I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ditandai

advertisement
I.
1.1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Era globalisasi ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sangat pesat serta ditunjang inovasi di berbagai bidang kehidupan.
Setelah era efisiensi pada tahun 1950 dan 1960, era kualitas pada tahun 1970 dan
1980, dan era fleksibilitas pada tahun 1980 dan 1990, sekarang dunia menghadapi
era inovasi (Janszen, 2000). Era inovasi muncul karena situasi organisasi saat ini
dipengaruhi oleh banyak sekali perubahan yang berjalan cepat dan sulit
diramalkan. Perubahan-perubahan tersebut terutama disebabkan oleh pesatnya
perkembangan teknologi dan informasi. Teknologi dan informasi menjadi kata
kunci penting dalam era ini. Kumpulan informasi yang tersistemasi dengan
teknologi yang baik akan membentuk sebuah pengetahuan. Pengetahuan inilah
yang pada akhirnya menjadi basis penting di dalam jantung organisasi modern
saat ini. Pengetahuan yang dimiliki oleh sebuah organisasi merupakan aset yang
sangat berharga dan merupakan aset yang tak kasat mata atau dikenal dengan
sebutan intangible asset.
Indonesia sebagai negara berkembang harus mengupayakan berbagai
cara dan jalan yang dapat mentransformasikan dirinya ke dalam organisasi yang
berbasis pengetahuan. Hal ini menjadi sangat penting karena perkembangan pesat
perekonomian dunia didorong oleh organisasi yang berbasis pengetahuan
(Setiarso, 2006). Saat ini perekonomian dunia menghadapi persaingan yang
semakin berat, karenanya negara berkembang seperti Indonesia harus siap untuk
melakukan perubahan paradigma dari yang semula mengandalkan sumber daya
(resourced based) menjadi berbasis pengetahuan (knowledge based). Pergeseran
paradigma tersebut memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan
mampu memberikan nilai tambah serta peningkatan produktifitas yang signifikan.
Kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh pengetahuan yang
dimilikinya. Pengetahuan yang dimiliki dalam benak individu-individu (sumber
daya manusia) tercipta melalui proses yang dimulai dari akses informasi dan
pengalaman, refleksi individu atas tindakan di masa lalu, kemampuan menyerap
2 pengetahuan, dan motivasi individu untuk belajar. Nonaka dan Takeuchi (1995)
menyampaikan bahwa mencipta dan memanfaatkan pengetahuan adalah sumber
terpenting bagi keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Pengetahuan diciptakan
melalui interaksi dan interseksi antara pengetahuan tacit dan pengetahuan
eksplisit. Proses penciptaan pengetahuan (knowledge creation) melibatkan proses
konversi pengetahuan. Proses konversi pengetahuan oleh Nonaka et al (2000)
disebut sebagai proses yang menghasilkan pengetahuan melalui empat model,
yaitu sosialisasi (socialization), eksternalisasi (externalization), kombinasi
(combination), dan internalisasi (internalization). Keempat model tersebut dikenal
sebagai model SECI. Model SECI berlangsung berulang-ulang membentuk suatu
siklus sehingga proses konversi pengetahuan akan terus berputar dan berkembang.
Elemen kunci yang memfasilitasi proses konversi pengetahuan adalah
aset pengetahuan. Aset pengetahuan merupakan input, output, dan elemen
moderator bagi proses penciptaan pengetahuan (Nonaka et al., 2000). Untuk
memahami bagaimana aset pengetahuan diciptakan, diakuisisi, dan dieksploitasi,
Nonaka et al (2000) mengusulkan aset pengetahuan dikelompokkan menjadi
empat, yaitu aset pengetahuan eksperiensial, konseptual, sistemik, dan rutin. Aset
pengetahuan merupakan hal yang dinamis dimana aset pengetahuan yang baik
dapat dibuat dari aset pengetahuan yang sudah ada. Untuk mengelola aset
pengetahuan yang menjadi pilar organisasi dalam menciptakan nilai, maka
diperlukan manajemen pengetahuan (knowledge management). Manajemen
pengetahuan adalah manajemen kreativitas sosial untuk menghasilkan nilai bagi
organisasi dengan memanfaatkan aset-aset intelektual dan pengetahuan yang
melekat pada setiap individu, sekelompok individu, dan/atau yang sudah ada
dalam bentuk artefak, produk atau fitur, dan praktik unggulan organisasi (Fontana,
2011).
Manajemen pengetahuan adalah salah satu konsep dasar dalam
pengelolaan aset pengetahuan. Pengelolaan aset pengetahuan sudah berlangsung
sejak awal berdirinya sebuah organisasi (Birkinsaw, 2001). Cara sebuah
organisasi menentukan struktur dan hirarki anggota sudah merupakan upaya
mengelola aset pengetahuan dan menempatkan orang-orang yang berpengetahuan
sama di satu tempat (the right man in the right place). Mengelola disini tidak
3 hanya sebatas menyimpan, tetapi juga menciptakan budaya pembelajaran di
lingkungan organisasi sehingga memudahkan anggota organisasi dalam
melakukan pembelajaran secara mandiri dan memudahkan dalam memberikan
solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi. Alasan penting penerapan
manajemen pengetahuan di suatu organisasi adalah perbedaan yang mendasar
antara aset fisik dan aset pengetahuan. Aset fisik akan berkurang nilainya jika
dipergunakan dan cenderung bertambah atau memiliki nilai tetap jika tidak
dipergunakan. Sementara, aset pengetahuan nilainya akan bertambah jika
dibagikan dan dipergunakan, tetapi sebaliknya nilainya akan berkurang jika tidak
dibagikan dan tidak dipergunakan. Oleh karena itu, manajemen pengetahuan
berperan penting dalam mengarahkan para individu bekerja dan berbagi
pengetahuan menurut pengetahuan yang dimilikinya (knowledge worker).
Penelitian adalah bagian dari proses penciptaan pengetahuan. Di dalam
kegiatan penelitian terkandung aspek dari ilmu pengetahuan, yaitu tingkat
perkembangan dan isi intelektual (Cole, 1992). Aspek-aspek tersebut tercermin
dalam sebuah lembaga penelitian. Keberadaan sebuah lembaga penelitian
mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan riset keilmuan, pemantauan,
evaluasi kemajuaan dan penelaahan kecenderungan ilmu pengetahuan, serta
teknologi untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Hasil-hasil penelitian
disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk informasi pengetahuan. Bagi suatu
lembaga penelitian, aset pengetahuan bisa berupa individu peneliti beserta
pengalamannya, hasil-hasil penelitian, dan infrastruktur seperti proses, organisasi,
sistem, serta metode. Pengelolaan pengetahuan di sebuah lembaga penelitian
difokuskan untuk mengumpulkan, mengorganisir, membagi, dan menganalisis
pengetahuan yang mereka miliki untuk tujuan di masa yang akan datang.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah lembaga penelitian
terbesar di Indonesia yang memiliki pusat penelitian keilmuan di berbagai bidang
di bawah Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)
dan salah satunya adalah Pusat Penelitian Ekonomi (P2E). Kegiatan penelitian di
P2E LIPI tidak dapat dilepaskan dari kondisi tiga elemen dasarnya, yaitu (1)
komunitas ilmuwan dan teknologi, (2) sistem ilmu dan teknologi yang berkaitan
dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya tempat ilmu dan teknologi
4 tersebut berkembang, dan (3) organisasi yang menjadi semacam katalis bagi
komunitas untuk tumbuh kembang di dalam sistem.
Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI dituntut dapat menghadapi
tantangan baru untuk menghasilkan karya unggulan yang mampu bersaing dan
menjadi acuan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional. Pusat
Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI juga dituntut untuk memberikan arah dan
pencerahan bagi masyarakat dalam rangka meletakkan landasan yang kokoh
dalam mencapai masyarakat adil, makmur, dan demokratis. Pusat Penelitian
Ekonomi (P2E) LIPI merupakan salah satu unit kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen, penelitian dan kajian yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi
praktis kebijakan, melainkan juga dalam rangka pengembangan konsep, model,
dan teori-teori baru dalam bidang ilmu ekonomi. Selain itu, hasil-hasil penelitian
dan pengkajian diharapkan juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas
terutama dalam memahami problematika ekonomi dan upaya pemecahannya
berdasarkan perspektif ilmiah.
Kondisi P2E LIPI sebagai elemen organisasional yang memiliki
karakteristik hubungan sosial tertentu merupakan salah satu titik kunci
perkembangan penelitian. Hal ini disebabkan P2E LIPI sebagai kontributor
penting yang menentukan arah dalam kebijakan ekonomi bangsa Indonesia
bekerja sama dengan beberapa organisasi penting bidang ekonomi, seperti Bank
Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lain-lain. Bagi P2E LIPI kondisi ini
merupakan salah satu aset pengetahuan yang ditumbuhkembangkan dalam upaya
menciptakan pengetahuan bagi para peneliti di bidang industri dan perdagangan,
pembangunan daerah, keuangan dan perbankan, serta ekonomi syariah.
Oleh karena itu menjadi sangat penting menganalisis bagaimana inovasi
bisa diciptakan dalam upaya mengembangkan pengetahuan sebagai bahan baku
penelitian, baik yang bersifat pengetahuan eksplisit maupun pengetahuan tacit
dengan menganalisis proses penciptaan pengetahuan organisasi pada P2E LIPI
dikaitkan dengan aset-aset pengetahuan yang dimiliki P2E LIPI.
5 1.2
Perumusan Masalah
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai lembaga penelitian
terbesar di Indonesia yang memiliki berbagai pusat penelitian diharuskan
membentuk perilaku inovatif. Salah satu pusat penelitian tersebut adalah Pusat
Penelitian Ekonomi (P2E). Hal ini disebabkan karena seluruh kegiatan penelitian
dan pengkajian serta aktivitas di P2E diharapkan dapat memberikan kontribusi
nyata dalam pengembangan ilmu ekonomi, perumusan rekomendasi kebijakan
ekonomi bagi pemerintah, dan pencerahan kepada masyarakat luas (stakeholders)
dalam memahami dinamika ekonomi Indonesia kini dan mendatang. Perilaku
inovatif ini dapat terbentuk apabila terjadi proses penciptaan pengetahuan pada
P2E LIPI. Proses penciptaan pengetahuan dapat terjadi apabila difasilitasi oleh
aset-aset pengetahuan yang dimilikinya.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, maka permasalahan pada
penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Aset-aset pengetahuan apa saja yang dimiliki Pusat Penelitian Ekonomi
(P2E) LIPI?
2.
Bagaimana proses penciptaan pengetahuan di Pusat Penelitian Ekonomi
(P2E) LIPI?
3.
Bagaimana
peran
aset-aset
pengetahuan
dalam
proses
penciptaan
pengetahuan organisasi yang mendorong inovasi pada Pusat Penelitian
Ekonomi (P2E) LIPI?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah
dikemukakan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Mengidentifikasi aset-aset pengetahuan yang dimiliki Pusat Penelitian
Ekonomi (P2E) LIPI.
2.
Mengidentifikasi proses penciptaan pengetahuan di Pusat Penelitian
Ekonomi (P2E) LIPI.
3.
Menganalisis
peran
aset-aset
pengetahuan
dalam
proses
konversi
pengetahuan organisasi yang mendorong inovasi pada Pusat Penelitian
Ekonomi (P2E) LIPI.
6 1.4
Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:
1.
Membantu organisasi untuk mengkaji hubungan timbal balik antara aset
pengetahuan dengan proses penciptaan pengetahuan sebagai upaya
membentuk perilaku inovatif.
2.
Mengidentifikasi aset-aset pengetahuan yang ada di organisasi untuk
memfasilitasi proses penciptaan pengetahuan.
3.
Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan
penelitian di bidang yang sama ataupun penelitian lanjut.
1.5
Ruang Lingkup Penelitian
1.
Penelitian ini difokuskan untuk menganalisis peran aset-aset pengetahuan
dalam proses penciptaan pengetahuan organisasi yang mendorong inovasi
pada Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI.
2.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada
65 orang pegawai P2E LIPI di Jakarta. Kuesioner yang disebarluaskan
terdiri dari pertanyaan tentang identitas responden, pertanyaan mengenai
aset pengetahuan yang terdiri dari aset pengetahuan eksperiensial,
konseptual, sistemik, dan rutin, serta pertanyaan tentang proses penciptaan
pengetahuan melalui proses konversi pengetahuan yang terdiri dari empat
model, yaitu sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi.
3.
Penulis menganalisis hubungan timbal balik antara empat kategori aset
pengetahuan dengan empat kategori proses penciptaan pengetahuan. Pada
akhirnya diharapkan penelitian ini mampu memberikan model kontribusi
aset pengetahuan terhadap proses penciptaan pengetahuan pada organisasi.
Download