kedudukan pemegang saham (investor) dalam

advertisement
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan Perusahaan...
KEDUDUKAN PEMEGANG SAHAM
(INVESTOR) DALAM KEPAILITAN
PERUSAHAAN GO PUBLIC
Jamin Ginting
ABSTRACT
Shareholder of company that sells its shares to public and eventually has public shareholders, popularly know as go-public company, are the last to get the benefits if their
company is declared insolvent, that is bankrupt. This condition certainly put the said
people in a very weak position, whereas as investors they should enjoy more legal
protection and not the opposite.
By law the Governtment Institution for Investment called Bapepam is required to provide a disclosed information regulation for a go public company against which a
banckruptcy is filed. This would assist the interested whether or not to join the company.
This working paper concerns with the legally weak position of the shareholders. What
legal basis are being based on this situation and how far do the laws and regulations
give legal guarantee and security to the investors of a go-public company.
Keywords : Shareholder, go-public. Investment and bankruptcy.
Pendahuluan
Satu hal yang sangat ditakutkan
oleh investor untuk membeli saham
perusahaan go publik atau
perusahaan terbuka (FT. Tbk.) adalah
lemahnya perlindungan hukum
terhadap perusahaan go public jika
mengalami pailit dan bahkan sampai
pada keadaan dilikuidasi. Peran investor lokal maupun asing pada saat
ini cukup besar dalam melakukan
investasi di perusahaan terbuka,
214
khususnya terhadap perusahaan yang
memang diyakini dapat memberikan
prospek keuntungan yang besar bagi
investor, di sisi lain emiten dengan
segala cara berusaha untuk menarik
minat investor tersebut bahkan
terkadang terkesan mengelabui pihak
investor, hal ini tidak saja berupa
kesengajaan atau kesalahan
manajemen yang membuat emiten
bangkrut, tetapi disamping itu juga
merupakan perbuatan yang di-
Law Review. Fakultas Hukum Univer.iilax Pelila Harapan. Vol. IV. No.3. Marel 2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan Perusahaan...
rencanakan misalnya right issue
dengan rasio yang hampir tidak
masuk akal dan nilai nominal yang
berbeda, serta bentuk right issue lain
yang jika dicermati merupakan suatu
rekayasa (hostile take over).
Kenyataan tragis yang membuat 64
bank dilikuidasi atau dibeku
operasikan (BBO) pemerintah sejak
akhir 1997 hinggal 1999 dan merger
beberapa bank pemerintah dewasa
ini telah membuat investor di pasar
modal menderita rugi besar. Dari 64
bank itu, 11 bank diataranya adalah
bank go public.1
Ada 2 faktor utama penyebab
terlikuidasinya bank go public
tersebut, pertama, kebangkrutan yang
memang disebabkan oleh tekanan
krisis ekonomi, kedua, kebangkrutan
akibatkesalahanmanajemen. Kedua
faktor tersebut ditambah lagi oleh
sikap otoritas pasar modal seperti
Bapepam dan penyelenggara bursa
efek yang tidak menggalakkan
transparansi informasi, misalnya
ketika itu ada saham bank yang
harganya masih menguat sehari
1
Praktek Nakal Di Pasar Modal :
Perlindungan Investor masih Kendur,
Jakarta, http://www. Jurnalindonesia.com
/2002/08.PasModl.htm.
Law Review. Fakullas Hukum Universiuis
Peli
sebelum dilikuidasi. Hal ini
membuktikan bahwa kinerja bank
yang sesungguhnya tidak diketahui
oleh investor atau kemungkinan
penyebabnya yaitu kinerja yang
dipublikasi mengandung data palsu
atau memang manajemen bank
tidak mempublikasikan kinerjanya.
Disinilah peran Bapepam selaku
otoritas pasar modal untuk lebih bijak
dalam mendapatkan informasi dari
perusahaan yang akan dilikuidasi atau
dimohonkan pailit dan menyampaikan
informasi tersebut kepada investor
secaracepat, akurat, transparan, adil
dan merata.
Permasalahan terhadap kepailitan
dalam perusahaan terbuka adalah
bagaimana kedudukan pemegang
saham (investor) terhadap kepailitan
perusahaan go public dan upaya-upaya
perlindungan terhadap pemegang
saham perusahaan go public.
Karakteristik Perusahaan Go Public
Pada prinsipnya perusahaan go
public merupakan perluasan dari
perusahaan biasa (PT. Tertutup),
dalam Pasal 1 butir 22 UndangUndang Pasar Modal No. 8 Tahun
1995 (UUPM No. 8/1995),
disebutkan sebagai berikut:
Hanipun. Vol. IV No. 3. Marel 2005
215
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan Perusahaan...
"Perusahaan Publik adalah perseroan
yang sahamnya telah dimiliki sekurangkurangnya oleh 300 (tiga ratus)
pemegang saham dan memiliki modal
disetor sekurang-kurangnya Rp.
3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah)
atau suatu jumlah pemegang saham
dan modal disetor yang ditetapkan
dengan peraturan pemerintah"2
Dalam perusahaan publik prinsip
disclosure (keterbukaan) lebih
diutama-kan, karena perusahaan
publik mernUiki/menghimpun danadari
masyarakat umum yang diperoleh dari
penjualan saham/obligasi di bursa
efek, sehingga untuk dapat menjadi
perusahaan publik hams memperoleh
ijin efektif dari Bapepam selaku
pengawas pelaksanaan pasar modal
di Indonesia dengan melalui ketentuan
hukum sebagaimana diatur dalam
UUPM No. 8/1995 dan keputusankeputusan Ketua Bapepam yang
mengatur ketentuan dan syarat-syarat
untuk menjadi perusahaan publik,
berikut ini beberapa karakteristik dari
perusahaan publik.
2
Munir Fuady, Pasar Modal Modern
(Buku I), Lampiran I: UU Pasar Modal
No. 8 Tahun 1995, Jakarta, PT. Citra
AdiiyaBakti, 1996, hal. 229
216
a) saham dijual melalui bursa saham
setelah mendapat ijin efektif dari
Bapepam.
b) Jumlah dan pemegang saham
cukup banyak jumlahnya,
sehingga kontrol dan sorotan
masyarakat terhadap kinerja
perusahaan semakin tinggi
terutama tuntutan terhadap^jt/rness fan fair play.
c) Adanya kewajiban perusahaan
untuk membukadiri {disclosure
principle)
d) Adanya pemisahan yang tegas
antara pemilik dengan manajemen perusahaan
e) Adanya kontrol dari Bapepam
terhadap perusahaan untuk
segala tindakan yang menyangkut
saham publik
t) Memiliki prospektus untuk
kelayakan sebagai perusahaan
publik dan sebagai gambaran
keadaan perusahaan.
Perusahaan publik wajib mengungkapkan informasi penting melalui
laporan tahunannya serta laporan
keuangan kepada para pemegang
saham maupun laporan-laporan
lainnya kepada Bapepam, bursa efek,
serta kepada masyarakat dengan cara
Lu* Review. Fakullas Hukum Universiuis Pelitu Harapan. Vol. IV No.3. Marel 2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
yang tepat waktu, akurat, dapat
dimengerti dan obyektif.3
Dalam menjalankan perusahaan, RUPS (Rapat Umum Pemegang
Saham) merupakan organ tertinggi
dari perusahaan. Segala kebijakan
yang diambil dalam RUPS tersebut
harus disampaikan kepada para
pemegang saham, Bapepam, bursa
efek dan masyarakat. Para pemegang
saham di dalam perusahaan serta"orang dalam" lainnya sebagaimana
dimaksud dalam penjelasan Pasal 95
UUPM No. 8/1995 tidak boleh
memanfaatkan informasi orang dalam
berkaitan dengan penanganan sahamsaham perusahaan untuk kepentingan
pribadi yang dapat mengakibatkan
kerugian bagi pemegang saham lainnya
dan atau perusahaan publik tersebut.
Kegiatan perdagangan orang dalam ini
sering juga disebut sebagai kejahatan
insider trading.
Karakteristik Hukum Kepailitan
Tujuan utama dari hukum
kepailitan sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Kepailitan
No. 4 Tahun 1998 (UUK No. 4/
1998), sebenarnya bukanlah untuk
Perusahaan...
melikuidasi perusahaan, tetapi
memberikan kepastian kepada
kreditur terhadap piutangnya untuk
dibayar. Sehingga usaha-usaha untuk
mendapatkan kembali piutang
tersebut dapat melalui restrukturisasi
perusahaan, penjadwalan hutang
maupun dengan pembagian harta
debitursetelahpailit
Adapun yang dapat penulis
ketengahkan dari ciri dan karakteristik
hukum kepailitan adalah sebagai
berikut:
a) Hukum kepailitan bertujuan
untuk meningkatkan asset harta
pailit, dan memberikan kepastian
hukum terhadap pembagian harta
pailit yang adil berdasarkan
proritas kreditur.
b) Menghindari tindakan-tindakan
debitur mengalihkan asset/harta
pailit, baik untuk kepentingan
kreditur tertentu ataupun oleh
kepentingan pihak ketiga.
c) Dalam pengurusan harta pailit
diangkat seorang kurator
bersamaan dengan putusan pailit
yang bertugas sebagai pengurus
dan pemberes harta yang dalam
tindakannya diawasi oleh hakim
pengawas.
' http://www.fcgi.or.id/hukum.htm.. him. 2
Law Review. Fakultas Hukum Universilas Pelila Harapan. Vol. IV No.3. Marel 2005
217
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
d) Putusan pailit hanya dapat
diajukan minimum oleh 2 orang
kreditur atau lebih yang
piutangnya telah jatuh waktu
(tempo) dan dapat ditagih tetapi
tidak dibayar oleh debitur.
e) Pemohon pailit berdasarkan
Pasal 1 UUK No. 4/1998, dapat
berupa perorangan, badan
hukum, kejaksaan untuk
kepentingan umum, Bank Indonesia untuk debitur yang
merupakan bank dan Bapepam
untuk debitur yang merupakan
perusahaan efek.
Status Perusahaan Go Public
Setelah Putusan Pailit
Seperti layaknya perusahaan
tertutup, setelah putusan pernyataan
pailit diputuskan, perusahaan publik
kehilangan hak kepengurusan dan
penguasaan kekayaan sejak hari
diucapkannya pernyataan pailit oleh
hakim (Pasal 22 UUK No. 4/1998),
segala pengurusan dan atau
pemberesan harta perusahaan publik
diberikan kepada kurator (Pasal 12
ayat 1 UU Kepailitan) yang diangkat
bersamaan dengan putusan pailit
berdasarkan Pasal 13 ayat 1 b UUK
No. 4/1998)
218
Perusahaan...
Direksi perusahaan publik sebagai
pelaksana kegiatan perusahaan hanya
dapat bekerjajika diminta oleh kurator
dan tidak mempunyai kewenangan
mewakili perusahaan baik di dalam
maupun di luar pengadilan, sehingga
segala gugatan hukum berkenaan
dengan hak dan kewajiban harta pailit
perusahaan publik tersebut diajukan
oleh atau terhadap kurator. Direksi
perusahaan publik juga dapat dicekal
(terjadi karena hukum) tetapi hal ini
tidak berlaku bagi komisaris dan
pemegang saham publik hanya
diwajibkan pelaporan saja, kecuali
ada indikasi melakukan tindakan
hukum seperti yang dimaksud dalam
prinsip Piercing Corporate Veil dan
Ultra Vires yang akan dibahas dalam
sub bab pertanggungan jawab
pemegang saham.
a. Pengurusan oleh Kurator dan
Peran Bapepam
Peran kurator dalam pengurusan
sangat besar terhadap harta pailit,
dapat dikatakan bahwa kurator
merupakan general manager baru
untuk seluruh kegiatan perusahaan
mulai dari putusan pailit sampai
dengan rehabilitasi terhadap debitur
bahkan kewenangan tersebut terasa
Luw Review. Fakullas Hukum Universiuis Pelilu Harupun. Vol. IV No.j. Muret 2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan Perusahaan...
sangat berlebihan karena dalam
segala tindakannya terhadap harta
pailit perusahaan, kurator tidak
diharuskan memperoleh persetujuan
dan atau menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada
hakim pengawas yang diberikan
kewenangan untuk mengawasi
tindakan-tindakan kurator, tetapi
untuk tindakan tertentu perlu
mendapat persetujuan dari hakim
pengawas4 seperti: 1) tindakan untuk
mengalihkan harta pailit sebelum
putusan pailit; 2) menjaminkan harta
pailit; 3) menghadap di muka
pengadilan; dan 4) melanjutkan usaha
debitur sebelum verifikasi dan lain
sebagainya.
Pengurusan dan pemberesan
harta pailit terhadap perusahaan
publik samadengan perusahaan biasa,
seluruhnya diberikan kepada kurator
4
Pada prinsipnya kurator sudah
berwenang melakukan pengurusan dan
pemberesan harta pailit sejak adanya
putusan pernyataan pailit dari
Pengadilan Niaga sungguhpun terhadap
putusan tersebut diajukan Kasasi (Pasal
12 UU No. 4/1998). Ini adalah kosekuensi
dari sifat "serta merta" (uitvoorbaar bij
vooraad) dari putusan pernyataan pailit.
Munir Fuady (1999). Hukum Kepailitan
Modren, dalam Teori dan Praktek.
Bandung: PT. CitraAdityaBakti. him. 44
sebagai pengurus dan pemberes harta
pailit. Hanya saja dalam praktek,
kurator harus bekerja sama dengan
pengelola perdagangan bursa efek
dan Bapepam.
Satu hal yang menurut penulis
harus dibedakan dari pengurusan dan
pemberesan harta palit perusahaan
publik ialah peran Bapepam terhadap
kelangsungan perusahaan publik yang
pailit, peran Bapepam sebagai
pelindung dari investor (pemegang
saham perusahaan go public)
seharusnya tidak hanya membuat
peraturan pada saat perusahaan akan
melakukan go public saja tetapi juga
harus memikirkan nasib investor
apabila perusahaan publik mengalami
kepailitan, selain kurator dan hakim
pengawas yang mengawasi pelaksanaan pemberesan dan atau pengurusan
harta pailit, dalam perusahaan publik,
Bapepam juga harus dilibatkan
sebagai lembaga pengawas terhadap
tindakan kurator karena pemegang
saham publik merupakan bagian dari
kreditur perusahaan publik yang
mempunyai kepentingan terhadap
harta pailit. Pada saat ini peran
Bapepam yang ada hanya pelaporan
dari emiten jika dimohonkan pailit
yang diatur dalam Keputusan Ketua
Law Review. Fakultas Hukum Universilas Pelila Harapan. Vol. IV No.3. Marel 2005
219
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
Bapepam Nomor : Kep-46/PM/
1998, Nomor : X.K.5, tentang
Keterbukaan Informasi bagi emiten
atau perusahaan publik yang
dimohonkan pernyataan pailit, yang
menyebutkan sebagai berikut5 :
1) Emiten atau Perusahaan Publik
yang gagal atau tidak mampu
menghindari kegagalan untuk
membayar kewajibannya
terhadap pemberi pinjaman yang
tidak terafdiasi, maka Emiten atau
Perusahaan Publik wajib
menyampaikan laporan mengenai
hal tersebut kepada Bapepam
dan Bursa Efek dimana Efek
Emiten atau Perusahaan Publik
tercatat secepat mungkin, paling
lambat akhir hari kerja ke-2
(kedua) sejak Emiten atau
Perusahaan Publik mengalami
kegagalan atau mengetahui
ketidakmampuan menghindari
kegagalan dimaksud.
2) Laporan sebagaimana dimaksud
dalam angka 1 wajib memuat
antara lain rincian mengenai
pinjaman termasuk jumlah pokok
dan bunga, jangka waktu
5
Bapepam, Peraturan No.X.K.5, Jakarta,
http://www.bapepam.go.id/hukum/
peraturan/emiten/ 10_K_5.htm.
220
Perusahaan...
pinjaman, nama pemberi
pinjaman, penggunaan pinjaman
dan alasan kegagalan atau
ketidakmampuan menghindari
kegagalan.
3) Dalam hal Emiten atau Perusahaan Publik diajukan ke
Pengadilan untuk dimohonkan
pernyataan pailit, maka Emiten
atau Perusahaan Publik wajib
menyampaikan laporan mengenai
hal tersebut kepada Bapepam
dan Bursa Efek dimana Efek
Emiten atau Perusahaan Publik
tercatat secepat mungkin, paling
lambat akhir hari kerja ke-2
(kedua) sejak Emiten atau
Perusahaan Publik mengetahui
adanya permohonan pernyataan
pailit dimaksud.
4) Laporan sebagaimana dimaksud
dalam angka 3 wajib memuat
antara lain nama pemberi
pinjaman yang mengajukan
pailit, ringkasan permohonan
pernyataan pailit dan jumlah
pinjaman lainnya.
5) Pihak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 85 UUPM No. 8/
1995, tentang Pasar Modal yang
mengajukan permohonan
pernyataan pailit kepada
Law Review. Fakultas Hukum Universilas Pelila Harapan. Vol. IV. No.3. Marel 2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
Pengadilan terhadap Emiten atau
Perusahaan Publik Wajib
menyampaikan laporan kepada
Bapepam dan Bursa Efek
dimana Efek Emiten atau
Perusahaan Publik tercatat
mengenai hal tersebut secepat
mungkin, paling lambat akhir
hari ke-2 (kedua) pengajuan
permohonan pernyataan pailit.
6) Laporan sebagaimanadimaksud
dalam peraturan ini merupakan
dokumen publik yang tersedia
bagi masyarakat di Pusat
Referensi Pasar Modal sesuai
dengan Peraturan Nomor II. A.2
tentang Prosedur Penyediaan
Dokumen bagi Masyarakat di
Pusat Referensi Pasar Modal.
7) Bursa Efek wajib mengumumkan informasi sebagaimana
dimaksud dalam peraturan ini di
Bursa Efek pada hari yang sama
dengan diterimanya informasi
tersebut oleh Bursa efek.
Dari Keputusan Ketua Bapepam tersebut jelas bahwa proses
kepailitan dalam perusahaan publik
cukup penting terlebih informasi
yang diberikan, karena sangat
berpengaruh terhadap saham-saham
Perusahaan...
publik terlebih terhadap investor
yang menanamkan sahamnya di
perusahaan yang dimohon pailit
tersebut. Sehingga Bapepam hams
mendapat informasi secepat mungkin
terhadap per-usahaan publik yang
dimohonkan pailit guna kepentingan
pemegang saham publik.
b. Pembagian harta pailit
Pada prinsipnya segala kebendaan si berhutang (debitur), baik
yang bergerak maupun yang tak
bergerak, baik yang sudah ada
maupun yang baru akan ada
dikemudian hari, menjadi tanggungan
untuk segala perikatannya perseorangan dan kebendaan tersebut
menjadi jaminan bersama-sama bagi
semua orang yang mengutangkan
padanya; pendapatan penjualan
benda-benda itu dibagi-bagi menurut
keseimbangan, yaitu menurut besar
kecilnya piutang masing-masing,
kecuali apabila diantara para
berpiutang itu ada alasan-alasan
yang sah untuk didahulukan.6
Adapun hirarki dari para kreditur
berdasarkan keseimbangan pem-
Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPerdata
Law Review. Fakultas Hukum Universitas Peliiis Harapcm. Vol. IV No.J. Mare! 2005
221
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
bagian harta pailit adalah7 : 1)
Kreditur Preference, yaitu kreditur
pemegang hak tangungan dan hak
gadai, yang dapat bertindak sendiri.
Kreditur golongan ini dapat menjual
sendiri barang-barang yang menjadi
jaminan, seolah-olah tidak ada
kepailitan; 2) Kreditur istimewa,
yaitu kreditur yang karena sifat
piutangnya mempunyai kedudukan
istimewa dan mendapat hak untuk
memperoleh pelunasan lebih dahulu
dari penjualan harta pailit; dan 3)
Kreditur Konkuren, pelunasan
tagihan-tagihan yang diambil dari harta
pailit setelah dikurangi dengan
pelunasan untuk kreditur preference
dan kreditur istimewa, dibagi menurut
pertimbangan besarkecilnyapiutang
mereka.
Bagaimana dengan para pemegang saham publik (investor)?
para pemegang saham publik
merupakan kreditur yang termasuk
dalam kreditur bersaing (konkuren),
merupakan kreditur yang mendapat
bagian terakhir terhadap harta pailit
seadainya ada deviden dari saham
tersebut yang belum dibayar kepada
7
Erman Radjaguguk, Implikasi lahirnya
Perpu kepailitan terhadap Debitor dan
Kreditor: Tinjauan aspek hukum, Seminar Kepailitan di Jakarta. 1998, him. 13
222
Perusahuan...
para pemegang saham publik maka
pemegang saham hanya bisa
menunggu sisadari harta pailit yang
masih ada. Inilah kelemahan dari
pemegang saham publik yang memiliki
risiko besar terhadap saham yang
dimilikinya, sehingga sebelum
membeli saham publik, investor harus
lebih berhati-hati dalam melakukan
pilihan investasi dan peran Bapepam
sebagai pengawas pasar modal.
c. Pertanggungan jawab pemegang saham
Pada dasarnya setiap pemegang
saham hanya bertanggung jawab
sebatas saham yang dimilikinya atas
kerugian perseroan (Pasal 3 ayat 1
UU PT No. 1/1995) tetapi ada suatu
paradigma baru dalam UU PT No. 1
Tahun 1995 yang menganut prinsip
Piercing Corporate Veil yang dalam
bahasa Indonesia disebut sebagai
menyingkap tabir atau cadar
perseroan8. Pertanggungan jawab
terbatas tersebut tidaklah mutlak,
dalam keadaan tertentu tanggung
jawab terbatas tersebut tidak berlaku
karena ada pengecualiannya. Hal ini
* Chatamarrasjid. (2000). Menyingkap
Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Viel). Bandung : PT. Citra Aditya
Bakti, him. 3
La*' Review. Fakulla.t Hukum Universitas Pelila Harapan. Vol. IV No. J. Mtirei 2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam KepaUitan
dapat kita lihat dalam Pasal 3 ayat 2
yang berbunyi sebagai berikut:
"(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tidak berlaku apabila:
a. persyaratan perseroan sebagai
badan hukum belum atau tidak
terpenuhi.
b. Pemegang saham yang bersangku tan baik langsung maupun tidak
langsung dengan itikad buruk
memanfaatkan perseroan sematamata untuk kepentingan pribadi.
c. pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam
perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh perseroan; atau
d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun
tidak langsung secara melawan
hukum menggunakan kekayaan
perseroan menjadi tidak cukup
untuk melunasi utang perseroan"
Dengan demikian terlihat bahwa
pemegang saham dapat dimintakan
pertanggung jawabannya secara
pribadi terhadap harta-harta yang
dimilikinya, jika terbukti telah
memenuhi kriteriayang terdapat dalam
Pasal 3 ayat 2 UUPT tersebut di atas.
Bagaimana dengan para pemegang
saham publik, peraturan pertanggung-
Perusahaan...
jawaban pemegang saham tersebut
juga berlaku pada kegiatan
perusahaan yang melakukan akti vitas
di pasar modal karena ketentuan
dalam pasar modal belum mengatur
mengenai ketentuan ini, hal ini
berdasarkan apsal 127 UU PT No. 1
Tahun 1995.
Ada perbedaan dengan perusahaan
tertutup yaitu pemegang saham dalam
perusahaan publik dapat kita bagi
menjadi 2 bagian:
a) pemegang saham perusahaan
publik yang turut menentukan
arah kebijaksanaan perusahaan.
(saham pengendali)
b) pemegang saham publik yang
tidak turut serta dalam menjalankan kebijaksanaan perusahaan.
(saham biasa)
Pemegang saham publik yang
tidak turut serta dalam menjalankan
perusahaan biasanyamembeli saham
perusahaan publik ini pada pasar
perdana (primary market) dan pasar
sekunder (secondary
market)
dimana saham-saham tersebut hanya
dijual sebagian kecil saja9, sehingga
g
UsmanMarzuki,dkk.(1999), Pengetahuan
Dasar Pasar Modal. Jakarta: Institut Bankir
Indonesia, him. 175
Uiw Review. Fakultas Hukum Universilus Pelili Harapan, Vol. IV No.J. Murei 2005
223
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan Perusahaan...
para pemegang saham publik yang
diperoleh dari kedua pasar tersebut
tidak terpengaruh dalam kebijaksanaan perusahaan, sehingga kemungkinan
untuk melakukan tindakan yang
dimaksud dalam Pasal 3 ayat 2 UU
PT. No. 1 Tahun 1995 sangat kecil
dan seandainya juga ada kolaborasi
di antara para pemegang saham
tersebut untuk mempengaruhi
kebijaksanaan perusahaan publik
tersebut pemegang saham ini tidak
mempunyai hak untuk menentukan
kebijakan dalam perusahaan publik
tersebut.
Umumnya para pendiri suatu
perseroan tidak ingin perusahaannya
dikendalikan oleh orang lain dengan
penjualan saham di atas dari separuh
jumlah sahamnya yang dijual di pasar
perdana maupun sekunder. Pemegang
saham yang menentukan kebijaksanaan perusahaan adalah pemegang
saham yang memperoleh saham dari
pendirian perseroan dan pada saat
akan dilakukan go public pemegang
saham ini mendapat perlakuan
istimewa dari penerbitan sahamsaham (right issue) yang disebut
sebagai preemptive rights. Para
pemegang saham inilah yang
menentukan arah dan kebijaksanaan
224
perusahaan sehingga para pemegang
saham ini umumnya bertindak sebagai
Direksi dan Komisaris. Dalam hal ini
maka berdasarkan Pasal 3 ayat 2 UU
PT. No. 1 Tahun 1995, pemegang
saham ini dapat dimintakan
pertanggungjawaban secara pribadi
terhadap segala tindakannya yang
termasuk dalam ketentuan pasal
tersebut. Bahkan dalam Pasal 45
KUHD10 menyebutkan sebagai
berikut:
"Tanggung jawab para pengurus
adalah tak lebih daripada untuk
menunaikan tugas yang diberikan
kepada mereka dengan sebaikbaiknya; mereka pun karena segala
perikatan dari perseroan, dengan diri
sendiri tidak terikat kepada pihak
ketiga. Sementara itu, apabila mereka
melanggar sesuatu ketentuan dalam
akta atau tentang perubahan yang
kemudian diadakannya mengenai
syarat-syarat pendirian, maka atas
kerugian yang karenanya telah diderita
oleh pihak ketiga, mereka itupun
masing-masing dengan diri sendiri
bertanggung jawab untuk seluruhnya"
'"Subketi & Tjirosudibio (1983). Kitab
Undang-Undang Hukum Dagang dan
Undang-Undang Kepailitan. Jakarta:
PradnyaParamita. him. 16.
Law Review. Fat.ullas Hukum Universilas Pelita Harapan. Vol. IV. No.J. Marei 2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saharn (Investor) Dalam Kepailitan Perusahaan...
Perbuatan pengurus tersebut
dapat disebut sebagai Ultra Vires"
yaitu perbuatan-perbuatan tertentu,
yang apabila dilakukan manusia
adalah sah, ternyata berada di luar
kecakapan bertindak PT (tidak
tercakup dalam maksud dan tujuan
PT) yang diatur dalam Anggaran
Dasar Perseroan Terbatas, sehingga
pemegang saharn yang melakukan
tindakan dalam pelaksanaan dan turut
serta dalam kebijaksanaan perusahaan dapat dimintakan pertanggungan
jawab sendiri-sendiri secara pribadi.
Upaya Perlindungan Terhadap
Pemegang Saham Publik
Ada beberapa usaha yang
menurut penulis dapat meringankan
beban para pemegang saham
perusahaan yang pailit yaitu:
a. Permohonan pailit oleh pemegang saham publik
Dilema yang dihadapi pada saat
ini adalah apakah pemegang saham
publik dapat melakukan gugatan pailit
terhadap perusahaan publik dan
" Ultra Vires tidak hanya ditujukan pada
pemegang saham, Direksi juga dapat
dimintakan pertanggungjawaban secara
pribadi, Chatamarrasjid (2000).
Menyingkap Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Viel). Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti. him. 20-25.
apakah hal ini menguntungkan bagi
pemegang saham publik atau justru
merugikan ?
Seperti telah disebutkan pada
bab sebelumnya pemegang saham
publik digolongkan ke dalam pemegang saham konkuren (bersaing),
ini berarti pemegang saham publik
dapat melakukan permohonan pailit
terhadap perusahaan publik.
Jika pemegang saham publik
melakukan gugatan pailit terhadap
perusahaan publik, makaalasan yang
paling tepat adalah jika perusahaan
publik tersebut tidak membayar
deviden dari saham pada saat jatuh
tempo dan dapat ditagih dan untuk itu
dibutuhkan 2 atau lebih dari pemegang
saham publik. Jika hal ini dilakukan
dan proses kepailitan benar-benar
terjadi, keuntungan yang didapat dari
pemegang saham publik sebagai
kreditur tentu sangat kecil, karena
statusnya adalah sebagai kreditur
konkuren, kecuali jika para
pemegang saham perusahaan publik
tersebut ingin mengadakan spekulasi
untuk menurunkan nilai saham atau
merusak citra perusahaan publik
tersebut. Disinilah perlu peran Hakim
Pengadilan Niaga untuk menilai
kelayakan permohonan pailit
Lew Review. Fukiilia.s Hukum Universilas Pelila Harupun. Vol. IV. No.J. Morel 225
2005
Ginting: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
perusahaan publik tersebut, apakah
sudah benar-benar dapat memberikan
keadilan bagi perusahaan publik, investor maupun kreditur lain.
b. Restrukturisasi perusahaan
Upaya untuk menghindari
terjadinya kepailitan dalam perusahaan
publik sebenarnya dapat dicegah
dengan mengadakan usaha-usaha
restrukturisasi dalam perusahaan
dengan jalan sebagai berikut:
1) Emiten dapat menerbitkan saham
baru sebagai kompensasi hutanghutang pihak emiten kepada
kreditur, sehingga hutang-hutang
tersebut dapat dikonversikan ke
saham, sehingga perusahaan
dapat melanjutkan usahanya
dengan modal yang likuid dan
piutang kreditur dapat dijamin
dengan saham baru.12
2) Merger, perusahan publik yang
tidak sanggup tersebut dapat
melakukan merger dengan
perusahaan lain yang sehat, hal ini
baik dilakukan terhadap
perusahaan yang masih dalam
satu group usaha.
p
- Munir Fuady. (1999), Pasar Modal
Modren, Bandung : PT. Citra Aditya
Bakti, him. 238
226
Perusahaan...
3) Akuisisi melalui pasar modal,
yaitu dengan penjualan saham
besar-besaran kepada investor
dengan memberikan hak untuk
merubah struktur kepemilikan
dan pengurusan perusahaan.
Kesimpulan
Pada prinsipnya pemegang
saham publik (investor) adalah pihak
yang paling lemah jika terjadi
kepailitan dalam perusahaan publik,
karena merupakan kreditur konkuren
yang mendapat perlakuan terakhir dari
pembagian harta pailit dan itu pun jika
masih ada tersisa. Pemegang saham
publik dapat melakukan tuntutan
pidana terhadap perusahaan publik
jika terdapat kecurangan, penipuan
serta berbagai tindakan yang langsung
maupun tidak langsung telah
merugikan kepentingan pemegang
saham publik di pasar modal. Upaya
yang dilakukan untuk melindungi Investor apat berupa upaya permohonan pailit oleh pemegang saham
publik atau juga dapat mengajukan
usulan untuk mengadakan rekstruturisasi perusahaan publik. Sudah
saatnya Bapepam membuat aturan
hukum bagi perlindungan saham
publik yang diakibatkan pailitnya
Law Review. Fakultas Hukum Univenitm Pelila Harapan. Vol. IV No.3. Marei 2005
Ginling: Kedudukan Pemegang Saham (Investor) Dalam Kepailitan
perusahaan publik dan Bapepam lebih
adil, cepat dan transparan dalam
menyampaikan informasi terhadap
pemegang saham publik terhadap
informasi-informasi kinerja dari
perusahaan publik, untuk menghindari
risiko yang akan dihadapi pemegang
saham publik (investor).
Daftar Pustaka
Fuady, Munir (1999). Pasar Modal
Modren (Buku I) .Bandung: PT.
CitraAdityaBakti.
Fuady, Munir (1999). Hukum
Perusahaan: Dalam Paradigma Hukum Bisnis. Bandung:
PT. CitraAdityaBakti.
Fuady, Munir (1999). Hukum
Kepalitan Modren, dalam
Teori dan Praktek. Bandung:
PT. Cintra Aditya Bakti.
Chatamarrasjid (2000). Menyingkap
Tabir Perseroan (Piercing The
Corporate Viel). Bandung: PT.
CitraAdityaBakti.
Sitompul, Asril. (2000) Pasar
Modal: Penawaran Umum &
Permasalahannya. Bandung:
PT. CitraAdityaBakti.
Perusahaan...
Usman, Marzuki, dkk. (1998).
Pengetahuan Dasar Pasar
Modal. Jakarta: Institut Bankir
Indonesia.
Subekti & Tjirosudibio.( 1983). Kitab
Undang-Undang
Hukum
Dagang dan Undang-Undang
Kepailitan. Jakarta : Pradnya
Paramita.
Radjagukguk, Erman. (1998).
Implementasi Lahirnya Perpu
Kepailitan Terhadap Debitor
& Kreditor: Tinjauan Aspek
Hukum. Jakarta : Makalah
Seminar Kepailitan.
Muljadi, Kartini. (1998). Kompensasi
Tagihan Dengan
Setoran
Harga Saham sebagai Salah
Satu Alternatif Penyelesaian
Utang. Jakarta: Makalah Seminar Kepailitan.
http://www.bapepam.go.id/hukum/
peraturan/emiten/10 K 5.htm.
http://www.jurnalindonesia.com/
2002/08PasModl.htm
http://www.fcgi.or.id/hukum.htm.
Low Review. Fokullos Hukum Universilas Peliui Harapan. Vol. IV. No.3. Morel 2005
227
Download