BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung (Zea mays L

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting,
selain padi dan gandum. Sebagai sumber karbohidrat utama, di Amerika Tengah dan
selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk
beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga
menggunakan jagung sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil
minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji yang dikenaln dengan istilah tepung jagung
maizena), dan bahan baku industri(dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol
jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfual. Jagung
yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanaman sebagai penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi
diketahui bahwa daerah asal
jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah
dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, kemudian teknologi ini dibawa ke
Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah
pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenik menunjukkan
bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea
mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestiknya, yang berlangsung paling tidak 7000
tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain terutama, Zea
mays ssp.mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggammbarkan
semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp.mays. Proses domestikasi
menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup
secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun
kultivar.Jagung termasuk tanaman yang sering terserang hama dan penyakit diantaranya
bulai, karat pada daun, penggerek batang jagung, ulat grayak dan lain-lain. Oleh karena
itu tanaman jagung membutuhkan perawatan yang intensif.
1
1.2
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami hama
dan penyakit pada tanaman jagung serta berbagai penanganan dari timbulnya
hama dan penyakit tersebut.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
HAMA UTAMA PADA TANAMAN JAGUNG
1).
Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guen )
(Ordo: Lepidoptera, Famili: Noctuidae)
1. Bioekologi
Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun,
umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari.Telur diletakkan berwarna putih,
berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30- 50 butir, seekor ngengat
betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4hari. Ngengat betina
lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggidan telur di
letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9,umur
telur 3-4 hari,Larva, larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan,
makanberpindahpindah,larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah
instar lanjutmenggerek batang, umur larva 17-30 hari.Pupa biasanya terbentuk di
dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.
2. Gejala Serangan
Larva Ostrinia furnacalisini mempunyai karakteristik kerusakan pada
setiap bagiantanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada
batang, bungajantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah,
tumpukan tassel yang rusak.
3. Pengendalian Kultur Teknis
- Waktu tanam yang tepat,
- Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
- Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman
3
4. Pengendalian Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti :
Parasitoid T richogrammasp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur
Ostrinia furnacalis.Predator E uborellia annulata memangsalarva dan pupa
Ostrinia furnacalis.Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikanlarva
Ostrinia furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria
bassiana
dan
Metarhizium
anisopliae
mengendalikan
larva
Ostrinia
furnacalis.Ambang ekonomi 1larva / tanaman.
5. Pengendalian Kimiawi
Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos,
diklhrofos, dankarbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang
jagung.
2).
Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
(Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae)
1. Bioekologi
Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak
perakan, sayapbelakang berwarna keputihan, aktif malam hari.Telurberbentuk
hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun2 lapis),
warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 ±
500butir) tertutup bulu seperti belu.Larvamempunyai warna yang bervariasi, ulat
yang baru menetas berwarna hijau muda,bagian sisi coklat tua atau hitam
kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerangtanaman pada malam hari,
dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yanglembab). Biasanya ulat
berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlahbesar . Pupa ulat
berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon)berwana
coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.Siklus hidupberkisar antara 30 ±
4
60 hari (lama stadium telur 2 ± 4 hari, larva yangterdiri dari 5 instar : 20 ± 46 hari,
pupa 8 ± 11 hari).
2. Gejala Serangan
Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak
berkelompok.dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan
dantinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah
daun,umumnya terjadi pada musim kemarau.
3. Tanaman Inang
Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat,
kubis,cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, ,
tebu,
jeruk,pisang,
tembakau,
kacang-kacangan,
tanaman
hias,
gulma
Limnocharis sp., Passiflorafoetida, Ageratum sp., Cleome sp., dan Trema sp.
4. Pengendalian. Kultur Teknis
- Pembakaran tanaman
- Pengolahan tanah yang intensif.
5. Pengendalian Fisik /Mekanis
- Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang
kemudianmemusnahkannya.
- Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per
hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman
berumur 2minggu.
6. Pengendalian Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti:Pathogen Sl-NPV (Spodoptera litura ±
Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria
bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus
5
thuringensis, nematode Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus
spinideus, Selonepnisgeminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae,
Microplistis similis, dan Peribeae sp.
7. Pengendalian Kimiawi
Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos,
diazinon,khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril apabila
berdasarkan hasilpengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih
atau sama dengan 12,5% per tanaman contoh.
3)
Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae:Lepidotera)
Imagobetina H. armigera meletakkan telur pada rambut jagung. Rata-rata
produksitelur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah
diletakkan .Larvaspesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar . Khususnya pada
jagung, masaperkembangan larva pada suhu 24 sampai 27,2ºC adalah 12,8 sampai 21,3
hari. Larvaserangga ini memiliki sifat kanibalisme .Spesies ini mengalami masa pra pupa
selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan
kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah. Pada umumnya pupa terbentuk pada
kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadangpula serangga ini berpupa pada permukaan
tumpukan limbah tanaman atau pada kotoranserangga ini yang terdapat pada tanaman.
Pada kondisi lingkungan mendukung, fasepupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35ºC
sampai 30 hari pada suhu 15ºC.
8. Gejala Serangan
Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah
menetas larvaakan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji
yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan
kualitas dan kuantitas tongkol jagung.
9. PengendalianHayati
Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif
untuk mengendalikan penggerek tongkol adalahparasite Trichogramma sp yang
6
merupakanparasit telur danEriborus argentiopilosa(Ichneumonidae) parasit pada
larva muda.cendwanMetarhizium anisopliaemenginfeksi larva.Bakteri Bacillus
thuringensisdan virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus
(HaNPV) menginfeksilarva.
10. Pengendalian Kultur Teknis
Pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam
tanah dan dapatmengurangi populasiH. armigeraberikutnya.
11. Pengendalian Kimiawi
Untuk mengendalikan larvaH. armigerapada jagung, penyemprotan
insektisida Decisdilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan
diteruskan (1-2) harihingga rambut jagung berwarna coklat.
4).
Lalat Bibit (Atherigonasp, Ordo: Diptera)
Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimanabetina
hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbangdan
sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaantanah.
Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mmsampai 4,5 mm. Imago betina mulai
meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin denganjumlah telur tujuh sampai 22
butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betinameletakkan selama tiga sampai tujuh hari,
diletakkan secara tunggal, berwarna putih,memanjang, diletakkan dibawah permukaan
daun.Larvaterdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan
selanjutnyamenjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi
batang yangkemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman
menjadi kuningdan akhirnya mati.Pupaterdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah
permukaan tanah, umur pupa12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat
kemerah-merahan sampaicoklat dengan ukuran panjang 4,1 mm.
7
12. PengendalianHayati
Parasitoidyang memarasit telur adalahTrichogramma sp dan parasit larva
adalahOpiussp danTetrastichus sp. PredatorClubiona japonicolayang merupakan
predator imago.
13. Kultur Teknis dan Pola Tanam
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan pada
musim hujanmaka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan
tanaman bukan paditanaman dengan tanaman bukan padi, tanam serempak
serangan dapat dihindari.
14. Varietas Resisten
Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah
MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C145, sementara galur galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangga
hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
15. Pengendalian Kimiawi
Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih
(seeddressing) yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg benih atau
karbofuran dengandosis 6 g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman berumur
5-7 hari, tanaman disemprot dengan karbosulfan dengan dosis 0,2 kg b.a./ha atau
thiodikarb 0,75 kgb.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah
endemik .
5).
Sitophilus zeamais(Motsch), Coleoptera,Curculionidae
1. Bioekologi
Sitophilus zeamaisMotsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang
bubuk, danmerupakan serangga yang bersifat polifag, selain menyerang jagung,
juga beras,gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa dan jambu
8
mente.
S.zeamaislebih
dominan
terdapat
pada
jagung
dan
beras.S.
zeamaismerusak biji jagungdalam penyimpanan dan juga dapat menyerang
tongkol jagung yang masih berada dipertanaman.
Telurdiletakkan satu per satu pada lubang gerekan didalam biji.Keperidian
imagosekitar 300-400 butir telur; stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu
25ºC.Larvakemudian menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih
20 haripada suhu 25ºC dan kelembaban nisbi 70%.Pupaterbentuk di dalam biji
dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.Imagoyang terbentuk berada di dalam biji
selama beberapa hari sebelum membuatlubang keluar.Imago dapat bertahan hidup
cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5bulan jika tersedia makanan dan
sekitar 36 hari jika tanpa makan.
2. Siklus Hidup
Sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 29ºC, kadar air biji 14%dan
kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan
simpanankadar airnya di atas 15%.
3. Cara Pengendalian dan Pengelolaan Tanaman
Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol terbuka,
sehingga tanaman yang kekeringan.Dengan pemberian pupuk yang rendah
menyebabkantanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi
oleh kumbang bubuk.Panen yang tepat pada saat jagung mencapai masak
fisiologis panen yang tertundadapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di
penyimpanan.
4. Varietas Tanaman
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan
kandungan asamaminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk.Penggunaan
varietas yangmempunyai penutupan kelobot yang baik.
9
5. Kebersihan dan Pengelolaan Gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan
hibernasi sesudahgudang tersebut kosong. Taktik yang digunakan termasuk
membersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang
terkontaminasi dan membuang dari area gudang.Selain itu karung-karung bekas
yang masih berisi sisa biji harus dibuang.Semuastruktur gudang harus diperbaiki,
termasuk dinding yang retak-retak dimana seranggadapat bersembunyi, dan
memberi perlakuan insektisida baik pada dinding maupunplafon gudang.
6. Persiapan Biji Jagung yang Disimpan
Kadar air biji 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk.
Perkembanganpopulasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau
lebih.
7. Pengendalian Secara Fisik dan Mekanis
Pada suhu lebih rendah dari 50C dan di atas 350C perkembangan serangga
akanberhenti.
Penjemuran
dapat
menghambat
perkembangan
kumbang
bubuk.Sortasi dapatdilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh
serangga dengan biji sehat(utuh).
8. Bahan Tanaman
Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis
spricigera, Lantanacamara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata,
akar dariKhayasenegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp.,
Capsicum sp., dan tepung bijidari Annona sp. dan Melia sp.
9. Pengendalian Hayati
Penggunaan agensi pathogen dapat mengendalikan kumbang bubuk
sepertiBeauveriabassianapada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji
dapat
mencapaimortalitas
50%.PenggunaanparasitoidAnisopteromalus
calandrae(Howard) mampumenekan kumbang bubuk.
10
10. Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu
berbentuk gas, dapat
membunuh serangga/hama melalui sistem pernafasan.Fumigasi
dapatdilakukan pada tumpukan komoditas kemudian ditutup rapat dengan lembaran
plastik.Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan yang kedap udara sepertipenyimpanan
dalam silo, dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara ataupengemasan dengan
menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuhkemudian mulut botol atau jerigen
dilapisi dengan parafin untuk penyimpanan skalakecil. Jenis fumigan yang paling banyak
digunakan adalah phospine (PH3), dan MethylBromida (CH3Br). Hama Jagung
Hama utama pada tanaman Jagung meliputi:
11. ULAT TANAH (Agrotis ipsilon)
12. ULAT GRAYAK (Spodoptera liptur)
13. LALAT BIBIT (Atherigona sp)
14. PENGGEREK BATANG (Ostrinia furnacalis)
15. PENGGEREK TONGKOL (Helicoverpa armigera)
16. BELALANG DAUN (Locusta migratoria)
17. ULAT TANAH (Agrotis ipsilon)
Ciri-ciri hama : Larva biasa berada dalam tanah, berwarna coklat
kehitaman, mempunyai tujuh pasang kaki.
Serangan : Hama ini menyerang tanaman umur 1-3 minggu,
dengan cara menyerang dan memotong pangkal batang pada
waktu malam hari, siang hari ulat bersembunyi dalam tanah.
ULAT GRAYAK (Spodoptera liptura)
Ciri-ciri hama :
1.
Ngengat dengan sayap bagian depan
berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna
keputihan, aktif
11
pada malam hari.
2.
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun
(kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok
(masing-masing berisi 25 – 500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
3.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, yang baru menetas berwarna
hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup
berkelompok.
4.
Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari,
larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).
Serangan :
1.
Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari
bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab).
2.
Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak
berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas,
transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja, sedang larva berada di
permukaan bawah daun.
3.
Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam
jumlah besar.
4.
Serangan umumnya terjadi pada musim kemarau.
5.
Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang
tomat, kubis, dan tanaman lainnya.
LALAT BIBIT (Atherigona sp)
Ciri-ciri hama :
1.
Imago sangat aktif terbang dan sangat
tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas
permukaan tanah. Lama hidup serangga dewasa bervariasi
antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih
lama dari pada jantan. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5
mm sampai 4,5 mm.
2.
Telur mulai diletakkan oleh Imago betina tiga sampai lima hari setelah
12
kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70
butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan
secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah
permukaan daun.
3.
Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan
selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap.
Serangan :
1.
Serangan terjadi pada tanaman yang baru tumbuh (1-2 minggu setelah
tanam).
2.
Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat
terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan
akhirnya
mati.
PENGGEREK BATANG (Ostrinia furnacalis)
Ciri-ciri hama :
1.
Ngengat
aktif
malam
hari,
dan
menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat
dewasa 7-11 hari.
2.
Telur
diletakkan
berwarna
putih,
berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir,
seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur
3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman
jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah
daun utamanya pada daun ke 5-9.
3.
Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan
berpindah pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan,
setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari.
4.
Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah
merahan, umur pupa 6-9 hari.
13
Serangan :
1.
Hama menyerang tanaman menjelang berbunga dengan menggerek dalam
batang, tanda terjadi serangan yaitu adanya serbuk berwarna putih
berserakan di sekitar permukaan daun dan bunga jantan patah.
2.
Kerusakan yang ditimbulkan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu
lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau
pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, dan tumpukan
tassel yang rusak.
PENGGEREK TONGKOL (Helicoverpa armigera)
Ciri-ciri hama :
1.
Telur diletakkan pada rambut jagung.
Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur
menetas dalam tiga hari setelah diletakkan.
2.
Larva terdiri dari lima sampai tujuh instar.
Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24
- 27,2°C adalah 12,8 - 21,3 hari. Larva memiliki sifat kanibalisme.
Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari.
Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya
bergantung pada kekerasan tanah.
3.
Pupa umumnya terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm.
Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah
tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada
kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada
suhu 35°C dan sampai 30 hari pada suhu 15°C.
Serangan :
1.
Imago betina akan meletakkan telur pada rambut jagung dan sesaat
setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan
memakan biji yang sedang mengalami perkembangan.
2.
Serangan serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol
jagung.
14
BELALANG DAUN (Locusta migratoria)
Ciri-ciri hama : Belalang muda berwarna hijau, dan belalang
dewasa berwarna coklat bercorak hitam
Serangan : Belalang memakan daun tanaman, serangan yang
parah bisa menghabiskan seluruh daun tanaman dan batangbatang muda. Serangan bisa melibatkan ribuan belalang.
ULAT GRAYAK (SPODOPTERA LITURA F.)
(Ordo : Lepidoptera, Famili: noctuidae)
Ulat “Grayak” sangat ditakuti oleh petani karena setiap musim panen hama ini selalu ada.
Ulat “grayak” ini menyerang tanaman jagung pada semua stadia. Serangan terjadi pada
malam hari dan siang harinya, larva ulat “grayak” bersembunyi pada pangkal tanaman,
dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi. Seranga ulat ini memakan helai-helai
daun dimulai dari ujung daun dan tulang daun utama ditinggalkan sehingga tinggal tanaman
jagung tanpa helai daun.

Bioekologi
Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap
belakang berwarna keputihan, aktif pada malam hari.
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang
tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing
berisi 25-500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau
muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat
menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam
tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara
bergerombol dalam jumlah besar.
Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah , membentuk pupa tanpa rumah pupa
(kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.
15
Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari (lama stadium telur 2-4 hari, larva yang
terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).
Gejala serangan, larva yang masih kecil merusak daun yang menyerang secara
serentak berkelompok. Dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas,
transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di
permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau.
Tanaman inang, hama ini bersifat polifag, selain jagung ulat grayak juga
menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang kangkung,
bayam, padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias,
gulma Limnocharis sp, dll.

Pengendalian
a). Kultur teknis
 Pembakaran tanaman
 Pengolahan tanah yang intensif.
b). Pengendalian fisik / mekanis
 Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang
kemudian memusnahkannya.
 Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah
per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak
tanaman berumur 2 minggu.
c). Pengendalian Biologis
Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera lituraNuclear Polyhedrosis Virus), Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus,
Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri
Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,.
Andrallus spinideus, Selonepnis geminada,
parasitoid Apanteles sp.,
Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
d). Pengendalian Kimiawi
Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos,
diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril.
16
2.2
PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG
1.
Bulai (downy mildew)
Penyakit bulai merupakan penyakit penting bagi tanaman jagung. Oleh karena itu,
salah satu criteria varietas jagung unggul harus tahan penyakit ini. Serangan
penyakit ini mulai timbul pada umur dua minggu setelah tanam.
a.
Penyebab
Cendawan atau jamur Peronosclero sporamaydis dan P.spora javanicaP.
Serta spora philippinensis. Cendawan tersebut akan merajalela pada suhu
udara 270C keatas serta keadaan udara lembab.
b.
Gejala Serangan
1.
Tanaman yang terserang berumur 2-3 minggu memiliki ciri-ciri:
+ Daun berbentuk runcing, kecil, dan kaku
+ Warna daun menguning
+ Sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan berwarna putih
+ Pertumbuhan batang terhambat
2.
Tanaman yang terserang berumur 3-5 minggu memiliki ciri-ciri:
+ Tanaman mengalami ganguan pertumbuhan
+ Daun berubah warna menjadi pucat mulai dari bagian pangkal daun ke
ujung daun
3.
Tanaman yang terserang telah dewasa memliki ciri-ciri:
+ Pada daun tua terdapat garis-garis kecokelatan
+ Tongkol berubah bentuk dan isi
c.
Pengendalian
17
+ Penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan
+ Penerapan pola tanam dan pola pergiliran tanaman (rotasi tanaman
dengan yang bukan tanaman sefamili)
+ Penanaman varietas unggul/resisten terhadap bulai (varietas arjuna,
wiyasa, kalingga dan hibrida CPI-1)
+ Pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan
+ Penyemprotan dengan fungisida (Ridomil)
2.
Penyakit Bercak Daun (leaf blight)
Penyakit bercak daun menyerang daun tanaman jagung mulai dari pertama
membuka hingga akhir masa pertumbuhan.
1.
Penyebab
Cendawan Helminthosporium turcicum, Helminthosporium maydis Nisik.
2.
Gejala serangan

Pada daun jagung yang terserang penyakit ini timbul bercak-bercak
berukuran kecil, berbentuk bulat sampai lonjong, dan berwarna kuning
yang ditengahnya dikelilingi warna cokelat.

Bagian tanaman jagung yang sakit berwarna cokelat muda sampai cokelat
tua seperti jerami dan kebasah-basahan.

1.
Serangan berat dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 50%
Pengendalian

Penerapan pergiliran tanaman guna menekan meluasnya cendawan

Pengaturan kelembaban sekitar tajuk tanaman dengan mengatur jarak
tanam secara tepat

Penggunaan pestisida seperti Daconil 75WP dan Difolatan 4F

Mencabut tanaman jagung yang sakit berat

Menanam varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bercak daun
seperti varietas parikesit, wiyasa, dan bromo.
18
3.
Karat Daun (rust)
Penyakit karat mulai menyerang pada saat tanaman akan mengakhiri masa
pertumbuhan.
a.
Penyebab
Cendawan Puccinia sorghi dan Puccinia polypore Underwod
b.
Gejala
Pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik
noda yang berwarna merah kecokelatan seperti karat serta terdapat serbuk
yang berwarna kuning kecokelatan. Serbuk cendawan ini kemudian
berkembang dan memanjang sehingga akhirnya karat berubah menjadi
bermacam-macam bentuk.
c.
Pengendalian
1.
Pengaturan kelebaban areal tanam, terutama sekitar tajuk tanaman
dengan cara mengatur jarak tanam secara tepat.
2.
Penanaman varietas unggul atau varietas tahan penyakit karat
(varietas parikesit dan wiyasa).
1.

Bulai
Gejala
1. Adanya garis-garis sejajar tulang daun pada permukaan daun berwarna putih
sampai kuning diikuti garis-garis klorotik sampai coklat pada infeksi lebih
lanjut.
2. Tanaman kerdil dan tidak menghasilkan.
3. Bila terjadi infeksi terlambat, tanaman masih menghasilkan tetapi bulir-bulirnya
terinfeksi patogen.
19

Penyebab Penyakit
Jamur Peronosclerospora maydis (Racib) Show. Jamur memiliki miselium yang
berkembang dalam ruang antar sel. Konidiafora (penyangga konodia) dibentuk
pada mulut daun, dan memiliki percabangan dikotom. Konidia berbentuk bulat,
dibentuk diujung percabangan konidiafora.
Pembentukan konidiafora dan
pelepasan konidia terjadi pada waktu malam hari. Jamur penyebab penyakit bulai
pada jagung tidak dapat diisolasi pada media buatan

Penularan
Penularan Jamur dapat melalui udara atau melalui benih. Infeksi melalui udara
ditandai dengan timbulnya gejala pada daun muda yang mengalami klorotik
sedangkan daun tua masih berwarna hijau. Tanda-tanda infeksi melalui benih
terlihat pada bibit muda yang memperlihatkan klorotik pada seluruh daun dan
tanaman cepat mati. Pada permukaan bawah daun yang terinfeksi banyak
terbentuk spora dan terlihat seperti tepung putih

Daur Penyakit
Pada malam hari jamur membentuk konodiapora dan kemudian diikuti
pembentukan konidia secara serentak. Setelah beberapa saat konidia dilepaskan
dan konidia akan mengadakan penetrasi melalui mulut daun (stomata). Sejak
penetrasi sampai dengan timbulnya gejala (masa inkubasi) berkisar antara 9 – 11
hari.
Patogen dapat bertahan di dalam biji, tetapi sumber penularan primer berasal
daritanaman jagung yang terserang. Penyakit ini merugikan pada pertanaman
jagung di dataran rendah, dan tidak diterdapat pada ketinggian diatas 900 m diatas
permukaan laut. Perkembangan penyakit sangat dibantu oleh kondisi cuaca
lembab dan panas.

Pengendalian penyakit
Pengendalian penyakit bulai dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Penanaman secara serempak (Biologis)
20
2. Menanam varietas jagung yang tahan (resisten) terhadap penyakit bulai,
(Biologis)
3. Perlakuan benih sebelum tanam dengan fungisida metalaksil, (Kimiawi)
4. Mencabut dan memusnahkan tanaman jagung yang sakit, (Fisik)
5.Melakukan perbaikan aerasi dan darinase tanah agar keadaan lahan tidak
lembab,(Fisik)
6. Pergiliran tanaman dengan yang bukan sefamili. (Biologis)
2.3
TEHNIK MENGENDALIKAN PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG
Preventif
A. Pengolahan Lahan (pengendalian fisik)
Pengolahan tanah diajurkan tanah jangan terlalu basah cenderung kering. Sebaiknya
tanah dibajak dan digaru, juga buat saluran air. Bila tidak sempat ada pengolahan
tanah dan waktunya mendesak cukup pengolahan barisan yang akan ditanami sedalam
15-20 cm. Pada saat sebelum olah tanah beri / taburkan :
1.
Pupuk organik / Bokashi : 3 kw / 1400 M2 atau : 2,0 ton / Ha
2.
Kapur pertanian / Dolomik : 2,5 kw / 1400 M2 atau : 17,5 ton / Ha
Tujuan dari pupuk organik dan kapur pertanian diberikan sebelum olah lahan adalah
agar bisa tercampur merata pada saat tanah diolah.
B.
Persiapan Benih (Pengendalian Fisik)
Sebelum benih ditanam diadakan treatment terlebih dahulu terutama untuk
pengendalian penyakit bulai yaiu dengan cara :
1.
Rendam benih dengan Fungidore 50 EC dengan dosis 0,5 ml / lt selama 10
menit.
2.
Setelah itu tiriskan atau kering anginkan
21
3.
Jarak tanam :
 Jika umur tanaman : 80-90 hari = 75 x 20 cm 1 bj/lubang
 70-80 hari = 50 x 20 cm 1 bj/lubang
 Kedalaman lubang tanam bervariasi antara 2,5 – 5 cm. tergantung pada
kondisi tanah, pada tanah yang kering penempatan benih lebih dalam
C.
Pemupukan (Pengendalian Fisik dan Kimia)
1.
Teknik pemberian pupuk yaitu dengan cara membenamkan kedalam tanah
agar hasil lebih maximal, karena apabila pupuk diletakkan diatas tanah
banyak unsur yang mengalami penguapan.
2.
Letakkan pupuk ± 5 cm disamping lubang benih.
3.
Dosis dan waktu pemupukan
Luas lahan 0,14 ha (100 ru)
D.
1.
10 Hr 15kg urea,15kg SP36,7kg KCL
2.
25 Hr 25kg PONSKA
3.
35 Hr 25kg Urea,5kg KCL
Pemupukan Semprot (Pengendalian kimiawi)
1.
Pupuk semprot diaplikasikan mulai awal tumbuh ± 5 Hr.
2.
Pupuk yang digunakan :
Fungidor 50 EC dosis : 1 tutup/ 1 tangki 14 lt.
Agrophos : 2 tutup/ 1 tangki 14 lt.
1.
Penyemprotan dilakukan secara rutin setiap seminggu sekali sampai umur
35 hst.
2.
Setelah umur 35 hst. Penyemprotan dilanjutkan dengan :
Agrophos 50 EC : 2 tutup/ 1 tangki 14 lt.
Primavit : 2 tutup/ 1 tangki 14 lt.
E.
Pengairan (Pengendalian Fisik)
22
Agar distribusi air lebih efektif ke tanaman buat saluran air diantara barisan
tanaman, selama masa pertumbuhan, tanaman jagung memerlukan pengairan yang
cukup. Lahan irigasi dengan sumber air terbatas dan lahan sawah tadah hujan pada
musim kemarau memerlukan pengairan hingga mencapai kapasitas lapang
sebanyak empat kali yaitu pada umur :
F.
- 15 hr
-30 hr
- 45 hr
-60 hr
Perawatan (Pengendalian Fisik)
 Tanaman umur 25-30 hr
1.
Lakukan penyiangan gulma secara rutin dan lebih baik hindari penggunaan
herbisida
2.
Lakukan pemupukan susulan yang kedua
3.
Lakukan pembumbunan untuk memperkuat perakaran dan memperkokoh
tegaknya batang
4.
Bila timbul gejala serangan HPT (Hama Penyakit Tanaman) gunakan
pestisida yang tepat dan aman sesuai anjuran petugas lapang.
 Tanaman umur 35-45 hr.
1.
Lakukan pemupukan susulan yang ketiga (tutupan).
2.
Lakukan pembumbunan ulang sampai pupuk yang diaplikasikan dan akar
semu tertutup.
G.
3.
Berikan pengairan lebih banyak pada saat pembungaan dan pengisian biji
4.
Lakukan penyiangan gulma
Pestisida (Pengendalian Kimiawi)
Pestisida yang cocok untuk mengatasi penyakit bulai pada jagung adalah
fungisida metalaksil. Fungisida ini termasuk ke dalam kelompok asilalanin, yang
mampu memusnahkan infeksi Phytophtora, Phytium, dan beberapa penyebab
penyakit embun tepung, tetapi tidak berpengaruh terhadap perkembangan
23
penyakit pascapanen lainnya. Fungisida mampu menekan pertumbuhan jamur di
permukaan buah maupun daun dan mencegah terjadinya kontak dan persebaran
jamur.
24
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
25
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2012. http://penyuluhthl.wordpress.com/2011/05/20/mengendalikan-ulat-grayakpada-tanaman-jagung/ diakses tanggal 17 Mei 2012
Anonymous, 2012. http://putrajayatani.blogspot.com/2011/09/pengendalian-hama-dan-penyakitpada.html diakses tanggal 17 Mei 2012
Arnold John Ullstrup.1966.Corn diseases in the United States and their control. Book produced:
USA
A. J. Slusarenko, R. S. S. Fraser, L. C. van Loon.2001. Mechanisms of Resistance to Plant
Diseases. Jaya Book: London
26
Download