analisis rasio keuangan sebagai alat prediksi financial distres bagi

advertisement
ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PREDIKSI
FINANCIAL DISTRES BAGI PERUSAHAAN MANUFAKTUR
DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2009 – 2012
Indra Hastuti
STMIK Duta Bangsa Surakarta
Edi Purwanto
STIE Wijaya Mulya Surakarta
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi kemungkinan kesulitan keuangan
(financial distress) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
2009 – 2012 dan untuk menganalisis pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas,
dan ukuran perusahaan terhadap kondisi financial distress pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009 – 2012.
Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia, dari
tahun 2009-2012, dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 156 perusahaan manufaktur.
Penelitian ini menggunakan regresi linier berganda sebagai instrumen analisis. Metode
analisis terdiri dari uji asumsi klasik, uji F, uji t dan R Square. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, dan ukuran
perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap financial distress.
Kata kunci: rasio likuiditas, rasioleverage,rasio
aktivitas,
ukuran
perusahaan,
danfinancial distress.
PENDAHULUAN
Kinerja suatu perusahaan akan dapat
diketahui dari hasil analisis laporan keuangan
perusahaan yang bersangkutan. Hasil analisis
laporan keuangan yang menunjukkan kinerja
perusahaan tersebut dapat digunakan sebagai
dasar penentu kebijakan bagi pemilik, manajer
dan investor. Analisis terhadap rasio dapat
menjelaskan saling keterkaitan yang ada
antara variabel-variabel bersangkutan yang
menghubungkan dua data keuangan (neraca atau
laporan laba rugi), dengan cara membagi satu
data dengan data lainnya (Halim, 2007:56).
Financial distress merupakan kondisi
keuangan yang terjadi sebelum kebangkrutan
ataupun likuidasi. Menurut Atmini dan Wuryana
(2005:1), financial distress adalah konsep luas
yang terdiri dari beberapa situasi di mana suatu
perusahaan menghadapi masalah kesulitan
100
keuangan. Istilah umum untuk menggambarkan
situasi tersebut adalah kebangkrutan, kegagalan,
ketidakmampuan melunasi hutang dan default.
Ketidakmampuan melunasi hutang menunjukkan
kinerja negatif dan menunjukkan adanya
masalah likuiditas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
memprekdisi kemungkinan kesulitan keuangan
(financial
distress)
pada
perusahaan
b.
Perusahaan yang mengalami kesulitan
keuangan
(jangka
pendek)
dan
manajemennya berhasil mengatasi dengan
baik sehingga tidak pailit (bangkrut).
c.
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode tahun 2009 – 2012 dan Untuk
d.
Perusahaan yang tidak mengalami
kesulitan keuangan tetapi menghadapi
kesulitan yang bersifat non keuangan
sehingga diambil keputusan menyatakan
pailit.
Perusahaan yang mengalami kesulitan
keuangan dan manajemen tidak berhasil
mengatasinya sehingga akhirnya jatuh
pailit.
menganalisis pengaruh rasio likuiditas, rasio
leverage, rasio aktivitas, dan ukuran perusahaan
terhadap kondisi financial distress pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia periode tahun 2009 – 2012.
Analisis Rasio Keuangan
Menurut
Harahap
(2009:297),
rasio
keuangan merupakan angka yang diperoleh dari
K A J I A N P U S TA K A D A N
PERUMUSAN HIPOTESIS
hasil perbandingan dari satu akun laporan keuangan
dengan akun lainnya yang mempunyai hubungan
yang relevan dan signifikan.Menurut
Kesulitan Keuangan (Financial Distress)
Financial distress merupakan kondisi dimana
keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat
atau krisis dan terjadi sebelum kebangkrutan.
Perusahaan tidak selalu berjalan sesuai dengan
rencana. Pada situasi tertentu, perusahaan
mungkin akan mengalami kesulitan keuangan
yang ringan seperti mengalami kesulitan
likuiditas (tidak bisa membayar gaji pegawai,
bunga hutang). Jika tidak diselesaikan dengan
benar, kesulitan kecil tersebut bisa berkembang
menjadi kesulitan yang lebih besar, dan bisa
sampai pada kebangkrutan (Mamduh, 2007:255)
Munawir (2002:291) bahwa dalam kaitannya
dengan kesehatan keuangan dan potensi
kebangkrutan perusahaan dapat dikelompokkan
menjadi empat kategori:
a.
Simamora
(2002:357),
analisis
rasio
merupakan cara penting untuk menyatakan
hubungan-hubungan yang bermakna diantara
komponen dari laporan-laporan keuangan.
Rasio menggambarkan suatu hubungan
antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain,
dan dengan menggunakan alat analisis berupa
rasio
yang
akan
menjelaskan
atau
menggambarkan kepada penganalisa baik atau
buruknya keadaan posisi keuangan suatu
perusahaan.Dalam penelitian ini, penulis
menggunakan aspek rasio likuiditas, rasio
leverage, rasio aktivitas, dan ukuran perusahaan.
1.
Rasio Likuiditas
Menurut Harahap (2009:301), rasio
likuiditas merupakan rasio yang mengukur
Perusahaan yang tidak mengalami kesulitan
kemampuan
keuangan (posisi keuangan jangka pendek
kewajiban jangka pendeknya. Untuk dapat
maupun jangka panjang sehat sehingga tidak
memenuhi kewajibannya yang sewaktu-
mengalami kebangkrutan).
waktu
ini,
perusahaan
maka
memenuhi
perusahaan
mempunyai alat-alat untuk
harus
101
Indra Hastuti; Edi Purwanto
membayar yang berupa aset-aset lancar
yang jumlahnya harus jauh lebih besar
dari pada kewajiban-kewajiban yang
harus segera dibayar berupa kewajibankewajiban lancar. Mengenai rasio-rasio
likuiditas sebagaimana yang diutarakan,
menurut Riyanto (2010:332), termasuk
dalam rasio likuiditas, antara lain:
Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar merupakan perbandingan
antara aset lancar dengan kewajiban
lancar. Rumus yang digunakan adalah
sebagai berikut:
Aktiva Lancar
Rasio Lancar = Kewajiban Lancar
2.
Rasio Leverage
Menurut Harahap (2009:306), rasio
leverage merupakan rasio yang mengukur
seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh
kewajiban atau pihak luar dengan
kemampuan
perusahaan
yang
digambarkan
oleh
ekuitas.
Setiap
penggunaan utang oleh perusahaan akan
berpengaruh
terhadap
rasio
dan
pengembalian. Rasio ini dapat digunakan
untuk melihat seberapa resiko keuangan
perusahaan. Mengenai rasio-rasio leverage
sebagaimana yang diutarakan, menurut
Riyanto (2010:333), dapat dilihat pada
uraian sebagai berikut:
Rasio Hutang (Debt Ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan
antara total kewajiban dengan total
aset. Rumus yang digunakan adalah
sebagai berikut:
Debt Ratio =
3.
Total kewajiban
Total aset
Rasio Aktivitas
Menurut Harahap (2009:308), rasio
aktivitas menggambarkan aktivitas yang
dilakukan perusahaan dalam menjalankan
operasinya baik dalam kegiatan penjualan,
pembelian, dan kegiatan lainnya. Rasio ini
dinyatakan
sebagai
perbandingan
penjualan dengan berbagai elemen aset.
Penjual
Fixed Assed Tumover = Jumlah aktiva tetap
4.
Ukuran Perusahaan
Menurut
Sartono
(2010:249),
perusahaan besar yang sudah wellestablished akan lebih mudah memperoleh
modal di pasar modal dibanding dengan
perusahaan kecil. Karena kemudahan
akses tersebut berarti perusahaan besar
memiliki fleksibilitas yang lebih besar
pula. Dalam penelitian ini, ukuran
perusahaan diukur dengan total aset
perusahaan, karena total aset lebih dapat
mengukur besar kecilnya perusahaan.
METODE PENELITIAN
Populasi yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah sebanyak 156 perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama tahun 2009 - 2012.
Definisi Operasional dan Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah,
rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas,
ukuran perusahaan, dan Financial Distress.
1.
Rasio likuiditas merupakan suatu
indikator
mengenai
kemampuan
perusahaan untuk membayar semua
kewajiban financial jangka pendek pada
saat jatuh tempo dengan menggunakan
aktiva lancar yang tersedia, dimana rasio
likuiditas yang dipakai dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
Rasio Lancar = Hutang
Aktiva Lancar
Lancar x 100%
102
2.
Rasio leverage keuangan adalah suatu asumsi klasik, uji F, uji parsial dan uji Koefisien
ukuran yang menunjukkan sampai sejauh Determinasi (R2). Persamaan regresi linier
mana
sekuritas
berpenghasilan
tetap
(hutang dan saham preferen) digunakan
dalam sturktur modal perusahaan, dimana
rasio leverage yang biasa digunakan
perusahaan
dan
yang
dipakai
dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Debt Rasio =
3.
Aktiva Hutang
x
100% Total Aset
Rasio aktivitas mengukur sejauh mana
efektivitas
manajemen
mengelola
aset-asetnya,
perusahaan
Rasio
ini
merupakan perbandingan antara penjualan
dengan aktiva tetap bersih. Rumus fixed
asset turn over yang digunakan :
Penjualan
Fixed assed tumover = Jumlah
4.
5.
X1
X2
X3
: rasio likuiditas
: rasio leverage
: rasio aktivitas
X4
: ukuran perusahaan
ANALISIS DATA DAN HASIL
PENELITIAN
a.
Uji Normalitas
Berdasarkan hasil pengujian normalitas
dengan menggunakan uji One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Z, diperoleh nilai
Asymp. Sig (2-tailed)> 0,325 yang
lebih besar dari 0,05 artinya data
terdistribusi normal.
b.
Uji multikolinieritas
Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa
nilai tolerance variabel rasio likuiditas
(X1), variabel rasio leverage (X2), variabel
rasio aktivitas (X3), dan variabel ukuran
perusahaan (X4) < 10. Masing-masing
variabel rasio likuiditas (X1), variabel
rasio leverage (X2), variabel rasio aktivitas
(X3), dan variabel ukuran perusahaan (X4)
tidak saling berkorelasi linier, jadi asumsi
multikolinieritas terpenuhi.
Uji heteroskedastisitas
Dari hasil uji heteroskedastisitas dengan
menggunakan uji Glejser diketahui bahwa
masing-masing
variabel
independen
terbukti tidak signifikan karena nilai
aktiva tetap x 100%
Ukuran perusahaan, menggambarkan
seberapa besar perusahaan dan seberapa
banyak total asset yang dimiliki oleh
perusahaan. Dalam penelitian ini, ukuran
perusahaan diukur dengan total aset
perusahaan, karena total aset lebih dapat
mengukur besar kecilnya perusahaan.
Financial Distress diproksi dengan
menggunakan Profit Margin ratio
(rasio antara laba (rugi) usaha terhadap
penjualan bersih) Perusahaan yang
memiliki Profit Margin rasio negatif
selama dua tahun berturut-turut dianggap
sebagai perusahaan yang mengalami
financial distress. Financial Distress
dalam penelitian ini diukur dengan :
Profit Margin =
berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 +
b4X4 + e dimana :
Y : financial distress a
: Nilai konstanta
b1, b2, b3, dan b4 : Koefisien regresi
masing-masing variabel
Laba(rugi)
usaha
Penjualan bersih
x 100%
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipergunakan
adalah regresi linier berganda, dengan uji
c.
thitung< ttabel (1,960) dan nilai Sig > taraf
signifikan (α) = 0,05. Dengan demikian
Indra Hastuti; Edi Purwanto
disimpulkan bahwa model regresi yang
digunakan dalam penelitian ini tidak
terjadi masalah heteroskedastisitas, jadi
asumsi heteroskedastisitas terpenuhi.
d.
Uji autokorelasi
Nilai DW 2,266 dibandingkan dengan
nilai tabel signifikansi 5%, jumlah sampel
39 (n) dan jumlah variabel independen
4 (K=4) = 4;39 maka diperoleh nilai du
1,7215. Nilai DW 2,266 lebih besar dari
batas atas (du) yakni 1,722 dan kurang dari
f.
(4-du) 4 – 1,722 = 2,278 dapat disimpulkan
bahwa tidak terjadi autokorelasi.
e.
103
variabel financial distress dengan
asumsi variabel ukuran perusahaan,
variabel rasio
likuiditas, dan
variabelrasio leverage konstan.
b4 = 1,725E-9 b e r a r t i p e n i n g k a t a n
variabel ukuran perusahaan akan
meningkatkan variabel financial
distress dengan asumsi variabel rasio
likuiditas, variabel rasio leverage,
dan variabel rasio aktivitas konstan.
Ujit
1) Variabel rasio likuiditas (X 1) terhadap
variabel financial distress (Y)
Uji regresi linier berganda
Pengujian regresi linier berganda dapat
Perhitungan thitung untuk variabel
rasio likuiditas (X1) diperoleh nilai
dibuat persamaan regresi sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4
Y = -0,223 + 1,616X1
+ 0,001X2 +
thitung = 7,263> nilai ttabel = 1,960 dan
nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05
sehingga H 0 ditolak, artinya variabel
0,002X3 + 1,725E-9X4
Berdasarkan persamaan regresi di atas,
dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
a = -0,223 berarti apabila variabel rasio
likuiditas, variabel rasio leverage,
variabel rasio aktivitas, dan variabel
ukuran perusahaan sama dengan
nol, maka variabel financial distress
bernilai negatif sebesar 0,223.
b1 = 1,616 berarti peningkatan variabel
rasio likuiditas akan meningkatkan
variabel financial distress dengan
asumsi variabel rasio leverage,
variabel rasio aktivitas, dan variabel
ukuran perusahaan kerja konstan.
b2 = 0,001 berarti peningkatan variabelrasio
leverage akan meningkatkan variabel
financial distress dengan asumsi
variabel rasio aktivitas, variabel
ukuran perusahaan, dan variabel rasio
likuiditas konstan.
b3 = 0,002 berarti peningkatan variabel
rasio aktivitas akan
meningkatkan
rasio likuiditas (X1) berpengaruh
signifikan terhadap variabel financial
distress (Y).
2) Variabel rasio leverage (X2) terhadap
variabel financial distress (Y)
Perhitungan thitung untuk variabel
rasio leverage (X2) diperoleh nilai
thitung = 3,661> nilai ttabel = 1,960 dan
nilai signifikan sebesar 0,001 < 0,05
sehingga H0 ditolak, artinya variabel
rasio leverage (X2) berpengaruh
signifikan terhadap variabel financial
distress (Y).
3) Variabel rasio aktivitas (X3) terhadap
variabel financialdistress (Y)
Perhitungan thitung untuk variabel
rasio aktivitas (X3) diperoleh nilai
thitung = 4,272> nilai ttabel = 1,960 dan
nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05
sehingga H0 ditolak, artinya variabel
perilaku (X3) berpengaruh signifikan
terhadap variabel financial distress
(Y).
104
4)
Variabel ukuran perusahaan (X4)
h.
terhadap variabel financial distress
RAdjustedsebesar
0,700variabel
independen (rasio likuiditas, rasio
leverage, rasio aktivitas, dan ukuran
perusahaan) memberikan informasi 70%
terhadap variabel dependen financial
distressdan sisanya diterangkan oleh
variabel independen lain sebesar 30%.
(Y)
Perhitungan thitung untuk variabel
ukuran perusahaan (X4) diperoleh
nilai thitung = 4,481> nilai ttabel =
1,960 dan nilai signifikan sebesar
0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak,
artinya variabel ukuran perusahaan
(X4) berpengaruh signifikan terhadap
variabel financial distress (Y).
g.
Uji Hipotesis dengan Uji F
Uji F digunakan untuk menguji apakah
sekelompok variabel independen (rasio
likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas,
dan ukuran perusahaan) secara bersamasama mempunyai pengaruh terhadap
variabel dependen (financial distress)
Ftabel
= a; k-1; n-k
= 0,05; 4-1; 39 – 4
= 0,05; 3; 35
= 2,90
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
2
Uji Koefisien Determinasi (R )
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang
diperoleh menunjukkan bahwa (1) Analisis
Ratio Keuangan dapat digunakan untuk
memprekdisi kemungkinan kesulitan keuangan
(financial distress) dan (2) Rasio Likuiditas,
Rasio Aktivitas, Rasio Leverage, serta ukuran
perusahaan berpengaruh terhadap financial
distress pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode
tahun 2009 – tahun 2012, karena (p < 0,05).
Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu
hanya menggunakan satu jenis industri sehingga
tidak dapat digeneralisasi untuk semua industri
Fhitung19,865> Ftabel 2,90 dan nilai signifikan
dan
sebesar 0,000 < 0,05 sehingga Ho ditolak,
berdasarkan profit margin rasio sehingga belum
dapat menjelaskan secara sempurna prediksi
artinya variabel rasio likuiditas, variabel
rasio leverage, variabel rasio aktivitas, dan
variabel
ukuran
bersama-sama
perusahaan
berpengaruh
secara
signifikan
terhadap variabel financial distress (Y).
prediksi
financial
distress
hanya
financial distress perusahaan manufaktur yang
terdapat di Bursa Efek Indonesia.
Indra Hastuti; Edi Purwanto
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Faisal (2003),Dasar-Dasar
Manajemen Keuangan, Malang:
UMM. Press.
Bursa Efek Indonesia, Surakarta:
Riset Ekonomi, Fakultas Ekonomi,
Universitas Sebelas Maret.
Diyah,
Arikunto, Suharsimi (2006),Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta:
PT.Rineka Cipta.
Atika, Darminto, Handayani (2012),Pengaruh
Beberapa Rasio Keuangan Terhadap
Prediksi Kondisi Financial Distress,
Malang, Fakultas Imu Administrasi
Universitas Brawijaya Malang.
Atmini, Sari dan Wuryana (2005), Manfaat Laba
dan Arus Kas Untuk Memprediksi
Kondisi Financial Distress Pada
Perusahaan Textile Mill Products dan
Apparel and Other Textile Products
yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
Simposium Akuntansi 8. Solo.
Baridwan, Zaki (2004),Intermediate Accounting.
Yogyakarta: BPFE.
Bodie Zvi, Kane Alex, dan Marcus Alan
(2006),Investments. Jakarta: Salemba
Empat.
Brigham
dan
Houston
(2010),DasardasarManajemen Keuangan. Jakarta
: Salemba Empat.
105
Pujiati
dan
Erman
Widanar
(2009),Pengaruh Struktur Kepemilikan
Te rh a d a p N i l a i P e r u s a h a a n :
Keputusan Keuangan sebagai Variabel
Intervening,Jurnal Ekonomi Bisnis dan
Akuntansi Ventura, Vol. 12. No.1.
Emrinaldi, (2007),Analisis Pengaruh Praktek Tata
Kelola
Perusahaan
(Corporate
Governance)
Terhadap
Kesulitan
Keuangan
Perusahaan
(Financial
Distress) : Suatu Kajian Empiris, Jurnal
Bisnis dan Akuntansi, Vol. 9, No. 1.
Fachrudin, Khaira Amalia (2008),Kesulitan
Keuangan Perusahaan dan Personal,
Medan: USU Press.
Fahmi, Irham (2011),Analisis Kinerja Keuangan,
Bandung: Alfabeta.
Foster, George (1986),Financial Statement
Analysis. New Jersey: Englewood
Cliffs, Prentice Hall.
Halim, Abdul (2007),Manajemen Keuangan
Bisnis,Bogor: Ghalia Indonesia.
Hery (2011),Analisis Laporan Keuangan,Jakarta:
Bumi Aksara.
Christianty, Dewi Sisca (2008), Pengaruh
kepemilikan managerial, kepemilikan
institusional,
kebijakan
hutang,
profitabilitas dan ukuran perusahaan
terhadap kebijakan dividen, Jurnal bisnis
dan akuntansi, Vol. 6 dan Vol.10 No.1.
Hofer, C. W. (1980),Turnaround Strategies,Journal
D e w i U t a m i , I n d a h d a n
Rahmawati(2010),Pengaruh
Ukuran
Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris,
Kepemilikan Institusional, Kepemilikan
Asing, dan Umur Perusahaan terhadap
Corporate
Social
Responsibility
Disclosure Pada Perusahaan Property
dan Real Estate yang Terdaftar di
Harahap, Sofyan Syafri ( 2005),Teori Akuntansi.
of Business Strategy 1: 19-31.
Hanafi,
Mamduh. M.. (2003),Analisis
Laporan keuangan, Yogyakarta:
Penerbit UPP AMK YKPN.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Haruman, Tendi (2008),Pengaruh Struktur
Kepemilikan Terhadap Keputusan
Keuangan dan Nilai Perusahaan.
Pontianak, Simposium Nasional
Akuntansi XI.
FORUM AKADEMIKA
Jogiyanto (2004),Metodologi Penelitian Bisnis
: Salah Kaprah dan PengalamanPengalaman,Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.
John Y. Campbell (2010),Predicting Financial Distress and the Performance Of Distressed Stocks.Departement of
Economic,Littauer Center 213,Harvard University,Cambridge MA 02138. USA,and NBER.
Kasmir(2012),Analisis Laporan Keuangan,
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Koes Pranowo, Co. (2010),Determinant of Corporate Financial Distress in an Emerging Market Economy : Empirical Evidence from
the Indonesian Stock Exchange 2004 – 2008,
Internasional Research Journal Of Finance and Economics ISSN 1450-2887 Issue 52 (2010).
Mas’ud, Srengga (2011),Pengaruh Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Financial Distress Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.Jember, Jurnal Akuntansi Universitas Jember, hal.
139-154.
Martono, Agus Harjito (2001),Manajemen
Perkreditan, Jakarta: Bumi Aksara.
Munawir, Slamet (2002),Akuntansi Keuangan
dan Manajemen, Edisi Pertama.
Yogyakarta: BPFE.
Platt Harlan D . , Platt Marjorie B . (2002),Predicting corporate financial distress: reflection on choice-based sample
bias. Journal of Economics and Finance, Vol. 26 No. 2.
Riyanto, Bambang. 2008. Dasar-dasar P e m b e l a n j a a n P e r u s a h a a n . Yogyakarta: BPFE.
106
Sawir, Agnes (2004),Analisis Kinerja Keuangan d a n P e re n c a n a a n K e u a n g a n Perusahaan, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Sartono, Agus (2008),Manajemen keuangan teori, dan aplikasi, Yogyakarta: BPFE.
Subramanyam, K.R. (2012),Analisis Laporan Keuangan, Edisi 10, Jakarta: Salemba empat.
Sugiyono (2008),Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D, Bandung:
Alfabeta.
Hadi, Sutrisno (2001), Analisis Regresi,
Yogyakarta: Andi Offset
Sumarni dan Wahyuni (2006), Metodologi Penelitian dan Bisnis. Yogyakarta: Andi.
Tarjo dan Jogiyanto (2003), Analisa Free Cash Flow dan Kepemilikan Manajerial terhadap Kebijakan Hutang pada
Perusahaan Publik di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VI Ikatan Akuntan Indonesia.
Toto Prihadi (2012),Memahami Laporan
Keuangan Sesuai IFRS dan PSAK,
PPM Manajemen, Jakarta Pusat.
Wahidahwati (2001),Pengaruh Kepemilikan
Manajerial dan Kepemilikan
Institutional pada Kebijakan Hutang
Perusahaan: Sebuah Perspektif Teori
Agensi. Simposium Nasional Akuntansi
IV Ikatan Akuntan Indonesia.
Wardhani, Ratna (2006),Mekanisme Corporate
Governance dalam Perusahaan yang
Mengalami Permasalahan Keuangan
(Financial Distressed Firms). Padang:
Simposium Akuntansi 9.
Whitaker, R. B. (1999), The early stage of financial distress. Journal of Economic and Finance, 23: 123-133
Download