Document

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI PANGAN
Percobaan 8:
Pengujian Mikroorganisme Pada Air Dengan Metode Perhitungan MPN
Disusun oleh :
Ika Mustikawati
(1506358)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGROINDUSTRI
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
I. Teori
A.
Bakteri coliform sebagai indikator keamanan air minum
Air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi setiap orang. Tanpa air,
berbagai proses kehidupan tidak dapat berlangsung dengan cara yang dapat
menjamin kesehatan tubuh dan kelangsungan hidup. Dengan demikian
menyediakan air yang menjadi faktor penentu kesehatan dan kesejahteraan
manusia merupakan pekerjaan mulia yang mendukung kelangsungan hidup
umat manusia. Namun, air yang layak untuk diminum adalah air yang
memenuhi syarat kesehatan sehinggadapat diminum secara langsung atau air
harus dimasak terlebih dahulu agar dapat diminum (Pratiwi, 2007, hlm. 59).
Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan syarat-syarat kualitas
air minum dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor.
907/MENKES/SK/VII/2002. Persyaratan kualitas air minum yang dimaksud
meliputi persyaratan fisik, kimiawi, bakteriologis dan radioaktif. Persyaratan
fisik meliputi parameter warna, suhu, kekeruhan, rasa dan bau. Persyaratan
kimia meliputi parameter bahan kimia organik, anorganik, pestisida,
disinfektan dan hasil sampingannya. Sedangkan persyaratan bakteriologis
meliputi Escherichia coli (E.coli) atau bakteri tinja dan total bakteri Coliform.
Penetapan E.coli sebagai indikator definitif pencemaran tinja karena hampir
semua saluran pencernaan makhluk hidup atau hewan berdarah panas
mengandung E.coli. KepMenkes telah menetapkan bahwa yang dimaksud
dengan air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Salah satu indikator pencemaran mikrobia adalah keberadaan bakteri
coliform. Bakteri coliform ada yang bersifat patogen yaitu bakteri yang dapat
menimbulkan
penyakit.
Bakteri
coliform
masuk
dalam
famili
Enterobacteriaceae yang mempunyai 14 genus. Bakteri coliform yang ada
dalam air dibedakan ke dalam 2 kelompok yaitu kelompok fecal (E. coli) dan
non fecal (Enterobacter aerogenus). Bakteri coliform merupakan indikator
kontaminasi lingkungan atau sanitasi yang kurang baik sedangkan E. coli
sebagai indikator kontaminasi tinja dari manusia dan hewan berdarah panas
(Waluyo, 2007).
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010: Air
minum yang aman harus terhindar dari kemungkinan kontaminasi Escherichia
Coli atau total bakteri Coliform tinja dengan standar 0 dalam 100 ml air
minum. Keberadaan Escherechia colli atau total bakteri Coliform dalam air
minum merupakan indikasi telah terjadinya kontaminasi tinja manusia.
B.
Pengujian bakteri coliform
Menurut Pelczar dan Chan (dalam Atmojo dkk., 2011, hlm. 12)
pemeriksaan organisme coliform menggunakan media selektif dan diferensial
yang dilakukan dengan 3 (tiga) langkah, yaitu meliputi :
1.
Uji penduga (presumptive test).
Pada uji penduga digunakan media LB Broth sebagai media tumbuh
bakteri. Tabung tabung fermentasi yang menghasilkan gas pada uji penduga
menunjukkan adanya bakteri coliform positif. Pada tabung-tabung fermentasi
yang positif ini kemudian dilanjutkan ke uji tahapan selanjutnya yaitu uji
penguat.
2.
Uji penguat (confirmed test).
Dari hasil uji penduga yang positif lalu diinokulasikan pada media uji
penguat brilliant green lactose bile broth (BGLB) sebagai media selektif.
Diinkubasikan pada suhu 370C untuk total coliform dan 440C untuk fecal
coliform selama 48 jam. Tabung tabung fermentasi yang terdapat gas dalam
tabung durham berarti uji penguat positif terdapat bakteri coliform.
3.
Uji lengkap (completed test)
Hasil yang positif pada uji penguat dilanjutkan uji lengkap yaitu
digoreskan dengan menggunakan ose ke permukaan media Endo-agar dari
tabung-tabung fermentasi yang positif
pada tes penguat. Fecal coliform
ditunjukkan dengan warna metalik setelah diinkubasi pada suhu 370C selama
24 jam. Dilakukan pewarnaan Gram untuk menentukan bakteri Gram negatif
atau Gram positif. Jika kultur dugaan tersebut E. coli maka akan menunjukkan
sifat Gram negatif dan morfologi sel berbentuk batang pendek.
C.
Macam-macam media yang digunakan
1.
Lactose Broth
Komposisi per liter dari Lactose Broth terdiri dari :

Peptone dari gelatin 5 gr/L,

Ekstrak daging (sapi) 3 gr/L,

Laktosa 5 gr/L.
Lactose Broth merupakan medium cair untuk pertumbuhan mikroorganisme
untuk mendeteksi kehadiran bakteri coliform dalam air, makanan, dan produk
susu. Pada umumnya digunakan untuk mempelajari fermentasi laktosa oleh
bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi oleh
mikroorganisme coliform dan kemudian menghasilkan gas. Escherichia coli
bisa tumbuh baik dalam medium ini (Rahmat dkk., 2012)
2.
BGLB (Brilliant Green Lactose bile Broth)
Medium BGBB (Brilliant Green Lactose bile Broth) merupakan
medium untuk perhitungan (enumeration) bakteri coliform yang toleran panas
dan E. coli di dalam susu, atau produk olahan susu lainya, air minum dan air
limbah. Adanya bile dan brilliant green akan menghambat mikrobia grampositif dan gram negatif lain selain coliform. Perkembangan mikrobia coliform
dalam medium ini ditunjukan dengan adanya kekeruhan dan pembentukan gas
dalam tabung durham sebagai hasil fermentasi laktosa (Rahmat dkk., 2012).
3.
ENDO agar
Medium ENDO agar merupakan medium selektif untuk deteksi dan
isolasi E. coli dan mikrobia coliform. Adanya sodium sulfat dan fuksin akan
menghambat pertumbuhan mikrobia gram- positif. E. coli dan mikrobia
coliform akan memetabolisme laktosa dan menghasilkan aldehid dan asam.
Aldehid akan melepaskan fuksin dari senyawa fuksin- sulfat, fuksin kemudian
akan mewarnai koloni merah, dan E. coli akan terlihat berwarna hijau metalik.
Kandungan medium ini adalah pepton (10 g), Na2HPO4 (2.5 g), laktosa (10 g),
sodium sulfat anhidrose (3.3 g), pararosanilin/ fuksin (0.3 g) dan agar (12.5 g)
(Rahmat dkk., 2012).
4.
Eosin Methylene Blue
Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung
laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa
seperti S.
aureus,
P.
aerugenosa,
dan
Salmonella.
Mikroba
yang
memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap
dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya
tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu mempertajam
perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap
awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan Salmonella
sp dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik untuk
mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli. Agar EMB (levine)
merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri
coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang menggunakan
eosin dan metilin blue sebagai indikator memberikan perbedaan yang nyata
antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak.
5.
Nutrient Agar (NA) Medium tersebut mengandung sukrosa karena
kemempuan bakteri koli yang lebih cepat meragikan sukrosa daripada
laktosa (Rahmat dkk., 2012).
NA merupakan medium padat yang digunakan untuk pertumbuhan
mayoritas
dari
mikroorganisme
yang
tidak
selektif,
dalam
artian
mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat
dari ekstrak beef, pepton, dan agar (Suryadi, H. dkk., 2008).
D.
Pewarnaan Gram
Menurut H. M. Subandi (2010) dalam pewarnaan gram juga digunakan 4 zat
kimia yang berbeda-beda, zat kimia tersebut adalah:
1.
Zat warna primer yaitu kristal violet berfungsi sebagai zat warna primer
dan memberikan warna pada seluruh bagian sel berarna biru ungu.
2.
Iiodin, zat ini berperan sebagai mordan yaitu zat kimia yang
membentuk komplek yang tidak larut dengan mengikat zat warna
primer. Hasilnya adalah kompleks kristal violet iodin yang berfungsi
mengintensifkan warna zat warna primer sehingga seluruh sel akan
tampak
ungu
gelap.
Warnanya
akan
sangat
sulit
untuk
dipisahkan/dihilangkan.
3.
Zat decoulourizing, yaitu aseton alkohol dengan konsentrasi 95%. Zat
itu berperan ganda sebagai pelarut lipida dan sebagai zat dehidrasi
protein efektif. Perannya bergantung pada konsentrasi lipida dari
dinding sel mikroorgansime.
Pada sel gram positif konsentrasi lipid yang sedikit akan dengan mudah
larut dalam alkohol dan menyebabkan pembentukan pori-pori dinding
sel yang kecil. Pori-pori itu kemudian ditutup dengan alkohol yang
mempunyai daya dehidrasi. Sebagai akibatnya zat warna primer yang
terikat kuat menjadi sulit dihilangkan dan sel tetap berwarna biru.
Sedangkan pada sel bakteri gram negatif dibagian luar lapisan dinding
sel terdapat konsentrasi lipid yang tinggi menyebabkan hilangnya
kompleks kristal violet-iodin. Konsentrasi lipida yang tinggi larut oleh
alkohol yang menciptakan pori-pori yang besar pada dinding sel. Hal
itu akan menyebakan lepasnya zat kristal violet iodin yang tidak terikat
dan menyebabkan sel bakteri tersebut kehilangan warnanya atau tidak
berwarna.
4.
Lawan warna (counterstain) yaitu safranin. Zat ini merupakan zat kimia
terkhir untuk mewarnai sel yang kehilangan warnanya oleh alkohol.
Karena hanya pada gram negatif yang luntur warnanya maka hanya
gram negatif yang akan menyerap/menerima zat warna safranin ini.
Sedangkan gram positif akan tetap berwarna seperti zat warna primer
tadi.
E.
Metode MPN
Metode MPN dapat digunakan untuk menghitung bakteri coliform (total
colifrom). MPN merupakan suatu metode untuk menghitung jumlah mikroba
dengan menggunakan media cair dalam tabung reaksi yang pada umumnya
setiap pengenceran menggunakan 3 atau 5 seri tabung dan perhitungan yang
dilakukan merupakan tahap pendekatan secara statistik. Prinsip utama metode
ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehingga didapatkan
konsentrasi mikroorganisme yang sesuai dan jika ditanam dalam tabung
menghasilkan frekuensi pertumbuhan tabung positif. Semakin besar jumlah
sampel yang dimasukkan, semakin rendah pengenceran yang dilakukan maka
semakin sering tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sampel yang
dimasukkan, semakin tinggi pengenceran yang dilakukan maka semakin jarang
tabung positif yang muncul (Raharja, Z. T., 2015, hlm. 13).
Nilai MPN sangat berguna untuk menentukan jumlah mikroorganisme
dengan konsentrasi
rendah. Metode ini
umumnya digunakan untuk
menganalisa susu, pangan, air atau tanah. Tabung positif ditunjukkan oleh
adanya pertumbuhan bakteri dan gas. Menurut Raharja, Z. T. (2015, hlm. 13)
nilai MPN diperoleh dengan asumsi sebagai berikut:

Bakteri dalam contoh menyebar secara acak

Bakteri dalam contoh tidak berkelompok tetapi saling terpisah

Organisme yang terdapat dalam contoh dapat tumbuh dalam media
selama inkubasi.
II. Tujuan
Berikut ini adalah tujuan dari diadakannya praktikum tentang menghitung
jumlah mikroorganisme berdasarkan nilai MPN (Most Probable Number):
1. Mengetahui kualitas air dengan cara mengetahui jumlah mikroorganisme
berdasarkan nilai Most Probable Number (MPN)
2. Mengetahui jasad indikator pada masing – masing sampel air.
III. Alat Dan Bahan
3.1. Bahan
a. Air keran
b. Laktosa Broth (LB) 0,5%
c. Alkohol 70%
d. BGLB (Briliant Green Lactosa Broth)
e. Endo Agar
f. NA Miring
g. Aquades
h. Gram A (kristal violet)
i. Gram B (mordan)
j. Gram C (aseton alkohol)
k. Gram D (safranin)
3.2. Alat
a. Minyak imersi
b. Cawan petri
c. Jarum ose
d. Inkubator
e. Bunsen
f. Korek api
g. Semprotan alkohol
h. Rak tabung reaksi
i. Tabung durham
j. Pipet volume
k. Objek glass
l. Mikroskop Cahaya Listrik
m. Kapas
n. Glasfirn pupm
o. Beaker glass
p. Pipet tetes
q. Hair dryer
IV. Prosedur Kerja
Uji Pendugaan
a. Mesterilkan tangan dan meja.
b. Menyiapkan sampel air (air isi ulang) secara steril kemudian dihomogenkan
dengan mengocoknya sebanyak 25 kali.
c. Memasukkan masing – masing 10 ml air isi ulang ke dalam 3 tabung reaksi
yang masing – masing berisi 10 ml Laktosa Broth.
d. Memasukkan masing – masing 1 ml air isi ulang ke dalam 3 tabung reaksi
yang masing – masing berisi 10 ml Laktosa Broth.
e. Memasukkan masing – masing 0,1 ml air isi ulang ke dalam 3 tabung reaksi
yang masing – masing berisi 10 ml Laktosa Broth.
f. Diinkubasi semua tabung pada suhu 37 0C selama 2X24 jam.
g. Mengamati terbentuknya gas tiap 24 jam.
h. Mencatat jumlah tabung reaksi yang terbentuk gas (positif terbentuk gas)
pada tiap seri tabung (10 ml, 1 ml, 0,1 ml)
i. Menentukan nilai MPN.
Uji Penegasan
a. Mensterilkan tangan dan meja.
b. Sampel air diinokulasi medium Briliant Green Lactosa Broth dan diinkubasi
2X24 jam pada suhu 37 0C.
c. Mengamati hasil yang positif terbentuk gas kemudian diambil 1 ose dan
ditanam di media Endo Agar dengan teknik streak plate.
d. Diinkubasi pada suhu 37 0C selama 2X24 jam.
e. Mengamati adanya koloni tipikal (merah tua atau hijau metalik).
Uji Lengkap
a. Diinokulasi medium Laktosa Broth dengan koloni tipikal.
b. Membuat piaran NA miring dari koloni tipikal.
c. Semua diinkubasi selama 2X24 jam pada suhu 37 0C.
d. Mengamati terbentuknya gas pada media Laktosa Broth.
e. Melakukan pewarnaan gram dari piaran NA miring.
1) Membersihkan tangan dan meja dengan alkohol.
2) Mengambil obyek glass dan fiksasi dengan melidah apikan di atas Bunsen
sebanyak 2 – 3 kali secara cepat.
3) Mengambil antara 1 piaran NA miring dan diletakkan di atas obyek glass.
4) Meratakannya dengan jarum ose.
5) Mefiksasi dengan melidah apikan bagian yang tidak ada kumannya di atas
bunsen 2 – 3 kali dengan cepat.
6) Menuangkan pewarna gram A (Carbol gentian violet), biarkan 1 menit.
7) Membuang sisa Carbol gentian violet.
8) Mencuci preparat dengan air mengalir.
9) Mengeringkan preparat dengan menggunakan hair dryer.
10) Menuangkan pewarna Gram B (Mordan), biarkan selama 2 menit.
11) Membuang sisa Iodium.
12) Mencuci preparat dengan air mengalir.
13) Mengeringkan preparat menggunakan hair dryer.
14) Dipucatkan dengan pewarnaan Gram C (aseton alkohol) dengan cara
meneteskan perlahan sampai warna ungu hilang.
15) Membilas dengan air mengalir.
16) Menuangkan pewarna Gram D (safranin) sebagai warna penutup atau
pembanding biarkan selama 30 detik.
17) Membuang kelebihan Safranin.
18) Mencuci preparat dengan air mengalir.
19) Mekeringkan preparat dengan meletakkan diantara 2 buah kertas isap.
20) menambahkan minyak imersi pada preparat.
21) Mengamati preparat di bawah mikroskop dengan pembesaran kuat
(100X).
22) mengamati jenis dan bentuk morfologi bakteri.
V. Hasil Pengamatan
No
1
2
3
Jenis Uji
Hasil
Ya

(Ada gelembung/gas)
Tidak
Uji Pendugaan.
Pertumbuhan di media Laktosa Broth (ada
gas atau tidak)
Uji Penegasan

a. Pertumbuhan media Briliant Green
(Ada gelembung/gas)
Lactosa Broth.
b. Pertumbuhan media Endo Agar
1) Typical
1) Ada typical
2) Atypical
(Warna merah tua
3) Metatypical
danhijau metalik)
Uji Lengkap

a. Pertumbuhan media Laktosa Broth
(Ada gelembung/gas)
pada suhu 44,5 0C
b. Pertumbuhan media NA miring
1. Bentuk batang
 (Berbentuk batang)
2. Gram negatif
 (Gram negatif)
3. Tidak ada spora
 (Tidak berspora)
Uji Pendugaan Sampel Air
10 ml
1
No tabung yang positif
1 ml
1
Nilai MPN per 100 ml
0,1 ml
0
7
VI. Pembahasan
Air sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Tubuh
manusia memerlukan air untuk proses pencernaan, penyerapan, sirkulasi,
transportasi nutrisi, mengeluarkan zat sisa metabolisme dan lain lain. Air
yang diminum haruslah bersih dan sehat jangan sampai manfaat air yang
awalnya untuk kesehatan tubuh namun malah menjadi mebahayakan bagi
tubuh. Air bebas yang ada di alam tentunya tidak dapat langsung diminum
oleh kita karena banyak sekali mikroorganisme yang mungkin ada dalam
air itu walaupun tidak dapat dilihat secara kasat mata oleh kita.
Kontaminasi
tercemarnya
kotoran
mikroba
atau
pada
feses
air
(fekal)
dapat
atau
disebabkan
karena
pun
karena
juga
limbah/bangkai hewan yang telah mati (non-fekal). Adanya bakteri
coliform dalam suatu makanan dan minuman menunjukkan kemungkinan
adanya mikroba yang bersifat enteropatogenik atau toksigenik yang
berbahya bagi kesehatan. Bakteri koloform dapat menjadi indikator dari
kontaminasi fekal. E. colli, bakteri yang banyak ditemukan di usus
manusia merupakan indicator adanya kontaminasi fekal dari manusia.
Selain E. colli, coliform lainnya seperti Enterobacter aerogenes yang
berasal dari non fekal mungkin juga ditemukan pada sampel air (Raharja,
Z. T., 2015, hlm. 5).
Pada praktikum kali ini kami menguji sampel air dari keran
dengan beberapa metode uji yaitu uji penduga, uji penguat dan uji
pelengkap.
1.
Uji Pendugaan (presumptive test).
Pada uji penduga digunakan media LB Broth sebagai media
tumbuh bakteri. Pada pengujian yang kami lakukan setelah menginkubasi
sampel selama 48 jam terdapat gelembung-gelembung kecil dalam tabung
durham. Dalam medium yang mengandung laktosa ini terbukti bahwa
dalam sampel air itu memang terdapat bakteri coliform karena bakteri ini
dapat memfermentasi laktosa menjadi asam dan gas.
Tabung-tabung fermentasi yang menghasilkan gas pada uji
penduga menunjukkan adanya bakteri coliform positif. Pada tabung-
tabung fermentasi yang positif ini kemudian dilanjutkan ke uji tahapan
selanjutnya yaitu uji penguat (Atmojo dkk., 2011, hlm. 12).
2.
Uji Penegasan (confirmed test).
Dari hasil uji penduga yang positif lalu diinokulasikan pada media
uji penguat brilliant green lactose bile broth (BGLB) sebagai media
selektif. Diinkubasikan pada suhu 370C untuk total coliform dan 440C
untuk fecal coliform selama 48 jam. Tabung tabung fermentasi yang
terdapat gas dalam tabung durham berarti uji penguat positif terdapat
bakteri coliform (Atmojo dkk., 2011, hlm. 12).
Agar lebih yakin dengan hasil dari uji pendugaan maka
dilakukanlah uji penguat. Untuk lebih mengefektifkan waktu dalam
pengujian ini kami tidak melanjutkan dari hasil uji penduga tapi
melakukan pengujian ini pada waktu yang sama dengan uji penduga,
medium yang digunakan yaitu BGLB dan EMB. Hasilnya pun sama pada
uji penguat juga terdapat gas dalam tabung durham. Semua tabung reaksi
yang positif terdapat gas (dalam medium LB, BGLB, dan EMB) diambil
sebanyak 1 ose setelah itu ditanam di media Endo Agar dengan teknik
streak plate. Setelah diinkubasi selama 48 jam dalam 370C terdapat koloni
typical yang menghasilkan warna merah tua dan hijau metalik pada mediamedia tadi.
Berdasarkan hasil pengamatan koloni dalam media EMB koloni
berwarna gelap dengan kilap logam yang terbukti dalam media ini
memang ditumbuhi mikroba coliform khususnya E.colli yang menjadi
indicator keamanan air. Medium EMB atau Methylene Blue mempunyai
keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba
yang memfermentasikan laktosa. Sedangkan mikroba lain yang dapat
tumbuh koloninya tidak berwarna. Medium tersebut mengandung sukrosa
juga karena kemampuan bakteri E.colli yang lebih cepat meragikan
sukrosa daripada laktosa (Rahmat dkk., 2012).
3.
Uji lengkap (completed test)
Hasil yang positif pada uji penguat dilanjutkan uji lengkap yaitu
digoreskan dengan menggunakan ose ke permukaan media NA miring dari
tabung-tabung fermentasi yang positif pada tes penguat. Fecal coliform
ditunjukkan dengan warna metalik setelah diinkubasi pada suhu 370C
selama 2X24 jam. Lalu dilakukan pewarnaan Gram untuk menentukan
bakteri Gram negatif atau Gram positif. Uji kelengkapan kembali
meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif
dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri coliform: berbentuk batang,
gram negatif, tidak-berspora (Atmojo dkk., 2011, hlm. 12).
Berdasarkan hasil pengamatan ternyata bakteri yang diamati
memiliki sifat Gram negatif. Pada sel bakteri gram negatif dibagian luar
lapisan dinding sel terdapat konsentrasi lipid yang tinggi menyebabkan
hilangnya kompleks kristal violet-iodin. Konsentrasi lipida yang tinggi
larut oleh alkohol yang menciptakan pori-pori yang besar pada dinding sel.
Hal itu akan menyebakan lepasnya zat kristal violet iodin yang tidak
terikat dan menyebabkan sel bakteri tersebut kehilangan warnanya atau
tidak berwarna (H. M. Subandi, 2010). Setelah itu dilakukan penambahan
zat warna safranin dan bakteri ini pun dapat menyerap warna tersebut yang
menandakan bahwa bakteri yang diamati memang mempunyai gram
negatif. Morfologi sel berbentuk batang pendek, tidak memiliki spora dan
tergolong aerob dengan terbukti adanya gas dalam tabung durham. Sudah
jelas memang bakteri ini adalah Escherichia colli.
Metode perhitungan MPN menggunakan media cair di dalam
tabung reaksi yang berisi tabung durham, dimana perhitungan dilakukan
berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad
renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Metode MPN (Most
Probable Number) untuk uji kualitas air saat praktikum menggunakan
coliform sebagai indikator (Fardiaz, 1992). Pemeriksaan air dapat diuji
menggunakan tiga tahapan pengujian yaitu uji dugaan, uji penetapan, dan
uji pelengkap. Air yang mengandung kurang dari 1 coliform per 100 ml
merupakan golongan kelas I yang berarti air tersebut sangat baik untuk
dikonsumsi. Nilai coliform 1-2 per 100 ml digolongkan pada kelas II yang
berarti air tersebut baik dikonsumsi. Air dengan jumlah coliform 3-10
merupakan golongan air yang termasuk kelas III dan tidak baik
dikonsumsi. Sedangkan jika nilai coliform lebih dari 10 per 100 ml, maka
air tersebut sudah tidak boleh dikonsumsi lagi (Suriaman dan Juwita.,
2008).
Berdasarkan hasil pengamatan, pada tabung yang berisi sampel air
10 ml terdapat 1 koloni bakteri, pada tabung yang berisi sampel air 1 ml
terdapat 1 koloni bakteri, pada tabung yang berisi sampel air 0,1 ml
terdapat 0 koloni bakteri dan ketika di cocokkan dengan tabel maka dalam
100 ml sampel air terdapat 7 bakteri coliform. Maka sampel merupakan
golongan air yang termasuk kelas III, air tersebut tidak aman untuk
dikonsumsi secara langsung.
(sumber : http://lh5.ggpht.com/_kFz4vOoppxQ/SSKlURjlOI/AAAAAAAAAW0/1WBH5GE3QiE/clip_image0045.jpg)
Bahaya bakteri coliform
Berikut merupakan beberapa bakteri coliform yang merugikan diantaranya
adalah:
1.
Enteropathogenik E. coli (EPEC)
Bakteri ini merupakan bakteri penyebab diare pada bayi secara
epidemi dan sporadis. EPEC menyebabkan diare berair dan kadang
berdarah. EPEC atau disebut juga EAEC (Entero-Aggregative E. coli)
dapat menyebabkan Travelers's Diarrhea disertai mual, muntah, dan nyeri
perut. Cara infeksinya yaitu dengan cara melekatkan dirinya pada sel
epitel usus halus menggunakan EPEC adhesion factor (EAF), kemudian
menginjeksikan toksinnya kedalam enterosit. Penyebarannya terjadi
karena konsumsi air minum yang terkontaminasi dan produk daging yang
terkontaminasi (Raharja, Z. T., 2015, hlm. 13).
2.
Enterohemorrhagic E. coli (EHEC)
EHEC merupakan penyebab utama dari kolitis hemoragik atau
diare berdarah yang dapat menjadi fatal berupa sindrom hemolitik uremik.
Hal ini disebabkan oleh hemolisin yang dapat melisiskan eritrosit. Gejala
yang timbul adalah trombositopeni dan gagal ginjal akut. EHEC juga
mampu
memproduksi
toksin.
Infeksi
EHEC
kebanyakan
akibat
pencemaran air dan makanan dan daging yang mentah, susu mentah,
sayur-sayuran, susu basi dan jus apel yang tidak dipasteruisasi (Raharja, Z.
T., 2015, hlm. 13).
3.
Enterobacter aerogenes
Enterobacter aerogenes merupakan bakteri gram positif berbentuk
batang, aerob dan fakultatif anaerob, pembentuk spora.
Mikrobia ini
ditemukan pada hewan yang telah mati, berkenaan dengan kemampuannya
menghidrolisis protein menjadi histamine.
Mikrobia ini merupakan
mikrobia perusak pangan terutama pangansumber protein hewani seperti
daging dan ikan, dengan mendegradasi protein menjadi histamine
(Raharja, Z. T., 2015, hlm. 13).
4.
Klebsiella pneumonia
Klebsiella pneumonia berbentuk bakteri gram positif berbentuk
batang, aerob dan fakultatif anaerob, pembentuk spora. Mikrobia ini
merusak
pangan
hewani
berkenaan
dengan
kemampuannya
menghasilkanenzim histidin dekarboksilase yang memecah histidin
menjadi histamine. Histamine merupakan indikator mutu rendah pada
pangan hewani (Risna, Mahendradatta dan Jumirah, 2003).
VII. Kesimpulan
1. Metode perhitungan MPN menggunakan media cair di dalam tabung
reaksi yang berisi tabung durham, dimana perhitungan dilakukan
berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad
renik setelah inkubasi pada suhu 370C dalam waktu 48 jam. Sampel air
dari hasil pengamatan menujukkan adanya 7 bakteri coliform per100 ml
air yang menadakan bahwa air itu tidak dapat dikonsumsi secara
langsung.
2. Pemeriksaan air diuji menggunakan tiga tahapan pengujian yaitu uji
dugaan, uji penetapan, dan uji pelengkap.
3. Bakteri E. colli terdapat dalam sampel air karena setelah diamati memiliki
ciri morfologi sel berbentuk batang pendek, tidak memiliki spora, gram
negatif dan tergolong bakteri aerob.
VIII. Saran
Bakteri coliform itu dapat menganggu kesehatan tubuh kita sebaiknya
kita lebih berhati-hati terutama dalam memilih air minum yang akan
dikonsumsi. Sebenarnya bakteri E. colli pun dapat hilang jika kita selalu
menjaga kebersihan dalam hidup kita.
Daftar Pustaka
Atmojo, T. Y. dkk. (2011). Eksistensi Koprostanol Dan Bakteri Coliform Pada
Lingkungan Perairan Sungai, Muara, Dan Pantai Di Jepara Pada Monsun
Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan Vol.9, No. 1, hlm. 10-17.
Fardiaz, Srikandi. (1992).Polusi Air dan Udara. Jakarta: Kanisius.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang syaratsyarat kualitas air minum
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang
persyaratan kualitas air minum.
Pratiwi, A. W. (2007). Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang di Wilayah
Kota Bogor. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2, No. 2, hlm.
58-63.
Raharja, Z. T. (2015). Identifikasi Escherichia colli pada Air Minum Isi Ulang
dari Depot di Kelurahan Pisangan dan Cirendeu Tahun 2015. (Skripsi).
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta.
Rahmat, C. D. dkk. (2012). Macam-Macam Media Cair. [Online]. Diakses dari
http://dokumen.tips/documents/macam-macam-media-cair.html
Subandi H.M. (2010). Mikrobiologi. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Suriaman, E. dan Juwita. (2008). Uji Kualitas Air. Jurnal Mikrobiologi Pangan.
UIN Malang
Suryadi, H. dkk. (2008). Pemeriksaan Bakteriologis Air Minum Isi Ulang Di
Beberapa Depo Air Minum Isi Ulang Di Daerah Lenteng Agung Dan
Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. 5, No.
2, hlm. 101 – 109.
Waluyo, L. (2007). Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah
Malang.
Lampiran
Download