana kurungan atau pidana denda lainnya, ancaman sanksi yang bersifat mengembalikan pada keadaan semula dan/atau sanksi administratif (Pasal 238). Sedangkan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dapat berupa: teguran lisan, teguran tertulis, penghentian sementara kegiatan, penghentian tetap kegiatan, pencabutan sementara izin, pencabutan tetap izin, denda administratif, dan/atau sanksi administratif lain. 4.2.2.6. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang ini ditetapkan pada tanggal 28 Januari 2010 sebagaimana tercatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21. Peraturan pemerintah ini dibuat untuk melaksanakan ketentuan Pasal 13 ayat (4), Pasal 16 ayat (4), Pasal 37 ayat (8), Pasal 38 ayat (6), Pasal 40, Pasal 41 ayat (3), Pasal 47 ayat (2), Pasal 48 ayat (5), Pasal 48 ayat (6), dan Pasal 64, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jika dilihat pada Penjelasan Umum peraturan pemerintah ini, akan dapat ditemukan beberapa materi pokok yang diatur di dalam peraturan pemerintah ini. Dalam peraturan pemerintah ini diatur mengenai pengaturan penataan ruang, pembinaan penataan ruang, pelaksanaan perencanaan tata ruang, pelaksanaan pemanfaatan ruang, pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang, dan pengawasan penataan ruang, di seluruh wilayah NKRI. Untuk mewujudkan pengaturan mengenai penyelenggaraan penataan ruang yang lebih komprehensif dan dapat diterapkan secara efektif, Peraturan Pemerintah ini memuat pengaturan penyelenggaraan penataan ruang wilayah dan kawasan, yang mencakup: a. Pengaturan penataan ruang yang meliputi ketentuan tentang peraturan yang harus ditetapkan pada masing-masing tingkatan pemerintahan untuk memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penataan ruang. Hal ini sebagaimana terlihat dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan Pemerintah ini. b. Pembinaan penataan ruang yang mengatur tentang bentuk dan tata cara pembinaan penataan ruang dari Pemerintah kepada pemerintah daerah dan masyarakat, dari pemerintah daerah provinsi kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dan masyarakat, serta dari pemerintah daerah kabupaten/kota kepada masyarakat. Pembinaan penataan ruang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan menumbuhkan kemandirian pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang. 19 Pengaturan mengenai pembinaan penataan ruang sebagaimana dimaksud diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010. Bentuk pembinaan penataan ruang meliputi:20 1. koordinasi penyelenggaraan penataan ruang; 2. sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman bidang penataan ruang; 19 Tujuan pembinaan sebagaimana dimaksud secara lengkap terlihat dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 yang berbunyi: “Bentuk pembinaan penataan ruang meliputi: a. koordinasi penyelenggaraan penataan ruang; b. sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman bidang penataan ruang; c. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang; d. pendidikan dan pelatihan; e. penelitian dan pengembangan; f. pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang; g. penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat; dan h. pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat. 20 Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. 3. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang; 4. pendidikan dan pelatihan; 5. penelitian dan pengembangan; 6. pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang; 7. penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat; dan 8. pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat. c. Pelaksanaan perencanaan tata ruang yang mengatur ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan rencana tata ruang wilayah dan rencana tata ruang kawasan termasuk kawasan strategis, kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan, yang dilaksanakan melalui prosedur untuk menghasilkan rencana tata ruang yang berkualitas dan dapat diimplementasikan. Ketentuan mengenai perencanaan tata ruang diatur dalam Pasal 18 sampai dengan Pasal 92 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010.21 d. Pelaksanaan pemanfaatan ruang yang mengatur ketentuan mengenai penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. Pelaksanaan pemanfaatan ruang melalui sinkronisasi program yang dituangkan ke dalam rencana pembangunan jangka panjang, rencana pembangunan jangka menengah, dan rencana pembangunan tahunan sesuai dengan sistem perencanaan pembangunan nasional, serta pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang.22 Pengaturan mengenai hal ini dapat dilihat pada Pasal 93 sampai dengan Pasal 146 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010. e. Pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang untuk mewujudkan tertib tata ruang yang mengatur ketentuan mengenai peraturan zonasi yang merupakan ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang, perizinan yang merupakan syarat untuk pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi, yang keseluruhannya merupakan perangkat untuk mendorong terwujudnya rencana tata ruang sekaligus untuk 21 Pada bagian ini Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 membagi perencanaan tata ruang ke dalam 4 perencanaan kawasan, yakni: perencanaan Tata Ruang Wilayah Nasional, perencanaan tata ruang wilayah provinsi, c. perencanaan tata ruang wilayah kabupaten; dan perencanaan tata ruang wilayah kota. 22 Pelaksanaan pemanfaatan ruang dilaksanakan untuk: mewujudkan struktur ruang dan pola ruang yang direncanakan untuk menjamin keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas; dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dilaksanakan secara terpadu. mencegah terjadinya pelanggaran penataan ruang. Pengaturan mengenai hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 147 sampai dengan Pasal 197 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010. f. Pengawasan penataan ruang yang meliputi pemantauan, evaluasi, dan pelaporan merupakan upaya untuk menjaga kesesuaian penyelenggaraan penataan ruang dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, yang dilaksanakan baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Hal ini sebagaimana terlihat pada Pasal 198 sampai dengan Pasal 206 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010. 4.2.2.7. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sebagaimana dituangkan di dalam konsideran menimbang bahwa dalam rangka pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah haruslah senantiasa menciptakan suasana tertib tanpa mengurangi prinsip demokratisasi dimasyarakat sesuai dengan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.Hal itu menunjukan bahwa dalam setiap produk hukum daerah yang dibentuk oleh pemerinta DIY harus konsisten memperhatikan prinsip demokrasi di masyarakat yang sejalan dengan keistimewaan DIY. Cermin dari prinsip demokrasi dimaksud, adalah dengan mengedepankan asas-asas sebagai berikut:23 a.pengayoman; b.kemanusiaan; c.kebangsaan; d.kekeluargaan; e.kenusantaraan; f.bhinneka tunggal ika; g.keadilan; h.kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i.ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau j.keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Berdasarkan ketentuan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro, yang nantinya akan menjadi produk hukum daerah adalah menjadi keniscayaan untuk mengakomodir prinsi-prinsip di atas. Adanya pengakomodiran tersebut, selain sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah aturan (hukum), juga dapat dijadikan sebagai tindakan nyata dan konsistensi penyelenggara pemerintah DIY dalam 23 Lihat Pasal 4 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. menjaga marwah keistimewaan. Selain arahan asas yang harus digunakan dalam membentuk produk hukum daerah, Peraturan Daerah (Perda) Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 juga menyebutkan jenis produk hukum daerah yang meliputi: a.Perda; b. Perdais; c. Peraturan Gubernur; d. Peraturan Bersama Gubernur; dan e. Keputusan Gubernur.24 Adapun dengan materi Perda, ialah harus berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. 25 Sementara, materi muatan Peratruan Daerah Istimewa (Perdais) berisi materi muatan penyelenggaraan kewenangan dalam urusan Keistimewaan. 26 Dari kedua ketentuan tersebut, maka dalam konteks pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro, sesungguhnya merupakan konkretisasi atas amanah yang termaktub di dalam tersebut.Hal itu tidak lain, karena jika menelaah sejarah Kadipaten Pakualaman merupakan salah satu sendi kontributif melekatnya keistimewaan bagi DIY. Selain amanah di atas, ketentuan sanksi juga menjadi aspek yang harus diperhatikan. Pasal 8 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 menyebutkan: a. Perda dan/atau Perdais dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai peraturan perundangan-undangan. b. Perda dan/atau Perdais dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Ketentuan di atas menunjukan bahwa dalam pembuatan produk hukum daerah, seperti Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Pakualaman tidak diperkenankan melebihi sanksi yang telah termaktub tersebut. 24 Pasal 6 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 25 Pasal 7 ayat (1) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 26 Pasal 7 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mengingat peraturan zonasi merupakan bagian integral dari tata ruang, di dalam Perda ini disebutkan bahwa Penyusunan Rancangan Perda tentang Tata Ruang Wilayah Daerah dilaksanakan sesuai peraturan perundang- undangan.Artinya, dalam pembentukan peraturan zonasi haruslah tunduk terhadap ketentuan regulasi seperti Undang-undang tentang Tata Ruang dan aturan teknis tata ruang yang hierarkisnya di atas perda. Kemudian, berkenaan dengan Pembahasan, penetapan, penomoran, pengundangan, autentifikasi dan penyebarluasan rancangan Perda tentang Tata Ruang Wilayah Daerah berlaku Pasal 38 sampai dengan Pasal 58 Perda DIY Nomor 7 Tahun 2013. Di dalam perda ini, juga menegaskan bahwa urusan keistimewaan DIY didalamnya termasuk juga meliputi urusan tata ruang.27Hal itu menunjukan bahwa pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro merupakan bagian dari urusan keitimewaan yang memiliki dasar yuridis untuk dilakukan pengaturan. Namun demikian, dalam proses pembentukan peraturan zonasi tersebut harus didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal dan keberpihakan kepada rakyat.28 Dari uraian tersebut, menjadi jelas bahwa pembentukan peraturan zonasi yang merupakan bagian dari tata ruang memiliki dasar legitimate apabila dilihat dari aspek yuridis normatif ketentuan aturan daerah di DIY. 4.2.2.8. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 6 ayat (2) Perda DIY Nomor 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa (Perdais), bahwa aspek tata ruang menjadi urusan keistimewaan yang dapat diatur dengan Perdais. Oleh karena itu, pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro merupakan bagian urusan keitimewaan yang legal untuk dilakukan pengaturan. Nmaun dalam hal pembentukannya, harus didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut: 1. urgensi dan tujuan penyusunan; 27 Lihat ketentuan Pasal 99 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 28 Lihat ketentuan Pasal 99 ayat (3) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 2. sasaran yang ingin diwujudkan; 3. pokok pikiran, lingkup, atau obyek yang akan diatur; dan 4. jangkauan serta arah pengaturan.29 Guna merumuskan keempat aspek di atas, Pasal 9 ayat (3) member acuan agar proses dan hasilnya dilakukan melalui kajian akademik. Dengan kata lain, bahwa materi yang diatur berkenaan dengan substasin Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan, nantinya harus dituangkan dalam Naskah Akademik. Sebagaimana ditegaskan pula dalam Pasal 19 ayat (1) Perda Nomor 1 Tahun 2013, keberadaan Naskah Akademik merupakan pra syarat mutlak yang harus ada dalam pengajuan perdais. Aspek terpenting dari Perda Nomor 1 Tahun 2013, adalah adanya partisipasi masyarakat dalam penyusunan perdais. Di dalam Pasal 50 ayat (1) disebutkan: Masyarakat dapat memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan Perdais.30Kemudian, bentuk dari partisiapsi di dalam Perda Nomor 1 Tahun 2013 dapat dilakukan secara lisan dan/atau tertulis. Sementara cara yang dapat dilakukan melalui: a. forum rembug; b. dengar pendapat; c. kunjungan kerja; d. seminar; e. lokakarya; f. diskusi terarah; g. situs internet; h. media cetak; dan/atau i. media elektronik.31 Adapun yang dimaksud masyarakat yang dapat teribat dalam proses pembentukan perdais, merupakan perseorangan, organisasi kemasyarakatan dan/atau badan usaha yang mempunyai kepentingan atas substansi rancangan Perdais. 32 Adanya partisipasi tersebut, sebagaimana diuraikan oleh Budiardjo bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan Negara dan, secara langsung atau tidak langsung, memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy).33 Partisipasi politik masyarakat sebagaiman diatur di dalam Perda Nomor 1 Tahun 2013, dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk aktualisasi dari proses 29 Pasal 9 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa. 30 Pasal 50 ayat (1) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa. 31 Pasal 50 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa. 32 Pasal 50 ayat (3) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa. 33 Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009, hlm. 31. demokratisasi. keberadaannya menjadi sangat penting bagi masyarakat dalam proses pembangunan politik di DIY secara khusus dan secara umum bagi negaranegara berkembang seperti Indonesia, karena di dalamnya ada hak dan kewajiban masyarakat yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara langsung. Sistem ini membuka ruang dan membawa masyarkat untuk terlibat langsung dalam proses tersebut. Adanya partisipasi juga merupakan sebagai pelaksanaan nilai demokrasi, karena dalam negara demokrasi semua bersumber pada rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. 4.2.2.9. Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Keweangan Dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta Sebagai bentuk pelaksanaan atas amanah 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, ruang lingkup pengaturan Perdais Nomor 1 Tahun 2013 juga memasukan aspek tata ruang sebagai Urusan Keistimewaan. 34 Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa peraturan zonasi merupakan bagian integral dari tata ruang dan Kadipaten Pakualaman merupakan bagian dari keistimewaan, maka penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Puro Pakualamaan dan sekitarnya memiliki payung hukum kuat. Namun pengaturan tersebut harus didasarkan pada paradigma tujuan untuk: a. mewujudkan pemerintahan yang demokratis; b. mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat; c. mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin kebhinneka-tunggal-ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; d. menciptakan pemerintahan yang baik; dan e. melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa.35 34 Selebihnya lihat Pasal 4 Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 35 Pasal 3 ayat (1) Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengingat penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Puro Pakualamaan dan sekitarnya, berkaitan erat dengan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kawasan cagar budaya Puro Pakalaman dan sekitarnya, maka semangat tersebut sejalan dengan ketentuan Pasal 34 36 dan Pasal 35 ayat (1) 37 Perdais Nomor 1 Tahun 2013. Pada konteks itu, dapat ditegaskan kembali bahwa penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Puro Pakualamaan dan sekitarnya merupakan perintah yang wajib dilakasanakan. Kemudian dari aspek tata ruang, maka penyusunan peratruan zonasi tersebut harus berpegang pada filosofi: a. harmoni, kelestarian lingkungan, sosial ekonomi (hamemayu hayuning bawana); b. spiritual-transenden (sangkan paraning dumadi); c. humanisme, asas kepemimpinan demokratis (manunggaling kawula lan Gusti); d. kebersamaan (tahta untuk rakyat); e. harmonisasi lingkungan (sumbu imajiner Laut Selatan-Kraton-Gunung Merapi); f. ketaatan historis (sumbu filosofis Tugu-KratonPanggung Krapyak); g. filosofi inti kota (catur gatra tunggal); dan h. delineasi spasial Perkotaan Yogyakarta ditandai dengan keberadaan masjid pathok negara. 38 Dengan diadopsinya fislosfi tesebut, maka peraturan zonasi diharapkan dapat bermuara pada penataan ruang yang beorientasi untuk menguatkan, mengembalikan, memperbaiki, dan mengembangkan kawasan cagar budaya puro Pakalaman dan sekitarnya pada tempat idealnya.39 4.2.2.10. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya Pelestarian dan pengelolaan benda cagar budaya yang meliputi benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan cagar budaya menuntut adanya tata kelola 36 Pasal 34 ayat (1) Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan dalam urusan Kebudayaan. Ayat (2) Kewenangan dalam urusan Kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. Ayat (3) Dalam menyelenggarakan kewenangan dalam urusan kebudayaan sebagaimana pada ayat (1) diwujudkan melalui kebijakan pelindungan, pengembangan dan pemanfatan kebudayaan. Ayat (4) Penyelenggaraan kewenangan dalam urusan Kebudayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pemerintah Daerah dapat berkoordinasi dengan Kasultanan dan Kadipaten, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa/Kelurahan, dan masyarakat. 37 Pasal 35 ayat (1) Kebijakan penyelenggaraan Kewenangan Kebudayaan diselenggarakan untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan hasil cipta, rasa, karsa dan karya berupa: a. nilai-nilai; b. pengetahuan; c. norma; d. adat istiadat; e. benda; f. seni; dan g. tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. 38 Lihat Pasal 53 Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 39 Kerangka demikian, dapat dilihat pada Pasal 57 ayat (2) Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. pengaturan yang baik. Berdasarkan hal tersebut, maka Peemrintah DIY menetapkan Perda Nomor 6 Tahun 2012 sebagai pengganti atas Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya yang sudah tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian. Terdapat 73 Pasal di dalam Perda tersebut, mulai dari Bab Ketentuan Umum hingga Bab Ketentuan Penutup. Tujuan pengaturan Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya, di dalam Perda tersebut adalah bertujuan untuk: 1. mengamankan aset kekayaan budaya yang mempunyai nilai penting di Daerah; 2. memantapkan citra dan jati diri Daerah sebagai pusat kebudayaan; 3. meningkatkan ketahanan sosial budaya dengan landasan kearifan lokal; 4. memberi kontribusi bagi estetika dan keunikan tata fisik visual Daerah;40 5. mengamankan komponen mata rantai kesinambungan budaya masa lalu dengan masa kini dan memberi kontribusi bagi penentuan arah Pengembangannya di masa mendatang; dan 6. mendayagunakan Warisan Budaya dan Cagar Budaya bagi kepentingan agama, sosial-ekonomi, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan/atau kebudayaan.41 Sebagaimana termaktub di dalam Pasal 27 Perda Nomor 6 Tahun 2012, dalam hal Pelestarian Benda Warisan Budaya dan Benda Cagar Budaya harus mempertimbangkan bentuk dan sifat dan kondisi Benda Warisan Budaya dan Benda Cagar Budaya. Hal itu mengartikan, dalam kaitannya melestarikan dan melindungi Kawasan Malioboroharus mempertimbangkan secara sungguhsungguh bentuk dan sifat kondisi benda cagar budaya yang ada disekitar Puro Pakualaman tersebut.pertimbangan lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah berkenaan dengan: a. peringkat dan golongan Bangunan Cagar Budaya; b. keaslian bangunan (bentuk corak/tipe/langgam arsitektur, bahan, tata letak, struktur, teknik pengerjaan); c. kondisi bangunan; dan d. kepemilikan dan 40 Pasal 2 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. 41 Pasal 2 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. kesesuaian dengan lingkungan dan lokasi keberadaan bangunan, jenis, serta jumlah.42 Sementara berkenaan dengan Pelestarian Kawasan Warisan Budaya dan Kawasan Cagar Budaya, maka mempertimbangkan beberap hal sebagai berikut: a. langgam arsitektur bernuansa budaya sebagai pembentuk citra kawasan; b. fasad bangunan pada jalan utama; c. peruntukan kawasan; d. elemen/ unsur utama pembentuk kawasan yang meliputi : 1. tata ruang; 2. jalan; 3. tata lingkungan; 4. garis langit; 5. elemen jalan; 6. flora; dan 7. infrastruktur. e. penanda toponim kampung; f. bangunan, struktur, dan situs Warisan Budaya dan situs Cagar Budaya yang merupakan isi dari kawasan yang menjadi prioritas untuk dilestarikan; g. delineasi dan zonasi kawasan; h. revitalisasi kawasan; dan i. ciri asli lanskap budaya dan/atau Kawasan Warisan Budaya dan Kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi.43 Berkenaan dengan penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro, maka pengaturan yang erat kaitannya adalah berkenaan dengan pengaturan perlindungan karena esensi dari raperda peraturan zonasi adalah sebagai upaya untuk melakukan perlindungan.Di dalam Pasal 33 ayat (1) Perda Nomor 6 Tahun 2012, perlindungan Warisan Budaya dan Cagar Budaya bukan hanya menjadi tugas tunggal pemerintah melainkan juga bagi setiap orang diminta peran serta aktif dalam melakukan perlindungan. Sebagai bentuk konkretisasi atas bentuk perlindungan, maka dapat dilakukan dengan cara: a. penyelamatan; b. pengamanan; c. penetapan Zonasi; d. pemeliharaan; dan e. pemugaran. Berdasarkan hal tersebut, apabila penetapan zonasi dilakukan maka bisa menjadi bentuk nyata pemerintah dalam melakukan perlindungan terhadap Warisan Budaya dan Cagar Budaya.Atas hal itu pula, penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro memiliki korelasi yuridis dengan Perda Nomor 6 Tahun 2012 tersebut. Penetapan Zonasi dapat dilakukan dengan menetapkan batas-batas luasan dan Pemanfaatan ruang, berdasarkan hasil kajian dan kesepakatan bersama antara Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat yang memiliki 42 Pasal 28 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. 43 Pasal 3128 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. atau menguasai Cagar Budaya.44 Adapun Zonasi terdiri atas : a. zona inti; b. zona penyangga; c. zona Pengembangan; dan/atau d. zona penunjang. 45Dari jenis zona tersebut kemudian dikategorikan menjaid dua yaitu kategori intensif dan ekstensif.Kategori intensif diarahkan bagi Pelestarian isi situs atau kawasan secara ketat dari sisi keaslian dengan tingkat perubahan yang sangat terbatas. Sementara, kategori ekstensif diarahkan bagi Pelestarian isi situs atau kawasan dengan cara lebih longgar yang disesuaikan dengan keselarasan dan kesesuaian terhadap kategori intensif.46 Berdasarkan hal di atas, maka hubungan terhadap penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi tentang Kawasan Malioboro dapat diartikan: pertama, bahwa penyusunan tersebut memiliki dasar yuridis seperti yang diamanatkan oleh Perda Perda Nomor 6 Tahun 2012 tersebut. Kedua, adanya aturan yang mengatur tentang peraturan zonasi kawasan cagar budaya Puro Pakulaman dan sekitarnya diharapkan akan dapat menguatkan DIY sebagai entitas atau tata pemerintahan berbasis kultural, sekaligus identitas lokal berupa nilai religi, nilai spiritual, nilai filosofis, nilai estetika, nilai perjuangan, nilai kesejarahan, dan nilai budaya yang menggambarkan segi keistimewaan Yogyakarta. 4.2.2.11. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta Salah satu tujuan dibentuknya Perda Nomor 4 Tahun 2011, adalah sebagai acuan pembentukan produk hukum daerah.Atas hal itu, maka dalampembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro harus tunduk pula terhadap tata nilai budaya Yogyakarta. Adapaun tata nilai yang dimaksud meliputi: 47 a. tata nilai religio-spriritual; b. tata nilai moral; c. tata nilai kemasyarakatan; d. tata nilai adat dan tradisi; e. tata nilai pendidikan dan pengetahuan; f. tata nilai teknologi; g. tata nilai penataan ruang dan arsitektur; h. tata nilai mata pencaharian; i. tata nilai kesenian; j. tata nilai bahasa; k. tata nilai benda cagar budaya dan kawasan cagar 44 Pasal 37 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. 45 Pasal 37 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. 46 Lihat ketentuan Pasal 38 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. 47 Pasal 4 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta budaya; l. tata nilai kepemimpinan dan pemerintahan; m. tata nilai kejuangan dan kebangsaan; dan n. tata nilai semangat keyogyakartaan. Agar tata nilai seperti di atas dapat terus lestari, maka diharapkan bukan hanya Pemerintah DIY yang harus melakukan pelestarian tetapi masyarakat juga diminta turut menjaga dan mempraktikan tata nilai tersebut. Adanya dua aktor yang berperan, maka keberadaan tata nilai Yogyakarta akan senantiasa lestari dan dapat terus menjadi citra baik Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Sinergisitas tersebut, tidak lain karena adanya keniscayaan pemikiran sebagai berikut: pertama, manusia pada hakikatnya bukan hanya produk kebudayaan, tetapi juga pencipta kebudayaan yang dapat merancang suatu strategi kebudayaan bagi masa depannya, menuju kehidupan bersama yang lebih berkeadaban. Kedua, proses globalisasi dapat mengakibatkan pergeseran tata nilai budaya, tidak terkecuali Tata Nilai Budaya Yogyakarta sehingga perlu pelestarian dan pengembangan agar tidak tergerus oleh globalisasi. 4.2.2.12. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009 – 2029 Peraturan daerah ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang. Peraturan Daerah DIY Nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah menetapkan tujuan penataan ruang daerah sebagaimana dituangkan dalam Pasal 4 ayat 1, yaitu bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas dan sejahtera secara berkelanjutan; d. mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan; e. meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan secara berdayaguna, berhasil guna dan tepat guna; f. mencegah benturan kepentingan dalam penggunaan sumberdaya; g. meningkatkan kondisi alam dan prasarana untuk mengembangkan pariwisata; dan h. meningkatkan prasarana dan sarana untuk mengembangkan pendidikan dan kebudayaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, sasaran penataan ruang daerah meliputi: a. menetapkan aturan dan memberikan arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya, pengembangan sistem pemukiman, sistem prasarana dan sarana wilayah, serta kawasan strategis; b. menetapkan aturan dan memberikan arahan kebijakan yang menyangkut tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, tata guna laut dan tata guna sumber daya alam lainnya serta kebijakan penunjang penataan ruang yang direncanakan; dan c. menetapkan aturan dan memberikan arahan pemanfaatan ruang untuk mendukung pengutamaan kegiatan pendidikan, kebudayaan dan pariwisata.48 Pasal 6 Peraturan Daerah DIY Nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah menetapkan bahwa RTRWP DIY mempunyai fungsi sebagai: a. dasar pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang daerah; b. pengaruh upaya mewujudkan keterkaitan, keserasian dan keseimbangan perkembangan antar sektor dan antar wilayah di daerah; c. aturan dan arahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah, swasta, dan masyarakat; dan d. pedoman penataan ruang Kawasan Strategis Provinsi. Berkaitan dengan kawasan cagar budaya Puro Pakualaman, dalam perda ini menetapkan bahwa Puro Pakualaman sebagai Kawasan Strategis Provinsi dengan tipologi Pelestarian Sosial Budaya.Puro Pakualaman merupakan salah satu kawasan strategis yang mempunyai nilai keistimewaan. 48 Pasal 4 ayat 2 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 4.2.2.13. Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Reklame Peraturan ini terkait penyelenggaraan reklame di Daerah Kota Yogyakarta tentang pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2015 sebagaimana dituangkan pada : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Izin Penyelenggaraan Reklame yang selanjutnya disebut Izin adalah Izin Penyelenggaraan Reklame dari Dinas Perizinan atau Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan atau Kecamatan Kota Yogyakarta; 2. Reklame papan/billboard adalah reklame yang berbentuk bidang datar atau lengkung, berisi gambar dan/atau tulisan statis, dengan bahan terbuat dari kayu, logam, fiber glas/kaca, plastik dan bahan lain yang sejenis sesuai perkembangan zaman, baik menggunakan lampu atau tidak menggunakan lampu, yang pemasangannya berdiri sendiri, atau menempel bangunan, dengan konstruksi tetap dan bersifat permanen, termasuk didalamnya adalah wall dynamic, trivision dan running text. 3. Reklame videotron/megatron adalah reklame yang berbentuk bidang datar atau lengkung, berisi gambar dan/atau tulisan bergerak/hidup/visual baik dengan atau tanpa audio, dengan konstruksi layar berupa LCD, LED dan sejenisnya yang pemasangannya berdiri sendiri, atau menempel bangunan, dengan konstruksi tetap dan bersifat permanen. 4. Reklame kain adalah reklame yang berbentuk spanduk, umbul-umbul dan bendera dengan bahan kain. 5. Reklame vynil/plastik adalah reklame yang berbentuk spanduk, rontek, dengan bahan vynil/plastik dan yang sejenisnya yang pemasangannya berdiri sendiri, atau menempel bangunan dengan konstruksi sementara dan bersifat semi permanen. 6. Reklame melekat/stiker adalah reklame yang berbentuk bidang datar atau lengkung, dengan bahan kertas, plastik/vynil, logam yang pemasangannya dengan cara ditempelkan pada bangunan menggunakan lem dan bersifat semi permanen. 7. Reklame selebaran adalah reklame yang berbentuk lembaran dengan bahan kertas, plastik/vinyl dan sejenisnya yang pemasangannya dengan cara disebarluaskan/ dibagikan secara langsung kepada orang dan bersifat tidak permanen. 8. Reklame berjalan, termasuk pada kendaraan adalah reklame yang berbentuk bidang datar dan/atau lengkung dengan bahan terbuat dari kayu, logam, fiber glas/kaca, plastik dan bahan lain sejenis sesuai perkembangan zaman, yang pemasangannya pada kendaraan yang berjalan atau pejalan kaki dan bersifat berpindah-pindah tempat. 9. Reklame udara adalah reklame yang melayang di udara, dengan bahan plastik, karet, kain, kertas dan sejenisnya sesuai perkembangan zaman, yang pemasangannya berdiri sendiri, dikaitkan pada bangunan atau pesawat udara dan bersifat semi permanen. 10. Reklame apung adalah reklame yang mengapung di atas air dengan bahan terbuat dari kayu, logam, fiber glas/kaca, plastik dan bahan lain sejenisnya sesuai perkembangan zaman. 11. Reklame suara adalah reklame yang berbentuk penyiaran atau ucapan, dengan alat audio elektronik, yang bersifat semi permanen. 12. Reklame peragaan adalah reklame yang berbentuk pertunjukan, dengan bahan tertentu, yang penyelenggaraannya dengan dibawa, diperagakan, atau dikenakan dan bersifat semi permanen. 13. Reklame cahaya/film/slide adalah reklame yang berbentuk penayangan pada bidang datar atau lengkung, berisi gambar dan atau tulisan statis/dinamis dengan atau tanpa audio yang dipancarkan oleh proyektor yang bersifat semi permanen atau permanen. Antara lain : rear screen, beamvertising, virtual dan sejenisnya. 14. Proporsi informasi publik dan reklame produk adalah perbandingan luas bidang reklame papan/billboard atau durasi tayang videotron/megatron untuk informasi publik dengan luas bidang reklame papan/billboard atau durasi tayang videotron/megatron untuk produk dalam satu bidang reklame yang sama; 15. Ornamen/desain reklame yang berciri khas Kota Yogyakarta adalah ornamen/desain yang melekat dan menyatu dengan konstruksi, bidang dan/atau isi reklame yang sesuai dengan standarisasi reklame yang berciri khas Kota Yogyakarta; 16. Façade adalah suatu sisi luar (eksterior) sebuah bangunan baik sisi depan, samping atau belakang bangunan yang dapat dilihat oleh umum; 17. Ruang manfaat jalan adalah ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi dan kedalaman tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara jalan dan digunakan untuk badan jalan, saluran tepi jalan, dan ambang pengamannya; 18. Ruang Milik Jalan yang selanjutnya disebut Rumija adalah ruang manfaat jalan dan sejalur tanah tertentu di luar manfaat jalan yang diperuntukkan bagi ruang manfaat jalan, pelebaran jalan, penambahan jalur lalu lintas di masa datang serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan dan dibatasi oleh lebar, kedalaman dan tinggi tertentu; 19. Zona adalah pembagian atau pemecahan wilayah menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu Khusus, Kendali Ketat dan Kendali Sedang, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan reklame di Kota Yogyakarta; 20. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta; 21. Dinas Perizinan adalah Dinas Perizinan Kota Yogyakarta; 22. Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan yang selanjutnya disebut DPDPK adalah Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan Kota Yogyakarta; 23. Dinas Ketertiban adalah Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta; 24. Kecamatan adalah Kecamatan Kota Yogyakarta. BAB II PENEMPATAN REKLAME Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Penempatan reklame dapat dilakukan pada : a. tanah persil orang pribadi atau badan usaha yang meliputi : 1. menempel di bangunan gedung bagian depan dan/atau samping; 2. di halaman; 3. di atas bangunan gedung; atau 4. di dalam bangunan gedung. b. tanah persil Pemerintah dan/atau Fasilitas umum yang meliputi : 1. tiang penerangan jalan umum; 2. halte bus; 3. jembatan penyeberangan; 4. pasar/terminal/taman pintar/tempat khusus parkir; 5. gapura; 6. tugu jam; 7. pos polisi; 8. penunjuk peta kota; atau 9. instansi pemerintah. (2) Penempatan reklame produk rokok dilarang : a. di kawasan tanpa rokok; b. diletakkan di jalan utama atau protokol; c. melintang atau memotong jalan; dan d. melebihi ukuran 72 m2 (tujuh puluh dua meter persegi) untuk jenis reklame cahaya/film/slide. (3) Penempatan reklame di area sekolah, di luar area sekolah dan di area tempat ibadah dengan jarak 75 (tujuh puluh lima) meter dari bangunan terluar dilarang adanya reklame produk rokok, alat kontrasepsi dan/atau minuman beralkohol. Bagian Kedua Penempatan Reklame Papan/Billboard dan Videotron/Megatron pada Tanah Persil Orang Pribadi atau Badan Usaha Pasal 3 (1) Khusus reklame yang menempel pada bangunan, paling besar 40% (empat puluh persen) dari keluasan façade. (2) Bangunan cagar budaya dilarang digunakan sebagai media reklame, kecuali reklame nama usaha/profesi jenis papan/billboard atau videotron dengan ketentuan paling besar 10% (sepuluh persen) dari keluasan façade dan ketinggian bidang paling tinggi 1,5 (satu koma lima) meter dan/atau jenis reklame cahaya. Pasal 4 Reklame di halaman harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. peletakan reklame menggunakan struktur/tiang penyangga; b. material berupa plat besi dengan konstruksi pipa/frame baja; c. langgam sesuai dengan konsep masing-masing toko/bangunan diselaraskan dengan Nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta. Pasal 5 (1) Bidang reklame dengan tiang penyangga, dapat menjorok di atas trotoar dan/atau taman dengan batas maksimal sampai sisi terdalam trotoar dan/atau taman. (2) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) reklame ukuran kecil. (3) Ketinggian bidang reklame terbawah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 3 (tiga) meter dari trotoar. Pasal 6 Reklame di atas gedung dapat diselenggarakan dengan ketentuan : a. di luar zona khusus; b. di luar Bangunan Cagar Budaya; c. naskah reklame merupakan nama usaha yang berada pada gedung tempat diselenggarakannya usaha bersangkutan; dan d. penempatan bidang reklame tidak melampaui façade bangunan. Pasal 7 Reklame di dalam bangunan gedung diselenggarakan dengan memperhatikan aspek estetika, etika dan keamanan. Bagian Ketiga Penempatan reklame Papan/Billboard dan Videotron/Megatron pada Tanah Persil Pemerintah dan/atau Fasilitas Umum Pasal 8 (1) Reklame dilarang diselenggarakan: a. pada trotoar; b. pada devider/median jalan; c. pada taman jalur hijau; d. pada taman kota kecuali reklame insidentil; e. pada pergola; f. pada sekolah kecuali reklame insidentil; g. pada jembatan kecuali jembatan penyeberangan orang; h. dalam bentuk wall painting; i. berupa portal atau jenis konstruksi lainnya yang memotong badan jalan, yang khusus dimaksudkan untuk penyelenggaraan reklame; j. dalam bentuk kain kecuali jenis reklame spanduk, umbul-umbul dan bendera; k. dalam bentuk reklame besar jenis papan/billboard front light; dan l. menempel pada pohon, tiang listrik, tiang telepon dan rambu lalu-lintas. (2) Reklame yang menggunakan portal atau jenis konstruksi lainnya yang memotong badan jalan sebagaiamana dimaksud pada huruf i ayat (1) dapat diselenggarakan apabila menyatu dengan fasilitas umum berupa Jembatan Penyeberangan Orang yang sudah ada. (3) Tanah persil Pemerintah dan/atau Fasilitas umum yang meliputi : a. tiang penerangan jalan umum, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu back light; 2. posisi vertical, dengan ukuran bidang maksimal 1 x 2 meter, disesuaikan dengan kekuatan teknis tiang; dan 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame. b. halte bus, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight, videotron dan atau melekat/stiker; 2. akumulasi luas bidang reklame maksimal 40% (empat puluh persen) dari luas façade; 3. posisi terhadap jalan membujur/searah jalan; 4. menempel bangunan halte; dan 5. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame. c. jembatan penyeberangan orang (JPO), dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight atau videotron; 2. lebar bidang reklame maksimal 4 (empat) meter dan panjang menyesuaikan bangunan Jembatan Penyeberangan Orang; 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame; 4. reklame selain produk rokok/alat kontrasepsi/minuman keras; d. kawasan pasar/terminal/taman pintar/tempat khusus parkir, dengan ketentuan teknis reklame mengikuti rekomendasi Kepala SKPD yang mengelola kawasan tersebut; e. gapura, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight atau videotron; 2. ukuran menyesuaikan gapura, dengan lebar bidang reklame maksimal 4 (empat) meter dan panjang maksimal 8 (delapan) meter; 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame; 4. reklame selain produk rokok/alat kontrasepsi/minuman keras; f. tugu jam, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight; 2. ukuran bidang reklame menyesuaikan tugu jam; 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame; g. pos polisi, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight atau videotron; 2. ukuran menyesuaikan Pos Polisi, dengan lebar bidang reklame maksimal 4 (empat) meter dan panjang maksimal 6 (enam) meter; 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame; h. penunjuk peta kota, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight; 2. ukuran bidang reklame menyesuaikan peta kota; 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame. Pasal 9 (1) Reklame wajib ditempatkan di luar bahu jalan atau trotoar dengan jarak paling rendah 1 (satu) meter dari tepi paling luar bahu jalan atau trotoar. (2) Dalam hal tidak terdapat ruang di luar bahu jalan, trotoar, atau jalur lalu lintas, reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditempatkan di sisi terluar ruang milik jalan. (3) Penempatan reklame di sisi terluar ruang milik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. tidak mengganggu akses penyandang disabilitas; b. tidak mengganggu fungsi utilitas umum; dan c. mendapatkan rekomendasi teknis dari SKPD yang berwenang di bidang jalan. Pasal 10 (1) Penyelenggaraan reklame papan petunjuk arah wajib menggunakan papan petunjuk arah bersama. (2) Papan petunjuk arah bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan desain konstruksi sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini. Pasal 11 Reklame dapat diselenggarakan dalam bentuk instalasi seni untuk menunjang predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya. Pasal 12 Pemerintah menyediakan konstruksi billboard yang dapat digunakan untuk masa izin paling lama 1 (satu) bulan, dengan prioritas izin diberikan kepada lembaga pendidikan di Kota Yogyakarta. Pasal 13 Pemasangan alat peraga peserta Pemilu pada masa kampanye diatur tersendiri sesuai ketentuan berlaku. Bagian Keempat Penempatan Reklame Papan/Billboard dan Videotron/Megatron ukuran Besar dan Sedang Pasal 14 (1) Penempatan reklame besar atau sedang pada setiap sudut simpang jalan ditentukan paling banyak diselenggarakan 1 (satu) titik reklame. (2) Penentuan lokasi penempatan reklame pada setiap sudut simpang jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan titik reklame yang paling mendekati titik sudut simpang berdasarkan skala prioritas sebagai berikut : a. prioritas pertama pada façade bangunan; b. prioritas kedua di halaman persil orang; dan c. alternatif terakhir di tanah persil Pemerintah dan/atau fasilitas umum. (3) Titik sudut simpang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditentukan dengan cara perhitungan teknis. (4) Jarak antar titik reklame besar atau sedang yang menggunakan tiang dalam satu ruas jalan yang sama di luar ketentuan ayat (1) minimal 50 (lima puluh) meter. (5) Penentuan lokasi penempatan reklame wajib mempertimbangkan aspek-aspek : a. keamanan dan keselamatan; b. keindahan/estetika; c. etika; dan d. infrastruktur atau utilitas yang ada. (6) Penentuan titik awal jarak reklame besar atau sedang diambil dari reklame besar atau sedang pada sudut simpang jalan. (7) Dalam hal tidak ada titik reklame besar atau sedang pada sudut simpang jalan maka jarak reklame besar atau sedang mengambil dari titik sudut simpang jalan. (8) Khusus reklame di kanan kiri sungai maka penempatan titik reklame besar terdekat dengan sungai mengikuti garis sempadan sungai dengan jarak minimal 3 (tiga) meter dari tepi terluar sungai bertalud. (9) Penentuan titik reklame besar atau sedang di tanah persil orang dan ruang milik jalan pada sudut simpang jalan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.. Bagian Kelima Penempatan Reklame kain, vinyl/plastic, melekat/stiker, selebaran, berjalan termasuk pada kendaraan, udara, apung, suara, peragaan, dan cahaya/film/slide Pasal 15 (1) Reklame kain dapat diselenggarakan dalam bentuk spanduk, umbul-umbul, dan bendera. (2) Reklame kain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan ketentuan ukuran maksimal : a. spanduk 8 meter X 1 meter; b. umbul-umbul 1 meter X 5 meter; c. bendera 3 meter X 2 meter. (3) Reklame vinyl/plastik dapat diselenggarakan dalam bentuk spanduk, umbulumbul, dan rontek/vertical banner. (4) Reklame spanduk ditempatkan pada : a. tempat khusus pemasangan spanduk di halaman persil orang pribadi atau badan usaha. b. tempat pemasangan spanduk yang disediakan Pemerintah/Pemerintah Daerah. (5) Reklame umbul-umbul dan rontek/vertical banner dapat ditempatkan pada tanah persil orang pribadi atau badan usaha atau Pemerintah/Pemerintah Daerah, dengan ketentuan : a. berdiri menggunakan tiang sendiri; b. penempatan reklame pada tanah persil pemerintah di sisi terluar ruang milik jalan; c. dilarang menempel pada pohon, tiang listrik, tiang telepon dan rambu lalu-lintas; d. dilarang dipasang di taman. (6) Reklame bendera dapat ditempatkan pada pada tanah persil orang pribadi atau badan usaha dengan ketentuan berdiri menggunakan tiang sendiri. (7) Penyelenggaraan reklame jenis kain/vinyl/plastik dilarang ditempatkan di ruang milik jalan pada ruas Jalan Laksda. Adi Sucipto, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Mulyo, Jalan Malioboro dan Jalan Margo Utomo. (8) Reklame melekat/stiker ditempatkan pada : a. façade bangunan dan tempat khusus pemasangan reklame melekat/stiker di tanah persil orang pribadi atau badan usaha; b. tempat pemasangan reklame melekat/stiker yang disediakan Pemerintah/ Pemerintah Daerah. (9) Reklame selebaran dilarang dibagikan di jalan umum. (10) Reklame berjalan ditempatkan pada kendaraan tidak bermotor maupun bermotor, diantaranya sepeda, becak, andong, mobil, bus dan sejenisnya. (11) Reklame udara ditempatkan pada tanah persil milik orang dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah dengan ketentuan tinggi maksimal 30 (tiga puluh) meter dari permukaan tanah. (12) Reklame apung ditempatkan pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah menggunakan media apung air. (13) Reklame suara ditempatkan pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah. (14) Reklame peragaan ditempatkan pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah. (15) Reklame cahaya/film/slide ditempatkan pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah baik dalam ruang maupun luar ruang dengan ketentuan : a. maksimal luas bidang reklame mengikuti luas bidang tangkapan cahaya/film/slide; b. instrument penghasil cahaya/film/slide dapat ditempatkan secara diam/immobile maupun bergerak/mobile; c. bidang tangkapan cahaya/fim/slide pada bangunan, termasuk bangunan cagar budaya; dan d. bidang tangkapan cahaya/film/slide reklame produk rokok dilarang melebihi ukuran 72 m2 (tujuh puluh dua meter persegi). Pasal 16 Reklame insidentil dalam rangka penyelenggaraan kalender event pada zona khusus hanya diperbolehkan di wilayah alun-alun utara, alun-alun selatan dan alun-alun sewandanan pakualaman. BAB III NILAI – NILAI KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA Pasal 17 (1) Nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta divisualisasikan dalam bentuk ornamen, desain atau naskah reklame. (2) Bentuk ornamen, desain atau naskah reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.. (3) Reklame besar dan/atau sedang menggunakan tiang dan berada pada Zona Khusus dan Zona Kendali Ketat wajib menggunakan ornamen, desain dan naskah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). BAB IV ZONA Pasal 18 (1) Penyelenggaraan reklame di Daerah dibagi menjadi 3 (tiga) zona, yaitu : a. zona khusus adalah zona yang bebas dari penyelenggaraan reklame kecuali untuk jenis reklame papan nama usaha/profesi yang melekat di bangunan dengan ketentuan : 1. muka depan bangunan dengan jenis reklame papan/billboard ukuran tinggi bidang reklame 1,5 (satu koma lima) meter dan panjang bidang reklame menyesuaikan bangunan untuk masing – masing lantai; 2. muka samping kanan dan/atau kiri bangunan dengan ukuran tinggi bidang reklame 2,5 (dua koma lima) meter dan panjang bidang reklame menyesuaikan bangunan untuk masing – masing lantai; 3. reklame jenis cahaya ukuran dan bentuk disesuaikan dengan façade bangunan; dan 4. reklame jenis videotron/megatron menempel di façade bangunan selain Bangunan Cagar Budaya dengan ukuran paling besar 40% (empat puluh persen) dari keluasan façade bangunan; b. zona kendali ketat adalah zona yang diperbolehkan untuk penyelenggaraan reklame yang diselaraskan dengan status kawasan cagar budaya; dan c. zona kendali sedang adalah zona selain zona khusus dan zona kendali ketat. (2) Zona Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. area Tugu, termasuk jalan Diponegoro, jalan AM. Sangaji, dan jalan Jenderal Sudirman dengan radius 50 (lima puluh) meter dari Tugu Pal Putih; b. jalan Margo Utomo, termasuk jalan Gowongan Lor, jalan Gowongan Kidul, jalan Wongsodirjan dan jalan Kleringan dengan radius 50 (lima puluh) meter dari sudut simpang jalan Margo Utomo; c. jalan Malioboro, termasuk jalan Pasar Kembang, jalan Abu Bakar Ali, jalan Sosrowijayan, jalan Perwakilan, jalan Dagen dan jalan Gandekan dengan radius 50 (lima puluh) meter dari sudut simpang jalan Malioboro; d. jalan Margo Mulyo, termasuk jalan Pajeksan, jalan Suryatmajan, jalan Reksobayan dan jalan Pabringan dengan radius 50 (lima puluh) meter dari sudut simpang jalan Margo Mulyo; e. area 0 (nol) kilometer, termasuk jalan KH. Ahmad Dahlan dan jalan P. Senopati dengan radius 50 (lima puluh) meter dari tengah simpang; f. jalan Pangurakan; g. alun-alun utara; h. alun-alun selatan; i. alun-alun Sewandanan Pakualaman; j. bangunan Plengkung Gading dan Plengkung Wijilan; dan k. area pojok beteng. (3) Zona kendali ketat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi kawasan cagar budaya Kraton, Pakualaman, Kotagede, Kotabaru dan Malioboro, dengan rincian ruas jalan sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini. (4) Bentuk reklame berdasarkan posisi terhadap jalan pada kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus membujur/searah jalan, kecuali reklame besar dan/atau sedang dapat menempatkan bidang reklame pada posisi serong yang berada pada sudut simpang jalan. (5) Zona kendali sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi kawasan di luar Zona Khusus dan Zona Kendali Ketat. Pasal 19 Bentuk reklame berdasarkan posisi terhadap jalan pada kawasan inti dan penyangga kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pasal 18 harus membujur/searah jalan, dan isi reklame komersial nama usaha/profesi, kecuali reklame besar dan/atau sedang dapat menempatkan bidang reklame produk pada posisi serong yang berada pada sudut simpang jalan. BAB V KERJASAMA Pasal 20 (1) Dalam rangka pelayanan informasi publik dan reklame produk ditentukan titik reklame yang disediakan oleh pemerintah atau kerjasama dengan pihak lain. (2) Untuk reklame jenis videotron/megatron proporsi informasi publik dalam rangka kerjasama pemerintah dengan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30% (tiga puluh persen) dari seluruh durasi tayang videotron. BAB VI PERIZINAN Pasal 21 (1) Setiap penyelenggaraan reklame di Kota Yogyakarta, wajib mendapatkan izin Walikota. (2) Kewenangan memberikan izin dilimpahkan kepada Dinas Perizinan. (3) Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (1), reklame papan nama usaha/profesi dengan ukuran ≤ 1 m2 (satu meter persegi) yang penempatannya melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan, kewenangan izin dilimpahkan kepada Kecamatan. (4) Dalam memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) dilaksanakan dengan mempertimbangkan lingkungan yang berkaitan dengan aspek keindahan, ketertiban, keamanan, kenyamanan, rasa kesusilaan, kesehatan umum dan kepentingan Pembangunan Daerah. (5) Penyelenggara reklame wajib memenuhi ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam surat izin. (6) Penyelenggara Reklame yang sudah mendapatkan izin bertanggung jawab penuh atas semua resiko yang ditimbulkan akibat penyelenggaraan reklame. (7) Reklame dilarang mengandung muatan pornografi, pornoaksi dan/atau SARA. (8) Dalam rangka sosialisasi dan mempersiapkan sarana prasarana di Dinas Perizinan, maka kewenangan izin pada tahun 2016 dilimpahkan kepada DPDPK. Pasal 22 Masa berlaku izin dibedakan menjadi : a. izin reklame insidentil berlaku paling lama 1 (satu) bulan; b. izin reklame permanen berlaku paling lama 1 (satu) tahun; dan c. izin reklame papan nama usaha/profesi yang berukuran sampai dengan 1 m2 (satu meter persegi) yang peletakannya melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan berlaku paling lama 5 (lima) tahun. Pasal 23 Izin perpanjangan reklame paling banyak diberikan sebanyak 2 (dua) kali perpanjangan. BAB VII SYARAT DAN TATA CARA PENGAJUAN IZIN Pasal 24 (1) Untuk mendapatkan Izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, pemohon izin harus mengisi dengan lengkap dan benar, serta menyampaikan blangko permohonan izin yang telah disediakan kepada SKPD yang mendapat limpahan wewenang izin dengan melampirkan syarat-syarat administratif dan teknis. (2) Syarat administratif dan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) reklame papan/billboard dan videotron/megatron sebagai berikut : a. permohonan baru : 1. foto copy Izin Mendirikan Bangunan; 2. surat kerelaan dari pemilik tanah persil untuk menjadi lokasi reklame; 3. foto copy Akte Pendirian Perusahaan apabila penyelenggara dalam bentuk badan/lembaga, kecuali alat peraga; 4. foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP); 5. foto lokasi simulasi pemasangan reklame; 6. gambar desain; 7. gambar potongan konstruksi reklame terhadap taman kota/selokan/trotoar/ badan jalan; 8. surat pernyataan bertanggung jawab menanggung segala resiko; 9. foto copy Izin Gangguan (HO) apabila reklame nama usaha; 10. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri; dan 11. surat pernyataan tidak menyilaukan khusus Reklame Videotron/Megatron. b. permohonan perpanjangan : 1. foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku; 2. foto reklame terbaru; 3. fotocopy izin penyelenggaraan reklame sebelumnya; 4. fotocopy bukti pembayaran pajak reklame/surat keterangan lunas pajak; 5. surat kerelaan dari pemilik tanah persil untuk menjadi lokasi reklame; 6. surat pernyataan reklame tidak ada perubahan naskah, ukuran, jenis dan lokasi dan pernyataan bertanggung jawab menanggung segala resiko; 7. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri; 8. foto copy Bukti Setor Jaminan Bongkar; dan 9. menunjukkan surat izin asli periode sebelumnya. (3) Syarat administratif dan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) reklame kain, vinyl/plastik, melekat/stiker, selebaran, berjalan, termasuk pada kendaraan, udara, apung, suara, peragaan, dan cahaya/film/slide sebagai berikut : a. permohonan baru: 1. foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku; 2. gambar desain; 3. gambar denah lokasi kecuali di tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah; 4. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah persil orang; dan 5. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy surat perjanjian/kontrak. b. permohonan perpanjangan : 1. menunjukkan surat izin asli periode sebelumnya; 2. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah persil orang; dan 3. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy surat perjanjian/kontrak. (4) Pemohon izin penyelenggaraan reklame dan alat peraga insidentil, mengisi blangko rangkap 2 (dua) yang telah disediakan dengan melampiri : a. permohonan baru : 1. foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku; 2. gambar desain; 3. gambar denah lokasi kecuali di tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah; 4. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah persil orang; dan 5. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy surat perjanjian/kontrak; b. permohonan perpanjangan melampirkan : 1. menunjukkan surat izin asli periode sebelumnya; 2. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah persil orang; dan 3. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy surat perjanjian/kontrak. (5) Untuk jenis reklame papan/billboard/videotron/megatron dan sejenisnya serta reklame kain dan vinyl/plastik dengan isi reklame komersial wajib memberikan jaminan biaya pembongkaran. (6) Uang jaminan biaya pembongkaran reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat diambil oleh penyelenggara reklame dengan batas waktu sebagai berikut : a. reklame jenis billboard atau videotron jatuh tempo 6 (enam) bulan sejak izin berakhir; b. reklame jenis kain/vynil/plastik jatuh tempo 1 (satu) bulan sejak izin berakhir. (7) Apabila setelah batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (6), penyelenggara reklame tidak mengambil uang jaminan biaya pembongkaran, maka masa pengambilan menjadi kadaluwarsa sehingga uang tersebut menjadi milik Pemerintah Kota Yogyakarta dan masuk Kas Daerah. (8) Besaran jaminan biaya pembongkaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.. (9) Standar Operasional Prosedur (SOP) Penerbitan, Penyetoran dan Pengambilan Uang Jaminan Biaya Bongkar Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini. (10) Persyaratan wajib melampirkan foto copy Izin Mendirikan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a angka 1 khusus untuk penyelenggaraan reklame papan/billboard dengan ukuran lebih dari atau sama dengan 8 m2 (delapan meter persegi) dan videotron/megatron. (11) Bentuk dan tata naskah blangko permohonan dan blangko Surat Izin Penyelenggaraan Reklame sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini. Pasal 25 Khusus reklame pada bangunan cagar budaya dan kawasan cagar budaya, wajib melampirkan rekomendasi dari SKPD yang membidangi kebudayaan. BAB VIII SANKSI ADMINISTRASI Pasal 26 (1) Kepala SKPD yang menerbitkan izin berwenang mencabut izin yang telah ditetapkan apabila penyelenggara tidak memenuhi ketentuan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dan (3), Pasal 8 ayat (1) dan (2), Pasal 9, Pasal 14 ayat (1) dan (4), Pasal 15 ayat (7), Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1), (3), (4), (5), (6) Peraturan Walikota ini. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didahului dengan 3 (tiga) kali Surat Peringatan dari SKPD yang menerbitkan izin dan dapat disertai perintah untuk menghentikan fungsi reklame. (3) Surat Peringatan Pertama mempunyai batasan waktu 7 (tujuh) hari kerja, terhitung sejak diterimanya surat peringatan tersebut oleh penyelenggara. (4) Apabila Surat Peringatan Pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak diindahkan oleh penyelenggara maka diberi Surat Peringatan Kedua dengan tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya surat peringatan tersebut oleh penyelenggara. (5) Apabila Surat Peringatan Kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak diindahkan oleh penyelenggara maka diberi Surat Peringatan Ketiga dengan tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya surat peringatan tersebut oleh penyelenggara. (6) Apabila Surat Peringatan Ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak diindahkan oleh penyelenggara maka diterbitkan Surat Pencabutan Izin oleh SKPD penerbit izin serta dilakukan penghentian fungsi reklame oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang penegakan peraturan daerah, dan jaminan biaya pembongkaran tidak dapat diambil kembali. (7) Ketentuan pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikecualikan bagi jenis reklame spanduk, umbul-umbul, banner tegak/rontek, melekat/stiker, selebaran, peragaan, suara dan cahaya/film/slide sehingga dapat langsung dilakukan penertiban oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang penegakan peraturan daerah. (8) Dalam hal reklame tidak berizin maka dilakukan penghentian fungsi reklame oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang penegakan Peraturan Daerah. (9) Khusus reklame jenis papan/billboard/videotron/megatron, sebelum dilakukan penghentian fungsi reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (8), dilakukan hal sebagai berikut : a. dilakukan penutupan atau penonaktifan fungsi reklame; b. penyelenggara reklame diberi waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk mengurus izin; c. apabila setelah melewati waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sebagaimana dimaksud pada huruf b, tetap tidak memiliki izin maka : 1. penyelenggara diberi waktu 7 (tujuh) hari kerja untuk menghentikan fungsi reklame; 2. apabila setelah melewati waktu 7 (tujuh) hari kerja belum dilakukan penghentian fungsi reklame maka SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang penegakan Peraturan Daerah melakukan penghentian fungsi reklame. (10) Dalam hal penghentian fungsi reklame dilakukan oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang penegakan Peraturan Daerah maka dalam waktu 3 x 24 jam sejak penghentian fungsi reklame, penyelenggara dapat mengambil bongkaran setelah mengganti biaya yang telah dikeluarkan oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang penegakan Peraturan Daerah dan disetorkan ke Kas Daerah. (11) Dalam hal bongkaran reklame tidak diambil maka hasil bongkaran diserahkan kepada SKPD yang menangani aset daerah dengan Berita Acara Penyerahan Hasil Bongkaran. BAB IX PENGAWASAN Pasal 27 (1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan reklame yang telah memiliki izin masih berlaku dilakukan oleh SKPD yang mengeluarkan izin. (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan reklame yang tidak memiliki izin atau masa izin telah berakhir dilakukan oleh Dinas Ketertiban. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 28 Dengan berlakunya Peraturan Walikota ini maka Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 26 Tahun 2010 tentang Masterplan Reklame dan Alat Peraga di Kota Yogyakarta, Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 75 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Kota Yogyakarta Nomor 8 Tahun 1998 tentang Izin Penyelenggaraan Reklame dan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 76 Tahun 2011 tentang Izin Penyelenggaraan Alat Peraga Penyerupai Reklame yang Bertujuan Non Komersial dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 29 Peraturan ini mulai berlaku tanggal 18 Mei 2016. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Walikota ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Yogyakarta. Peraturan ini ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 18 Mei 2016 oleh Walikota Yogyakarta, dan ditandatangani Haryadi Suyuti. 4.2.2. Sumber Penelitian 4.2.3.1. Seniman dan Budayawan a. Hendra Priyadhani Mengenai media luar ruang terutama baliho yang masih serampangan di mana-mana, bagaimana tanggapan seniman, tentang perbaikan media luar ruang, termasukinstalasi yang juga masih serampangan. Bagaimana dengan seniman yang juga punya idealisme bisa menjawab wacana tentang perbaikan media luar ruang, terutama di malioboro yang dimana instalasi juga menjadi icon kota seni budaya. Menurut Hendra Priyadhani Senang diinterview seperti ini karena saya concern di isyu lingkungan dan social, termasuk saya punya poryek taraequalita (menyediakan akses untuk kelompok difabel) tapi sejauh ini klas macan (angringan) punya banyak misi, yang menyediakan ruang diskusi dan melibatkan diri pada event-event tertentu yang ada kepeduliaannya terhadap public tapi orientasinya biasanya ekonomi, misalnya bagaimana kaum difabel bisa mandiri akhinya kami carikan cara media promo untuk mereka. Untuk periklanan, teman-teman klas macan neteli spanduk yang juga kami buat dokumentasinya, bahkan masyarakat sekitar juga yang neteli sendiri. Jadi spanduk di sini umurnya sehari saja. Dulu sebelum mall merajarela, saya membuat replica baliho “di sini akan dibangun mall” sayangnya tidak punya dokumentasinya. Ini sebelum gempa dan itu isyu pembangunan hotel sudah ada. Pameran bienelle Jogja Jammin (sekitar tahun 2012) tidak merespon publik dengan baik karena semua seniman mau terlibat sehingga saat itu kawasan malioboro penuh instalasi, dan kurasinya terbuka, jadi kelemahannya bienelle dipegang oleh orang yang menganggap bahwa kesenian itu bisa diakses semua orang, tapi di sisi lain tidak dapat teroganisir dengan baik. Perlu adanya pengaturan penempatan seni instalasi di ruang publik bukan karena ingin di kawasan Malioboro. Masih ada karya yang menutupi bangunan BNI tentang Heritage Jogja, karena pemasangan karya sangat menggangu. Perlu adanya ‘polisiestetis’ yang punya kewenangan untuk menyeleksi seni instalasi yang tidak layak, mengganngu, bahkan menurunkannya. Karena kalau seni sudah masuk ranah public atau ruang publik tidak boleh mengganggu hak public, tidak boleh diakusisi oleh seniman sebagai hak preogratifnya. Menurut saya seniman sebelum meletakkan karya instalasinya harus tahu bagaiamana cara meletakkan karyanya, tingkat beratnya bagaimana, bagaimana biar aman, apalagi kalau displaynya tidakmenarik sangat merusak karya itu sendiri. Apalagi kalau di Malioboro yang sudah berwarna ditempel instalasi yang serampangan itu semakin tidak baik. Karya instalasi ditata dengan baik dan memperhatikan lingkungan sekitarnya maka bisa sangat menarik, dan bukan hanya untuk kebutuhan selfie semata. Selain itu bisa menjadi representasi icon Jogja sebagai kota seni bisa terlihat. Seniman perlu juga memperhatikan ruang publik dan menempatkan karya dengan baik dan tidak asal nempel saja. Beberapa saat yang lalu saya mendapat masukan, yang mengatakan seni instalasi di Malioboro yang semakin banyak sampai-sampai bisa jadi timbangan di sebelahnya karena dianggap sudah seperti rongsokan. Instalasi itu punya public dan masyarakat membayar pajak untuk ruang publiknya sehingga tidak semena-mena dan harus sesuai dengan kesepakatan antar masyarakat.Sehingga harus ada control. Karya saya adalah karya aplikasi atau karyafungsi, misalnya teralis sebagai karya juga bisa digunakan sebagai teralis. Saya lebih respek kalau karya instalasi didanai sponsor tapi untuk kepentingan public dari pada karya murni idealis tapi mengganggu tampilan karya. Ibaratnya instalasi harusnya bisa menjadi penghias tempat yang sebelumnya ‘sakit’ atau kotor, kemudian secara visual dan memiliki fungsi menarik. Sebetulnya video tron juga kalau dipasang dengan baik dan melibatkan seni instalasi harusnya lebih bagus, apalagi Jogja itu sudah dilihat sebagai sebuah kota seni yang diperhitungkan di tingkat asia pasifik. Untuk pesangan brandname di instalasi untuk perusahaan atau brand besar harusnya bisa berbesar hati untuk mengeksploitasi besar-besaran instalasinya tapi pertama harus masih campur dengan karya seninya dan tidak asal pajang brand name, karena pasti perusahaan senang kalau iklannya dalam bentuk karya seni karena mereka juga butuh orang yang artistik. Saya juga setuju yang beriklan instalasi di Malioboro itu brand lokal Jogja saja, ini juga menarik seperti bakpia, dagadu, Apalagi malioboro punya akses internasional, harusnya produk lokal mendapatkan tempat di sana. Perlu adanya lembaga khusus untuk melakukan proses penyaringan artistis dan estetis harusnya di satu tempat dimana isinya orang-orang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap ruang public, dan ini mereka bisa bekerjasama dengan dinas perizinan. Ini menjadi lembaga yang menarik. Seni memang bebas untuk berekspresi, dan malioboro bisa diakses untuk seluruh seniman, tapi harus ada lembaga yang mengontrol. Seniman di ruang public harusnya tidak egois karena jika bicara ruang public harusnya identitas seniman bahkan tidak harus dibawa, logikanya jika di ruang public memerulkan instalasi yang berfungsi bagi masyarakat seharusnya seniman tidak usah meonjolkan dirinya karena semangatnya pengabdian, tapi pertaruhan artistic masih harus dipertanggungjawabkan. Di malioboro ada komunitas yang sering menanggapi ruang public di sana dengan tema-tema tertentu dan mereka bisa berkolaborasi. b. Ong Hari Wahyu Media seni instalasi sudah menjadi menjadi media berkesenian sejak tahun 1990, saat itu di Yogyakarta memiliki wadah berkesinian yang diberi nama ‘Yogya Haritage’ diketuai Ong Hari Wahyu dan Sego Segawe. Dengan mengedepankan seni budaya yang ada di Yogyakarta selain itu pemerhati bangunan bersejarah yang dilestarikan dan dapat dijadikan sebagai obyek pariwisata. Pada tahun 2004 setelah gempa di Yogyakarta, para seniman menggagas berdirinya komunitas ‘Kerupuk’ yang dibentuk karena kegelisahan para seniman dan budayawan, Kota Yogyakarta akan banyak dibangun Hotel. Selain itu banyaknya sampah visual tidak tertata dengan baik dan terkesan berantakan yang menggangu pemandangan sehingga perlu adanya perbaikan, salah satunya adalah dengan cara membuat komunitas sebagai wadah keresahan bersama. Para seniman di era Heri Zudianto juga diberikan kesempatan untuk penggunaan ruang publik dengan cara memberikan fasilitas tempat untuk mural dan seni instalasi. Untuk seni instalasi sendiri diawali dengan dibuatnya replika nasi bungkus dengan ukuran yang sangat besar. Merupakan makanan yang merakyat dan banyak dijual melalui gerobak angkringan, penempatan seni instalasi nasi bungkus ditempatkan di titik 0, selain nasi bungkus seniman lain diberi kesempatan untuk memajang karya dari mulai titik 0 sampai dengan tugu, dengan syarat harus melalui seleksi atau adanya kurator. Pada saat itu kurator seni instalasi adalah Ong Hari Wahyu dan Butet, dengan pembagian waktu pemasangan karya di gilir setiap seniman enam (6) bulan satu kali. Seni Instalasi yang pertama dengan tema ‘Nasi Bungkus’ di sponsori oleh rokok Djarum, untuk mendapatkan sponsor pada media seni instalasi dengan cara seniman mengajukan proposal ke Perusahaan, setelah proposal disetujui dilakukan negosiasi antara seniman dengan pihak managemen djarum yang terkait kontrak dan biaya. Seniman memahami bahwa kawasan Malioboro merupakan kawasan strategis sosial budaya yang perlu dijaga kelestariannya dan perlu adanya dukungan pemegang kebijakan, tanpa adanya dukungan kebijakan secara menyeluruh terutama pada penataan serta menyediakan ruang publik yg baik dan nyaman bagi masyarakat. Selain itu ruang publik harus fungsional, keamanan dan kenyaman. Contoh : anak-anak, difabel, orang jalan aman atau tidak. Perlu adanya pembagian tugas yang sesuai, jika seniman dan budayawan di ajak bicara untuk membahas ruang publik terutama seniman dan budayawan misalkan tugas seniman dan budayawan sebagai ekesekutor dalam menentukan. Untuk kawasan Malioboro terutama mengenai media luar ruang sudah sewajarnya digantikan dengan media yang lebih fungsional, di negara-negara berkembang media luar ruang tidak lagi ditempatkan di dalam Kota atau di dalam Mall. 4.2.3.2. Biro Iklan dan Stake Holder 4.2.Hasil Penelitian 4.2.1. Analisis Revitalisasi Media Luar Ruang Yogyakarta dikenal dengan berbagai jargon; seperti Kota Berhati Nyaman, Kota Pendidikan, Kota Kesenian, Kota Gudeng, dan Kota Budaya. Dengan berbagai pengakuan tersebut tidak berlebihan kiranya apabila menyebut Jogja sebagai kota milik bersama; terutama kebudayaan yang menghidupi kota ini berakar dari nilai-nilai tradisi keraton sebagai penjaga kebudayaan Jawa,yang digerakkan oleh masyarakatnya, tak terkeculali para pendatang. Pada akhirnya kota Jogja menemukan bentuk harmonisasinya terutama ketika masyarakat dan simbol-simbol budayanya berlangsung aktif. Jogja menjadi kota yang dirindukan oleh mereka yang pernah singgah, melancong, bersekolah, bekerja, maupun warga asli yang kemudian merantau ke kota lain. Adanya persinggungan dengan kelompok lain tidak membuat warganya menjadi chauvinis, namun justru secara harmonis menerima perubahan dan keragaman yang ada di sekitarnya.Lebih jauh, bentuk dari keberagaman budaya yang ada di Jogja menimbulkan kesemarakan yang berujung pada wajah kota yang dinamis. Tetapi, apakah dinamika tersebut tetapmenjamin kenyamanan hidup di kota yang pada 7 Oktober lalu menginjak usia ke-259 tahun? Kemudian apakah kota ini, dengan jargon kota budaya-nya, masih memiliki sifat humanis terutama kepada penduduknya? Indikator kenyamanan dan sifat humanis yang saya tanyakan di atas juga menjadi pertanyaan bahkan kegelisahan banyak warga Jogja di kurun waktu (setidaknya) tiga tahun terakhir ini. Bak mengasah pisau, kegelisahan tersebut kian tajam sebab adanya perubahan secara massivedi kota yang sayangnya banyak melalaikan filosofi, sejarah dan sisi kemanusiaan bagi warganya. Determinasi ekonomi menjadi faktor utama dari perubahan tersebut; dan bukannya tidak setuju bahwa dengan pengembangan sarana perekonomian bertujuan mensejahterakan masyarakatnya, namun yang terjadijustru menunjukkan degradasi tradisi dan nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi intisari dari kota Jogja. Yang paling tampak dari carut-marut-nya Jogja adalah perubahan fungsi dan formasi ruang publiknya di mana banyakruang-ruang simbolis seperti cagar budaya yang sebelumnya menunjukan keistimewaan kota ini telah rusak setidaknya oleh tiga hal.Pertama,pembangunan hotel dan mall yang banyak menyingkirkan entitas tata ruang kota, termasuk menghilangkan bangunan cagar budaya. Kedua, massive-nya pemasangan iklan baliho di banyak jalan raya atau jalan-jalan utama, yang selain tidak efektif karena keterbacaannya sangat kurang, juga menimbulkan sampah pemandangan atau sampah visual secara agresif. Ketiga, semakin menjamurnya pengalihfungsian fasilitas kota seperti trotoar dan ruang terbuka hijau di Jogja untuk kemudian menjadi tempat berdagang atau tempat pedagang kaki lima. Dari ketiga faktor pengancam ruang publik masyarakat yang otonom di atas, dalam pidato ilmiah ini ijinkan saya untuk menyampaikan lebih jauh analisa saya mengenai ketidakpatutan kondisi media iklan luar ruang di ruang publikyang keberadaannya telah mengancam keistimewaan Jogja, terutama konsepsi sebagai kota budaya. Mengapa? Jika oleh Raymond William (1958) menyebutkan bahwa budaya adalah: A general process of intellectual, spiritual, and aesthetic development; A particular way of life, whether of a people, a period or a group; Refer to a works and practices of intellectual and especially artistic activity. (John Storey, 2006: 1-2). Inti dari pemahaman tersebut adalah bahwa budaya merupakan sebuah proses atau cara hidup yang melibatkan intelektual, spiritual dan perkembangan estetika yang dialami dalam keseharian yang kemudian menimbulkan makna dalam menjalankan hidup. Jika kemudian pemahaman tersebut dikaitkan dengan perkembangan di Jogja, dapat disimpulkan bahwa budaya di kota yang mendapat pengakuan sebagai ‘Kota Batik Internasional’ inidibangun di atas pilar-pilar kesadaran semu yang ditampilkan, ditayangkan, dipertontonkan oleh iklan media luar ruang di hampir setiap jalanan padat kota.Kesadaran semu tersebut adalah pembentukan sikap materialistik yang tidak menggambarkan intelektualitas kesadaran bermasyarakat yang tinggi, namun komodifikasi dan konsumsi tidak berkesudahan. Jika Bandung pernah dikenal sebagai ‘Bandung lautan api’ untuk menunjukkan pergerakan dan perjuangan masyarakatnya mengusir tentara Belanda untuk mempertahankan kemedekaan RI,Jogja kini bisa diistilahkan sebagai ‘Jogja lautan billboard’; bukan karena perjuangan masyarakatnya, namun karena kondisi kota yang seolah-olahditenggelamkan oleh besarnya jumlah pemasangan media beriklan di ruang publik kotaJogja. Proses privatisasi tempat-tempat yang kemudian menjadi titik-titik pemasangan iklan terjadi bersamaan dengan tumbuh kembangnya sektor perekonomiandan mekanisme pasar yang semakin meluas. Bentangan iklan-iklan yang menyuguhkan benda-benda komoditas tersebut seolah menjelaskan bahwa warga Jogja telah menjadi masyarakat konsumtif dan mempraktekkan imajinasiimajinasi yang digambarkan iklan tersebut. Kemudian, apakah praktek konsumerisme yang ditampilkan dalam ruang public Jogja masih relevan dengan pemahaman akan esensi dari kota budaya? Untuk menjelaskan esensi dari kota budaya dikembalikan pada pemahaman tentang hakekat ruang publik terlebih dahulu. Ruang publik sebagaimana dijelaskan oleh Jürgen Habermas dalam Structural Transformation of The Public Sphere(1989) menyimpulkanbahwa ruang publik adalah suatu wilayah bersama sebuah komunitas untuk mengartikulasikan kepentingan dalam rational-critical debateatau melalui opini publik. Mengapa opini? Karena ruang publik adalah ruang sosial idealnya diproduksi dari sikap dan tindakan komunikatif masyarakatnya yang memungkinkan terjadinya solidaritas untuk mengontrol berdasarkan aspirasi sosial dan politik melalui opiniopini dalam masyarakat yang demokratis. Seperti yang disampaikan Herry Priyono (2009) bahwa ruang publik menjadi ranah maupun aset, baik berupa barang, jasa, ruang atau gugus infrastruktur lain yang kinerjanya menjadi penyangga watak sosial suatu masyarakat. Maka ruang publik juga difungsikan sebagai ruang aktif untuk melawan dominasi, represi dan marginalisasi. Dari pengertian tersebut, bisa kita mengambil kesimpulan penting bahwa publik bukanlah hak preogatif pemerintah sehingga keberadaannya bukan hanya menaungi kepentingan penguasa serta tidak untuk diperjual-belikan melalui intervensi pasar dan privatisasi seperti keserampangan pemasangan iklan luar ruang. Ruang publik di Jogja disusun pada poros lurus imajiner yang meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Alun-alun adalah bagian dari keraton sekaligus menjadi ruang terbukayang secara kultural berfungsi sebagai tempat komunikasi antara raja dan warganya. Alun-alun sebagaimana sejarah yang dijelaskan Jo Santoso (2008) menjadi tempat masyarakat umum untuk mengajukan masukan ataupun menyampaikan permasalahan yang dihadapinyakepada Sultan. Warga datang dan melakukan tapa pépé atau bertapa dengan duduk bersila di bawah pohon beringinhingga Sultan keluar dari keraton dan mendengarkan keluh kesah mereka. Selain itu alun-alun adalah tempat raja melakukan pesta untuk rakyatnya dalam bentuk perayaan sekaten, perayaan lebaran dan acara seni panggung lainnya. Namun sejak kapitalisme menjadi penentu hidup manusia, penghayatan bermakna kultural di alun-alun yang awalnya diperuntukkan untuk kesemarakan ritual kebudayaan telah berganti fungsi menjadi tempat kontestasi ekonomi dengan suguhan barang dagangan di hampir tiap sudutnya. Alun-alun hanya satu bagian di public space bermakna kultural yang telah menjadi tempat bertemunya fungsi-fungsi ekonomi, bisa dibayangkan ruang tempat lain yang menjadi ajang bertemunya komoditas komersial hingga ‘menutup’ warganya untuk bertindak menyuarakan opininya. Iklan media luar ruang yang ditempatkan secara semarak di tempat-tempat strategis ruang publik memperjelas komersialisasi dan privatisasi yang tujuan akhirnya adalah merangsang nafsu agar masyarakat terus menerus beli-dan-beli. Dengan demikian iklan media luar ruang menjadi garda depan disebarluaskannya budaya konsumsi. Jika warga diberlakukan dan dinilai hanya seputar konsumen, komodifikasi dan kekuatan daya beli, maka telah melumpuhkan kesadaran kritisnya, apatis terhadap politik, tidak peka terhadap kondisi sosial dan menyingkirkan saling pengertian, empati dan respek antar sesamanya.Dampak lain belenggu ini, warga terhegemoni oleh aturan dan keadaan yang menundukkan kepekaan mereka dan membuatnya merasa bahwa hal tersebut sebagai sebuah kewajaran zaman. Kondisi ini sekaligus menunjukkan kelumpuhankebijakan publik yang digerakkan oleh pemerintah setempat. Ini termasuk kenyataan bahwa warga Jogja harus ‘membayar’ mahal, karena di tahun 2014 saja Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sektor pajakiklan media luar ruanghanya mencapai 5,6 milyar saja. Jumlah itu tentu tidak sebanding dengan teror yang harus dialami wargasetiap harinya dari sampah visual di jalanan. Ini belum termasuk ancaman keselamatan pengendara jalan jika baliho dan billboard yang bisa saja runtuh dan jatuh menimpa mereka. Perhatian dan tindakan secara serius harus segera dilakukan, bukan hanya untuk mengembalikan fungsi ruang publik, tetapi juga sebagai upaya pelestarian hidup di masa depan.Kerja bersama antar komponen untuk merevitalisasi ruang publik perlu dilakukan atau slogan dan predikatJogja sebagai kota budaya perlu dikaji ulang atau akan hilang begitu saja. Untuk itu perlu merumuskan tiga tindakan revitalisasi media luar ruang untuk perbaikan ruang publik Yogyakarta: 1. Penggunaan instalasiseni untuk menggantikan billboard dan baliho. Seni instalasi yang ditempatkan di ruang publik atau yang juga diistilahkan sebagai public art telah lama digunakan seniman untuk memajang karya yang mengekspresikan nilai-nilai dalam masyarakat (community values), menambah kualitas lingkungan, mengubah lanskap, meningkatkan kesadaran, memberi pertanyaan atas asumsi kita (Kuss Indarto, 2015), termasuk menyatakan opini atas permasalahan social, budaya, lingkungan fisik perkotaan. Inti dari seni instalasi adalah memberikan efek spasial dengan ‘intervensi artistik’ kepada pada audien terutama untuk memikirkan kembali hidup dan nilai-nilai bersama dalam lingkungannya. Karena sifat-sifat tersebut di atas, seni instalasi dimungkinkan sebagai objek yang mempersuasi dengan pesan yang mudah diinternalisasi oleh audiennya. Meskipun harus dipahami bahwa jenis iklan ini termasuk media unconventional yang masih harus diwacanakan kepada masyarakat umum; atau setidaknya kita dapat belajar dari negara-negara yang telah menerapkan seni instalasi sebagai bagian dari usaha beriklan mereka. Ketika seni instalasi digunakan sebagai wahana beriklan di luar ruang selain meningkatkan atensi atau perhatian dari konsumen juga memaksimalkan pesan yang disampaikan pada iklan. Pesan yang berupa nama merek atau brand produk tersebut harus ditempatkan secara harmonis dengan seni instalasi sehingga tidak saling beradu mendapatkan perhatian. Dengan demikian pesan yang paling dimungkinkan dalam bentuk iklan ini adalah brandingatau hanya menunjukkan nama merek saja karena pesan iklan yang utuh bisa digarap dalam bentuk lainnya seperti TVC, iklan radio atau iklan surat kabar. Frekuensi pemasangan juga diharapkan terjadwal dengan baik, baik itu karya instalasi maupun merek dagang yang dipajang. Hal ini bertujuan agar lebih bentuk bisa lebih variatif dan dinamis terutama karena Jogja yang juga menjadi gudangnya seniman tentu dapat memberikan sekaligus membuka kesempatan pada para seniman untuk memamerkan karyanya di ruang publik dengan cara baru, yaitu mewacanakan dua hal sekaligus: karya seni dan (menyesuaikan) brand yang akan ditampilkan atau disandingkan di karya tersebut. Pelaku usaha yang hendak membranding dengan cara ini tentu mendapatkan keuntungan atas atensi yang didapatkan, sementara seniman yang bekerjasama dengan biro iklan bisa saling berkesinambungan mengelola pembuatan dan pelaksanaan penempatannya. Perda Kodya Dati II YK No.8/1998 tentang izin penyelenggaraan reklame saat ini sedang diusahakan dirubah terutama dengan perkembangan teknologi dan selera yang semakin dinamis. Salah satu jenis reklame yang belum dimasukan kedalam Raperda adalah media iklan instalasi. Media Iklan instalasi ini merupakan bentuk baru yang ditawarkan nantinya kepada pelaku terutama mengatur dan menempatkannya di tempat yang strategis tanpa merusak pandangan atau yang kemudian dianggap dan dianggap sebagai sampah visual. Regulasi untuk mengatur pelaksanaan dan penempatan media seni instalasi tentu tetap harus mendahulukan kepentingan publik daripada segelintir pengusaha seperti pelaku usaha atau produser, biro iklan maupun seniman yang membuatnya. Salah satu yang bisa dilakukan seperti pemetaan ruang publik yang tepat untuk pemasangan seni media iklan instalasi yang kemudian dilembagakan dalam Zona Penyelenggaraan Reklame (ZPR) sebagai bagian dari regulasi atau kebijakan publik. Pemetaan bisa dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur seperti sejarah, filosofi, estetika, etika dengan tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan harmonisasi ruang publik yang dapat berstategi dalam mensiasati tantangan ekonomi. Karena tidak dapat dinafikkan bahwa perkembangan sektor ekonomi tidak dapat serta merta kita nafikkan begitu saja, karena hal tersebut menjadi salah satu pilar terciptanya masyarakat sejahtera; dan penciptaan strategi budaya yang harmonis dan humanis dapat kita ciptakan. Implementasi iklan instalasi dapat dibuat kreatif, unik, tidak mencolok dan tetap mengedepankan ruang publik sebagai valuable place, saya yakin publik akan mendapatkan haknya untuk menikmati karya dan keindahan kota di saat yang bersamaan. Lebih jauh lagi akan lebih banyak masyarakat yang mengakui bahwa Jogja memang unik dan ini sekaligus menjadi magnet pariwisata budaya yang humanis dan etis. 2. Membentuk dewan atau komite ruang publik kota Jogja Seperti yang telah saya sampaikan di awal bahwa esensi pemahaman ruang publik adalah bekerjanya solidaritas dari elemen masyarakat untuk mengaktifkan ruang publiknya. Maka proses revitalisasi media luar ruang dapat juga dilakukan dengan menciptakan koordinasi yang menyangkut legalitas serta manajemen yang datangnya dari publik. Kembali saya ingatkan bahwa kebijakan publik bukan hak prerogatif pemerintah; dimana jika kemudian tata kelola ruang publiknya amburadul kesalahan selalu dialamatkan kepadanya. Praktek penyalahgunaan wewenang pemangku kuasa yang menyalahi aturan dalam pembuatan dan penetapan legalitas praktek privatisasi untuk titik beriklan di ruang publik memang secara nyata telah terjadi, dan ini memprihatinkan karena pada akhirnya kebijakan dilakukan hanya untuk keuntungan segelintir orang. Oleh karena itu dengan pembentukan wadah koordinasi yang mempunyai otoritas sebagai ‘badan publik’ praktek penyalahgunaan wewenang dapat dieliminir bahkan menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk menginisiasi fungsi ruang publik yang ideal terutama dengan pengaturan media luar ruang-nya. Proses komunitarian ini melibatkan seluruh komponen bersama seperti budayawan, seniman, pengajar atau akademisi, asosiasi biro iklan, pengusaha media luar ruang/pemilik titik reklame, arsitek, desainer, planolog, sejarawan, antropolog, politisi, warga masyarakat pada umumnya, tokoh masyarakat, badan atau lembaga pendanaan profit dan non-profit, serta pihak pengelola kota atau daerah yang antara lain memiliki otoritas sebagai lembaga perijinan.Mereka semua akan menjadi dewan curator yang mengkurasi kota dan penampilannya, termasuk revitalisasi media iklan ruang ruang. Partisipasi warga Jogja dalam mengkritisi ruang publiknya bukan tidak pernah dilakukan. Kita tentu saja masih ingat Dodok Jogja dan komunitas Warga Berdaya yang memprotes pembangunan hotel karena berujung mengeringnya sumber air di beberapa kampung di kota Jogja; Elanto Wijoyono yang menghadang konvoi moge untuk tidak arogan menerabas lampu merah dan mematuhi lalu lintas yang semestinya; atau yang masih selalu up-to-date dalam pewacanaan ruang publik Jogja adalah Bapak Sumbo Tinarbuko, seorang dosen sekaligus pemerhati kota, yang aktif mengritisikesewenangan dan kesemrawutan media luar ruang dengan gerakan ‘Reresik Sampah Visual’. Ketiganya tentu telah menancapkan pemahaman akan pentingya inisiasi warga untuk membangun ruang publik agar segera dilakukan. Pengalaman dengan kota sangat dipengaruhi oleh kenyamanan di ruang publiknya. Jika sudah tidak ditemukan kenyamanan maka sangat dimungkinkan untuk kemudian bersiasat dengan membuat kesepakatan-kesepakatan bersama diantara para elemen masyarakatsebagai penggerak dinamika kota. Ketika partisipasi public massif niscaya kebijakan public juga akan massif, sehingga proses negara dibangun oleh aspek kebebasan pendapat dan aspek demokrasi.Pelibatan warga ini diawali dengan pemahaman yang jelas (reedukasi)tentang fungsi dan idealisme ruang publik terutama yang mengatur dan mengoptimalkan bentuk-bentuk pesan komunikasi visual dalam iklan media luar ruang sehingga tidak lagi menjadi sampah yang berujung pada teror visual. 3. Me-re-dukasi selera masyarakat Melanjutkan dari kebijakan revitalisasi media luar ruang bagian ke-dua atau dengan pelibatan warga, maka re-edukasi selera menjadi penting untuk dilakukan. Reedukasi selera ini merupakan cara bertindak secara nyata tentang peran dan bentuk ruang publik dengan menerapkan bentuk estetika atau pemahaman akan pengalaman kenyamanan di ruang publik itu sendiri. Re-edukasi pada tahapan selanjutnya tentu harus menjadi sebuah sikap bahkan sebuah gerakan kebersamaan membangun sebuah tatanan simbolik baru yang mengedepankan kenyamanan berkomunikasi visual yang tidak hanya bertendensi komoditas komersial belaka, sehingga pemaknaan warga tidak hanya sebagai konsumen belaka. Niscaya publik akan mengenal penjelajahan kecerdasan spasial yang baru melalui ruang-ruang representasi di dalam ruang kota dengan pesan visual yangbukan lagi hanya sebagai pesan komunikasi visual, lebih jauh menjadi pesan komuni-aksi visual: sebuah pesan yang menggiring aksi berkomunikasi yang mengedepankan kenyamanan visual. Keterangan gambar 1. Beberapa contoh seni instalasi yang terpasang di jalan Malioboro dibuat oleh seniman yang tergabung dalam API (Asosiasi Seniman Indonesia) Untuk saat ini revitalisasi dengan gerakan bersama untuk mempertahankan kota budaya. Seperti halnya semboyan Sultan Hamengkubuwana ‘Hamemayu Hayuning Bawana’ yang berarti bahwa setiap tindakan haruslah dengan landasan memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia dengan berbagai latar-belakang yang kemudian membentuk komunitas warga Kota Yogyakarta hendaknya berpartisipasi menjadikan alam kehidupan kian indah, bermakna, dan bernilai tambah. 4.2.2. Analisis Kebijakan Media Luar Ruang BAB V KESIMPULAN BAB VI BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN 6.1 Anggaran Biaya Biaya diperlukan untuk tahapan penelitian adalah: (1) persiapan penelitian, berupa pengurusan izin instansi pemerintah Kota Yogyakarta, pelaku usaha atau vendor periklanan, seniman; (2) pengumpulan data primer dan sekunder, sesuai dengan pembagian tugas dan instrumen yang digunakan; (3) pengolahan hasil penelitian kualitatif; (4) pembuatan media audio visual sebagai alat peraga dan (5) penulisan Laporan Hasil Penelitian final, serta (6) penyerahan hasil penelitian. Uraian berikut menyebutkan keperluan-keperluan tersebut secara terperinci. Uraian Tujuan dan Alasan Perlunya biaya penelitian 1. Persiapan penelitian Persiapan penelitian diperlukan untuk mengetahui secara jelas dan benar, tujuan serta maksud revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi terutama, pemerintah, biro iklan/pelaku usaha/vendor/stekholder, dan masyarakat kota Jogja. 2. Pengumpulan data primer dan sekunder Dengan adanya data primer dan sekunder akan didapat data wawancara, data kuesioner dan data sekunder pendukung yang didapat gambaran revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi, alat yang digunakan untuk penyimpanan data menggunakan tablet karena memiliki multifungsi untuk rekam audio serta penyimpanan data. 3. Pengolahan hasil penelitian kualitatif Dari data yang dikumpulkan nantinya dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menentukan raperda yang nantinya dimasukan dalam Peraturan Daerah (Perda) Penyelenggaraan Reklame. 4. Pembuatan media audio visual sebagai alat peraga Alat peraga berupa hasil audio visual yang diambil dengan menggunakan kamera DSLR dibutuhkan dalam melihat bentuk revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi secara nyata. 5. Penulisan Laporan Hasil Penelitian final Laporan hasil penelitian dalam bentuk hardcopy, softcopy dan cd media audio visual. 6. Penyerahan hasil penelitian 6.2 Jadwal Penelitian Jadwal pelaksanaan penelitian dalam bentuk bar chart : Tabel 3. Jadwal Penelitian Waktu Tahap Kegiatan Tempat 1 Persiapan Penelitian 2 Urus Izin Yogyakarta/ DIY 3 Kantor Walikota Dinas Pajak Reklame Yogyakarta Biro Iklan yang terdaftar di P3I Dari titik 0 sd Tugu Yogya Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta Urus Izin Biro Iklan/Pelaku Usaha/Vendor Urus Izin RT/RW Pengump ul-an Data Data wawancara Data kuesioner Data sekunder pendukung Data Wawancara Data Kuesioner Data Sekunder pendukung Pengolah an Data hasil penelitian kualitatif Pembuata Data foto n media dokumentasi, audio visual, dan audio audio, sebagai visual penunjang sebagai alat peraga Penulisan Hasil Akhir Pengumpulan Laporan 2016 April Mei Juni Juli Ags Sep Okt Nop 4 5 6 7 8 9 10 11 Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta DAFTAR PUSTAKA Agustrijanto. 2001. Copywriting : Mengasah Kreativitas dan Memahami Bahasa Iklan. Bandung : Remaja Rosdakarya. Basuki Agus Suparno. Januari-April 2004. Makna Iklan dalam Media Televisi (Kesesuaian dari Aspek Konstruksi sampai ke Interpretasi Terhadap Iklan Televisi Geng Hijau). Jurnal Ilmu Komunikasi. Yogyakarta. Hann, Fred E dan Kenneth G. Mangun.1999. Beriklan dan Berpromosi Sendiri. Jakarta : Grasindo. Lewis, Herschell Gordon. 1999. On The Art of Writing Copy. 2nd Edition. USA : Amacom. Sunyoto, M. 2006. Strategi Pernacangan Iklan Outdoor Kelas Dunia : Dilengkapi Lebih Dari 200 Sampel Iklan Outdoor Kelas Dunia. Yogyakarta : Andi. _________. 2004. Aplikasi Desain Grafis Untuk Periklanan : Dilengkapi Sampel Iklan Terbaik Kelas Dunia. Yogyakarta : Andi. Widyatama, Rendra. 2005. Pengantar Periklanan. Jakarta : Buana Pustaka Indonesia Winardi. 1992. Promosi dan Reklame. Bandung : Mandar Maju. James F. Engel, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. 1994. Perilaku Konsumen. Jakarta: Binarupa Aksara. LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1. Laporan Anggaran Penelitian . TOTAL Penggunaan biaya program Penelitian .9,215,000-11,600,000 = 2,385,000 Tabel Anggaran Diusulkan No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp) 1 Peralatan Penunjang Kamera Nikon DSLR for video dan PPN 11,5% 5,795,000 2 3 Honor penyelenggara a. Ketua b. Tim/anggota Konsumsi Biaya konsumsi selama survey dan pembuatan laporan 4. Pembelian ATK Kertas 1 rim Tinta Print Map Flashdisk Bolpen 5. 6. Fotocopy dan jilid Transportasi perjalanan Ketua 15 perjalanan x 15,000 Anggota 7 perjalanan x 15,000 Seminar FGD (Forum Group Discussion) dengan peserta 25 orang 7. TOTAL ANGGARAN Bukti: 2,088,000 1,392,000 250,000 8.198.000 realisasi 30% 5,795,000 30% 3,480,000 250,000 Lampiran 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas No. Nama/NIDN 1 Hardoyo,S.Sos,MA/ 0516047201 Instasi Asal AKINDO Bidang Ilmu Periklanan Alokasi Waktu (jam/minggu) (2400Jam/32Minggu) Uraian Tugas 2 Karina Rima Melati, S.Sn,M.Hum/05300982 01 AKINDO Periklanan (2400Jam/32Minggu) Persiapan Penelitian Pengumpulan Data Pengolahan Data hasil penelitian kualitatif Pembuatan media audio visual sebagai alat peraga Penulisan Hasil Akhir Pengumpulan Laporan Pengumpulan Data Pengolahan Data hasil penelitian kualitatif Pembuatan media audio visual sebagai alat peraga 3 Oka Mhs AKINDO Periklanan (224Jam/8 Minggu) Penulisan Hasil Akhir Pengumpulan Laporan Pendampingan/ membantu pembuatan produksi pembuatan media audio visual sebagai alat peraga Lampiran 3, Biodata Peneliti Ketua Peneliti A. Identitas Diri 1 Nama Lengkap 2 Jenis Kelamin 3 Jabatan Fungsional 4 NIP/NIK/Identitas lainnya 5 NIDN 6 Tempat dan Tanggal Lahir 7 E-mail 8 Nomor Telepon/HP 9 Alamat Kantor 10 Nomor Telepon/Faks 11 Lulusan yang Telah Dihasilkan 12. Mata Kuliah yg Diampu Hardoyo, S.Sos, MA. Laki-laki Asisten Ahli 030.2031.05 0516047201 Jakarta, 16 April 1072 [email protected] 081215642020 Jl.Laksda Adisucipto Km.6,5 No.279 YK Telp 0274-7488787, Faks 0274 -484574 D3 Prodi AD: 60 orang 1. Teknik Foto Imagi 2. Komputer Grafis I 3. Komputer Grafis II 4. Produksi Media Luar Ruang 5. Fotografi Desain B. Riwayat Pendidikan Nama Perguruan Tinggi Bidang Ilmu Tahun Masuk-Lulus Judul Skripsi/Tesis/Disertasi S-1 Universitas Sebelas Maret Surakarta Komunikasi Massa 2000 - 2004 Studi Semiotika Isi Pesan Foto Jurnalistik tentang Keterkaitan Islam Garis Keras dalam Terorisme Peristiwa Runtuhnya Gedung WTC (World S-2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Ilmu Komunikasi Media 2010 - 2013 Pemanfaatan Web Site oleh Kelompok Krestifitas Mahasiswa Periklanan (Studi Kasus Tentang Penggunaan Web Site Sebagai Sumber Inspirasi untuk Trade Center) di Harian Kompas Edisi 12 – 19 September 2001 Nama Pembimbing/Promotor Drs. Hamid Arifin, M.Si Membuat Iklan Oleh Kelompok DE-ADLINE UGM, BOHLAM UAJY, KOMAKOM UMY, KOSTRAD UIN, KOMPOR.KOM UII, AVIKOM UPN selama Tahun 2011) Ana Nadhya Abrar, Dr. Phil., M.E.S. C. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir No Tahun Judul Pengabdian Pendanaan Kepada Masyarakat Sumber* Jml (Juta Rp) 1 Pengabdian Dikti Rp.60jt Masyarakat pembuatan media di PEMKOT Magelang 2 2001 Pelatihan Humas Dikti Rp.60jt Pemda Probolinggo Jawa Timur 3 2002 Pengabdian Dikti Rp.50jt Masyarakat AKINDO pembuatan media di PEMKOT Kulonprogo 4 2012 Pemberdayaan Ibm Dikti Rp.50jt Karang Taruna Melalui Perintisan Usaha Jasa Komunikasi Berbasis Internet Di Bantul Dan Kota Yogyakarta 5 2015 Produksi Katalog AKINDOYK Rp. 750.000 Batik Carica Lestari Untuk Kerjasama Dan Promosi Desa Wisata Talunombo * Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema pengabdian kepada masyarakat DIKTI maupun dari sumber lainnya. D. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal alam 5 Tahun Terakhir No Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/ Nomor/Tahun 1 2000 Mempertahankan Kekuasaan dengan Jaringan Teknologi Komunikasi Jurnal Komunikasi Profetik UIN Vol.05/No.2/Oktobe r 2012 E. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No Nama Pertemuan Ilmiah / Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Seminar Tempat 1 Festival Iklan Pinasthika Be The Legend 2 Pengenalan Bidang Studi Komunikasi di AKINDO Yogyakarta Pengenalan Kamera dan Teknik Dasar Fotografi Fotografi bagi Pemula Pengenalan Ilmu Komunikasi bagi Maba Ad AKINDO Startup Weekend Indonesia Teknik Dasar Fotografi 3 4 5 Fotografi bagi Pemula 6 Internasional Seminar Komunkasi 54 hours Program To Launch Startup Powered by the Kauffman Foundation Internasional Seminar On Media and Politics 7 Festival Iklan Pinasthika Magical Ideas 8 Teknik Fotografi dan Edit Foto 9 Peningkatan dan Pengembangan Fotografi bagi Staf Gudang Garam Yogyakarta Pinasthika Creativestival 10 Pinasthika Creativestival The Creators 11 Pelatihan KPK 12 Peningkatan dan Pengembangan Fotografi bagi PEMDA Seminar Nasional Pengajar Mata Kuliah Pendidikan Anti-Korupsi Tingkat Perguruan Tinggi Fotografi dan Desain Grafis 13 14 Peningkatan dan Pengembangan Fotografi bagi PEMDA Holopis Kuntul Baris Harmonisasi CSR dan Kearifan Lokal dalam Pembangunan Fotografi dan Desain Profil Daerah 2010 di Sheraton Mustika Hotel Yogyakarta 8/05/2010 di SMA MUHA Wonosobo 15/05/2010 di Mirota Batik Cafe Daun Malioboro 16/01/2010 di MABA di AKINDO Yk 2011 di Universitas Ciputra Jakarta 23/03/2011 di Pasca Sarjana Fisipol UGM Yk 28-29/10/2011 di Sheraton Mustika Hotel Yogyakarta 2011 di Kantor GG Palagan Yogyakarta 1-3/11/2012 di Hotel Melia Purosani Yk 18-19/10/2013 di Jogja National Museum di Yk 17-19/10/2013 di Hotel MM Yk 23/10/2013 di Hotel Grage Yk 10/12/2013 di Cilegon Banten Jawa Barat 17/06/2014 di Malioboro Inn Yk 15 16 17 Peningkatan dan Pengembangan Fotografi bagi PEMDA Pinasthika The Changers Seminar Nasional ABPPTSI Fotografi dan Desain Profil Daerah Dunia berubah, sadar atau tidak semua pasti berubah. Saatnya berikan Perubahan besar yang akan diingat Dunia! Strategi Penyehatan Perguruan Tinggi “Sakit” menghadapi MEA 2015 24/10/2014 di Malioboro Inn Yk 31/10 – 1/11 2014 di Taman Budaya Yk 8/12/2014 di Jakarta Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan penelitian. Yogyakarta, 22 April 2015 Pengusul, Hardoyo,S.Sos,MA NIDN: 0516.0472.01 Anggota Peneliti Data Pribadi : Nama Lengkap Jenis Kelamin Tempat/tgl . Lahir Alamat No. Telp No. Hp E-mail Status : Karina Rima Melati, S.Sn, M.Hum : Perempuan : Yogyakarta/ 30 September 1982 : Jl. Golo gang Pulanggeni UH V/419 Yogyakarta 55161 : 0274-377696 : 08175414157 : [email protected] : Belum menikah RIWAYAT PENDIDIKAN: PENDIDIKAN FORMAL Tahun Institusi 2007 - 2011 Program Magister, Universitas Sanata DharmaYogyakarta 2001 – 2007 Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia 2008 – 2001 SMU Muhammadiyah I Yogyakarta BEASISWA Tahun Institusi 2010 Asian Graduate Student Fellow, Asia Research Institute, National University of Singapore - Singapura PRESTASI No. Tahun 1. 1998 2. 2003 Prestasi Juara I Lomba Reportase SMU/SMK tingkat propinsi DIY Juara V Festival Film Dokumenter tingkat Nasional dengan judul Film “Pengabdian” PENGALAMAN KERJA No. Tahun Pengalaman Kerja 1. 1999 - 2000 Wartawan GEMA, surat kabar BERNAS angkatan IX 2. 2001 – 2002 Wartawan Majalah Perkotaan KOTAKATIKOTAKITA 3. 2001 – 2002 Sebagai fasilitator untuk remaja di program “Urban 4. 2002 – 2003 5. 6. 2002-2004 2002 7. 8. 2003 2003 9. 2003 10. 2008 sekarang 12 2012sekarang 2012sekarang 13. Environmental Education” oleh LSM Dian Desa, Yogyakarta wartawan sekaligus desainer grafis situs perkotaan www.jogjakita.or.id Tergabung dalam kelompok seni “Garis Merah Production” Sebagai produser film independen “Terbunuh Sepi’ bersama ‘Garis Merah Production Desainer grafis untuk ‘GREEN MAP MALIOBORO’ Media planner dalam pameran seni rupa ‘ReKreasi’ mengenang 100 hari wafatnya seniman H.Widayat di Museum H. Widayat, Mungkid Magelang Sebagai sutradara film dokumenter “Pengabdian” pada Festifal Film Dokumenter tingkat Nasional Pendiri dan desainer grafis ‘PIXOT, Pixel Exotic’ yang menangani Corporate Identity dan Corporate Desain dengan klien antara lain: - Ansor Group, Yogyakarta - Sekar Kedhaton Restoran, Yogyakarta - Betta Swalayan, Yogyakarta - Billboard untuk Yolanda Silver, Yogyakarta - Sebagai desainer grafis pada ‘CUBIC, Communication, Bisnis & Strategy’ membuat profil investasi Kantor Penanaman, Penguatan, dan Penyertaan Modal Kabupaten Sleman (KP3M) untuk tahun 2010, 2011, dan 2013 - Katalog atau Directory Shopping Jogja, DISPERINDAGKOP propinsi DIY Desainer dan kontributor website kajian etnografi: etnohistori.org Desainer batik pada Sanggar Batik Jenggolo, Yogyakarta PENGALAMAN PAMERAN No Tahun Pameran Lokasi Pameran bersama mahasiswa DKV ISI Yogyakarta Kolaborasi membuat karya batik dengan siswa-siswi SMU 3 Padmanaba dalam rangkaian gelar karya tahunan Pameran kolaborasi batik dalam Arakarakan Budaya Masyarakat Urutsewu Beberapa galeri di Jogja Taman Budaya Yogyakarta 1. 2005-2007 2. 2012 3. 2014 4. 2014 Pameran Tipografi Vernacular dalam Estetika Desain Galleri jurusan Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta 5. 2014 Pameran Tipografi Urip-uripin Aksara Desain Komunikasi Visual ISI Bentara Budaya Yogyakarta Urutsewu, Kebumen Yogyakarta 6. 2015 Pameran REVITALISASI: 20 Tahun Museum H. Widayat 7 2015 Pameran Re-Sound Museum H. Widayat, Mungkid, Magelang Pawon Art space PUBLIKASI DAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL No Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal 1. Konsumsi dan Praktek Modernitas dalam Iklan Enamel Zaman Kolonial 2. Membaca Dinamika Identitas Sosial di Pekalongan lewat Batik Motif Buketan (Floral Motif) 3. Mendesain Ruang Publik Jogja sebagai Media Berkomunikasi Visual 4. Iklan Enamel dan Bagaimana Penggambaran Perubahan Kota di Zaman Hindia 5. Interaksi dan Negosiasi Iklan Enamel: Mencermati Pola Penetrasi Iklan Masa Kolonial Hindia Belanda Pendidikan sebagai Perekrut dalam Komunitas Terbayang: Analisa Wacana dalam Film Denias Senandung di Atas Awan 6. Volume/ Nomor/Tahun ARS, Jurnal Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Baru – Universitas Sanata Dharma Katalog pameran DISKOMFEST Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurnal DeKaVe, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Antologi Desain Grafis Indonesia #1 Nomor: 9 /2008 Journal of Urban Society’s ArtsInstitut Seni Indonesia Yogyakarta Volume 14 No. 2 Oktober 2014 Vol.3- No.2, Juni 2013 Nomor V/2013 Nomor III.JunNovember 2013 Jakarta: DGI Press. 2014 PEMAKALAH (ORAL PRESENTATION) DI SEMINAR ILMIAH No Nama Pertemuan Ilmiah Judul Artikel Ilmiah Waktu dan / Seminar Tempat 1. Asian Graduate Student Forum – Asian Research Institute (Oral Presentation) The Motif Buketan (Floral Motif) in Pekalongan Batik : Development Dynamics and Social Identity in Juni 2010 di National Universiti of Singapore, 2. International Conference on Art and Humanities (Oral Presentation) 3. Asian Conference on Art and Humanities (Oral Presentation) Pekalongan, Central Java, Indonesia The Dynamics and Social Identity in Pekalongan, Central Java, Indonesia Through Buketan Batik Motif (Floral Motif) The Dynamics and Social Identity in Pekalongan, Central Java, Indonesia Through Buketan Batik Motif (Floral Motif) Singapura Januari 2011 di Hilton Hotel, Waikiki, Hawaii USA April 2012 di Ramada Hotel, Osaka, Jepang SEBAGAI PEMBICARA/PELATIH PADA: No, Tahun Pembicara dalam Forum 1. 2000 Pembicara dalam talk show “Gaya Kepemimpinan Orang Tua di Mata Anak” pada taman komunikasi Kanisius 2. 2009 – 2011 Pelatih batik tulis pewarnaan alam kepada ibu-ibu lansia di Kelurahan Pandeyan yang didanai oleh Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan – PEMKOT Jogja. 3. 2012 Pemateri desain grafis pada ‘Workshop Produk Profil Daerah’ untuk BAPPEDA kabupaten Berau, Kalimantan Timur 4. 2013 Pemateri desain grafis pada ‘Workshop Produk Profil Daerah’ untuk kabupaten Halmahera Utara 5. 2013 Pemateri pada“ADVOLUTION: Memorable Experience of New Media” Pada Sesi Senja #4 Mara Advertising 6. 2013 Pembicara pada “Indonesia-Iran Summer Program: Islamic Civilication, Philosophy, Science and Culture” yang diselenggarakan oleh Center for Religious & Cross-Cultural Studies (CRCS), Graduate School, Universitas Gajah Mada Keikutsertaan Seminar, Workshop, Summit No Tahun Penyelenggara 1. 2003 Animator Forum Jogja 2. 2009 Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Yogyakarta 3. 2011 Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Yogyakarta 4 2011 Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Yogyakarta 5. 2011 Yayasan Batik Indonesia 6. 2012 7. 2012 Kementrian Perindustrian Republik Indonesia International Conference on Media, Communication, and Culture Univesitas Muhammadiyah Tema Seminar/ Workshop/ Summit JogjAnimation Festival Iklan Pinastika 2009 “Be The Legend” Festival Iklan Pinastika 2011 “Magical Ideas” “Workshop Media Strategic Planning” World Batik Summit “Indonesia: Global Home of Batik” Inkubasi Bisnis untuk Pengusaha IKM Batik Rethinking Multiculturalism: Media in Multicultural Society 8 2013 9. 2013 10. 2014 11. 2014 Yogyakarta (UMY) Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Peserta Diskusi Publik: Etika Komunikasi di Ruang Publik, Quo Vadis? Festival Iklan Pinastika 2013 “Be the Legend” Seminar Nasional “Art Politic, Politic Art” Pemikiran Stuart Hall dalam Kajian Cultral Studies Yogyakarta 2015 Karina Rima Melati, S.Sn., M.Hum Lampiran 4. Quesioner. KUESIONER PENELITIAN REVITALISASI MEDIA LUAR RUANG MALIOBORO DI YOGYAKARTA Kuesioner Dinas Nama: Domisili anda? A. DIY B. Luar DIY Jenis Kelamin : A. PRIA B. WANITA Umur : ................. TAHUN Media Luar Ruang 1. Sudah sampai sejauh mana penyelesaian Perda media luar ruang di kawasan Malioboro pada khussusnya? 2. Permasalahan apa yang masih dalam perdebatan mengenai Perda media luar ruang? 3. Apakah sudah ada Perda sebelumnya yang mengatur tentang pemasangan media luar ruang di kawasan titik 0 sd tugu/sumbu filosofi Malioboro? 4. Apakah ada Pergub tentang aturan hukum kawasan Strategis Pelestarian Sosial Budaya di kawasan Malioboro? PP Reklame dan PP tentang Instalasi 1. Bagaimana PP Reklame yang baru? Apa yang membedakan dengan yang lama khususnya Media Luar Ruang? 2. Adakah PP tentang penggunaan seni Instalasi untuk menggantikan bilboard/baliho di kawasan Malioboro? Kapan peraturan tersebut akan diketok palu/ditetapkan? 3. Jika sudah, di mana lokasinya? Bagaimana mengurus pajaknya? Bagaimana perizinannya? Berapa lama durasinya? (apakah berbedaannya dengan iklan media luar umumnya)s 4. Pengaturan karya seni instalasi seperti apa, saat ini perizinan melaui UPT Malioboro sedangkan peran DINAS PAJAK DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN (DPDPK) dimana? Untuk mendapatkan peraturan-peraturan tersebut bisa didapat dimana. Copy fleshdisk. PCB/Malioboro (Karena selama ini seni instalasi banyak dipajang di Malioboro) 1. Apakah benar ada informasi bahwa Malioboro merupakan Kawasan Strategis Pelestarian Sosial Budaya (PCB-Peraturan Cagar Budaya dan BCB-Bangunan Cagar Budaya)? Data bisa didapat dari mana. Copy fleshdisk. 2. Apa dampak bagi PCB Malioboro jika seni instalasi dipajang di sana? Latar Belakang: kini ada peraturan ketat yang membatasi produk hingga toko-toko Malioboro memasang media iklan di Malioboto Kuesioner Seniman Nama: Domisili anda? A. DIY B. Luar DIY Jenis Kelamin : A. PRIA B. WANITA Umur : ................. TAHUN 1. Apakah seni instalasi menjadi media berkesenian anda? 2. Bisa ceritakan sejarah seni instalasi yang anda pahami? 3. Sudah dimana saja seni instalasi yang anda buat diletakkan? Khususnya di Jogja 4. Bagaimana pendapat anda jika seni instalasi digunakan untk beriklan/menjadi media promosi, khususnya dalam pengertian untuk mengganti billboard, baliho, neon box yang semakin semrawut 5. Bagaimana mekanismenya menurut anda? 6. Apa harapan anda sebagai seniman jika seni dikolaborasi dengan promosi produk? Seniman dan Malioboro (Karena sebagain besar instalasi luar ruang diletakkan di kawasan Malioboro) 1. Apakah anda mengetahui bahwa Malioboro merupakan Kawasan Strategis Pelestarian Sosial Budaya? 2. Apakah anda merasa kontribusi terhadap seni instalasi di Malioboro sudah maksimal? 3. Mengenai apa sumbangsih seniman untuk kawasan Malioboro agar menjadi tertata? 4. Apakah anda setuju perlu adanya pengaturan pembangunan di kawasan Malioboro ? Kuesioner Biro 1. Apakah anda mengetahui revitalisasi media iklan luar ruang di kawasan Malioboro, atau titik 0 hingga Tugu 2. Apakah anda mengetahui tentang PP reklame seni instalasi? 3. Masukan apa yang pernah anda berikan tentang reklame seni instalasi.