Uploaded by sajawandilabib

kumpulan materi kualitatif

advertisement
MAKALAH PARADIGMA POST-POSITIVISME
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Pendidikan belakangan ini mengalami kondisi yang memprihatinkan, dengan maraknya
tawuran antar remaja di berbagai kota ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang cenderung
anarkis, meningkatnya penyalahgunaan narkoba, dan suburnya pergaulan bebas di kalangan
pelajar adalah bukti bahwa pendidikan telah gagal membentuk akhlak anak didik. Pendidikan
selama ini memang telah melahirkan alumnus yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan
formal yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan yang ada tidak berhasil menanamkan nilai-nilai
kebajikan atau karakter yang baik. Dapat di lihat di berapa banyak lulusan pendidikan memiliki
kepribadian yang justru merusak diri mereka. Tampak dunia pendidikan di Indonesia masih perlu
perbaikan karena sekarang ini yang dikejar hanya gelar dan angka. Bukan hal mendasar yang
membawa peserta didik pada kesadaran penuh untuk mencari ilmu pengetahuan dalam menjalani
realitas kehidupan. Pendidikan semacam itu tidak terjadi di negeri ini sebab orientasinya sematamata sebagai sarana mencari kerja. Kenyataannya yang dianggap sukses dalam pendidikan adalah
mereka yang dengan sertifikat kelulusannya berhasil menduduki posisi pekerjaan yang
menjanjikan gaji tinggi. sementara nilai-nilai akhlak dan budi pekerti menjadi `barang langka’ bagi
dunia pendidikan.
Pendidikan juga masih menghasilkan lulusan berakhlak buruk seperti suka menang sendiri,
pecandu narkoba dan hobi tawuran, senang curang dan tidak punya kepekaan sosial, atau gila harta
dan serakah. Kegagalan pendidikan bukan hanya diukur dari standar pemenuhan lapangan kerja.
Masalah yang lebih besar adalah pendidikan kita belum bisa menghasilkan lulusan yang berakhlak
mulia. Ahmad Tafsir menegaskan, bangsa-bangsa yang dimusnahkan Tuhan bukan karena tidak
menguasai
iptek
atau
kurang
pandai,
namun
karena
buruknya
akhlak.
Karena itu, mengutip kata-kata bijak para filosof, pendidikan sejatinya ditujukan untuk membantu
memanusiakan manusia. Pendidikan tersebut harus mencakup unsur jasmani, rohani dan kalbu.
Implementasi ketiga unsur itu dalam format pendidikan niscaya menghasilkan lulusan dengan nilai
kemanusiaan yang tinggi. Hanya saja, kita melihat pendidikan di Indonesia sangat jauh dari yang
diharapkan bahkan jauh tertinggal dengan Negara-negara berkembang lainnya. Hal ini setidaknya
dapat dilihat dari rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan. Pendek kata, pendidikan kita belum
mampu mengantarkan anak didik pada kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Padahal, manusia
adalah pelaku utama dalam proses pendidikan. Pentingnya Suatu Penentuan Filsafat dalam
Pendidikan :Dr. Omar Muhammad al-Taumy al-Syaibani mengemukakan pentingnya penentuan
suatu falsafat bagi pendidikan sebagai berikut, Filsafat pendidikan itu dapat menolong perancangperancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakan pendidikan dalam suatu negara untuk
membentuk pemikiran yang sehat terhadap proses pendidikan. Post positivisme merupakan aliran
yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang hanya mengandalkan
kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran ini bersifat
critical realisme yang memandang bahwa realitas memang Fisafat sikap atau pandangan hidup dan
sebuah bidang terapan unuk membantu individu untuk mengevaluasi keberadaanya dengan cara
memuaskan. Filsafat Post Positivisme lawan dari positivisme yaitu cara berpikir yg subjektif
Asumsi terhadap realitas: there are multiple realities (realitas jamak), Kebenaran subjektif dan
tergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan. Natural dan lebih
manusiawi.[1]
Di samping itu dapat menolong terhadap tujuan-tujuan dan fungsi-fungsinya serta
meningkatkan mutu penyelesaian masalah pendidikan; Filsafat pendidikan dapat membentuk azas
yang khamenyangkut kurikulum, metode, alat-alat pengajaran, dan lain-lain. Filsafat pendidikan
menjadi azas terbaik untuk mengadakan penilaian pendidikan dalam arti menyeluruh. Penilaian
pendidikan meliputi segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah dan institusi-institusi
pendidikan.
Filsafat pendidikan dapat menjadi sandaran intelektual bagi para pendidik untuk membela
tindakan-tindakan mereka dalam bidang pendidikan. Dalam hal ini juga sekaligus untuk
membimbing pikiran mereka di tengah kancah pertarungan filsafat umum yang mengusasi dunia
pendidikan. Filsafat pendidikan positivisme akan membantu guru sebagai pendidik untuk
pendalaman pikiran bagi penyusunan kurikulum dan pembelajaran serta pendidikan siswanya di
sekolah dan mengaitkannya dengan factor-faktor spiritual, social, ekonomi, budaya dan lain-lain,
dalam berbagai bidang kehidupan untuk menciptakan insane yang sempurna baik lahir maupun
batinnya, hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menyusun makalah yang membahas
mengenai “ Peran Post positivisme dalam pendidikan.[2]
B.
1.
2.
3.
C.
1.
2.
3.
Rumusan Masalah.
Apa yang dimaksud dengan Post-Positivisme?
Bagaimana Paradigma Post-Positivisme ?
Bagaimana Asumsi dasar Post-Positivisme?
Tujuan Penulis
Mengetahui apa itu Post-Positivisme
Mengetahui Bagaimana Post-Positivisme
Mengetahui Bagaimana Post-Positivisme
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Post-Positivisme.
Filsafat Post Positivisme lawan dari positivisme yaitu cara berpikir yang subjektif Asumsi
terhadap realitas: there are multiple realities (realitas jamak), Kebenaran subjektif dan tergantung
pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan. Natural dan lebih manusiawi. Post
Positivisme lawan dari positivisme: cara berpikir yg subjektif Asumsi thd realitas: there are
multiple realities (realitas jamak), Kebenaran subjektif dan tergantung pada konteks value, kultur,
tradisi, kebiasaan, dan keyakinan. Natural dan lebih manusiawi.
Munculnya gugatan terhadap positivisme di mulai tahun 1970-1980an. Pemikirannya
dinamai “post-positivisme”. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para filsuf mazhab
Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry). Paham ini menentang positivisme, alasannya tidak
mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia
tidak bisa di prediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah
karena.
Post positivisme juga merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan
positivisme yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang
diteliti. Secara ontologis aliran ini bersifat critical realism yang memandang bahwa realitas
memang ada dalam kenyataan, sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal yang mustahil bila suatu
realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis
pendekatan eksperimental melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode
triangulation yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori. Post
positivisme merupakan sebuah aliran yang datang setelah positivism dan memang amat dekat
dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang membedakan antara keduanya bahwa
post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan.
Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme yang dianggap memiliki kelemahankelemahan, dan dianggap hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek
yang diteliti. Secara ontologis aliran post-positivisme bersifat critical realism dan menganggap
bahwa realitas memang ada dan sesuai dengan kenyataan dan hukum alam tapi mustahil realitas
tersebut dapat dilihat secara benar oleh peneliti. Secara epistomologis: Modified
dualist/objectivist, hubungan peneliti dengan realitas yang diteliti tidak bisa dipisahkan tapi harus
interaktif dengan subjektivitas seminimal mungkin. Secara metodologis adalah modified
experimental/ manipulatif.[3]Post positivisme merupakan sebuah aliran yang datang setelah
positivisme dan memang amat dekat dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang
membedakan antara keduanya bahwa post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi
terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu
ilmu memang betul mencapai objektivitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan
berbagai cara menyamaratakan.[4]
Kesadaran berilmu pengetahuan yg pertama-tama adalah kesadaran manusia tentang objekobjek intensional. Dua arti objek intensional: semantik dan ontologik. Makna semantik intensional:
bila tidak dapat ditampilkan rumusan equivalennya (satu makna). Ontologik: sesuatu dikatakan
intensional bila kesamaan identitas tidak menjamin untuk dikatakan equivalen atau identik Inti
Pemikiran Husserl. Hubungan antara peneliti dengan realitas harus bersifat interaktif, untuk itu
perlu
menggunakan
prinsip trianggulasi,
yaitu penggunaan bermacammacam metode, sumber data, data, dan lain-lain. Paradigma ini merupakan aliran yang ingin
memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme, yang hanya mengandalkan kemampuan
pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran ini bersifat critical
realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum
alam, tetapi satu hal yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia
(peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi
tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation, yaitu penggunaan bermacammacam metode, sumber data, peneliti, dan teori.
BagaimanaMunculnya gugatan terhadap positivisme di mulai tahun 1970-1980an.
Pemikirannya dinamai “post-positivisme”. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para filsuf
mazhab Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry). Paham ini menentang positivisme, alasannya
tidak mungkin ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa
di prediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah. Observasi
yang didewakan positivisme dipertanyakan netralitasnya, karena observasi dianggap bisa saja
dipengaruhi oleh persepsi masing-masing orang. Proses dari positivisme ke post-positivisme
melalui kritikan dari tiga hal yaitu :
1) Observasi sebagai unsur utama metode penelitian
2) Hubungan yang kaku antara teori dan bukti. Pengamat memiliki sudut pandang yang berbeda dan
teori harus mengalah pada perbedaan waktu,
3)Tradisi keilmuan yang terus berkembang dan dinamis (Salim, 2001).
Filsafat post positivisme tehadap dalam Pendidikan indonesia post positivisme adalah
suatu penggerak ide yang menggantikan ide2 positivisme post positivisme memiliki cita-cita ingin
meninggkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran dan akan peristiwa sejarah dan
perkembangan dalam bidang pendidikan Filsafat post positivisme agar pendidikan tidak hanya
kejadian atau hal-hal yang dapat dibuktikan secara impiris atau dapat dilihat melainkan
menggambugkan antara yang dilihat dan dirasakan contoh pendidikan berkarakter itu akan
berjalan dengan baik dan memberi dampak yang positip, dilihat bukan hanya materi dalam
pembelajaran melainkan ada juga dari prilaku adri guru, keluarga, dan lingkungan serta emosi
anak.
B. Paradigma Post-Positivisme.
Dalam proses keilmuan, paradigma keilmuan memegang peranan yang penting. Fungsi
paradigma ilmu adalah memberikan kerangka, mengarahkan, bahkan menguji konsistensi dari
proses keilmuan. Menurut Thomas Kuhn, paradigma sebagai seperangkat keyakinan mendasar
C.
1.
2.
3.
4.
1)
2)
yang memandu tindakan-tindakan kita, baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan
ilmiah.
Denzin & Lincoln (1994:105) mendefinisikan paradigma sebagai: “Basic belief system or
worldview that guides the investigator, not only in choices of method but in ontologically and
epistomologically fundamental ways.”Pengertian tersebut mengandung makna paradigma
adalah sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya
dalam memilih metode tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan
epistomologis.
Asumsi dasar Post-Positivisme
Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori. ( falibilitas teori tidak satupun teori yang
dapat dijelakan dengan bukti-bukti2 empiris bukti empiris kemungkinan menunjukan fakta
anomali)
Fakta
tidak
bebas,
melainkan
penuh
dengan
nilai
(Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif,
melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantia
sa berubah)
Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual. (Hal itu berarti bahwa
realitas (perilaku manusia) tidak tunggal, melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri
menurut unit tindakan yang bersangkutan)
Fokus kajian post-positivisme adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari
sebuah keputusan. [5]
Ada empat pertanyaan dasar yang akan memberikan gambaran tentang posisi aliran postpositivisme yaitu
dalam kancah paradigma ilmu pengetahuan, yaitu:Bagaimana sebenarnya posisi postpositivisme
di antara paradigma-paradigma ilmu yang lain? Apakah ini merupakan bentuk lain dari positivisme
yang posisinya lebih lemah? Atau karena aliran ini datang setelah positivisme sehingga dinamakan
postpositivisme? Harus diakui bahwa aliran ini bukan suatu filsafat baru dalam bidang keilmuan,
tetapi memang amat dekat dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang membedakan
antara keduanya bahwa postpositivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu
temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu ilmu memang
betul mencapai objektivitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan berbagai cara.
Bukankah postpositivisme bergantung pada paradigma realisme yang sudah sangat tua dan usang?
Dugaan ini tidak seluruhnya benar. Pandangan awal aliran positivisme (old-positivism) adalah anti
realis, yang menolak adanya realitas dari suatu teori. Realisme modern bukanlah kelanjutan atau
luncuran dari aliran positivisme, tetapi merupakan perkembangan akhir dari pandangan
postpositivisme.
3)
banyak postpositivisme yang berpengaruh yang merupakan penganut realisme. Bukankah ini
menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui adanya sebuah kenyataan (multiple realities) dan
setiap masyarakat membentuk realitas mereka sendiri? Pandangan ini tidak benar karena
relativisme tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari dalam dunia ilmu. Yang pasti
postpositivisme mengakui bahwa paradigma hanyalah berfungsi sebagai lensa bukan sebagai
kacamata. Selanjutnya, relativisme mengungkap bahwa semua pandangan itu benar, sedangkan
realis hanya berkepentingan terhadap pandangan yang dianggap terbaik dan benar.
Postpositivisme menolak pandangan bahwa masyarakat dapat menentukan banyak hal sebagai hal
yang nyata dan benar tentang suatu objek oleh anggotanya.
4) karena pandangan bahwa persepsi orang berbeda, maka tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti.
Bukankah postpositivisme menolak kriteria objektivitas? Pandangan ini sama sekali tidak bisa
diterima. Objektivitas merupakan indikator kebenaran yang melandasi semua penyelidikan. Jika
kita menolak prinsip ini, maka tidak ada yang namanya penyelidikan. Yang ingin ditekankan di
sini bahwa objektivitas tidak menjamin untuk mencapai kebenaran. Postpositivisme.[6]
Guba (1990:20) menjelaskan Postpositivisme sebagai berikut: “Postpositivism is best
characterized as modified version of positivism. Having assessed the damage that positivism has
occured, postpositivists strunggle to limited that damage as well as to adjust to it. Prediction and
control continue to be the aim.”Kutipan tersebut mempunyai arti Postpositivisme mempunyai ciri
utama sebagai suatu modifikasi dari Positivisme. Melihat banyaknya kekurangan pada Positivisme
menyebabkan para pendukung Postpositivisme berupaya memperkecil kelemahan tersebut dan
menyesuaikannya. Prediksi dan kontrol tetap menjadi tujuan dari Postpositivisme tersebut.”
Salim (2001:40) menjelaskan Postpositivisme sebagai berikut: Paradigma ini merupakan
aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan Positivisme yang hanya mengandalkan
kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologi aliran ini bersifat
critical realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan
hukum alam, tetapi suatu hal, yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh
manusia (peneliti). Oleh karena itu secara metodologi pendekatan eksperimental melalui metode
triangulation yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.
Selanjutnya dijelaskan secara epistomologis hubungan antara pengamat atau peneliti
dengan objek atau realitas yang diteliti tidaklah bisa dipisahkan, tidak seperti yang diusulkan aliran
Positivisme. Aliran ini menyatakan suatu hal yang tidak mungkin mencapai atau melihat
kebenaran apabila pengamat berdiri di belakang layar tanpa ikut terlibat dengan objek secara
langsung. Oleh karena itu, hubungan antara pengamat dengan objek harus bersifat interaktif,
dengan catatan bahwa pengamat harus bersifat senetral mungkin, sehingga tingkat subjektivitas
dapat dikurangi secara minimal (Salim, 2001:40).
Dari pandangan Guba maupun Salim yang juga mengacu pandangan Guba, Denzin dan
Lincoln dapat disimpulkan bahwa Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki
kelemahan pada Positivisme. Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa
realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam.[7] Tetapi pada sisi lain. Postpositivisme
berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti
membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. Hubungan antara
peneliti dengan realitas harus bersifat interaktif, untuk itu perlu menggunakan prinsip trianggulasi
yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, data, dan lain-lain. Salah satu indikator
yang membedakan antara keduanya bahwa postpositivisme lebih mempercayai proses verifikasi
terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu
ilmu memang betul mencapai objektifitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan
berbagai cara. Kedua, Bukankah postpositivisme bergantung pada paradigma realisme yang sudah
sangat tua dan usang? Dugaan ini tidak seluruhnya benar. Pandangan awal aliran positivisme (oldpositivism) adalah anti realis, yang menolak adanya realitas dari suatu teori. Realisme modern
bukanlah kelanjutan atau luncuran dari aliran positivisme, tetapi merupakan perkembangan akhir
dari pandangan postpositivisme.[8] Ketiga, banyak postpositivisme yang berpengaruh yang
merupakan penganut realisme. Bukankah ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui adanya
sebuah kenyataan (multiple realities) dan setiap masyarakat membentuk realitas mereka sendiri?
Pandangan ini tidak benar karena relativisme tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari dalam
dunia ilmu. Yang pasti postpositivisme mengakui bahwa paradigma hanyalah berfungsi sebagai
lensa bukan sebagai kacamata. Selanjutnya, relativisme mengungkap bahwa semua pandangan itu
benar, sedangkan realis hanya berkepentingan terhadap pandangan yang dianggap terbaik dan
benar. Postpositivisme menolak pandangan bahwa masyarakat dapat menentukan banyak hal
sebagai hal yang nyata dan benar tentang suatu objek oleh anggotanya. Keempat, karena
pandangan bahwa persepsi orang berbeda, maka tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti.
Bukankah postpositivisme menolak kriteria objektivitas? Pandangan ini sama sekali tidak bisa
diterima. Objektivitas merupakan indikator kebenaran yang melandasi semua penyelidikan Untuk
mengetahui lebih jauh tentang postpositivisme empat pertanyaan dasar berikut, akan memberikan
gambaran tentang posisi aliran ini dalam kancah paradigma ilmu pengetahuan ; Pertama,
Bagaimana sebenarnya posisi postpositivisme di antara paradigma-paradigma ilmu yang lain?
Apakah ini merupakan bentuk lain dari positivisme yang posisinya lebih lemah? Atau karena aliran
ini datang setelah positivisme sehingga dinamakan postpositivisme? Harus diakui bahwa aliran ini
bukan suatu filsafat baru dalam bidang keilmuan, tetapi memang amat dekat dengan paradigma
positivisme Jika kita menolak prinsip ini, maka tidak ada yang namanya penyelidikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat Post Positivisme lawan dari positivisme yaitu cara berpikir yg subjektif Asumsi
terhadap realitas: there are multiple realities (realitas jamak), Kebenaran subjektif dan tergantung
pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan. Natural dan lebih manusiawi. Post
Positivisme lawan dari positivisme: cara berpikir yg subjektif Asumsi thd realitas: there are
multiple realities (realitas jamak), Kebenaran subjektif dan tergantung pada konteks value, kultur,
tradisi, kebiasaan, dan keyakinan. Natural dan lebih manusiawi.Post-positivisme merupakan
perbaikan positivisme yang dianggap memiliki kelemahan-kelemahan, dan dianggap hanya
mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti.
Dalam proses keilmuan, paradigma keilmuan memegang peranan yang penting. Fungsi
paradigma ilmu adalah memberikan kerangka, mengarahkan, bahkan menguji konsistensi dari
proses keilmuan. Menurut Thomas Kuhn, paradigma sebagai seperangkat keyakinan mendasar
yang memandu tindakan-tindakan kita, baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan
ilmiah.Asumsi dasar Post-Positivisme antara lain yaitu :
1. Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori.
2. Fakta tidak bebas, melainkan penuh dengan nilai.
3. Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif,
melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantia
sa berubah.
4. Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
5. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal, melainkan hanya bisa menjelaskan
dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
B. Saran
Dalam mempelajari pengetahuan, kita dianjurkan untuk mempelajari filsafat degan
berbagai macam cabang ilmunya. Karena dengan cara kerja yan bersifat sistematis, universal
(menyeluruh) dan radikal, yang mengupas, menganalisa sesuatu secara mendalam, ternya sangat
relavan dengan problematika hidup dan kehidupan manusia serta mampu menjadi perekat antara
berbagai disiplin ilmu yng terpisah kaitan satu sama lain. Dengan demikian, menggunakan analisa
filsafat, berbagai macam disiplin yang berkembang sekarang ini, akan menentukan kembali
relevansinya dengan hidup dan kehidupan masayrakat adan akan lebih mampu lagi meninggkatkan
fungsi bagi kesajrahan hidup manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hakim Atang, Filsafat umum Pustaka setia : Bandung, 2009
Mustansyi Rizal dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010
Santoso Purwo, Membedah M etodologi Ilmu Politik, (Yogyakarta, UGM 2012)
Gaffar Afan, Bahan ajar mata kuliah Skope dan Metodologi Ilmu Politik Yogyakarta, 1989
[1] Atang Abdul Hakim, Filsafat umum (Pustaka setia : Bandung, 2009) , h. 24
[2]Ibid
[3]Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2010), h. 87
[4]Ibid
[5]Ibid
[6]Afan Gaffar, Bahan ajar mata kuliah Skope dan Metodologi Ilmu
Politik(Yogyakarta, 1989) h. 4
[7] Ibid
[8]Purwo Santoso, Membedah Metodologi Ilmu Politik, (Yogyakarta, UGM 2012) h.45
PARADIGMA KRITIS
Ilmu komunikasi dapat dikategorikan dalam ilmu pengetahuan yang mempunyai
aktivitas penelitian yang bersifat multi paradigma. Ini berarti, ilmu komunikasi merupakan
bidang ilmu yang menampilkan sejumlah paradigma atau perspektif dasar pada waktu
bersamaan (Hidayat, 1999:431-446). Istilah paradigma sendiri dapat didefinisikan
sebagai:
“a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first principles…a world
view that defines, for its holder, the nature of the ‘world’…(Guba, dalam Denzin & Lincoln,
1994:107).
Paradigma merupakan orientasi dasar untuk teori dan riset. Pada umumnya suatu
paradigma keilmuan merupakan sistem keseluruhan dari berfikir. Paradigma terdiri dari
asumsi dasar, teknik riset yang digunakan, dan contoh seperti apa seharusnya teknik
riset yang baik. Ilmu sosial kritis sering dikaitkan dengan teori konflik, analisis feminis,
dan psikoterapi radikal serta dikaitkan dengan teori kritis yang pertama kali
dikembangkan oleh Frankfurt School di Jerman pada tahun 1930an. Ilmu sosial kritis
mendefinisikan ilmu sosial sebagai proses kritis penyelidikan yang melampaui ilusi
permukaanuntuk mengungkap struktur nyata di dunia material dalam rangka membantu
orang mengubah kyang lebih baik dari kondisi dan membangun dunia bagi diri mereka
sendiri (Neuman, 2013:123-124).
Paradigma kritis pada dasarnya adalah paradigma ilmu pengetahuan yang
meletakkan epistemologi kritik Marxisme dalam seluruh metodologi penelitiannya.
Fakta menyatakan bahwa paradigma kritis yang diinspirasikan dari teori kritis tidak bisa
melepaskan diri dari warisan Marxisme dalam seluruh filosofi pengetahuannya. Teori
kritis pada satu pihak merupakan salah satu aliran ilmu sosial yang berbasis pada ideide Karl Marx dan Engels (Denzin, 2000: 279-280).
Asumsi dasar dalam paradigma kritis berkaitan dengan keyakinan bahwa ada
kekuatan laten dalam masyarakat yang begitu berkuasa mengontrol proses komunikasi
masyarakat. Ini berarti paradigma kritis melihat adanya “realitas” di balik kontrol
komunikasi masyarakat. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang mempunyai
kekuatan kontrol tersebut? Mengapa mengontrol? Ada kepentingan apa?. Dengan
beberapa kalimat pertanyaan itu, terlihat bahwa teori kritis melihat adanya proses
dominasi dan marginalisasi kelompok tertentu dalam seluruh proses komunikasi
masyarakat. Hal ini menyatakan bahwa proses penyebaran dan aktivitas komunikasi
massa juga sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi politik masyarakat yang
bersangkutan.
Paradigma kritikal melihat bahwa pengkonstruksian suatu realitas itu dipegaruhi
oleh faktor kesejarahan dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan
media yang bersangkutan. Kritik sosial yang berkaitan dengan munculnya budaya massa
dimulai setidaknya sejak pertengahan abad ke-19, dan pada pertengahan abad ke-20
terjadi di Inggris dengan munculnya teori kritis (critical theory) yang lebih radikal (dan
populis) seperti yang disampaikan oleh Richard Hoggart, Raymond William, dan Stuart
Hall (McQuail, 2012:125).
Paradigma kritis lahir sebagai koreksi dari pandangan kontruktivisme yang kurang
sensitif pada proses produksi dan reprosuksi makna yang terjadi secara historis maupun
intitusional. Analisis teori kritis tidak berpusat pada kebenaran atau ketidakbenaran
sebuah
struktur
tata
bahasa,
simbol,
atau
proses
penafsiran
seperti
pada
konstruktivisme.
Paradigma kritis bersifat realism historis, sesuatu realitas diasumsikan harus
dipahami sebagai sesuatu yang plastis (tidak sebenarnya). Artinya realitas itu dibentuk
sepanjang waktu oleh sekumpulan faktor, seperti: sosial, politis, budaya, ekonomik, etnik,
dan gender; yang justru bahkan dikristalisasikan (direikasi) ke dalam serangkaian stuktur
yang sekarang ini (hal yang tidak sesuai) dianggap sebagai sesuatu yang “nyata”, dan ini
dianggap alamiah dan tetap (Pambayun, 2013:24-25)
Meskipun terdapat banyak keragaman tradisi kritik, semuanya sama-sama
memiliki tiga keistimewaan pokok. Pertama, tradisi ini mencoba memahami sistem yang
sudah dianggap benar, struktur kekuatan, dan keyakinan – atau ideologi – yang
mendominasi masyarakat, dengan pandangan tertentu di mana minat-minat disajikan
oleh struktur-struktur kekuatan tersebut. Kedua para ahli teori kritik pada umumnya
tertarik dengan membuka kondisi-kondisi sosial yang menindas dan rangkaian kekuatan
untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas dan lebih
berkecukupan. Memahami penindasan dalam menghapus ilusi-ilusi ideologi dan
bertindak mengatasi kekuatan-kekuatan yang menindas. Teori kritik yang ketiga,
menciptakan kesadaran untuk menghubungkan teori dan tindakan. Teori-teori tersebut
bersifat normatif dan bertindak untuk mendapatkan atau mencapai perubahaan dalam
kondisi-kondisi yang mempengaruhi masyarakat (Littlejohn dan Foss, 2011:68-69).
Dapat dikatakan bahwa pendekatan teori kritis pada dasarnya banyak dipengaruhi
oleh pemikiran Karl Marx. Bisa juga dikatakan bahwa gagasan-gagasan pemikiran Marx
ini merupakan gerakan Post Pencerahan, kebalikan dari jaman Pencerahan di abad 18
yang dipandang titik kulminasi rasionalisme barat yang yakin dengan individualisme dan
kebebasan universal (positivisme).
Max Horkheimer dan rekan-rekannya di Mazhab Frankfurt menjadikan pemikiran
Marx sebagai landasan mereka dalam mengkaji gejala, kasus dan permasalahan yang
ada di masyarakat. Mereka dapat dikatakan sebagai penginterpretasi pemikiran Marx dan
sedikit memodifikasinya sesuai dengan kajian mereka. Karena Marx sendiri misalnya
tidak menyinggung secara langsung atau barangkali sedikit membahas bagaimana peran
dan posisi media massa dan ranah komunikasi secara langsung.
Di era mahzab Frankfurt komunikasi mulai menjadi bagian penting dari teori
kritik dan kajian komunikasi massa menjadi lebih penting. Teori kritik berada dalam
paradigma modernis. Baik itu intelektual atau pandangan populer, ada sebuah
kepercayaan pada alasan yang dibangun melalui ilmu pengetahuan, bahwa individu
sebagai agen perubahan dan penemuan aspek-aspek budaya yang cuma-cuma. Ada
empat cabang kelompok teori kritik yang melanggar modernitas dengan cara yang
beragam : post-modernisme, post-kolonialisme, post-strukturalisme, dan kajian feminis
(Littlejohn & Foss, 2011:70).
Sebagian besar teori komunikasi kritis berhubungan dengan media terutama
karena kekuatan media untuk menyebarkan ideologi yang dominan dan kekuatannya
untuk mengungkapkan ideologi alternatif dan ideologi yang bertentangan. Menurut
McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (2012:72-75) ada lima cabang utama
teori kritis media. Pertama Marxisme klasik di mana menganggap terdapat ideologi
alternatif, idealis, dan terkadang utopis, tetapi tidak ada sebuah model ideal sistem sosial
yang bekerja dimanapun. Meskipun demikian terdapat dasar kesamaan yang cukup
untuk
menolak
ideologi
tersembunyi
dari
pluralisme
dan
fungsionalisme
konservatif. Kedua karakter politik dan ekonomi dari struktur dan organisasi media
secara nasional dan internasional, seperti Marxisme klasik menyalahkan kepemilikan
media bagi keburukan masyarakat di mana strategi operasional yang jauh dari netral dan
non-ideologis. Teoritis yang ketiga adalah Frankfurt, teori ini memandang media sebagai
cara untuk membangun dan mempromosikan pandangan alternatif dari budaya populer
komersial yang dominan. Cabang teori kritis yang keempat adalah teori hegemoni yang
merupakan dominasi ideologi palsu atau cara pikir terhadap kondisi sebenarnya.
Sedangkan teori kritis atau tradisi kritis yang kelima menurut McQuail adalah kajian
“penelitian budaya”. Tradisi ini sangat bergantung pada semiotik yang cenderung pada
pemaknaan budaya tentang hasil-hasil media, misalnya video, musik, iklan, dan film yang
masing-masing merupakan hasil produksi budaya.
Penelitian atau kajian budaya menjadi pendekatan yang sangat populer dan
berguna, dan pendekatan ini dapat digunakan untuk menggabungkan beberapa
pemahaman dari beragam pemikiran, salah satunya penelitian budaya dengan aplikasi
tertentu pada media – penelitian media feminis. Penelitian media massa lebih diletakkan
dalam kesadaran bahwa teks atau wacana dalam media massa mempunyai pengaruh
yang sedemikian rupa pada manusia. Seluruh aktivitas dan pemaknaan simbolik dapat
dilakukan dalam teks media massa. Pada dasarnya teks media massa bukan realitas
yang bebas nilai. Pada titik kesadaran pokok manusia, teks selalu memuat kepentingan.
Teks pada prinsipnya telah diambil sebagai realitas yang memihak. Tentu saja teks
dimanfaatkan untuk memenangkan pertarungan ide, kepentingan atau ideologi tertentu
kelas tertentu. Pada titik tertentu, teks media pada dirinya sudah bersifat ideologis
(Littlejohn dan Foss, 2011:183-217).
Posisi Teori Dalam
Penelitian Kualitatif dan
Kuantitatif
UNKNOWN 22.47 METODOLOGI
PENGERTIAN TEORI
Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat
fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk
menjelaskan dan meramalkan fenomena. (Sugiyono,2017,hlm.79)
Wiliam Wiersma (1986) dalam sugiyono bahwa, teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang
dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik.
Cooper and Schindler (2003), mengemukakan bahwa, teori adalah seperangkat konsep, definisi dan
proposisi yang tersusun secara sistematik sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan
fenomena.
Mark 1963, membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan
data empiris.
1. Teori yang deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif
tertentu ke arah data akan diterangkan.
2. Teori yang induktif: adalah cara menerangkan dari data ke arah teori.
3. Teori yang fungsional: di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara dua dan perkiraan teortis, yaitu data
mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Dari berbagai pendapat tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa teori adalah alur logika, yang
menerangkan konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis.
Secara umum teori mempunyai tiga fungsi yaitu:
1. Untuk menjelaskan (Explanation)
2. Untuk meramalkan (Prediction)
3. Pengendalian (Control) suatu gejala
Dalam bidang Administrasi Pendidikan Hoy dan Miskel (2001) mengemukakan definisi teori
sebagai berikut: theory in administration, however has the same role as theory in physics, chemistry, or
biology; that is providing general explanations and guiding research”. Selanjutnya didefinisikan bahwa
teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan
dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.
Tingkatan Dan Fokus Teori
Numan (2003) mengemukakan tingkatan teori (level of theory) menjadi tiga yaitu: micro, meso
dan macro.
1. Micro level theory; small slices of time, space or number of people, the concept are usually not very
abstract.
2. Meso level theory; attempts to link macro and micro levels or to operate at an intermediate level.
3. Macro level theory; concerns the operation of larger aggregates such as social instutions, entire culture
systems, and whole societies.
Kegunaan teori dalam penelitian
Cooper and Schindler (2003, kegunaan teori dalam penelitian adalah:
1. Theory narrows the range of fact we need to study
2. Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest meaning
3. Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most
meaningful way
4. Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond
immediate observation
5. Theory can be used to predict further fact that should be found.
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam
penelitian kuantitatif teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori disini akan berfungsi untuk
memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan berbagai referensi
untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian
kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.
Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:
1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
2. Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedia, jurnal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis,
dan disertasi) yang sebayak-bayaknya dan yang revelan dengan setiap variabel yang diteliti.
3. Liat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti.
4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber
dengan sumber lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan
buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa
sendiri.
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti sering kali menguji berbagai teori untuk menjawab rumusan
masalah yang dibuat. Teori dalam penelitian kuantitatif diletakkan dalam awal penelitian. Dalam
penelitian kualitatif, penggunaan teori lebih bervariasi lagi. Bahkan peniliti bualitatif dapat
mengembangkan suatu teori dari hasil penelitiannya dan meletakkan teori tersebut di akhir proyek
penelitiannya. Namun dapat juga teori ini muncul di awal penelitiannya sebagai pendangan yang nantinya
dapat membentuk apa yang ada dilapangan dan apa yang menjadi rumusan malah dalam penelitiannya.
Sedangkan dalam penelitian campuran, peneliti menguji atau justru membuat suatu teori pada suatu
perspektif teori.
B. TEORI DALAM PENELITIAN KUANTITATIF
1. Variabel-variabel dalam Penelitian Kuantitatif
Variabel merujuk pada karakteristik atau atribut seorang individu atau suatu organisasi yang
dapat diukur atau diobservasi. Seperti yang dikatakan oleh Sugiyono (2007) variable pada dasarnya adalah
segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Jenis-jenis variabel dalam penelitian
antara lain :
a. Variable bebas (independent variable) merupakan variable yang mungkin menyebabkan, memengaruhi,
atau berefek pada outcome. Variable juga dikenal dengan istilah variable treatment, manipulated,
antecedent, atau predictor.
b. Variable terikat (dependent variable) merupakan variabel yang bergantung pada variabel bebas. Variable
terikat ini merupakan outcome atau hasil dari pengaruh variable bebas. Istilah lain untuk variable terikat
adalah variabel criterion, outcome, effect, dan reponse.
c. Variabel intermening atau mediating berada di antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel ini
memediasi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Misalnya, jika siswa dapat melakukan test
metode penelitian dengan baik (variabel terikat), hal ini mungkin disebabkan (a) persiapan mereka dalam
penelitian (variabel bebas) dan/atau (b) usaha mereka dalam menysun gagasan penelitian ke dalam
kerangka keria (variabel intervening) yang juga turut memengaruhi performa mereka dalam test tersebut.
Seperti yang terlihat bahwa variabel mediating ini, yakni usaha menyusun penelitian, berada di antara
variabel bebas dan variabel terikat.
d. Variabel moderating adalah variabel bebas yang memengaruhi arah dan/atau kekuatan hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat (Thompson, 2006). Variabel moderating ini merupakan variabel baru
yang dikonstruksi sendiri oleh peneliti dengan cara mengambil satu variabel dan mengalikannya dengan
variabel lain untuk mengetahui dampak keduanya (seperti, umur X sikap = kualitas hidup yang berdampak
pada harga diri). Variabel-variabel ini biasanya terdapat dalam penelitian eksperimen.
Dua jenis variabel lain adalah dan Variabel control memainkan peran penting dalam penelitian
kuantitatif Variabel ini merupakan variabel bebas jenis khusus karena variabel ini secara potensial juga
dapat memengaruhi variabel terikat.
Dalam penelitian kuantitatif, variabel-variabel saling dihubungkan untuk menjawab rumusan
masalah (seperti, "Bagaimana harga diri memengaruhi hubungan pertemanan di antara anak-anak
remaja?") atau untuk membuat prediksi tentang hasil apakah yang ingin diharapkan. Prediksi-prediksi
sering kali dikenal dengan istilah hipotesis (seperti, "Harga diri yang positif dapat meningkatkan hubungan
pertemanan di antara anak-anak remaja"
2. Definisi Teori dalam Penelitian Kuantitatif
Kerlinger (1979,hal 64) berpendapat bahwa teori merupakan seperangkat konstrak (variabel),
definisi, dan proposisi yang saling berhubungan yang mencerminkan pandangan sistematik atas suatu
fenomena dengan cara memperinci hubungan antarvariabel yang ditujukan untuk menjelaskan fenomena
alamiah".
Teori dalam penelitian kuantitatif (theory in quantitative research) merupakan seperangkat
konstrak (atau variabel) yangsaling berhubungan, yang berasosiasi dengan proposisi atau hipotesis yang
memerinci hubungan antarvariabel (biasanya dalam konteks magnitude atau direction). Pembahasan
mengenai teori biasanya muncul di bagian tinjauan pustaka atau bagian khusus, seperti landasan teori,
logika teoritis, atau perspektif teoritis. Teori-teori akan berkembang apabila peneliti menguji suatu
prediksi secara terus menerus. Menurut Thomas (dalam Creswell,2014), bahwa teori muncul dan
berkembang sebagai penjelasan atas suatu pengetahuan dalam bidang-bidang tertentu.
Selain itu, teori juga memiliki jangkauan yang berbeda-beda. Neuman (2009) membagi teori
dalam tiga level : level mikro, level meso, dan level makro. Teori level mikro memberikan penjelasan yang
hanya terbatas pada waktu, ruang, dan jumlah tertentu. Teori level meso menghubungkan teori level
mikro dan teori lever makro. Teori ini pada umumnya meliputi teori tentang organisasi, pergerakan social,
atau komunitas. Sedangkan teori level makro menjelaskan permasalahan yang llebih luas seperti institussi
social, system budaya, dan masyarakat luas.
3. Berbagai Bentuk Teori dalam Penelitian Kuantitatif
Dalam proposal penelitian, peneliti menegasakan teorinya dalam beberapa bentuk, seperti
hipotesis, pernyataan logika “jika-maka”, atau bentuk visual. Pertama, peneliti menegaskan teori dalam
bentuk hipotesis-hipotesis yang saling berhubungan. Kedua, peneliti menyatakan teori dalam bentuk
pernyatan “jika-maka” yang menunjukkan mengapa seseorang harus menggunakan variabel bebas dapat
memengaruhi variabel terikat. Ketiga, peneliti dapat menyajikan teori dalam bentuk visual. Bentuk ini
penting untuk menerjemahkan variabel-variabel ke dalam gambar visual. Blalock (1969, 1985, 1991)
menampilkan causal, modeling dengan membentuk teori-teori verbal menjadi model-model kausal
sehingga pembaca dapat memvisualisasi hubungan antar variabel.
Ada dua contoh sederhana yang disajikan dalam buku ini. Pertama, tiga variabel bebas
memengaruhi satu variabel terikat, yang juga dimediasi oleh pengaruh dari dua variabel interving. Kedua,
dua kelompok dalam variabel X diperbandingkan berdasarkan pengaruhnya terhadap Y, variabel terikat.
Gambar 1, Tiga Variabel Bebas Memengaruhi Satu Variabel Terikat, yang Juga Dimediasi oleh Pengaruh
dari Dua Variabel Interving.
Variabel Bebas
Variabel
Variabel
terikat
Interving
Gambar 2, Dua Kelompok dalam Variabel X Diperbandingkan Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Y,
Variabel Terikat.
Variabel bebas (X)
Kelompok Eksperimen
(Variabel Terikat)
Kelompok Kontrol
4. Penempatan Teori dalam Penelitian Kuantitatif
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan teori secara deduktif dan meletakkannya di
awal proposal penellitian. Oleh karena itu tujuannya adalah untuk menguji atau memverifikasi suatu teori
ketimbang mengembangkannya, maka peneliti kuantitatif seyogianya mengajukan teori, mengumpulkan
data untuk menguji teori tersebut, dan menyatakan konfirmasi atau diskonfirmasi atas teori tersebut
berdasarkan hasil yang diperoleh. Model deduktif yang diterapkan dalam penelitian kuantitatif tampak
pada Gambar 3. Peneliti memverifikasi suatu teori dengan menguji rumusan masalah atau hipotesishipotesis yang berasal dari teori ini.
Gambar 3. Peneliti memverifikasi suatu teori dengan menguji rumusan masalah atau hipotesis-hipotesis
yang berasal dari teori ini.
Peneliti menguji atau memverifikasi teori
Peneliti menguji hipotesis atau rumusan masalah dari teori tersebut
Penelitian mendefinisikan dan mengoprasikan variabel-variabel yang diperoleh dari teori
Penelitian mengukur atau mengobservasi variabel-variabel dengan bantuan instrument untuk
memperoleh skor-skor.
5. Menulis Perspektif Teoritis Kuantitatif
Di bawah ini cara mengidentifikasi suatu teori yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas
dan variabel terikat, anatara lain :
a. Periksalah literature yang kemungkinan membahas teori yang digunakan.
b. Periksalah pula penelitian-penelitian lain yang membahas topik atau yang sangat berkaitan dengan topik
yang digunakan.
c. Buatkah rumusan masalah dengan metaphor pelangi agar dapat menjebatani variabel-variabel bebas dan
variabel-variabel terikat.
d. Jelaskan teori yang digunakan dalam bagian khusus.
Teori yang digunakan dalam penelitian kuantitatif mencaku antara lain: teori yang digunakan, hipotesishipotesis dari teori tersebut, informasi tentang aplikasi teori tersebut dalam penelitian-penelitian
sebelumnya, dan pernyataan yang mencerminkan bagaimana teori tersebut berhubungan dengan
penelitian yang diajukan.
C. TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF
Deskripsi teori dalam penelitian
Deskripsi teori dalam penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar
pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang
diteliti.(Sugiyono,2016,hlm.89). deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabelvariabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai
referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang diteliti
menjadi jelas dan terarah.
Tujuan dalam menggunakan metode kualitatif
1. Teori digunakan sebagai penjelasan atas perilaku dan sikap tertentu
2. Teori sebagai panduan umum untuk meneliti gender,kelas, dan ras (atau masalah lain mengenai kelompok
marjinal).
Beberapa perspektif teoritis yang biasa digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a. Perspektif feminis
b. Wacana rasial
c. Perspektif teori kritis
d. Teori queer
e. Studi disabilitas
3. Teori sering digunakan sebagai poin akhir penelitian.
4. Beberapa penelitian kualitatif tidak menggunakan teori yang terlalu eksplisit.
Menempatkan teori dalam penelitian kualitatif
Dalam penelitian kualitatif teori muncul diawal dan dapat dimodifikasi atau disesuaikan
sedemikian rupa berdasarkan pandangan dari para paritisipan. Melakukan penelitian grounded theory
secara empiris membutuhkan relasi timbal-balik antara data dan teori. Data harus diolah secara dialektik
agar dapat menghasilkan proporsi-proporsi baru yang memungkinkan umnculnya kerangka teoritis,
dengan tetap menjaga kerangka tersebut secara ketat agar tidak bercampur-baur dengan data penelitian.
D. TEORI DALAM PENELITIAN CAMPURAN
Teori dalam penelitian metode campuran (theory use in mixed methods) dapat diterapkan secara
deduktif, seperti dengan pengujian atau verifikasi teori kuantitatif atau secara induktif seperti dengan
pemunculan teori ata pola kualitatif. Selain itu, ada beberapa cara unik yang memasukan sebuah teori ke
dalam metode campuran di mana peneliti mengumpulkan, menganalisis dan menggabungkan data
kuantitatif dan kualitatif menggunakan rancangan metode campuran yang berbeda. Kerangka kerja ini
menggunakan dua bentuk : (a) menggunakan kerangka kerja ilmu sosial, dan (b) menggunakan kerangka
kerja transformatif. Kedua bentuk ini muncul dalam literature metode campuran selama lebih dari 5-10
tahun belakangan ini (Creswell & Plano Clark, 2011)
Penerapan Teori Ilmu Sosial
Teori ilmu sosisal (social science theory) dapat menjadi kerangka kerja yang menyeluruh untuk
penelitian metode campuran. Teori ilmu pengetahuan sosial dapat diambil dari beragam teori yang
dijumpai dalam ilmu sosial seperti, kepemimpinan, ekonomi, ilmu politik, pemasaran, perubahan perilaku,
adopsi atau difusi atau teori-teori ilu sosial apa pun. Teori ini dapat dijadikan sebagai tinjauan pustaka,
sebagai model konseptual atau sebagai suatu teori yang membantu menerangkan apa yang berusaha
ditemukan oleh seorang peneliti. Poin utama penerapan teori ini adalah sebagai berikut:
1. Menempatkan teori di awal penulisan sebagai kerangka kerja pendahuluan untuk memandu perumusan
masalah penelitian.
2. Menuliskan tori dengan terlebih dahulu mengemukakan teori yang akan digunakan kemudian diikuti
dengan deskripsi tentang bagaimana meginformasikan komponen-komponen kuantitatif dan kualitatif
dari penelitian metode campuran. Penulisan teori setidaknya menerangkan hubungan utama antara
variable dalam penelitian. Bahaslah penelitian-penelitian yang telah menggunakan teori tersebut,
khususnya penelitian yang menghubungkannya dengan topic yang sedang diteliti dalam penelitian ini.
3. Memasukan diagram teori yang menunjukan arah kemungkinan kaitan klausal dalam teori dan konsep
utama variable dalam teori
4. Membuat teori yang memberikan kerangka kerja dalam upaya pengumpulan data kuantitatif dan
kualitatif pada penelitian.
5. Kembalilah ke teori di akhir penelitian untuk mereviu bagaimana penelitian menginnformasikan temuan
dan hasil, dan bandingkan penerapan teori dalam penelitian-penelitian lain
Penerapan Teori Paradigma Transformatif
Penggunaaan dan akseptabilitas teori-teori transformative dalam penelitian metode campuran
semakin banyak berkembang dalam decade terakhir ini. Dorongan ini bersal dari karya Maertens (2003 :
2009), yang tidak hanya menyampaikan tujuan utama teori ini tetapi bagaimana tujuan ini digabungkan
menjadi proses penelitian umum dan metode campuran. Literature semakin banyak digunakan dalam
kerangka kerja transformative dan penelitian metode campuran. Penelitian tentang masalah-masalah
kesehatan dan penelitian tentang kelompok-kelompok yang termarginalisasi terlihat mudah
menggunakan metode campuran tersebut. Terdapat dua masalah yang mendominasi penggunaan
kerangka kerja transformative dalam metode campuran, yakni:
a. Apa kerangka kerja transformati itu?
b. Bagaimana peneliti yang menggunakan metode campuran memasukannya ke dalam penelitian metode
campuran yang rumit dan canggih?
Disini, kerangka kerja transformative akan dibahas sebagai kerangka kerja teoritis yang dapat
melingkupi dan menerangkan penelitian metode campuran.
Kerangka kerja metode campuran transformative (juga disebut paradigm penelitian transformative,
Mertens, 2009) merupakan serangkaian asumsi dan prosedur yang digunakan dalam penelitian. Tematema umum dalam kerangka kerja metode ini adalah sebagi berikut:
1. Asumsi pokok yang mendasari pendirian inklusi etis dan struktur sosial penindasan
2. Proses masuk ke dalam komunitas yang dirancang untuk membangun kepercayaan dan membuat tujuan
serta strategi-strategi yang transparan
3. Penyebaran-penyebaran temuan atau hasil penelitian dengan berbagai cara yang mendorong
penggunaannnya untuk memperkuat keadilan sosial dan hak asasi manusia
Bagimana cara kerangka kerja ini dimasukan ke dalam penelitian metode campuran masih terus
berkembang, tetapi Mertens (2003) mengidentifikasi beberapa elemen kerangka kerja ketika elemenelemen ini berhuungan dengan langkah-langkah dalam proses penelitian. Elemn-elemen tersebut
disebutkan dalam Kotak 3.1 . Dengan membaca seluruh pertanyaan ini dapat diperoleh pengertianakan
pentingnya masalah-masalah penelitian tentang dikriminasi dan penindasan serta mengenali keragaman
di antara partisipan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan ini juga membahas individu-individu yang
diperlakukan secara terhormat dengan cara mengumpulkan dan membahas pengumpulan data dan
melalui pelaporan hasil yang mengarah ke perubahan dalam proses dan hubungan sosial.
Kotak 3.1 Pertanyaan-Pertanyaan Emansipatoris-Transformatif untuk Penelitian-Penelitian Metode
Campuran selama Proses Penelitian
Mengidentifikasi Sumber Data dan Memilih Partisipan

Apakah para partisipan bear-benar pernah mengalami atau setidaknya berkaitan dengan diskriminasi
dan penindasan?

Apakah para partisipan sudah tepat dilabeli sebagai komunitas yang tertindas?

Apakah proses penargetan populasi sudah memenuhi syarat-syarat pengharapan akan perbedaan?

Apa yang dapat dilakukan pada sampel penelitian untuk memperbaiki inklusivitasnya sehingga
meningkatkan kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang tertindas itu benar-benar terwakilkan
dengan tepat dan akurat?
Mengidentifiasi atau Membuat Instrummen dan Metode Pengumpulan Data

Apakah proses pengumpulan data dan hasil penelitian akan menguntungkan komunitas yang diteliti?

Apakah temuan-temuan penelitian nantinya dapat dipercaya oleh komunitas tersebut?

Apakah komunikasi dengan komunitas tersebut akan berjalan efektif?

Apakah proses pengumpulan data dapat membuka jalan bagi partisipan menuju proses perubahan
sosial?
Menganalisis, Menafsirkan, dan Melaporkan Hasil Penelitian

Apakah hasil penelitian akan memunculkan hipotesis-hipotesis baru?

Apakah penelitian ini juga akan meneliti sub-sub kelompok untuk mengetahui bahwa ada dampak yang
berbeda terhadap setiap kelompok?

Apakah hasil penelitianakan membantu memahami dan memperjelas relasi kekuasaan?

Apakah hasil penelitian akan mempermudah proses perubahan sosial?
Mebatasi Masalah dan Mencari Literatur

Apakah Anda sudah mencari dengan teliti literature-literatur yang concern dengan isu-isu diskriminasi
dan penindasan?

Apakah Anda sudah membatasi masalah penelitian, utamanya untuk komunitas yang diteliti?

Apakah Anda sudah benar-benar memanfaatkan waktu dengan komunitas-komunitas ini? (misalnya,
membangun kepercayaan, menggunakan kerangka teoritis ketimbang model tertentu yang terbatas;
membuat pertanyaan-pertanyaan positi dan negative yang seimbang? Membuat pertanyaaanpertanyaan yang menuntun pada jawaban-jawaban transformative seperti pertanyaan-pertanyaan
yang difokuskan pada persoalan otoritas dan relasi kekuasaan dalam institusi-institusi dan akomunitaskomunitas tertentu?)
Mengidentifikasi Rancangan Penelitian

Apakah rancangan penelitian Anda sudah menerapkan treatmeny yang berbeda-beda pada setiap
kelompok dan menghormati pertimbangan-pertimbangan etnis dari para partisipan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut selanjutnya diwujudkan sebagai 10 kriteria (dan pertanyaan) yang dapat
digunakan untuk mengevaluasi dimasukkannya pemikiran teoritis transformative ke dalam penelitian
metode campuran (Sweerman et al, 2010):
1. Apakah penulis secra terbuka menunjukan masalah dalam komunitas yang diteliti?
2. Apakah penulis secra terbuka menyatakan suatu perspektif teoritis?
3. Apakah rumusan masalah dituliskan dengan perspektif yang mendukung?
4. Apakah tinjauan pustaka memasukan pembahasan keragaman dan penindasan?
5. Apakah enulis membahas pelabelan yang tepat kepada partisipan?
6. Apakah pengumpulan data dan hasil memberikan manfaat bagi masyarakat?
7. Apakah partisipan memprakarsai penelitian, dan/atau apakah mereka secara aktif terlibat dalam
penelitian?
8. Apakah hasil penelitian menjelaskan hubungan kekuasaan?
9. Apakah hasil penelitian memfasilitasi perubahan sosial?
10. Apakah penulis secara eksplisit menyatakan penggunaan kerangka kerja transformative?
Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan standar yang tinggi untuk publikasi apa pun, dan reviu
13 penelitian oleh Sweetman dkk (2010) menunjukkan dimasukannya 10 kriteria secara tidak seragam
dalam penelitian metode campuran. Hanya 2 dari 13 penelitian yang secara eksplisit menyebutkan
kerangka kerjanya sebagai “”transformative”. Namun demikian, akan membantu bagi peneliti metode
campuran untuk mengetahui bagaimana cara yang palig baik untuk memosisikan penelitiannya dalam
kerangka kerja transformative. Caranya dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Tuliskan di bagian pembuka bahwa kerangka kerja transformative digunakan dalam penelitian ini
2. Sebutkan kerangka kerja ini di awal penelitian bahwa kerangka kerja ini berhubuangan denngan
kemunitas yang termarginalisasi dan kelompok yang tidak terwakili beserta isu-isu spesifik yang dihadapi
oleh komunitas tersebut (misalnya, penindasan, kekuasaan)
3. Kemukakan kerangka kerja ini dalam literature teoritis (misalnya literature feminis dan literature rasial)
4. Melibatkan komunitas kepentingan dalam proses penelitian (misalnya dalam pengumpulan data)
5. Mengambil sikap untuk rumusan penelitian- dukunglah orientasinya (misalnya, ketidaksetaraan jelas ada
dan penelitian akan mengemukakan kepentingannya)
6. Kemukakan dalam rancangan tersebut, pengumpulan, analisis, dan penggabungan metode kuantitatif dan
kualitatif dalam kerangka kerja transformative
7. Bicarakan pengalaman Anda sebagai seorang peneliti dan bagaimana pengalaman dan latarbelakang anda
membentuk pemahaman partisipan-partisipan dan isu-isu yang sedang diteliti.
8. Akhiri penelitian dengan mendukung perubahan untuk membantu populasi dan isu-isu yang sedang
diteliti
Salah satu cara terbaik untuk mempelajari bagaimana memasukan kerangka kerja transformative
ke dalam penelitian metode campuran adalah dengan memeriksa artikel-artikel jurnal yang dipublikasikan
dan meneliti bagaimana kerangka kerja transformative tersebut dimasukkan ke dalam proses penelitian.
Berikut ini adalah artikel yang menggambarkan dengan baik penggunakaan kerangka kerja
transformative.
Contoh 3.4 : Teori dalam Penelitian Metode Campuran Transformatif-Emansipatoris
Sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Journal of Mixed Methods Research oleh Hodgkin (2008)
mengilustrasikan penggunaan perspektif emansipatori feminis dalam penelitian metode campuran.
Hodgkin menguji apakah kaum laki-laki dan perempuan memiliki modal sosial dan profil yang berbeda,
dan mengapa kaum perempuan lebih berperan serta dalam kegiatan sosial dan kegiatan masyarakat
daripada dalam kegiatan yang bersifat kewarganegaraan di Australia. Tujuan penelitian yang dinyatakan
Hodgkin adalah utnuk “menunjukan penggunaan metode campuran dalam penelitian feminis” (hlm.
296). Diawal artikelnya Hodgkin membahas komponen penelitian feminisnya, seperti menggambarkan
perhatian akan kurangnya fokus gender dalam penelitian modal sosial, menggunakan penelitian
kuantitatif dan kualitatif untuk menyuarakan pengalaman para perempuan, dan memosisikan
penelitiannya dalam paradigm transformaif. Melalui hasil penelitian kuantitatif , Hodgin menemukan
perbedaan modal sosial pada kaum laki-laki dan perempuan, dan kemudian ia menggali sudut pandang
kaum perempuan dalam fase kedua, memperhatikan keterlibatan kaum perempuan dalam partisipasi
informal dan partisipasi komunitas. Partisipasi pada level keterlibatan yang bersifat kewarganegaraan
adalah rendah, dan tema-tema yang dilibatkab dari kaum perempuan duhubungkan dengan keinginan
untuk menjadi “ibu yang baik”, keinginan untuk menghindari isolasi sosial, dan keinginan untuk emnjadi
warga negara yang aktif.
KESIMPULAN
Teori adalah alur logika, yang menerangkan konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis.
Secara umum teori mempunyai tiga fungsi yaitu: 1) Untuk menjelaskan (Explanation), 2) Untuk
meramalkan (prediction), 3) Pengendalian (control) suatu gejala.
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan teori secara deduktif dan meletakkannya di awal
proposal penellitian. Oleh karena itu tujuannya adalah untuk menguji atau memverifikasi suatu teori
ketimbang mengembangkannya, maka peneliti kuantitatif seyogianya mengajukan teori, mengumpulkan
data untuk menguji teori tersebut, dan menyatakan konfirmasi atau diskonfirmasi atas teori tersebut
berdasarkan hasil yang diperoleh.
Dalam penelitian kualitatif teori muncul diawal dan dapat dimodifikasi atau disesuaikan sedemikian rupa
berdasarkan pandangan dari para paritisipan. Melakukan penelitian grounded theory secara empiris
membutuhkan relasi timbal-balik antara data dan teori.
Teori dalam penelitian metode campuran (theory use in mixed methods) dapat diterapkan secara deduktif,
seperti dengan pengujian atau verifikasi teori kuantitatif atau secara induktif seperti dengan pemunculan
teori ata pola kualitatif
DAFTAR PUSTAKA
Creswell, Jhon W. 2017. Research Design (Pendekatan Metode Kualitatitf, Kuantitatif, dan
Campuran). Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Engkoswara dan Komariah, Aan. (2010). Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Mardalis. 2003. Metode Penelitian suatu pendekatan Proposal. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Studi Kasus dalam Konteks Penelitian Kualitatif
A.
Pengantar
Studi kasus merupakan bagian dari penelitian kualitatif yang dipergunakan dalam secara luas
dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, baik dalam bidang psikologi, sosiologi, politik, antropologi,
sejarah dan ekonomi maupun pada bidang ilmu-ilmu praktis seperti dibidang pendidikan, dan lain
sebagainya.
Bahkan untuk sebagian orang menghubungkannya dengan penelitian kuantitaif, sehingga hal
ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam. Dalam penulisan makalah ini akan membahas
bagaimanakah studi kasus dalam konteks penelitian kualitatif? . Dan bagaimanakah studi kasus
sebagai bagian dari suatu metode kualitatif.
B.
Studi Kasus dalam Konteks Penelitian Kualitatif
Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif sebenarnya lahir hampir bersamaan tetapi dalam
perkembangan keduanya jauh berbeda. Metode Penelitian Kuantitatif berakar pada paradigma
filsafat positivisme berkembang sangat pesat, terutama pada ilmu-ilmu alam. Sementara itu,
Metode Penelitian Kualitatif berangkat dari paradigma interpretivisme dinilai sangat lambat,
hingga seolah-olah metode ini lahir belakangan. Bahkan, tidak sedikit yang mengaitkan kelahiran
Metode Penelitian Kualitatif bersamaan dengan kelahiran sosiologi. Jadi masih relatif baru,
sehingga bisa dimaklumi jika perkembangannya tidak secepat Metode Penelitian Kuantitatif.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan
pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada
pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci
dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15).
Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari
orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian
kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan
wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti
menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian
kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk
memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan
meneliti sejarah perkembangan.
Dalam tradisi keilmuan, penelitian kualitatif dikenal juga terminologi studi kasus (case study)
sebagai sebuah jenis penelitian. Studi kasus diartikan sebagai metode atau strategi dalam
penelitian untuk mengungkap kasus tertentu. Ada juga pengertian lain, yakni hasil dari suatu
penelitian sebuah kasus tertentu. Jika pengertian pertama lebih mengacu pada strategi
penelitian, maka pengertian kedua lebih pada hasil penelitian. Dalam sajian pendek ini diuraikan
pengertian yang pertama.
Penelitian studi kasus memusatkan perhatian pada satu objek tertentu yang diangkat sebagai
sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas di balik
fenomena. Sebab, yang kasat mata hakikatnya bukan sesuatu yang riel (realitas). Itu hanya
pantulan dari yang ada di dalam.
Sebagaimana lazimnya perolehan data dalam penelitian kualitatif, data studi kasus dapat
diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, baik melalui wawancara, observasi, partisipasi,
dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari berbagai cara itu hakikatnya untuk saling melengkapi.
Ada kalanya data yang diperoleh dari wawancara belum lengkap, sehingga harus dicari lewat
cara lain, seperti observasi, dan partisipasi.
Dalam perbandingannya dengan dengan metode penelitian kuantitatif yang menekankan
jumlah atau kuantitas sampel dari populasi yang diteliti, penelitian model studi kasus lebih
menekankan kedalaman pemahaman atas masalah yang diteliti. Karena itu, metode studi kasus
dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam
fenomena tertentu dengan lingkup yang sempit.
terhadap
suatu
gejala atau
Kendati lingkupnya sempit, dimensi yang digali harus luas, mencakup berbagai aspek hingga
tidak ada satu pun aspek yang tertinggal. Oleh karena itu, di dalam studi kasus sangat tidak
relevan pertanyaan-pertanyaan seperti berapa banyak subjek yang diteliti?, berapa sekolah?,
dan berapa banyak sampel? dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa sebagai varian penelitian
kualitatif, penelitian studi kasus lebih menekankan kedalaman subjek ketimbang banyaknya
jumlah subjek yang diteliti.
Merujuk pada sifat metode penelitian kualitatif pada umumnya, metode studi kasus juga
dilakukan terhadap peristiwa atau gejala yang sedang berlangsung. Bukan gejala atau peristiwa
yang sudah selesai (ex post facto). Segmen dan Unit analisis dalam studi kasus ini bisa berupa
individu, kelompok, institusi, atau masyarakat. Penelitian studi kasus harus dilakukan secara
dialektik antara bagian dan keseluruhan. Maksudnya, untuk memahami aspek tertentu perlu
diperoleh gambaran umum tentang aspek itu. Sebaliknya, untuk memperoleh gambaran umum
diperlukan pemahaman bagian-bagian khusus secara mendalam.
Untuk memperoleh pengetahuan secara mendalam, data studi kasus dapat diperoleh tidak
saja dari kasus yang diteliti, tetapi juga dari semua pihak yang mengetahui dan mengenal kasus
tersebut dengan baik. Data atau informasi bisa dari banyak sumber, tetapi perlu dibatasi hanya
pada kasus yang diteliti. Untuk memperoleh informasi yang mendalam terhadap sebuah kasus,
maka diperlukan informan yang andal yang memenuhi syarat sebagai informan, yakni maximum
variety, yakni orang yang tahu banyak tentang masalah yang diteliti, kendati tidak harus bergelar
akademik tinggi.
Ada beberapa persoalan yang sering muncul berkaitan dengan metode penelitian studi kasus.
Persoalan itu berkaitan dengan perbedaannya yang mencolok dibandingkan dengan metode
yang lain. Penelitian studi kasus menekankan kedalaman analisis pada kasus tertentu yang lebih
spesifik. Metode ini sangat tepat dipakai untuk memahami fenomena tertentu di suatu tempat
tertentu dan waktu yang tertentu pula. Misalnya, tentang metode pengajaran matakuliah tertentu,
di lembaga pendidikan tertentu dalam waktu tertentu ( yang masih dalam proses).
Pertanyaan lain yang tidak kalah seringnya adalah apa hasil penelitian studi kasus bisa
digeneralisasi atau berlaku secara umum. Istilah generalisasi tidak dikenal dalam metode
penelitian kualitatif, hasil studi kasus memang tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi, karena
lingkupnya sempit. Sebagai padanannya dikenal istilah transferabilitas, yakni hasil penelitian itu
bisa
(berpotensi,
berpeluang,
berkemungkinan) berlaku
di
tempat
lain
dengan
pengandaian tempat lain itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan tempat atau seting tempat
penelitian itu dilakukan.
Transferabilitas semacam itu bisa dilakukan jika penelitian bisa sampai tahap temuan formal,
bukan sekadar substantif. Umumnya penelitian hanya berakhir pada temuan substantif, yakni
ketika masalah yang diajukan terjawabkan berdasarkan data. Padahal, masih ada satu tahap
lagi yang harus dilalui jika diharapkan penelitian menjadi karya ilmiah yang baik, yaitu tahap
temuan formal, berupa thesis statement dari hasil abstraksi temuan substantif.
C.
Studi Kasus (Case Studies) sebagai Suatu Metode
Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu
organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk
memperoleh diskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah entitas. Studi kasus menghasilkan
data untuk selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori. Sebagaimana prosedur perolehan
data penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsip.
Creswell (1998) menjelaskan bahwa suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian studi
kasus apabila proses penelitiannya dilakukan secara mendalam dan menyeluruh terhadap kasus
yang diteliti, serta mengikuti struktur studi kasus seperti yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba
(dalam Heigham dan Croker, 2009), yaitu permasalahan, konteks, isu, dan pelajaran yang dapat
diambil. Banyak penelitian yang telah mengikuti struktur tersebut tetapi tidak layak disebut
sebagai penelitian studi kasus karena tidak dilakukan secara menyeluruh dan mendalam.
Penelitian-penelitian tersebut pada umumnya hanya menggunakan jenis sumber data yang
terbatas, tidak menggunakan berbagai sumber data seperti yang disyaratkan dalam penelitian
studi kasus sehingga hasilnya tidak mampu mengangkat dan menjelaskan substansi dari kasus
yang diteliti secara fundamental dan menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian
dan [1]kecermatan untuk mencantumkan kata ‘studi kasus’ pada judul suatu penelitian,
khususnya penelitian kualitatif.
Kasus sebagai objek penelitian dalam penelitian studi kasus digunakan untuk memberikan
contoh pelajaran dari adanya suatu perlakuan dalam konteks tertentu. Kasus yang dipilih dalam
penelitian studi kasus harus dapat menunjukkan terjadinya perubahan atau perbedaan yang
diakibatkan oleh adanya perilaku terhadap konteks yang diteliti (Yin,2003). Menurut Yin,
penelitian studi kasus pada awalnya bertujuan mengambil lesson learned yang terdapat di balik
perubahan yang ada, tetapi banyak penelitian studi kasus yang ternyata mampu menunjukkan
adanya perbedaan yang dapat mematahkan teori-teori yang telah mapan, atau menghasilkan
teori dan kebenaran yang baru.
Dari sifat kasusnya yang kontemporer, dapat disimpulkan bahwa penelitian studi kasus
cenderung bercorak korektif, bersifat memperbaiki atau memperbaharui teori. Dengan kata lain,
penelitian studi kasus berupaya mengangkat teori-teori kotemporer (contemporary theories).
Penelitian studi kasus berbeda dengan penelitian grounded theory, phenomenology, dan
ethnography yang bertujuan meneliti dan mengangkat teori-teori mapan atau definitif yang
terkandung pada objek yang diteliti. Ketiga jenis penelitian tersebut berupaya mengangkat teori
secara langsung dari data temuan di lapangan (firsthand data) dan berusaha menghindari
pengaruh teori yang telah ada sebelumnya. Sementara itu, penelitian studi kasus menggunakan
teori yang sudah ada sebagai acuan untuk menentukan posisi hasil penelitian terhadap teori yang
ada tersebut. Posisi teori yang dibangun dalam penelitian studi kasus dapat sekadar bersifat
memperbaiki, melengkapi, atau menyempurnakan teori yang ada berdasarkan perkembangan
dan perubahan fakta terkini.
Penelitian studi kasus menggunakan berbagai sumber data dalam usaha mengungkapkan
fakta di balik kasus yang diteliti. Keragaman sumber data dimaksudkan untuk memenuhi kriteria
validitas dan reliabilitas data, sehingga kebenaran hasil penelitian meyakinkan. Fakta dicapai
melalui pengkajian keterkaitan bukti-bukti dari beberapa sumber data sekaligus,seperti dokumen,
rekaman, observasi, wawancara terbuka, wawancara terfokus, wawancara terstruktur, dan
survey lapangan (Stake,1995; Creswell, 1998; Yin,2003). Untuk menghasilkan keseimbangan
analisis dan untuk menjaga objektivitas hasil penelitian, peneliti juga harus memperhatikan fakta
yang bertentangan dengan proposisi.
Meskipun
tampaknya
berbeda,
pengertian
tersebut
pada
dasarnya
terarah pada
pemahaman yang sama. Penjelasannya tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi.
Kelompok pengertian yang pertama memulai penjelasan dari adanya objek penelitian, yang
disebut sebagai kasus, yang membutuhkan jenis penelitian kualitatif tertentu, dengan metode
penelitian yang khusus, yaitu metode penelitian studi kasus. Sementara itu, kelompok yang kedua
memandang penelitian studi kasus sebagai salah satu jenis metode penelitian kualitatif yang
digunakan untuk meneliti suatu objek yang layak disebut sebagai kasus.
Kedua kelompok pendapat ini memiliki kesamaan pemahaman, yaitu menempatkan
penelitian studi kasus sebagai jenis penelitian tersendiri, sebagai salah satu jenis penelitian
kualitatif. Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci
terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu
peristiwa tertentu . Surachmad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu
pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci.
Sementara Yin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada
ciri-cirinya. Dalam studi kasus peneliti hendaknya berusaha menguji unit atau individu secara
mendalam dan utuh. Para peneliti berusaha menemukan semua variabel yang penting.
Studi kasus dalam pendidikan bahasa, misalnya, adalah bentuk penelitian pendidikan bahasa
yang mendalam tentang suatu aspek pendidikan bahasa, termasuk lingkungan pendidikan
bahasa dan manusia yang terlihat dalam pendidikan bahasa di dalamnya (Nunan, 1992). Oleh
karena beberapa klasifikasi “kasus” sebagai objek studi (Stake, 1955) dan “kasus” lainnya
dianggap sebagai suatu metodologi (Yin, 1994) maka penjelasan studi kasus merupakan studi
yang mendetail yang dapat menggunakan banyak sumber data untuk menjelaskan sebuah
variabel atau hal yang diteliti. Kasus bisa dipilih karena keunikannya atau kasus bisa digunakan
untuk mengilustrasikan suatu isu.
Fokus penelitian dapat berupa satu entitas (penelitian di suatu tempat) atau beberapa entitas
(studi multi tempat/multi-site). Penelitian ini mendeskripsikan kasus, analisis tema atau isu, dan
interpretasi atau pembuktian penelitian terhadap kasus. Studi kasus dalam pendidikan bahasa
dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu, lingkungan hidup manusia,
serta lembaga sosial yang terkait dengan pendidikan bahasa. Studi kasus dalam pendidikan
bahasa dapat difokuskan pada perkembangan sesuatu di bidang pendidikan bahasa.
Salah satu contoh yang bisa diangkat adalah penelitian yang dilakukan Soenjono
Dardjowidjojo terhadap cucunya, Echa berkaitan dengan kasus pemerolehan bahasa anak
Indonesia yang dilakukan secara longitudinal sehingga pada akhirnya dapat dirumuskan
kesimpulan berkaitan dengan Teori Pemerolehan Bahasa pada Anak Indonesia. Berdasarkan
contoh ini dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi :
- sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen
- sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar
atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk memahami berbagai kaitan yang ada di
antara variabel-variabelnya.
D.
Etika Penelitian Studi Kasus
Penelitian studi kasus sering kali berkaitan dengan kepentingan umum, namun yang tidak
diketahui adalah adanya ‘hak untuk tahu’ secara publik ataupun akedemis. Narasumber atau
pusat informasi untuk mendapatkan data juga memiliki hak untuk tidak dipublikasikan identitasnya
hal ini dikarenakan menyangkut privasi yang menjadi subjek dalam penelitian. Bagaimanapun
juga, seorang peneliti merupakan tamu bagi tiap-tiap ruang subjek peneliti. Jadi, peneliti harus
bisa bersikap baik kepada mereka dan kode etik harus benar-benar dipatuhi.
Norman dkk (2009: 312) memberikan penjelasan tentang kode etik penelitian studi kasus bahwa
peneliti harus benar-benar mengkomunikasikan maksud dan tujuannya secara intens dengan
sudut pandang dan situasi sang subjek, karena bisa jadi penelitian tersebut dapat
membahayakan kelangsungan hidup sang subjek, misalnya, jika hasil penelitian diekspos, sang
subjek akan kehilangan harga diri, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan rasa percaya diri. Isuisu seputar obsevasi dan repotasi harus benar-benar dikomunikasikan dengan sang subjek
secara serius.
Perlu juga peneliti untuk menjelaskan desain awal kepada partisipan yang memuat tentang
bagaimanakah sebaiknya mereka ditampilkan, dikutip dan ditafsirkan. Sedangkan bagi peneliti
sendiri harus mendengar keluhan atau problem dari pertisipan. Jaminan kemanan juga harus
menjadi bagian yang diperhitungan oleh peneliti dalam melaukan penelitian.
E.
Jenis – Jenis Studi Kasus
Jenis – jenis penelitian studi kasus antara lain sebagai berikut :
1. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan
dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi ini sering
kurang memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kurang mencukupi untuk
dikerjakan secara minimal.
2. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalui observasi peranserta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi
tertentu. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat
tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
3. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu orang dengan maksud
mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara
sejarah hidup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir
hingga sekarang, masa remaja, sekolah, topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
4. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study)
yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya
pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
5. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa
atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa paa sekolah tertentu, maka
haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri,
teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
6. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat
kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat
spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.
F.
Langkah – Langkah Penelitian Studi Kasus
1.
Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan
(purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan
menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masyarakat atau unit
sosial.Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat
diselesaikan dengan batas waktu dan sumber-sumber yang tersedia.
2.
Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalam pengumpulan data, tetapi
yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis
dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara
pengumpulan
data
dengan
masalah
dan
lingkungan
penelitian,
serta
dapat
mengumpulkan data yang berbeda secara serentak.
3.
Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi,
mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi
merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna
menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau
dimasukkan ke dalam tipologi.Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu
pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan.
4.
Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan
studi kasus hendaknya dilakukan penyempurnaan atau penguatan (reinforcement) data
baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan
peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data
baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.
5.
Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, mudah dibaca,
dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga
memudahkan pembaca untuk memahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan
dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.
G.
Tantangan Dalam Melakukan Penelitian Studi Kasus
Beberapa tantangan dalam penggunaan studi kasus sebagai sebuah metode, antara lain:
1. Peneliti harus mengidentifikasi kasus yang akan diteliti dan melakukan sistem pembatasan,
mengenali beberapa opsi yang mungkin untuk dijadikan pilihan dan memahami kasus atau isu
yang layak untuk diteliti.
2. Peneliti harus mempertimbangkan untuk mempelajari satu atau banyak kasus. Motivasi peneliti
untuk mempertimbangkan banyak kasus adalah ide dari generalisasi sebagai substansi dari
penelitian kualitatif.
3. Memiliki cukup informasi untuk mempresentasikan gambaran dari kasus yang membatasi nilainilai dari beberapa studi kasus. Dalam perencanaan studi kasus, harus terjadi pembangunan
acuan pengumpulan data dimana informasi-informasi dispesifikasikan menjadi data-data yang
benar-benar dibutuhkan dalam melakukan penelitian.
4. Memutuskan pembatasan dari sebuah kasus, termasuk pembatasan dalam hal waktu, kejadian,
dan proses karena beberapa studi kasus cenderung tidak memiliki poin permulaan dan akhir yang
jelas.
H.
Tentang New Media
New Media terdiri dari 2 kata yaitu New dan Media. New yang berarti Baru dan Media yang
berarti Perantara. Jadi New Media merupakan Sarana perantara yang baru. Baru dalam arti disini
dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya.
Media Baru adalah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer,
atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi
yang digambarkan sebagai media baru adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat
dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif dan tidak memihak. Secara sederhana
media baru adalah media yang terbentuk dari interaksi antara manusia dengan komputer dan
internet secara khususnya. Termasuk di dalamnya adalah web, blog, online social network, online
forum dan lain-lain yang menggunakan komputer sebagai medianya.
Menurut Everett M. Rogers (dalam Abrar, 2003:17-18) merangkumkan perkembangan media
komunikasi ke dalam empat era.
-
Pertama, era komunikasi tulisan,
-
Kedua, era komunikasi cetak,
-
Ketiga, era telekomunikasi, dan.
-
Keempat, era komunikasi interaktif.
Media baru adalah media yang berkembang pada era komunikasi interaktif. Ron Rice
mendefinisikan media baru adalah media teknologi komunikasi yang melibatkan komputer di
dalamnya (baik mainframe, PC maupun Notebook) yang memfasilitasi penggunanya untuk
berinteraksi antar sesama pengguna ataupun dengan informasi yang diinginkan. Sementara
menurut McQuail, media baru adalah tempat dimana seluruh pesan komunikasi terdesentralisasi;
distribusi pesan lewat satelite meningkatkan penggunaan jaringan kabel dan komputer,
keterlibatan audiens dalam proses komunikasi yang semakin meningkat.
Komponen dari new media yaitu : Handphone, Internet, dan Komputer. Handphone / Smart
Phone dapat dijadikan sebagai komponen New Media karena dengan Smart Phone kita dapat
mengakses bebesapa situs jejaring sosial. Internet dijadikan sebagai komponen New Media
karena dengan Internet kita dapat mengakses berbagai informasi dimanapun kita berada. Internet
memudahkan kita untuk melakukan sebuah interaksi sosial dengan manusia sekitar. Komputer
dijadikan sebagai komponen New Media karena computer juga dapat memudahkan kita
mendapatkan informasi. Ketiga komponen diatas tidak dapat saling dipisahkan, antara Smart
Phone dengan Internetm dan juga Komputer dengan Internet. Ketiganya saling berkaitan dan
harus seimbang dalam pemakaiannya.
Google, altavista, yahoo dan website sejenisnya yang merupakan aplikasi pencarian
sejumlah kata yang terdapat didalam website untuk mencari berita.
CNN, BBC, detik, okezone dan berbagai website sejenisnya yang dibuat untuk memberikan
berita secara cepat sebagai pengganti koran/majalah.
Youtube, seleb.tv, metacave dan website sejenisnya yang menyediakan layanan
membagikan video atau menampilkannya sebagai sarana hiburan dan berita secara audio visual.
Twitter, facebook, friendster dan website sejenisnya yang menyediakan layanan mini blog
dan social network sebagai sarana komunikasi langsung yang sengaja dibagikan kepata publik.
BSE, e-dukasi.net, ilmukomputer,com yang menyediakan layanan pendidikan secara online
berupa pembahasan-pembahasan materi pendidikan dan ada yang menyediakan buku elektronik
(e-book), dsb.
New Media merupakan perkembangan baru dari media-media yang telah digunakan
manusia. Karakternya yang merupakan bentuk digital tentu memudahkan dalam bertukar
informasi dan berbagai kegiatan lainnya. Namun dalam perkembangannya, New Media bisa
memberikan nilai negatif juga, yaitu dapat mengakses situs yang berbau porno dan kekerasan
dengan mudah dan memberikan efek ketagihan bagi penggunanya. Jadi sudah seharusnya
perkembangan New Media diikuti juga dengan kebijakan orang yang memanfaatkannya.
Dari penjelasan New Media diatas maka dapat diketahui New Media memiliki beberapa
manfaat sebagai berikut :
-
Arus informasi yang dapat dengan mudah dan cepat diakses dimana saja dan kapan saja.
-
Sebagai Media transaksi jual beli
-
Sebagai media hiburan contohnya game online, jejaring social, streaming video, dll
-
Sebagai media komunikasi yang efisien. Kita dapat berkomunikasi dengan orang yang berada
jauh sekalipun, bahkan bertatap muka dengan video conference.
-
Sarana pendidikan dengan adanya buku digital yang mudah dan pr
New Media bisa memberikan nilai negatif juga, yaitu :
-
Terbukanya informasi menimbulkan kemungkinan pencurian data pribadi. Hal ini biasa dilakukan
hacker dengan tujuan-tujuan tertentu.
-
Virus. Terbukanya arus informasi dan komunikasi juga dapat membawa virus yang berkedok
aplikasi dengan mudah menyebar.
-
Rasa ketagihan berlebihan, contohnya pada saat bermain game online atau jejaring social.
I.
Tentang Youtube
YouTube adalah sebuah situs web video sharing (berbagi video) populer dimana para
pengguna dapat memuat, menonton, dan berbagai klip video secara gratis. Youtube didirikan
pada bulan februari 2005 oleh 3 orang mantan karyawan PayPal, yaitu Chad Hurley, Steve Chen
dan Jawed Karim. Video awal yang pertama kali di Upload di Youtube berjudul “Me at The Zoo”,
menampilkan Jawed Karim di kebun binatang San Diego. Hingga saat ini video tersebut masih
dapat disaksikan di youtube. Contoh lainnya di Indonesia, adalah Briptu Norman dengan lipsync
lagu Chaiyya Chaiyya, Shinta dan Jojo dengan lipsync lagu keong racun. Dan yang sedang
booming belum lama ini yaitu Udin Sedunia.
Youtube meluncurkan Beta test pada bulan Mei 2005, 6 bulan sebelum official launching yang
dilaksanakan pada bulan November 2005. Pada bulan juli 2006 atau 8 bulan setelah diresmikan,
tercatat 65.000 video baru di upload ke situs Youtube setiap harinya, dengan 100 juta views per
hari
Pemilihan nama http://www.youtube.com mengakibatkan masalah bagi sebuah situs
bernama mirip, http://www.utube.com. Pemilik situs, Universal Tube & Rollform Equipment,
mengajukan gugatan terhadap YouTube pada November 2006 setelah mengalami kelebihan
beban secara teratur yang diakibatkan oleh orang yang mencari situs YouTube.
Pada tahun 2008, Youtube mendapatkan penghargaan George Foster Peabody Award dan
karena telah menjadi “Speakers Corners” dan ikut berjasa dalam pengembangan demokrasi dan
kebebasan berpendapat. Saat ini Youtube menjadi situs online Video provider paling dominan di
Amerika serikat, bahkan mungkin dunia, dengan menguasai 43 persen pasar. Diperkirakan 20
Jam durasi video di upload ke Youtube setiap menitnya dengan 6 miliar views per hari.
Youtube saat ini telah berhasil menjadi salah satu situs yang paling banyak dikunjungi oleh
para pengguna internet di dunia. Youtube merupakan sebuah situs video sharing yang bisa
diakses oleh publik secara gratis, dan youtube saat ini juga telah berhasil mengambil hati para
pengguna internet di seluruh dunia yang menjadikan situs youtube masuk peringkat 10 besar
sebagai situs yang paling banyak dikunjungi oleh para pengguna internet diseluruh dunia.
Umumnya video-video di YouTube adalah klip musik, film, televisi, serta video buatan para
penggunanya sendiri.
Format yang digunakan video-video di YouTube adalah FLV yang dapat di putar di penjelajah
web yang memilikiPlugin Flash Player. Menurut perusahaan penelitian Internet Hitwise, pada Mei
2006 YouTube memiliki pangsa pasar sebesar 43 persen. Sebenarnya saat ini telah banyak situs-
situs penyedia layanan video sharing yang sejenis, hanya saja situs-situs tersebut belum mampu
mengimbangi popularitas yang dimiliki oleh youtube yang saat ini telah diperkuat dengan
dukungan penuh setelah dibeli oleh google, sehingga apabila seseorang ditanya apa sih situs
video gratis yang kamu ketahui? pasti dari 100 orang yang ditanya 99 orang tersebut akan
menjawab Youtube.
Memang tidak bisa di pungkiri lagi kalau situs video sharing gratis yang paling dikenal saat ini
adalah youtube, dimana popularitas yang berhasil di dapatkan youtube sebenarnya berkat kerja
keras dan ketekunan yang dilakukan oleh pembuatnya. Tahukah anda kalau sebenarnya sejarah
awal mula berdirinya youtube memiliki cerita yang menarik untuk diketahui.
Situs youtube pun terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan dengan
menambahkan beberapa aplikasi tambahan yang dapat memudahkan para pengunjung. Pada
31 Maret 2010, youtube pun meluncurkan tampilan terbaru mereka dengan tujuan untuk lebih
memudahkan para pengunjung saat ingin menelusuri video-video yang ada pada mereka
(youtube). Pada akhirnya di bulan Oktober 2010 Chad Hurley yang merupakan salah seorang
pembuat youtube yang pada saat itu ia menjabat sebagai CEO di youtube memutuskan untuk
mengundurkan diri dari youtube dan memilih untuk menjadi seorang penasihat di sebuah
perusahaan.
Menurut kami, ketenaran seseorang yang diperoleh dari YouTube, akan bertahan sesuai
dengan kualitas dirinya dan tanggapan dari masyarakat. Seseorang yang sudah terkenal akan
merasa cukup puas, dan ada beberapa dari mereka yang rela meninggalkan profesi mereka demi
popularitas sesaat. Karena popularitas yang mereka raih akan bertahan apabila mereka memiliki
bakat yang lebih dari sekedar apa yang mereka tayangkan di YouTube.
Banyak saat ini yang kita ketahui entertainer baru bermunculan dari new media Youtube.
Intinya apabila seseorang terkenal dengan cara yang instan tidak akan bertahan lama. Karena
tidak melalui proses, sebagaimana yang kita ketahui seorang entertainer harus melalui banyak
tahap untuk mencapai sebuah popularitas.
J.
Tren Youtubers Sebagai suatu Pekerjaan yang Menjanjikan
Mendapatkan uang dari internet bisa dari jalur yang bermacam macam, karena kesempatan
ini terbuka lebar bagi anda yang mau “sedikit”berkreatif.
Hanya bermodalkan koneksi intenet sebenarnya peluang ini terbuka bagi siapa saja, sebab
pihak google menyediakan semua fasilitas nya gratis tanpa kita mengeluarkan biaya, dan kalau
anda mau memanfaatkan sedikit “berkreatif tadi, anda pun akan mendapatkan hasilnya, jangan
meremehkan soal ini, sebab sudah banyak yang menghasilkan uang jutaan perbulan, hanya
dengan upload video saja.
Youtuber itu sendiri adalah seseorang atau sekelompok orang yang memproduksi video untuk
diupload di Youtube Youtube lebih menjanjikan karena proses untuk monetasi lebih mudah dari
pada blog,ini yang saya sebut “peluang”, anda bisa mendaftarkan video anda untuk mendapatkan
akun google adsense, setelah itu video anda akan di pasang iklan dari pihak google, nah iklan
tersebut yang nantinya akan menghasilkan uang jika di klik oleh salah satu pengunjung yang
melihat video anda.
Beberapa alasan mengapa mejadi youtuber lebih menjanjikan
1.
Tidak perlu menulis artikel yang panjang,cukup video saja (original)
2.
Berpontensi di lihat pemirsa dari segala penjuru dunia, dengan memberi judul
bahasa inggris untuk video tersebut.
3.
Optimasi SEO Video yang lebih mudah di banding dengan blog.
4.
Mendaftar adsense di youtube lebih mudah,kita juga tidak perlu repot memasang
kode iklan
5.
Adanya pemasangan iklan adsense di sidebar atas, jika akun di monetise sewaktu
anda membuka youtube melalui desktop, akan terdapat iklan di sidebar kanan atas. Ini
berpeluang menghasilkan dollar bagi pemilik akun. Berdasarkan survey analytics,
pengunjung dari youtube kebanyakan menggunakan dekstop.
6.
Adanya iklan di awal video (hamparan),jika pengunjung tertarik dan klik iklan video
tersebut,menjadi nilai plus buat kita.
7.
Adanya iklan di dalam video. Hal ini juga berpeluang memberikan penghasilan
lebih, karena bisa memilih iklan yang di sediakan serta menempatkan iklan pada durasi
tertentu. Biasanya pengaturan lanjutan ini berlaku untuk video yang sudah mendapat 301
viewer lebih.\
8.
Adanya iklan berbentuk video atau random video di side bar, fitur terbaru dari
youtube yaitu autoplay akan memainkan video berikutnya secara otomatis, hal ini akan
sangat menguntungkan utnuk menambah viewer dan berpotensi juga menampilkan iklan.
Semua tergantung juga dari kualitas video,menarik atau tidak di mata pemirsa, serta tingkat
keberuntungan rejeki masing masing (untuk klik iklan), tapi yang jelas peluang menjadi youtuber
itu lebih menjanjikan dalam hal menghasilkan atau mendapatkan uang dari internet.
K.
Contoh Kasus

Contoh Kasus International
Media sosial bisa menjadi salah satu tempat menghasilkan uang. Seperti yang dilakukan
lelaki asal New york ini yang bisa menghasilkan uang, cukup dengan duduk santai.
Contohnya adalah terdapat seorang kritikus resensi makanan "ReportOfTheWeek" dengan
tema Burger King Cheetos, Chicken Fries yang bertempat tinggal di US, Amerika Serikat
bernama John.
Selain menjadi kritikus, John juga berhasil membangun fanbase setia untuk mendeskripsikan
secara rinci seputar makanan cepat saji. Cara kerjanya, dia memberikan kritikan yang skeptis
dari sekitar 600 item makanan cepat saji.
John adalah seorang mahasiswa paruh waktu dan berprofesi sebagai Youtubers . Meski
John tinggal dengan orang tuanya , namun ia sudah mampu mendukung dirinya dengan
pendapatan iklan YouTube. Dia memperkirakan mampu menghasilkan sekitar 1.500 dolar AS
atau kisaran Rp19,7 juta per bulan dari iklan. John juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan
hingga 300 dolar AS atau sama dengan Rp3,95 juta.

Contoh Kasus National
Siapa bilang Indonesia tidak memiliki orang-orang yang kreatif? Jika ada persepsi seperti itu,
berarti hanya sebuah hipotesis yang nantinya akan salah. Orang-orang Indonesia sangat kreatif,
mereka tidak malu untuk melakukan apa yang mereka bisa. Salah satu contohnya adalah para
youtubers Indonesia yang kian hari semakin banyak jumlahnya.
Beberapa youtubers memang berkumpul didaerah Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Mereka
membuat perkumpulan sendiri agar bisa saling sharing dan memberi pendapat. Beberapa
diantaranya juga sudah sukses melanglang buana didunia youtube, mendapatkan penghasilan
yang bisa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Youtubers Indonesia juga ada yang mendapatkan penghargaan dari youtube, untuk pertama
kalinya dalam perkembangan sejarah youtubers Indonesia. Dia adalah, Raditya Dika. Ya,
Sutradara sekaligus aktor film itu mendapatkan penghargaan langsung dari Youtube karena
dirinya berhasil mendapatkan subscribers (pengikut) yang mencapai hingga 1 juta subscriber.
Orang Indonesia pertama yang memiliki channel youtube hingga 1 juta pengikut.
Hal ini didasari karena kreatifitas dari seorang Raditya Dika. Beberapa youtubers lain juga
sudah mulai banyak mengikuti jejaknya, berikut beberapa daftar youtubers yang namanya kian
naik hingga sekarang :
1. Edho Zell
2. Bayu Skak
3. Reza Oktovian
4. Last Day Production
5. Bena Kribo
Kelima channel ini memiliki perkembangan yang sangat signifikan bila dibandingkan dengan
channel-channel para youtuber Indonesia yang lain. Mereka mulai banyak dikenal oleh kalangan
anak-anak muda. Kreatifitas para youtubers juga diuji disini, banyak pro dan kontra yang mereka
dapatkan dari video yang mereka buat. Itulah bisnis, kadang kita harus memikirkan jauh kedepan
untuk kesuksesan kita.
L.
Menerka Penghasilan Para Youtubers Indonesia
Banyak yang sudah membuktikan, bahwa hanya berbisnis melalui internet bisa mendulang
kesuksesan yang bahkan lebih besar dari para pekerja kantoran. Beberapa di antaranya
memutuskan untuk terus mengerjakan profesi yang sangat mudah dikerjakan ini. Berikut

beberapa sepak terjang para youtuber Indonesia dalam mendulang kesuksesan mereka.
Edho Zell
Edho Zell adalah laki-laki keturunan Tionghoa yang tinggal di Jakarta. Pertama kali dirinya
memasuki bisnis youtube adalah saat dirinya sedang berlibur bersama teman-temannya untuk
menikmati liburan kerja. Bersama Reza Oktovian, dirinya membuat sebuah video tantangan dan
hukuman yang menarik, seperti Jack Ass.
Sepanjang perjalanan liburan, mereka selalu melakukan berbagai aksi dan tantangan yang
bisa dibilang sangat aneh. Tujuannya? Untuk menghibur para penonton. Targetnya adalah anakanak muda yang sedang mencari cara untuk menghilangkan rasa stress.
Disetiap video yang dia buat, selalu ada beberapa sponsor dari tempat yang mereka
kunjungi. Karena itu juga, Edho Zell juga pernah mendapatkan penghargaan The New Wave Viral
dari Marketeers ditahun 2012. Selang beberapa tahun Edho Zell mengganti konsep channelnya
menjadi sebuah channel parodi yang membahas mengenai kehidupan sehari-hari.
Jika kita menerka dan menebak, berapakah penghasilan Edho Zell dari youtube? Mungkin
jika diperkirakan, pendapatan Edho perbulannya dari youtube berkisar di angka $1000 ke atas.
Kesimpulan ini diambil karena berdasarkan subscribers (pengikut) yang sudah mencapai angka
300K (300 ribu) dan jumlah penayangan pada video-videonya yang sudah mencapai angka 58
juta views.

Bayu Skak
Bayu Skak memulai sepak terjang didunia Youtube sejak dirinya menjadi mahasiswa disalah
satu perguruan tinggi dikota Malang. Dirinya pernah mengaku, bahwa awal mula nama SKAK
berasal dari "Sekumpulan Anak Kesel (capek)", karena dulunya dia adalah seorang mahasiswa
jurusan animasi.
Oleh karena itu, dia ingin melepaskan semua bebannya dan menuangkannya melalui bentuk
video yang disebar melalui Youtube. Pada tahun 2013 kemarin, dirinya membuat video bahwa
penghasilannya
perbulan
adalah
$500+
dan
akan
semakin
bertambah,
mengingat
subscribersnya semakin hari semakin mencapai angka tinggi.

Reza Oktovian
Reza adalah teman dari Edho Zell, saat pertama mengikuti Edho Zell adalah saat mereka
membuat video-video tantangan seperti Jack Ass. Mungkin karena melihat temannya sukses
dalam youtube, dirinya juga ingin mengikuti jejak kesuksesan temannya itu. Reza sering disapa
dengan nama panggilan Arap.
Tahun 2014, Arap membuat sebuah channel yang berisi mengenai video-video dia saat
sedang bermain game serta mereview game yang sedang dia mainkan tersebut. Mungkin sangat
mirip dengan channel Pewdiepie (Felix Arvid Ulf Kjellberg), tetapi dia adalah pewdiepie versi
Indonesia. Karena tingkahnya yang konyol saat memainkan game, dirinya berhasil masuk ke hati
para penontonnya. Hingga sekarang, Arap berhasil mendapatkan subscribers sebanyak 200.000
orang.
Penghasilan Reza Oktovian dari youtube ini masih bisa dikatakan sedikit. Karena penargetan
yang dia lakukan adalah orang-orang Indonesia. Karena harga klik (CPC) Indonesia sangatlah
kecil perhitungannya. Jika diterka, penghasilan Reza hanya mencapai $500-$700 perbulannya.

Last Day Production
Channel satu ini adalah channel yang isi videonya berupa kebiasaan-kebiasaan yang
dilakukan oleh orang-orang Indonesia. Terkadang channel ini juga membuat beberapa film
pendek (short movie) yang tidak kalah kualitasnya dengan film panjang.
Last Day Production ini digawangi oleh Guntur, dan Listya Magdalena, serta beberapa teman
ataupun kerabat dekatnya. Dengan jumlah subscribers yang mencapai angka 280.000,
penghasilan channel ini bisa mencapai $700-$1000 perbulannya. Selain itu, karena mereka telah
lama eksis didunia Youtube, sebagian besar dari mereka juga di endorse oleh beberapa produk
pakaian ataupun fashion lainnya. Hal itu juga yang menambah penghasilan perorangan mereka.

Bena Kribo (Benazio Putra)
Pertama terkenal melalui blog benablog.com yang kemudian menjelma sebagai youtubers
yang sukses. Memiliki tingkat komedi yang tinggi, membuat dirinya mudah dikenal banyak orang.
Sempat membuat sebuah buku berjudul benabook. Tahun 2014 Bena beserta teman-temannya
mendirikan sebuah komunitas video di Instagram dan diberinama INDOVIDGRAM.
INDOVIDGRAM semakin eksis didunia instagram dan hingga sekarang Indovidgram memiliki
total followers sebanyak 2M+. Dengan demikian, sebagai salah satu pendiri komunitas tersebut
tentunya dirinya mendapatkan banyak keuntungan. Dimulai dari undangan sebagai pengisi acara
maupun bermain di film layar lebar.
Eksistensi Bena di youtube juga tidak kalah. Meskipun hanya memiliki 70.000 subscribers,
tetapi penghasilan dialah yang paling banyak diantara youtubers lain. Karena pendapatan yang
dia dapatkan bukan hanya berasal dari Youtube, tetapi karena eksistensinya yang kian hari
semakin naik membuat dirinya mendapatkan banyak tawaran job.
Kesimpulan
Studi kasus merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti menyelidiki secara
cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu.Kasus-kasus
dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan
menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan.
Tren Media Youtube yang memberikan kemudahan bagi para youtubers, membentuk
persepsi atau teori baru bahwa dimana ada kemauan disitu akan ada jalan keluar. Hanya saja
kita harus bisa memanfaatkan keadaan sekreatif mungkin. Artinya itu disini adalah, cobalah untuk
tidak menjadi pengikut sesuatu hal yang sudah ada dan jadilah orang-orang yang menciptakan
peluang baru dengan menganalisa kebutuhan masyarakat terlebih dahulu tentunya.
Menjadi Youtubers menjadi contoh kasus yang sangat nyata bahwa bukan hanya orangorang yang berkemeja dan berdasi yang serta merta duduk di belakang meja dan bekerja di
perkantoran yang akan mendapatkan income yang besar. Bahkan Youtubers terbukti dapat
menghasilkan income yang jauh lebih besar dari income para pekerja kantoran pada umumnya.
Kreatifitas sangat dibutuhkan disini, bukan hanya sekedar ikut-ikutan ataupun ingin sukses
dengan cara yang instan. Jika Anda ingin suskes, maka buatlah sebuah produk (brand) yang
berkualitas. Agar para calon konsumen yang menikmati produk Anda nantinya bisa mendapatkan
kepuasan tersendiri. Teruslah berkarya, jangan biarkan orang lain menghambat kesuksesanmu.
Daftar Pustaka
John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Edisi
KetigaBandung : Pustaka Pelajar, 2008.h. 19.
Stephen W. Littlejohn, and Karen A.Foss . 2008. Theories of Human Communication, 9th Edition.
Jakarta: Salemba Humanika.
Ellys L. Pembayun . 2013. Qualitative Research Methodology in Communication. Jakarta:
Lentera Ilmu Cendekia.
Liputan 6. 2016. Diambil dari: http://lifestyle.liputan6.com/read/2420891/cuma-modal-internetbisa-kaya-raya-bisa ( 16 November 2016 )
Youtube Adsense. 2016. Diambil dari: https://www.klikmania.net/8-alasan-mengapa-menjadiyoutuber-lebih-menjanjikan ( 16 November 2016 )
John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Edisi KetigaBandung : Pustaka
Pelajar, 2008.h. 19.
John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Edisi KetigaBandung : Pustaka
Pelajar, 2008.h. 19.
Download