Modul Etika Periklanan [TM14,15]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Etika Periklanan
EPI Bab III.B. butir 1. – 3.
Fakultas
Program Studi
Fakultas Ilmu
Komunikasi
Periklanan dan
Komunikasi
Periklanan
Tatap Muka
13
&
14
Kode MK
Disusun Oleh
Kode MK
SM Niken Restaty, M.Si
Abstract
Kompetensi
Materi pada modul ini membahas
mengenai iklan-iklan yang melanggar
Mahasiswa diharapkan dapat
menganalisis mengenai pelanggaranpelanggaran yang ada pada iklan non
barang dgn EPI Bab III.B. butir 1. – 3.
EPI Bab III.B. butir 1. – 3.
Pembahasan
Bab III.B mengatur mengenai etika bisnis di antara ke 4 komponen utama dalam industri
periklanan yaitu:
Klien
Biro Iklan
Media
Massa
Mitra Kerja
Biro Iklan
Pada prinsipnya etika bisnis ini mengacu pada konsep “Good Corporate Governance”
EPI Bab III.B.1. Penerapan Umum
1.1. Individu atau organisasi usaha periklanan harus merupakan entitas yang didirikan
secara sah, dan beridentitas jelas.
1.2. Semua pelaku dan usaha periklanan wajib mengindahkan hak cipta.
1.3. Penawaran harga produksi atau penyiaran materi periklanan, harus diajukan
berdasarkan permintaan dan taklimat (brief) resmi dari pemesan yang dilampiri naskah,
serta segala hal yang terkait dengan kebutuhan pesanannya.
1.4. Izin produksi dan beban pajak yang timbul dalam proses produksi atau penyiaran
materi periklanan, menjadi tanggungjawab pelaksana pesanan dan menjadi bagian yang
tak terpisahkan dari keseluruhan penawaran harga yang diajukan kepada pemesan.
1.5. Ikatan kerja antara pemesan dan pelaksana pesanan harus dikukuhkan dengan suatu
perjanjian, yang sekurang-kurangnya mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.5.1 Kesanggupan pelaksana untuk melaksanakan dan menyelesaikan pesanan
tersebut.
1.5.2 Spesifikasi, kualitas dan atau jumlah pesanan.
1.5.3 Syarat-syarat pemesanan dan jangka waktu
penyelesaiannya.
1.5.4 Harga, cara, dan waktu pelunasan yang disepakati.
1.6. Pemesan wajib membayar pesanannya kepada pelaksana pesanan sesuai jumlah, cara,
dan batas waktu yang sudah disepakati.
2012
2
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.7. Komisi dan rabat harus diterimakan hanya kepada pemesan sebagai suatu badan usaha,
bukan sebagai pribadi.
1.8. Setiap usaha periklanan wajib melindungi dan hanya menggunakannya untuk
keperluan, atau atas seijin pemilik yang sah, barang-barang hak milik pihak lain yang
diproduksi, diserahkan atau dipinjamkan untuk keperluan sesuatu pesanan.
1.9. Setiap usaha periklanan wajib memegang teguh dan bertanggungjawab atas kerahasiaan
segala informasi dan kegiatan periklanan dari klien, produk, atau materi iklan yang
ditanganinya.
1.10. Ketidaksempurnaan hasil pesanan, tampilan iklan, atau pelaksanaan kesepakatan akibat
kelalaian pelaksana pesanan, wajib diganti tanpa dipungut pembayaran, atau sesuai
perjanjian antara para pihak.
Terkait dengan komisi/rabat: setiap biro iklan yang menerima komisi/rabat dari mitra
kerjanya (klien, media massa ataupun perusahaan produksi materi iklan) haruslah menerima
komisi/rabat itu atas nama perusahaan dan bukan atas nama pribadi. Dalam prakteknya, ada
beberapa perusahaan periklanan yang bahkan melarang karyawannya menerima hadiah
(misalnya parsel Lebaran/Tahun Baru) dari mitra-mitra kerjanya. Hal ini untuk menjamin
bahwa hubungan antara biro iklan dengan mitra-mitra kerjanya terjaga tetap profesional dan
obyektif.
Terkait dengan kerahasiaan informasi: biro iklan pada umumnya tidak diperkenankan
menangani 2 atau lebih klien dari kategori produk/jasa yang sama; misalnya: menangani dua
atau lebih bank. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang diperoleh dari satu klien tidak
“bocor” ke klien lain melalui karyawan biro iklan tersebut. Kebocoran informasi tersebut
dapat berakibat sangat fatal karena untuk menyusun suatu strategi komunikasi periklanan
dibutuhkan banyak informasi-informasi yang bersifat sangat rahasia.
Dalam beberapa kasus, suatu biro iklan dapat saja menerima lebih dari 1 klien dengan
kategori produk/jasa yang sama selama hal tersebut mendapat persetujuan dari klien-klien
yang saling berkompetisi tersebut. Umumnya, klien yang memberikan persetujuan tersebut
akan menerapkan syarat-syarat yang ketat untuk menjaga informasi-informasi rahasia
mereka; misalnya dengan meminta agar dibentuk tim yang berbeda anggotanya,
memisahkan/mengisolasi tim dan tim yang satu tidak dapat mengakses informasi-informasi
dari tim yang lain.
2012
3
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Selain itu, idealnya dalam suatu perjanjian kerja, terdapat klausal “Non Disclosure
Agreement” (perjanjian untuk tidak membocorkan informasi rahasia). Para pihak yang terikat
suatu perjanjian dapat mengajukan klausal tersebut. Hal ini penting karena: (1) dari sisi klien:
banyak informasi rahasia yang harus diteruskan kepada biro iklan terkait produk yang akan
dibuatkan iklannya dan (2) dari sisi biro iklan: ide-ide yang telah disampaikan kepada klien
(entah disetujui ataupun tidak) hanyalah untuk keperluan klien/produk terkait, bila ide-ide itu
disebarkan kepada pihak-pihak lain, maka hal tersebut dapat merugikan biro iklan.
EPI Bab III.B.2. Produksi Periklanan
2.1
Pengiklan
2.1.1. Pengiklan wajib memberi taklimat periklanan (advertising brief) atau
keterangan yang benar dan memadai mengenai produk yang akan diiklankan.
(Lihat juga Penjelasan)
2.1.2. Pengiklan wajib menghormati standar usaha yang berlaku pada pelaku usaha
periklanan. (Lihat juga Penjelasan).
Sukses tidaknya sesuatu kampanye periklanan amat dipengaruhi oleh kebenaran dan
kelengkapan informasi yang diterima pihak perusahaan periklanan dari pihak
pengiklan. Karena itu, dianjurkan agar pengiklan bersedia memberi informasi produk,
beserta kegiatan komunikasi dan pemasarannya kepada perusahaan periklanan yang
menangani produk tersebut.
Terkait dengan “brief”: idealnya, setiap pesanan dari klien ke biro iklan dilakukan
melalui suatu penugasan tertulis dimana dalam “brief” tersebut disebutkan butir-butir
penting terkait pesanan tugas dari klien seperti: mengapa produk klien butuh beriklan,
masalah apa yang dihadapi, seperti apa profil konsumen produk tersebut, reaksi apa
yang diinginkan dari konsumen serta kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh
biro iklan.
Tanpa informasi ini, hasil akhir (ide) yang muncul sebenarnya bukanlah suatu hasil
yang ideal, bahkan dalam beberapa kasus dimana klien tidak ingin membeberkan
informasi rahasianya, biro iklan terkesan lebih sebagai “tukang bikin iklan” karena
seluruh isinya telah “diatur” oleh klien.
2012
4
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2.2. Perusahaan Periklanan
2.2.1. Perusahaan periklanan wajib memiliki akses terhadap informasi, prasarana, dan
sarana yang sesuai dengan bidang usahanya.
2.2.2. Perusahaan periklanan wajib menghormati dan mematuhi Standar Usaha
Periklanan Indonesia (SUPI).
2.2.3. Perusahaan periklanan tidak boleh menangani produk sejenis, kecuali dengan
persetujuan tertulis dari para pengiklan terkait.
2.2.4. Pencantuman nomor kunci (key number) yang mengandung identitas perusahaan
periklanan pada materi periklanan, harus atas seijin pihak pengiklan.
Semua perusahaan periklanan anggota PPPI menghormati dan berupaya mematuhi
Standar Usaha Periklanan Indonesia (SUPI) yang merupakan kesepakatan interen
antar anggota asosiasi tersebut. Standar usaha ini antara lain mengatur tentang aturan
main perusahaan periklanan dalam menangani para pengiklan atau produk-produk
mereka.
Hubungan antara biro iklan yang satu dan lainnya dalam keanggotaan PPPI diatur oleh
pedoman etika bisnis yang khusus dibuat untuk anggota PPPI, yaitu Standar Usaha
Periklanan Indonesia (SUPI). Dalam SUPI di atur beberapa hal seperti: etika dalam
mendekati klien yang saat ini masih ditangani oleh anggota PPPI yang lain, etika dalam
merekruit tenaga kerja dari anggota PPPI yang lain, etika dalam menentukan besaran
komisi/biaya jasa dari klien, dan sebagainya.
Sedikit penjelasan mengenai key number: key number adalah kode atas suatu materi
iklan cetak. Key number biasanya dicetak dalam huruf kecil-kecil dan ditaruh di sisi
kiri/kanan/bawah dari suatu materi cetak. Tujuannya adalah agar pihak biro iklan dapat
mengecek apakah materi cetak tersebut sudah benar (karena untuk setiap media cetak
biasanya dibutuhkan materi yang berbeda-beda ukurannya maupun pengaturan
warnanya). Dalam key number biasanya juga tercantum identitas dari biro iklan yang
bersangkutan. Hal inilah sebenarnya yang membutuhkan ijin dari pengiklan karena
karya iklan tersebut telah dibayar biayanya oleh pengiklan dan tidak diharapkan
pencantuman key number tersebut seakan-akan menjadi “iklan” bagi biro iklan
pembuatnya.
2012
5
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2.2. Mitra Usaha
2.3.1. Percetakan
Izin produksi dan beban pajak yang timbul dalam proses produksi barang
cetakan menjadi tanggungjawab perusahaan percetakan, dan menjadi bagian tak
terpisahkan dari keseluruhan penawaran harga yang diajukan.
2.3.2. Griya Produksi Film
Ikatan kerja antara griya produksi film dengan pemesan harus mencakup juga
hak atas kepemilikan, dan tanggungjawab atas penyimpanan hasil produksi,
serta persyaratan atas pesanan bulk copies.
2.3.3. Griya Swara
Ikatan kerja antara griya rekaman suara dengan pemesan harus mencakup juga
hak atas kepemilikan, dan tanggungjawab atas penyimpanan hasil produksi,
serta persyaratan atas pesanan bulk copies.
2.3.4. Pelaksana Ajang (event organizer)
Pelaksana ajang wajib mempunyai organisasi, kompetensi dan sarana yang
memadai untuk menyelenggarakan ajang, sesuai dengan profil dan jumlah
khalayaknya. Kompetensi dimaksud termasuk:
a. Memiliki sendiri, atau akses pada pengarah lantai (floor director) dan
pengarah panggung (stage director).
b. Kemampuan merancang run down acara.
Pedoman etika bisnis bagi para mitra kerja yang tercantum dalam EPI ini hanya
mencantumkan beberapa hal pokok saja. Diharapkan setiap mitra kerja tersebut dapat
membentuk asosiasi dan menentukan etika bisnis yang lebih terperinci lagi. Sampai
dengan saat ini, baru Ikatan Perusahaan Film Iklan Indonesia (IPFII) yang mempunyai
pedoman etika bisnis, baik untuk anggotanya, maupun dengan mitra-mitra kerja
mereka.
EPI Bab III.B.3. Media Periklanan
3.1.
Data Perusahaan
Profil dan jumlah khalayak media wajib dinyatakan secara benar, lengkap, dan jelas,
berdasarkan sumber data terbaik yang dimiliki media yang bersangkutan.
3.2.
2012
Cakupan Khalayak
6
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pernyataan tentang cakupan distribusi atau siaran media haruslah yang sesuai dengan
data pada jangkauan efektif dan stabil.
3.3.
Pemesan
Pembelian ruang dan waktu iklan di media hanya dapat dilakukan oleh perusahaan
yang beroperasi secara sah di Indonesia.
3.4.
Pesanan
Program, jadwal atau frekuensi penempatan iklan harus dipegang teguh. Dalam hal
terjadi force mayeur, media yang bersangkutan harus memberitahukan kepada
pemesan pada kesempatan pertama.
3.5.
Iklan Nirpesanan
Penyiaran iklan di luar pesanan resmi, harus mendapat persetujuan dari pengiklan atau
perusahaan periklanan yang terkait.
3.6.
Penempatan Iklan
Media wajib memisahkan sejauh mungkin penempatan iklan-iklan dari produk yang
sejenis atau bersaing. Kecuali pada program, ruang, atau rubrik khusus yang memang
dibuat untuk itu.
3.7.
Monopoli
Monopoli waktu/ruang/lokasi iklan untuk tujuan apa pun yang merugikan pihak lain
tidak dibenarkan.
3.8.
Tarif
Tarif iklan yang berlaku harus ditaati oleh pemesan.
3.9.
Informasi Dasar
Segala informasi dasar yang menyangkut tarif iklan, program, ruang, waktu atau
lokasi iklan, dan segala bentuk rabat harus diumumkan secara terbuka, jujur dan
benar, dan diberlakukan seragam kepada semua pemesan.
3.10. Perubahan Tarif Iklan
Perubahan tarif iklan dan segala ketentuan penyiaran wajib diberitahukan secara
tertulis dan dalam tenggang waktu yang layak.
3.11. Komisi dan Rabat
Komisi dan rabat optimal hanya diberikan kepada perusahaan periklanan yang
menjadi anggota asosiasi penandatangan EPI.
Komisi dan rabat harus diperuntukkan hanya kepada pemesan sebagai suatu badan
usaha, bukan sebagai pribadi.
3.12. Bukti Siar
2012
7
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dokumen bukti penyiaran iklan wajib diserahkan media kepada pemesan sesuai
jadwal yang telah disepakati.
3.13. Pemantauan
Pemantauan atas penyiaran iklan wajib dilakukan perusahaan periklanan sebagai
bagian dari layanan usahanya.
3.14. Penggantian
Penggantian iklan yang tidak memenuhi mutu reproduksi atau siaran, ataupun tidak
sesuai dengan jadwal akibat kelalaian media, wajib diulang siar tanpa biaya, atau
diselesaikan menurut kesepakatan sebelumnya antara para pihak.
3.15. Pembayaran
Pembayaran iklan wajib dilakukan pemesan sesuai dengan jumlah, syarat-syarat, dan
jadwal yang sudah disepakati.
3.16. Ancaman
Media tidak boleh memaksakan sesuatu pemesanan iklan dari pengiklan atau
perusahaan periklanan dengan ancaman apa pun.
3.17. Ketentuan Lain
Pelaku periklanan wajib menghormati dan mematuhi segala ketentuan lain yang
berlaku bagi media periklanan yang tercantum sebagai kode etik profesi atau usaha
media, dari asosiasi pengemban EPI.
Butir 3.11. di atas menunjukkan bahwa anggota asosiasi pendukung EPI mendapatkan
keuntungan dibanding mereka yang tidak menjadi anggota dari asosiasi pendukung
EPI.
Butir 3.12.: bukti siar atas iklan yang dipesan oleh biro iklan paling mudah didapat dan
dicek kebenarannya bila berupa iklan cetak. Untuk bukti siar iklan televisi, walaupun
lebih kompleks, tapi relatif dapat dicek kebenarannya dengan melihat hasil riset yang
dilakukan oleh perusahaan riset. Untuk materi media luar-ruang, biasanya bukti siar
dalam bentuk foto lokasi. Yang paling sulit dicek kebenarannya adalah bukti siar atas
pemasangan iklan radio karena masih belum intensifnya monitoring iklan-iklan radio di
Indonesia dan juga karena jumlah stasiun radio yang demikian banyaknya.
EPI Bab IV. Prosedur Penegakan
D.
2012
PROSEDUR
8
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.
DPI memperoleh informasi pelanggaran dari hasil pemantauan atas iklan-iklan
yang sudah disiarkan, maupun dari laporan berbagai pihak.
2.
DPI melayani keberatan publik atas iklan yang melanggar EPI.
3.
Iklan yang melanggar idiologi negara, bersifat subversif atau SARA dapat
langsung diperintahkan untuk dihentikan penyiarannya.
4.
Iklan yang secara jelas melanggar EPI akan diminta untuk dihentikan
penyiarannya dengan diberi batas waktu tertentu.
5.
Iklan yang hanya diduga melakukan pelanggaran EPI, akan dibahas oleh DPI,
untuk:
5.1
Mendengar penjelasan dan memperoleh bukti-bukti pelengkap dari pihak
yang terlibat.
5.2
Menghimpun informasi dan bukti tambahan dari sumber atau pihak lain.
5.3
Memutuskan untuk:
a. Mengizinkan iklan tersebut seperti apa adanya; atau
b. Mengenakan sesuatu sanksi.
E. SANKSI
1.
Bentuk sanksi terhadap pelanggaran memiliki bobot dan tahapan, sebagai berikut:
1.1.
Peringatan, hingga dua kali
1.2.
Penghentian penyiaran atau mengeluarkan rekomendasi sanksi kepada
lembaga-lembaga terkait dan atau menginformasikan kepada semua pihak
yang berkepentingan.
Untuk setiap tahapan diberikan rentang waktu.
2.
Penyampaian sanksi dilakukan secara tertulis dengan mencantumkan jenis
pelanggaran dan rujukan yang digunakan.
3.
Distribusi penyampaian sanksi pada setiap bobot atau tahap pelanggaran adalah
sebagai berikut:
3.1
Peringatan Pelanggaran; kepada pihak pelanggar dan asosiasi atau
lembaga terkait.
3.2
Perintah Penghentian Penyiaran; kepada semua pihak yang terlibat,
asosiasi atau lembaga terkait, serta media yang bersangkutan.
Bagian IV ini menunjukkan bahwa sanksi terhadap suatu pelanggaran EPI bukanlah
suatu sanksi hukum, tapi tetap berada dalam koridor etika; yaitu memberikan
2012
9
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
peringatan dan edukasi kepada pihak yang melanggar. Masing-masing asosiasi
pendukung EPI diharapkan membentuk suatu badan penegak etika sehingga badan ini
dapat berfungsi untuk menjaga pelaksanaan etika di anggota-anggota asosiasi tersebut.
Setiap asosiasi pendukung EPI yang membentuk badan penegak etika boleh-boleh saja
menetapkan panduan etika yang berbeda-beda selama minimal mendukung EPI.
Artinya, panduan mereka boleh lebih ketat daripada EPI (tapi tidak boleh lebih
longgar).
Dalam struktur Dewan Periklanan Indonesia (DPI), sebenarnya harus dibentuk Badan
Musyawarah Etika (BME). Badan ini berfungsi sebagai badan tertinggi dalam industri
periklanan dalam menangani masalah sengketa etika. Jadi bila misalnya dalam
tingkatan badan penegak etika di masing-masing asosiasi maka masalah itu bisa
diputuskan di tingkat BME yang diharapkan akan dipatuhi oleh seluruh anggota
asosiasi.
Terlepas dari sanksi yang dapat diberikan oleh DPI, tetap harus diingat bahwa EPI
bukanlah hak milik DPI saja (walaupun kitab EPI adalah terbitan DPI). EPI, sebagai
suatu penduan etika, harus juga dilihat sebagai milik seluruh masyarakat Indonesia.
Dengan pengertian ini, maka seluruh masyarakat Indonesia dapat (dan wajib)
memberikan sanksi kepada iklan yang tidak etis, yaitu berbentuk sanksi sosial.
2012
10
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Etika Pariwara Indonesia – In Action
oleh FX Ridwan Handoyo
Latar Belakang
Tergerak untuk mendorong sosialisasi dari Etika Pariwara Indonesia, maka kami akan menurunkan
suatu seri tulisan yang secara singkat akan mengulas apa itu Etika Pariwara Indonesia, Badan
Pengawas Periklanan PPPI dan beberapa kasus yang muncul dalam dunia periklanan di Indonesia.
Dua bagian pertama dari tulisan ini akan mengulas secara singkat apa itu Etika Pariwara Indonesia
dan apa/siapa itu Badan Pengawas Periklanan PPPI.
Kasus-kasus yang akan dibahas dalam tulisan selanjutnya akan lebih berkonsentrasi pada masalah
yang muncul dan bukan pada biro iklan pembuatnya ataupun sisi produsen sebagai pemrakarsa iklan
tersebut. Kasus-kasus tersebut diangkat berdasarkan hasil diskusi pada rapat-rapat BPP PPPI. Bila
dalam pembahasan kasus terpaksa harus disebutkan contoh iklan tertentu, maka kami mohon agar
pencantuman nama iklan tersebut bukan dianggap sebagai mendeskreditkan suatu biro iklan
ataupun produsen pemrakarsa iklan tertentu.
Kami harapkan bahwa tulisan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi insan periklanan
dan masyarakat pada umumnya dalam memahami etika beriklan sekaligus memancing diskusi lebih
lanjut mengenai topik ini. Kami terbuka atas segala masukan dan kritikan atas tulisan-tulisan kami ini
(silakan kirimkan via email ke: [email protected]).
Catatan: Penulis adalah ketua merangkap anggota BPP PPPI periode 2005-2008.
Bagian 1: Sekilas EPI
Etika Pariwara Indonesia (selanjutnya disingkat EPI) adalah produk Dewan Periklanan Indonesia (DPI)
yang beranggotakan asosiasi-asosiasi yang berkaitan dengan dunia periklanan seperti: AMLI (Asosiasi
Perusahaan Media Luar-griya Indonesia), APINA (Asosiasi Perusahaan Pengiklan Indonesia), ASPINDO
(Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia), ATVLI (Asosiasi Televisi Lokal Indonesia), ATVSI
(Asosiasi Televisi Swasta Indonesia), GPBSI (Gabungan Perusahaan Bioskop Indonesia), PPPI
(Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional
Indonesia), SPS (Serikat Penerbit Suratkabar), dan Yayasan TVRI (Yayasan Televisi Republik
Indonesia).
2012
11
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Walaupun kitab EPI diikrarkan pada 26 Agustus 2005 dan secara resmi diterbitkan serta disebarluaskan pada awal tahun 2006, sebenarnya EPI adalah penyempurnaan dari produk sejenis
sebelumnya yang dikenal dengan Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia (TKTCPI) yang
pertama kali diikrarkan pada tanggal 17 September 1981 yang kitabnya secara resmi diikrarkan pada
tanggal 19 Agustus 1996). Dengan demikian, EPI bukanlah suatu produk yang baru muncul di tahun
2006 ini.
Dalam kitab EPI, terdapat 6 bagian pokok yaitu: Pendahuluan (berisi latar belakang posisi EPI),
Pedoman (berisi Mukadimah dan dan ruang lingkup EPI), Ketentuan (berisi Tata Krama dan Tata Cara
Periklanan), Penegakan (berkaitan dengan sanksi), Penjelasan (mengenai istilah-istilah yang
digunakan) dan Lampiran (yang berisi peraturan/hukum positif di Indonesia yang berkaitan dengan
periklanan serta sekilas mengenai DPI dan sejarah falsafah Swakrama).
Jiwa dari EPI adalah swakrama; mengatur hal-hal yang berkaitan dengan masalah periklanan secara
mandiri (tidak perlu menunggu adanya peraturan ataupun turut campurnya unsur pemerintah dalam
mengatur etika periklanan). Prinsip swakrama merujuk bahwa suatu etika periklanan akan lebih
efektif justru kalau ia disusun, disepakati, dan ditegakkan oleh para pelakunya sendiri. Kondisi ini
juga terjadi di banyak negara lain dan sesuai dengan kondisi masyarakat modern saat ini dimana halhal yang bersifat praktis non-politis diserahkan langsung kepada masyarakat untuk mengaturnya.
Ada 3 asas penting yang mendasari penyusunan EPI; yaitu bahwa iklan dan pelaku perikklanan harus:
1. Jujur, benar, dan bertanggungjawab.
2. Bersaing secara sehat.
3. Melindungi dan menghargai khalayak, tidak merendahkan agama, budaya, negara, dan
golongan, serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku
Salah satu hal yang sering dipertanyakan oleh khalayak adalah apakah EPI mempunyai kaitan dengan
hukum positif di Indonesia. Jawabannya sebenarnya dapat dilihat pada Undang-Undang RI No. 8
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (terdapat pada bagian Lampiran EPI) khususnya pada
pasal 17 ayat 1 butir f yang berbunyi: “Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: (f).
melanggar etika dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan”. Dan
sampai dengan saat ini, etika yang mengatur mengenai periklanan hanya ada satu; yaitu seperti yang
tercantum pada kitab EPI.
Konsekuensi logis dari status hukum tersebut adalah bahwa kitab EPI dapat digunakan sebagai
landasan hukum bagi pihak-pihak (termasuk masyarakat luas serta badan-badan pemerintah
maupun independen; seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang ingin
mempermasalahkan suatu iklan.
2012
12
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Satu hal yang tak dapat dilupakan adalah bahwa etika akan mempunyai keterkaitan yang sangat
tinggi dengan kondisi budaya masyarakat pada suatu saat tertentu disamping dinamika industri
periklanan dan komunikasi yang berkembang demikian pesatnya akhir-akhir ini. Kondisi ini
menyebabkan aktualisasi atas suatu rujukan etika pun dapat bergeser. Karena itu, dalam
penerapannya ke depan, para pelaku periklanan harus mampu menerjemahkan roh dan isi dari kitab
EPI ini, sesuai dialektika dari setiap situasi dan kondisi nyata yang berkembang. Setidaknya dalam
sistem nilai, jiwa dan semangatnya.
Secara lengkap, kitab EPI tersedia di www.pppi.or.id.
Bagian 2: Sekilas BPP PPPI
Adalah kewajiban dari masing-masing anggota DPI untuk mendukung EPI sepenuhnya, termasuk
PPPI. Dalam rangka itu, PPPI memiliki badan kerja yang berfungsi untuk menyebar-luaskan,
mengedukasi dan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan EPI. Badan itu disebut sebagai Badan
Pengawas Periklanan PPPI (disingkat BPP PPPI).
Diharapkan setiap asosiasi anggota DPI juga membentuk badan sejenis sedangkan ditingkat DPI
fungsi ini ditangani oleh suatu badan yang disebut sebagai Badan Musyawarah Etika (disingkat BME)
yang beranggotakan wakil-wakil anggota DPI.
BPP dengan demikian adalah suatu badan bentukan PPPI yang dalam proses kerjanya akan
mengutamakan faktor sosialisasi, edukasi dan kontrol penerapan EPI khususnya kepada para
anggota PPPI. Selain mengacu pada kitab EPI, BPP juga mempunyai tugas menangani masalahmasalah yang berkaitan dengan pelanggaran atas Standard Usaha Periklanan Indonesia (disingkat
SUPI – dokumen selengkapnya dapat ditemukan di www.pppi.or.id).
Saat ini BPP memiliki 9 orang anggota inti dan melakukan rapat rutin setiap hari Selasa ke 3 tiap
bulannya. Selain anggota inti, rapat BPP juga terbuka untuk dihadiri para pengurus pusat dan
pengurus daerah PPPI. Untuk tugas administrasi, BPP dibantu oleh 1 orang petugas administrasi.
Dalam melakukan tugasnya, BPP menyusun Peraturan dan Tata Tertib BPP PPPI yang dapat dibaca
selengkapnya di www.pppi.or.id.
2012
13
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dalam setiap rapatnya, BPP akan membahas masalah-masalah yang muncul pada periklanan di
Indonesia. Sampai saat ini, masalah yang muncul berkaitan dengan masalah Tata Krama Periklanan.
Masalah itu bisa saja diajukan ke dalam rapat BPP karena adanya masukan dari salah satu anggota
BPP, masukan dari masyarakat luas ataupun masukan dari anggota PPPI. Pada prinsipnya, BPP akan
berusaha bertindak tidak hanya secara reaktif, tapi juga proaktif (tidak harus selalu menunggu
laporan dari pihak di luar BPP).
Atas setiap masalah yang masuk, BPP akan melakukan pembahasan dan pengambilan keputusan.
Bila tidak ditemukan kesepakatan berdasarkan musyawarah, dimungkinkan keputusan diambil
berdasarkan pemungutan suara. Anggota BPP yang tidak hadir saat pengambilan keputusan
dianggap menyetujui keputusan badan. Pengambilan keputusan hanya dapat dilakukan bila peserta
rapat memenuhi kuorum (lebih dari 1/2 anggota BPP hadir).
Keputusan BPP dapat berupa:
1. Menyatakan bahwa suatu kasus adalah suatu pelanggaran terhadap EPI
2. Menyatakan bahwa suatu kasus dalam kategori berpotensi melanggar EPI sehingga
diperlukan informasi lebih lanjut
3. Menyatakan bahwa suatu kasus tidak melanggar EPI
Dalam kasus No. 1, BPP akan menerbitkan surat peringatan kepada pihak yang terkait dengan
pelanggaran tersebut. Harus dicatat disini bahwa surat tersebut hanya dapat dikeluarkan oleh BPP
bila pihak yang terkait tersebut adalah anggota PPPI mengingat status BPP yang berada di bawah
naungan PPPI. Bila pelanggaran tersebut dilakukan oleh pihak yang bukan anggota PPPI, maka BPP
akan meneruskan masalah itu kepada PPPI yang untuk selanjutnya dapat meneruskan masalah ini
kepada DPI ataupun pihak-pihak lainnya yang berwewenang.
Pihak yang mendapat surat peringatan dari BPP berkewajiban untuk menjawabnya dan mengambil
tindakan dalam waktu secepat-cepatnya. Bila dalam waktu 2 (dua) minggu sejak surat peringatan
pertama dikeluarkan, BPP tidak juga mendapatkan tanggapan, maka BPP akan mengeluarkan surat
peringatan ke dua. Dan bila setelah 2 (dua) minggu kemudian tidak ada tanggapan juga, maka BPP
akan meneruskan masalah ini kepada PPPI agar Pengurus Pusat PPPI dapat mengambil tindakan
organisasi sesuai dengan yang diatur dalam AD/ART PPPI (tersedia di www.pppi.or.id). Sesuai
dengan AD/ART PPPI, maka sanksi organisasi paling tinggi adalah pemutusan status keanggotaan.
Bila tanggapan yang diberikan kepada BPP berupa argumen untuk mempertahankan kebenaran
suatu materi iklan, maka BPP akan membahas ulang kasus itu dan akan mengambil keputusan baru
2012
14
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
(bisa keputusan yang sama, bisa juga berbeda) dan keputusan itu akan disampaikan kepada pihak
yang bersangkutan.
Dalam kasus No. 2, maka BPP akan mengirimkan surat kepada pihak yang berkaitan untuk meminta
penjelasan lebih lanjut mengenai kasus tertentu. Berdasarkan penjelasan tersebut maka BPP akan
mengambil keputusan. Bila dalam waktu 2 (dua) minggu setelah surat dikirimkan BPP tidak juga
menerima kabar/penjelasan, maka BPP akan mengambil keputusan berdasarkan segala informasi
dan pengetahuan yang saat itu dimiliki oleh para anggota BPP.
Penjelasan yang dapat diberikan oleh pihak terkait dapat disampaikan secara tertulis ataupun
dengan tatap muka langsung dengan para anggota DPP. Bila penjelasan tersebut menyangkut
informasi-informasi yang bersifat rahasia, maka BPP akan menggunakan informasi rahasia tersebut
sebatas hanya untuk pengambilan keputusan dan tidak akan menyebar-luaskannya kepada pihakpihak lain tanpa seijin pihak terkait.
Satu hal yang ingin kami tambahkan disini adalah bahwa BPP bukanlah semacam badan sensor.
Walapun para anggota BPP seringkali dimintakan pendapatnya atas suatu konsep iklan yang belum
disiarkan, pada prinsipnya, BPP tidak dapat mengambil keputusan atas suatu masalah yang berkaitan
dengan konsep iklan yang belum disiarkan. Konsultasi yang diberikan hanya dapat dikaitkan dengan
fungsi edukasi dari BPP.
Bila suatu konsep iklan dikonsultasikan kepada BPP dan setelah itu ternyata tidak dapat disiarkan
karena berbagai hal (misalnya, tidak lolos LSF ataupun ditolak oleh suatu lembaga penyiaran
tertentu), maka hal tersebut adalah diluar wewenang dan tanggung-jawab BPP.
Salah satu pertanyaan yang cukup sering kami terima adalah: apakah suatu iklan yang sudah lolos
Lembaga Sensor Film (LSF) masih dapat dinyatakan melanggar EPI oleh BPP? Jawaban kami adalah:
Ya. LSF adalah lembaga yang dibentuk berdasarkan peraturan dan struktur yang berbeda dengan
BPP. BPP tidak mempunyai keterkaitan dalam bentuk apapun juga dengan LSF dan PPPI maupun DPI
tidak mempunyai kekuatan politis apapun (paling tidak sampai dengan saat ini) untuk memaksakan
agar LSF menggunakan EPI sebagai standar acuan mereka dalam melakukan sensor.
Bagian 3: Penggunaan kata/istilah superlatif
Mungkin bukan kebetulan bahwa pengaturan pengunaan kata/istilah yang bersifat superlatif
dicantumkan pada bagian ke dua dalam Tata Krama di kitab EPI (persis setelah pengaturan mengenai
Hak Cipta). Hal ini disebabkan sampai dengan laporan BPP untuk semester pertama tahun 2006, isi
2012
15
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
laporan tersebut masih didominasi dengan pelanggaran-pelanggaran yang berkaitan dengan
penggunaan kata/istilah superlatif. Kondisi yang sama juga ditemukan dari laporan BPP dari periodeperiode sebelumnya.
BPP masih banyak menemukan iklan baik cetak maupun elektronik yang menggunakan kata-kata
seperti: tercepat, terbesar, terlama, selalu terdepan, sempurna, paling murah, paling bersih, 100%,
asli dan sejenisnya. Masalahnya adalah bahwa penggunaan kata-kata/istilah yang bernuansa
superlatif bukanlah sama-sekali dilarang, tapi penggunaannya haruslah dapat dibuktikan dengan
pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik. Idealnya, pernyataan itu adalah
dari suatu lembaga (riset atau audit misalnya) yang bersifat independen (bukan departemen atau
unit dari perusahaan biro iklan atau pemrakarasa iklan itu sendiri). Dalam banyak kasus, penggunaan
kata-kata/istilah superlatif tersebut tidak mempunyai dukungan data yang obyektif dan valid. Bila
demikian, maka tidak ada bedanya dengan iklan-iklan kecap di masa lalu dimana semua produk
kecap dapat menyatakan dirinya sebagai Kecap No. 1.
Tidak semua kata berawalan “ter” berkonotasi superlatif. Rapat BPP pernah meloloskan penggunaan
kata terpercaya karena konotasi dari kata tersebut secara harafiah lebih mengarah pada pengertian
“dapat dipercaya” (karena bentuk superlatifnya adalah: paling/selalu terpercaya).
Iklan-iklan yang menggunakan kata/istilah superlatif tanpa dukungan dasar/fakta yang obyektif dan
valid adalah sama dengan menipu konsumen dan ini bertentangan dengan jiwa EPI (dan juga
bertentangan dengan Undang-Undang RI No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pasal
17 ayat 1 butir a). Usaha tersebut juga dapat dianggap sebagai usaha pembodohan kepada
konsumen.
Walaupun suatu klaim superlatif mempunyai dukungan data/fakta yang valid, insan periklanan juga
harus tetap berhati-hati karena lembaga riset ataupun audit mempunyai metode penelitan yang
berbeda-beda. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa terbuka kemungkinan adanya lembaga riset atau
audit yang akan berusaha menyesuaikan metode penelitiannya agar dapat memenuhi kebutuhan
kliennya.
Disamping metode, suatu penelitian ataupun audit akan selalu bersifat situasional; tergantung
waktu, subyek yang diteliti (jumlah, jenis/kategori subyek dsb.) dan tempat/demografi penelitian.
Saran kami bila suatu iklan ingin mencantumkan suatu kata/istilah yang bersifat superlatif:
cantumkanlah nama lembaga riset/audit yang mendukung fakta tersebut, jenis penelitiannya,
2012
16
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
demografi/tempat penelitian dan waktu penelitiannya (contoh: berdasarkan riset mengenai perilaku
konsumen yang dilakukan oleh PT X pada 20 kota di Indonesia tahun 2006).
Kami yakin bahwa insan periklanan tetap dapat bermain dengan sangat bebas dan leluasa dalam
mempromosikan keunggulan/kebaikan dari suatu produk atau jasa tanpa harus menggunakan
kata/istilah superlatif tanpa dukungan fakta yang obyektif dan valid.
Kami sadari pula bahwa seringkali kasus ini terjadi karena adanya permintaan atau “tekanan” dari
pemrakarsa iklan (klien). Disinilah idealisme periklanan anda ditantang. Apakah anda ingin industri
ini runtuh karena konsumen pada akhirnya tidak mempercayai lagi iklan-iklan yang muncul demi
segepok uang? Belum lagi konsekuensi hukum yang mungkin anda hadapi karena masyarakat bisa
melakukan class-action atas iklan anda tersebut (dan tidaklah mudah berkelit bahwa iklan itu dibuat
atas permintaan/paksaan klien karena secara undang-undang, penipuan melalui suatu iklan harus
ditanggung renteng para pelaku iklan; yaitu pemrakarsa iklan, biro iklannya, sampai media massa
yang menyiarkannya). Disinilah tantangan para insan iklan untuk juga membantu para kliennya
membuat konsep iklan yang beretika sehingga dapat memajukan industri periklanan dan pada saat
yang bersamaan memajukan juga citra yang positif terhadap produk/jasa para pemrakarsa iklan.
Ciptakan Pariwara Beretika!
Bagian 4: Iklan Promosi Berhadiah
Pengaturan mengenai iklan promosi berhadiah (dalam hal ini berkaitan dengan hadiah langsung) di
EPI merupakan penyempurnaan daripada aturan sebelumnya dalam Tata Krama dan Tata Cara
Periklanan Indonesia (TKTCPI). Ada 2 bagian dalam EPI yang mengatur hal ini yaitu: Bab III.A.1.25
(mengenai Ketaktersediaan Hadiah) dan Bab III.A.4.6 (mengenai Promosi Penjualan).
Salah satu masalah yang sering muncul berkaitan dengan topik ini adalah masih seringnya muncul
iklan promosi berhadiah di media cetak maupun elektronik yang mencantumkan atau menyebutkan
“selama persediaan masih ada” (atau kata-kata lain yang bermakna sama).
Etika tersebut sebenarnya erat berkaitan dengan pasal 13 ayat 1 Undang Undang Perlindungan
Konsumen yang menyebutkan bahwa: “(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan
atau mengiklankan suatu barang dan atau jasa dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa
barang dan atau jasa lain secara cuma-Cuma dengan maksud tidak memberikannya atau
memberikannya tidak dengan sebagaimana yang dijanjikannya.”
2012
17
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pernyataan “selama persediaan masih ada” menempatkan konsumen dalam posisi yang sangat
lemah karena mereka tidak akan pernah dapat mengetahui berapa banyak sebenarnya persediaan
hadiah tersebut. Apakah ada 1 juta hadiah, atau jangan-jangan persediaannya hanya 1 buah hadiah.
Cukup banyak keluhan konsumen mengenai hal ini di tulisan surat pembaca di berbagai media cetak.
Dari sisi teknik pemasaran, mungkin cara itu adalah cara yang relatif murah untuk mengangkat
penjualan suatu produk/jasa dalam waktu yang singkat walaupun di sisi lain seharusnya
dipertimbangkan juga dampak negatif yang muncul yaitu kekecewaan konsumen saat ia diberitahu
bahwa “persediaan hadiah sudah habis”. Dalam hal ini, citra produk/jasa itulah yang akan jadi
taruhannya.
Bagaimana para eksekutif pemasaran dan periklanan menyikapi hal ini? Sebenarnya mudah saja. Ada
minimal 3 pendekatan sederhana yang bisa digunakan untuk menghindari pelanggaran terhadap EPI
sekaligus dapat menjaga citra yang positif terhadap produk/jasa yang dipromosikan.
Pendekatan pertama adalah menetapkan suatu periode promosi/hadiah. Misalnya: produk X akan
memberikan hadiah Y antara tanggal 1 Januari 2007 – 31 Maret 2007. Konsekuensinya adalah bahwa
hadiah tersebut harus tersedia (tanpa batas) selama periode promosi tersebut.
Sepintas hal ini mungkin dinilai membuat biaya penyediaan hadiah akan meningkat. Tapi dari sisi lain
dapat diperhitungkan bahwa bila ternyata konsumen berbondong-bondong membeli produk itu
untuk mendapatkan hadiahnya, bukankah berarti penjualan produk/jasa itu juga akan meningkat
drastis? Belum lagi nilai psikologis yang muncul dalam benak konsumen atas produk/jasa tersebut
yang merupakan investasi yang tak ternilai.
Bila memang biaya penyediaan hadiah menjadi masalah, maka salah satu cara untuk mengatasinya
adalah dengan memberikan label/tanda/stiker khusus pada produk/jasa yang akan memperoleh
hadiah dan kemudian menginformasikannya dalam iklan produk/jasa tersebut bahwa: produk X
dengan label khusus akan memberikan hadiah Y (antara tanggal 1 Januari 2007 – 31 Maret 2007).
Pencantuman periode pemberian hadiah merupakan sesuatu yang optional disini. Bila dicantumkan
berarti konsumen harus menyadari bahwa walaupun produk berlabel khusus itu masih ada di
pasaran setelah tanggal 31 Maret 2007, maka mereka tidak berhak atas hadiah tersebut lagi.
Pendekatan terakhir dapat diterapkan bila penerapan label tidak dimungkinkan. Hadiah ditentukan
jumlahnya sejak awal dan diumumkan dalam iklan produk/jasa tersebut. Contoh: produk X akan
2012
18
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
memberikan hadiah kepada 1.000 pembeli pertama (pencantuman periode hadiah bersifat optional
disini).
Cara ini akan lebih memberikan dampak yang positif bila produsen/pengiklan dapat mengontrol
titik-titik penjualannya dimana pembeli pada titik-titik penjualan tertentu sajalah yang dapat
memperoleh hadiah tersebut. Bila produk itu sangat tersebar luas (misalnya sampai ke warungwarung), maka produsen akan tetap menghadapi resiko munculnya kekecewaan konsumen bila
mereka tidak memperoleh hadiah karena telah lebih dari jumlah yang diumumkan (tapi produsen
tetap aman secara hukum karena bilapun ada pihak yang ingin melakukan audit terhadap jumlah
hadiah yang dikeluarkannya, ia dapat membuktikannya).
Topik berikutnya yang berkaitan dengan iklan promosi berhadiah adalah pencantuman kata-kata
“…..dan masih banyak lagi” atau ungkapan yang bermakna sama. Sekali lagi, permasalahannya
adalah bahwa pernyataan tersebut menempatkan konsumen dalam posisi yang sangat lemah untuk
mengetahui informasi yang sebenarnya tentang suatu kegiatan promosi karena kata “banyak” dapat
sangat bersifat subyektif.
Cara sederhana untuk mengatasinya adalah dengan menyebutkan jumlah berapa hadiah “lain-lain”
tersebut, misalnya: tersedia hadiah A sebanyak X buah, hadiah B sebanyak Y buah dan 1.000 hadiah
lainnya. Dengan demikian konsumen dapat mengetahui berapa total hadiah yang akan diberikan
oleh produk/jasa tersebut walaupun tidak diperinci satu persatu. Bila ingin memberikan indikasi jenis
hadiah “lain-lain” tersebut dapat disebutkan misalnya: ……dan 1.000 hadiah lainnya yang terdiri dari
produk A sampai dengan produk Z.
Pelanggaran dalam kategori iklan promosi berhadiah ini termasuk yang sulit untuk “ditangkap”
karena umumnya periode penanyangan iklan promosi berhadiah ini sangat singkat. Tapi perlu kita
sadari bersama bahwa konsumen bukanlah mahluk yang bodoh yang dapat dengan mudah dikelabui
dengan iming-iming hadiah yang tidak jelas. Sekali lagi, pendekatan yang salah mengenai bagaimana
mengkampanyekan suatu promosi berhadiah dari suatu produk/jasa akan berdampak pada citra
produk/jasa tersebut. Belum lagi resiko legal yang mungkin dapat terjadi.
Ciptakan Pariwara Beretika!
Bagian 5: Iklan Perbandingan
2012
19
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Topik ini kami angkat karena masih cukup banyak kesimpang-siuran interpretasi atas Etika Pariwara
Indonesia yang mengatur masalah ini. Dalam EPI Bab III.A.1.19 disebutkan bahwa:
1. Perbandingan langsung dapat dilakukan, namun hanya terhadap aspek-aspek teknis produk,
dan dengan kriteria yang tepat sama
2. Jika perbandingan langsung menampilkan data riset, maka metodologi, sumber dan waktu
penelitiannya harus diungkapkan secara jelas. Penggunaan data riset tersebut harus sudah
memperoleh persetujuan atau verifikasi dari organisasi penyelenggara riset tersebut.
3. Perbandingan tak langsung harus berdasarkan kriteria yang tidak menyesatkan khalayak.
Jadi jelas bahwa bila pada masa-masa sebelumnya terkesan iklan perbandingan (antara satu
merek/produk dengan merek/produk lainnya) diharamkan muncul di media massa Indonesia, maka
dengan adanya EPI, maka hal tersebut sebenarnya diperkenankan dengan batasan-batasan tertentu.
Apa yang dimaksud dengan aspek teknis adalah hal-hal yang bersifat fisik dan mudah dipahami oleh
khalayak konsumen. Beberapa contohnya misalnya:
a.
b.
c.
d.
berat/ukuran produk: produk A lebih banyak isinya atau lebih berat daripada produk B,
kandungan produk: produk A mengandung zat X sedangkan produk B tidak,
kejernihan/kekentalan: produk A lebih jernih atau lebih kental daripada produk B,
dan hal-hal yang bersifat fisik lainnya
Perlu diwaspadai adalah adanya beberapa hal yang sepintas berkesan aspek fisik tapi berpotensi
memberikan informasi yang tidak akurat kepada konsumen, seperti:
a. Pernyataan “lebih cepat”: untuk produk-produk tertentu aspek kecepatan relatif mudah
dapat disajikan dan diperbandingkan dalam suatu iklan, misalnya produk lem A lebih cepat
kering daripada lem B. Tapi konsumen tidaklah akan dengan mudah menangkap kebenaran
(misalnya) apakah suatu obat nyamuk lebih cepat membunuh nyamuk dibandingkan dengan
produk obat nyamuk lainnya. Dalam kasus seperti ini, diharapkan ada data riset yang
mendukungnya.
b. Pernyataan “lebih murah”: harga dapat dianggap salah satu aspek fisik suatu produk/jasa.
Selama pihak yang terlibat dalam suatu proses pembuatan iklan yakin bahwa ia dapat
mengontrol seluruh aspek harga tersebut, bisa saja harga diperbandingkan. Perhitungkan
kemungkinan bahwa konsumen dengan variasi demografi dari Sabang sampai Marauke bisa
saja mendapatkan produk tersebut (dan pesaingnya yang diperbandingkan) dengan harga
yang berbeda-beda. Perlu juga diperhatikan bahwa perbandingan atas harga didasarkan atas
perbandingan antara 2 produk yang identik (beratnya, komponennya, kandungannya dsb.).
Agar lebih aman, perlu disebutkan apa patokan perbandingan harga tersebut.
c. Pernyataan yang berkaitan dengan aspek fisik tapi dapat melibatkan subyektifitas
konsumen, misalnya: lebih manis/pahit, lebih cepat panas/dingin, tampilan yang lebih
moderen, lebih manjur dan yang sejenisnya. Untuk kasus-kasus seperti ini, diharapkan
disebutkan hasil penelitian yang mendukungnya.
Ciptakan Pariwara Beretika!
2012
20
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Bagian 6: Penayangan Iklan di Media Massa
Dalam bagian ini, kami akan menyampaikan sekaligus beberapa masalah yang berkaitan dengan
penanyangan iklan. Masalah pertama yang akan kami bahas adalah iklan yang ditayangkan berturutturut (sambung-ulang) lebih dari 2 (dua) kali.
Dalam EPI Bab III.A.4.2.2 tercantum bahwa: “Materi iklan yang tepat sama tidak boleh ditampilkan
secara sambung-ulang (back to back) lebih dari dua kali.” Ayat ini mengacu pada iklan di media
televisi. Untuk media radio, tercantum hal yang sama pada Bab III.A.4.3.2.
Iklan jenis ini pernah marak pada periode 2005 walaupun sampai dengan saat ini BPP masih
menemukan iklan-iklan sejenis. Pengulangan lebih dari 2 (dua) kali dianggap oleh EPI sebagai
mengganggu kenyamanan konsumen dalam menikmati suatu tayangan iklan disamping dapat
diasumsikan sebagai suatu iklan yang “merendahkan” martabat konsumen. Beberapa rekan/insan
kreatif periklanan berpendapat bahwa iklan sejenis itu dapat “memangkas” kreatifitas mereka.
Beberapa iklan pendek yang menggunakan pendekatan pengulangan di tahun 2006 secara cerdik
sudah memodifikasinya sehingga pengulangan tersebut tidak tepat sama. Hal ini tentunya
membutuhkan suatu kreatifitas tersendiri.
Masalah berikutnya adalah adanya usaha pengiklan (biro iklan dan kliennya) berusaha
“menyamarkan” iklannya. Untuk media cetak, hal ini di atur dalam EPI Bab III.A.4.1.2. bahwa: “Iklan
dengan tampilan menyerupai redaksional wajib mencantumkan kata-kata ‘Iklan No. ….’ Dengan
ukuran sekurang-kurangnya 10 point di tempat yang jelas terbaca, dan tanpa bermaksud
menyembunyikannya.” Perlu juga diperhatikan EPI Bab III.A.4.11 mengenai periklanan informatif.
(mengenai advertorial, infotorial/infomersial, edutorial/edumersial dan sebagainya).
Sedangkan untuk iklan di media elektronik diatur dalam EPI Bab III.A.4.9.1 dan III.A.4.9.2, dimana
prinsip yang sama digunakan; yaitu bahwa iklan harus dapat dibedakan dengan suatu berita atau isi
program. Masih cukup sering terjadi pelanggaran dalam hal ini khususnya di media radio (pada iklan
adlibs). Secara etika, kalau suatu iklan ditayangkan dalam format adlibs, maka si penyiar harus
memberikan pengantar sebelumnya bahwa informasi yang akan dibacakan berikutnya adalah suatu
iklan. Pendekatan yang sama digunakan dalam mengatur gelar wicara (talk-show) yang tercantum
dalam EPI Bab III.A.4.10.
2012
21
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Berikutnya kami ingin membahas masalah penayangan iklan-iklan khusus dewasa (intimate nature).
Produk yang termasuk intimate nature adalah produk-produk yang berkaitan dengan seksualitas
seperti kondom, pil pencegah kehamilan, alat tes kehamilan, aprodisiak (obat perasangsang
seksualitas), dan sejenisnya. Disamping itu termasuk pula di sini adalah produk rokok.
EPI memperkenankan produk-produk seperti di atas ditanyakan di media elektronik pada kurun
waktu antara pk. 21.30 – 05.00 waktu setempat (lihat EPI Bab III.A.4.2.1 dan III.A.4.3.1.).
Salah satu masalah yang masuk ke daerah abu-abu dan sampai dengan saat ini BPP PPPI masih
mengajukan bimbingan lebih lanjut dari instansi pemerintah terkait adalah mengenai penanyangan
iklan rokok dalam bentuk sponsorship yang muncul di luar kurun waktu tersebut.
Sampai dengan saat ini, masih cukup sering ditemui adanya kegiatan sponsorship dari produk rokok
khususnya di media televisi dimana pada periode-periode tertentu stasiun televisi tersebut
menyiarkan pula pengumuman mengenai kegiatan yang disponsori oleh produk rokok tersebut.
Penyiaran spot pengumuman tersebut bisa terjadi di luar kurun waktu di atas. Bahkan cukup banyak
juga kegiatan sponsorship dimana program yang disponsori produk rokok tersebut muncul di luar
kurun waktu tersebut.
Beberapa produk rokok berusaha “menyamarkan” iklan mereka dengan menggunakan nama
program seperti: Super Soccer, Mezzo Speed dan sejenisnya. Bagi BPP, hal ini sebenarnya tidaklah
cukup karena dalam tampilannya, iklan promosi program tersebut tetap menggunakan sebagian ikon
dari produk rokok yang bersangkutan (misalnya: penggunaan tipe huruf/font yang sama dengan logo
produk, warna khas produk, penampilan logo produk dan sejenisnya). Bahkan ada pula iklan promosi
program yang disponsori tersebut dengan menggunakan visual-visual yang ada pada iklan rokok
aslinya.
Sambil menunggu petunjuk lebih lanjut, BPP saat ini berpendapat bahwa kegiatan promosi tersebut
melanggar EPI dan sangat diharapkan pengertian para pengiklan (biro iklan dan kliennya) untuk
merevisinya.
Masalah berikutnya berkaitan dengan iklan minuman keras. Menurut Undang Undang RI No. 40
tahun 1999 tentang Pers dan Undang Undang RI No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, jelas
disebutkan bahwa produk minuman keras tidak diperkenankan beriklan di media cetak maupun
media elektronik (televisi, radio, bioskop). Etika Pariwara Indonesia menyebutkan bahwa iklan
produk minuman keras hanya dapat disiarkan di media non-massa.
2012
22
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pengertian media non-massa adalah: media yang menyasar khalayak terbatas di sekitar sektor,
industri, profesi atau entitasnya sendiri. Dengan demikian, pemunculan iklan minuman keras
(berakohol) di media massa umum (diperjual-belikan secara umum) tidak dapat dibenarkan.
Pemasangan iklan minuman keras/berakohol pada media luar ruang di daerah publik/umum juga
tidak dapat dibenarkan (kasus ini masih cukup banyak terjadi di daerah di luar DKI Jakarta).
Ciptakan Pariwara Beretika!
Bagian 7: Promosi Build-In
Beberapa waktu lalu saya menerima sebuah email sbb (kutipan email di bawah ini telah mendapat
ijin dari penulisnya dan bbrp identitas dalam email tsb saya samarkan):
Beberapa hari yang lalu (kalau tidak salah hari Minggu 22/04), saya melihat acara C di TV. Disana
ada adegan dimana Indra Bekti dan Indy Barends sedang mempromosikan sebuah produk yaitu TA.
Saat itu Indra sedang berakting seolah-olah dia sedang sakit lalu Indy memberinya TA. Setelah
minum TA tiba-tiba Indra sudah merasa sehat kembali pada saat itu juga.
Yang jadi permasalahannya adalah: bukankah aturan main di periklanan mengenai obat-obatan
adalah efek dari obat tersebut tidak boleh terlihat pada saat itu juga (yang biasanya kalau di TVC
selalu diberi keterangan "beberapa hari kemudian" atau si penderita sudah berganti baju sebagai
isyarat keesokan harinya). Pembawa acara yang mempromosikan suatu produk di acaranya tersebut
bagi saya merupakan sarana beriklan (yang terselubung) juga jadi biar bagaimanapun, TA yang
menjadi sponsorship di acara tersebut harus mengikuti aturan main dalam beriklan. Mungkin Indra
atau Indy tidak mengetahui aturan main tentang obat-obatan di periklanan. Tapi dari pihak brand
harusnya sudah memberitahukannya.
Mungkin pihak PPPI perlu mulai mensosialisasikan masalah ini ke para stasiun TV/pembawa acara
tentang etika beriklan di acara yang mereka buat. Apalagi banyak acara2 yang seperti EM yang
menjadi lahan beriklan melalui pembawa acaranya.
Sekiranya ini bisa menjadi masukan bagi Bapak selaku pengawas periklanan dan PPPI.
Terima Kasih
-AF- art director, Gcomm
2012
23
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tanggapan saya:
Pertama-tama saya merasa bersyukur bahwa ada konsumen yang sekaligus insan periklanan
menyampaikan kasus di atas. Suatu bukti bahwa etika dalam periklanan memang sesuatu yang perlu
eksis dalam bisnis ini.
Kasus ini berkaitan dgn "build-in" ad yang kian hari tampaknya kian marak, baik di media Televisi
maupun Radio. Terlepas dari aspek2 finansial yg mungkin ada dalam kampanye "build-in", tulisan
saya berikut ini akan lebih mengupasnya dari segi etika periklanan di Indonesia.
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang
mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik). Bisa dibaca
pada EPI Bab III.A.4.9.1 dan III.A.4.9.2, dimana prinsip yang digunakan adalah (sama dengan prinsip
iklan advertorial pada media cetak); iklan harus dapat dibedakan dengan suatu berita atau isi
program. Secara etika, kalau suatu iklan ditayangkan dalam format adlibs, maka si penyiar/pembawa
acara harus memberikan pengantar sebelumnya bahwa informasi yang akan dibacakan berikutnya
adalah suatu iklan. Pendekatan yang sama digunakan dalam mengatur gelar wicara (talk-show) yang
tercantum dalam EPI Bab III.A.4.10.
Jadi pada point ini, saya ingin menekankan bahwa dari sudut pandang EPI, suatu kampanye "buildin" suatu produk adalah sah-sah saja selama pemirsa/konsumen mendapatkan informasi yang jelas
bahwa suatu bagian dari program tsb. adalah sponsor/kampanye dari suatu produk/jasa dan tidak
dengan disengaja disamarkan dan/atau digabungkan dalam suatu program siaran.
Bila program itu berupa film (misalnya sinetron), untuk menghindari kesan "aneh" bila tiba2
aktor/aktrisnya harus mengatakan suatu dialog yg berhubungan dengan sponsorship tertentu, maka
minimal dalam credit title di akhir film tsb. hal ini bisa dicantumkan.
Selain masalah di atas, maka saya akan masuk lebih dalam pada kasus yang ditulis AF di atas. Saya
sangat setuju bahwa produk apapun juga yang menggunakan strategi berkampanye "build-in"
seharusnya tetap mematuhi aturan/etika mengenai iklan produk/kategori produk tsb. Dalam kasus
di atas, benar adanya bahwa untuk iklan obat-obatan (juga kosmetik dan produk-produk lainnya
yang efeknya membutuhkan waktu tertentu), tidak diperkenankan memberikan kesan mempunyai
dampak seketika (EPI Bab III.A.1.14). Selain itu, iklan/kampanye produk obat-obatan juga diwajibkan
mencantumkan "warning": Baca Aturan Pakai dst. selain juga diwajibkan mencantumkan nama
produsennya. Dalam suatu kampanye "build-in" petunjuk dan informasi ini juga wajib diucapkan
oleh penyiar/pembawa acara.
2012
24
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Bila produk yang akan ditampilkan dalam bentuk "build-in" itu adalah iklan rokok atau produk yg
ditujukan khusus bagi individu dewasa ("intimate product"), maka dianjurkan agar pemunculan
program tsb adalah di atas pk. 21.30. Produk rokok juga diwajibkan mencantumkan/menyebutkan
"warning" sesuai aturan pemerintah.
Kasus iklan "build-in" memang sangat menarik. Satu hal yang pasti, strategi ini memang membuat
proses penanyangan iklan menjadi jauh lebih singkat karena tidak ada proses produksi iklan (cukup
dalam bentuk teks/brief saja) dan segala "tetek-bengek" di belakangnya (persetujuan atas ide dan
eksekusi iklan, lay-out/story-board, tes via FGD dlsb), tidak ada proses sensor (via LSF unt. iklan TV)
bahkan tidak perlu melaporkan ke BPOM untuk produk obat-obatan yang sebenarnya diwajibkan
untuk melaporkan iklan/kampanyenya terlebih dahulu.
Kondisi 'singkat-mudah-murah' ini justru wajib kita cermati dengan hati-hati sekali karena akan
muncul peluang yang relatif jauh lebih besar untuk terjadinya pelanggaran-pelanggaran etika di sini.
Kuncinya ada di tangan produser dari program-program TV/radio yg disponsori tsb. Produser
program harus memahami dengan benar etika beriklan dari suatu produk dan tidak semata-mata
berorientasi finansial saja. Pihak produsen/pengiklan (dan media agencynya, bila brief untuk
kampanye "build-in" ini datang darinya) juga harus benar-benar memahami apa saja resiko yang
dihadapinya dgn melakukan proses 'short-cut' (dgn melakukan strategi "build-in" campaign) atas
proses promosi produknya.
Sekedar mengingatkan bahwa pada UU RI No. 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsumen
khususnya Pasal 17 ayat 1f, mencantumkan bahwa: Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi
iklan yang melanggar etika dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
periklanan. Dan pada Pasal 20-nya tercantum bahwa: Pelaku usaha periklanan bertanggungjawab
atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang di timbulkan oleh iklan tersebut. Dalam konteks
Pasal 20 ini, bila suatu kampanye "build-in" dibuat oleh suatu stasiun radio/TV, maka otomatis
penanggungjawab utama dari "iklan build-in" tersebut adalah pihak stasiun radio/TV tsb.
Memang tidak akan mudah "menangkap" pelanggaran-pelanggaran etika pada suatu iklan "build-in"
krn sifat pemunculannya bisa jadi hanya satu kali saja (kalaupun diulang, bisa jadi tidak akan bisa
sama persis lagi), tidak seperti spot iklan radio/TV standard yang bisa berulang-ulang disiarkan dalam
1 hari. Tapi bukan berarti hal ini tidak mungkin. Setahu saya, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) selalu
merekam penuh isi siaran TV. Dan saya tidak anjurkan kita "bermain-api" dengan mengambil asumsi
"susah ditangkap" ini. Ya salah satu buktinya adalah email dari rekan AF tsb di atas, bukan?
Akhir kata, terimakasih banyak kepada bung AF atas masukannya dan semoga tulisan saya di atas
dapat menjadi wacana diskusi lebih lanjut mengenai etika periklanan bagi rekan-rekan sekalian. Mari
Ciptakan Pariwara Beretika!
Salam pariwara
2012
25
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tugas 1 :
1. Buat kelompok yang terdiri dari 4 orang (maksimal) atau minimal 3 orang.
2. Setiap kelompok ditugaskan membuat suatu laporan analitis atas topik: Analisa
terhadap Iklan Politik di Indonesia.
3. Kirimkan laporan tersebut dalam bentuk softcopy (MS Word) maksimal 5 (lma)
halaman A4 (satu spasi, Arial 11) ke [email protected] pada tanggal 3 Juli 2010.
4. Analisa tersebut harus mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Apakah hal-hal menarik dari iklan politik di Indonesia pada 1-2 tahun terakhir
ini dibandingkan periode-periode sebelumnya? Mengapa perubahantersebut
terjadi? Bagaimana pengaruh dari iklan/kampanye politik di negara-negara
lain terhadap iklan/kampanye politik di Indonesia?
b. Apa saja dampak positif dan negatif dari iklan-iklan politik di Indonesia pada
periode 1-2 tahun terakhir tersebut?
c. Apa saran kelompok anda agar dampak-dampak negatif tersebut dapat
diminimalkan? Berikan saran bagi:
i. Institusi Pemerintah (KPU, Badan Pengawas Pemilu dll).
ii. Masyarakat pada umumnya
iii. Bagi para calon (baik legislatif, presiden ataupun peserta pilkada)
iv. Bagi biro iklan yang menangani iklan politik
v. Berikan saran hal-hal apa yang harus ditambahkan/dirubah di kitab EPI
agar mampu meminimalkan dampak negatif tersebut.
Catatan tambahan:
1. Baca berita-berita di berbagai media massa terkait dengan iklan politik, baik itu
pemilu anggota legislatif maupun pemilihan presiden dan pilkada-pilkada. Baca EPI
khususnya yang terkait dengan persyaratan-persyaratan iklan kebijakan publik
(politik)
2. Kelompok yang tidak mengumpulkan hasil laporannya pada tanggal di atas secara
otomatis akan mendapatkan nilai 50 (tidak ada tugas kelompok pengganti).
Tugas 2 :
LATAR BELAKANG PERMASALAHAN:
Dunia periklanan digital saat ini telah berkembang dengan sangat pesat. Termasuk dalam
periklanan digital antara lain: web-site, viral, e-banner, search-engine, portal, social-media
(facebook, Twitter, YouTube, dsb) serta mobile advertising.
Etika Pariwara Indonesia telah berusaha mengantisipasi munculnya masalah etika periklanan
pada media-media tersebut (lihat EPI Bab III.A. butir 4.5.). Tapi disadari bahwa panduan
yang terdapat pada EPI tersebut masih jauh dari sempurna, khususnya terkait dengan
pesatnya pertumbuhan dan variasi dari periklanan digital tersebut.
2012
26
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
TUGAS KELOMPOK:
5.
6.
7.
8.
9.
Buat kelompok yang terdiri dari 3 atau 4 orang (maksimal).
Setiap kelompok ditugaskan membuat suatu laporan penelitian kecil dan analisa dengan
tema: “Saran penyempurnaan panduan etika periklanan digital pada EPI”.
Laporan dalam format softcopy (MS Word) maksimal 10 (sepuluh) halaman A4 (spasi
tunggal dengan font Arial 11) dikirimkan ke [email protected] paling lambat tanggal
5 Februari 2011.
Buat kuesioner singkat dan wawancarai minimal 6 (enam) orang awam (bukan praktisi
periklanan/pemasaran) usia antara 17 – 30 tahun dan minimal 6 (enam) orang praktisi
periklanan/pemasaran (idealnya, praktisi periklanan/pemasaran digital/mobile) untuk
mendapatkan informasi terkait: (1) perkembangan dunia digital pada umumnya dan
periklanan digital pada khususnya, (2) masalah-masalah yang muncul dengan makin
maraknya periklanan digital (khususnya yang terkait dengan masalah etika periklanan
digital), (3) mengapa masalah-masalah tersebut muncul dan (4) apa saran mereka untuk
mengatasi masalah-masalah tersebut.
Laporan tersebut harus mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Bab I: perkembangan dunia periklanan digital di Indonesia saat kini dan di masa
depan (sebutkan nara-sumbernya bila ada, baik nara-sumber pribadi, kutipan berita
media-massa ataupun buku-buku referensi).
b. Bab II: Masalah-masalah etika periklanan digital dan mengapa masalah tersebut
muncul; baik masalah-masalah yang telah muncul saat ini maupun hasil analisa
kelompok akan kemungkinan munculnya masalah-masalah baru di masa yang akan
datang. Jabarkan masalah-masalah ini dengan bahasa yang ringkas, runtut/logis dan
jelas.
c. Bab III: Saran penyempurnaan panduan etika periklanan digital dengan mengaitkan
saran-saran tersebut dengan masalah yang tercantum pada Bab II. Dalam bagian ini,
tidak perlu mencantumkan kembali panduan-panduan etika yang sudah ada di EPI,
kecuali bila kelompok anda ingin menyarankan merubah/menyempurnakan salah
satu butir yang sudah ada di EPI. Saran-saran ini dapat dikutip dari pendapat para
nara-sumber yang diwawancarai ataupun berdasarkan analisa/pendapat kelompok.
d. Lampiran Laporan yang berisi data-data pribadi dari para pihak yang di wawancarai
(nama, jenis kelamin, usia, pekerjaan) dan ringkasan hasil wawancara tersebut.
e. Daftar pustaka (bila ada)
Catatan tambahan:
 Kelompok yang tidak mengumpulkan hasil laporannya pada tanggal di atas secara
otomatis akan mendapatkan nilai 50 (tidak ada tugas kelompok pengganti).
 Penilaian akan didasarkan pada kualitas penjabaran dan jumlah masalah baru yang
ditemukan serta bagaimana kualitas solusinya (saran perbaikan panduan etika periklanan
digital).
2012
27
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Bila ada hal-hal yang kurang jelas dari penugasan ini, mohon agar tanya-jawab dilakukan
melalui milist sehingga dapat dibaca oleh semua kelompok (konsultasi pribadi tidak akan
dilayani).
Tugas 3 :
1. Buat kelompok yang terdiri dari 4 orang (maksimal) atau minimal 3
orang.
2. Setiap kelompok ditugaskan membuat suatu laporan analisa atas topik:
Analisa terhadap Rencana Pelarangan Total Iklan/Promosi Produk
Rokok di Indonesia.
3. Kirimkan laporan tersebut dalam bentuk softcopy (MS Word) maksimal 6
(enam) halaman A4 (satu spasi) ke [email protected] pada tatap muka
14.
4. Laporan tersebut harus mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Hal-hal yang mendukung pelarangan tersebut (baik dari segi
periklanan maupun segi-segi sosial-ekonomi lainnya)
b. Hal-hal yang tidak mendukung pelarangan tersebut (baik dari segi
periklanan maupun segi-segi sosial-ekonomi lainnya)
c. Berdasarkan aspek-aspek yang mendukung dan tidak mendukung
tersebut, berikan kesimpulan kelompok apakah kelompok anda
mendukung ataukah tidak mendukung rencana pelarangan total
iklan rokok tersebut. Berikan alasan-alasan yang sesuai dengan
kesimpulan kelompok tersebut.
d. Tambahkan satu bagian khusus untuk membahas hal berikut: bila
iklan rokok tetap diperbolehkan di Indonesia, apakah menurut
kelompok anda, persyaratan penayangan iklan rokok yang saat ini
berlaku masih relevan ataukah perlu lebih diperketat? Bila
kelompok anda memutuskan untuk tetap menggunakan
persyaratan iklan rokok yang berlaku sekarang, apa alasannya? Bila
kelompok anda memutuskan untuk memperketat iklan rokok,
sebutkan apa saja saran-saran dari kelompok anda untuk
memperketat persyaratan penayangan iklan rokok di Indonesia?
Catatan tambahan:
3. Baca berita-berita di berbagai media massa yang selama 1-4 bulan lalu
mengupas masalah iklan rokok. Rencana pelarangan tersebut mencakup
tidak diperkenankannya produk rokok mensponsori berbagai kegiatan.
4. Baca EPI khususnya yang terkait dengan persyaratan-persyaratan iklan
rokok
5. Kelompok yang tidak mengumpulkan hasil laporannya pada tanggal di
atas secara otomatis akan mendapatkan nilai 50 (tidak ada tugas
kelompok pengganti).
2012
28
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
-----o0o----
Sampai
jumpa
di
UAS!
Semoga berhasil lulus!
Daftar Pustaka

Dewan Periklanan Indonesia, Etika Pariwara Indonesia, cetakan ke 3, 2007

Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Laporan Badan Pengawas Periklanan,
2005 – 2009
2012
29
Etika Periklanan
SM Niken Restaty, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download