Modul Psikologi Komunikasi [TM7]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Psikologi
Komunikasi
Proses Komunikasi
Kelompok
Fakultas
Program Studi
Ilmu Komunikasi
Marketing
Communications
Tatap Muka
07
Kode MK
Disusun Oleh
B21423EL
Dr. Farid Hamid, M.Si
Abstract
Kompetensi
Pokok bahasan ini membahas
menjelaskan dinamika kelompok dan
perubahan sikap dan perilaku dalam
Setelah mengikuti mata kuliah ini
mahasiswa mampu memahami dan
menjelaskanDinamika kelompok dan
perubahan sikap dan perilaku
ranah psikologis
4. Proses Komunikasi Kelompok
4.4. Bentuk-Bentuk Komunikasi Kelompok
Keefektifan sebuah kelompok dapat dianalisis melalui faktor situasionalnya. Salah
satu faktor situasional yang memengaruhi adalah karakteristik kelompok yang salah satunya
adalah jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi menentukan siapa berkoordinasi dengan
siapa. Jejaring komunikasi bisa terpusat (centralized) atau tersebar (decentralized). Jejaring
komunikasi terpusat terbentuk ketika anggota kelompok harus menghubungi seorang tokoh
sentral untuk berkomunikasi dengan anggota lain. Tokoh sentral ini adalah sumber informasi
serta target komunikasi.
Jaringan komunikasi dibagi menjadi lima yaitu bentuk roda, rantai, Y, lingkaran dan
bintang seperti pada gambar dibawah ini:.
1. Jaringan komunikasi roda,
Pada jaringan komunikasi roda, ada seorang pemimpin yang menjadi fokus
perhatian. Ia dapat berhubungan dengan seluruh anggota kelompok, tetapi setiap
anggota kelompok hanya dapat berhubungan dengan pemimpinnya. Jadi, pemimpin
sebagai komunikator dan anggota kelompok sebagai komunikan yang dapat
melakukan feedback pada pemimpinnya namun tidak dapat berinteraksi dengan
sesama anggota kelompoknya karena yang menjadi fokus hanya pemimpin tersebut
2012
2
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Jaringan komunikasi rantai,
Pada jaringan komunikasi rantai, satu anggota hanya dapat berkomunikasi dengan
satu anggota lain lalu anggota lain tersebut dapat menyampaikan pesan tersebut
pada anggota lainnya lagi begitu seterusnya. Sebagai contoh, si A dapat
berkomunikasi dengan B, B dengan C, C dengan D, dan begitu seterusnya.
3. Jaringan komunikasi Y,
Pada jaringan komunikasi Y, tiga orang anggota dapat berhubungan dengan orangorang disampingnya seperti pada pola rantai, tetapi ada dua orang yang hanya dapat
berkomunikasi dengan seseorang disampingnya.
4. Jaringan komunikasi lingkaran,
Pada jaringan komunikasi lingkaran, setiap orang hanya dapat berkomunikasi
dengan dua orang disamping kiri dan kanannya. Dengan perkataan lain, disini tidak
ada pemimpin.
5. Jaringan komunikasi bintang,
Pada jaringan komunikasi bintang, jaringan ini disebut juga jaringan komunikasi
semua saluran/all channel sehingga setiap anggota dapat berkomunikasi dan
melakukan timbal balik dengan semua anggota kelompok yang lain.
Komunikasi juga bisa berbentuk secara formal dan informal. Jejaring komunikasi
formal dirancang dan disediakan oleh kelompok, seperti memo internal dan rapat mingguan.
Sementara jejaring komunikasi informal adalah jejaring komunikasi yang tidak resmi, seperti
grapevine dan gosip. Grapevine adalah saluran tempat berlalu laalaang gosip, rumor dan
informasi tidak resmi lainnya. Gosip adalah komunikasi tentang anggota kelompok yang bisa
benar atau salah, sedangkan rumor adalah gosip yang tidak jelas substansinya (Sarlito
2009: 175)
4.5. Kohesivitas Kelompok
Kohesivitas kelompok adalah semua kekuatan atau faktor yang menyebabkan
anggota group tetap berada dalam group tersebut. Defenisi lain menjelaskan kohesivitas
kelompok sebagai properti esensial dalam group yang membuatnya bersikap seperti group
tersebut (solidaritas, esprit de corps, semangat tim, moral); proses psikologis yang
mentransformasikan sejumlah individu kedalam sebuah group (Sarwono, 2009:178).
2012
3
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Defenisi lain dikemukakan oleh(Collins & Raven, 1964) bahwa Kohesi kelompok,
yaitu kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok dan
mencegahnya meninggalkankelompok
Menurut Mc David & Harori (1964), kohesi kelompok diukur dari :

ketertarikan satu sama lain secara interpersonal

ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok

sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat pemuas
kebutuhan anggotanya
Merujuk pada definisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan kohesivitas kelompok adalah faktor-faktor yang dimiliki kelompok yang
membuat anggota kelompok tetap menjadi anggota sehingga terbentuklah kelompok.
Kohesivitas penting bagi kelompok karena ia yang menyatukan beragam anggota
menjadi satu kelompok. Tingginya
kohesivitas kelompok berhubungan erat dengan
beberapa faktor antara lain (Sarwono, 2009:178):
a. Konformitas anggota terhadap norma kelompok
b. Kemampuan anggota untuk menitikberatkan pada persamaan sebagai anggota
kelompok
c. Meningkatnya komunikasi didalam kelompok
d. Meningkatnya rasa suka terhadap anggota kelompok
Pendapat lain dikemukakan oleh Festinger (dalam Sarwono, 2009:178) bahwa
kohesivitas dipengaruhi oleh kemenarikan kelompok dan anggotaanya serta sejauh mana
kelompok bisa memenuhi kebutuhan atau tujuan individu. Terbentuknya kohesivitas
selanjutnya akan mempengaruhi tingkah laku anggota, seperti melanjutkan keanggotaan
didalam kelompok serta patuh pada norma kelompok. Secara singkat dapat dilihat pada
bagan berikut (Sarwono, 2009:179):
2012
4
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kekuatan Pendorong
Kemenarikan:


Kelompok
Anggota
Kelompok
Tingkah Laku:

Alat Untuk
Mencapai Tujuan:


2012
5
Kohesivitas

Interaksi
Sosial
Tujuan
Individu
yang
membutuhk
an bantuan
orang lain
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Melanjutkan
keanggotaan di
kelompok
Patuh pada
norma
kelompok
4.6. Memahami Komunikasi dalam Kelompok
Dalam kehidupan keseharian kita mengenal beberapa tipe dari kelompok. Dalam
kajian ilmu komunikasi, Ronald B. Adler dan George Rodman membagi kelompok dalam tiga
tipe, yaitu: kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan
kelompok pemecahan masalah (problem solving group).
a. Kelompok Belajar (Learning Group)
Tujuan dari kelompok belajar ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan
para anggotanya. Jadi kelompok yang memberi keterampilan khusus, misalnya
memasak, berenang, dan lain-lain dapat digolongkan ke dalam kelompok belajar
tersebut. Satu ciri yang menonjol dari kelompok belajar ini adalah adanya pertukaran
informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor
atau penyumbang dan penerima pengetahuan.
b. Kelompok Pertumbuhan (Growth Group)
Jika learning group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan eksternal, maka
kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalahan pribadi
yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari kelompok ini adalah kelompok
bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi, serta kelompok
yang memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri. Karakteristik yang
terlihat dalam tipe kelompok ini adalah tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata,
dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membantu
para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan
persoalan pribadi yang mereka hadapi.
c. Kelompok Pemecahan Masalah (Problem Solving Group)
Orang-orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama
untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga
misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang caracara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah
tangga. Contoh lain, bagaimana para warga yang tergabung dalam satu Rukun
Tetangga (RT) berusaha mengorganisasikan diri mereka sendiri guna mencegah tindak
pencurian melalui kegiatan siskamling.
Problem solving group dalam operasionalisasinya melibatkan dua aktivitas penting.
Pertama, pengumpulan informasi (gathering information): bagaimana suatu kelompok
sebelum membuat keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan
berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut. Dan kedua, adalah
2012
6
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasarkan pada hasil
pengumpulan informasi
4.7. Komunikasi Kelompok Dalam Perspektif Teoretis
Kelompok dalam perspektif interaksional dikemukakan Marvin Shaw sebagai dua
orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu cara tertentu, di mana
masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak lainnya. Suatu kelompok (kecil)
adalah kelompok yang terdiri dari dua puluh orang atau kurang, walaupun dalam beberapa
hal kita lebih berkepentingan dengan kelompok yang terdiri dari lima orang atau kurang.
Batasan yang diuraikan Shaw melibatkan tindak komunikasi sebagai karakteristik
yang esensial dari kelompok. Menurut Shaw, kelompok yang baik adalah kelompok yang
dapat bertahan untuk suatu periode waktu yang relatif panjang, memiliki tujuan, dan memiliki
struktur interaksi.
Singkatnya, kelompok merupakan bagian yang sangat penting dari aktivitas suatu
masyarakat. Clovis Sheperd menjelaskan, bahwa kelompok merupakan suatu mekanisme
mendasar dari sosialisasi dan sumber utama dari tatanan sosial. Orang mendapatkan nilai
dan sikap mereka, sebagian besar dari kelompok di mana mereka berada. Karenanya,
kelompok (kecil) memberikan suatu fungsi perantara yang penting antara individu dengan
masyarakat luas.
Dalam modul ini, kita akan mempelajari beberapa perspektif teoretis dalam
komunikasi kelompok. Walaupun sebenarnya teori-teori yang dikenal sebagai teori-teori
dalam komunikasi antar pribadi seperti teori keseimbangan dari Heider, teori A-B-X dari
Newcomb, teori perbandingan sosial dari Festinger, teori pertukaran sosial dari Thibaut dan
Kelley biasa juga digunakan dalam komunikasi kelompok, yang berbeda titik tekannya
adalah kelompok. Tetapi, ada beberapa teori yang bisa dikatakan “murni” digunakan hanya
dalam perspektif kelompok. Teori-teori itulah yang merupakan titik tekan dalam modul ini.
Teori lain yang ingin dikemukakan disini antara lain, teori groupthink dari Irving L.
Janis dan teori konvergensi simbolik dengan tokoh utamanya adalah Ernest Bormann serta
teori kepribadian kelompok.
1. Groupthink Theory
Bermula dari karyanya yang sangat ilmiah Irving L. Janis dalam bukunya, Victims of
Groupthink: A Psychological Study of Foreign Decision and Fiascoes (1972) menggunakan
istilah Groupthink untuk menunjukkan “suatu mode berpikir sekelompok orang yang kohesif,
ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai
2012
7
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kebulatan suara telah mengesampingkan motivasi mereka guna menilai alternatif-alternatif
tindakan secara realistis”.
Secara singkat, Janis mendefinisikan groupthink sebagai “suatu kemerosotan
efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan tekanan-tekanan
kelompok”. Groupthink akan terjadi apabila kohesivitasnya tinggi dan kecenderungan untuk
mencari
konsensus
dalam
kelompok-kelompok
yang
memiliki
ikatan
erat
akan
mengakibatkan mereka mengambil keputusan-keputusan yang inferior. Kelompok-kelompok
sering sekali tidak mendiskusikan semua pilihan yang tersedia. Pemecahan-pemecahan
sering sekali tidak dikaji.
Apa yang dimaksud dengan Groupthink
Groupthink adalah sebuah istilah yang dipergunakan oleh seprang ahli psikologi
sosial, Irving Janis (1972), yang akan terjadi apabila sebuah kelompok mengambil
keputusan yang salah karena adanya tekanan kelompok yang mengakibatkan turunnya
efisiensi mental, berkurangnya pengujian realita dan pertimbangan moral. Kelompokkelompok yang dipengaruhi oleh groupthink akan mengabaikan alternatif-alternatif lain dan
cenderung mengambil tindakan irasional yang mendehumanisasi kelompok-kelompok yang
lain. Suatu kelompok sangat rentan terhadap groupthink terutama apabila para anggotanya
memiliki latarbelakang yang seragam, apabila kelompok tersebut terisolasi dari opini-opini
luar, dan apabila tidak ada aturan pengambilan keputusan yang jelas.
Fenomena-Fenomena yang diteliti dalam Groupthink
Pendekatan Janis ini begitu memikat, karena melibatkan beberapa disiplin: psikologi,
politik, sejarah dan komunikasi kelompok. Untuk mendukung teorinya, Janis melacak
kembali enam peristiwa historis, yaitu:
a. invasi Teluk Babi;
Invasi teluk Babi (Bay of Pig) yang dilakukan Presiden AS John F. Kennedy terhadap
Kuba pada tanggal 17 April 1961, ketika sekitar 1400 orang oposan Kuba mendarat di teluk
Babi dan berharap bahwa kehadiran mereka akan merangsang suatu revolusi yang
memungkinkan mereka menggulingkan fidel Castro. Persediaan senjata dari AS yang
diharapkan ternyata gagal didatangkan karena daerah-daerah rawa menyulitkaan gerakan
militer itu, sementara pasukan Castro amat siaga dan orang-orang Kuba memperlihatkan
keinginan yang sedikit saja untuk mendukung para penyerang itu.
b. ketidaksiapan terhadap serangan Pearl Harbor;
2012
8
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Amerika Serikat sama sekali tidak bersiap untuk menangkal serangan dari Jepang.
Akibatnya 18 kapal tenggelam, 170 pesawat udara hancur dan 3700 orang meninggal.
c. eskalasi perang vietnam (1964-1967)
Presiden Lindon Jhonson memutuskan untuk berperang dengan Vietnam, dengan
pertimbangan bahwa serangan lewat udara dan operasi “cari dan hancurkan” (search and
destroy) oleh AS dapat memaksa Vietnam bagian utara untuk duduk di meja perundingan,
dan mengakui Vietnam bagian Selatan. Mereka mengabaikan peringatan dari intelijen AS
dan semua sekutu AS. Akibatnya 46.500 orang AS dan lebih satu juta orang Vietnam tewas.
d. perang Korea;
e. krisis misil Kuba;
f. dan rencana Marshal.
g. dll.
Janis menilai groupthink menghinggapi kelompok-kelompok yang memutuskan
tindakan-tindakan tersebut.
Janis mengawali dengan suatu analisis terhadap tim Kennedy, suatu kelompok yang
dinilai brilian yang merancang rencana invasi Teluk Babi. Ia heran, bagaimana mungkin
kelompok orang yang begitu cakap dan berbakat itu sampai memformulasikan suatu
rencana yang begitu bodoh dan berbahaya. Ia berkesimpulan bahwa komite penasehat
Kennedy telah menjadi mangsa groupthink yang disebabkan suatu derajat kepaduan dan
esprit de corps yang tinggi.
Ciri-ciri atau Gejala Groupthink
Apakah
tanda-tanda
yang
menunjukkan
bahwa
loyalitas
kelompok
telah
menyebabkan para anggota tergelincir ke dalam suatu mentalitas groupthink? Janis telah
membuat daftar dari tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kemunculannya akan membuat
kelompok menjadi menyimpang.
Hal-hal tersebut antara lain:
1. Ilusi kekebalan: suatu optimisme yang berlebihan.
Yaitu, suatu keyakinan bahwa kegagalan itu tak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan
karena menganggap kelompok mereka adalah kelompok khusus, atau kelompok terbaik
yang brilian. Ilusi ini menyebabkan mereka mengabaikan informasi yang biasanya akan
membangkitkan concern terhadap bahaya yang mungkin terjadi. Akhirnya mendorong
kelompok tersebut untuk mengambil resiko yang ekstrim.
2. Rasionalisasi atas tindakan yang diputuskan.
2012
9
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Yaitu, suatu mekanisme pertahanan yang memungkinkan kelompok tersebut mendistorsi
arti informasi yang tak dikehendaki tanpa mengevaluasinya secara memadai.
3. Keyakinan atas superioritas moral kelompok.
Yaitu, suatu anggapan bahwa kelompok sendiri sebagai agen-agen kebajikan, hanya
kelompok merekalah yang benar.
4. Stereotipe atas kelompok-kelompok luar.
Yaitu, suatu asumsi-asumsi sederhana yang bermakna negatif dan belum tentu
kebenarannya mengenai orang-orang atau kelompok yang diluar kelompok mereka.
5. Tekanan-tekanan langsung pada anggota-anggota kelompok yang berbeda pendapat.
Yaitu, para anggota kelompok yang berbeda pendapat akan dibujuk atau ditentang
dalam rangka untuk tidak menentang pemikiran kelompok.
6. Sensor diri.
Yaitu, berusaha menahan diri atas pendapat yang menentang pendapat mayoritas
dalam kelompok.
7. Ilusi persetujuan dan kebulatan suara
Hal ini mengakibatkan setiap anggota hanya dapat berdiam diri.
8. Munculnya pembela-pembela
keputusan atas inisiatif sendiri untuk melindungi
kelompok dan pemimpin kelompok dari pendapat yang merugikan dan informasi yang
tidak diinginkan.
Cara Mengatasi Groupthink
Janis memberikan resep dalam rangka mengatasi groupthink, antara lain:
1. pemimpin kelompok menangguhkan penilaian, mendorong munculnya berbagai kritik
atas keputusan yang diusulkan.
2. menugaskan satu atau dua orang anggota kelompok menjadi devil’s advocat untuk
menantang pendapat mayoritas.
3. Harus diundang satu atau lebih ahli untuk menghadiri setiap pertemuan yang diragukan.
Ahli yang berasal dari luar ini harus didorong untuk menantang pandangan dari para
anggota.
4. kelompok harus membuat keputusan secara bertahap bukan sekaligus.
2. Simbolic Convergence Theory (Teori Konvergensi Simbolik)
Kemunculan Teori konvergensi simbolik diilhami dari hasil riset Robert Bales
mengenai komunikasi yang berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Pada penelitian
yang dilakukan tahun 1950-an tersebut Bales sebenarnya memfokuskan penyelidikannya
2012
10
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pada perilaku anggota kelompok yang terkait dengan cara mereka mengakomodasi
informasi yang diterima dan menggunakannya untuk membuat suatu keputusan dalam
kelompok. Namun dalam proses tersebut Bales mewnemukan lkenyataan lain yang juga
menarik minatnya yakni adanya kecenderungan anggota-anggota kelompok menjadi
dramatis dan kemudian berbagi cerita ketika kelompok mengalami ketegangan. Menurut
Bales, cerita-cerita tersebut yang diantaranya meliputi lelucon, kisah, ritual, perumpamaan
atau permainan kata-kata ternyata memiliki fungsi yang penting dalam mengurangi
ketegangan kelompok bahkan mampu meningkatkan kesolidan kelompok. Bales menyebut
fenomena ini sebagai fantasy theme. Ernest Bormann kemudian meminjam gagasan
tersebut untuk direplikasi kedalam tindakan retoris masyarakat dalam skala yang lebih luas
dari sekedar proses komunikasi dalam kelompok kecil.
Teori konvergensi simbolik dengan tokoh utamanya adalah Ernest Bormann, adalah
teori umum yang mengupas tentang fenomena pertukaran pesan yang memunculkan
kesadaran kelompok yang berimplikasi pada hadirnya makna, motif dan perasaan bersama.
Artinya, teori ini berusaha menerangkan bagaimana orang-orang secara kolektif
membangun kesadaran simbolik bersama melalui suatu proses pertukaran pesan.
Kesadaran simbolik yang terbangun dalam proses tersebut kemudian menyediakan
semacam makna, emosi, dan motif untuk bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orang
yang terlibat didalamnya. Sekumpulan individu ini dapat berasal dari kelompok orang yang
telah saling mengenal dan berinteraksi dalam waktu yang relatif lama atau orang-orang yang
tidak saling mengenal dan memiliki cara berbeda dalam menafsirkan lambang yang
digunakan tapi mereka kemudian saling berkomunikasi sehingga terjadi konvergensi yang
pada gilirannya menciptakan realitas simbolik bersama. Dengan demikian proses
konvergensi dapat muncul bukan hanya dalam kelompok kecil yang relatif saling mengenal,
tapi juga dapat terjadi dalam rapat akbar, atau saat seseorang mendengarkan ceramah atau
ketika kita menikmati film dan iklan politik ditelevisi.
Gagasan pokok dari teori ini adalah bahwa: bertukar fantasi (tema fantasi): lelucon,
analogi, ritual, atau sekedar permainan kata-kata, akan membawa pada pemusatan makna
dan perasaan dari orang-orang yang terlibat.
Tema fantasi (fantasy theme) ini ternyata memiliki fungsi yang penting dalam
mengurangi ketegangan kelompok bahkan mampu meningkatkan kesolidan kelompok atau
kelompok yang kohesif.
Karena konsep fantasi menjadi kata kunci dalam teori ini maka Borman kemudian
membuat metode untuk mengoperasionalkan teorinya dengan istilah Fantasy Theme
Analysis (FTA) atau analisis tema fantasi.
2012
11
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. Teori Kepribadian Kelompok (Group Syntality Theory)
Teori kepribadian kelompok merupakan studi mengenai interaksi kelompok pada
basis dimensi kelompok dan dinamika kepribadian. Dimensi kelompok merujuk pada ciri-ciri
populasi atau karakteristik individu seperti umur, inteligen. Sementara ciri-ciri kepribadian
atau suatu efek yang memungkinkan kelompok bertindak sebagai suatu keseluruhan,
merujuk pada peran-peran spesifik, klik dan posisi status. Dinamika kepribadian diukur oleh
apa yang disebut dengan synergy, yaitu tingkat atau derajat energi dari setiap individu yang
dibawa dalam kelompok untuk digunakan dalam melaksanakan tujuan-tujuan kelompok.
Banyak dari synergy atau energi kelompok harus dicurahkan ke arah pemeliharaan
keselarasan dan keterpaduan kelompok.
Konsep kunci dari group sytality theory ini adalah synergy. Synergy kelompok adalah
jumlah input energi dari anggota kelompok. Meskipun demikian, tidak semua energi yang
dimasukkan ke dalam kelompok akan langsung mendukung pencapaian tujuannya. Karena
tuntutan antarpribadi, sejumlah energi harus dihabiskan untuk memelihara hubungan dan
kendala antarpribadi yang muncul.
Selain synergi kelompok, kita mengenal pula “effective synergy”, yaitu energi
kelompok yang tersisa setelah dikurangi energi intrinsik atau synergy pemeliharaan
kelompok. Energi intrinsik dapat menjadi produktif, sejauh energi tersebut dapat membawa
ke arah keterpaduan kelompok, namun energi intrinsik tidak dapat memberikan kontribusi
langsung untuk penyelesaian tugas.
Synergy suatu kelompok dihasilkan dari sikap anggotanya terhadap kelompok.
Sampai batas di mana para anggota memiliki sikap yang berbeda terhadap kelompok dan
kegiatannya, maka yang muncul kemudian adalah konflik, sehingga akan meningkatkan
proporsi energi yang dibutuhkan untuk memelihara atau mempertahankan kelangsungan
kelompok. Jadi, jika individu-individu.
Semakin memiliki kesamaan sikap, maka akan
semakin berkurang pula kebutuhan akan energi intrinsik, sehingga effective synergy menjadi
semakin besar.
Contoh sederhana, pada aspek penerapannya antara lain:
Dalam suatu kegiatan untuk membentuk kelompok belajar ditemukan bahwa individuindividu memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap materi pelajaran dan metode
belajarnya. Pada situasi yang demikian tersebut, individu-individu dihadapkan pada suasana
perdebatan untuk mengatasi munculnya perbedaan sikap tersebut, sehingga banyak waktu
dan energi yang dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan antarpribadi antara anggota
kelompok. Inilah yang disebut dengan energi intrinsik. Kemudian setelah nilai ujian
diumumkan dan para anggota merasa bahwa kelompok belajarnya telah gagal untuk
mencapai tujuan yang diharapkan, maka ada satu atau lebih anggota menarik energinya
keluar dari kelompok untuk mengikuti kelompok lain atau belajar sendiri. Dalam hal ini,
2012
12
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
effective synergy dari kelompok tersebut sangat rendah, sehingga tidak dapat mencapai
lebih dari apa yang dapat dilakukan secara individual.
Sebaliknya, jika salah seorang anggota masuk dalam kelompok belajar yang lain,
kelompok belajar tersebut dengan segera telah mencapai kesepakatan mengenai
bagaimana harus memulai dan segera bekerja. Karena sangat sedikit bahkan tidak ada
kendala antarpribadi yang muncul, maka kelompok belajar tersebut menjadi padu sehingga
effective synergy-nya tinggi dan tentunya setiap anggota kelompok akan lebih baik dalam
melaksanakan ujian, daripada jika mereka belajar sendiri-sendiri.
Daftar Pustaka
Sarlito, W. Sarwono dan Eko A. Meinarno. 2009. Jakarta: Salemba Humanika
Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya: Bandung
Sendjaja, Sasa Djuarsa. 1993. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka
Mulyana, Deddy. 1999. Nuansa-Nuansa Komunikasi. Bandung: Rosda
2012
13
Psikologi Komunikasi
Dr. Farid Hamid, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download