Sinopsis Disertasi Deni Miharja

advertisement
RINGKASAN DISERTASI
Deni Miharja
NIM 3.209.4.0003
INTEGRASI AGAMA ISLAM DENGAN BUDAYA SUNDA
(Studi Pada Masyarakat Adat Cikondang Desa Lamajang
Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung)
Integration of Islam into Sundanese Culture
(A Study in the Traditional Society of Cikondang, Lamajang
Village, Pangalengan Subdistrict, the Regency of Bandung)
‫اﻹﺗﺤﺎد ﺑﯿﻦ اﻻﺳﻼم واﻟﺜﻘﺎﻓﺔ اﻟﺴﻮﻧﺪوﯾﺔ‬
‫دراﺳﺔ ﻋﻠﻲ ﻋﺮف ﻣﺠﺘﻤﻊ ﺛﯿﻜﻮﻧﺪاﻧﺞ ﻓﻲ ﻗﺮﯾﺔ ﻻﻣﺎﺟﺎﻧﻎ ﻓﺎﻧﺠﺎﻟﯿﻨﺠﺎن اﻟﻤﺤﺎﻓﻈﺔ‬
‫ﺑﺎﻧﺪوﻧﺞ‬
Tim Promotor:
Prof. Dr.H. Dadang Kahmad, M.Si
Prof. Dr.H. Afif Muhammad, MA
Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
1434 H / 2013 M
2
Integrasi Agama Islam dengan Budaya Sunda
(Studi pada Masyarakat Adat Cikondang Desa Lamajang
Kecamatan Pangelangan Kabupaten Bandung)
A. Permasalahan
Masyarakat Cikondang dikenal sebagai etnis Sunda
yang dikategorikan sebagai komunitas adat, dan seluruhnya
beragama Islam. Identifikasi ini bisa saja berhubungan
dengan berbagai ungkapan yang menyebutkan
pola
hubungan Islam dengan budaya Sunda yang begitu dekat,
seperti ungkapan “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam”1(Islam
itu Sunda dan Sunda itu Islam) atau “Urang Sunda mah geus
Islam samemeh Islam”2(Orang Sunda sudah Islam sebelum
Islam masuk ke wilayah Tatar Sunda).
1
Ungkapan Islam teh Sunda, Sunda teh Islam, disampaikan
pertama kali oleh Endang Saefudin Anshori pada tahun 1967.
Menurut Ajip Rosidi ungkapan tersebut merupakan strategi
kebudayaan dalam upaya membendung gerak paham komunis
yang mulai merajalela di tengah-tengah masyarakat Sunda. Periksa
Agus Ahmad Safei,”Fenomena Kultural Islam-Sunda” dalam Cik
Hasan Bisri, dkk. Pergumulan Islam Dengan Kebudayaan Lokal di
Tatar Sunda. Cetakan Ke-1. Bandung: Kaki Langit. 2005, h. 139.
2
Urang Sunda mah geus Islam samemeh Islam, diungkapkan
oleh Penghulu K.H. Hasan Mustofa dalam menafsirkan al-Qur`an
pada ayat-ayat awal suarat Al-Baqoroh. “Islam” yang pertama
adalah Islam lawas, yakni Islam yang dibawakan oleh Nabi dan
Rasul sejak Nabi Adam, a.s yakni agama tauhid. Sedangkan Islam
ayeuna yakni Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw.
Dengan demikian, orang Sunda yang keluar dari agama Islam sama
dengan keluar dari lingkungan budaya Sunda. Periksa Juhaya S.
Praja, “Hukum Islam dalam Tradisi dan Budaya Masyarakat
Sunda”, dalam Cik Hasan Bisri, dkk., Op. Cit. h. 131.
3
Apabila dicermati secara seksama, maka ada yang
menarik dari bentuk ungkapan tersebut, yaitu terjalinnya
hubungan agama Islam dengan budaya Sunda yang harmonis
yang menunjukan adanya hubungan dalam bentuk integrasi.
Fenomena tersebut menunjukan bahwa agama dan
kebudayaan ada secara bersamaan pada suatu masyarakat.
Tentu keberadaannya tidak bisa dipahami secara sepihak,
tetapi harus dipahami secara utuh terhadap adanya proses
dialektik agama dengan kebudayaan pada masyarakat itu
sendiri, serta adanya unsur-unsur yang saling berhubungan
secara fungsional .
Agama dan kebudayaan merupakan dua hal yang
bisa ditemukan keberadaan fungsinya pada masyarakat. Oleh
karena itu, ketika berbicara agama dan kebudayaan, bisa
melihat aplikasi fungsinya dalam wujud system budaya dan
juga dalam bentuk tradisi ritual atau upacara keagamaan yang
nyata-nyata bisa mengandung nilai agama dan kebudayaan
secara bersamaan.
Berbicara agama Islam dengan kebudayaan, tentu
merupakan pembahasan yang menarik. Dimana Islam
sebagai agama universal merupakan rahmat bagi semesta
alam dan dalam kehadirannya di muka bumi, Islam berbaur
dengan budaya lokal suatu masyarakat (local culture),
sehingga antara Islam dengan budaya lokal tidak bisa
dipisahkan, melainkan keduanya merupakan bagian yang
saling mendukung dan melengkapi.
Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah Swt.
untuk semua umat manusia telah memainkan peranannya di
dalam mengisi kehidupan umat manusia di muka bumi ini.
Kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah
memiliki kebudayaan tersendiri, ternyata membuat Islam
dengan kebudayaan mengalami proses dialektik yang dapat
membentuk pola interelasi yang beragam dan terwujud
4
kedalam tradisi ritual atau upacara keagamaan yang beragam
pula. Namun demikian, al-Quran dan as-Sunah sebagai
sumber ajaran Islam tetap menjadi ujung tombak di dalam
suatu masyarakat muslim, sehingga Islam begitu identik
dengan keberagaman.
al-Qur`an sebagai wahyu Allah, dalam pandangan dan
keyakinan umat Islam adalah sumber kebenaran dan mutlak
benarnya. Meskipun demikian, kebenaran mutlak itu tidak
akan tampak manakala al-Quran tidak berinteraksi dengan
realitas sosial, atau menurut Qurasih Shihab, dibumikan:
dibaca, dipahami, dan diamalkan. Ketika kebenaran mutlak
itu disikapi oleh para pemeluknya dengan latar belakang
kultural atau tingkat pengetahuan yang berbeda,maka akan
muncul kebenaran-kebenaran parsial, sehingga kebenaran
mutlak tetap miliki Tuhan.3
Kebenaran dalam Islam bersumber dari Allah,
sedangkan kebenaran parsial hadir pada realitas sosial suatu
masyarakat yang kebenarannya akan relatif. Akan tetapi
Islam tetap menghargai kebenaran yang ada dalam suatu
masyarakat, termasuk keberagaman kebudayaan yang
dimiliki oleh masyarakat etnik Sunda.
Quraish Shihab dalam satu Kata Pengantar sebuah
buku, mengatakan bahwa berdasarkan analisis M.B. Hooker,
Robert Hefner, John L. Esposito dan William Liddle,
keberadaan Islam di Nusantara bercorak sangat spesifik
dimana ekspresinya secara intelektual, kultural, sosial, dan
politik bisa jadi dan kenyataannya memang berbeda dengan
ekspresi Islam yang berada dibelahan dunia yang lain. Islam
Indonesia merupakan perumusan Islam dalam konteks sosiobudaya bangsa yang berbeda dengan pusat-pusat Islam di
3
Lihat Dadang Kahmad, Sosiologi Agama. Bandung:
Rosdakarya, 2000, h.172.
5
Timur Tengah. Kenyataan ini bukanlah peristiwa baru,
melainkan berlangsung semenjak awal masuknya agama
yang diserukan Muhammad ini ke bumi Nusantara.4 Senada
dengan pernyataan Quraish Shihab, Richard Bulliet pernah
menyatakan hipotesisnya bahwa “Sekarang waktunya untuk
melihat Islam dari jendela Jakarta, Kuala Lumpur, atau
Teheran, bukan lagi dari jendela Bagdhad, Damaskus atau
Kairo.5
Memperhatikan dua pernyataan tersebut, secara
substansi tidak jauh berbeda, maka timbul suatu fakta sosial
bahwa keberadaan Islam dan umat Muslim di bumi
Nusantara telah menjadi “ikon” yang memiliki kelebihan
yang sangat unik dan spesifik bila dibandingkan dengan
Islam dan umat Muslim di belahan Negara lainnya.
Kemudian, hal ini telah menjadikan Islam di Nusantara
menjadi kajian para Islamisis (orientalis) yang melihat
adanya perkembangan serta pengaruh yang cukup signifikan
dalam kesejarahan Islam di Nusantara ini.
Variasi Islam dengan kebudayaan lokal di Indonesia
sudah menjadi fenomena yang tidak bisa dihindari. Dimana
Islam sebagai ajaran keagamaan yang lengkap, memberi
tempat pada dua jenis penghayatan keagamaan, Pertama,
4
M. Qurasih Shihab, “Era Baru, Fatwa Baru” Kata Pengantar
dalam M.B. Hooker, Islam Mazhab Indonesia: Fatwa-Fatwa dan
Perubahan Sosial. Cet. Pertama Jakarta: Teraju, 2002, h.18.
5
Richard Bulliet adalah Guru Besar Columbia University,
New York. Pernyataan ini diperoleh dalam endorsement pada
buku Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi
Nusantara, sebuah karya yang menyajikan tentang keberadaan
Islam di Nusantara dari pelbagai perspektif dan melibatkan
cendikiawan-cendikiawan terbaik Indonesia. Karya ini dieditori
oleh Komarudin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, dan diterbitkan
oleh Mizan Media Utama (Mizan Pustaka).
6
eksoterik (zhahiri), yaitu penghayatan keagamaan yang
berorientasi pada formalitas atau pada norma-norma dan
aturan-aturan agama yang ketat. Kedua, esoterik (batini),
yaitu penghayatan keagamaan yang berorientasi dan
menitikberatkan pada inti keberagamaan dan tujuan
beragama. Tekanan yang berlebihan kepada salah satu dari
dua aspek penghayatan itu akan menghasilkan kepincangan
yang menyalahi ekuibirium (tawazun) dalam Islam.6
Penafsiran terhadap hubungan Islam dengan
kebudayaan lokal pada masyarakat tertentu. Ternyata dalam
proses penghayatan terhadap ajaran Islam sendiri bisa
ditafsirkan sangat beragam, sesuai dengan tingkat
pengetahuan dari masyarakat tersebut. Ketika Islam
diposisikan sebagai sesuatu yang kecil, di sisi lain budaya
lokalnya diposisikan sebagai sesuatu yang besar, atau
sebaliknnya, sehingga bentuk hubungan Islam dengan
kebudayaan lokal akan berwujud kepada pola tertentu sesuai
dengan kondisi sosial suatu masyarakat.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, fokus
penelitian ini adalah untuk mengungkap model integrasi
Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang
Desa Lamajang Kecamatan Pangalengan Kabupaten
Bandung.
B. Identifikasi dan Rumusan Masalah
Hubungan agama dengan kebudayaan pada suatu
masyarakat akan senantiasa terjadi dalam berbagai pola. Pola
hubungan yang dihasilkan akan bermacam-macam sesuai
dengan objek penelitiannya. Sebagaimana halnya yang terjadi
6
Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, Bandung: Rosdakarya,
2000, h. 200.
7
pada masyarakat adat Cikondang, dimana ada kecenderungan
hubungannya dalam bentuk integrasi dalam pola tertentu.
Fokus masalah penelitian ini adalah model integrasi Islam
dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang.
Adapun identifikasi masalah dapat dimunculkan
sebagai berikut: Pertama, sebuah
masyarakat muncul
melalui proses panjang, begitu pun yang terjadi pada
masyarakat adat
Cikondang. Tentu, memiliki sejarah
panjang dalam proses pembentukannya sebagai sebuah
masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi nenek
moyangnya sehingga dikategorikan sebagai masyarakat adat.
Kedua, masyarakat dalam kehadirannya memiliki perangkat
yang mendukungnya, diantaranya adalah agama dan
kebudayaan. Hubungan manusia, masyarakat, agama, dan
kebudayaan, terjadi melalui sebuah proses dialektik.
Ketiga, masyarakat adat Cikondang dikategorikan
sebagai masyarakat Sunda yang seluruhnya beragama Islam.
Identifikasi ini bisa saja berhubungan dengan berbagai
ungkapan yang menyebutkan pola hubungan Islam dengan
budaya Sunda yang begitu dekat, seperti ungkapan “Islam
teh Sunda, Sunda teh Islam” (Islam itu Sunda dan Sunda itu
Islam) atau “Urang Sunda mah geus Islam samemeh Islam”
(Orang Sunda sudah Islam sebelum Islam masuk ke wilayah
Tatar Sunda).
Keempat, ada kecenderungan bahwa pola hubungan
yang terjadi antara Islam dengan Budaya Sunda pada
masyarakat adat Cikondang adalah hubungan dalam bentuk
Integrasi dalam pola tertentu yang harus diteliti lebih lanjut
dan mendalam berdasar pada kearifan lokal masyarakat
Sunda Cikondang.
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi
masalah tersebut, maka diajukan pertanyaan penelitian
sebagai berikut:
8
1. Bagaimana proses terjadinya integrasi Islam dengan
budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang?
2. Bagaimana bentuk kebudayaan hasil integrasi agama
Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat
Cikondang?
3. Bagaimana model integrasi Islam dengan budaya
Sunda pada masyarakat adat Cikondang?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan dari penelitian
ini
adalah untuk
mengidentifikasi dan menggali serta mengetahui:
1. Proses terjadinya integrasi Islam dengan budaya
Sunda pada Masyarakat Adat Cikondang.
2. Bentuk kebudayaan hasil integrasi Islam dengan
budaya Sunda pada Masyarakat Adat Cikondang.
3. Model integrasi agama Islam dengan budaya Sunda
pada Masyarakat Adat Cikondang.
Adapun kegunaan penelitian secara akademik.
Pertama, penelitian ini diharapkan dapat menambah dan
memperkaya pengetahuan terkait penggunaan teori-teori pada
ranah Sosiologi
Agama dan Antropologi Agama serta
penguatan terhadap Mata Kuliah Studi Budaya Lokal/Studi
Masyarakat Lokal. Kedua, dapat menemukan formulasi baru
tentang pola hubungan agama dengan kebudayaan pada suatu
masyarakat. Ketiga, membuka penelitian lanjutan tentang
pola hubungan agama dengan kebudayaan pada masyarakat
multikultural dan lainnya.
Kegunaan Praktis. Pertama, membantu insan akademik
untuk melakukan penelitian serupa dengan objek kajian yang
berbeda. Kedua, membantu masyarakat adat Cikondang
dalam memperkenalkan tradisi lokalnya serta memperkokoh
identitasnya. Ketiga, membantu Pemerintah dalam upaya
9
mensosialisasikan program pembangunan dan menerapkan
kebijakan yang berbasis pada kearifan lokal.
D. Kerangka Berfikir
Penelitian ini berangkat dari adanya hubungan agama
dengan kebudayaan pada suatu masyarakat. Hubungan
agama dengan kebudayaan terjadi secara berkesinambungan
dan dalam waktu yang lama, sehingga hasil dari adanya
hubungan agama dengan kebudayaan akan menghasilkan
suatu pola hubungan yang berlainan, tergantung dari objek
masyarakat yang diteliti. Perbedaan terhadap pola hubungan
yang terjadi disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat,
serta faktor lingkungan dimana masyarakat tersebut tinggal.
Kajian tentang kearifan lokal sendiri sebenarnya tidak
terlepas dari persoalan agama dan kebudayaan yang tumbuh
pada suatu masyarakat. Evans Pritchard menegaskan, tak ada
masyarakat yang dapat hidup tanpa sesuatu seperti sains dan
sesuatu seperti agama, semua kebudayaan selalu
membutuhkan konsepsi pikiran dari sains dan “construct of
heart” dari agama. Seorang sarjana tanpa komitmen agama
tidak akan berhasil dalam usaha menteoritisasikan agama,
karena ia akan jatuh pada reduksionisme.7
Agama dalam kedudukannya sebagai sistem budaya
sebenarnya adalah bagian dari kebudayaan, karena
kebudayaan itu memiliki tiga wujud, yakni: sistem budaya,
sistem sosial dan kebudayaan fisik (artefak). Agama sebagai
sistem budaya sangat bisa berbeda dengan agama sebagai
doktrin yang tertulis dalam kitab-kitab suci karena ia
7
Lihat.
E.E.
Evans
Pritchard,
“’Construct
of
Herat’Masyarakat”, dalam Daniel L. Pals, Seven Theories of
Religion,Alih Bahasa Ali Noer Zaman, Peny Ruslani, Yogyakarta:
Qalam, 2001, h. 378.
10
mengalami interelasi dialektis dengan kebudayaan dan
masyarakatnya. Jika agama telah menjadi bagian dari
kebudayaan maka menurut Geertz, ia secara sosial adalah
konteks makna yang dipahami bersama, terdiri atas struktur
arti yang mapan, dimana orang-orang melakukan hal-hal
semacam itu sebagai konspirasi yang jelas untuk bergabung
didalamnya,
merasakan
penghinaan
bersama
dan
8
menjawabnya bersama. Dalam konteks ini, maka hubungan
Islam dengan kebudayaan Sunda sama halnya dengan
hubungan Islam dengan kebudayaan Jawa atau agama lokal
lainnya adalah agama dalam kedudukannya sebagai sistem
budaya yang menjadi world view masyarakatanya. Diakui
atau tidak, ia terus hidup dan berkembang dalam masyarakat
seiring dengan dinamika sosial dan kulturual.
Kemudian perlu dijelaskan bahwa bagaimana
sebenarnya proses terjadinya agama lokal atau sistem kultural
itu dalam realitas sosial. Salah satu usaha untuk mendekati
masalah ini adalah melalui analisis konstruksi sosial, di mana
realitas sosial dipandang sebagai diciptakan oleh individu.
Individu adalah manusia bebas yang melakukan hubungan
antar manusia satu dengan yang lain. Individu menjadi
penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan
kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun
sebagai mesin produksi sekaligus reproduksi yang kreatif
dalam mengkonstruksi dunia sosialnya.9Namun, kehendak
individu sendiri tentunya tidak mungkin terlepas sepenuhnya
dari sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya.
Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari
8
Ibid, h. 409
Basrowi & Sukidin, Metode Penelitian Kualitatif:
Perspektif Mikro. Cet. I, Surabaya: Insan Cendekia, 2002, h. 194.
9
11
dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang
telah menginternalisasi sebelumnya. 10
Peter L.Peter Berger11 mengungkapkan, eksistensi
manusia itu pada pokoknya dan pada akhirnya adalah
aktivitas yang mengeksternalisasi. 12Selama eksternalisasi
tersebut manusia mencurahkan makna ke dalam realitas.
Agama, dalam hal ini agama sebagai fakta sosial, merupakan
jangkauan terjauh dari ekstrenalisasi diri manusia, dari
peresapan makna-maknanya sendiri ke dalam realitas. Agama
berarti, bahwa tatanan manusia itu diproyeksikan ke dalam
totalitas kedirian. Dengan kata lain, agama adalah usaha
berani untuk membayangkan adanya keseluruhan semesta
sebagai bernilai manusiawi. Karena itu agama memainkan
10
Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2000, h. 53. Adapun internalisasi adalah proses
panjang seorang individu sejak ia dilahirkan sampai hampir
meninggal, di mana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya
segala perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi yang diperlukan dalam
hidupnya. Lihat, Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,
cetakan kedelapan, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, h. 228.
11
Peter L. Berger adalah tokoh yang mencetuskan teori
konstruksi sosial bersama rekannya Thomas Luckman, 1990.
dalam bukunya, The Sosial Construction of Reality: A Treatise in
the Sociology of Knowledge.
12
Dalam konsepsi Peter L. Berger, istilah eksternalisasi
dimaksudkan sebagai salah satu dari 3 momentum dari proses
dialektika fundamental masyarakat. 2 momentum lainnya adalah
objektifikasi dan internalisasi. Istilah eksternalisasi sendiri
dimaksudkan sebagai suatu pencurahan kedirian manusia secara
terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktifitas fisik maupun
mentalnya. Periksa, Peter L. Berger, The Sacred Canopy, (Alih
Bahasa Hartono), Jakarta: LP3ES, 1990, h. 34-35.
12
peranan sangat strategis dalam usaha manusia membangun
dunia.
Dalam kerangka penelitian ini, agama dimaksudkan
sebagai makna-makna tertinggi yang dicapai oleh puncak
eksternalisasi manusia dan menyerap dalam realitas. Agama
dalam perspektif ini lebih dekat pada fakta sosial “yang
hidup” di masyarakat daripada sekedar konsep-konsep “yang
mati”, lebih dekat pada aspek “praktis” ketimbang “teoritis”.
Maka dengan konsep ini bisa dijelaskan bagaimana hubungan
Islam dengan kebudayaan Sunda bisa terbangun sebagai
suatu sistem kultural pada masyarakat Sunda.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, kajian
tentang integrasi Islam dengan budaya Sunda bisa menjadi
sebuah kenyataan. Apalagi banyak penulis yang
menyebutkan bahwa Islam dengan Sunda ibarat gula dengan
manisnya (jiga gula jeung peueutna),
karena dalam
kenyataannya perkembangan Islam di tatar Sunda sealur
dengan local genium masyarakat Sunda itu sendiri. Dalam
perkembangannya, Islam lebih mudah berinteraksi dengan
sistem nilai yang berlaku saat itu. Karena ciri khas dari
agama ini adalah memberikan kebudayaannya berkembang
sesuai dinamika (hands off).13 Islam-Sunda atau Sunda-Islam
dapat dikatakan “dua-duaning atunggal” dan sepertinya
sudah sangat kental satu sama lainnya, sebab dalam beberapa
hal ajaran-ajaran atau adat istiadat Sunda adalah juga ajaran
Islam. 14
13
Itoc Tochija, dalam pengantar Pergumulan Islam dengan
Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda, Bandung: Kaki Langit, 2005,
h. ix.
14
Tata Gautama Suryaman, dalam pengantar Pergumulan
Islam dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda, Bandung: Kaki
Langit, 2005, h. xii.
13
Terdapat dua asumsi, minimalnya yang menyebabkan
Islam dengan mudah menjadi bagian dari kehidupan orang
Sunda. Pertama, Islam yang datang dan diterima oleh
masyarakat Sunda merupakan sebentuk ajaran yang mudah
dicerna dan dipahami sesederhana karakter budaya orang
Sunda itu sendiri. Kedua, kebudayaan yang membungkus
ajaran Islam tersebut merupakan kebudayaan yang mudah
bersinergis dengan budaya Sunda. Oleh karena itu, ketika
proses Islamisasi di Tata Sunda Islam menyebar dengan
mudah, maka Islam secara tidak langsung membentuk jati
diri kesundaan orang sunda terintegralkan secara natural
dalam perilaku keseharian sekaligus menjadi identitas
permanen orang Sunda.15
Dua asumsi yang disampaikan ini, tentu bisa menjadi
benar dan juga bisa menjadi tidak benar. Oleh karena itu,
perlu diadakan penelitian terhadap kebenaran dua asumsi
tersebut, dengan berusaha mengungkapnya pada masyarakat
adat Cikondang yang memiliki kategori sebagai masyarakat
Sunda seluruhnya beragama Islam. 16
E. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan antropologi dan sosiologi. Studi kualitatif yang
dimaksud ini pun dibangun atas landasan multidisipliner
15
Dadang Kahmad, “Agama Islam dan Budaya Sunda”,
dalam Ajip Rosidi, Edi S. Ekajati dan A. Chaedar Alwasilah
(Penyunting). Konferensi Internasional Budaya Sunda Jilid I,
cetakan kesatu, Bandung: Kiblat Buku Utama, 2006, h. 322.
16
Makna seluruhnya beragama Islam, berarti seluruh
penduduknya memeluk agama Islam, walaupun Islam yang dianut
oleh masyarakat Cikondang memiliki variasi yang beragam, sesuai
tingkat pengetahuan dan pemahaman dari masyarakatnya.
14
yang bertitik tolak pada pendekatan antropologi dan
sosiologi yang diterapkan untuk memberikan jawaban
terhadap permasalahan yang dikemukakan. Penerapan ini
dilakukan untuk menjangkau berbagai aspek, tidak hanya
satu aspek saja, sehingga hasilnya menjadi sebuah
kesimpulan yang komprehensif dan terintegral. Penggunaan
pendekatan antropologi adalah karena masyarakat adat
Cikondang memiliki kearifan lokal yang masih dilaksanakan
dan dipertahankan, sedangkan pendekatan sosiologi adalah
karena masyarakat adat Cikondang merupakan salah satu
masyarakat adat di Jawa Barat yang seluruhnya beragama
Islam. 17.
F. Teori yang Digunakan
Teori yang pakai untuk menganalisis integrasi Islam
dengan budaya Sunda. Pertama, teori struktur fungsional,
yang dikembangkan oleh Parsons, dan Merton. Parsons
dalam kerangka struktur fungsionalnya menjelaskan bahwa
masyarakat dapat dianggap sebagai suatu organisme yang
hidup. Bagian-bagian dari organisme itu, khususnya mereka
yang terdiri dari sistem-sistem yang terlembagakan dalam
peran-peran tertentu disebut sebagai struktur, bekerjasama
secara erat satu dengan yang lain. Kedua, teori konstruksi
sosial.Secara komprehensif Peter L. Berger, menyebutkan
bahwa hubungan manusia dengan masyarakat dan
kebudayaannya dapat dilihat sebagai proses dialektik yang
terdiri dari tiga momentum: eksternalisasi, objektivikasi, dan
internalisasi.
17
Judistira K. Garna, telaah terhadap naskah disertasi,
Jum`at, 4 Januari 2013.
15
G. Temuan Penelitian
Hasil penelitian terkait integrasi agama Islam dengan
budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang Desa
Lamajang Kecamatan Pangelangan Kabupaten Bandung.
Pertama, proses terjadinya integrasi Islam dengan
budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang terjadi
karena masing-masing struktur yang ada mengalami proses
A-G-I-L, sehingga setiap struktur berfungsi secara
fungsional. Proses integrasi agama Islam dengan budaya
Sunda, terjadi juga melalui proses dialektika sosial. Dimana
melalui proses dialektika sosial masing-masing unsur yang
saling berhubungan mengalami proses eksternalisasi,
internalisasi,
dan
objektivikasi.
Pada
momentum
eksternalisasi ada kecenderungan terjadinya interaksi awal
antara manusia Cikondang dengan berbagai kebudayaan.
Pada momentum ini manusia awal Cikondang dianggap
sebagai individu yang berusaha untuk menciptakan
masyarakat sebagai wadah aktifitasnya, kemudian
terbentuklah masyarakat adat Cikondang yang kemudian
menciptakan berbagai
kebudayaan sebagai alat untuk
mempertahankan keberlangsungan hidup dengan ragam
bentuknya.
Pada momentum eksternalisasi, hubungan agama
Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang
bisa dilihat dalam pandangan hidup (termuat
dalam
ungkapan tradisional, naskah, uga) dan aktifitas ritual
keagamaan yang diciptakannya. Salah satu konsep
pandangan hidup yang dikenal pada masyarakat adat
Cikondang, tergambar dalam ungkapan silih asih, silih asah
dan silih asuh. Kemudian dalam ritual keagamaan terlihat
pada tradisi wuku taun, tradisi ruat lembur, ruat bumi, ruat
solokan, ruat hajat, tradisi wuku taun, tradisi ruat lembur,
ruat bumi, ruat solokan, ruat hajat, tingkeban mengandung
16
tujuh bulan, empat puluh hari dari melahirkan, khitanan dan
gusaran, hotaman, perkawinan, dan tradisi kematian.
Tradisi ritual keagamaan tersebut, merupakan bentuk
kebudayaan hasil integrasi agama Islam dengan budaya
Sunda yang diciptakan dan dilaksanakan oleh masyarakat
adat Cikondang dalam menyambut setiap moment kehidupan
yang dialaminya. Makna yang terdapat pada setiap tradisi
tersebut, pada hakikatnya merupakan media ungkapan rasa
syukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan segala
rezeki dan karunia-Nya.
Kemudian hubungan antara masyarakat Cikondang
dengan agama Islam dalam momentum internalisasi,
mengalami kecenderungan bahwa masyarakat Cikondang
dipengaruhi oleh agama Islam, sehingga terjadilah proses
integrasi agama Islam dengan masyarakat Cikondang dalam
bentuk sinkretik dan akulturatif.
Hubungan masyarakat Cikondang dengan agama
Islam
pada
momentum
objektivikasi,
mengalami
kecenderungan bahwa masing-masing dari unsur yang saling
berinteraksi memposisikan dirinya sebagai realitas sosial
yang saling berhadap-hadapan dan tidak saling memberi
pengaruh. Artinya, masyarakat sebagai realitas sosial dan
juga agama Islam sebagai realitas sosial eksis secara masingmasing. Dalam konteks ini antara agama Islam dengan
budaya Sunda pada masyarakat Cikondang tidak saling
berbaur. Misalkan dalam pelaksanaan sholat wajib lima
waktu, sholat dilaksanakan sesuai dengan syariat agama
Islam tidak dibaurkan dengan budaya Sunda.
Kedua, berdasarkan analisis teori struktur fungsional
dan teori dialektika sosial, maka kebudayaan hasil integrasi
agama Islam dengan budaya Sunda bisa dilihat pada konsep
pandangan hidup (termuat dalam ungkapan tradisional,
naskah, uga), tradisi wuku taun, tradisi ruat lembur, ruat
17
bumi, ruat solokan, ruat hajat, tingkeban mengandung tujuh
bulan,melahirkan, empat puluh hari dari melahirkan, khitanan
dan gusaran, hotaman, perkawinan, dan tradisi kematian.
Kebudayaan hasil integrasi tersebut, dilaksanakan
dan dilestarikan oleh masyarakat adat Cikondang sampai saat
ini. Walaupun dalam prakteknya tidak semua tradisi tersebut
dilaksanakan secara rutin. Terjadinya proses dialektik agama
Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang
sudah berjalan cukup lama, maka kemungkinan untuk
kuatnya agama Islam berbaur dengan budaya Sunda, tidak
bisa dihindari dan sudah menjadi perjalanan sejarah yang
dilalui.
Ketiga, masyarakat Cikondang dikategorikan sebagai
komunitas masyarakat adat, karena sampai saat ini masih
berpegang teguh terhadap tradisi leluhurnya dan seluruhnya
beragama Islam. Artinya disini terjadi integrasi Islam dengan
budaya Sunda dalam pola-pola tertentu. Setelah dilakukan
pengkajian secara mendalam, maka pola integrasi sinkretik
cenderung pada masyarakat yang masih berpegang teguh
terhadap tradisi leluhurnya (Cikondang dalam), sehingga
pemahaman keagamaan mereka dikategorikan tradisional
dengan sebutan Islam sinkretik. Sedangkan pola integrasi
akulturatif cenderung pada masyarakat yang tidak terikat
dengan tradisi leluhur (Cikondang luar), sehingga
pemahaman keagamaan mereka dikategorikan modern
dengan sebutan Islam akulturatif.
Hasil penelitian ini menguatkan teori yang
dikembangkan oleh Clifford Geerzt (1960), Andrew Beaty
(1999) yang mengkategorikan hubungan agama Islam dengan
budaya Jawa sebagai sinkretik dan menguatkan teori Mark R.
Woodward (1989) yang mengkategorikan hubungan agama
Islam dengan budaya Jawa sebagai akulturatif. Selanjutnya,
berdasarkan analisis terhadap munculnya integrasi sinkretik
18
dan akulturatif pada beberapa ritual keagamaan masyarakat
adat Cikondang, menunjukan adanya pendekatan agama
Islam terhadap budaya Sunda yang lebih akomodatif atau
dengan istilah lain Islam akomodatif.
Dalam kaitan ini pula, peneliti sependapat terhadap
berkembangnya wacana yang menyebutkan bahwa Islam itu
Sunda dan Sunda itu Islam, Islam nu nyunda dan nyunda nu
Islam, urang Sunda geus Islam samemeh Islam (Orang Sunda
sudah Islam sebelum Islam masuk ke wilayah Tatar Sunda),
urang Sunda teu mungkin lamun teu ngageum agama Islam
(Orang Sunda tidak mungkin kalau tidak beragama Islam).
Pernyataan-pernyataan tersebut tidak hanya wacana,
melainkan sudah terbukti ada pada masyarakat adat
Cikondang. Hal ini nampak sekali dari sisi kehidupan sosial
keagamaan yang dibangun oleh masyarakat adat Cikondang
dewasa ini. Terlebih dengan sikap keterbukaan yang dianut
oleh masyarakat adat Cikondang sejak awal, semakin
menguatkan bahwa Islam bersahaja pada masyarakat adat
Cikondang dalam bentuk integrasi sinkretik dan akulturatif.
H. Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan penelitian, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, Kehidupan manusia akan eksis apabila
menjalankan keterbukaan terhadap berbagai kebudayaan
yang masuk atau melintas dalam kehidupannya. Artinya,
bertahannya kehidupan suatu masyarakat sangat tergantung
dari keterbukaan masyarakat itu sendiri dalam menghadapi
berbagai kebudayaan luar atau asing yang dihadapinya.
Kenyataan tersebut menunjukan bahwa masyarakat tidak
berdiri tegak di atas salah satu kebudayaan, melainkan berdiri
19
diatas penggunaan beragam kebudayaan hasil internalisasi
yang dialaminya.
Kedua, proses integrasi terjadi, dikarenakan terjalin
hubungan yang erat dan fungsional antara semua unsur yang
ada, serta melalui proses dialektik antara agama Islam dengan
budaya Sunda dalam berbagai ritual keagamaan yang
terdapat pada masyarakat adat Cikondang. Hasil integrasi
agama Islam dengan budaya Sunda terungkap dalam konsep
pandangan hidup, ritual wuku taun dan ritual keagamaan
lainnya. Adapun pola hubungan integrasi agama Islam
dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang
adalah dalam bentuk integrasi sinkretik dan akulturatif,
sehingga penelitian ini menguatkan teori sinkretiknya
Clifford Geertz (1960), Andrew Beaty (1999) dan teori
akulturatifnya Mark R Woodward (1989).
Kedua, fenomena hubungan integrasi sinkretik dan
akulturatif Islam dengan budaya Sunda, menjadi salah satu
bukti bahwa eksistensi sebuah masyarakat mengakar pada
dua atau lebih kebudayaan. Perlu dicerna dan dipahami
bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil `alamiin hadir di
tengah-tengah masyarakat yang sudah sejak awal memiliki
kebudayaan tersendiri. Sehingga tidak lantas kemudian
agama Islam memberangus keberadaan budaya lokal yang
dijumpainya. Sikap yang mungkin elegan adalah melihat sisi
positif dari proses dialektik agama Islam dengan beragam
kebudayaan lokal sebagai sebuah kenyataan sejarah.
2. Saran
Ada beberapa ikhtiar atau jalan yang mungkin bisa
menjadi bahan pertimbangan, baik itu oleh masyarakat,
ormas, para pemuka agama, maupun pemerintah dalam
20
melihat fenomena hubungan agama Islam dengan budaya
Sunda.
Pertama, adanya pengakuan terhadap perbedaan. Hal
ini harus dipahami bersama bahwa perbedaan adalah sudah
menjadi hukum alam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi,
sehingga ketika melihat perbedaan pada diri seseorang, pada
masyarakat, maka munculkanlah sikap positif untuk
merespon perbedaan itu sebagai sebuah kenyataan hidup.
Kedua, perlu ditanamkan sikap saling menghormati
terhadap perbedaan yang dijumpainya. Janganlah kemudian
merasa paling benar dan menyalahkan orang lain. Hal ini
penting, karena berbagai kebudayaan yang dijumpai
terkadang suka
dibenturkan dengan keyakinanan
keberagamaan yang dipahaminya. Ketika dalam kehidupan
masyarakat, dijumpai ada kebudayaan atau ritual keagamaan
yang dipahami berbeda dengan keyakinannya, tanpa basa
basi menyebutnya bid`ah, bahkan musyrik.
Ketiga, keberagaman kebudayaan pada suatu
masyarakat adalah sebuah kenyataan hidup, oleh karena itu
sikap keterbukaan untuk menerima keberagaman tersebut
menjadi salah satu sikap yang elegan untuk menghindari
konflik sosial yang dimungkinkan terjadi.
Keempat, sikap menerima dan mengakomodir setiap
kebudayaan yang berkembang di daerah, akan memudahkan
pemerintah dalam
merealisasikan tugasnya
untuk
mensejahterakan rakyat, karena beraneka ragamnya
kebudayaan yang dimiliki oleh sebuah daerah bisa menjadi
potensi untuk merealisasikan cita-cita pemerintah
mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera.
21
DAFTAR BACAAN
Abdullah, Irwan. 2007.
Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Cetakan Ke2. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
------- et al. (eds.). 2008.
Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global.
Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM & Pustaka
Pelajar.
Adimihardja, Kusnaka. 1983.
Kerangka
Studi
Antropologi
Sosial
dan
Pembangunan, Bandung: Tarsito
-------. 2008.
Dinamika Budaya Lokal. Bandung: Indra Prahasta &
Pusat Kajian LBPB.
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1986.
Antropologi Baru. Jakarta: Dian Rakyat.
Basrowi & Sukidin. 2002.
Metode Penelitian Kualitatif; Perspektif Mikro.
Surabaya: Insan Cendekia.
Berger, Peter L. (tt.)
The Sacred Canopy. Alih Bahasa Hartono. Jakarta:
LP3ES.
Bisri, Cik Hasan et al. (eds.). 2005.
Pergumulan Islam Dengan Kebudayaan Lokal di
Tatar Sunda. Cetakan ke-1. Bandung: Kaki Langit.
Connolly, P. (ed.). 1999.
Aneka Pendekatan Studi Agama. Alih Bahasa Imam
Khoiri. Yogyakarta: LKiS.
Garna, Judistira K. 1996.
Ilmu-Ilmu Sosial Dasar-Konsep-Posisi. Bandung:
Pascasarjana Unpad.
22
Geertz, Clifford. 2001.
“Agama sebagai Sistem Budaya”, dalam Daniel L.
Pals, Seven Theories of
Religion. Alih Bahasa
Ali Noer Zaman. Yogyakarta: Qalam
Hardjasaputra, A. Sobana 2012.
Kearifan Lokal; Kearifan Leluhur Sunda Zaman
Kerajaan.
Makalah
Pada
”Seminar
Lokal
Peninggalan-peninggalan Kerajaan”. Senin 23 Januari
2012. Bandung: Ruwat Sunda.
Hadikusuma, Hilman. 1993.
Antropologi Agama. Bagian I. Bandung: Citra Aditya
Iskandar, Jusman. 2001.
Teori Sosial. Jilid I. Bandung: Program Pascasarjana
UIN Sunan Gunung Djati.
Kahmad, Dadang. 2000.
Metode Penelitian Agama (Perspektif Ilmu
Perbandingan Agama).
Bandung: Pustaka Setia.
-------. 2006.
“Agama Islam dan Budaya Sunda”, dalam Ajip
Rosidi et al. (Penyunting). Konferensi
Internasional Budaya Sunda. Jilid I. Bandung: Kiblat
Buku Utama.
-------. 2006.
Sosiologi Agama. Cetakan Ke-4. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Kasmahidayat, Yuliawan. 2010.
Agama Dalam Transformasi Budaya Nusantara.
Bandung: Bintang Warli
Artika.
Koentjaraningrat. 1990.
Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan Ke-8. Jakarta:
Rineka Cipta.
-------. 2004.
23
Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Cetakan Ke20. Jakarta: Djambatan.
Lubis, Nina H. et al. 2003.
Sejarah Tatar Sunda. Jilid I. Bandung: Satya
Historiko.
Pals, Daniel L. 2001.
Seven Theories of Religion. Alih Bahasa Ali Noer
Zaman. Yogyakarta: Qalam.
Praja, Juhaya S. (ed.). 2005.
“Hukum Islam dalam Tradisi dan Budaya Masyarakat
Sunda”, dalam
Pergumulan Islam Dengan
Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda. Cetakan Ke-1.
Bandung: Kaki Langit.
Rozak, Abdul. 2005.
Teologi Kebatinan Sunda. Bandung: Kiblat Buku
Utama.
Suryani, Elis. 2010.
Ragam Pesona Budaya Sunda. Bandung: Ghalia
Indonesia.
Syam, Nur. 2004.
Islam Pesisir. Yogyakarta: LKiS.
24
Download