Teori Etologi - Universitas Mercu Buana

advertisement
Modul ke:
Teori Etologi
Rizki Dawanti, M.Psi., Psikolog.
Fakultas
PSIKOLOGI
Program Studi
PSIKOLOGI
Darwin dan Teori Evolusi Teori etologi Bowlby Etologi Modern Evaluasi Teori Eksperimen Lorenz Daftar Pustaka •
•
•
Lahir sebagai suatu pandangan penting karena pakar ilmu hewan
Eropa, khususnya Konrad Lorenz (1903-1989)
Etologi menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi,
terkait dengan evolusi dan ditandai oleh periode yang penting atau
peka
Dengan mengamati perilaku hewan dlm lingkungan yg alami, para
ahli etologi berusaha mengidentifikasi perilaku yg universal dan
spesifik pada spesies tertentu atau diubah oleh budaya tertentu
Darwin dan Teori Evolusi
Teori Darwin dikenal dengan Teori Seleksi Alam yang menyatakan bahwa diantara anggota‐
anggota sebuah spesies, terdapat variasi yang tak terhitung jumlahnya dan diantara anggota yang bermacam‐macam itu, hanya kelompok tertentu yang berhasil bertahan hidup dan bisa terus menghasilkan keturunannya. Terdapat ‘perjuangan untuk bertahan hidup’, dimana anggota‐anggota terbaik sebuah spesies dapat hidup cukup panjang untuk meneruskan sifat unggul mereka kepada generasi berikutnya. Terhadap jumlah generasi yang tak terhitung jumlahnya itu, Alam kemudian ‘memilih’ siapa‐
siapa yang bisa beradaptasi paling baik dengan lingkungan mereka Æ lahirlah istilah ‘seleksi alam’ (Darwin, 1859 dalam Crain, 2007). Etologi Modern: Lorenz dan Tindbergen
Konrad Lorenz (1903‐1989) seringkali dipanggil bapak etologi modern. Lorenz lahir dan besar di Austria. Ayahnya seorang dokter terkenal yang ingin Lorenz mengikuti jejaknya. Meski bersusah payah berjuang hingga lulus kedokteran, namun Lorenz tidak pernah kehilangan antusiasme masa kanak‐kanaknya untuk mempelajari alam dan dunia hewan liar, sehingga ia melanjutkan kuliahnya di fakultas zoologi di Universitas Wina dan meraih gelar Ph.D. Lorenz memulai studi etologinya di awal tahun 1930‐an ketika dia menjadi yakin bahwa kita bisa melihat monumen evolusi didalam pola‐
pola tingkah laku bawaan dari hewan‐hewan, sama jelasnya seperti kita melihat ciri‐ciri fisik mereka (Tanner dan Inhelder dalam Crain, 2007). Niko tindbergen (1907-1988) bekerja di bawah bayang-bayang
Lorenz. Meskipun begitu, etolog menganggap karyanya tetap
substansial. Tindbergen lahir di Hague, Belanda. Sama seperti
halnya Lorens, ia sangat menyukai hewan dan dunia luar saat
masih kecil. Disekolah, Tindbergen terkenal ogah-ogahan. Dia
hanya mau mengerjakan secara maksimal tugas-tugas yang
menarik hatinya. Walaupun demikian, Tindbergen berhasil
mendapat gelar Ph.D dalam bidang biologi di Universitas Leiden
pada 1932 dan mulai melakukan studi-studi etologis yang brilian
Eksperimen Lorenz
• Menggunakan angsa abu‐abu • Dipisah menjadi 2 kelompok (kel.1 dibiarkan tetap bersama induk angsanya setelah menetas, kel.2 diletakkan di inkubator Æ pertama kali menetas yg dilihat adalah Lorenz) Hasilnya : anak2 angsa di inkubator mengikuti kemanapun
Lorenz pergi karena menganggap ia adl induknya Æ Proses
Imprinting yaitu konsep etologis dlm suatu periode waktu yg
kritis yg melibatkan kedekatan dengan objek yg dilihat
bergerak utk pertama kalinya
Video Imprinting Lorenz
Teori Etologis mengenai Perkembangan anak: John Bowlby
• Menerapkan prinsip-prinsip
etologi pada perkembangan
manusia
• Ia memandang kelekatan
bayi pada pengasuhnya
sebagai perilaku yg
berkembang utk mendukung
kelangsungan hidup
Tingkah laku lekat sesudah umur satu tahun
•
•
Tingkah laku lekat pada 2 tahun pertama yang tertuju pada satu orang, akan segera tertuju juga pada orang‐orang lain disekitarnya Tingkah laku lekat anak dapat ditinjau dari 2 macam segi: 1. Tingkah laku lekat terjadi karena proses belajar 2. Tingkah laku lekat merupakan ciri khas manusia Æ utk bercakap2, mengadakan manipulasi dan eksplorasi benda, utk mencari kontak dengan manusia lain Tingkah laku lekat (attachment) merupakan kecenderungan
dasar pada anak yang sudah ada sebelum proses-proses
belajar dapat terjadi
Video ttg Attachment
Dua teori mengenai tingkah laku lekat
Teori Diferensiasi • Anak mempunyai pilihan terhadap orang2 tertentu: pertama adl ibunya, ayahnya, atau anggota2 keluarga yang lain namun menurut Bowlby, ibulah yg dipandang sebagai figur sentral bagi anak; anggota2 keluarga lain tdk mempunyai peranan yg penting sampai sampai dengan umur 6bulan • Sesudah usia 3 tahun kebanyakan anak makin dapat merasa aman dlm situasi asing bersama dgn objek lekat pengganti misalnya dengan saudaranya atau gurunya Æ figur pengganti harus sudah dikenal oleh anak, anak harus dlm kondisi sehat dan anak juga harus tahu dimana ibunya Teori Pararel • Anak sesudah usia 1 tahun segera akan menunjukkan tingkah laku lekat terhadap orang2 dewasa maupun anak2 sebaya lainnya • Di Indonesia, perilaku lekat sangat bergantung pada situasi yg diterima oleh anak • Kelekatan pada anak2 sebaya dapat memberikan banyak pengaruh terhadap pelajaran tingkah laku Tiga jenis kelekatan (attachment) menurut Mary Ainsworth
Secure Attachment Avoidant Attachment • Bayi yg memiliki kelekatan dengan tipe ini akan menangis atau protes saat ibunya meninggalkannya dan menyambutnya dengan senang ketika ibunya kembali. • Bayi‐bayi ini menjadikan ibu mereka sebagai dasar rasa aman mereka • Pada saat ibu mrk hadir, bayi akan meninggalkan ibu mereka untuk menjelajah lingkungan mereka dan terkadang kembali pada ibu mereka untuk memastikan bahwa ibunya masih ada • bayi‐bayi ini biasanya kooperatif dan relatif bebas dari rasa marah • jarang menangis ketika ibu meninggalkannya, tetapi menghindar saat ibu kembali • Mereka cenderung marah dan tidak mencoba menghampiri ibu ketika mereka membutuhkan sesuatu • mereka tidak suka dipegang, tapi lebih suka lagi ketika pegangannya dilepas • menjadi cemas bahkan sebelum ibu meninggalkannya dan akan sangat marah ketika Ambivalen‐ ibu meninggalkannya resistant • Saat ibu kembali, bayi menunjukkan ambivalensinya dengan mencari kontak dengan ibu seraya pada saat yang sama menolak dengan menendang atau menggeliat‐geliat Attachment • bayi yang resistan sedikit mengeksplor dan sulit untuk ditenangkan Evaluasi Teori
• KELEBIHAN 1. Kontribusi teoritis etologi memperluas perspektif tentang penyebab perkembangan 2. Pemahaman tentang perilaku anak diperluas dengan melihat konteks sosial dan rentang waktu yang lebih luas (sejarah spesies) 3. Kontribusi Metodologis à observasi perilaku dalam konteks alamiahnya. Observasi dapat dikombinasikan dengan metode perkembangan tradidional (metode verbal) 4. Kontribusi Isi à karya tentang attachment, peer interaction, komunikasi non verbal dan problem solving • KEKURANGAN 1. Keterbatasan teoritis à Etologi lebih banyak mendeskripsikan daripada menjelaskan 2. Keterbatasan Metodologis à untuk menerapkan metode etologi pada manusia (contoh: eksperimen, adalah tidak etis) 3. Keterbatasan Isi à fenomena perkembangan tertentu tidak mungkin diteliti dari perspektif etologi, fokus pada individual differences dalam suatu spesies sangat terbatas Daftar Pustaka
• Crain, William. (2007). Teori perkembangan: Konsep dan aplikasi – Edisi ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. • Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditomo, S.R. (2002). Psikologi perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press • Papalia, D.E., Old, S.W., Feldman, R.D. (2008). Human development 9th ed. Jakarta: Kencana Terima Kasih
Rizki Dawanti, M.Psi., Psikolog.
Download