PROFIL PERIKANAN DESTRUKTIF

advertisement
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
PROFIL PERIKANAN DESTRUKTIF
DI KABUPATEN NIAS SELATAN
Hasan Sitorus dan Juli Ritha Tarigan
ABSTRACT
The aim of the research is to study the profile of destructive fishing at South
Nias District. The study is focused on using bomb and poisons for fishing which
have high impact on the fish habitate degradation and depletion aquatic resources.
This information is very important for local government in arrange the policy to
overcome illegal fishing in South Nias District.
Based on the field research,
composition of destructive fishing activities are 1) fish bombing 73.16 %, 2) fish
poisoning 22.14 % , and 3) electrical fishing 4.70 % Fishing by using bomb and
poison were dominated by out site fishermen, while fishing by electrical current all
practiced by local fishermen. The bomb materials and poisons were bought from
Sibolga and Medan through illegal market. Frequency of fish bombing three times
in a week and it was usually happened in the afternoon, while fish poisoning almost
every day in the morning at Pulau Pini and Pulau Marit. The destructive fishing had
significant impact on the coral reef degradation in this region, because the life coral
reef covering less than 30 %.
------------Key words : destructive fishing, bomb, poison, coral reef, South Nias District.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Dahuri (2005), salah satu faktor penyebab deplesi sumberdaya
perikanan laut adalah kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat
tangkap yang sifatnya destruktif. Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah
lingkungan ini pada dasarnya merupakan kegiatan penangkapan ikan yang tidak
legal. Penggunaan bom, racun, pukat harimau, dan alat tangkap lainnya yang tidak
selektif, menyebabkan terancamnya kelestarian sumberdaya hayati laut, akibat
kerusakan habitat biota laut dan kematian sumberdaya ikan.
Terumbu karang sebagai salah satu sumberdaya hayati laut memimiliki
peranan penting dalam sistem ekologi perairan pesisir dan laut. Kerusakan
terumbu karang menyebabkan terganggunya spawning ground, nursery ground dan
feeding ground bagi berbagai jenis ikan dan udang yang bernilai ekonomis.
Dewasa ini, sumberdaya terumbu karang yang ada di Kabupaten Nias
Selatan telah mengalami kerusakan. Menurut CRITC (2006) terdapat 3.728
hektar terumbu karang di Kabupaten Nias Selatan dan sebagian besar berada di
kawasan Pulau- Pulau Batu. Kerusakan terumbu karang ini telah mencapai 72 %,
dan hanya sekitar 5 % yang masih dalam kondisi sangat baik. Penyebab utama
kerusakan terumbu karang di Nias Selatan adalah akibat kegiatan perikanan yang
tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan peledak, racun dan pukat
harimau untuk penangkapan ikan (illegal fisihing). Selain itu, penambangan karang
1
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
sebagai bahan bangunan, pengambilan bunga karang sebagai souvenir, dan
tektonik bumi merupakan faktor yang mempercepat degradasi terumbu karang.
Untuk mencegah semakin buruknya kondisi terumbu karang di Kabupaten
Nias Selatan dan untuk melindungi terumbu karang yang masih eksis, maka
diperlukan suatu kebijakan dan strategi perlindungan terumbu karang. Agar
kebijakan terarah dan efektif, maka sangat dibutuhkan data dasar (profil) perikanan
destruktif di Kabupaten Nias Selatan. Profil perikanan destruktif ini mencakup
jenis dan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan yang merusak habitat dan
sumberdaya hayati, wilayah operasi penangkapan ilegal (illegal fishing ground),
pangkalan kapal penangkap ilegal, tempat-tempat pendaratan ikan hasil ilegal,
proses hukum aktivitas perikanan destruktif dan sistem pengawasan dan
pengendalian destruktif fishing di Kabupaten Nias Selatan.
1.2. Tujuan
Tujuan dari studi ini adalah untuk menyusunan profil perikanan destruktif
(destructive fishing) di Kabupaten Nias Selatan, khususnya penggunaan bom dan
racun sianida.
1.3. Manfaat
Informasi profil perikanan destruktif ini dapat digunakan sebagai dasar
penetapan kebijakan bagi Pemerintah Daerah dalam upaya perlindungan
sumberdaya hayati perairan laut, khususnya sumberdaya terumbu karang di
Kabupaten Nias Selatan.
1.4. Keluaran (Output)
Tersusunnya dokumen Profil Perikanan Destruktif di Kabupaten Nias
Selatan berdasarkan hasil penelitian lapangan dan data sekunder dari berbagai
instansi terkait.
II. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan Penyusunan Profil Perikanan Destruktif di Kabupaten Nias
Selatan dilaksanakan di wilayah Coremap II yang meliputi 3 wilayah kecamatan,
yakni Kecamatan Teluk Dalam, Kecamatan Pulau-Pulau Batu, dan Kecamatan
Hibala. Kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan Agustus – Nopember 2008.
2.2. Bahan dan Metode Pelaksanaan
Bahan dan alat yang digunakan dalam kegiatan studi ini adalah :
1) ATK untuk pencatatan data,
2) Kuesioner untuk 3 kelompok sasaran (nelayan pelaku, nelayan pelaku tidak
langsung, nelayan informan),
3) Peta laut, dan data statistik Nias Selatan
4) Perahu untuk transportasi survey dan camera
2
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
Metode pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut :
1) Survey di enam desa untuk mengetahui kondisi umum aktivitas perikanan laut
oleh masyarakat lokal.
2) Penyebaran kuesioner dan tanya jawab secara mendalam (depth interview)
dengan masyarakat lokal untuk mengetahui aktivitas perikanan destruktif dan
faktor-faktor pendorong terjadinya perikanan destruktif (Metode PRA)
khususnya penggunaan bom dan racun untuk penangkapan ikan.
3) Pengambilan data proses hukum di Pos Angkatan Laut, Polisi Perairan, Polsek
Tello, dan Teluk Dalam.
4) Analisis data untuk penyusunan profil perikanan destruktif Kabupaten Nias
Selatan.
2.3. Parameter yang Diamati
Dalam studi Perikanan Destruktif di Kabupaten Nias Selatan, beberapa
parameter yang diamati adalah :
1) Jenis alat tangkap dan bahan
2) Material dan sumber bahan
3) Pelaku dan mata rantai pelaku
4) Pasar dan jalur distribusi bahan dan produk ikan illegal
5) Lokasi –lokasi terkait dengan kegiatan perikanan destruktif.
6) Organisme target
7) Dampak kegiatan
8) Intensitas dan frekuensi kegiatan
9) Prosedur penangkapan dan proses hukum.
2.4. Materi Kuesioner
Untuk mencapai sasaran studi, maka materi kuesioner di arahkan untuk
aspek-aspek berikut ini : sumber bahan bom dan racun, ukuran kapal yang biasa
digunakan, kemampuan jelajah, lokasi penangkapan ikan, biaya pembelian dan
pengoperasian bom dan racun, jenis hasil tangkapan yang dominan, sistem
pembagian hasil, jalur pemasaran ikan, dan penghasilan dari pelaku, serta dampak
kerusakan yang ditimbulkan,
2.5. Responden
Jumlah responden dalam studi ini sebanyak 30 orang setiap desa untuk
nelayan bukan pelaku perikanan destruktif, dan pelaku atau mantan pelaku
diupayakan minimal 2 orang setiap desa di lokasi Coremap II. Jumlah total
responden 180 orang untuk 6 desa, dan pelaku atau mantan pelaku yang berhasil
diwawancarai hanya 9 orang. Disamping itu, juga diambil data sekunder dari
instansi terkait, seperti Polsek Tello, Polair Tello, Pos TNI AL Tello dan Teluk
Dalam, untuk mengetahui proses justisi illegal fishing.
3
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
2.6. Tahapan Penyusunan Profil Destruktif Fishing
Studi Profil Perikanan Destruktif (PD) di Kabupaten Nias Selatan ini
diawali dengan penyusunan rencana studi (proposal teknis), yang meliputi aspek
metodologi, tenaga ahli, dan tenaga lapangan. Kemudian dilanjutkan dengan
penyusunan kuesioner oleh para tenaga ahli, briefing dengan surveyor dan
enumerator, dan pengambilan data lapangan. Untuk melengkapi data dari nelayan
local baik pelaku maupun bukan pelaku (informan), juga diambil data-data dari
Polsek Pulau-Pulau Batu, Polair Tello, Dan Pos TNI AL Teluk Dalam dan Tello.
Seluruh data yang diperoleh dikompilasi dan diverifikasi untuk menjamin agar data
yang diperoleh memiliki validitas yang tinggi. Setelah dianalisis, dilanjutkan
dengan penyusunan buku profil perikanan destruktif di Kabupaten Nias Selatan
(lihat Gambar 1).
4
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
Perencaan Studi
Perikanan Destruktif Nias Selatan
Penyusunan Tenaga Ahli dan
Enumerator
Penyusunan Kuesioner
Survey dan Pengumpulan Data
Lokasi dan Responden
Instansi Terkait
(Polair, TNI AL)
Kompilasi Data
TIDAK
Verifikasi Data
Analisis dan Pelaporan
YA
Data Entry
(Data Base)
Buku Profil Perikanan Destruktif
Kabupaten Nias Selatan
Gambar 1. Bagan Alir Penyusunan Destruktif Fishing Kabupaten Nias Selatan
5
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
III. PROFIL PESISIR NIAS SELATAN
3.1. Kondisi Geografis
Kabupaten Nias Selatan yang beribukota di Teluk Dalam merupakan
kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Nias, berdasarkan UU No.9 Tahun
2003. Status otonom diperoleh pada 25 Februari 2003. Sebagian besar Pulau Nias
dengan beberapa pulau kecil di sekitarnya masuk ke dalam Kabupaten Nias,
sedangkan sebagian kecil pulau Nias di bagian selatan beserta pulau-pulau di
sekitarnya masuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias Selatan.
Kabupaten Nias Selatan secara geografis berada di wilayah Pantai Barat
Sumatera pada posisi 0.94o LU - 0,86o LS dan 97,06o BT - 99,03o BT dengan
ketinggian 0 – 800 m di atas permukaan laut. Daerah ini di sebelah Utara
berbatasan dengan Kabupaten Nias, sebelah Selatan dengan Pulau-Pulau Mentawai
Propinsi Sumatera Barat, sebelah Timur dengan Kabupaten Mandailing Natal dan
Pulau-Pulau Mursala Kabupaten Tapanuli Tengah, dan sebelah Barat berbatasan
dengan Samudera Indonesia.
Luas wilayah kabupaten ini mencapai 1.825,2 km2, terdiri dari 104 buah
pulau dan yang dihuni 21 pulau. Dari seluruh gugusan pulau itu, ada empat pulau
besar, yakni Pulau Tanah Bala (39,67 km2), Pulau Tanah Masa (32,16 km2), Pulau
Tello (18 km2), dan Pulau Pini (24,36 km2). Berdasarkan wilayah administratif,
daerah ini terdiri dari 9 kecamatan, yakni Kecamatan Pulau-Pulau Batu,
Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur, Kecamatan Hibala, Kecamatan Teluk Dalam,
Kecamatan Amandraya, Kecamatan Lahusa, Kecamatan Gomo, Kecamatan
Lolomatua dan Kecamatan Lolowa’u dan memiliki 212 desa. Dari seluruh
kecamatan yang ada, ada 2 kecamatan yang tidak memiliki wilayah pesisir, yakni
Kecamatan Gomo dan Kecamatan Lolomatua. Dari 7 kecamatan yang memiliki
wilayah pesisir, 3 kecamatan ditetapkan menjadi lokasi kegiatan COREMAP II,
yakni : Kecamatan Hibala (Desa Duru dan Tuwaso), Kecamatan Pulau-Pulau Batu
(Desa Sifitu Ewali, Hayo dan Luaha Idano Pono) dan Kecamatan Teluk Dalam
(Desa Botohilitano).
3.2. Kondisi Iklim
Dari segi iklim, daerah ini termasuk iklim tropis basah yakni daerah yang
memiliki curah hujan tinggi (3.077,1 mm/tahun) dan dipengaruhi Samudera
Indonesia. Musim hujan sangat dipengaruhi angin Mounson Timur dan angin
Mounson Barat. Musim kemarau umunya terjadi pada bulan Juni sampai Agustus,
sedangkan musim hujan terjadi pada bulan September sampai Maret yang sering
disertai badai besar di laut.
3.3. Kondisi Biofisik Pesisir
a. Kondisi Oseanografis
Perairan laut di Kabupaten Nias Selatan merupakan Samudera Indonesia,
yang dicirikan dengan gelombang laut yang besar, perairan dalam, dan dasar
curam, kecepatan arus lambat sampai sedang, dan kisaran pasang surut yang relatif
6
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
rendah. Namun di sekitar pesisir pulau-pulau kecil seperti di Kecamatan PulauPulau Batu dan Kecamatan Hibala, juga ditemukan dasar pantai yang landai, dan
perairan dangkal dan jernih.
b. Kualitas Perairan Laut
Secara umum, kualitas perairan laut di 3 wilayah kecamatan (Pulau-Pulau
Batu, Hibala dan Teluk dalam) masih cukup baik dan mendukung sistem
kehidupan akuatik. Salinitas berkisar antara 29 – 33 ppt, kecerahan 10 - 15 m,
kadar nitrat sedang (0,62 ppm) kecuali di sekitar pemukiman di pulau-pulau kecil,
dan oksigen terlarut berkisar antara 6,4 – 7,6 ppm.
c. Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang di Kabupaten Nias Selatan dengan luas 3.728
hektar, sebagian besar tersebar di kawasan Kecamatan Pulau-Pulau Batu. Kawasan
terumbu karang tersebut menjadi lokasi utama penangkapan ikan ekonomis bagi
masyarakat nelayan. Akibat lemahnya pengawasan, di daerah ini banyak terjadi
kegiatan penangka-pan ikan yang tidak ramah lingkungan, baik oleh nelayan lokal
maupun nelayan asing. Penggunaan bom, racun dan pukat harimau telah
menyebabkan kerusakan terumbu karang sampai pada tahap yang
mengkhawatirkan.
Berdasarkan hasil foto bawah air, kerusakan terumbu karang di Kecamatan
Hibala telah mencapai 73 %, di Kecamatan Pulau-Pulau Batu 76 % dan Kecamatan
Teluk Dalam 84 %. Terumbu karang yang masih baik hanya terdapat pada
kawasan perairan pada kedalaman lebih dari 15 meter. Kerusakan terumbu karang
ini secara nyata telah berdampak terhadap penurunan hasil tangkapan nelayan
dalam beberapa tahun terakhir ini. Implikasi dari keadaan ini, terumbu karang
semakin banyak mengalami tekanan oleh masyarakat lokal dengan cara-cara yang
tidak bijaksana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh sebab itu, untuk
mengurangi kerusakan yang lebih parah, perlu segera ditetapkan daerah konservasi
laut (marine management area), yang didukung peraturan desa dan daerah, dan
pengembangan mata pencaharian alternatif.
Pantai di Pulau-Pulau Batu danHibala umumnya berpasir putih bersih,
sedang di Teluk Dalam berpasir putih agak kecoklatan. Walaupun pada beberapa
lokasi di P. P. Batu yang dekat dengan pemukiman penduduk ataupun yang
pantainya ditumbuhi semak belukar atau mangrove perairannya sedikit agak keruh,
tapi kondisinya relatif masih lebih jernih dibandingkan dengan dengan perairan
yang berada di sekitar Teluk Dalam. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat
sedimentasi yang agak tinggi dijumpai pada stasiun-stasiun yang berada di Teluk
Dalam.
Rataan terumbu bagian atas (reef flat/reef top) umumnya landai dan
mendatar antara 50-150 m dari daratan. Dasar perairannya dipenuhi oleh karang
mati yang telah ditumbuhi alga (DCA=Dead Coral with algae), pecahan karang
mati (R=Rubble), ataupun pasir (S=Sand). Walaupun tidak banyak dijumpai
7
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
lamun (seagrass), pada beberapa lokasi seperti di Pulau Balogia, Pulau Sipika, dan
Pulau Pono, lamun dari marga Enhalus dijumpai di rataan terumbu bagian atas.
Pada bagian lereng terumbu (reef slope), sudut kemiringan semakin
bertambah walaupun kemiringannya tidak terlalu curam, yaitu sekitar 10-30o.
Dasar perairannya juga banyak dijumpai pecahan karang mati, pasir ataupun
bongkahan karang mati yang telah ditumbuhi oleh alga. Karang tumbuh dalam
ukuran kecil dan umumnya tidak mengelompok dalam satu tempat, melainkan
terpisah–pisah. Karang Acropora relative jarang dijumpai, dan kalau pun dijumpai
umumnya berukuran kecil, diameternya kurang dari 20 cm. Pada beberapa lokasi,
karang kelompok Non-Acropora dari marga Hydrophora terlihat agak dominan
dibanding marga lainnya walaupun persentase tutupannya juga tidak besar.
Berdasarkan pengamatan visual di lapangan, di Pulau-Pulau Batu dan Hibala
banyak dijumpai kerusakan karang yang mungkin disebabkan oleh penangkapan
ikan menggunakan bom dan racun (potas) , selain karena faktor alami.
Hasil pengamatan terumbu karang yang dilakukan dengan menggunakan
metode transek memperlihatkan bahwa persentase tutupan karang hidup seluruhnya
di bawah 50 %. Di Pulau-Pulau Batu, rata-rata tutupan karang 23,42 %, Hibala
25, 16 dan Teluk Dalam 8,24 % untuk Acropora dan non Acropora.
d. Mangrove
Di Kabupaten Nias Selatan, hutan mangrove hanya ditemukan pada
beberapa pulau saja, dan luasnya sekitar 600 hektar. Di Kecamatan Pulau-Pulau
Batu, mangrove ditemukan di sekitar Pulau Tello, Pulau Pono dan Pulau Tanah
Masa,, di Kecamatan Hibala di sekitar Teluk Duru dan pantai Pulau Hibala dekat
alur muara sungai dengan luas sekitar 103 hektar, dan di Kecamatan Teluk Dalam
sekitar 180 hektar.
3.4. Kondisi Sosial Ekonomi
a. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Nias Selatan berdasarkan BPS (2006)
mencapai 275.500 jiwa (61.276 Kepala Keluarga), dengan tingkat kepadatan
penduduk rata-rata sebesar 151 jiwa/km2. Laju pertambahan penduduk mencapai
1,5 %/tahun. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Gomo (317
jiwa/km2), dan terendah di Kecamatan Lahusa (88 jiwa/km2). Jumlah penduduk di
tiga kecamatan yang menjadi wilayah pengelolaan Coremap II, yakni Kecamatan
Hibala mencapai 9.374 jiwa (1.875 Kepala Keluarga) dengan tingkat kepadatan
173 jiwa/km2, Kecamatan Pulau-Pulau Batu sebanyak 17.465 jiwa (4.366 Kepala
Keluarga) dengan tingkat kepadatan 144 jiwa/km2, dan Kecamatan Teluk Dalam
76.750 jiwa dengan tingkat kepadatan 157 jiwa/km2. Sedangkan jumlah penduduk
di desa-desa lokasi COREMAP II adalah : Desa Duru 504 jiwa, Tuwaso 623 jiwa,
Sifitu Ewali 801 jiwa, Hayo 284 jiwa, Luaha Idano Pono 253 jiwa, dan Desa
Botohilitano 3.226 jiwa.
8
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat pesisir di Kabupaten Nias Selatan masih
relatif rendah, karena 64,67 % dari populasi yang ada hanya tamat SD dan SLTP.
Berdasarkan observasi lapangan di wilayah pesisir, banyak gedung sekolah dasar
yang tidak layak fisik, jumlah guru yang tidak memadai, dan sarana proses belajar
mengajar yang minim. Berdasarkan data BPS (2006), jumlah SD Negeri dan Inpres
di daerah ini telah mencapai 203 buah, SD Swasta 14 buah, dengan jumlah guru
sebanyak 1.197 orang. Di Kecamatan Hibala, jumlah SD sebanyak 10 buah,
Kecamatan Pulau-Pulau Batu 27 buah, dan Kecamatan Teluk Dalam 53 buah.
Yang menjadi masalah adalah tidak tercapainya standar rasio jumlah unit SD
dengan jumlah penduduk usia sekolah, dan rasio jumlah guru dengan murid di
suatu desa, sehingga mutu pendidikan relatif rendah. Bahkan di desa tertentu tidak
terdapat guru PNS, sehingga tenaga pengajar yang ada hanya berstatus guru bantu.
c. Mata Pencaharian
Sebagian besar penduduk Kabupaten Nias Selatan bekerja di sektor
pertanian (usaha tani, perkebunan, perikanan, peternakan), sedangkan yang lainnya
bekerja di sektor industri, pariwisata, dan jasa lainnya. Khusus bagi masyarakat
pesisir yang ada di enam kecamatan yang memiliki perairan pesisir dan laut,
umumnya kehidupan mereka tergantung dari hasil laut.
Penangkapan ikan umumnya menggunakan teknologi tradisional, seperti
ukuran kapal yang kecil, sehingga daerah penangkapan ikan hanya berkisar di
perairan pantai. Menurut BPS (2006), jumlah nelayan yang menggunakan kapal
motor di Kecamatan Hibala hanya 68 orang, pada hal jumlah nelayan mencapai
809 orang, di Kecamatan Pulau-Pulau Batu sebanyak 93 orang dengan jumlah
nelayan 1.663 orang, dan di Kecamatan Teluk Dalam 28 orang dengan jumlah
nelayan 673 orang. Dari data tersebut tergambar, sangat banyak nelayan yang
hanya menggunakan alat tangkap perahu tanpa motor (sampan), sehingga produksi
ikan relatif rendah. Produksi perikanan laut dari Kecamatan Hibala hanya
mencapai 3.679,8 ton, Pulau-Pulau Batu 6.239,2 ton, dan Kecamatan Teluk Dalam
691,5 ton pada tahun 2006.
Berdasarkan survey lapangan (September, 2008), rata-rata tingkat
pendapatan nelayan berkisar antara Rp 300.000 – Rp 500.000/bulan. Dengan
tingkat pendapatan yang demikian, menyebabkan masyarakat pesisir kekurangan
modal untuk pengembangan usaha, tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan
biaya pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, dan timbulnya dorongan untuk
memanfaatkan sumberdaya pesisir secara tidak bijaksana akibat tekanan ekonomi
atau kebutuhan hidup. Oleh sebab itu, rusaknya terumbu karang di daerah ini
sangat erat kaitannya dengan masalah ekonomi keluarga. Dengan demikian,
diperlukan upaya pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat
nelayan, yang sekaligus sebagai upaya untuk mengurangi tekanan terhadap
sumberdaya terumbu karang.
9
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
d. Perhubungan
Wilayah Kabupaten Nias Selatan yang berada di daratan Pulau Nias,
sebagian besar dapat dijangkau dengan sarana perhubungan darat. Artinya,
pasarana angkutan darat telah cukup memadai di daerah ini, baik antar kota
kecamatan, antara ibukota kecamatan dengan kabupaten, dan antar ibukota
kabupaten (Nisel dan Nias). Sedangkan perhubungan laut, terutama digunakan
untuk wilayah Kecamatan Hibala dan Pulau-Pulau Batu dengan menggunakan
sarana kapal penumpang dan kapal barang antar pulau (Kapal Perintis) menuju
ibukota kecamatan, ibukota kabupaten (Teluk Dalam), Sibolga dan Padang secara
reguler. Demikian halnya sarana transportasi udara, sudah ada di daerah ini, yakni
Bandara Lasonde di Kecamatan Pulau-Pulau Batu.
Pemanfaatan sarana
perhubungan udara ini masih belum optimal, karena jadual penerbangan hanya dua
kali per minggu. Diharapkan bandara ini dapat dikembangkan, sehingga mampu
berfungsi untuk pengangkutan barang (cargo) untuk produk perikanan secara cepat
ke negara tetangga, sehingga Kabupaten Nias Selatan dapat dibangun berbasis
sumberdaya perikanan dan kelautan.
Di sisi lain, desa-desa yang letaknya di daerah terisolir, masalah
transportasi sangat berperan penting dalam pengembangan desa-desa pesisir
tersebut. Kesulitan sarana transportasi untuk pengangkutan faktor produksi dan
hasil produksi masyarakat nelayan dari pulau terisolir seperti Pulau Tanah Bala di
Kecamatan Hibala, Pulau Pini di Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur, Pulau Simuk
di Kecamatan Pulau-Pulau Batu, menyebabkan kehidupan ekonomi mereka lambat
berkembang, sehingga banyak nelayan berada dalam kemiskinan
IV. PROFIL PERIKANAN DESTRUKTIF
4.1. Jenis Alat Tangkap dan Bahan
Berdasarkan hasil survey di lokasi Coremap II Kabupaten Nias Selatan dan
daerah-daerah lain yang terkait dengan kegiatan perikanan destruktif seperti Pulau
Pini dan Pulau Marit, diperoleh informasi dari responden bahwa alat tangkap dan
bahan yang digunakan dalam kegiatan perikanan destruktif di Nias Selatan adalah
73,16 % menggunakan bom, 22,14 % menggunakan racun (potas), dan 4,70 %
menggunakan strum ACCU untuk menangkap lobster dan timun laut.
Dari wawancara dengan masyarakat nelayan di desa-desa lokasi Coremap
II, nelayan pemakai bom sebagaian besar (84,28%) berasal dari luar Nias Selatan,
dan hanya 15,72 % dilakukan oleh nelayan lokal, yang umumnya berpangkalan di
Pulau Pini, Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur, dan Pulau Marit Kecamatan
Pulau-Pulau Batu. Sedangkan pengguna racun (potas) 64,18 % dilakukan nelayan
luar, dan 36,82 % dilakukan oleh nelayan lokal.
Di seluruh desa-desa lokasi Coremap II Kabupaten Nias Selatan, kegiatan
destruktif fishing ini tidak ada lagi dilakukan nelayan desa tersebut setelah
dibentuknya Pokmas Konservasi dan dibelakukannya Perdes untuk perlindungan
terumbu karang khususnya di lokasi DPL dan perairan sekitar desa. Nelayan lokal
10
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
yang masih sering menggunakan bom adalah nelayan yang berasal dari Pulau Pini
dan Pulau Marit, di luar lokasi program Coremap II.
4.2. Material dan Sumber Material
Nelayan pelaku yang berhasil diwawancarai di Kecamatan Pulau-Pulau
Batu dan Kecamatan Hibala, tidak dapat menjelaskan bahan-bahan pembuatan bom
ikan dan biayanya secara detail. Dijelaskan bahwa nelayan hanya sebagai
karyawan suatu unit usaha penangkapan ikan dari Sibolga dan tidak ikut merakit
bom. Mereka hanya sebagai pelaku di lapangan, dan hanya mengetahui bahwa
bahan utama pembuatan bom itu dari fosfor, pupuk kalium klorida dan urea, dan
menggunakan tali sumbu pada botol. Bahan-bahan itu diperoleh di Sibolga dan
sudah ada rantai niaga dengan pedagang bahan kimia di Medan secara gelap.
Melihat fakta yang demikian, berarti sudah ada jalur khusus pedagang di
Sibolga dan Medan, yang sulit dideteksi oleh aparat kepolisian. Walaupun izin
penjualan bahan-bahan kimia di Sibolga dan Medan sudah cukup ketat oleh
instansi terkait, namun bahan-bahan ini selalu saja dapat diperoleh pelaku illegal
fishing. Oleh sebab itu ada kecurigaan sebagian pihak, kegiatan ini dibacking oleh
pihak tertentu yang memperoleh keuntungan dari kegiatan illegal tersebut.
Demikian halnya dengan penggunaan racun untuk pembiusan ikan, jenis
bahan kimia itu tidak mereka ketahui namanya, hanya mereka tahu namanya Potas.
Nelayan pelaku/pengguna potas ini ada yang berstatus sebagai karyawan suatu
usaha perikanan di Sibolga, dan ada juga sebagai nelayan lokal di Nias Selatan.
Dari informan nelayan lokal, bahan potas ini diperoleh dari nelayan Sibolga dan
dibeli di tengah laut seharga Rp 150.000 per botol (500 ml), dan mereka siap
membeli hasil tangkapan ikan nelayan lokal. Ikan yang kena racun ini mempunyai
ciri warna tubuh memucat dan mata merah.
Berbeda halnya dengan penggunaan setrum listrik ACCU untuk
menangkap udang karang dan timun laut, seluruhnya dilakukan oleh nelayan lokal.
Penggunaan listrik ini bertujuan menyentak agar lobster dan timun laut keluar dari
sarangnya, serta melemah-kannya, sehingga mudah ditangkap. Penggunaan listrik
ini diperkirakan dapat memati-kan larva ikan dan anemone laut di sekitar terumbu
karang.
4.3. Pelaku dan Mata Rantai Pelaku
Dari wawancara dengan nelayan di desa-desa pesisir di Nias Selatan,
pelaku umumnya tidak dikenal berjumlah 3 – 5 orang, ukuran kapal > 5 GT, dan
biasanya beraksi sekitar sore hari antara pukul 16 – 17 ketika angin mulai kencang
dan ombak mulai besar. Dalam kondisi seperti itu, nelayan tradisional sudah
pulang ke rumah masing-masing dan kondisi laut sepi, sehingga pelaku lebih
leluasa melakukan pemboman. Walaupun sudah ombak besar, karena kapal yang
digunakan umumnya lebih dari 5 GT maka kondisi laut tersebut tidak menghalangi
mereka untuk melakukan aksi pengeboman. Dan kapal-kapal ini memiliki kapal
induk (80 – 120 GT) yang bermanuver di tengah laut, dan memiliki peralatan
komunikasi yang modern. Oleh sebab itu, usaha perikanan destruktif ini dimiliki
11
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
pemodal besar atau pengusaha perikanan dengan armada penangkapan ikan yang
mampu menjelajahi perairan oseanis pantai barat Sumatera.
Hal yang menarik, ternyata pelaku dari luar daerah tersebut mempunyai
hubungan dengan pelaku lokal, karena sering kapal mereka bersandar di Pulau Pini
dan Pulau Marit untuk membeli ikan dari nelayan tradisional. Dengan cara seperti
itu, mereka tersamar sebagai penangkap ikan legal. Selain itu, nelayan illegal ini
juga pergi ke daerah Pulau Banyak (Aceh Singkil), sebelah utara Pulau Nias untuk
melakukan kegiatan yang sama.
Pengusaha Perikanan
Sibolga
Kapal Ikan Besar
(80 – 120 GT)
Di tengah laut
Kapal Kecil dan
Nelayan Pelaku
Nelayan
Tradisional
(legal)
Fishing Ground
Nias Selatan
Nelayan Lokal PD
(Pulau Pini dan
Pulau Marit)
Pasar Ikan
Tello/Hibala/
Teluk Dalam
Gambar 2. Mata Rantai Pelaku Perikanan Destruktif di Kabupaten Nias Selatan
4.4. Pasar dan Jalur Pemasaran
Hasil tangkapan ikan oleh nelayan lokal pengguna bom, umumnya dijual
di tengah laut kepada nelayan luar tersebut, dan mereka tidak pernah menjualnya di
Kota Tello atau Hibala. Berdasarkan hasil pengamatan di pasar penjualan ikan di
Pulau Tello, Hibala dan Teluk Dalam, tidak ada dijumpai ikan-ikan dengan ciri-ciri
hasil pemboman. Oleh sebab itu, dapat dipastikan ikan-ikan hasil tangkapan
melalui pemboman dijual di tengah laut dan kemudian diangkut ke pangkalan
pendaratan ikan luar Nias Selatan. Menurut nelayan lokal yang dulu pernah
terlibat kegiatan illegal ini, harga ikan yang mereka jual di tengah laut mempunyai
harga yang lebih rendah dibandingkan hasil tangkapan legal dengan jenis ikan yang
sama, karena tubuh ikan sebagian sudah rusak. Ada dugaan, bahwa ikan-ikan
tersebut sebagian menjadi bahan baku pabrik tepung ikan, dan sebagian lagi dijual
12
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
ke daerah-daerah yang jauh dari wilayah pesisir. Oleh sebab itu, dapat dinyatakan
bahwa rantai tata niaga ikan hasil destruktif fishing ini relatif pendek.
Di Nias Selatan, tidak ada dijumpai pedagang pengumpul ikan hasil
kegiatan destruktif fishing, dan nelayan lokal pelaku kegiatan ini langsung
berhubungan dengan nelayan luar di tengah laut, dan biasanya tranksi ini dilakukan
di wilayah perairan Pulau Pini dan Pulau Marit, dengan jarak sekitar 30 – 40 mil
laut dari Pulau Tello. Umumnya nelayan lokal dan nelayan luar dapat dengan
mudah berkomunikasi dengan menggunan telepon seluler.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa kepala desa di PulauPulau Batu dan Hibala, sebelum ada kegiatan COREMAP, ikan-ikan hasil
pemboman dengan ciri perut atau mata pecah masih ada dijual di pasar Tello, dan
Pasar Hibala. Tetapi setelah program COREMAP masuk di Nias Selatan, tidak
pernah lagi ditemukan ikan seperti itu di pasar ikan lokal. Diduga hal ini
disebabkan adanya kegiatan penyadaran masyarakat, sosialisasi undang-undang
perikanan, peningkatan MCS oleh aparat keamanan laut, dan implementasi
Peraturan Desa .
4.5. Lokasi-Lokasi Terkait
Kelanggengan aktivitas Perikanan Destruktif (PD) di Nias Selatan terkait
dengan 2 lokasi utama di daerah ini, yakni Pulau Pini dan Pulau Marit. Dapat
dipastikan ada komponen dalam yang mendukung atau terlibat di dalamnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Dari hasil wawancara mendalam dengan
nelayan lokal, diperoleh informasi tentang proses terbentuknya hubungan nelayan
luar dan nelayan lokal pelaku PD. Dijelaskan ada beberapa orang nelayan asal
Nias Selatan yang menjadi karyawan pengusaha perikanan tangkap di Sibolga.
Melalui mereka inilah terbentuk jalur dan hubungan PD dengan nelayan lokal di
beberapa desa di Pulau Marit dan Pulau Pini. Nelayan ini direkrut di Sibolga
menjadi karyawan suatu perusahaan dengan gaji bulanan. Umumnya pekerjaan
mereka sebelumnya sebagai tukang becak di Sibolga, dan sebagai nelayan
tradisional di tempat asalnya Nias Selatan. Mereka hijrah dari Nias Selatan ke
Sibolga untuk mencari pekerjaaan yang lebih baik.
Dari segi posisi geografis, Pulau Pini sebagai salah satu pulau terbesar di
Nias Selatan merupakan pintu masuk dan keluar kapal dari Sibolga ke Pulau-Pulau
Batu (Tello). Selain itu, pulau ini cukup jauh dari pusat pemerintahan kecamatan
di Tello (waktu tempuh 4 jam) sehingga Pulau Pini menjadi tempat yang cocok
bagi persinggahan kapal-kapal ikan PD, dan menjalankan kegiatan PD baik jenis
pemboman maupun penggunaan racun. Setelah dimekarkannya Kecamatan PulauPulau Batu menjadi 2 kecamatan, yakni Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur
dengan ibukota Pini, diharapkan kegiatan DF ini semakin berkurang.
Demikian halnya dengan Pulau Marit, lokasi yang cukup jauh dari Tello,
penduduk relatif sedikit, pendapatan sangat rendah (< Rp 300.000/bulan), dan
tingkat pendidikan sangat rendah (< SD 92,16 %) sangat mendukung
berkembangnya PD ini. Masyarakat yang demikian mudah dipengaruhi pihak lain
13
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
untuk memperoleh uang dengan cepat dengan jalan pintas yang merusak
sumberdaya alam dan lingkungan.
Keterangan :
= lokasi pemboman dan peracunan
Gambar 3. Peta Lokasi Perikanan Destruktif di Kabupaten Nias Selatan
4.6. Organisme Target
Kegiatan destruktif fishing (pemboman dan pembiusan) di Nias Selatan
umumnya ditujukan untuk ikan-ikan pelagis yang memiliki nilai ekonomis penting,
dan ikan-ikan karang yang harganya mahal seperti kerapu dan ekor kuning. Jenisjenis ikan yang menjadi sasaran PD adalah yang sifatnya bergerombol (schooling)
seperti ikan tongkol (Euthynnus sp), kembung (Rastrelliger sp), layang
(Decapterus sp), dan ikan karang (coral fish) yang mempunyai ukuran komersial.
Ikan-ikan kecil yang tidak bernilai ekonomis dibuang ke laut, sehingga sangat
merusak sumberdaya.
Karena kegiatan DF ditujukan pada ikan yang bergerombol, maka sekali
melakukan pemboman dapat diperoleh hasil tangkapan 0,5 - 1,2 ton ikan,
sedangkan pembiusan kurang dari 0,4 ton. Oleh sebab itu, dari segi bisnis
perikanan, kegiatan DF ini akan efisien, karena dipastikan memperoleh ikan dalam
volume besar dan waktu relatif singkat.
14
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
4.7. Intensitas Kegiatan
Frekuensi penggunaan bom untuk penangkapan ikan di Nias Selatan ratarata 3 kali dalam 1 minggu, yang berarti fishing tripnya sekitar 2 hari sekali
melaut. Waktu pengeboman biasanya sore hari antara pukul 15 – 17 WIB. Waktu
sore hari merupakan waktu yang cocok bagi pengguna bom, karena biasanya sore
hari laut sudah sepi karena nelayan tradisional sudah kembali ke desa, akibat angin
dan ombak sudah besar. Sedangkan penggunaan racun khusunya di wilayah
perairan Pulau Pini dan Pulau Marit terjadi setiap hari dengan waktu antara jam 8 –
10 pagi. Penggunaan racun di pagi hari lebih efektif, karena ikan sedang mencari
makanan atau kondisi lapar, sehingga lebih mudah terbius. Nelayan pengguna
racun ini selalu memperhatikan kekuatan dan arah arus laut, karena racun
diharapkan cepat menyebar pada media air tempat ikan pelagis bergerombol. Bila
perairan dangkal seperti di daerah karang, ikan-ikan demersalpun juga ikut terbius
racun tersebut, dan mematikan terumbu karang.
4.8. Dampak Destruktif Fishing
Berdasarkan hasil survey lapangan, dan data-data penelitian LIPI serta
CRITC daerah, kegiatan pemboman ini sudah menghancurkan terumbu karang di
Nias Selatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari CRITC (2007), tutupan karang
hidup di Nias Selatan rata-rata < 30 %, yang berarti tingkat kerusakan terumbu
karang sudah mencapai level tinggi. Karang yang rusak karena pemboman ikan
ditandai dengan pecahan karang yang kecil-kecil dan tersebar di dasar perairan.
Penggunaan racun dalam penangkapan ikan juga merusak karang, dengan
cirri-ciri warna karang menjadi memutih. Dari hasil wawancara dengan nelayan di
Pulau Pini, penggunaan racun sebanyak 3 kali di lokasi yang sama dipastikan akan
mematikan karang dan sudah terlihat jelas perubahan warna karang setelah 3
minggu. Kematian karang akibat racun banyak ditemukan di sekitar perairan Pulau
Pini, Pulau Marit, dan di beberapa pulau di Kecamatan Hibala.
Berdasarkan konsep stabilitas ekosistem, Mann (2000) menyatakan
kerusakan terumbu karang ini akan berdampak negatif terhadap perkembangan
berbagai jenis ikan, karena habitat terumbu karang merupakan tempat memijah
(spawning ground), tempat pembersaran larva ikan (nursery ground), dan tempat
mencari makan (feeding ground) berbagai jenis ikan dan udang di perairan laut.
Ada dugaan, penurunan hasil tangkapan nelayan untuk jenis ikan-ikan karang dari
tahun ke tahun di Nias Selatan, diduga kuat berkaitan dengan kerusakan ekosistem
terumbu karang di daerah ini. Namun hal ini perlu penelitian lebih dalam dengan
analisis kuantitatif.
4.9. Proses Hukum Destruktif Fishing
Berdasarkan data yang diperoleh di Polsek Kecamatan Pulau-Pulau Batu,
nelayan yang tertangkap aparat karena membawa bom mengalami penurunan sejak
tahun 2004 sampai sekarang, sedangkan nelayan pengguna racun belum pernah ada
yang ditangkap. Pada tahun 2004 ada 4 kasus, tahun 2005 sebanyak 3 kasus, tahun
2006 sebanyak 3 kasus, dan tahun 2007 hanya 1 kasus, dengan pelaku/tersangka
15
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
nelayan luar dan nelayan lokal. Sangat disayangkan, semua kasus ini lenyap tanpa
penyelesaian hukum yang jelas, dan pelaku dibebaskan.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil studi destruktif fishing di Kabupaten Nias Selatan,
diperoleh beberapa kesimpulan, yakni :
1) Kegiatan perikanan destruktif terdiri dari 73,16 % melakukan pemboman,
22,14 % menggunakan racun (potas), dan 4,70 % menggunakan strum ACCU
untuk menangkap lobster dan timun laut.
2) Nelayan pemakai bom 84,28% berasal dari luar Nias Selatan, dan hanya 15,72
% dilakukan oleh nelayan lokal yang berlokasi di Pulau Pini dan Pulau Marit.
3) Penggunaan racun (potas) cukup banyak dilakukan nelayan lokal yang
mencapai 36,82 %, dan oleh nelayan luar 64,18 %.
4) Bahan dan material untuk pembuatan bom dan racun ikan diperoleh dari
Sibolga dengan memiliki jaringan dengan pedagang di Medan.
5) Organisme target perikanan destruktif adalah jenis-jenis ikan pelagis dan ikan
karang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
6) Intensitas pemboman sebanyak 2 kali dalam 1 minggu, sedangkan penggunaan
racun setiap hari di daerah Pulau Pini dan Pulau Marit.
7) Dampak negatif destruktif fishing di Nias Selatan sangat signifikan terhadap
kerusakan terumbu karang, karena persentase tutupan karang hidup di daerah
ini kurang dari 30 %.
8) Proses justisi pengguna bom ikan mengalami penurunan sejak tahun 2004
hingga sekarang, dan tidak diketahui apakah penurunan kasus tersebut sebagai
dampak positif kegiatan MCS oleh aparat penegak hukum di laut.
9) Kegiatan perikanan destruktif di desa-desa lokasi Coremap II mulai tahun 2007
tidak ada lagi, yang berkaitan erat dengan peningkatan kesadaran masyarakat,
sosialisasi undang-undang perikanan dan sanksi illegal fishing, pembentukan
lembaga pengawas tingkat desa, dan implementasi peraturan desa.
DAFTAR PUSTAKA
Bengen, D.G. 2002. Analisis Ekosistem Pesisir, PKSPL IPB, Bogor.
BPS Kabupaten Nias Selatan. 2006. Kecamatan Pulau-Pulau Batu Dalam Angka.
Cesar, J.H. 1977. Population Ecology of Coral Reef. Academic Press, New York.
CRITC. 2007. Montoring Kesehatan Terumbu Karang. Dinas Perikanan dan
Kelautan Kabupaten Nias Selatan, Teluk Dalam.
Dahuri, R., J. Rais, S.P. Ginting, M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita, Jakarta.
16
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
Hodgson, J. 1998. Degradation of Coral Reef Communities. Elsevier Scientific
Publishing Company, Amsterdam.
Mann, K.H. 2000. Ecology of Coastal Waters.
Massachusetts
Blackwell Scientific, Inc.,
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. 1998. Penyusunan Konsep
Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan yang Berakar pada
Masyarakat. Kerjasama Direktorat Jenderal Pembangunan daerah
Departemen Dalam Negeri dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan
Lautan Institut Pertanian Bogor.
Sitorus, H. 2005. Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat. Makalah
Dalam Pelatihan Pengelolaan Terumbu Karang Bagi Petugas Teknis
Lapangan. Dinas Perikanan dan Kelautan, Propinsi Sumatera Utara.
Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah
Pesisir Tropis. PT. Gramedia, Jakarta.
17
_____________
ISSN 0853 - 0203
VISI (2009) 17 (1) 1 - 17
BIODATA PENULIS
Penulis dilahirkan di Laepanginuman-Dairi, tanggal 26 Maret 1964. Setelah tamat
dari SMA Negeri Sidikalang, tahun 1982 penulis melanjutkan pendidikan di IPB
Bogor dan tamat 1986. Tahun 1989 lulus dari Program Pascasarjana IPB bidang
keahlian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, dan tahun 2005
memperoleh gelar Doktor dari SPS IPB bidang keahlian Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Lautan. Tahun 1987 menjadi dosen tetap di UHN, tahun 1990 – 1994
sebagai Sekretaris merangkap Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan
Lingkungan UHN. Tahun 2006 – 2008 menjadi Regional Advisor of Coral Reef
Rehabilitation and Management Program (COREMAP-ADB) di Kabupaten Nias
Selatan, dan tahun 2008 menjadi Ketua Lembaga Penelitian UHN. Selama
menjadi staf pengajar di UHN, menulis buku Dasar-Dasar Ilmu Lingkungan, Ilmu
Alamiah Dasar, dan Pedoman Penulisan Skripsi. Aktif menulis di berbagai media
massa, dan sebagai narasumber dalam berbagai kegiatan seminar dan lokakarya.
18
_____________
ISSN 0853 - 0203
Download