Uploaded by karinarimamelati2020

Revitalisasi Media Luar Ruang di Jogja: Instalasi Seni untuk Reklame

advertisement
KODE/RUMPUN: 622/ILMU KOMUNIKASI
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
DOSEN PEMULA
REVITALISASI MEDIA LUAR RUANG UNTUK BERIKLAN DENGAN MEDIA
INSTALASI SEBAGAI IMPLEMENTASI PENGALIHAN
MEDIA BILLBOARD DAN BALIHO
DI SEPANJANG TUGU HINGGA NOL KILOMETER KOTA JOGJA
Oleh :
Hardoyo, S.Sos, MA.
NIDN.0516.0472.01
Karina Rima Melati, S.Sn, M.Hum
NIDN.0530.0982.01
AKINDO
AKADEMI KOMUNIKASI INDONESIA
YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PENGESAHAN
PENELITIAN DOSEN PEMULA
Judul Kegiatan
:
Revitalisasi Media Luar Ruang untuk Beriklan
dengan Media Instalasi sebagai Implementasi
Pengalihan Media Billboard dan Baliho di
Sepanjang Tugu hingga Nol Kilometer Kota Jogja
622 / Ilmu Komunikasi
Kode/Nama Rumpun Ilmu :
Ketua Peneliti
A. Nama Lengkap
:
HARDOYO M.A
B. NIDN
:
516047201
C. Jabatan Fungsional :
Asisten Ahli
D. Program Studi
:
Periklanan
E. Nomor HP
:
081215642020
F. Surel (e-mail)
:
[email protected]
Anggota Peneliti (1)
A. Nama Lengkap :
KARINA RIMA MELATI S. Sn M. Hum.
B. NIDN
:
0530098201
C. Perguruan Tinggi :
Akademi Komunikasi Indonesia YPK
Lama Penelitian Keseluruhan :
1 Tahun
Penelitian Tahun ke
:
1
Biaya Penelitian yang diajuakan: Rp. 15.000.000,00
Biaya Penelitian Keseluruhan yang disetujui : Rp 11.600.000,00
Biaya Penelitian yang diterima pada Tahap I :Rp 8.120.000,00
Mengetahui
Direktur
Kota Yogyakarta, 7 - 8 - 2016,
Ketua Peneliti,
(Drs Ahmad Muntaha M.Si)
NIP/NIK 002203295
(HARDOYO M.A)
NIP/NIK030.2031.05
Menyetujui,
P3M
(Drs Heroe Poerwadi MA)
NIP/NIK 011203197
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................................
RINGKASAN ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1. Latar belakang Masalah ...............................................................
1.2. Rumusan Masalah ...........................................................................
1.3. Pendekatan dan Konsep ..................................................................
1.4. Hipotesis .........................................................................................
1.5. Batasan penelitian ...........................................................................
1.6. Tujuan penelitian secara ringkas ....................................................
1.7. Target luaran yang ingin dicapai ....................................................
1.8. Kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan .....................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................
2.1. Iklan dan Perkembangannya ...........................................................
2.2. Sudut Pandang Konsumen ..............................................................
2.3. Penciptaan Iklan Billboard .............................................................
2.4. Ruang Publik di Yogyakarta ...........................................................
2.5. Seni Instalasi ...................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................
3.1. Jenis Penelitian ...............................................................................
3.2. Proses Pengumpulan .......................................................................
3.3. Analisis Informasi ...........................................................................
3.4. Penafsiran .......................................................................................
3.5. Kesimpulan Penelitian ....................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Obyek ..............................................................................................
4.2. Hasil Penelitian ...............................................................................
BAB V KESIMPULAN
BAB VI BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN .................................................
4.1. Anggaran Biaya ..............................................................................
4.2. Jadwal Penelitian ............................................................................
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian .
Lampiran 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas
Lampiran 3.Biodata Peneliti
Lampiran 4. Surat pernyataan ketua peneliti.
RINGKASAN
Industri pemasaran semakin massif, dan perkembangan media komunikasi luar
ruang mengikuti pasar dan demand. Yogyakarta memiliki icon sebagai Kota Budaya
dan Kota Pelajar. Namun ruang publik bagi seniman dan budayawan semakin
terkurangi, salah satu penyebabnya karena perkembangan media luar ruang yang
semakin tidak terkontrol sehingga menyebabkan pemasangan yang sembarangan.
Sehingga meninggalkan permasalahan dengan ketidakteraturan penempatan media
luar ruang tersebut dan banyak dipasang sembarangan tanpa memperhatikan estetika
ruang publik. Saat ini pemerintah Kota masih menggunakan Perda Kodya Dati II YK
No.8/1998 tentang izin penyelenggaraan reklame, saat ini perubahannya sedang
dalam proses penggodokan. Salah satu jenis reklame yang belum dimasukan kedalam
Raperda adalah media iklan instalasi. Media Iklan instalasi ini merupakan bentuk baru
yang ditawarkan nantinya kepada pelaku usaha atau vendor terutama dalam hal
mencari tempat yang strategis tanpa merusak pandangan atau dianggap sebagai
sampah visual. Karena permasalahan tersebut maka tawaran yang bisa dilakukan
adalah dengan merevitalisasi media luar ruang dari billboard dan baliho ke bentuk
media instalasi yang selain bermuatan seni, budaya dan kreativitas juga lebih
bermartabat. Implementasi dari media instalasi dapat bersenyawa dengan harapan dan
slogan kota, yaitu ‘Jogja Istimewa’ sehingga tidak hanya mengedepankan PAD tetapi
juga memperhatikan estetika penempatan media promosi yang terencana dan sesuai
dengan blue print atau master plan. Selain itu penelitian ini juga dibuat untuk
memberikan masukan dan mensikronkan kerja antara biro iklan, pemerintah,
stekholder, dan masyarakat kota Jogja itu sendiri.
Dengan menggunakan metode kualitatif penelitian ini akan mengedepankan
analisa mendalam terhadap situasi, pelaku, serta mengimplementasikan berbagai
media instalasi yang ditawarkan. Analisa akan didapat dengan melakukan observasi,
wawancara mendalam, kuisioner serta menggunakan kajian pustaka.
Dengan penawaran serta aturan main yang akan dibuat di penelitian ini,
penerapan media instalasi dapat menjadi Peraturan Daerah kota Jogjakarta yang saat
ini sedang dalam tahap penggodokan Perda tentang penyelenggaraan reklame
sehingga nantinya sesuai dengan kebutuhan tentang nilai-nilai tata ruang public,
bermuatan estetika, dan bermuatan kreatif. Pada akhirnya antara pemerintah, biro
iklan, seniman, dan terutama stekholder memiliki sudut pandang yang sama tentang
penempatan media promosi yang sebelumnya dalam bentuk billboard dan baliho
direvitalisasi dalam bentuk media instalasi.
Keyword:
Reklame.
Media Iklan Instalasi, Ruang Publik, Perda tentang Penyelenggaran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang Masalah
Perkembangan Iklan Media Luar Ruang di Yogyakarta terlihat pesat, dari mulai
ukuran yang kecil hingga yang besar, tinggi dan memanjang bisa kita lihat di
sepanjang jalan. Kita tidak hanya disuguhi dengan banyaknya traffic light, tetapi Iklan
Media Luar Ruang (MLR) turut serta mendominasi setiap jalan protokol, pertokoan
dan perkantoran.
Penempatan Iklan Media Luar Ruang (MLR) yang strategis bagi pengiklan
merupakan hal yang utama agar mudah dilihat dan dibaca. Tapi lokasi yang strategis
saja belum tentu mampu mendukung efektifitas sebuah Iklan Media Luar Ruang
(MLR). Perilaku konsumen merupakan materi yang harus dipertimbangkan.
Prilaku konsumen dapat sebagai penghubung antara pesan (iklan) dan penerima
pesan sehingga pesan dapat mempengaruhi sikap yang diharapkan mampu
mempengaruhi konsumen untuk perhatian, mendorong minat, menciptakan keinginan,
dan mengundang tindakan. Konsumen adalah raja pepatah ini sering dilontarkan oleh
pelaku iklan sebagai pengingat bahwa pesan yang disampaikan bisa saja diterima atau
ditolak penerima pesan sehingga pesan dianggap tidak berhasil. Keberhasilan sebuah
iklan bukan hanya berdasarkan ukuran, visual dan permainan kata-kata tetapi ada
factor yang mempengaruhi antara lain ekonomi, psikologis, dan sosial budaya.
Regulasi pemerintah tentang penyelenggaraan reklame masih mengacu pada Perda
Kodya Dati II Yk.No.8/1998 tentang izin Penyelenggaraan Reklame, dengan acuan
Perda lama dan melihat kondisi saat ini tidak lagi dapat membuat nyaman masyarakat.
Walaupun pemerintah sedang menggodok Perda Penyelenggaraan reklame yang baru
serta inginnya Daerah Istimewa Yogyakarta indah, bersih dan menarik
tetapi
kenyataannya pelaku usaha/vendor hanya menginginkan tempat yang strategis
sehingga lokasi-lokasi yang seharusnya tidak digunakan untuk reklame dan indah
dipandang jadi tertutupi. Pemerintah Kota Yogyakarta masih belum mampu
merancang corak ragam paduan atau keseimbangan antara ruang publik, seni instalasi,
pelaku usaha atau vendor dengan kewenangan pemungutan pajak.
Saat ini, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta penempatan media luar ruang
sudah sangat mengawatirkan dengan pemasangan yang sembarangan sehingga
memunculkan adanya gerakan sampah visual yang digawangi Sumbo Tinarbuko
(Dosen ISI) karena merasa hak masyarakat untuk menikmati ruang publik tercederai
dengan banyaknya media luar ruang yang tidak teratur.
Permasalahan lainnya karena penempatan media luar ruang tumpang tindih, sehingga
perlu dilakukan perumusan peraturan untuk revitalisasi bentuk media luar ruang dari
billboard ke media instalasi. Saat ini peraturan daerah tentang penyelenggaraan
reklame belum berpihak pada pemanfaatan ruang publik yang semestinya. Sehingga
tawarannya adalah media iklan instalasi untuk menggantikan media billboard dan
baliho.
1.2. Rumusan masalah
Masyarakat sudah jenuh dan pelaku industry memiliki niatan yang sama untuk
memperbaiki. Perda Kodya Dati II Yk.No.8/1998 tentang izin Penyelenggaraan
Reklame yang sudah ditetapkan sejak tahun 19988 namun belum berdampak secara
nyata. Karena itu berarti perlu rujukan melalui Raperda dan dimasukan dalam Perda
baru yang menawarkan solusi nyata dengan pergantian media dari billboard ke media
instalasi.
Berdasarkan dari latar belakang diatas, peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai
berikut :
Masalah Umum
Bagaimana proses revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media
instalasi sebagai implementasi pembersihan sampah visual di sepanjang tugu
hinggatitik nol, kota Jogja?
Rincian masalah
1. Bagaimana proses revitalisasi bisa berjalan dengan mengubah perspektif
dari media konvensional billboard ke media instalasi?
2. Bagaimana mensinergikan penerapan media instalasi untuk beriklan
bagi pemerintah kota Jogja, biro iklan, pelaku usaha/vendor dan
masyarakat kota Jogja secara umum?
1.3. Pendekatan dan Konsep
Dengan membuat perencanaan yang didapatkan dari komite khusus perda media
instalasi yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti seni, budaya, kebijakan tata
kelola, dan biro iklan, diharapkan pengesahan Perda instalasi dapat terealisasi
temasuk menentukan titik penempatan yang berada di sepanjang tugu hingga titik nol
kota Jogja, termasuk bentuk media instalasinya.
1.4. Hipotesis
Tawaran
dengan kreativitas seni atau media instalasi yang dibuat justru akan
meningkatkan atensi atau perhatian dari konsumen sehingga memaksimalkan
pesan yang disampaikan pada iklan
Menjadikan ruang publik sebagai wahana yang nyaman bagi masyarakat dan
terlindungi dari sampah visual dengan tampilan media instalasi yang ditata rapi, unik,
apik dan menarik.
Konsephamemayu hayuning bawono lan manungsoyang berarti sustainability ruang
public yang melindungi hak public untuk menikmati keindahan kota sekaligus magnet
pariwisata khususnya di wilayah sepanjang tugu hingga Nol Kilometer. Ini juga
mendukung slogan ‘Jogja Istimewa’ atau sebagai kota pendidikan, kesenian dan
kebudayaan.
1.5. Definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian
Media Instalasi, ruang public, batasan penelitian ada perancangan penerapan media
instalasi di sepenjang Tugu hingga Nol Kilometer kota Jogja yang merupakan Zona
Khusus.
1.6.
Tujuan penelitian secara ringkas
Umum: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wacana tata kelola ruang kota
dengan media instalasi yang ditata rapi, indah, unik, apik dan menarik
Khusus: revitalisasi media luar ruang billboard dan baliho
1.7. Target luaran yang ingin dicapai
Berkontribusi pada kesepakatan Raperda dan hasilnya diwujudkan melalui Perda baru
tentang izin penyelenggaraan reklame yang didalamnya termuat aturan seni instalasi
untuk penerapan media luar ruang.
Memberi
gambaran
dan
wacana
untuk
pembentukan
komite
bersama
penyelenggaraan reklame yang melibatkan pemerintah kota dan dinas terkait,
seniman, budayawan, akademisi, biro iklan, dan masyarakat.
1.8. Kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan
1. Edukasitentang ruang public di kota Jogja
2. Perancangan desain media instalasi
3. Strategi penerapan elemen-elemen rupa dalam desain grafis untuk pembuatan
iklan media luar ruang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Iklan dan Perkembangannya
Secara konseptual, iklan dapat diterapkan pada bermacam-macam media. Asal
muasal periklanan sendiri adalah bahasa latin yaitu ad-vere yang berarti
mengoperasikan pikiran dan gagasan kepada pihak lain (Otto Klepper, 1986).
Iklan juga dianggap sebagai bentuk kegiatan komunikasi non-personal yang
disampaikan lewat media dengan membayar ruang yang dipakainya untuk
menyampaikan pesan yang bersifat membujuk (persuasif) kepada konsumen oleh
perusahaan, lembaga non-komersial, maupun pribadi yang berkepentingan (Dunn
& Barban 1978:8). Iklan merupakan suatu suatu proses komunikasi yang
mempunyai kekuatan yang sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu
menjual barang, memberikan layanan, serta gagasan atau ide-ide melalui saluran
tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif (Liliweri,1992:20). Sedangkan
dari sudut pandang pemasaran, iklan adalah bentuk penyajian non-personal,
promosi ide-ide, promosi barang produk atau jasa yang dilakukan oleh sponsor
tertentu yang dibayar (Kotler 1991:237). Sementara Masyarakat Periklanan
Indonesia menganggap iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk
atau jasa yang disampaikan lewat suatu media dan ditujukan kepada sebagian atau
seluruh lapisan masyarakat. Untuk istilah periklanan merupakan keseluruhan
proses yang meliputi persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
penyampaian iklan (Riyanto, 2001)
Kesamaan ide dari beberapa sudut pandang tentang iklan dapat dirangkum
dalam enam prinsip dasar, yaitu:
1. Adanya pesan tertentu
Sesuatu yang disampaikan dan dapat diterima alat indera manusia adalah
pesan. Bentuk dari pesan bisa perpaduan dari pesan verbal dan non verbal.
Pesan verbal adalah pesan yang biasa kita pergunakan sehari-hari dalam
berinteraksi, berupa lisan atau tulisan. Pesan non verbal adalah semua pesan
yang bukan pesan verbal. Tanpa adanya pesan, tidak akan ada pihak yang
bereaksi.
2. Dilakukan oleh sponsor (komunikator)
Aksi iklan didahului oleh sponsor sebagai pihak yang berkepentingan
menyampaikan pesan kepada khalayak. Bila tidak ada sponsor, tidak akan ada
pesan iklan yang disampaikan. Komunikator dalam iklan dapat datang dari
perseorangan, kelompok masyarakat, lembaga atau organisasi, bahkan negara.
3. Dilakukan secara non personal
Disepakati bahwa iklan merupakan penyampaian pesan yang dilakukan tidak
secara tatap muka. Iklan membutuhkan media sebagai sarana penyampaian
pesan. Media yang dikenal dalam periklanan adalah media lini atas dan media
lini bawah dengan kemampuan jangkau yang berbeda-beda.
4. Disampaikan untuk khalayak tertentu
Tidak semua segmen pasar dapat mengartikan makna iklan yang diketahuinya.
Ini adalah strategi pemasaran berdasarkan pertimbangan, setiap kelompok
masyarakat mempunyai kesukaan, kebutuhan, keinginan, karakteristik, dan
keyakinan yang khusus.
5. Dalam pelaksanaannya ada proses pembayaran
Dalam perkembangannya, pesan komunikasi yang disampaikan dengan cara
tidak membayar akan dimasukkan dalam kategori kegiatan komunikasi yang
lain. Makna membayar pun sekarang meluas, tidak hanya dengan alat tukar
uang, melainkan bisa dengan cara barter berupa ruang, waktu dan kesempatan.
6. Penyampaian pesan tersebut mengharapkan dampak tertentu.
Setelah ada aksi, pasti yang diharapkan adalah reaksi. Yang diharapkan dari
sponsor dapat berupa pengaruh ekonomis yaitu produk laku di pasar ataupun
dampak sosial yaitu terbangunnya citra baik. Dalam ilmu pemasaran, citra
baik yang dibentuk pada suatu produk pada akhirnya akan membawa
keuntungan ekonomi, diterima baik oleh khalayak sehingga akhirnya banyak
dibeli.
Jauh sebelum manusia mengenal tulisan, aktivitas komunikasi sudah dimulai.
Menurut Jack Angel (1980), bentuk iklan paling awal disampaikan melalui
komunikasi lisan berupa tatap muka dan dari mulut ke mulut. Bentuk kegiatan
iklan semacam ini terjadi pada jaman Batu Muda kurang lebih 5000 tahun
sebelum Masehi. Karena belum ada aturan berbahasa, maka pesan-pesan banyak
disampaikan dalam komunikasi non verbal visual melalui gerakan tubuh.
Kehadiran barang pun dibutuhkan, karena keterbatasan kemampuan baca tulis. Di
kota Athena misalnya, sudah mulai diperdagangkan keliling produk kosmetik
untuk wanita bermerek Aesclyptos. Para penjualnya menawarkan produk malalui
nyanyian semacam puisi. Ketika tulisan sudah mulai dikenal, digunakan media
tulis seperti batu, tanah liat, daun papyrus, dan kulit binatang. Kala itu di kota tua
Pompei dekat Roma ditemukan iklan dinding dari daun papyrus berisi informasi
budak-budak yang melarikan diri.
Iklan cetak dimulai pada jaman Mesopotamia dan Babilonia sekitar tahun 3000
sebelum Masehi. Simbol dan logo sebagai tanda khas suatu produk sudah mereka
tempelkan pada produk yang diperdagangkan, dan mereka menganggapnya
sebagai ciri keunggulan produk. Yang sudah juga mereka lakukan adalah
pengenalan calon konsumen sebelum menawarkan barang, maksudnya agar
barang dagangannya cepat laku. Menurut beberapa literetur, praktik periklanan di
jaman Romawi lebih maju dibandingkan yang dilakukan bangsa Mesopotamia,
Babilonia, dan Mesir. Konsumen pun mulai digiring menuju produk-produk yang
ditawarkan, sehingga konsumen mulai mencari barang yang dibutuhkannya.
Perkembangan iklan bertambah pesat setelah ditemukannya kertas, 1275 di Cina.
Yang kemudian dianggap sebagai iklan pertama yang dicetak di atas kertas adalah
iklan yang menawarkan buku-buku doa agama Kristen di Inggris pada tahun
1472. Iklan tersebut dalam bentuk poster.
Sinergi iklan dan suratkabar dimulai di Inggris pada tahun 1650, Weekly News.
Barang-barang yang ditawarkan kebanyakan obat-obatan karena saat itu di Inggris
tengah berjangkit banyak penyakit yang menyebabkan puluhan ribu orang
meninggal.
Pesatnya perkembangan periklanan didorong suksesnya penerbitan yang ada.
Fenomena ini adalah akibat dari makin meningkatnya kemampuan membaca
masyarakat ( Kotler, 1987:212-213) seiring program wajib belajar di sekolahsekolah modern Amerika. Pada tahun 1920 saat dunia cetak mencetak mulai
mampu menghasilkan cetakan berwarna, muncullah inovasi-inovasi baru dalam
beriklan yang menjadikannya sebagai bisnis yang mendukung perekonomian.
Sayangnya dampak dari Perang Dunia II berimbas pada perekonomian dunia,
yang juga menyebabkan periklanan terpukul. Tak berapa lama, perekonomian
bangkit dengan munculnya media baru yang langsung merebut perhatian pasar,
radio. Jangkauannya luas dan menembus batas geografis yang selama ini sulit
dilakukan media cetak. Era periklanan radio terjadi sampai akhir tahun 1940.
Tuntutan kebutuhan masyarakat mulai tinggi, didukung ditemukannya media
televisi. Pada tahun 1960-an, iklan mengalami pergeseran penekanan dari
keistimewaan produk menjadi citra atau personalitas merek. Era ini adalah era
dimana iklan mengkaitkan produk dengan citra tertentu, sehingga pada tahuntahun ini iklan disebut dengan,’The image of advertising.”
Pada awal abad 20, iklan kembali mendorong masyarakat untuk menambah
konsumsinya, bahkan menjadikannya sebagai gaya hidup (Douglas Kellner,
1990:243) . Produsen berusaha sedemikian rupa agar target pasar siap menerima
produk yang dihasilkan. Sikap hidup hedonis yang mengutamakan belanja dan
konsumerisme tumbuh di lingkungan masyarakat. Hal ini didukung oleh aplikasi
sinergis segala lini media untuk mendorong pembelanjaan uang.
2.2.Sudut Pandang Konsumen
Perilaku konsumen adalah proses yang mendahului dan menyusuli tindakan dalam
mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa.
Mempelajari sikap-sikap dasar konsumen penting bagi pencapaian target
produsen. Konsumen bukan lagi raja. Menyediakan segala kebutuhan bukan lagi
tugas produsen. Saat ini sebagai akibat sikap hedonis, produsen menciptakan
produk yang belum dibutuhkan konsumen.
Sudut pandang konsumen dapat dilihat dari berbagai macam perspektif, yaitu:
1. Pengaruh konsumen (consumer influence)
Konsumen adalah penentu dalam proses pembelian (buying process),
menurut Tom Peters dan Nancy Austin ada dua cara untuk menciptakan
dan mempertahankan prestasi unggul dalam waktu yang lama. Pertama,
beri perhatian luar biasa kepada pelanggan anda… lewat pelayanan yang
unggul dan kualitas unggul. Kedua, teruslah berinovasi.
2. Menyeluruh (wholistic)
Perspektif ini lebih mengarah kepada perluasan konsumsi konsumen
dalam mendapatkan, menggunakan, atau menghabiskan produk apa pun
yang dapat mencapai suatu tujuan, memenuhi suatu kebutuhan, atau
memuaskan suatu keinginan (Morris B. Holbrook, 1987:130)
3. Antarbudaya (intercultural)
Prekspektif ini mengutamakan pada kebutuhan manusia yang bersifat
universal, walaupun ada perbedaan budaya yang dalam dan tidak dapat
disangkal di dalam pengungkapannya. Menurut Surat kabar Cina 13 Juni,
1988:6 kata yang sedang digemari di Cina dewasa ini adalah “Huoli 28,”
ucapan dalam bahasa Cina untuk “Power 28,” yang hampir seketika
menjadi detergen paling populer di negara ini.
Keputusan yang mendasari konsumen dalam menentukan suatu produk yang akan
dibeli terdiri dari 3 kategori:
1. Pengaruh lingkungan
Pada dasarnya konsumen hidup di dalam lingkungan yang kompleks. Perilaku
proses keputusan mereka dipengaruhi oleh (1) budaya; (2) kelas sosial; (3)
pengaruh pribadi; (4) keluarga; dan (5) situasi.
2. Perbedaan dan pengaruh individual
Faktor internal turut serta menggerakan dan mempengaruhi perilaku. Pengaruh
perilaku konsumen memiliki lima cara penting yang berbeda: (1) sumber daya
konsumen; (2) motivasi dan keterlibatan; (3) pengetahuan; (4) sikap; dan (5)
kepribadian, gaya hidup, dan demografi.
3. Proses psikologis.
Dalam proses psikologis ada beberapa pemahaman prilaku konsumen: (1)
pengolahan informasi; (2) pembelajaran; dan (3) perubahan sikap dan prilaku.
Selain itu proses dan prilaku keputusan konsumen memiliki berbagai macam
pandangan mengenai sifat dan fungsinya dalam pemecahan masalah: (1)
pengenalan kebutuhan; (2) pencarian informasi; (3) evaluasi alternatif; (4)
pembelian; dan (5) hasil (khususnya tingkat kepuasan).
2.3.Penciptaan Iklan Billboard
Iklan billboard yang terdapat di sepanjang jalan yang lalu lintasnya ramai
bertujuan
untuk
memperkenalkan
nama
merek.
Dalam
perancangannya
memerlukan ide dan konsep yang dapat mengejutkan orang-orang yang melihat,
baik dengan kata atau gambar. Cara mendapatkan konsep, langkah-langkah
strategisnya adalah: (1) strategi menetapkan audiens sasaran; (2) strategi
menetapkan sasaran dan anggaran iklan outdoor; (3) strategi mencari keunggulan
produk yang diiklankan; (4) strategi kreatif merancang iklan outdoor; (5) strategi
merancang daya tarik pesan iklan outdoor; (6) strategi merancang gaya dalam
mengeksekusi pesan iklan outdoor; (7) strategi merancang warna, kata, logo,
simbol dan format dalam iklan outdoor.
2.4.Ruang Publik di Yogyakarta
Ruang secara mudah diasosiasikan dengan sebuah tempat. Dan jika ruang tersebut
merupakan sebuah kota maka muatannya tidak hanya pada fisik-spasialarsitektural, melainkan mencangkup ranah-ranah kultural, sosial, ekonomi, politik,
hukum dan sebagainya . Ruang kemudian menjadi bernilai jika publik mampu
mengisi dan menghidupi dengan harmoni. Publik bukan didasarkan pada asal-usul
kedaerahannya tetapi pada kebersamaan di ruang yang sama. Intinya bahwa
publik di sini adalah pihak-pihak yang memiliki koordinasi kehidupan bersama
sehingga memiliki sensivitas akan hal-hal esensial dari kota tersebut, dan pada
saat yang sama. Dengan demikian ruang publik berarti menjadi valueable place
yang menjadi pusat optimasisasi masyarakatnya.
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa publik Jogja sudah semakin dinamis dengan
berbagai latar belakang kedaerahan mereka. Dikotomi antara orang asli dengan
pendatang memang menjadi agenda yang terus diwacanakan oleh sebagaian
kelompok yang memiliki chauvinisme tinggi. Namun jika kita kembali ke
pengertian awal tentang publik maka ia dianggap setara; menjadi sebuah
komunitas yang menduduki tempat yang sama, sehingga pada akhirnya
diidentifikasi dengan tempat yang mereka tinggali bersama tersebut. Karena
apapun yang kemudian dianggap sebagai ranah maupun aset, barang, jasa, ruang
atau gugus infrastruktur bersama kinerjanya menjadi penyangga watak sosial
suatu masyarakat, sehingga masyarakat tersebut berevolusi dari sekedar
‘kerumunan’ crowd menjadi komunitas community .
Karenanya ruang publik menjadi pusat bertemunya publik sehingga dekat dengan
berbagai kepentingan untuk publik. Bagi sebagian besar kota-kota, ruang publik
digunakanan untuk pergerakan percepatan pembangunan dengan jaringan-jaringan
modern, termasuk, dan ini yang paling penting dan tak terhindarkan adalah
menjadi ranah pesan komunikasi visual dalam bentuk media komunikasi luar
ruang. Modern sendiri sering dianggap, atau disalahartikan sebagai sesuatu yang
baru, mutakhir, canggih, agar pesan didalamnya mudah dipercaya oleh
masyarakat.
2.5. Seni Instalasi
Seni instalasi
dalam kamus bahasa indonesia, instalasi artinya pemasangan.
Secara keseluruhan seni intalasi memiliki arti seni menyambung, menyatukan,
mengkonstruksi dengan menggunakan benda baik dari bahan daur ulang atau
bahan baku baru, sehingga menjadi satu kesatuan. Hasil penciptaan seniman
melalui konsep, ide yang karyanya dapat dinikmati orang lain atau pencinta seni.
Karya seni jenis ini umumnya diletakkan di luar ruang atau khususnya ruang
publik sehingga memiliki makna ‘menghidupkan suasana’ dengan karya-karya
yang menyedot perhatian penonton di jalan. Lebih jauh dengan menaruh karya ini
di ruang publik juga bisa mengekspresikan community values, menambah
kualitas lingkungan, menyatakan opini atas permasalahan sosial, budaya, dan
lingkungan fisik kota
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini berjenis penelitiankualitatif menurut Norman K. Denzin dan
Yvonna S. Lincoln (2009,p.6) dalam bukunya Hanbook of Qualitative
Research, penelitian kualitatif penekanannya pada sifat realita yang terbangun
secara sosial, hubungan yang erat antara peneliti dengan subyek yang diteliti,
dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan.
Ciri penelitian kualitatif menurut Rahardjo adalah: (1) realitas bersifat subjektif
dan banyak seperti yang dipahami oleh para partisipan; (2) peneliti menjalin
interaksi dengan objek yang diteliti; (3) informal, mengembangkan keputusan,
bersifat personal memakai istilah-istilah kualitatif yang diterima; (4)
metodologi: proses induktif, bersifat simultan, rancangan muncul (kategorikategori diidentifikasi selama proses penelitian), terikat konteks, teori-teori
dikembangkan untuk menciptakan pemahaman, akurasi dan reliabilitas melalui
verifikasi (dalam Birowo, 2004,p.3).
3.2. Proses Pengumpulan
Pemetaan ruang publik dari titik “0” hingga Tugu dapat dikumpulkan melalui
hasil survei, data wawancara, kuesioner, dan data sekunder pendukung baik yang
didapat melalui pemerintah, biro iklan/pelaku usaha/vendor/stekholder, dan
masyarakat kota Jogja sehingga diketahui secara jelas dan benar, tujuan serta
maksud revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media instalasi di zona
khusus.
3.3. Analisis Informasi
Penelitian ini menggunakan survei. Menurut Setiawan (2007), pendekatan
survei adalah pendekatan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui
tanggapan dari orang atau kelompok tertentu di masyarakat yang dicari melalui
kuesioner, wawancara dan observasi yang melibatkan sejumlah orang
(responden) tertentu. Dengan demikian, survei meneliti sejumlah sampel
tertentu.
Survei dilakukan untuk mendapatkan data-data pokok atau jenis data primer.
Data primer adalah informasi tentang peran desainer grafis di Perguruan Tinggi
dalam membuat konten visual media cetak dan informasi dalam tim penerimaan
mahasiswa baru.
3.4. Penafsiran
Ruang publik menjadi pusat bertemunya publik sehingga dekat dengan berbagai
kepentingan untuk publik. Ruang kemudian menjadi bernilai jika publik mampu
mengisi dan menghidupi dengan harmoni. Publik bukan didasarkan pada asalusul kedaerahannya tetapi pada kebersamaan di ruang yang sama. Intinya
bahwa publik di sini adalah pihak-pihak yang memiliki koordinasi kehidupan
bersama sehingga memiliki sensivitas akan hal-hal esensial dari kota tersebut,
dan pada saat yang sama. Dengan demikian ruang publik berarti menjadi
valueable place yang menjadi pusat optimasisasi masyarakatnya.
Di Yogyakarta saat ini semakin crowded oleh tempelan-tempelan reklame atau
MLR antara lain billboard, baliho, spanduk dan sebagainya. Tidak cukup disitu,
kini dinding-dinding strategis di pinggiran jalan seakan tidak bisa dibiarkan
menganggur untuk kemudian dihiasi pula dengan pesan visual. Gambaran
kondisi ini kurang lebih seperti cerita salah satu kawan berikut: Jika 10 tahun
lalu hendak pergi ke arah utara Jogja pasti dengan mudah melihat gundukan
gunung Merapi nan perkasa (gunung Merapi berada di ujung utara kota Jogja),
tetapi kini tampilan Merapi seolah hilang ditelan semarak iklan luar ruang yang
hampir pasti ada di sepanjang jalan-jalan utama, terutama yang berada di
kawasan utara kota Jogja. Karena itu perlu adanya revitalisasi media billboard
dan baliho menjadi media instalasi mulai di titik “0” hingga tugu yang termasuk
zona khusus.
3.5. Kesimpulan Penelitian
Dengan menggunakan metode kualitatif penelitian ini akan mengedepankan
analisa mendalam terhadap situasi, pelaku, serta mengimplementasikan
berbagai media instalasi yang ditawarkan. Analisa akan didapat dengan
melakukan observasi, wawancara mendalam, kuisioner serta menggunakan
kajian pustaka.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Obyek
4.2.1. Sejarah Malioboro
Jalan Malioboro berasal dari nama ‘The First Duke of Marlborough’
pertama (1650 – 1722), seorang jenderal pejuang Inggris. Marlborough
merupakan jenderal yang meraih kemenangan yang mengagumkan dalam
setiap pertempurannya. Selain Jalan Malioboro, nama Marlborough juga
digunakan sebagai nama benteng Inggris yang terletak di Bengkulu (1714).
Namun yang perlu menjadi pembahasan lebih lanjut, pada masa itu terjadi
perbedaan kondisi antara Bengkulu dan Yogyakarta. Bengkulu mengalami
penjajahan Inggris hingga 1824, sedangkan Yogyakarta tidak pernah berada di
bawah kendali Inggris secara formal selama periode 1811 – 1816, walaupun
militer Inggris pernah menyerang Keraton di tahun 1812.
Jalan Malioboro berasal dari bahasa sansekerta malyabhara, yang
mempunyai arti; malya (karangan bunga, untaian bunga atau tasbih),
malyakarma (mendapatkan untaian bunga) dan malyabharin (terhiaskan atau
mengenakan untaian bunga). Pengertian-pengertian tersebut dapat ditemukan
dalam Ramayana berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada pertengahan abad
ke-9 dan dalam Adiparwa dan wirathaparwa yang ditulis pada akhir abad ke10.
Malioboro dari asal kata malio boro, yaitu terdiri dari kata molimo (madat,
maling, main, madon, mabuk) dan boro yang artinya dibakar pakai obor
Peraturan dan Hukum
Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa yang terbagi menjadi 5 Wilayah
administrasi dalam beberapa wilayah yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten
Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Kulonprogo.
Keberadaan etnis Tionghoa di Kawasan Malioboro, tepatnya di
sepanjang jalan Malioboro, jalan Pajeksan dan Ketandan, merupakan bagian
dari peranan Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat (1760-1831). KRT.
Secodiningrat atau Tan Jing Sin, merupakan seorang kapiten Tionghoa
di Kedu (1793-1803) dan Yogyakarta (1803-1813).
Keberadaan Dalem Secodiningratan dan Kawasan Pecinan yang berada
di dekat pusat pemerintahan, namun di luar beteng Kraton (Jobo Beteng),
dipengaruhi Paugeran Kraton yogyakarta. Dimana dalam Paugeran tersebut
disebutkan bahwa orang asing, termasuk etnis Tionghoa tidak boleh bertempat
tinggal di dalam beteng (Jero Beteng) dan juga tidak diperbolehkan adanya
tempat ibadah selain Masjid dan Musholla. Maka pada masa pemerintahan HB
IX, keberadaan Pecinan di pertegas dengan adanya Perjanjian/Prasati Pikola.
Dimana Prasasti/Perjanjian Pikola berisikan bahwa untuk orang Tionghoa
disediakan tanah Pikola atau tanah yang strategis untuk bermata pencaharian,
beribadah dan bertempat tinggal. (Sumber: Romo Tirun / KRT. Jatiningkrat, 6
Agustus 2015)
4.2.2.1.
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan
Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengaturan Keistimewaan DIY dalam peraturan perundang-undangan
sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap konsisten
dengan memberikan pengakuan keberadaan suatu daerah yang bersifat
istimewa.Bahkan, Pasal 18B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 memberikan pengakuan terhadap eksistensi suatu daerah
yang bersifat istimewa dalam kerangka NKRI.Namun, konsistensi pengakuan atas
status keistimewaan suatu daerah belum diikuti dengan pengaturan yang
komprehensif dan jelas mengenai keistimewaannya. Hal itu pula yang dialami
DIY, kewenangan yang diberikan kepada DIY awalnya melalui Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 1950 yang semata-mata hanya mengacu pada Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. isi dari UU a quo
memperlakukan sama semua daerah di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada
masa berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok
Pemerintahan Daerah sampai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah.
Status keistimewaan DIY yang tidak secara tegas diatur dalam sebuah
undang-undang
tersendiri
memunculkan
tuntutan
dari
masyarakat
Yogyakarta.Secara sosiologis, tuntutan masyarakat untuk memperoleh pengakuan
menjadi
salah
satu
alasan
dari
dibentuknya
peraturan
perundang-
undangan.Tuntutan tersebut merupakan bagian dari kehendak masyarakat serta
kebutuhan hukum yang perlu direspon dengan suatu peraturan perundang-
undangan. Oleh karena itu, diperlukan perubahan, penyesuaian dan penegasan
terhadap substansi keistimewaan yang diberikan kepada Daerah Istimewa melalui
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa
Yogyakarta sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 1955 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 junto Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, dalam rangka perubahan
dan penyesuaian serta penegasan Keistimewaan DIY, dibentuk undang-undang
tentang keistimewaan DIY dengan nomenklatur Undang-undang Nomor 13 Tahun
tentang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Undang-undang ini disahkan pada tanggal 31 Agustus 2012 dan
diundangkan pada tanggal 3 September 2012.Undang-undang yang tercatat dalam
Lembaran Negara Tahun 2012 Nomor 170 ini sebelumnya mengalami perdebatan
yang cukup alot.Namun, setelah berbagai kompromi, Dewan Perwakilan Rakyat
akhirnya menetapkan rancangan undang-undang yang mengatur mengenai
keistimewaan Yogyakarta ini menjadi undang-undang.
Menurut pembentuk undang-undang, status istimewa yang melekat pada
DIY merupakan bagian integral dalam sejarah pendirian negara-bangsa
Indonesia.Pilihan dan keputusan Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Paku
Alam VIII untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia, serta kontribusinya
untuk melindungi simbol negara-bangsa pada masa awal kemerdekaan telah
tercatat dalam sejarah Indonesia.1
Undang-undang ini terdiri dari 16 bab dan 51 pasal. Muatan bab dalam
undang-undang tersebut antara lain:
a. Bab I mengatur mengenai Ketentuan Umum yang memuat definisi berbagai
kata dan/atau frasa sebagaimana tercantum dalam pasal-pasal berikutnya.
b. Bab II mengatur tentang batas wilayah dan pembagian wilayah. Pada bagian
ini diatur bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari 4 kabupaten dan 1
kotamadya2 dan berbatasan dengan:
1
Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah
Istimewa Yogyakarta
2
Keempat kabupaten sebagaimana dimaksud yakni Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul,
Kabupaten Kulonprogo, dan Kabupaten Gunung Kidul.Sedangkan 1 kotamadya yakni Kota
Yogyakarta.
1. sebelah utara dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali,
Provinsi Jawa Tengah;
2. sebelah timur dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Wonogiri,
Provinsi Jawa Tengah;
3. sebelah selatan dengan Samudera Hindia; dan
4. sebelah barat dengan Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.
c. Bab III mengatur tentang asas dan tujuan. Disebutkan bahwa pengaturan
keistimewaan DIY bertujuan untuk:
1. mewujudkan pemerintahan yang demokratis;
2. mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat;
3. mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin ke-
bhinneka-tunggal-ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
4. menciptakan pemerintahan yang baik; dan
5. melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten
dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan
warisan budaya bangsa.
d. Bab IV mengatur tentang kewenangan keistimewaan DIY yang meliputi: tata
cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil
Gubernur; kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; kebudayaan; pertanahan;
dan tata ruang.
e. Bab V mengatur tentang bentuk dan susunan pemerintahan.
f. Bab VI mengatur tentang pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur.
g. Bab VII mengatur tentang mekanisme penggantian gubernur dan/atau wakil
gubernur jika berhalangan tetap atau tidak memenuhi persyaratan lagi atau
diberhentikan sebelum berakhirnya masa jabatan Gubernur.
h. Bab VIII mengatur mengenai aspek kelembagaan Daerah Istimewa
Yogyakarta.
i. Bab IX mengatur mengenai aspek kebudayaan.
j. Bab X mengatur tentang pertanahan yang pada prinsipnya memberi
kewenangan kepada Kasultanan dan Kadipaten untuk mengelola dan
memanfaatkan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten ditujukan untuk
sebesar-besarnya pengembangan kebudayaan, kepentingan sosial, dan
kesejahteraan masyarakat.
k. Bab XI mengenai tata ruang.
l. Bab XII mengatur mengenai Perda, Perdais, Peraturan Gubernur, dan
Keputusan Gubernur.
m. Bab XIII mengatur mengenai pendanaan dalam rangka penyelenggaraan
urusan Keistimewaan DIY.
n. Bab XIV memuat ketentuan lain-lain yang diantaranya mengatur mengenai
tugas Gubernur selaku Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta dan/atau
Wakil Gubernur selaku Adipati Paku Alam yang bertakhta untuk:
a. melakukan penyempurnaan dan penyesuaian peraturan di lingkungan
Kasultanan dan Kadipaten;
b. mengumumkan kepada masyarakat hasil penyempurnaan dan penyesuaian
peraturan sebagaimana dimaksud pada huruf a;
c. melakukan inventarisasi dan identifikasi tanah Kasultanan dan tanah
Kadipaten;
d. mendaftarkan hasil inventarisasi dan identifikasi tanah Kasultanan dan
tanah Kadipaten sebagaimana dimaksud pada huruf c kepada lembaga
pertanahan;
e. melakukan inventarisasi dan identifikasi seluruh kekayaan Kasultanan dan
Kadipaten selain sebagaimana dimaksud pada huruf c yang merupakan
warisan budaya bangsa; dan
f. merumuskan dan menetapkan tata hubungan antara Sultan Hamengku
Buwono dan Adipati Paku Alam sebagai satu kesatuan.
o. Bab XV memuat ketentuan peralihan
p. Bab XVI memuat tentang ketentuan penutup.
Dilihat dari kontennya, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang
Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan pengaturan lebih khusus
dari
pengaturan
tentang
Pemerintahan
Daerah,
meskipun
kewenangan
keistimewaan DIY berada di tingkat Provinsi. 3 Hal tersebut ditegaskan dalam
Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 yang berbunyi: “Daerah
Istimewa Yogyakarta, selanjutnya disebut DIY, adalah daerah provinsi yang
3
Pasal 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa
Yogyakarta menyatakan: “Kewenangan Istimewa DIY berada di Provinsi”. Pasal 6 UU ini menegaskan
bahwa DIY adalah tetap provinsi sebagaimana daerah-daerah provinsi lainnya tetapi dengan pemberian
kewenangan khusus kepadanya yang bersifat istimewa.
mempunyai keistimewaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Keistimewaan yang dimiliki oleh DIY adalah berdasarkan sejarah dan hak
asal-usul menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
untuk mengatur dan mengurus kewenangan istimewa.Kewenangan istimewa
dimaksud adalah wewenang tambahan tertentu yang dimiliki DIY selain
wewenang sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tentang pemerintahan
daerah.
Kewenangan dalam urusan keistimewaan DIY meliputi: tata cara
pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil
Gubernur; kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; kebudayaan; pertanahan; dan
tata
ruang.
sebagaimana
Penyelenggaraan
dimaksud
kewenangan
didasarkan
pada
dalam
nilai-nilai
urusan
keistimewaan
kearifan
lokal
dan
keberpihakan kepada rakyat.Untuk melaksanakan kewenangan istimewa ini,
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 memberikan kewenangan kepada DIY
untuk membentuk peraturan daerah istimewa (Perdais).4
Pada kontek rencana pembentukan peraturan daerah tentang peraturan
zonasi Puro Pakualaman dan sekitarnya dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun
2012 ini, maka setidaknya akan berkaitan dengan penyelenggaran kewenangan
keistimewaan khususnya dalam hal kebudayaan dan tata ruang. Pada aspek
kebudayaan, Pasal 31 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 menyatakan bahwa
kewenangan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan
hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma,
adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY.
Sedangkan pada aspek tata ruang, Pasal 34 Undang-undang Nomor 13 Tahun
2012 menyatakan bahwa kewenangan dalam tata ruang terbatas pada pengelolaan
dan pemanfaatan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten melalui penetapan
kerangka umum kebijakan tata ruang dengan memperhatikan tata ruang nasional
dan tata ruang DIY. Untuk melaksanakan kewenangan di bidang tata ruang, Pasal
34 ayat (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 mengamanatkan kepada
Kasultanan dan Kadipaten untuk menetapkan kerangka umum kebijakan tata
4
Pasal 1 angka 13 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan Perdais adalah Peraturan Daerah DIY yang dibentuk oleh DPRD DIY bersama Gubernur untuk
mengatur penyelenggaraan Kewenangan Istimewa.
ruang tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten sesuai dengan Keistimewaan DIY.
Berkaca pada beberapa ketentuan di atas, maka penyusunan peraturan zonasi
merupakan satu hal yang niscaya harus dilakukan dalam rangka menjaga dan
melestarikan nilai-nilai, adat istiadat, benda, dan tradisi luhur yang mengakar
dalam masyarakat DIY.
4.2.2.2.
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
merupakan undang-undang pengganti dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun
1992 tentang Penataan Ruang yang dianggap sudah tidak sesuai dengan
kebutuhan pengaturan penataan ruang. Undang-undang ini disahkan dan
diundangkan di Jakarta pada tanggal 26 April 2007 dan dicatat dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68 yang terdiri dari 8 bab dan 80
pasal.
Selain untuk mengganti Undang-undang Nomor 24 tahun 1992, Undangundang Nomor 26 Tahun 2007 dibentuk berdasarkan beberapa pertimbangan
sebagai berikut: 5 Pertama, bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang merupakan negara kepulauan berciri Nusantara, baik sebagai
kesatuan wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk
ruang di dalam bumi, maupun sebagai sumber daya, perlu ditingkatkan upaya
pengelolaannya secara bijaksana, berdaya guna, dan berhasil guna dengan
berpedoman pada kaidah penataan ruang sehingga kualitas ruang wilayah nasional
dapat terjaga keberlanjutannya demi terwujudnya kesejahteraan umum dan
keadilan sosial sesuai dengan landasan konstitusional Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kedua, bahwa perkembangan situasi
dan
kondisi
nasional
dan
internasional menuntut penegakan prinsip keterpaduan, keberlanjutan, demokrasi,
kepastian hukum, dan keadilan dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang
yang baik sesuai dengan landasan idiil Pancasila. Ketiga, bahwa untuk
memperkukuh Ketahanan Nasional berdasarkan Wawasan Nusantara dan sejalan
dengan kebijakan otonomi daerah yang memberikan kewenangan semakin besar
kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang, maka
5
Ruang.
Lihat konsideran menimbang Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
kewenangan tersebut perlu diatur demi menjaga keserasian dan keterpaduan
antardaerah dan antara pusat dan daerah agar tidak menimbulkan kesenjangan
antardaerah.
Keempat, bahwa keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman
masyarakat yang berkembang terhadap pentingnya penataan ruang sehingga
diperlukan penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan
partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.
Kelima, bahwa secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia berada pada
kawasan rawan bencana sehingga diperlukan penataan ruang yang berbasis
mitigasi bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan
kehidupan dan penghidupan.
Penataan ruang menurut undang-undang ini adalah suatu sistem proses
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang. 6 Kegiatan penataan ruang bertujuan 7 untuk mewujudkan ruang wilayah
nasional yang aman 8 , nyaman 9 , produktif 10 , dan berkelanjutan 11 berlandaskan
Wawasan Nusantara
dan Ketahanan
Nasional
dengan:
a.
terwujudnya
keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan; b. terwujudnya
keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan
dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan c. terwujudnya pelindungan
fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat
pemanfaatan ruang.
Penataan ruang berdasarkan undang-undang ini harus dilaksanakan dengan
memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah potensi sumber daya alam,
6
Pasal 1 angka 5 Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Merujuk pada
norma sebelumnya (Pasal 1 angka 1), yang dimaksud dengan “ruang” adalah wadah yang meliputi
ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
7
Pasal 3 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
8
Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “aman” adalah situasi masyarakat
dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan terlindungi dari berbagai ancaman”.
9
Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “nyaman” adalah keadaan
masyarakat dapat mengartikulasikan nilai sosial budaya dan fungsinya dalam suasana yang tenang dan
damai”.
10
Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “produktif” adalah proses
produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi
untuk kesejahteraan masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saing”.
11
Penjelasan Pasal 3 menyatakan: “Yang dimaksud dengan “berkelanjutan” adalah kondisi
kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, termasuk pula antisipasi
untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya sumber daya alam tak
terbarukan”.
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya,
politik, hukum, pertahanan keamanan, dan lingkungan hidup.Untuk menjamin
terwujudnya tujuan maka diberikan beberapa kewenangan kepada aparatur
pemerintah baik di pusat maupun daerah.
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 memberikan kewenangan kepada
Provinsi yang meliputi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap
pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi, dan kabupaten/kota, serta terhadap
pelaksanaan penataan ruang kawasan strategisprovinsi (KSP) dan kabupaten/kota.
Penataan ruang KSP, dilakukan melalui penetapan KSP, perencanaan tata ruang
KSP, pemanfaatan ruang KSP, dan pengendalian pemanfaatan ruang KSP.
Wewenang Pemerintah Daerah Provinsi dalam pelaksanaan penataan
ruang wilayah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tersebut
meliputi:
1. perencanaan tata ruang wilayah provinsi;
2. pemanfaatan ruang wilayah provinsi; dan
3. pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi.
Sedangkan wewenang provinsi dalam penataan ruang kawasan strategis
provinsi meliputi:
1. penetapan kawasan strategis provinsi;
2. perencanaan tata ruang kawasan strategis provinsi;
3. pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi;12 dan
4. pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi.
Untuk melaksanakan kewenangannya tersebut, pemerintah daerah
provinsi:
1. menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan:
a. rencana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka pelaksanaan
penataan ruang wilayah provinsi;
b. arahan peraturan zonasi untuk sistem provinsi yang disusun dalam rangka
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi; dan
c. petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang;
2. melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang.
Pasal 10 ayat (4) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 menyatakan: “Pelaksanaan
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf c dan huruf d dapat dilaksanakan pemerintah daerah kabupaten/kota
melalui tugas pembantuan”.
12
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 juga mengatur mengenai
pentingnya menyusun peraturan zonasi. Peraturan zonasi merupakan ketentuan
yang
mengatur
tentang persyaratan
pemanfaatan
ruang dan
ketentuan
pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan
zonanya dalam rencana rinci tata ruang.Bersama dengan rencana rinci tata ruang
wilayah kabupaten/kota, peraturan zonasi menjadi salah satu dasar dalam
pengendalian pemanfaatan ruang sehingga pemanfaatan ruang dapat dilakukan
sesuai dengan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang.
Peraturan zonasi digunakan sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan
ruang (Pasal 35 dan Pasal 36 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007).Penyusunan
peraturan zonasi berdasarkan rencana detail tata ruang (Pasal 14 ayat (6) Undangundang Nomor 26 Tahun 2007). Berdasarkan Pasal 36 ayat (3) Undang-undang
Nomor 26 Tahun 2007 dinyatakan bahwa Peraturan zonasi ditetapkan dengan: a.
peraturan pemerintah untuk arahan peraturan zonasi sistem nasional; b. peraturan
daerah provinsi untuk arahan peraturan zonasi sistem provinsi; dan c. peraturan
daerah kabupaten/kota untuk peraturan zonasi.
4.2.2.3.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
Kebudayaan Indonesia perlu dihayati oleh seluruh warga negara. Untuk
itu, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya
Pasal 32 ayat (1) mengamanatkan bahwa: “Negara memajukan kebudayaan
nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan
masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Oleh
karena itu, kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa
harus dilestarikan guna memperkukuh jati diri bangsa, mempertinggi harkat dan
martabat bangsa, serta memperkuat ikatan rasa kesatuan dan persatuan bagi
terwujudnya cita-cita bangsa pada masa depan.
Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud
pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman
dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola
secara tepat melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam
rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.13Dalam rangka menjaga Cagar Budaya dari ancaman pembangunan fisik,
baik di wilayah perkotaan, pedesaan, maupun yang berada di lingkungan air,
maka diperlukan pengaturan untuk menjamin eksistensinya.Oleh karena itu, upaya
pelestariannya mencakup tujuan untuk melindungi, mengembangkan, dan
memanfaatkannya.Hal itu berarti bahwa upaya pelestarian perlu memperhatikan
keseimbangan antara kepentingan akademis, ideologis, dan ekonomis.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya disahkan
pada tanggal 24 November 2010 oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo
Bambang Yudhoyono dan diundangkan pada tanggal yang sama di Jakarta
sebagaimana tercatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 130. Selain karena alasan mengenai pentingnya pelestarian cagar budaya,
undang-undang ini dibentuk sebagai ganti dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1992 tentang Benda Cagar Budaya yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan kebutuhan zaman.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 itu sendiri merupakan perubahan
peraturan perundang-undangan mengenai cagar budaya yang dikeluarkan
pemerintah Belanda. Setidaknya ada 2 (dua) peraturan yang telah dikeluarkan oleh
pemerintah Belanda mengenai pelestarian cagar budaya, yakni
Monumenten
Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238) dan
Monumenten Ordonnatie Nomor 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomor
515.
Pergantian dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 ke Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2010 memperlihatkan adanya perubahan paradigma antara
undang-undang yang lama dengan undang-undang yang baru. Perubahan
paradigma tersebut tampak dalam beberapa aspek pengaturan di dalam UndangUndang Nomor 11 Tahun 2010. Beberapa perbedaan yang cukup mendasar antara
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2010 antara lain berkaitan dengan:
a. Tujuan dan ruang lingkup
Tujuan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 dapat dilihat pada
Pasal 2 sedangkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 terlihat pada
13
Konsideran huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Pasal 3. Perbedaan tujuan kedua undang-undang sebagaimana terlihat dalam
tabel berikut:
UU No. 5 Tahun 1992
UU No. 11 Tahun 2010
(Pasal 2)
(Pasal 3)
Perlindungan benda cagar budaya dan Pelestarian Cagar Budaya bertujuan:
situs bertujuan melestarikan dan
a. melestarikan
warisan
budaya
memanfaatkannya untuk memajukan
bangsa dan warisan umat manusia;
kebudayaan nasional Indonesia.
b. meningkatkan harkat dan martabat
bangsa melalui Cagar Budaya;
c. memperkuat kepribadian bangsa;
d. meningkatkan kesejahteraan rakyat;
dan
e. mempromosikan warisan budaya
bangsa
kepada
masyarakat
internasional.
Berdasarkan tabel di atas, tampak adanya perbedaan paradigma
diantara kedua undang-undang yang mengatur mengenai cagar budaya
tersebut.Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 menitikberatkan pada upaya
perlindungan.Hal tersebut berbeda dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun
2010 yang menitikberatkan pada aspek pelestarian.Pelestarian cagar budaya
dinilai lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Selain itu, pelestarian juga
mempunyai nilai penting mengingat nilai sejarah untuk senantiasa dijadikan
pelajaran bagi generasi di masa yang akan datang.
Jika dilihat dari definisinya, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010
membatasi definisi pelestarian sebagai upaya dinamis untuk mempertahankan
keberadaan
Cagar
mengembangkan,
Budaya
dan
dan
nilainya
memanfaatkannya.
dengan
14
cara
Sedangkan
melindungi,
makna
kata
“perlindungan” itu sendiri oleh Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010
dibatasi dengan upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan,
kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan,
Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran Cagar Budaya.
b. Kepemilikan dan penguasaan benda cagar budaya
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 secara tegas menyatakan bahwa
semua benda cagar budaya dikuasai oleh negara sebagaimana dinyatakan
14
Pasal 1 angka 22 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
dalam Pasal 4 ayat (1) undang-undang dimaksud.15 Makna penguasaan negara
atas benda cagar budaya dipertegas di dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1)
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 yang menyatakan: “Penguasaan oleh
Negara mempunyai arti bahwa Negara pada tingkat tertinggi berhak
menyelenggarakan segala perbuatan hukum berkenaan dengan pelestarian
benda cagar budaya. Pelestarian tersebut ditujukan untuk kepentingan umum,
yaitu bahwa pengaturan benda cagar budaya harus dapat menunjang
pembangunan nasional di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata,
dan lain-lain”.Dengan kata lain, negara mengambil peran penuh dalam
kegiatan pelestarian benda cagar budaya untuk mencapai tujuan demi
kepentingan umum terutama dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan
nasional di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan lain
sebagainya.
Hal demikian berbeda dengan ketentuan di dalam Undang-undang
Nomor 11 Tahun 2010 yang memberikan kesempatan kepada setiap orang
memiliki dan/atau menguasai benda cagar budaya. Pasal 12 ayat (1) Undangundang Nomor 11 Tahun 2010 menyatakan bahwa setiap orang dapat
memiliki dan/atau menguasai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya dengan tetap
memperhatikan fungsi sosialnya sepanjang tidak bertentangan dengan
ketentuan Undang-Undang ini. Kepemilikan tersebut berlaku hanya jika
jumlah dan jenis Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur
Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya tersebut telah memenuhi
kebutuhan negara. Kepemilikan sebagaimana dimaksud dapat diperoleh
melalui pewarisan, hibah, tukar-menukar, hadiah, pembelian, dan/atau putusan
atau penetapan pengadilan, kecuali yang dikuasai oleh negara. Kepemilikan
tersebut tidak berlaku bagi Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur Cagar Budaya, dan/atau Situs Cagar Budaya yang tidak ada ahli
warisnya atau tidak diserahkan kepada orang lain berdasarkan wasiat, hibah,
atau hadiah setelah pemiliknya meninggal. Kepemilikan benda-benda tersebut
15
Pasal 4 ayat (2) selanjutnya menyatakan bahwa penguasaan benda cagar budaya
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi benda cagar budaya yang terdapat di wilayah hukum
Republik Indonesia. Kemudian pada ayat (3) dinyatakan bahwa pengembalian benda cagar budaya
yang pada saat berlakunya Undang-undang ini berada di luar wilayah hukum Republik Indonesia,
dalam rangka penguasaan oleh Negara, dilaksanakan Pemerintah sesuai dengan konvensi internasional.
diambil alih oleh negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Negara dapat menguasai seluruh benda cagar budaya, kecuali Kawasan
Cagar Budaya hanya dapat dimiliki dan/atau dikuasai oleh negara, kecuali
yang secara turun-temurun dimiliki oleh masyarakat hukum adat.Sementara
untuk Cagar Budaya yang tidak diketahui kepemilikannya dikuasai oleh
Negara.
c. Penemuan benda cagar budaya
Kedua undang-undang tentang cagar budaya berbeda memberi batasan
penyampaikan laporan atas penemuan benda cagar budaya. Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1992 menegaskan bahwa setiap orang yang menemukan atau
mengetahui ditemukannya benda cagar budaya atau benda yang diduga
sebagai benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui
pemiliknya, wajib melaporkannya kepada Pemerintah selambat-lambatnya 14
(empat belas) hari sejak ditemukannya. Laporan dimaksud akan ditindaklanjut
dengan penelitian mengenai cagar budaya yang ditemukan. Hal tersebut
berbeda dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 yang
menyatakan bahwa setiap orang yang menemukan benda yang diduga Benda
Cagar Budaya, bangunan yang diduga Bangunan Cagar Budaya, struktur yang
diduga Struktur Cagar Budaya, dan/atau lokasi yang diduga Situs Cagar
Budaya wajib melaporkannya kepada instansi yang berwenang di bidang
kebudayaan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan/atau instansi terkait
paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak ditemukannya.
d. Pencarian benda cagar budaya
Perbedaan selanjutnya adalah mengenai pencarian cagar budaya.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 menyatakan bahwa melarang setiap
orang untuk mencari benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak
diketahui pemiliknya dengan cara penggalian, penyelaman, pengangkatan,
atau dengan cara pencarian lainnya, tanpa izin dari Pemerintah. Sedangkan
menurut Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 dinyatakan
bahwa Pemerintah yang memiliki kewajiban untuk melakukan pencarian
benda, bangunan, struktur, dan/atau lokasi yang diduga sebagai Cagar Budaya.
Jika pencarian itu dilakukan oleh setiap individu, Undang-undang Nomor 11
Tahun 2010 membolehkan pencarian Cagar Budaya atau yang diduga Cagar
Budaya tersebut dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di
darat dan/atau di air.
Terlepas dari berbagai perbedaan yang ada di dalam kedua undangundang, jika kita lihat ketentuan-ketentuan di dalam Undang-undang Nomor 11
Tahun 2010, maka tampak jelas pembagian kewenangan antara pemerintah pusat,
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam pelestarian cagar
budaya. Beberapa kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah provinsi di dalam
upaya pelestarian cagar budaya antara lain terlihat di dalam pasal-pasal sebagai
berikut:
1. Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyatakan:
“Pengelolaan Register Nasional Cagar Budaya di daerah sesuai dengan
tingkatannya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota”.
2. Pasal 40 ayat (4) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyatakan:
“Pemerintah provinsi melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap
Register
Nasional
Cagar
Budaya
yang
dikelola
oleh
pemerintah
kabupaten/kota”.
3. Pasal 72 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa
Gubernur menetapkan sistem zonasi apabila telah ditetapkan sebagai Cagar
Budaya provinsi atau mencakup 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. Sistem
zonasi sebagaimana dimaksud berupa penetapan batas-batas keluasannya dan
pemanfaatan ruang perlindungan Cagar Budaya berdasarkan hasil kajian.
Penetapan luas, tata letak, dan fungsi zona ditentukan berdasarkan hasil kajian
dengan mengutamakan peluang peningkatan kesejahteraan rakyat (Pasal 73
ayat (4))
4. Sistem zonasi pelestarian cagar budaya mengatur fungsi ruang cagar budaya
baik vertikal maupun horizontal. Pengaturan Zonasi secara vertikal dapat
dilakukan terhadap lingkungan alam di atas Cagar Budaya di darat dan/atau di
air. Sistem zonasi dapat terdiri dari: zona inti, zona penyangga, zona
pengembangan dan/atau zona penunjang. Zona inti adalah area pelindungan
utama untuk menjaga bagian terpenting Cagar Budaya. Zona penyangga
adalah area yang melindungi zona inti. Zona pengembanganan adalah area
yang diperuntukan bagi pengembangan potensi cagar budaya bagi kepentingan
rekreasi, daerah konservasi lingkungan alam, lanskap budaya, kehidupan
budaya tradisional, keagamaan, dan kepariwisataan. Sedangkan zona
penunjang adalah area yang diperuntukan bagi sarana dan prasarana penunjang
serta untuk kegiatan komersial dan rekreasi umum.
5. Pasal 93 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa
Gubernur dapat mengeluarkan izin kepada seseorang dalam rangka
memanfaatkan Cagar Budaya peringkat provinsi.
6. Pasal 96 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah
(Provinsi dan Kabupaten/Kota) berwenang:
a. menetapkan etika pelestarian Cagar Budaya;
b. mengoordinasikan pelestarian Cagar Budaya secara lintas sektor dan
wilayah;
c. menghimpun data Cagar Budaya;
d. menetapkan peringkat Cagar Budaya;
e. menetapkan dan mencabut status Cagar Budaya;
f. membuat peraturan pengelolaan Cagar Budaya;
g. menyelenggarakan kerja sama pelestarian Cagar Budaya;
h. melakukan penyidikan kasus pelanggaran hukum;
i. mengelola Kawasan Cagar Budaya;
j. mendirikan dan membubarkan unit pelaksana teknis bidang pelestarian,
penelitian, dan museum;
k. mengembangkan
kebijakan
sumber
daya
manusia
di
bidang
kepurbakalaan;
l. memberikan penghargaan kepada setiap orang yang telah melakukan
Pelestarian Cagar Budaya;
m. memindahkan dan/atau menyimpan Cagar Budaya untuk kepentingan
pengamanan;
n. melakukan pengelompokan Cagar Budaya berdasarkan kepentingannya
menjadi
peringkat
nasional,
peringkat
provinsi,
dan
peringkat
kabupaten/kota;
o. menetapkan batas situs dan kawasan; dan
p. menghentikan proses pemanfaatan ruang atau proses pembangunan yang
dapat menyebabkan rusak, hilang, atau musnahnya Cagar Budaya, baik
seluruh maupun bagian-bagiannya.
4.2.2.4.
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya,
mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan
produktivitas, dan jati diri manusia.Oleh karena itu, penyelenggaraan bangunan
gedung perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan
serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan bangunan gedung
yang fungsional, andal, berjati diri, serta seimbang, serasi, dan selaras dengan
lingkungannya. Hal demikian setidaknya yang muncul dalam alam pikiran para
pembentuk Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
saat undang-undang ini dibahas dan disahkan.
Undang-undang tentang Bangunan Gedung mengatur fungsi bangunan
gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung,
termasuk hak dan kewajiban pemilik dan pengguna bangunan gedung pada setiap
tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan tentang peran masyarakat dan
pembinaan oleh pemerintah, sanksi, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.
Keseluruhan maksud dan tujuan pengaturan tersebut dilandasi oleh asas
kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung
dengan lingkungannya, bagi kepentingan masyarakat yang berperikemanusiaan
dan berkeadilan.
Undang-undang ini juga mengatur mengenai peran serta masyarakat dan
peran penyedia jasa konstruksi.Kepada masyarakat, undang-undang ini berharap
masyarakat dapat terlibat dan berperan secara aktif bukan hanya dalam rangka
pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung untuk kepentingan mereka
sendiri, tetapi juga dalam meningkatkan pemenuhan persyaratan bangunan gedung
dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung pada umumnya.Sedangkan kepada
penyedia
jasa
konstruksi,
undang-undang
ini
mengamanatkan
bahwa
penyelenggaraan pembangunan gedung harus mengacu pada peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai jasa konstruksi.
Pasal 38 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 baik secara langsung atau
tidak langsung berkaitan dengan upaya penyusunan peraturan daerah tentang
Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro. Pasal 38 Undang-undang Nomor 28 Tahun
2002 sebagaimana dimaksud menyatakan:
(1) Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar
budaya sesuai dengan peraturan perundang-undangan harus dilindungi
dan dilestarikan.16
(2) Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan
dilestarikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh
Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah dengan memperhatikan
ketentuan perundang-undangan.17
(3) Pelaksanaan perbaikan, pemugaran, perlindungan, serta pemeliharaan
atas bangunan gedung dan lingkungannya sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai
dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya.18
(4) Perbaikan, pemugaran, dan pemanfaatan bangunan gedung dan
lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi
dan/atau karakter cagar budaya, harus dikembalikan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(5) Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) serta teknis pelaksanaan
perbaikan, pemugaran dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3) dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
4.2.2.5.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemeritahan
Daerah
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 ini merupakan pengganti dari
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.Undang-undang yang lahir dalam suasana
hangat pasca Pemilihan Umum Legislatif ini disahkan pada tanggal 30 September
16
Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah Undang-undang tentang Cagar Budaya.
Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan
atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh)
tahun, atau mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai
nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, termasuk nilai arsitektur dan teknologinya.
18
Yang dimaksud mengubah, yaitu kegiatan yang dapat merusak nilai cagar budaya bangunan
gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. Perbaikan, pemugaran, dan
pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan harus dilakukan
dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya sehingga dapat
dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula, atau dapat dimanfaatkan sesuai dengan potensi
pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah
dan/atau Pemerintah.
17
2014. Sebagai koreksi atas undang-undang sebelumnya, Undang-undang Nomor
23 Tahun 2014 hendak memperbaiki beberapa hal:
Pertama, pola hubungan pemerintah pusat dan daerah.Sebagai koreksi atas
penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan undang-undang sebelumnya,
undang-undang ini hendak menegaskan bahwa kedaulatan pemerintahan negara
hanya berada di pemerintah pusat.Pemberian otonomi yang seluas-seluasnya
kepada Daerah harus dilaksanakan berdasarkan prinsip negara kesatuan.Dalam
negara kesatuan kedaulatan hanya ada pada pemerintahan negara atau
pemerintahan nasional dan tidak ada kedaulatan pada Daerah. Oleh karena itu,
seluas apa pun otonomi yang diberikan kepada Daerah, tanggung jawab akhir
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah akan tetap ada di tangan Pemerintah Pusat.
Untuk itu, Pemerintahan Daerah pada negara kesatuan merupakan satu kesatuan
dengan Pemerintahan Nasional.Sejalan dengan itu, kebijakan yang dibuat dan
dilaksanakan oleh Daerah merupakan bagian integral dari kebijakan nasional.
Pembedanya adalah terletak pada bagaimana memanfaatkan kearifan, potensi,
inovasi, daya saing, dan kreativitas Daerah untuk mencapai tujuan nasional
tersebut di tingkat lokal yang pada gilirannya akan mendukung pencapaian tujuan
nasional secara keseluruhan.
Kedua, penegasan mengenai bentuk penyelenggaraan pemerintahan
daerah. Berbeda dengan penyelenggaraan pemerintahan di pusat yang terdiri atas
lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan kepala
daerah. DPRD dan kepala daerah berkedudukan sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang diberi mandat rakyat untuk melaksanakan urusan
Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah.Dengan demikian maka DPRD dan
kepala daerah berkedudukan sebagai mitra sejajar yang mempunyai fungsi yang
berbeda. Sebagai konsekuensi posisi DPRD sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah maka susunan, kedudukan, peran, hak, kewajiban, tugas,
wewenang, dan fungsi DPRD tidak diatur dalam beberapa undang-undang namun
cukup diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 secara keseluruhan
guna memudahkan pengaturannya secara terintegrasi.
Ketiga, urusan pemerintahan. Sebagaimana diamanatkan oleh UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, terdapat Urusan
Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat yang
dikenal dengan istilah urusan pemerintahan absolut dan ada urusan pemerintahan
konkuren. Di samping urusan pemerintahan absolut dan urusan pemerintahan
konkuren, dalam Undang-Undang ini dikenal adanya urusan pemerintahan umum.
Urusan pemerintahan umum menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala
pemerintahan yang terkait pemeliharaan ideologi Pancasila, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, menjamin
hubungan yang serasi berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan sebagai
pilar kehidupan berbangsa dan bernegara serta memfasilitasi kehidupan
demokratis. Presiden dalam pelaksanaan urusan pemerintahan umum di Daerah
melimpahkan kepada gubernur sebagai kepala pemerintahan provinsi dan kepada
bupati/wali kota sebagai kepala pemerintahan kabupaten/kota.
Keempat, Peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah.
Mengingat kondisi geografis yang sangat luas, maka untuk efektivitas dan
efisiensi pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Urusan Pemerintahan
yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota, Presiden sebagai penanggung
jawab akhir pemerintahan secara keseluruhan melimpahkan kewenangannya
kepada gubernur untuk bertindak atas nama Pemerintah Pusat untuk melakukan
pembinaan dan pengawasan kepada Daerah kabupaten/kota agar melaksanakan
otonominya dalam koridor Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang
ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Untuk efektivitas pelaksanaan tugasnya selaku
wakil Pemerintah Pusat, gubernur dibantu oleh perangkat gubernur sebagai Wakil
Pemerintah Pusat.Karena perannya sebagai Wakil Pemerintah Pusat, maka
hubungan gubernur dengan Pemerintah Daerah kabupaten/kota bersifat hierarkis.
Kelima, Penataan Daerah. Salah satu aspek dalam Penataan Daerah adalah
pembentukan Daerah baru.Pembentukan Daerah pada dasarnya dimaksudkan
untuk
meningkatkan
pelayanan
publik
guna
mempercepat
terwujudnya
kesejahteraan masyarakat disamping sebagai sarana pendidikan politik di tingkat
lokal.
Keenam, Perangkat Daerah. Besaran organisasi Perangkat Daerah baik
untuk mengakomodasikan Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan
Pilihan paling sedikit mempertimbangkan faktor jumlah penduduk, luasan
wilayah, beban kerja, dan kemampuan keuangan Daerah. Untuk mengakomodasi
variasi beban kerja setiap Urusan Pemerintahan yang berbeda-beda pada setiap
Daerah, maka besaran organisasi Perangkat Daerah juga tidak sama antara satu
Daerah dengan Daerah lainnya. Dari argumen tersebut dibentuk tipologi dinas
atau badan Daerah sesuai dengan besarannya agar terbentuk Perangkat Daerah
yang efektif dan efisien.
Ketujuh, Keuangan Daerah. Penyerahan sumber keuangan Daerah baik
berupa pajak daerah dan retribusi daerah maupun berupa dana perimbangan
merupakan konsekuensi dari adanya penyerahan Urusan Pemerintahan kepada
Daerah yang diselenggarakan berdasarkan Asas Otonomi. Untuk menjalankan
Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangannya, Daerah harus mempunyai
sumber keuangan agar Daerah tersebut mampu memberikan pelayanan dan
kesejahteraan kepada rakyat di Daerahnya.Pemberian sumber keuangan kepada
Daerah harus seimbang dengan beban atau Urusan Pemerintahan yang diserahkan
kepada Daerah.
Kedelapan, peraturan daerah (Perda).Perda yang dibuat oleh Daerah hanya
berlaku dalam batas-batas yurisdiksi Daerah yang bersangkutan.Walaupun
demikian Perda yang ditetapkan oleh Daerah tidak boleh bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya sesuai
dengan hierarki peraturan perundang-undangan.Disamping itu, Perda sebagai
bagian dari sistem peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan
dengan kepentingan umum sebagaimana diatur dalam kaidah penyusunan Perda.
Dalam rangka menciptakan tertib administrasi pelaporan Perda, setiap Perda yang
akan diundangkan harus mendapatkan nomor register terlebih dahulu. Perda
Provinsi harus mendapatkan nomor register dari Kementerian, sedangkan Perda
Kabupaten/Kota mendapatkan nomor register dari gubernur sebagai wakil
Pemerintah Pusat. Dengan adanya pemberian nomor register tersebut akan
terhimpun informasi mengenai keseluruhan Perda yang dibentuk oleh Daerah dan
sekaligus juga informasi Perda secara nasional.
Kesembilan, inovasi daerah.Majunya suatu bangsa sangat ditentukan oleh
inovasi yang dilakukan bangsa tersebut.Untuk itu maka diperlukan adanya
perlindungan terhadap kegiatan yang bersifat inovatif yang dilakukan oleh
aparatur sipil negara di Daerah dalam memajukan Daerahnya.Perlu adanya upaya
memacu kreativitas Daerah untuk meningkatkan daya saing Daerah.Untuk itu
perlu adanya kriteria yang obyektif yang dapat dijadikan pegangan bagi pejabat
Daerah untuk melakukan kegiatan yang bersifat inovatif. Dengan cara tersebut,
inovasi akan terpacu dan berkembang tanpa ada kekhawatiran menjadi obyek
pelanggaran hukum.
Berdasarkan rencana koreksi di atas, Undang-undang Nomor 23 Tahun
2014 menetapkan bahwa urusan pemerintahan konkuren wajib Pemerintah
Provinsi yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar diantaranya mengenai pekerjaan
umum dan penataan ruang (Pasal 12 ayat (1) huruf c). Urusan Pemerintahan
konkuren Wajib Pemerintah Provinsi yang tidak berkaitan dengan Pelayanan
Dasar antara lain mengenai kebudayaan (Pasal 12 ayat (2) huruf p).
Berkaitan dengan pembentukan peraturan daerah, undang-undang ini
mengamanatkan bahwa peraturan daerah harus memuat materi muatan mengenai
penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan, penjabaran lebih lanjut
ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dan materi muatan
lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 236).
Peraturan daerah sebagaimana dimaksud dapat memuat ketentuan tentang
pembebanan biaya paksaan, ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam)
bulan atau pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah), ancaman pidana kurungan atau pidana denda lainnya, ancaman sanksi
yang bersifat mengembalikan pada keadaan semula dan/atau sanksi administratif
(Pasal 238). Sedangkan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dapat berupa:
teguran lisan, teguran tertulis, penghentian sementara kegiatan, penghentian tetap
kegiatan, pencabutan sementara izin, pencabutan tetap izin, denda administratif,
dan/atau sanksi administratif lain.
4.2.2.6.
Peraturan
Pemerintah
Nomor
15
Tahun
2010
tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang ini ditetapkan pada tanggal 28 Januari 2010 sebagaimana tercatat
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21. Peraturan
pemerintah ini dibuat untuk melaksanakan ketentuan Pasal 13 ayat (4), Pasal 16
ayat (4), Pasal 37 ayat (8), Pasal 38 ayat (6), Pasal 40, Pasal 41 ayat (3), Pasal 47
ayat (2), Pasal 48 ayat (5), Pasal 48 ayat (6), dan Pasal 64, Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Jika dilihat pada Penjelasan Umum peraturan pemerintah ini, akan dapat
ditemukan beberapa materi pokok yang diatur di dalam peraturan pemerintah ini.
Dalam peraturan pemerintah ini diatur mengenai pengaturan penataan ruang,
pembinaan penataan ruang, pelaksanaan perencanaan tata ruang, pelaksanaan
pemanfaatan
ruang,
pelaksanaan
pengendalian
pemanfaatan
ruang,
dan
pengawasan penataan ruang, di seluruh wilayah NKRI.
Untuk mewujudkan pengaturan mengenai penyelenggaraan penataan
ruang yang lebih komprehensif dan dapat diterapkan secara efektif, Peraturan
Pemerintah ini memuat pengaturan penyelenggaraan penataan ruang wilayah dan
kawasan, yang mencakup:
a. Pengaturan penataan ruang yang meliputi ketentuan tentang peraturan yang
harus ditetapkan pada masing-masing tingkatan pemerintahan untuk
memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penataan ruang.
Hal ini sebagaimana terlihat dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan
Pemerintah ini.
b. Pembinaan penataan ruang yang mengatur tentang bentuk dan tata cara
pembinaan penataan ruang dari Pemerintah kepada pemerintah daerah dan
masyarakat, dari pemerintah daerah provinsi kepada pemerintah daerah
kabupaten/kota dan masyarakat, serta dari pemerintah daerah kabupaten/kota
kepada masyarakat. Pembinaan penataan ruang bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan dan menumbuhkan kemandirian pemerintah daerah dan
masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang. 19 Pengaturan mengenai
pembinaan penataan ruang sebagaimana dimaksud diatur dalam Pasal 6
sampai dengan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010. Bentuk
pembinaan penataan ruang meliputi:20
1.
koordinasi penyelenggaraan penataan ruang;
2.
sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman bidang penataan
ruang;
19
Tujuan pembinaan sebagaimana dimaksud secara lengkap terlihat dalam Pasal 6 Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 yang berbunyi: “Bentuk pembinaan penataan ruang meliputi: a.
koordinasi penyelenggaraan penataan ruang; b. sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman
bidang penataan ruang; c. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang;
d. pendidikan dan pelatihan; e. penelitian dan pengembangan; f. pengembangan sistem informasi dan
komunikasi penataan
ruang; g. penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat; dan h. pengembangan
kesadaran dan tanggung jawab masyarakat.
20
Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
3.
pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan penataan
ruang;
4.
pendidikan dan pelatihan;
5.
penelitian dan pengembangan;
6.
pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang;
7.
penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat; dan
8.
pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat.
c. Pelaksanaan perencanaan tata ruang yang mengatur ketentuan mengenai
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang wilayah dan rencana tata ruang
kawasan termasuk kawasan strategis, kawasan perkotaan, dan kawasan
perdesaan, yang dilaksanakan melalui prosedur untuk menghasilkan rencana
tata ruang yang berkualitas dan dapat diimplementasikan. Ketentuan mengenai
perencanaan tata ruang diatur dalam Pasal 18 sampai dengan Pasal 92
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010.21
d. Pelaksanaan pemanfaatan ruang yang mengatur ketentuan mengenai
penyusunan
dan
pelaksanaan
program
pemanfaatan
ruang
beserta
pembiayaannya. Pelaksanaan pemanfaatan ruang melalui sinkronisasi program
yang dituangkan ke dalam rencana pembangunan jangka panjang, rencana
pembangunan jangka menengah, dan rencana pembangunan tahunan sesuai
dengan sistem perencanaan pembangunan nasional, serta pelaksanaan
pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang.22 Pengaturan mengenai
hal ini dapat dilihat pada Pasal 93 sampai dengan Pasal 146 Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010.
e. Pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang untuk mewujudkan tertib tata
ruang yang mengatur ketentuan mengenai peraturan zonasi yang merupakan
ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang, perizinan yang merupakan syarat
untuk pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang, pemberian insentif dan
disinsentif, serta pengenaan sanksi, yang keseluruhannya merupakan
perangkat untuk mendorong terwujudnya rencana tata ruang sekaligus untuk
21
Pada bagian ini Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 membagi perencanaan tata
ruang ke dalam 4 perencanaan kawasan, yakni: perencanaan Tata Ruang Wilayah Nasional,
perencanaan tata ruang wilayah provinsi, c. perencanaan tata ruang wilayah kabupaten; dan
perencanaan tata ruang wilayah kota.
22
Pelaksanaan pemanfaatan ruang dilaksanakan untuk: mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang yang direncanakan untuk menjamin keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas;
dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dilaksanakan secara terpadu.
mencegah terjadinya pelanggaran penataan ruang. Pengaturan mengenai hal
ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 147 sampai dengan Pasal 197
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010.
f. Pengawasan penataan ruang yang meliputi pemantauan, evaluasi, dan
pelaporan merupakan upaya untuk menjaga kesesuaian penyelenggaraan
penataan ruang dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, yang
dilaksanakan baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat.
Hal ini sebagaimana terlihat pada Pasal 198 sampai dengan Pasal 206
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010.
4.2.2.7.
Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun
2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk
Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Sebagaimana dituangkan di dalam konsideran menimbang bahwa dalam
rangka pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah haruslah senantiasa menciptakan suasana tertib tanpa
mengurangi prinsip demokratisasi dimasyarakat sesuai dengan Keistimewaan
Daerah Istimewa Yogyakarta.Hal itu menunjukan bahwa dalam setiap produk
hukum daerah yang dibentuk oleh pemerinta DIY harus konsisten memperhatikan
prinsip demokrasi di masyarakat yang sejalan dengan keistimewaan DIY. Cermin
dari prinsip demokrasi dimaksud, adalah dengan mengedepankan asas-asas
sebagai berikut:23 a.pengayoman; b.kemanusiaan; c.kebangsaan; d.kekeluargaan;
e.kenusantaraan; f.bhinneka tunggal ika; g.keadilan; h.kesamaan kedudukan
dalam hukum dan pemerintahan; i.ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau
j.keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
Berdasarkan ketentuan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam
pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro, yang
nantinya akan menjadi produk hukum daerah adalah menjadi keniscayaan untuk
mengakomodir prinsi-prinsip di atas. Adanya pengakomodiran tersebut, selain
sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah aturan (hukum), juga dapat dijadikan
sebagai tindakan nyata dan konsistensi penyelenggara pemerintah DIY dalam
23
Lihat Pasal 4 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang
Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.
menjaga marwah keistimewaan. Selain arahan asas yang harus digunakan dalam
membentuk produk hukum daerah, Peraturan Daerah (Perda) Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 juga menyebutkan jenis produk hukum daerah
yang meliputi: a.Perda; b. Perdais; c. Peraturan Gubernur; d. Peraturan Bersama
Gubernur; dan e. Keputusan Gubernur.24
Adapun dengan materi Perda, ialah harus berisi materi muatan dalam
rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung
kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. 25 Sementara, materi muatan Peratruan Daerah
Istimewa (Perdais) berisi materi muatan penyelenggaraan kewenangan dalam
urusan Keistimewaan. 26 Dari kedua ketentuan tersebut, maka dalam konteks
pembentukan
Raperda
tentang
Peraturan
Zonasi
Kawasan
Malioboro,
sesungguhnya merupakan konkretisasi atas amanah yang termaktub di dalam
tersebut.Hal itu tidak lain, karena jika menelaah sejarah Kadipaten Pakualaman
merupakan salah satu sendi kontributif melekatnya keistimewaan bagi DIY.
Selain amanah di atas, ketentuan sanksi juga menjadi aspek yang harus
diperhatikan. Pasal 8 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7
Tahun 2013 menyebutkan:
a. Perda dan/atau Perdais dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya
paksaan penegakan hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai
peraturan perundangan-undangan.
b. Perda dan/atau Perdais dapat memuat ancaman pidana kurungan paling
lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).
Ketentuan di atas menunjukan bahwa dalam pembuatan produk hukum daerah,
seperti Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Pakualaman
tidak diperkenankan melebihi sanksi yang telah termaktub tersebut.
24
Pasal 6 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013 tentang Tata
Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
25
Pasal 7 ayat (1) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.
26
Pasal 7 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.
Mengingat peraturan zonasi merupakan bagian integral dari tata ruang, di
dalam Perda ini disebutkan bahwa Penyusunan Rancangan Perda tentang Tata
Ruang
Wilayah
Daerah
dilaksanakan
sesuai
peraturan
perundang-
undangan.Artinya, dalam pembentukan peraturan zonasi haruslah tunduk terhadap
ketentuan regulasi seperti Undang-undang tentang Tata Ruang dan aturan teknis
tata ruang yang hierarkisnya di atas perda. Kemudian, berkenaan dengan
Pembahasan,
penetapan,
penomoran,
pengundangan,
autentifikasi
dan
penyebarluasan rancangan Perda tentang Tata Ruang Wilayah Daerah berlaku
Pasal 38 sampai dengan Pasal 58 Perda DIY Nomor 7 Tahun 2013.
Di dalam perda ini, juga menegaskan bahwa urusan keistimewaan DIY
didalamnya termasuk juga meliputi urusan tata ruang.27Hal itu menunjukan bahwa
pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro merupakan
bagian dari urusan keitimewaan yang memiliki dasar yuridis untuk dilakukan
pengaturan. Namun demikian, dalam proses pembentukan peraturan zonasi
tersebut harus didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal dan keberpihakan kepada
rakyat.28 Dari uraian tersebut, menjadi jelas bahwa pembentukan peraturan zonasi
yang merupakan bagian dari tata ruang memiliki dasar legitimate apabila dilihat
dari aspek yuridis normatif ketentuan aturan daerah di DIY.
4.2.2.8.
Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun
2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa
Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 6 ayat (2) Perda DIY Nomor 1
Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa
(Perdais), bahwa aspek tata ruang menjadi urusan keistimewaan yang dapat diatur
dengan Perdais. Oleh karena itu, pembentukan Raperda tentang Peraturan Zonasi
Kawasan Malioboro merupakan bagian urusan keitimewaan yang legal untuk
dilakukan pengaturan. Nmaun dalam hal pembentukannya, harus didasarkan pada
alasan-alasan sebagai berikut:
1. urgensi dan tujuan penyusunan;
27
Lihat ketentuan Pasal 99 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7
Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
28
Lihat ketentuan Pasal 99 ayat (3) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7
Tahun 2013 tentang Tata Cara Pembentukan Produk Hukum Daerah dan Produk Hukum Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
2. sasaran yang ingin diwujudkan;
3. pokok pikiran, lingkup, atau obyek yang akan diatur; dan
4. jangkauan serta arah pengaturan.29
Guna merumuskan keempat aspek di atas, Pasal 9 ayat (3) member acuan
agar proses dan hasilnya dilakukan melalui kajian akademik. Dengan kata lain,
bahwa materi yang diatur berkenaan dengan substasin Raperda tentang Peraturan
Zonasi Kawasan Malioboro yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan,
nantinya harus dituangkan dalam Naskah Akademik. Sebagaimana ditegaskan
pula dalam Pasal 19 ayat (1) Perda Nomor 1 Tahun 2013, keberadaan Naskah
Akademik merupakan pra syarat mutlak yang harus ada dalam pengajuan perdais.
Aspek terpenting dari Perda Nomor 1 Tahun 2013, adalah adanya
partisipasi masyarakat dalam penyusunan perdais. Di dalam Pasal 50 ayat (1)
disebutkan: Masyarakat dapat memberikan masukan secara lisan dan/atau
tertulis dalam pembentukan Perdais.30Kemudian, bentuk dari partisiapsi di dalam
Perda Nomor 1 Tahun 2013 dapat dilakukan secara lisan dan/atau tertulis.
Sementara cara yang dapat dilakukan melalui: a. forum rembug; b. dengar
pendapat; c. kunjungan kerja; d. seminar; e. lokakarya; f. diskusi terarah; g. situs
internet; h. media cetak; dan/atau i. media elektronik.31 Adapun yang dimaksud
masyarakat yang dapat teribat dalam proses pembentukan perdais, merupakan
perseorangan, organisasi kemasyarakatan dan/atau badan usaha yang mempunyai
kepentingan atas substansi rancangan Perdais. 32 Adanya partisipasi tersebut,
sebagaimana diuraikan oleh Budiardjo bahwa partisipasi politik adalah kegiatan
seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan
politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan Negara dan, secara langsung
atau tidak langsung, memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy).33
Partisipasi politik masyarakat sebagaiman diatur di dalam Perda Nomor 1
Tahun 2013, dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk aktualisasi dari proses
29
Pasal 9 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa.
30
Pasal 50 ayat (1) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa.
31
Pasal 50 ayat (2) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa.
32
Pasal 50 ayat (3) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa.
33
Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009,
hlm. 31.
demokratisasi. keberadaannya menjadi sangat penting bagi masyarakat dalam
proses pembangunan politik di DIY secara khusus dan secara umum bagi negaranegara berkembang seperti Indonesia, karena di dalamnya ada hak dan kewajiban
masyarakat yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara langsung. Sistem ini
membuka ruang dan membawa masyarkat untuk terlibat langsung dalam proses
tersebut. Adanya partisipasi juga merupakan sebagai pelaksanaan nilai demokrasi,
karena dalam negara demokrasi semua bersumber pada rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat.
4.2.2.9.
Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor
1 Tahun 2013 tentang Keweangan Dalam Urusan Keistimewaan Daerah
Istimewa Yogyakarta
Sebagai bentuk pelaksanaan atas amanah 7 ayat (4) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, ruang
lingkup pengaturan Perdais Nomor 1 Tahun 2013 juga memasukan aspek tata
ruang sebagai Urusan Keistimewaan. 34 Sebagaimana telah diuraikan di atas,
bahwa peraturan zonasi merupakan bagian integral dari tata ruang dan Kadipaten
Pakualaman merupakan bagian dari keistimewaan, maka penyusunan Raperda
tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Puro Pakualamaan dan
sekitarnya memiliki payung hukum kuat. Namun pengaturan tersebut harus
didasarkan pada paradigma tujuan untuk:
a. mewujudkan pemerintahan yang demokratis;
b. mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat;
c. mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin kebhinneka-tunggal-ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
d. menciptakan pemerintahan yang baik; dan
e. melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam
menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan
warisan budaya bangsa.35
34
Selebihnya lihat Pasal 4 Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1
Tahun 2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
35
Pasal 3 ayat (1) Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun
2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mengingat penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar
Budaya Puro Pakualamaan dan sekitarnya, berkaitan erat dengan pelindungan,
pengembangan, dan pemanfaatan kawasan cagar budaya Puro Pakalaman dan sekitarnya,
maka semangat tersebut sejalan dengan ketentuan Pasal 34 36 dan Pasal 35 ayat (1) 37
Perdais Nomor 1 Tahun 2013.
Pada konteks itu, dapat ditegaskan kembali bahwa
penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Puro
Pakualamaan dan sekitarnya merupakan perintah yang wajib dilakasanakan.
Kemudian dari aspek tata ruang, maka penyusunan peratruan zonasi tersebut
harus berpegang pada filosofi: a. harmoni, kelestarian lingkungan, sosial ekonomi
(hamemayu hayuning bawana); b. spiritual-transenden (sangkan paraning dumadi); c.
humanisme, asas kepemimpinan demokratis (manunggaling kawula lan Gusti); d.
kebersamaan (tahta untuk rakyat); e. harmonisasi lingkungan (sumbu imajiner Laut
Selatan-Kraton-Gunung Merapi); f. ketaatan historis (sumbu filosofis Tugu-KratonPanggung Krapyak); g. filosofi inti kota (catur gatra tunggal); dan h. delineasi spasial
Perkotaan Yogyakarta ditandai dengan keberadaan masjid pathok negara. 38 Dengan
diadopsinya fislosfi tesebut, maka peraturan zonasi diharapkan dapat bermuara pada
penataan ruang yang beorientasi untuk menguatkan, mengembalikan, memperbaiki, dan
mengembangkan kawasan cagar budaya puro Pakalaman dan sekitarnya pada tempat
idealnya.39
4.2.2.10.
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6
Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya
Pelestarian dan pengelolaan benda cagar budaya yang meliputi benda,
bangunan, struktur, situs, dan kawasan cagar budaya menuntut adanya tata kelola
36
Pasal 34 ayat (1) Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan dalam urusan Kebudayaan.
Ayat (2) Kewenangan dalam urusan Kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan
mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat
istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. Ayat (3) Dalam
menyelenggarakan kewenangan dalam urusan kebudayaan sebagaimana pada ayat (1) diwujudkan
melalui kebijakan pelindungan, pengembangan dan pemanfatan kebudayaan. Ayat (4) Penyelenggaraan
kewenangan dalam urusan Kebudayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pemerintah Daerah dapat
berkoordinasi dengan Kasultanan dan Kadipaten, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah
Desa/Kelurahan, dan masyarakat.
37
Pasal 35 ayat (1) Kebijakan penyelenggaraan Kewenangan Kebudayaan diselenggarakan
untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan hasil cipta, rasa, karsa dan karya berupa: a.
nilai-nilai; b. pengetahuan; c. norma; d. adat istiadat; e. benda; f. seni; dan g. tradisi luhur yang
mengakar dalam masyarakat DIY.
38
Lihat Pasal 53 Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun
2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
39
Kerangka demikian, dapat dilihat pada Pasal 57 ayat (2) Peraturan Daerah Istimewa Daerah
Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Keweangan dalam Urusan Keistimewaan Daerah
Istimewa Yogyakarta.
pengaturan yang baik. Berdasarkan hal tersebut, maka Peemrintah DIY
menetapkan Perda Nomor 6 Tahun 2012 sebagai pengganti atas Perda Nomor 11
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar
Budaya yang sudah tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian. Terdapat 73 Pasal
di dalam Perda tersebut, mulai dari Bab Ketentuan Umum hingga Bab Ketentuan
Penutup. Tujuan pengaturan Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya, di
dalam Perda tersebut adalah bertujuan untuk:
1. mengamankan aset kekayaan budaya yang mempunyai nilai penting di
Daerah;
2. memantapkan citra dan jati diri Daerah sebagai pusat kebudayaan;
3. meningkatkan ketahanan sosial budaya dengan landasan kearifan lokal;
4. memberi kontribusi bagi estetika dan keunikan tata fisik visual
Daerah;40
5. mengamankan komponen mata rantai kesinambungan budaya masa lalu
dengan masa kini dan memberi kontribusi bagi penentuan arah
Pengembangannya di masa mendatang; dan
6. mendayagunakan Warisan Budaya dan Cagar Budaya bagi kepentingan
agama, sosial-ekonomi, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan,
dan/atau kebudayaan.41
Sebagaimana termaktub di dalam Pasal 27 Perda Nomor 6 Tahun 2012,
dalam hal Pelestarian Benda Warisan Budaya dan Benda Cagar Budaya harus
mempertimbangkan bentuk dan sifat dan kondisi Benda Warisan Budaya dan
Benda Cagar Budaya. Hal itu mengartikan, dalam kaitannya melestarikan dan
melindungi Kawasan Malioboroharus mempertimbangkan secara sungguhsungguh bentuk dan sifat kondisi benda cagar budaya yang ada disekitar Puro
Pakualaman tersebut.pertimbangan lain yang juga penting untuk diperhatikan
adalah berkenaan dengan: a. peringkat dan golongan Bangunan Cagar Budaya; b.
keaslian bangunan (bentuk corak/tipe/langgam arsitektur, bahan, tata letak,
struktur, teknik pengerjaan); c. kondisi bangunan; dan d. kepemilikan dan
40
Pasal 2 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012
tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
41
Pasal 2 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun
2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
kesesuaian dengan lingkungan dan lokasi keberadaan bangunan, jenis, serta
jumlah.42
Sementara berkenaan dengan Pelestarian Kawasan Warisan Budaya dan
Kawasan Cagar Budaya, maka mempertimbangkan beberap hal sebagai berikut: a.
langgam arsitektur bernuansa budaya sebagai pembentuk citra kawasan; b. fasad
bangunan pada jalan utama; c. peruntukan kawasan; d. elemen/ unsur utama
pembentuk kawasan yang meliputi : 1. tata ruang; 2. jalan; 3. tata lingkungan; 4.
garis langit; 5. elemen jalan; 6. flora; dan 7. infrastruktur. e. penanda toponim
kampung; f. bangunan, struktur, dan situs Warisan Budaya dan situs Cagar
Budaya yang merupakan isi dari kawasan yang menjadi prioritas untuk
dilestarikan; g. delineasi dan zonasi kawasan; h. revitalisasi kawasan; dan i. ciri
asli lanskap budaya dan/atau Kawasan Warisan Budaya dan Kawasan Cagar
Budaya sebelum dilakukan adaptasi.43
Berkenaan dengan penyusunan Raperda tentang Peraturan Zonasi
Kawasan Malioboro, maka pengaturan yang erat kaitannya adalah berkenaan
dengan pengaturan perlindungan karena esensi dari raperda peraturan zonasi
adalah sebagai upaya untuk melakukan perlindungan.Di dalam Pasal 33 ayat (1)
Perda Nomor 6 Tahun 2012, perlindungan Warisan Budaya dan Cagar Budaya
bukan hanya menjadi tugas tunggal pemerintah melainkan juga bagi setiap orang
diminta peran serta aktif dalam melakukan perlindungan. Sebagai bentuk
konkretisasi atas bentuk perlindungan, maka dapat dilakukan dengan cara: a.
penyelamatan; b. pengamanan; c. penetapan Zonasi; d. pemeliharaan; dan e.
pemugaran. Berdasarkan hal tersebut, apabila penetapan zonasi dilakukan maka
bisa menjadi bentuk nyata pemerintah dalam melakukan perlindungan terhadap
Warisan Budaya dan Cagar Budaya.Atas hal itu pula, penyusunan Raperda
tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro memiliki korelasi yuridis dengan
Perda Nomor 6 Tahun 2012 tersebut.
Penetapan Zonasi dapat dilakukan dengan menetapkan batas-batas luasan
dan Pemanfaatan ruang, berdasarkan hasil kajian dan kesepakatan bersama antara
Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat yang memiliki
42
Pasal 28 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012
tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
43
Pasal 3128 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012
tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
atau menguasai Cagar Budaya.44 Adapun Zonasi terdiri atas : a. zona inti; b. zona
penyangga; c. zona Pengembangan; dan/atau d. zona penunjang. 45Dari jenis zona
tersebut kemudian dikategorikan menjaid dua yaitu kategori intensif dan
ekstensif.Kategori intensif diarahkan bagi Pelestarian isi situs atau kawasan secara
ketat dari sisi keaslian dengan tingkat perubahan yang sangat terbatas. Sementara,
kategori ekstensif diarahkan bagi Pelestarian isi situs atau kawasan dengan cara
lebih longgar yang disesuaikan dengan keselarasan dan kesesuaian terhadap
kategori intensif.46
Berdasarkan hal di atas, maka hubungan terhadap penyusunan Raperda
tentang Peraturan Zonasi tentang Kawasan Malioboro dapat diartikan: pertama,
bahwa penyusunan tersebut memiliki dasar yuridis seperti yang diamanatkan oleh
Perda Perda Nomor 6 Tahun 2012 tersebut. Kedua, adanya aturan yang mengatur
tentang peraturan zonasi kawasan cagar budaya Puro Pakulaman dan sekitarnya
diharapkan akan dapat menguatkan DIY sebagai entitas atau tata pemerintahan
berbasis kultural, sekaligus identitas lokal berupa nilai religi, nilai spiritual, nilai
filosofis, nilai estetika, nilai perjuangan, nilai kesejarahan, dan nilai budaya yang
menggambarkan segi keistimewaan Yogyakarta.
4.2.2.11.
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4
Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta
Salah satu tujuan dibentuknya Perda Nomor 4 Tahun 2011, adalah sebagai
acuan pembentukan produk hukum daerah.Atas hal itu, maka dalampembentukan
Raperda tentang Peraturan Zonasi Kawasan Malioboro harus tunduk pula terhadap
tata nilai budaya Yogyakarta. Adapaun tata nilai yang dimaksud meliputi: 47 a. tata
nilai religio-spriritual; b. tata nilai moral; c. tata nilai kemasyarakatan; d. tata nilai
adat dan tradisi; e. tata nilai pendidikan dan pengetahuan; f. tata nilai teknologi; g.
tata nilai penataan ruang dan arsitektur; h. tata nilai mata pencaharian; i. tata nilai
kesenian; j. tata nilai bahasa; k. tata nilai benda cagar budaya dan kawasan cagar
44
Pasal 37 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun
2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
45
Pasal 37 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun
2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
46
Lihat ketentuan Pasal 38 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6
Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
47
Pasal 4 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2011
tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta
budaya; l. tata nilai kepemimpinan dan pemerintahan; m. tata nilai kejuangan dan
kebangsaan; dan n. tata nilai semangat keyogyakartaan.
Agar tata nilai seperti di atas dapat terus lestari, maka diharapkan bukan
hanya Pemerintah DIY yang harus melakukan pelestarian tetapi masyarakat juga
diminta turut menjaga dan mempraktikan tata nilai tersebut. Adanya dua aktor
yang berperan, maka keberadaan tata nilai Yogyakarta akan senantiasa lestari dan
dapat terus menjadi citra baik Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Sinergisitas
tersebut, tidak lain karena adanya keniscayaan pemikiran sebagai berikut:
pertama, manusia pada hakikatnya bukan hanya produk kebudayaan, tetapi juga
pencipta kebudayaan yang dapat merancang suatu strategi kebudayaan bagi masa
depannya, menuju kehidupan bersama yang lebih berkeadaban. Kedua, proses
globalisasi dapat mengakibatkan pergeseran tata nilai budaya, tidak terkecuali
Tata Nilai Budaya Yogyakarta sehingga perlu pelestarian dan pengembangan agar
tidak tergerus oleh globalisasi.
4.2.2.12.
Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun
2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2009 – 2029
Peraturan daerah ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan ruang. Peraturan Daerah DIY Nomor 2 tahun 2010
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah menetapkan tujuan penataan ruang daerah
sebagaimana dituangkan dalam Pasal 4 ayat 1, yaitu bertujuan:
a. terselenggaranya pemanfaatan ruang yang berlandaskan Wawasan
Nusantara dan Ketahanan Nasional;
b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang Kawasan Lindung dan
Kawasan Budidaya;
c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk mewujudkan
kehidupan bangsa yang cerdas dan sejahtera secara berkelanjutan;
d. mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mengurangi dampak
negatif terhadap lingkungan;
e. meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan
secara berdayaguna, berhasil guna dan tepat guna;
f. mencegah benturan kepentingan dalam penggunaan sumberdaya;
g. meningkatkan kondisi alam dan prasarana untuk mengembangkan
pariwisata; dan
h. meningkatkan prasarana dan sarana untuk mengembangkan pendidikan
dan kebudayaan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sasaran penataan ruang daerah meliputi:
a. menetapkan aturan dan memberikan arahan pengelolaan kawasan
lindung dan kawasan budidaya, pengembangan sistem pemukiman,
sistem prasarana dan sarana wilayah, serta kawasan strategis;
b. menetapkan
aturan
dan
memberikan
arahan
kebijakan
yang
menyangkut tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, tata guna
laut dan tata guna sumber daya alam lainnya serta kebijakan penunjang
penataan ruang yang direncanakan; dan
c. menetapkan aturan dan memberikan arahan pemanfaatan ruang untuk
mendukung pengutamaan kegiatan pendidikan, kebudayaan dan
pariwisata.48
Pasal 6 Peraturan Daerah DIY Nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah menetapkan bahwa RTRWP DIY mempunyai fungsi sebagai:
a. dasar pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang daerah;
b. pengaruh upaya mewujudkan keterkaitan, keserasian dan keseimbangan
perkembangan antar sektor dan antar wilayah di daerah;
c. aturan dan arahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah,
swasta, dan masyarakat; dan
d. pedoman penataan ruang Kawasan Strategis Provinsi.
Berkaitan dengan kawasan cagar budaya Puro Pakualaman, dalam perda
ini menetapkan bahwa Puro Pakualaman sebagai Kawasan Strategis Provinsi
dengan tipologi Pelestarian Sosial Budaya.Puro Pakualaman merupakan salah satu
kawasan strategis yang mempunyai nilai keistimewaan.
48
Pasal 4 ayat 2 Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2010 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah
4.2.2.13.
Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 23 Tahun 2016 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 2 Tahun
2015 Tentang Penyelenggaraan Reklame
Peraturan ini terkait penyelenggaraan reklame di Daerah Kota Yogyakarta tentang
pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2015 sebagaimana
dituangkan pada :
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Izin Penyelenggaraan
Reklame yang selanjutnya disebut Izin adalah Izin Penyelenggaraan Reklame
dari Dinas Perizinan atau Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan atau
Kecamatan Kota Yogyakarta; 2. Reklame papan/billboard adalah reklame yang
berbentuk bidang datar atau lengkung, berisi gambar dan/atau tulisan statis,
dengan bahan terbuat dari kayu, logam, fiber glas/kaca, plastik dan bahan lain
yang sejenis sesuai perkembangan zaman, baik menggunakan lampu atau tidak
menggunakan lampu, yang pemasangannya berdiri sendiri, atau menempel
bangunan, dengan konstruksi tetap dan bersifat permanen, termasuk
didalamnya adalah wall dynamic, trivision dan running text. 3. Reklame
videotron/megatron adalah reklame yang berbentuk bidang datar atau
lengkung, berisi gambar dan/atau tulisan bergerak/hidup/visual baik dengan
atau tanpa audio, dengan konstruksi layar berupa LCD, LED dan sejenisnya yang
pemasangannya berdiri sendiri, atau menempel bangunan, dengan konstruksi
tetap dan bersifat permanen. 4. Reklame kain adalah reklame yang berbentuk
spanduk, umbul-umbul dan bendera dengan bahan kain. 5. Reklame
vynil/plastik adalah reklame yang berbentuk spanduk, rontek, dengan bahan
vynil/plastik dan yang sejenisnya yang pemasangannya berdiri sendiri, atau
menempel bangunan dengan konstruksi sementara dan bersifat semi permanen.
6. Reklame melekat/stiker adalah reklame yang berbentuk bidang datar atau
lengkung, dengan bahan kertas, plastik/vynil, logam yang pemasangannya
dengan cara ditempelkan pada bangunan menggunakan lem dan bersifat semi
permanen. 7. Reklame selebaran adalah reklame yang berbentuk lembaran
dengan bahan kertas, plastik/vinyl dan sejenisnya yang pemasangannya dengan
cara disebarluaskan/ dibagikan secara langsung kepada orang dan bersifat tidak
permanen. 8. Reklame berjalan, termasuk pada kendaraan adalah reklame yang
berbentuk bidang datar dan/atau lengkung dengan bahan terbuat dari kayu,
logam, fiber glas/kaca, plastik dan bahan lain sejenis sesuai perkembangan
zaman, yang pemasangannya pada kendaraan yang berjalan atau pejalan kaki
dan bersifat berpindah-pindah tempat. 9. Reklame udara adalah reklame yang
melayang di udara, dengan bahan plastik, karet, kain, kertas dan sejenisnya
sesuai perkembangan zaman, yang pemasangannya berdiri sendiri, dikaitkan
pada bangunan atau pesawat udara dan bersifat semi permanen. 10. Reklame
apung adalah reklame yang mengapung di atas air dengan bahan terbuat dari
kayu, logam, fiber glas/kaca, plastik dan bahan lain sejenisnya sesuai
perkembangan zaman. 11. Reklame suara adalah reklame yang berbentuk
penyiaran atau ucapan, dengan alat audio elektronik, yang bersifat semi
permanen. 12. Reklame peragaan adalah reklame yang berbentuk pertunjukan,
dengan bahan tertentu, yang penyelenggaraannya dengan dibawa, diperagakan,
atau dikenakan dan bersifat semi permanen. 13. Reklame cahaya/film/slide
adalah reklame yang berbentuk penayangan pada bidang datar atau lengkung,
berisi gambar dan atau tulisan statis/dinamis dengan atau tanpa audio yang
dipancarkan oleh proyektor yang bersifat semi permanen atau permanen. Antara
lain : rear screen, beamvertising, virtual dan sejenisnya. 14. Proporsi informasi
publik dan reklame produk adalah perbandingan luas bidang reklame
papan/billboard atau durasi tayang videotron/megatron untuk informasi publik
dengan
luas
bidang
reklame
papan/billboard
atau
durasi
tayang
videotron/megatron untuk produk dalam satu bidang reklame yang sama; 15.
Ornamen/desain
reklame
yang
berciri
khas
Kota
Yogyakarta
adalah
ornamen/desain yang melekat dan menyatu dengan konstruksi, bidang dan/atau
isi reklame yang sesuai dengan standarisasi reklame yang berciri khas Kota
Yogyakarta; 16. Façade adalah suatu sisi luar (eksterior) sebuah bangunan baik
sisi depan, samping atau belakang bangunan yang dapat dilihat oleh umum; 17.
Ruang manfaat jalan adalah ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar,
tinggi dan kedalaman tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara jalan dan
digunakan untuk badan jalan, saluran tepi jalan, dan ambang pengamannya; 18.
Ruang Milik Jalan yang selanjutnya disebut Rumija adalah ruang manfaat jalan
dan sejalur tanah tertentu di luar manfaat jalan yang diperuntukkan bagi ruang
manfaat jalan, pelebaran jalan, penambahan jalur lalu lintas di masa datang serta
kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan dan dibatasi oleh lebar, kedalaman
dan tinggi tertentu; 19. Zona adalah pembagian atau pemecahan wilayah
menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu Khusus, Kendali Ketat dan Kendali Sedang, sesuai
dengan fungsi dan tujuan pengelolaan reklame di Kota Yogyakarta; 20. Satuan
Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah Satuan Kerja
Perangkat Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta; 21. Dinas Perizinan adalah
Dinas Perizinan Kota Yogyakarta; 22. Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan
Keuangan yang selanjutnya disebut DPDPK adalah Dinas Pajak Daerah dan
Pengelolaan Keuangan Kota Yogyakarta; 23. Dinas Ketertiban adalah Dinas
Ketertiban Kota Yogyakarta; 24. Kecamatan adalah Kecamatan Kota Yogyakarta.
BAB II PENEMPATAN REKLAME
Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Penempatan reklame dapat dilakukan pada
: a. tanah persil orang pribadi atau badan usaha yang meliputi : 1. menempel di
bangunan gedung bagian depan dan/atau samping; 2. di halaman; 3. di atas
bangunan gedung; atau 4. di dalam bangunan gedung. b. tanah persil Pemerintah
dan/atau Fasilitas umum yang meliputi : 1. tiang penerangan jalan umum; 2.
halte bus; 3. jembatan penyeberangan; 4. pasar/terminal/taman pintar/tempat
khusus parkir; 5. gapura; 6. tugu jam; 7. pos polisi; 8. penunjuk peta kota; atau 9.
instansi pemerintah. (2) Penempatan reklame produk rokok dilarang : a. di
kawasan tanpa rokok; b. diletakkan di jalan utama atau protokol; c. melintang
atau memotong jalan; dan d. melebihi ukuran 72 m2 (tujuh puluh dua meter
persegi) untuk jenis reklame cahaya/film/slide. (3) Penempatan reklame di area
sekolah, di luar area sekolah dan di area tempat ibadah dengan jarak 75 (tujuh
puluh lima) meter dari bangunan terluar dilarang adanya reklame produk rokok,
alat kontrasepsi dan/atau minuman beralkohol.
Bagian
Kedua
Penempatan
Reklame
Papan/Billboard
dan
Videotron/Megatron pada Tanah Persil Orang Pribadi atau Badan Usaha Pasal 3
(1) Khusus reklame yang menempel pada bangunan, paling besar 40% (empat
puluh persen) dari keluasan façade. (2) Bangunan cagar budaya dilarang
digunakan sebagai media reklame, kecuali reklame nama usaha/profesi jenis
papan/billboard atau videotron dengan ketentuan paling besar 10% (sepuluh
persen) dari keluasan façade dan ketinggian bidang paling tinggi 1,5 (satu koma
lima) meter dan/atau jenis reklame cahaya.
Pasal 4 Reklame di halaman harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. peletakan reklame menggunakan struktur/tiang penyangga; b. material
berupa plat besi dengan konstruksi pipa/frame baja; c. langgam sesuai dengan
konsep
masing-masing
toko/bangunan
diselaraskan
dengan
Nilai-nilai
keistimewaan Yogyakarta.
Pasal 5 (1) Bidang reklame dengan tiang penyangga, dapat menjorok di atas
trotoar dan/atau taman dengan batas maksimal sampai sisi terdalam trotoar
dan/atau taman. (2) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) reklame ukuran kecil.
(3) Ketinggian bidang reklame terbawah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
minimal 3 (tiga) meter dari trotoar.
Pasal 6 Reklame di atas gedung dapat diselenggarakan dengan ketentuan : a.
di luar zona khusus; b. di luar Bangunan Cagar Budaya; c. naskah reklame
merupakan nama usaha yang berada pada gedung tempat diselenggarakannya
usaha bersangkutan; dan d. penempatan bidang reklame tidak melampaui façade
bangunan.
Pasal 7 Reklame di dalam bangunan gedung diselenggarakan dengan
memperhatikan aspek estetika, etika dan keamanan.
Bagian
Ketiga
Penempatan
reklame
Papan/Billboard
dan
Videotron/Megatron pada Tanah Persil Pemerintah dan/atau Fasilitas Umum
Pasal 8 (1) Reklame dilarang diselenggarakan: a. pada trotoar; b. pada
devider/median jalan; c. pada taman jalur hijau; d. pada taman kota kecuali
reklame insidentil; e. pada pergola; f. pada sekolah kecuali reklame insidentil; g.
pada jembatan kecuali jembatan penyeberangan orang; h. dalam bentuk wall
painting; i. berupa portal atau jenis konstruksi lainnya yang memotong badan
jalan, yang khusus dimaksudkan untuk penyelenggaraan reklame; j. dalam
bentuk kain kecuali jenis reklame spanduk, umbul-umbul dan bendera; k. dalam
bentuk reklame besar jenis papan/billboard front light; dan l. menempel pada
pohon, tiang listrik, tiang telepon dan rambu lalu-lintas. (2) Reklame yang
menggunakan portal atau jenis konstruksi lainnya yang memotong badan jalan
sebagaiamana dimaksud pada huruf i ayat (1) dapat diselenggarakan apabila
menyatu dengan fasilitas umum berupa Jembatan Penyeberangan Orang yang
sudah ada. (3) Tanah persil Pemerintah dan/atau Fasilitas umum yang meliputi :
a. tiang penerangan jalan umum, dengan ketentuan : 1. jenis reklame
papan/billboard menggunakan lampu back light; 2. posisi vertical, dengan
ukuran bidang maksimal 1 x 2 meter, disesuaikan dengan kekuatan teknis tiang;
dan 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame. b. halte bus,
dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu
backlight, videotron dan atau melekat/stiker; 2. akumulasi luas bidang reklame
maksimal 40% (empat puluh persen) dari luas façade; 3. posisi terhadap jalan
membujur/searah jalan; 4. menempel bangunan halte; dan 5. menggunakan daya
listrik milik penyelenggara reklame. c. jembatan penyeberangan orang (JPO),
dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu
backlight atau videotron; 2. lebar bidang reklame maksimal 4 (empat) meter dan
panjang
menyesuaikan
bangunan
Jembatan
Penyeberangan
Orang;
3.
menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame; 4. reklame selain
produk
rokok/alat
kontrasepsi/minuman
keras;
d.
kawasan
pasar/terminal/taman pintar/tempat khusus parkir, dengan ketentuan teknis
reklame mengikuti rekomendasi Kepala SKPD yang mengelola kawasan tersebut;
e. gapura, dengan ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan
lampu backlight atau videotron; 2. ukuran menyesuaikan gapura, dengan lebar
bidang reklame maksimal 4 (empat) meter dan panjang maksimal 8 (delapan)
meter; 3. menggunakan daya listrik milik penyelenggara reklame; 4. reklame
selain produk rokok/alat kontrasepsi/minuman keras; f. tugu jam, dengan
ketentuan : 1. jenis reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight; 2.
ukuran bidang reklame menyesuaikan tugu jam; 3. menggunakan daya listrik
milik penyelenggara reklame; g. pos polisi, dengan ketentuan : 1. jenis reklame
papan/billboard menggunakan lampu backlight atau videotron; 2. ukuran
menyesuaikan Pos Polisi, dengan lebar bidang reklame maksimal 4 (empat)
meter dan panjang maksimal 6 (enam) meter; 3. menggunakan daya listrik milik
penyelenggara reklame; h. penunjuk peta kota, dengan ketentuan : 1. jenis
reklame papan/billboard menggunakan lampu backlight; 2. ukuran bidang
reklame menyesuaikan peta kota; 3. menggunakan daya listrik milik
penyelenggara reklame.
Pasal 9 (1) Reklame wajib ditempatkan di luar bahu jalan atau trotoar
dengan jarak paling rendah 1 (satu) meter dari tepi paling luar bahu jalan atau
trotoar. (2) Dalam hal tidak terdapat ruang di luar bahu jalan, trotoar, atau jalur
lalu lintas, reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditempatkan di
sisi terluar ruang milik jalan. (3) Penempatan reklame di sisi terluar ruang milik
jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut : a. tidak mengganggu akses penyandang disabilitas; b. tidak mengganggu
fungsi utilitas umum; dan c. mendapatkan rekomendasi teknis dari SKPD yang
berwenang di bidang jalan.
Pasal 10 (1) Penyelenggaraan reklame papan petunjuk arah wajib
menggunakan papan petunjuk arah bersama. (2) Papan petunjuk arah bersama
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan desain konstruksi
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.
Pasal 11 Reklame dapat diselenggarakan dalam bentuk instalasi seni untuk
menunjang predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya.
Pasal 12 Pemerintah menyediakan konstruksi billboard yang dapat
digunakan untuk masa izin paling lama 1 (satu) bulan, dengan prioritas izin
diberikan kepada lembaga pendidikan di Kota Yogyakarta.
Pasal 13 Pemasangan alat peraga peserta Pemilu pada masa kampanye diatur
tersendiri sesuai ketentuan berlaku.
Bagian
Keempat
Penempatan
Reklame
Papan/Billboard
dan
Videotron/Megatron ukuran Besar dan Sedang Pasal 14 (1) Penempatan
reklame besar atau sedang pada setiap sudut simpang jalan ditentukan paling
banyak diselenggarakan 1 (satu) titik reklame. (2) Penentuan lokasi penempatan
reklame pada setiap sudut simpang jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditentukan titik reklame yang paling mendekati titik sudut simpang berdasarkan
skala prioritas sebagai berikut : a. prioritas pertama pada façade bangunan; b.
prioritas kedua di halaman persil orang; dan c. alternatif terakhir di tanah persil
Pemerintah dan/atau fasilitas umum. (3) Titik sudut simpang sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditentukan dengan cara perhitungan teknis. (4) Jarak
antar titik reklame besar atau sedang yang menggunakan tiang dalam satu ruas
jalan yang sama di luar ketentuan ayat (1) minimal 50 (lima puluh) meter. (5)
Penentuan lokasi penempatan reklame wajib mempertimbangkan aspek-aspek :
a. keamanan dan keselamatan; b. keindahan/estetika; c. etika; dan d.
infrastruktur atau utilitas yang ada. (6) Penentuan titik awal jarak reklame besar
atau sedang diambil dari reklame besar atau sedang pada sudut simpang jalan.
(7) Dalam hal tidak ada titik reklame besar atau sedang pada sudut simpang
jalan maka jarak reklame besar atau sedang mengambil dari titik sudut simpang
jalan. (8) Khusus reklame di kanan kiri sungai maka penempatan titik reklame
besar terdekat dengan sungai mengikuti garis sempadan sungai dengan jarak
minimal 3 (tiga) meter dari tepi terluar sungai bertalud. (9) Penentuan titik
reklame besar atau sedang di tanah persil orang dan ruang milik jalan pada
sudut simpang jalan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini..
Bagian Kelima Penempatan Reklame kain, vinyl/plastic, melekat/stiker,
selebaran, berjalan termasuk pada kendaraan, udara, apung, suara, peragaan,
dan cahaya/film/slide Pasal 15 (1) Reklame kain dapat diselenggarakan dalam
bentuk spanduk, umbul-umbul, dan bendera. (2) Reklame kain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dengan ketentuan ukuran maksimal : a. spanduk 8 meter
X 1 meter; b. umbul-umbul 1 meter X 5 meter; c. bendera 3 meter X 2 meter. (3)
Reklame vinyl/plastik dapat diselenggarakan dalam bentuk spanduk, umbulumbul, dan rontek/vertical banner. (4) Reklame spanduk ditempatkan pada : a.
tempat khusus pemasangan spanduk di halaman persil orang pribadi atau badan
usaha. b. tempat pemasangan spanduk yang disediakan Pemerintah/Pemerintah
Daerah. (5) Reklame umbul-umbul dan rontek/vertical banner dapat
ditempatkan pada tanah persil orang pribadi atau badan usaha atau
Pemerintah/Pemerintah Daerah, dengan ketentuan : a. berdiri menggunakan
tiang sendiri; b. penempatan reklame pada tanah persil pemerintah di sisi
terluar ruang milik jalan; c. dilarang menempel pada pohon, tiang listrik, tiang
telepon dan rambu lalu-lintas; d. dilarang dipasang di taman. (6) Reklame
bendera dapat ditempatkan pada pada tanah persil orang pribadi atau badan
usaha
dengan
ketentuan
berdiri
menggunakan
tiang
sendiri.
(7)
Penyelenggaraan reklame jenis kain/vinyl/plastik dilarang ditempatkan di ruang
milik jalan pada ruas Jalan Laksda. Adi Sucipto, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan
Jenderal Sudirman, Jalan Margo Mulyo, Jalan Malioboro dan Jalan Margo Utomo.
(8) Reklame melekat/stiker ditempatkan pada : a. façade bangunan dan tempat
khusus pemasangan reklame melekat/stiker di tanah persil orang pribadi atau
badan usaha; b. tempat pemasangan reklame melekat/stiker yang disediakan
Pemerintah/ Pemerintah Daerah. (9) Reklame selebaran dilarang dibagikan di
jalan umum. (10) Reklame berjalan ditempatkan pada kendaraan tidak bermotor
maupun bermotor, diantaranya sepeda, becak, andong, mobil, bus dan
sejenisnya. (11) Reklame udara ditempatkan pada tanah persil milik orang
dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah dengan ketentuan tinggi maksimal 30
(tiga puluh) meter dari permukaan tanah. (12) Reklame apung ditempatkan
pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah
menggunakan media apung air. (13) Reklame suara ditempatkan pada tanah
persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah. (14)
Reklame peragaan ditempatkan pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau
Pemerintah/Pemerintah Daerah. (15) Reklame cahaya/film/slide ditempatkan
pada tanah persil milik orang pribadi dan/atau Pemerintah/Pemerintah Daerah
baik dalam ruang maupun luar ruang dengan ketentuan : a. maksimal luas
bidang reklame mengikuti luas bidang tangkapan cahaya/film/slide; b.
instrument
penghasil
cahaya/film/slide
dapat
ditempatkan
secara
diam/immobile maupun bergerak/mobile; c. bidang tangkapan cahaya/fim/slide
pada bangunan, termasuk bangunan cagar budaya; dan d. bidang tangkapan
cahaya/film/slide reklame produk rokok dilarang melebihi ukuran 72 m2 (tujuh
puluh dua meter persegi). Pasal 16 Reklame insidentil dalam rangka
penyelenggaraan kalender event pada zona khusus hanya diperbolehkan di
wilayah alun-alun utara, alun-alun selatan dan alun-alun sewandanan
pakualaman.
BAB III NILAI – NILAI KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA
Pasal 17 (1) Nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta divisualisasikan dalam
bentuk ornamen, desain atau naskah reklame. (2) Bentuk ornamen, desain atau
naskah reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum
dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Walikota ini.. (3) Reklame besar dan/atau sedang menggunakan tiang dan
berada pada Zona Khusus dan Zona Kendali Ketat wajib menggunakan ornamen,
desain dan naskah sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
BAB IV ZONA
Pasal 18 (1) Penyelenggaraan reklame di Daerah dibagi menjadi 3 (tiga)
zona, yaitu : a. zona khusus adalah zona yang bebas dari penyelenggaraan
reklame kecuali untuk jenis reklame papan nama usaha/profesi yang melekat di
bangunan dengan ketentuan : 1. muka depan bangunan dengan jenis reklame
papan/billboard ukuran tinggi bidang reklame 1,5 (satu koma lima) meter dan
panjang bidang reklame menyesuaikan bangunan untuk masing – masing lantai;
2. muka samping kanan dan/atau kiri bangunan dengan ukuran tinggi bidang
reklame 2,5 (dua koma lima) meter dan panjang bidang reklame menyesuaikan
bangunan untuk masing – masing lantai; 3. reklame jenis cahaya ukuran dan
bentuk
disesuaikan
dengan
façade
bangunan;
dan
4.
reklame
jenis
videotron/megatron menempel di façade bangunan selain Bangunan Cagar
Budaya dengan ukuran paling besar 40% (empat puluh persen) dari keluasan
façade bangunan; b. zona kendali ketat adalah zona yang diperbolehkan untuk
penyelenggaraan reklame yang diselaraskan dengan status kawasan cagar
budaya; dan c. zona kendali sedang adalah zona selain zona khusus dan zona
kendali ketat. (2) Zona Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a.
area Tugu, termasuk jalan Diponegoro, jalan AM. Sangaji, dan jalan Jenderal
Sudirman dengan radius 50 (lima puluh) meter dari Tugu Pal Putih; b. jalan
Margo Utomo, termasuk jalan Gowongan Lor, jalan Gowongan Kidul, jalan
Wongsodirjan dan jalan Kleringan dengan radius 50 (lima puluh) meter dari
sudut simpang jalan Margo Utomo; c. jalan Malioboro, termasuk jalan Pasar
Kembang, jalan Abu Bakar Ali, jalan Sosrowijayan, jalan Perwakilan, jalan Dagen
dan jalan Gandekan dengan radius 50 (lima puluh) meter dari sudut simpang
jalan Malioboro; d. jalan Margo Mulyo, termasuk jalan Pajeksan, jalan
Suryatmajan, jalan Reksobayan dan jalan Pabringan dengan radius 50 (lima
puluh) meter dari sudut simpang jalan Margo Mulyo; e. area 0 (nol) kilometer,
termasuk jalan KH. Ahmad Dahlan dan jalan P. Senopati dengan radius 50 (lima
puluh) meter dari tengah simpang; f. jalan Pangurakan; g. alun-alun utara; h.
alun-alun selatan; i. alun-alun Sewandanan Pakualaman; j. bangunan Plengkung
Gading dan Plengkung Wijilan; dan k. area pojok beteng. (3) Zona kendali ketat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi kawasan cagar budaya
Kraton, Pakualaman, Kotagede, Kotabaru dan Malioboro, dengan rincian ruas
jalan sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Walikota ini. (4) Bentuk reklame berdasarkan posisi
terhadap jalan pada kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
harus membujur/searah jalan, kecuali reklame besar dan/atau sedang dapat
menempatkan bidang reklame pada posisi serong yang berada pada sudut
simpang jalan. (5) Zona kendali sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c meliputi kawasan di luar Zona Khusus dan Zona Kendali Ketat.
Pasal 19 Bentuk reklame berdasarkan posisi terhadap jalan pada kawasan
inti dan penyangga kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
Pasal 18 harus membujur/searah jalan, dan isi reklame komersial nama
usaha/profesi, kecuali reklame besar dan/atau sedang dapat menempatkan
bidang reklame produk pada posisi serong yang berada pada sudut simpang
jalan.
BAB V KERJASAMA
Pasal 20 (1) Dalam rangka pelayanan informasi publik dan reklame produk
ditentukan titik reklame yang disediakan oleh pemerintah atau kerjasama
dengan pihak lain. (2) Untuk reklame jenis videotron/megatron proporsi
informasi publik dalam rangka kerjasama pemerintah dengan pihak lain
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30% (tiga puluh persen) dari
seluruh durasi tayang videotron.
BAB VI PERIZINAN
Pasal 21 (1) Setiap penyelenggaraan reklame di Kota Yogyakarta, wajib
mendapatkan izin Walikota. (2) Kewenangan memberikan izin dilimpahkan
kepada Dinas Perizinan. (3) Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (1), reklame
papan nama usaha/profesi dengan ukuran ≤ 1 m2 (satu meter persegi) yang
penempatannya
melekat
pada
bangunan
tempat
usaha
atau
profesi
diselenggarakan, kewenangan izin dilimpahkan kepada Kecamatan. (4) Dalam
memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) dilaksanakan
dengan
mempertimbangkan
lingkungan
yang
berkaitan
dengan
aspek
keindahan, ketertiban, keamanan, kenyamanan, rasa kesusilaan, kesehatan
umum dan kepentingan Pembangunan Daerah. (5) Penyelenggara reklame wajib
memenuhi ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam surat izin. (6)
Penyelenggara Reklame yang sudah mendapatkan izin bertanggung jawab penuh
atas semua resiko yang ditimbulkan akibat penyelenggaraan reklame. (7)
Reklame dilarang mengandung muatan pornografi, pornoaksi dan/atau SARA.
(8) Dalam rangka sosialisasi dan mempersiapkan sarana prasarana di Dinas
Perizinan, maka kewenangan izin pada tahun 2016 dilimpahkan kepada DPDPK.
Pasal 22 Masa berlaku izin dibedakan menjadi : a. izin reklame insidentil
berlaku paling lama 1 (satu) bulan; b. izin reklame permanen berlaku paling
lama 1 (satu) tahun; dan c. izin reklame papan nama usaha/profesi yang
berukuran sampai dengan 1 m2 (satu meter persegi) yang peletakannya melekat
pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan berlaku paling lama 5
(lima) tahun.
Pasal 23 Izin perpanjangan reklame paling banyak diberikan sebanyak 2
(dua) kali perpanjangan.
BAB VII SYARAT DAN TATA CARA PENGAJUAN IZIN
Pasal 24 (1) Untuk mendapatkan Izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21,
pemohon izin harus mengisi dengan lengkap dan benar, serta menyampaikan
blangko permohonan izin yang telah disediakan kepada SKPD yang mendapat
limpahan wewenang izin dengan melampirkan syarat-syarat administratif dan
teknis. (2) Syarat administratif dan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
reklame papan/billboard dan videotron/megatron sebagai berikut : a.
permohonan baru : 1. foto copy Izin Mendirikan Bangunan; 2. surat kerelaan dari
pemilik tanah persil untuk menjadi lokasi reklame; 3. foto copy Akte Pendirian
Perusahaan apabila penyelenggara dalam bentuk badan/lembaga, kecuali alat
peraga; 4. foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP); 5. foto lokasi simulasi
pemasangan reklame; 6. gambar desain; 7. gambar potongan konstruksi reklame
terhadap taman kota/selokan/trotoar/ badan jalan; 8. surat pernyataan
bertanggung jawab menanggung segala resiko; 9. foto copy Izin Gangguan (HO)
apabila reklame nama usaha; 10. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak
dapat mengurus sendiri; dan 11. surat pernyataan tidak menyilaukan khusus
Reklame Videotron/Megatron. b. permohonan perpanjangan : 1. foto copy Kartu
Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku; 2. foto reklame terbaru; 3. fotocopy
izin penyelenggaraan reklame sebelumnya; 4. fotocopy bukti pembayaran pajak
reklame/surat keterangan lunas pajak; 5. surat kerelaan dari pemilik tanah
persil untuk menjadi lokasi reklame; 6. surat pernyataan reklame tidak ada
perubahan naskah, ukuran, jenis dan lokasi dan pernyataan bertanggung jawab
menanggung segala resiko; 7. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat
mengurus sendiri; 8. foto copy Bukti Setor Jaminan Bongkar; dan 9.
menunjukkan surat izin asli periode sebelumnya. (3) Syarat administratif dan
teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) reklame kain, vinyl/plastik,
melekat/stiker, selebaran, berjalan, termasuk pada kendaraan, udara, apung,
suara, peragaan, dan cahaya/film/slide sebagai berikut : a. permohonan baru: 1.
foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku; 2. gambar desain; 3.
gambar denah lokasi kecuali di tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah;
4. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah persil orang; dan 5. surat
kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy
surat perjanjian/kontrak. b. permohonan perpanjangan : 1. menunjukkan surat
izin asli periode sebelumnya; 2. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah
persil orang; dan 3. surat kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus
sendiri
atau
foto
copy
surat
perjanjian/kontrak.
(4)
Pemohon
izin
penyelenggaraan reklame dan alat peraga insidentil, mengisi blangko rangkap 2
(dua) yang telah disediakan dengan melampiri : a. permohonan baru : 1. foto
copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku; 2. gambar desain; 3.
gambar denah lokasi kecuali di tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah;
4. surat kerelaan pemilik tanah persil bila di tanah persil orang; dan 5. surat
kuasa dari pemohon izin apabila tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy
surat perjanjian/kontrak; b. permohonan perpanjangan melampirkan : 1.
menunjukkan surat izin asli periode sebelumnya; 2. surat kerelaan pemilik tanah
persil bila di tanah persil orang; dan 3. surat kuasa dari pemohon izin apabila
tidak dapat mengurus sendiri atau foto copy surat perjanjian/kontrak. (5) Untuk
jenis reklame papan/billboard/videotron/megatron dan sejenisnya serta
reklame kain dan vinyl/plastik dengan isi reklame komersial wajib memberikan
jaminan biaya pembongkaran. (6) Uang jaminan biaya pembongkaran reklame
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat diambil oleh penyelenggara reklame
dengan batas waktu sebagai berikut : a. reklame jenis billboard atau videotron
jatuh tempo 6 (enam) bulan sejak izin berakhir; b. reklame jenis
kain/vynil/plastik jatuh tempo 1 (satu) bulan sejak izin berakhir. (7) Apabila
setelah batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (6), penyelenggara
reklame tidak mengambil uang jaminan biaya pembongkaran, maka masa
pengambilan menjadi kadaluwarsa sehingga uang tersebut menjadi milik
Pemerintah Kota Yogyakarta dan masuk Kas Daerah. (8) Besaran jaminan biaya
pembongkaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sebagaimana tercantum
dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Walikota ini.. (9) Standar Operasional Prosedur (SOP) Penerbitan, Penyetoran
dan Pengambilan Uang Jaminan Biaya Bongkar Reklame sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini. (10) Persyaratan wajib
melampirkan foto copy Izin Mendirikan Bangunan sebagaimana dimaksud pada
ayat
(2)
huruf
a
angka
1
khusus
untuk
penyelenggaraan
reklame
papan/billboard dengan ukuran lebih dari atau sama dengan 8 m2 (delapan
meter persegi) dan videotron/megatron. (11) Bentuk dan tata naskah blangko
permohonan dan blangko Surat Izin Penyelenggaraan Reklame sebagaimana
tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Walikota ini.
Pasal 25 Khusus reklame pada bangunan cagar budaya dan kawasan cagar
budaya, wajib melampirkan rekomendasi dari SKPD yang membidangi
kebudayaan.
BAB VIII SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 26 (1) Kepala SKPD yang menerbitkan izin berwenang mencabut izin
yang telah ditetapkan apabila penyelenggara tidak memenuhi ketentuan izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dan (3), Pasal 8 ayat (1) dan (2),
Pasal 9, Pasal 14 ayat (1) dan (4), Pasal 15 ayat (7), Pasal 17, dan Pasal 21 ayat
(1), (3), (4), (5), (6) Peraturan Walikota ini. (2) Pencabutan izin sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didahului dengan 3 (tiga) kali Surat Peringatan dari
SKPD yang menerbitkan izin dan dapat disertai perintah untuk menghentikan
fungsi reklame. (3) Surat Peringatan Pertama mempunyai batasan waktu 7
(tujuh) hari kerja, terhitung sejak diterimanya surat peringatan tersebut oleh
penyelenggara. (4) Apabila Surat Peringatan Pertama sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) tidak diindahkan oleh penyelenggara maka diberi Surat Peringatan
Kedua dengan tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya surat
peringatan tersebut oleh penyelenggara. (5) Apabila Surat Peringatan Kedua
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak diindahkan oleh penyelenggara maka
diberi Surat Peringatan Ketiga dengan tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak
diterimanya surat peringatan tersebut oleh penyelenggara. (6) Apabila Surat
Peringatan Ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak diindahkan oleh
penyelenggara maka diterbitkan Surat Pencabutan Izin oleh SKPD penerbit izin
serta dilakukan penghentian fungsi reklame oleh SKPD yang mempunyai tugas
pokok dan fungsi di bidang penegakan peraturan daerah, dan jaminan biaya
pembongkaran tidak dapat diambil kembali. (7) Ketentuan pencabutan izin
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikecualikan bagi jenis reklame spanduk,
umbul-umbul, banner tegak/rontek, melekat/stiker, selebaran, peragaan, suara
dan cahaya/film/slide sehingga dapat langsung dilakukan penertiban oleh SKPD
yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang penegakan peraturan daerah.
(8) Dalam hal reklame tidak berizin maka dilakukan penghentian fungsi reklame
oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang penegakan
Peraturan
Daerah.
(9)
Khusus
reklame
jenis
papan/billboard/videotron/megatron, sebelum dilakukan penghentian fungsi
reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (8), dilakukan hal sebagai berikut : a.
dilakukan penutupan atau penonaktifan fungsi reklame; b. penyelenggara
reklame diberi waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk mengurus izin; c. apabila
setelah melewati waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sebagaimana dimaksud pada
huruf b, tetap tidak memiliki izin maka : 1. penyelenggara diberi waktu 7 (tujuh)
hari kerja untuk menghentikan fungsi reklame; 2. apabila setelah melewati
waktu 7 (tujuh) hari kerja belum dilakukan penghentian fungsi reklame maka
SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang penegakan Peraturan
Daerah melakukan penghentian fungsi reklame. (10) Dalam hal penghentian
fungsi reklame dilakukan oleh SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi
dibidang penegakan Peraturan Daerah maka dalam waktu 3 x 24 jam sejak
penghentian fungsi reklame, penyelenggara dapat mengambil bongkaran setelah
mengganti biaya yang telah dikeluarkan oleh SKPD yang mempunyai tugas
pokok dan fungsi dibidang penegakan Peraturan Daerah dan disetorkan ke Kas
Daerah. (11) Dalam hal bongkaran reklame tidak diambil maka hasil bongkaran
diserahkan kepada SKPD yang menangani aset daerah dengan Berita Acara
Penyerahan Hasil Bongkaran.
BAB IX PENGAWASAN
Pasal 27 (1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan reklame yang telah
memiliki izin masih berlaku dilakukan oleh SKPD yang mengeluarkan izin. (2)
Pengawasan terhadap penyelenggaraan reklame yang tidak memiliki izin atau
masa izin telah berakhir dilakukan oleh Dinas Ketertiban.
BAB X KETENTUAN PENUTUP
Pasal 28 Dengan berlakunya Peraturan Walikota ini maka Peraturan
Walikota Yogyakarta Nomor 26 Tahun 2010 tentang Masterplan Reklame dan
Alat Peraga di Kota Yogyakarta, Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 75 Tahun
2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah
Tingkat II Kota Yogyakarta Nomor 8 Tahun 1998 tentang Izin Penyelenggaraan
Reklame dan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 76 Tahun 2011 tentang Izin
Penyelenggaraan Alat Peraga Penyerupai Reklame yang Bertujuan Non
Komersial dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 29 Peraturan ini mulai
berlaku tanggal 18 Mei 2016. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Walikota ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Daerah Kota Yogyakarta.
Peraturan ini ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 18 Mei 2016 oleh Walikota
Yogyakarta, dan ditandatangani Haryadi Suyuti.
4.2.2. Sumber Penelitian
4.2.3.1. Seniman dan Budayawan
a. Hendra Priyadhani
Mengenai media luar ruang terutama baliho yang masih
serampangan di mana-mana, bagaimana tanggapan seniman,
tentang perbaikan media luar ruang, termasukinstalasi yang juga
masih serampangan. Bagaimana dengan seniman yang juga
punya idealisme bisa menjawab wacana tentang perbaikan media
luar ruang, terutama di malioboro yang dimana instalasi juga
menjadi icon kota seni budaya. Menurut Hendra Priyadhani
Senang diinterview seperti ini karena saya concern di isyu
lingkungan dan social, termasuk saya punya poryek taraequalita
(menyediakan akses untuk kelompok difabel) tapi sejauh ini klas
macan (angringan) punya banyak misi, yang menyediakan ruang
diskusi dan melibatkan diri pada event-event tertentu yang ada
kepeduliaannya terhadap public tapi orientasinya biasanya
ekonomi, misalnya bagaimana kaum difabel bisa mandiri akhinya
kami carikan cara media promo untuk mereka.
Untuk periklanan, teman-teman klas macan neteli spanduk yang
juga kami buat dokumentasinya, bahkan masyarakat sekitar juga
yang neteli sendiri. Jadi spanduk di sini umurnya sehari saja.
Dulu sebelum mall merajarela, saya membuat replica baliho “di
sini
akan
dibangun
mall”
sayangnya
tidak
punya
dokumentasinya. Ini sebelum gempa dan itu isyu pembangunan
hotel sudah ada.
Pameran bienelle Jogja Jammin (sekitar tahun 2012) tidak
merespon publik dengan baik karena semua seniman mau terlibat
sehingga saat itu kawasan malioboro penuh instalasi, dan
kurasinya terbuka, jadi kelemahannya bienelle dipegang oleh
orang yang menganggap bahwa kesenian itu bisa diakses semua
orang, tapi di sisi lain tidak dapat teroganisir dengan baik. Perlu
adanya pengaturan penempatan seni instalasi di ruang publik
bukan karena ingin di kawasan Malioboro. Masih ada karya yang
menutupi bangunan BNI tentang Heritage Jogja, karena
pemasangan
karya
sangat
menggangu.
Perlu
adanya
‘polisiestetis’ yang punya kewenangan untuk menyeleksi seni
instalasi yang tidak layak, mengganngu, bahkan menurunkannya.
Karena kalau seni sudah masuk ranah public atau ruang publik
tidak boleh mengganggu hak public, tidak boleh diakusisi oleh
seniman sebagai hak preogratifnya.
Menurut saya seniman sebelum meletakkan karya instalasinya
harus tahu bagaiamana cara meletakkan karyanya, tingkat
beratnya bagaimana, bagaimana biar aman, apalagi kalau
displaynya tidakmenarik sangat merusak karya itu sendiri.
Apalagi kalau di Malioboro yang sudah berwarna ditempel
instalasi yang serampangan itu semakin tidak baik.
Karya
instalasi
ditata
dengan
baik
dan
memperhatikan
lingkungan sekitarnya maka bisa sangat menarik, dan bukan
hanya untuk kebutuhan selfie semata. Selain itu bisa menjadi
representasi icon Jogja sebagai kota seni bisa terlihat. Seniman
perlu juga memperhatikan ruang publik dan menempatkan karya
dengan baik dan tidak asal nempel saja.
Beberapa saat yang lalu saya mendapat masukan, yang
mengatakan seni instalasi di Malioboro yang semakin banyak
sampai-sampai bisa jadi timbangan di sebelahnya karena
dianggap sudah seperti rongsokan.
Instalasi itu punya public dan masyarakat membayar pajak untuk
ruang publiknya sehingga tidak semena-mena dan harus sesuai
dengan kesepakatan antar masyarakat.Sehingga harus ada
control.
Karya saya adalah karya aplikasi atau karyafungsi, misalnya
teralis sebagai karya juga bisa digunakan sebagai teralis.
Saya lebih respek kalau karya instalasi didanai sponsor tapi untuk
kepentingan public dari pada karya murni idealis tapi
mengganggu tampilan karya. Ibaratnya instalasi harusnya bisa
menjadi penghias tempat yang sebelumnya ‘sakit’ atau kotor,
kemudian secara visual dan memiliki fungsi menarik.
Sebetulnya video tron juga kalau dipasang dengan baik dan
melibatkan seni instalasi harusnya lebih bagus, apalagi Jogja itu
sudah dilihat sebagai sebuah kota seni yang diperhitungkan di
tingkat asia pasifik.
Untuk pesangan brandname di instalasi untuk perusahaan atau
brand besar harusnya bisa berbesar hati untuk mengeksploitasi
besar-besaran instalasinya tapi pertama harus masih campur
dengan karya seninya dan tidak asal pajang brand name, karena
pasti perusahaan senang kalau iklannya dalam bentuk karya seni
karena mereka juga butuh orang yang artistik.
Saya juga setuju yang beriklan instalasi di Malioboro itu brand
lokal Jogja saja, ini juga menarik seperti bakpia, dagadu,
Apalagi malioboro punya akses internasional, harusnya produk
lokal mendapatkan tempat di sana.
Perlu adanya lembaga khusus
untuk
melakukan proses
penyaringan artistis dan estetis harusnya di satu tempat dimana
isinya orang-orang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap
ruang public, dan ini mereka bisa bekerjasama dengan dinas
perizinan. Ini menjadi lembaga yang menarik. Seni memang
bebas untuk berekspresi, dan malioboro bisa diakses untuk
seluruh seniman, tapi harus ada lembaga yang mengontrol.
Seniman di ruang public harusnya tidak egois karena jika bicara
ruang public harusnya identitas seniman bahkan tidak harus
dibawa, logikanya jika di ruang public memerulkan instalasi
yang berfungsi bagi masyarakat seharusnya seniman tidak usah
meonjolkan dirinya karena semangatnya pengabdian, tapi
pertaruhan artistic masih harus dipertanggungjawabkan.
Di malioboro ada komunitas yang sering menanggapi ruang
public di sana dengan tema-tema tertentu dan mereka bisa
berkolaborasi.
b. Ong Hari Wahyu
Media seni instalasi sudah menjadi menjadi media berkesenian
sejak tahun 1990, saat itu di Yogyakarta memiliki wadah
berkesinian yang diberi nama ‘Yogya Haritage’ diketuai Ong
Hari Wahyu dan Sego Segawe. Dengan mengedepankan seni
budaya yang ada di Yogyakarta selain itu pemerhati bangunan
bersejarah yang dilestarikan dan dapat dijadikan sebagai obyek
pariwisata.
Pada tahun 2004 setelah gempa di Yogyakarta, para seniman
menggagas berdirinya komunitas ‘Kerupuk’ yang dibentuk
karena kegelisahan para seniman dan budayawan, Kota
Yogyakarta akan banyak dibangun Hotel. Selain itu banyaknya
sampah visual tidak tertata dengan baik dan terkesan berantakan
yang menggangu pemandangan sehingga perlu adanya perbaikan,
salah satunya adalah dengan cara membuat komunitas sebagai
wadah keresahan bersama.
Para seniman di era Heri Zudianto juga diberikan kesempatan
untuk penggunaan ruang publik dengan
cara memberikan
fasilitas tempat untuk mural dan seni instalasi. Untuk seni
instalasi sendiri diawali dengan dibuatnya replika nasi bungkus
dengan ukuran yang sangat besar. Merupakan makanan yang
merakyat dan banyak dijual melalui gerobak angkringan,
penempatan seni instalasi nasi bungkus ditempatkan di titik 0,
selain nasi bungkus seniman lain diberi kesempatan untuk
memajang karya dari mulai titik 0 sampai dengan tugu, dengan
syarat harus melalui seleksi atau adanya kurator. Pada saat itu
kurator seni instalasi adalah Ong Hari Wahyu dan Butet, dengan
pembagian waktu pemasangan karya di gilir setiap seniman enam
(6) bulan satu kali.
Seni Instalasi yang pertama dengan tema ‘Nasi Bungkus’ di
sponsori oleh rokok Djarum, untuk mendapatkan sponsor pada
media seni instalasi dengan cara seniman mengajukan proposal
ke Perusahaan, setelah proposal disetujui dilakukan negosiasi
antara seniman dengan pihak managemen djarum yang terkait
kontrak dan biaya.
Seniman memahami bahwa kawasan Malioboro merupakan
kawasan strategis sosial budaya yang perlu dijaga kelestariannya
dan perlu adanya dukungan pemegang kebijakan, tanpa adanya
dukungan kebijakan secara menyeluruh terutama pada penataan
serta menyediakan ruang publik yg baik dan nyaman bagi
masyarakat. Selain itu ruang publik harus fungsional, keamanan
dan kenyaman. Contoh : anak-anak, difabel, orang jalan aman
atau tidak.
Perlu adanya pembagian tugas yang sesuai, jika seniman dan
budayawan di ajak bicara untuk membahas ruang publik terutama
seniman dan budayawan misalkan tugas seniman dan budayawan
sebagai ekesekutor dalam menentukan.
Untuk kawasan Malioboro terutama mengenai media luar ruang
sudah sewajarnya digantikan dengan media
yang lebih
fungsional, di negara-negara berkembang media luar ruang tidak
lagi ditempatkan di dalam Kota atau di dalam Mall.
4.2.3.2. Biro Iklan dan Stake Holder
4.2.Hasil Penelitian
4.2.1. Analisis Revitalisasi Media Luar Ruang
Yogyakarta dikenal dengan berbagai jargon; seperti Kota Berhati Nyaman, Kota
Pendidikan, Kota Kesenian, Kota Gudeng, dan Kota Budaya. Dengan berbagai
pengakuan tersebut tidak berlebihan kiranya apabila menyebut Jogja sebagai kota
milik bersama; terutama kebudayaan yang menghidupi kota ini berakar dari nilai-nilai
tradisi keraton sebagai penjaga kebudayaan Jawa,yang digerakkan oleh
masyarakatnya, tak terkeculali para pendatang. Pada akhirnya kota Jogja menemukan
bentuk harmonisasinya terutama ketika masyarakat dan simbol-simbol budayanya
berlangsung aktif.
Jogja menjadi kota yang dirindukan oleh mereka yang pernah singgah, melancong,
bersekolah, bekerja, maupun warga asli yang kemudian merantau ke kota lain.
Adanya persinggungan dengan kelompok lain tidak membuat warganya menjadi
chauvinis, namun justru secara harmonis menerima perubahan dan keragaman yang
ada di sekitarnya.Lebih jauh, bentuk dari keberagaman budaya yang ada di Jogja
menimbulkan kesemarakan yang berujung pada wajah kota yang dinamis. Tetapi,
apakah dinamika tersebut tetapmenjamin kenyamanan hidup di kota yang pada 7
Oktober lalu menginjak usia ke-259 tahun? Kemudian apakah kota ini, dengan jargon
kota budaya-nya, masih memiliki sifat humanis terutama kepada penduduknya?
Indikator kenyamanan dan sifat humanis yang saya tanyakan di atas juga menjadi
pertanyaan bahkan kegelisahan banyak warga Jogja di kurun waktu (setidaknya) tiga
tahun terakhir ini. Bak mengasah pisau, kegelisahan tersebut kian tajam sebab adanya
perubahan secara massivedi kota yang sayangnya banyak melalaikan filosofi, sejarah
dan sisi kemanusiaan bagi warganya. Determinasi ekonomi menjadi faktor utama dari
perubahan tersebut; dan bukannya tidak setuju bahwa dengan pengembangan sarana
perekonomian bertujuan mensejahterakan masyarakatnya, namun yang terjadijustru
menunjukkan degradasi tradisi dan nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi intisari
dari kota Jogja.
Yang paling tampak dari carut-marut-nya Jogja adalah perubahan fungsi dan formasi
ruang publiknya di mana banyakruang-ruang simbolis seperti cagar budaya yang
sebelumnya menunjukan keistimewaan kota ini telah rusak setidaknya oleh tiga
hal.Pertama,pembangunan hotel dan mall yang banyak menyingkirkan entitas tata
ruang kota, termasuk menghilangkan bangunan cagar budaya. Kedua, massive-nya
pemasangan iklan baliho di banyak jalan raya atau jalan-jalan utama, yang selain
tidak efektif karena keterbacaannya sangat kurang, juga menimbulkan sampah
pemandangan atau sampah visual secara agresif. Ketiga, semakin menjamurnya
pengalihfungsian fasilitas kota seperti trotoar dan ruang terbuka hijau di Jogja untuk
kemudian menjadi tempat berdagang atau tempat pedagang kaki lima.
Dari ketiga faktor pengancam ruang publik masyarakat yang otonom di atas, dalam
pidato ilmiah ini ijinkan saya untuk menyampaikan lebih jauh analisa saya mengenai
ketidakpatutan kondisi media iklan luar ruang di ruang publikyang keberadaannya
telah mengancam keistimewaan Jogja, terutama konsepsi sebagai kota budaya.
Mengapa? Jika oleh Raymond William (1958) menyebutkan bahwa budaya adalah: A
general process of intellectual, spiritual, and aesthetic development; A particular way
of life, whether of a people, a period or a group; Refer to a works and practices of
intellectual and especially artistic activity. (John Storey, 2006: 1-2). Inti dari
pemahaman tersebut adalah bahwa budaya merupakan sebuah proses atau cara hidup
yang melibatkan intelektual, spiritual dan perkembangan estetika yang dialami dalam
keseharian yang kemudian menimbulkan makna dalam menjalankan hidup. Jika
kemudian pemahaman tersebut dikaitkan dengan perkembangan di Jogja, dapat
disimpulkan bahwa budaya di kota yang mendapat pengakuan sebagai ‘Kota Batik
Internasional’ inidibangun di atas pilar-pilar kesadaran semu yang ditampilkan,
ditayangkan, dipertontonkan oleh iklan media luar ruang di hampir setiap jalanan
padat kota.Kesadaran semu tersebut adalah pembentukan sikap materialistik yang
tidak menggambarkan intelektualitas kesadaran bermasyarakat yang tinggi, namun
komodifikasi dan konsumsi tidak berkesudahan.
Jika Bandung pernah dikenal sebagai ‘Bandung lautan api’ untuk menunjukkan
pergerakan dan perjuangan masyarakatnya mengusir tentara Belanda untuk
mempertahankan kemedekaan RI,Jogja kini bisa diistilahkan sebagai ‘Jogja lautan
billboard’; bukan karena perjuangan masyarakatnya, namun karena kondisi kota yang
seolah-olahditenggelamkan oleh besarnya jumlah pemasangan media beriklan di
ruang publik kotaJogja. Proses privatisasi tempat-tempat yang kemudian menjadi
titik-titik pemasangan iklan terjadi bersamaan dengan tumbuh kembangnya sektor
perekonomiandan mekanisme pasar yang semakin meluas. Bentangan iklan-iklan
yang menyuguhkan benda-benda komoditas tersebut seolah menjelaskan bahwa
warga Jogja telah menjadi masyarakat konsumtif dan mempraktekkan imajinasiimajinasi yang digambarkan iklan tersebut. Kemudian, apakah praktek konsumerisme
yang ditampilkan dalam ruang public Jogja masih relevan dengan pemahaman akan
esensi dari kota budaya?
Untuk menjelaskan esensi dari kota budaya dikembalikan pada pemahaman tentang
hakekat ruang publik terlebih dahulu. Ruang publik sebagaimana dijelaskan oleh
Jürgen Habermas dalam Structural Transformation of The Public Sphere(1989)
menyimpulkanbahwa ruang publik adalah suatu wilayah bersama sebuah komunitas
untuk mengartikulasikan kepentingan dalam rational-critical debateatau melalui opini
publik. Mengapa opini? Karena ruang publik adalah ruang sosial idealnya diproduksi
dari sikap dan tindakan komunikatif masyarakatnya yang memungkinkan terjadinya
solidaritas untuk mengontrol berdasarkan aspirasi sosial dan politik melalui opiniopini dalam masyarakat yang demokratis. Seperti yang disampaikan Herry Priyono
(2009) bahwa ruang publik menjadi ranah maupun aset, baik berupa barang, jasa,
ruang atau gugus infrastruktur lain yang kinerjanya menjadi penyangga watak sosial
suatu masyarakat. Maka ruang publik juga difungsikan sebagai ruang aktif untuk
melawan dominasi, represi dan marginalisasi.
Dari pengertian tersebut, bisa kita mengambil kesimpulan penting bahwa publik
bukanlah hak preogatif pemerintah sehingga keberadaannya bukan hanya menaungi
kepentingan penguasa serta tidak untuk diperjual-belikan melalui intervensi pasar dan
privatisasi seperti keserampangan pemasangan iklan luar ruang.
Ruang publik di Jogja disusun pada poros lurus imajiner yang meletakkan Kraton
berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di
titik selatan. Alun-alun adalah bagian dari keraton sekaligus menjadi ruang
terbukayang secara kultural berfungsi sebagai tempat komunikasi antara raja dan
warganya. Alun-alun sebagaimana sejarah yang dijelaskan Jo Santoso (2008) menjadi
tempat masyarakat umum untuk mengajukan masukan ataupun menyampaikan
permasalahan yang dihadapinyakepada Sultan. Warga datang dan melakukan tapa
pépé atau bertapa dengan duduk bersila di bawah pohon beringinhingga Sultan keluar
dari keraton dan mendengarkan keluh kesah mereka. Selain itu alun-alun adalah
tempat raja melakukan pesta untuk rakyatnya dalam bentuk perayaan sekaten,
perayaan lebaran dan acara seni panggung lainnya. Namun sejak kapitalisme menjadi
penentu hidup manusia, penghayatan bermakna kultural di alun-alun yang awalnya
diperuntukkan untuk kesemarakan ritual kebudayaan telah berganti fungsi menjadi
tempat kontestasi ekonomi dengan suguhan barang dagangan di hampir tiap sudutnya.
Alun-alun hanya satu bagian di public space bermakna kultural yang telah menjadi
tempat bertemunya fungsi-fungsi ekonomi, bisa dibayangkan ruang tempat lain yang
menjadi ajang bertemunya komoditas komersial hingga ‘menutup’ warganya untuk
bertindak menyuarakan opininya. Iklan media luar ruang yang ditempatkan secara
semarak di tempat-tempat strategis ruang publik memperjelas komersialisasi dan
privatisasi yang tujuan akhirnya adalah merangsang nafsu agar masyarakat terus
menerus beli-dan-beli. Dengan demikian iklan media luar ruang menjadi garda depan
disebarluaskannya budaya konsumsi. Jika warga diberlakukan dan dinilai hanya
seputar konsumen, komodifikasi dan kekuatan daya beli, maka telah melumpuhkan
kesadaran kritisnya, apatis terhadap politik, tidak peka terhadap kondisi sosial dan
menyingkirkan saling pengertian, empati dan respek antar sesamanya.Dampak lain
belenggu ini, warga terhegemoni oleh aturan dan keadaan yang menundukkan
kepekaan mereka dan membuatnya merasa bahwa hal tersebut sebagai sebuah
kewajaran zaman.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan kelumpuhankebijakan publik yang digerakkan
oleh pemerintah setempat. Ini termasuk kenyataan bahwa warga Jogja harus
‘membayar’ mahal, karena di tahun 2014 saja Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
sektor pajakiklan media luar ruanghanya mencapai 5,6 milyar saja. Jumlah itu tentu
tidak sebanding dengan teror yang harus dialami wargasetiap harinya dari sampah
visual di jalanan. Ini belum termasuk ancaman keselamatan pengendara jalan jika
baliho dan billboard yang bisa saja runtuh dan jatuh menimpa mereka.
Perhatian dan tindakan secara serius harus segera dilakukan, bukan hanya untuk
mengembalikan fungsi ruang publik, tetapi juga sebagai upaya pelestarian hidup di
masa depan.Kerja bersama antar komponen untuk merevitalisasi ruang publik perlu
dilakukan atau slogan dan predikatJogja sebagai kota budaya perlu dikaji ulang atau
akan hilang begitu saja.
Untuk itu perlu merumuskan tiga tindakan revitalisasi media luar ruang untuk
perbaikan ruang publik Yogyakarta:
1. Penggunaan instalasiseni untuk menggantikan billboard dan baliho.
Seni instalasi yang ditempatkan di ruang publik atau yang juga diistilahkan
sebagai public art telah lama digunakan seniman untuk memajang karya yang
mengekspresikan nilai-nilai dalam masyarakat (community values), menambah
kualitas lingkungan, mengubah lanskap, meningkatkan kesadaran, memberi
pertanyaan atas asumsi kita (Kuss Indarto, 2015), termasuk menyatakan opini atas
permasalahan social, budaya, lingkungan fisik perkotaan. Inti dari seni instalasi
adalah memberikan efek spasial dengan ‘intervensi artistik’ kepada pada audien
terutama untuk memikirkan kembali hidup dan nilai-nilai bersama dalam
lingkungannya.
Karena sifat-sifat tersebut di atas, seni instalasi dimungkinkan sebagai objek yang
mempersuasi dengan pesan yang mudah diinternalisasi oleh audiennya. Meskipun
harus dipahami bahwa jenis iklan ini termasuk media unconventional yang masih
harus diwacanakan kepada masyarakat umum; atau setidaknya kita dapat belajar
dari negara-negara yang telah menerapkan seni instalasi sebagai bagian dari usaha
beriklan mereka.
Ketika seni instalasi digunakan sebagai wahana beriklan di luar ruang selain
meningkatkan atensi atau perhatian dari konsumen juga memaksimalkan pesan
yang disampaikan pada iklan. Pesan yang berupa nama merek atau brand produk
tersebut harus ditempatkan secara harmonis dengan seni instalasi sehingga tidak
saling beradu mendapatkan perhatian. Dengan demikian pesan yang paling
dimungkinkan dalam bentuk iklan ini adalah brandingatau hanya menunjukkan
nama merek saja karena pesan iklan yang utuh bisa digarap dalam bentuk lainnya
seperti TVC, iklan radio atau iklan surat kabar.
Frekuensi pemasangan juga diharapkan terjadwal dengan baik, baik itu karya
instalasi maupun merek dagang yang dipajang. Hal ini bertujuan agar lebih bentuk
bisa lebih variatif dan dinamis terutama karena Jogja yang juga menjadi gudangnya seniman tentu dapat memberikan sekaligus membuka kesempatan pada para
seniman untuk memamerkan karyanya di ruang publik dengan cara baru, yaitu
mewacanakan dua hal sekaligus: karya seni dan (menyesuaikan) brand yang akan
ditampilkan atau disandingkan di karya tersebut. Pelaku usaha yang hendak membranding dengan cara ini tentu mendapatkan keuntungan atas atensi yang
didapatkan, sementara seniman yang bekerjasama dengan biro iklan bisa saling
berkesinambungan mengelola pembuatan dan pelaksanaan penempatannya.
Perda Kodya Dati II YK No.8/1998 tentang izin penyelenggaraan reklame saat ini
sedang diusahakan dirubah terutama dengan perkembangan teknologi dan selera
yang semakin dinamis. Salah satu jenis reklame yang belum dimasukan kedalam
Raperda adalah media iklan instalasi. Media Iklan instalasi ini merupakan bentuk
baru yang ditawarkan nantinya kepada pelaku terutama mengatur dan
menempatkannya di tempat yang strategis tanpa merusak pandangan atau yang
kemudian dianggap dan dianggap sebagai sampah visual. Regulasi untuk
mengatur pelaksanaan dan penempatan media seni instalasi tentu tetap harus
mendahulukan kepentingan publik daripada segelintir pengusaha seperti pelaku
usaha atau produser, biro iklan maupun seniman yang membuatnya. Salah satu
yang bisa dilakukan seperti pemetaan ruang publik yang tepat untuk pemasangan
seni media iklan instalasi yang kemudian dilembagakan dalam Zona
Penyelenggaraan Reklame (ZPR) sebagai bagian dari regulasi atau kebijakan
publik. Pemetaan bisa dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur seperti
sejarah, filosofi, estetika, etika dengan tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan
harmonisasi ruang publik yang dapat berstategi dalam mensiasati tantangan
ekonomi. Karena tidak dapat dinafikkan bahwa perkembangan sektor ekonomi
tidak dapat serta merta kita nafikkan begitu saja, karena hal tersebut menjadi salah
satu pilar terciptanya masyarakat sejahtera; dan penciptaan strategi budaya yang
harmonis dan humanis dapat kita ciptakan.
Implementasi iklan instalasi dapat dibuat kreatif, unik, tidak mencolok dan tetap
mengedepankan ruang publik sebagai valuable place, saya yakin publik akan
mendapatkan haknya untuk menikmati karya dan keindahan kota di saat yang
bersamaan. Lebih jauh lagi akan lebih banyak masyarakat yang mengakui bahwa
Jogja memang unik dan ini sekaligus menjadi magnet pariwisata budaya yang
humanis dan etis.
2. Membentuk dewan atau komite ruang publik kota Jogja
Seperti yang telah saya sampaikan di awal bahwa esensi pemahaman ruang publik
adalah bekerjanya solidaritas dari elemen masyarakat untuk mengaktifkan ruang
publiknya. Maka proses revitalisasi media luar ruang dapat juga dilakukan dengan
menciptakan koordinasi yang menyangkut legalitas serta manajemen yang
datangnya dari publik. Kembali saya ingatkan bahwa kebijakan publik bukan hak
prerogatif pemerintah; dimana jika kemudian tata kelola ruang publiknya
amburadul kesalahan selalu dialamatkan kepadanya. Praktek penyalahgunaan
wewenang pemangku kuasa yang menyalahi aturan dalam pembuatan dan
penetapan legalitas praktek privatisasi untuk titik beriklan di ruang publik
memang secara nyata telah terjadi, dan ini memprihatinkan karena pada akhirnya
kebijakan dilakukan hanya untuk keuntungan segelintir orang. Oleh karena itu
dengan pembentukan wadah koordinasi yang mempunyai otoritas sebagai ‘badan
publik’ praktek penyalahgunaan wewenang dapat dieliminir bahkan menjadi tugas
dan tanggung jawab bersama untuk menginisiasi fungsi ruang publik yang ideal
terutama dengan pengaturan media luar ruang-nya.
Proses komunitarian ini melibatkan seluruh komponen bersama seperti
budayawan, seniman, pengajar atau akademisi, asosiasi biro iklan, pengusaha
media luar ruang/pemilik titik reklame, arsitek, desainer, planolog, sejarawan,
antropolog, politisi, warga masyarakat pada umumnya, tokoh masyarakat, badan
atau lembaga pendanaan profit dan non-profit, serta pihak pengelola kota atau
daerah yang antara lain memiliki otoritas sebagai lembaga perijinan.Mereka
semua akan menjadi dewan curator yang mengkurasi kota dan penampilannya,
termasuk revitalisasi media iklan ruang ruang.
Partisipasi warga Jogja dalam mengkritisi ruang publiknya bukan tidak pernah
dilakukan. Kita tentu saja masih ingat Dodok Jogja dan komunitas Warga Berdaya
yang memprotes pembangunan hotel karena berujung mengeringnya sumber air di
beberapa kampung di kota Jogja; Elanto Wijoyono yang menghadang konvoi
moge untuk tidak arogan menerabas lampu merah dan mematuhi lalu lintas yang
semestinya; atau yang masih selalu up-to-date dalam pewacanaan ruang publik
Jogja adalah Bapak Sumbo Tinarbuko, seorang dosen sekaligus pemerhati kota,
yang aktif mengritisikesewenangan dan kesemrawutan media luar ruang dengan
gerakan ‘Reresik Sampah Visual’. Ketiganya tentu telah menancapkan
pemahaman akan pentingya inisiasi warga untuk membangun ruang publik agar
segera dilakukan.
Pengalaman dengan kota sangat dipengaruhi oleh kenyamanan di ruang
publiknya. Jika sudah tidak ditemukan kenyamanan maka sangat dimungkinkan
untuk kemudian bersiasat dengan membuat kesepakatan-kesepakatan bersama
diantara para elemen masyarakatsebagai penggerak dinamika kota. Ketika
partisipasi public massif niscaya kebijakan public juga akan massif, sehingga
proses negara dibangun oleh aspek kebebasan pendapat dan aspek
demokrasi.Pelibatan warga ini diawali dengan pemahaman yang jelas (reedukasi)tentang fungsi dan idealisme ruang publik terutama yang mengatur dan
mengoptimalkan bentuk-bentuk pesan komunikasi visual dalam iklan media luar
ruang sehingga tidak lagi menjadi sampah yang berujung pada teror visual.
3. Me-re-dukasi selera masyarakat
Melanjutkan dari kebijakan revitalisasi media luar ruang bagian ke-dua atau
dengan pelibatan warga, maka re-edukasi selera menjadi penting untuk dilakukan.
Reedukasi selera ini merupakan cara bertindak secara nyata tentang peran dan
bentuk ruang publik dengan menerapkan bentuk estetika atau pemahaman akan
pengalaman kenyamanan di ruang publik itu sendiri. Re-edukasi pada tahapan
selanjutnya tentu harus menjadi sebuah sikap bahkan sebuah gerakan
kebersamaan membangun sebuah tatanan simbolik baru yang mengedepankan
kenyamanan berkomunikasi visual yang tidak hanya bertendensi komoditas
komersial belaka, sehingga pemaknaan warga tidak hanya sebagai konsumen
belaka. Niscaya publik akan mengenal penjelajahan kecerdasan spasial yang baru
melalui ruang-ruang representasi di dalam ruang kota dengan pesan visual
yangbukan lagi hanya sebagai pesan komunikasi visual, lebih jauh menjadi pesan
komuni-aksi visual: sebuah pesan yang menggiring aksi berkomunikasi yang
mengedepankan kenyamanan visual.
Keterangan gambar 1. Beberapa contoh seni instalasi yang terpasang di jalan
Malioboro dibuat oleh seniman yang tergabung dalam API (Asosiasi Seniman
Indonesia)
Untuk saat ini revitalisasi dengan gerakan bersama untuk mempertahankan kota
budaya. Seperti halnya semboyan Sultan Hamengkubuwana ‘Hamemayu Hayuning
Bawana’ yang berarti bahwa setiap tindakan haruslah dengan landasan memperindah
keindahan semesta. Hadirnya manusia dengan berbagai latar-belakang yang kemudian
membentuk komunitas warga Kota Yogyakarta hendaknya berpartisipasi menjadikan
alam kehidupan kian indah, bermakna, dan bernilai tambah.
4.2.2. Analisis Kebijakan Media Luar Ruang
BAB V
KESIMPULAN
BAB VI
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
6.1 Anggaran Biaya
Biaya diperlukan untuk tahapan penelitian adalah: (1) persiapan penelitian, berupa
pengurusan izin instansi pemerintah Kota Yogyakarta, pelaku usaha atau vendor
periklanan, seniman; (2) pengumpulan data primer dan sekunder, sesuai dengan
pembagian tugas dan instrumen yang digunakan; (3) pengolahan hasil penelitian
kualitatif; (4) pembuatan media audio visual sebagai alat peraga dan (5) penulisan
Laporan Hasil Penelitian final, serta (6) penyerahan hasil penelitian.
Uraian
berikut menyebutkan keperluan-keperluan tersebut secara terperinci.
Uraian Tujuan dan Alasan Perlunya biaya penelitian
1. Persiapan penelitian
Persiapan penelitian diperlukan untuk mengetahui secara jelas dan benar,
tujuan serta maksud revitalisasi media billboard dan baliho menjadi media
instalasi terutama, pemerintah, biro iklan/pelaku usaha/vendor/stekholder, dan
masyarakat kota Jogja.
2. Pengumpulan data primer dan sekunder
Dengan adanya data primer dan sekunder akan didapat data wawancara, data
kuesioner dan data sekunder pendukung yang didapat gambaran revitalisasi
media billboard dan baliho menjadi media instalasi, alat yang digunakan untuk
penyimpanan data menggunakan tablet karena memiliki multifungsi untuk
rekam audio serta penyimpanan data.
3. Pengolahan hasil penelitian kualitatif
Dari data yang dikumpulkan nantinya dapat dijadikan sebagai rujukan dalam
menentukan raperda yang nantinya dimasukan dalam Peraturan Daerah (Perda)
Penyelenggaraan Reklame.
4. Pembuatan media audio visual sebagai alat peraga
Alat peraga berupa hasil audio visual yang diambil dengan menggunakan
kamera DSLR dibutuhkan dalam melihat bentuk revitalisasi media billboard
dan baliho menjadi media instalasi secara nyata.
5. Penulisan Laporan Hasil Penelitian final
Laporan hasil penelitian dalam bentuk hardcopy, softcopy dan cd media audio
visual.
6. Penyerahan hasil penelitian
6.2 Jadwal Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian dalam bentuk bar chart :
Tabel 3. Jadwal Penelitian
Waktu
Tahap
Kegiatan
Tempat
1
Persiapan
Penelitian
2
Urus Izin
Yogyakarta/ DIY
3
Kantor
Walikota
Dinas Pajak
Reklame
Yogyakarta
Biro Iklan
yang
terdaftar di
P3I
Dari titik 0
sd Tugu
Yogya
Yogyakarta
Yogyakarta
Yogyakarta
Urus Izin Biro
Iklan/Pelaku
Usaha/Vendor
Urus Izin RT/RW
Pengump
ul-an
Data
Data wawancara
Data kuesioner
Data
sekunder
pendukung
Data Wawancara
Data Kuesioner
Data
Sekunder
pendukung
Pengolah
an Data
hasil
penelitian
kualitatif
Pembuata Data foto
n media dokumentasi,
audio visual, dan
audio
audio, sebagai
visual
penunjang
sebagai
alat
peraga
Penulisan Hasil Akhir
Pengumpulan Laporan
2016
April
Mei
Juni
Juli
Ags
Sep
Okt
Nop
4
5
6
7
8
9
10
11
Yogyakarta
Yogyakarta
Yogyakarta
Yogyakarta
Yogyakarta
Yogyakarta
DAFTAR PUSTAKA
Agustrijanto. 2001. Copywriting : Mengasah Kreativitas dan Memahami
Bahasa Iklan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Basuki Agus Suparno. Januari-April 2004. Makna Iklan dalam Media Televisi
(Kesesuaian dari Aspek Konstruksi sampai ke Interpretasi Terhadap
Iklan Televisi Geng Hijau). Jurnal Ilmu Komunikasi. Yogyakarta.
Hann, Fred E dan Kenneth G. Mangun.1999. Beriklan dan Berpromosi
Sendiri. Jakarta : Grasindo.
Lewis, Herschell Gordon. 1999. On The Art of Writing Copy. 2nd Edition.
USA : Amacom.
Sunyoto, M. 2006. Strategi Pernacangan Iklan Outdoor Kelas Dunia :
Dilengkapi Lebih Dari 200 Sampel Iklan Outdoor Kelas Dunia.
Yogyakarta : Andi.
_________. 2004. Aplikasi Desain Grafis Untuk Periklanan : Dilengkapi
Sampel Iklan Terbaik Kelas Dunia. Yogyakarta : Andi.
Widyatama, Rendra. 2005. Pengantar Periklanan. Jakarta : Buana Pustaka
Indonesia
Winardi. 1992. Promosi dan Reklame. Bandung : Mandar Maju.
James F. Engel, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. 1994. Perilaku
Konsumen. Jakarta: Binarupa Aksara.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Laporan Anggaran Penelitian .
TOTAL Penggunaan biaya program Penelitian .9,215,000-11,600,000 = 2,385,000
Tabel Anggaran Diusulkan
No
Jenis Pengeluaran
Biaya
yang
diusulkan
(Rp)
1
Peralatan Penunjang
Kamera Nikon DSLR for video dan PPN
11,5%
5,795,000
2
3
Honor penyelenggara
a. Ketua
b. Tim/anggota
Konsumsi
Biaya konsumsi selama survey dan
pembuatan laporan
4.
Pembelian ATK
Kertas 1 rim
Tinta Print
Map
Flashdisk
Bolpen
5.
6.
Fotocopy dan jilid
Transportasi perjalanan
 Ketua 15 perjalanan x 15,000
 Anggota 7 perjalanan x 15,000
Seminar FGD (Forum Group Discussion) dengan
peserta 25 orang
7.
TOTAL ANGGARAN
Bukti:
2,088,000
1,392,000
250,000
8.198.000
realisasi
30%
5,795,000
30%
3,480,000
250,000
Lampiran 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas
No.
Nama/NIDN
1
Hardoyo,S.Sos,MA/
0516047201
Instasi
Asal
AKINDO
Bidang
Ilmu
Periklanan
Alokasi Waktu
(jam/minggu)
(2400Jam/32Minggu)
Uraian Tugas






2
Karina Rima Melati,
S.Sn,M.Hum/05300982
01
AKINDO
Periklanan
(2400Jam/32Minggu)



Persiapan
Penelitian
Pengumpulan
Data
Pengolahan
Data hasil
penelitian
kualitatif
Pembuatan
media audio
visual sebagai
alat peraga
Penulisan Hasil
Akhir
Pengumpulan
Laporan
Pengumpulan
Data
Pengolahan
Data hasil
penelitian
kualitatif
Pembuatan
media audio
visual sebagai
alat peraga


3
Oka
Mhs
AKINDO
Periklanan
(224Jam/8 Minggu)

Penulisan Hasil
Akhir
Pengumpulan
Laporan
Pendampingan/
membantu
pembuatan
produksi
pembuatan
media audio
visual sebagai
alat peraga
Lampiran 3, Biodata Peneliti
Ketua Peneliti
A. Identitas Diri
1
Nama Lengkap
2
Jenis Kelamin
3
Jabatan Fungsional
4
NIP/NIK/Identitas lainnya
5
NIDN
6
Tempat dan Tanggal Lahir
7
E-mail
8
Nomor Telepon/HP
9
Alamat Kantor
10 Nomor Telepon/Faks
11 Lulusan yang Telah
Dihasilkan
12. Mata Kuliah yg Diampu
Hardoyo, S.Sos, MA.
Laki-laki
Asisten Ahli
030.2031.05
0516047201
Jakarta, 16 April 1072
[email protected]
081215642020
Jl.Laksda Adisucipto Km.6,5 No.279 YK
Telp 0274-7488787, Faks 0274 -484574
D3 Prodi AD: 60 orang
1. Teknik Foto Imagi
2. Komputer Grafis I
3. Komputer Grafis II
4. Produksi Media Luar Ruang
5. Fotografi Desain
B. Riwayat Pendidikan
Nama Perguruan Tinggi
Bidang Ilmu
Tahun Masuk-Lulus
Judul
Skripsi/Tesis/Disertasi
S-1
Universitas Sebelas
Maret Surakarta
Komunikasi Massa
2000 - 2004
Studi Semiotika Isi
Pesan Foto Jurnalistik
tentang Keterkaitan
Islam Garis Keras
dalam Terorisme
Peristiwa Runtuhnya
Gedung WTC (World
S-2
Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta
Ilmu Komunikasi Media
2010 - 2013
Pemanfaatan Web Site
oleh Kelompok
Krestifitas Mahasiswa
Periklanan (Studi Kasus
Tentang Penggunaan
Web Site Sebagai
Sumber Inspirasi untuk
Trade Center) di Harian
Kompas Edisi 12 – 19
September 2001
Nama
Pembimbing/Promotor
Drs. Hamid Arifin,
M.Si
Membuat Iklan Oleh
Kelompok DE-ADLINE
UGM, BOHLAM
UAJY, KOMAKOM
UMY, KOSTRAD UIN,
KOMPOR.KOM UII,
AVIKOM UPN selama
Tahun 2011)
Ana Nadhya Abrar, Dr.
Phil., M.E.S.
C. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun
Terakhir
No
Tahun
Judul Pengabdian
Pendanaan
Kepada Masyarakat
Sumber*
Jml (Juta Rp)
1
Pengabdian
Dikti
Rp.60jt
Masyarakat
pembuatan media di
PEMKOT Magelang
2
2001
Pelatihan Humas
Dikti
Rp.60jt
Pemda Probolinggo
Jawa Timur
3
2002
Pengabdian
Dikti
Rp.50jt
Masyarakat
AKINDO pembuatan
media di PEMKOT
Kulonprogo
4
2012
Pemberdayaan
Ibm Dikti
Rp.50jt
Karang Taruna
Melalui Perintisan
Usaha Jasa
Komunikasi Berbasis
Internet Di Bantul
Dan Kota
Yogyakarta
5
2015
Produksi Katalog
AKINDOYK Rp. 750.000
Batik Carica Lestari
Untuk Kerjasama
Dan Promosi Desa
Wisata Talunombo
* Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema pengabdian kepada
masyarakat DIKTI maupun dari sumber lainnya.
D. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal alam 5 Tahun Terakhir
No
Judul Artikel Ilmiah
Nama Jurnal
Volume/
Nomor/Tahun
1
2000
Mempertahankan Kekuasaan
dengan Jaringan Teknologi
Komunikasi
Jurnal Komunikasi
Profetik UIN
Vol.05/No.2/Oktobe
r 2012
E. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun
Terakhir
No Nama Pertemuan Ilmiah /
Judul Artikel Ilmiah
Waktu dan
Seminar
Tempat
1
Festival Iklan Pinasthika
Be The Legend
2
Pengenalan Bidang Studi
Komunikasi di AKINDO
Yogyakarta
Pengenalan Kamera dan
Teknik Dasar Fotografi
Fotografi bagi Pemula
Pengenalan Ilmu
Komunikasi bagi Maba Ad
AKINDO
Startup Weekend
Indonesia
Teknik Dasar Fotografi
3
4
5
Fotografi bagi Pemula
6
Internasional Seminar
Komunkasi
54 hours Program To
Launch Startup Powered by
the Kauffman Foundation
Internasional Seminar On
Media and Politics
7
Festival Iklan Pinasthika
Magical Ideas
8
Teknik Fotografi dan Edit
Foto
9
Peningkatan dan
Pengembangan Fotografi
bagi Staf Gudang Garam
Yogyakarta
Pinasthika Creativestival
10
Pinasthika Creativestival
The Creators
11
Pelatihan KPK
12
Peningkatan dan
Pengembangan Fotografi
bagi PEMDA
Seminar Nasional
Pengajar Mata Kuliah
Pendidikan Anti-Korupsi
Tingkat Perguruan Tinggi
Fotografi dan Desain Grafis
13
14
Peningkatan dan
Pengembangan Fotografi
bagi PEMDA
Holopis Kuntul Baris
Harmonisasi CSR dan
Kearifan Lokal dalam
Pembangunan
Fotografi dan Desain Profil
Daerah
2010 di Sheraton
Mustika Hotel
Yogyakarta
8/05/2010 di
SMA MUHA
Wonosobo
15/05/2010 di
Mirota Batik
Cafe Daun
Malioboro
16/01/2010 di
MABA di
AKINDO Yk
2011 di
Universitas
Ciputra Jakarta
23/03/2011 di
Pasca Sarjana
Fisipol UGM Yk
28-29/10/2011 di
Sheraton Mustika
Hotel Yogyakarta
2011 di Kantor
GG Palagan
Yogyakarta
1-3/11/2012 di
Hotel Melia
Purosani Yk
18-19/10/2013 di
Jogja National
Museum di Yk
17-19/10/2013 di
Hotel MM Yk
23/10/2013 di
Hotel Grage Yk
10/12/2013 di
Cilegon Banten
Jawa Barat
17/06/2014 di
Malioboro Inn
Yk
15
16
17
Peningkatan dan
Pengembangan Fotografi
bagi PEMDA
Pinasthika The Changers
Seminar Nasional ABPPTSI
Fotografi dan Desain Profil
Daerah
Dunia berubah, sadar atau
tidak semua pasti berubah.
Saatnya berikan Perubahan
besar yang akan diingat
Dunia!
Strategi Penyehatan
Perguruan Tinggi “Sakit”
menghadapi MEA 2015
24/10/2014 di
Malioboro Inn
Yk
31/10 – 1/11
2014 di Taman
Budaya Yk
8/12/2014 di
Jakarta
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan penelitian.
Yogyakarta, 22 April 2015
Pengusul,
Hardoyo,S.Sos,MA
NIDN: 0516.0472.01
Anggota Peneliti
Data Pribadi :
Nama Lengkap
Jenis Kelamin
Tempat/tgl . Lahir
Alamat
No. Telp
No. Hp
E-mail
Status
: Karina Rima Melati, S.Sn, M.Hum
: Perempuan
: Yogyakarta/ 30 September 1982
: Jl. Golo gang Pulanggeni UH V/419 Yogyakarta 55161
: 0274-377696
: 08175414157
: [email protected]
: Belum menikah
RIWAYAT PENDIDIKAN:
PENDIDIKAN FORMAL
Tahun
Institusi
2007 - 2011
Program Magister, Universitas Sanata
DharmaYogyakarta
2001 – 2007
Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia
2008 – 2001
SMU Muhammadiyah I Yogyakarta
BEASISWA
Tahun
Institusi
2010
Asian Graduate Student Fellow, Asia Research Institute,
National University of Singapore - Singapura
PRESTASI
No. Tahun
1.
1998
2.
2003
Prestasi
Juara I Lomba Reportase SMU/SMK tingkat propinsi DIY
Juara V Festival Film Dokumenter tingkat Nasional dengan judul
Film “Pengabdian”
PENGALAMAN KERJA
No. Tahun
Pengalaman Kerja
1.
1999 - 2000
Wartawan GEMA, surat kabar BERNAS angkatan IX
2.
2001 – 2002
Wartawan Majalah Perkotaan KOTAKATIKOTAKITA
3.
2001 – 2002
Sebagai fasilitator untuk remaja di program “Urban
4.
2002 – 2003
5.
6.
2002-2004
2002
7.
8.
2003
2003
9.
2003
10.
2008 sekarang
12
2012sekarang
2012sekarang
13.
Environmental Education” oleh LSM Dian Desa, Yogyakarta
wartawan sekaligus desainer grafis situs perkotaan
www.jogjakita.or.id
Tergabung dalam kelompok seni “Garis Merah Production”
Sebagai produser film independen “Terbunuh Sepi’ bersama
‘Garis Merah Production
Desainer grafis untuk ‘GREEN MAP MALIOBORO’
Media planner dalam pameran seni rupa ‘ReKreasi’ mengenang
100 hari wafatnya seniman H.Widayat di Museum H. Widayat,
Mungkid Magelang
Sebagai sutradara film dokumenter “Pengabdian” pada Festifal
Film Dokumenter tingkat Nasional
Pendiri dan desainer grafis ‘PIXOT, Pixel Exotic’ yang
menangani Corporate Identity dan Corporate Desain dengan
klien antara lain:
- Ansor Group, Yogyakarta
- Sekar Kedhaton Restoran, Yogyakarta
- Betta Swalayan, Yogyakarta
- Billboard untuk Yolanda Silver, Yogyakarta
- Sebagai desainer grafis pada ‘CUBIC, Communication,
Bisnis & Strategy’ membuat profil investasi Kantor
Penanaman, Penguatan, dan Penyertaan Modal Kabupaten
Sleman (KP3M) untuk tahun 2010, 2011, dan 2013
- Katalog atau Directory Shopping Jogja, DISPERINDAGKOP
propinsi DIY
Desainer dan kontributor website kajian etnografi:
etnohistori.org
Desainer batik pada Sanggar Batik Jenggolo, Yogyakarta
PENGALAMAN PAMERAN
No
Tahun
Pameran
Lokasi
Pameran bersama mahasiswa DKV ISI
Yogyakarta
Kolaborasi membuat karya batik
dengan siswa-siswi SMU 3 Padmanaba
dalam rangkaian gelar karya tahunan
Pameran kolaborasi batik dalam Arakarakan Budaya Masyarakat Urutsewu
Beberapa galeri di
Jogja
Taman Budaya
Yogyakarta
1.
2005-2007
2.
2012
3.
2014
4.
2014
Pameran Tipografi Vernacular dalam
Estetika Desain
Galleri jurusan
Desain Komunikasi
Visual, ISI
Yogyakarta
5.
2014
Pameran Tipografi Urip-uripin Aksara
Desain Komunikasi Visual ISI
Bentara Budaya
Yogyakarta
Urutsewu, Kebumen
Yogyakarta
6.
2015
Pameran REVITALISASI: 20 Tahun
Museum H. Widayat
7
2015
Pameran Re-Sound
Museum H.
Widayat, Mungkid,
Magelang
Pawon Art space
PUBLIKASI DAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL
No
Judul Artikel Ilmiah
Nama Jurnal
1.
Konsumsi dan Praktek
Modernitas dalam Iklan Enamel
Zaman Kolonial
2.
Membaca Dinamika Identitas
Sosial di Pekalongan lewat Batik
Motif Buketan (Floral Motif)
3.
Mendesain Ruang Publik Jogja
sebagai Media Berkomunikasi
Visual
4.
Iklan Enamel dan Bagaimana
Penggambaran Perubahan Kota
di Zaman Hindia
5.
Interaksi dan Negosiasi Iklan
Enamel: Mencermati Pola
Penetrasi Iklan Masa Kolonial
Hindia Belanda
Pendidikan sebagai Perekrut
dalam Komunitas Terbayang:
Analisa Wacana dalam Film
Denias Senandung di Atas Awan
6.
Volume/
Nomor/Tahun
ARS, Jurnal Seni
Rupa dan Desain,
Institut Seni
Indonesia,
Yogyakarta
Retorik: Jurnal
Ilmu Humaniora
Baru – Universitas
Sanata Dharma
Katalog pameran
DISKOMFEST
Desain Komunikasi
Visual, Institut
Seni Indonesia
Yogyakarta
Jurnal DeKaVe,
Institut Seni
Indonesia
Yogyakarta
Antologi Desain
Grafis Indonesia #1
Nomor: 9 /2008
Journal of Urban
Society’s ArtsInstitut Seni
Indonesia
Yogyakarta
Volume 14 No. 2 Oktober 2014
Vol.3- No.2, Juni
2013
Nomor V/2013
Nomor III.JunNovember 2013
Jakarta: DGI Press.
2014
PEMAKALAH (ORAL PRESENTATION) DI SEMINAR ILMIAH
No Nama Pertemuan Ilmiah
Judul Artikel Ilmiah
Waktu dan
/ Seminar
Tempat
1.
Asian Graduate Student
Forum – Asian Research
Institute
(Oral Presentation)
The Motif Buketan (Floral
Motif) in Pekalongan Batik :
Development Dynamics and
Social Identity in
Juni 2010 di
National
Universiti of
Singapore,
2.
International Conference
on Art and Humanities
(Oral Presentation)
3.
Asian Conference on Art
and Humanities
(Oral Presentation)
Pekalongan, Central Java,
Indonesia
The Dynamics and Social
Identity in Pekalongan,
Central Java, Indonesia
Through Buketan Batik
Motif (Floral Motif)
The Dynamics and Social
Identity in Pekalongan,
Central Java, Indonesia
Through Buketan Batik
Motif (Floral Motif)
Singapura
Januari 2011 di
Hilton Hotel,
Waikiki, Hawaii USA
April 2012 di
Ramada Hotel,
Osaka, Jepang
SEBAGAI PEMBICARA/PELATIH PADA:
No, Tahun
Pembicara dalam Forum
1.
2000
Pembicara dalam talk show “Gaya Kepemimpinan Orang Tua di
Mata Anak” pada taman komunikasi Kanisius
2.
2009 – 2011
Pelatih batik tulis pewarnaan alam kepada ibu-ibu lansia di
Kelurahan Pandeyan yang didanai oleh Kantor Pemberdayaan
Masyarakat dan Perempuan – PEMKOT Jogja.
3.
2012
Pemateri desain grafis pada ‘Workshop Produk Profil Daerah’
untuk BAPPEDA kabupaten Berau, Kalimantan Timur
4.
2013
Pemateri desain grafis pada ‘Workshop Produk Profil Daerah’
untuk kabupaten Halmahera Utara
5.
2013
Pemateri pada“ADVOLUTION: Memorable Experience of New
Media” Pada Sesi Senja #4 Mara Advertising
6.
2013
Pembicara pada “Indonesia-Iran Summer Program: Islamic
Civilication, Philosophy, Science and Culture” yang
diselenggarakan oleh Center for Religious & Cross-Cultural
Studies (CRCS), Graduate School, Universitas Gajah Mada
Keikutsertaan Seminar, Workshop, Summit
No Tahun Penyelenggara
1. 2003
Animator Forum Jogja
2. 2009
Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia (P3I) Yogyakarta
3. 2011
Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia (P3I) Yogyakarta
4
2011
Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia (P3I) Yogyakarta
5. 2011
Yayasan Batik Indonesia
6.
2012
7.
2012
Kementrian Perindustrian
Republik Indonesia
International Conference on
Media, Communication, and
Culture
Univesitas Muhammadiyah
Tema Seminar/ Workshop/ Summit
JogjAnimation
Festival Iklan Pinastika 2009
“Be The Legend”
Festival Iklan Pinastika 2011
“Magical Ideas”
“Workshop Media Strategic Planning”
World Batik Summit
“Indonesia: Global Home of Batik”
Inkubasi Bisnis untuk Pengusaha IKM
Batik
Rethinking Multiculturalism: Media in
Multicultural Society
8
2013
9.
2013
10. 2014
11. 2014
Yogyakarta (UMY)
Kementrian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia,
Direktorat Jendral Informasi dan
Komunikasi Publik
Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia (P3I)
Program Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada
Program Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada
Peserta Diskusi Publik: Etika
Komunikasi di Ruang Publik, Quo
Vadis?
Festival Iklan Pinastika 2013 “Be the
Legend”
Seminar Nasional “Art Politic, Politic
Art”
Pemikiran Stuart Hall dalam Kajian
Cultral Studies
Yogyakarta 2015
Karina Rima Melati, S.Sn., M.Hum
Lampiran 4. Quesioner.
KUESIONER PENELITIAN
REVITALISASI MEDIA LUAR RUANG MALIOBORO
DI YOGYAKARTA
Kuesioner Dinas
Nama:
Domisili anda?
A. DIY
B. Luar DIY
Jenis Kelamin :
A. PRIA
B. WANITA
Umur :
................. TAHUN
Media Luar Ruang
1. Sudah sampai sejauh mana penyelesaian Perda media luar ruang di kawasan
Malioboro pada khussusnya?
2. Permasalahan apa yang masih dalam perdebatan mengenai Perda media luar
ruang?
3. Apakah sudah ada Perda sebelumnya yang mengatur tentang pemasangan
media luar ruang di kawasan titik 0 sd tugu/sumbu filosofi Malioboro?
4. Apakah ada Pergub tentang aturan hukum kawasan Strategis Pelestarian Sosial
Budaya di kawasan Malioboro?
PP Reklame dan PP tentang Instalasi
1. Bagaimana PP Reklame yang baru? Apa yang membedakan dengan yang lama
khususnya Media Luar Ruang?
2. Adakah PP tentang penggunaan seni Instalasi untuk menggantikan
bilboard/baliho di kawasan Malioboro? Kapan peraturan tersebut akan diketok
palu/ditetapkan?
3. Jika sudah, di mana lokasinya? Bagaimana mengurus pajaknya? Bagaimana
perizinannya? Berapa lama durasinya? (apakah berbedaannya dengan iklan
media luar umumnya)s
4. Pengaturan karya seni instalasi seperti apa, saat ini perizinan melaui UPT
Malioboro sedangkan peran DINAS PAJAK DAERAH DAN
PENGELOLAAN KEUANGAN (DPDPK) dimana? Untuk mendapatkan
peraturan-peraturan tersebut bisa didapat dimana. Copy fleshdisk.
PCB/Malioboro (Karena selama ini seni instalasi banyak dipajang di
Malioboro)
1. Apakah benar ada informasi bahwa Malioboro merupakan Kawasan Strategis
Pelestarian Sosial Budaya (PCB-Peraturan Cagar Budaya dan BCB-Bangunan
Cagar Budaya)? Data bisa didapat dari mana. Copy fleshdisk.
2. Apa dampak bagi PCB Malioboro jika seni instalasi dipajang di sana? Latar
Belakang: kini ada peraturan ketat yang membatasi produk hingga toko-toko
Malioboro memasang media iklan di Malioboto
Kuesioner Seniman
Nama:
Domisili anda?
A. DIY
B. Luar DIY
Jenis Kelamin :
A. PRIA
B. WANITA
Umur :
................. TAHUN
1. Apakah seni instalasi menjadi media berkesenian anda?
2. Bisa ceritakan sejarah seni instalasi yang anda pahami?
3. Sudah dimana saja seni instalasi yang anda buat diletakkan? Khususnya di
Jogja
4. Bagaimana pendapat anda jika seni instalasi digunakan untk beriklan/menjadi
media promosi, khususnya dalam pengertian untuk mengganti billboard,
baliho, neon box yang semakin semrawut
5. Bagaimana mekanismenya menurut anda?
6. Apa harapan anda sebagai seniman jika seni dikolaborasi dengan promosi
produk?
Seniman dan Malioboro (Karena sebagain besar instalasi luar ruang diletakkan di
kawasan Malioboro)
1. Apakah anda mengetahui bahwa Malioboro merupakan Kawasan Strategis
Pelestarian Sosial Budaya?
2. Apakah anda merasa kontribusi terhadap seni instalasi di Malioboro sudah
maksimal?
3. Mengenai apa sumbangsih seniman untuk kawasan Malioboro agar menjadi
tertata?
4. Apakah anda setuju perlu adanya pengaturan pembangunan di kawasan
Malioboro ?
Kuesioner Biro
1. Apakah anda mengetahui revitalisasi media iklan luar ruang di kawasan
Malioboro, atau titik 0 hingga Tugu
2. Apakah anda mengetahui tentang PP reklame seni instalasi?
3. Masukan apa yang pernah anda berikan tentang reklame seni instalasi.
Download