Tia molina simanjuntak 2014-32

advertisement
NAMA
: TIA MOLINA SIMANJUNTAK
NIM
: 2014-32-076
SESI
: 01
DOSEN
: IDRUS JUS’AT M.SC, PH.D
DATA PERUBAHAN POLA PENYAKIT DAN KEMATIAN DI INDONESIA
HIPERTENSI
Menurut Depkes RI (2001) mengemukakan terjadinya transisi epidemiologi penyakit
ditunjukkan dengan adanya kecenderungan perubahan pola kesakitan dan pola penyakit yaitu
adanya penurunan prevalensi penyakit infeksi, namun terjadi peningkatan prevalensi penyakit
non-infeksi atau penyakit degeneratif seperti: hipertensi, stroke, kanker, diabetes melitus dan
lain-lain. Selain itu perubahan gaya hidup (life style)masyarakat dan sosial ekonomi juga
dapat memicu semakin meningkatnya prevalensi penyekit degeneratif, di mana juga masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat, salah satunya adalah hipertensi dan sering kali
dijumpai tanpa gejala, walau relatif mudah diobati namun apabila tidak diobati akan
menimbulkan komplikasi seperti Stroke, Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJP),
Gangguan Ginjal dan lain-lain yang pada akhirnya dapat mengakibatkan cacat maupun
kematian (Bustan, MN, 1995).
Profil Kesehatan Sumatera Utara (2001) melaporkan bahwa prevalensi hipertensi di
Sumatera Utara sebesar 91 per 100.000 penduduk, sebesar 8,21% pada kelompok umur di
atas 60 tahun untuk penderita rawat jalan.Berdasarkan penyakit penyebab kematian pasien
rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara, hipertensi menduduki
peringkat pertama dengan proporsi kematian sebesar 27,02% (1.162 orang), pada kelompok
umur ≥60 tahun sebesar 20,23% (1.349 orang).
Di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan hipertensi termasuk ke dalam sepuluh
penyakit terbesar dari penderita yang dirawat inap di bangsal penyakit dalam. Dari 400
penderita stroke yang dirawat di bangsal penyakit dalam pada tahun 1982-1985 38%
menderita hipertensi (Sumartono dan Aryastamy, 1999).
Hasil penelitian Hanim (2003) proporsi penderita hipertensi rawat inap di RSUP
H.Adam Malik Medan adalah 1,78%, proporsi laki-laki lebih besar daripada perempuan yaitu
sebesar 53,1%. Di wilayah kerja Puskesmas Pekan Labuhan, hipertensi merupakan rangking
ketiga dari 10 penyakit terbesar yang dilaporkan dengan jumlah 1.776 pasien yang datang
berobat selama tahun 2003. Jumlah kunjungan ke Puskesmas dari semua penyakit adalah
15.255 pasien, dengan demikian proporsi kunjungan penyakit hipertensi sebesar 11,64%
(Puskesmas Pekan Labuhan, 2003).
Grafik Penyebab kematian paling besar (WHO, 2005)
Indonesia: 59,5% Kematian Akibat Penyakit Tak Menular, Termasuk Jantung
Di Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang ternyata masih berjuang menghadapi
pelbagai masalah kesehatan. Penyakit infeksi masih menjadi prioritas utama dalam
pembangunan kesehatan, di sisi lain perubahan gaya hidup yang serba cepat tidak menahan
laju perkembangan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. Hal
ini diperkuat dengan data yang diperoleh pada tahun 2007, angka kematian akibat penyakit
jantung dan tidak menular pada tahun 1995 sebesar 41,7% meningkat menjadi 59,5% pada
tahun 2007.
Kalimantan Selatan “Juara Hipertensi”
Penyakit hipertensi sebagai salah satu “kawan” dari penyakit jantung, ternyata dinilai cukup
tinggi di Indonesia. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, angka
kejadian atau prevalensi penduduk Indonesia berusia di atas 18 tahun dengan hipertensi
adalah sebesar 31,7%. Ternyata hipertensi tidak hanya terjadi pada penduduk berusia di atas
18 tahun, namun juga pada penduduk berusia 15-17 tahun. Jika dilihat berdasarkan kriteria
hipertensi sesuai JNC VII, terdapat 4050 (8,4%) penduduk berusia 15-17 tahun dengan
hipertensi. Prevalensi hipertensi tertinggi berdasarkan provinsi terdapat di Kalimantan
Selatan (39,6%), dan terendah di Papua Barat (20,1%).
Hasil dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 memperlihatkan bahwa prevalensi
beberapa penyakit jantung dan pembuluh darah seperti hipertensi sangat tinggi yaitu 31,7%,
diikuti stroke sebesar 8,3% dan penyakit jantung sebesear 7,2% per 1.000 penduduk.
Aceh “Juara Stroke”
Penyakit kardiovaskular juga erat kaitannya dengan penyakit stroke. Di Indonesia, angka
prevalensi stroke juga cukup tinggi yaitu sekitar 72,3%, dengan provinsi Aceh menduduki
angka prevalensi tertinggi yaitu 16,6% dan terendah di Papua (3,8%).
Data Riskesdas memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah
stroke (15,4%), hipertensi (6,8%), penyakit jantung iskemik (5,1%), dan penyakit jantung
lainya (4,6%). Angka kematian pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan akibat
stroke sebesar 15,9%, kemudian penyakit jantung sistemik sebesar 8,7% dan hipertensi serta
penyakit jantung lainya sebesar 7,1%. Sementara itu di pedesaaan, angka kematian tertinggi
diakibatkan oleh penyakit menular yaitu tuberkulosis (TBC) diikuti oleh stroke sebesar
11,5% dan hipertensi 9,2% dan penyakit jantung iskemik 8,8%.
Pada penduduk usia 55-64 tahun yang tinggal di daerah perkotaan, stroke tetap menjadi
penyebab kematian utama (26,8%), kemudian penyakit jantung iskemik (5,8%), hipertensi
(8,1%), dan penyakit jantung lainnya (4,7%).
Bagaimana dengan penduduk di pedesaan? Ternyata pola penyebab kematian di pedesaan
dan perkotaan menunjukkan pola yang serupa dengan stroke (17,8%) sebagai penyebab
kematian utama, diikuti oleh beberapa penyebab lain antara lain hipertensi (11,4%), penyakit
jantung iskemik (5,7%), dan penyakit jantung lain (5,1%).
Download