BAHASA WALIKAN SEBAGAI IDENTITAS AREK MALANG

advertisement
BAHASA WALIKAN SEBAGAI IDENTITAS AREK MALANG
Wahyu Puji Hanggoro
Mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang
Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena bahasa
walikan arema. Penelitian ini menggunakan metode observasi etnografi
dengan mengamati penggunaan bahasa walikan di beberapa tempat oleh
masyarakat Malang, penggunaan bahasa walikan di media sosial, seperti
Facebook, grup BBM, dan media sosial lain. Data dalam penelitian ini
dikumpulkan menggunakan metode observasi dengan teknik rekam dan
catat.Kemudian, datadideskripsikan, dicatat dalam kartu data, dandianalisis
serta disimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa walikan
merupakan salah satu dari ragam bahasa Malang-an yang memiliki variasi
unik, yaitu dengan membalikkan setiap kata dari belakang. Beberapa fungsi
bahasa walikan tersebut adalah (1) sebagai pengenal bahwa pengguna
bahasa walikan adalah orang Malang, (2) sebagai pembeda arek Malang
dengan masyarakat Jawa dari daerah lain, (3) sebagai pemersatu masyarakat
Malang, dan (4) sebagai identitas Malang-an.
Kata kunci: bahasa walikan, identitas bahasa, dan Malang
A. Pendahuluan
Bahasa adalah sistem yang
memiliki variasi sehingga perbedaan
dalam pemakaian bahasa sangat
dimungkinkan untuk terjadi. Hal yang
turut memberi pengaruh penting dalam
suatu perwujudan bahasa adalah
penuturnya. Besarnya peran penutur
dalam mengeluarkan bunyi bahasa,
pertama-tama,
dapat
diperhatikan
melalui pengertian yang diberikan untuk
bahasa, yaitu sistem tanda bunyi yang
disepakati untuk dipergunakan oleh para
anggota kelompok masyarakat tertentu
dalam bekerja sama, berkomunikasi,
dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana,
2007: 3). Variasi bahasa inilah yang
memunculkan berbagai ragam bahasa di
suatu daerah.
Studi tentang ragam bahasa
erat kaitannya dengan sosiolinguistik.
Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
disiplin yang mempelajari bahasa dalam
kaitannya dengan penggunaan bahasa
dalam masyarakat (Chaer, 1994:3).
Sosioliguistik erat kaitannya dengan
interaksi yang terjadi antarmanusia,
salah satunya adalah ragam bahasa
walikan yang terbentuk melalui interaksi.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia
tidak dapat terlepas dari interaksi dengan
manusia lain. Interaksi tersebut memiliki
beragam tujuan, seperti membina kerja
sama, merekatkan hubungan, saling
tolong-menolong,
dan
sebagainya.
Hal itu wajar karena manusia memang
diciptakan sebagai makhluk sosial, yakni
makhluk yang tidak dapat hidup tanpa
mahluk lain.
Bahasa
dan
masyarakat
merupakan dua sisi mata uang yang
tidak dapat dipisahkan, tidak mungkin
ada masyarakat tanpa bahasa dan
tidak mungkin pula ada bahasa tanpa
23
masyarakat. Namun, seiring berjalannya
waktu dalam suatu bahasa juga dapat
terjadi pergeseran. Seiring dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi, maka bahasa pun mengalami
perubahan yang sangat signifikan. Hal
ini disebabkan oleh bahasa memang
tidak dapat lepas dari masyarakat.
Dua hal ini saling berkaitan,begitu juga
adanya fenomena bahasa walikan pada
masyarakat Malang–JawaTimur.
Bahasa walikan merupakan salah
satu dari ragam bahasa Malang-an
yang memiliki variasi unik, yaitu dengan
membalikkan setiap kata dari belakang.
Sejarah bahasa walikan khas Malang,
sesungguhnya dimulai dari pemikiran
para pejuang tempo dulu, yaitu kelompok
Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa
dengan sedikit modifikasi ini dirasa perlu
untuk menjamin kerahasiaan, efektivitas
komunikasi sesama pejuang, selain
sebagai pengenal kawan atau lawan
(semacam sandi) (Al-Hadi: 2011).
Seiring berjalannya waktu, bahasa
walikan telah menjadi bahasa khas
arema atau arekMalang. Seperti halnya
,bakso dan apel, bahasa walikan ini juga
menjadi ciri khas Malang. Bahkan, dalam
perkembangannya,
bahasa
walikan
digunakan oleh suporter arema, yakni
aremania dalam berkomunikasi di antara
sesama aremania. Mereka baik secara
sadar maupun tidak sadar menggunakan
bahasa walikan untuk menunjukkan jati
diri dan identitas mereka. Bahasa walikan
ini tidak hanya berupa bahasa lisan, tetapi
juga berbentuk tulisan. Misalnya: Ongis
Nade yang berarti singo edan; aremania
licek yang berarti aremania kecil, dan
masih banyak lagi contoh bahasa walikan
aremania, baik itu bahasa lisan maupun
tulisan.
Fenomena bahasa walikan ini
sesuai dengan pendapat para pakar
linguistik bahwa bahasa sebagai satu
24
sistem lambang bunyi yang arbitrer
yang digunakan sekelompok anggota
masyarakat untuk berinteraksi dan
mengidentifikasi diri (Chaer, 1994).
Dalam suatu kelompok masyarakat
terdapat bahasa yang menjadi tingkah
laku dari masyarakat tersebut. Namun,
dalam masyarakat itu sendiri terdapat
suatu kelompok-kelompok kecil atau
masyarakat kecil yang memiliki tingkah
laku yang berbeda antara kelompok satu
dan yang lain dalam sebuah masyarakat
besar. Hal itu berarti bahwa terdapat pula
bahasa yang berbeda dalam kelompok
masyarakat kecil tersebut yang menjadi
ciri pembeda dari kelompok lain ataupun
dari kelompok masyarakat besar.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati
yang menuturkan dan menafsirkan data
yang berkenaan dengan situasi yang
terjadi, sikap, dan pengaruh terhadap
suatu kondisi perbedaan antarfakta
sebagai data apa adanya. Ancangan
yang digunakan adalah sosiolinguistik
dengan menggunakanmodel penelitian
observasi etnografiyang bertujuan untuk
menghasilkan data tentang wujud bahasa
walikan arek Malang
Penelitian ini dilakukan dengan
melakukan observasi ke lapangan secara
langsung dengan teknik pengumpulan
data melalui pengamatan dan pencatatan
konteks percakapan, merekam tuturan,
dan wawancara serta pengamatan
melalui facebook dan media sosial yang
melibatkan masyarakat Malang. Setelah
data tersebut terkumpul, kemudian penulis
mentranskripsi data dan mengklasifikasi
data berdasarkan domainnya. Setelah
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
diklasifikasi, penulis melakukan analisis
terhadap data penelitian tersebut.
Tujuan analisis adalah mencari
gejala-gejala
kebahasaan
yang
merupakan bahasa walikan khas arek
Malang dan menemukan faktor yang
mempengaruhi bertahannya bahasa
walikan malang. Penulis mengumpulkan
data yang berupa konteks dan tuturan
masyarakat Malang di sekitarMalang kota
dan stadion kanjuruhan ketika ada acara,
seperti pertandingan sepakbola Arema.
Pengumpulan data dilakukan melalui
teknik wawancara dan pengamatan. Data
yang terkumpul kemudian dianalisis.
Penelitian mengkaji dinamika pemakaian
bahasa masyarakat Malang yang
akhirnya dapat dilihat fenomena yang
ada menunjukkan bahwa kebanyakan
masyarakat
Malang
menggunakan
bahasa walikan. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan gambaran untuk
melihat situasi kebahasaan di Malang
dan dapat menjadi dasar hipotesis bagi
penelitian dalam skala yang lebih besar.
Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan metode simak (penyimakan),
yaitu menyimak percakapan masyarakat
Malang, baik ketika mereka berbicara
dengan saudara, tetangga, dan teman
sebaya di lingkungannya secara lisan.
Data lisan dikumpulkan dengan metode
simak yang dibantu dengan teknik simak
libat cakap dan teknik catat. Teknik
simak libat cakap dilakukan dengan
menyimak
sekaligus
berpartisipasi
dalam pembicaraan. Peneliti terlibat
langsung dalam dialog, baik secara aktif
maupun reseptif. Aktif, artinya peneliti
ikut berbicara dalam dialog, sedangkan
reseptif artinya hanya mendengarkan
pembicaraan informan. Peneliti berdialog
sambil menyimak pemakaian bahasa
informan untuk mendapatkan kalimatkalimat dalam bentuk tuturan bahasa
walikan Malang.
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
C. Pembahasan
Struktur Bahasa Walikan Malang
Setiap daerah mempunyai bahasa
walikan yang berbeda. Begitu juga dengan
daerah Malang yang mempunyai bahasa
khas Malang, yakni osob kiwalan Ngalam
atau bahasa walikan malang. Bahasa
walikan merupakan salah satu dari ragam
bahasa Malang-an yang membalikkan
setiap kata dari belakang. Bahasa yang
dibalik dapat berasal dari bahasa Jawa
dan atau bahasa Indonesia. Penggunaan
bahasa ini, yaitu dengan membalikkan
setiap kata dalam kalimat, sedangkan
struktur kalimatnya tetap seperti aslinya.
Berikut adalah beberapa contoh
kata dalam bahasa walikan. Kata benda,
adepes: sepeda, rotom: motor, libom:
mobil, utapes: sepatu, landas: sandal,
dan soak: kaos. Nama tempat, hamur:
rumah, ayabarus: surabaya, arudam:
madura, amalatok: kotalama, onosogrem:
mergosono, nahelop: polehan, dan
rajajowas: sawojajar.
Nama makanan dan minuman,
oges: sego (nasi), lecep: pecel, ipok:
kopi, oskab: bakso, dan itor: roti. Kata
kerja, ngayambes: sembahyang, rudit:
tidur, nakam: makan, halokes: sekolah,
hailuk: kuliah, ngalup: pulang, ladub:
budal (berangkat), rekem: meker (mikir),
uklam: mlaku (jalan), utem: metu (keluar),
dan helom: moleh (pulang).
Kata sifat, keterangan, dan
predikat, tahes: sehat, sinam: manis,
ewul: luweh (lapar), kadit: tidak, itreng:
ngerti, kewut: tuwek (tua), licek: kecil,
komes: semok, dan nayamul: lumayan.
Kata sebutan, sam: mas, ayas: saya,
umak: kamu, kodew: wedok (perempuan),
ojob: bojo (pacar atau pasangan hidup),
sukit: tikus, dan nawak ewed: kawan
dewe (dekat). Kata tanya atau sebut,
orip: piro (berapa) dan oyi: iyo (ya). Nama
Orang, tigis: sigit, uyab: bayu, kidnep:
pendik, suga: agus.
25
Dari beberapa contoh di atas,
dapat dipahami bahwa tidak semua kata
dapat di balik begitu saja. Artinya, ada
pengecualian tertentu. Seperti kata yang
terdapat bunyi [ng] dan [ny]. Jika kata
tersebut di balik, maka bunyi tersebut
tidak berubah, sedangkan bunyi lainnya
tetap di balik. Contoh, singo edan: ongis
nade, ngalup: pulang, ngalam: malang,
dan ngolony: nyolong (mencuri). Selain
itu, penggunaan bahasa walikan ini
berdasarkan pada bunyi yang sesuai
dan enak untuk diucapkan. Contoh kata
menjes (sejenis tempe) dibalik menjadi
senjem, orang menjadi genaro. Seperti
yang telah disampaikan di atas, jika katakata tersebut dijadikan sebuah kalimat,
maka struktur kalimatnya tetap sama,
tetapi hanya struktur katanya yang di
balik. Misalnya: mlaku-mlaku ambek bojo,
mampir makan bakso ndek Sawojajar
(Jalan-jalan dengan istri, mampir makan
bakso di Sawojajar). Menjadi uklamuklam ambek ojob, mampir nakam oskab
ndek rajajowas.
Identitas Aremania dalam Bahasa
Walikan
Bahasa walikan, baik yang
diujarkan maupun yang terdapat dalam
tulisan-tulisan
aremania
sangatlah
berpengaruh pada identitas yang terlihat
pada aremania. Identitas tersebut
membedakan aremania dengan suporter
lain di Indonesia. Identitas yang terbentuk
itu antara lain adalah (1) Aremania adalah
suporter lintas generasi, (2) Aremania
adalah supporter klub sepakbola Arema
yang sangat fanatik, (3) Aremania
adalah suporter klub papan atas ISL, (4)
Aremania sebagai suporter sepakbola
yang gaul.
26
Gb.1. FB Aremania Licek
1) Aremania adalah supporter lintas
generasi. tidak hanya supporter
dewasa, tetapi juga anak-anak yang
secara kultural telah dididik untuk
menjadi supporter arema yang akan
meneruskan perjuangan aremania
pada masa yang akan datang. Hal
itu dibuktikan dengan adanya istilah
“Aremania Licek”, yang berarti
aremania kecil. Istilah tersebut sudah
dikenal oleh masyarakat malang
dan sekitarnya, bukan hanya secara
lisan, tapi juga dengan adanya tulisan
ataupun gambar yang menunjukan
adanya supporter cilik ini.
Gb.2. Salah satu grup FB Aremania
2) Aremania adalah suporter fanatik pada
klub sepak bola Arema. Meskipun
nama arema yang sering berubah,
tetapi aremania tetap konsisten
dalam mendukung klub kesayangan
mereka. Hal itu terlihat pada salah
satu slogan mereka “Aremania tetap
dukung arema sampek ketam”.
Kata terakhir dari ungkapan tersebut,
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
mempunyai arti mati. Jadi, terlihat dari
ungkapan tersebut bahwa aremania
adalah suporter fanatik dari arema.
Mereka siap menjadi pendukung
arema hingga maut menjemput.
Selain itu, fanatisme arema juga
sering terlontar dari kata-kata mereka
yang mendukung arema, baik
ketika arema juara maupun tidak.
“Nganem-halak tetap Arema”,
ungkapan yang sering muncul, baik
ketika Arema kalah dalam laga resmi
maupun persahabatan. Ungkapan
lain yang menunjukan bahwa
aremania adalah suporter fanatik
adalah ketika mereka akan berangkat
menonton Arema berlaga di stadion
Kanjuruhan.“Ladubkan!
Birukan
Kanjuruhan!”.Kata ladubkan yang
berarti budhal atau berangkat,
menunjukan
bahwa
aremania
adalah supporter fanatik yang selalu
memadati stadion Kanjuruhan dalam
setiap laga home. Bahkan, ungkapan
itu juga sering muncul ketika arema
melakukan laga away.
Gb. 3. Profil BBM Salah satu Aremania
3) Aremania adalah suporter klub papan
atas ISL. Klub Arema Cronous adalah
salah satu klub papan atas ISL. Hal
itu dibuktikannya dengan hampir
selalu menempati posisi papan atas
di setiap tahunnya pada perhelatan
ISL. Hal itu mempengaruhi suporter
mereka untuk menjadi suporter yang
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
menunjukan kehebatan klub yang
didukungnya. Bukti dari dukungan
arema tersebut antara lain adalah
ungkapan yang selalu muncul sebelum
arema bertanding. Ungkapan tersebut
adalah “Arema Day, Nganem Day”.
Ungkapan yang berarti “hari arema,
hari kemenangan” atau dapat juga
diartikan sebagai hari kemenangan
arema, menunjukan bahwa ungkapan
itu layak diberikan kepada klub yang
pantas jadi pemenang dalam setiap
laga yang akan dilaluinya. Hal itulah
yang menunjukan bahwa aremania
adalah suporter klub papan atas ISL.
Aremania sebagai Suporter yang gaul.
Hal ini terlihat dari ungkapan. “Arema
mbois ilakes” atau “Arema mbois
loop….!”atau “jadi arema itu mbois
ker…”.Ungkapan itu berarti bahwa
aremania adalah suporter yang gaul
dengan ungkapan mbois lop atau
mbois ilakes, dan sebagainya yang
berarti gaul sekali.
Fungsi Bahasa Walikan sebagai
Identitas Arek Malang
Putra (2008) menyatakan bahwa
identitas merupakan suatu kesadaran
terhadap kesatuan dankesinambungan
pribadi, suatu kesatuan unik yang
memelihara kesinambungan arti masa
lampaunya sendiri bagi diri sendiri dan
orang lain. Kesatuan dan kesinambungan
yang mengintegrasikan semua gambaran
diri, baik yang diterima dari orang lain
maupun yang diimajinasikan sendiri
tentang apa dan siapa dirinya serta apa
yang dapat dibuatnya dalam hubungan
dengan diri sendiri dan orang lain. Identitas
diri seseorang juga dapat dipahami
sebagai keseluruhan ciri-ciri fisik atau
disposisi yang dianut dan diyakininya serta
daya-daya kemampuan yang dimilikinya.
Kesemuanya merupakan kekhasan yang
27
membedakan orang tersebut dari orang
lain dan sekaligus merupakan integrasi
tahap-tahap perkembangan yang telah
dilalui sebelumnya.
Bahasa walikan, baik yang
diujarkan maupun yang terdapat dalam
tulisan-tulisan arek Malang (masyarakat
Malang menyebut dirinya sebagai arek
Malang), baik di dunia nyata maupun di
media sosial sangatlah berpengaruh pada
identitas yang terlihat pada arek Malang.
Identitas tersebut membedakan arek
Malang dengan masyarakat lain di Jawa
Timur dan suku Jawa pada umumnya.
Bahasa walikan merupakan bagian dari
bahasa Malang-an yang sebenarnya
masih menjadi bagian dari suku Jawa.
Namun, bahasa ini memiliki ciri khas yang
menjadikan penuturnya beda dengan
masyarakat lain di Jawa. Bahasa walikan
khas Malang yang digunakan oleh arek
Malang ini berfungsi untuk menunjukan
jati diri mereka. Berikut beberapa fungsi
dari bahasa walikan sebagai arek Malang,
di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Pengenal bahwa pengguna bahasa
walikan adalah orang Malang.
Bahasa
walikan
ini
memang
belum terlalu dikenal banyak oleh
masyarakat luar suku Jawa karena
bahasa ini bersifat internal, yakni
hanya untuk kalangan sendiri saja.
Bahasa ini mulai dikenal di tingkat
nasional karena adanya klub sepak
bola asal Malang yang bermain di
liga nasional, yaitu Arema. Bahasa
walikan pada Arema dan suporternya
Aremania, menjadi ciri khas tersendiri
bagi mereka. Ungkapan-ungkapan
seperti ongis nade (singo edan),
Arema day, nganem day (hari arema,
hari kemenangan), Arema sampek
ketam (Arema sampai mati), dan
lain-lain, merupakan ciri khas arema
sebagai orang Malang. Arema sendiri
28
sebenarnya bukan sekedar klub
sepak bola, melainkan lebih merujuk
pada seluruh masyarakat Malang
sebagaimana
kepanjangannya,
Arek Malang. Sejak saat itu, bahasa
walikan selalu identik dengan Arema.
Jadi, jika masyarakat luar Malang
bertemu dengan arekmalang di
berbagai daerah di Indonesia, mereka
akan segera paham dengan tuturan
yang dibalik sebagai ciri khas arek
Malang.
2. Pembeda arek Malang dengan
masyarakat Jawa dari daerah lain.
Bahasa walikan Malang adalah
bahasa unik yang berkembang di
masyarakat Malang dan sekitarnya.
Bahasa ini sebagai pembeda antara
masyarakat
Malang,
khususnya
ketika mereka keluar dari Malang.
Memang, bahasa walikan sudah mulai
dikenal luas di masyarakat Indonesia,
tetapi penutur asli Malang akan
terlihat beda saat menuturkannya
jika dibandingkandengan penutur
dari daerah lain. Hal itu terlihat ketika
penutur asli Malang berbincangbincang dengan pendatang yang
baru belajar bahasa walikan Malang.
Jelas, penutur asli lebih mendominasi
bahasanya dengan bahasa walikan
jika dibandingkan dengan pendatang
yang memang bukan arek Malang.
3. Pemersatu masyarakat Malang.
Dengan adanya bahasa walikan,
masyarakat Malang merasa menjadi
satu bagian yang tidak terpisahkan.
Mereka menjadi kesatuan yang
sangat kuat dalam hal persahabatan,
persatuan,
dan
persaudaraan.
Meskipun sering terjadi perbedaan
pendapat, tetapi hal itu segera
teratasi dengan adanya bahasa
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
walikan ini. Hal itu terlihat dari kalimat
“podho arema e , podho ngalam e
ker, g sah tewur…!!”Jadi, mereka
beranggapan bahwa sesama warga
Malang, sesama aremania, jangan
sampai ruwet atau berselisih.
4. Identitas Malang-an.
Hal ini sudah jelas pada pembahasan
sebelumnya bahwa bahasa walikan
khas arek Malang adalah sebagai
identitas Malang-an atau orang
Malang.
Mereka
menyebutnya
sebagai genaro ngalam, atau orang
Malang. Hal itu sangat jelas bahwa
bahasa walikan bukan sekedar ragam
bahasa, tetapi bahasa walikanadalah
identitas orang Malang dan sekitarnya.
Faktor
yang
Mempengaruhi
Bertahannya Bahasa Walikan di
Malang
Seperti sudah dituliskan pada
bagian sebelumnya, bahwa bahasa
walikan merupakan warisan dari para
pejuang kota Malang yang telah berumur
setengah abad lebih. Namun, eksistensi
bahasa tersebut masih ada sampai saat
ini. Tentu, umur panjang tersebut bukan
suatu kebetulan saja, melainkan ada
faktor yang mempengaruhinya. Bahasa
walikan yang kini sudah menjadi bahasa
gaul tersebut sudah lama digunakan para
pejuang di masa sebelum kemerdekaan.
Bahasa walikan sudah lama menjadi
sandi-sandi khusus para pejuang untuk
berkomunikasi dengan para pribumi.
Bahasa tersebut digunakan untuk
mengelabuhi para penjajah di zaman
Belanda. Sebab, dengan cara itu, ternyata
lebih mudah menjalin hubungan dengan
sesama pejuang.
Kini, bahasa walikan sudah
“membaur” jadi satu dengan masyarakat
Malang. Bahkan, kini sudah menjadi
trade mark warga Malang. Bahasa
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
walikankini sudah menjadi bahasa gaul
dari berbagai kalangan. Tidak hanya
anak muda, yang tua pun masih awet
menggunakannya.
Bahkan,
bahasa
walikan ini dapat mempererat hubungan
persaudaraan.
Fanatisme
terhadap
klub sepak bola Arema menjadi menjadi
salah satu faktor tetap eksisnya bahasa
tersebut di kalangan Arek Malang. Selain
itu, tingginya fanatisme arek-arek Malang
terhadap kota dan daerahnya serta
identitas mereka sebagai arek Malang.
Jadi, fanatisme terhadap klub
sepakbola Arema dan sebagai arek
Malang merupakan faktor penting yang
membuat bahasa walikan ini masih
bertahan. Arema adalah salah satu simbol
dukungan arek-arek Malang dalam dunia
sepak bola. Arema sendiri tidak sekedar
persatuan sepak bola, tetapi merupakan
suatu identitas tersendiri bagi arek
Malang.
D. Penutup
Bahasa walikan berasal dari
pemikiran para pejuang tempo dulu,
yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota
(GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu
untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas
komunikasi sesama pejuang, selain juga
sebagai pengenal identitas kawan atau
lawan.Seiring berjalannya waktu, bahasa
walikantelah menjadi bahasa khas arema
atau arek Malang. Seperti halnya bakso
dan apel, bahasa walikan ini menjadi ciri
khas Malang.
Bahasa walikan merupakan salah
satu dari ragam bahasa Malang-an
yang memiliki variasi unik, yaitu dengan
membalikkan setiap kata dari belakang.
Bahasa yang dibalik bisa berasal
dari bahasa Jawa dan atau bahasa
Indonesia. Penggunaan bahasa ini, yaitu
dengan membalikkan setiap kata dalam
kalimat,sedangkan struktur kalimatnya
tetap seperti aslinya. Namun, tidak semua
29
kata dapat di balik begitu saja. Artinya,
ada pengecualian tertentu. Seperti kata
yang terdapat bunyi [ng] dan [ny]. Jika
kata tersebut di balik, maka bunyi tersebut
tidak berubah, sedangkan bunyi lainnya
tetap di balik. Contoh, singo edan: ongis
nade, ngalup: pulang, ngalam: malang,
dan ngolony: nyolong (mencuri). Selain itu,
penggunaan bahasa walikandidasarkan
pada bunyi yang sesuai dan enak untuk
diucapkan. Contoh kata menjes (sejenis
tempe) dibalik menjadi senjem, dan orang
menjadi Genaro.
Fungsi bahasa walikan sebagai
identitas arek Malang terlihat ketika
mereka dengan bangga menggunakan
bahasa tersebut dalam percakapan
keseharian,baik itu ketika berada di
Malang, maupun di luar Malang untuk
dikomunikasikan
kepada
sesama
arek Malang. Adapun beberapa fungsi
bahasa
walikan
tersebut
adalah
sebagai (1) pengenal bahwa pengguna
bahasa walikan adalah orang Malang,
(2) pembeda arek Malang dengan
masyarakat Jawa dari daerah lain, (3)
pemersatu masyarakat Malang, dan (4)
identitas Malang-an.
Fanatisme
arek-arek
Malang
terhadap, kota dan identitas mereka
sebagai arek Malang merupakan faktor
penting yang mempengaruhi eksistensi
dari bahasa walikan ini. Selain itu, klub
sepak bola Arema adalah salah satu
simbol dukungan arek-arek Malang dalam
dunia sepak bola. Arema merupakan
kebanggaan arek Malang dalam menjaga
identitas mereka dengan menggunakan
bahasa walikan sebagai ciri khas mereka.
Daftar Pustaka
Al Hadi, Saif. 2011. “Ragam Bahasa Malang-an”dalamhttp://berbahasa-bersastra.
blogspot.com/2011/03/ragam-bahasa-malangan- sebuah-kajian.html.
diakses
tanggal 20/11/2014.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta :Rineka Cipta
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Bahasa dan Linguistik. Dalam Kushartanti,
Untung Yuwono, Multamia RMT Lauder (ed.). Pesona Bahasa: Langkah Awal
Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Putra, Idham. 2008. “Teori Identitas Sosial” dalam
com/2008/10/21/teori-identitas-sosial/html.
30
https://idhamputra.wordpress.
diakses tanggal 23/04/2016.
ETNOGRAFI / Vol. XVI / No. 1 / 2016/ 1-58
Download