sumber hukum internasional

advertisement
 Materiil:
bahan-bahan/materi yang
membentuk atau melahirkan kaidah atau
norma yang mempunyai kekuatan mengikat;
dan menjadi acuan bagi terjadinya sebuah
perbuatan hukum.
 Formal:
menentukan prosedur pembuatan
hukum (siapa, bagaimana), dan bagaimana
hukum materiil ditegakkan.
Article 38 (1) of the ICJ Statute
The Court, whose function is to decide in
accordance with international law such disputes as
are submitted to it, shall apply:
a.
b.
c.
d.
International Convention, whether general or
particular, establishing rules expressly recognized
by the contesting states;
International Custom, as evidence of a general
practice accepted as law;
The General Principles of law recognized by
civilized nations;
Subject to the provisions of Article 59, judicial
decisions and the teachings of the most highly
qualified publicists of the various nations, as
subsidiary means for the determination of rules of
law.
VCLT (1969), art. 53, treaty menjadi batal
bila bertentangan dengan norm of general
international law. Maka, bukan hierarkis,
tapi:
1.
2.
Sumber a dan b: sumber dari hukum positif.
Sumber c dan d: sumber dari hukum alam.
Sumber hukum utama/primer :
1.
perjanjian internasional;
2.
hukum kebiasaan internasional;
3.
prinsip-prinsip hukum umum;
Sumber hukum tambahan/subsidier :
1.
keputusan pengadilan;
2.
ajaran para sarjana terkemuka;
1.
2.
3.
4.
5.
Customary international law;
Treaty;
Decisions of judicial/ arbrital tribunal;
Juristic works;
Decisions or determinations of the organ of
international institutions;
1.
Customary internasional law adalah
fundamental dari hukum perjanjian
internasional;
2.
Customary law principle “pacta sunt
servanda” yang memberikan efek mengikat
dari sebuah Treaty.
Art. 38(1)(b) Statuta ICJ: “International
Custom, as evidence of a general practice
accepted as law”
State practice:
USSR, Breznev Doctrine (1968) Vs. US, Grenada
Intervention (1983)
1.
Usage: praktek umum negara yang tidak
menimbulkan kewajiban hukum;
2.
Comity: sopan santun dalam hubungan
internasional;
3.
Custom: praktek umum yang dilakukan
berulang-ulang dan diterima sebagai
hukum;
“International Custom, as evidence of a
general practice accepted as law”
1.
2.
3.
4.
Opinio Juris;
Duration;
Uniformity and Consistency;
Generality;
1.
A believe that a certain practice is
obligatory as a matter of law.
2.
A conviction felt by states that a certain
form of conduct is required or permitted
by international law
The Lotus Case (1927) “conscious of having a
duty to abstain”.
The Asylum Case (1950)
North Sea Continental Shelf Cases (1969)
“reservation to a treaty”.
1.
Long duration;
2.
Short Duration cukup bila state practice
telah secara nyata dan meluas menjadi
uniform;
North Sea Continental Shelf Cases (1969)
1.
Uniformity: tindakan oleh negara-negara
pada praktiknya tidak jauh berbeda antara
satu negara dengan lainnya.
2.
Consistency: terhadap kasus yang sama,
praktik olek negara-negara tidak terdapat
kontradiksi dan perbedaan.
1.
Dijalankan secara meluas dan umum di
antara mayoritas negara-negara;
2.
Kebiasaan yang dijalankan oleh sebagian
area atau dijalankan oleh beberapa
negara tertentu tidak dapat dikatakan
sebagai kebiasaan internasional bagi
seluruh negara di dunia;
The Anglo-Norwegian Fisheries Case
(1951): Persistent Objector Vs.
Subsequent Objector
Kebiasaan internasional
(1) ↓
Hukum Kebiasaan Internasional (2)
(2) ↓
Perjanjian Internasional (1)
(3) ↓
Hukum Internasional

Aspek historis;

Aspek fungsional;

Aspek kepastian hukum;
VCLT (1969) Art. 2:
“ An international agreement concluded
between states in written form and governed
by international law, whether embodied in a
single instrument or in two or more related
instruments and whatever its particular
designation”





Adanya subyek hukum internasional:
a. Negara, VCLT (1969) Art. 2(1)a
b. OI, VCOI(1986) Art. 2(1)a
Diatur oleh hukum internasional.
Mempunyai akibat hukum.
Adanya kehendak untuk diikat.
Adanya persetujuan untuk diikat dalam
perjanjian yang diwujudkan dalam bentuk
ratifikasi.
 Treaty;
 Agreement;
 Convention;
 Charter;
 Arrangement;
 Protocol;
 Declaration;
 Memorandum
of Understanding;
 Modus Vivendi;
 Exchange of Note;

Participant: Multilateral Treaty
Bilateral Treaty

Structure:
Law Making Treaty
Treaty Contract

Object:
Politic
Economic

Validity:
Self Executing
Non-self Executing
1.
Bilateral Treaty: treaty contract / contractual
treaties.
2.
Multilateral Treaty: law making treaty.
3.
“Legislative” treaties.
Treaty contract / Contractual treaties:
1.
Lebih merupakan sumber “kewajiban”
daripada “sumber hukum”.
2.
Tidak disusun untuk menciptakan prinsipprinsip hukum yang mengatur tingkah laku
para pihak.
3.
“Kontrak” seperti halnya kontrak privat.
Contoh: Perjanjian ekstradisi, Perjanjian
Kerjasama Keamanan, Perjanjian
Perbatasan.
Law Making Treaty:
1.
Menciptakan “legal principles” yang dipakai
untuk mengatur tindakan para pihak terhadap
pihak lainnya dalam treaty.
2.
Sumber hukum internasional langsung.



Treaty of Rome 1957 (EEC)
The UN Charter
UNCLOS 1982

Treaties concluded by some states which
purports to determine the law and
obligation incumbent upon other states
that are not parties.

PI yang dibuat oleh beberapa negara
untuk menentukan hukum dan kewajiban
yang dimiliki oleh negara-negara bukan
pihak.
VCLT Art. 34 Vs. The UN Charter Art. 2(6)
Art. 38(1)(c) “The General Principles of law
recognized by civilized nations”.
1.
asas hukum umum yang diakui oleh bangsabangsa yang beradab;
2.
tidak hanya hukum internasional saja, tetapi
asas hukum pada umumnya;
a.
b.
c.
untuk mencegah non-liquet, memberikan
jalan bagi ICJ untuk menggunakan prinsipprinsip hukum yang digunakan oleh
pengadilan nasional;
kedudukan Mahkamah Internasional menjadi
lebih kuat;
bermanfaat bagi perkembangan hukum
internasional;
 Lord
Walter Phillimore: Rules of procedure,
basic principle of legal conduct (ex: good
faith, res judicata, nemo judex in causa
sua);
 Unarguable,
 Universal;
incontrovertible;
 Equity:
General principle of justice.
Flexible disposition of cases according to
ideas of fairness rather than to the strict
application of rules of law.
 Ex
aequo et bono: Psl. 38(2) Statuta ICJ
“Ketentuan pada ayat 1 tidak mengurangi
kekuasaan hakim untuk memutuskan suatu
perkara berdasar keadilan (ex aequo et
bono) apabila para pihak menyetujuinya”.
 Jus
Cogens: Psl. 53 VCLT (1969), norma
hukum yang tidak dapat diubah.
 Digunakan
dalam keadaan mendesak untuk
keadilan;
 Mekanisme untuk menyelesaikan persoalan
yang seharusnya diisyaratkan oleh hukum;
 Secara teoritik dibagi dalam 3 fungsi: (1).
mengadaptasi ketentuan hukum terhadap
fakta dalam kasus tertentu (equity infra
legem), (2).mengisi kekosongan hukum
(equity praeter legem),(3). Alasan untuk
tidak ditetapkannya sebuah hukum yang
tidak adil (equity contra legem);
 The
International Court of Justice has
decided that Malaysia shall have the
sovereignty over Pulau Sipadan and Pulau
Ligitan based on the principle of
“effectivitee”.
 British authorities have carried out
concrete administrative acts as a reflection
of its sovereignty over the islands.
 Ordinance on birds sanctuary, collection of
levis on collection on turtles eggs since the
1930s and the operation of life houses since
the early 1960s.
Art. 38(1)(d) ICJ Statute: Subject to the
provisions of Article 59, judicial decisions and
the teachings of the most highly qualified
publicists of the various nations, as subsidiary
means for the determination of rules of law.



The decision of the ICJ is binding only on the
parties in the particular case;
Tidak menganut prinsip “stare decisis”;
ICJ sebagai “law-determining” agencies dan
bukan “law-creating”.
Anglo-Norwegian Fisheries Case (1951),
measuring T. Sea
 ICJ,
decision dan advisory opinion;
 The
Court of Justice of the European
Communities;
 European
 Arbitral
Court of Human Rights;
Decision;

Mare liberum ( Hugo Grotius) Vs.
Mare clausum (John Selden) (battle of
books)

Cornelis von Bynkershoek: terrae
protestas finitur ubi finitur armorum vis.

Art. 13(1)a UN Charter;

International Law Commission (ILC);
Draft articles on Responsibility of States for internationally
wrongful acts adopted by the International Law Commission
at its fifty-third session (2001)

Resolusi Majelis Umum PBB, berakibat pada
timbulnya Deklarasi yang kemudian dituangkan
menjadi Konvensi.
Elimination of the Forms of Racial Discrimination Convention
(1963)
 2005
- United Nations Convention on the
Use of Electronic Communications in
International Contracts dan 2001 UNCITRAL Model Law on Electronic
Signatures (Undang-undang ITE);
 1985
- UNCITRAL Model Law on
International Commercial Arbitration
(Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan APS);
TERIMA KASIH
Download