BAB II

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Global Warming
Pemanasan global atau global warming adalah kejadian meningkatnya
temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Temperatur rata-rata global
pada permukaan Bumi telah meningkat kurang lebih 0,74 sampai 0,18 °C ( ± 1,33
sampai
0,32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan
temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas
manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh
setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains
nasional dari negara-negara G8. Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek
IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1,1 hingga
6,4 °C (2,0 hingga 11,5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Adanya beberapa hasil
yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari
emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan
sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian
memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air
laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat
emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari
lautan. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan
perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya
intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola
presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil
pertanian, hilangnya gletser, gunung es dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana
pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari
satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik
dan publik di dunia mengenai tindakan apa yang harus dilakukan untuk
mengurangi pemanasan atau berusaha untuk beradaptasi terhadap konsekwensi -
konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah
menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada
pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
2.1.1 Penyebab Timbulnya Global Warming
a. Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari.
Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek,
termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan bumi, ia
berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan
bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.
Sebagian dari panas ini sebagai radiasi inframerah gelombang panjang ke
angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi
akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air,
karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi
ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang
yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di
permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan
suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca.
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer,
semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek
rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di
bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. "Global
Warming,"sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan
tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer,
pemanasan global menjadi akibatnya.
b. Efek Umpan Balik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh
berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah
pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas
5
rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih
banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan
gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap
air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air.
Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh
akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan
kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan
atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik
ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia
yang panjang di atmosfer.
Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek
penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi
infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek
pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan
memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga
meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau
pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan
ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam
model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan
jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125
hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan
IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada
peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap
positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam
Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[3]
Umpan
balik
penting
lainnya
adalah
hilangnya
kemampuan
memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat,
es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus
meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air
dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan
memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan
akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan
6
menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair,
menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. Umpan balik positif akibat
terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah
mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es
yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik
positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila
ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada
zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada
fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
c. Variasi Matahari
Grafik 1.1 Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari matahari,
dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi
kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini
dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas
matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan
mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak
telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas
matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. ( Penipisan lapisan
ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan
tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970 - an ). Fenomena variasi matahari
dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan
efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek
pendinginan sejak tahun 1950.
7
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi
matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuwan
dari Duke University mengestimasikan bahwa matahari mungkin telah
berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global
selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.
Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan
pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah
kaca dibandingkan dengan pengaruh matahari, mereka juga mengemukakan
bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah
dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa
bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh matahari
sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade
terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan
Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan
tingkat "keterangan" dari matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus
matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat
"keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk
berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood
dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan
global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari
output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.
2.2 Taman Nasional Bali Barat
2.2.1 Sejarah Kawasan dan Sejarah Organisasi TNBB
Pada tanggal 24 Maret 1911 seorang biologiawan dari Jerman, Dr.
Baron Stressman yang terpaksa mendarat karena kapal Ekspedisi Maluku II
rusak di sekitar Singaraja selama ± 3 bulan, menemukan burung Jalak Bali
sebagai spesimen penelitiannya di sekitar Desa Bubunan ± 50 Km dari
Singaraja. Kemudian pada tahun 1025 dilakukan observasi intensif oleh Dr.
Baron Viktor von Plesen, atas pendapat Stressman yang melihat Jalak Bali
sangat langka dan berbeda dengan jenis lain dari seluruh spesimen yang dia
8
peroleh, dan diketahui penyebaran Jalak Bali hanya mulai Desa Bubunan
sampai ke Gilimanuk seluas ± 320 Km2.
Untuk melindungi keberadaan spesies yang sangat langka yaitu burung
Jalak Bali dan Harimau Bali, berdasarkan SK Dewan Raja-Raja di Bali
No.E/I/4/5/47 tanggal 13 Agustus 1947 menetapkan kawasan hutan
Banyuwedang dengan luas 19.365,6 Ha sebagai Taman Pelindung Alam /
Natuur Park atau sesuai dengan Ordonansi Perlindungan Alam 1941
statusnya sama dengan Suaka Margasatwa.
Kawasan hutan Bali Barat dipandang memenuhi syarat untuk
pengembangan hutan tanaman dibandingkan dengan bagian lain di Propinsi
Bali (Menurut Brigade VIII Planologi Kehutanan Nusa Tenggara Singaraja,
Tahun 1974). Sehingga sejak tahun 1947/1948 sampai dengan 1975/1976 di
RPH Penginuman telah dilakukan pengembangan hutan tanaman dengan
jenis Jati, Sonokeling, dan rimba campuran seluas 1.568,24 Ha. Tahun
1968/1969 sampai dengan 1975/1976 dikembangkan hutan tanaman Kayu
Putih dan Sonokeling di RPH Sumberkima serta pada tahun 1956/1957 di
RPH Sumberklampok telah dilakukan penanaman Sawo Kecik, Cendana,
Bentawas, Sonokeling, dan Talok seluas 1.153,60 Ha. Dalam pelaksanaan
penanaman ini dilakukan perabasan dan eksploitasi beberapa jenis hutan
evergreen Sumberrejo dan Penginuman dan tebang pilih hutan alam Sawo
Kecik di Prapat Agung.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDh Tk. I Bali No.
58/Skep/EK/I.C/1977 tahun 1977 tanah Swapraja Sombang seluas 390 Ha
ditambahkan ke dalam kawasan sebagai pengganti kawasan yang terpakai
untuk pembangunan Propinsi Bali dan kemudian SK Menteri Pertanian No.
169/Kpts/Um/3/1978 tanggal 10 Maret 1978 menetapkan Suaka Margasatwa
Bali Barat Pulau Menjangan, Pulau Burung, Pulau Kalong dan Pulau
Gadung sebagai Suaka Alam Bali Barat seluas 19.558,8 Ha.
Deklarasi Menteri Pertanian tentang penetapan Calon Taman Nasional
Nomor 736/Mentan/X/1982 kawasan Suaka Alam Bali Barat ditambah hutan
9
lindung yang termasuk ke dalam Register Tanah Kehutanan (RTK) No. 19
dan wilayah perairan sehingga luasnya mencapai 77.000 Ha terdiri dari
daratan 75.559 Ha dan wilayah perairan ± 1.500 Ha. Namun pengelolaan
UPT Taman Nasional Bali Barat sesuai SK Menteri Kehutanan No.
096/Kpts-II/1984 tanggal 12 Mei 1984 secara intensif hanya seluas 19.558,8
Ha daratan termasuk hutan produksi terbatas (HPT) dengan pembagian
zonasi menjadi zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona
penyangga.
Adanya konflik kewenangan di dalam kawasan TNBB, dimana
pengelolaan HPT seluas 3.979,91 Ha adalah kewenangan Dinas Kehutanan
Provinsi Bali, sehingga berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 493/KptsII/1995 tanggal 15 September 1995 luas Taman Nasional Bali Barat hanya
sebesar 19.002,89 Ha yang terdiri dari 15.587,89 Ha wilayah daratan dan
3.415 Ha wilayah perairan sampai sekarang.
Penataan kawasan pengelolaan TNBB sesuai fungsi peruntukannya
telah ditetapkan berdasarkan SK Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam
No.186/Kpts/Dj-V/1999 tanggal 13 Desember 1999 tentang pembangian
zonasi sebagai berikut :
a. Zona Inti : merupakan zona yang mutlak dilindungi, tidak
diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh
aktivitas manusia kecuali yang berhubungan
dengan
kepentingan
penelitian
dan
ilmu
pengetahuan , meliputi daratan seluas 7.567,85
hektar dan perairan laut seluas 455.37 hektar.
b. Zona Rimba : merupakan zona penyangga dari zona inti, dapat
dilakukan kegiatan seperti pada zona inti dan
kegiatan wisata alam terbatas, meliputi daratan
selauas 6.009,46 hektar dan perairan laut seluas
243.96 hektar.
c. Zona Pemanfaatan Intensif : dapat dilakukan kegiatan seperti
pada kedua zona di atas, pembangunan sarana dan prasarana
pariwisata alam dan rekreasi atau penggunaan lain yang menunjang
10
fungsi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,
meliputi daratan seluas 1.645,33 hektar dan perairan laut seluas
2.745.66 hektar.
d. Zona Pemanfaatan Budaya : zona ini dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan terbatas untuk kepentingan budaya atau relegi ,
seluas
245,26
hektar
yang
digunakan
untuk
kepentingan
pembangunan sarana ibadat umat Hindu. Pada zona ini dapat
dikembangkan dan dimanfaatkan terbatas untuk kepentingan
budaya dan relegi. Terletak di daratan Taman Nasional Bali Barat
di Pulau Menjagan, Teluk Terima, Prapat Agung, Bakungan dan
Klatakan.
2.2.2 Fungsi, Arti Penting dan Potensi Kawasan
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, yang dapat dimanfaatkan
untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya, pariwisata
dan rekreasi. Tiga sasaran pokok kegiatan konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya :
1. Menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem
penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan kesejahteran
manusia.
2. Terkendalinya cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga
terjamin kelestarian manfaatnya.
3. Terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistem
sehingga mampu menunjang pembangunan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Taman Nasional Bali Barat mempunyai luas 19.002,89 ha. terdiri dari
kawasan terestrial seluas 15.587,89 ha. dan kawasan perairan selaus 3.415 ha
dan sebagai salah satu kawasan kawasan konservasi, pengelolaan Taman
Nasional Bali Barat (TNBB) ditujukan untuk :
1. Perlindungan populasi Jalak Bali beserta ekosistem lainnya seperti
ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem hutan pantai
11
dan ekosistem hutan daratan rendah sampai pegunungan sebagai sistem
penyangga kehidupan terutama ditujukan untuk menjaga keaslian,
keutuhan dan keragaman suksesi alam dalam unit-unit ekosistem yang
mantap dan mampu mendukung kehidupan secara optimal.
2. Pengawetan keragaman jenis flora dan fauna serta ekosistemnya
ditujukan untuk melindungi, memulihkan keaslian, mengembangkan
populasi dan keragaman genetik dalam kawasan TNBB dari gangguan
manusia.
3. Pemanfaatan secara lestari Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya
ditujukan untuk berbagai pemanfaatan seperti:
 sebagai laboratorium lapangan bagi peneliti untuk pengembangan ilmu
dan teknologi.
 sebagai
tempat
pendidikan
untuk
kepentingan
meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan bagi masyarakat.
 obyek wisata akan pada zona khusus pemanfaatan yang dapat dibangun
fasilitas pariwisata.
 menunjang budidaya penangkaran jenis flora dan fauna dalam rangka
memenuhi kebutuhan protein, binatang kesayangan dan tumbuhan obat
-obatan.
Potensi TNBB meliputi berbagai jenis flora dan fauna liar, yang
berstatus langka, dilindungi maupun yang keberadaannya masih melimpah,
habitat dan letak geomorfologinya serta keindahan alamnya yang masih
dalam keadaan utuh. Ekosistem di dalam kawasan TNBB cukup potensial
dan lengkap yang meliputi perairan laut, pantai dan pesisirnya, hutan dataran
rendah sampai pegunungan merupakan habitat alami bagi hidupan liar yang
juga menunjukkan tingginya keanekaragaman hayati antara lain terumbu
karang dan biota laut lainnya, vegetasi mangrove, hutan rawa payau, savana
dan hutan musim. Flora dan fauna yang cukup beragam, sampai saat ini telah
diidentifikasi 176 jenis flora meliputi pohon, semak, tumbuhan memanjat,
menjalar, jenis herba, anggrek, paku-pakuan dan rerumputan. Untuk jenis
fauna terdiri dari 17 jenis mamalia, 160 jenis burung (aves), berbagai jenis
reptil dan ikan.
12
BAB III
METODOLOGI
Metode penulisan adalah suatu tatacara atau metode – metode ilmiah yang
digunakan dalam penyusunan laporan, karya ilmiah, karya tulis, jurnal ilmiah dan
sebagainya. Adapun metode – metode yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :
1. Metode Pengumpulan Data
1.1 Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan adalah metode yang menggunakan buku –
buku serta sumber – sumber tertulis baik di media cetak, buku dan
alamat website yang berhubungan dengan permasalahan. Sehingga
data – data informasi yang penulis susun dalam karya tulis ini adalah
sesuai fakta – fakta yang dipaparkan sumber tertulis tersebut.
1.2 Metode Observasi
Metode observasi adalah metode pengamatan lapangan yang
dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang kenyataan yang
terjadi di lapangan ( objek penelitian ). Pengamatan ini dilakukan
secara visual melalui pengamatan langsung dengan mata telanjang
tanpa alat bantu.
1.3 Metode Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan
melakukan tanya jawab dengan informan yang berkompeten dalam
permasalahan. Wawancara
dapat
dilakukan
dengan bertatapan
langsung atau melalui media komunikasi.
2. Metode Pengolahan Data
1.1 Metode Komparatif
Metode
Komparatif
adalah
metode
dimana
penulis
membandingkan data – data yang ada baik secara kepustakaan,
observasi dan wawancara untuk menarik suatu simpulan yang logis dan
sesuai dengan fakta di lapangan.
13
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Dampak Pemanasan Global
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari temperatur, pola
presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global.
Berdasarkan model tersebut, para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan
mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut,
pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia. Untuk lebih
jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
1. Perubahan Cuaca
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah
bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas
lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan
mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di
perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju
ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah
subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih
cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur
pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang
menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban
tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih
jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca,
sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer.
Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih
banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa
luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air).
Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata,
sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di
14
seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir
ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap
dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari
sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang
berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari
penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang
terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca
menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
2. Peningkatan Tinggi Permukaan Air Laut
Grafik. 1.2 Perubahan tinggi rata-rata tinggi permukaan air laut
diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,
terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut.
Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi)
selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih
lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di
daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen
daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau.
Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan
mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan.
Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk
15
melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin
hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh
dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan
terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun.
Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades
3. Pengaruh Terhadap Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi
yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini
sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai
contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan
dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi
kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah
pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh
dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang
berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan
masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga
dan penyakit yang lebih hebat.
4. Pengaruh Terhadap Hewan dan Tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar
dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia.
Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub
atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya,
mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan
tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesiesspesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota
atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang
tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan
musnah.
16
5. Pengaruh Terhadap Kesehatan Manusia
Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak
orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah
penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang
diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin
meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu
dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di
mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase
itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakitpenyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam
dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi
meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih
hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
4.2 Keterkaitan Taman Nasional Bali Barat Terhadap Laju Pemanasan Global
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa pemanasan global
dipengaruhi oleh beberapa factor seperti efek rumah kaca, efek umpan balik dan
variasi matahari. Namun tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keberadaan hutan saat
ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap laja perubahan suhu (
pemanasan global ). Hutan – hutan yang semestinya merupakan areal yang
mampu menjadi kawasan hijau dan dapat menjadi sarana penyerap emisi karbon
yang potencial. Pada kenyataannya saat ini hutan tidak dapat mengfungsikan
dirinya sebagai habitat makhlik hidup maupun penyerap emisi karbon karena dari
hari ke hari hutan – huta ndi dunia berkurang sedikit demi sedikit.
Di Indonesia, laju kerusakan hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun dari
total luas hutan yaitu seluas 120 juta hektar yang tersebar di seluruh pelosok
Indonesia. Dari total luas hutan tersebut, sekitar 57 sampai 60 juta hektar sudah
mengalami degradasi dan kerusakan sehingga sekarang ini Indonesia hanya
memiliki hutan yang dalam keadaan baik kira-kira seluas 50% dari total luas yang
ada. Kondisi semacam ini apabila tidak disikapi dengan arif dan segera dilakukan
upaya-upaya penyelamatan oleh pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia
17
maka dalam jangka waktu dua dasawarsa Indonesia akan sudah tidak memiliki
hutan lagi (Mangrove Information Center, 2006).
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terluas
di dunia mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia (18 juta
hektar) yaitu seluas 4.5 juta hektar atau sebanyak 3,8 % dari total luas hutan di
Indonesia secara keseluruhan. Sedikitnya luas hutan mangrove ini mengakibatkan
perhatian Pemerintah Indonesia terhadap hutan mangrove sangat sedikit juga,
dibandingkan dengan hutan darat. Kondisi hutan mangrove juga mengalami
kerusakan yang hampir sama dengan keadaan hutan-hutan lainnya di Indonesia
(Mangrove Information Center, 2006).
Penebangan hutan baik hutan darat maupun hutan mangrove secara berlebihan
tidak hanya mengakibatkan berkurangnnya daerah resapan air, abrasi, dan bencana
alam seperti erosi dan banjir tetapi juga mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi
dan pembentukan gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen O2 yang diperlukan
manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Semua hutan di dunia tidak dapat menghindarai perusakan manusia yang
bertujuan mengeksploitasi kekayaan hutan semata tidak terkecuali hutan – hutan
di Indonesia dan Bali. Kita mengetahui bahwa Bali memiliki suatu Taman
Nasional yaitu Taman Nasional Bali Barat yang berwujud hutan dengan berbagai
tipe vegetasi dan jenis hutan seperti hutan mangrove, hutan hujan, hutan musim,
hutan Madang rumput dan hutan savana-lontar dengan lahan seluas kurang lebih
19.000 hektar yang makin hari makin menyempit karena perambahan liar yang
dilakukan manusia.
18
Seperti yang kita dapat amati saat ini apabila melakukan perjalanan ke
Gilimanuk melalui Taman Nasional Bali Barat maka kita dapat melihat
keberadaan huatan yang kini telah berubah menjadi rumah dan ladang yang
dimiliki oleh saudara – saudara kita yang merupakan Ex – transmigran Timor –
Timur. Mereka tidak hanya membuka areal di pinggir jalan yang terlihat Namur
juga melakukan pembabatan pada areal – areal yang dilarang. Selain itu juga
mereka melakukan penebangan liar dengan alasan untuk memperoleh kayu bakar.
Selain itu Taman Nasional Bali Barat juga memiliki kendala – kendala lain
seperti :
1. Berdasarkan klasifikasi Schmidth dan Ferguson, Taman Nasional Bali
Barat mempunyai tipe D dan E dengan curah hujan yang rendah
menyebabkan kawasan ini rawan terjadi kebakaran terutama pada musim
kemarau. Hal inilah yang sangat kaitannya dengan seiring bertambahnya
suhu muka bumi yang akan mengakibatkan Hutan Taman Nasional Bali
Barat menjadi sangat rawan kebakaran. Hal ini dapat mengganggu
ekosisitem yang ada. Selain itu gas – gas hasil terbakarnya hutan akan
dapat memicu peningkatan suhu yang lebih tinggi ( timbal balik hutan
terhadap global warming ).
2. Aksesibilitas yang begitu terbuka baik dari darat maupun lewat perairan,
menyulitkan penjagaan untuk mencegah kegiatan perusakan sumber daya
alam hayati yang merupakan bagian dari potensi kawasan. Hal ini
berdampak pada mudahnya para penebang dan perambah hutan untuk
masuk ke kawasan dan melakukan hal – hal yang ilegal.
3. Sumberdaya manusia yang terlibat dalam pengelolaan Taman Nasional
Bali Barat masih perlu ditingkatkan untuk mampu disatukan visi dan
misinya di dalam mendukung pola pengelolaan TNBB yang pada saat ini
mulai merintis pola Co- Management. Juga diperlukan kerjasama yang
sinergis antara pengelola kawasan dengan masyarakat yang tingla
menempati kawasan Taman Nasional Bali Barat.
4. Pada saat ini pendekatan pengaman kawasan TNBB yang menekankan
kepada kegiatan patroli kawasan dan penegakan peraturan serta
pendekatan sentralistik dalam pengelolaan konservasi dan belum berbasis
19
masyarakat, menyebabkan pengelolaan kawasan konservasi ini menjadi
sangat mahal dari segi finansial dan sosial
5. Terbatasnya
dana
untuk
pengembangan
dan
pemeliharaan
dan
pengamanan potensi kawasan Sehingga pihak – pihak yang tidak
bertanggung jawab mudamemasuki kawasan dan melakukan tindakan
perusakan hutan.
6. Sosial ekonomi masyarakat di beberapa daerah penyangga masih relatif
rendah yang ditandai dari tingkat pendidikan serta ketergantungan pada
pemanfaatan sumber daya hutan yang ada, menyebabkan masih rendahnya
kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai konservasi. Hal ini yang memicu
masyarakat untuk melakukan perambahan hutan dan melakukan kegiatan –
kegiatan ilegal yang dapat berakibat terhadap terganggunya ekosistem
hutan di kawasan Taman Nasional Bali Barat.
Kendala – kendala ini cukup sulit untuk dihadapi sehingga hutan di Taman
Nasional Bali Barat dari tahun ke tahun mengalami penyusutan luas kawasan.
Penyusutan hutan ini akan mengurangi kemampuan hutan untuk menyerap emisi
karbon sehingga penyusutan hutan di kawasan Taman Nasional Bali Barat akan
berpengaruh terhadap laju peningkatan suhu global ( terjadi kenaikan suhu bumi ).
Tidak hanya itu tetapi kenaikan suhu atau pemanasan global akan memberikan
suatu timbal balik yang dapat berdampak buruk bagi kawasan TNBB seperti
kemungkinan terjadinya kebakaran hutan akan meningkat, terjadi kepunahan
beberapa spesies hewan dan tumbuhan, dan berpengaruh secara umum terhadap
ketinggian permukaan air laut di Bali. Pada intinya Taman Nasional Bali Barat
tidak hanya akan menerima dampak dari pemanasan global melainkan akan
menjadi pendonor meningkatnya suhu bumi apabila kondisi hutan di kawasan
taman nasional kian memburuk.
4.3 Upaya – Upaya yang Dapat Dilakukan
1. Menghilangkan Emisi Karbon dengan Reboisasi dan Alternatif Lain.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di
udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih
banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya,
20
menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui
fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia,
tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di
banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah
kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti
untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk
mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan
dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung.
Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumursumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan
(lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk
mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan
batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan
pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa
ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke
aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran
bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat
sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi
sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi
pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa
digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan
bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi
jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan
karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila
dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi
terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbondioksida
ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan
dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbondioksida
sama sekali.
21
2. Adanya Kerjasama dan Kesepakatan Internasional
Kerjasama
internasional
diperlukan
untuk
mensukseskan
pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di
Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas
rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu
perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara
merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol
Kyoto.
Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada
38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam
melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat
5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai
paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan
diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan
pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa,
yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen;
dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara
berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi
gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru
terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk
pengurangan karbondioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia
juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang
tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbondioksida ini. Kyoto
Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang
bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca
pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi
ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian
ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari
2005.
22
Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan
jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi
bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan
yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara
berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan
separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini
memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di
Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri
batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung
pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya
ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat
menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi.
Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang
diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi
serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke
peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.
Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat,
ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah
dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit
dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga
pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi
gagal
untuk
memenuhi
targetnya
dalam
mengurangi
produksi
karbondioksida.
Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol
Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum
terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan
pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para
negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program
pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual
hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut
perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi
hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat
23
diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang
memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990,
ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi.
Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di
bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke
negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.
Saat ini di Bali tengah berlangsung Konfrensi Tingkat Tinggi
PBB yang membahas mengenai Pemanasan Global dan perubahan iklim.
Konfrensi ini diharapkan mampu memberikan suatu hal yang positif dan
dapat menjadi jalan keluar untuk maslah pemanasan global ini.
3. Kebijakan – Kebijakan Pemerintah
Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Indonesia melalui
Departemen Kehutanan mengeluarkan beberapa kebijakan (policy) yang
diharapkan mampu menyelamatkan kekayaan alam berupa hutan tropis
yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Salah satu kebijakannya adalah
tentang upaya penyelamatan hutan mangrove yang selanjutnya pada tahun
1992 dibentuk Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Center).
Taman Nasional Bali Barat memiliki kawasan hutan mangrove yang cukup
luas dimana hutan mangrove ini dapt dimanfaatkan untuk mengurangi
dampak pemanasan global bagi Bali.
Mangrove Information Center (MIC) merupakan proyek kerjasama
antara Pemerintah Indonesia melalui Proyek Pengembangan Pengelolaan
Hutan Mangrove Lestari dan Pemerintah Jepang melalui Lembaga
Kerjasama Internasional Pemerintah Jepang melalui Japan International
Corporation Agency (JICA).
Proyek kerjasama ini terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama
dimulai pada tahun 1992 dan berakhir tahun 1997. Pada tahapan ini,
Pemerintah Jepang mengirim team untuk melakukan identifikasi hal-hal
apa saja yang dibutuhkan dan dilakukan. Dari hasil identifikasi ini,
dibentukalan team bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah
24
Jepang dan selanjutnya sepakat untuk membangun Proyek Pengelolaan
Hutan Mangrove Lestari. Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mengekplorasi teknik-teknik reboisasi yang bisa dilakukan untuk
pemulihan (recovery) kondisi hutan mangrove yang sudah mengalami
kerusakan.
Teknik yang ditemukan adalah tentang bagaimana cara persemaian
bibit dan penanaman mangrove. Selain itu, diterbitkan juga buku panduan
penanaman mangrove. Hasil yang dicapai pada tahap ini adalah penentuan
model pengelolaan hutan mangrove lestari, penerbitan beberapa buku
seperti; buku panduan (guide book) persemaian bibit dan penanaman
mangrove, buku-buku yang berkaitan dengan mangrove, dan reboisasi atau
penanaman mangrove seluas 253 hektar di kawasan Taman Hutan Raya
(TAHURA).
Usaha reboisasi hutan mangrove yang telah dilakukan oleh The
Mangrove Information Center memiliki arti yang sangat penting bagi
masyarakat di Kawasan Taman Nasional Bali Barat karena persediaan
untuk konsumsi oksigen sudah tersedia di tempat ini dan meningkatkan
rasa aman dari bencana tsunami bagi masyarakat yang berdekatan dengan
hutan mangrove tersebut. Selain itu, kesadaran dan kepedulian masyarakat
terhadap pentingnya pelestarian hutan mangrove semakin meningkat. Ini
dibuktikan dengan semakin banyaknya sekolah-sekolah (dari sekolah dasar
sampai perguruan tinggi) dan industri pariwisata dengan secara sukarela
untuk ikut serta menanam pohon mangrove di beberapa tempat seperti di
kawasan Taman Nasional Bali Barat, kawasan konservasi The Mangrove
Information Center dan Pulau Serangan yang bibit-bibit pohon
mangrovenya disediakan oleh pihak The Mangrove Information Center.
Usaha lain yang dilakukan oleh The Mangrove Information Center untuk
meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya
pelestarian lingkungan adalah dengan membuka kegiatan wisata alam
(ecotourism) sehingga masyarakat dapat melihat, menikmati dan
berinteraksi dengan lingkungan secara langsung di kawasan hutan
mangrove dan Taman Nasional Bali Barat tersebut.
25
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Pemanasan global atau global warming adalah kejadian meningkatnya
temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Temperatur rata-rata global
pada permukaan Bumi telah meningkat kurang lebih 0,74 sampai 0,18 °C ( ± 1,33
sampai
0,32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan
temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas
manusia" melalui efek rumah kaca. Global warming sangat berpengaruh kepada
beberapa hal, antara lain :
1. Terjadinya perubahan iklim
Peningkatan suhu di bumi dapat mempengaruhi suhu dimana iklim gurun
dapat menghangat dan suhu daerah tropis dapat seperti di daerah gurun.
2. Meningkatnya permukaan air laut.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,
terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut.
Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10
inchi).
3. Mempengaruhi pertanian, kesehatan manusia dan kehidupan makhluk
lain.
Makhluk di bumi akan dipaksa untuk beradaptasi lagi terhadap iklim yang
berubah di lingkungannya. Hal ini dapat berakibat kepada punahnya
beberapa makhluk.
Penyebab meningkatnya suhu di permukaan bumi ada beberapa faktor anatar
lain adalah efek rumah kaca, efek umpan balik dan variasi matahari. Selain itu
diperparah lagi dengan keadaan hutan – hutan dunia yang mulai hancur karena
penjarahan. Tidak hanya hutan – hutan belantara, bahkan hutan lindung dan
26
kawasan konservasi seperti Taman Nasional Bali Barat juga tidak luput dari
kegiatan perusakan lingkungan.
Kita bersama – sama diharuskan melakukan kegiatan penyelamatan
lingkungan seperti melakukan reboisai pada lahan – lahan gundul, melakukan
proteksi terhadap hutan secara maksimal dan menggunakan bahan bakar hemat
energi.
5.2 Saran
Adapun saran – saran yang dapat penulis ajukan adalah sebagai berikut :
1. Melakukan reboisasi pada lahan – lahan gandul dan pekarangan rumah.
2. Menjaga kelestarian hutan – hutan lindung dan taman nasional.
3. Bersama – sama memproteksi keberadaan hutan dari pembalakan liar.
4. Menggunakan bahan bakar hemat energi.
5. Membatasi kegiatan yang menghasilkan emisi karbon secara besara –
basaran melalui kesepakatan internacional ( Protokol Kyoto ).
27
Download