Mengatasi mual - Yayasan Spiritia

advertisement
Mengatasi mual
Mual, atau rasa tidak enak pada perut, adalah keadaan yang umum tetapi tidak nyaman. Rasa mual dapat
berupa jijik ringan sampai keinginan kuat untuk muntah. Mual bukan penyakit, tetapi sekadar gejala dari
suatu masalah lain. Mual merupakan efek samping umum dari banyak obat yang dipakai untuk
penanganan penyakit HIV. Mual juga dapat disebabkan oleh stres, sakit kepala, makanan basi, virus di
perut, bau yang tidak enak, terlalu banyak atau sedikit makan atau minum, alkohol, narkoba, dan mual di
waktu pagi pada ibu hamil.
Walaupun setiap orang mengalami mual dari waktu ke waktu, mual terus-menerus dapat mengganggu
mutu hidup kita. Mual dapat mempersulit makan, minum dan pemakaian obat, yang sering kali
mengakibatkan obat tidak dipakai sesuai resep. Untuk itu, adalah penting bagi kita untuk mencegah dan
mengendalikan rasa mual.
Penyebab dan petunjuk
Mual yang terkait dengan obat disebabkan oleh banyaknya obat, termasuk obat anti-HIV dan obat yang
dipakai untuk mengobati infeksi terkait HIV. Jenis mual ini umumnya paling parah selama beberapa
minggu pertama saat memulai obat baru, sebelum tubuh terbiasa dengannya. Bagi sebagian besar orang,
mual berkurang atau hilang sebagaimana tubuh menyesuaikan dengan pengobatan baru. Biasanya
keadaan ini bertahan selama 4-6 minggu. Dalam kasus lain, mual berkembang waktu kombinasi obat baru
dipakai pada waktu yang sama. Beberapa obat jauh lebih mungkin menyebabkan mual dibanding yang
lain.
Jika mual terjadi tanpa ada perubahan obat baru, kemungkinan ini bukan efek samping obat. Jika mual
terus-menerus atau lebih buruk walaupun ada upaya untuk mengobatinya, mual mungkin
memberitahukan bahwa kita terkena infeksi, terutama jika disertai gejala lain seperti demam, diare, sakit
perut, dll. Pada perempuan, mual dapat menjadi pertanda awal kehamilan. Mual juga bisa disebabkan atau
diperburuk oleh unsur gaya hidup dan hal sehari-hari yang lain, seperti diet, ragi, bau, sakit kronis, dll.
Mengatasi mual
Mencegah dan mengatasi mual membantu memastikan kita mampu untuk makan makanan dan memakai
obat secara memadai. Umumnya, sebaiknya kita mencoba dahulu untuk mengendalikan mual melalui
perubahan praktis dan diet. Sering kali ini efektif dan umumnya tidak menambah risiko efek samping lain
yang mungkin.
Namun, jika mual tidak membaik dengan jenis perubahan ini, obat antimual mungkin membantu. Dalam
kasus mual parah terkait obat yang terus-menerus atau semakin buruk meskipun kita berusaha
mengendalikannya, mungkin perlu menghentikan atau mengubah terapi. (Lihat ‘Mengubah atau
menghentikan terapi’ di bawah.)
Mencatat dan mengingat kapan mual terjadi dan apa yang mungkin memicunya (makanan tertentu,
pagi/siang/sore, suasana) dapat memberi kita informasi yang kita perlukan untuk mencegah atau
mengurangi rasa mual di masa mendatang. Kita juga dapat menceritakan informasi ini kepada dokter.
TIP: Jika kita tahu mual cenderung terjadi di pagi hari – sediakan cracker atau jenis makanan lunak lain
dekat tempat tidur. Setelah bangun, bersandarlah pada bantal dan secara perlahan makan beberapa
cracker. Lakukan dengan santai kurang lebih selama 10 atau 15 menit. Ini dapat meringankan rasa mual
dan merupakan cara yang baik untuk memulai hari.
Masalah makanan
Bila kita HIV-positif, makan sebagaimana mestinya adalah penting untuk mempertahankan berat badan
dan memperoleh gizi yang kita perlukan agar tetap sehat. Namun, dapat menjadi sulit untuk makan
secukupnya bila kita merasa mual atau tidak mampu menahan makanan. Dalam beberapa kasus, bahkan
bau, rupa, dan rasa makanan dapat memicu mual.
Dokumen ini didownload dari situs web Yayasan Spiritia http://spiritia.or.id/
Mengatasi mual
Menentukan kapan waktu makan dan makanan apa yang biasanya memicu mual dapat membantu
mencegahnya di masa mendatang. Banyak minuman dan makanan yang dapat membantu mengekangnya.
Cobalah makanan dan minuman berbeda untuk menentukan mana yang cocok untuk Anda. (Lihat
‘Makanan yang membantu’ di bawah). Simpan beberapa jenis makanan dan minuman ini pada tempat dan
waktu mual mungkin menyerang (kamar tidur, dapur, mobil, tas, tempat kerja).
TIP: Jika mual cenderung terjadi saat sarapan pagi, cobalah untuk bersantai di pagi hari dan sediakan
makanan yang siap santap kapan pun Anda lapar. Coba breakfast bar, roti bakar kering atau panaskan
kembali bubur gandum yang disiapkan malam sebelumnya. Pertimbangkan untuk tidak memasak sarapan
pagi karena melihat dan mencium makanan di pagi hari dapat memicu mual.
Makanan yang membantu
Pertimbangkan tip berikut ini untuk membantu mengatasi mual. Anjuran ini cocok bagi yang lain.
• Simpan cracker dekat tempat tidur. Sebelum bangun dari ranjang pada pagi hari, makanlah sedikit
cracker dan duduk di tempat tidur selama beberapa menit.
• Isap/sedot minuman soda, seperti 7-Up, Sprite atau kola yang sejuk, jangan dingin.
• Coba teh peppermint (Mentta piperta), chamomile (Maticaria chamomilla) atau jahe – dapat
melegakan perut.
• Hindari makanan yang panas, pedas, berbau kuat dan berlemak yang dapat mengganggu perut.
• Makan makanan pada suhu ruangan atau lebih sejuk; makanan panas dapat menambah rasa mual.
• Coba pakai kapsul bubuk akar jahe yang tersedia di toko makanan kesehatan. Jahe dapat mengurangi
gejala terkait mabuk perjalanan, seperti pusing, mual, dan muntah.
• Jahe segar, yang dimasak ringan atau dijus dengan buah atau sayuran seperti wortel atau apel adalah
tambahan, baik untuk diet, dan sama manjurnya dengan jahe kering.
• Coba diet pisang, nasi, saus apel dan roti panggang (Banana, Rice, Applesauce and Toast – BRAT).
• Hindari dehidrasi waktu mual dengan minum sedikit minuman sejuk dan jernih setiap kurang lebih 15
menit. Lalu secara berangsur-angsur kembali mulai makan secara wajar dengan menyesap air setiap
beberapa menit. Tingkatkan pemasukan sampai dapat tahan menerima makanan kecil.
• Jika muntah, ganti cairan dengan sop, minuman soda, jus, atau es lilin.
Masalah-masalah praktis
Bila mual dipicu oleh sesuatu selain obat atau masalah kesehatan lain, selidiki kemungkinan adanya
pemicu lain. Selain makanan tertentu, ini mungkin mencakup bau, rupa atau stres. Pantau pemicu ini dan
coba hindari atau kurangi.
Penyebab sehari-hari? Coba yang berikut ini:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Hindari bau yang mengganggu, seperti asap, parfum, atau bau makanan tertentu.
Hindari suara bising dan bentuk atau bayangan tertentu, seperti sorotan TV.
Banyak beristirahat. Coba tidur waktu siang. Mual cenderung memburuk jika kita capek.
Bangun secara perlahan, dan jangan berbaring segera setelah makan.
Minum cairan dengan sedotan dapat membantu kita terhindar dari gerakan yang mengganggu.
Jika diganggu oleh bau masakan, buka jendela atau, jika mungkin, minta orang lain untuk memasak
makanan.
Hindari makan dalam ruangan yang sesak, terlalu panas atau berbau masakan.
Makan makanan sambil duduk pada meja daripada berbaring di ranjang, dipan atau lantai.
Hindari hal-hal yang menggerus lambung, seperti alkohol, aspirin, dan rokok.
Coba kurangi stres dengan bersantai, berolahraga, berbincang-bincang dengan teman, dll.
Pertimbangkan apakah sikap kita terhadap atau perasaan mengenai obat yang dipakai meningkatkan
rasa mual. Setelah memakai banyak obat selama beberapa tahun, beberapa Odha merasa mual hanya
dengan melihat sebotol pil.
Coba sinsei atau akupunktur atau akupresur/pijat refleksi.
Minta dokter meresepkan obat antimual.
–2–
Mengatasi mual
Obat antimual
Bila mual tidak berkurang atau hilang dengan perubahan praktis atau diet, obat antimual (misalnya
metoklopramid atau Primperan) dapat membantu. Dokter mungkin meresepkan obat penawar atau
penurun kesadaran seperti diazepam, lorazepam dan Marinol (dronabinol – yang berasal dari bagian
psikoaktif mariyuana, disebut THC). Beberapa orang melaporkan berhasil dalam mengatasi mual dengan
memakai mariyuana medis. Akhirnya, granisetron dan ondansetron merupakan obat antimual terbaru. Jika
mual menghambat kita untuk memakai atau menahan pil, beberapa obat antimual tersedia dalam bentuk
supositoria (obat yang dimasukkan melalui dubur) yang bekerja dengan cepat dan dapat diandalkan.
Bicarakan dengan dokter tentang risiko dan manfaat obat antimual. Meskipun mereka mungkin
mengurangi rasa mual, mereka juga mungkin memiliki efek samping sendiri. Beberapa tidak dianjurkan
untuk dipakai selama kehamilan. Jika sudah memakai obat untuk mengobati HIV, pertimbangkan apakah
menambah resep lagi adalah sesuatu yang mampu dan ingin kita lakukan. Pelajari tentang kemungkinan
efek samping obat antimual waktu dipakai dengan terapi yang kita pakai untuk penyakit HIV.
Mengubah atau menghentikan terapi
Kadang-kadang orang yang mengalami efek samping parah – seperti mual terus-menerus – akan
mengganti beberapa obat anti-HIV-nya untuk memperbaiki mutu hidupnya, walaupun obat pertama dapat
mengendalikan HIV dengan baik. Ini adalah satu cara untuk mengatasi efek samping terkait obat tertentu.
Mengganti obat semata-mata karena efek samping juga dapat menempatkan obat itu sebagai pilihan
pengobatan di masa mendatang. Sebenarnya, efek samping yang kita alami dengan suatu obat pada satu
waktu mungkin tidak akan terjadi lagi jika atau bila kita mencoba obat itu lagi di masa mendatang.
Namun, berbahaya untuk sekadar menghentikan pemakaian satu obat dalam rejimen kita, untuk hanya
kadang-kadang dipakai atau mengurangi dosis tanpa membahasnya terlebih dulu dengan dokter dan ahli
farmasi kita. Ini dapat merugikan dengan menyebabkan resistansi terhadap obat, yang membuat obat itu –
dan mungkin yang lain yang menyerupainya – kurang bermanfaat untuk kita sekarang dan di masa
mendatang.
Catatan mengenai kehamilan dan “mual di waktu pagi”
Mual atau “mual di waktu pagi” selama kehamilan adalah wajar dan biasanya hanya merupakan masalah
selama triwulan pertama. Namun, ibu hamil yang hidup dengan HIV dapat mengalami kesulitan luar
biasa dengan mual. Bisa jadi ini diakibatkan perpaduan dampak perubahan hormon tubuh, penggunaan
obat anti-HIV dan, kemungkinan, penyakit HIV itu sendiri.
Sekali lagi, mual pada triwulan pertama adalah wajar. Tetapi jika itu terus-menerus terjadi sampai
triwulan kedua (minggu 13-26), atau jika sama sekali tidak dapat menahan makanan atau kehilangan berat
badan, pertimbangkan untuk segera menemui dokter. Ini bisa menjadi pertanda masalah yang lebih parah.
Akhirnya, petunjuk praktis dan gizi yang tercakup dalam artikel ini juga berlaku untuk ibu hamil.
Bicarakan dengan dokter tentang kemungkinan bahaya memakai obat antimual selama kehamilan.
Kesimpulan
Rasa mual dalam perut dapat merupakan efek samping pengobatan HIV yang mengganggu atau gejala
tidak nyaman beberapa masalah lain. Untungnya, sering kali ada jalan keluar sederhana untuk
mengurangi mual. Untuk menentukan apa jalan keluar ini, memerlukan sedikit perencanaan dan upaya,
tetapi bisa sangat bermanfaat.
Artikel asli: Coping with Nausea, Januari 2007 http://www.projectinform.org/fs/nausea.html
Sumber: Project Inform
–3–
Download