PRESENTASI KASUS PERDARAHAN POST PARTUM LAMBAT POST SC HARI KE 10 ET CAUSA RETENSI SISA PLASENTA PADA MULTIPARA + ANEMIA (7.9) + HIPOKALEMIA (2.9) Disusun oleh : Kurnia Lintang Kharimah G991902034 Nadira Rachmianti Hartanto G99181046 Zarah Tin Cahyaningrum G99181072 Pembimbing : Glondong Suprapto, dr., Sp.OG (K) KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2019 BAB I PENDAHULUAN Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500cc yang terjadi setelah bayi lahir pervaginam atau lebih dari 500-600 ml setelah persalinan abdominal, jumlah perdarahan disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal. Akan tetapi kehilangan darah sekalipun dengan jumlah yang lebih kecil dapat menimbulkan akibat yang berbahaya pada wanita yang anemis. Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500cc yang terjadi setelah bayi lahir pervaginam atau lebih dari 1.000 ml setelah persalinan abdominal. Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan yang terjadi, maka batasan jumlah perdarahan disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal yang telah menyebabkan perubahan tanda vital, antara lain pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperapnea, tekanan darah sistolik < 90 mmHg, denyut nadi >100/menit, kadar Hb <8 g /dL. Perdarahan postpartum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Semua wanita yang sedang hamil 20 minggu memiliki resiko perdarahan postpartum dan sekuelernya. Walaupun angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara berkembang, perdarahan postpartum tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana-mana. Pada kelahiran normal akan terjadi kehilangan darah sebanyak kurang lebih 200ml. Episiotomi meningkatkan angka ini sebesar 100 ml dan kadang-kadang lebih banyak lagi. Wanita hamil mengalami peningkatan jumlah darah dan cairan sehingga kehilangan 500 ml darah pada wanita sehat setelah melahirkan tidak mengakibatkan efek serius. Akan tetapi kehilangan darah sekalipun dengan jumlah yang lebih kecil dapat menimbulkan akibat yang berbahaya pada wanita yang anemis. Anemia merupakan masalah medik yang sering dijumpai di kilinik seluruh dunia, disamping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat, terutama di negara 2 berkembang. Kelainan ini merupakan penyebab debilitas kronik (chronic debility) yang mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kesehatan fisik. Oleh karena frekuensinya yang demikian sering, anemia, terutama anemia ringan sering kali tidak mendapat perhatian dan dilewati oleh para dokter di praktek klinik. Perdarahan post partum adalah penyebab paling umum kematian maternal perinatal di negara maju dan merupakan penyebab utama morbiditas maternal di seluruh dunia. Data WHO menunjukkan bahwa 25% dari kematian maternal disebabkan oleh perdarahan postpartum dan diperkirakan 100.000 kematian maternal tiap tahunnya. Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 1060 %. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun selanjutnya akan mengalami kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan (WHO). Frekuensi perdarahan post partum berdasarkan laporan-laporan baik dinegara maju maupun di negara berkembang angka kejadian berkisar antara 5% sampai 15%. Dari angka tersebut yang diperoleh gambaran etiologi antara lain : atonia uteri(5060%) sisa plasenta (23-24%), retensio plasenta(16-17%), laselerasi jalan lahir (4-5%), kelainan darah (0,5- 0,8%). Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan sirkulasi kesana, atonia uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang melebar tadi tidak menjadi sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti episiotomi yang lebar, laserasi perineum, dan ruptur uteri yang menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah dan penyakit darah yang ada pada ibu, misalnya afibrinogemia atau hipofibrogemimia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan syok hemoragik. 3 BAB II STATUS PASIEN A. Anamnesis Anamnesis dilakukan pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 23:10 WIB terhadap pasien. 1. Identitas Pasien Nama : Ny. WSN Umur : 33 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : IRT Agama : Islam Alamat : Jatirejo RT 01 RW 01 Jumapolo, Karanganyar Status Perkawinan : Menikah 2 kali; I: 9 tahun, II: 2 tahun Paritas : P4A0 Tanggal Masuk : 10 Maret 2019 No.RM : 01452xxx Berat badan : 63 kg Tinggi Badan : 163 cm 2. Keluhan Utama Pasien mengeluh perdarahan pada jalan lahir. 3. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien P4A0, 33 tahun, datang rujukan dari RSIA Dian Pertiwi,dengan status P3A1, post SCTP 10 hari SMRS dengan perdarahan per vaginam. Riwayat pengobatan: 01/03/19: masuk RSIA Dian Pertiwi dengan diagnosis KPD+serotinus dilakukan SC + insersi IUD. Setelah 3 hari dirawat, pasien pulang dan kontrol ke poli dengan luka kering 4 10/03/19: datang ke IGD dengan keluhan perdarahan per vaginam mulai jam 12.00 dan perdarahan 3 underpad (+ 1500 ml). Hb: 8 gr/dL, mendapat terapi: IVFD RL + drip metergin IA 30 tpm Transfusi darah (PRC 2 kolf) kolf I: 19.30, kolf II: 23.30 Inj. Cefotaxim (17.00) Cyrotec 600 mcg/ rectal (17.00) Saat ini pasien mengeluh pusing dan lemas 4. Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat hipertensi : disangkal b. Riwayat penyakit jantung : disangkal c. Riwayat diabetes mellitus : disangkal d. Riwayat asma : disangkal e. Riwayat alergi obat/makanan : disangkal 5. Riwayat Penyakit Keluarga a. Riwayat hipertensi : disangkal b. Riwayat penyakit Jantung : disangkal c. Riwayat diabetes mellitus : disangkal d. Riwayat asma : disangkal e. Riwayat alergi obat/makanan : disangkal 6. Riwayat Fertilitas Baik 7. Riwayat Obstetri P4A0 I: IUFD, UK 6 bulan kuret II: perempuan, 12 tahun, 3300 g, lahir spontan dengan bantuan bidan III: perempuan, 3 tahun, 2900 g, lahir spontan dengan bantuan bidan IV: laki-laki, 3200 gr, SC ai serotinus+KPD 5 8. Riwayat Ante Natal Care (ANC) Pasien rutin melakukan ANC sebanyak 4x, yaitu 1x di SpOG dan 3x di bidan. 9. Riwayat Perkawinan Menikah 2 kali; I: 9 tahun, II: 2 tahun 10. Riwayat Keluarga Berencana (KB) IUD (terpasang saat SC) 11. Riwayat Pekerjaan Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dirumah 12. Riwayat Kebiasaan Pasien jarang olahraga 13. Riwayat Nutrisi Pasien biasa makan 2-3 kali sehari dengan nasi, lauk pauk, dan sayur B. Pemeriksaan Fisik 1. Status Generalis a. Keadaan Umum : compos mentis, tampak pucat b. Tanda Vital : Tensi : 112/84 mmHg Nadi : 109 x/menit Frekuensi nafas : 20 x/menit : 36, 40 C Suhu c. Kepala : Mesocephal d. Mata : Conjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) e. THT : Discharge (-/-) f. Leher : Kelenjar getah bening tidak membesar g. Thorax : 6 1) Cor Inspeksi : ictus cordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) 2) Pulmo Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : fremitus raba dada kanan = kiri Perkusi : sonor // sonor Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara napas tambahan (-/-), wheezing (-) h. Abdomen - Inspeksi : : Dinding perut sama tinggi dinding dada, striae gravidarum (+) - Palpasi : supel, nyeri tekan (+), teraba TFU setinggi pusat, kontraksi (+) hipotoni. i. - Perkusi : redup Genital : v/u tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio terbuka diameter 2 cm, tampak darah mengalir dari OUE C. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium Darah tanggal 10 Maret pukul 23.58 WIB Hematologi rutin Hemoglobin : 7,9 g /dL Hematokrit : 22 % Eritrosit : 2,57 x 106/μL Leukosit : 13,4 x 103/μL 7 Trombosit : 168 x 103/μL Golongan darah :A Hemostastis a. PT : 12,7 detik b. APTT : 25,2 detik c. INR : 0,970 Kimia Klinik a. Glukosa Darah Sewaktu: 82 mg/dL b. Creatinine : 0,9 mg/dL c. Ureum : 31 mg/dL Elektrolit a. Natrium darah : 136 mmol/L b. Kalium darah : 3,0 mmol/L c. Chlorida darah : 103 mmol/L Ultrasonografi (USG) tanggal 10 Maret 2019 (22.50) Tampak VU terisi cukup Tamapk uterus mebesar, tunika serosa tidak intak pada bagian anterior uterus, kesan cairan bebas di antara myometrium dan tunika serosa, EL (-) tampak IUD insitu, massa amorf (+), SBR (segmen bawah rahim) intak Pada pemeriksaan power doppler, tidak ditemukan hipervaskularisasi daerah korpus anterior sampai dengan SBR. Morison pouch tampak free fluid Kesan: sub involusi uterus, susp retensio sisa plasenta, IUD insitu, ascites minimal D. Diagnosis Awal Perdarahan post pasrtus (SC) lambat ec retensio sisa plasenta pada multipara+ anemia (7,9)+ hipokalemia (2,9) 8 E. Prognosis Dubia F. Terapi dan Planning 1. Pro kuretase emergency 2. Perbaikan keadaan umu tranfusi PRC 4 kolf 3. Konsul anestesi 4. Inform consent 5. KSR 3x1 G. FOLLOW UP 1. Evaluasi tanggal 11 Maret 2019 pukul 06:00 WIB (DPH-1) P4A0, 33 tahun Keluhan : lemas (+), nyeri (+) Keadaan Umum : sakit sedang, compos mentis Tanda Vital : Tekanan darah: 108/77 mmHg RR Nadi Suhu : 36,40C : 74 x/menit : 19 x/menit Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Abdomen : supel, nyeri tekan (-), kontraksi uterus (+), TFU setinggi pusar. Genital : darah (+), terpasang DC cateter Diagnosis : Perdarahan post partus (SC) lambat hari ke-11 ec retensio sisa plasenta pada multipara + anemia (7,9) + hipokalemia (2,9) Plan : a. Perbaikan keadaan umum transfuse PRC 4 kolf post IV PRC ca gluconas IA b. KSR 3x1 c. Usul pemeriksaan staff jaga 9 Pemeriksaan Staff (USG staff) dr. Robert pada pukul 09.00 WIB USG: tampak gambaran amorf di fundus uteri dengan sebagian cairan bebas curiga darah/ stolcel. Kesan: sisa plasenta Advis - Perbaikan keadaan umum, diberikan uterotonika - Transfusi setelah kolf ke IV cek DR3 - Kuretase jika keadaan umum baik kuretase elektif Diagnosis: perdarahan post partus (SC) lambat hari ke-11 ec retensio sisa plasenta pada multipara+ anemia (7,9)+ hipokalemia (2,9) Pemeriksaan Staff Fetomaternal (dr. Wisnu, Sp.OG(K)) Pukul 11.00 USG: - Tampak VU terisi minimal dengan balon cateter (+) - Tampak massa hipoekoik di daerah SBR ukuran 0,88x0,68x0,5. CDFI tidak meningkat.tamapk garis suspek SBR tidak intak 0,1 cm - Tampak uterus ukuran 15,21x 10,46x12, melebar dengan gambaran miometrium tidak khas (hipoekoik densitas sedang dengan gambaran hipoekoik), kesan stolsel - Tampak IUD posisi mendekati daerah SBR - Morison pouch normal, cairan bebas bekas retro ( ) TVS: - Balon cat (+) - Tampak uterus dengan gambaran hipoekoik dan fundus, kesan massa amorf dd stolsel - Endometrial line kesan (+) 10 - Kesan: menyokong gambaran sub involusi uterus dengan stolsel (+++) dan IUD kesan translokasi Pro kuretase dengan guiding USG oleh R7 PA Evaluasi post kuretase perdarahannya Pukul 11.35 Diagnosis: Perdarahan post partum (SC) lambat ec suspek perforasi SBR dengan hematokel intrauterine pada multipara + anemia (7,9) + hypokalemia (2,9) Plan: - Tunda kuretase - Plan untuk histeroskopi - Perbaikan KU Lapor dr. Laqif, Sp.OG(K) untuk rencana histereskopi pada pukul 12.15 WIB Advis pasang balon kateter intracavum. Konsul staff FER lain untuk tindakan histereskopi Lapor dr. Eriana, Sp.OG(K) untuk rencana histereskopi pada pukul 12.20 WIB Advis - Siapkan OK lain karena OK 13 ada 2 rencana laparoskopi - Bila syok langsung histerektomi emergency, tidak perlu histereskopi Lapor dr. Nutria, Sp.OG(K), M.Kes Pukul 12.30 WIB Pemeriksaan: - TD 110/70 mmHg, HR: 100x/menit, RR: 20x/menit, T: 36,70C 11 - Perdarahan di underpad + 125 cc, masih mengalir dari vagina Usul - Kuretase dengan guiding USG bila perdarahan, pasang balon kateter histerektomi emergency - Persiapan 1 PRC 1 WB Follow up pada pukul 13.00 Keluhan : perdarahan mengalir (-) Keadaan Umum : baik, compos mentis Tanda Vital : - Tekanan darah: 115/70 mmHg - Nadi : 72 x/menit Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Abdomen : supel, nyeri tekan (-), kontraksi uterus (+), TFU setinggi pusar. Genital : darah (+), PPV tidak mengalir, underpad ¼ Diagnosis : Perdarahan post partus (SC) lambat hari ke-11 ec retensio sisa plasenta pada multipara + anemia (7,9) + hipokalemia (2,9) Plan : - Perbaikan keadaan umum - Transfuse s/d Hb > 10 gr/dL - Inf. RL + (oxytosin+metergin (1:1)) - Inj. Asam tranexamat 500 mg/8 jam - Inj. Ampicillin 1 amp/ 8 jam - Evaluasi dan observasi bila sewaktu-waktu perdarahan bertambah; KIE s/d histerektomi (bila perdarahan banyak, langsung histerektomi 12 emergency, bila perdarahan minimal, periksa untuk histerektomi besok) - Histerektomi di OK IBS jam 08.00, operator dr. Eric, Sp.OG(K) Lapor dr. Nutria, Sp.OG(K) Advis - Evaluasi di PONEK sampai besok (12/3/2019) - Awasi tanda-tanda perdarahan - Dievaluasi ulang besok oleh dr. Eric, Sp.OG(K) - Histerektomi hanya bila ada indikasi (perdarahan msasif) Lapor dr. Eric, Sp.OG(K) Advis - Evaluasi ulang besok pagi (12/3/2019) - Histerektomi bila perdarahan massif Laboratorium Darah tanggal 11 Maret pukul 20.39 WIB Hematologi rutin 2. Hemoglobin : 8,4 g /dL Hematokrit : 25 % Eritrosit : 2,88 x 106/μL Leukosit : 9,9 x 103/μL Trombosit : 169 x 103/μL Evaluasi tanggal 12 Maret 2019 pukul 06:00 WIB (DPH-2) P4A0, 33 tahun Keluhan : lemas (-), perdarahan (-), flek-flek (+), pusing (-) Keadaan Umum : sakit sedang, compos mentis 13 Tanda Vital : Tekanan darah: 128/70 mmHg RR Nadi Suhu : 36,90C : 65 x/menit : 22 x/menit Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Abdomen : supel, nyeri tekan (+), kontraksi uterus (+) baik, TFU setinggi 2 jari di atas pusat, LP: 89 cm Genital : darah mengalir (-), terpasang DC Diagnosis : Perdarahan post partus (SC) lambat ec suspek dehisensi SBR dengan hematokel pada multipara + anemia (7,9) + hipokalemia (2,9) Plan : a. Perbaikan keadaan umum transfusi s/d Hb 10 gr/dL b. IVFD RL 30 tpm c. Inj. Asam tranexamat 500 mg/8 jam d. Inj. Ampicillin I amp/ 8 jam (III) e. KSR 3x1 f. Evaluasi ulang hari ini (12/3/2019) oleh dr. Eric, Sp.OG(K) g. Cek ulang Lab: GDS, PT, APTT, elektrolit, Ur, Cr h. Balance cairan: - I: 1950 cc - O: 1200 cc - IWL: 630 - BC: +120 cc - UO: 50 cc/ jam 0,79 cc/kgBB/jam Pemeriksaan Staff Fetomaternal Pukul 09.30 oleh dr. Nutria, Sp.OG(K), M.Kes 14 USG - Tampak VU terisi minimal dengan balon cateter (+) - Tampak uterus membesar ukuran 16x15x12 dengan tampak massa hipoekoik sebagian hiperekoik intra uterin, kesan stolsel 11x8x6 - Massa hipoekoik pada fundus kesan bertambah banyak, pada pemeriksaan color doppler tidak meningkat - Pemeriksaan bagian SBR tampak bagian kesan space/celah suspek dehisensi SBR? Turbulensi (-) - Kesan: menyokong gambaran uterus sub involusi dengan stolsel+retsiplas intra uterin dengan suspek dehisensi SBR Plan: - Usul suction kuretase untuk keluarkan stolsel dengan guiding USG dilanjut kuret dengan sendok tumpul oleh R7 dengan guiding USG - Evaluasi perdarahan, post kuretase bila perdarahan meningkat histerektomi Pukul 11.00 oleh dr. Eric, Sp.OG(K) USG - Tampak VU terisi minimal dengan balon cateter (+) - Tampak gambaran hematom di area fundus uteri ukuran 8,49x9,56 cm - EL (+) - Tidak tampak massa di cavum uteri Diagnosis: persarahan post partum lambat post SC post XII ec sub involusi hematom luas di uteri Plan: - Laparotomy eksplorasi s/d histerektomi (Rabu, 13/3/2019) dengan operator dr. Eric, Sp.OG(K), asisten (R7) - KIE - Inform consent 15 - Konsul anestesi - Sediakan darah: 2 PRC, 2 FFP Pukul 11.45 oleh dr. Nutria, Sp.OG(K), M.Kes Pasien observasi di PONEK lantai 2, ACC dr. Nutria, Sp.OG(K), M.Kes Follow up pada pukul 21.30 Keluhan: perdarahan (+) ½ underpad Keadaan Umum : baik, compos mentis Tanda Vital : - Tekanan darah: 130/70 mmHg - Nadi : 88 x/menit - RR : 20 x/menit - T : 36,40 C Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Abdomen : supel, nyeri tekan (-), kontraksi uterus (+), TFU setinggi 3 jari di bawah pusat. Genital : darah (+), discharge (-) Diagnosis : Perdarahan post partus post SC XII ec sub involusi, hematom luas di uterus Plan : - Drip oximethergin : RL 1:1 - Terapi lain lanjut Laboratorium Darah tanggal 12 Maret 2019 pukul 10.22 WIB Hemostastis a. PT : 12,7 detik b. APTT : 25,2 detik 16 c. INR : 0,970 Kimia Klinik a. Glukosa Darah Sewaktu: 82 mg/dL b. Creatinine : 0,9 mg/dL c. Ureum : 31 mg/dL Elektrolit a. Natrium darah : 136 mmol/L b. Kalium darah : 3,0 mmol/L c. Chlorida darah : 103 mmol/L Laboratorium Darah tanggal 12 Maret pukul 16.26 WIB Hematologi rutin a. Hemoglobin : 10,1 g /dL b. Hematokrit : 30 % c. Eritrosit : 3,41 x 106/μL d. Leukosit : 9,9 x 103/μL e. Trombosit : 169 x 103/μL 3. Evaluasi tanggal 13 Maret 2019 pukul 06:00 WIB (DPH-3) P4A0, 33 tahun Keluhan : perdarahan (-), nyeri perut (+) Keadaan Umum : sakit sedang, compos mentis Tanda Vital : - Tekanan darah: 138/87 mmHg - Nadi : 68 x/menit - RR : 20 x/menit - T : 36,80C Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal 17 Abdomen : supel, nyeri tekan (+), kontraksi uterus (+) baik, TFU setinggi 3 jari di atas pusat, LP: 89 cm Genital : darah mengalir (-), discharge (-) Diagnosis : Perdarahan post partus lambat post SC hari ke-13 ec sub involusi hematom luas di uterus Plan : a. Pro laparotomy eksplorasi s/d histerektomi b. IVFD RL 30 tpm c. Inj. Asam tranexamat 500 mg/8 jam d. Inj. Ampicillin I amp/ 8 jam (III) e. KSR 3x1 f. Evaluasi KUVS, tanda-tanda perdarahan g. Balance cairan: - I: 1700 cc - O: 980 cc - IWL: 630 - BC: +90 cc - UO: 40,83 cc/ jam Lapor dr. Eric, Sp.OG(K) pada pukul 09.40 ACC terapi tidak ACC diagnosis Advis: perdarahan post partum lambat post SC hari ke-13 ec sub involusi ec retensi sisa plasenta Instruksi post kuretase pada pukul 09.00 1. Awasi KU/VS/tanda-tanda perdarahan sampai dengan 24 jam post kuretase 2. Puasa sampai dengan BU (+) atau flatus (+) 18 3. Medikamentosa: - Oksitosin : metergin 1:1 - Amoxicillin tab 500 mg/ 8jam - Asam mefenamat 500 mg/8 jam - Vit C 50 mg/ 12 jam Intruksi 2 jam post kuretase pada pukul 11.00 oleh dr. Nutria, Sp.OG(K), M.Kes P4A0, 33 tahun Keluhan : mual (-), muntah (-), nyeri (+) minimal Keadaan Umum : baik, compos mentis Tanda Vital : Tekanan darah: 122/78 mmHg RR Nadi Suhu : 36,50C : 90 x/menit : 27 x/menit Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Abdomen : supel, nyeri tekan (-), kontraksi uterus (+) baik, TFU setinggi 2 jari di bawah pusat, tampak luka bekas operasi (+) Genital : darah mengalir (-), discharge (-) Diagnosis : Post kuretase atas indikasi perdarahan post partum lambat post SC hari ke-13 ec sub involusi ec retensi sisa plasenta Plan : - Oksitosin : metergin 1:1 dalam RL 500 cc = 20 tpm dalam 24 jam - Asam mefenamat 500 mg/ 8 jam - Vit C 50 mg/ 12 jam - Amoxicillin 500 mg/ 8 jam - Cek DR 3 post kuretase ACC dr. Eric, Sp.OG(K) - Transfuse 1 kolf PRC 19 Laboratorium Darah tanggal 13 Maret pukul 11.30 WIB Hematologi rutin a. Hemoglobin : 9,7 g /dL b. Hematokrit : 30 % c. Eritrosit : 3,43 x 106/μL d. Leukosit : 11,8 x 103/μL e. Trombosit : 188 x 103/μL 4. Evaluasi tanggal 14 Maret 2019 pukul 06:00 WIB (DPH-1) P4A0, 33 tahun Keluhan : nyeri perut (+), mual (-), muntah (-), Keadaan Umum : baik, compos mentis Tanda Vital : Tekanan darah: 130/80 mmHg RR Nadi Suhu : 36,70C : 80 x/menit : 16 x/menit Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Ektremitas : kedua tangan kaku (+), nyeri (+) Abdomen : supel, nyeri tekan (-), kontraksi uterus (+) baik, TFU setinggi 2 jari di bawah pusat, luka bekas operasi (+) Genital : darah (-), discharge (-) Diagnosis : post kuretase atas indikasi perdarahan post partum lambat post SC hari ke-14 ec sub involusi ec retensi sisa plasenta Plan : - Oksitosin : metergin 1:1 dalam RL 500 cc = 20 tpm dalam 24 jam - Asam mefenamat 500 mg/ 8 jam - Amoxicillin 500 mg/ 8 jam 20 - Vit C 50 mg/ 12 jam 5. Evaluasi tanggal 15 Maret 2019 pukul 06:00 WIB (DPH-2) P4A0, 33 tahun Keluhan : nyeri perut (+), mual (-), muntah (-), kedua tangan kaku Keadaan Umum : baik, compos mentis Tanda Vital : - Tekanan darah: 130/90 mmHg - Nadi : 80 x/menit - RR : 16 x/menit - T : 36,60C Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal Ektremitas : kedua tangan kaku (+), nyeri (+) Abdomen : supel, nyeri tekan (-), kontraksi uterus (+) baik, TFU setinggi 2 jari di bawah pusat, luka bekas operasi (+) Genital : darah (-), discharge (-) Diagnosis : post kuretase atas indikasi perdarahan post partum lambat post SC hari ke-14 ec sub involusi ec retensi sisa plasenta Plan : - Amoxicillin 500 mg/ 8 jam - Asam mefenamat 500 mg/ 8 jam - Vit C 50 mg/ 12 jam 21 BAB III TINJAUAN PUSTAKA a. Perdarahan Postpartum (PPH) 1. Definisi Perdarahan pasca-salin yaitu kehilangan darah dari saluran genitalia >500 ml setelah melahirkan pervaginam atau >1000 ml setelah melahirkan secara seksio sesarea. Perdarahan pasca-salin dapat bersifat minor (500-1000 ml) atau pun mayor (>1000 ml). Perdarahan mayor dapat dibagi menjadi sedang (1000-2000 ml) atau berat (>2000 ml). Perdarahan pasca-salin diklasifikasikan menjadi pendarahan pasca salin primer/ dini (primary post partum haemorrhage) dan pendarahan pasca salin sekunder/ lanjut (secondary post partum haemorrhage). Perdarahan pascasalin primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pasca-salin, sedangkan perdarahan pasca-salin sekunder merupakan perdarahan yang terjadi setelah periode 24 jam tersebut. Pada umumnya, pendarahan pasca salin primer/dini lebih berat dan lebih tinggi tingkat morbiditas dan mortalitasnya dibandingkan pendarahan pasca salin sekunder/lanjut. Perdarahan pasca-salin dapat disebabkan oleh 4 faktor yaitu kelemahan tonus uterus untuk menghentikan perdarahan dari bekas insersi plasenta (tone), robekan jalan lahir dari perineum, vagina, sampai uterus (trauma), sisa plasenta atau bekuan darah yang menghalangi kontraksi uterus yang adekuat (tissue), dan gangguan faktor pembekuan darah (thrombin). Perdarahan pascasalin merupakan penyebab kematian maternal yang penting meliputi hampir 1/4 dari seluruh kematian maternal di seluruh dunia. Bentuk perdarahan obstetri yang paling sering dan sebagai penyebab utama morbiditas serta mortalitas maternal adalah pendarahan pasca salin. Perdarahan obstetri 22 merupakan penyebab kematian utama maternal baik di negara berkembang maupun negara maju. 2. Anatomi dan Fisiologi Uterus Uterus (rahim) berbentuk seperti buah pear yang sedikit gepeng ke arah depan belakang. Ukurannya sebesar telur ayam kampung dan mempunyai rongga (Prawirohardjo, 2014). Besarnya rahim berbeda-beda, bergantung pernah melahirkan anak atau belum. Uterus terdiri dari tiga bagian besar, yaitu, fundus uteri yang berada di bagian uterus proksimal, badan rahim (korpus uteri) yang berbentuk segitiga, dan leher rahim (serviks uteri) yang berbentuk silinder (Prawirohardjo, 2014). Korpus uteri adalah bagian terbesar uteri, merupakan 2/3 bagian dari rahim. Pada kehamilan, bagian ini berfungsi sebagai tempat utama bagi janin untuk berkembang dan hidup (Curren, 2002). Serviks uteri terbagi kepada dua bagian, yaitu pars supra vaginal dan pars vaginal. Saluran yang menghubungkan orifisium uteri internal (oui) dan orifisium uteri external (oue) disebut kanalis servikalis, dilapisi kelenjar-kelenjar serviks. Bagian rahim antara serviks dan korpus disebut isthmus atau segmen bawah rahim. Bagian ini akan mengalami peregangan dalam proses kehamilan dan persalinan (Prawirohardjo, 2014). Dinding rahim secara secara histologiknya terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan mukosa (endometrium) di dalam, lapisan otot-otot polos (lapisan miometrium) di tengah, dan lapisan serosa (lapisan peritoneum) di luar. Lapisan otot-otot polos di sebelah dalam berbentuk sirkular dan di sebelah luar berbentuk longitudinal. Di antara kedua lapisan itu terdapat lapisan otot oblik yang berbentuk anyaman. Lapisan ini paling penting dalam persalinan karena sesudah plasenta lahir, otot lapisan ini berkontraksi kuat dan menjepit pembuluh-pembuluh darah yang terbuka sehingga perdarahan berhenti (Prawirohardjo, 2014). 23 Gambar 1. Anatomi Uterus 3. Etiologi Terdapat 4 faktor : a. Tonus Atonia Uteri (kelemahan tonus uterus untuk menghentikan perdarahan dari bekas insersi plasenta) b. Tissue Retensio plasenta / retensio sisa plasenta (sisa plasenta atau bekuan darah yang menghalangi kontraksi uterus yang adekuat) c. Trauma Robekan jalan lahir, Laserasi, Ruptur, Inversi d. Thrombin Koagulopati (gangguan faktor pembekuan darah) 24 Adanya banyak faktor yang dapat menyebabkan hemorrhage postpartum. Antaranya kelainan kontraksi uterus (tone) 70 %, adanya sisa hasil konsepsi (tissue) 10 %, trauma pada jalan lahir (trauma) 20 % dan kelainan koagulasi (thrombin) < 1 %. Pada perdarahan postpartum yang disebabkan kelainan kontraksi uterus atau kontraksi tonus uteri yang berkurang, hal ini sering terjadi pada kasus atoni uteri. Uterus yang mengalami distensi mudah menjadi hipotonik sesudah kelahiran. Dengan demikian wanita dengan janin yang besar (berat janin antara 4500–5000 gram), kehamilan kembar ataupun polihidramnion cenderung mengalami perdarahan (Cunningham, 2009). Penyebab utama perdarahan postpartum disebabkan kelainan kontraksi uteri adalah atonia uteri. Atoni uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi dengan baik dan mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Pada keadaaan yang normal, miometrium bisa berkontraksi sehingga memampatkan pembuluh darah robek dan mengontrol kehilangan darah sehingga mencegah perdarahan yang cepat dan berbahaya (Cunningham, 2009). Beberapa faktor predisposisi yang dapat mencetuskan terjadinya hipotoni dan atoni uteri meliputi umur yang terlalu muda atau tua, jumlah paritas yang sering terutama pada multipara dan grande mutipara, uterus yang teregang berlebihan, miometrium yang keletihan seperti pada partus lama dan persalinan yang terlalu giat, pada persalinan dengan operasi, persalinan akibat induksi oksitosin, akibat anastesi umum, infeksi uterus misalnya chorioamnionitis dan endomyometritis, kelainan pada plasenta seperti pada kasus plasenta previa dan solutio plasenta, riwayat atoni uteri, dan faktor sosial ekonomi yaitu malnutrisi (Prawirohardjo, 2014). Atoni uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, tapi dengan teknik yang salah (Gynecologists, 2011) 25 Apabila adanya sisa hasil konsepsi seperti yang terjadi pada kasus retensio plasenta, plasenta acreta dan variasinya, perdarahan postpartum bisa terjadi. Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir, hal itu dinamakan retensio plasenta. Hal ini bisa disebabkan karena plasenta belum lepas dari dinding uterus atau plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan. Pada penemuan ultrasonografi adanya massa uterus yang echogenik mendukung diagnosa retensio sisa plasenta dan perdarahan ini selalu berlaku beberapa jam setelah persalinan ataupun pada perdarahan postpartum sekunder. Plasenta yang belum lepas dari dinding uterus disebabkan kontraksi uterus yang kurang kuat untuk melepaskan plasenta dikenali sebagai plasenta adhesiva sedangkan plasenta yang melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vilis komalis menembus desidua sampai miometrium sampai dibawah peritoneum diketahui sebagai plasenta akreta–perkreta. Bila plasenta sudah lepas dari dinding uterus tetapi belum keluar disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III yang menganggu kontraksi uterus sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta dikenali sebagai inkarserasio plasenta (Cunningham, 2009). Jika pendarahan terjadi meskipun rahim baik kontrak dan kurangnya jaringan ditahan, maka trauma pada jalan lahir atau trauma genital dicurigai (Stanford, 2009). Pada trauma atau laserasi jalan lahir bisa terjadi robekan perineum, vagina serviks, forniks dan rahim. Keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan yang banyak apabila tidak segera diatasi. Laserasi jalan lahir biasanya terjadi karena persalinan secara operasi termasuk seksio sesaria, episiotomi, pimpinan persalinan yang salah, persalinan pervaginam dengan bayi besar, dan terminasi kehamilan dengan vacuum atau forcep dengan cara yang tidak benar. Keadaan ini juga bisa terjadi secara spontan akibat ruptur uterus, inversi uterus, perlukaan jalan lahir, dan vaginal hematom. Laserasi 26 pembuluh darah dibawah mukosa vagina dan vulva akan menyebabkan hematom. Perdarahan akan tersamarkan dan dapat menjadi berbahaya karena tidak akan terdeteksi selama beberapa jam dan bisa menyebabkan terjadinya syok. Hematoma biasanya terdapat pada daerah-daerah yang mengalami laserasi atau pada daerah jahitan perineum. Episiotomi dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan jika mengenai arteri atau vena yang besar, episitomi luas, ada penundaan antara episitomi dan persalinan, atau ada penundaan antara persalinan dan perbaikan episitomi (Cunningham, 2009). Manakala pada perdarahan postpartum yang disebabkan kelainan pembekuan darah, gejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa penyakit keturunan ataupun didapat. Kelainan pembekuan darah bisa berupa hipofibrinogenemia, trombocitopenia, thrombocytopenic purpura idiopatik, sindroma HELLP yang adanya hemolisis, enzim hati yang meningkat serta kadar trombosit yang rendah, disseminated intravaskuler coagulation (DIC), dan dilutional coagulopathy yang bisa terjadi pada transfusi darah lebih dari 8 unit karena darah donor biasanya tidak segar sehingga komponen fibrin dan trombosit sudah rusak. Perdarahan postpartum juga bisa sebagai akibat kegagalan koagulasi seperti eklampsia berat, perdarahan antepartum, cairan ketuban embolus, kematian janin intrauterine atau sepsis (Prawirohardjo, 2014) 4. Klasifikasi Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian : a. Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. b. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi antara 24 jam dan 6 minggu setelah anak lahir. Perdarahan postpartum primer bisa terjadi karena atoni uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, inversi uteri, ruptura uteri, dan gangguan 27 koagulasi, manakala perdarahan postpartum sekunder biasanya terjadi akibat sisa plasenta dalam uteri (Prawirohardjo, 2014) 5. Patofisiologi Selama kehamilan, volume darah ibu meningkat sekitar 50% (dari 4 L ke 6 L). Volume plasma meningkat agak lebih dari total volume sel darah merah, yang menyebabkan penurunan konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit. Peningkatan volume darah berfungsi untuk memenuhi tuntutan perfusi dari unit uteroplasenta yang resistansi rendah dan untuk menyediakan cadangan untuk kehilangan darah yang terjadi saat persalinan (Smith, 2018). Pada saat aterm, perkiraan aliran darah ke rahim adalah 500-800 mL / menit, yang merupakan 10-15% dari curah jantung. Sebagian besar aliran ini melintasi plasenta yang resistannya rendah. Pembuluh darah uterus yang memasok situs plasenta melintasi jalinan serat miometrium. Ketika serat-serat ini berkontraksi setelah persalinan, terjadi retraksi miometrium. Retraksi adalah karakteristik unik dari otot uterus untuk mempertahankan panjangnya yang pendek setelah setiap kontraksi berturut-turut. Pembuluh darah dikompresi dan, biasanya, aliran darah cepat tersumbat. Susunan ikatan otot ini telah disebut sebagai "ikatan hidup" atau "jahitan fisiologis" rahim (Smith, 2018). Atonia uteri adalah kegagalan serabut miometrium uterus untuk berkontraksi dan menarik. Ini adalah penyebab paling penting dari PPH dan biasanya terjadi segera setelah kelahiran bayi, hingga 4 jam setelah melahirkan. Trauma ke saluran genital (yaitu, rahim, serviks uterus, vagina, labia, klitoris) pada kehamilan menghasilkan perdarahan yang secara signifikan lebih banyak daripada yang akan terjadi pada keadaan tidak hamil karena meningkatnya pasokan darah ke jaringan-jaringan ini. Trauma yang secara khusus terkait dengan persalinan bayi, baik secara spontan atau dengan bantuan atau melalui persalinan sesar, juga dapat menjadi substansial dan dapat menyebabkan 28 gangguan signifikan pada jaringan lunak dan robeknya pembuluh darah (Smith, 2018). 6. Faktor Risiko Faktor Risiko pada ibu yang dapat meningkatkan kejadian perdarahan post partum antara lain (Megasari, 2013): a. Usia Ibu yang hamil berumur < 20 tahun dan > 35 tahun lebih beresiko mengalami perdarahan pasca persalinan. b. Paritas Ibu yang paritas >3 beresiko mengalami perdarahan pasca persalinan dibandingkan ibu yang paritasnya 2-3. c. Kunjungan Antenatal Ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan antenatal mengalami perdarahan pasca persalinan dari pada beresiko ibu yang melakukan kunjungan antenatal. d. Kadar Hb Ibu yang memiliki perdarahan pasca kadar persalinan Hb <11 gr% beresiko mengalami daripada ibu yang memiliki kadar Hb >11gr%. e. Pekerjaan Ibu yang bekerja beresiko mengalami perdarahan pasca persalinan dibandingkan ibu yang tidak bekerja. f. Pendidikan Ibu yang pendidikannya rendah beresiko mengalami perdarahan pasca persalinan 2 kali dibandingkan ibu yang pendidikan tinggi. 7. Diagnosis Umumnya pendarahan post-partum didiagnosa apabila jumlah pendarahan dianggap melebihi batas normal. Tanda dan gejala klinis dari 29 kehilangan darah meliputi kelemahan, berkeringat, dan takikardi yang biasanya timbul setelah kehilangan 15-25% kehilangan darah dari volume total. Penurunan hemodinamik hanya terjadi pada kehilangan darah. Diagnosis pada perdarahan pascasalin harus dicari penyebab utamanya. Dapat dibuat diagnosis :12 1. Berdasar gejala klinis a. Perdarahan setelah anak lahir, tetapi plasenta belum lahir, darah yang keluar biasanya berwarna merah segar. Hal ini biasa disebabkan oleh robekan jalan lahir. b. Perdarahan setelah plasenta lahir, biasanya disebabkan oleh atonia uteri. 2. Inspekulo: robekan pada vagina, serviks atau varises yang pecah. 3. Palpasi uterus: uterus lembek, masih diatas pusat, kontraksi yang kurang baik, biasa merupakan tanda atonia uteri 4. Memeriksa plasenta, apakah lengkap atau tidak kotiledonnya dan selaput ketubannya. 5. Eksplorasi cavum uteri, untuk mencari bekuan darah atau sisa plasenta dan selaput ketuban, robekan rahim. 6. Pemeriksaan lab: a. Tes darah lengkap : Hb, Ht, Tc b. Protrombin Time (PT) dan activated partial tromboplastin time (aPTT): untuk melihat kelainan koagulasi c. Fibrinogen: koagulopati (N= 300-600) 7. Pemeriksaan lain: a. USG b. Angiografi c. D-dimer 30 Gejala dan Tanda Perdarahan segera setelah anak lahir Uterus lembek dan tak berkontraksi Perdarahan segera setelah anak lahir Uterus berkontraksi keras Plasenta lengkap Komplikasi Syok Diagnosis Atonia uteri Pucat Lemah Menggigil Robekan jalan lahir Plasenta belum lahir setelah 30 menit bayi lahir Perdarahan segera Uterus berkontraksi dan keras Plasenta atau selaput tidak lengkap Perdarahan segera Uterus tak teraba Lumen vagina terisi massa Perdarahan segera (vagina/intra abdomen) Nyeri perut hebat Tali pusat putus akibat traksi Inversio uteri Perdarahan lanjut Retensio plasenta Sisa plasenta tertinggal Uterus berkontraksi tetapi TFU tidak berkurang Neurogenik syok Pucat Syok Perut tegang Nadi cepat Ruptur uteri Perdarahan > 24 jam setelah anak lahir Uterus lunak dan lebih besar Perdarahan yang bervariasi dan bau Anemia Perdarahan pascasalin lambat Tabel 1. Penilaian Klinik 31 Inversio uteri Kehilangan darah Tekanan darah (sistole) Gejala Derajat syok Normal Palpitasi, takikardi, sakit kepala Kompensasi 80-10mmHg lemah, takikardi, berkeringat Ringan 70-80mmHg Gelisah, oliguri Sedang 50-70mmHg kolaps, sesak nafas, anuria Berat 500-1000 (10-15%) 1000-1500 (15-25%) mL 1500-2000 (25-35%) 2000-3000 (35-50%) mL Tabel 2. Gejala pada perdarahan obstetri 8. Pencegahan PPH a. Perawatan masa kehamilan Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin tetapi sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik. Menangani anemia dalam kehamilan adalah penting, ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit. b. Persiapan persalinan Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar Hb, golongan darah, dan bila memungkinkan sediakan donor darah dan 32 dititipkan di bank darah. Pemasangan cateter intravena dengan lobang yang besar untuk persiapan apabila diperlukan transfusi. Untuk pasien dengan anemia berat sebaiknya langsung dilakukan transfusi. Sangat dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan postpartum untuk menabung darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan. c. Persalinan Setelah bayi lahir, lakukan massae uterus dengan arah gerakan circular atau maju mundur sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik. Massae yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum, selama ataupun sesudah lahirnya plasenta bisa mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan mempercepat kontraksi akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terjadinya perdarahan postpartum. d. Kala tiga dan Kala empat Uterotonica dapat diberikan segera sesudah bahu depan dilahirkan. Study memperlihatkan penurunan insiden perdarahan postpartum pada pasien yang mendapat oxytocin setelah bahu depan dilahirkan, tidak didapatkan peningkatan insiden terjadinya retensio plasenta. Hanya saja lebih baik berhati-hati pada pasien dengan kecurigaan hamil kembar apabila tidak ada USG untuk memastikan. Pemberian oxytocin selama kala tiga terbukti mengurangi volume darah yang hilang dan kejadian perdarahan postpartum sebesar 40%. Pada umumnya plasenta akan lepas dengan sendirinya dalam 5 menit setelah bayi lahir. Usaha untuk mempercepat pelepasan tidak ada untungnya justru dapat menyebabkan kerugian. Pelepasan plasenta akan terjadi ketika uterus mulai mengecil dan mengeras, tampak aliran darah yang keluar mendadak dari vagina, uterus terlihat menonjol ke abdomen, dan tali plasenta terlihat bergerak keluar dari vagina. 33 Selanjutnya plasenta dapat dikeluarkan dengan cara menarik tali pusat secra hati-hati. Segera sesudah lahir plasenta diperiksa apakah lengkap atau tidak. Untuk “ manual plasenta “ ada perbedaan pendapat waktu dilakukannya manual plasenta. Apabila sekarang didapatkan perdarahan adalah tidak ada alas an untuk menunggu pelepasan plasenta secara spontan dan manual plasenta harus dilakukan tanpa ditunda lagi. Jika tidak didapatkan perdarahan, banyak yang menganjurkan dilakukan manual plasenta 30 menit setelah bayi lahir. Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak lengkap, uterus terus di eksplorasi untuk mencari bagian-bagian kecil dari sisa plasenta. Lakukan pemeriksaan secara teliti untuk mencari adanya perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan perdarahan dengan penerangan yang cukup. Luka trauma ataupun episiotomi segera dijahit sesudah didapatkan uterus yang mengeras dan berkontraksi dengan baik. 9. Penatalaksanaan Tujuan utama pertolongan pada pasien dengan perdarahan postpartum adalah menemukan dan menghentikan penyebab dari perdarahan secepat mungkin.(11) Terapi pada pasien dengan hemorraghe postpartum mempunyai 2 bagian pokok : (9) a. Resusitasi dan manajemen yang baik terhadap perdarahan Pasien dengan hemorrage postpartum memerlukan penggantian cairan dan pemeliharaan volume sirkulasi darah ke organ–organ penting. Pantau terus perdarahan, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien. Pastikan dua kateter intravena ukuran besar (16) untuk memudahkan pemberian cairan dan darah secara bersamaan apabila diperlukan resusitasi cairan cepat. Pemberian cairan : berikan normal saline atau ringer lactate Transfusi darah : bisa berupa whole blood ataupun packed red cell 34 Evaluasi pemberian cairan dengan memantau produksi urine (dikatakan perfusi cairan ke ginjal adekuat bila produksi urin dalam 1 jam 30 cc atau lebih) b. Manajemen penyebab hemorraghe postpartum Tentukan penyebab hemorraghe postpartum : Atonia uteri Periksa ukuran dan tonus uterus dengan meletakkan satu tangan di fundus uteri dan lakukan massase untuk mengeluarkan bekuan darah di uterus dan vagina. Apabila terus teraba lembek dan tidak berkontraksi dengan baik perlu dilakukan massase yang lebih keras dan pemberian oxytocin. Pengosongan kandung kemih bisa mempermudah kontraksi uterus dan memudahkan tindakan selanjutnya. Lakukan kompres bimanual apabila perdarahan masih berlanjut, letakkan satu tangan di belakang fundus uteri dan tangan yang satunya dimasukkan lewat jalan lahir dan ditekankan pada fornix anterior. Pemberian uterotonica jenis lain dianjurkan apabila setelah pemberian oxytocin dan kompresi bimanual gagal menghentikan perdarahan, pilihan berikutnya adalah ergotamine. Sisa plasenta Apabila kontraksi uterus jelek atau kembali lembek setelah kompresi pemberian bimanual ataupun uterotonica massase lakukan dihentikan, eksplorasi. bersamaan Beberapa ahli menganjurkan eksplorasi secepatnya, akan tetapi hal ini sulit dilakukan tanpa general anestesi kecuali pasien jatuh dalam syok. Jangan hentikan pemberian uterotonica selama dilakukan eksplorasi. 35 Setelah eksplorasi lakukan massase dan kompresi bimanual ulang tanpa menghentikan pemberian uterotonica. Pemberian antibiotic spectrum luas setelah tindakan ekslorasi dan manual removal. Apabila perdarahan masih berlanjut dan kontraksi uterus tidak baik bisa dipertimbangkan untuk dilakukan laparatomi. Pemasangan tamponade uterrovaginal juga cukup berguna untuk menghentikan perdarahan selama persiapan operasi Trauma jalan lahir Perlukaan jalan lahir sebagai penyebab pedarahan apabila uterus sudah berkontraksi dengan baik tapi perdarahan terus berlanjut. Lakukan eksplorasi jalan lahir untuk mencari perlukaan jalan lahir dengan penerangan yang cukup. Lakukan reparasi penjahitan setelah diketahui sumber perdarahan, pastikan penjahitan dimulai diatas puncak luka dan berakhir dibawah dasar luka. Lakukan evaluasi perdarahan setelah penjahitan selesai. Hematom jalan lahir bagian bawah biasanya terjadi apabila terjadi laserasi pembuluh darah dibawah mukosa, penetalaksanaannya bisa dilakukan incise dan drainase. Apabila hematom sangat besar curigai sumber hematom karena pecahnya arteri, cari dan lakukan ligasi untuk menghentikan perdarahan. Gangguan pembekuan darah Jika manual eksplorasi telah menyingkirkan adanya rupture uteri, sisa plasenta dan perlukaan jalan lahir disertai kontraksi uterus yang baik mak kecurigaan penyebab perdarahan adalah gangguan pembekuan darah. Lanjutkan dengan pemberian product darah pengganti ( trombosit,fibrinogen). Terapi pembedahan 36 o Laparatomi Pemilihan jenis irisan vertical ataupun horizontal (Pfannenstiel) adalah tergantung operator. Begitu masuk bersihkan darah bebas untuk memudahkan mengeksplorasiuterus dan jaringan sekitarnya untuk mencari tempat rupture uteri ataupun hematom. Reparasi tergantung tebal tipisnya rupture. Pastikan reparasi benar- benar menghentikan perdarahan dan tidak ada perdarahan dalam karena hanya akan menyebabkan perdarahan keluar lewat vagina. Pemasangan drainase apabila perlu. Apabila setelah pembedahan ditemukan uterus intact dan tidak ada perlukaan ataupun rupture lakukan kompresi bimanual disertai pemberian uterotonica. o Ligasi arteri Ligasi uteri uterine Prosedur sederhana dan efektif menghentikan perdarahan yang berasal dari uterus karena uteri ini mensuplai 90% darah yang mengalir ke uterus. Tidak ada gangguan aliran menstruasi dan kesuburan. Ligasi arteri ovarii Mudah dilakukan tapi kurang sebanding dengan hasil yang diberikan Ligasi arteri iliaca interna Efektif mengurangi perdarahan yany bersumber dari semua traktus genetalia dengan mengurangi tekanan darah dan circulasi darah sekitar pelvis. Apabila tidak berhasil menghentikan perdarahan, histerektomi. o Histerektomi 37 pilihan berikutnya adalah Merupakan tindakan curative dalam menghentikan perdarahan yang berasal dari uterus. Total histerektomi dianggap lebih baik dalam kasus ini walaupun subtotal histerektomi lebih mudah dilakukan, hal ini disebabkan subtotal histerektomi tidak begitu efektif menghentikan perdarahan apabila berasal dari segmen bawah rahim, servix, fornix vagina. Referensi pemberian uterotonica : (8) 1. Pitocin a. Onset dalam 3 sampai 5 menit b. Intramuskular : 10-20 unit c. Intravena : 40 unit/liter dalam 250 ml/jam 2. Ergotamine (Methergine) a. Dosis : 0.2-0.4 mg IM atau O setiap 6-8 jam b. Onset dalam 2 sampai 5 menit c. Kontraindikasi Hipertensi Hipersensitivitas 3. Prostaglandin (Hemabate) a. Dosis : 0.25 mg Intra muskular or intra myometrium b. Onset < 5 menit c. Diberikan setiap 15 menit maksimal 1 mg total 4. Misoprostol 600 mcg PO atau PR 38 Gambar 2. Skema penatalaksanaan perdarahan post partum 39 10. Komplikasi Perdarahan post partum yang tidak ditangani dapat menyebabkan beberapa komplikasi maternal, di antaranya : 1. Syok Syok adalah suatu sindroma akut yang timbul karena disfungsi kardiovaskular dan ketidakmampuan sistem sirkulasi memberi oksigen dan nutrien untuk memenuhi kebutuhan metabolisme organ vital. Syok menyebabkan perfusi jaringan tidak adekuat/hipoksia selular, metabolisme selular abnormal, dan kerusakan homeostatis mikrosirkulasi. Syok hipovolemik disebut juga dengan syok preload yang ditandai dengan menurunnya volume intravaskular oleh karena perdarahan. Syok hipovolemik juga dapat terjadi karena kehilangan cairan tubuh yang lain. Pada syok hipovolemik, jantung akan tetap sehat dan kuat, kecuali jika miokard sudah mengalami hipoksia karena perfusi yang sangat berkurang. Syok hemoragik secara khusus merupakan hilangnya darah secara akut dalam jumlah yang signifikan sehingga volume sirkulasi menjadi tidak adekuat. Kondisi hipoperfusi pada syok hemoragik akan menginduksi ketidakseimbangan antara jumlah pengiriman dan kebutuhan oksigen atau substrat yang dibutuhkan sehingga memicu terjadinya disfungsi selular (Vincent et al, 2013). 2. Sheehan Syndrome Sindrom Sheehan, atau yang dikenal dengan Sindroma Simmond, adalah keadaan penurunan fungsi dari kelenjar hipofisis akibat dari nekrosis iskemik setelah perdarahan selama dan setelah proses melahirkan. Gejala paling umum dari sindrom Sheehan's adalah agalaktore (ketiadaan laktasi) dan/atau kesulitan pada saat laktasi. Banyak perempuan juga melaporkan adanya amenore atau oligomenore setelah melahirkan. Pada beberapa kasus, wanita dengan sindrom Sheehan 40 mungkin saja tak bergejala, dan diagnosis tidak ditetapkan hingga beberapa tahun, dengan adanya defisiensi hipofisis. Defisiensi gonadotropin akan sering menyebabkan amenore, oligomenore, hot flushes, atau penurunan libido (Shivaprasad, 2011). 3. Sepsis puerpualis Setelah persalinan, sepsis puerpuralis akan lebih terlokalisasi di perinium, vagina, serviks, dan uterus. Infeksi pada uterus dapat menyebar dengan cepat sehingga menyebabkan infeksi pada tuba fallopi atau ovarium, parametritis, peritonitis, dan menyebar ke pembuluh limfe, yang kemudian akan menyebabkan septikemia jika masuk ke aliran darah. Ini kemudian semakin diperumit dengan adanya syok septik dan koagulasi intravaskuler diseminata yang dapat menimbulkan masalah pendarahan. Sepsis puerpuralis dengan cepat akan berakibat fatal. 4. Kematian maternal Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama adalah perdarahan (30.3%). Penyebab lain yaitu hipertensi pada kehamilan (27.1%), infeksi (7.3%), partus lama (1.8%) dan abortus (1.6%) (Pusdatin Kemenkes RI, 2014). Perdarahan banyak atau berlebihan terjadi sekitar 5-15% pada wanita postpartum. Sebuah buletin di American College of Obstetricians and Gynecologist mengestimasikan bahwa ada 140.000 kematian maternal tiap tahun atau 1 wanita tiap 4 menit. WHO (2012) melaporkan 25% kematian maternal diakibatkan oleh perdarahan postpartum dan diperhitungkan ada 100.000 kematian maternal setiap tahunnya. 11. Prognosis Umumnya, prognosis pada PPH yaitu dubia ad bonam, tergantung dari jumlah perdarahan dan ketepatan dalam penatalaksanaannya. Penanganan PPH yang terpenting adalah menghentikan perdarahan sesuai dengan 41 etiologinya dan mengganti jumlah darah yang hilang. Jika terlambat ditangani, prognosis akan buruk dan dapat menyebabkan kematian maternal. b. Retensio Plasenta 1. Definisi Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. Menurut Sarwono Prawirohardjo, retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir (Martohusodo, 2005). 2. Epidemiologi Di Inggris, disebabkan separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan oleh proses pasca persalinan. Frekuensi perdarahan pasca persalinan 4/5-15% dari seluruh persalinan. Berdasarkan penyebabnya, perdarahan pasca persalinan berturut-turut dari yang paling banyak disebabkan oleh atonia uteri (50-60%), sisa plasenta (23-24%), retensio plasenta (16-17%), laserasi jalan lahir (4-5%) dan kelainan darah (0,30,8%). Di Indonesia perdarahan merupakan penyebab pertama kematian ibu melahirkan (40-60%). Insiden perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16-17% (Cunningham, 2009). 3. Jenis-jenis Retensi Plasenta a. Plasenta Adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan fisiologis. 42 kegagalan mekanisme separasi b. Plasenta Akreta adalah implantasi jonjot korion plasetita hingga memasuki sebagian lapisan miornetrium. c. Plasenta Inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai / memasuki miornetrium. d. Plasenta Perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. e. Plasenta Inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri disebabkan oleh kontriksi osteuni uteri. 4. Etiologi a. Plasenta belum lepas dari dinding uterus Apabila plasenta belum lepas sama sekali, tidak terjadi perdarahan. Jika lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus dapat karena: 1) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesive) 2) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium – sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta – perkreta). b. Plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang mengahalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta) (Cunningham, 2009). 5. Diagnosis Diagnosis retensi plasenta dibuat apabila plasenta yang tidak lepas secara spontan setelah setengah jam bayi lahir atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak 43 ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus (Saifuddin, 2009). 6. Diagnosis Banding Plasenta akreta, yaitu suatu plasenta abnormal dimana vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa (Cunningham, 2009). 7. Terapi Retensio plasenta tanpa perdarahan masih dapat menunggu. Sementara itu kandung kemih dikosongkan, masase uterus dan suntikan oksitosin (i.v. atau i.m. atau melalui infus). Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah anak lahir, harus diusahakan untuk mengeluarkannya. Dapat dicoba dulu perasat menurut Crede. Tetapi tindakan ini tidak dianjurkan karena menyebabkan terjadinya inversio uteri. Tekanan yang keras pada uterus dapat pula menyebabkan perlukaan pada otot uterus dan rasa nyeri yang hebat dan kemungkinan dapat terjadi syok. Akan tetapi dengan tekhnik yang sempurna hal-hal itu dapat dihindarkan. Cara yang lain adalah cara Brandt (Martohusodo, 2005). Gambar 1. Brandt-AndrewsManeuver 44 Dengan salah satu tangan, penolong memegang tali pusat dekat vulva. Tangan yang lain diletakkan di atas simfisis sehingga permukaan palmar jari-jari tangan terletak di permukaan depan rahim, kira-kira perbatasan segmen bawah dan badan rahim. Denagan melakukan tekanan ke arah atas belakang, maka badan rahim akan terangkat. Apabila plasenta telah terlepas maka tali pusat tidak tertarik kearah atas. Kemudian tekanan di atas simfisis diarahkan ke bawah belakang, ke arah vulva. Pada saat ini dilakukan tarikan ringan untuk membantu mengeluarkan plasenta. Yang selalu tidak dapat dicegah ialah bahwa plasenta tidak dapat dilahirkan seluruhnya, ada bagian yang masih tertinggal yang harus dikeluarkan dengan cara plasenta manual. Cara ini dianggap paling baik (Martohusodo, 2005). Penatalaksanaan manual plasenta: a. Kaji ulang indikasi, prinsip dasar perawatan dan pasang infus. b. Kosongkan kandung kemih atau lakukan kateterisasi c. Berikan sedatif dan analgetika atau ketamin d. Beri antibiotik dosis tunggal (profilaksis): ampisilin 2 g IV ditambah metronidazol 500 mg IV e. Pasang sarung tangan DTT f. Jepit tali pusat dengan kocher kemudian menegangkan sejajar lantai. g. Secara obstetrik memasukkan tangan dengan menelusuri bagian bawah tali pusat. h. Setelah tangan mencapai serviks minta asisten untuk memegang kocher kemudian tangan yang lainnya menahan fundus uteri, sekaligus mencegah inversio uteri. i. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam ke kavum uteri hingga mencapai tempat implantasi plasenta. j. Buka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam, jari-jari dirapatkan. 45 k. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah. l. Gerakkan tangan ke kiri dan ke kanan sambil menggeser ke kranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan. m. Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri, lakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus. n. Pindahkan tangan luar ke supra simpisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan. o. Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik plasenta keluar. p. Lakukan sedikit dorongan ke arah dorsocranial setelah plasenta lahir. q. Beri oksitosin 10 IU dalam 500 cc cairan IV 60 tetes/menit dan masase uterus untuk merangsang kontraksi. r. Periksa apakah plasenta lengkap atau tidak. Jika tidak lengkap, lakukan eksplorasi ke dalam kavum uteri. s. Periksa dan perbaiki robekan serviks, vagina atau episiotomi. Plasenta manual harus segera dilakukan jika: Perdarahan kala-III lebih dari 200 ml Penderita dalam narkosa Riwayat PPH habitualis Plasenta akreta, inkreta dan perkreta ditolong dengan histerektomi. Sisa plasenta dikeluarkan dengan kerokan. Penderita diberikan uterotonika, analgetika, roboransia dan antibiotika Pada pelepasan plasenta akreta, pelepasan plasenta lebih banyak mengalami kesulitan. Pada plasenta akreta, plasenta hanya dapat dikeluarkan sepotong demi sepotong dan bahaya perforasi dan perdarahan mengancam. Apabila ditemui kesulitan- kesulitan seperti diatas, plasenta 46 inkreta dapat dibuat dan plasenta manual dihentikan, lalu dilakukan histerektomi (Martohusodo, 2005). Pada plasenta yang sudah lepas, akan tetapi terhalang untuk dilahirkan karena lingkaran kontriksi (inkarserasio plasenta) tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam vagina dan ke bagian bawah uterus dengan dibantu oleh anastesia umum untuk melonggarkan kontriksi. Dengan tangan tersebut sebagai petunjuk dimasukkan cunam ovum melalui lingkaran kontriksi untuk memegang plasenta dan perlahan–lahan plasenta sedikit demi sedikit ditarik kebawah melalui tempat sempit tersebut (Martohusodo, 2005). 8. Pencegahan Pencegahan dilakukan dengan menajemen aktif kala III, yaitu: a. Memberikan oksitosin b. Klem dan potong tali pusat c. Traksi terkendali tali pusat c. Anemia 1. Definisi Anemia adalah keadaan yang ditandai dengan berkurangnya hemoglobin dalam tubuh. Hemoglobin adalah suatu metaloprotein yaitu protein yang mengandung zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh (Fitriany dan Saputri, 2018). Anemia defisiensi besi terjadi ketika defisiensi besi yang terjadi cukup berat sehingga menyebabkan eritropoesis terganggu dan menyebabkan terbentuknya anemia. Keadaan ini akan menyebabkan kelemahan sehingga menjadi halangan untuk beraktivitas. Kehilangan darah akibat perdarahan merupakan penyebab penting terjadinya ADB. Kehilangan darah akan 47 mempengaruhi keseimbangan status besi. Kehilangan darah 1 ml akan mengakibatkan kehilangan besi 0,5 mg, sehingga darah 3-4 ml/hari (1,5 – 2 mg) dapat mengakibatkan keseimbangan negatif besi (Fitriany dan Saputri, 2018). 2. Penegakan diagnosis Untuk mendiagnosis anemia, perlu ditanyakan tentang riwayat medis dan keluarga, melakukan pemeriksaan fisik, dan menjalankan tes berikut: - Hitung darah lengkap (CBC). CBC digunakan untuk menghitung jumlah sel darah dalam sampel darah Anda. Untuk anemia, perlu diketahui kadar sel darah merah yang terkandung dalam darah (hematokrit) dan hemoglobin dalam darah Anda. Nilai tujuk Hb: - Normal : 11 gr% Anemia ringan : 9-10 gr% Anemia sedang : 7-8 gr% Anemia berat : <7 gr%. Nilai hematokrit dewasa normal bervariasi dari satu praktik medis ke praktik medis lainnya, tetapi umumnya antara 40 dan 52 persen untuk pria dan 35 dan 47 persen untuk wanita. Nilai hemoglobin dewasa normal umumnya 14 hingga 18 gram per desiliter untuk pria dan 12 hingga 16 gram per desiliter untuk wanita. - Tes untuk menentukan ukuran dan bentuk sel darah merah Anda. Beberapa sel darah merah Anda mungkin juga diperiksa ukuran, bentuk, dan warnanya. 48 3. Tatalaksana Anemia postpartum paling baik ditangani dengan suplemen zat besi. Audit menunjukkan bahwa zat besi kurang dimanfaatkan dan transfusi darah diberikan secara tidak tepat pada periode postpartum. Transfusi darah harus disediakan bagi mereka yang berisiko perdarahan lebih lanjut, gangguan jantung yang akan segera terjadi, atau gejala yang memerlukan perhatian segera. Kami memberikan 100 mg zat besi selama 3 bulan untuk wanita dengan Hb 10 mg / dL pada periode postpartum. Jika lebih koreksi yang cepat dari Hb diperlukan, IV besi carboxymaltose atau besi isomaltoside dapat digunakan. Kebutuhan tromboprofilaksis juga harus dipertimbangkan, setelah perdarahan terkontrol dan hemostasis aman. Setelah PPH, wanita berisiko trombosis vena, akibat pembedahan, trauma, pemulihan berkepanjangan, imobilitas dan rawat inap, produk hemostatik (terutama rFVIIa dan konsentrat fibrinogen), dan DIC yang mendasarinya (Pavord dan Maybury, 2015). Transfusi packed red blood cells (PRCs) harus disediakan untuk pasien yang mengalami perdarahan aktif dan untuk pasien dengan anemia berat dan simptomatik. Transfusi bersifat paliatif dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti terapi spesifik. Pada penyakit kronis yang berhubungan dengan anemia kelainan kronis, erythropoietin dapat membantu dalam mencegah atau mengurangi transfusi sel darah merah yang dikemas (Maakaron, Taher, dan Conrad, 2018). d. Hipokalemia 1. Definisi Hipokalemia merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah dibawah dibawah 3.5 mEq/L yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah kalium total di tubuh atau adanya gangguan perpindahan ion kalium ke sel49 sel. Penyebab yang umum adalah karena kehilangan kalium yang berlebihan dari ginjal atau jalur gastrointestinal. 2. Etiologi Penyebab Hipokalemia diantaranya ialah: 1. Deplesi kalium Hipokalemia juga bisa merupakan manifestasi dari deplesi cadangan kalium tubuh. Dalam keadaan normal, kalium total tubuh diperkirakan 50 mEq/kgBB dan kalium plasma 3,5--5 mEq/L. Asupan K+ yang sangat kurang dalam diet menghasilkan deplesi cadangan kalium tubuh. Walaupun ginjal memberi tanggapan yang sesuai dengan mengurangi ekskresi K+ , melalui mekanisme regulasi ini hanya cukup untuk mencegah terjadinya deplesi kalium berat. Pada umumnya, jika asupan kalium yang berkurang, derajat deplesi kalium bersifat moderat. Berkurangnya asupan sampai <10 mEq/hari menghasilkan defisit kumulatif sebesar 250 s.d. 300 mEq (kira-kira 7-8% kalium total tubuh) dalam 7 —10 hari4 . Setelah periode tersebut, kehilangan lebih lanjut dari ginjal minimal. Orang dewasa muda bisa mengkonsumsi sampai 85 mmol kalium per hari, sedangkan lansia yang tinggal sendirian atau lemah mungkin tidak mendapat cukup kalium dalam diet mereka. 2. Disfungsi Ginjal Ginjal tidak dapat bekerja dengan baik karena suatu kondisi yang disebut Asidosis Tubular Ginjal (RTA). Ginjal akan mengeluarkan terlalu banyak kalium. Obat yang menyebabkan RTA termasuk Cisplatin dan Amfoterisin B. 3. Kehilangan K+ Melalui Jalur Ekstra-renal Kehilangan melalui feses (diare) dan keringat bisa terjadi bermakna. Pencahar dapat menyebabkan kehilangan kalium berlebihan dari tinja. Ini 50 perlu dicurigai pada pasien-pasien yang ingin menurunkan berat badan. Beberapa keadaan lain yang bisa mengakibatkan deplesi kalium adalah drainase lambung (suction), muntah-muntah, fistula, dan transfusi eritrosit. 4. Kehilangan K+ Melalui Ginjal Diuretik boros kalium dan aldosteron merupakan dua faktor yang bisa menguras cadangan kalium tubuh. Tiazid dan furosemid adalah dua diuretik yang terbanyak dilaporkan menyebabkan hipokalemia. 5. Endokrin atau Hormonal Aldosteron adalah hormon yang mengatur kadar potasium. Penyakit tertentu dari sistem endokrin, seperti aldosteronisme, atau sindrom Cushing, dapat menyebabkan kehilangan kalium. 3. Patofisiologi Keseimbangan Elektrolit Perpindahan Trans Selular Hipokalemia bisa terjadi tanpa perubahan cadangan kalium sel. Ini disebabkan faktor-faktor yang merangsang berpindahnya kalium dari intravaskular ke intraseluler, antara lain beban glukosa, insulin, obat adrenergik, bikarbonat, dsb. Insulin dan obat katekolamin simpatomimetik diketahui merangsang influks kalium ke dalam sel otot. Sedangkan aldosteron merangsang pompa Na+ /K+ ATP ase yang berfungsi sebagai antiport di tubulus ginjal. Efek perangsangan ini adalah retensi natrium dan sekresi kalium. Pasien asma yang dinebulisasi dengan albuterol akan mengalami penurunan kadar K serum sebesar 0,2—0,4 mmol/L2,3, sedangkan dosis kedua yang diberikan dalam waktu satu jam akan mengurangi sampai 1 mmol/L3 . Ritodrin dan terbutalin, yakni obat penghambat kontraksi uterus bisa menurunkan kalium serum sampai serendah 2,5 mmol per liter setelah pemberian intravena selama 6 jam. 51 Teofilin dan kafein bukan merupakan obat simpatomimetik, tetapi bisa merangsang pelepasan amina simpatomimetik serta meningkatkan aktivitas Na+ /K+ ATP ase. Hipokalemia berat hampir selalu merupakan gambaran khas dari keracunan akut teofilin. Kafein dalam beberapa cangkir kopi bisa menurunkan kalium serum sebesar 0,4 mmol/L. Karena insulin mendorong kalium ke dalam sel, pemberian hormon ini selalu menyebabkan penurunan sementara dari kalium serum. Namun, ini jarang merupakan masalah klinik, kecuali pada kasus overdosis insulin atau selama penatalaksanaan ketoasidosis diabetes. 4. Derajat Hipokalemia Hipokalemia moderat didefinisikan sebagai kadar serum antara 2,5--3 mEq/L, sedangkan hipokalemia berat didefinisikan sebagai kadar serum < 2,5 mEq/L. Hipokalemia yang < 2 mEq/L biasanya sudah disertai kelainan jantung dan mengancam jiwa. 5. Gejala Klinis Hipokalemia a. CNS dan neuromuskular Lelah, tidak enak badan, reflek tendon dalam menghilang. b. Pernapasan Otot-otot pernapasan lemah, napas dangkal c. Saluran cerna Menurunnya motilitas usus besar, anoreksia, mual muntah. d. Kardiovaskuler Hipotensi postural, disritmia, perubahan pada EKG. e. Ginjal Poliuria,nokturia. 52 6. Penatalaksanaan Untuk bisa memperkirakan jumlah kalium pengganti yang bisa diberikan, perlu disingkirkan dulu faktor-faktor selain deplesi kalium yang bisa menyebabkan hipokalemia, misalnya insulin dan obat-obatan. Status asam-basa mempengaruhi kadar kalium serum. a. Jumlah Kalium Walaupun perhitungan jumlah kalium yang dibutuhkan untuk mengganti kehilangan tidak rumit, tidak ada rumus baku untuk menghitung jumlah kalium yang dibutuhkan pasien. Namun, 40—100 mmol K+ suplemen biasa diberikan pada hipokalemia moderat dan berat. Pada hipokalemia ringan (kalium 3—3,5 mEq/L) diberikan KCl oral 20 mmol per hari dan pasien dianjurkan banyak makan makanan yang mengandung kalium. KCL oral kurang ditoleransi pasien karena iritasi lambung. Makanan yang mengandung kalium cukup banyak dan menyediakan 60 mmol kalium. b. Kecepatan Pemberian Kalium Intravena Kecepatan pemberian tidak boleh dikacaukan dengan dosis. Jika kadar serum > 2 mEq/L, maka kecepatan lazim pemberian kalium adalah 10 mEq/jam dan maksimal 20 mEq/jam untuk mencegah terjadinya hiperkalemia. Pada anak, 0,5— 1 mEq/kg/dosis dalam 1 jam. Dosis tidak boleh melebihi dosis maksimum dewasa. Pada kadar < 2 mEq/L, bisa diberikan kecepatan 40 mEq/jam melalui vena sentral dan monitoring ketat di ICU. Untuk koreksi cepat ini, KCl tidak boleh dilarutkan dalam larutan dekstrosa karena justru mencetuskan hipokalemia lebih berat. c. Koreksi Hipokalemia Perioperatif 53 KCL biasa digunakan untuk menggantikan defisiensi K+ , karena juga biasa disertai defisiensi Cl-. Jika penyebabnya diare kronik, KHCO3 atau kalium sitrat mungkin lebih sesuai. Terapi oral dengan garam kalium sesuai jika ada waktu untuk koreksi dan tidak ada gejala klinik. Penggantian 40—60 mmol K+ menghasilkan kenaikan 1—1,5 mmol/L dalam K + serum, tetapi ini sifatnya sementara karena K+ akan berpindah kembali ke dalam sel. Pemantauan teratur dari K+ serum diperlukan untuk memastikan bahwa defisit terkoreksi. d. Kalium iv KCl sebaiknya diberikan iv jika pasien tidak bisa makan dan mengalami hipokalemia berat. Secara umum, jangan tambahkan KCl ke dalam botol infus. Gunakan sediaan siap-pakai dari pabrik. Pada koreksi hipokalemia berat (< 2 mmol/L), sebaiknya gunakan NaCl, bukan dekstrosa. Pemberian dekstrosa bisa menyebabkan penurunan sementara K+ serum sebesar 0,2—1,4 mmol/L karena stimulasi pelepasan insulin oleh glukosa. Infus yang mengandung KCl 0,3% dan NaCl 0,9% menyediakan 40 mmol K + /L. Ini harus menjadi standar dalam cairan pengganti K+ . Volume besar dari normal saline bisa menyebabkan kelebihan beban cairan. Jika ada aritmia jantung, dibutuhkan larutan K+ yang lebih pekat diberikan melalui vena sentral dengan pemantauan EKG. Pemantauan teratur sangat penting. Pikirkan masak-masak sebelum memberikan > 20 mmol K+ /jam. Konsentrasi K+ > 60 mmol/L sebaiknya dihindari melalui vena perifer, karena cenderung menyebabkan nyeri dan sklerosis vena. 54 e. Diet Kalium Diet yang mengandung cukup kalium pada orang dewasa rata-rata 50100 mEq/hari (contoh makanan yang tinggi kalium termasuk kismis, pisang, aprikot, jeruk, advokat, kacang-kacangan, dan kentang). 55 BAB IV ANALISIS KASUS A. Analisis Diagnosis Seorang P4A0, 33 tahun, datang rujukan dari RSIA Dian Pertiwi, dengan status P3A1, post SCTP 10 hari SMRS dengan perdarahan per vaginam. Pasien memiliki riwayat pengobatan pada 01 Maret 2019 di RSIA Dian Pertiwi dengan diagnosis KPD+serotinus dilakukan SC + insersi IUD. Setelah 3 hari dirawat, pasien pulang dan kontrol ke poli dengan luka kering. Selanjutnnya pada 10 Maret 2019, pasien datang ke IGD dengan keluhan perdarahan per vaginam mulai jam 12.00 dan perdarahan 3 underpad (+1500 ml). Dari pemeriksaan lab darah ditemukan Hb 8 gr/dL, dan kemudian diberikan terapi IVFD RL + drip metergin IA 30 tpm, transfusi PRC 2 kolf (kolf I: 19.30, kolf II: 23.30), Inj. Cefotaxim (17.00), dan Cyrotec 600 mcg/ rectal (17.00). Saat datang ke RS Dr. Moewardi, pasien mengeluh pusing dan lemas. Riwayat penyakit seperti darah tinggi, diabetes melitus, penyakit jantung asma dan alergi disangkal oleh pasien. Perdarahan Postpartum (PPH) atau perdarahan pasca-salin yaitu kehilangan darah dari saluran genitalia >500 ml setelah melahirkan pervaginam atau >1000 ml setelah melahirkan secara seksio sesarea. Perdarahan pasca-salin dapat bersifat minor (500-1000 ml) atau pun mayor (>1000 ml). Perdarahan mayor dapat dibagi menjadi sedang (1000-2000 ml) atau berat (>2000 ml). Pada kasus di atas pasien mengalami perdarahan + 1500 ml, dapat digolongkan dalam perdarahan mayor sedang. Data pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien didapatkan pasien tampak pucat, kedua konjungtiva anemis, nyeri tekan abdomen, TFU setinggi pusat, kontraksi uterus (+) hipotoni, dan keluar darah dari jalan lahir. Pada pemeriksaan laboratorium darah dengan Hb 7,9 g/dl sehingga pasien bisa 56 dipastikan mengalami anemia, dan kadar kalium darah pasien 2,9 mEq /L. Anemia adalah keadaan yang ditandai dengan berkurangnya hemoglobin dalam tubuh. Hemoglobin adalah suatu metaloprotein yaitu protein yang mengandung zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh (Fitriany dan Saputri, 2018). Nilai rujukan hemoglobin normal, yaitu >11 gr%. Pada pasien didapatkan Hb 7,9 g/dL sehingga dapat dimasukkan dalam anemia. Hipokalemia merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah dibawah dibawah 3.5 mEq/L yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah kalium total di tubuh atau adanya gangguan perpindahan ion kalium ke sel-sel. Penyebab yang umum adalah karena kehilangan kalium yang berlebihan dari ginjal atau jalur gastrointestinal. Hipokalemia moderat didefinisikan sebagai kadar serum antara 2,5-3 mEq/L. Pada pasien didapatkan kalium darah 2,9 mEq /L sehingga dapat dimasukkan dalam hipokalemia moderat. B. Analisis Penatalaksanaan Penatalaksanaan untuk kasus ini yaitu pasien dengan diagnosis perdarahan post pasrtus (SC) lambat ec retensio sisa plasenta pada multipara+ anemia (7,9)+ hipokalemia (2,9), yaitu sebelum dirujuk RSUD Dr. Moewardi pasien telah diberikan IVFD RL + drip metergin IA 30 tpm, transfusi darah (PRC 2 kolf), Inj. Cefotaxim, Cyrotec 600 mcg/ rectal. Setelah dilakukan penegakan diagnosis di RSUD Dr. Moewardi pasien ditatalaksana dengan pro kuretase emergency, perbaikan keadaan umum dengan tranfusi PRC 4 kolf, KSR 3x1. Pasien dengan hemorrage postpartum memerlukan penggantian cairan dan pemeliharaan volume sirkulasi darah ke organ–organ penting. Pantau terus perdarahan, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien. 57 Pastikan dua kateter intravena ukuran besar (16) untuk memudahkan pemberian cairan dan darah secara bersamaan apabila diperlukan resusitasi cairan cepat. Pemberian cairan : berikan normal saline atau ringer lactate Transfusi darah : bisa berupa whole blood ataupun packed red cell Evaluasi pemberian cairan dengan memantau produksi urine (dikatakan perfusi cairan ke ginjal adekuat bila produksi urin dalam 1 jam 30 cc atau lebih) Penatalaksanaan sisa plasenta dilakukan apabila kontraksi uterus jelek atau kembali lembek setelah kompresi bimanual ataupun massase dihentikan, bersamaan pemberian uterotonica lakukan eksplorasi. Beberapa ahli menganjurkan eksplorasi secepatnya, akan tetapi hal ini sulit dilakukan tanpa general anestesi kecuali pasien jatuh dalam syok. Jangan hentikan pemberian uterotonica selama dilakukan eksplorasi. Setelah eksplorasi lakukan massase dan kompresi bimanual ulang tanpa menghentikan pemberian uterotonica. Pemberian antibiotic spectrum luas setelah tindakan ekslorasi dan manual removal. Apabila perdarahan masih berlanjut dan kontraksi uterus tidak baik bisa dipertimbangkan untuk dilakukan kuretase dan laparatomi. Pemasangan tamponade uterrovaginal juga cukup berguna untuk menghentikan perdarahan selama persiapan operasi. Pada pasien di atas telah dilakukan resusitasi cairan berupa kristaloid dan transfuse darah. Untuk penanganan dari sisa plasenta yang tertinggal sudah direncanakan kuretase emergency setelah menstabilkan keadaan umum pasien. Walaupun perhitungan jumlah kalium yang dibutuhkan untuk mengganti kehilangan tidak rumit, tidak ada rumus baku untuk menghitung jumlah kalium yang dibutuhkan pasien. Namun, 40—100 58 mmol K+ suplemen biasa diberikan pada hipokalemia moderat dan berat. Pada hypokalemia yang dialami pasien telah diberikan KSR 3x1 yang berisi Kalium Klorida untuk menangani hipokalemia moderat. 59 BAB V KESIMPULAN Perdarahan pascasalin merupakan salah satu penyebab penting tingginya angka morbiditas dan mortalitas ibu. Hemoragic postpartum adalah perdarahan lebih dari 500cc yang terjadi setelah bayi lahir pervaginam atau lebih dari 1000 ml setelah persalinan abdominal. Adapun penyebab terjadinya perdarahan postpartum antara lain adalah atonia uteri, luka jalan lahir, retensio plasenta, dan gangguan pembekuan darah. Perdarahan postpartum ini dapat diklasifikasikan secara klinis yaitu perdarahan post partum primer dan perdarahan post partum sekunder. Untuk tindakan pencegahannya tidak saja dilakukan sewaktu bersalin, namun sudah dimulai sejak wanita hamil dengan antenatal care yang baik. Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan secara dini, sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinannya. Perdarahan dapat terjadi secara massif dan cepat, atau secara perlahan – lahan tapi secara terus menerus. Perdarahan hanyalah gejala sehingga harus dicari tahu penyebabnya untuk memberikan pertolongan sesuai dengan penyebabnya. Oleh karena itu para tenaga kesehatan diharapkan dapat mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan serta cara-cara penanganannya. Diharapkan dengan adanya deteksi dini, ketepatan diagnosis serta kecepatan dalam penanganan perdarahan pascasalin, angka kematian ibu akibat perdarahan dapat diturunkan. 60 DAFTAR PUSTAKA Anjali R. Kadasne, Hisham M Mirghani. 2011. The role of ultrasound in lifethreatening situations in pregnancy. Journal of Emergencies, Trauma, and Shock. Badan Pusat Statistik, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Kementerian Kesehatan, MEASURE DHS ICF International. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Chandraharan E, Arulkumaran S. Management Algorith for Atonic Postpartum Haemmorrhage. JPOG May/Jun 2005; 31(3): 106-12 Cohn JN, Kowey PR, Whelton PK, Prisant LM. New Guidelines for potassium Replacement in Clinical Practice. Arch Intern Med 2000;160:2429-2436. Cunningham, Gary, Norman F.Grant MD, Kenneth J,., Md Leveno, Larry C.,Iii, Md Gilstrap, John C., et al. 2009. Williams Obstretics 21 st Ed. by McGraw-Hill Profesional Curren Obstretric & Gynecologic Diagnosis & Tretment, Ninth edition : Alan Gabbe : Obstretics – Normal and Problem Pregnancies,4th ed.,Copyright © 2002 Churchil Livingstone, Inc Daryadi. Hiperkalemia dan Hipokalemia. Available at: http://nsyadi.blogspot.com/2011/12/hiperkalemia-dan-hipokalemia.html Gynecologists RCoOa. RCOG Green-top Guideline. Prevention and Management of Postpartum Haemorrhage; 2011. Halperin ML, Goldstein MB. Fluid Electrolyte and Acid-Base Physiology. A problem-based approach. WB Saunders Co. 2nd ed., p 358 61 Ilmu Kebidanan, editor Prof.dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOg, edisi Ketiga cetakan Kelima, Yayaan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 1999 Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke tiga Jilid Pertama , Editor Arif Mansjoer , Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri , Wahyu Ika Wardani , Wiwiek Setiowulan. Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pusat Data dan Informasi. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI. Maakaron, JE, Taher, AT, Conrad, ME. 2018. Anemia Clinical Presentation. Update tanggal 8 Oktober 2018, diakses tanggal: 27 Maret 2019 (Dapat diakses pada https://emedicine.medscape.com/article/198475-clinical) Martohusodo, S, Abdullah, M.N. (2005) Gangguan Dalam Kala III Persalinan. Dalam: Winkjosastro, H (Editor). Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP. Megasari, Miratu. 2013. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Perdarahan Pasca Persalinan di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau Tahun 2009-2010. Jurnal Kesehatan Komunitas, Vol. 2, No. 2. Network SMaNC. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guideline. Primary postpartum haemorrhage. Queensland: Queensland Government; 2012. Pavord, S, Maybury, H. 2015. How I treat postpartum hemorrhage. The American Society of Hematology DOI 10.1182/blood-2014-10-512608. Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Price & Wilson. Gangguan Cairan & Elektrolit. Patofisiologi Vol.1. 6th ed. Jakarta: EGC; 2006; p. 344. 62 Saifuddin. (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Schellenberg J. Primary Postpartum Haemorrhage (PPH) August 13, 2003. Shivaprasad C. Sheehan’s syndrome: Newer advances. Indian Journal of Endocrinology and Metabolism. 2011; (15): 1-5. Smith, John R. 2018. Postpartum Hemorrhage. https://emedicine.medscape.com/article/275038-overview#a9 diakses tanggal 24 Maret 2019. Sriwaty A. Prevalensi dan Distribusi Gangguan Elektrolit Pada Lanjut Usia. Available at: http://eprints.undip.ac.id/22684/1/Sriwaty.pdf Vincent J, De Backer D. Circulatory shock. N Engl J Med. 2013; 369(18):1726-34. Walfish M, A Neuman, D. Wlody. 2009. Maternal hemorrhage. British Journal of Anaesthesia. WHO guidelines for the management of postpartumhaemorrhage and retained placenta 2009. WHO recommendations for the prevention of postpartum haemorrhage. Geneva; 2007. World Health Organization (2012) WHO Recommendations for the Prevention and Treatment of Postpartum Haemorrhage. World Health Organization, Geneva. Zwanger M. Hypokalemia. Available at: http://emedicine.com/emerg/topic273.html 63