Modul Pancasila [TM5]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
PANCASILA
Pancasila Sebagai Ideologi
Negara
Fakultas
Program Studi
EKONOMI
AKUNTANSI
Tatap Muka
05
Kode MK
Disusun Oleh
90037
Dr. Dadan Anugrah, M.Si
Abstract
Kompetensi
.
Pancasila dan nila-nilai yang
terkandung di dalamnya diruuskan dari
nilai-nilai bangsa Indonesia, oleh
karena itu sejakan dengan nafas
bangsa Indonesia itu sendiri. Sebagai
ideoogi, Pancasila merupakan panduan
bagi terwujudnya cita-cita luhur bangsa
Indonesia sebagaimana terdapat pada
Pembukaan UUD 1945.
Mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami dan menjelaskan
pengertian ideologi bagi bangsa dan
Negara
2. Mampu membedakan beragam
ideologi yang ada di dunia.
3. Memahami dan melaksanakan ideologi
Pancasila pada tatara kehidupan
berbangsa dan bernegara.
.
MODUL 5
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA
Bagi orang yang berhaluan kiri, tak
perlu takut bahwa Pancasila terlaslu ke
kanan, begitupun sebaliknya.
Pancasila menjadi “jalan tengah” bagi
kepungan ideologi besar dunia
(Bung Karno).
A. PENDAHULUAN
Salah satu hal penting setelah suatu bangsa merdeka adalah
menentukan apa yang disebut sebagai ideologi negara. Sebagai ideologi
nasional, Pancasila berfungsi menggerakkan masyarakat untuk membangun
bangsa dengan usaha-usaha yang meliputi dalam semua bidang kehidupan.
Pancasila tidak menentukan secara apriori sistem ekonomi dan politik, tetapi
sistem apa pun yang dipilih harus mampu menyalurkan aspirasi utama tersebut1.
Sebagai suatu ideologi, Pancasila pada hakikatnya bukan hanya
merupakan hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang
sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia.Namun pancasila diangkat dari nilanilai yang tertanam pada jati diri bangsa Indonesia, pada nilai-nilai kebudayaan
dan religious yang sudah hiup dan berkembang pada nenek moyang bangsa
Indonesia. Secara singkat dapat dikaakan banhwa Pancasila diangkat dari
pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri, sehingga ini merupakan kausa
materialis2 (asal bahan) Pancasila3.
Istilah “ideologi” pertama kali dilontarkan oleh seorang filsuf Perancis,
Antoine Destutt de Tracy pada tahun 1796 sewaktu Revolusi Perancis tengah
menggelora (Christenson, et.al., 1971: 3). Tracy menggunakan istilah ideologi
1
Lihat http://www.pusakaindonesia.org/pancasila-sebagai-ideologi-nasional/
materialis adalah bangsa Indonesia sebagai asal dari nilai-nilai pancasila. Lihat
Kaelan, 2010, hal. 104. Pada buku Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
3 Lihat Kaelan, 2010, hal. 112. Pada buku Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma
2Kausa
‘13
2
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
guna menyebut suatu studi tentang asal mula, hakikat, dan perkembangan ideide manusia, atau yang sudah dikenal sebagai “Science of Ideas”.Gagasan ini
diharapkan
dapat
membawa
perubahan
institusional
dalam
masyarakat
Perancis.Namun, Napoleon mencemoohnya sebagai suatu khayalan yang tidak
memiliki nilai praktis.Pemikiran Tracy ini sebenarnya mirip dengan impian
Leibnitz yang disebut one great system truth (Pranarka, 1987)4.
Ideologi berasal dari kata ‘idea’ dari bahasa Yunani ‘eidos’, yang berarti
‘gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita, dan ‘logos’ yang berarti ilmu. Kata
‘eidos’ berasal dari bahasa Yunani yang artinya bentuk.Ada lagi kata ‘idein’ yang
artinya melihat. Secara harfiah,ideologi dapat diartikan ilmu pengetahuan tentang
ide-ide (the science of ideas) atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar5.
Pokok-pokok pikiran yang perlu dikemukakan mengenai ideologi adalah
sebagai berikut:
1. Bahwa ideologi merupakan sistem pemikiran yang erat kaitannya dengan
perilaku manusia. Kecuali itu, ideologi merupakan serangkaian pemikiran
yang berkaitan dengan tertib sosial dan politik yang ada dan berupaya
untuk merubah atau mempertahankan tertib sosial dan politik yang
bersangkutan.
2. Bahwa ideologi, disamping mengemukakan program juga menyertakan
strategi guna merealisasikannya.
3. Bahwa ideologi dapat dipandang sebagai serangkaian pemikiran yang
dapat mempersatukan manusia, kelompok, atau masyarakat, yang
selanjutnya diarahkan pada terwujudnya partisipasi secara efektif dalam
kehidupan sosial politik.
4. Bahwa yang bisa merubah suatu pemikiran menjadi ideologi adalah
fungsi pemikiran itu dalam berbagai lembaga politik dan kemasyarakatan6.
4
Lihat http://ismail403.wordpress.com/2013/05/07/pancasila-sebagai-ideologi-nasional/
Tukiran Taniredja, dkk, 2012, hal. 81. Pada buku: Pendidikan Pancasila Untuk
Mahasiswa. Bandung: Alfabeta.
6 Lihat http://ismail403.wordpress.com/2013/05/07/pancasila-sebagai-ideologi-nasional/
5
‘13
3
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, berikut ini akan diutarakan
tentang makna ideologi7 yang lain, demikian:
1. Ideologi berarti ‘a system idea’, suatu rangkaian ide yang terpadu menjadi
satu. Dalam penggunaannya istilah ini kerapkali digunakan pada ranah
politik untuk menunjukkan nilai yang terpadu, berkenaan dengan hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Moerdiono, 1991:373-374).
2. Secara umum ideologi adalah seperangkat gagasan atau pemikiran yang
berorientasi pada tindakan yang diorgansir menjadi suatu system yangb
teratur. Dalam ideologi terkandungb tiga unsure, yaitu: (1) adanya suatu
penafsiran
atau
pemahaman
terhadap
kenyataan;
(2)
memuat
seperangkat nilai-nilai atau perspektif moral; dajn (3) memuat suatu
orientasi suatu tindakan, ideologi merupakan suatu pedoman kegiatan
untuk mewjudkan nilai-nilai yang termuat di dalamnya (Sastrapartedja,
1991:142).
3. Ideologi adalah sejumlah doktrin,kepercayaan dan symbol-syimbol
masyarakat atau suatu bangsa yang menjadi pegangan dan pedoman
kerja
untuk
mencapai
tujuan
masyarakat
atau
bangsa
itu
(Mubyarto,1991:239).
4. Idieologi adalah berintikan serangkaian nilai (norma) atau system nilai
dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki da di pegang
oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan
hidup mereka (Oesman dan Alfian,1991:239).
5. Ideologi ada 3,yaitu (a) keyakinan,dalam arti bahwa setiap ideologi selalu
menunjuk
adanya
gagasan-gagasan
vital
yang
sudah
diyakini
kebenarannya untuk dijadikan dasar dan arah strategik bagi terjadinya
tujuan yang telah di tentukan; (b) mitos,dalam arti bahwa setiap konsep
ideologi selalu memitoskan suatu ajaran yang secara optimik dan
determistik pasti akan menjamin tercapainya tujuan melalui cara-cara
yang telah ditentukan pila; (c) loyalitas, dalam arti bahwa setiap ideologi
7Lihat
Tukiran taniredja, dkk, 2010. Pada buku: Pendidikan Pancasila Untuk Mahasiswa.
Bandung: Alfabeta.
‘13
4
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
selalu menuntut keterlibatan optimal atas dasar loyalitas dari para subjek
pendukungnya ( Wibisono dalam Pasha,2003:138).
6. Ideologi dipahami sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, nilai dan
keyakinan yang ingin di wujudkan secara konkrit dalm kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Pooespowardojo,1991:22).
B. PANCASILA: IDEOLOGI NASIONAL DAN IDEOLOGI NEGARA
Fungsi Pancasila sebagai Ideologi Nasional untuk memberikan orientasi
ke depan mengharuskan bangsa Indonesia selalu menyadari situasi kehidupan
yang sedang dihadapinya. Kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi,
dan pesatnya perkembangan sarana komunikasi membuat dunia makin kecil dan
independensi di kalangan bangsa-bangsa di dunia semakin menguat.
Pembangunan nasional tidak hanya ditentukan faktor-faktor dalam negeri,
tetapi juga dikaitkan dengan faktor yang berkaitan dengan permodalan.Bangsa
Indonesia kini sedang sibuk membangun dengan usaha memecahkan masalahmasalah dalam negeri, seperti kemiskinan dan kesenjangan sosial, mau tidak
mau terseret ke dalam jaringan politik dunia yang dipengaruhi oleh kekuatan
ekonomi raksasa dunia. Tantangan itu hanya bisa diatasi apabila bangsa
Indonesia tetap mempertahankan identitasnya dalam ikatan persatuan nasional
dan mampu mengembangkan dinamikanya agar mampu bersaing dengan
bangsa lain di dunia.
Pancasila sebagai ideologi nasional termaktub pada Pembukaan UUD
1945, yaitu yang sarat dengan jiwa dan semangat perjuangan bangsa untuk
mewujudkan Negara merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur8.
Sebagai ideologi Negara, pancasila perlu dipahami
dengann latar
belakang sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai dasar Negara,
Pancasila perlu dipahami dengann latar belakang konstitusi proklamasi atau
8
Lihat Syahrial Syarbaini, 2011, hal. 56. Pada buku Pendidikan Pancasila. Bogor: Gahlia
Indonesia.
‘13
5
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
hukum dasar kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, yaitu
Pembukaan, batang Tubuh, serta Penjelasan UUD 1945.
C. PERBANDINGAN BERAGAM IDEOLOGI
Kajian ideologi terasa kurang lengkap tanpa mengkaji ideologi-ideologi besar
yang berpengaruh di dunia. Oleh karena itu pada bagian ini akan disajikan uraian
singkat tentang beberapa ideologi tersebut.
1.
Liberalisme
Dalam rangka mempertajam persepsi terhadap beberapa aliran filsafat
politik yang revolusioner, ada baiknya dikemukakan dua teori pokok garakan
revolusioner di Amerika Serikat.Pertama, teori yang dikembangkan oleh The
Founding of America yang didasarkan atas hak-hak rakyat untuk membebaskan
diri dari pemerintahan yang depotisme. Teori revolusioner ini tergolong
tradisional dengan tujuan yang sedehana yaitu ingin mengakhiri praktik-praktik
tirani dan memberikan kebebasan kepada rakyat secara penuh sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
Kedua, teori yang diemukakan Kaum Komunis di Amerika dan merupakan
kebalikan dari teori pertama.Teori ini bertuuan ingin mengakhiri kebebasan
rakyat, sekaligus membagun tirani. Inilah essensi yang sering dilupakan oleh
mereka yang hanya ingin mencari justifikasi dalam membela kaum komunis di
Amerika. Dengan kata lain, istilah yang dipergunakan sama, tetapi belum tentu
memiliki makna yang sama di mata rakyatnya.
Persoalan yang sering dilupakan dalam pembahasan filsafat politik
adalah masalah yang menyangkut hak dan wewenang pemerintah dalam
mengendalikan tingkah laku dan perbuatan warganegaranya. Apa yang boleh
dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh rakyat, biasanya ditentukan oleh
pemerintah dari masing-masing negara. Inilah sebenarnya persoalan mendasar
yang paling penting karena menyangkut kepentingan asasi dari warga negara.
‘13
6
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Liberalisme sebagai salah satu filsafat politik dan ideologi besar di dunia
memiliki hubungan yang erat dengan persoalan diatas. Edmun Burke
mengemukakan bahwa liberalisme berhubungan dengan masalah apa yang
seharusnya dilakukan oleh negara melalui kebijaksanaan umum, dan yang
seharusnya tidak dilakukan negara untuk memberikan kebebasan kepada
rakyatnya. Pada awal pertumbuhannya, liberalisme sering dikonotasikan dengan
kebebasan individu dalam setiap aspek kehidupan.Inilah arti pentingnya jaminan
terhadap hak-hak asasi manusia sehingga memungkinkan setiap orang dapat
mengembangkan potensinya.
Menurut pandangan liberalisme, negara dan politik hanya menempati
salah satu bagian dan bukan persoalan pokok dalam kehidupan manusia. Tujuan
negara semata-mata hanya mempertahankan negara apabila ada gangguan atau
serangan dari negara lain. Fungsi negara tidak lebih dari mempertahankan
hukum dan ketertiban masyarakat. Rumusan yang sesuai dengan cita-cita ini
adalah The goverment is the best which governs the best.
Liberalisme memiliki pandangan tersendiri terhadap hak dan kebebasab
warganegara.Ia mendukung pengakuan hak-hak asasi manusia sepanjang tidak
mengganggu hak-hak orang lain. Pandangan ini pada dasarnya sama dengan
yang dikembangkan bangsa Indonesia melalui ideologi pancasila. Dengan
demikian, negara paling tidak harus memberikan jaminan kepada setiap
warganegaranya untuk memilih dan menentukan agama dan kepercayaannya
sendiri, berbicara dan mengemukakan pikiran secara bebas, dan untuk bekerja
secara bebas sesuai dengan kemauan dan kemampuannya tanpa campur
tangan dari pemerintah.
Filsafat politik liberalisme tertuang dalam Bill of Rights, gagasan
konstitusionalisme, ajaran Separation of Power, dan dimanefestasikan dalam
ajaran Checks and Balance. Keempatnya dimaksudkan untuk memberikan
jaminan dan perlindungan terhadap kebebasan individu dari pelanggaranpelanggaran yang mungkin dilakukan oleh negara atau pemerintah.Akhirnya,
prinsip-prinsip pengajaran liberalisme telah berkembang menjadi suatu ideologi
dalam segala aspek kehidupan.
‘13
7
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Sebagai sebuah ideologi, liberalisme mengembangkan suatu prinsip yang
sangat mendasar sifatnya, seperti: (1) pengakuan terhadap hak-hak asasi
kewarganegaraan, (2) memungkinkan tegaknya tertib masyarakat dan negara
atas supermasi hukum, (3) memungkinkan lahirnya pemerintahan yang
demokratis, dan (4) penolakan terhadap pemerintahan totaliter.
Prinsip-prinsip tersebut kemudian diimplementasikan dalam berbagai
bidang kehidupan.Dalam bidang politik, ideologi liberal sangat menekankan pada
peranan masing-masing individu. Karena pentingnya kedudukan individu, pernah
berkembang negara hukum yang bertujuan melindungi individu dari gangguan
individu lain. Perkembangan bidang ekoomi juga ditandai dengan persaingan
yang kuat karena masing-masing individu merasa memilki hak untuk mencapai
tujuan
sesuai
dengan
kemampuan
dan
kekuatannya.
Namun,
dalam
perkembangan selanjutnya kebebasan ini telah melahirkan sikap imperealistis
dan membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kelompok masyarakat
lain. Pendek kata, yang kuat semakin kuat dan yang lemah semakin
terpuruk.Akhirnya, lahirlah kelas-kelas sosial yang pada dasarnya tidak sesuai
dengan prinsip liberalisme.
2.
Komunisme
Menurut teori aslinya, yaitu teori marx, sosialisme dan komunisme tidak
akan mungkin bisa muncul di negara-negara yang tingkat perkembangan
ekonominya belum begitu maju. Selain itu, Marx mengatakan bahwa sistem
feodal harus digantikan oleh sistem kapitalis yang ditimbulkan oleh industrialisasi.
Dalam pandangan Marx, sistem kapitalis tersebut bisa mempersiapkan kerangka
landasan untuk datangnya sosialisme dengan melalui dua cara: (1) kapitalisme
memberikan kemungkinan menigkatnya produksi melalui industrialisasi,dan (2)
kapitalisme dapat melahirkan kelas baru, yaitu kelas proletar atau buruh.
Sistem kapitalis itu sendiri, bisa saja dipimpin oleh kelas borjuis dengan
satu catatan bahwa kelas proletar semakin besar jumlahnya. Akhir dari kondisi ini
akan melahirkan kekuatan kelas proletar guna menjatuhkan atau menggantikan
kelas borjuis. Dengan demikian, kelas proletar bisa mewarisi ekonomi yang maju
dari praktek kapitalisme. Dengan asumsi bahwa kelas proletar tersebut akan
‘13
8
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
menggunakan produksi yang tinggi untuk kepentingan mayoritas kelas proletar
dan bukan demi kepentingan minoritas kelas borjuis.
Berangkat dari teori marx tersebut kita memperoleh satu kesan bahwa
negara praindustri harus diindustrilisasikan melalui kapitalis sebelum lahir atau
tumbuhnya sosialis. Kondisi semacam inilah yang memungkinkan kaum proletar
menjadi kuat dan dapat merebut kekuasaan dan menciptakan sosialisme.
Gambaran pada awal abad ke 20 menunjukkan, bahwa negara-negara
sosialis adalah negara-negara kapitalis yang paling maju, khususnya jerman dan
inggris. Di pihak lain, rusia masih feodal dengan ekonomi pertaniannya. Di rusia
proses industrialisasi baru mulai dan kaum borjuis masih lemah dibandingkan
dengan kaum ningrat yang ada. Meskipun demikian, partai komunis berhasil
merebut kekuasaan di rusia.Sementara di inggris dan jerman, hal yang demikian
tidak terjadi.Satu pertanyaan yang segera mengganggu adalah bagaimana
kenyataan berhasilnya partai komunis di suatu negara yang belum maju dapat
disesuaikan dengan teori Marx?
Menurut Marx, datangnya sosialis dapat diibaratkan dengan jatuhnya
buah yang matang dari pohon. Kalau buah sudah matang barulah bisa jatuh.
Sementara itu lenin berkeyakinan bahwa buah itu harus dan dapat direbut.
Apabila dikaitkan dengan perkembangan di Rusia belum cukup matang.Untuk itu
sebuah organisasi harus dibentuk dalam upaya merebut kekuasaan. Organisasi
yang dimaksudkan tidak lain dan tidak bukan ialah: Partai Bolshevic atau
Komunis.
Partai komunis terdiri dari segolongan kecil orang yang revolusioner dan
sangat berdisiplin. Sehubungan dengan ini, lenin mengatakan bahwa kualitas
lebih penting ketimbang kuatintas. Bahkan, untuk ini partai komunis disebutnya
sebagai “ vanguard” atau pelopor kelas proletar. Menurut Lenin pula orang bisa
sering
menginsyafi
kepentingannya
sendiri.Mereka
mirip
tubuh
tanpa
kepala.Untuk ini partai komunis sebagai kepala dari tubuh kelas proletar.Dalam
pandangannya, anggota-anggota Partai Komunis cukup memahami hukum
kesejarahan. Dengan kata lain, mereka cukup memahami bagaimana kelas
proletar merupakan kelas yang semestinya akan berkuasa. Jadi, walaupun
‘13
9
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
banyak anggota partai yang berasal dari cendikiawan daripada proletar itu
sendiri, namun golongan cendikiawan tersebut dapat mewakili kepentingan
proletar.
Lenin juga melihat bahwa kelas proletar merupakan kelas yang kecil di
Rusia.Oleh karena itu kelas proletar harus bersatu dengan petani. Persekutuan
ini haruslah dipimpin oleh kelas proletar ( dalam hal ini partai komunis). Tugas
pertama mereka adalah menjatuhkan rezim feodal, kendatipun rezim feodal itu
sendiri tidak akan diganti oleh rezim borjuis. Menurut lenin, justru persekutuan
yang dipimpin oleh proletar itulah yang harus menunaikan tugas kelas borjuis,
yaitu industrialisasi. Sesudah itu mereka baru dapat menunaikan tugasnya
sendiri, yaitu membangun sosialisme. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa
lenin bermaksud menyatukan dua tahapan yaitu kapitalis dan sosialis.
Dari ulasan yang terakhir, nampak bahwa lenin membuat beberapa revisi
yang penting dalam teori Marxisme. Pertama ia menerima prinsip bahwa arah
sejarah bisa dipercepat. Kedua, alat yang dapat mempercepat sejarah adalah
partai komunis yang mewakili kaum proletar, kendatipun diantara anggotanya
terdapat orang-orang yang bukan proletar. Ketiga, lenin menginsyafi bahwa
dalam suatu negara agraris, kelas proletar harus bersekutu dengan kelas petani.
Akhirnya lenin berkesimpulan bahwa partai komunis dapat menjalankan
industrialisasi kendati menurur Marx industrialisasi merupakan tugas kaum
borjuis dengan sistem kapitalismenya.
Revisi-revisi lenin dikembangkan pula oleh Mao Tze Tung. Diatas telah
dikatakan bahwa lenin menciptakan gagasan Vanguard of the Proletariat atau
pelopor proletar yang mewakili kelas proletar, kendatipun ada di antara
pemimpin-pemimpinnya yang bukan dari kelas proletar. Di samping itu, peranan
para politisi tidak dapat diabaikan.
Pada mulanya partai komunis cina mengikuti contoh rusia tersebut.
Dengan kata lain, semua partai ini mendasarkan kekuatannya pada kelas
proletar dan kelompok cendikiawan di kota-kota besar. Namun kenyataan yang
ada, pada tahun 1927, Chiang Kai-Shek menghancurkan partai komunis di kotakota besar.Untuk itu Mao mengembangkan satu pemikiran, bahwa revolusi cina
‘13
10
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
harus mendasarkan diri pada kelas petani.Atas dasar pertimbangan tersebut
Mao membentuk suatu tentara petani. Satu pertanyaan yang timbul sekarang
adalah, bagaimana revolusi yang diperjuangkan oleh tentara petani itu dapat
dikatakan komunis?
Memang lenin membedakan antara pelopor proletar dan kelas proletar itu
sendiri. Akan tetapi bagaimanapun juga keduanya saling bersangkutan sangat
erat. Ada orang-orang proletar yang menjadi anggota partai komunis, dan partai
komunis berpusat di kota-kota besar sehingga pemimpin-pemimpin dapat
berhubungan secara kontinyu dengan kelas proletar.
Sebelumnya Mao hanya membawa gagasan lenin sampai logical
conclution saja. Kalau pelopr proletar memahami kepentingan proletar dengan
lebih jelas dari orang proletar itu sendiri, apakah pelopor tersebut tersangkut-paut
secara fisik dengan proletar atau tidak, bukanlah persoalan yang penting.
Pokoknya pelopor itu, tidak lain adalah partai komunis yang dianggap mewakili
kelas proletar. Jadi walaupun tentara Mao terdiri dari petani dan bukan proletar,
akan tetapi ia mewakili proletar. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa
revolusi cina dipimpin juga oleh kelas proletar.
Revolusi Mao adalah bertujuan menjangkau “demokrasi rakyat”. Jika
demokrasi rakyat sudah dapat dicapai, maka sudah tidak perlu memasuki tahap
kapitalisme.Jadi perkembangan masyarakat harus melewati tahap feodalisme
menuju demokrasi rakyat, kemudian memasuki sosialisme, dan akhirnya
terwujudlah komunisme.
Demokrasi rakyat diperjuangkan oleh suatu aliansi yang terdiri dari kelas
–kelas proletar, petani, borjuis kecil, dan borjuis nasional (kaum kapitalis yang
menentang atau tidak bekerja sama dengan imperealis) aliansi tersebut dipimpin
oleh kaum proletar. Untuk ini Mao mengatakan bahwa revolusi ala cina cocok
dengan kondisi negara-negara baru.
Sejak tahun 1961, uni sovyet menganjurkan sebuah jalan yang sedikit
berbeda untuk negara-negara baru. Menurut Uni sovyet negara-negara baru
harus mencapai apa yang disebut “demokrasi nasional”. Aliansi yang
‘13
11
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
memperjuangkan demokrasi nasional terdiri dari keempat kelas yang juga
memasuki aliansi untuk demokrasi rakyat.Tetapi aliansi demokrasi nasional tidak
dipimpin oleh kelas proletar, yaitu partai komunis. Partai komunis dianjurkan
untuk bekerjasama dengan pemimpin nasional lain dan berusaha menguasai
golongan lain.
Dengan demikian, jelas bahwa teori komunis tentang berkembangnya
gerakan komunis di negara-negara baru agar berbeda dengan teori aslinya yang
dikemukakan Marx.Teori komunis sudah disesuaikan dengan realita di negaranegara baru, yaitu bahwa sebagian besar rakyat bukan kaum proletar tetapi
petani.Tetapi
kaum
petani
tersebut
tidak
yang
tergabung
revolusi.Pemimpin-pemimpinnya
dapat
memimpin
dalam
partai
suatu
komunis,
sebenarnya berasal dari kelas cendikiawan, dan bukan proletar.Jadi di negaranegara baru gerakan komunis yang berhasil terdiri dari cendikiawan dan
petani.Peranan proletar boleh dikatakan tidak begitu menonjol.
Kelihatan teori tersebut terlalu dibuat-buat.Oleh karena itu kita perlu
melihat
faktor-faktor
lain
yang
mempengaruhi
berkembangnya
gerakan
komunis.Salah satu pendapat yang sering diutarakan tentang berkembangnya
gerakan komunis di negara-negara baru adalah bahwa komunisme merupakan
akibat kemiskinan.Kalau rakyat hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan,
maka hal ini merupakan keadaan yang subur bagi komunisme.Secara logis
pendapat ini masuk akal.Semestinya yang paling miskin menjadi yang paling
kurang puas sehingga tidak mungkin mengikuti gerakan komunis yang ingin
merombak masyarakat secara keseluruhan.
Akan tetapi, dalam prakteknya tidak selalu demikian. Misalnya, di india
tidak semua daerah yang paling terbelakang mendukung komunis. Justru di
daerah-daerah
yang
paling
terbelakang,
petani-petani
berpikiran
paling
tradisional. Kalau kita melihat negara-negara yang paling tradisional seperti
saudi arabia, meskipun rakyat miskin sekali tetapi tidak ada gerakan komunis.
Seringkali sikap narimo (menerima dengan pasrah) sangat kuat diantara orang
yang miskin sekali. Jadi bukanlah kemiskinan sendiri yang menimbulkan gerakan
komunis.
‘13
12
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ada sebuah teori tentang timbulnya gerakan komunis yang berdasarkan
pada proses detradisional. Komunisme tidak dipandang sebagai reaksi terhadap
kemiskinan melainkan sebagai reaksi terhadap perubahan yang terlalu pesat dan
kurang teratur.Dalam masyarakat tradisional semua orang merasa sebagai
bagian dari masyarakat.Mereka mempunyai suatu kedudukan yang tidak dapat
dirubah sehingga merasa aman.Secara ekonomis orang menderita, tetapi
penderitaannya diterima sebagai nasib.Tetapi sesudah masyarakat dipengaruhi
modernisasi, masyarakat tradisional seringkali dikacaukan melalui meluasnya
komunikasi, penjajahan, pendidikan modern, industri modern, dan lain-lain.
Setelah dipengaruhi oleh modernisasi mereka dapat melihat cara-cara kehidupan
lain yang merupakan alternatif yang kelihatan bagus. Orang-orang menjadi
kurang puas dan frustasi.Ketidakpuasan dan frustasi ini dapat dilihat dari dua
sisi.Pertama, orang-orang berfrustasi secara materiil. Mereka ingin menjadi kaya
seperti orang lain. Kedua, mereka frustasi dengan nilai-nilai baru.Pada zaman
yang kacau, orang perlu ideologi yang dapat menerangkan tentang dunia modern
yang kelihatan kacau. Sering kepercayaan agama tidak cukup meyakinkan,
sehingga orang tidak saja memberi jalan untuk menjadi kaya tetapi juga sebagai
pegangan yang dapat meredakan ketakutan akan kekacauan di dunia modern.
3.
Fasisme
Istilah fasisme dikembangkan dari istilah latin “fasces” yang merupakan
simbol kekuasaan pada jaman romawi kuno. Di italia dikenal pula istilah “fascio”
dengan arti dan konotasi yang sama. Fasisme sebagai gerakan politik muncul di
italia setelah perang dunia I dan sempat menguasai negara itu dari tahun 1922
sampai dengan tahun 1943.Tetapi sebelum itu, telah dikenal istilah “fasci” yang
sering diartikan sebagai kelompok politik yang memperjuangkan tujuan-tujuan
tertentu. Fasisme sebagai gerakan politik lebih eksklusif sifatnya setelah
dikaitkan dengan gerakan-gerakan yang diorganisir oleh benito mussolini pada
tahun 1919.
Dalam banyak hal, fasisme yang dikembangkan Mussolini dan Nazisme
oleh Hitler sangat dipengaruhi oleh pemikiran Fichte dan Hegel. Dalam hubungan
ini bisa dikatakan bahwa fasisme tidak lain merupakan perkembangan radikal
dari teori negara Hegel. Dalam suatu kesempatan, Hegel pernah mengemukakan
‘13
13
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bahwa pengorbanan yang diberikan individu kepada negaranya merupakan
ikatan substansial antara negara dengan seluruh anggotanya.Dengan demikian,
pengorbanan tersebut dapat dipandang sebagai manifestasi dari tugas individu
kepada bangsa dan negaranya. Fasisme juga cenderung menganut moralisme
ideal yang selalu didengungkan Hegel dan diperjuangkan pula oleh kant, Fichte,
Green, Calyle, ataupun Mazzini. Sesuai dengan ajaran tersebut orang
seyogyanya lebih menuntut kebajikan daripada memenuhi kesenangan pribadi.Ia
harus lebih mementingkan tugas dan kewajibannya daripada menuntut hak
semata-mata, dan pengorbanan diri atas nama masyarakat tidak harus
dilaksanakan atas dasar kepentingan diri sendiri (selfinterest).
Bertitik tolak dari pemikiran-pemikiran itulah, fasisme dan nazisme
memandang liberalisme sebagai satu ajaran dan gerakan yang lebih berorientasi
kepada pemuasan kebutuhan materiel dengan mengabaikan soal-soal moral dan
spiritual.Sebaliknya, fasisme menganggap ideologi mereka lebih mendasarkan
diri pada nilai-nilai spiritual dan loyalitas daripada sekedar pemenuhan kebutuhan
perseorangan. Selain itu fasisme bukanlah ideologi yang bersifat dogmatis dan
kaku, akan tetapi merupakan ideologi yang luwes dimana ajaran-ajarannya
diterima sebagai suatu kenyataan darurat sesuai dengan suasana yang ada
dalam masyarakat dan negara yang ada. Hakikat fasisme adalah kepercayaan
dan instink, dan bukannya akal atau ajaran.
Fasisme menolak dengan tegas gerakan Pasifisme, akan tetapi lebih
menyukai bentuk-bentuk kekerasan. Mereka juga menolak demokrasi dan
liberalisme dengan segala macam pranata pendukungnya.Sebaliknya fasisme
cenderung mendekati nasionalisme dan imperealime, serta lebih tertarik kepada
tradisi-tradisi jaman romawi.
Negara dalam pandangan fasis dianggap terlepas dan ada diatas setia
perintah moral.Negara berdiri diatas semua individu dan mempunyai nilai yang
lebih tinggi dibanding individu.Kebebasan individu dibatasi untuk memberikan
perhatian
sepenuhnya
terhadap
negara.Negara
adalah
diatas
segala-
galanya.Negara mempunyai peranan sangat penting dalam membentuk individuindividu
yang
tercakup
didalamnya.Untuk
itu
negara
harus
melakukan
pengawasan mutlak kepada setiap aspek kehidupan individu, yang meliputi
‘13
14
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pendidikan, kehidupan ekonomi, dan memaksakan tercapainya keselarasan
antara kerja dan modal.Dari segi inilah nampak bahwa fasisme menolah
sosialisme-Maxist maupun kapitalisme.Dibawah fasisme hak milik perseorangan
dipertahankan sepanjang pemakainya diletakkan dibawah kekuasaan negara.
Perang dunia I, dalam mana italia baru terlibat pada tahun 1915, ternyata
banyak memerlukan waktu dan biaya yang lebih besar dari yang diperkirakan
sebelumnya.Kendati demikian, italia sendiri boleh dikatakan tidak memperoleh
keuntungan sebagaimana yang diharapkan, malahan membawa berbagai ekses
dalam kehidupan masyarakat dan negaranya.Perang yang berkepanjaangan dan
menghabiskan biaya besar tersebut, banyak menimbulkan keresahan dalam
berbagai kalangan.
Sejalan dengan itu banyak pemikiran dan gagasan dilontarkan orang, dan
tidak sedikit pula usaha-usaha yang dilakukan untuk mencoba mengatasi
keadaan tersebut.Namun demikian, usaha tersebut tidaklah semudah yang
diperkirakan orang.Banyak tantangan berat yang harus dihadapi, terlebih lagi
dengan melihat struktur ekonomi negara yang sudah sedemikian parah, serta
tersendat-sendatnya
pelaksanaan
sistem
demokrasi.Tantangan-tantangan
tersebut lebih diperberat lagi dengan belum berhasilnya parlemen melaksanakan
tugas-tugasnya dengan memuaskan.
Konsekuensi logis dari krisis semacam itu, adalah timbulnya berbagai
organisasi ataupun gerakan politik yang bersifat ilegal. Dan muncul kekhawatiran
baru di kalangan menengah ke atas akan kemungkinan masuknya komunisme
yang biasanya lebih berhasil dalam situasi semacam itu. Saat-saat seperti itu,
banyak perhatian mulai diarahkan kepada diri Benito Mussolini, yang pada masamasa sekitr itu boleh dianggap sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam
gerakan sosialis italia sampai dengan tahun 1914 yang membawa negara
tersebut masuk dalam kancah perang dunia I.
Dalam bulan maret 1919, Mussolini mengorganisir gerakan yang disebut
“Fasci di Comattimento”.Pada masa-masa awal pendiriannya, organisasi tersebut
hanya memperoleh sedikit kemajuan. Bahkan dalam pemilihan bulan november
1919, misalnya, Mussolini secara tragis mengalami kekalahan di milan yang
‘13
15
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sebenarnya dianggap sebagai basisnya. Akan tetapi bermula pada kegagalan
tersebut, masa-masa berikutnya diisi dengan segala keberhasilan.Pada bulan
oktober 1922 Mussolini dengan Fasci-nya benar-benar bisa menguasai jaringan
politik di italia.
Dengan hanya bersandar pada berbagai pernyataan Mussolini, sulit bagi
kita untuk memperoleh gambaran apa sebenarnya yang dikendaki oleh fasisme
di masa-masa yang akan datang. Akan tetapi secara umum dapat ditarik satu
pengertian bahwa dalam jangka pendek fasisme ingin segera memulihkan
kondisi yang ada pada saat itu. Asisme bukan sekedar sistem pemikiran yang
terintegrasi, akan tetapi secara gradualmenjelma sebagai respon terhadap situasi
dan kondisi yang sudah berlangsung. Hal yang demikian ini sangat wajar apabila
kita tilik dari kelahiran fasisme itu sendiri.
Lebih jauh dikemukakan, bahwa konflik antar kelas sosial dalam satu
negara sebenarnya hanya membuang-buang tenaga dan memperlemah energi
nasional yang justru sangat diperlukan dalam perjuangan menghadapi negara
lain. Dalam pandangan fasisme, bangsa adalah realitas politik yang hidup, dalam
mana setiap individu mengembangkan dirinya sendiri.Usaha-usaha perdamaian
antar bangsa yang dilansir di masa-masa lalu oleh Liga Bangsa Bangsa hanya
dipandang sebelah mata dan bahkan dianggap sebagai impian kaum utopis yang
berlebihan.
Cara pandang seperti itu mau tidak mau memberikan justifikasi terhadap
upaya pengembangan konsep kekuatan, kekerasan dan bahkan brutalitas.Dan
memang konsep-konsep inilah yang nampaknya cukup dominan dalam ajaran
fasis.Cara pandang semacam itu juga mempunyai konsekuensi dalam hal
penyikapan terhadap eksistensi negara yang ternyata lebih mengarahkan kepada
pengembangan
totalitarian
anti
demokrasi.Negara
dipandang
sebagai
perwujudan tertinggi dari bangsa.Untuk itu kepentingan semua individu harus
disubordinasikan demi kekuatan dan kemulian negara.Negara mempunyai hak
untuk mengadakan pengawasan dan mengatur semua aktivitas anggotaanggotanya.Hal yang terakhir berbuntut pada upaya pemberangusan segala
bentuk oposisi dan dilegalisirnya negara satu partai.Struktur partai bertumpu
pada alur hierarkis, dimana otoritas langsung mengalir sari atas.Secara demikian
‘13
16
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
cara-cara diktatur adalah satu hal yang tidak bisa dihindarkan dan boleh
dikatakan sebagai konsekuensi logis dari struktur partai semacam itu.Fasisme
juga menggunakan konsep “corporate state”, dimana setiap kelompok fungsional
dalam masyarakat hanya boleh diwakili oleh satu organisasi yang nota bene
harus direstui oleh pemerintah.Dengan demikian pemerintah lebih mudah
mengendalikan segala bentuk gerakan rakyat.
4.
Ideologi Pancasila
Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup sekaligus juga
sebagai ideologi negara.Sebagai ideologi negara berarti bahwa pancasila
merupakan
gagasan
negara.Sebagaimana
dasar
setiap
yang
ideologi
berkenaan
memiliki
dengan
konsep
kehidupan
mengenai
wujud
masyarakat yang di cita-citakan, begitu juga dengan ideologi pancasila.
Masyarakat yang di cita-citakan dalam ideologi pancasila ialah masyarakat yang
dijiwai dan mencerminkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila,
yaitu masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan serta bertoleransi,
menjunjung tiggi nilai-nilai kemanusiaan, masyarakat yang bersatu dalam
suasana perbedaan, berkedaulatan rakyat dengan mengutamakan musyawarah,
serta masyarakat yang berkeadilan sosial. Hal itu berarti bahwa pancasila bukan
hanya sesuatu yang bersifat setatis melandasi berdirinya negara Indonesia, akan
tetapi pancasila juga membawakan gambaran mengenai wujud masyarakat
terteentu yang diinginkan serta prinsip-prinsip dasar yang harus diperjuangkan
untuk mewujudkanya.
Pancasila sebagai ideologi negara membawakan nilai-nilai tertentuyang
digali dari realitas sodio budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu maka ideologi
pancasila membawakan kekhasan tertentu yang membedakannya dengan
ideologi lain. Kekhasan itu adalah keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa,
yang membawa konsekuensi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa. Kemudian juga penghargaan akan harkat dan martabat kemanusiaan,
yang diwujudkan dengan penghargaan terhadap hak azasi manusia dengan
memperhatikan prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban. Kekhususan
yang lain adalah bahwa ideologi pancasila menjunjung tinggi persatuan bangsa
itu diatas kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Berikutnya dalah
‘13
17
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang didasarkan pada prinsip
demokrasi dengan penentuan keputusan bersama yang diupayakan sejauh
mungkin melalui musyawarah untuk mencapai kata mufakat.Satu hal lagi yaitu
keinginan untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan bersama seluruh
masyarakat Indonesia.
Kalau setiap ideologi mendasarkan diri pada sistem filsafat tertentu yang
berisi pandangan mengenai apa dan siapa manusia, kebebasan pribadi serta
keselarasan hidup bermasyarakat; ideologi pancasila mendasarkan diri pada
sistem pemikiran filsafat pancasila, yang didalamnya juga mengandung
pemikiran mendasar mengenai hal tersebut.
E.
Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia mengandung nilai-nilai dan
gagasan-gagasan dasar yang dapat dilihat dalam sikap, perilaku, dan
kepribadian bangsa Indonesia.Pancasila sebagai ideologi bersifat khas sebagai
refleksi
perilaku
bangsa
kehidupannya.Nilai-nilai
Indonesia
dasar
dan
tersebut
tercermin
bersifat
dalam
setiap
dinamis.Artinya,
segi
upaya
pengembangan sesuai dengan perubahan dan tuntutan masyarakat bukan
sesuatu yang tabu sehingga nilai-nilai dasar itu tidak menjadi beku, kaku, dan
melahirkan sikap fanatik yang tidak logis. Atas dasar pemikiran tersebut, bangsa
indonesia telah menetapkan pancasila sebagai ideologi terbuka.
Menurut alfian, suatu ideologi yang baik harus mengandung tiga dimensi
agar supaya dapat memelihara relevansinya yang tinggi terhadap perkembangan
aspirasi masyarakat dan tuntutan perubahan zaman.Kehadiran tiga dimensi yang
saling berkaitan, saling mengisi, dan saling memperkuat itu menjadikan suatu
ideologi yang kenyal dan tahan uji dari masa ke masa. Ketiga dimensi yang
harus dimiliki oleh setiap ideologi yang terbuka adalah: (1) dimensi realitas, (2)
dimensi idealitas, dan (3) dimensi fleksibilitas/pengembangan (Oetojo Oesman
dan Alfian, 1993: 192)9
9Bacaan
lengkap tentang perbandingan ideologi ini telah disediakan oleh
http://ismail403.wordpress.com/2013/05/07/pancasila-sebagai-ideologi-nasional/.Bisa
‘13
18
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pancasila merupakan pilihan final bangsa Indonesia sebaai ideologi
nasional maupun Negara.Nilai-nilai yangb terkandung di dalamnya tidak perlu
diragukan
lagi
karena
sejalan
dengan
nilai-nilai
luhur
bangsa
Indonesia.Persoalan yang paling mendasar saat ini adalah pada tataran
implementasinya. Saat ni kita kehilangan panutan (role model) yang secara nyata
menjalankan Pancasila secara murni dan konsekuen.
juga dilihat pada Syahrial Syarbaini, 2011, hal.58-62. Pada buku Pendidikan pancasila.
Bogor: Ghalia Indonesia.
‘13
19
PANCASILA
Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download