klasifikasi ilmu dalam islam - Institutional Repository UIN Syarif

advertisement
INTEGRASI EPISTEMOLOGI ILMU-ILMU
DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
Oleh Muhbib Abdul Wahab
‫ملخص البحث‬
.‫إن من أسباب التخلف الحضاري اإلسالمي انشقاق العلوم إلى العلوم الدينية والدنيوية‬
‫ وكانت التربية اإلسالمية تجعل العلوم وحدة‬.‫ اهلل العليم‬،‫والحق أن العلوم مصدرها الحق‬
‫ ومن ثم فإن توحيد إبستيمولوجية العلوم في‬.‫متكاملة من حيث المصدر وطرق التحصيل والغاية‬
‫ضوء اإلسالم ضروري يستوجب المؤسسات التربوية محاوالت جدية في سبيل صياغة مناهج‬
‫ وعلى الرغم من أن تقسيم العلوم عبر تاريخ‬.‫التحصيل والبحث العلمي صياغة شاملة ومتكاملة‬
‫ إال أن العلوم المدروسة في‬،‫التربية اإلسالمية متطور ومتباين بحسب وجهات النظر إليها‬
‫المؤسسات التعليمية اإلسالمية بحاجة ماسة إلى تطويرها من خالل تنمية البحوث العلمية‬
‫ وترسيخ العقيدة في نفوس الطالب ترسيخا يمكنهم من بلورة القيم اإلسالمية وتجليتها‬،‫الجدية‬
.‫بممارسة األخالق الفاضلة في أوساط الحياة العلمية والعملية‬
Kata Kunci: Integrasi epistemologi, klasifikasi ilmu, komitmen spiritual dalam
penelitian, pengembangan pendidikan Islam.
―Kita tak perlu malu mengakui kebenaran dan mengambilnya dari sumber
manapun datangnya, bahkan kalaupun kebenaran itu dibawa kepada kita oleh
generasi-generasi terdahulu dan bangsa-bangsa asing. Sebab bagi pencari
kebenaran tak ada nilai yang lebih tinggi dari kebenaran itu sendiri. Kebenaran tak
pernah menghindar dari orang-orang yang mau menerimanya. Kebenaran tak
pernah menghinakan orang yang menerimanya, melainkan selalu membuatnya
mulia.‖ [al-Kindi]1
A. Pendahuluan
Pernyataan al-Kindi (801-868 M) tersebut merupakan sebuah ekspresi yang
tulus dari seorang pencari kebenaran yang sejati. Orang yang paling mulia adalah
orang yang selalu berusaha mencari kebenaran, termasuk kebenaran ilmu, karena
memang kebenaran itu dapat mengantarkan manusia kepada pengetahuan tentang alHaqq (Yang Maha Benar), pengetahuan tentang Kebenaran sejati.

Penulis adalah dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
1
Seyyed Hossein Nashr, Three Muslim Scholars, (Cambridge: Harvard University Press,
1964), First Edition, h. 11.
1
Dalam konteks itu, Islam merupakan agama yang sangat mendorong dan
mendukung tegaknya kebenaran, rasionalitas, dan ilmu pengetahuan (al-‘ilm), karena
Nabi Saw. sendiri menyatakan bahwa ―Agama (Islam) adalah akal (rasionalitas),
maka tidak dikatakan beragama orang yang tidak mendayagunakan akalnya.‖ (HR.
Ibn Hibbân). Beberapa ayat al-Qur‘an juga menunjukkan pentingnya ilmu
pengetahuan dan kedudukan ulama. Di antaranya adalah firman Allah: ―… Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu di antara kamu
beberapa derajat...” (QS. al-Mujâdilah [58]:11) ―Hanya para ulama-lah di antara
hamba-hamba-Nya yang mampu mencapai derajat taqwa (takut dan dekat) kepada
Allah” (QS. Fâthir [35]:28).2
Perkembangan ilmu bermula dari sikap kuriositas (rasa ingin tahu) manusia
dan berbagai persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Karena memiliki potensi
akal, rasa, karsa, dan mata hati (bashîrah), termasuk spiritualitas (God Spot, noktah
Ilahiyyah) yang ada dalam dirinya, manusia selalu terdorong untuk mengetahui
sesuatu, memahami berbagai obyek yang ada di sekitarnya, mencari jawaban
terhadap berbagai pertanyaan yang mengusiknya, baik mengenai alam sekitarnya
(makro kosmos) maupun mengenai alam dirinya sendiri (mikro kosmos)3. Dua pilar
utama pengembangan ilmu pengetahuan adalah penalaran (rasionalitas) dan
pengamatan (empirisme). Keduanya terjalin sangat erat, dan menjadi dasar metode
ilmiah. Keingintahuan manusia dapat muncul dari renungan, refleksi, pemikiran dan
kontemplasi yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengamatan, pencatatan, analisis
dan konseptualisasi. Bisa jadi, rasa ingin tahu juga muncul berdasarkan pengamatan,
kemudian dilanjutkan dengan renungan, seperti pengalaman Nabi Ibrâhîm As. dalam
menemukan kebenaran akan keesaan Allah yang Maha Kuasa4.
Akan tetapi, sumber ilmu pengetahuan tidaklah terbatas pada pengamatan,
pengalaman empiris, penalaran logis dan hasil bacaan, sebab semua itu cenderung
2
Dalam konteks itu, Nabi Saw. bersabda: ―Carilah ilmu walaupun sampai negeri Cina,
sebab mencari ilmu itu wajib bagi Muslim”. (HR. al-Baihaqi, al-Khathib, Ibn `Abd al-Barr, dan
lainnya).
3
Farid Ruskanda, Pemanfaatan dan Penyebarluasan IPTEK Dalam Sudut Pandang Syari'at
Islam, (Jakarta: UMJ Press, 1995), h. 1. Baca pula sumber untuk memperoleh pengetahuan, Masri elMahsyar Bidin, dkk., Integrasi Ilmu Agama dan Umum: Mencari Format Islamisasi Ilmu
Pengetahuan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h. 4-6.
4
Ruskanda, Pemanfaatan…., h. 2. Berkaitan dengan permenungan dan temuan Nabi Ibrâhîm
mengenai tauhid hakiki, lihat al-Qur‘an surat al-An`am [6]: 74-79.
2
bersifat relatif dan temporer, bahkan subyektif. Oleh karena hakekat kebenaran itu
bersumber al-Haqq al-Ahad (Sang Maha Benar yang Maha Esa), maka sumber ilmu
pengetahuan lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah wahyu (kitab suci), karena
sumber yang terakhir ini bersifat mutlak dan trasendental, sedangkan sumber-sumber
yang lain (akal, indera, pengalaman, dan sebagainya) bersifat nisbi, relatif dan
subyektif. Dalam perspektif mistik, intuisi dan suara hati nurani (dhamîr) juga
merupakan sumber kebenaran, karena memang hati nurani itu, menurut al-Qur‘an
tidak berdusta (selalu menyuarakan kebenaran) (QS. al-Najm [53]:11). Dengan kata
lain, Kitab suci dan tradisi Nabi Saw. (Sunnah) tidak hanya sebagai sumber hukum,
melainkan juga sebagai sumber ilmu pengetahuan dan peradaban. Manusia dalam hal
ini dituntut mampu mengaktualisasikan dirinya dengan memberikan kontribusi besar
dalam menerjemahkan, menafsirkan dan membumikan pesan-pesan ilahi tersebut,
berikut merumuskannya dengan bahasa ilmu: konseptualisasi dan teoritisasi.
B. Posisi Ilmu dalam Islam
Al-Qur‘an dan al-Sunnah juga sangat mendorong umat Islam untuk mencari
dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini sejalan dengan perintah pertama
yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya, yaitu perintah membaca, melakukan
pembacaan dengan mengatasnamakan Allah (iqra’ bismi rabbik) (QS. al-‗Alaq
[96]:1-6). Dalam al-Qur‘an sendiri dijumpai penggunaan kata "’ilm" sebanyak 854
kali5. Kata ―’ilm‖6, antara lain, digunakan sebagai "proses pencapaian pengetahuan
5
Kata-kata lain yang terkait dengan ilmu yang juga digunakan al-Qur‘an adalah ra’yu
(melihat, berpendapat, mengamati, menyelidiki) disebut sebanyak 332 kali, bashar (melihat,
memahami, memperhatikan) digunakan sebanyak
149 kali, nazhar (nalar, memperhatikan,
memikirkan) sebanyak 99 kali, dan kata `arafa (mengetahui, memahami) sebanyak 24 kali.
Sementara itu, kata aql dalam bentuk verba dijumpai setidaknya 48 kali, fikr sebanyak 19 kali, kata
lubb yang berarti akal atau nalar sebanyak 6 kali, dan kata hikmah (kebijaksanaan, filsafat, kearifan)
disebut ulang 16 kali. Periksa Muhammad Fu‘âd al-Bâqî, al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân
al-Karîm, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1992).
6
Kata ―‘ilm” secara linguistik berasal dari akar kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari
perkataan ‘alâmah, yaitu ―tanda, penunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang
dikenal; kognisi, label; ciri-ciri; indikasi; dan tanda-tanda‖. Dengan demikian, ma’lam (jamak:
ma’âlim) berarti ―rambu-rambu jalan‖ atau ―sesuatu yang dengannya seseorang membimbing dirinya
atau sesuatu yang membimbing seseorang‖. ―Alam” juga berarti penunjuk jalan. Maka bukan tanpa
alasan jika penggunaan istilah ayat yang secara literal berati ―tanda‖ merujuk pada ayat-ayat alQur‘an dan fenomena alam. Oleh karena itu, sejak dulu umat Islam menganggal ilmu berarti alQur‘an; syari‘at; sunnah, Islam; iman; ilmu spiritual (‘ilm ladunni), hikmah dan ma’rifah; atau sering
juga disebut cahaya (nûr), pikiran (fikr), sains, dan pendidikan –yang kesemuanya menghimpun
semua hakikat ilmu. Lihat Ahmad ibn Fâris, Mu’jam al-Maqâyîs fi al-Lughah, Tahqîq Syihâb al-Dîn
3
dan obyek pengetahuan" (QS. al-Baqarah [2]:31-32). Pembicaraan tentang ilmu
mengantarkan kita kepada sumber-sumber ilmu, di samping klasifikasi dan ragam
disiplinnya7. Ayat-ayat al-Qur‘an (teks) dan ayat-ayat Allah yang ada di alam raya,
keduanya secara terpadu, tidak hanya menarik ―dibaca‖ dan dikaji, melainkan juga
dapat menjadi sumber dan obyek penelitian dan pengembangan yang tidak pernah
lapuk ditelan zaman.8 Beberapa Sunnah Nabi Saw juga memerintahkan kita untuk
menuntut ilmu semenjak buaian ibu hingga masuk liang lahad (mati). Tinta ulama itu
lebih utama daripada darah syuhada‘ (HR. al-Bukhârî). Bertafakkur sekali itu lebih
baik daripada beribadah seribu kali. Menuntut ilmu juga merupakan salah satu jalan
yang mengantarkan seseorang masuk surga. ―Berperang‖ dalam rangka mencari ilmu
itu lebih disukai Allah daripada mengikuti seratus kali perang‖ (HR. al-Bukhârî).9
Dalam konteks tersebut, semua manusia mencipta dan diciptakan oleh sistem
kebudayaannya
melalui
proses
pendidikan.
Sejarah
kebudayaan
manusia
berkembang dari tahap mitis (penuh mitos), ontologis, dan fungsional. Secara
keseluruhan, al-Qur‘an menekankan pada kebudayaan yang fungsional di mana ilmu
dan teknologi mengambil peran sentral. Al-Qur‘an mengajarkan agar manusia
berpengetahuan, tidak sekedar mencari tahu, melainkan juga dengan tujuan tertentu
yang bersifat fungsional.10
Oleh karena itu, sifat dasar ilmu pengetahuan dalam Islam adalah adanya
wawasan terhadap Yang Kudus. Sesungguhnya yang membedakan cara berpikir
Islami dari cara berpikir Barat adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan dari cara
berpikir yang pertama bahwa Allah berkuasa atas segala hal dan bahwa segala
sesuatunya, termasuk ilmu pengetahuan, berasal dari satu-satunya sumber, yang tidak
lain adalah Allah (al-Haqq). Oleh karena sumber pengetahuan adalah Yang Kudus,
ibn Abu ‗Amr, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1998), Cet. II, h. 689. Lihat juga Wan Mohd. Nor Wan Daud,
Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), Cet. I, h.
144.
7
M. Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1996), Cet. ke-12, h. 62.
8
Dalam hal ini, Allah antara lain berfirman: ―Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi
tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).‖ (QS. al-Kahfi
[18]: 109).
9
Lihat Tâj al-Sirr Ahmad Harrân, al-‘Ulûm wa al-Funûn fi al-Hadhârah al-Islâmiyyah,
(Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, 2002), Cet. I, h. 55.
10
M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep
Kunci, (Jakarta: Paramadina, 1996), Cet. I, h. 526.
4
maka tujuan ilmu tidak adalah proses menuju kesadaran mengenai Yang Kudus11.
Dengan demikian, Allah adalah Sumber dan Muara ilmu (al-`Alîm, al-`Allâm).
Ilmu dalam perspektif pendidikan Islam, dengan demikian, bukan tujuan itu
sendiri, melainkan sarana, media atau alat untuk mencapai tujuan yang lebih luhur
dan mulia, yakni mencapai kesadasaran tentang Yang Kudus, Yang Mahasuci, Yang
Maha Mengetahui, sehingga pemiliknya sadar bahwa dengan ilmunya ia harus
mengelola alam, menjalin hubungan baik dengan sesama, dan lebih-lebih beribadah
dengan-Nya secara konsisten (istiqâmah) dan bertanggung jawab.12 Dengan ilmu,
manusia diharapkan tidak saja lebih dekat dengan Tuhannya, melainkan juga lebih
merakyat dengan sesama, dan lebih bermanfaat bagi kehidupan, serta berperan dalam
mendayagukan fasilitas dan sumber daya alama yang tersedia di alam raya (ayat-ayat
kawniyyah). Jadi, ilmu dalam Islam merupakan jalan yang dapat mengantarkan
seseorang kepada ma`rifat Allah (mengenal dan memahami Allah)13, sehingga ia
menjadi ‘abd (hamba) sekaligus
khalifah-Nya yang bertanggung jawab dalam
membangun peradaban dunia yang berkeadilan dan menyejahterakan.
C. Metode Pemerolehan Ilmu
Pada umumnya ilmu itu diperoleh melalui pencarian, pembacaan, penelitian,
permenungan, kontemplasi, ilham, dan pengalaman. Dari segi pemerolehannya, ilmu
dapat dikategorikan menjadi: al-ilm al-hushûlî atau ‘ilm al-kasb dan al-‘ilm alhudhûrî, `ilm al-wahb atau ilm ladunnî. Yang pertama diperoleh melalui usaha dan
kerja akal-rasioanal, seperti: belajar, membaca, meneliti, mengamati, melakukan
ujicoba (eksperimen), permenungan, dan kontemplasi. Sedangkan yang kedua
diperoleh melalui intuisi, ma’rifah (gnostik) dan pendekatan diri kepada Allah. Para
Nabi, aulia’ (wali), dan sufi pada umumnya –diyakini— dapat (dan pernah)
mendapat ilmu jenis ini; sedangkan masyarakat pada umumnya cenderung
11
C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Terjemahan dari Philosophy and
Science is the Islamic World, oleh Hasan Basri, (Jakarta: Yayasan Obor, 1988), h.5.
12
Menurut ‗Abd al-Rahmân al-Nahlâwî, tujuan pendidikan Islam adalah menjadikan manusia
sebagai ahli ibadah dan ahli khilafah dalam mewujudkan syari‘at Allah dan kemakmuran di alam raya
ini. Ibadah dan khilafah –yang menjadi amanah yang harus dipikul oleh manusia— hanya dapat
dilaksanakan dan direalisasikan manusia, jika ia mau belajar dan mengembangkan ilmu. Lihat ‗Abd
al-Rahmân al-Nahlâwi, Ushûl al-Tarbiyah al-Islâmiyyah wa Asâlîbuhâ fi al-Bait wa al-Madrasah wa
al-Mujtama’, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2003), Cet. II, h. 107-109.
13
Muslim Tawfîq, al-Hadhdhu ‘ala al-‘Ilm fi al-Islâm, (Tripoli: Mansyûrât Jam`iyyat alDa`wah al-Islâmiyyah al-‗Âlamiyyah, 1991), Cet. I, h. 37.
5
memperoleh ilmu melalui jalur pendidikan, baik informal, formal maupun nonformal atau otodidak. Khusus para Nabi, oleh Allah, diberi hikmah dan wahyu.
Hal tersebut, antara lain, ditegaskan oleh Allah swt. dalam al-Qur‘an: ―Dan
tiadalah yang diucapkannya (Muhammad Saw.) itu menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang yang disampaikan
kepadanya.” (QS. al-Najm [53]:3-4).
Pada ayat lain Allah menyatakan: ―Allah
menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur‘an dan alSunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Siapa yang dianugerahi Allah hikmah
itu, berarti ia benar-benar dianugerahi kanuria yang banyak…(QS. al-Baqarah [2]:
269). Jadi, ilmu Allah itu ada yang diberikan kepada hamba-Nya dalam bentuk
wahyu dan hikmah, seperti yang dianugerahkan kepada para Nabi, dan ada pula yang
diberikan kepada manusia pada umumnya melalui belajar, mencari ilmu, berguru,
membaca, meneliti dan seterusnya.14
Kedua jenis ilmu tersebut pada dasarnya bermuara sama, yaitu bahwa
kebenaran ilmu itu bersumber dari Allah Swt. Bedanya adalah bahwa ilmu para Nabi
yang berupa wahyu mempunyai nilai kebenaran yang lebih tinggi, dibandingkan
dengan ilmu yang diperoleh manusia pada umumnya. Dalam pemerolehannya,
keduanya memang melibatkan fungsi akal, namun pencapaian melalui akal mustafâd
(melalui Jibril) jelas lebih unggul dan steril dari hawa al-nafs (kepentingan dan
kecenderungan pribadi manusia). Wahyu itu diberikan, dalam arti,
Allah
berkehendak menurunkan langsung ilmu-Nya kepada para Nabi; sedangkan dalam
ilm hushûlî, manusia yang berkeingingan untuk memperolehnya.
Dalam perspektif pendidikan Islam, pemerolehan ilmu tidak hanya terkait
dengan metode pemerolehannya, melainkan juga tidak dapat dipisahkan dengan etika
yang dipedomani si pembelajar. Metode pemerolehan ilmu melalui belajar (ta’allum,
dirâsah, iktisâb, talaqqi, musyâfahah), menurut para pakar pendidikan Islam, antara
lain seperti al-Khathîb al-Baghdâdi (392-463 H), dapat ditempuh dengan imlâ’ (dikte
dari guru kepada murid), samâ` (mendengar, mengaji), qira’ah (membaca), `ardh
(presentasi), mudzâkarah wa tikrâr (pengulangan), su’âl (penanyaan), munâzharah
14
Shâlih Ahmad al-‗Ali, al-‘Ulûm ‘inda al-‘Arab: Dirâsah fî Kutubihâ wa Makânatihâ fi alHarakah al-Fikriyyah fi al-Islâm, (Beirut: Muassasah al-Risâlah, 1989), h. 27-28.
6
(debat), rihlah fi thalab al-`ilm (studi tour), ijâzah (pemberian pengakuan, ijazah),
mukâtabah (penyalinan), i`lâm (transfer informasi), washiyyah (pemberian wasiat),
munâwalah (penyampaian riwayat, berita, informasi), dan wijâdah (penyampaian
riwayat berdasarkan temuan tulisan dari seseorang). 15
A. Yusuf Ali cenderung meringkas sumber pengetahuan itu menjadi tiga saja,
yaitu: wahyu, rasio dan indera. Menurut pola al-Qur‘an, pengetahuan tersebut
diperoleh melalui wahyu dan penobatan secara ketuhanan pengetahuan yang absolut
(haqq al-yaqîn), rasionalisme atau kesimpulan yang didasari pada keputusan atau
penilaian/pengharapan fakta-fakta (al-‘ilm al-yaqîn), dan melalui empirisme dan
persepsi, yaitu dengan menggunakan observasi, eksperimen, laporan sejarah,
deskripsi pengalaman-pengalaman kehidupan dan semacamnya (‗ain al-yaqîn).16
Ketiga sumber tersebut memiliki bobot kebenaran yang berbeda secara
bertingkat. Ilmu yang diperoleh melalui indera yang disebut ‘ain al-yaqîn itu dalam
batas-batas pengamatan indera bisa dibenarkan. Namun ternyata yang dinyatakan
indera secara kolektif tidak selalu benar, jika realitasnya dilihat secara ilmiah. Karena
itu, rasio tidak puas dengan kebenaran inderawi, dan sebagai konsekuensinya rasio
melakukan perenungan-perenungan untuk mendapatkan ilmu yang kebenarannya
bisa dipercaya, yang disebut ‘ilm al-yaqîn. Betapapun rasio berusaha keras mencapai
pengetahuan yang bisa dipercaya kebenarannya, tetapi kemampuan rasio manusia
sangat terbatas, sehingga tidak jarang rasio mengalami kesulitan, bahkan tidak
mampu menembus ―wilayah gelap‖ (misteri). Dalam kondisi demikian, rasio
memerlukan bantuan spiritual dengan mengikuti wahyu untuk mendapatkan
pengetahuan yang disebut haqq al-yaqîn. Jadi, haqq al-yaqîn lebih tinggi daripada
15
Sâlik Ahmad Ma‘lûm, al-Fikr al-Tarbawi ‘inda al-Khathîb al-Baghdâdi, (Medina:
Mathba‘ah al-Mahmûdiyyah, 1992), Cet. I, h. 232-242 dan 294-299. Hal senada juga pernah
dinyatakan ‗Ali ibn Abi Thalib (w. 40 H) dalam syairnya (yang berbahar thawil) berikut:
‫ سأنبيك عن مجموعها ببيان‬# ‫أال لن تنال العلم إال بســتة‬
‫ وإرشاد أستاذ وطول زمان‬# ‫ذكاء وحرص واصطبار وبلغـة‬
Artinya: Ingatlah, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali memenuhi enam faktor.
Keenam faktor itu semuanya akan kujelaskan dengan rinci, sebagai berikut:
Kecerdasan, kesabaran, kemauan kuat, kecukupan dana, bimbingan tenaga pendidik,
dan kecukupan alokasi waktu.
16
A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation, Commentatory, (Leicester: The Islamic
Foundation, 1975), h. 1603.
7
‘ilm al-yaqîn, sedangkan ‘ilm al-yaqîn lebih tinggi daripada ‘ain al-yaqîn.17
Sementara itu, etika belajar yang mengantarkan seorang pembelajar
memperoleh ilmu juga penting diperhatikan, seperti: (1) niat yang tulus dalam
menuntut ilmu, (2) mengkonsentrasikan diri dalam studi, (3) sabar, (4) rendah hati,
(5) tekun, (6) menghormati guru, ulama, (7) berusaha secara halal, dan (8) bersegera
dan disiplin dalam belajar.18 Dengan demikian, pemerolehan ilmu dalam pendidikan
Islam sangat bergantung pada niat (komitmen) dari pelakunya, tata-cara/prosedur,
proses, tujuan hingga etika yang dipedomaninya.
Namun demikian, dari sekian metode pemerolehan ilmu, studi dan penelitian
ilmiah di dunia Islam tampaknya sejauh ini masih sangat ketinggalan atau belum
berkembang dinamis. Hal ini, antara lain disebabkan oleh rendahnya sikap ilmiah
dan tradisi intelektualisme di kalangan umat Islam serta minimnya apreasiasi
terhadap pemikiran dan karya-karya konstruktif; umat Islam selama ini masih
cenderung menjadi "konsumen" ilmu, daripada menjadi produsen dan pengembang
ilmu. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam dituntut mampu menanamkan rasa
cinta terhadap ilmu, menumbuhkembangkan etos akademik dan tradisi penelitian,
karya dan kreativitas ilmiah yang dapat memberikan sumbangan berarti bagi umat
Islam dan peradaban dunia.
D. Klasifikasi Ilmu dan Pengokohan Bingkai Epistemologi
Pada masa Nabi Saw. ilmu belum berkembang seperti pada masa keemasan
Islam atau seperti sekarang ini, dan karena itu, belum ada klasifikasi dan
pembidangan tertentu. Abad ke-8 hingga 12 merupakan zaman keemasan Islam, di
mana umat Islam mengembangkan suatu kehausan yang amat besar terhadap ilmu,
17
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode
Kritik, (Jakarta: Erlangga, 2005), Cet. I, h. 110-111.
18
Sâlik Ahmad Ma`lûm, al-Fikr al-Tarbawi.., h. 294-299. Hal senada juga pernah
dinyatakan ‗Ali ibn Abi Thalib (w. 40 H) dalam syairnya:
‫ سأنبيك عن مجموعها ببيان‬# ‫أال لن تنال العلم إال بســتة‬
‫ وإرشاد أستاذ وطول زمان‬# ‫ذكاء وحرص واصطبار وبلغـة‬
Artinya: Ingatlah, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali memenuhi enam faktor.
Keenam faktor itu semuanya akan kujelaskan dengan rinci, sebagai berikut:
Kecerdasan, kesabaran, kemauan kuat, kecukupan dana, bimbingan tenaga pendidik,
dan kecukupan alokasi waktu.
8
suatu kerinduan terhadap ilmu yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah.
Peradaban Islam ketika itu mencapai puncaknya, dan kaum Muslim menjadi para
pemimpin pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan19.
Namun demikian, menarik dicatat bahwa instruksi Nabi kepada para
sahabatnya, terutama kepada juru tulisnya, untuk menulis (menyalin) al-Qur‘an yang
diterima dari Allah melalui malaikat Jibril, diperkuat dengan ayat pertama yang
turun, yaitu: ―Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!” (QS. al-‗Alaq [96]:1)
merupakan faktor pemicu dan pemacu lahir dan berkembangnya tradisi baca-tulis,
sebagai ganti dari tradisi lisan (dengar-hafal, musyâfahah) yang saat itu memang
sangat berkembang. Tradisi baca dan tulis-menulis merupakan cikal-bakal dinamika
keilmuan dan tradisi intelektualisme dalam sejarah pendidikan Islam.
Sepeninggal Nabi Saw., ‗Umar ibn al-Khaththâb (584-644 M.) merupakan
figur shahabat yang sangat menaruh perhatian terhadap pembukuan al-Qur‘an. Atas
prakarsa dan berbagai pertimbangannya yang memang rasional –seperti banyak
sahabat yang gugur di medan perang melawan kaum murtad—sahabat Abu Bakar
(w. 12 H) setuju untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur‘an dalam satu
mushhaf.
Ketika wilayah kekuasaan Islam meluas, melampaui Jazirah Arab, dan
menyebar hingga Suriah, Bashrah dan Kufah (Iraq), Mesir dan Afrika Utara,
kebutuhan terhadap mushhaf al-Qur‘an sebagai pedoman umat Islam pun meningkat,
sehingga pada masa Utsmân ibn `Affân kodifikasi dan standarisasi mushhaf
dilakukan. Mushhaf kemudian disalin dan dibagikan ke beberapa wilayah kekuasaan
Islam, seperti Damaskus, Mesir, Yaman, Mekkah, Syam (Suriah–sekarang) dan
sebagainya.
Namun demikian, karena sebagian orang yang baru masuk Islam bukan orang
Arab, dan dengan demikian tidak bisa secara langsung membaca dan memahami alQur‘an yang berbahasa Arab, maka kebutuhan akan pemberian harakat (tanda baca)
al-Qur‘an pun menjadi mendesak. Adalah ‗Ali ibn Abi Thâlib –karramallahu
wajhah—(600-661 M), sahabat yang menginstruksikan perlunya dilakukan
pemberian tanda baca pada ayat-ayat al-Qur‘an agar tidak dibaca salah, yang dapat
19
Muslim Tawfiq, al-Hadhdhu..., h. 111.
9
berimplikasi terhadap pemaknaan dan pengamalan ajaran Islam secara salah pula.
‗Ali juga termasuk pencetus atau inspirator ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab)
dengan memerintahkan Abu al-Aswad al-Duali (16-69 H) untuk menyusunnya.20
Dari uraian tersebut, menarik digarisbawahi bahwa al-Qur‘anlah yang
menjadi faktor utama pemicu dan pemacu lahirnya ilmu-ilmu tradisional dalam
Islam, seperti ilmu bahasa, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu fiqh dan lain
sebagainya. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam berjalan seiring dengan
kemajuan sosial-ekonomi dan politik umat Islam. Ketika hadis-hadis banyak
dipalsukan dan dimanipulasi untuk berbagai kepentingan, terutama politik, maka
timbullah hasrat untuk menghimpun dan menuliskan hadis, seperti yang diprakarsai
oleh khalifah Umayyah, Umar Ibn ‗Abd al-Aziz (681-720 M). Dari kodifikasi, lalu
berkembang ilmu hadis, kemudian untuk menyeleksi hadis yang shahih dari yang
dha`if, muncullah ilm al-jarh wa al-ta’dil, semacam metode kritik hadis. Dan dari
ilmu kemudian berkembang ilmu sejarah, terutama penulisan sîrah (biografi), sejarah
para Nabi Saw. dan sejarah sosial politik.
Ketika bertemu dan berdialog dengan tradisi Hellenistik di Suriah, umat
Islam seolah mendapatkan ―darah segar‖ untuk lebih memanintesifkan dan
mengekstensifkan tradisi keilmuannya. Filsafat, ilmu-ilmu alam dan sebagainya
kemudian ditransfer dan dikembangkan dengan ―sentuhan dan nuansa Islami‖ oleh
umat Islam. Puncaknya adalah pada masa Abbasiyah, utamanya pada masa Hârûn alRasyîd dan al-Ma‘mûn. Lebih dari itu, tradisi keilmuan di Timur seperti Persia dan
Hindia, juga memberi kontribusi yang tidak kecil bagi pengembangan berbagai
disiplin ilmu, seperti administrasi, kedokteran, matematika, dan kimia.
Menurut CA. Qadir, para pemikir Islam yang pertama –dengan mengikuti
pendapat Aristoteles—mengklasifikasikan ilmu ke dalam 3 bagian, yakni: ilmu
teoretis, praktis dan produktif. al-Kindi merupakan filosof Muslim pertama yang
menyajikan klasifikasi seperti itu, yang kemudian difganti oleh al-Farabi (870-901
M) dalam bukunya Ihshâ’ al-‘Ulûm (Daftar Klasifikasi Ilmu)21.
20
Lihat Rihâb Khudhar ‗Akkâwî, Mawsû’ah Abâqirat al-Islâm, (Beirût: Dâr al-Fikr al‗Arabî, 1993), Cet. I, h. 9.
21
CA. Qadir, Filsafat…., h. 114.
10
Klasifikasi yang dibuat oleh al-Fârabi dapat ditabulasikan sebagai berikut22:
No.
1
2
3
4
5
Klasifikasi Ilmu
Ilmu Bahasa
Logika
Ilmu-ilmu Pendahuluan/
Dasar
Fisika (Ilmu Alam)
Metafisika
Cabang-cabang Ilmu
1. Sintaksis
2. Gramatika (Tata Bahasa)
3. Lafal dan Penuturan
4. Puisi
1. Definisi dan Penyusunan Ide-ide
2. Silogisme dan Bukti-bukti Dialektis
3. Validitas Penalaran
4. Silogisme Pidato dan Diskusi
1. Ilmu Hitung –praktis dan teoretis
2. Ilmu Ukur –praktis dan teoretis
3. Ilmu Optika
4. Ilmu tentang langit
5. Musik
6. Ilmu Mebeler
1. Ilmu Mineral
2. Ilmu Hewan
3. Ilmu Tumbuhan
1. Ilmu Wujud
2. Ilmu-ilmu yang menggunakan
pengamatan
3. Ilmu Masyarakat
4. Ilmu Hukum
5. Retorika
Sesudah al-Farabi, Ibn Sina (980-1037 M), Ikhwân al-Shafâ dan al-Razi
(865-925 M) juga membuat klasifikasi ilmu, namun tidak jauh berbeda dengan alFarabi. Adalah Ibn Khaldûn (1332-1406 M), yang memprakarsai penyusunan
klasifikasi ilmu ke dalam: 1) Ilmu-ilmu rasional (al-‘ulûm al-‘aqliyyah) dan 2) ilmuilmu yang diturunkan/diwariskan (al-‘ulûm al-Naqliyyah). Klasifikasi yang lebih
sederhana –dan tampaknya berdasarkan sumbernya— ini dapat diringkaskan sebagai
berikut23.
No.
1
Klasifikasi Ilmu
Ilmu-ilmu Rasional
Cabang-cabang Ilmu
1. Logika
2. Fisika (ilmu-ilmu alam)
3. Ilmu Kedokteran
4. Ilmu Pertanian
5. Metafisika (ilmu-ilmu tentang di luar alam)
6. Ilmu Sihir
7. Ilmu Ghaib
22
Lihat al-Fârabî, Ihshâ’ al-‘Ulûm, Ditahqiq oleh Utsmân Amîn, (Kairo: Dâr al-Fikr al‗Arabî, tt.), 43-44.
23
C.A. Qadir, Filsafat…., h. 116.
11
2
Ilmu-ilmu yang
Diturunkan/diwariskan
(tradisional)
8. Kimia
9. Ilmu-ilmu tentang kuantitas: ilmu ukur, bidang, ruang
10. Musik
11. Ilmu Hitung (matematika)
12. Astronomi
1. al-Qur‘an & Ilmu al-Qur‘an
2. Hadis & Ilmu Hadis
3. Ilmu Hukum
4. Teologi
5. Ilmu Tasawuf
6. Ilmu-ilmu bahasa: tata bahasa, perkamusan dan sastra
Lebih lanjut, dalam konfrensi Internasional II mengenai pendidikan Islam di
Islamabad, Maret 1980, telah disepakati klasifikasi ilmu sebagai berikut. Landasan
epistemologinya adalah pandangan bahwa pengetahuan itu menyangkut hal-hal yang
kekal abadi atau yang diperoleh kemudian24.
No.
1
Klasifikasi Ilmu
Cabang-cabang Ilmu
Ilmu-ilmu tentang yang kekalabadi
1. al-Qur‘an: studi dan penafsirannya
2. Hadis/Sunnah Nabi
3. Sirah (biografi) Nabi, para sahabat dan tabi‘in
4. Keesaan Allah (tauhid)
5. Prinsip-prinsip ilmu hukum
6. Bahasa Arab al-Qur‘an
7. Ilmu-ilmu tambahan/penunjang –metafisika Islam,
perbandingan agama dan kebudayaan Islam
1. Seni imajinatif –seni arsitektur dan seni-seni Islam
lainnya; bahasa dan sastra
2. Ilmu-ilmu intelektual –ilmu-ilmu sosial (teoretis),
filsafat, pendidikan, ekonomi, politik, sejarah,
kebudayaan Muslim, teori-teori Islam tentang politik,
ekonomi, sosial, ilmu bumi, sosiologi, linguistik,
psikologi, antropologi
3. Ilmu-ilmu fisika (teoretis) –filsafat ilmu pengetahuan,
fisika, matematika, statistik, kimia, ilmu biologi,
astronomi, ilmu-ilmu tentang angkasa luar;
4. Ilmu-ilmu terapan –rekayasa dan teknologi (sipil dan
mesin), ilmu kedokteran, ilmu pertanian, dan
kehutanan
5. Ilmu-ilmu praktis –perdagangan, ilmu administrasi,
administrasi bisnis, administrasi negara, ilmu-ilmu
perpustakaan, ekonomi rumah tangga, ilmu-ilmu
komunikasi.
Ilmu-ilmu Perolehan
2
Selain itu, ada juga klasifikasi yang murni didasarkan atas sumber utama
ajaran Islam, yaitu al-Qur‘an. Menurut Mahmûd ‗Abd al-Wahhâb Fâyid, klasifikasi
24
C.A. Qadir, Filsafat…., h. 117.
12
berikut ini dibangun atas asumsi bahwa ayat-ayat al-Qur‘an mengakomodasi
(mewadahi) dan menginspirasi bagi pengembangan berbagai ilmu berikut.
1. Ilmu-ilmu bahasa Arab (QS. al-Zukhruf [43]: 3).
2. Ilmu-ilmu hewan, bedah, kedokteran dan jiwa (QS. al-Dzâriyât [51]: 21
dan al-Mu‘minûn [23]: 12-14)
3. Ilmu-ilmu geologi, geografi, falak (astronomi) dan matematika (QS. alNahl [16]: 10-11, 66; al-Anbiya‘ [21]: 30-33; Yunus [10]: 5).
4. Ilmu tumbuh-tumbuhan (QS. al-Ra`d [13]: 4)
5. Ilmu sejarah dan arkeologi (QS. al-Rûm [30]: 9; dan Fâthir [35]: 44)
6. Ilmu-ilmu kemiliteran dan keprajuritan (QS. al-Anfâl [8]: 60).25
Klasifikasi tersebut juga tidak begitu jelas kerangka epistemologisnya,
sehingga ilmu hewan dan ilmu jiwa misalnya, diparalelkan dalam satu pembidangan,
padahal obyek material dari keduanya jelas berbeda, yaitu hewan dan manusia.
Selain itu, klasifikasi tersebut juga tidak mengakomodasi realitas ilmu dalam
perspektif sejarah dan pendidikan Islam, sehingga berbagai ilmu-ilmu tradisional
Islam seperti: ilmu kalam, ilmu fiqh, filsafat dan tasawuf Islam, tidak dimunculkan
dalam klasifikasi tersebut. Dengan kalimat lain, klasifikasi tersebut cenderung
menjustifikasi ilmu yang ada dengan mencocokkannya dengan ayat-ayat yang dinilai
relevan dengan ilmu-ilmu dimaksud.
Di Indonesia, pembidangan ilmu juga pernah dilakukan oleh Departemen
Agama,
bahkan
pernah
di-SK-kan
oleh
Menteri
Agama
RI
Alamsjah
Ratuperwiranegara, dengan Keputusan Menteri No. 110 Tahun 1982 sebagai berikut:
No.
1
Bidang
Qur‘an dan Hadis
Disiplin
Subdisiplin
1. `Ulum al-Qur‘an
1. Tarikh al-Qur‘an
2. Ilmu Qira‘at al-Qur‘an
3. Balaghat al-Qur‘an
4. Muqaranat al-Tafsir
2. Ulum al-Hadis
1. Hadis Dirayah
2. Hadis Riwayah
3. Tarikh al-Hadis wa al-Muhaddisin
25
Mahmûd ‗Abd al-Wahhâb Fâyid, al-Tarbiyah fi Kitâb Allah, (Tunis: Dâr Busalâmah,
1985), h. 26. Lihat Juga Ya‘qûb Husain Nasywân, al-Manhaj al-Tarbawi min Manzhûr Islâmi,
(`Ammân: Dâr al-Furqân, 1992), Cet. I, h. 213-215.
13
2
3
4
Pemikiran dalam Islam
Fikih (Hukum Islam)
dan Pranata Sosial
Sejarah dan Peradaban
Islam
Bahasa
1. Ilmu Kalam/ Tauhid/
Teologi
1. Sejarah Kalam/Tauhid
2. Aliran-aliran Ilmu Kalam
3. Perbandingan Aliran-aliran dalam
Ilmu Kalam
2. Filsafat
1. Sejarah Filsafat
2. Konsepsi Kebutuhan
3. Konsepsi Alam
4. Konsepsi Manusia
5. Politik
6. Akhlak
7. Mantik/Logika
3. Tasawuf
1. Sejarah Tasawuf
2. Tasawuf /akhlaki
3. Tasawuf Falsafi
4. Tarekat-tarekat
1. Ilmu Fikih
1. Madzahib al-Fiqh al-Islami
2. Perbandingan Madzhab
3. Sejarah Perkembangan Hukum
Islam
4. Peradilan Islam
1. Fikih Islam (Hukum
Islam)
2. Ushul Fikih
5. Ushul Fikih/Ushul Fikih Muqaran
6. Filsafat Tasyri` Islami
3. Pranata Sosial
4. Ilmu Falak
1. Sejarah Islam
1. Ilmu Siyasi
2. Institusi Masyrakat Islam
1. Periodisasi Sejarah Islam
2. Filsafat Sejarah
3. Historiografi Islam
2. Peradaban Islam
1. Sejarah Peradaban Islam
2. Kebudayaan Islam
1. Qawaid
2. Balaghah
3. ‗Ilm al-Lughah/Fiqh al-Lughah
4. Maharat Lughawiyah
1. Bahasa Arab
5
2. Sastra Arab
6
Al-Tarbiyah alIslamiyyah/Pendidikan
Islam
1. al-Tarbiyah wa alTa`lim (Pendidikan
dan Pengajaran
Islam)
2. ‘Ilm al-Nafs alIslami (Psikologi
Islam)
14
1. Kesusatraan Arab
2. Tarikh al-Adab
3. Perbandingan Sastra
4. Naqd al-Adab
5. Madzahib Adabiyyah
6. Funun `Arabiyyah
1. Asas-asas Pendidikan Islam
2. Filsafat Pendidikan Islam
3. Sejarah Pendidikan Islam
4. Metodologi Pengajaran Islam
5. Perbandingan Pendidikan Islam
6. Asas-asas Kurikulum Pengajaran
Islam
7. Pembimbing Akhlak Islam
8. Administrasi dan Supervisi Islam
1.
2.
3.
Ilmu Jiwa Pendidikan
Kesehatan Mental
Ilmu Jiwa Perkembangan
Dakwah Islam
1. Dakwah
1. Ilmu Dakwah
2. Sejarah Penyiaran dan
Pengembangan Islam
3. Filsafat Dakwah
4. Bimbingan Sosial Keagamaan
5. Psikologi Dakwah
7
2. Perbandingan Agama
8
Pemikiran Modern di
Dunia Islam
1. Politik
2. Hukum
3. Ekonomi
4. Budaya
1. Sejarah Agama
2. Filsafat Agama
3. Sosiologi Agama
4. Ilmu Jiwa Agama
-
Pembidangan ilmu versi Depag tersebut tampaknya masih belum jelas dasar
pijakan dan perspektif yang digunakan, bahkan dalam beberapa sub disiplin ilmu
terlihat masih tumpang tindih. Bidang Dakwah, misalnya, membawahi perbandingan
agama, lalu subdisiplinya meliputi: sejarah agama, filsafat agama, sosiologi agama
dan ilmu jiwa agama. Pengelompokan ini jelas kurang relevan karena secara
epistemologis dakwah tidak berkaitan langsung dengan perbandingan agama. Ilmu
perbandingan agama lebih dekat dengan ushûluddin (teologi dan filsafat). Pemikiran
Modern di Dunia Islam juga bukan merupakan suatu bidang keilmuan tersendiri
mengingat substansinya lebih dekat kepada sejarah pemikiran pada masa modern,
lagi pula disiplin yang terkait dengannya tidak hanya politik, hukum, ekonomi,
budaya, melainkan dapat juga berhubungan dengan sosial, pendidikan, dakwah,
lingkungan dan sebagainya.
Dengan demikian, klasifikasi bidang ilmu ala Depag tampaknya belum
memadai, karena perspektif dan dasar pembidangannya belum jelas. Kemungkinan –
ini hanya spekulasi— pembidangan tersebut lebih didasarkan pada fakultas dan
program studi yang sudah ada dan sudah mapan di UIN/IAIN, baik untuk program
S1 maupun S2 dan S3. Selain itu, terkesan bahwa pembidangan tersebut cenderung
merupakan spesialisasi ilmu-ilmu tradisional Islam, sementara itu ilmu-ilmu yang
bersifat kealaman dan sosial kurang mendapat tempat. Peninjauan ulang terhadap
pembidangan ilmu tersebut sangat diperlukan, terutama sehubungan dengan akan
dikonversikannya IAIN menjadi UIN.
15
Dikhotomi ilmu agama dan ilmu umum memang harus segera diakhiri,
karena hanya akan membuat umat Islam semakin tertinggal jauh dari negara-negara
maju, mengingat ilmu-ilmu yang selama ini –oleh sebagian yang berpendapat bahwa
ilmu agama fardhu 'ain dipelajari, sementara ilmu non-agama hukumnya fardhu
kifâyah— ―harus diprioritaskan‖ untuk dipelajari adalah ilmu agama (ilmu-ilmu
tradisioal Islam tersebut), sementara ilmu-ilmu non-agama (untuk tidak menyebut
ilmu umum) dipinggirkan, atau setidak-tidaknya, kurang mendapat perhatian,
sehingga umat Islam yang ahli di bidang ilmu-ilmu kealaman tidak banyak.
Komisi Disiplin Ilmu Agama (KDIA) Dewan Pendidikan Tinggi direktorar
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional telah menyepakati
pengelompokan disiplin ilmu ke dalam 3 rumpun, yaitu: ilmu kealaman, ilmu sosial
dan ilmu humaniora. KDIA juga sepakat bahwa studi agama (termasuk Islam)
termasuk dalam rumpun ilmu humaniora26. Pengelompokan ini tampaknya
didasarkan atas sifat dasar atau karakteristik masing-masing ilmu. Sebagai termasuk
rumpun humaniora, studi agama diposisikan sebagai wilayah ilmu yang berkaitan
dengan persoalan kemanusiaan dan sekaligus ketuhanan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Mastuhu juga pernah menawarkan
pembidangan ilmu dalam Islam ke dalam 3 bidang: ilmu-ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu
sosial-budaya-humaniora dan sains. Pengelompokan ini didasarkan atas paradigma
keilmuan yang ada dalam Islam, yang menurutnya ada tiga. Pertama, ilmu itu secara
esensial terkandung dalam ajaran Islam. Pertumbuhan dan perkembangan suatu ilmu
senantiasa bersumber dari nilai-nilai ajaran Islam. Kedua, Islam tidak mengenal
dikhotomi antara ilmu dan agama. Keduanya tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat
dibedakan dalam setiap posisi dan perannya. Kebenaran ilmu bersifat empirik dan
relatif, namun dalam pandangan Islam antara bobot kebenaran ilmu, etika dan
estetika merupakan satu kesatuan yang utuh. Ketiga, ilmu merupakan ciptaan
manusia. Hanya saja sejak awal penciptaan, pengembangan dan pengamalan ilmu
dalam Islam dilihat dari dua dimensi, yakni materi dan pelakunnya. Dimensi pertama
26
KDIA, Pengelompokan Disiplin Ilmu Agama, Hasil Perumusan Lakakarya Mencari
Paradigma Baru Pengelompokan Disiplin Ilmu Agama, (Jakarta: Dirjen Dikti Diknas, 2000), h.3.
16
mengindikasikan bahwa ilmu itu netral dalam penggunaannya, sedangkan dalam
dimensi kedua, pengamalan dan pengembangan ilmu harus dilandasi keikhlasan27.
Dari uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa klasifikasi dan pembidangan
ilmu dalam dunia Islam mengalami perkembangan yang dinamis, seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pembidangan ilmu pada dasarnya tidak akan
―final‖ seratus persen, karena watak dasar ilmu itu sendiri yang cenderung dinamis,
terus-menerus mengalami koreksi, revisi dan penyempurnaan dari waktu ke waktu.
Oleh karena kebenaran itu bersifat empirik dan relatif, maka klasifikasi ilmu yang
dibuat siapapun atau lembaga manapun pada akhirnya harus diperlakukan sebagai
sebuah kebenaran sementara yang pada saatnya nanti pasti akan ditinjau kembali.
Dalam konteks integrasi epistemologi ilmu, penting ditegaskan bahwa ilmu
dalam perspektif pendidikan Islam itu bersifat universal, karena sesuai dengan visi
dan misi Islam sebagai rahmatan lil ‘âlamîn.28 Artinya, ilmu-ilmu yang dipelajari
dan
dikembangkan
dalam
lembaga
pendidikan
Islam
itu
harus
dapat
menyejahterakan tidak hanya manusia, melainkan juga harus melindungi kelestarian
hewan dan tumbuh-tumbuhan. Artinya, ilmu harus bervisi teologis (iqra’ bismi
rabbik), bewatak humanis, dan berwawasan lingkungan (ramah lingkungan hidup).
E. Reintegrasi Epistemologi atau Islamisasi Pengetahuan?
Sejalan dengan upaya peninjaun kembali klasifikasi dan pembidangan ilmu,
tampaknya diperlukan adanya pengkajian secara kritis dan komprehensif mengenai
sejarah perkembangan ilmu dalam Islam. Dari pengkajian ini, diharapkan terrekam
dan terungkap peta dunia ilmu dalam Islam: dalam konteks apa sebuah ilmu itu
muncul dan berdiri sendiri; apa yang menjadi landasan epistemologi sebuah ilmu;
dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi kelahiran dan perkembangan sebuah ilmu.
Dengan kalimat lain, ide untuk rekonstruksi sejarah ilmu dalam perspektif Islam
menjadi sangat penting, tidak saja dalam rangka memperjelas dunia Islam dalam
Islam di masa lalu, melainkan juga penting untuk merumuskan dan menata kembali
pengembangan ilmu-ilmu yang islami ke depan. Lebih-lebih, studi-studi keilmuan
dewasa ini cenderung mengambil atau menggunakan pendekatan lintas-disiplin
27
28
Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), h. 219-30.
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam …, h. 120.
17
keilmuan, sehingga multi-diciplinary research itu dapat menghasilkan format baru
dalam pengembangan ilmu.29
Berubahnya IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan IAIN-IAIN lain (Sunan
Kalijaga Yogyakarta, STAIN Malang, Alauddin Makassar, dan Sunan Gunung Jati
Bandung) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) tampaknya merupakan
momentum sejarah yang tepat30 untuk melakukan rekonstruksi epistemologi ilmuilmu dalam Islam. Konstruksi teoritis substansi, orientasi, dan metodologi ilmu-ilmu
dimaksud perlu
diperkuat dan diperluas, sehingga berbagai disiplin ilmu yang
ditawarakan dan dikembangkan UIN tidak saja memiliki basis teoritis yang jelas dan
dapat diuji kebenarannya, melainkan juga mempunyai keunggulan praktis-pragmatis
dalam aplikasi dan pendayagunaannya bagi masyarakat luas.
Jika filsafat diposisikan sebagai mother of sciences (induk segala ilmu),
sementara tema dan narasi besar filsafat adalah Tuhan, Alam dan Manusia, maka
menurut penulis, ilmu-ilmu yang ada dan berkembang hingga dewasa ini dapat
direklasifikasi menjadi tiga kelompok, yaitu ilmu-ilmu ketuhanan (al-‘ulûm alUlûhiyyah),
ilmu-ilmu
kealaman
(`al-ulûm
al-thabî’iyyah)
kemanusiaan dan sosial (al-‘ulûm al-insâniyyah wa al-Ijtimâ’iyyah).
dan
ilmu-ilmu
31
Menurut penulis, pembidangan ilmu dapat diklasifikasi ulang berdasarkan
kerangka epistemologi yang menempatkan ilmu dalam bingkai substansi, sumber,
metodologi, dan obyek studinya. Penglasifikasian ke dalam tiga bangunan ilmu pada
29
Sebagai contoh, ilmu al-badî' (ilmu yang mempelajari mengenai pembagusan dan
pemerindahan ungkapan, kalimat, dan gaya bahasa Arab sesuai dengan konteks sosial) dalam kajian
balâghah semula tercampur-baur dalam kajian ilmu Bayan dan ilmu Ma'ani. Akan tetapi, setelah
khalifah Ibn al-Mu'tazz (249-296 H) melakukan resistematisasi pokok bahasan yang terkait
dengannya, ilmu al-badî' itu dapat berdiri sendiri, terpisah dari kajian kedua ilmu tersebut. Lihat 'Abd
al-Rahmân Habannakah al-Maidanî, al-Balâghah al-'Arabiyyah: Ususuhâ, wa Ulûmuhâ wa
Funûnuhâ, (Damaskus: Dâr al-Qalam, 1996).
30
Dengan mengutip pernyataan Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra dalam berbagai
kesempatan menegaskan bahwa konversi IAIN menjadi UIN Jakarta merupakan ―kemenangan
politik‖ umat Islam. Kemenangan ini tidak hanya perlu disyukuri, melainkan juga perlu diisi dan
dikembangkan. Untuk mengisi dan mengembangkan, menurut penulis, kesadaran dan komitmen
spiritual semua pihak, terutama sivitas akademika UIN, perlu ditumbuhkan dan diarahkan kepada
pengokohan tradisi belajar yang membuahkan kualitas moral dan amal yang baik (termasuk kualitas
karya akademik yang inspiratif dan memberi pencerahan).
31
Upaya untuk mengklasifikasikan bidang ilmu dalam prisma pemikiran Islam secara
integratif pernah dicoba oleh Muhammad Jalâl Abu al-Futûh Syaraf, namun berhasil secara tuntas
karena pendekatan yang digunakan cenderung filosofis, sehingga kurang "membumi". Baca
Muhammad Jalâl Abu al-Futûh Syaraf, Allah wa al-'Âlam wa al-Insan fi al-Fikr al-Islâmi, (Kairo: Dâr
al-Ma'ârif, 1969).
18
gilirannya dapat dikembangkan dengan berbagai pendekatan sesuai dengan tuntutan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya, saja psikologi dan
dakwah dapat "dikawin-silangkan" atau "psikologi belajar dan bahasa Arab"
sehingga menjadi sinergi baru: psikologi dakwah dan psikologi belajar bahasa Arab.
Teologi –yang termasuk dalam kategori ilmu-ilmu ketuhanan dapat dipadukan dan
dimatangkan dengan pengembangan masyarakat, sehingga melahirkan: teologi
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Teologi tidak hanya berkutat pada
aliran dan pemikiran para mutakallim klasik yang hanya bermuara pada dua kutub
ekstrem: Jabariyyah dan Qadariyyah/Mu‘tazilah, tetapi yang lebih fungsional adalah
bagaimana nilai-nilai positif dari masing-masing pemikiran teologis itu dapat
diinternasilisasikan dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Tentu saja,
proses sinergi dan pengembangannya harus melalui kajian yang intens dan dapat
dipertanggungjawabkan secara metodologis dan substantifnya.
Secara teoritis, Islam dan sains modern tidak ada masalah. Sebagai agama
universal, Islam merupakan penyempurna dan pemerindah dengan nilai-nilai moral
dan etiknya ilmu-ilmu modern yang sejauh ini belum dikembangkan di dunia
Islam.32 Ilmu-ilmu yang akan dikembangkan di UIN dan lembaga pendidikan Islam
lainnya tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai ketuhanan dan kodrat manusia serta
relativitas ilmu itu sendiri. Karena itu, yang terpenting adalah penumbuhan
kesadaran ilmiah, yaitu kesadaran untuk mau dan terus mengembangkan ilmu yang
sudah ada, dan merespon ilmu-ilmu baru, sambil memberikan apreasiasi dan
mengadaptasi dengan tetap memahami bahwa tujuan utama ilmu yang dipelajari
dalam proses pendidikan Islam tidak lain adalah mendekatkan diri kepada Allah
Swt., tidak sekedar untuk memahami, menjelaskan, mengontrol dan memprediksi
realitas yang ada (realitas ketuhanan, realitas alam, dan realitas kemanusiaan).33
Di kalangan ilmuwan Muslim sendiri ada yang menolak dan mendukung
upaya islamisasi ilmu. Bagi yang menolak, yang merupakan mayoritas, ilmu
pengetahuan itu bersifat obyektif, sehingga perbedaan antara ilmu pengetahuan
modern dan Islam adalah semu. Bagi mereka, ilmu itu bersifat universal, sehingga
32
Lihat Muhbib Abdul Wahab, "Reintegralisasi Sains dan Islam" dalam Koran Tempo,
Jakarta: 27 Pebruari 2005, h. 12.
33
Sâmi Muhammad Malham, Manâhij al-Bahts fi al-Tarbiyah wa 'Ilm al-Nafs, ('Amman:
Dâr al-Masîrah, 2002), Cet. II, h. 30-31.
19
bisa berlaku sama di mana saja, di Barat maupun di Timur. Sedangkan bagi
kelompok kedua, yang membenarkan adanya perbedaan mendasar antara
epistemologi modern dan Islami, ilmu pengetahuan tidak bisa sama sekali terlepas
dari subyektivitas sang ilmuwan, dan karena itu ilmu tidak bisa dikatakan obyektif,
bebas nilai dan universal.
Salah seorang yang menolak islamisasi adalah Parvez Hoodbhoy, seorang
fisikawan muda yang cukup dikenal di Universitas Quad-i-azam, di Pakistan. Dalam
bukunya Islam and Science, ia menyatakan bahwa ―tidak ada yang disebut ilmu
Islami, dan semua upaya untuk mengislamkan ilmu akan mengalami kegagalan.‖
Alasannya tentu saja universalitas dan obyektivitas ilmu. Untuk memperkuat
argumen ia mengemukakan kasus Abdus Salâm dan Stevenweinberg, dua fisikawan
yang berbagi hadiah Nobel tahun l976 dalam bidang fisika karena keduanya telah
berhasil menyatukan kekuatan-kekuatan lemah elektro-magnetik yang ada pada
alam, padahal yang satu beragama Islam, dan yang lain terus terang mengaku ateis.34
Dalam konteks ini, menarik digarisbawahi pendapat Mâjid Irsân al-Kailânî
bahwa ilmu dalam pendidikan Islam itu merupakan satu kesatuan yang utuh. Bingkai
epistemologi ilmu dalam pendidikan Islam membentuk satu kesatuan, yaitu kesatuan
sumber ilmu (al-Khâliq), kesatuan wilayah dan obyek keilmuan (al-Khâliq dan
segala
yang
ada
al-wujûd
al-qâim),
dan
kesatuan
tujuan
pengetahuan
(ma’rifatullah).35 Dengan kata lain, ilmu-ilmu yang dikembangkan oleh lembaga
pendidikan Islam, termasuk UIN, harus mampu memadukan atau mengintergrasikan
ketiga hal tersebut dalam satu bingkai epistemologi yang utuh. Sebagai contoh,
ketika belajar thahârah (bersuci), mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi
mengenai tata cara bersuci yang sesuai dengan ketentuan fiqh, tetapi juga perlu
ditumbuhkan kesadarannya bahwa air itu berasal dari Allah yang perlu disyukuri; air
berfungsi menyucikan diri, sehingga berwudhu pada dasarnya harus menembus
anggota yang harus dibasahi dengan air hingga menyucikan hati, agar hati yang suci
itu dapat mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Allah Swt.
34
Parvez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality
(London: Zedf Books Ltd., l99l), h. 78.
35
Mâjid Irsân al-Kailânî, Falsafat al-Tarbiyah al-Islâmiyyah: Dirâsah Muqâranah Baina
Falsafat al-Tarbiyah al-Islâmiyyah wa al-Falsafah al-Tarbawiyyah al-Mu’âshirah, (Makkah:
Maktabah al-Manârah, 1987), Cet. I, h. 231.
20
Apakah ilmu itu bisa benar-benar obyektif, sehingga tidak mungkin terjadi
perbedaan fundamental antara satu sistem epistemologi dengan yang lainnya?
Ternyata tidak semua ilmuwan dan filosof ilmu sependapat dengan kelompok yang
pertama. Holmes Rolston III, seorang profesor filsafat di Colorado State University
misalnya, menyatakan dalam bukunya Science and Religion: A Critical Survey,
bahwa ―seorang peneliti akan terwarnai oleh apa yang mereka teliti atau paling tidak
menyumbang skema konseptual yang menyaring apa yang mereka ketahui.‖36
Memang diakuinya bahwa dalam pengetahuan kita tentang dunia material (alam)
subyektivitas dapat terus ditekan atau dieliminasi. Namun, dengan kecanggihan
ilmiah, kita terjerembab dalam kondisi yang paradoks. Semakin jauh kita mencoba
memasuki komponen akhir dari materi, semakin kita tidak bisa melepaskan diri dari
subyektivitas. Begitu kita bergeser dari lingkup (dunia) kita yang sehari-hari, dan
mencoba menelaah partikel-partikel sub-atomik yang sangat kecil atau ―black holes‖
yang sangat luas, atau akibat-akibat relativistik konter-intuitif, observasi kita menjadi
semakin sarat dengan teori. Akhirnya Rolston menyimpulkan bahwa fisika, kimia
dan astronomi, tiga bidang ilmu yang dipandang paling obyektif, tidak bisa lari dari
subyektivitas;37 sebaliknya mereka bahkan semakin subyektif saja.
Jika subyektivitas sangat sulit untuk dilucuti, maka obyektivitas ilmu dan nilai
universalnya tentu agak sulit untuk dipertahankan, karena ternyata teori-teori ilmu
sangat dipengaruhi oleh subyek yang menelitinya. Dan jika subyektivitas merupakan
bagian integral dari sebuah teori ilmiah, maka boleh jadi terjadi perbedaan teori ilmu,
seperti antara epistemologi Barat dan Islam merupakan sesuatu yang mungkin,
bahkan barangkali sesuatu yang niscaya.
Sementara itu, yang mendukung islamisasi, berpendapat bahwa ilmu yang
selama ini dikembangkan oleh Barat cenderung mengarah kepada sekularisme dan
materialisme, bebas nilai. Pada tataran ontologi dan epistemologi, boleh jadi tidak
ada perbedaan substansial antara ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu Islami. Akan
tetapi, pada tataran aksiologis (penyikapan, operasionalisasi dan implementasi),
peneliti dan pengembang ilmu di dunia Barat dan Islam barangkali berbeda. Karena
36
Holmes Rolston III, Science and Religion: A Critical Survey (Philadelphia: Temple
University Press, 1987), h. 33.
37
Rolston, Science and Religion …, h. 33.
21
itulah, jika memang diperlukan islamisasi, yang "diislamkan" adalah cara pandang
terhadap ilmu dan muatan moral yang harus dijadikan landasan dalam
mengembangkan dan mendayagunakan ilmu. Seperti halnya senjata: nama, jenis,
komponen dan bentuknya boleh jadi sama, tetapi untuk apa dan siapa yang
menggunakannya menjadi berbeda. Dalam konteks inilah "penginjeksian" nilai-nilai
Islam diperlukan, di samping penelaahan ulang terhadap akar-akar historis keilmuan
Islam yang mempunyai relevansi dengan ilmu-imu modern yang sedang
dikembangkan.
Menurut al-Attas, ilmu dalam pendidikan Islam itu sangat prinsipil. Pendidikan
tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial ekonomi, tetapi
secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Karena
itu, ilmu tidak bebas nilai karena ilmu adalah sifat manusia. Segala sesuatu yang
berada di luar akal pikiran bukanlah ilmu pengatahuan, melainkan fakta dan
informasi yang kesemuanya adalah obyek ilmu pengetahuan.38 Karena ilmu tidak
netral atau tidak bebas nilai, maka landasan epistemologi ilmu dalam pendidikan
Islam perlu dikokohkan dengan mengintegrasikan sumber, proses dan metode
pemerolehan, dan etika (aksiologi) pengamalan atau penggunaan dalam aktivtas
kehidupan sehari-hari.
F. Epilog
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan cermin dari kemajuan
peradaban umat manusia. Pengembangan ilmu sangat bergantung kepada komitmen
teologis dan spiritual berikut nilai-nilai moral yang dianut oleh pengembangnya,
termasuk
komitmen
lembaga
pendidikan
Islam
dalam
membelajarkan,
mengembangkan ilmu dan mengokohkan bangunan epistemologinya. Islam sebagai
agama universal cukup kompatibel untuk kembali berperan penting dalam pemajuan
ilmu-ilmu dengan berbasis kepada komitmen spiritual, dan nilai-nilai religius dan
moral, sehingga ilmu yang dikaji dan dikembangkan dapat memberi manfaat yang
sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat manusia.
38
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam …, h. 114-115.
22
Islamisasi ilmu dalam arti "injeksi" nilai-nilai moral Islam dalam bangunan
epistemologi ilmu-ilmu itu juga menjadi relevan dan sangat penting agar orientasi
pengembangan ilmu "terkawal" dengan baik. Institusi pendidikan Islam dalam hal ini
mempunyai peran utama dalam mengintegrasikan kembali "elan vital" keilmuan dan
tradisi intelektualisme dalam reklasifikasi ilmu yang kini sedang dikembangkan.
Keberadaan UIN yang didesain untuk menjadi universitas riset di masa depan,
tidak hanya dituntut mampu mengembangkan kompetensi metodologis di kalangan
para sivitas akademikanya, terutama para dosen, melainkan juga diharapkan mampu
menjadi ―jembatan penghubung‖ (jisr al-tawshîl) antara pengembangan ilmu-ilmu
modern (sains) dengan ilmu-ilmu tradisional dalam Islam. Reklasifikasi dan
reintegrasi ilmu-ilmu –yang selama ini dianggap "lepas" dari induknya (Islam)—
tidak hanya perlu disikapi dengan semangat "islamisasi" (aslamah al-‘ilm),
melainkan juga ditindaklanjuti dalam pengembangan fakultas dan program studi
yang berbasis pada akar dan tradisi keilmuan Islam, sekaligus berbasis pada relevansi
sosial-budaya yang melingkupinya. Muara pengokohan integrasi epistemologi
dimaksud adalah terwujudnya sistem pendidikan Islam yang mampu memadukan
iman-Islam-ihsan; iman-ilmu-amal; dzikir-fikir-taghyîr (aksi perubahan); dakwah
amar ma’ruf nahi munkar, sehingga baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menjadi
kenyataan. Wallahu a'lam bi al-shawâb.
Daftar Pustaka
A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation, Commentatory, Leicester: The
Islamic Foundation, 1975.
Abdul Wahab, Muhbib, "Reintegralisasi Sains dan Islam" dalam Koran Tempo,
Jakarta: 27 Pebruari 2005.
Akkâwî, Rihâb Khudhar, Mawsû’ah Abâqirat al-Islâm, Beirût: Dâr al-Fikr al-‗Arabî,
Cet. I, 1993.
al-‗Alî, Shâlih Ahmad, al-‘Ulûm ‘inda al-‘Arab: Dirâsah fî Kutubihâ wa
Makânatihâ fi al-Harakah al-Fikriyyah fi al-Islâm, Beirut: Muassasah alRisâlah, 1989.
al-Bâqî, Muhammad Fu‘âd, al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm,
Beirut: Dâr al-Fikr, 1992.
Bidin, Masri el-Mahsyar, dkk., Integrasi Ilmu Agama dan Umum: Mencari Format
Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003.
Daud, Wan Mohd. Nor Wan, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib
al-Attas, Bandung: Mizan, Cet. I, 2003.
23
al-Fârabî, Ihshâ’ al-‘Ulûm, Ditahqiq oleh Utsmân Amîn, Kairo: Dâr al-Fikr al‗Arabî, tt.
Fâyid, Mahmûd ‗Abd al-Wahhâb, al-Tarbiyah fi Kitâb Allah, Tunis: Dâr Busalâmah,
1985.
Harrân, Tâj al-Sirr Ahmad, al-‘Ulûm wa al-Funûn fi al-Hadhârah al-Islâmiyyah,
Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, Cet. I, 2002.
Hoodbhoy, Parvez, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for
Rationality, London: Zedf Books Ltd., l99l.
ibn Fâris, Ahmad, Mu’jam al-Maqâyîs fi al-Lughah, Tahqîq Syihâb al-Dîn ibn Abu
‗Amr, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. II, 1998.
Kailânî, Mâjid Irsân, Falsafat al-Tarbiyah al-Islâmiyyah: Dirâsah Muqâranah Baina
Falsafat al-Tarbiyah al-Islâmiyyah wa al-Falsafah al-Tarbawiyyah alMu’âshirah, Makkah: Maktabah al-Manârah, Cet. I, 1987.
KDIA, Pengelompokan Disiplin Ilmu Agama, Hasil Perumusan Lakakarya Mencari
Paradigma Baru Pengelompokan Disiplin Ilmu Agama, Jakarta: Dirjen Dikti
Diknas, 2000.
al-Maidanî, 'Abd al-Rahmân Habannakah, al-Balâghah al-'Arabiyyah: Ususuhâ, wa
Ulûmuhâ wa Funûnuhâ, Damaskus: Dâr al-Qalam, 1996.
Malham, Sâmi Muhammad, Manâhij al-Bahts fi al-Tarbiyah wa 'Ilm al-Nafs,
'Amman: Dâr al-Masîrah, Cet. II, 2002.
Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.
Muhammad Jalâl Abu al-Futûh Syaraf, Allah wa al-'Âlam wa al-Insân fi al-Fikr alIslâmî, Kairo: Dâr al-Ma'ârif, 1969.
al-Nahlâwi, ‗Abd al-Rahmân, Ushûl al-Tarbiyah al-Islâmiyyah wa Asâlîbuhâ fi alBait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, Damaskus: Dar al-Fikr, Cet. II, 2003.
Nashr, Seyyed Hossein, Three Muslim Scholars, Cambridge: Harvard University
Press, 1964.
Nasywân, Ya‘qûb Husain, al-Manhaj al-Tarbawi min Manzhûr Islâmi, Ammân: Dâr
al-Furqân, Cet. I, 1992.
Qadir, C.A., Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Terjemahan dari
Philosophy and Science is the Islamic World, oleh Hasan Basri, Jakarta:
Yayasan Obor, 1988.
Qomar, Mujamil, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga
Metode Kritik, Jakarta: Erlangga, Cet. I, 2005.
Rahardjo, M. Dawam, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan KonsepKonsep Kunci, Jakarta: Paramadina, Cet. I, 1996.
Rolston, Holmes III, Science and Religion: A Critical Survey, Philadelphia: Temple
University Press, 1987.
Ruskanda, Farid, Pemanfaatan dan Penyebarluasan IPTEK Dalam Sudut Pandang
Syari'at Islam, Jakarta: UMJ Press, 1995.
Sâlik Ahmad Ma‘lûm, al-Fikr al-Tarbawi ‘inda al-Khathîb al-Baghdâdi, Medina:
Mathba‘ah al-Mahmûdiyyah, Cet. I, 1992.
Shihab, M. Quraisy, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, Cet. XII, 1996.
Tawfîq, Muslim, al-Hadhdhu ‘ala al-‘Ilm fi al-Islâm, Tripoli: Mansyûrât Jam`iyyat
al-Da`wah al-Islâmiyyah al-‗Âlamiyyah, Cet. I, 1991.
24
Download