BUKU PEDOMAN Penyelenggaraan Bakti Sosial

advertisement
BUKU PEDOMAN
Penyelenggaraan Bakti Sosial Operasi Katarak
Seksi Penanggulangan Buta Katarak
Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia
2013
ii
DAFTAR ISI
Prakata
Dr Johan A. Hutauruk, SpM
……………………………
Kata Pengantar
Prof Dr dr Nila F. Moeloek, SpM
……………………………
Bab I. Pendahuluan
……………………………
1
Bab II. Organisasi
A. Visi dan Misi
B. Tujuan dan Sasaran
C. Target Program
D. Indikator Pencapaian
……………………………
……………………………
……………………………
……………………………
……………………………
4
4
5
6
7
……………………………
9
……………………………
9
……………………………
13
……………………………
24
……………………………
27
……………………………
……………………………
27
31
……………………………
33
……………………………
43
Bab III. Tata Tertib
Administratif Pelaksanaan
Bakti Sosial Operasi Katarak
III.1. Tata Tertib Administratif
Pengajuan Proposal Kegiatan
III.2. Pedoman Administratif dan
Payung Hukum
Penyelenggaraan Kegiatan
III.3. Tata Tertib/Kebijaksanaan
Donasi
Bab IV. Pedoman/Tata Tertib
Teknis Medis Operasi
Katarak
IV.1. SOP Skrining Pasien
Katarak
IV.2. SOP Sterilisasi
IV.3. SOP Operasi Ekstraksi
Katarak
IV.4. SOP Follow-up dan
Komplikasi
v
viii
iii
Bab V. Pedoman/Tata Tertib
Pelaporan Bakti Sosial
Katarak
V.1. Tata Tertib Organisasi
V.2. Koordinasi SPBK Cabang
dengan SPBK Pusat
V.3. Koordinasi SPBK dengan
Donatur
……………………………
……………………………
47
47
……………………………
47
……………………………
49
iv
v
PRAKATA
Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak - Perdami
Buku ini adalah wujud tertulis dari pengalaman Perdami dalam
menyelenggarakan kegiatan bakti sosial operasi katarak sejak pertama
kali dilaksanakan 20 tahun lalu, ketika Perdami mendapat bantuan
Presiden Soeharto, saat itu sebagai ketua yayasan yang menunjuk
Yayasan Dharmais menjadi donatur tunggal untuk kegiatan operasi
katarak gratis di seluruh Indonesia
Dedikasi Perdami untuk mengatasi kebutaan katarak di Indonesia
tampak nyata dengan dibentuknya seksi khusus yang dinamakan SPBK
(Seksi Penanggulanan Buta Katarak). Dalam perjalanannya sampai saat
ini, ketua SPBK berganti sebanyak 3 kali, di mana saya sepatutnya
menyampaikan terima kasih kepada ketua SPBK yang pertama, Prof. Dr.
Istiantoro, disusul oleh Dr. Vidyapati Mangunkusumo dan saya yang
meneruskan apa yang sudah dirintis oleh guru-guru saya.
Meningkatnya peran serta berbagai industri memberikan donasi, serta
bantuan individu maupun organisasi nirlaba nasional dan internasional,
sangat membantu kegiatan SPBK sehingga mampu melaksanakan
sekitar 15,000 operasi per tahun. Buku ini disusun agar mempermudah
teman sejawat anggota Perdami dan kepengurusan SPBK cabang agar
ada keseragaman dalam mengelola kegiatan baksos operasi katarak. Saya
menyampaikan terima kasih kepada pengurus SPBK Pusat, dalam hal ini
Dr. Amir Shidik, Dr. Yeni Dwi Lestari dan Dr. Anna Bani yang telah
vi
banyak membantu baik dalam kegiatan sehari-hari operasional SPBK
maupun dalam penyusunan buku ini. Demikian juga staf SPBK seperti
Bpk Ruswandi, Ibu Arin dan Ibu Eva yang bekerja hampir setiap akhir
pekan untuk menunjang administrasi kegiatan baksos.
Peranan Prof. DR. dr. Nila F. Moeloek selaku ketua PP Perdami
sekaligus sebagai staf khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDG
(Millenium Development Goals) memperbesar dampak kegiatan SPBK
Perdami melalui jejaring dan konektivitas luas yang dimiliki beliau, dan
saya ikut belajar dari passion beliau sehingga ikut semangat membantu
tugas yang diberikan sebagai Ketua SPBK.
Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada pasien-pasien yang telah
mempercayai SPBK untuk tindakan operasi dengan suasana baksos yang
terkadang kurang nyaman, karena mereka juga sekaligus telah
menambah ilmu para dokter mata mengatasi kasus sulit. Kepada
segelintir pasien yang mengalami komplikasi, semoga bisa memaafkan
tindakan operasi SPBK yang kurang sesuai dengan harapan.
Akhir kata, Bedenicamus Domino, semoga pekerjaan kita diberkati Tuhan
yang maha kuasa.
Dr. Johan A. Hutauruk, SpM(K)
vii
KATA PENGANTAR
VISION 2020 The Right to Sight merupakan program yang diinisiasi oleh
World Health Organization (WHO) dan International Agency for the
Prevention of Blindness (IAPB) untuk mewujudkan fungsi penglihatan
yang optimal di dunia. Indonesia sebagai negara dengan angka kebutaan
ketiga
terbanyak
di
dunia
turut
berkomitmen
dalam
upaya
pemberantasan kebutaan.
Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) sebagai organisasi
profesi dalam bidang Ilmu Kesehatan Mata, berperan aktif dalam upaya
mencapai VISION 2020 melalui kegiatan Seksi Penanggulangan Buta
Katarak (SPBK). SPBK merupakan perpanjangan tangan Perdami untuk
menanggulangi katarak yang menjadi penyebab kebutaan terbanyak di
Indonesia. Struktur organisasi SPBK yang berada di Pusat dan Cabang
diharapkan dapat memperluas cakupan bakti sosial operasi katarak di
berbagai daerah di Indonesia.
Dengan besarnya tantangan SPBK dalam menurunkan angka kebutaan
katarak,
diperlukan
adanya
pedoman
kerja
dalam
pelaksanaan
kegiatannya. Buku Pedoman Kerja SPBK ini disusun agar kegiatan yang
dilakukan menjadi lebih terarah dan efektif.
Atas nama Pengurus Pusat Perdami, disampaikan terima kasih pada
seluruh anggota Perdami, donatur, serta semua pihak yang turut
berperan dalam mendukung kegiatan bakti sosial SPBK. Kami berharap
viii
dapat terjalin kerjasama yang semakin baik dalam upaya pemberantasan
kebutaan katarak di Indonesia.
Saran dan kritik yang membangun diharapkan demi perbaikan
selanjutnya. Besar harapan kami, buku pedoman ini dapat menjadi acuan
bagi seluruh anggota Perdami dan meningkatkan kinerja SPBK di masa
mendatang.
Jakarta, Juli 2013
Ketua PP. Perdami
Prof. DR. Dr. Nila F. Moeloek, SpM(K)
ix
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang telah mencanangkan diri untuk
memusatkan perhatian pada masalah kebutaan melalui komitmennya
terhadap VISION 2020, the Global Initiative for the Elimination of
Avoidable Blindness. Prevalensi kebutaan di Indonesia merupakan yang
tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 1,5%, dengan 52% dari jumlah tersebut
(0,78%) disebabkan oleh katarak. Dalam kaitan dengan kelompok usia,
prevalensi
kebutaan
katarak
ditemukan
semakin
tinggi
seiring
bertambahnya umur, yaitu 20/1000 pada kelompok usia 45-59 tahun,
dan tertinggi (50/1000) pada kelompok usia >60 tahun. Biro Pusat
Statistik (BPS) tahun 2010 melaporkan bahwa pada tahun 2025, jumlah
penduduk kelompok usia >55 tahun diperkirakan akan meningkat
menjadi 61 juta, yaitu sekitar seperempat keseluruhan penduduk
Indonesia. Dengan adanya kasus-kasus lama yang belum tertangani
akibat rendahnya tingkat operasi katarak di Indonesia, ditambah dengan
peningkatan kasus baru sebanyak 0,1% (240.000 kasus baru) setiap
tahun, akan terus terjadi penumpukan kasus katarak antara kasus-kasus
lama dan penambahan kasus-kasus baru sehingga terjadi apa yang
dikenal sebagai backlog katarak.
Hal yang patut disadari adalah bahwa kebutaan bukan hanya merupakan
beban pribadi penderita, tetapi juga beban bagi orang-orang di sekeliling
penderita yang menjadi caregiver penderita. Kondisi ini memberi dampak
buruk terhadap produktivitas, kualitas hidup, serta kesejahteraan baik
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 1 individu maupun keluarga, dan dalam lingkup lebih besar, komunitas
serta negara. Oleh karena itu, selain sebagai masalah kesehatan
masyarakat (public health), kebutaan dan gangguan penglihatan juga
sudah menjadi masalah sosial-ekonomi yang harus diatasi secara
sungguh-sungguh guna memutus rantai kebutaan-kemiskinan, dan
memperoleh kembali sumber daya manusia yang hilang.
Kebutaan katarak hanya dapat dicegah dengan tindakan bedah ekstraksi
katarak. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa penyediaan layanan
bedah katarak di Indonesia masih dihadapkan pada banyak tantangan.
Keterbatasan tenaga spesialis mata dalam hal jumlah dan distribusi telah
mengecilkan peluang pemerataan jangkauan kepada masyarakat.
Kesulitan akses geografik, kurangnya sarana dan prasarana yang layak
serta dukungan pemerintah dalam menyediakan sistem layanan operasi
katarak yang murah, terjangkau, dan berkualitas, merupakan kendala
lain di luar tenaga ahli. Layanan operasi katarak yang murah dan
terjangkau ini merupakan aspek yang penting untuk diciptakan
mengingat 90% penderita kebutaan berasal dari daerah miskin. Berbagai
literatur telah mengungkap hubungan antara sebaran penderita
kebutaan dengan tingkat pendapatan, dengan kebutaan sendiri sebagai
faktor yang
menciptakan
kemiskinan. Oleh
karena itu, upaya
pemberantasan buta katarak sudah seharusnya memberi fokus pada
komunitas kurang mampu.
Sebagai upaya menjawab tantangan-tantangan tersebut, Persatuan
Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) telah menunjukkan
komitmen
2 terhadap
VISION
2020
melalui
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI kegiata
Seksi
Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) yang sudah dibentuk pada tahun
1987. Memiliki organisasi di jajaran Pusat dan Cabang, SPBK selama ini
bekerja dengan menyelenggarakan operasi katarak bagi orang kurang
mampu, dengan berbagai sumber donasi, di berbagai daerah di
Indonesia. Dengan besarnya tantangan dan tugas SPBK dalam
menurunkan angka kebutaan katarak di Indonesia, maka pedoman kerja
dirasakan penting agar kegiatan yang dilakukan SPBK menjadi terarah
dan efektif. Pedoman kerja SPBK ini disusun dengan memperhatikan
kemamputerapan
serta
kondisi
lokal/nasional.
Kami
akan
mempertimbangkan dengan baik semua masukan, dan saran perbaikan
untuk penyempurnaan selanjutnya. Besar harapan kami agar pedoman
kerja ini dapat menjadi acuan kerja dalam meningkatkan kerjasama dan
produktivitas kerja SPBK Pusat dan SPBK Cabang.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 3 BAB II
ORGANISASI
A. Visi dan Misi
Visi
Menanggulangi kebutaan katarak di Indonesia (to eliminate cataract
blindness in Indonesia).
Misi
Misi Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah:
1.
Menyediakan layanan bakti sosial operasi katarak
2.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk melakukan
operasi katarak
3.
Membangun kerja sama dengan instansi terkait (stakeholders),
donatur dan organisasi kemasyarakatan
4.
Membangun sistem dan strategi nasional untuk
penanggulangan buta katarak
4 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI B. Tujuan dan sasaran
Tujuan
Tujuan program Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah
meningkatkan cataract surgical rate (CSR) dari 720 menjadi 1000 dalam
jangka waktu tiga tahun (estimasi adalah 5 operasi
katarak/SpM/minggu, dengan asumsi jumlah operator katarak 1000
orang).
Sasaran
Sasaran program Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah:
1.
Pengendalian dan pencegahan kebutaan akibat katarak
a.
Menciptakan demand untuk layanan dengan mengatasi
barrier uptake layanan bedah
b.
Melakukan operasi katarak bermutu tinggi dengan
hasil tajam penglihatan maksimal
c.
2.
Monitoring dan evaluasi hasil operasi katarak
Pembangunan sumber daya tenaga kesehatan mata
a.
Pelatihan teknisi, dokter dan perawat untuk
meningkatkan hasil operasi katarak
b.
Memfasilitasi kemampuan dokter spesialis mata dan
perawat mahir mata melalui sarana pelatihan operasi
katarak
c.
Pembuatan pedoman tingkat kompetensi/syarat
keterampilan minimal operator dan tenaga mahir mata
3.
Membangun kemitraan dengan semua stake-holders
4.
Infrastruktur dan teknologi pendukung
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 5 a.
Membangun sentra-sentra umum sumber daya
kesehatan mata (public eye-health resources centers) guna
menyediakan support, ekspertise serta pelatihan
b.
Menyediakan peralatan standar untuk
penyelenggaraan operasi katarak sesuai SOP
(keratometri, IOL, set katarak, mikroskop)
c.
Menyiapkan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan
operasi katarak dengan menggunakan teknologi tepat
guna dan aksesibel.
d.
Penyusunan program/rencana kerja berkala
berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi kegiatan.
C. Target Program
Target program Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah:
1.
Target Output:
•
Target jumlah total operasi katarak adalah 36.000
operasi katarak/tahun di seluruh Indonesia (dasar:
jumlah ini adalah 15% dari target jumlah operasi
katarak/tahun, yaitu 240.000 operasi katarak/tahun).
•
Target CSR adalah 1000 operasi katarak/juta
penduduk/tahun.
•
Target follow-up rate adalah >50% pada minggu keempat pascaoperasi.
•
Alokasi jumlah operasi katarak tiap SPBK Cabang
ditentukan pada setiap pertemuan tahunan Perdami.
6 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI Prevalensi kebutaan di Indonesia 1.5% (1996) dengan 52%
penyebab katarak. Diketahui bahwa insidens buta katarak
adalah 0.1% sehingga bila bisa dilakukan operasi katarak pada
seluruh jumlah insidens maka tidak akan terjadi tumpukan
(backlog) buta katarak. Berdasarkan data tersebut maka dapat
diperkirakan jumlah buta katarak baru per tahun adalah
240.000 (1/1000 populasi) sehingga perlu dilakukan operasi
katarak sebanyak 240.000 per tahun. Bila diperkirakan jumlah
penduduk kurang mampu untuk membayar operasi adalah
sekitar 15%, maka dibutuhkan bantuan operasi katarak oleh
SPBK sebanyak: 15% x 1/1000 x 240 juta = 36.000 operasi
katarak untuk masyarakat kurang mampu per tahun.
2.
Target Outcome:
Lebih atau sama dengan 85% tajam penglihatan tanpa koreksi
adalah >=6/18 pada 4 minggu pascaoperasi. Jika tidak
dimungkinkan follow-up sampai minggu ke-empat pascaoperasi,
maka pelaporan dibuat berdasarkan follow-up terakhir.
D. Indikator Pencapaian
1.
Proporsi jumlah operasi yang dilakukan terhadap target yang
ditetapkan.
Dikatakan “baik” jika jumlah operasi mencapai lebih atau sama
dengan jumlah target operasi yang telah ditetapkan (C.1)
2.
Proporsi penanaman IOL terhadap jumlah operasi yang
dilakukan.
Dikatakan “baik” jika proporsi penanaman IOL >=95.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 7 Dikatakan “kurang” jika proporsi penanaman IOL < 95%.
3.
Tajam penglihatan setelah operasi
Dikatakan “baik” jika mencapai target tajam penglihatan
sebagaimana dalam target outcome (C.2)
Dikatakan “kurang” jika tidak mencapai target outcome (C.2)
8 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI B A B III
TATA TERTIB ADMINISTRATIF PELAKSANAAN
BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK
III.1. Tata Tertib Administratif Pengajuan Proposal Kegiatan
1.
Rencana kegiatan Bakti Sosial (Baksos) operasi katarak dapat
diajukan oleh pribadi, Puskesmas, Rumah Sakit, Balai
Kesehatan, Yayasan, organisasi, dan atau klinik.
2.
Semua kegiatan yang dilakukan untuk kegiatan sosial
pemberantasan buta katarak di Indonesia diselenggarakan
sepengetahuan Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK)
setempat atau SPBK Cabang, untuk kemudian dilaporkan ke
SPBK Pusat.
3.
Dalam hal penyelenggaraan kegiatan baksos dengan pihak lain,
penyelenggara/SPBK Cabang wajib melaporkan kegiatannya
kepada SPBK Pusat.
4.
Untuk dapat diproses, surat permohonan dan proposal kegiatan
sudah harus diterima oleh SPBK Cabang minimal 3 minggu
sebelum tanggal penyelenggaraan kegiatan yang diajukan.
5.
Proposal kegiatan harus mencakup tanggal dan lokasi kegiatan,
target operasi, rincian biaya pelaksanaan dan Rumah Sakit
tujuan rujukan (Formulir Rencana Pelaksanaan Baksos
terlampir).
6.
Proposal dapat diajukan melalui e-mail kepada SPBK Cabang
dan/atau SPBK Pusat dengan alamat sebagai berikut:
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 9 Seksi Penganggulangan Buta Katarak (SPBK) Pusat Perdami
Telp. (021) 3155377 Fax. (021) 3155377
e-mail: [email protected]
7.
Proposal akan diproses SPBK Cabang atau Pusat dan keputusan
akan didapat paling lama 7 hari kerja setelah proposal diterima.
8.
Alur administratif pengajuan proposal Baksos operasi katarak:
Gambar 1. Alur administratif penyelenggaraan Baksos operasi katarak
a.
Penyelenggara mengajukan surat permohonan
penyelenggaraan Baksos kepada SPBK Perdami
Cabang terdekat, atau SPBK Pusat (tergantung ke
mana Penyelenggara meminta kerjasama).
•
Apabila daerah tempat pelaksanaan jauh dari
Subdinkes terdekat (Indonesia Timur)
Penyelenggara dapat membuat permohonan ke
SPBK Pusat dengan tembusan ke Bupati,
10 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI Subdinkes setempat dan SPBK Cabang yang
mempunyai wilayah tersebut.
•
Jika SPBK Penyelenggara bermaksud melakukan
Baksos di luar wilayahnya, SPBK Penyelenggara
membuat surat permohonan dan proposal kepada
SPBK setempat (tujuan) terlebih dulu dengan
tembusan ke SPBK Pusat (minimal 1 bulan
sebelum tanggal penyelenggaraan). SPBK Pusat
kemudian akan membuat surat perintah tugas
kepada SPBK Penyelenggara (untuk selanjutnya
berkoordinasi dengan SPBK tempat tujuan
penyelenggaraan dan melengkapi urusan
administratif dengan Bupati dan Dinkes).
•
Apabila SPBK setempat (tujuan) tidak merespon
dan atau menolak surat permohonan SPBK
Penyelenggara, maka SPBK Penyelenggara
diharap melaporkan kepada SPBK Pusat agar
nantinya dapat difasilitasi untuk dikoordinasikan
secara informal.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 11 Gambar 2. Alur pengajuan kegiatan lintas cabang.
b.
Setelah jumlah pasien dipastikan, SPBK setempat/
Pusat membuat surat permohonan pelaksanaan
kegiatan kepada Bupati Kepala Daerah up Kasudinkes
dengan melampirkan daftar anggota Tim lengkap, dan
membuat surat tugas ke Dokter SpM/ RS/ Puskesmas
sesuai dengan rencana yang diusulkan mengenai
jumlah pasien, daerah sasaran Baksos, dan waktu
pelaksanaan.
c.
Kepala Subdinkes setempat membuat surat Perintah
pelaksanaan kegiatan, lengkap dengan tanggal
pelaksanaan, tempat pelaksanaan, disebutkan Rumah
Sakit Rujukan untuk penanganan apabila terjadi
penyulit dan dilampirkan Daftar Anggota Tim
lengkap, sebagai Payung hukum yang melindungi
12 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI anggota Tim apabila terjadi Kejadian yang Tidak
Diharapkan (KTD).
III.2. Pedoman Administratif dan Payung Hukum Penyelenggaraan
Kegiatan
1.
Anggota Tim Operasi:
a.
Jika jumlah anggota Tim Operasi Cabang diperkirakan
belum mencukupi kebutuhan jumlah pasien yang akan
dioperasi, atau SPBK Cabang bermaksud meminta
pendampingan teknis/knowledge transfer, permintaan
tambahan tenaga dapat diajukan kepada SPBK Pusat
sehingga SPBK Pusat dapat mengalokasikan tenaga
tambahan ke Cabang, sesuai kebutuhan.
b.
Bagi anggota Perdami yang berminat mengikuti
Baksos bisa mendaftarkan diri ke SPBK, untuk
selanjutnya dihubungi jika ada kegiatan.
c.
Semua Dokter yang tergabung ke dalam Tim Operasi
harus mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) atau SIP
sementara yang masih berlaku, yang dikeluarkan oleh
Dinas Kesehatan setempat.
d.
Untuk Dokter dari luar negeri harus dapat
menunjukkan surat yang setaraf dengan SIP dan izin
kerja dari Konsil Kedokteran Indonesia / Ikatan
Dokter Indonesia, dalam hal ini Kolegium.
e.
Kerjasama dengan Dokter dari luar negeri harus
dikaitkan dengan institusi pendidikan karena
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 13 kedatangan tenaga Dokter dari luar negeri selayaknya
adalah dalam konteks knowledge/skill transfer.
f.
Semua Paramedis harus mempunyai Surat Pernyataan
Kompetensi yang masih berlaku untuk dapat menjadi
anggota Tim. Surat ini dibuat oleh Instansi tempat
Paramedis tersebut berdinas).
2.
Kriteria pasien Baksos:
a.
Seleksi pasien operasi dengan indikasi medis dan
indikasi sosial adalah kewenangan Dokter SpM
setempat bersama Tim SPBK.
b.
Pada waktu seleksi awal pasien, Dokter Spesialis Mata
setempat harus diikutsertakan, sehingga tidak terjadi
konflik tentang pasien yang dipilih (yang tidak
mampu).
c.
Pasien Baksos adalah pasien tidak mampu yang tidak
memiliki jaminan kesehatan apapun.
d.
Pasien yang mengikuti Baksos harus mempunyai surat
keterangan tidak mampu yang minimal didapatkan
dari Ketua RT/RW setempat.
e.
Kebutaan dengan penyebab di luar katarak harus
dirujuk ke Dokter Spesialis Mata setempat atau Rumah
Sakit yang sudah ditunjuk.
f.
Kasus di luar katarak yang tidak berpotensi kebutaan
dikembalikan ke Spesialis Mata setempat.
3.
Informed consent:
a.
Khusus untuk informed consent, dijelaskan dengan
bahasa awam penyakit apa yang diderita,
14 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI tindakan/operasi apa yang akan dilakukan, tujuan
tindakan/operasi tersebut, obat apa yang harus
ditetes/ diminum setelah operasi, penyulit yang dapat
terjadi pada/setelah operasi, tanda-tanda penyulit yang
terjadi pasca-operasi dan prosedur penanganannya
serta biaya ditanggung oleh penyelenggara. Sebaiknya
satu saksi yang menandatangani dari pihak
Penyelenggara adalah Dokter Mata Setempat. Informed
consent ini diulangi sekali lagi pada saat pra-bedah,
sekaligus ditandatangani oleh operator. (Contoh form
informed consent terlampir).
4.
Pelaksanaan:
a.
Tempat yang digunakan untuk operasi katarak
dilakukan di kamar operasi yang memenuhi standar.
b.
Pelaksanaan kegiatan di lapangan sesuai dengan Buku
Panduan Operasional SPBK Pusat.
5.
Follow-up:
a.
Follow-up pasien sebaiknya dilakukan oleh Dokter
Spesialis Mata setempat atau salah satu anggota Tim
Operasi sesuai dengan Pedoman Operasional SPBK
Perdami (Bab IV).
b.
Ketentuan mengenai jadwal pelaksanaan follow-up
disesuaikan dengan Formulir Pelaporan baku yang
telah dibuat SPBK Pusat (terlampir).
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 15 6.
Pelaporan kegiatan:
Untuk menciptakan ketertiban adiministrasi dan ketepatan
penghitungan jumlah operasi wilayah kerja, maka untuk
pelaporan kegiatan Bakti Sosial ditetapkan sebagai berikut:
a.
SPBK Penyelenggara akan melaporkan kegiatan
(berkaitan dengan teknis penyelenggaraan) dan hasil
operasi ke SPBK setempat, dengan tembusan ke SPBK
Pusat (Formulir A dan B).
b.
SPBK tempat penyelenggaraan (tujuan) akan
melaporkan hasil operasi (berkaitan dengan jumlah,
pencapaian visus, dan komplikasi) melalui Laporan
Bulanannya ke SPBK Pusat (formulir akan dikeluarkan
oleh SPBK Pusat) sebagai capaian wilayah kerjanya.
7.
Komplikasi:
a.
Semua penyulit yang tidak dapat ditangani oleh
Dokter Mata setempat atau anggota Tim Operasi
dikirim ke Rumah Sakit Rujukan yang telah disepakati,
sekaligus melaporkan secara resmi kepada SPBK
Cabang, untuk kemudian diteruskan laporannya
kepada SPBK Pusat.
b.
Biaya komplikasi menjadi pertanggungan SPBK, tetapi
pasien wajib melengkapi persyaratan administratif
berupa surat Gakin/ SKTM.
8.
Biaya operasi katarak per pasien:
a.
Biaya untuk operasi dan penanganan apabila terjadi
penyulit/komplikasi setelah operasi ditanggung oleh
Penyelenggara/SPBK.
16 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI b.
Unit cost operasi per pasien telah diperhitungkan
secara proporsional sesuai perhitungan SPBK, sebesar
Rp 600.000/pasien, dengan perincian sebagai berikut:
1.A. Biaya operasional per pasien : minimal 40 operasi
Obat-obatan dan prasarana
Rp 250.000
Kacamata/IOL
Rp 65.000
Biaya operasional dokter
Rp 75.000
Biaya operasional asisten/tim pendukung
Rp 35.000
Perawatan alat mikro/linen
Rp 80.000
Biaya follow-up tim
Rp 20.000
Biaya penanganan komplikasi
Rp 50.000
Subtotal I
Rp 575.000
1.B. Biaya administrasi/keuangan per pasien
c.
Subtotal II
Rp 25.000
Jumlah biaya operasi/pasien
Rp 600.000
Unit cost dasar operasi per pasien disepakati berlaku
sama di semua daerah dan dalam pengajuan proposal.
d.
Tambahan biaya di luar unit cost dasar operasi per
pasien (seperti transportasi, akomodasi, penyewaan
sarana/fasilitas kamar operasi, dll) dinyatakan dan
diajukan secara terpisah.
e.
Biaya tambahan dalam point d dapat disesuaikan
dengan kondisi daerah masing-masing.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 17 18 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK
OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK)
PERDAMI
No. Dokumen
04.01.001
Standar
Prosedur
operasional
Tanggal Terbit :
5 Januari 2009
2
3
4
5
6
Tujuan
Ditetapkan
Ketua SPBK Pusat
Bakti sosial operasi katarak adalah Pelaksanaan operasi katarak secara
massal bagi pasien tidak mampu.
SPBK adalah suatu seksi di bawah Perdami Pusat.
Dokter spesialis Mata Tim SPBK adalah dokter spesialis mata yang
ditugaskan oleh ketua SPBK Pusat/Cabang untuk melaksanakan bakti sosial
operasi katarak.
Dokter Spesialis Mata setempat adalah dokter spesialis mata yang bertugas
di wilayah pelaksanaan bakti sosial operasi katarak.
Paramedis yang dimaksud adalah perawat mahir mata yang membantu
operator dalam pelaksanaan bakti sosial operasi katarak.
Buta katarak adalah penurunan tajam penglihatan yang disebabkan oleh
kekeruhan lensa mata dengan tajam penglihatan 3/60 atau kurang.
Membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kebutaan akibat
katarak di Indonesia.
1
2
Kebijakan
Halaman
1 dari 2
Dr. Johan Hutauruk, SpM
1
Pengertian
No. Revisi
…………
3
4
5
MOU SPBK & DepKes
SK. DepKes tentang Komnas Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan
Kebutaan (PGPK)
SK SPBK Pusat ke masing-masing SPBK Cabang
Surat Tugas dari SPBK Cabang kepada operator
SIP/ SIP sementara untuk operator pelaksana (dikeluarkan oleh DinKes
setempat dengan rekomendasi Perdami)
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 19 BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK
OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK)
PERDAMI
No. Dokumen
04.01.001
Halaman
2 dari 2
A.
1
Perizinan :
2
SPBK membuat surat tugas ke Dokter Spesialis Mata (SpM)/ Rumah Sakit/
Puskesmas setempat sesuai rencana yang diusulkan (mengenai jumlah
pasien, daerah sasaran baksos dan waktu pelaksanaan). Tembusan ke
Dinas Kesehatan/ Instansi terkait.
Dinas Kesehatan setempat menerbitkan surat izin/penugasan yang sifatnya
sementara yang akan berfungsi sebagai SIP sementara (berlaku 3 bulan).
3
B.
1
2
Prosedur
No. Revisi
…………
3
C.
1
Pihak Penyelenggara/ Rumah Sakit/ Puskesmas/ Pemerintah Daerah/
Yayasan mengajukan surat permohonan bakti sosial operasi katarak kepada
Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK).
Persiapan pasien dan peralatan :
Seleksi pasien operasi dengan indikasi medis dan indikasi sosial adalah
kewenangan dari Dokter SpM setempat bersama tim SPBK.
SPBK menyiapkan peralatan medis, bahan habis pakai dan obat-obatan
keperluan bakti sosial.
Tempat yang digunakan untuk operasi katarak dapat dilakukan di kamar
operasi yang memenuhi standar.
SDM :
Semua Dokter yang tergabung dalam Tim Operasi harus mempunyai surat
izin praktek (SIP) / SIP sementara yang berlaku dari Dinas Kesehatan
setempat. Untuk Dokter dari luar negeri harus dapat menunjukkan surat
yang setaraf dengan SIP dan Izin kerja dari KKI/ IDI.
2
Semua paramedis yang ikut Tim harus mempunyai Kompetensi yang masih
berlaku untuk dapat menjadi anggota Tim. (dibuat oleh Instansi dimana
paramedis itu berdinas).
D.
1
Pembiayaan :
Unit cost operasi diperhitungkan secara proporsional sesuai perhitungan
SPBK.
Biaya untuk operasi dan penanganan apabila terjadi penyulit / komplikasi
setelah operasi ditanggung oleh Penyelenggara / SPBK.
2
Dokter spesialis Mata setempat, Dokter Spesialis Mata Tim SPBK, Paramedis Tim
Unit Terkait SPBK, Dinas Kesehatan setempat, Puskesmas/Rumah Sakit tempat operasi,
Rumah sakit tempat rujukan, dan pihak Penyelenggara.
20 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK
OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK)
PERDAMI
No. Dokumen
04.01.002
Standar
Prosedur
operasional
Tanggal Terbit :
5 Januari 2009
2
3
4
5
6
Tujuan
Ditetapkan
Ketua SPBK Pusat
Indikasi operasi adalah kriteria pasien yang diseleksi untuk dilaksanakan
operasi katarak.
Teknik seleksi adalah pemeriksaan mata pada pasien yang dipilih sesuai
standar yang berlaku dalam pelaksanaan operasi katarak.
Teknik operasi adalah cara yang dipilih untuk melakukan operasi katarak
sesuai dengan prosedur operasional standar.
Evaluasi pasca bedah adalah penilaian hasil operasi yang dilaksanakan
setelah operasi katarak.
Penyulit/ komplikasi operasi adalah keadaan yang tidak diharapkan akibat
tindakan operasi yang terjadi pada saat dan atau setelah operasi katarak.
Rumah sakit rujukan adalah rumah sakit yang ditunjuk untuk mengatasi
penyulit / komplikasi operasi katarak.
Meningkatkan mutu pelayanan bakti sosial operasi katarak dan meminimalisasi
penyulit / komplikasi yang terjadi dalam rangka mencapai tajam penglihatan
akhir yang optimal.
1
2
Kebijakan
Halaman
1 dari 2
Dr. Johan Hutauruk, SpM
1
Pengertian
No. Revisi
…………
3
4
5
6
7
MOU SPBK & DepKes
SK Depkes tentang Komnas Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan
Kebutaan (PGPK)
SK SPBK Pusat ke masing – masing SPBK Cabang
Surat Tugas dari SPBK Cabang kepada operator
SIP/ SIP sementara untuk operator pelaksana (dikeluarkan oleh DinKes
setempat dengan rekomendasi Perdami)
Standar Profesi dan Standar Pelayanan Kesehatan Mata Perdami.
Manajemen Klinis Perdami
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 21 BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK
OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK)
PERDAMI
No. Dokumen
04.01.002
A.
1
2
3
B.
1
2
3
Prosedur
No. Revisi
…………
Halaman
2 dari 2
Perizinan
Indikasi operasi
:
:
Indikasi administratif: pasien-pasien miskin yang dinyatakan dengan surat
keterangan tidak mampu dari RT/RW, Lurah, Camat dan Puskesmas
setempat, yang tidak memiliki jaminan kesehatan apapun.
Indikasi medik: presenting visual acuity <6/60 pada salah satu atau kedua
mata
Indikasi sosial: sesuai Protap SPBK
Persiapan
Teknik seleksi
pasien
: dan peralatan :
Seleksi pasien operasi dengan indikasi medik dan indikasi sosial adalah
kewenangan Dokter SpM setempat bersama Tim SPBK.
Pada waktu seleksi awal pasien, Dokter SpM setempat harus diikutsertakan
sehingga tidak terjadi konflik tentang pasien yang dipilih.
Kebutaan dengan penyebab di luar katarak harus dirujuk ke Dokter SpM
setempat atau Rumah Sakit yang sudah ditunjuk.
C.
1
2
3
SDM
Teknik
: operasi :
Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular ( Extracapsular Cataract Extraction, ECCE)
Small Incision Cataract Surgery (SICS)
Fakoemulsifikasi
Point C1-C3 dengan menggunakan implantasi lensa intraokular
D.
1
Pembiayaan
Evaluasi pascabedah
:
:
Follow-up pascabedah H+1/H+2 kewenangan operator/SpM setempat, H+7
dan H+30 kewenangan SpM setempat
E.
1
Penyulit/komplikasi operasi :
Penyulit yang tidak dapat ditangani sendiri oleh Dokter SpM setempat atau
anggota Tim Operasi dikirim ke RS Rujukan yang telah disepakati.
Pengiriman ke RS Rujukan dilaporkan secara resmi kepada SPBK Cabang
untuk kemudian diteruskan kepada SPBK Pusat.
Biaya komplikasi menjadi pertanggungan SPBK, selama pasien memenuhi
persyaratan administratif.
2
3
F.
1
2
Rumah Sakit rujukan :
RS Rujukan ditentukan oleh Dokter Mata setempat, Tim Operasi dan atau
Perdami Cabang.
RS Rujukan sudah ditentukan sejak awal pengajuan kegiatan sebagaimana
tertera pada Proposal Kegiatan.
Dokter spesialis Mata setempat, Dokter Spesialis Mata Tim SPBK, Paramedis Tim
Unit Terkait SPBK, Dinas Kesehatan setempat, Puskesmas/Rumah Sakit tempat operasi,
Rumah sakit tempat rujukan, dan pihak Penyelenggara.
22 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI Keterangan :
1.
2.
3.
Protap Administrasi Baksos & Protap Pelaksanaan Baksos merupakan
format baku dan harus ditandatangani oleh ketua SPBK Perdami Pusat.
Protap Administrasi Baksos & Protap Pelaksanaan Baksos, harus disertai
dengan Formulir rencana pelaksanaan Baksos yang sudah ditanda
tangani oleh Ketua SPBK Cabang dan Dokter Spesialis Mata setempat.
Protap Administrasi Baksos & Protap Pelaksanaan Baksos dan Formulir
rencana pelaksanaan Baksos dibawa ke Dinas Kesehatan setempat untuk
diterbitkan SIP sementara.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 23 III.3. Tata Tertib/Kebijaksanaan Donasi
III.3.1. Komponen Biaya Bakti Sosial operasi katarak
BAKSOS
Gambar 3. Komponen ”operasi” dalam biaya Baksos mencakup bahan
habis pakai, jasa/konsumsi operator dan asisten, perawatan alat mikro
dan linen, follow-up, biaya penanganan komplikasi, dan biaya adminkeu.
III.3.2. Bentuk kerjasama dan Memorandum of Understanding
(MOU)
1.
Untuk kegiatan donasi dengan target jumlah pasien di atas 500
dan atau tersebar di beberapa wilayah kerja Perdami (berskala
nasional), MOU harus dibuat antara Donatur dengan Perdami
Pusat. Menimbang tata tertib organisasi, MOU dengan
Donatur tersebut harus ditandatangani oleh Donatur, Ketua
Perdami Pusat, dan Ketua SPBK Pusat.
24 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 2.
Dalam melakukan kerjasama atau pembuatan MOU dengan
Donatur, harus dibicarakan dan dinyatakan secara jelas hak dan
kewajiban Penyelenggara dan Donatur. Donatur harus
memahami secara jelas hal-hal apa saja yang dapat dicakup dari
peran sertanya, dan apa yang tidak.
3.
Komponen transportasi dan akomodasi menjadi perhitungan
penting mengingat adanya Donatur yang menginginkan
operasi diselenggarakan di daerah-daerah remote/jauh dari
sentra RS. Dengan demikian, unit cost per pasien sebesar Rp
600.000/operasi/pasien pada beberapa kondisi tidak dapat
mencukupi komponen transportasi dan akomodasi.
4.
Co-sponsorship:
Sebagian Donatur dapat memilih untuk menjadi sponsor
tunggal, artinya Donatur tersebut menanggung seluruh aspek
biaya Baksos (termasuk transportasi dan akomodasi, jika ada)
dan Penyelenggara hanya menggunakan satu sumber
pendanaan untuk event Baksos tersebut.
Sebagian Donatur lain hanya berkeinginan menanggung
komponen tertentu dari Baksos, sedangkan sisanya harus
dilengkapi oleh Donatur lain. Jika satu event Baksos didanai
oleh lebih dari satu sumber, atau disebut sebagai sistem cosponsorship, jumlah pasien tidak dihitung ganda oleh SPBK.
Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya tumpang tindih
data, penyelenggara dan SPBK Cabang harus secara lengkap
melaporkan di dalam Formulir Pelaporan Operasi, keterangan
mengenai pihak-pihak mana saja yang menjadi sponsor satu
event Baksos.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 25 5.
Sebagian Donatur menganut sistem reimbursement; untuk itu
harus dibicarakan dan dinyatakan secara jelas kelengkapan
persyaratan administratif yang dibutuhkan untuk pengajuan
klaim biaya kegiatan, selain juga time-limit pengajuan dan
pembayaran, guna terciptanya kerjasama yang transparan dan
tertib administratif.
6.
Tidak ada bentuk baku sebuah MOU, tetapi dalam
pembuatannya, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
•
Target operasi
•
Cakupan area operasi
•
Jangka waktu pelaksanaan kerjasama
•
Hak dan kewajiban pihak Donatur dan pihak
Penyelenggara
26 •
Sistem pembayaran
•
Sistem penanganan komplikasi
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI BAB IV
PEDOMAN/TATA TERTIB TEKNIS MEDIS OPERASI
KATARAK
IV.1. SOP Skrining Pasien Katarak
IV.1.1. Pemeriksaan dan tatalaksana pada fasilitas kesehatan primer
1.
Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau Tumbling E chart
dengan koreksi terbaik atau menggunakan pinhole.
2.
Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen
anterior di mana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak
reflek pupil masih baik.
3.
Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.
4.
Jika TIO dalam dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg)
dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%.
Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu
senter dan lup untuk melihat kekeruhan lensa serta
pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan.
IV.1.2. Pemeriksaan dan tatalaksana pada fasilitas kesehatan
sekunder
1.
Pemeriksaan visus menggunakan kartu Snellen dengan koreksi
terbaik serta menggunakan pinhole.
2.
Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 27 3.
Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.
4.
Jika TIO dalam dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg)
dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%.
Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan
slitamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai
dengan visus pasien.
5.
Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan.
IV.1.3. Pemeriksaan dan tatalaksana pada fasilitas kesehatan tersier
1.
Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector
dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole
2.
Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.
3.
Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non
contact, aplanasi atau Schiotz.
4.
Jika TIO dalam dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg)
dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%.
Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan
slitamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai
dengan visus pasien.
a.
Derajat 1: Nukleus lunak, biasanya visus masih lebih
baik dari 6/12, tampak sedikit kekeruhan dengan
warna agak keputihan. Reflek fundus masih mudah
diperoleh. Usia penderita biasanya kurang dari 50
tahun
b.
Derajat 2: Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya
visus antara 6/12 – 6/30, tampak nucleus mulai sedikit
28 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI berwarna kekuningan. Reflek fundus masih mudah
diperoleh dan paling sering memberikan gambaran
seperti katarak subkapsularis posterior.
c.
Derajat 3: Nukleus dengan kekerasan medium,
biasanya visus antara 6/30 – 3/60, tampak nucleus
berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang
berwarna keabu-abuan.
d.
Derajat 4: Nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 –
1/60, tampak nukleus berwarna kuning kecoklatan.
Reflek fundus sulit dinilai.
e.
Derajat 5: Nukleus sangat keras, biasanya visus
biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek. Usia penderita
sudah di atas 65 tahun. Tampak nucleus berwarna
kecoklatan bahkan sampai kehitaman . katarak ini
sangat keras dan disebut juga sebagai brunescence
cataract atau black cataract.
5.
Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan.
IV.1.4. Tatalaksana pasien katarak
1.
Penatalaksanaan non bedah untuk visus lebih baik atau sama
dengan 6/12, yaitu pemberian kacamata dengan koreksi terbaik.
2.
Jika visus masih lebih baik dari 6/12 tetapi sudah mengganggu
untk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan
pasien atau ada indikasi medis lain untuk operasi, pasien dapat
dilakukan operasi katarak
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 29 3.
Tatalaksana pasien katarak dengan visus terbaik kurang dari
6/12 adalah operasi katarak berupa EKEK + IOL atau
fakoemulsifikasi + IOL dengan mempertimbangkan
ketersediaan alat, derajat kekeruhan katarak dan tingkat
kemampuan ahli bedah
4.
Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi
dan peralatan bedah mikro, di mana pasien dipersiapkan untuk
implantasi IOL
5.
Ukuran IOL dihitung berdasarkan data keratometri serta
pengukuran biometri A-scan
6.
Apabila tidak tersedia peralatan keratometri dan biometri
ukuran IOL dapat ditentukan berdasar anamnesis ukuran
kacamata yang selama ini dipakai pasien. IOL standar power
+20.00 dioptri, jika pasien menggunakan kacamata, power IOL
standar dikurangi dengan ukuran kacamata. Misalnya pasien
menggunakan kacamata S -6.00 maka dapat diberikan IOL
power +14.00 dioptri
7.
Operasi katarak bilateral (operasi dilakukan pada kedua mata
sekaligus secara berturutan) sangat tidak dianjurkan berkaitan
dengan risiko pascaoperasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak
kebutaan. Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa
dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi
katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya.
30 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI IV.2. SOP Sterilisasi
IV.2.1. Sterilisasi perlengkapan operasi
Metode sterilisasi
1.
Kain linen disterilisasi menggunakan sterilisator autoclave
2.
Instrumen operasi di sterilisasi tiap kali operasi dengan
menggunakan domestic pressure cooker dengan steam pressure:
3.
a.
5 lb/in2 pada temperature 116 C selama 40 menit.
b.
10 lb/in2 pada temperature 121 C selama 20 menit.
Air yang digunakan untuk proses sterilisasi adalah aqua
destilata
Mempertahankan sterilitas alat
1.
Jangka sterilitas (shelf-life)
a.
Kemasan kain linen : 4 minggu
b.
Kemasan kain linen yang dibungkus plastik : 8 minggu
c.
Metal drum (tromol) : 4 minggu
d.
Metal drum (tromol) yang dibungkus plastik : 8
minggu
2.
Indikator sterilitas
Plester sterilisasi harus digunakan untuk menandai kemasan
yang telah disterilisasi. Tanggal kadaluarsa atau tanggal
sterilisasi harus dicantumkan pada plester tersebut
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 31 3.
Penggunaan instrumen operasi
•
Peralatan yang sudah steril hanya boleh digunakan
oleh personel yang telah mencuci tangan dan memakai
sarung tangan steril.
•
Instrumen diberikan dari perawat asisten kepada
operator dengan cara tertentu sehingga operator dapat
memegang bagian badan instrument, bagian ujung
instrument yang akan bersentuhan dengan mata pasien
tidak boleh disentuh oleh tangan operator maupun
perawat asisten.
IV.2.2. Sterilisasi kamar operasi
Sterilisasi kamar operasi ini dilakukan mengikuti standar Rumah Sakit,
kecuali jika kita menggunakan kamar operasi yang dibuat sendiri
(seperti aula, auditorium, tempat-tempat umum). Dalam keadaan seperti
ini, sterilisasi dilakukan menggunakan lampu ultraviolet.
Kelengkapan kamar bedah
• Meja operasi
• Instrument operasi
• Bangku tangga
• Troli tempat peralatan operasi
• Penggantung botol infuse
• Masker
• Sarung tangan bedah bermacam-macam ukuran
• Alcohol (untuk mencuci sarung tangan)
32 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI • Bantalan kepala (donat)
• Sterilisator
• Mikroskop
• Kabel panjang, adaptor
• Bangku / kursi putar untuk ahli bedah
• Kauter
• Benang nilon 9/0 atau 10/0
• Benang silk 5/0
• Viskoelastis
• Lensa intraokuler
• Spons seluler segitiga (strolls)
IV.3. SOP Operasi Ekstraksi Katarak
IV.3.1. Penjelasan kepada pasien
Sebelum masuk kamar operasi pasien harus diberikan penjelasan dulu
mengenai:
1.
Persetujuan tindakan operasi (informed consent) serta pasien
dan keluarga memberikan tandatangan pada formulir
persetujuan tindakan operasi
2.
Menganjurkan kepada pasien untuk:
a.
Meneruskan / melanjutkan pengobatan sebelumnya,
kecuali obat antikoagulan harus dihentikan selama
minimal 3 hari.
b.
Mengosongkan kandung kemih
c.
Mencuci rambut
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 33 d.
Mengenakan baju bersih selama operasi
IV.3.2. Persiapan mata pasien
Petugas yang memberi tetes mata harus :
1.
Mencuci tangan sebelumnya
2.
Memeriksa kembali mata mana yang akan dioperasi dan
melakukan cukur bulu mata, jika tidak memakai eye drape, jika
memakai eye drape bulu mata tidak perlu dicukur.
3.
1 (satu) jam sebelum operasi memberikan tetes pantocaine 0,5%,
tropicamide 0,5-1% dan tetes phenylephrine 10% pada mata
yang akan dioperasi.
4.
Mengulangi pemberian obat tetes mata 10 menit kemudian bila
diperlukan.
IV.3.3. Anestesi
1.
Persiapan petugas di ruang anestesi lokal
Petugas yang melakukan anestesi harus :
a.
Memakai pakaian khusus kamar bedah yang bersih
b.
Mencuci tangan dengan sabun atau cairan pembersih
golongan Iodine seperti povidone iodine scrub ataupun
cairan clorhexidine
c.
Memeriksa mata yang akan dioperasi telah dilatasi
sempurna, jika belum dilatasi sempurna laporkan
kepada operator
34 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 2.
Persiapan cairan anestesi
Persiapan cairan anestesi sebagai berikut :
a.
Obat anestetik yang digunakan adalah lidokain 2%
atau dengan campuran bupivakain 0,5% dalam jumlah
perbandingan yang sama dimasukkan dalam syringe 5
ml
b.
Jarum 19 G ditusukkan pada vial obat anestetik dan
tetap terpasang disana untuk pengambilan dosis
berikutnya
c.
Bersihkan tutup botol yang berisi obat anestetik
dengan kapas alcohol
d.
Dengan syringe 5 ml, ambil 2,5 mL Lidocain 2%,
kemudian tambahkan 2,5 mL bupivacain 0,5%
e.
Pasangkan jarum 25G atau 23G pada syringe 5 ml
yang berisi cairan anestesi yang telah diambil
3.
Anestesi Retrobulbar
Anestesi Retrobulbar dilakukan sebagai berikut:
a.
Pasien harus berbaring pada permukaan yang datar
seperti meja operasi, tempat tidur dll. Lebih baik tanpa
bantal. Pasien harus melihat lurus keatas langt-langit.
• Metode 1 : tarik kebawah, kelopak mata
bawah di daerah 1/3 luar dengan ujung jari
tangan untuk memperlihatkan konjungtiva
dan bola mata
• Metode 2 : letakkan ujung jari tengah pada
kulit daerah sisi orbita pada 1/3 luar kelopak
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 35 bawah. Bola mata harus teraba dibawah kulit
kemudian jari digerakkan sedikit ke bawah
b.
Ambil suntikan anestesi dengan tangan lainnya.
Suntikan jarum pada daerah 1/3 luar sisi orbital tepat
diatas indeks jari bevel/sisi serong ujung jarum kearah
bola mata, melalui konjungtiva forniks bawah (cara 1)
atau melalui kulit kelopak bawah/cara 2 agar dapat
mencapai di belakang bola mata
c.
Saat jarum tepat berada dibelakang ekuator bola mata
(ditandai pada setengah panjangnya jarum), arah jarum
kemudian dibelokkan ke arah nasal atas menuju conus
orbita sampai seluruh panjang jarum terbenam,
lakukanlah aspirasi dan suntikan obat anestesi secara
perlahan-lahan sebanyak 3-5 mL
d.
Pada waktu menusuk, perhatikan / periksa adanya
pergerakan bola mata yang menunjukkan bahwa jarum
menyentuh dan jangan sampai menembus bola mata.
Hentikan dan tarik keluar jarum jika dicurigai terjadi
perforasi. Jika tidak dicurigai terjadi perforasi tetapi
dirasakan adanya tahanan, tarik keluar jarum perlahanlahan dan ubah sudut kemiringan bola mata
e.
Jika pada waktu melakukan aspirasi terhisap darah,
jarum ditarik sedikit kearah luar dan lakukan tes
aspirasi kembali
36 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 4.
Anestesi Parabulbar
a.
Pasien harus berbaring pada permukaan yang datar
seperti meja operasi, tempat tidur dll. Lebih baik tanpa
bantal. Pasien harus melihat lurus keatas langt-langit
• Metode 1 : tarik kebawah, kelopak mata
bawah di daerah 1/3 luar dengan ujung jari
tangan untuk memperlihatkan konjungtiva
dan bola mata
• Metode 2 : letakkan ujung jari tengah pada
kulit daerah sisi orbita pada 1/3 luar kelopak
bawah. Bola mata harus teraba dibawah kulit
kemudian jari digerakkan sedikit ke bawah
b.
Ambil suntikan anestesi dengan tangan lainnya.
Suntikan jarum pada daerah 1/3 luar sisi orbital tepat
diatas indeks jari bevel/sisi serong ujung jarum kearah
bola mata, melalui konjungtiva forniks bawah (cara 1)
atau melalui kulit kelopak bawah/cara 2 agar dapat
mencapai dibelakang bola mata
c.
Saat jarum tepat berada dibelakang ekuator bola mata,
lakukanlah aspirasi dan suntikan obat anestesi secara
perlahan-lahan sebanyak 3-5 ml. Panjangnya jarum
yang dimasukkan bergantung pada ukuran orbit dan
diameter bola mata
d.
Lakukan lagi teknik yang sama pada titik di 1/3 dalam
orbita superior
e.
Pada waktu menusuk, perhatikan / periksa adanya
pergarakan bola mata yang menunjukkan bahwa jarum
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 37 menyentuh dan jangan sampai menembus bola mata.
Hentikan dan tarik keluar jarum jika dicurigai terjadi
perforasi. Jika tidak dicurigai terjadi perforasi tetapi
dirasakan adanya tahanan, tarik keluar jarum perlahanlahan dan ubah sudut kemiringan bola mata
f.
Jika pada waktu melakukan aspirasi terhisap darah,
jarum ditarik sedikit kearah luar dan lakukan tes
aspirasi kembali
5.
Anestesi Subkonjungtiva
a.
Teknik anestesi sub-konjungtiva menggunakan jarum
suntik ukuran 1 mL, dengan jarum 26 G
b.
Larutan Lidokan 2% sebanyak 0,5 – 1 mL di injeksi di
bawah konjungtiva
c.
Daerah subkonjungtiva yang dipilih daerah superior,
karena merupakan daerah yang paling longgar.
Upayakan agar saat menusukkan jarum tidak
mengenai pembuluh darah konjungtiva agar mencegah
terjadinya perdarahan subkonjungitva
d.
Apabila dirasakan efek anestesi kurang, dapat
diberikan suntikan tambahan saat operasi berlangsung
(intra-operasi), misalnya pada bagian inferior bola
mata
e.
Setelah penyuntikan, larutan anestesi yang masih
berada di bawah jaringan subkojungtiva disebarkan
dengan cara penekanan menggunakan putik kapas
steril (cotton tip applicator)
38 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 6.
Anestesi Subtenon
a.
Pemberian anestesi topikal (tetes mata lidokain 4%),
yaitu satu tetes tiap 10 menit selama 20 menit
menjelang operasi dimulai.
b.
Dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis.
c.
Insisi pada konjungitva inferior nasal sekitar 3 mm
dari limbus, menggunakan gunting konjungtiva
(wescott scissors) sampai kelihatan bagian sklera. Jika
terjadi perdarahan diatasi dengan kauterisasi, bisa
dengan kauter panas (Optem) ataupun kauter basah
(bipolar).
d.
Melalui luka insisi tersebut dimasukkan kanula sub
tenon menyusuri dinding bola mata sampaimencapai
daerah ekuator.
e.
Disuntikkan sebanyak 1 cc larutan anestesi campuran
lidokain 2% dan bupivacaine hydrochloride 0,75.%
f.
Tunggu beberapa saat (3-5 menit) agar larutan
anestesi ini mengalami difusi ke seluruh lingkaran
ekuator (360 derajat) untuk memberikan efek anestesi
dan akinesia yang baik.
g.
Jika tidak memiliki jarum atau kanula untuk suntikan
sub-tenon, dapat dicoba dengan menggunakan simcoe
canula yang biasanya kita gunakan untuk irigasiaspirasi sisa korteks, yang berukuran kecil, yaitu
ujungnya (tip) berukuran 23-G.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 39 IV.3.4. Kebersihan baju operasi dan sarung tangan
Hal – hal yang harus dipatuhi dan diperhatikan :
1.
Di dalam kamar bedah seluruh tim / petugas harus
menggunakan masker dan penutup kepala sepanjang persiapan
dan prosedur pembedahan.
2.
Mencuci tangan dengan povidone iodine atau cairan
chlorhexidine menggunakan sikat steril terutama untuk daerah
kuku selama 3 menit, dibawah air mengalir
3.
Dokter ahli bedah, perawat asisten dan perawat sirkulator
diwajibkan mengenakan baju khusus kamar bedah yang bersih.
4.
Dokter ahli bedah dan perawat asisten harus memakai jas
operasi steril
5.
Menggunakan sarung tangan steril
IV.3.5. Pelengkap kegiatan operasi
Persiapan pasien:
• Lembar instruksi prabedah
• Lembar instruksi pasca bedah
• Lembar informed consent (surat persetujuan tindakan)
• Sabun untuk mencuci
• Mangkuk tempat mencuci
• Handuk tangan
• Toilet
• Pakaian bersih untuk ahli bedah, asisten / pasien
• Tutup rambut /kepala
40 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI • Masker
• Sandal untuk kamar bedah
Perlengkapan pakaian/linen:
• Balutan kepala pasien
• Duk lubang
• Duk berlubang dibuat dari kain berukuran 120 x 220 cm. Dibagian
sepertiga dari panjang kain dibuat kain yang berwarna berbeda
berukuran 30 x 30 cm. Kemudian di tengahnya dibuat lubang
berukuran 5x 5 cm (contoh gambar di lampiran 3)
• Kain penutup meja operasi
• Kain penutup meja instrument
• Pakaian operasi / bedah
• Baju operasi
• Duk lapangan operasi
Perlengkapan anestesi:
• Larutan pembersih : Povidone-iodine 10%
• Pantocain 0.5% tetes mata
• Lidocain 2% vial
• Bupivacain 0.5% vial
• Kain kasa
• Suntikan 5 ml
• Jarum 19 G dan 23 G
• Kapas alcohol
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 41 • Balon penurun tekanan / pressure reducing device dengan
pengikatnya
Instrumen Operasi Mikro
Instrumen operasi dipergunakan dengan teknik aseptic non touch,
instrumen diberikan dari perawat asisten kepada operator dengan
cara tertentu sehingga operator dapat memegang bagian badan
instrument, bagian ujung instrument yang akan bersentuhan
dengan mata pasien tidak boleh disentuh oleh tangan operator
maupun perawat asisten.
42 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI IV.4. SOP Follow-Up dan Komplikasi
IV.4.1. Perawatan pascaoperasi katarak
1)
Frekuensi pemeriksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan
tingkat pencapaian visus optimal yang diharapkan.
2)
Pada pasien dengan risiko tinggi, seperti pada pasien dengan
satu mata, mengalami komplikasi intraoperasi atau ada riwayat
penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis, glaukoma dan
lain-lain, maka pemeriksaan harus dilakukan satu hari setelah
operasi.
3)
Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah, baik pada keadaan
preoperasi maupun intraoperasi, serta diduga tidak akan
mengalami komplikasi lainnya, dapat mengikuti petunjuk
pemeriksaan lanjutan (follow-up) sebagai berikut:
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 43 a.
Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam kurun 48 jam
setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi
komplikasi dini seperti kebocoran luka yang
menyebabkan bilik mata depan dangkal, hipotonus,
peningkatan tekanan intaraokular, edema kornea
ataupun tanda-tanda peradangan.)
b.
Kunjungan kedua: dijadwalkan pada hari ke 4-7 setelah
operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan
pertama, yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi
kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi
pada minggu pertama pascaoperasi
c.
Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan
kebutuhan pasien di mana bertujuan untuk
memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik
yang diharapakan.
4)
Obat-obatan yang digunakan pasien pascaoperasi bergantung
dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan, akan
tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid
harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari
selama minimal dua minggu pascaoperasi.
IV.4.2. Penatalaksanaan pasien dengan komplikasi pascaoperasi
Pasien yang ditemukan mengalami komplikasi pascaoperasi katarak
ditangani sesuai dengan keadaan komplikasi oleh Dokter Mata setempat
atau Tim Operasi, dan atau dirujuk ke RS rujukan untuk diberikan
tatalaksana yang sesuai.
44 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI Beberapa komplikasi pasca operasi yang sering dialami adalah sebagai
berikut:
• Luka yang tidak sempurna menutup
• Edema kornea
• Inflamasi/ uveitis
• Atonic pupil
• Pupillary capture
• Masalah yang berkaitan dengan IOL
• Kekeruhan kapsul posterior
• Toxic anterior segment syndrome (TASS)
• Capsular bag distention syndrome (CBDS)
• Sisa massa lensa/ korteks
• Cystoid macular edema (CME)
• Choroidal detachment
• Ablasio retina pasca operasi katarak
• Endoftalmitis
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 45 46 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI BAB V
PEDOMAN/TATA TERTIB PELAPORAN BAKTI SOSIAL
KATARAK
V.1. Tata tertib organisasi
Dengan memperhatikan kedudukan SPBK secara hirarki di
dalam organisasi Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia
(Perdami), SPBK adalah seksie yang bernaung di bawah
Departemen Peningkatan Pengabdian dan Pelayanan
Masyarakat (DP3M), salah satu struktur di dalam organisasi
Perdami. Dengan demikian rekapitulasi kegiatan SPBK akan
dilaporkan secara berkala kepada DP3M.
V.2. Koordinasi SPBK Cabang – SPBK Pusat:
1.
SPBK Cabang berada di bawah pimpinan Ketua Perdami
Cabang.
2.
SPBK Cabang memiliki kewajiban berkoordinasi dan
melaporkan setiap penyelenggaraan kegiatan Bakti Sosial
operasi katarak di wilayah kerjanya ke SPBK Pusat.
3.
Alur pelaporan untuk Baksos lintas wilayah:
a.
Pelaporan ke SPBK Pusat dilakukan oleh SPBK
Cabang tempat penyelenggaraan.
b.
Komponen biaya administrasi (Rp 25,000) dikelola
bersama antara SPBK Cabang tempat
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 47 penyelenggaraan dan SPBK Cabang pelaksana untuk
menjaga kontinuitas pelaporan.
4.
Laporan penyelenggaraan kegiatan Baksos dilaporkan secara
lengkap sesuai format yang sudah ditentukan (Formulir
Pelaporan A dan B).
5.
Setiap penyelenggaraan kegiatan Baksos disertai dengan
dokumentasi kegiatan (foto), dan bukti dokumentasi ini
disertakan bersama Formulir Pelaporan B.
6.
Formulir B yang sudah terisi minimal sampai dengan follow-up
H+7 dan sudah diterima SPBK Pusat paling lambat 2 minggu
setelah tanggal penyelenggaraan kegiatan.
7.
Bentuk pelaporan kegiatan akan lebih baik dalam bentuk
softcopy dan dikirimkan melalui e-mail atau CD, sehingga
mempercepat pengiriman dan mempermudah perekapan data.
8.
Untuk kegiatan Baksos dengan sponsorship atau kegiatan
Baksos yang berkaitan dengan penagihan dana (reimbursement),
bukti pendukung asli seperti tiket pesawat, boarding pass, dll
harus diikutsertakan secara lengkap bersama Formulir
Pelaporan. Jenis-jenis item yang harus dilengkapi bersama
bukti bayarnya bergantung pada permintaan sponsor. Tanpa
kelengkapan tersebut, SPBK Pusat tidak bisa mengolah lebih
lanjut.
9.
Waktu pembayaran reimbursement bergantung pada sponsor
dan kelengkapan bukti bayar, dan diusahakan selambatlambatnya 1 bulan dari tanggal penyelenggaran kegiatan.
48 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI V.3. Koordinasi SPBK – Donatur:
Untuk Donatur dengan jumlah operasi satu tahun melebihi 500 orang,
kerjasama dibuat melalui SPBK Pusat dengan membuat MOU.
PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 49 50 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK – SPBK PERDAMI 51 
Download