Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi

advertisement
TOPIK-TOPIK LANJUTAN SISTEM INFORMASI
TECHNOPRENEURSHIP
Disusun Oleh :
06PMM / Kelompok 1
Sofian
Muhammad Akbar Arifin
Ferliano Ossadi
Akmal Syafaat
Muhammad Hidayat
1100053102
1100053001
1100059636
1100049881
1100022772
TECHNOPRENEURSHIP
ABSTRAK
Kinerja dan keberlanjutan pembangunan ekonomi harus didukung oleh
berbagai sektor ekonomi. Sektor riil sebagai salah satu sektor yang penting dalam
mendukung target dari pertumbuhan ekonomi. Sektor ini merupakan sektor yang
menghasilkan berbagai produk secara langsung. Pertumbuhan dan daya saing output
dari sektor riil dari sebuah negara baik untuk pasar domestic maupun pasar
internasional akan menentukan kinerja ekonomi dari negara yg bersangkutan.
Lebih lanjut, daya saing produk dari sebuah negara akan ditentukan oleh kualitas
kebijakan pasar dan kualitas produk yang bersangkutan. Besaran sektor riil dan
kemampuan teknologi yang dimiliki sangat menentukan berbagai faktor pendukung
daya saing dari produk-produk sektor riil bagi negara yang bersangkutan. Kebijakan
ekonomi yang kondusif dan tingginya aktivitas kewirausahaan yang disertai
kemampuan teknologi bagi pelaku akan sangat menentukan kinerja sektor industri riil
ini.
Terkait dengan hal tersebut di atas, studi ini memandang semangat entrepreneurship
dengan karakteristik entrepreneur yang memiliki kemampuan teknologi menjadi hal
yan penting. Kebijakan membangun kemandirian teknologi dan daya saing ekonomi
dengan dukungan faktor teknologi akan sangat dipengaruhi oleh semangat dan
tumbuhnya aktivitas technopreneurship ini.
Kata kunci : entrepreneurship, sector riil, aktivitas technopreneurship
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dengan adanya Technopreneurship merupakan acuan untuk dunia bisnis
karena Technopreneurship dapat mencegah pengangguran bagi para sarjana.
1.2
Ruang Lingkup
 Definisi teknolodi, entrepreneur, dan technopreneur
 Hubungan antara dunia bisnis, pendidikan dengan technopreneur

1.3
Tujuan dan Manfaat
Tujuannya :
1. Studi literature yang dilakukan akan mensitesiskan konsep pentingnya aktivitas
technopreneurship dalam mendukung daya saing industri dan daya saing ekonomi
pada umumnya.
2. Survey terhadap sampel/ pelaku-pelaku technopreneurship akan memberikan
gambaran aktivitas technopreneurship secara umum di Indonesia.
3. Studi kasus terhadap beberapa pelaku technopreneurship yang unggul akan
memberikan pemahaman bagaimana perilaku dan aktivitas pelaku technopreneur
tersebut dalam berkompetisi dan bertahan dilingkungan industri. Hal ini diharapkan
mampu menjadi rujukan bagi pelaku-pelaku yang lain dan menjadi dasar pemahaman
bagi pemerintah dalam melakukan kebijakan dan strategi penguatan sistem inovasi
nasional.
Manfaatnya :
1. Memperoleh pencerahan mengenai alternatif profesi sebagai wirausaha
selain sebagai ekonom, manajer atau akuntan atau profesi lainnya.
2. Memiliki skill-based yang memadai dalam bidang Teknologi Informasi
3. Mendapatkan pengetahuan dasar dalam bentuk teori maupun praktek
magang dalam mengelola suatu bisnis.
4. Memperoleh akses untuk membangun networking dunia bisnis.
Sedangkan bagi Perguruan Tinggi sebagai fasilitator adalah :
1. Menjadi bentuk tanggungjawab sosial sebagai lembaga pendidikan untuk
berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran.
2. Menjadi bagian penting dalam upaya menjembatani gap kurikulum
pendidikan antara lembaga pendidikan dan industri pengguna.
3. Menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan mutu lulusan.
4. Menjadi wahana interaksi untuk komunitas Perguruan Tinggi yang terdiri
dari alumni, mahasiswa, dosen, dan karyawan dengan masyarakat umum.
1.4
Metodologi Penulisan
Studi ini akan menggunakan metode kuantitatif dengan didukung pendekatan statistik
deskriptif sederhana untuk menghasilkan output-output untuk menjawab pertanyaan
penelitian.
Data hasil mail survey dari sampel yang diambil dan studi kasus dari beberapa pelaku
technopreneurship akan digunakan untuk mendukung analisis data terkait dengan
pentingnya faktor technopreneurship dalam mendukung kebijakan kemandirian
teknologi dan peningkatan daya saing berbasis teknologi pada umumnya.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Definisi
2.1.1 Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya
adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang
menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi
mulai dikenal sebelum sains dan teknik.
Teknologi dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah
pekerjaan manusia, namun jika pada kenyataannya teknologi malah mempersulit,
layakkah disebut Ilmu Pengetahuan?
Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip
dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Meskipun demikian, penemuan
yang sangat lama seperti roda juga disebut sebuah teknologi.
Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status
pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya
untuk memproduksi produk yang diinginkan( dan pengetahuan kita tentang apa yang
bisa diproduksi). Oleh karena itu, kita dapat melihat perubahan teknologi pada saat
pengetahuan teknik kita meningkat.
2.1.2 Entrepreneurship merupakan ilmu yang mempelajari tentang nilai,
kemampuan, dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidupnya. Mereka
yang menjadi Enterpreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi (traits) dan
belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha
dalam mewujudkan cita-citanya. Entrepreneurship merupakan disiplin ilmu tersendiri
karena berisi body of knowledge yang utuh dan nyata ada objek, konsep dan
metodenya.
Entrepreneurship pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang
memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara
kreatif.
Unsur-unsur entrepreneurship meliputi: motivasi, visi, komunikasi, optimisme,
dorongan semangat dan kemampuan memanfaatkan peluang.
Ciri-Ciri
Watak
Percaya diri
Keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas dan optimisme
Berorietasi pada tugas dan hasil
Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan
ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat,
energik dan inisiatif
Pengambil resiko dan suka
tantangan
Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar
Kepemimpinan
Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain,
menanggapi saran-saran dan kritik.
Keorisinilan
Inovatif dan Kreatif serta fleksibel
Berorientasi Masa Depan
Pandangan ke depan, perspektif
2.1.3 Technopreneurship adalah bentuk semangat dan keberanian seseorang untuk
melakukan usaha-usaha berbasis teknologi secara mandiri. Semua orang pasti
memiliki technopreneurship, tapi kaum muda adalah “golongan” manusia yang paling
fit dan proper untuk urusan yang satu ini. Memang, tidak ada istilah terlalu tua untuk
menjadi technopreneur. Hanya saja, kenapa harus menunggu menjadi tua dulu untuk
seorang technopreneur? Pelan tapi pasti, beberapa “kesempurnaan” yang dimiliki oleh
seorang manusia di masa mudanya akan mulai terbenam seiring bertambahnya usia.
Akan sangat berbeda, jika technopreneurship diawali sejak muda. (Bahkan) sebuah
kegagalan yang dialami, jika diterima dengan kepala dingin, akan menyempurnakan
technopreneurship dalam diri seorang pemuda.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Generasi Technopreneurship Di Era Informasi
Globalisasi ekonomi dan era informasi mendorong industri menggunakan sumber
daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa
kewirausahaan. Akan tetapi tidak setiap lulusan perguruan tinggi memiliki jiwa
kewirausahaan seperti yang diinginkan oleh lapangan kerja tersebut. Kenyataan
menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki
jiwa kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja
tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena bangkrut.Dalam kondisi seperti ini, maka
lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari
kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya
memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu, agar supaya perguruan tinggi
mampu memenuhi tuntutan tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah
inovasi pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era informasi
sekarang ini.
Ada suatu pendapat bahwa, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi di
Indonesia masih lemah jiwa kewirausahaannya. Sedangkan sebagian kecil yang telah
memiliki jiwa kewirausahaan, umumnya karena berasal dari keluarga pengusaha atau
dagang. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah merupakan
jiwa yang bisa dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan
umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan jaminan menjadi
pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa kewirausahaan. Proses
pembelajaran yang merupakan inkubator bisnis berbasis teknologi ini dirancang
sebagai usaha untuk mensinergikan teori (20%) dan Praktek (80%) dari berbagai
kompetensi bidang ilmu yang diperoleh dalam bidang teknologi & industri. Inkubator
bisnis ini dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan atmosfir bisnis yang
kondusif serta didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai.
Tujuan implementasi inovasi dari kegiatan inkubator bisnis berbasis teknologi ini
adalah menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa sebagai peserta
didik. Sedangkan manfaat yang diperoleh bagi institusi adalah tercapainya misi
institusi dalam membangun generasi technopreneurship dan meningkatnya relevansi
antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Sedangkan manfaat bagi mitra kerja
adalah terjalinnya kerja sama bisnis dan edukasi. Kerjasama ini dikembangkan dalam
bentuk bisnis riil produk sejenis yang memiliki potensi ekonomi pasar yang cukup
tinggi.
Proses globalisasi yang sedang terjadi saat ini, menuntut perubahan perekonomian
Indonesia dari resourced based ke knowledge based. Resource based yang
mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam umumnya menghasilkan
komoditi dasar dengan nilai tambah yang kecil. Salah satu kunci penciptaan
knowledge based economy adalah adanya technology entrepreneurs atau disingkat
techno-preneur yang merintis bisnis baru dengan mengandalkan pada inovasi.
Hightech business merupakan contoh klasik bisnis yang dirintis oleh technopreneurs.
Bisnis teknologi dunia saat ini didominasi oleh sektor teknologi informasi,
bioteknologi dan material baru serta berbagai pengembangan usaha yang berbasiskan
inovasi teknologi. Bisnis teknologi dikembangkan dengan adanya sinergi antara
teknopreneur sebagai pengagas bisnis, Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian
sebagai pusat inovasi teknologi baru, serta perusahaan modal ventura yang memiliki
kompetensi dalam pendanaan.
Jumlah usaha kecil menengah berbasis teknologi (UKMT) di Indonesia berkembang
dengan pesat. Kecenderungan peningkatan ini lebih didorong oleh terbatasnya
peluang kerja di industri-industri besar karena pengaruh krisis ekonomi dan mulai
munculnya technopreneurship di kalangan lulusan pendidikan tinggi teknik.
Dalam menghadapi era globalisasi, persaingan akan semakin ketat, sehingga sangat
dibutuhkan kebijakan-kebijakan dan
aktivitas-aktivitas secara langsung yang dapat meningkatkan daya saing UKMT di
kemudian hari. Kesulitan dan hambatan pada UKMT di Indonesia dalam
mengembangkan usahanya adalah lemahnya jalur pemasaran, dukungan \teknologi
dan terbatasnya permodalan. Terlebih lagi, bagi pengusaha pemula, masalah ini akan
terlihat lebih besar dan menjadi kendala cukup besar dalam mengembangkan
usahanya.
Sampai saat ini belum banyak institusi pemerintah maupun swasta yang dapat
memberikan dukungan secara langsung untuk pengembangan UKMT khususnya bagi
pengusaha pemula. Sehingga sangat dibutuhkan suatu wadah yang dapat memberikan
dukungan langsung berupa fasilitas-fasilitas yang dapat membantu UKMT khususnya
membantu pengusaha pemula dalam melaksanakan dan mengembangkan usahanya.
Dalam rangka turut serta membantu dan mendukung secara langsung kegiatan UKMT
khususnya kegiatan pengusaha pemula, maka dipandang sangat perlu untuk dapat
membangun suatu wadah yang memiliki fasilitas
yang dapat mendukung secara langsung kegiatan operasional, promosi, pemasaran,
konsultasi teknologi produksi, investasi dan permodalan. Dengan adanya fasilitasfasilitas tersebut, diharapkan UKMT khususnya pengusaha pemula di Indonesia dapat
mengembangkan usahanya lebih cepat dan terarah.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan
terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa,
semoga munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas
permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa
menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga
kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri
sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan
berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa
Indonesia.
3.2 Technopreneurship: Trend Solusi Bisnis Masa Kini
Beberapa tahun terakhir ini, istilah teknoprenuership kerap sekali kita jumpai dan
dengar di berbagai media baik media cetak maupun media elektronik. Buku-buku
yang menggunakan istilah ini sebagai bagian dari judulnya pun sudah banyak
bermunculan. Bahkan, ada beberapa universitas yang mulai menawarkan
technoprenuership sebagai program studi dan membuka program master. Salah satu
universitas di Asia yang menawarkan Master Degree Program in Technopreneurship
adalah Universitas Teknologi Nanyang (Nanyang Technological University – NTU)
Singapura. NTU bahkan memiliki pusat studi khusus untuk bidang ini yang dikenal
dengan nama Nanyang Technopreneurship Center (NTC).
3.3 Apakah Technopreneurship Itu?
Ditilik dari asal katanya, Technopreneurship merupakan istilah bentukan dari dua
kata, yakni ‘teknologi’ dan ‘enterpreneurship’. Secara umum, kata Teknologi
digunakan untuk merujuk pada penerapan praktis ilmu pengetahuan ke dunia industri
atau sebagai kerangka pengetahuan yang digunakan untuk menciptakan alat-alat,
untuk mengembangkan keahlian dan mengekstraksi materi guna memecahkan
persoalan yang ada. Sedangkan kata entrepreneurship berasal dari kata entrepreneur
yang merujuk pada seseorang atau agen yang menciptakan bisnis/usaha dengan
keberanian menanggung resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan
pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada (Zimmerer &
Scarborough, 2008).
Jika kedua kata diatas digabungkan, maka kata teknologi disini mengalami
penyempitan arti, karena Teknologi dalam “technopreneurship” mengacu pada
Teknologi Informasi, yakni teknologi yang menggunakan Komputer sebagai alat
pemrosesan. Posadas (2007) mendefinisikan istilah technopreneurship dalam cakupan
yang lebih luas, yakni sebagai wirausaha di bidang teknologi yang mencakup
teknologi semikonduktor sampai ke asesoris Komputer Pribadi (PC). Sebagai contoh
adalah bagaimana Steven Wozniak dan Steve Job mengembangkan hobi mereka
hingga mereka mampu merakit dan menjual 50 komputer Apple yang pertama, atau
juga bagaimana Larry Page dan Sergey Brin mengembangkan karya mereka yang
kemudian dikenal sebagai mesin pencari Google. Mereka inilah yang disebut sebagai
para teknopreneur dalam definisi ini.
Dalam wacana nasional, istilah Technopreneurship lebih mengacu pada pemanfaatan
Teknologi informasi untuk pengembangan wirausaha. Berbeda dengan pengertian
pertama diatas, jenis wirausaha dalam pengertian technopreneurship disini tidak
dibatasi pada wirausaha teknologi informasi, namun segala jenis usaha, seperti usaha
meubel, restaurant, super market ataupun kerajinan tangan, batik dan perak.
Penggunaan teknologi informasi yang dimaksudkan disini adalah pemakaian Internet
untuk memasarkan produk mereka seperti dalam perdagangan online (e-Commerce),
pemanfaatan Perangkat Lunak khusus untuk memotong biaya produksi, atau
pemanfaatan teknologi web 2.0 sebagai sarana iklan untuk wirausaha. Dalam
pengertian kedua ini, tidaklah jelas pihak mana yang bisa disebut sebagai
technopreneur. Disini, kedua pengertian ini akan digunakan bersama-sama.
3.4 Technopreneurship di Asia
Jika kita menengok ke 2 -3 dekade yang lalu, maka sebut saja Taiwan, Korea Selatan
dan Singapura masih digolongkan sebagai Negara Berkembang. Namun sekarang
Negara-negara ini telah menjadi Negara maju dengan perekonomian yang didasarkan
pada Industri teknologi. Perkembangan Korea diawali dengan industri tradisional
kemudian diikuti oleh industri semikonduktor. Sedangkan Singapura memiliki
kontrak di bidang elektronik dengan perusahaan-perusahaan barat kemudian diikuti
juga oleh manufaktur semikonduktor. Taiwan terkenal dengan industri asesoris
Komputer Pribadi (PC). Rahasia lain yang membuat perkembangan negara-negara ini
melejit adalah adanya inovasi.
Inovasi di bidang Teknologi Informasi inilah yang juga membuat India berkembang
dan menjadi incaran industri dunia barat baik bagi outsourcing maupun penanaman
modal. Contoh teknologi yang dikembangkan oleh India adalah sebuah Handheld PC
yang disebut sebagai Simputer. Simputer dikembangkan untuk pengguna pemula dan
dari sisi finansial adalah pengguna kelas menengah bawah. Simputer dijalankan oleh
prosesor berbasis ARM yang murah dan menggunakan Sistem Operasi berbasis
opensource. Harga di pasaran adalah sekitar $200.
Inovasi India yang luar biasa datang dari perusahaan Shyam Telelink Ltd. Shyam
Telelink memperlengkapi becak dengan telefon CDMA yang berkekuatan 175 baterai.
Becak inipun diperlengkapi juga dengan mesin pembayaran otomatis. Penumpang
becak bisa menelpon dan tariff yang dikenakan adalah sekitar 1.2 rupee per 20 menit.
Lalu perusahaan ini mempekerjakan orang yang tidak memiliki keahlian untuk
mnegemudikan becak. Upah para pengemudi becak tidak didasarkan pada gaji yang
tetap namun merupakan komisi sebesar 20% dari tiap tarif telfon yang diperoleh
(Wireless week, 2003).
Di Filipina, perusahaan telefon SMART mengembangkan metode untuk melayani
transfer pengiriman uang dari para pekerja Filipina yang diluar negeri melalui telefon
seluler dengan SMS. Menurut laporan Asian Development Bank (ADB), SMART
dapat meraup sekitar US $14 – 21 trilyun per tahunnya dari biaya transfer program
ini.
China mengikuti jejak yang sama. Perusahaan-perusahaan China mulai menunjukkan
kiprahnya di dunia internasional. Akuisisi IBM oleh perusahaan China Lenovo di
tahun 2004 dan akuisisi perusahaan televisi Perancis Thomson oleh Guangdong
membuktikan bahwa technoprenuership di China semakin kukuh.
Studi Posadas menunjukkan bahwa technopreneurship di Asia berkembang
disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, faktor inovasi yang diinsiprasikan oleh
Silicon Valley. Jika revolusi industri Amerika di abad 20 yang lalu dipicu oleh inovasi
yang tiada henti dari Silicon valley, maka negara-negara Asia berlomba untuk
membangun Silicon Valley mereka sendiri dengan karakteristik dan lokalitas yang
mereka miliki.
Kedua, Inovasi yang dibuat tersebut diarahkan untuk melepaskan diri dari
ketergantungan dunia barat. Sebagian besar teknologi yang diciptakan oleh dunia
barat diperuntukkan bagi kalangan atas atau orang/instansi/perusahaan yang kaya dan
menciptakan ketergantungan pemakaiannya. Sementara itu sebagian besar masyarakat
(baca pasar) Asia belum mampu memenuhi kriteria pasar teknologi barat tersebut.
Masih banyak masyarakat asia yang memiliki penghasilan dibawah $1 per hari,
sehingga mereka tidak memiliki akses ke teknologi yang diciptakan oleh dunia barat.
Ini merupakan peluang yang besar bagi para teknopreneur untuk berinovasi dalam
menciptakan sebuah produk teknologi yang menjangkau masyarakat marginal.
3.5 Arah technopreneurship di Indonesia
Sebagian besar wacana di negara kita mengarahkan Technopreneurship seperti dalam
definisi kedua di atas. Baik dalam seminar, lokakarya dan berita, maka bisa dijumpai
bahwa pemakaian teknologi Informasi dapat menunjang usaha bisnis. Terlebih
dimasa krisis global seperti sekarang ini, maka peluang berbisnis lewat Internet
semakin digembar-gemborkan. Ada kepercayaan bahwa Technopreneurship menjadi
solusi bisnis dimasa lesu seperti ini. Sebagai contoh, penggunaan Perangkat Lunak
tertentu akan mengurangi biaya produksi bagi perusahaan Meubel. Jika sebelumnya,
mereka harus membuat prototype dengan membuat kursi sebagai sample dan
mengirimkan sample tersebut, maka dengan pemakaian Perangkat Lunak tertentu,
maka perusahaan tersebut tidak perlu mengirimkan sample kursi ke pelanggan, namun
hanya menunjukkan desain kursi dalam bentuk soft-copy saja. Asumsi ini tidak
memperhitungkan harga lisensi software yang harus dibeli oleh perusahaan meubel
tersebut.
Jika technopreneurship dipahami seperti dalam contoh-contoh ini, maka kondisi ini
menyisakan beberapa pertanyaan: Apakah benar technopreneurship mampu menjadi
solusi bisnis di masa kini? Akan dibawa kemanakah arah technoprenership di negara
kita? Menurut hemat penulis, technopreneurship yang dipahamai dalam makna yang
sesempit ini justru akan menjadi bumerang bagi pelaku bisnis, karena ini akan
menciptakan ketergantungan terhadap teknologi buatan barat. Dan ini tidak sejalan
dengan semangat technopreneurship yang dikembangkan oleh negara-negara Asia
lainnya. Selain itu, inovasi yang berkembang belum mampu melepas ketergantungan
tersebut karena masih berskala individu, seperti inovasi dan kreatifitas dalam
pembangunan website, penggunaan teknologi web 2.0 sebagai media promosi. Inovasi
yang diharapkan adalah inovasi dalam pengembangan kapasitas lokal dengan basis
teknologi dari dunia barat, sehingga hasil inovasi tersebut mampu melepaskan kita
dari kungkungan ketergantungan penggunaan lisensi dan ketergantungan teknologi
barat.
Untuk dapat menuju ke arah yang sama seperti neagara-negara tetangga kita lainnya,
maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan dekonstruksi pemahaman
Technopreneurship. Ini penting sekali karena kita semua tahu bahwa persepsi
menentukan aksi. Dengan pemahaman technopreneurship seperti dalam definisi
pertama maka akan memungkinkan bermunculannya para technopreneurship sejati
yang akan membawa negara kita berjalan bersama-sama dengan India, Korea Selatan
maupun taiwan.
3.6 Menumbuhkan technopreneurship mahasiswa : Kolaborasi kompetensi dan
aplikasi teknologi dalam pengembangan kewirausahaan
Dalam peradaban manusia, dari tatanan global hingga tatanan rumah tangga, ekonomi
merupakan sektor yang sangat penting dalam menunjang keberlangsungan hidup
individu di dalamnya. Oleh karena itu, upaya pengembangan perekonomian, yang
bertujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, selalu menjadi fokus
dalam perencanaan ke depan setiap unit masyarakat dari struktur hierarki terendah
hingga yang tertinggi. Secara konseptual, pengembangan perekonomian selalu
berkaitan erat dengan ekonomi makro dan keberlakuan sistem ekonomi yang dianut
oleh suatu negara. Akan tetapi, pengembangan perekonomian dalam skala nyata pada
umumnya berkisar pada ekonomi mikro: sektor informal, industri kecil-menengah,
koperasi, dan usaha distribusi. Sektor-sektor tersebut selalu berkorelasi dengan sebuah
karakter individual dan komunitas yang secara langsung diperlukan oleh subjek
pengembang usaha tersebut, entrepreneurship.
Di sisi lain, kehidupan masyarakat juga memerlukan sebuah instrumen yang dapat
memudahkan setiap aktivitasnya. Rekayasa instrumen-instrumen tersebut, yang juga
dipergunakan dalam mengeksplorasi sumber daya kebutuhan manusia, membutuhkan
suatu pembaharuan dan fleksibilitas agar mampu mengimbangi perubahan keadaan
yang begitu cepat. Oleh karena itu, penerapan sains dan pengetahuan sebagai sebuah
teknologi nyata merupakan sebuah keniscayaan yang konsekuensional.
3.7 Teknologi sebagai Alat
Secara sederhana, teknologi merupakan aplikasi langsung dari ilmu pengetahuan yang
kita miliki. Tujuan perekayasaan teknologi ini adalah sebuah alat untuk memudahkan
kerja manusia dalam memenuhi kebutuhannya.
Di era modern, pengembangan teknologi akan sangat berpengaruh terhadap daya
saing suatu negara dalam kompetisi global. Inovasi teknologi yang kontinu dan tepat
guna membutuhkan sebuah penguasaan kompetensi serta otoritas ilmiah dalam
implementasi teknologi tersebut. Untuk itulah, diperlukan sumber daya manusia yang
mumpuni sebagai ahli-praktisi dalam masing-masing bidang keilmuan dan
aplikasinya. Di sinilah peran universitas dan institusi pendidikan tingkat tinggi.
Universitas dan/atau instusi pendidikan lain memiliki peran dalam menghasilkan
mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kepahaman ilmiah dan penguasaan teknis
dalam rekayasa teknologi tersebut. Proses pembentukan kompetensi ini harus
ditempuh melalui proses pendidikan yang paripurna. Pihak universitas yang
bertanggung jawab dalam tatanan kurikuler harus dapat meramu sebuah hidangan
kurikulum pendidikan yang lezat dan bergizi. Disamping itu, organisasi
kemahasiswaan yang bergerak pada zona co-kurikuler dan ekstrakurikuler juga perlu
memberikan dukungan pengembangan untuk dapat menghasilkan profil mahasiswa
yang memiliki kapabilitas yang tinggi (high-capable) dalam bidangnya masingmasing.
3.8 Enterpreneurship sebagai Kebutuhan
Kewirausahaan, dalam konteks apapun, selalu berdampingan erat dengan karakter
entrepreneurship. Pengembangan usaha yang mandiri membutuhkan jiwa dan
semangat entrepreneurship yang juga mumpuni. Entrepreneurship adalah sebuah
karakter kombinatif yang merupakan fusi antara sikap kompetitif, visioner, kejujuran,
pelayanan, pemberdayaan, pantang menyerah, dan kemandirian. Karakter ini bersatu
dan menjadi kebutuhan langsung dalam proses wirausaha. Secara sederhana,
entrepreneurship memiliki ciri-ciri swadaya usaha serta mengandung komponen
manajemen pemasaran, produksi, dan finansial.
Entrepreneurship tidak hanya berkaitan dengan pengembangan unit usaha. Dalam
bukunya ”Innovation and Entrepreneurship”, Peter F. Drucker menyebutkan bahwa
entrepreneur bukan hanya seseorang yang membangun unit bisnis pribadi yang kecil
dan baru. Menjadi pegawai korporasi pun kita tetap bisa memiliki jiwa
entrepreneurial. Karena, menurut Drucker, entrepreneurship adalah the practice of
consistently converting good ideas into profitable commercial ventures. Jadi, inti dari
entrepreneurship adalah konsistensi usaha (consistent work), inovasi ide (innovative
idea), dan hasil yang menguntungkan (profitable output).
3.9 Technopreneurship : Sebuah Kolaborasi Integral
Di era persaingan global yang sangat ketat, inovasi usaha harus diiringi dengan
berbagai macam rekayasa teknologi agar dapat melipatgandakan performa dari usaha
tersebut. Pemanfaatan teknologi mutakhir tepat guna dalam pengembangan usaha
yang berdasarkan pada jiwa entrepreneur yang mapan akan dapat mengoptimalkan
proses sekaligus hasil dari unit usaha yang dikembangkan. Inilah yang disebut
technopreneurship: sebuah kolaborasi antara penerapan teknologi sebagai instrumen
serta jiwa usaha mandiri sebagai kebutuhan. Technopreneurship adalah suatu karakter
integral antara kompetensi penerapan teknologi serta spirit membangun usaha. Dari
sini, tumbuhlah unit usaha yang teknologis: unit usaha yang memanfaatkan teknologi
aplikatif dalam proses inovasi, produksi, marketisasi, dan lain sebagainya.
Menanamkan jiwa entrepreneurship bukan perkara yang mudah, karena ini
berhubungan dengan dua hal kompleks yang perlu ditanamkan, yakni kesadaran
teknologi, dan semangat entrepreneurship. Dua hal ini memiliki karakteristik yang
spesifik dalam masing-masing pengembangannya. Oleh karena itu, untuk membentuk
ketiga hal tersebut, penulis membaginya menjadi tiga tahapan:
1. Teknologi
Seperti yang dijelaskan di awal, teknologi memiliki kebutuhan yang erat dalam
penguasaan keilmuan dan penerapannya. Proses ini diperlukan untuk mendapatkan
otoritas teknologi yang diakui eksistensinya. Penyaluran keilmuan serta teknis
rekayasa ini didapatkan melalui proses pendidikan di universitas. Proses pendidikan
hingga memiliki kompetensi yang mumpuni inilah yang disebut authorization. Setelah
memiliki kompetensi yang memadai, ilmu dan berbagai macam teori harus bisa
dimanfaatkan, baik secara luas maupun sempit. Pemanfaatan ini tidak harus
menghasilkan produk nyata, namun dapat berupa konsep dan ide pengembangan dari
teori tersebut. Proses ini disebut utilization.
Berdasarkan sifatnya yang aplikatif, untuk dapat menjadi teknologi, ilmu-ilmu yang
dipelajari harus dapat diimplementasikan. Implementasi ini berupa karya nyata yang
dapat dimanfaatkan secara langsung dalam usaha keseharian manusia. Proses
rekayasa teknologi menjadi produk yang bisa dimanfaatkan secara langsung
merupakan tujuan akhir dari pengaplikasian sains dan keilmuan. Tahap ini disebut
implementation. Lalu, teknologi yang telah dihasilkan harus dapat dikolaborasikan
dengan kebutuhan yang ada, agar tepat guna dan bermanfaat secara luas sekaligus
spesifik. Proses ini disebut collaboration.
2. Entrepreneurship
Untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship diperlukan beberapa tahapan, antara
lain internalization, paradigm alteration, spirit initiation, dan competition.
Internalization adalah tahapan penanaman jiwa entrepreneurship melalui konstruksi
pengetahuan tentang jiwa entrepreneurial serta medan dalam usaha. Tahap ini
berkutat pada teori tentang kewirausahaan dan pengenalan tentang urgensinya.
Setelah itu, paradigm alteration, yang berarti perubahan paradigma umum. Pola pikir
pragmatis dan instan harus diubah dengan memberikan pemahaman bahwa unit usaha
riil sangat diperlukan untuk menstimulus perkembangan perekonomian negara, dan
jiwa entrepreneurship berperan penting dalam membangun usaha tersebut. Di tahap
ini diberikan sebuah pandangan tentang keuntungan usaha bagi individu maupun
masyarakat.
Setelah pengetahuan telah terinternalisasi dan paradigma segar telah terbentuk,
diperlukan sebuah inisiasi semangat untuk mengkatalisasi gerakan pembangunan unit
usaha tersebut. Inisiasi ini dengan memberikan bantuan berupa modal awal yang
disertai monitoring selanjutnya. Lalu, perlu digelar sebuah medan kompetisi untuk
dapat mengembangkan usaha tersebut dengan baik.
3. Technopreneurship
Setelah memiliki kompetensi teknologi dan jiwa entrepreneurship, hal terakhir yang
perlu dilakukan adalah mengintegrasikannya. Teknologi yang telah dimiliki kita
kreasikan dan inovasikan untuk menyokong pengembangan unit usaha. Hal ini dapat
dilakukan secara nyata dalam proses produksi (contoh: Microsoft), marketing (contoh:
e-Bay), accounting, dan lain sebagainya. Kreativitas dan pemanfaatan teknologi
dengan tepat adalah hal utama dalam mengembangkan jiwa technopreneurship.
Dalam konteks kementerian ekonomi kabinet KM ITB, yang perlu dilakukan dalam
masing-masing tahapan adalah dengan mengoptimalkan keprofesian dalam masingmasing organisasi co-kurikuler untuk dapat memaksimalkan pendidikan teknologi,
mengadakan kegiatan seminar kewirausahaan dalam proses menginternalisasi serta
membangun paradigma kewirausahaan, membuat kompetisi usaha sekaligus
memberikan stimulus modal dan investasi untuk mengembangkan kewirausahaan,
serta mengkonstruksi prototype unit usaha yang secara langsung menerapakan prinsip
technopreneurship untuk menjadi model unit-unit tersebut.
Kolaborasi dengan pihak universitas dan kelompok komunitas usaha seperti T-Club,
serta pemanfaatan agenda kewirausahaan yang ada (I3M, IEC) dapat menjadi sebuah
langkah awal yang strategis dalam menumbuhkan technopreneurship mahasiswa.
3.10 TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi
Perubahan demi perubahan yang terjadi dari suatu zaman ke zaman berikutnya telah
mengantarkan manusia memasuki era digital, suatu era yang seringkali menimbulkan
pertanyaan : apakah kita masih hidup di masa kini atau telah hidup di masa datang.
Pertanyaan ini timbul karena hampir segala sesuatu yang semula tidak terbayangkan
akan terjadi pada saat ini, secara tiba-tiba muncul di hadapan kita. Masa depan seolaholah dapat ditarik lebih cepat keberadaannya dari waktu yang semestinya, berkat
kemajuan teknologi informasi.
Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and
communication technology –ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan
prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika
dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan
(computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana
multimedia. Masalah di Indonesia yang paling utama adalah bagaimana memecahkan
masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar dengan menumbuh-kembangkan
inovasi atau teknopreneur industri telematika. Technopreneurship atau wirausaha
teknologi merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi
sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat
kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan
ekonomi nasional.
Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi informasi (TI)
membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang oleh
regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya
regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan
memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek
bisnisnya. Hal ini sangat penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di mana
seringkali terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit bisnis yang
menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai wirausahawan dan melakukan
perubahan-perubahan, menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tuntutan
perubahan serta memperbesar usaha, tetapi di sisi lain ada kepentingan-kepentingan
Pemerintah yang mungkin saja berlawanan dengan kepentingan sebagai suatu unit
bisnis. Padahal dalam technopreneurship diperlukan semangat kompetisi yang
dominan, agar tidak tertinggal dari turbulensi bisnis global.
Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan pada “kotak”
tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari kegiatan ekonomi. Dunia ilmu
pengetahuan atau kita sebut dengan pendidikan, dianggap bukan menjadi bagian dari
suatu sistem ekonomi. Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu dunia tersendiri
tempat dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi dipandang sebagai
dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan seolah dunia tanpai nilai
(value). Cara pandang yang dikotomis tersebut, dalam kurun waktu yang lama belum
dapat terjembatani secara baik. Masing-masing pihak lebih mementingkan dan meng
claim sebagai pihak yang paling benar.
Yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam era ekonomi yang berbasis ilmu
pengetahuan, pendidikan merupakan wujud dari keberhasilan pembangunan nasional
suatu negara. Bahkan pendidikan dapat menjadi keunggulan daya saing suatu negara.
Dengan kata lain, pendidikan memegang peran strategis dalam memajukan ekonomi
bangsa. Dan hal ini telah dibuktikan oleh negara-negara industri baru seperti
Singapore, Taiwan dan Malaysia, di mana dengan membangun sarana dan prasarana
pendidikan secara serius dalam sepuluh tahun terakhir, kualitas kehidupan bangsabangsa tersebut terus meningkat.
Bagaimana dengan Indonesia ?. Selama berpuluh tahun, pendidikan dijadikan alat
politik penguasa, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Akibatnya pendidikan berjalan lamban (too slow), sehingga tidak dapat mengejar
tuntutan perubahan. Pendidikan belum memberikan kontribusi yang signifikan
terhadap perubahan yang terjadi atau masih sangat sedikit (too little). Bahkan
pendidikan seringkali terlambat (too late) dalam mengadaptasi perubahan, sehingga
pendidikan tertinggal dan belum mampu menjawab tantangan masa depan. Faktor
penyebabnya adalah karena kebijakan yang ada disamping tambal sulam, juga dibuat
secara tergesa-gesa. Bahkan pemerintah dinilai belum memiliki visi dan komitmen
yang jelas tentang pendidikan.
3.11 Pendidikan TI Berbasis TECHNOPRENEURSHIP
Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and
communication technology–ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan
prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika
dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan
(computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana
multimedia.
Technopreneurship adalah sebuah inkubator bisnis berbasis teknologi, yang memiliki
wawasan untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi
muda, khususnya mahasiswa sebagai peserta didik dan merupakan salah satu strategi
terobosan baru untuk mensiasati masalah pengangguran intelektual yang semakin
meningkat ( + 45 Juta Orang). Dengan menjadi seorang usahawan terdidik, generasi
muda, khususnya mahasiswa akan berperan sebagai salah satu motor penggerak
perekonomian melalui penciptaan lapangan-lapangan kerja baru. Semoga dengan
munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan
jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena
untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa
mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global.
Disisi lain bahwa kurikulum Pendidikan TI berbasis Technopreneurship yang
diberikan di perguruan tinggi memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Memberikan kontribusi kongkret dalam mensiasati masalah pengangguran
intelektual di Indonesia.
2. Mengembangkan spirit kewirausahaan di dunia perguruan tinggi.
3. Meminimalisir gap antara pemahaman teori dan realita praktek dalam pengelolaan
bisnis.
Manfaat bagi mahasiswa dalam proses implementasi Technopreneurship Based
Curicullum adalah sebagai berikut :
1. Memperoleh pencerahan mengenai alternatif profesi sebagai wirausaha selain
sebagai ekonom, manajer atau akuntan atau profesi lainnya.
2. Memiliki skill-based yang memadai dalam bidang Teknologi Informasi
3. Mendapatkan pengetahuan dasar dalam bentuk teori maupun praktek magang
dalam mengelola suatu bisnis.
4. Memperoleh akses untuk membangun networking dunia bisnis.
Sedangkan bagi Perguruan Tinggi sebagai fasilitator adalah :
1. Menjadi bentuk tanggungjawab sosial sebagai lembaga pendidikan untuk
berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran.
2. Menjadi bagian penting dalam upaya menjembatani gap kurikulum pendidikan
antara lembaga pendidikan dan industri pengguna.
3. Menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan mutu lulusan.
4. Menjadi wahana interaksi untuk komunitas Perguruan Tinggi yang terdiri dari
alumni, mahasiswa, dosen, dan karyawan dengan masyarakat umum.
Berdasarkan tujuan tersebut di atas, maka Program Pengembangan Budaya
Technopreneurship atau kewirausahaan di Perguruan Tinggi dirancang meliputi 6
(enam) kegiatan yang saling terkait, yaitu:
1. Pelatihan materi ”Techno SKILL BASED”
2. Magang Kewirausahaan
3. Kuliah Kewirausahaan
4. Kuliah Kerja Usaha
5. Karya Alternatif Mahasiswa
6. Konsultasi Bisnis dan Peluang usaha
Secara teknis, implementasi pendidikan TI berbasis TECHNOPRENEURSHIP ini,
sama saja seperti perkuliahan pada umumnya, hanya saja pada 2 semester pertama
secara intensif para mahasiswa diberikan pelatihan (training) sebagai pondasi awal
berupa penguasaan bahasa pemrograman (VB.Net/C#/Java) atau disain grafis 3D,
WEB, dan ini disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri TI saat itu.
Proses pelatihan diberikan bersamaan dengan perkuliahan reguler, sehingga mereka
mendapat pembinaan secara intensif & fokus untuk mempersiapkan SKILL Based
mereka. Pada saat mereka menginjak semester 3, mereka melakukan proses
pemagangan di perusahaan/industri TI, setelah itu diharapkan para mahasiswa sudah
bisa bekerja secara part time di beberapa perusahaan, sehingga ketika mereka telah
menyelesaikan studinya, mereka memiliki asset berupa knowledge & experince yang
cukup untuk menjadi Technopreneur, atau alternatif lainnya mereka tetap bisa
bersaing secara kompetitif untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dengan bekal
IPTEK yang mereka telah kuasai.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan
terhadap pembelajaran dan merupakan terapi akademis & kesehatan jiwa bagi anak
bangsa, semoga munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas
permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa
menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga
kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri
sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan
berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa
Indonesia.
3.12 Pengembangan Technopreneurship menuju Kemandirian Nasional
Dibandingkan upaya ?persyaratan lokal? atau ?local content?, maupun imbal dagang
atau ?barter?, technopreneurship merupakan suatu upaya yang jauh lebih maju. Di
dalamnya terkandung niatan untuk mengembangkan kegiatan yang tidak saja terfokus
pada kegiatan dalam negeri, tetapi juga pada negara-negara lain. Karena itu
semestinya technopreneurship senantiasa berorientasi ke luar, merujuk kemajuan yang
terlihat di negara lain, terutama yang tidak memiliki sumber daya alam sehingga
praktis industri jasa dan teknologi merupakan tulang punggung kemajuan
ekonominya.
Peluang pengembangan technopreneurship di sektor kelistrikan dapat terlihat dengan
kenyataan bahwa sampai dengan tahun 2010, jumlah investasi yang dibutuhkan sektor
listrik dan migas masing2 sekitar USD 5 miliar/tahun. Proyeksi perkiraan peningkatan
kebutuhan tenaga listrik dan migas yang terkait jumlah investasi ini akan
meningkatkan kebutuhan barang dan jasa teknologi baik langsung maupun yang
bersifat penunjang, sehingga akan membuka kesempatan pengembangan
technopreneurship di kedua sektor ini seluas-luasnya.
Pemerintah Indonesia telah memulai upaya mengembangkan technopreneurship
melalui Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, sementara pengembangan
sumber daya manusianya sudah dilakukan banyak perguruan tinggi, antara lain Pusat
Inkubator Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB). Departemen ESDM secara
tidak langsung turut mengembangkan technopreneurship melalui kegiatan yang
didanai oleh APBN, misalnya dalam hal pembangunan pembangkit listrik mikrohidro,
dimana usaha kecil dan menengah yang melaksanakan kegiatan pembangunan
tersebut menggunakan kemampuan dalam negeri baik tenaga maupun komponen yang
diperlukan.
Prasyarat bagi terciptanya technopreneurship yang handal dan berkelanjutan dalam
semua bidang, termasuk sektor listrik dan migas, mencakup empat faktor utama:
pertama, langkah yang perlu dilakukan oleh perguruan tinggi, yaitu bahwa sistem
pendidikan terutama pada tingkat perguruan tinggi dikembangkan tidak hanya untuk
menghasilkan lulusan yang cakap dan trampil, tetapi juga yang mampu menciptakan
peluang bisnis. Kedua, yang perlu dilakukan oleh sektor industri dan iptek, yaitu
membangun fasilitas yang nyaman dan lengkap, seperti kawasan iptek/science park,
yang dapat mendorong terbangunnya technopreneur. Ketiga, yang perlu dilakukan
oleh institusi hukum, yaitu menciptakan peraturan perundang-undangan yang
kondusif bagi pengembangan technopreneurship termasuk insentif fiskal dan pajak
bagi usaha kecil dan menengah yang berbasis teknologi. Terakhir, langkah yang
dilakukan oleh sektor keuangan, yaitu pengalokasian dana yang cukup untuk
membantu pendirian dan pengembangan usaha kecil dan menengah berbasis teknologi
yang berpotensi untuk berkembang menjadi usaha besar.
3.13 Technopreneur Ciptakan Lapangan Kerja
Coba bayangkan untuk lowongan 2 orang tenaga sekretaris dari sebuah perusahaan
harus diperebutkan oleh sekitar 300 orang pelamar. Sementara itu, untuk 1 lowongan
staf pemasaran harus diperebutkan sekitar 200 pelamar. Bahkan untuk lowongan 1
orang staf pengajar kursus komputer pun harus diperebutkan sekitar 50 orang
pelamar. Persaingan yang sangat fantastis!
Beban yang dialami oleh para calon tenaga kerja tampak semakin penat ketika
tuntutan kebutuhan sehari‑hari terus meningkat. Bekerja! Bekerja! Bekerja! Kata itu
terus terngiang‑ngiang dalam lubuk hati setiap tenaga kerja. Tidak jarang rasa penat,
tegang dan gentar untuk menyongsong hari esok datang menyergap, serta membawa
depresi dan keputusasaan.
Meskipun situasi persaingan sedemikian ketatnya, keinginan untuk mencari kerja
masih sangat tinggi. Para calon tenaga kerja tidak ragu‑ragu untuk membekali diri
dengan
bersekolah
hingga
ke
tingkat
perguruan
tinggi,
kursus
keterampilan‑keterampilan tertentu, belajar bahasa Inggris atau Mandarin, mengikuti
workshop‑workshop untuk mendalami tip‑tip dalam meraih lapangan kerja dan
sukses karir. Bahkan, kalaupun sampai diminta untuk membayar sekalipun, mereka
pun bersedia, asalkan mendapatkan pekerjaan.
Para tenaga kerja, bahkan lulusan perguruan tinggi sekalipun terus berupaya mencari
lapangan kerja ke sana ke mari. Setiap kali sarjana baru diwisuda, langsung
melegalisirkan minimal 10 lembar fotocopy ijazah untuk mengirimkan lamaran.
Mengapa para tenaga kerja tersebut terus berusaha mencari pekerjaan? Beberapa
alasan berikut ini dikumpulkan dari hasil konsultasi atau curahan isi hati (curhat)
dengan sejumlah orang dan peserta seminar enterpreneur yaitu: merasa tidak memiliki
modal, pengalaman, relasi, belum mahir atau terampil, takut rugi, tidak dapat
mengelola para karyawan, tidak memiliki jiwa atau minat bisnis, trauma terhadap
kegagalan dan berasal dari lingkungan keluarga pekerja bukan pebisnis.
Menjadi technopreneur
Antrian mencari kerja sudah terlalu panjang, sedangkan kebutuhan harian tidak dapat
dihentikan. Kini tiba saatnya untuk membuat keputusan dan bertindak untuk
menciptakan lapangan kerja baru. Tinggalkan sekarang juga dari antrian mencari
kerja! Percayalah pada rahmat penyelenggaraan Illahi dan kemampuan diri Anda.
Segeralah merintis jalan menjadi seorang technopreneur yang sukses!
Apa itu technopreneur? Kalau kata enterpreneur sudah tidak asing bagi kebanyakan
orang, sedangkan kata technopreneur tampak masih asing. Technopreneur secara
sederhana dapat diartikan sebagai seorang peminat teknologi yang berjiwa
enterpreneur. Tanpa jiwa enterpreneur, seorang peminat teknologi hanya menjadi
teknisi dan kurang dapat menjadikan teknologi yang digelutinya sebagai sumber
kehidupannya.
Bill Gates yang mengawali keberhasilannya di sebuah garasi rumahnya, Linus
Trovaldi yang mengawali debutnya dengan menggulirkan software open source
Linux, Onno W. Purbo dan Michael Sunggiardi yang menggulirkan gagasan‑gagasan
tentang warung internet (warnet), internet RT/RW dan majalah Neotek tampaknya
dapat dinobatkan sebagai sosok‑sosok yang dapat menjadi panutan dalam
mengembangkan jiwa technopreneur.
Angka kelahiran technopreneur tampaknya kian meningkat dari hari ke hari. Jika
datang ke pameran‑pameran dan presentasi teknologi informasi (TI), maka akan
didapati presenter‑presenter yang masih muda, tetapi tampil visioner, futuristik,
bersemangat, energik, penuh gagasan, dan piawai dalam mendemonstrasikan
kemampuannya untuk mengoperasikan dan memanfaatkan TI dalam berbagai bidang.
Kelahiran para technopreneur itu banyak didasari dengan sejumlah latar belakang,
antara lain: idealisme untuk menciptakan lapangan kerja baru, mengubah peran
teknologi tidak hanya sebagai alat bantu saja, melainkan sebagai sumber bisnis,
menggali potensi diri untuk hidup mandiri, memiliki kebebasan berkreasi dan
pendapatan tidak terbatas.
Dasar untuk sukses
Menjadi sukses tentu juga menjadi impian bagi setiap technopreneur. Namun sukses
bukanlah sulapan. Untuk meniti tangga kesuksesan, maka seorang technopreneur
harus memperhatikan dan mengembangkan 8 dasar utama yang sudah ada dalam diri
para technopreneur dengan penuh percaya diri dan optimis.
Delapan dasar utama tersebut adalah: visi, semangat dan mental pemenang, cara
pandang futuristik, berpikir strategis, mengembangkan kurva pembelajaran, terampil
berteknologi dan menajemen, kreatif dan berani memulai. Visi, semangat dan cara
pandang futuristik merupakan dasar yang melahirkan daya gerak bagi seorang
technopreneur untuk berkarya. Berpikir strategis, mengembangkan kurva
pembelajaran, terampil berteknologi dan manajemen akan menjadikan karyanya dapat
bertahan bahkan berkembang. Kreatif merupakan dasar untuk menciptakan keunikan
dan daya saing. Sedangkan tanpa keberanian untuk memulai, maka technopreneur
hanya akan menjadi pemimpi.
Kini saatnya para peminat teknologi, khususnya teknologi informasi (TI) untuk
menjawab kebutuhan kerja dengan menjadikan teknologi yang digelutinya sebagai
sumber kehidupannya, bahkan dapat menciptakan lapangan kerja.
3.14 Mendidik “Technopreneur”
Misalkan saja Anda berusia 20-an tahun dan mengawali perusahaan internet pertama
Anda. Lalu katakan 21 bulan kemudian Anda menjualnya seharga 1,65 miliar dollar
AS. Apa yang terjadi berikutnya? (“Time”, ‘Persons of the Year’, 2006-2007)
Kutipan di atas dari majalah Time tatkala mengisahkan situs YouTube yang
fenomenal dan pendirinya, Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim.
Diperlihatkan pula bagaimana ketiga pemuda itu merancang konsep awal YouTube di
garasi Chad. YouTube kemudian sukses besar pada tahun 2006. Alasannya banyak,
tetapi satu yang bisa disebut khusus adalah karena ia unggul, tapi juga mudah, satu
kombinasi yang langka. Anda bisa menonton video di situs tersebut tanpa perlu
mengunduh perangkat lunak apa pun atau bahkan mendaftar. Di Amerika, YouTube
untuk menonton video diibaratkan sama dengan Wal-Mart Supercenter untuk
belanja. Semua ada di sana dan Anda tinggal masuk saja.Ketika akhir tahun silam
YouTube digelontor dengan 65.000 video baru setiap harinya, jumlah video yang bisa
ditonton pun menggelembung, dari 10 juta per hari pada tahun sebelumnya, menjadi
100 juta.
Selain memperlihatkan bagaimana multiplikasi informasi terjadi, fenomena tersebut
juga membuat dunia menoleh kepada sosok-sosok pendiri perusahaan. Lalu
tampaklah bagaimana sosok Chad Meredith Hurley yang berdarah seni ternyata juga
punya minat besar terhadap bisnis dan teknologi. Bagaimana keberhasilannya di
PayPal mempertemukan dirinya dengan Steve Chen dan Jawed Karim, dua insinyur di
PayPal, yang kemudian bersepakat dengan dirinya untuk mendirikan perusahaan baru
(start-up). Dalam perkembangan kemudian, memang ada ketegangan dalam hubungan
Karim (27) dengan kedua pendiri YouTube
lainnya. Ini membuat sejarah perusahaan itu lalu ikut disederhanakan, dengan hanya
disebutkan, ide pendirian YouTube muncul tahun 2005 saat Chad dan Steve kesulitan
berbagi video yang mereka ambil secara online saat santap malam di apartemen
Steve.
Apa pun yang terjadi di antara ketiga orang muda yang terkait dengan YouTube di
atas, yang jelas YouTube berkembang menjadi perusahaan sukses yang kemudian
dibeli raksasa Google, Oktober 2006 dengan nilai 1,65 miliar dollar AS.
Semestinya sukses YouTube, sebagaimana sukses Apple, Amazon, dan deretan startup lainnya mengilhami orang muda tidak saja di Amerika, tetapi juga di belahan dunia
lainnya. Namun, agar lingkungan menjadi kondusif bagi munculnya apa yang dikenal
sebagai wirausahawan teknologi atau technopreneur ini rupanya dibutuhkan sejumlah
syarat.
Ketika memberi kuliah perdana di Universitas Media Nusantara (UMN) di Jakarta, 3
September lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh menyebut
salah satunya, yakni masa kritis. Menurut Menteri, di Indonesia memang sudah ada
banyak ahli ICT (teknologi informasi dan komunikasi/TIK), tetapi jumlah itu dirasa
belum mampu menimbulkan efek yang terasakan.
Menteri Nuh mengibaratkan kondisi yang ada sekarang sebagai mobil di tanjakan,
tidak merosot tetapi juga tidak bisa naik.
Dari segi masa kritis, jumlah SDM TIK harus ditambah, dalam hal ini melalui
pendidikan. Dalam kondisi kesenjangan digital yang sudah akut dewasa ini antara
negara maju dan negara berkembang, jumlah lulusan memang harus dipacu. Para
lulusan juga harus bisa menjadi orang yang mampu memengaruhi agar semakin
banyak warga masyarakat yang melek TIK dan bisa memanfaatkannya.
Pendidikan kewirausahaan
Pada kesempatan yang sama, pendiri UMN Dr (HC) Jakob Oetama kembali
mengulangi pentingnya pendidikan sebagaimana terkandung dalam semangat culture
matters yang akhir-akhir ini sering ia kemukakan. Menurut hasil seminar Harvard
yang kemudian dibukukan hasilnya, dan disunting oleh Lawrence Harrison dan
Samuel Huntington (2000), nilai budaya berperan penting bagi kemajuan bangsa.
Bangsa Korea (Selatan) berkembang maju dibandingkan dengan Ghana meski
keduanya berada dalam kondisi serupa pada tahun 1960. Dalam pengantar buku,
Huntington menyebutkan, di Korea berkembang nilai-nilai budaya yang membuatnya
tumbuh maju dan di antara nilai-nilai tersebut adalah pendidikan, selain disiplin,
menghargai waktu, dan berorientasi kepada kemajuan.
Seperti disampaikan Menteri Nuh, pemerintah pun berkepentingan agar pendidikan
maju, masyarakat Indonesia maju. Ini antara lain coba dilakukan dengan membangun
dan meluaskan jaringan komunikasi dengan Palapa Ring, yang tahun 2008 coba
diwujudkan untuk wilayah Indonesia timur. Melalui program Universal Service
Obligation (USO), pemerintah juga akan memperluas akses telekomunikasi bagi desadesa di Indonesia yang berjumlah 72.000, tetapi 38.000 di antaranya masih
merupakan blank spot.
Setelah ide disosialisasikan, prasarana dibangun, pendidikan diselenggarakan, lalu
bagaimana dengan munculnya technopreneur? Ini tentu persoalan lain.
Pembicara lain pada kuliah perdana UMN, Indra Sosrojoyo, menyampaikan peluang
yang terbuka dalam industri TIK yang dapat dipilih mahasiswa. Ia juga dengan tepat
mengawali kuliah dengan bertanya, siapa yang ingin menjadi technopreneur. Dalam
jawaban pertama, mahasiswa yang mengangkat tangan 25 persen, tetapi meningkat
jadi sekitar 40 persen saat ia mengulangi pertanyaannya.
Pekan silam, ketika menulis tentang Iskandar Alisjahbana, kolom ini juga
menyinggung pentingnya jiwa entrepreneurship. Dalam hal ini, perguruan tinggi tidak
cukup hanya menjadi penghasil gelar ningrat akademis. Ia harus berhenti sebagai
menara gading dan membuka peluang bagi civitas academica-nya untuk
menumbuhkan inkubator, seperti yang dipercontohkan oleh MIT dan Stanford
University di AS. Memang, tidak sedikit tentangan yang muncul menanggapi gagasan
ini, dari tahun 1970-an hingga hari ini. Namun, tampaknya, ada urgensi aktual bagi
pendekatan baru untuk lulusan universitas saat ekonomi masih lesu dan lapangan
kerja langka dewasa ini.
Dalam konteks culture matters yang diangkat oleh Jakob Oetama, melalui praktik
kewirausahaan dapat dikembangkan nilai-nilai budaya yang dibutuhkan untuk
mencapai kemajuan, seperti disiplin, ulet, dan menghargai waktu.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Simpulan
Technopreneurship merupakanTeknologi komunikasi dan informasi atau teknologi
telematika (information and communication technology–ICT) telah diakui dunia
sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah
dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi
(communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang
diseminasikan mempergunakan sarana multimedia. Dan Technopreneurship
merupakan buah pemikiran baru di dalam dunia bisnis terutama di bidang online
4.2 Saran
Agar mahasiswa dan masyarakat umum dapat Menatap masa depan berarti
mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan
merupakan terapi akademis & kesehatan jiwa bagi anak bangsa, semoga munculnya
generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah
pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk
meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa
mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri
untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan
berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Drucker, P. F. (1985) Innovaton and Entrepreneurship ; Practice and Principles
http://www.inti.ac.id/stmikinti/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1
http://rully6092.wordpress.com/teknologi-jaringan-wireles/
http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/14/08112418/Technopreneurship.ITS.Untuk
.Atisipasi.Pengangguran.Sarjana
http://www.lipi.go.id/www.cgi?proyek&1266906081&1&2010&1036008115
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
BIODATA
Nama
Alamat
Kota
Provinsi
Tempat/Tanggal Lahir
E-Mail
Handphone
: Muhammad Akbar Arifin
: Jl.Sawah Lio I/31 Rt.01/001 Jakarta 11250
: Jakarta Barat
: Jakarta
: Jakarta, 17 November 1989
: [email protected]
: 0856 9292 7787 – 021 9292 7787
PENDIDIKAN
SD (1995-2001)
SMP (2001-2004)
SMA (2004-2007)
Universitas (2007-sekarang)
: SD Laksa Bhakti
: Mts Daar El-Qalam
: SMK Bhinneka Tunggal Ika
: Universitas Bina Nusantara (Jakarta)
PENGALAMAN
Magang pada PT.General Patent Internasional pada 1 Mei 2007 – 31 Agustus 2007
BIODATA
Nama
: Ferliano Ossadi
Alamat
Kota
Provinsi
Tempat/Tanggal Lahir
e-Mail
Handphone
: Jln.Kebun Jeruk Raya NO:23
:Jakarta Barat
: Jakarta
: Solok,2 Juli 1989
: [email protected]
: 085781683833
PENDIDIKAN
TK (1993-1995)
SD (1995-2001)
SMP (2001-2004)
SMA (2004-2007)
Universitas (2007-sekarang)
PENGALAMAN
: TK Kutilang Solok,Sumatra Barat
: SD N 05 Solok,Sumatra Barat
: SMP N 3 Bukittinggi,Sumatra Barat
: SMA N 2 Bukittinggi,Sumatra Barat
: Universitas Bina Nusantara (Jakarta)
BIODATA
Nama
Alamat
Kota
Provinsi
Tempat/Tanggal Lahir
e-Mail
Handphone
: Akmal Syafaat
: pd.kacang prima blok I 1 no 10
: Jakarta
: Banten
: Jakarta, 01 Desember 1989
: [email protected]
: 085691451234
PENDIDIKAN
TK (1993-1995)
SD (1995-2001)
SMP (2001-2004)
SMA (2004-2007)
Universitas (2007-sekarang)
PENGALAMAN
: TK ISLAM AL-HASANAH
: SD ISLAM AL-HASANAH
: SMP NEGERI 3 TANGERANG
: SMA NEGERI 108 JAKARTA
: UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
BIODATA
Nama
Alamat
Kota
Provinsi
Tempat/Tanggal Lahir
e-Mail
Handphone
: Sofyan
: Jl. Cengkir Barat 1 FH 1 no 8
: Jakarta
: DKI Jakarta
: Jakarta/04-Agustus-1989
: [email protected]
: 081806947900
PENDIDIKAN
TK (1993-1995)
SD (1995-2001)
SMP (2001-2004)
SMA (2004-2007)
Universitas (2007-sekarang)
PENGALAMAN
: TK Santa Bernadet
: SD Tunas Gading
: SMP Tunas Gading
: SMA Don Bosco 1
: Universitas Bina Nusantara (Jakarta)
BIODATA
Nama
Alamat
Kota
Provinsi
Tempat/Tanggal Lahir
e-Mail
Handphone
: Muhammad Hidayat
: Jl. Al Amin No.32
: Jakarta
: DKI Jakarta
: Bukittinggi/19 Oktober 1989
: [email protected]
: 085274286888
PENDIDIKAN
TK (1993-1995)
SD (1995-2001)
SMP (2001-2004)
SMA (2004-2007)
Universitas (2007-sekarang)
PENGALAMAN
: TK Jamiyyatul Hujjaj
: SDN 09 Bukittinggi
: SMPN 1 Bukittinggi
: SMAN 1 Bukittinggi
: Universitas Bina Nusantara (Jakarta)
Download