PDF - Jurnal UNESA

advertisement
Pengaruh Penggunaan Media Gambar
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
PADAMATERI TOKOH-TOKOH SEJARAH KELAS IV
Fadina Renza Palupi
PGSD FIP,Universitas Negeri Surabaya ( [email protected])
FX. Mas Subagio
PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya
Abstrak
IPS merupakan salah satu nama mata pelajaran yang diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah., dan salah satu studi IPS yang diajarkan di SD adalah sejarah. Namun kenyataannya, siswa
justru tidak terlalu menyukai mata pelajaran IPS karena identik dengan hapalan sehingga terasa
membosankan dan malas untuk mempelajarinya. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang
berkualitas,
guru harus lebih inovatif yaitu salah satunya pembelajaran menggunakan media
gambar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media gambar terhadap hasil belajar siswa
materi tokoh-tokoh sejarah siswa kelas IV SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya. Rancangan penelitian ini
menggunakan rancanganquasi experimentalyang menggunakan desain penelitian one-group pretestposttest design.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes yang meliputipretest-posttest. Analisis data
yang digunakan yaitu uji validitas, reliabilitas, normalitas dan uji t. Pada uji validitas ditemukan 11 butir
soal valid dari 25 butir soal, pada uji reliabilitas harga r11=0,888 (reliable), Pada uji normalitas harga
X2hitung= 9,2 (berdistribusi normal). Pada uji t diperoleh hasil bahwa thitung=7,92 dan ttabel=2,060, sehingga
thitung> ttabel. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan terhadap
hasil belajar IPS materi tokoh-tokoh sejarah.
Kata Kunci: pengaruh,media gambar, hasil belajar.
Abstract
Social science is one of subjects name that taught in elementary school and secondary school. One of
social science study that taught on elementary school is history. In reality, however, student dislike social
science since identic with memorizing so that it felt bored and reluctant to learn it. To create qualified
learning process, teacher must be more innovative namely by applying picture media in learning. This
research aimed to found out the effect of picture media application to fourth grade learning result of SDN
Lidah Kulon IV/467 Surabaya. This was a quasi-experiment research with one-group pretest-posttest
design. Data collecting conducted by test technique which included pretest and posttest. Data analysis
that performed was validity test, reliability test, normality and t-test. On validity test it found 11 valid test
items from 25 test items, on reliability test r11 value = 0,888 (reliable), on normality test X 2count value =
9,2 (normal distribution). On t-test it was obtained that tcount = 7,92 and ttable = 2,060, so that tcount> ttable.
Based on those results, it can be conclude that there was significant effect to social science learning
result on history figures matter.
Keywords:effect, picture media, learing result.
Dalam pelajaran tematik khususnya mata pelajaran
IPS, anak diarahkan untuk dapat menjadi warga negara
Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, serta
warga dunia yang cinta damai. Pendidikan IPS SD
disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis dari
disiplin ini terletak pada fenomena yang telah diobservasi
di dunia nyata. Sejarah adalah studi tentang kehidupan
manusia di masa lampau. Pembelajaran sejarah pada
hakikatnya diberikan untuk membekali siswa agar tidak
melupakan peristiwa sejarah yang pernah terjadi serta
tokoh-tokoh yang berjasa di masa itu.
Menurut Wijaya (dalam Gunawan, 2013: 191) sejarah
menjadi mata pelajaran wajib bagi peserta didik dan
PENDAHULUAN
IPS merupakan salah satu nama mata pelajaran yang
diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Salah satu studi IPS yang diajarkan di SD adalah sejarah,
dimana pembelajaran sejarah pada hakikatnya diberikan
untuk membekali siswa agar tidak melupakan peristiwa
sejarah yang pernah terjadi serta tokoh-tokoh yang ikut
berjuang di masa itu. Sejarah mempunyai peran yang unik
dan amat penting dalam perkembangan sosial dan personel
melalui tranmisi warisan kebudayaan masyarakat seperti
mengadakan penyelidikan oleh anak-ank memilih, sikap
dan nilai-nilai masyarakat pada masa lampau.
47
JPGSD Volume 03 Nomor 02 Tahun 2015,
memberikan wawasan untuk lebih menghayati serta
menghargai negeri dan bangsanya, menumbuhkan rasa
hormat dan bangga akan kehebatan dan pencapaian yang
berhasil diraih oleh bangsa Indonesia di masa lampau serta
menunjukkan serangkaian perjuangan Indonesia dalam
merebut kemerdekaannya dari penjajah. Namun
kenyataannya, siswa justru kurang menyukai mata
pelajaran sejarah karena identik dengan hapalan sehingga
terasa membosankan dan malas untuk mempelajarinya.
Untuk menciptakan proses pembelajaran yang
berkualitas, guru seringkali menemukan kesulitan dalam
memberikan materi pembelajaran. Khususnya bagi guru
ips dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih
menunjukan kekurangan dan keterbatasan. Terutama
dalam memberikan gambaran fakta dari materi yang
disampaikan, sehingga hal tersebut berakibat langsung
kepada tidak meratanya dan rendah kualitas hasil belajar
yang dicapai oleh para siswa. Kondisi semacam ini akan
terjadi selama guru masih menggangap bahwa dirinya
merupakan sumber belajar bagi siswa dan mengabaikan
sumber – sumber belajar lainnya.
Pendidikan yang baik didukung oleh sistem
pembelajaran yang baik pula. Oleh karena itu, untuk dapat
mencapai tujuan pembelajaran sejarah, guru dapat
membuat aktivtas belajar menjadi menyenangkan dengan
membuat kombinasi rencana pembelajaran. Media yang
menarik dan penjelasan dari guru yang baik dan tidak
monoton maka anak akan lebih mudah dalam
mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Ketika
belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti cukup
penting , karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan
materi yang disampaikan dapat dibantu dengan
menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan materi
yang akan disampaikan kepada anak didik dapat
disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat
mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui
kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan materi
dapat dikonkretkan dengan kehadiran media
Berdasarkan Hasil observasi yang dilakukan pada
kegiatan magang IV di kelas IV SDN Lidah KulonIV /
467 Surabaya sungguh sangat berbeda. Dalam proses
pembelajaran ips di kelas dianggap kurang efektif, karena
model pembelajaran yang hanya didominasi oleh guru,
materi diberikan melalui ceramah dan diskusi kelompok
yang hanya berpatokan pada buku, serta kurang
penggunaan media yang menarik perhatian siswa untuk
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut.
Sehingga siswa duduk secara pasif menerima informasi
pengetahuan dan ketrampilan. Hal ini yang merupakan
salah satu penyebab kurangnya minat siswa sehingga
menurunkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu dalam
proses pembelajaran diperlukan media pembelajaran yang
fakta dan realitas, sehingga menarik perhatian dari siswa
untuk mempelajari dan memahami materi yag diajarkan.
Harus diakui media memberikan kontribusi positif dalam
suatu proses pembelajaran. Pembelajaran menggunakan
media yang tepat, akan memberikan hasil yang optimal
bagi pemahaman siswa terhadap materi yang sedang
dipelajarinya.
Berdasarkan masalah di atas, media gambar
merupakan solusi untuk mengatasi masalah. Manfaat
penggunaan media itu sendiri dalam kegiatan belajar
mengajar, terutama untuk tingkat SD sangat penting.
Sebab pada masa ini siswa masih berpikir konkret, belum
mampu berpikir abstrak..
Dari kegunaan media pembelajaran yang telah diuraian
diatas, maka diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu
alternatif untuk memecahkan masalah yang terjadi pada
proses pembelajaran ips di kelas IV SDN Lidah
KulonIV/467 Surabaya. Oleh karena itu untuk perlu
memperkuat alasan penggunaan media gambar di atas
dapat menyelesaikan permasalahan tersebut, penelitian ini
mengangkat judul : “Pengaruh Penggunaan Media
Gambar
Terhadap Hasil Belajar SiswaPada
MateriTokoh-Tokoh Sejarah Kelas IV SDN Lidah
KulonIV/467 Surabaya”
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan
diatas maka, yang menjadi rumusan masalah adalah
“Bagaimana pengaruh penggunaan media gambar terhadap
hasil belajar siswa pada materi tokoh-tokoh sejarah kelas
IV SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya?”.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar
terhadap hasil belajar siswa pada materi tokoh-tokoh
sejarah kelas IV SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya.
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang
secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau
‘pengantar’. Heinich (dalam Susilana dan Riyana, 2011:
6) menyatakan bahwa media merupakan alat saluran
komunikasi. Sebuah organisasi yang bergerak dalam
teknologi pendidikan dan komunikasi atau AECT (dalam
Dwiyogo, 2013: 3) mengartikan media sebagai segala
bentuk saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan
pesan atau informasi.
Adapun beberapa konsep atau defenisi media
pendidikan atau media pembelajaran. Gagne’ dan Briggs
(dalam Arsyad, 2011: 4) secara implisist mengatakan
bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik
digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran,
yang terdiri dari antara lian buku, tape recorder, kaset,
video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai),
grafik, televisi, dan komputer.
Dari berbagai pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa media pembelajaran adalah segala alat atau sarana
yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar
yang dapat membangkitkan semangat, perhatian, serta
48
Pengaruh Penggunaan Media Gambar
memudahkan guru menyampaikan isi materi pelajaran
kepada peserta didik.
Sudjana (dalam Djamarah dan Aswan, 2002: 152)
merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam
kategori, sebagai berikut : (a) Penggunaan media dalam
proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi
tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat
bantu untuk mewujudkan sutuasi belajar mengajar yang
efektif. (b) Penggunaan media pengajaran merupakan
bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini
berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu
unsur yang harus dikembangkan guru. (c) Media
pengajaran dalam pengajaran, penggunaannya integral
dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung
pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus
melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran. (d)
Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata
alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar
melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian
siswa. (e) Penggunaan media dalam pengajaran lebih
diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar
dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang
diberikan guru. (f) Penggunaan media dalam pengajaran
diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Dengan perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar
yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa,
sehingga mempunyai nilai tinggi.
Menurut Arsyad (2013: 28) menjelaskan secara umum
media pembelajaran mempunyai manfaat sebagai berikut :
(a) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa
sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. (b) Bahan
pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat
lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya
menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran. (c) Metode
mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru,
sehinga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan
tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam
pelajaran. (d) siswa dapat lebih banyak melakukan
kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian
guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lainlain.
Penggunaan media dalam pembelajaran atau disebut
juga pembelajaran bermedia dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat
baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan
belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa. Menurut Sudjana dan Rivai (2013: 4) ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih
media pembelajarn di antaranya yaitu : (a) Ketepatannya
dengan tujuan pengajaran : Artinya, media pengajaran
dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah
ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan
unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih
memungkinkan digunakannya media pengajaran. (b)
Dukungan terhadap isi bahan pengajaran : Artinya, bahan
pengajaran yang sifatnya fakta, prinsip konsep, dan
generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih
mudah dipahami siswa. (c) Kemudahan memperoleh
media : Artinya, media yang diperlukan mudah diperoleh,
setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu
mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa
biaya yang mahal, di samping sederhana dan praktis
penggunaannya.
(d)
Keterampilan guru dalam
menggunakannya : Apapun jenis media yang diperlukan
syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam
proses pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan
bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaan
oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa
dengan
lingkungannya.
(e)
Tersedia
waktu
menggunakannya : Sehingga media tersebut dapat
bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. (f)
Sesuai dengan taraf berpikir siswa : Memilih media untuk
pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf
berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di
dalamnya dapat dipahami oleh para siswa..
Di antara media pendidikan, gambar atau foto adalah
media yang paling umum dipakai. Keduanya merupakan
bahasa yang paling umum, yang dapat dimengerti dan
dapat dinikmati dimana-mana. Melalui media gambar,
pesan disalurkan dari sumber kepada penerima dengan
mengandalkan indra penglihatan. Pesan dituangkan dalam
bentuk simbol-simbol komunikasi visual. Misalnya
gambar, sketsa, diagram, bagan grafik, kartun, poster, dan
peta. Secara khusus media gambar adalah penyajian
visual dua dimensi yang memanfaatkan rancangan
gambar sebagai sarana pertimbangan mengenai kehidupan
sehari-hari, misalnya menyangkut manusia, peristiwa,
benda, tempat, dan sebagainya.
Menurut Sudjana dan Rivai (dalam Hamdani. 2011:
262) media gambar adalah media yang mengombinasikan
fakta dan gagasan secara jelas dan kuat melalui kombinasi
pengungkapan kata-kata dan gambar-gambar. Lebih
lanjut, media gambar berfungsi memberikan variasi dan
fakta yang memungkinkan akan dilupakan atau diabaikan.
Media gambar merupakan media yang sederhana, mudah
dalam pembuatannya, dn murah harganya. Media gambar
atau media grafis terdiri atas gambar, bagan, diagram,
poster, kartu, dan komik.
Menurut Hamdani (2011: 250) terdapat beberapa
fungsi media gambar di antaranya sebagai berikut : (a)
Menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. (b)
Menarik perhatian. (c) Memperjelas sajian ide yang
ditampilkan. (d) Mengilustrasikan atau menghiasi fakta
49
JPGSD Volume 03 Nomor 02 Tahun 2015,
yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan
apabila tidak digrafiskan.
Menurut Hamdani (2011: 251) ada enam syarat yang
perlu dipenuhi oleh gambar atau foto yang baik sehingga
dapat dijadikan media pendidikan, antara lain : (a)
Autentik : Gambar tersebut harus secara jujur melukiskan
situasi orang melihat benda sebenarnya. (b) Sederhana :
Komposisi gambar hendaknya cukup jelas menunjukkan
poin-poin pokok dalam gambar. (c) Ukuran relatif :
Gambar atau foto dapat membesarkan atau memperkecil
objek atau benda sebenarnya. (d) Gambar atau foto
sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan : Gambar
yang baik tidaklah menunjukkan objek dalam keadaan
diam, tetapi memperlihatkan aktivitas tertentu. (e)
Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai
tujuan pembelajaran : Walaupun dari segi mutu kurang,
gambar atau foto karya siswa sendiri sering kali lebih
baik. (f) Tidak setiap gambar yang bagus merupakan
media yang bagus : Sebagai media yang baik, gambar
hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
Adapun kelebihan media gambar (dalam Hamdani,
2011: 250) diantaranya : (1) Sifatnya konkret : Gambar
lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan
dengan media verbal semata. (2) Gambar dapat mengatasi
batasan ruang dan waktu : tidak semua benda, objek atau
peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan para siswa tidak
selalu bisa dibawa ke objek atau peritiwa tersebut.
Gambar atau foto dapat mengatasi hal tersebut. (3) Media
gambar atau foto dapat mengatasi keterbatasan
pengamatan kita : Sel atau penampang daun yang tidak
mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan
dengan jelas dalam bentuk gambar atau foto. (4) Foto
dapat memperjelas suatu masalah : Dalam bidang apa saja
dan untuk tingkat usia berapa saja sehingga dapat
mencegah kesalahpahaman. (5) Foto harganya murah dan
gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan
peralatan khusus. Sedangkan kelemahan media gambar
(dalam Hamdani, 2011: 251) yaitu : (1) Gambar atau foto
hanya menekankan persepsi indra mata. (2) Gambar atau
foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk
kegiatan pembelajaran. (3) Ukurannya sangat terbatas
untuk kelompok besar.
Menurut Hamdani (2011: 263) dalam pengajaran
dengan menggunakan media gambar terdapat beberapa
prinsip yang harus dipenuhi, yaitu : (a) Gambar harus
realistis dan digunakan dengan hati-hati. Gambar yang
sangat terperinci dengan realisme yang sulit diproses dan
dipelajari, sering mengganggu perhatian. (b) Gambar
harus berfungsi untuk melukiskan perbedaan konsepkonsep. (c) Warna harus digunakan untuk mengarahkan
perhatian dan membedakan komponen-komponen.
Belajar adalah proses yang terus-menerus, yang tidak
pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas.
belajar juga merupakan kegiatan paling pokok dalam
proses belajar-mengajar manusia, terutama dalam
pencapaian tujuan institusional suatu lembaga pendidikan
atau sekolah. Menurut Siahaan (dalam Hamiyah Nur dan
Jauhar Mohammad, 2014: 1) belajar adalah suatu bentuk
pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dengan cara bertingkah laku yang baru
berdasarkan pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang
baru itu, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya
pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifatsifat sosial dan emosional.
Menurut Darsono (dalam Hamdani, 2011: 22) terdapat
beberapa ciri belajar, diantaranya yaitu : (a) Belajar
dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan. Tujuan
ini digunakan sebagai arah kegiatan, sekaligus tolak ukur
keberhasilan belajar. (b) Belajar merupakan pengalaman
sendiri, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Jadi,
belajar bersifat individual. (c) Belajar merupakan proses
interaksi antar individu dan lingkungan. Hal ini berarti
individu harus aktif apabila dihadapkan pada lingkungan
tertentu. Keaktifan ini dapat terwujud karena individu
memiliki berbagai potensi untuk belajar. (d) Belajar
mengakibatkan terjadinya perubahan pada idir orang yang
belajar. Perubahan tersebut bersifat integral, artinya
perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor
yang terpisahkan satu dengan yang lainnya.
Adapun prinsip-prinsip belajar dalam pembelajaran
menurut Hamdani (2011: 22) diantaranya yaitu : (a)
Kesiapan belajar. (b) Perhatian. (c) Motivasi. (d)
Keaktifan siswa. (e) Mengalami sendiri. (f) Pengulangan.
(g) Materi pelajaran yang menantang. (h) Balikan dan
penguatan. (i) Perbedaan individual.
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua
kata yang membentuknya yaitu “hasil” dan “belajar”.
Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan
akibat dilakukannya suatu ativitas atau proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.
Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang
menjadi hasil belajar. Menurut Winkel (dalam Purwanto,
2014: 45) hasil belajar adalah perubahan yang
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah
lakunya. Lebih jelas, hasil belajar adalah perubahan
perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek
potensi kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran
yang dikategorikan oleh para pakar pendidikan
sebagaimana tersebut tidak dilihat secara fragmentaris
atau terpisah, melainkan komprehensif.
Horward Kingsley (dalam Sudjana, 2012: 22)
membagi tiga macam hasil belajar, yakni : (a)
Keterampilan dan kebiasaan. (b) Pengetahuan dan
pengertian. (c) Sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis
50
Pengaruh Penggunaan Media Gambar
hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah
ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne (dalam
Sudjana, 2012: 22) membagi lima kategori hasil belajar,
yakni (a) Informasi verbal. (b) Keterampilan intelektual.
(c) Strategi kognitif. (d) Sikap. (e) Keterampilan motoris.
Hasil belajar bergantung pada apa yang dipelajari,
bagaimana bahan pelajaran itu dipelajari, dan faktorfaktor yang mempengaruhi proses belajar (termasuk
kemampuan intelegensi dan bakat). Karena faktor-faktor
mempengaruhi proses belajar tidak pernah sama, maka
hasil belajar tiap-tiap orang akan selalu berbeda.
Menurut Rusyan dkk (1989: 62) ada faktor-faktor
yang mempengaruhi proses dan hasil belajar dapat
digolongkan ke dalam empat kelompok yaitu : (a) Bahan
atau hal yang harus dipelajari : Bahan yang harus
dipelajari akan menentukan strategi belajar mengajarnya.
Belajar dengan pengertian memerlukan modalitas belajar
yang berupa pengertian bahasa, pengetahuan dan
pengalaman belajar lau dan lain-lain. (b) Faktor-faktor
lingkungan : Faktor lingkungan eksternl dapat berupa
lingkungan alam atau lingkungan fisik dan lingkungan
sosial. (c) Masukan instrumental (instrumental input) :
Faktor instrumental merupakan masukan pada proses
belajar. Wujudnya berupa perangkat keras (gedung,
perlengkapan, dsb) dan perangkat lunak (kurikulum,
program dan pedoman belajar). (d) Kondisi individual
peserta didik : Dapat dibedakan atas kondisi fisiologis dan
psikologis. Yang termasuk ke dalam kondisi fisiologis
adalah keadaan pancaindera dan kondisi kesehatan. Yang
termasuk ke dalam kondisi psikologis adalah keadaan dan
fungsi psikologis seperti perhatian, pengamatan,
tanggapan, fantasi, ingatan, berpikir, intelegensi, bakat,
dan motif.
(Sugiono, 2010 :204)
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah SDN
Lidah Kulon IV/467 Surabaya dan SDN Lidah Wetan
II/462 Surabaya. Pada penelitian ini yang menjadi sampel
yaitu siswa kelas IV-B SDN Lidah Kulon IV/467
Surabaya dan siswa kelas IV-D SDN Lidah Wetan II/462
Surabaya.
Dalam penelitian ini, variabel yang akan diteliti dapat
dikategorikan sebagai berikut : (1) Variabel bebas :
penggunaan media gambar. (2) Variabel terikat : hasil
belajar siswa. (3) Variabel kontrol : soal pre-test dan posttest memiliki tingkatan yang sama, dan guru yang
mengajar tetap dan tidak boleh ganti guru yang berbeda
selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Instrumen penelitian menggunakan instrumen lembar
tes soal.Lembar tes berupa soal pre-test dan post-test.
Soal yang diberikan harus sama dengan soal yang
diberikan pada saat pre-test. Hasil pekerjaan peserta didik
yang diselesaikan peserta didik setelah diberi perlakuan
akan dibandingkan dengan hasil kerja pada saat sebelum
diberi perlakuan. Adapun teknik pengumpulan data yang
digunakan yaitu dengan menggunakan tes hasil belajar.
Tes hasil belajar ini digunakan untuk mengukur
penguasaan konsep atau hasil belajar siswa. Butir soal
dikembangkan berbentuk soal pilihan ganda. Pertanyaan
penguasaan hasil belajar ini berhubungan dengan level
berpikir dari domain kognitif Bloom berupa C1, C2, C3,
C4, C5, dan C6 yaitu dimulai dari menghafal, memahami,
menerapkan,
menganalisis,
mengevaluasi,
dan
menciptakan. Akan tetapi, pada pembuatan soal tes hasil
belajar siswa pada penelitian ini hanya mencakup 4 level
berpikir dari domain kognitif Bloom yaitu mengahafal
(C1), memahami (C2), menganalisis (C4), dan
mengevaluasi (C5). Indikator penguasaan hasil belajar
siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian
eksperimen semu (quasi experiment).metode jenis ini
diguanakn karena pada kenyataannya sulit mendapatkan
kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.
Metode penelitian jenis ini bertujuan untuk mengetahui
ada tidaknya pengaruh atau hubungan sebab-akibat pada
subjek penelitian. Adapun desain rancangan yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan OneGroup Pretest-Posttest Design..Desain One-Group
Pretest-Posttestdapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen dari Variabel
Variabel Penelitian
Indikator
Hasil belajar siswa
Mengahafal
Memahami
Menganalisis
Mengevaluasi
Untuk menggunakan instrumen pengumpulan data,
yaitu data tentang hasil belajar siswa tentang tokoh-tokoh
sejarah, maka digunakan suatu teknik yang tepat agar
seluruh instrumen dapat memberikan manfaat bagi
peneliti dalam proses penelitian. Dalam pengumpulan
data ini, peneliti menggunakan tes objektif hasil belajar
siswa.
O1 X O 2
Keterangan:
O1
: sebelum diberikan perlakuan (pre-test)
O2
: sesudah diberikan perlakuan (post-test)
X
: perlakuan dengan media gambar(treatment)
51
JPGSD Volume 03 Nomor 02 Tahun 2015,
Tabel 2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
Sumber
Jenis Data
Pengumpulan
Instrumen
Data
Data
Siswa
Hasil belajar Pre-test dan
Butir soal
siswa
Post-test
tentang
sebelum dan
tokohsesudah
tokoh
mendapat
sejarah
perlakuan
rxy =
− (∑X)2 } . {(N. ∑Y 2 ) − (∑Y)2 }
Dengan keterangan:
rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel
Y
N = banyaknya siswa
X = nilai hasil uji coba
Y = skor total
Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf
signifikansi 0,05 dan hasil dibandingkan dengan r-tabel.
kriteria pengujiannya adalah (a) Jika r-hitung > r-tabel,
maka instrumen atau item-item pertanyaan berkorelasi
signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid). (b) Jika
r-hitung < r-tabel, maka instrumen atau item-item
pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total
(dinyatakan tidak valid).
Pengujian reliabilitas suatu instrumen adalah perlu
untuk menghasilkan data yang dapat dipercaya. Untuk
menghitung reliabilitas instrumen penelitian ini,
menggunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut:
Analisis data penelitian yaitu dengan menggunakan
analisis korelasional. Dalam memperoleh data dibutuhkan
instrumen sebagai alat mengumpulkan data yang berupa
sejumlah daftar pertanyaan yang disampaikan peneliti
terhadap responden. Instrumen yang dimaksudkan yaitu
berupa soal tentang tokoh-tokoh sejarah. Sebelum
instrumen dijadikan alat pengumpulan data diperlukan uji
instrumen terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk
menguji tingkat validitas dan reliabilitas. Bukan hanya itu
saja, dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan uji
normalitas karena berkaitan dengan ketepatan pemilihan
uji statistik.
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah
sampel yang akan diteliti berasal dari populasi yang
berdistribusi normal atau tidak. Banyak cara yang dapat
digunakan untuk melakukan pengujian normalitas sampel,
diantaranya yaitu : pengujian normalitas dengan kertas
probabilitas normal dan dengan rumus Chi-Kuadrat.
Dalam penelitian ini, pengujian normalitas menggunakan
rumus Chi-Kuadrat. Peneliti menggunakan rumus
tersebut karena dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak
memerlukan sarana khusus seperti pengujian dengan
kertas probabilitas normal.Uji normalitas dilakukan
dengan cara menghitung skor pre-test,Rumus yang
digunakan untuk menguji normalitas adalah sebagai
berikut:
X². = Ʃ
N. ∑XY − ∑X . ∑Y
√{(N. ∑X 2 )
r11 =
2 X r1/21/2
1 + r1/21/2
Keterangan:
r11
= reliabilitas instrumen
r1/21/2= rxy yang disebut sebagai indeks korelasi antar dua
belah instrumen
Berdasarkan desain yang digunakan dalam penelitian
ini, yaitu menggunakan Nonequivalent Control Design,
maka analisis data dilakukan dengan menggunakan rumus
t-test sebagai berikut :
Md
t=
Ʃ𝑥 2 𝑑
√ (𝑁−1)
𝑁
( fo−fh )2
fh
Keterangan:
Md = mean dari deviasi (d) antara post test dan pre test
Xd = perbedaan deviasi dengan mean deviasi
N = banyaknya subjek
(Winarsunu, 2012: 88)
Keterangan :
X2
= nilai Chi-Kuadrat
fo
= frekuensi yang diperoleh
fh
= frekuensi yang diharapkan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
instrumen yang belum berstandar, sehingga untuk
menghindari dihasilkannya data yang tidak sahih maka
terlebih dahulu dilakukan uji coba terhadap instrumen
tersebut yaitu dengan melakukan uji validitas. Adapun
langkah-langkah penentuan validitas yaitu dengan
menghitung harga korelasi setiap butir dengan rumus
Pearson Product Moment yaitu:
Setelah
diperoleh
hasil
dari
penghitungan
menggunakan rumus tersebut, kemudian dikonsultasikan
dengan tabel nilai t. Perbedaan antara hasil pretest dan
posttest dapat dikatakan signifikan jika thitung ≥ ttabel.
52
Pengaruh Penggunaan Media Gambar
HASIL DAN PEMBAHASAN
=
Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan melakukan
penelitian langsung ke lapangan untuk mengumpulkan
data terkait dengan penelitian. Hasil penelitian
berdasarkan tahapan eksperimen secara berturut-turut : (1)
Mengadakan studi pendahuluan. (2) Menentukan masalah
belajar. (3) Melaksanakan tes uji validitas dan reliabilitas.
(4) Perhitungan normalitas sampel. (5) Pelaksanaan uji
coba.
Pada studi pendahuluan ini dilakukan untuk
mendapatkan informasi penting tentang hasil belajar ips
materi tokoh-tokoh sejarah siswa kelas IV SDN Lidah
Kulon IV/467 Surabaya sebagai responden, serta
menentukan subjek penelitian yang terdiri dari siswa
kelas IV-B SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya. kegiatn
studi pendahuluan berupa observasi kepada guru wali
kelas
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi awal di SDN
lidah Kulon IV/467 Surabaya dengan guru kelas IV-B,
peneliti menemukan masalah bahwa siswa kelas IV-B
mengalami kesulitan dalam memahami materi pada
pelajaran IPS.
Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas
terhadap 23 siswa kelas IV-D SDN Lidah Wetan II/462
Surabaya untuk mendapatkan instrumen tes soal yang
valid. Kegiatan ini dilakukan pada har Senin, 02 Maret
2015 pada pukul 09.30-10.30 WIB. Jumlah butir soal
yang diujikan yaitu 25 butir soal yang berbentuk pilihan
ganda dan peneliti bertindak sebagai pengawas.
Untuk mengetahui validitas instrumen tes peneliti
menggunakan data hasil tes yang dihitung dengan rumus
korelasi product moment dengan angka kasar. Jika harga
rxy> rtabel maka soal dikatakan valid dengan taraf
signifikan 5%. Berikut ini adalah hasil perhitungan uji
validitas soal no. 1 , dan hasilnya adalah sebagai berikut:
=
=
𝑟𝑥𝑦
No
Siswa
Skor
Total
Jawaban
Benar
(Y)
X2
Y2
XY
∑
9
1180
9
66480
528
√{(23.
− (9)2 } . {(23.66480) − (1180)2 }
12144 − 10620
√{(207 − 81. )} . {(1529040) − (1392400)}
1524
√17216640
1524
=
4149,29
= 0,367
Dari hasil perhitungan validitas di atas maka dapat
diketahui bahwa rhitung untuk soal no. 1 adalah 0,367 yang
kemudian dikonsultasikan dengan rtabel dengan subyek N
= 22 dengan taraf signifikan 5% dengan batas penolakan
0,413 (tabel nilai rtabel). Dengan demikian jumlah
perhitungan item soal no. 1 lebih kecil dari r tabel (0,367<
0,413), maka item soal nomer 1 dapat dinyatakan tidak
signifikan atau tidak valid karena hasil yang diperoleh
lebih kecil daripada nilai rtabel.
Selanjutnya dengan cara yang sama untuk soal no. 2 –
30 terlampir. Untuk keseluruhan dari uji validitas
instrumen tes diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4
Hasil Uji Validitas Tes
No.
Soal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
Tabel 3
Perhitungan Hasil Uji Validitas Instrumen Tes No. 1
Skor
Perolehan
Siswa
(X)
23 . 528 − 9 . 1180
9. )
Keterangan:
No.
= Nomor siswa
X
= Skor perolehan siswa
Y
= Skor total jawaban benar
N
= Jumlah responden
Setelah itu data tersebut dimasukkan ke dalam rumus
product moment sebagai berikut:
N. ∑XY − ∑X . ∑Y
rxy =
2
√{(N. ∑X ) − (∑X)2 } . {(N. ∑Y 2 ) − (∑Y)2 }
53
rhitung
rtabel
Keterangan
0,367
0,488
0,541
0,664
0,518
0,300
0,809
0,672
0,125
0,485
0,754
0,377
0,123
0,146
-0,400
0,346
0,231
0,333
0,491
0,321
0,488
0,285
0,467
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
0,423
TIDAK VALID
VALID
VALID
VALID
VALID
TIDAK VALID
VALID
VALID
TIDAK VALID
VALID
VALID
TIDAK VALID
TIDAK VALID
TIDAK VALID
TIDAK VALID
TIDAK VALID
TIDAK VALID
TIDAK VALID
VALID
TIDAK VALID
VALID
TIDAK VALID
VALID
24.
0,296
0,423
TIDAK VALID
25.
-0,037
0,423
TIDAK VALID
JPGSD Volume 03 Nomor 02 Tahun 2015,
Untuk mengetahui reliabilitas suatu instrumen tes
peneliti menggunakan data hasil tes yang dihitung dengan
teknik Spearman-Brown. Jika harga r11> rtabel maka soal
dikatakan reliabel dengan taraf signifikan 5%. Setelah
data diketahui, lalu dihitung korelasinya dan dimasukkan
ke rumus Spearman-Brown.Dari hasil penghitungan uji
reliabilitas terlampir diketahui bahwa r11= 0,888 dan dapat
dikonsultasikan dengan N = 22 maka harga rtabel untuk
taraf signifikansi 5% adalah 0,423 (tabel nilai rtabel).
Dengan demikian r11 lebih besar dari rtabel (0,888> 0,423).
Jadi dapat disimpulkan bahwa instrumen pre test dan post
test tersebut dinyatakan reliable.
Uji normalitasbertujuan untuk mengetahui apakah
vsampel yang diteliti berasal dari populasi yang
berdistribusi normal atau tidak.. Untuk mengetahui
homogenitas sampel, data hasil pre-test yang dihitung
dengan rumus Chi-Kuadrat. Hasil perhitungan uji
kenormalan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Indonesia. Kegiatan ini dilakukan pada hari Selasa, 24
Maret 2015 pukul 09.00-09.30. sola post-test ini sama
dengan soal pada saat pre-test yaitu 15 butir soal. Dari
kegiatan ini peneliti akan memperoleh data hasil belajar
siswa pada materi tokoh-tokoh sejarah setelah diberikan
perlakuan atau pembelajaran dengan menggunakan media
benda gambar. Dari hasil pemberian tes akhir (post-test)
pada kelas IV-B SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya,
maka diperoleh data yang signifikan.
Setelah mengumpulkan data yang diperoleh melalui
instrumen tes, maka kegiatan selanjutnya adalah
menyajikan data. Data hasil pre-test dan post-test siswa
dengan menggunakan media gambar terhadap hasil
belajar siswa seperti pada tabel dibawah ini:
No
Nilai ratarata (x)
63
Tabel 5
Hasil Uji Normalitas
Simpangan baku
X2hitung
(s)
18
9,2
Tabel 6
Hasil Pre-test dan Post-test
Jumlah Jumlah
Jumlah
nilai
nilai
Ʃd
siswa
pre-test post-test
1
X
26
1646,58
1866,59
313,31
Ʃd2
5283,54
2
tabel
Dari data di atas kemudian dianalisis seperti berikut :
Ʃ𝑑
𝑀𝑑 =
𝑁
313,31
=
26
= 12,05
37,7
Sampel dikatakan berdistribusi normal jika X2hitung <
X tabel (1-α) (k-1).Dari hasil penghitungan uji normalitas
sampel terlampir diperoleh harga chi-kuadrat hitung
sebesar 9,2, sedangkan harga chi-kuadrat tabel pada α =
5% dengan dk = 26-1 = 25 yaitu sebesar 37,7. Dengan
demikian X2hitung< X2tabel yaitu 9,2 < 37,7. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa sampel yang diteliti berasal dari
populasi yang berdistribusi normal.
Pada tahap pelaksanaan uji coba, peneliti
melaksanakan tes awal (pre-test) yang diberikan kepada
siswa sebelum perlakuan, dan kemudian melaksanakan
tes akhir (post-test). peneliti melakukan tes awal (pre-test)
dengan butir soal yang diberikan yaitu 15 butir soal.
Kegiatan ini dilakukan di kelas IV-B pada hari Rabu, 18
Maret 2015 pukul 07.00-07.30.
Dari data yang diperoleh bahwa hasil belajar siswa
pada materi tokoh-tokoh sejarah kelas IV-B rata-rata
masih rendah.
Proses pemberian perlakuan ini berlangsung dalam
dua kali pertemuan yaitu pada hari Rabu, 18 Maret 2015
dan Selasa 24 Maret 2015. Peneliti memberikan perlakuan
setelah melakukan uji pre-test. Perlakuan yang diberikan
dengan menggunakan media gambar.
Pada
proses
pemberian
perlakuan,
peneliti
mengajarkan materi tokoh-tokoh sejarah menggunakan
media pembelajaran berupa beberapa gambar tokoh-tokoh
sejarah pada masa Hindu, Buddha, dan Islam di
2
( Ʃ𝑑 )2
𝑁
( 313,31 )2
= 5283,54 −
26
98163,15
= 5283,54 −
26
= 5283,54 − 3775,50
= 1508,04
Ʃ𝑋𝑑 2 = Ʃ𝑑 2 −
Kemudian dimasukkan ke dalam rumus t-test sebagai
berikut :
𝑀𝑑
𝑡=
Ʃ𝑋𝑑 2
√ (𝑁−1)
𝑁
12,05
=
1508,40
√26 (26−1)
=
12,05
1508,40
√ 26 (25)
=
12,05
√
54
1508,40
650
Pengaruh Penggunaan Media Gambar
=
harga chi-kuadrat tabel pada α = 5% dengan dk = 26 – 1 =
25 yaitu sebesar 37,7. Dengan demikian X2hitung < X2tabel
yaitu 9,2 < 37,7, hasil ini dapat disimpulkan bahwa skor
hasil belajar berasal dari populasi atau kelas yang
berdistribusi normal.
Setelah pengumpulan dan pengambilan data yang
diperoleh, selanjutnya yaitu melakukan penelitian di
sekolah yang telah ditentukan yaitu SDN Lidah Kulon
IV/467 Surabaya. Dalam tahap penelitian ini mengambil
data dengan menggunakan teknik pre-test dan post-test.
Hasil pre-test dan post-test dari satu kelas tersebut
kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus (uji t).
Hasil penelitian di kelas IV-B SDN Lidah Kulon
IV/467 Surabaya menunjukkan bahwa nilai rata-rata posttest siswa lebih tinggi dari pada nilai pre-test. Hal ini
terbukti dengan nilai pre-test berjumlah 1659,91 dengan
rata-rata kelas sebesar 63,84 dan nilai post-test berjumlah
1853,26 dengan rata-rata kelas sebesar 71,27. Kemudian
dari hasil di atas selanjutnya dilakukan proses analisis
data. Dari hasil perhitungan di atas dapat dikonsultasikan
dengan tabel nilai t untuk db = N – 1 adalah N = 26 – 1 =
25 diketahui harga ttabel untuk taraf signifikasi 5% adalah
2,060 dan diketahui harga thitung adalah 7,92. Dari hasil
tersebut diketahui bahwa harga thitung lebih besar daripada
ttabel (7,92 > 2,060 ). Berdasarkan hasil tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa hasil uji beda (uji t) dengan
menggunakan media gambar berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa materi tokoh-tokoh sejarah.
Dari hasil penelitian di SDN Lidah Kulon IV/467
Surabaya tersebut terdapat pengaruh yang signifikan
melalui penggunaan media gambar terhadap hasil belajar
siswa. Penggunaan media gambar ini juga dapat
membantu guru dalam menciptakan inovasi dalam
mengajar serta membantu untuk meningkatkan
pemahaman siswa..
12,05
√2,3200
12,05
=
1,52
= 7,92
Dari hasil perhitungan di atas dapat dikonsultasikan
dengan tabel nilai t untuk db = N – 1 adalah N = 26 - 1 =
25 diketahui harga ttabel untuk taraf signifikasi 5% adalah
2,060 dan diketahui harga thitung adalah 7,92. Dari hasil
tersebut diketahui bahwa harga thitung lebih besar daripada
ttabel (7,92 > 2,060). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan pada pembelajaran dengan
menggunakan media gambar terhadap hasil belajar siswa
materi tokoh-tokoh sejarah kelas IV-B SDN Lidah Kulon
IV/467 Surabaya.
Pembahasan
Penelitian eksperimen ini dilaksanakan di SDN Lidah
Kulon IV/467 Surabaya. Pembelajaran dilakukan dengan
menggunakan satu kelas saja. Hal ini dikarenakan peneliti
menggunakan metode quasi experiment design dengan
desain One-Group Pretest-Posttest Design. Jadi siswa
diberi pre-test terlebih dahulu sebelum diberi pelakuan.
Setelah diberi perlakuan kemudian diberikan post-test
untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar
terhadap hasil belajar siswa materi tokoh-tokoh sejarah.
Sebelum melakukan penelitian terdapat beberapa
tahap, salah satunya yaitu dengan melakukan uji validitas.
Uji validitas sendiri menggunakan rumus product
moment. Uji validitas ini dilakukan di SDN Lidah Wetan
II/462 Surabaya. Dari 25 butir soal terdapat 11 butir soal
yang valid. Karena soal yang akan digunakan sebagai
instrumen pre-test dan post-test sebanyak 15 butir soal,
maka dari 4 soal yang tidak valid diperbaiki dan
digunakan untuk soal pre-test dan post-test.
Tahap selanjutnya yang dilakukan yaitu perhitungan
reliabilitas instrumen. Untuk mengetahui reliabilitas suatu
instrumen tes , menggunakan data hasil tes yang dihitung
dengan rumus Spearman-Brown dengan cara belah dua
ganjil-genap. Dari hasil penghitungan uji reliabilitas yang
bisa dilihat pada lampiran diketahui bahwa r11 = 0,888
dan dapat dikonsultasikan dengan N = 22 maka harga rtabel
untuk taraf signifikansi 5% adalah 0,423 (tabel nilai rtabel).
Dengan demikian r11 lebih besar dari rtabel (0,888 >
0,423). Jadi dapat disimpulkan bahwa instrumen pre test
dan post test tersebut dinyatakan reliable.
Tahap selanjutnya yang dilakukan yaitu perhitungan
normalitas sampel untuk mengetahui sampel yang diteliti
berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.
Uji normalitas sendiri dilakukan dengan menggunakan
rumus Chi-Kuadrat. Berdasarkan hasil penghitungan
diperoleh harga chi-kuadrat hitung sebesar 9,2, sedangkan
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka
dapat disimpulkan bahwa media gambar berpengaruh
terhadap hasil belajar siswamateri tokoh-tokoh sejarah
kelas IV SDN Lidah Kulon IV/467Surabaya, ditunjukkan
dari hasil perhitungan uji tpada taraf signifikansi 5%
(tingkat kepercayaan 95%) yang diperoleh nilai thitung =
7,92> ttabel = 2,060.
Hasil rata-rata kelas nilai pre-test -test yang diperoleh
siswa kelas IV-B SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya
adalah 63,84 dan rata-rata nilai post-test siswa adalah
71,27. Dari hasil uji beda (uji t) diketahui bahwa harga
thitung lebih besar dari pada harga ttabel yaitu 7,92 > 2,060.
Dengan adanya penggunaan media gambar ini siswa
mendapatkan metode pengajaran yang baru, sehingga
55
JPGSD Volume 03 Nomor 02 Tahun 2015,
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
siswa terlihat antusias dalam mengikuti pembelajaran.
Selain itu dengan penggunaan media gambar ini juga
dapat menarik perhatian siswa dalam memahami materi,
sehingga memudahkan siswa dalam menjawab soal yang
berkaitan dengan tokoh-tokoh sejarah.
Sugono, Dendy. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Susilana, Rudi dan Riyana Cepi. 2011. Media
Pembelajaran
Hakikat,
Pengembangan,
Pemanfaatan dan Penilaian. Bandung: CV
Wacana Prima.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan,
maka peneliti memberikan beberapa saran untuk berbagai
pihak, yaitu bagi guru, bagi lembaga, dan bagi peneliti
lain. Bagi guru, sebaiknya guru menggunakan media
pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran ips
agar dapat membantu siswa dalam memahami materi
pelajaran. Bagi lembaga, hendaknya penggunaan media
gambar digunakan dalam pembalajaran
karena
penggunaan media gambar ini memudahkan siswa
memahami materi pembelajaran, terutama dalam
pembelajaran ips materi pokok tokoh-tokoh sejarah. Bagi
peneliti lain, sebagai bahan rujukan untuk dapat
melakukan penelitian tentang pembelajaran ips dengan
menggunakan metode yang berbeda sehingga siswa dapat
menemukan pengalaman baru dan pengetahuan baru
dalam pembelajaran ips materi tokoh-tokoh sejarah.
Winarsunu, Tulus. 2009. Statistik Dalam Penelitian
Psikologi & Pendidikan. Malang: UMM Press
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Dwiyogo, W.D. 2013. Media Pembelajaran. Malang:
Wineka Media.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung:
Pustaka Setia.
Hamiyah, Nur dan Muhamad Jauhar. 2014. Strategi
Belajar Mengajar Di Kelas. Jakarta: Prestasi
Pustakarya.
Murniati. 2008. Kesiapan belajar matematika di Sekolah
Dasar. Surabaya: Surabaya Intelectual Club.
Nasution. 2006. Berbagai Pendekatan Dalam Proses
Belajar & Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Sadiman, A.S. dkk. 2010. Media Pendidikan. Jakarta:
Rajawali Pers.
Sanaky, Hujair AH. 2010. Media Pembelajaran ( Buku
Pegangan Wajib Guru dan Dosen ). Yogyakarta:
Kaukaba
Sanjaya, Wina. 2013. Strategi Pembelajaran. Jakarta:
Kencana Prenamedia Group.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2013. Media
Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
56
Download