MATA KULIAH HUKUM KEDOKTERAN Oleh

advertisement
MATA KULIAH HUKUM KEDOKTERAN
Oleh :
Arrie Budhiartie, S.H., M.Hum
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS JAMBI
JANUARI 2011
POKOK BAHASAN
1. LANDASAN HK. KEDOKTERAN
2. HUBUNGAN PASIEN DAN DOKTER
3. ASPEK HUKUM TINDAKAN MEDIK
TERTENTU
4. ASPEK HUKUM BIOTEKHNOLOGI
KEDOKTERAN
Hukum Kedokteran:

Ilmu tentang hubungan hukum di
mana dokter merupakan salah satu
pihak, dalam menjalankan profesinya
untuk memberikan pelayanan medis.
Ruang Lingkup dan Kedudukan
Hukum
Rumah Sakit
Hukum
Keselamatan
Kerja
Hukum
Keperawatan
Hukum
Kedokteran
Hukum
Kesehatan
Lingkungan
Hukum
Farmasi klinik
Hukum
Kes. Masykt
HK. KESEHATAN
C. Instrumen Hukum Kedokteran
a.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Internasional
The Hippocratic Oath
Declaration of Geneva
International Code of Medical Ethics
Nurenberg Code
Constitution of the World Health Organization
American Hospital Association = A Patient’s Bill
of Rights
The World Medical Association = Declaration of
Helsinki
b. Nasional
1. UU No. 29 Thn 2004 tentang Praktik
Kedokteran
2. UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
3. UU No. 41 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
4. PP no. 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan
5. KepMenkes RI No. 434/Menkes/SK/X/1983
tentang Kode Etik Kedokteran Indonesia
6. Permenkes RI No. 585/Menkes/PER/IX/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medik
7. dll.
Unsur-unsur standar profesi menurut
Prof. Mr. W.B. Van der Mijn
Ketelitian Umum
Standar Profesi
Kewenangan
Kemampuan
Rata-rata
Unsur-unsur standar profesi menurut
Prof. Dr. H. J.J. Leenan
Bebas dari
Kelalaian
Situasi &
Kondisi
Standar Profesi
Medis
Ketelitian pd
Peraturan
Asas
Proporsional
Ketelitian
Rata-rata
Standar Pelayanan Medis
Standar Pelayanan
Medis
Hospital by Laws
BAB III HUBUNGAN HUKUM PASIEN
DAN DOKTER
Bentuk Perjanjian:
1. Resultaatverbintenis:
objek
perjanjian adalah hasil dari suatu
tindakan/
perbuatan
hukum
tertentu
2. Inspaningverbintenis
:
objek
perjan-jian adalah berdasarkan
suatu upaya yang maksimal
Landasan Hubungan DokterPasien
1. Perjanjian
2. Undang-undang
SYARAT SAHNYA PERJANJIAN
(Pasal 1320 KUHPerdata)
1. Kesepakatan para pihak
2. adanya kecakapan untuk membuat
suatu perikatan/perjanjian
3. mengenai suatu hal tertentu
4. untuk suatu sebab yang halal/
diperbolehkan.
TRANSAKSI / PERJANJIAN
TERAPEUTIK
-
-
HUBUNGAN HUKUM
DOKTER-PASIEN
PELAYANAN KEDOKTERAN/MEDIK
STANDAR PROFESI MEDIK
Implikasi Hukum Transaksi
Terapeutik
Pasal 1388 KUHPerdata :
 Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya
Pasal 1339 KUHPerdata :
 Suatu perjanjian ttidak hanya mengikat untuk
hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di
dalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang
menurut sifat perjanjian diharuskan oleh
kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.
Mulai & berakhirnya TT
1. Perjanjian :
Pasien  datang 
berobat dokter
setuju.
2. UU :
Ps. 1354 KUHPerdata:
Zaakwarneming
Berakhir:
1. Sembuh
2. Dokter Resign
3. Pengakhiran by
Pasien
4. Meninggal
5. Kontrak selesai
6. Ada org lain
7. Kadaluarsa
8. Persetujuan
HUKUM & TINDAKAN MEDIK
1.
2.
3.
4.
ABORSI
PASIEN UGD
EUTHANASIA
BEDAH MAYAT
Aborsi
Dasar hukum:
1. Pasal 75, 76, 77 UU No. 36/2009
2. Pasal 346, 347, 348 dan 349 KUHP
UU Kesehatan
Ps/ 75 :
a. Larangan Aborsi
b. Pengecualian Indikasi medis
* keselamatan ibu &/janin
* janin cacat berat/kelainan genetik
* perkosaan  trauma psikis
Ps
a.
b.
c.
d.
76 : Persyaratan Tekhnis
< 6 minggu
TK berwenang sertifikat
Persetujuan ibu hamil
Layanan/sarana kesehatan
Psl 77 :
 Kewajiban Pemerintah mencegah &
melindungi dari unsafe dan illegally
abortion
KUHP
1. KESENGAJAAN  Niat & Tujuan
2. PERSETUJUAN/ TIDAK
3. PEMBERATAN PIDANA
Dokter/Bidan/ TK lainnya.
EUTHANASIA








Aspek hukum:
1. Kriteria mati
2. Bentuk euthanasia
A. Aktif
B. Pasif
3. Tanggung jawab hukum dokter
4. Informed consent pasien/keluarga
5. Keterlibatan pihak III
Dasar Hukum:
 Pasal 344 KUHP:
Brg siapa merampas nyawa orang lain
atas permintaan orang itu sendiri
yang jelas dinyatakan dengan
kesungguhan hati, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas
tahun

BEDAH MAYAT
UU No. 36/2009 : Ps/ 117 s/d 125
1. Pengertian Mati  fungsi sistem
jantung sirkulasi dan sistem
pernafasan  berhenti  permanen
 kematian batang otak

Jenis Bedah Mayat :
1. Klinis  penelitian &
pengembangan ilmu RS
2. Anatomis  ilmu kedokteran
3. Forensik  penegakan hukum
Persyaratan :
1.
2.
3.

Sarana /fasilitas kesehatan
Kewenangan TK
Tidak diperjualbelikan (Ps. 192)
Ancaman pidana kurungan & denda
PP No. 18 tahun 1981 ttg Bedah Mayat Klinis dan
Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi ALat
dan atau Jaringan Tubuh Manusia
Syarat :
1. Informed consent tertulis dlm
waktu 2x24 jam setelah meninggal
2. Dilakukan oleh dokter ahli, terpisah
antara dokter
3. Pada RS yg ditunjuk
Sanksi : pidana kurungan, denda,
tindakan administratif
ASPEK HUKUM BIOTEKHNOLOGI
KEDOKTERAN



PIV
TRANSPLANTASI ORGAN
PENELITIAN & PENGEMBANGAN IPTEK
PADA MANUSIA
PIV
UU No. 36/2009 Ps. 127
Syarat:
1. Berasal dari suami istri yang sah
2. Ditanamkan rahim istri asal ovum
3. Tenaga kesehatan yg berwenang
dan ahli
4. Sarana kesehatan tertentu
. PERMENKES No. 73/MENKES/PER/II/1999 ttg
Penyelenggaraan Pelayanan Tekhnologi Reproduksi
Buatan
 Ketentuan
Umum
terhadap
penyelenggaraan tekhnologi Reproduksi
Buatan
1. Sarana Kesehatan tertentu  RS
tertentu yang memiliki ijin khusus
2. Pasangan suami istri yg sah
merupakan jalan terakhir memperoleh
keturunan
3. Harus berdasarkan indikasi medik
4. informed consent
5. Harus disertai rekam medik
Pedoman Pelayanan Bayi Tabung di RS (Dir. RS Khusus
dan Swasta, Dirjen Yandik, Depkes, 2000)
1. Suami istri yang sah
2. Bagian dari infertilitas
3. Jumlah embryo  3, maks 4 dgn
syarat:
- RS memiliki perawatan > 3
- Pasutri pernah menjalani >2x dan
gagal
- Istri>35

1.
2.
3.
Larangan:
Melakukan jual beli embryo, ova,
spermatozoa
Menghasilkan
embryo
untuk
penelitian
semata-mata,
pada
embryo umur >14 hari, tanpa
informed consent orang tua biologis
Melakukan fertilisasi trans-spesies
Aspek hukum yg belum diatur:

1.
2.



Embryo yg tdk dikembalikan
A. didisposal (dimusnahkan)
B. frozen (beku)
Pemanfaatan embryo beku
Status hukum embryo beku apbl terjadi
perubahan status hukum orang tua
biologis
Status surrogate mother (ibu pengganti)
Hukum Islam:





Donor sperma/ovum : haram
Surrogate mother :
- haram
- mubah/dibolehkan  disamakan
dgn ibu susuan
Jalan keluar : polygami
Indikasi Medis :
1. Ibu berpenyakit tertentu sejak lahir
(jantung, kelainan genetik pada
sistem reproduksi)
2. Wanita usia subur ttp telah
kehilangan rahim karena penyakit
tertentu.
3. Menderita kanker rahim/tuba
fallopi, HIV AIDS
TRANPLANTASI ORGAN &
BEDAH PLASTIK
UU No. 36/2009 Ps 64 s/d 70
Ps 64:
1.
Penyembuhan penyakit
* transplantasi organ / jaringan tubuh
* implan
* Bedah Plastik & rekonstruksi
* Penggunaan Sel Punca/ Steam Cell

Transplantasi Organ
1. Hanya Untuk Kemanusiaan
2. Dilarang diperjualbelikan  Pidana
3. TK yg berwenang
4. Fasilitas kesehatan
5. Kesehatan pendonor & informed
consent
Transplantasi Sel
1. Terbukti keamanan dan
kemanfataanya
2. 2. Sel Punca  tujuan
penyembuhan & pemulihan
kesehatan
3. Larangan : reproduksi & dri sel
punca embrionik
BEDAH PLASTIK
1. TK berwenang
2. Fasilitas kesehatan legal
3. Bukan mengubah identitas 
pidama max 10 thn/denda max Rp.
1M
4. Informed consent
KB
Dasar Hukum:
 Pidana : Tindak pidana kesusilaan
Ps. 283 KUHP
UU Kesehatan : Ps. 12, 13, 14 ttg
kesehatan keluarga
Pasal 283 KUHP:
Ancaman pidana terhadap:
1. Menawarkan
2. Memberi bantuan
3. Memperlihatkan tulisan, gambaran atau benda
4. Alat untuk mencegah atau menggugurkan hamil
5. Pada seseorang yg <17 thn atau belum cukup
umur.
Bentuk: penjara 9 bulan + tindk tertentu bila sbg
mata pencaharian
PENELITIAN & PENGEMBANGAN
IPTEK KEDOKTERAN




1.
2.
3.
Informed Consent pada litbang dgn
objek manusia
Landasan Hukum :
Segala peraturan terkait di atas
Konvensi2 Internasional
Declaration of Geneva
Declaration of Helsinky
Nurenberg Code
Sekian
dan
Terima Kasih
Download