MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP STRUKTUR DAN

advertisement
MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN TUMBUHAN MELALUI INKUIRI TERBIMBING DI
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
(Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 9 Banjarbaru Tahun Pelajaran
2010/2011)
H. Muhammad Zaini 1
Widiati Hairina Otari 2
Abstrak
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman siswa yang meliputi proses dan hasil
belajar siswa, mengetahui aktivitas siswa dan guru, serta
mengetahui respon siswa dan guru terhadap kegiatan
pembelajaran konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMP
Negeri 9 Banjarbaru tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 35
orang. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus dan
masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan yang mana
siklus 1 membahas tentang akar dan batang dan pada siklus 2
membahas tentang daun dan bunga. Penelitian ini dilakukan
selama 6 bulan. Data dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan
pemahaman siswa kelas VIII D SMP Negeri 9 Banjarbaru pada
konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan. Hasil ini
ditunjukkan oleh hasil belajar siswa pada siklus 1 sebesar
91,43% dan pada siklus 2 sebesar 88,57%. Hasil test
pengetahuan yang diperoleh selama proses pembelajaran baik
pada siklus 1 maupun siklus 2 tergolong kategori baik. Pada test
keterampilan proses selama pembelajaran pada siklus 1
tergolong cukup baik sedangkan pada siklus 2 tergolong
kategori baik. Proses pembelajaran belum sepenuhnya terpusat
pada siswa, namun pembelajaran ini mendapatkan respon yang
positif dari siswa dan guru.
Kata kunci: Konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan, pendekatan inkuiri
terbimbing, proses dan hasil belajar siswa.
1
2
Alumni S1 Pendidikan Biologi FKIP Unlam Banjarmasin
Dosen S1 dan S2 Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Norwahidah, S.Pd, pengajar
biologi di SMP Negeri 9 Banjarbaru, diketahui bahwa pembelajaran biologi
sebagian besar menekankan pada nilai ketuntasan belajar bukan pada proses
pembelajaran, khususnya pada materi ”Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan.”
Sekalipun hasil belajar telah mencapai ketuntasan dengan nilai standar ketuntasan
yang ditetapkan sekolah yaitu sebesar 65, namun proses pembelajaran belum
banyak memperoleh pertimbangan sebagai keberhasilan pembelajaran.
Pembelajaran materi tersebut di sekolah pada tahun sebelumnya yaitu
tahun pelajaran 2009/2010, masih dilakukan secara konseptual, dengan diskusi
kelompok, padahal keadaan lingkungan sekitar sekolah masih berkaitan erat
dengan alam. Jika hal ini dibiarkan maka pembelajaran hanya ditekankan pada
nilai yang diperoleh, tanpa menghiraukan bagaimana pemahaman siswa dan
proses pembelajarannya.
Konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan merupakan konsep yang
berhubungan dengan alam karena tumbuhan itu sendiri erat kaitannya dengan
kehidupan manusia dan memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan.
Dalam konsep ini siswa diharapkan dapat memahami bagian-bagian tumbuhan
seperti akar, batang, daun dan bunga, tidak hanya morfologi tetapi juga anatomi
dan fungsi organ-organ tumbuhan tersebut. Namun, dalam pembelajaran di
sekolah penyampaian konsep ini biasanya hanya melalui diskusi kelompok,
dengan demikian siswa menjadi kurang paham. Oleh karena itu perlu dilakukan
perubahan dalam penyampaian konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
dalam bentuk pembelajaran yang lebih konkrit, sehingga konsep lebih mudah
dipahami siswa.
Pembelajaran sains yang dikembangkan dari lingkungan diharapkan dapat
mendorong dan membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas,
sehingga dapat mengatasi kesulitan belajar siswa, menjadikan siswa lebih kreatif,
teliti, terampil, dan mampu membekali siswa dalam memecahkan persoalan
kehidupan sehari-hari, serta sebagai bekal untuk pendidikan yang lebih tinggi, dan
melestarikan sumber daya alam daerah. Salah satu pembelajaran yang menyajikan
materi lingkungan adalah pembelajaran berbasis inkuiri.
Inkuiri sebagai salah satu pembelajaran yang mengutamakan proses
penemuan dalam kegiatan pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan. Oleh
karena itu di dalam pembelajaran inkuiri, guru harus selalu merancang kegiatan
yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan penemuan di dalam mengajarkan
materi pelajaran yang diajarkan (Ahmadi dan Amri, 2010). Pembelajaran inkuiri
akan efektif manakala guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri
jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam
pembelajaran dengan inkuiri, penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan
utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih utama adalah proses belajar. (Sanjaya,
2007).
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa yang
meliputi proses dan hasil belajar siswa, mengetahui aktivitas siswa dan guru, serta
mengetahui respon siswa dan guru terhadap kegiatan pembelajaran konsep
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan menggunakan pendekatan inkuiri
terbimbing. Pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat
pada siswa di mana kelompok-kelompok siswa dihadapkan pada suatu persoalan
atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur
dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas (Hamalik, 2004).
Di dalam pembelajaran berbasis inkuiri mengikuti metode sains, sehingga
peserta didik belajar menjadi ilmuwan, tidak hanya belajar tentang konsep atau
fakta, tapi juga proses dan sikap. Peserta didik dilatih bagaimana memecahkan
masalah dan mengambil keputusan. Inkuiri menekankan pada proses penemuan
yang dilakukan peserta didik dalam pembelajaran untuk memperoleh informasi.
Atas dasar uraian di atas maka dosen/ guru yang merancang pembelajaran inkuiri,
haruslah selalu memfasilitasi belajar dengan rancangan kegiatan
yang
memungkinkan peserta didik menemukan. (Ibrahim, 2005)
Menurut Roestiyah (2008) inkuiri adalah suatu perluasan proses discovery
yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses
discovery, inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya,
misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen,
mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, menumbuhkan sikap
objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
Dalam penelitian ini tipe inkuiri yang digunakan adalah tipe inkuiri
terbimbing, karena dalam proses pembelajarannya siswa diberikan kesempatan
untuk bekerja sendiri dalam menemukan konsep yang ingin ditanamkan pada diri
siswa namun masih dalam bimbingan guru sebagai fasilitator dan motivator.
Siswa menganalisis hasil dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan
dalam hal menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang ditemukan siswa
dalam buku petunjuk. Inkuiri terbimbing biasanya digunakan bagi siswa-siswa
yang belum berpengalaman belajar dengan menggunakan pendekatan inkuiri.
Menurut Ibrahim (2007) pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
inkuiri terbimbing merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah dikemukakan
oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk
menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan yang intensif
dari guru. Siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap
masalah yang dihadapkan kepadanya.
METODE
Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Siklus 1 pertemuan 1 mempelajari
tentang struktur dan fungsi jaringan di akar; pertemuan 2 mempelajari tentang
struktur dan fungsi jaringan di batang; sedangkan siklus 2 pertemuan 1
mempelajari tentang struktur dan fungsi jaringan di daun; sedangkan pada siklus 2
pertemuan 2 mempelajari tentang struktur dan fungsi jaringan pada bunga. Dalam
pelaksanaan pembelajaran, peneliti berkolaborasi dengan 2 orang dosen, 1 orang
guru Biologi kelas VIII SMP Negeri 9 Banjarbaru dan 3 orang mahasiswa
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unlam.
Refleksi awal meliputi 1) konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan di
SMP Negeri 9 Banjarbaru hanya diberikan secara konseptual, padahal konsep ini
menuntut model yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran, 2) guru
Biologi belum pernah menggunakan model pembelajaran inkuiri, khususnya pada
konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan pada kelas VIII, 3) para siswa SMP
Negeri 9 Banjarbaru telah memiliki pengetahuan awal tentang konsep struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan dari pengalaman yang diterimanya dari jenjang
pendidikan sebelumnya.
Pelaksanaan tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi,
evaluasi dan refleksi. (Arikunto dkk, 2010). Perencanaan meliputi 1) peneliti
menyiapkan instrumen yang diperlukan, 2) merancang rencana pembelajaran
(RPP) menggunakan pendekatan inkuiri dan kooperatif tipe pembelajaran
bersama, 3) RPP yang telah dibuat beserta perangkat pembelajarannya selanjutnya
disampaikan kepada guru bidang studi untuk dipelajari, didiskusikan, dan
diperbaiki seperlunya dengan mempertimbangkan alokasi waktu yang tersedia. 4)
menyusun instrumen kinerja siswa selama proses pembelajaran dan cara
pemberian skornya, 5) membuat angket respon siswa terhadap kegiatan
pembelajaran, 6) membuat angket respon guru terhadap kegiatan pembelajaran.
Tahap observasi dan evaluasi tindakan meliputi 1) observasi terhadap aktivitas
siswa dan aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan lembar
observasi (Borich, 1994 dalam Supramono, 2005), 2) penguasaan materi pelajaran
diperoleh dari tes hasil belajar dan tes selama proses pembelajaran. Seluruh data
hasil penelitian dicatat atau direkam untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk
memasuki siklus 2.
Subjek pada penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII D SMP Negeri 9
Banjarbaru tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 35 orang. Penelitian ini
dilakukan selama 4 bulan dimulai pada bulan Agustus 2010 sampai pada bulan
November 2010. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 9 Banjarbaru
yang beralamat di Jl. Karang Anyar No 1 Loktabat Utara Banjarbaru.
Instrumen penelitian yang digunakan meliputi LKS, alat evaluasi hasil
belajar yang berpedoman pada indikator masing-masing rencana pembelajaran.
Hasil penelitian data kuantitatif adalah data hasil belajar yang diambil dari pre test
dan post test dan hasil selama proses pembelajaran diambil dari penilaian LKS.
Sedangkan data kualitatif berupa data hasil observasi terhadap aktivitas siswa
selama proses pembelajaran dan aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran
serta respon siswa dan guru terhadap proses pembelajaran.
Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif dilakukan
secara deskriptif. Data kuantitatif yang diperoleh dari LKS menggunakan kategori
yakni baik (76-100%), cukup baik (56-75%), kurang (40-55%), dan buruk (<40%)
(Arikunto, 1998). Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kualitatif
berupa data hasil observasi terhadap aktivitas siswa dan guru serta respon siswa
dan guru, dilakukan melalui reduksi data, pemaparan data, dan analisis data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian tentang penggunaan pendekatan inkuiri terbimbing untuk
meningkatkan pemahaman konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan pada
siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011 telah
memperoleh sejumlah data kuantitatif berupa data hasil belajar yang diambil dari
pre test dan post test dan hasil selama proses pembelajaran diambil dari penilaian
LKS. Sedangkan data kualitatif berupa data hasil observasi terhadap aktivitas
siswa selama proses pembelajaran dan aktivitas guru dalam pengelolaan
pembelajaran serta respon siswa dan guru terhadap proses pembelajaran.
Hasil pre tes dan post tes pada siklus 1 dan siklus 2 seperti Tabel 1.
Tabel 1. Ketuntasan Belajar pada Siklus 1 dan Siklus 2
Siklus
1
2
Test
Pre tes
Post tes
Pre tes
Post tes
Hasil belajar
Tuntas (Org)
Tidak Tuntas (Org)
4
31
32
3
6
29
31
4
Tabel 1 menunjukkan hasil ketuntasan klasikal hasil
Jumlah
% Tuntas
35
35
35
35
11,43
91,43
17,14
88,57
pre test pada siklus 1
maupun siklus 2 belum mencapai ketuntasan klasikal yang ditetapkan karena nilai
ketuntasan klasikalnya hanya sebesar 11,43% dan 17,14%. Sedangkan ketuntasan
klasikal hasil post test pada siklus 1 dan siklus 2 sudah mencapai ketuntasan.
Hasil selama proses pembelajaran siklus 1 dan siklus 2 seperti Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Selama Proses Pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2
Siklus
1
2
Variabel
Pengetahuan
Proses
Pengetahuan
Proses
Jumlah
Kelompok
9
9
Skor ratarata
13,9
57,8
17,5
66,9
Skor
maksimum
15
85
17,5
82,5
%
Kategori
92,7
68
100
81
Baik
Cukup Baik
Baik
Baik
Keterangan:
76-100% = Baik; 56-75% = Cukup baik; 40-55% = Kurang; < 40% = Buruk (Arikunto, 1998)
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa pada siklus 1 menunjukkan hasil selama proses
pembelajaran yang diperoleh dari LKS berupa test pengetahuan dengan skor ratarata 13,9 dengan persentase sebesar 92,7% tergolong pada kategori baik,
sedangkan keterampilan proses skor rata-rata 57,8 dengan persentase sebesar 68%
yang tergolong dalam kategori cukup baik. Pada siklus 2 menunjukkan hasil
selama proses pembelajaran yang diperoleh dari LKS berupa test pengetahuan
dengan skor rata-rata 17,5 dengan persentase sebesar 100% tergolong pada
kategori baik, sedangkan keterampilan proses skor rata-rata 66,9 dengan
persentase sebesar 81% juga tergolong dalam kategori baik. Hal ini membuktikan
bahwa telah terjadi peningkatan hasil selama proses pembelajaran siswa dari
siklus 1 ke siklus 2.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2 diperlihatkan
seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2
Siswa yang
diamati
M. Erlangga R
M. Akipul Safrin
Desi Rosalina
Wahyu Kausar
Uma
Parameter yang diamati (%)
Siklus
1
2
1
2
1
1
29,03
28
28,13
25
18,18
2
9,68
8
12,5
10,71
15,15
3
12,90
24
18,75
17,86
15,15
4
12,90
8
12,5
3,57
18,18
5
22,58
12
15,63
21,43
18,18
6
6,45
4
6,25
7,14
9,09
7
0
4
0
3,57
0
8
0
4
0
3,57
0
9
6,45
8
6,25
7,14
6,06
2
1
2
23,33
16,13
23,33
10
16,13
10
20
12,90
20
6,67
16,13
10
16,67
22,58
13,33
3,33
6,45
3,33
0
3,23
0
13,33
0
13,33
6,67
6,45
6,67
Kategori Aktivitas Siswa < 10% rendah (buruk), ≥ 10% tinggi (baik)
Keterangan parameter:
1. Memperhatikan penjelasan guru atau siswa lain.
2. Membaca LKS atau buku-buku yang relevan.
3. Melakukan pengamatan/percobaan
4. Menulis hal-hal yang relevan dengan KBM.
5. Berdiskusi antar siswa/ kelompok/ guru
6. Melakukan analisis dan mengevaluasi informasi dari hasil penyelidikan.
7. Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru.
8. Menyusun/melaporkan dan menyajikan hasil penyelidikan.
9. Membuat/menulis rangkuman pelajaran.
Pada siklus 1 dan 2, aktivitas siswa dapat dikatakan baik karena 5 dari 9
parameter menunjukkan kategori aktivitas siswa ≥ 10%. Pada tabel 3 dapat dilihat
bahwa pada siklus 2 aktivitas siswa lebih baik dari siklus 1 karena aktivitas siswa
lebih merata pada semua parameter pengamatan yang berarti ada kerjasama yang
baik dalam kelompok dan parameter 7 dan 8 yang direduksi pada siklus 1 dapat
dimasukkan pengamatannya pada siklus 2. Aktivitas guru dalam pengelolaan
pembelajaran seperti pada Tabel 4. Pada Tabel 4, semua parameter pengamatan
menunjukkan mengalami peningkatan, sebagian kecil mengalami penurunan.
Tabel 4. Aktivitas Guru dalam pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2
Siklus
1
2
1
8,11
8,82
2
18,92
23,53
3
13,51
5,88
Parameter
4
5
13,51
13,51
23,53
14,71
6
10,81
8,82
7
16,22
8,82
8
5,4
5,88
Kategori Aktivitas Guru: ≤ 10% rendah (baik), > 10% tinggi (buruk)
Keterangan parameter:
1. Membimbing siswa memahami LKS.
2. Membimbing siswa melakukan pengamatan/percobaan.
3. Membimbing siswa menulis hal-hal yang relevan dengan KBM.
4. Membimbing siswa berdiskusi antar siswa/kelompok/guru.
5. Membimbing siswa melakukan analisis dan mengevalusi proses penyelidikan.
6. Mendorong siswa bertanya kepada siswa lain atau kepada guru.
7. Membimbing siswa menyusun/melaporkan dan menyajikan hasil penyelidikan.
8. Membimbing siswa membuat/menulis kesimpulan pelajaran.
Aktivitas guru pada siklus 1 mendominasi, hal ini dapat dilihat dari
persentase aktivitas guru yang dilakukan pada 6 parameter dari 8 parameter yang
diamati masih di atas 10% yaitu pada parameter 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Pada siklus 2
aktivitas guru sudah kurang mendominasi dalam proses pembelajaran. Respon
siswa di dalam pembelajaran seperti Tabel 5.
Tabel 5. Respon siswa di dalam pembelajaran
No.
1.
2.
3.
Soal Respon
Pendapat siswa mengenai LKS, cara guru mengajar, cara belajar, dan proses
pembelajaran
a. menyenangkan
b. tidak menyenangkan bahkan membosankan
Pendapat siswa mengenai LKS, cara guru mengajar, cara belajar, dan proses
pembelajaran
a. Merupakan hal baru dan sangat membantu siswa dalam belajar
b. Merupakan hal yang tidak baru tetapi membantu siswa dalam belajar
c. Merupakan hal yang tidak baru dan tidak membantu siswa dalam belajar
Kegiatan yang dilakukan selama berlangsungnya proses belajar
a. Dapat menyatakan pendapat untuk menjawab pertanyaan
b.
c.
Dapat melakukan penyelidikan/pengamatan untuk menjawab pertanyaan
Berminat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti ini
F
%
34
1
97,14
2,86
25
10
0
71,43
28,57
0
30
85,71
34
33
97,14
94,29
4.
5.
Siswa dapat memahami dengan baik LKS atau buku-buku sumber yang
digunakan
Menurut siswa susunan kalimat, gambar atau tabel dalam LKS atau bukubuku sumber yang digunakan
a. Tidak baik
b. Cukup baik
c. Baik
d. Sangat baik
29
82,86
0
4
24
7
0
11,42
68,57
20
Pembahasan
Berdasarkan
data
kuantitatif
pembelajaran
dengan
menggunakan
pendekatan inkuiri terbimbing telah mencapai batas ketuntasan klasikal yang telah
ditetapkan yaitu sebesar ≥ 85%. Hal ini ditandai dengan hasil pembelajaran pada
siklus 1 sebesar 91,43%. dan siklus 2 sebesar 88,57%. Pada siklus 1 ke siklus 2
terlihat terjadi penurunan hasil belajar, dilihat dari perolehan nilai ketuntasan
klasikal. Hal ini mungkin disebabkan karena instrumen soal pada siklus 2 lebih
banyak aspek pengetahuannya dibandingkan prosesnya dan soal pada siklus 2
memang cukup sulit, khususnya pada pilihan jawabannya. Namun, penurunan
hasil ini tidak mengurangi ketuntasan klasikalnya menjadi tidak tuntas.
Ketuntasan klasikal ini diperoleh tidak lepas dari kemampuan siswa dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran yang baru, disamping itu kemampuan guru juga
berperan penting yaitu dari cara mengelola kelas. Hasil belajar siswa dalam
banyak hal tercermin pada aspek pengetahuan maupun proses (Afriyani, 2005).
Kadangkala lebih menekankan pada aspek produk, proses, dan keterampilan
(Naparin, 2004), dan bahkan lebih mengutamakan pada aspek proses.
(Ishthifaiyah, 2010)
Aspek proses pada kegiatan pembelajaran ini ditekankan pada hasil LKS
yang dikerjakan oleh siswa. Pada siklus 1, hasil selama proses pembelajaran yang
diperoleh dari LKS berupa test pengetahuan dengan skor rata-rata 13,9 dengan
persentase sebesar 92,7% tergolong pada kategori baik, sedangkan keterampilan
proses skor rata-rata 57,8 dengan persentase sebesar 68% tergolong dalam
kategori cukup baik. Sedangkan pada siklus 2, hasil selama proses pembelajaran
yang diperoleh dari LKS berupa test pengetahuan dengan skor rata-rata 17,5
dengan persentase sebesar 100% tergolong pada kategori baik, sedangkan
keterampilan proses skor rata-rata 66,9 dengan persentase sebesar 81% juga
tergolong dalam kategori baik.
Hasil penelitian di atas sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya,
misalnya pada penelitian yang telah dilakukan oleh Murtiani (2008) menunjukkan
bahwa penggunaan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep Difusi dan
Osmosis pada siswa SMP Negeri 1 Batu Ampar. Selain itu, Erdawati (2008)
melaporkan penggunaan pendekatan Guide Inquiry dapat meningkatkan aktivitas
siswa dan aktivitas guru. Indikator keberhasilan proses belajar siswa ditunjukkan
dari berkurangnya dominasi guru pada proses pembelajaran, pembelajaran lebih
berpusat pada siswa, dan siswa memberikan respon positif terhadap proses
pembelajaran. Dan penelitian terakhir yang dilakukan oleh Belawati (2009),
melaporkan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri terhadap konsep kelangsungan
hidup organisme melalui aktivitas outbond di kawasan
hutan mangrove
mengakibatkan peningkatan pemahaman siswa yang signifikan.
Aktivitas siswa pada pembelajaran konsep Struktur dan Fungsi Jaringan
Tumbuhan melalui pendekatan inkuiri terbimbing dari siklus 1 ke siklus 2 sudah
baik dan menunjukkan peningkatan, karena pada siklus 1 dan 2 terdapat 5
parameter dari 9 parameter yang diamati menunjukkan kategori aktivitas siswa ≥
10%. Pada siklus 2 aktivitas siswa sudah merata pada semua siswa yang berarti
kerjasama dalam kelompok sudah baik serta parameter yang direduksi pada siklus
1 sudah dapat dimasukkan pengamatannya pada siklus 2.
Pada siklus 1 aktivitas siswa yang termasuk kategori baik adalah aktivitas
pada parameter, 1, 2, 3, 4, dan 5 sedangkan pada siklus 2 aktivitas siswa yang
menunjukkan kategori baik terdapat pada parameter 1, 2, 3, 5, dan 8. Perbedaan
parameter yang termasuk kategori baik tersebut menunjukkan adanya peningkatan
aktivitas siswa hubungannya dengan pendekatan inkuiri yang digunakan dalam
proses pembelajaran. Parameter 4 yaitu menulis hal-hal yang relevan dengan
KBM sudah menurun dan parameter 8 yaitu menyusun/melaporkan dan
menyajikan hasil penyelidikan pada siklus 2 meningkat. Hal ini berarti siswa
sudah terbiasa dengan pendekatan inkuiri yang digunakan sehingga dapat terlibat
secara aktif dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Dalam hal ini berarti guru
dapat mengurangi dominasinya dalam proses belajar mengajar.
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan
berpikir. Dengan demikian strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada
hasil belajar juga beriorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria
keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri
bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan
tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna
dari ”sesuatu” yang harus ditemukan oleh siswa melalui proses berpikir adalah
sesuatu yang dapat ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, oleh sebab itu
setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.
(Sanjaya, 2007)
Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang dirancang dengan
menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing juga sejalan dengan pemilihan
konsep Struktur dan fungsi Jaringan Tumbuhan. Pada konsep ini di dalamnya
terdapat kemampuan melakukan keterampilan proses melalui pengamatan secara
langsung terhadap bagian-bagian tubuh tumbuhan seperti akar, batang, daun dan
bunga. Peneliti menemukan adanya keterlibatan siswa secara aktif dalam proses
pembelajaran untuk menemukan konsep dari Struktur dan Fungsi Jaringan
Tumbuhan yang sedang mereka pelajari. Dengan demikian pemilihan konsep ini
sudah sesuai dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing untuk
meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
Aktivitas guru pada pembelajaran konsep Struktur dan Fungsi Jaringan
Tumbuhan melalui pendekatan inkuiri terbimbing ada yang mengalami penurunan
dan ada juga yang malah mengalami peningkatan. Aktivitas guru pada siklus 1
dapat dikatakan masih mendominasi, hal ini dapat dilihat dari persentase aktivitas
guru yang dilakukan pada 6 parameter dari 8 parameter yang diamati masih di atas
10 % yaitu pada parameter 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 yakni membimbing siswa
melakukan pengamatan/percobaan, membimbing siswa menulis hal-hal yang
relevan dengan KBM, membimbing siswa berdiskusi antar siswa/kelompok/guru,
membimbing siswa melakukan analisis dan mengevaluasi proses penyelidikan,
mendorong siswa bertanya kepada siswa lain atau kepada guru dan membimbing
siswa menyusun/melaporkan dan menyajikan hasil penyelidikan. Sedangkan pada
siklus 2 aktivitas guru sudah baik karena aktivitas guru kurang mendominasi
dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Hal ini terlihat pada grafik, hanya 3
parameter dari 8 parameter yang diamati yang menunjukkan kategori aktivitas
guru di atas 10%, yaitu pada parameter 2, 4, dan 5.
Hal ini sejalan dengan teori yang ada dalam pandangan konstruktivisme
yakni peran guru dalam proses pembelajaran dan aktivitas siswa di dalam proses
pembelajaran sangat penting dan keduanya mempunyai hubungan terbalik.
Keaktifan siswa meningkat jika guru mengurangi dominasinya dalam proses
pembelajaran. Sebaliknya keaktifan siswa menurun jika guru cenderung
mendominasi dalam proses pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme,
keaktifan siswa harus meningkat dan guru mengurangi dominasinya di dalam
proses pembelajaran (Bruner, 1990 dalam Ishthifaiyah, 2010). Hal ini terbukti
dengan menurunnya aktivitas guru dari siklus 1 ke siklus 2 dan meningkatnya
aktivitas siswa dari siklus 1 ke siklus 2. Pada siklus 2 distribusi aktivitas siswa
lebih merata pada semua parameter pengamatan dibandingkan dengan aktivitas
siswa pada siklus 1 sehingga aktivitas siswa pada siklus 2 dapat dikatakan lebih
baik daripada aktivitas siswa pada siklus 1.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon guru dan siswa positif
terhadap proses pembelajaran. Respon positif juga diungkapkan siswa yang dapat
diihat pada angket yang diberikan. Ringkasan respon siswa setelah pembelajaran
melalui pendekatan inkuiri terbimbing adalah sebagai berikut :
1. Ada 34 orang siswa (97,14%) menyatakan senang dengan pembelajaran yang
telah dirancang oleh guru. Hal ini disebabkan pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing merupakan hal yang masih baru
bagi siswa. Namun, masih ada 1 orang siswa (2,86%) yang menyatakan tidak
senang terhadap proses pembelajaran yang berlangsung.
2. Pembelajaran semacam ini merupakan hal yang baru dan sangat membantu
dalam belajar bagi 25 orang siswa (71,43%), karena dalam pembelajaran ini
siswa dapat menyatakan pendapat untuk menjawab pertanyaan bagi 30 orang
siswa (85,71%), dapat melakukan pengamatan untuk menjawab pertanyaan
bagi 34 orang siswa (97,14%), dan berminat untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran selanjutnya yang dinyatakan oleh 33 orang siswa (94,29%).
Sedangkan bagi 10 orang siswa (28,57%) pembelajaran yang dilaksanakan
merupakan hal yang tidak baru tetapi membantu siswa dalam belajar.
3. LKS dan buku-buku yang digunakan dapat dipahami oleh 29 orang siswa
(82,86%), karena susunan kalimat, gambar atau tabel yang digunakan
dianggap cukup baik bagi 4 orang siswa (11,42%), baik bagi 24 orang siswa
(68,57%) dan sangat baik bagi 7 orang siswa (20%).
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: 1)
berdasarkan data kuantitatif, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
inkuiri terbimbing telah mencapai batas ketuntasan klasikal yang ditetapkan, baik
pada siklus 1 maupun pada siklus 2. Hasil selama proses pembelajaran yang
meliputi pengetahuan dan keterampilan proses pada siklus 2 tergolong baik. Hal
ini berarti sudah terjadi peningkatan dibandingkan dengan proses pembelajaran
pada siklus 1 yang pada keterampilan proses masih tergolong cukup baik. Jadi
berdasarkan data kuantitatif, hasil belajar telah mencapai batas ketuntasan, 2)
berdasarkan data kualitatif, pembelajaran telah berpusat kepada siswa meskipun
belum optimal. Aktivitas siswa sudah menunjukkan peningkatan dan tergolong
kategori baik dari siklus 1 maupun siklus 2. Dari 9 parameter aktivitas siswa yang
teramati ada 5 parameter menunjukkan adanya peningkatan dan 4 parameter yang
menunjukkan adanya penurunan aktivitas siswa. 3) berdasarkan data kualitatif,
guru sudah bisa mengurangi dominasinya dalam proses pembelajaran dari siklus 1
ke siklus 2, 4) pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing
mendapatkan respon yang positif dari guru dan siswa SMP Negeri 9 Banjarbaru.
Berdasarkan simpulan di atas disarankan 1) aktivitas siswa yang
mengalami penurunan dari siklus 1 ke siklus 2 masih perlu diperhatikan dan
diperbaiki lagi agar nantinya tidak terjadi penurunan aktivitas siswa meskipun
hasilnya tetap dalam kategori baik. 2) perlu adanya perbaikan dalam soal-soal test
agar perubahan peningkatan hasil lebih baik lagi meskipun hasil belajar siswa
telah melampaui batas ketuntasan klasikal pada siklus 1 maupun pada siklus 2. 3)
masih perlu adanya perbaikan pada LKS yang diberikan agar lebih membantu
dalam kegiatan pembelajaran serta memberikan respon yang positif baik pada
siswa maupun guru.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Rineka Cipta. Jakarta.
Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas.
Bumi Aksara. Jakarta.
Ahmadi dan Amri. 2010. Proses pembelajaran Inovatif dan Kreatif dalam Kelas.
Prestasi Pustakaraya. Jakarta.
Belawati, Octa. 2009. Penggunaan Pendekatan Inkuiri Terhadap Pemahaman
Konsep Kelangsungan Hidup Organisme Di Smp Negeri 1 Anjir Muara
Batola. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNLAM. Banjarmasin.
Erdawati, Gusti Marlina. 2008. Peningkatan Pemahaman Siswa Kelas VIIIb SMP
Negeri 16 Banjarmasin pada Sub Konsep kepadatan Penduduk Dan
Permasalahannya dengan Menggunakan Pendekatan guide inquiry.
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNLAM. Banjarmasin.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Ibrahim, Muslimin. 2005. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching &
Learning) Hakikat, Filosofi, & Contoh Implementasinya. FKIP UNLAM.
Banjarmasin.
Ibrahim, Muslimin. 2007. Pembelajaran inkuiri. http://herfis.blogspot.com/2009/
07/pembelajaran-inkuiri.html. Diakses tanggal 18 November 2010.
Ishthifaiyah, Nurul. 2010. Meningkatkan Pemahaman Siswa Sdn Lawahan Pada
Konsep Adaptasi Hewan Melalui Pendekatan Lingkungan. Program Studi
Pendidikan Biologi FKIP UNLAM. Banjarmasin.
Murtiani. 2008. Penggunaan Pendekatan Inkuiri Dengan Pendekatan Kooperatif
Untuk Meningkatkan Pemahaman Difusi dan Osmosis Pada Siswa SMP
Negeri Batu Ampar. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNLAM.
Banjarmasin.
Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Supramono. 2005. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dan Penerapannya
dalam KBM dengan Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Berpikir Siswa SD.
Universitas Negeri Malang (disertasi tidak dipublikasikan).
Download