Uploaded by User25142

LP%20Aman%20Nyaman1

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN
KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN
KLINIK RONA HUSADA
PERIODE TANGGAL 04 JANUARI 2020
Oleh :
NAMA
: HANIB MIFTAKUL JANAH
NIM
: 192303101059
PRODI D3 KEPERAWATAN KAMPUS LUMAJANG
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
LAPORAN PENDAHULUAN
1.
Konsep Kebutuhan Dasar Manusia Rasa Aman & Nyaman
A. Definisi
Keamanan adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa
juga keadaan aman dan tentram (Potter& Perry, 2006). Kebutuhan akan
keselamatan atau keamanan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya
fisik. Ancaman terhadap keselamatan seseorang dapat dikategorikan sebagai
ancaman mekanis, kimiawi, retmal dan bakteriologis. Kebutuhan akan ke aman
terkait dengan konteks fisiologis dan hubungan interpersonal. Keamanan
fisiologis berkaitan dengan sesuatu yang mengancam tubuh dan kehidupan
seseorang. Ancaman itu bisa nyata atau hanya imajinasi (misalnya: penyakit,
nyeri, cemas, dan sebagainya). Dalam konteks hubungan interpersonal bergantung
pada banyak faktor, seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengontrol
masalah, kemampuan memahami, tingkah laku yang konsisten dengan orang lain,
serta kemampuan memahami orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya.
Ketidaktahuan akan sesuatu kadang membuat perasaan cemas dan tidak aman
(Asmadi, 2005).
Kolcaba
(1992,
dalam
Potter
&
Perry,
2005)
mengungkapkan
kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang
meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan
transenden (keadaan tentang sesuatu yang melebihi masalah atau nyeri).
Kenyamanan mesti dipandang secara holistik yang mencakup empat aspek yaitu:
1. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.
2. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial.
3. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri sendiri
yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan).
4. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman eksternal
manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna, dan unsur alamiah lainnya.
B. Keseimbangan /Nilai Normal
Metode pengukuran skala nyeri meliputi Numeric Rating Scale (NRS),Verbal
Rating Scale (VRS), Visual Analog Scale (VAS), dan Wong Baker FACES Pain
Rating Scale adalah sebagai berikut :
1) Numeric Rating Scale (NRS)
Numeric Rating Scale (NRS)ini didasari pada skalaangka 1-10 untuk
menggambarkan kualitas nyeri yang dirasakan pasien. Skala numerik dari 0
hingga 10, nol (0) merupakan keadaan bebas nyeri, sedangkan angka sepuluh
(10) suatu nyeri yang sangat berat.
2) Verbal Rating Scale (VRS)
Skala ini menggunakan dua ujung yang sama, skala verbal menggunakan katakata dan bukan garis atau angka untuk menggambarkan tingkat nyeri. Skala
yang digunakan dapat berupa tidak ada nyeri, sedang, parah.
Gambar 2.2
VerbalRating Scale ( V R S)
3) Visual Analog Scale (VAS)
Visual Analog Scale (VAS) memiliki rentang nyeri berupa garis panjang 10
cm, tanda pada kedua ujung garis ini dapat berupa angka atau pernyataan
deskriptif. Ujung satu berupa pernyataan tidak ada nyeri, sedangkan ujung
yang lain berupa rasa nyeri berat, skala nyeri ini dibuat vertikal atau
horizontal.
4) Wong Baker FACES Pain Rating Scale
Skala nyeri ini mudah untuk dilakukan karena hanya dengan melihat ekspresi
wajah pasien pada saat bertatap muka tanpa kita menanyakan keluhannya.
Skala ini menunjukkan serangkaian wajah mulai dari wajah gembira pada 0,
tidak ada sakit sampai wajah meringgis di skala 10 yang menggambarkan sakit
terburuk.
C. Organ Pengatur
D. Ketidakseimbangan dan Jenis-jenisnya
Jenis dasar risiko terhadap keamanan klien di dalam lingkungan pelayanan
kesehatan adalah jatuh, kecelakaan yang disebabkan oleh klien, kecelakaan yang
disebabkan oleh prosedur, dan kecelakaan yang disebabkan oleh penggunaan alat.
(Potter & Perry, 2005).
1. Jatuh
Jatuh merupakan 90% jenis kecelakaan yang dilaporkan dari seluruh
kecelakaan yang terjadi di rumah sakit. Risiko jatuh lebih besar dialami
oleh klien lansia. Selain usia, riwayat jatuh terdahulu, masalah pasa sikap
berjalan dan mobilisasi, hipotensi postural, perubahan sensorik, disfungsi
saluran dan kandung kemih, dan beberapa kategori diagnose tertentu
seperti kanker, penyakit kardiovaskuler, neurologi, dan penggunaan obatobatan dan interaksi obat juga dapat menyebabkan jatuh modifikasi dalam
lingkungan pelayanan kesehatan dengan mudah mengurangi risiko jatuh.
2. Kecelakaan yang disebabkan klien
Kecelakaan yang disebabkan klien adalah kecelakaan sealin jatuh dimana
klien menjadi faktor penyebab yang utama. Contoh kecelakaan yang
disebabkan klien antara lain luka, cedera, dan luka bakar yang disebabkan
oleh diri sendiri, menelan atau menyuntikkan substansi asing, memotong
atau membakar diri, dan jari yang kejepit pada laci atau pintu.
3. Kecelakaan yang disebabkan prosedur
Kecelakaan yang disebabkan prosedur terjadi selama terapi. Hal ini
meliputi kesalahan pemberian medikasi dan cairan, penggunaan peralatan
eksternal yang tidak tepat, kecelakaan karena cara melaksanaka prosedur
yang tiak tepat, seperti saat menggantikan balutan.
4. Kecelakaan yang disebabkan peralatan
Kecelakaan yang disebabkan peralatan terjadi karena alat yang digunakan
tida berfungsi, rusak, atau salah digunakan, atau disebabkan karena bahaya
akibat listrik.
Menurut (Mardella, Ester, Riskiyah, & Mulyaningrum, 2013) Gangguan rasa
nyaman dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Nyeri Akut
Nyeri akut merupakan keadaan seseorang mengeluh ketidaknyamanan dan
merasakan sensasi yang tidak nyaman, tidak menyenangkan selama 1 detik
sampai dengan kurang dari enam bulan.
2. Nyeri kronis
Nyeri kronis adalah keadaan individu mengeluh tidak nyaman dengan
adanya sensasi nyeri yang dirasakan dalam kurun waktu yang lebih dari
enam bulan.
3. Mual
Mual merupakan keadaan pada saat individu mengalami sensai yang tidak
nyaman pada bagian belakang tenggorokan, area epigastrium atau pada
seluruh bagian perut yang bisa saja menimbulkan muntah atau tidak.
E. Faktor Yang Mempengaruhi Keamanan dan Kenyamanan
1. Emosi
Kecemasan, depresi, dan marah akan mudah terjadi dan mempengaruhi
keamanan dan kenyamanan.
2. Status mobilisasi
Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot, dan kesadaran menurun
memudahkan terjadinya risiko injury.
3. Gangguan persepsi sensory
Mempengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yang berbahaya seperti
gangguan penciuman dan penglihatan.
4. Keadaan imunitas
Gangguan ini akan menimbulkan daya tahan tubuh kurang sehingga mudah
terserang penyakit.
5. Tingkat kesadaran
Pada pasien koma, respons akan menurun terhadap rangsangan, paralisis,
disorientasi, dan kurang tidur.
6. Informasi atau komunikasi
7. Gangguan komunikasi seperti aphasia atau tidak dapat membaca dapat
menimbulkan kecelakaan.
8. Gangguan tingkat pengetahuan
Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi
sebelumnya.
9. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional
Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan anafilaktik syok.
10. Status nutrisi
Keadaan kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan mudah
menimbulkan penyakit, demikian sebaliknya dapat berisiko terhadap penyakit
tertentu.
11. Usia
Pembedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia anak-anak
dan lansia mempengaruhi reaksi terhadap nyeri.
12. Jenis kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam merespon
nyeri dan tingkat kenyamanannya.
13. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara individu mengatasi
nyeri dan tingkat kenyaman yang mereka punyai.
F. Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara lengkap dan menyeluruh.
1) Ukur suhu tubuh, tekanan darah, nadi, serta tinggi dan berat badan pada setiap
pemeriksaan.
2) Amati seluruh tubuh pasien untuk melihat keberadaan lesi kulit, hiperpigmentasi,
ulserasi, tanda bekas tusukan jarum, perubahan warna dan ada tidaknya oedema.
3) Lakukan pemeriksaan status mental untuk mengetahui orientasi pasien, memori,
komprehensi, kognisi dan emosi pasien terutama sebagai akibat dari nyeri.
4) Pemeriksaan sendi selalu lakukan pemeriksaan di kedua sisi pasien apabila
kemungkinan untuk mendeteksi adanya asimetri. Lakukan palpasi untuk mengetahui
area spesifik dari nyeri.
5) Pemeriksaan sensorik, menggunakan diagram tubuh sebagai alat bantu dalam
menilai nyeri terutama untuk menentukan letak dan etiologi nyeri.
G. Penatalaksanaan
1. Penanganan nyeri farmakologis
a. Analgesik narkotik
Analgesik narkotik terdiri dari berbagai derivate opium seperti morfin dan kodein.
Narkotik dapat memberikan efek penurunan nyeri dan kegembiraan karena obat ini
mengaktifkan penekan nyeri endogen pada susunan saraf pusat. Namun penggunaan
obat ini menimbulkan efek menekan pusat pernapasan di medulla batang otak
sehingga perlu pengkajian secara teratur terhadap perubahan dalam status pernapasan
jika menggunakan analgesik jenis ini (Wahyudi & Abd.Wahid, 2016).
b) Analgesik non narkotik
Analgesik non narkotik seperti aspirin, asetaminofen, dan ibuprofen selain memiliki
efek anti nyeri juga memiliki efek anti inflamasi dan anti piretik. Obat golongan ini
menyebabkan penurunan nyeri dengan menghambat produksi prostalglandin dari
jaringan yang mengalami atau inflamasi.
2. Penanganan nyeri non farmakologis
a) Distraksi
Distraksi adalah memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain nyeri, atau dapat
diartikan lain bahwa distraksi adalah suatu tindakan pengalihan perhatian pasien ke
hal-hal di luar nyeri.
b) Relaksasi
Relaksasi adalah suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik dari ketegangan
dan stres sehingga dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri. Teknik relaksasi yang
sederhana terdiri atas napas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Pasien dapat
memejamkan matanya dan bernapas dengan perlahan dan nyaman.
c) Imajinasi terbimbing
Imajinasi terbimbing adalah menggunakan imajinasi seseorang dalam suatu cara yang
dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif tertentu. Tindakan ini
membutuhkan konsentrasi yang cukup.
II. Konsep Asuhan Keperawatan Gangguan Kebutuhan Dasar
A. Pengkajian
1.
Anamnesa
2. Pemeriksaan Fisik
Pada kebutuhan keamanan, pengkajian menunjukkan pengelompokan data yang
mengidentifikasi klien mempunyai risiko keamanan yang aktual atau potensial.
Sedangkan pengkajian pada masalah nyeri seperti lokasi nyeri, intensitas nyeri,
kualitas dan waktu serangan. Pengakajian dapat dilakukan dengan cara PQRST yaitu:
Pemacu, yaitu faktor yang mempengaruhi gawat/ringannya nyeri
Quality, dari nyeri, seperti rasa tajam, tumpul atau tersayat
Region, yaitu daerah perjalanan nyeri
Severity, adalah keparahan atau intensitas nyeri
Time, lama/waktu serangan atau frekuensi nyeri.
3. Pemeriksaan Penunjang (Lab, Rontgent, USG, dll)
B. Diagnosa Keperawatan Utama
1.
Definisi/Pengertian
Nyeri akut: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau yang digambarkan sebagai
kerusakan(international association for the study of pain) ;awitan yang tiba-tiba atau
lambat dengan intensitas ringan hingga berat, dengan berakhirnya dapat diantisipasi
atau diprediksi, dan dengan durasi kurang dari 3 bulan.
2.
Batasan Karakteristik
-
Perubahan selera makan
-
Perubahan pada parameter fisiologis
-
Diaforesis
-
Perilaku distraksi
-
Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien yang
tidak dapat mengungkapkannya.
-
Perilaku ekspresi
-
Ekspresi wajah nyeri
-
Sikap tubuh melindungi
-
Putus asa
-
Fokus menyempit
-
Sikap melindungi area nyeri
-
Perilaku protektif
-
Laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas
-
Dilatasi pupil
-
Fokus pada diri sendiri
-
Keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri
-
Keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan instrumen nyeri
3. Faktor Yang Berhubungan
-
Agens cedera biologis
-
Agens cedera kimiawi
-
Agens cedera fisik
C. Planning/Rencana Tindakan Keperawatan
1. Tujuan dan Kriteria hasil
a. Nyeri terkontrol
b. Tingkat nyeri dipantau secara reguler
c. Efek samping obat terpantau
d. Mengambil tindakan mengambil tindakan untuk mengurangi nyeri.
e. Mengambil tindakan untuk memberikan kenyamanan
f. Manajemen nyeri sesuai dengan keyakinan budaya.
2. Intervensi dan Rasional
Manajemen nyeri:
a. lakukan
pengkajian
nyeri
komprehensif
yang
meliputi
lokasi
,
karakteristik,onset/durasi, frekuensi dan kualitas ,intensitas serta apa yang
mengurangi nyeri dan faktor yang memicu.
b. Identifikasi intensitas nyeri selama pergerakan misalnya aktivitas yang diperlukan
untuk pemulihan (batuk dan nafas dalam ambulasi, transfer ke kursi)
c. Eksplorasi pengetahuan dan kepercayaan mengenai nyeri, meliputi pengaruh
budaya.
d. Monitor nyeri menggunakan alat pengukur yang valid dan reliabel sesuai usia dan
kemampuan berkomunikasi.
e. Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan terutama pada
mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif.
f. Tanyakan pasien terkait dengan tingkat nyeri yang tetap nyaman dan fungsi yang
usaha untuk menjaga nyeri pada level yang lebih rendah ah daripada nyeri yang
terindentifikasi.
g. Yakinkan bahwa pasien menerima perawatan analgesik yang tepat sebelum nyeri
menjadi lebih parah atau sebelum aktifitas yang akan memicu nyeri.
h. Pilih dan implementasikan pilihan intervensi yang sesuai dengan keuntungan dan
risiko yang diinginkan pasien ( misalnya nya farmakologi, nonfarmakologi,
interpersonal) untuk memfasilitas menurunnya nyeri dengan tepat.
D. Masalah Keperawatan Lain Yang Bisa Terjadi
DAFTAR PUSTAKA
Kasiati dan Ni Wayan Dwi Rosmalawati.2016.Kebutuhan Dasar Manusia I. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Butcher, Howard K. 2018. Nursing Intervention Classification (NIC). Yogyakarta :Mocomedia.
Moorhead, Sue. 2018. Nursing Outcomes Classification (NOC). Yogyakarta :Mocomedia.
.2017. NANDA-I Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-2020. Jakarta:Buku Kedokteran
EGC.
Atifah, N. (2020). STUDI DOKUMENTASI GAMBARAN GANGGUAN RASA AMAN NYAMAN (NYERI)
PADA PASIEN DENGAN KANKER SERVIKS. Akademi Keperawatan YKY Yogyakarta.
Download