Masalah yang diteliti dirumuskan bagaimana pendidikan

advertisement
PENDIDIKAN KEMATANGAN JIWA TINJAUAN
MENURUT AL-QUR’AN SURAH AL-AHQAF
AYAT 15
Oleh: Raihanatul Jannah
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa
ketakwaan atau keimanan seseorang dalam perjalanan
hidupnya dapat mengalami pasang surut, turun naik,
bertambah dan berkurang sesuai dengan pengalaman,
lingkungan dan perasaannya. Karena itulah pendidikan
masih sangat perlu untuk pemeliharaan, pengembangan dan
penyempurnaan.
Masalah yang diteliti dirumuskan bagaimana
pendidikan kematangan jiwa dalam al-Qur’an surah alAhqaf ayat 15? Objek yang diteliti adalah surah al-Ahqaf
ayat 15 yang diambil dari beberpa tafsir. Metode yang
digunakan adalah metode Maudhu’i.
Hasil penelitian ini berdasarkan hasil dari analisis
beberapa tafsir dan buku-buku yang berhubungan dengan
masalah tersebut dengan kesimpulan bahwa 1) Kedewasaan
dapat dicapai pada usia 30 hingga 40 tahun, usia 40 tahun
merupakan usia dimana kemampuan fisik dan intelektual
mencapai puncak kematangan dan kedewasaan seseorang. 2)
Pendidikan yang diajarkan dalam surah al-Ahqaf ayat 15 ini
ialah bagaimana cara berhubungasn baik dengan tuhan dan
cara berhubungan baik dengan sesama manusia, khususnya
terhadap kedua orang tua dan keturunan.
Kata Kunci: Pendidikan, Kematangan, Jiwa
193
194 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
A. Latar Belakang
Dalam kehidupannya manusia mempunyai banyak
kebutuhan, yang sangat mendasar adalah kebutuhan untuk
mempertahankan hidup, kebutuhan melestarikan jenisnya
dan kebutuhan untuk mewujudkan kematangaan jiwa. Dari
kebutuhan inilah muncul motif-motif yang menuntut
manusia untuk memenuhinya.
Secara fitrah manusia telah mempunyai potensi untuk
tumbuh dan berkembang serta memiliki kecenderungan sifat
ingin tahu terhadap sesuatu. Dalam rangka mengembangkan
potensi tersebut, maka perlu adanya sarana yang tepat untuk
bisa mewujudkan keseimbangan aspek jasmani dan rohani
dalam rangka mencapai kedewasaan yakni melalui
pendidikan.
Menurut Undang-Undang No. 20 th 2003 Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan
spritual
keagamaan,
pengendalian
diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1
Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 3 yang berbunyi:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
1
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidkan Umum dan Agama
Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 4
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 195
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokrasi serta bertanggung jawab.2
Pendidikan adalah sesuatu yang esensial bagi
manusia. Pendidikan mutlak dibutuhkan oleh manusia untuk
memenuhi fungsi, peran, dan eksistensi kemanusiaannya.
Pendidikan berlangsung seumur hidup atau dari kecil sampai
mati. Bahkan pendidikan dimulai sebelum lahir sehingga
rahim itu sebenarnya adalah lembaga pendidikan dan
pertumbuhan pertama bagi manusia. Oleh kerena itu sampai
masa dewasa pun pendidikan seseorang belum berakhir,
khususnya pendidikan agama.
Agama Ialam yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad SAW. mengandung implikasi pendidikan yang
bertujuan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam
agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu pada
dua penomena perkembangan, yaitu;
1. Potensi
Psikologis
dan
Pedagogis
yang
mempengaruhi manusia untuk menjadi pribadi yang
berkualitas bijak dan menyandang derajat yang
mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.
2. Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai
khalifah di muka bumi yang dinamis dan kreatif
serta responsif terhadap lingkungannya, baik yang
alamiah maupun yang ijtima’iyah, di mana tuhan
menjadi potensi sentral perkembangan.3
Oemar Muhammad al-Toumy al-Syaebani dalam
Arifin (1987: 13) menyatakan bahwa Pendidikan Islam
adalah usaha mengubah tingkah laku individu dilandasi oleh
nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan
2
Ibid., h. 307
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2009), h. 29
3
196 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya
melalui proses kependidikan.4
Menurut Margono Poesposoewarno pendidikan Islam
adalah proses mekanisme bimbingan, tuntunan, pengarahan,
pembinaan, dan penyuluhan oleh subjek didik kepada objek
didik, yang meliputi pengarahan dan peningkatan, jiwa,
pikiran, perasaan, intuisi, imajinasi, kreativitas, serta
intelektualitas dan keterampilan seluruh potensi organisme
rohani seseorang.5
Pendidikan Islam adalah usaha yang berproses
sepanjang hayat, yang menganut prinsip “pendidikan
manusia seutuhnya” yang memandang manusia secara
totalitas, mendekatinya atas dasar potensi yang terdapat
dalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah
kepadanya.
Ketakwaan atau keimanan seseorang dalam perjalan
hidupnya dapat mengalami pasang surut, turun naik,
bertambah dan berkurang sesuai dengan pengalaman,
perasaan dan lingkungannya. Karena itulah pendidikan
Islam berlaku selama hidup untuk menumbuhkan,
memupuk,
mengembangkan,
memlihara
dan
mempertahankan tujuan yang telah dicapai.
Pendidikan Islam memiliki format pemeliharaan,
pemanfaatan, dan pengembangan fitrah kemanusiaan, baik
fitrah sebagai abid (hamba) di hadapan Tuhan maupun fitrah
sebagai manusia sosial dalam lingkungan kehidupan dunia.
Orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kamil masih
perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan
dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan
4
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidkan Islam, (Jakarta:
PT. Raja Gerafindo Persada, 2011), h. 9
5
M. Solihin, Prinsip-Prinsip Dasar Pemikiran Keislaman,
(Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 132
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 197
supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan
oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Pendidikan diri sendiri dalam psikologi lebih tepat
diistilahkan penyesuaian. Proses penyesuaian terhadap diri
sendiri dan lingkungan atas tuntutan diri dan lingkungan,
dengan memetik menfaat pengalaman. Ini dapat terjadi atas
dasar bahwa setiap orang punya daya bangkit diri (self
actualisation), daya nyata diri (self realization), dan daya
arah diri (self direction). Secara menyeluruh, ketiga “daya”
tersebut serentak melahirkan “energi’’ besar bagi individu
untuk menciptakan dan merubah dirinya sendiri dan akan
terpancar merubah lingkungan.6
Psikis atau jiwa seeorang diciptakan Allah dalam
keadaan sempurna yang berfungsi berbuat menampung serta
mendorong manusia untuk berbuat kebaikan dan keburukan.
Namun pada hakikatnya potensi untuk berbuat kebaikan itu
lebih kuat, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari
daya tarik kebaikan, karena itu manusia dituntut untuk
memelihara kesucian jiwanya. Sebagaimana firman Allah
Q.S. Asy-Syam sebagai berikut:
   






  





Menurut Al-Ghazali, bahwa tingkah laku seseorang
itu adalah lukisan jiwanya, yang disebabkan oleh
kebiasaannya, yang pada mulanya bukan merupakan
perbuatan baik atau buruk. Tidak merupakan kekuasaan baik
atau buruk dan tidak merupakan perbedaan baik atau buruk
6
Andi Mappiae, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: PT.
Usaha Nasional,1983), h,xi
198 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
itu. Imam Al-Ghazali termasuk orang yang mempunyai
keyakinan bahwa jiwa manusia itu dapat dilatih, dididik,
dikuasai, diubah kepada akhlak yang mulia dan terpuji. Tiap
sifat itu tumbuh dari hati manusia dan melahirkan
perbuatannya kepada anggota badannya. Sebaliknya tiap
anggota badan ada hubungannya dengan jiwa manusia.7
Jiwa adalah ’sesuatu’ di dalam diri manusia yang
mengalami ‘pertumbuhan’ dan ‘perkembangan kualitas’
seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan
seorang manusia. Semakin dewasa dia maka semakin tinggi
juga kualaitas jiwanya.8 Firman Allah Q.S. Yusuf sebagai
berikut:
  





  
Sebagai seorang muslim kita dituntut secara syariat
untuk mendidik jiwa kita supaya memiliki sifat-sifat terpuji
dari sifat-sifat yang ada pada jiwa, untuk itu kita harus
mengetahui sifat-sifat dari jiwa.
Sifat-sifat jiwa yang terdapat dalam al-Qur’an
sebagai berikut ini:
a. Menyuruh pada kejahatan
b. Menyesali
c. Tenang
d. Berubah-ubah
e. Mampu melakukan tugas
f. Mempermudah untuk melakukan kesalahan
g. Membisikkan untuk melakukan perbuatan baik atau
buruk
7
Muhammad Isa Selamat., Penawar Jiwa Dan Pikiran, (Jakarta:
Kalam Mulia, 2001), h. 158
8
Agus Mustofa, Menyelam Ke Samudra Jiwa Dan Ruh,
(Surabaya: PADMA Press, 2005), h. 11
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 199
h. Menghiasi perbuatan buruk.9
Dengan mengetahui sifat-sifat jiwa tersebut, maka
kita dapat memahami dan mengarahkan jiwa kita agar
terhindar dari hal-hal yang menjerumuskan untuk berbuat,
bertingkah laku yang tidak baik, karena sifat jiwa tidak
hanya cenderung pada kebaikan juga bisa cenderung pada
keburukan. Untuk itulah betapa pentingnya akan pendidikan.
Al-Qalbu yaitu menyangkut jiwa yang bersifat latif
(halus), rabbani (mempunyai sifat ketuhanan), dan
ruhaniah, merupakan haikikat dari manusia, karena sifat dan
keadaannya yang menerima pengetahuan, dapat beramal
sekaligus menjadi objek perintah dan larangan dari Allah.
Jiwa memiliki peranan yang besar dalam kehidupan dan
atasnyalah bergantung nasib baik dan buruk manusia di
dunia dan di akhirat. Menurut al-Ghazali ibarat kerajaan atau
kendaraan, jiwa adalah raja atau pengemudi yang amat
menentukan keselamatan atau kesengsaraan rakyat atau
penumpangnya.10
Dalam psikologi perkembangan Islam, Aliah B.
Purwakania Hasan, menurut guru sufistik, terdapat tujuh
tingkat spritualitas manusia, dari yang bersifat egoistik
sampai yang suci secara spritual, yang dinilai bukan oleh
manusia, namun langsung oleh Allah yaitu: nafs ammarah,
nafs lawwamah, nafs mulhimmah, nafs muthma’innah, nafs
radhiyah, nafs mardhiyah, dan nafs safiyah.11
Sikap kejiwaan seseorang dewasa banyak sakali
ditentukan oleh perlakuan yang dialami pada saat anak-anak,
9
Abdul Hamid al-Balali, Madrasah Pendidikan Jiwa, (Jakarta,
Gema Insani: 2003), h. 17
10
M. Solohin. Penyucian Jiwa Dalam Persepektif Tasawuf AlGhazali, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), h. 47
11
Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam,
(Jakarta, PT Raja Grafindo Persada: 2008), h. 306
200 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
kerena itu tidaklah tepat membiyarkan mareka hidup
terlepas dari ibu bapaknya kandungnya. Sebab pendidikan
yang berlangsung di dalam keluarga adalah bersifat asasi,
orang tua merupakan pendidik pertama, utama, dan kodrati.
Orang tualah yang banyak memberikan pengaruh dan warna
kepribadian seorang anak. Rasulullah menempatkan peran
orang tua pada posisi sebagai penentu bagi pembentukan
sikap dan pola tingkah laku keagamaan seorang anak.
‫صلَّي هللا َعلَْي يه َو َسلَّ َم‬
َ َ‫ ق‬:‫ال‬
َ َ‫َع ْن اَيِب ُهَريْ َرَة َر يض َي هللا َعْنه ق‬
َ ‫ال َر ُس ْو ُل هللا‬
‫ٍ ي‬
‫ي‬
‫ي‬
‫الفطْرية فَاَب واه ي ه يودانييه اَوي نَ ي‬
‫صَرانييه اَْوُُيَ يج َسانييه (رواه‬
ُ ْ َ َ ُ ُ َ َ َ ‫َمام ْن َم ْولُديُ ْولَ ُداالَّ َعلَي‬
12
)‫مسلم‬
Betapapun banyak kasih sayang yang dapat diberikan
oleh orang lain, tetapi tetap saja kasih sayang ibu bapak
masih sangat mareka butuhkan. Jika seseorang sejak muda
mulai belajar mengadakan penyesuaian diri terhadap
perubahan-perubahan, maka besar kemungkinannya
kesukaran-kesukaran emosional yang menghadang dapat
dihindari.
Ada sepuluh karakteristik yang biasa terjadi pada
usia dewasa madya 40-60 tahun:
1) Usia madya merupakan periode yang sangat
menakutkan
2) Usia madya merupakan usia transisi
3) Masa sters
4) Usia yang berbahaya
5) Usia canggung
6) Masa berprestasi
7) Masa evaluasi
8) Dievaluasi dengan standar ganda
12
Abi Zakaria Yahya An Nawawi, Riyadhussolihin, (JeddahSanqafurat: Al Haramain, 2005), cet. Ke 3, h.
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 201
9) Masa sepi
10) Masa jenuh.13
Masa penyesuaian kembali dalam usia setengah baya
sangat penting, sebab tidak sedikit individu yang kurang
sempat bersiap-siap manghadapi perubahan-perubahan fisik
dan peranan dalam usia ini, kekurangmampuan
menyesuaikan diri individu terhadap perubahan-perubahan
akan menimbul-kan dampak negatif yang berbahaya bagi
masa tuanya. Maka di sinilah sebenarnya letak perlunya
pendidikan dan bimbingan bagi orang dewasa untuk menjadi
orang yang memiliki kematangan jiwa.
Secara normal seseorang yang sudah mencapai
tingkat kedewasaan akan memiliki pula kematangan rohani
seperti kematangan berpikir, kematangan kepribadian,
maupun kematangan emosi. Tetapi perimbangan antara
kedewasaan jasmani dan kematangan rohani ini adakalanya
tidak berjalan sejajar. Secara fisik (jasmani) seseorang
mungkin sudah dewasa, tetapi secara rohani ia ternyata
belum matang.
Secara umum manusia terbagi dalam beberapa
kelompok dari tingkat kematangan dalam emosi jiwa,
kesadaran maupun cara berfikir, yaitu:
a) Paling rendah adalah golongan egosentris yaitu
lebih
mengutamakan
diri
sendiri,
tidak
mempedulikan orang lain, dan segala hal yang
difikirkan, dikerjakan hanya untuk mendapatkan
jaminan hidup.
b) Golongan
etnocentris
yaitu
memiliki
kecenderungan lebih teratur, mau taat aturan tetapi
masih menonjolkan sikap merasa paling benar dan
13
Ramayulis., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,
2008), h. 328
202 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
menginginkan pengakuan sebagai pribadi yang
berpengaruh penting di lingkungan.
c) Golongan
world
centris
yaitu
memiliki
kecenderungan berfikir dan bertindak lintas sektor,
lintas agama, dan lintas area.
d) Golongan tertinggi sprit centris yaitu memiliki
kematangan jiwa, bijaksana, kepedulian sosial, dan
berfikir universal dan integral.14
Menurut Drs. Ahmad Mudzakir dan Joko Sutrisno
dalam psikologi pendidikannya dari English dan English
kematangan (Maturity) adalah keadaan atau kondisi bentuk
struktur, dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu
organisme, baik terhadap satu sifat, bahkan sering kali
semua sifat.15
Dalam firman Allah SWT Q.S. al-Ahqaf ayat
15 sebagai berikut:


 










   
  
  







  



  
14
Edukasi. Korupasiana. Com/2010/04/s.....
Ahmad Mudzakir. Dan Joko Sutrisno., Psikologi Pendidikan,
(Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 118
15
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 203
   
  
  
ُ َ‫ ا‬M. Quraish Shihab dalam tafsir alPada kata ْ‫شدَّه‬
Mishbah menjelaskan “sehingga apabila ia” yakni sang anak
“telah dewasa” yakni sempurna awal masa bagi kekuatan
fisik dan psikisnya, ia berbakti kepada kedua orang tuanya
“dan” kebaktiannya itu berlanjut sampai ia “mencapai usia
empat puluh tahun” yakni masa kesempurnaan
kedewasaannya, dan sejak itu “ia berdo’a”.16
Dalam do’a ini tergambar terjadinya kesadaran dan
peningkatan pengabdian dan kebaktian kepada kedua orang
tua dari saat ke saat dan juga terlihat adanya kesadaran untuk
mensyukuri nikmat dari Allah serta sadar akan perbuatanperbuatan yang telah lalu, sehingga bertaubat dan berserah
diri kepada Allah SWT.
Pada dewasa madya antara 40-60 tahun akan tampak
tanda-tanda atau isyarat yang menunjukkan kemana
kecenderungan yang sebenarnya, ke arah kebaikan atau
kejahatan, menjadi manusia pembangunan atau perusak.
Sehubungan ayat ini Ibnu Abbas berkata “Barang
siapa yang mencapai usia 40 tahun, sedang perbuatan
baiknya belum dapat mengalahkan perbuatan jahatnya, maka
hendaknya ia bersiap-siap untuk masuk neraka”.17
Berdasarkan tafsiran M. Quraish Shihab tersebut kata
yang berarti “telah dewasa” yakni sempurna awal masa
kekuatan fisik dan psikisnya. “Dan sampai umurnya empat
puluh tahun” yakni sempurna kedewasaannya” di sini
dijelaskan bahwa dewasa bukan hanya fisiknya tetapi juga
16
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, pesan kesan dan
keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati 2002), h, 87
17
Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya,
(Yogyakarta: PT. Bhakti Wakaf, 1990), h. 285
204 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
matang psikisnya, dan sempurna kedewasaan itu yaitu usia
empat puluh tahun.
Menurut Sayyid Quthb dalam tefsirnya Fi ZhilalilQur’an menjelas-kan kedewasaan dicapai pada usia sekitar
30 hingga 40 tahun. Usia 40 merupakan puncak kematangan
dan kedewasaan. Pada usia ini sempurnalah segala potensi
dan kekuatan, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk
merenung dan berpikir secara tenang dan sempurna. Pada
usia ini fitrah yang lurus lagi sehat mengacu kepada apa
yang ada dibalik kehidupan dan sesudahnya, mulai
merenungkan tempat kembali dan akhirat.18
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merasa
perlu untuk meneliti lebih jauh tentang pendidikan
kematangan jiwa yang terdapat di dalam al-Qur’an surah alAhqaf ayat 15. Dengan ini diharapkan dengan pendidikan
seseorang dapat mengarahkan dirinya dalam menghadapi
masa tuanya kelak yang berorentasi kepada kebahagiaan
dunia dan kebahagiaan akhirat.
Maka dengan ini penulis mengangkat permasalahan
tersebut yang dituangkan dalam bentuk penelitian dengan
judul;
“PENDIDIKAN
KEMATANGAN
JIWA
TINJAUAN MENURUT AL-QUR’AN SURAH ALAHQAF AYAT 15”.
B. Penegasan Judul
Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam judul
penelitian di atas, maka perlu menguraikan pengertian
tersebut satu persatu dalam pengertian ini;
1. Pendidikan. Maksudnya yaitu pendidikan Islam
menurut Drs. Ahmad D Marimba bahwa pendidikan
Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan
18
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an Jilid 10, penerjemah
oleh As’ad Yasin, dkk (Jakarta: Gema Insan Press, 2004), h, 322
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 205
hukum-hukum agama Islam menuju kepada
terbentuknya kepribadian utama (insan kamil)
menurut ukuran–ukuran Islam.19
2. Kematangan adalah suatu kondisi atau tahap yang
dicapai
dalam
proses
pertumbuhan
atau
perkembangan. Dapat diartikan “matur” atau
matangnya suatu fungsi atau potensi baik fisik atau
mental psikologis tertentu sehingga kondisinya
dalam keadaan mampu atau sanggup untuk
dikembangkan atau digunakan.20 Atau istilah
kematangan (maturity) adalah pencapaian tingkat
abilitas tertentu bagi perkembangan rohani.21
Di sini kematangan yang dimaksud adalah
sebagaimana penafsiran Sayyid Quthb jika seseorang
sudah mencapai usia 30-40 maka berarti dia sudah
matang baik dari segi fisiknya maupun psikisnya,
memiliki kesiapan untuk merenung, berfikir dan
pemahaman secara tenang dan sempurna.
3. Jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat
abstrak yang menjadi penggerak dan pengatur bagi
sekalian perbuatan manusia.Yang dimaksud di sini
adalah sikap, prilaku, penampilan, kebiasaan dan
pandangan hidup seseorang yang tampak pada diri
seseorang.22 Yang dimaksud di sini yaitu sikap,
19
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka
Setia, 1999), h. 9
20
M. Alisuf Sabri., Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman
Imu Jaya, 1996), h. 47
21
Jalaluddin., Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada 2004), h, 115
22
Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka
Cipta,2009), h. 1
206 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
prilaku, dan pandangan hidup seorang hamba yang
terdapat pada surah al-Ahqaf ayat 15.
4. Tinjauan adalah pandangan terhadap suatu perkara
untuk menentukan hasil ketercapaian, apakah
mempunyai sebab akibat, hubungannya ataupun
kebrhasilannya. Yang dimaksud di sini adalah sudut
pandang penafsiran mufassir terhadap al-Qur’an
surah al-Ahqaf ayat 15.
5. Al-Qur’an yang dimaksud di sini adalah surah alAhqaf ayat 15.
Berdasarkan pengertian di atas yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah pendidikan kematangan jiwa berupa
sikap, prilaku dan pandangan hidup yang terkandung dalam
surah al-Ahqaf Ayat 15.
C. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis akan membahas
pendidikan kematangan jiwa dalam al-Qur’an surah alAhqaf ayat 15. Maka rumusan masalahnya adalah
bagaimana pendidikan kematangan jiwa dalam al-Qur’an
surah al-Ahqaf ayat 15?
D. Alasan Memilih Judul
Dipilihnya judul penelitian ini disebabkan oleh
beberapa alasan, antara lain yaitu:
1. Ketakwaan atau keimanan seseorang dalam
perjalanan hidupnya dapat mengalami pasang surut,
turun naik, bertambah dan berkurang sesuai dengan
pengalaman, lingkungan dan perasaannya. Karena
itulah pendidikan masih sangat perlu untuk
pemeliharaan, pengembangan dan penyempurnaan.
2. Pendidikan Islam yang menganut asas “long life
education” pendidikan seumur hidup, dan menganut
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 207
prinsip “pendidikan manusia seutuhnya.” sehingga
penulis tertarik untuk memilih judul tersebut.
3. Dalam ayat ini terdapat anjuran berdo’a pada usia 40
tahun, sehingga penulis merasa tertarik untuk
menelitinya lebih dalam.
4. Sepengatahuan penulis Surah al-Ahqaf Ayat 15 ini
belum ada yang menelitinya.
E. Tujuan Pendidikan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah
dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana pendidikan kematangan jiwa dalam
al-Qur’an surah al-Ahqaf ayat 15.
F. Signifikansi Penelitian
Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini
diharapkan bermenfaat sebagai:
1. Bahan informasi mengenai nilai-nilai pendidikan
kematangan jiwa yang digambarkan dalam alQur’an surah al-Ahqaf ayat 15.
2. Bahan masukan bagi setiap muslim khususnya para
remaja dan generasi pemuda agar mempersiapkan
diri untuk penyesuaian terhadap perubahan pada
usia setengah baya.
3. Sumbangan keilmuan sekaligus sebagai salah satu
syarat dalam rangka
memenuhi tugas untuk
mencapai gelar sarjana S-1 program studi
pendidikan agama Islam Sekolah Tinggi Agama
Islam Darussalam Martapura.
G. Metode Penelitian
1. Metode penelitian
208 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan (Library Research) dengan mengkaji
al-Qur’an dan menafsirkannya. Metode penafsiran ini
menggunakan metode maudhu’i (tematik) dengan objek
penelitian yaitu Surah al- Ahqaf Ayat 15.
M. Quraisy Syihab dalam tulisannya Tafsir al-Qur’an
Masa Kini mengemukakan 8 langkah yang harus ditempuh,
yaitu:
a. Menetapkan masalah/judul pembahasan, dalam
hal ini penulis kehendaki yaitu tentang
pendidikan kematangan jiwa tinjauan surah alAhqaf Ayat 15.
b. Menghimpun/menetapkan
ayat-ayat
yang
menyangkut masalah tersebut.
c. Menyusun urutan ayat-ayat tadi sesuai dengan
masa turunnya dengan memisahkan periode
Mekah dan Madinah.
d. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam
surahnya masing-masing.
e. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis
yang menyangkut masalah tersebut.
f. Menyusun pembahasan salah satu kerangka
yang sempurna.
g. Studi tentang ayat-ayat tersebut secara
keseluruhan dengan jalan menghimpun ayatayat yang mempunyai pengertian yang sama
atau mengompromokan ‘am dan khas (umum
dan khusus), mutlak dan muqayyad (yang
bersyarat dan yang tampa bersyarat) atau yang
kelihatannya bertentangan, sehingga semuanya
bertemu dalam satu muara tampa perbedaan
atau pemaksaan dalam pemberian arti.
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 209
h.
Menyusun
kesimpulan-kesimpulan
yang
menggambarkan jawaban al-Qur’an terhadap
masalah yang dibahas tersebut.23
Sedangkan langkah-langkah yang penulis lakukan
dalam hal penafsiran ayat tersebut yaitu:
a. Menetapkan masalah/judul pembahasan, dalam
hal ini penulis kehendaki yaitu tentang
pendidikan kematangan jiwa tinjauan surah alAhqaf Ayat 15.
b. Menghimpun/menetapkan
ayat-ayat
yang
menyangkut masalah tersebut.
c. Menyusun ayat-ayat tersebut.
d. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam
surahnya masing-masing.
e. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis
yang menyangkut masalah tersebut.
f. Menyusun
kesimpulan-kesimpulan
yang
menggambarkan jawaban al-Qur’an terhadap
masalah yang dibahas tersebut.
2. Data dan Sumber Data
a. Data
Data yang digali dalam penelitian ini adalah masalah
pendidikan kematangan jiwa yang ada dalam al-Qur’an
surah al-Ahqaf ayat 15.
b. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber
data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer
yaitu:
Rachmat Syafe’i., Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka
Setia, 2006), h. 295
23
210 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
1) Depertemen Agama Republik Indonesia, AlQur’an dan Tafsirnya jilid 9 (Yogyakarta:
PT Bhakti Wakaf, 1990).
2) Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an Jilid
10, penerjemah oleh As’ad Yasin, dkk
(Jakarta: Gemma Insani Perss, 2004)
3) Ringkasan Ibnu Katsir 4
4) M. Quraish Shihab, Tafsir Al -Misbah
(Jakarta; Lentera Hati. 2002)
Sedangkan sumber data sekunder di antaranya:
1) Nur Uhbiyati, Dra. Hj., Ilmu Pendidikan
Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1997).
2) Jalaluddin. Prof. Dr., dan Ramayulis. Prof.
Dr., Pengantar Ilmu Jiwa Agama (Jakarta:
Kalam Mulia, 1998).
3) Ali Abdul Halim Mahmud. DR., Pendidikan
Rohani, (Jakarta: Gema Insani, 2000)
4) M. Alisuf Sabri. H. Drs., Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,
1996)
5) Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi
Perkembangan Islam, (Jakarta, PT Raja
Grafindo Persada: 2008)
Selain sumber-sumber di atas, akan didukung
sumber-sumber lain yang berhubungan dengan masalah
yang diteliti.
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akurat, maka
diperlukan teknik sebagai berikut:
a. Survey ke perpustakaan, yaitu penulis
mengunjungi perpustakaan-perpustakaan untuk
mencari kitab dan buku yang ada hubungannya
dengan permasalahan yang diteliti, terutama di
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 211
perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam
Darussalam.
b. Studi kepustakaan, yaitu mempelajari kitab dan
buku yang telah dikumpulkan satu persatu,
memberi tanda dan mengutip data yang
relevan, untuk ditulis dalam penelitian.
4. Pengolahan Data dan Analisis Data
a. Pengolahan Data
Data yang terkumpul, diolah melalui tahapan-tahapan
sebagai berikut:
1) Editing data yaitu memeriksa dan
mempelajari data agar sesuai dengan tujuan
penelitian.
2) Klasifikasi yaitu mengelompokkan data ke
dalan sub-sub untuk memudahkan dalan
menyajikan data.
3) Interpretasi yaitu menafsirkan dan memberi
penjelasan pada data agar dipahami.
b. Analisis Data
Setelah data diolah, maka langkah selanjutnya adalah
menganalisis data tersebut untuk mendapatkan hasil akhir
dari penelitian yang dilakukan. Dalam menganalisis data,
penulis
menggunakan
teknik
kualitatif,
dengan
menggunakan
metode
maudhu’i
yaitu
berupa
menghimpunkan ayat-ayat al-Qur’an dari berbgai surah yang
berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan
sebelumnya, kemudian penulis membahas dan menganalisa
kandungan ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan
yang utuh.
H. Hasil Temuan Penelitian
1. Tafsir Al-Mishbah
212 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
Menurut penafsiran M. Quraish Shihab, dalam ayat
tersebut kita sebagai manusia diperintahkan untuk selalu
taat kepada Allah dan juga berbakti kepada kedua orang tua.
Sebagai seorang anak kita dituntut untuk meningkatkan
pengabdian dan berbakti kepada kedua orang tua dari saat
ke saat, walaupun telah mencapai usia kedewasaan yaitu
antara 33-40 tahun dan memiliki tanggung jawab terhadap
istri dan anak-anaknya.
Pada saat memasuki usia tua, seseorang mulai
mengalami kemunduran fisik. Islam mewajibkan seorang
anak untuk memelihara orang tuanya, sebagai balasan dan
bentuk syukur atas segala jasa dan pengorbanan dari apa
yang dilakukan orang tua sewaktu anakanya masih kecil.
Anak sebaiknya menggunakan kata-kata yang halus kepada
orang tuanya. Sebagaiman firman Allah SWT. Q.S al-Isra’
ayat 23 sebagai berikut:























.  
Rasulullah saw. bersabda: “Wahai para pemuda,
jagalah cinta kasih ayahmu! jangan kau putuskan, sebab
Allah bisa memudarkan cahayamu.”24 Yakni rasa malu,
wajah, dan hati akan pekat. Karena itu, kita diperintahkan
untuk selalu menjaga hubungan dengannya, selalu
bercakap-cakap dengannya, jika tidak, Allah akan
24
Amru Muhammad Khalid, Pribadi Penuh Arti, (Jakarta: PT.
Serambi Ilmu Semesta, 2007), h. 123
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 213
memadamkan cahaya hati sehingga menjadi gelap. Selain
itu Rasulullah saw. juga bersabda: “diantara hamba ada
yang tidak Allah ajak bicara,” Sahabat bertanya, “siapakah
wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “orang yang berlepas
diri dari kedua orang tuanya,”25
Orang yang berlepas diri dari orang tua adalah orang
yang membiarkan kedua atau salah satu orang tuanya di
panti jompo, malu atas keduanya dihadapan orang lain, atau
malu untuk keluar bersama mereka karena takut orangorang akan menganggapnya rendah.
Bakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua
adalah bersikap sopan santun kepada keduanya dalam
ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan
masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap anak.
Termasuk dalam kata bakti adalah mencukupi kebutuhankebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan
anak.
Betapa Allah memuliakan kedua orang tua, sehingga
banyak ayat-ayatnya yang memerintahkan manusia untuk
berbakti kepada kedua orang tuanya bagaimana pun
keadaan kedua orang tuanya.
Berbakti kepada kedua orang tua juga merupakan
salah satu sebab diterimanya do’a oleh Allah. Ridho Allah
yang mengalir bersama ridhonya orang tua, sungguh akan
melahirkan kebahagiaan dan berbagai nikmat yang tiada
tara. Di antaranya, panjang umur dan rejeki yang
dimudahkan. Kesulitan hidup akan lenyap begitu saja
lantaran do’a dan ridho ibu bapak. Sebagaimana sabda Nabi
saw sebagai berikut:
25
Ibid, h. 124
214 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
‫ال رس ُ ي‬
‫صلَّى اّللُ َعلَْي يه‬
َ َ‫َع ْن َعْب يد هللاي ابْ ين َم ْسعُ ٍد َر يض َي هللاُ َعْنهُ ق‬
َ ‫ول اّلل‬
ُ َ َ َ‫ ق‬:‫ال‬
‫ حديث‬.‫ط الْ َوالي َديْ ين‬
َّ ‫ط‬
َّ ‫ضي‬
ُ ‫اّللُ ُس ْخ‬
ُ ‫ضي الْ َوالي َديْ ين َو ُس ْخ‬
َ ‫اّللُ ي ِْف ير‬
َ ‫َو َسلَّ َم ير‬
26
.‫رواة خباري ومسلم‬
Dalam penafsiran beliau, Dewasa yakni sempurna
awal masa bagi kekuatan fisik dan psikisnya, ia berbakti
kepada kedua orang tuanya dan kebaktiannya berlanjut
sampai ia mencapai usia empat puluh tahun yakni masa
kesempurnaan kedewasaannya, dan sejak itu ia berdo’a
memohon agar pengabdiannya kepada kedua orang tuanya
semakin bertambah.
Perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat
kemampuan (abilitas). Pencapaian tingkat abilitas tertentu
bagi perkembangan rohani disebut istilah kematangan
(maturity).27
Untuk merumuskan kematangan jiwa seseorang
tidaklah mudah sebab jiwa manusia merupakan rahasia
tuhan. Seperti dalam firman Allah SWT. dalam surah alIsra: 85 sebagai berikut:


   
   
  
 
26
Abi Zakaria Yahya bin Syarif An Nawawi, Riyadus
Sholihin,penerjemah Salim Bahreisj Juz 1, (Bandung: Al-Ma’arif 2004),
h. 26
27
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada 2004), h, 115
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 215
Dalam konteks modern saat ini, penyakit jiwa yang
menyerang manusia antara lain: kecemasan, kesepian,
kebosanan, perilaku menyimpang dan psikosomatis.28
Orang yang sakit jiwanya, buruk akhlaknya,
biasanya akan ditandai dengan sifat nifak, memperturutkan
hawa nafsu, berlebih-lebihan dalam bicara, marah, dengki,
cinta keduniaan, bakhil, riya, takabbur dan sombong. Sifatsifat tercela ini menurut kesehatan mental dapat dipandang
sebagai gangguan kejiwaan, karena sifat-sifat tersebut
membawa kepada ketidaktentraman jiwanya.
Pada ayat tersebut terlihat dalam do’anya adanya
kesadaran untuk melakukan kebaikan dan mensyukuri
nikmat Allah, dan kesadaran adanya perhatian kepada anak
cucunya, serta sadar akan perbuatan-perbuatan yang telah
lalu sehingga ia bertaubat dan berserah diri kepada Allah
swt. Hal ini menunjukkan adanya kematangan jiwa yang
terealisasi pada usia 40 tahun.
Orang yang matang jiwanya adalah orang yang
pandai dan senantiasa bersyukur atas kenikmatankenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya, yang
melakukan segala daya upaya untuk memenfaatkan seluasluasnya apa yang telah dilimpahkan kepadanya.
Bersyukur tidaklah mudah, kecuali bagi orang-orang
yang beriman dan mampu melawan hawa nafsunya.
Ungkapan rasa syukur itu tidak hanya dilakukan dengan
ucapan alhamdulillah, tetapi dapat juga diungkapkan dalam
bentuk yang lebih luas, yaitu melalui sikap, perbuatan, dan
tindakan yang lebih bersifat konstruktif.
Memang terasa sulit membiasakan diri untuk
memiliki kesadaran tersebut, sehingga banyak di antara
28
Ahmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur’an: Solusi Krisis
Keruhanian Manusia Modern, (Jakarta: Paramadina, 2000), h. 8
216 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
kita yang salah menerapkan kalimat syukur. Oleh
karenanya, kita harus selalu meminta bimbingan Allah
SWT, agar menjadi hamba yang bersyukur.
Bersyukur merupakan suatu amalan yang utama dan
mulia. Selain itu bersyukur adalah sebab kekalnya suatu
nikmat, sehingga nikmat tersebut akan semakin bertambah.
Oleh karena itu Allah SWT, memerintahkan kita untuk
selalu bersyukur kepada-Nya, dan mengakui segala
keutamaan yang telah Dia berikan. Bersyukur, sebagai salah
satu jalan berserah diri kepada Allah, telah meninggalkan
manfaat yang hanya dapat dirasakan oleh setiap manusia
yang pandai bersyukur.
Pada ayat ini juga menunjukkan betapa pentingnya
ibu kandung memberi perhatian yang cukup terhadap anakanaknya, khususnya pada masa-masa pertumbuhan dan
perkembangan jiwanya. Sikap kejiwaan orang dewasa
banyak sekali ditentukan oleh perlakuan yang dialaminya
pada saat kanak-kanak, karena itu tidaklah tepat
membiarkan mereka hidup terlepas dari ibu bapak
kandungnya.
Di dalam do’a itu merupakan seruan qalbu, sebuah
kesadaran tentang betapa luas rahmat Allah SWT. bagi
setiap hambanya, adanya kesadaran untuk memohon
pertolongan agar mendapatkan taufik untuk beramal saleh
untuk meraih keridhaan Allah yang merupakan puncak
pencarian dan harapan seorang hamba. Di dalam do’a
tersebut juga adanya keinginan hati seorang mukmin agar
amal salehnya sampai kepada keturunannya beribadah
kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya. Selain itu hamba
tersebut juga memohon syafaat untuk bertaubat dan
berserah diri kepada-Nya.
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 217
Do’a adalah permohonan hamba kepada Tuhan
Allah SWT. agar memperoleh anugrah pemeliharaan dan
pertolongan, baik buat si pemohon maupun pihak lain.29
Do’a yang dipanjatkan dengan istiqomah itu lebih
utama daripada seribu kemuliaan dari terkabulnya do’a, itu
karena do’a sanggup meruntuhkan kesombongan dan
keangkuhan, sedang terkabulnya do’a sering kali
mengandung kesombongan. Sebagaimana istilah “istiqomah
lebih baik dibandingkan seribu karamah”.
Do’a yang dipanjatkan dengan kesungguhan dan
istiqomah akan membuahkan keridhaan, ketenangan jiwa,
dan cinta kasih. Semua ini adalah puncak dari kebersihan
hati dan jiwa, nafs mutma’innah. Do’a adalah sarana yang
sangat baik untuk memperbaiki jiwa, membersihkan hati
dari berbagai penyakit, dan menjadikan seseorang memiliki
akhlak yang terpuji, yang memiliki kematangan jiwa.
Keistimewaan-keistimewaan do’a diantaranya:
1. Do’a sebagai sarana yang mendekatkan diri kepada
rabb.
2. Do’a sebagai pintu menuju ma’rifatullah, do’a
memberi menfaat untuk mengetahui kehinaan
seorang hamba dan memahami keagungan dan
kemuliaaan rabb, yang menjadi dasar dari
penyembahan dan pengenalan diri terhadap Allah.
3. Do’a sebagai sarana memperbaiki prasangka
kepada rabb. Seorang hamba yang bersungguhsungguh dalam berdo’a dan tidak putus asa, maka
hikmah dan pengetahuan akan mengalir dalam
dirinya hingga ia akan selalu menggarahakan
prasangka baik kepada rabb-nya.
29
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tentang Zikir Dan
Do’a, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 179
218 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
4. Do’a sebagai perwujudan tawakkal kepada Allah,
di dalam do’a terdapat ihktiar manusia,
kebergantungan hati terhadap Allah, penyerahan
diri, kepercayaan, dan keyakinan kepada janji-Nya.
5. Do’a sebagai pintu keridhaan terhadap Allah, do’a
yang
sesungguhnya
adalah
permohonan,
penyerahan diri, dan ridho terhadap segala
ketentuan-Nya. Dalam permohonan itu terkandung
sikap butuh dan lemah dihadapan-Nya. Dalam
penyerahan diri terdapat sikap tawakkal kepada
Allah, dan dalam sikap menerima dan sukacita itu
tersimpan keridhaan terhadap segala keputusanNya.30
Dengan demikian pada surah al-Ahqaf ayat 15 ini
mengajarkan kita do’a yang dipanjatkan seorang hamba
yang berumur 40 tahun yang merupakan salah satu cara
untuk mendapatkan ketenangan jiwa, sehingga dia
menemukan jati dirinya yang mempunyai kematangan jiwa.
Isi do’a tersebut mengarahkan untuk selalu bersyukur,
sabar, ridha, tawakkal, raja’, dan khauf.
2. Tafsir Ibnu Katsir
Sama halnya dengan penafsiran M. Quraish Shihab,
penafsiran Ibnu Katsir pada surah al-Ahqaf ayat 15 tersebut
juga menyatakan bahwa seorang anak dituntut agar berbakti
kepada kedua orang tuanya. Dalam penafsirannya Ibnu
Katsir mengartikan dewasa itu, yaitu kuat, muda, dan
dewasa. Dan pada usia 40 tahun seseorang sudah
mempunyai akalnya matang dan pemahamannya telah
sempurna.
Mahmudin, Keajaiban Energi Do’a, (Jokyakarta: Locus,
2008), h. 17
30
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 219
Pada ayat ini mengarahkan seseorang untuk
memperbarui taubatnya dan meneguhkan hatinya. Bertaubat
kepada Allah, kembali kepada-Nya, dan segera menutupi
apa yang telah terlewatkan dengan taubat dan istigfar
merupakan sifat-sifat yang diterima Allah atas kebaikankebaikan yang telah mereka amalkan dan akan diampuni
segala kesalahan mereka.
Manusia diwajibkan bertaubat dalam rangka
penyucian diri (tazkiyat an-nafs). Ketika hati telah
tersucikan, seorang akan rindu untuk pulang kepada sang
Kekasih Sejati, yaitu Allah SWT. Fenomena ini bukan suatu
kebetulan, tetapi sudah merupakan gejala “Kebangkitan
Spiritual”.
Jalaluddin Rumi menekankan agar manusia sadar
bahwa ia harus membersihkan diri dari dosa untuk
menyiapkan wadah yang mampu menampung sifat-sifat
tuhan (takhalli). Selanjutnya, ia harus mampu menyerap
sifat-sifat tuhan ke dalam dirinya, bukan malah
menyirnakan dirinya dari sifat-sifat tuhan (tahalli), dan
kemudian dapat memanifestasikan sifat-sifat Allah dalam
kehidupannya (tajalli), sesuai dengan apa yang menjadi
kehendak Allah kepadanaya. 31
Dalam hidup di dunia ini, manusia memerlukan
kesadaran diri. Kesadaran diri (nafs) adalah sebuah jalan
selamat, jalan berserah diri yang akan mengantarkan para
pejalan sehingga sampai tujuan. Untuk sampai pada
kesadaran diri (nafs) ini, harus ada upaya-upaya yang
dilakukan.
Proses perkembangan menuju tahapan yang lebih
tinggi merupakan proses transformasi diri, untuk mencapai
31
Mukhtar Sholihin, Dan Rosihon Anwar, Hakikat Manusia
(Menggali Potensi Kesadaran Pendidikan Diri Dalam Psikologi Islam),
(Bandung: Pustaka Setia, 2005), h. 49
220 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
kesadaran spiritual. Langkah-langkah yang dilakukan
adalah dengan mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela
(takhalli) untuk menyiapkan wadah dan menghiasinya
dengan sifat-sifat tepuji (tahalli). Dampak Takhalli dan
Tahalli adalah sang hamba dapat mengejawantahkan sifatsifat Tuhan ke dalam dirinya (Tajalli). Ia adalah archetype
(pola dasar) dari nama-nama tuhan. Proses Takhalli dicapai
dengan melakukan pertaubatan yang diikuti dengan sifat
zuhud, sabar, syukur, ridha, tawakkal, raja, khauf, dan
sampai pada kondisi faqr, kondisi ketika seorang hamba
telah tiada dan hanya Allah yang tampak.32
Setelah melakukan serangkaian proses pertaubatan,
sang jiwa sampai pada perahmatan pertama yaitu disucikan
qalbunya. Selanjutnya memasuki pada fase pengingatan
kembali perjanjian alam “alastu” (kesadaran nafs), yang
merupakan perahmatan kedua, yaitu terbukanya penyaksian
manifestasi kesucian Ilahi. Upaya yang dilakukan untuk
mengingat kembali perjanjian ini adalah dengan melakukan
proses teoetika, yaitu kondisi ketika sang perjalanan
merasakan “kehambaan” atau “kemakhlukan” sejati serta
merasakan sumber Ilahiyah dan menyadari bahwa
kedudukannya di dunia ini adalah sebagai pengemban
amanah, bukan penguasa yang mutlak. Proses selanjutnya
adalah psikoetika, kondisi ketika jiwa yang disertai dengan
penyerahan diri yang kuat yang diarahkan untuk bergerak
menuju level nafs mutmainnah. Kemudian dilanjutkan
dengan proses sosioetika, yang terkait dengan pelaksanaan
amal saleh sebagai bekal untuk memunculkan pelita di
dalam diri. Ketiga proses itu akhirnya kembali bermuara
pada teoetika, yaitu telah terjadi kebangkitan jiwa, kondisi
terkuaknya perjanjian alam alastu dan termunculkannya ruh
al-quds di dalam diri. Manusia yang dapat memunculkan
32
Ibid, h. 101
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 221
ruh al-quds adalah pertanda manusia sempurna (insan
kamil).33
Dengan demikian surah al-Ahqaf ayat 15 ini
khususnya dalam do’a tersebut Ibnu Katsir menjelaskan
seorang hamba dituntut untuk bertaubat dan meneguhkan
hatinya untuk melakukan itu, ini merupakan gambaran
pendidikan kesadaran diri yang terealisasi pada usia 40
tahun. Selain itu di dalam do’a tersebut juga terdapat
adanya kesadaran diri, memohon untuk diberikan kekuatan
agar selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah
kepadanya, selain itu juga agar diberikan kekuatan untuk
beramal saleh, dan amal saleh itu sampai pada anak
cucunya. Dan di akhir penutup do’anya ia memohon ampun
bertaubat dan berserah diri kepada-Nya.
I. Simpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
pendidikan kematangan jiwa dalam surah al-Ahqaf ayat 15
sebagai berikut:
1. Kedewasaan dicapai pada usia 30 hingga 40 tahun.
Usia 40 tahun merupakan usia di mana kemampuan
fisik dan intelektual mencapai puncak kematangan
dan kedewasaan seseorang. Pada usia ini sempurna
segala potensi dan kekuatan, memiliki kesiapan
untuk merenung, berfikir dan pemahaman secara
tenang dan sempurna. Tetapi perimbangan antara
kedewasaan jasmani dan kematangan rohani ini
adakalanya tidak berjalan sejajar. Secara fisik
(jasmani) dan segi usia seseorang mungkin sudah
dewasa, tetapi secara rohani ia ternyata belum
matang.
33
Ibid, h. 102
222 Ta’lim Muta’allim, Vol. II Nomor 03 Tahun 2012
2. Pendidikan kematangan jiwa yang diajarkan dalam
surah al-Ahqaf ayat 15 ini ialah bagaimana cara
berhubungan baik dengan tuhan dan cara
berhubungan baik dengan sesama manusia,
khususnya terhadap kedua orang tua dan keterunan;
yaitu dengan cara berdo’a, yang isi dari do’a
tersebut melahirkan sikap berupa zuhud, sabar,
syukur, ridha, tawakkal, raja, khauf, dan taubat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hamid al-Balali, Madrasah Pendidikan Jiwa, Jakarta,
Gema Insani: 2003.
Abin Syamsuddin Makmun. H., Psikologi Kependidikan,
cet. 11, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Raihanatul Jannah, Pendidikan Kematangan Jiwa ... 223
Abi Zakaria Yahya bin Syarif An Nawawi, Riyadhussolihin,
cet. Ke 3, Jeddah-Sanqafurat: Al Haramain, 2005.
Abi Zakaria Yahya bin Syarif An Nawawi, Riyadhussolihin,
Penerjemah H. Mahrus Ali Juz 1, Surabaya: Al-Hidayah
1997.
Abi Zakaria Yahya bin Syarif An Nawawi, Riyadus
Sholihin, penerjemah Salim Bahreisj Juz 1, Bandung:
Al-Ma’arif 2004.
Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rineka
Cipta, 2009.
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode
Klasik, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2009.
Agus Mustofa, Menyelam Ke Samudra Jiwa Dan Ruh,
Surabaya: PADMA Press, 2005.
Ahmad Mudzakir Dan Joko Sutrisno. Psikologi Pendidikan,
Bandung: Pustaka Setia, 1997
Download