Media Komunikasi

advertisement
Laporan Studi Pustaka (KPM 403)
ANALISIS PENGGUNAAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM
PEMENUHAN INFORMASI PERTANIAN DI KALANGAN PETANI
Aldilla Putri
I34110029
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
ii
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Studi Pustaka yang berjudul
“Analisis Penggunaan Media Komunikasi dalam Pemenuhan Informasi
Pertanian di Kalangan Petani” benar-benar hasil karya saya sendiri yang belum
pernah diajukan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari pustaka yang
diterbitkan atau tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam naskah
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Laporan Studi Pustaka.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya bersedia
mempertanggungjawabkan pernyataan ini.
Bogor, Desember 2014
Aldilla Putri
NIM. I34110029
iii
ABSTRAK
ALDILLA PUTRI. Analisis Penggunaan Media Komunikasi dalam Pemenuhan
Informasi Pertanian di Kalangan Petani. Dibawah bimbingan Ir HADIYANTO,
MSi.
Perkembangan zaman membuat petani harus bisa menemukan cara untuk dapat
bertahan melanjutkan kegiatan pertanian mereka. Salah satu caranya adalah
dengan secara aktif berinteraksi dengan petani lain maupun mencari informasi
dari media komunikasi lain, seperti media massa dan media cetak. Penggunaan
media komunikasi oleh petani harus melihat pada kebutuhan informasi yang
dirasakan oleh masing-masing petani, artinya antara setiap petani memiliki
kebutuhan penggunaan media komunikasi yang berbeda. Kualitas informasi
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan usia dari petani itu sendiri serta dilihat
dari karakteristik wilayah pertanian itu sendiri sehingga mempengaruhi
penggunaan media komunikasi yang dapat dilihat dari frekuensi penggunaan
media, intensitas penggunaan media, dan tingkat kemudahan dalam mengakses
media. Kebutuhan informasi petani dapat dianalisis berdasarkan teori uses and
gratification.
Kata kunci: kebutuhan informasi, kualitas informasi, penggunaan media
komunikasi
ABSTRACT
ALDILLA PUTRI. Analysis of the Use of Communication Media in the
Compliance Agricultural Information Among Farmers. Supervised by Ir
HADIYANTO, MSi.
The times make the farmer should be able to find a way to survive continue their
farming activities. One way is by actively interacting with other farmers and seek
information from other communication media, such as mass media and print
media. The use of communication media by farmers must look at the information
needs perceived by each farmer, it means that between every farmer has the need
for the use of different communication media. Quality of information is affected by
the level of farmers’ education, age, and characteristics of the farming that affects
the use of communication media that can be seen from the frequency of use of the
media, the intensity of the use of the media, and the ease in accessing the media.
Information needs of farmers can be analyzed based on the uses and gratification
theory.
Keywords: information needs, quality of information, the use of communication
media
iv
ANALISIS PENGGUNAAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM
PEMENUHAN INFORMASI PERTANIAN DI KALANGAN
PETANI
Oleh
Aldilla Putri
I34110029
Laporan Studi Pustaka
Sebagai syarat kelulusan KPM 403
pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
v
LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini menyatakan bahwa Laporan Studi Pustaka yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa
: Aldilla Putri
Nomor Pokok
: I34110029
Judul
: Analisis Penggunaan Media Komunikasi dalam
Pemenuhan Informasi Pertanian di Kalangan Petani
dapat diterima sebagai syarat kelulusan mata kuliah Studi Pustaka (KPM 403)
pada Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen
Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia,
Institut Pertanian Bogor.
Disetujui oleh
Ir. Hadiyanto, MSi
Dosen Pembimbing
Diketahui oleh
Dr. Ir. Siti Amanah, MSc
Ketua Departemen
Tanggal Pengesahan:
vi
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan Studi Pustaka berjudul “Analisis Penggunaan Media Komunikasi dalam
Pemenuhan Informasi Pertanian di Kalangan Petani” ini dengan baik tanpa
hambatan dan masalah yang berarti. Laporan Studi Pustaka ini ditujukan untuk
memenuhi syarat kelulusan MK Studi Pustaka (KPM 403) pada Departemen Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Hadiyanto, Msi
sebagai pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses
penulisan hingga penyelesaian laporan Studi Pustaka ini. Penulis juga
meyampaikan hormat dan terimakasih kepada Bapak Dodi Susanto dan Ibu Evy
Magdalena, orang tua tercinta, serta Bagaskara Putra Susanto dan Capriandika
Putra Susanto, adik-adik tersayang, yang selalu berdoa dan senantiasa
melimpahkan kasih sayangnya untuk penulis. Tidak lupa terimakasih juga penulis
sampaikan kepada teman-teman satu bimbingan, yaitu Rika Ratna Sari dan Siti
Balqis atas dukungan satu sama lain dan tak lupa kepada teman-teman satu
permainan semasa kuliah, yaitu Riski Bayuni Sagala, Rifayana, Nina Juliyana,
Tiffany Diahnisa, Nafiah Kurniasih, Yulita Mega Aftari, Weninda Ayu Pramitha,
Dwi Jayanti, rekan-rekan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
angkatan 48 lainnya, serta Rizki Hidayatullah atas semangat dan dukungannya
selama ini.
Semoga laporan Studi Pustka ini bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Desember 2014
Aldilla Putri
NIM. I34110029
vii
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ................................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
PENDAHULUAN ...................................................................................................1
Latar Belakang .................................................................................................... 1
Tujuan Tulisan .................................................................................................... 2
Metode Penulisan ................................................................................................ 2
1. Judul : Tingkat Penggunaan Media Massa dan Peran Komunikasi
Anggota Kelompok Peternak dalam Jaringan Komunikasi Penyuluhan Sapi
Potong ............................................................................................................. 3
2. Judul : Peranan Media Massa dalam Penyebaran Informasi Pertanian di
Kalangan Petani Sayuran di Lampung ............................................................ 5
3. Judul : Pola Komunikasi Petani dalam Rangka Ketahanan Pangan
Rumah Tangga Petani di Desa Ngabeyan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten
Wonogiri ......................................................................................................... 6
4. Judul : Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Petani Bawang Merah dalam
Penggunaan Pestisida (Studi Kasus di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa
Timur) ............................................................................................................. 9
5. Judul : Analisis Efektivitas Komunikasi Model Prima Tani sebagai
Diseminasi Teknologi Pertanian di Desa Citarik, Kabupaten Karawang, Jawa
Barat .............................................................................................................. 11
6. Judul : Kebutuhan Informasi Petani Gurem (Kasus Desa Rowo,
Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung) ....................................... 12
7. Judul : Media Komunikasi Mendukung Percepatan Alih Teknologi
Produksi Padi Sawah di Tingkat Petani ........................................................ 16
8. Judul : Hubungan Perilaku Komunikasi dengan Pemahaman Petani
terhadap Fungsi Radio Komunitas (Kasus Radio Komunitas Petani Trisna
Alami, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo,
Provinsi D.I. Yogyakarta) ............................................................................. 19
9. Judul : Pemanfaatan Informasi oleh Petani Sayuran (Kasus di Desa
Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor) ...................... 20
10. Judul :Perilaku Komunikasi Petani dalam Pencarian Informasi
Pertanian Organik (Kasus Petani Bawang Merah di Desa Srigading,
Kabupaten Bantul) ........................................................................................ 22
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN ...............................................................24
Kebutuhan Informasi ......................................................................................... 24
Uses and Gratification ....................................................................................... 25
Media Komunikasi ............................................................................................ 26
KESIMPULAN ......................................................................................................30
Hasil Rangkuman dan Pembahasan .................................................................. 30
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian Skripsi ................................... 31
Usulan Kerangka Analisis Baru ........................................................................ 31
Gambar 2. Kerangka Analisis ........................................................................... 32
RIWAYAT HIDUP ................................................................................................35
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbedaan antara beberapa media komunikasi menurut kualitas
fungsinya ...............................................................................................27
Tabel 2. Karakteristik Media Komunikasi ..........................................................28
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. Kerangka Analisis ................................................................................31
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan zaman yang semakin maju, dengan adanya globalisasi, dan
berkembangnya modernisasi mengharuskan petani juga harus mengembangkan
kapasitas mereka sendiri dalam memperoleh kebutuhan informasi pertaniannya.
Era globalisasi dan modernisasi juga mendukung percepatan perkembangan
teknologi. Oleh karena itu, petani sekarang ini tidak hanya dituntut untuk
memperoleh informasi dari sesama petani saja tetapi dengan penggunaan media
komunikasi lain, seperti komunikasi massa sangat dapat membantu petani dalam
memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhannya.
Media sangat erat kaitannya dengan komunikasi karena media merupakan
salah satu komponen atau unsur yang menjadi persyaratan untuk terjadinya suatu
komunikasi. Media juga merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak (Cangara, 2007).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini telah menghasilkan
begitu banyak media komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan
informasi kepada petani. Tetapi di lain pihak, dengan semakin banyaknya media
yang tersedia menuntut pertimbangan dalam menetapkan dan menggunakan
media komunikasi yang tepat untuk membantu mendiseminasikan suatu
informasi. Media komunikasi yang banyak digunakan sebagai media alih
teknologi adalah media tercetak (liptan, brosur, dan poster; pertemuan, seminar,
temu lapang, dan lain-lain); dan media elektronik (video, kaset, dan lain-lain).
Untuk dapat memperoleh atau menggunakan media komunikasi tersebut,
diperlukan tindakan atau perilaku untuk mencapai proses komunikasi tersebut.
Menurut Cangara (2007), istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris
communication berasal dari kata Latin communicatio dan bersumber dari kata
communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna.
Seperti yang dipaparkan sebelumnya bahwa untuk mencapai sebuah proses
komunikasi perlu adanya perilaku komunikasi yanag dilakukan oleh setiap
individu atau kelompok. Menurut Gould dan Kolb yang dikutip oleh Ichwanudin
(1998) dalam Nurmayanti (2011), perilaku komunikasi adalah segala aktivitas
yang bertujuan untuk mencari dan memperoleh informasi dari berbagai sumber
dan untuk menyebarluaskan informasi kepada pihak manapun yang memerlukan.
Perilaku komunikasi pada dasarnya berorientasi pada tujuan dalam arti perilaku
sesepetani pada umumnya dimotivasi dengan keinginan untuk memperoleh tujuan
tertentu.
Kebutuhan informasi petani tidak selalu sama satu sama lain. Oleh karena
itu perilaku komunikasi dalam penggunaan media komunikasi juga perlu melihat
kebutuhan informasi masing-masing petani. Hal tersebut dikarenakan masingmasing media komunikasi memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri dalam
menyampaikan pesan. Disamping pemakaian media komunikasi yang praktis,
masih banyak pula petani yang mempertahankan komunikasi interpesonal antar
sesama petani karena sudah menjadi kebiasaan petani tersebut maupun dinilai
proses komunikasi yang paling praktis.
Kesejahteraan petani yang masih belum merata membuat keberadaan
media komunikasi menjadi sangat penting dalam hal penyediaan informasi sesuai
2
dengan kebutuhan petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka.
Oleh karena itu penggunaan media komunikasi selain komunikasi
interpersonal dan komunikasi kelompok dirasa sangat dibutuhkan oleh
petani dalam menyediakan informasi pertanian. Namun media komunikasi
lain, seperti media massa dan media cetak sampai saat ini tidak dapat menjangkau
petani yang berada jauh dari pusat kota. Informasi yang disajikan oleh kedua
media komunikasi tersebut juga belum banyak menyediakan informasi tekait
pertanian dimana lebih menyediakan informasi terkait hiburan semata. Hal
tersebut membuat petani tetap mempercayai sesama petani atau penyuluh dalam
memperoleh informasi pertanian sehingga membuat petani di Indonesia sekarang
kurang dapat berkembang karena lebih mempercayai informasi turun temurun dari
petani sebelumnya.
Tujuan Tulisan
Penulisan studi pustaka ini bertujuan untuk mengetahui media komunikasi
apa saja yang digunakan oleh petani dalam memperoleh informasi sesuai dengan
kebutuhan petani. Mengingat perkembangan teknologi semakin cepat terjadi
seiring dengan perkembangan zaman, apakah petani dalam menggunakan media
komunikasi juga berubah mengikuti zaman atau tidak.
Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan studi pustaka ini adalah metode
analisa terhadap data sekunder yang relevan dengan topik studi pustaka. Bahan
pustaka yang digunakan dalam penulisan ini berasal dari hasil penelitian, yaitu
berupa: skripsi, tesis, jurnal ilmiah, dan buku teks yang berkaitan dengan
penggunaan media komunikasi di kalangan petani. Bahan pustaka yang sudah
terkumpul kemudian dipelajari, disusun, dan dianalisis sehingga menjadi suatu
tulisan ilmiah yang berisi tinjauan teoritis dan tinjauan faktual beserta analisis dan
sintesisnya. Selanjutnya ialah penarikan hubungan dari studi pustaka ini
menghasilkan kerangka pemikiran serta pertanyaan penelitian yang akan
digunakan sebagai acuan dalam penelitian yang akan dilakukan.
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA
1. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
: Tingkat Penggunaan Media Massa dan Peran
Komunikasi Anggota Kelompok Peternak dalam
Jaringan Komunikasi Penyuluhan Sapi Potong
: 2006
: Jurnal
: Elektronik
: A. Saleh
: Media Peternakan
: Vol. 29, No. 2: 107-120
:
http://jesl.journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeterna
kan/article/view/874/247
: 20 Oktober 2014, pukul 17.10 WIB
Ringkasan Pustaka:
Penelitian ini didesain sebagai penelitian survei deskriptif korelasional
dengan analisis menggunakan analisis jaringan komunikasi dan analisis statistik
deskriptif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah telah terjadi
pergeseran pola komunikasi peternak anggota kelompok jaringan
komunikasi sapi potong dari mengutamakan hubungan komunikasi
interpersonal dalam menerima dan menyebarkan informasi ke perilaku
komunikasi bermedia, terutama pada perilaku keterdedahan siaran televisi
dan surat kabar. Perilaku pemanfaatan media massa di kelompok peternak
cenderung telah berubah, yakni dominan terdedah televisi dan radio, yang bukan
sepenuhnya dalam mendapatkan informasi teknologi sapi potong tetapi lebih
untuk memperoleh berita dan hiburan, karena informasi teknis peternakan tidak
disajikan.
Kepemilikan media massa (radio, tv, telepon atau hp, berlangganan koran
dan majalah) kelompok peternak kurang maju dan maju cukup beragam. Secara
keseluruhan, 71% peternak masuk kategori memiliki dua macam media massa,
11% memiliki satu macam (radio atau televisi) dan 8% memiliki tiga atau lebih
(kombinasi radio, tv, telepon/hp, suratkabar, majalah), hampir 10% sama sekali
tidak punya media massa di rumahnya. Meski demikian peternak menyatakan
tetap menyukai menonton tv atau mendengar radio bersama di rumah sanak
keluarga atau menumpang di tetangga. Tidak seorangpun peternak kelompok
maju yang tidak memiliki media massa. Terdapat 19% peternak yang tak memiliki
media massa pada kelompok kurang maju, dengan proporsi terbesar di Surade
(23%). Hal ini karena lokasi kelompok pada penelitian ini berada di dataran tinggi
sulit mengakses siaran televisi, hanya stasiun RCTI, SCTV dan Indosiar yang bisa
ditangkap melalui parabola, karena stasiun relay hanya terdapat di Cibungur yang
jaraknya hampir 7 km dari lokasi kelompok.
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa media massa yang hampir
dimiliki semua peternak ialah televisi (87%) dan radio (76%), media massa
lainnya dengan kepemilikan yang masih masih kecil antara lain: handphone (8%),
telepon dan koran (masing-masing 6%) dan majalah (hampir 5%). Peternak
4
kelompok maju lebih banyak memiliki tv, telepon, berlangganan surat kabar dan
majalah, sedangkan kepemilikan radio lebih sedikit. Terdapat 71% peternak yang
mempunyai kedua macam media (radio dan tv) atau kombinasi dengan surat
kabar. Dibandingkan kelompok maju, peternak kelompok kurang maju
berperilaku mendengarkan siaran radio lebih besar. Bahkan intensitas dengar
radio peternak kelompok maju pun jauh lebih banyak. Penelitian ini sedikitnya
mengungkapkan, di tengah maraknya kehadiran tv swasta maupun lokal karena
adanya otonomi daerah, radio masih relevan bagi banyak orang desa. Penyebab
fenomena ini, di antaranya karena harga sebuah pesawat radio relatif murah dan
terjangkau oleh daya beli masyarakat, tidak tergantung arus listrik cukup
menggunakan baterei, jam siaran sepanjang hari, dan karena kespesifikan dan
kefleksibelan program radio.
Data preferensi yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan, 45%
peternak menyukai hiburan, 39% berita, masing-masing delapan persen menyukai
kuliah subuh dan siaran pedesaan. Program berita tersebut antara lain berita
nasional, manca negara, daerah, aneka berita, desaku maju, desa membangun,
dialog dan pengumuman. Program hiburan yang dikenal responden, mencakup
wayang, sandiwara, musik (melayu, nasyid, irama padang pasir), dongeng, ludruk,
ketoprak, seni tradisional, keroncong, wayang kulit, kasidah, lagu sunda, langgam
jawa dan olahraga.
Jika dibandingkan, pada peternak kelompok maju, secara berurutan lebih
menyukai berita (42%), hiburan (37%), siaran pedesaan (14%) dan terendah
ceramah subuh (7%). Peternak kelompok kurang maju, tendensinya lebih
menyukai hiburan/kesenian (53%), berita (36%), ceramah atau kuliah subuh (9%)
dan terendah siaran perdesaan (2%).
Penelitian ini menyebutkan bahwa umumnya, interaksi komunikasi yang
dilakukan setiap anggota telah membentuk jaringan komunikasi dengan pola
cenderung bersifat semi terbuka. Selain melakukan komunikasi penyuluhan sapi
potong dengan sesama anggota di dalam jaringan, juga berkomunikasi dengan
masyarakat lain.
Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata peternak kelompok kurang
maju berperilaku menerima informasi agribisnis sapi potong sedikit lebih
tinggi dibanding anggota kelompok peternak maju. Begitu pun, perilaku
menyebarkan informasi sapi potong yang diperoleh atau dimiliki kepada anggota
kelompok maupun tetangga yang berada dalam sistem sosialnya, terlihat bahwa
rata-rata peternak kelompok kurang maju berperilaku menyebarkan
informasi agribisnis sapi potong lebih tinggi dibanding rata-rata peternak
kelompok maju.
Analisis Pustaka:
Temuan dalam penelitian ini mampu menambah pengetahuan dari segi
keterdedahan petani dalam penggunaan media massa dalam memperoleh
informasi. Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku komunikasi
petani dalam memperoleh informasi tak luput dari peran media massa sendiri
yang mampu menyediakan informasi secara praktis kepada khalayak. Namun,
kekurangan dalam penelitian ini adalah pemaparan teori-teori yang bersangkutan
dengan hasil pembahasan yang kurang terpapar sehingga hasil yang diperoleh
tidak mampu dikuatkan dengan teori yang ada. Pembahasan pada penelitian
5
tersebut juga sudah rinci dilihat dari penggunaan media massa di kalangan
peternak dipaparkan berdasarkan persentase penggunaan media massa tersebut,
dikaitkan pula dengan status ekonomi peternak dalam kepemilikan media massa,
dan penggunaan media massa berdasarkan waktu peternak menggunakan media
massa.
2. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (edisi); hal
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
: Peranan Media Massa dalam Penyebaran
Informasi Pertanian di Kalangan Petani Sayuran
di Lampung
: 2006
: Jurnal
: Elektronik
: Sumaryo
: Jurnal Penyuluhan
: Vol. 2, No. 5; 16-22
: 2111-4177-1-PB.pdf
: 27 Desember 2014, pukul 23.50 WIB
Ringkasan Pustaka
Media massa merupakan sebuah media dimana menghadirkan realitas
sosial yang penting bagi manusia. Realita tersebut mungkin berupa perilaku,
mode, bahkan sikap pada ideologi tertentu. Respon yang akan timbul tersebut
tergantung pada kesiapan yang bersangkutan ketika menerima informasi dari
televisi. Pendidikan dapat berperan sebagai filter untuk mencegah timbulnya efek
negatif dari sebuah media massa. Selain itu, kualitas informasi yang dihadirkan
juga dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk memantau sampai sejauh mana
informasi tersebut menimbulkan dampak positif pada kehidupan manusia, baik
pada aspek moral maupun pada aspek lain.
Sebagai suatu media massa audiovisual moderen, televisi memiliki daya
tarik luar biasa. Televisi mampu mengantarkan pesan-pesan kepada pemirsa di
rumah atau di tempat lain secara langsung. Berbagai suguhan informasi atau
hiburan itu membuka mata pemirsa. Lokasi penelitian di Provinsi Lampung
dengan mengambil dua desa sebagai sampel penelitian, yaitu Desa Sumber Agung
dan Desa Tanjung Raya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan kepemilikan
media massa, perbedaan aktivitas menonton televisi, perbedaan acara televisi yang
diminati, perbedaan peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian, dan
faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan peranan televisi dalam
penyebaran informasi pertanian oleh petani hortikultura di dua desa tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan media massa di kedua
desa tersebut berbeda dikarenakan faktor kedekatan dengan sumber informasi,
yaitu pasar. Diketahui bahwa Desa Sumber Agung lebih memiliki akses untuk
memiliki media massa karena letaknya yang tidak jauh dari pasar. Aktivitas
mengikuti acara televisi juga lebih banyak dilaksanakan oleh petani di Kelurahan
Sumber Agung karena berdekatan dengan pusat informasi. Peranan televisi
dalam penyebaran informasi pertanian di Desa Tanjung Raya tergolong
rendah karena petani di daerah tersebut kurang tertarik untuk menyaksikan
acara informasi pertanian dengan alasan tidak sesuai dengan waktu istirahat
6
mereka. Penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak adanya hubungan antara
kepemilikan media komunikasi dengan peranan televisi karena acara yang
ditonton oleh petani bukanlah acara informasi pertanian. Selain itu, penelitian ini
juga menyatakan bahwa tidak adanya hubungan antara aktivitas petani
menonton televisi dengan persepsi petani tentang peranan televisi sebagai
sumber informasi. Hal ini terjadi karena petani lebih banyak menonton hiburan
ketika melepas lelah. Akan tetapi, terdapat hubungan antara jenis siaran yang
diminati petani dengan persepsi petani tentang peranan media massa sebagai
sumber informasi. Semakin besar minat petani untuk menyaksikan acara
informasi pertanian maka akan semakin besar pula persepsi responden tentang
peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian.
Dalam penelitian ini juga menyebutkan bahwa orang cenderung menerima
dan mencari informasi dengan cara yang berbeda. Raymond (dalam Depari, 1991)
menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut ialah
pendidikan atau intelegensia seseorang. Orang yang terdidik dan intelegensianya
baik, cenderung lebih menyukai media cetak. Orang tersebut memiliki lebih
banyak informasi. Karena itu ia tidak mudah dipengaruhi atau mengubah
sikapnya. Untuk meyakinkan orang yang itu, perlu argumentasi atau alasan yang
kuat dan logis.
Analisis Pustaka
Penelitian tersebut mampu menambah pengetahuan penulis terkait
hubungan media massa dengan penyebaran informasi pertanian di kalangan petani
dimana jangkauan media massa belum terlalu luas dalam menjangkau petani
untuk memanfaatkannya. Hal tersebut berkaitan dengan lokasi tempat tinggal
petani yang jauh dari kota sebagai pusat informasi. Hasil penelitian yang disajikan
sudah terbilang lengkap, akan tetapi dalam penulisan akhir tidak dijelaskan secara
rinci definisi-definisi yang jelas untuk memudahkan pembaca dalam menganalisis
maksud dari penulisan tersebut dan kurang didukung teori yang sesuai.
3. Judul
: Pola Komunikasi Petani dalam Rangka
Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di
Desa
Ngabeyan,
Kecamatan
Sidoharjo,
Kabupaten Wonogiri
Tahun
: 2007
Jenis Pustaka
: Jurnal
Bentuk Pustaka
: Elektronik
Nama Penulis
: Emi Widiyanti
Nama Jurnal
: M’Power
Volume (edisi); hal : Vol. V, No. 5; 24-35
Alamat URL/doi
: http://pppm.pasca.uns.ac.id/wpcontent/uploads/2012/09/Emi.pdf
Tanggal diunduh
: 20 Oktober 2014, pukul 09.35 WIB
Ringkasan Pustaka:
Sektor pertanian sebagai tumpuan utama dalam penyediaan pangan kini
semakin berat dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Hal ini dapat dilihat
dari semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berarti pula peningkatan
7
jumlah kebutuhan pangan, namun di sisi lain sektor pertanian semakin terpuruk
akibat semakin rendahnya daya dukung lingkungan. Diantaranya adalah
kerusakan lahan akibat revolusi hijau. Dilihat dari sisi produksi dan kelembagaan
pangan, rumah tangga petani memegang peranan penting sebagai pelaku yang
bergerak di sektor produksi bahan pangan dan di sisi lain sebagai sub sistem
rumah tangga dan juga dalam pengaturan pola konsumsi dan pengadaan dan pola
cadangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
mendeskripsikan pola komunikasi petani dalam rangka ketahanan pangan.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan hasil penelitian ini adalah
terdapat tiga pola komunikasi petani di Desa Ngabayen, yaitu komunikasi
interpersonal, komunikasi kelompok, dan kemunikasi massa.
Hasil penelitian terkait pola komunikasi petani di Desa Ngabeyan
disajikan dalam tiga pola komunikasi, yaitu (1) komunikasi interpersonal, (2)
komunikasi kelompok, dan (3) komunikasi massa. Pola-pola komunikasi tersebut
merupakan cara-cara berkomunikasi petani Desa Ngabeyan dalam
memperbincangkan usahatani untuk ketahanan pangan rumah tangga mereka.
Pola komunikasi interpersonal petani melibatkan beberapa sumber
informasi terdekat secara fisik maupun psikologis, seperti orang tua saudara
atau kerabat dan tetangga yang sama-sama bekerja sebagai petani. Arus
informasi yang terjadi dalam pola komunikasi interpersonal adalah dua arah
(timbal balik), sumber (komunikator) dan penerima (komunikan) secara
langsung saling berganti peran.
Komunikasi kelompok dapat terjadi pada kelompok formal maupun
kelompok-kelompok informal yang ada dalam masyarakat Desa Ngabeyan,
sebagai contoh komunikasi yang terjadi dalam pertemuan kelompok tani,
percapakan dalam kelompok-kelompok ketetanggaan, dan dalam diskusi
kelompok mengerjakan sawah dan sebagainya. Kelompok ketetangga di sini
adalah ketetanggaan karena kedekatan tempat tinggal maupun ketetanggan karena
berdekatan lahan garapan. Kelompok ini biasanya terdiri atas bapak-bapak dalam
sebuah kelompok, sedangkan ibu-ibu juga mempunyai kelompok tersediri.
Sedangkan kelompok ketetanggan lahan garapan adalah kumpulan orang-orang
yang memiliki lahan garapan (sawah) saling berdekatan atau sehamparan.
Terdapat tiga arus informasi yang terjadi dalam komunikasi kelompok,
pertama komunikasi ke bawah. Arus informasi ini terjadi ketika ketua kelompok
tani dan PPL berperan sebagai sumber informasi yang menyampaikan pesan
langsung ke anggota dalam pertemuan kelompok. Kedua, arus informasi ke atas,
dalam arus informasi ini terjadi ketika anggota biasanya menanyakan kembali
informasi yang disampaikan ketua kelompok tani atau yang berkaitan dengan
adanya informasi bantuan benih. Ketiga adalah arus informasi yang bersifat lateral
yang berlangsung antar anggota. Komunikasi lateral ini dapat terjadi di sela-sela
kegiatan pertemuan kelompok tani atau pun dalam perbincangan di luar
pertemuan.
Dalam kelompok ketetanggaan yang terdiri dari bapak-bapak ini terjadi
komunikasi dimana sumber (komunikator) adalah mereka yang tergabung dalam
kelompok tersebut. Semua anggotanya dapat berperan sebagai sumber informasi
maupun penerima informasi (komunikan) secara bergantian. Dalam komunikasi
kelompok ini arus komunikasi bersifat lateral, semua yang tergabung dalam
kelompok mempunyai kedudukan sejajar dapat menyampaikan informasi.
8
Pesan atau informasi terkait usahatani untuk ketahanan pangan rumah
tangga mereka yang diperbincangkan antara lain kondisi sawah mereka terutama
menghadapi kemarau panjang yang baru saja terjadi. Pertemuan yang dilakukan
hampir setiap malam hari merupakan media atau saluran yang digunakan
kelompok- kelompok ketetanggaan ini untuk memperbincangkan usahatani terkait
ketahanan pangan rumah tangga petani yang ada di Desa Ngabeyan.
Setiap pertemuan dalam sanja (berkunjung dan berkumpul di salah satu
rumah tetangga) merupakan saluran interpersonal bagi kelompok ibu-ibu yang
berdekatan tempat tinggal ini. Mereka selalu terlibat dalam pembicaraan. Setiap
anggota dapat berperan sebagai sumber (komunikator) maupun sebagai
komunikan secara bergantian (timbal balik).
Individu-individu yang tergabung dalam kelompok ketetanggaan lahan
garapan berperan sebagai sumber (komunikator) maupun penerima pesan
(komunikan) secara bergantian atau timbal balik. Arus komunikasi yang terjadi
bersifat lateral, setiap individu menempati posisi yang sama dalam
meyampaikan pesan. Oleh karena itu dengan kelompok inilah mereka berdiskusi
sebelum mengolah lahan mereka terutama menjelang musim tanam. Mereka
mendiskusikan jenis tanaman apa yang akan ditanam misalnya mereka sepakat
untuk menanam padi jenis umbul-umbul dan melakukan tumpang sari jagung dan
kacang tanah.
Penelitian ini mengungkapkan beberapa alasan yang disampaikan oleh 15
informan petani mengenai kurangnya mereka mengakses media massa radio dan
televisi adalah sebagai berikut:
1) Terlalu letih dengan pekerjaannya di sawah membuat malas untuk mengkases
media massa tersebut dan memilih untuk beristirahat.
2) Televisi lebih banyak dikuasai oleh anggota keluarga lain (anak) sehingga acara
yang ditonton atau diikuti sesuai dengan selera mereka.
3) Jika ada waktu menonton, acara yang diakses sebatas untuk kepentingan
hiburan dan mengetahui peristiwa terkini.
4) Tidak mengetahui waktu dan stasiun televisi atau radio yang menyajikan
informasi pertanian.
5) Berita yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi pertanian mereka.
Berdasarkan teori atraksi interpersonal, penulis menggunakan teori yang
dikemukakan oleh Dean C. Barlund yang dikutip oleh Rakhmat (1999) dimana
menyatakan bahwa arus komunikasi interpersonal dapat diramalkan dengan
mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa. Atraksi
interpersonal merupakan kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik
seseorang. Masih mengutip dari Rakhmat (1999), menjelaskan bahwa bila
individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadilah (1)
proses belajar yang meliputi aspek kognitif dan afektif (aspek berpikir dan aspek
merasa), (2) proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang
(komunikasi), dan (3) mekanisme penyesuian diri seperti sosialisasi, identifikasi
dan sebagainya.
Pada kasus dalam penelitian ini, petani kurang tertarik mengakses televisi
dan radio karena hanya menerima infomasi yang disampaikan oleh sumber tanpa
bisa turut mengendalikan mana pesan yang sesuai untuknya misalnya informasiinformasi mengenai pertanian di lahan tadah hujan atau tentang permasalahan
yang sesuai dengan apa yang dihadapinya. Oleh karena itu, dalam hal ini
9
pengaksesan media massa hanya sebatas untuk mendapatkan berita terkini dan
sebagai hiburan.
Analisis Pustaka:
Temuan dalam penelitian ini mampu menambah pengetahuan dimana
perilaku komunikasi memiliki pengertian yang hampir sama dengan pola
komunikasi. Perilaku komunikasi akan menentukan pola komunikasi apa yang
sesuai untuk digunakan dalam memperoleh informasi. Pembahasan dalam
penelitian ini sudah cukup jelas dan spesifik, bahasa yang digunakan mudah untuk
dipahami, dan kedalaman materi yang disajikan cukup dalam. Dari segi teori yang
digunakan dalam penelitian ini sudah cukup dalam, terbukti dengan banyaknya
teori yang digunakan dalam setiap sub bab pembahasan sehingga hasil yang
diperoleh dapat langsung dibandingkan dengan teori yang ada sebagai penguat
penelitian ini. Selain itu, hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan dari kasus
penelitian tersebut adalah penggunaan komunikasi massa dalam kegiatan
pertanian tidak selalu memberikan dampak positif bagi petani. Hal tersebut
dikarenakan pesan yang disampaikan oleh media massa tidak sesuai dengan
sistem pertanian setempat. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian terlebih
dahulu dalam penggunaan komunikasi massa terhadap lingkungan daerah
setempat.
4. Judul
: Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Petani
Bawang Merah dalam Penggunaan Pestisida
(Studi Kasus di Kabupaten Nganjuk, Provinsi
Jawa Timur)
Tahun
: 2008
Jenis Pustaka
: Jurnal
Bentuk Pustaka
: Elektronik
Nama Penulis
: Luluk Sulistiyono, Rudy C. Tarumingkeng,
Bunasor Sanim, dan Dadang
Nama Jurnal
: Jurnal Agroland
Volume (edisi); hal : Vol. 15, No. 1: 12-17, Maret 2010
Alamat URL/doi
:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=10795&val=752
Tanggal diunduh
: 20 0ktober 2014, pukul 09.47 WIB
Ringkasan Pustaka
Pemerintah telah melakukan beberapa langkah untuk melaksanakan
pengelolaan penggunaan pestisida, diantaranya melalui program pengelolaan
hama secara terpadu yang sebelumnya disebut pengendalian hama terpadu (PHT).
Peneliti mengungkapkan bahwa terkait hal tersebut telah dimuat dalam Undangundang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian dan Surat
Keputusan Menteri Pertanian/Ketua Badan Pengendali BIMAS Nomor
14/SK/Mentan/Bimas.XII/1990 tentang pedoman pelaksanaan Pengendalian
Hama Terpadu. Didalam peraturan, yang dimaksudkan dengan PHT adalah suatu
konsep pengendalian hama yang memadukan beberapa cara pengendalian untuk
mempertahankan hasil panen yang tinggi dan menguntungkan petani serta
memelihara kelestarian lingkungan. Pemerintah mengharapkan dalam rangka
10
penggunaan pestisida dilaksanakan secara benar sesuai dengan aturan yang telah
direkomendasikan. Namun aplikasi pestisida secara langsung di lapangan masih
terbentur oleh beberapa faktor diantaranya faktor pengetahuan petani tentang
pestisida, sikap petani terhadap peraturan penggunaan pestisida dan tindakan
penggunaannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjajaki pengetahuan petani
tentang pestisida, sikap petani terhadap peraturan yang ditetapkan, tindakan petani
dalam penggunaan pestisida dan menganalisis korelasi antar variabel serta
mengetahui dampak negatifnya pada aktivitas Acetylcholinesterase. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Stratified Sampling yang didasarkan pada
jenjang pendidikan formal dan sekolah lapang pengelolaan hama terpadu
(SLPHT).
Secara umum petani SLPHT dan Non SLPHT pada masing-masing
jenjang pendidikan memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Penelitian ini
menyebutkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan dan
keikutsertaannya dalam sekolah lapang hama terpadu memiliki pengetahuan
yang lebih tinggi. Perbedaan ini sangat dimungkinkan oleh lamanya pendidikan
dan bobot kurikulum yang diterima masing-masing petani selama menempuh
jenjang pendidikan formal. Pada variabel sikap terhadap aturan penggunaan
pestisida, petani SLPHT lebih tinggi jika dibandingkan dengan petani Non
SLPHT. Tingginya jenjang pendidikan mempunyai relevansi positif terhadap
penentuan sikap. Sesuai dengan konsep yang digunakan peneliti, yaitu menurut
Mar’at (1994) yang menyatakan bahwa terbentuknya sikap sangat dipengaruhi
oleh aspek kemampuan Cognitif yang berupa pengetahuan yang didasarkan pada
informasi yang berhubungan dengan suatu obyek tertentu.
Penelitian ini menggunakan analisis Rank Spearman’s antara pengetahuan
dan sikap petani SLPHT menunjukkan korelasi yang sangat signifikan (skor :
0.61) sebaliknya dengan petani Non SLPHT (skor : 0.28). Hal ini menunjukkan
bahwa SLPHT telah mampu mempengaruhi petani untuk menentukan sikap
terhadap aturan penggunaan pestisida. Muatan kurikulum yang diberikan
dalam SLPHT dengan tegas memberikan pertimbangan bahwa dalam penggunaan
pestisida di lahan oleh seorang petani harus mempertimbangkan tiga aspek
meliputi aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Rendahnya korelasi antara
pengetahuan dan sikap pada petani Non SLPHT disebabkan oleh tidak ada
kontribusi muatan SLPHT kepadanya, sehingga bentukan sikap yang diambil
lebih banyak dipengaruhi oleh informasi yang diyakini kebenarannya secara turun
temurun yang diperoleh secara pribadi ataupun komunikasi antar petani.
Hubungan antara sikap dan tindakan petani dalam penggunaan pestisida
pada kedua kelompok tani menunjukkan korelasi yang tidak signifikan. Pada
petani SLPHT (skor ; 0.37) sedangkan petani Non SLPHT (skor : 0.39). Tidak
konsistennya petani ditandai dengan melakukan penyemprotan secara terjadwal,
tidak tepatnya sasaran, tidak tepat dosis (kecenderungan mencampur beberapa
pestisida), tidak menggunakan kelengkapan pengamanan diri dan kurang
memperhatikan kelestarian lingkungan. Beberapa faktor yang mempengaruhi
lemahnya hubungan antara sikap dan tindakan petani adalah (1) Anxienty artinya
petani merasa cemas yang sangat hebat jika terjadi kegagalan panen yang
mengakibatkan nilai investasi yang tidak kembali (Biaya per hektar bisa mencapai
Rp. 36,6 juta/ha), (2) Forcasting, lemahnya kemampuan petani untuk
11
memprediksi serangan hama dan penyakit kedepan selama musim tanam, hal ini
khususnya bagi petani SLPHT sehingga kecenderungan melakukan penyemprotan
secara terjadwal, (3) Rendahnya kesadaran petani dalam implementasi PHT hal ini
didorong oleh kurangnya pengelolaan dan pemantauan berkesinambungan oleh
pegawai Penyuluh Lapangan, (4) Behavior Intention, petani memiliki niat
berperilaku PHT karena dukungan aspek Cognitif, namun implementasinya sangat
dipengaruhi oleh situasi sekitarnya, sehingga keinginan berperilaku sesuai aturan
menjadi terhambat, (5) Internal Conflic, faktor internal yang paling berpengaruh
adalah antara pemenuhan kebutuhan dan kendala usahanya, gangguan OPT yang
hebat menimbulkan kekawatiran yang selanjutnya menimbulkan kecemasan yang
sangat hebat (kekalutan) sehingga mendorong petani bertindak yang tidak terarah
dalam mengaplikasikan pestisida.
Dalam penelitian ini sebagai parameter terpapar oleh pestisida adalah
gangguan aktivitas Acetylcholinesterase darah. Hasil pengujian darah petani
pengguna pestisida di tiga kecamatan telah dinyatakan terpapar pestisida
khususnya organofosfat dan karbamat terhadap aktivitas Acetylcholinesterase
darah 19, 81% mengalami gangguan kategori sedang dan 34,67 % kategori ringan.
Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang digunakan peneliti
sebagai pembanding, yaitu bedasarkan hasil penelitian Nuryana (2005) petani
bawang merah yang sering kontak dengan pestisida di wilayah Brebes telah
terpapar pestisida yang ditandai dengan penurunan aktifitas Acetylcholinesterase
pada kategori ringan sampai sedang.
Analisis Pustaka
Penelitian ini menambah pengetahuan terkait pengetahuan, sikap, dan
tindakan petani dalam kegiatan pertanian yang dilakukan petani. Semakin tinggi
jenjang pendidikan mempengaruhi pengetahuan dan sikap yang dilakukan oleh
petani untuk tidak menggunakan pestisida. Namun, pembahasan mengenai apa itu
Acetylcholinesterase kurang begitu dijelaskan pada penelitian ini. Penelitian ini
juga kurang didukung oleh teori yang sesuai.
5. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
: Analisis Efektivitas Komunikasi Model Prima
Tani sebagai Diseminasi Teknologi Pertanian di
Desa Citarik, Kabupaten Karawang, Jawa Barat
: 2008
: Jurnal
: Elektronik
: A. Saleh dan F.N. Suwanda
: Jurnal Komunikasi Pembangunan
: Vol. 06, No. 2: 66-79
: 5669-16045-1-PB.pdf
: 28 Desember 2014, pukul 03.48 WIB
Ringkasan Pustaka
Penguasaan teknologi sumberdaya lahan pada prinsipnya memahami
sumberdaya informasi sistem usaha pertanian. Oleh sebab itu, penguasaan
informasi dan inovasi pertanian, sangat dibutuhkan dalam upaya merumuskan
kebijakan pembangunan pertanian, mengantisipasi perubahan fundamental dalam
12
lingkungan biofisik pertanian, politik dan sosial-ekonomi. Informasi dan teknologi
komoditas pertanian yang diciptakan dan dikembangkan, adalah informasi dan
teknologi yang memiliki karakter, antara lain berdaya saing tinggi, produk
unggulan dan kompetitif, berwawasan lingkungan, terintegrasi dengan sektorsektor lain, dan memenuhi permintaan pasar. Prima Tani adalah suatu model atau
konsep baru diseminasi teknologi yang dipandang dapat mempercepat
penyampaian informasi dan bahan dasar inovasi yang dihasilkan Badan Litbang
Pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas
komunikasi model Prima Tani usahatadi padi di Desa Citarik. Media komunikasi
Prima Tani pada penelitian ini adalah gelar teknologi, penyuluhan, dan klinik
prima tani.
Penelitian ini menyatakan bahwa keragaman kelembagaan tani yang
dilihat dari keeratan dan kenyamanan hubungan, iklim komunikasi termasuk
tinggi. Aksesibilitas yang paling baik dan kredibel menurut petani adalah kontak
dengan para petani dimana terdapat kepercayaan yang tinggi dari petani kepada
peneliti. Pemanfaatan media komunikasi Prima Tani adalah aktivitas petani
menggunakan dan mengikuti kegiatan promosi, sosialisasi dan informasi melalui
gelar teknologi, penyuluhan, dan klinik Prima Tani. Selain itu, hasil dari
penelitian ini adalah diseminasi dikatakan efektif, jika penerima paham, mengerti,
mendukung, menerima Prima Tani, menyukai, antusias, sudah menerapkan dan
puas karena sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh sumber.
Terdapat hubungan sangat nyata antara keragaan kelembagaan tani (tujuan
kelompok, fungsi kelompok, manfaat rencana kerja, iklim komunikasi kelompok,
perilaku kepemimpinan), aksesibilitas (media massa, penyuluhan, kontak dengan
peneliti, kontak dengan petani lain), serta syarat mutlak dan pelancar (teknologi,
pendidikan pembangunan, kredit produksi, gotong-royong dan perencanaan
nasional) dengan penyuluhan dalam pemanfaatan media komunikasi Prima Tani
dan terdapat hubungan yang nyata antara aksesibilitas (kontak dengan petani di
luar kelompok), serta syarat mutlak dan pelancar (pasar, pengangkutan serta lahan
dan tanah pertanian) dengan penyuluhan dalam pemanfaatan media komunikasi
Prima Tani.
Analisis Pustaka
Hasil penelitian tersebut tidak sepenuhnya relevan dengan topik penulis,
akan tetapi mampu menambah pengetahuan penulis mengenai komunikasi model
prima tani sebagai salah satu media komunikasi petani dalam menjalankan
kegiatan pertaniannya. Komunikasi Prima Tani tidak lepas dari penggunaan media
komunikasi dimana relevan dengan topik yang sedang diajukan oleh penulis,
namun dalam penelitian tersebut kurang menjelaskan secara jelas terkait
penggunaan media komunikasi sendiri. Terdapat kelemahan dalam penelitian
tersebut karena kurang menjelaskan maksud atau pengertian dari model
komunikasi prima tani tersebut.
6. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
: Kebutuhan Informasi Petani Gurem (Kasus Desa
Rowo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten
Temanggung)
: 2010
: Jurnal
13
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
:
:
:
:
:
Elektronik
Hanifah Ihsaniyati
Agritext
No. 28: 102-116
http://google.com/4.4%20Hanifah%20Ihsaniyati,
%20SP,%20MSi.pdf
: 20 Oktober 2014, pukul 09.39 WIB
Ringkasan Pustaka
Informasi yang dibutuhkan oleh setiap individu berbeda dan tidak dapat
disamakan. Informasi sendiri selayaknya sesuai dengan kebutuhan yang ingin
dicapai oleh individu tertentu, dalam hal ini adalah petani. Informasi yang datang
harus sesuai dengan keinginan petani dalam menunjang produktivitas
usahataninya. Namun, kenyataan dalam penelitian ini adalah masih banyak petani
yang tidak memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini
menyebabkan ketidakefektivan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani
gurem.
Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan kebutuhan informasi petani
gurem dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar, yaitu bekerja baik menjalankan
usahatani maupun pekerjaan lain. Metode penelitian ini menggunakan paradigma
konstruktivisme, yaitu mengarah pada pendekatan kualitatif (qualitative
approach). Lokasi dilakukan secara sengaja dan subyek penelitian dilakukan
dengan teknik bola salju (snowball sampling).
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat dua golongan petani gurem di
Desa Rowo, yaitu petani gurem Pengambil Resiko Tinggi (PRT) dan Pengambil
Resiko Rendah (PRR). Hal tersebut diindikasikan karena petani bukan masyarakat
yang homogen dan melulu bekerja di pertanian. Petani gurem PRT
membutuhkan informasi yang lebih bersifat fluktuatif, akurat, perlu
pemenuhan segera (berkaitan dengan waktu), berkaitan dengan untung/rugi
secara ekonomis maupun non ekonomis, perlu pemantauan terus menerus.
Petani gurem PRR membutuhkan membutuhkan informasi yang cenderung
lebih stabil, rutin dan biasa, relatif rendah resiko, dan bagi petani gurem
relatif tidak mendesak.
Berdasarkan data dari penelitian tersebut, diketahui bahwa jumlah rumah
tangga di Desa Rowo adalah 597 keluarga, 400 kepala keluarga berprofesi sebagai
petani. Dari 400 rumahtangga petani (RTP) yang memiliki lahan, ada 370
rumahtangga petani (RTP) dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar.
Selain memiliki lahan sempit, mereka juga dihadapkan pada keterbatasan alam,
yaitu lahan sawah yang mereka garap sangat tergantung dari ada tidaknya air
hujan (sawah tadah ujan).
Peneliti menggunakan definisi petani gurem dari Scott (1981) yang
menyatakan bahwa petani gurem adalah golongan orang-orang pasif. Namun data
dalam penelitian ini menunjukkan bahwa petani gurem di Desa Rowo bukan
orang yang pasif. Untuk bertahan hidup dan meningkatkan mereka aktif dan
bersungguh-sungguh dalam bekerja baik menjalankan usahatani maupun
pekerjaan lain di luar usahatani. Scott (1981) juga memberikan deskripsi bahwa
petani tidak akan mengambil tindakan yang berbahaya, beresiko tinggi dan
mengancam tingkat subsistensi mereka. Menurutnya mereka ini adalah
14
masyarakat yang “mendahulukan selamat” dan lebih memusatkan diri pada usaha
menghindarkan jatuhnya produksi, bukan kepada usaha memaksimumkan
keuntungan-keuntungan harapan. Data dalam penelitian ini menggambarkan
sebaliknya. Sebagian petani gurem di Desa Rowo berani mengambil resiko.
Perilaku berani mengambil resiko dicirikan salah satunya dari jenis komoditi yang
diusahakan dan pekerjaan di luar usahatani yang ditekuni.
Berdasar data penelitian diketahui bahwa petani gurem di Desa Rowo
bukan masyarakat yang homogen dan melulu bekerja di pertanian. Untuk
itu, peneliti menduga ada dua golongan petani gurem di Desa Rowo, yaitu petani
gurem Pengambil Resiko Tinggi (PRT) dan Pengambil Resiko Rendah (PRR).
Masing-masing golongan memiliki ciri khas dan sifat/karakter yang berbeda.
Petani gurem PRT di antaranya cenderung memiliki sifat atau karakter berani
mengambil resiko, berpikir lebih komersial, berani keluar dari zona aman, dan
gigih dalam menyelesaikan masalah. Petani gurem PRT menekuni usahatani atau
pekerjaan lain yang cenderung lebih komersial, beresiko tinggi, membutuhkan
modal besar, garapan atau pekerjaan rumit, membutuhkan curahan pikiran,
konsentrasi, dan tenaga yang lebih besar. Usahatani atau pekerjaan lain yang
memiliki ciri-ciri tersebut antara lain usahatani cabai, usahatani tembakau,
usahatani kembang kol, usahatani tomat, pengrajin atau pebisnis keranjang
tembakau, usaha camilan, usaha warung. Petani gurem PRR menjalankan
usahatani atau pekerjaan lain yang cenderung lebih rendah resiko, tidak
membutuhkan modal besar, garapan/pekerjaan relatif mudah, tidak membutuhkan
banyak curahan pikiran dan konsentrasi. Usahatani atau pekerjaan lain yang
memiliki ciri-ciri tersebut antara lain usahatani jagung, usahatani caisim,
usahatani kacang panjang, usahatani ketela pohon, usahatani kacang tanah,
usahatani ketela rambat, usahatani singkong, pengrajin keranjang sayur atau buah,
sopir, ojek, tukang rongsok, tukang kayu, pengrajin batu bata, buruh tani,
pedagang bibit, pedagang roti keliling (sales roti), guru honorer, TKI atau TKW,
serabutan.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa Kebutuhan informasi petani gurem
di Desa Rowo melekat pada masalah yang sedang dirasakan mereka pada saat
bekerja baik menjalankan usahatani maupun pekerjaan lain di luar usahatani.
Kebutuhan informasi dirasakan petani gurem di Desa Rowo sebagai suatu kondisi
dimana pengetahuan mereka tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang muncul di benak atau pikiran mereka saat mereka ingin menyelesaikan
masalah yang tengah dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan di benak mereka tersebut
membuat mereka ingin mengetahui, penasaran, gundah atau gelisah, dan tidak ada
kepastian.
Dari data penelitian, peneliti menduga kebutuhan informasi petani gurem
Pengambil Resiko Tinggi (PRT) dan petani gurem Pengambil Resiko Rendah
(PRR) berbeda. Namun, berkaitan dengan permasalahan umum petani di Desa
Rowo baik petani gurem PRT maupun PRR memiliki kebutuhan informasi yang
sama. Kebutuhan informasi petani gurem di Desa Rowo secara umum antara
lain cara membuat pupuk organik, tanaman yang cocok untuk lahan di Desa
Rowo, dan pekerjaan atau usaha lain yang lebih menguntungkan. Kedua
golongan petani gurem baik petani gurem PRT dan PRR sama-sama memiliki
kebutuhan informasi berkaitan dengan komoditi padi.
15
Kebutuhan informasi petani gurem PRT meliputi informasi yang lebih
bersifat fluktuatif, akurat, perlu pemenuhan segera (berkaitan dengan waktu),
berkaitan dengan untung atau rugi secara ekonomis maupun non ekonomis, perlu
pemantauan terus menerus. Informasi yang dibutuhkan petani gurem PRT
antara lain informasi pinjaman modal (cabai, tembakau, keranjang
tembakau, usaha camilan, usaha warung), hama penyakit tanaman (cabai,
kembang kol, tomat, tembakau), perkembangan harga (cabai, kembang kol,
tomat, tembakau, bahan baku camilan, barang dagangan, debog, keranjang
tembakau), budidaya komoditi atau varietas pertanian yang sedang laku di
pasaran, pembeli hasil panen, pemasaran (tenaga pemasaran camilan,
perluasan pasar camilan dan roti).
Kebutuhan informasi petani gurem PRR meliputi informasi yang lebih
stabil, rutin dan biasa, relatif rendah resiko, dan bagi petani gurem relatif tidak
mendesak. Informasi yang dibutuhkan petani gurem PRR antara lain
berkaitan dengan penunjang pekerjaan atau profesi sehari-hari (kendaraan
yang rusak, teknik mengajar, kendaraan sewa, tempat kulakan, jenis
keranjang sayur yang dipesan pembeli, upah atau honor terutang,
premanisme penumpang ojek, keberadaan barang rongsok di rumahtangga,
ketersediaan kayu bakar untuk batu bata, tumpangan transportasi),
alternatif tempat bekerja sebagai buruh tani yang lebih dekat, hama
penyakit tanaman jagung, teknologi (pemasaran sayuran yang lebih baik,
peningkatan kualitas batu bata, pembakaran batu bata), perkembangan
harga rutin (barang rongsok, keranjang sayur), pengguna jasa (tukang kayu,
buruh tani).
Kebutuhan informasi petani gurem PRT berbeda dengan PRR. Jika
informasi yang disajikan pada masing-masing mereka tidak tepat, maka kebijakan
komunikasi menjadi kurang efektif dan efisien. Petani gurem PRT membutuhkan
pemenuhan informasi segera karena berkaitan dengan untung rugi secara
ekonomis dan non ekonomis (ketenangan hati), maka kebijakan informasi untuk
mereka perlu memperhatikan unsur waktu tersebut. Meskipun kebutuhan
informasi petani gurem PRR cenderung meliputi informasi yang stabil, tetapi
mereka tetap membutuhkan informasi tertentu. Kebijakan komunikasi yang
diterapkan lembaga informasi perlu tetap memperhatikan kebutuhan informasi
petani gurem PRR.
Analisis Pustaka
Penelitian ini menambah pengetahuan mengenai pentingnya kebutuhan
informasi yang diterima oleh petani harus sesuai dengan kebutuhan petani. Seperti
yang diketanui, setiap petani memiliki kebutuhan yang berbeda-beda terhadap
kebutuhan usahatani mereka, oleh karena itu informasi yang diberikan harus
sesuai dengan kebutuhan petani tersebut. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa
sesungguhnya perilaku komunikasi petani sangat aktif dalam mencari informasi,
namun ketersediaan informasi yang tidak sesuai menyebabkan petani sulit untuk
bergerak lebih jauh lagi.
16
7. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (edisi); hal
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
: Media Komunikasi Mendukung Percepatan Alih
Teknologi Produksi Padi Sawah di Tingkat
Petani
: 2010
: Jurnal
: Elektronik
: Armiati, Nasruddin Razak, dan Yusmasari
: Jurnal Agrisistem
: Vol. VI, No. 1; 1-14
: http://www.stppgowa.ac.id/
: 20 Oktober 2014, pukul 09.49 WIB
Ringkasan Pustaka
Kesesuaian media komunikasi sangat dibutuhkan agar teknologi yang
dianjurkan dapat diterima dan diadopsi oleh petani. Media sangat erat kaitannya
dengan komunikasi karena media merupakan salah satu komponen atau unsur
yang menjadi pensyaratan untuk terjadinya suatu komunikasi. Perkembangan
Ilmu pengetahuan dan tenologi dewasa ini telah menghasilkan begitu banyak
media komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi kepada
petani. Tetapi di lain pihak, dengan semakin banyaknya media yang tersedia
menuntut pertimbangan dalam menetapkan dan menggunakan media komunikasi
yang tepat untuk membantu mendisseminasikan suatu informasi. Media
komunikasi yang banyak digunakan sebagai media alih teknologi adalah media
tercetak (liptan, brosur, dan poster; pertemuan (seminar, temu lapang, dan lainlain); dan media elektronik (video, kaset, dan lain-lain). Namun demikian,
menurut peneliti mengutip Haryati (2008) perlu diperhatikan bahwa keefektifan
media ini sangat tergantung pada kemampuan membaca sasarannya. Penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan saluran atau media komunikasi dalam rangka
mempercepat proses alih teknologi dari sumber ke pengguna.
Penyuluh pertanian yang dijadikan responden pada penelitian ini adalah
penyuluh pertanian yang membawahi wilayah-wilayah yang menjadi lokasi
sampel, yaitu penyuluh pertanian pada BPP Banti-murung dan BPP Maros Baru
(Kabupaten Maros), penyuluh pertanian pada BPP Watang Sawitto dan BPP
Paleteang (Kabupaten Pinrang). Berdasarkan pengalaman dan tingkat pendidikan
penyuluh, merupakan potensi yang cukup besar dalam pelaksanaan alih teknologi
ke tingkat petani. Sedangkan berkaitan dengan inovasi teknologi, materi yang
diminati penyuluh tidak dibatasi pada disiplin ilmu masing masing karena dalam
tugas sehari-hari mereka tidak bisa secara tegas hanya memfasilitasi para petani
sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.
Petani responden di Kabupaten Pinrang rata-rata berumur 43 tahun dengan
kisaran 22–60 tahun, yang didominasi oleh umur di bawah 50 tahun (80%).
Kondisi ini merupakan salah satu potensi untuk pengembangan padi di daerah ini
karena mampu menarik minat generasi muda untuk menekuni bidang usaha di
sektor pertanian.
Proses keputusan inovasi merupakan proses yang dilalui individu dalam
menentukan keputusan. Peneliti mengacu kepada konsep yang dikemukakan oleh
Rogers (1983) dimana menyatakan bahwa tahapan adopsi inovasi atau calon
pengguna pada umumnya melalui lima tahap, yaitu: (a) tahap pengetahuan, yaitu
17
ketika individu atau unit pengambil keputusan mengatahui adanya suatu inovasi
dan memperoleh beberapa pemahaman tentang fungsinya, (b) tahap persuasi,
yaitu timbulnya minat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai suatu inovasi, (c)
tahap keputusan, yaitu kegiatan yang menuju pada suatu pilihan untuk menerima
atau menolak suatu inovasi, (d) tahap pelaksanaan yang merupakan tahap dimana
individu atau unit pengambil keputusan mengambil suatu inovasi untuk
digunakan, dan (e) konfirmasi ketika individu mencari informasi untuk
menguatkan keputusan yang telah dibuatnya.
Dari hasil wawancara, penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan
pengalaman semua responden baik di Kabupaten Maros maupun di Kabupaten
Pinrang melewati tahap pengenalan dan tahap persuasi sebelum mengambil
keputusan untuk menerima atau menolak suatu teknologi. Tetapi pada tahap
pengambilan keputusan, untuk Kabupaten Maros hanya 28 orang (70%) petani
responden yang mencoba inovasi baru dalam skala kecil sebelum memutuskan
menerima atau menolaknya. Untuk petani responden Kabupaten Pinrang 38 orang
(78%) responden biasanya mencoba inovasi teknologi dalam skala kecil sebelum
mengambil keputusan. Sedangkan apabila petani memutuskan untuk menerima
teknologi baru dan melaksanakannya, mereka masih akan menilai kembali
teknologi tersebut (tahap konfirmasi). Pada tahap ini petani biasanya mencari
penguat bagi keputusannya sehingga mereka dapat melanjutkan,
menyempurnakan atau berhenti mengadopsi suatu inovasi teknologi. Berdasarkan
pengalaman petani, hal-hal yang biasanya membuat mereka berhenti mengadopsi
inovasi baru adalah (a) kerumitan teknologi; (b) perubahan iklim atau kondisi
lingkungan dan (c) kesukaan pedagang terhadap produksi (apabila inovasi
teknologinya varietas).
Konsep komunikasi yang digunakan oleh peneliti ini adalah yang
dikemukakan oleh Efendi (1992) dimana menyatakan komunikasi adalah proses
penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu
atau untuk mengubah sikap pendapat atau perilaku baik secara lisan maupun
dengan menggunakan media. Media sangat erat kaitannya dengan komunikasi
karena media merupakan salah satu komponen yang menjadi pensyaratan untuk
terjadinya suatu komunikasi. Sedangkan media atau channel adalah saluran yang
digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada sasarannya.
Dalam proses komunikasi selain menggunakan media massa juga digunakan
saluran interpersonal yang melibatkan tatap muka antara dua orang atau lebih.
Metode penyuluhan yang menggunakan media interpersonal adalah pertemuan
atau diskusi, demonstrasi, gelar teknologi pertanian, dan lain-lain. Setiap media
memiliki karakteristik sendiri dalam meneruskan pesan dan mempunyai peran
yang berbeda pada setiap tahap keputusan inovasi. Media dan metode komunikasi
yang dipilih pada setiap tahapan adopsi diuraikan sebagai berikut:
Tahap Pengenalan
Hasil wawancara menunjukkan bahwa semua responden melewati tahap
pengenalan inovasi teknologi sebelum memutuskan menerima atau menolak suatu
inovasi teknologi. Hal ini sejalan dengan konsep yang masih digunakan oleh
peneliti, yaitu menurut Rogers dan Shoemaker dalam Hanafi (1987) yang
menyatakan bahwa kombinasi dari media interpersonal dan media massa
merupakan cara yang efektif dalam mem-perkenalkan ide-ide baru kepada pengguna. Alasan utama petani memilih diskusi kelompok adalah pertemuannya tidak
18
terlalu formil sehingga mereka bebas berinteraksi baik dengan penyuluh maupun
dengan sesama petani. Kombinasi media interpersonal dan media cetak yang
banyak diinginkan oleh responden adalah metode diskusi kelompok dengan
media cetak yaitu masing-masing 57,5 % untuk responden Maros dan 42 %
untuk responden Pinrang. Hal ini mengindikasikan bahwa petani lebih memilih
komunikasi yang tidak terlalu formil dalam penyampaian inovasi dengan disertai
bahan bacaan yang lebih lengkap untuk dijadikan sebagai bahan diskusi.
Tahap Persuasi
Media dan metode komunikasi yang diinginkan oleh petani pada tahap ini
baik petani responden Pinrang maupun Maros 100% memilih media interpersonal
dengan metode demonstrasi dengan alasan bahwa ingin melihat langsung
pelaksanaan suatu inovasi baru maupun hasilnya. Untuk media cetak umumnya
masih memilih brosur dengan alasan informasi teknologinya lebih lengkap
dibanding dengan media cetak lainnya. Kombinasi media dan metode yang
dipilih menunjukkan bahwa kombinasi antara media interpersonal
(demplot+diskusi dengan penyuluh secara kelompok) dengan brosur paling
banyak dipilih oleh petani responden yaitu 78% untuk Pinrang dan 67%
untuk Maros.
Tahap Pengambilan Keputusan
Pada tahap ini, 100% petani memilih media interpersonal. 65%
responden Maros memilih Sekolah Lapang (SL) dan 35% responden
memilih diskusi kelompok dengan penyuluh dan bertanya ke sesama petani.
Untuk responden Pinrang 60% memilih SL dan 40 % memilih diskusi kelompok
dengan PPL dan bertanya ke sesama petani. Alasan petani memilih SL adalah
untuk lebih memahami pelaksanaan teknologi, mengetahui masalah dan mencari
jalan keluar dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan yang tidak memilih SL
memberikan alasan menganggap bahwa SL membutuhkan waktu yang banyak
sedangkan mereka mempunyai kegiatan yang lain. Selain itu ada pula yang
beralasan bahwa mereka tidak bisa menulis sehingga memilih bertanya kesesama
petani yang mengikuti SL.
Tahap Implementasi dan Penilaian Kembali
Dalam pelaksanaannya para penyuluh tersebut membutuhkan inovasi atau
informasi teknologi pertanian baik berupa frontier technology, teknologi yang
dapat menjawab permasalahan ataupun teknologi yang dapat mengembangkan
potensi. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan penyuluh terhadap inovasi
teknologi tersebut berkaitan erat dengan tingkat kredibilitas mereka. Kredibilitas
penyuluh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan alih
teknologi ke petani. Hasil penelitian ini juga menyebutkan bahwa semua penyuluh
responden baik Kabupaten Maros maupun Pinrang menginginkan pelatihan
disertai dengan buku pegangan baik berupa juknis, brosur maupun buku
yang berkaitan dengan pengetahuan prin-sip yang berhubungan dengan
peningkatan IP Padi. Selain itu 85,71% penyuluh responden Maros dan
76,19% penyuluh responden Pinrang menginginkan CD yang dapat
digunakan untuk menambah penge-tahuan dan keterampilannya.
Analisis Pustaka
Temuan penelitian ini mampu menambah pengetahuan mengenai
pentingnya memilih media komunikasi yang tepat sebelum melakukan kegiatan
19
pertanian dengan tujuan untuk mendukung percepatan produktivitas pertanian
mereka. Jurnal ini juga sangat cocok digunakan sebagai panduan utama
melakukan penelitian selanjutnya bagi penulis. Jumlah responden tertulis jelas.
Pembahasan juga ditulis dengan spesifik dan jelas, serta mampu menjawab tujuan
dari penelitian itu sendiri. Media Komunikasi dalam penelitian tersebut dikaitkan
dengan tahap-tahap adopsi sebelum mengadopsi suatu inovasi teknologi sehingga
menambah pengetahuan penulis bahwa media komunikasi dapat digunakan di
segala aspek kegiatan petani khususnya dalam kegiatan usahatani.
8. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
: Hubungan
Perilaku
Komunikasi
dengan
Pemahaman Petani terhadap Fungsi Radio
Komunitas (Kasus Radio Komunitas Petani
Trisna Alami, Desa Kaliagung, Kecamatan
Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi D.I.
Yogyakarta)
: 2011
: Skripsi
: Elektronik
: Anies Wahyu Nurmayanti
:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/1234
56789/51328/I11awn.pdf?sequence=1
: 20 Oktober 2014, pukul 17.26 WIB
Ringkasan Pustaka
Seiring perkembangan informasi dan komunikasi massa yang semakin
maju pesat, fungsi media massa tidak hanya sebagai media hiburan semata, akan
tetapi mampu memberdayakan masyarakat sebagai upaya pengembangan
masyarakat. Sejak era reformasi di Indonesia, muncul keinginan, kebutuhan dan
keberanian masyarakat untuk mengekspresikan eksistensi dirinya melalui radio
komunitas yang menjadi ruang publik warga. Radio komunitas juga dapat menjadi
wadah pemberdayaan masyarakat pedesaan untuk bersama-sama berpartisipasi
meningkatkan kualitas kesejahteraan anggota komunitas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis
hubungan perilaku komunikasi dengan pemahaman petani terhadap fungsi radio
komunitas, yaitu sebagai komunikasi internal, sarana pendidikan umum dan
agama, serta ruang publik. Penelitian ini didesain sebagai penelitian survai dengan
tipe explanatory research. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga
April 2011 di Desa Kaliagung. Pengambilan sampel dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara pengambilan sampel acak sederhana. Kemudian dibuatlah
daftar nama seluruh anggota kelompok tani pendengar radio komunitas yang
terpilih itu. Dari kerangka sampling tersebut, sampel yang akan dipilih dilakukan
dengan menggunakan pola pengundian. Pemilihan petani dalam penelitian
menggunakan Rumus Slovin sebanyak 40 petani.
Keterlibatan petani yang paling banyak diikuti adalah membantu
operasional radio komunitas berupa membayar iuran (65 %), sedangkan
keterlibatan petani paling sedikit adalah mengisi program acara radio komunitas
(12,5 %). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 35 persen petani
20
terlibat rapat dalam pembentukan Radio Komunitas Petani Trisna Alami
dan mengirimkan sms untuk meminta lagu dan mengirim salam ke petani
pendengar radio komunitas. Keterlibatan petani dalam menyumbang ide
nama radio dan memberi usul waktu siaran masing-masing sebanyak 17,5
persen petani.
Peneliti mendefinisikan perilaku komunikasi sebagai tindakan atau tingkah
laku pendengar dalam mendengarkan radio siaran. Peubah ini dapat diukur
dengan lima indikator, yaitu tingkat keterdedahan dengan saluran komunikasi
interpersonal (Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat
keterdedahan saluran komunikasi interpersonal yang tergolong rendah
sebesar 45 persen petani dan yang tergolong tinggi 55 persen),
kekosmopolitan (Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 40 persen petani
tergolong lokalit dan 60 persen tergolong kosmopolit), frekuensi bertemu dengan
penyuluh (Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 47,5 persen petani
tidak pernah bertemu dengan penyuluh dan 52,5 persen pernah bertemu
dengan penyuluh), keterdedahan media massa lain (Hasil penelitian ini
menunjukkan frekuensi menonton televisi tergolong pernah sebanyak 97,5
persen petani dengan lama rata-rata menonton televisi selama kurang dari
satu jam sebanyak 60 persen. Frekuensi mendengarkan radio lain tergolong
pernah sebanyak 62,5 persen petani dengan lama rata-rata kurang dari 0,5
jam sebanyak 67,5 persen. Sebanyak 40 persen petani pernah membaca
koran dengan lama rata-rata membaca selama kurang dari 0,5 jam sebanyak
72,5 persen, sedangkan frekuensi mendengarkan Radio Komunitas Petani
Trisna Alami tergolong tinggi sebanyak 60 persen petani dengan lama
mendengarkan kurang dari 2,25 jam sebanyak 62,5 persen), serta
keterdedahan dengan Radio Komunitas Petani Trisna Alami (Hasil penelitian ini
menunjukkan sebagian besar frekuensi petani dalam mendengarkan radio
komunitas tergolong tinggi (60 %) dan lama rata-rata mendengarkan radio
komunitas selama kurang dari 2,25 jam sebesar 62,5 persen petani.
Analisis Pustaka
Pengelola Radio Komunitas Petani Trisna Alami perlu menyusun kembali
program-program yang menarik dan disesuaikan dengan keinginan masyarakat,
sehingga kebutuhan informasi dapat terpenuhi. Perlu adanya peninjauan ulang
fungsi radio komunitas yang telah dirumuskan. Dan perlu penelitian berikutnya
untuk menguatkan hasil yang telah diperoleh oleh penelitian ini. Untuk
pembahasan yang disajikan dalam penelitian tersebut sudah mampu menambah
pengetahuan terkait media komunitas juga memiliki andil dalam penyebarluasan
informasi pertanian.
9. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Alamat URL/doi
: Pemanfaatan Informasi oleh Petani Sayuran
(Kasus di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan
Cibungbulang, Kabupaten Bogor)
: 2012
: Tesis
: Cetak
: Dwi Retno Hapsari
: -
21
Tanggal diunduh
:
-
Analisis Pustaka
Penelitian ini mengungkapkan bahwa saat ini para petani, termasuk petani
sayuran dapat memajukan pertanian dengan memanfaatkan berbagai sumber
informasi melalui komunikasi interpersonal dan beberapa media komunikasi
sebagai alat komunikasi dan informasi yang menunjang usahatani sayuran
mereka. Semakin beragamnya komoditi pertanian para petani membuat petani
aktif mencari, menyeleksi, dan memanfaatkan informasi melalui berbagai sumber
informasi sebagai landasan untuk meningkatkan pengelolaan usahatani
sayurannya.
Informasi bermanfaat bagi siapa saja, baik perorangan atau kelembagaan,
termasuk petani yang juga membutuhkan informasi. Sektor pertanian di Indonesia
hingga saat ini masih dianggap sektor strategis, bukan hanya karena sektor ini
mampu menyediakan lapangan pekerjaan, pendorong munculnya industri baru
atau kegiatan ekonomi yang lain, tetapi juga berperan sebagai sumber penyedia
pangan serta mampu menyumbang devisa nasional. Intinya adalah pertanian
menjadi basis pembangunan perekonomian Indonesia dan tidak dipandang sebagai
masalah sektoral belaka. Penelitian ini dilakukan di Desa Ciaruteun Ilir,
Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan pertimbangan wilayah
tersebut merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Kabupaten Bogor.
Hasil dari penelitian ini adalah adanya hubungan nyata antara
karakteristik petani sayuran dengan tingkat keterdedahan sumber
informasi. Hal tersebut diperoleh dari salah satu data dimana menyatakan bahwa
semakin tinggi pendapatan petani, maka jumlah sumber informasi yang diakses
juga akan meningkat atau semakin tinggi juga. Penelitian ini juga menyatakan
bahwa terdapat hubungan yang nyata antara persepsi petani sayuran
terhadap pelayanan pertanian dengan tingkat keterdedahan sumber
informasi. Hasil tersebut diperoleh dari data yang diperoleh dimana salah satu
data menyatakan bahwa hubungan sangat nyata antara peubah persepsi petani
terhadap saranan produksi pertanian dengan jumlah informasi yang diakses. Hasil
dari penelitian ini yang terakhir adalah terdapat hubungan nyata antara tingkat
keterdedahan sumber informaasi dengan tingkat pemanfaatan informasi.
Hasil tersebut diperoleh karena jika jumlah sumber informasi yang di akses oleh
petani banyak, maka akan berimplikasi terhadap ragam informasi yang diperoleh,
akibatnya petani lebih banyak kesempatan untuk memilih berbagai informasi
untuk dipraktekkan atau tidak pada usahatani sayurannya.
Analisis Pustaka
Penelitian ini sangat menambah wawasan penulis terkait pemanfaatan
informasi yang dilakukan oleh petani. Informasi dapat datang dari mana saja
sehingga mengharuskan petani untuk aktif mencari informasi sesuai dengan
kebutuhan mereka.. Penelitian ini juga didukung oleh hasil dari penelitianpenelitian sebelumnya sehingga memperkuat hasil yang diperoleh.
22
10.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Alamat URL/doi
Tanggal diunduh
:Perilaku Komunikasi Petani dalam Pencarian
Informasi Pertanian Organik (Kasus Petani Bawang
Merah di Desa Srigading, Kabupaten Bantul)
: 2012
: Jurnal
: Cetak
: Fuady F, Lubis DP, Lumintang RWE
: Jurnal Komunikasi Pembangunan
: Vol. 10, No. 2: 10-18
: : -
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini mengungkapkan bahwa perilaku komunikasi pada
dasarnya berorientasi pada tujuan dalam arti perilaku seseorang pada
umumnya dimotivasi dengan keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu.
Motivasi petani didalam memperoleh informasi tentang budidaya pertanian yang
berkelanjutan, pada dasarnya adalah untuk memperoleh pendapatan yang lebih
layak, serta untuk menghindari dari adanya degradasi lahan pertanian akibat dari
pemanfaatan input sintesis yang berlebihan. Informasi-informasi yang diperoleh
petani tentunya tidaklah langsung diaplikasikan di lapangan. Pada umumnya
petani melakukan pertimbangan dan perbandingan dengan pengalaman usaha tani
yang selama ini dilakukan. Adapun perilaku komunikasi yang dimaksudkan
dalam penelitian tersebut adalah aktivitas yang bertujuan untuk mencari
dan memperoleh informasi dari berbagai sumber dalam pemenuhan
kebutuhan informasi pertanian organik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku komunikasi petani
dalam pencarian informasi pertanian organik dan menganalisis hubungan antara
perilaku komunikasi petani dengan praktek budidaya pertanian bawang organik.
Dimana hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa akses petani terhadap
pertanian organik melalui media massa sebagai salah satu sumber informasi
relatif rendah bahkan diantaranya tidak pernah mendapakan informasi
pertanian organik dari media massa. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya
informasi pertanian organik yang di muat di media massa, petani kurang memiliki
waktu yang cukup untuk mengakses media massa, dan rendahnya minat petani
untuk mengakses media massa. Penelitian ini juga menyajikan data hasil
penelitian bahwa pemanfaatan media massa oleh petani sebagian besar adalah
surat kabar dan tabloit. Hasil penelitian lainnya adalah upaya mendapatkan
berbagai informasi pertanian seputar usaha tani, petani biasanya melakukan
interaksi interpersonal dengan berbagai pihak dimana data menunjukkan
bahwa umumnya petani memiliki interaksi interpersonal yang rendah dan
sedang. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat
hubungan nyata antara perilaku komunikasi petani dengan praktek usaha tani
pertanian organik petani. Hal tersebut didukung oleh perolehan salah satu data
yang menyatakan bahwa hubungan antara peubah keterdedahan media massa dan
interaksi interpersonal petani dengan adopsi pupuk organik memiliki hubungan
yang nyata. Semakin tinggi akses media dan interaksi interpersonal yang
dilakukan petani memiliki korelasi terhadap tingginya adopsi pupuk.
23
Akan tetapi, komunikasi yang terjadi antar kelompok tani tidak
menyebabkan adanya perubahan perilaku petani di dalam budidaya
tanaman bawang merah organik. Komunikasi yang terjadi pada petani
cenderung menguatkan status quo dan mempertahankan cara-cara yang telah lama
bertahan di masyarakat.
Analisis Pustaka
Penelitian ini mampu menambah pengetahuan penulis mengenai perilaku
komunikasi petani dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Tidak terlalu
berbeda dengan hasil-hasil penelitian yang telah penulis ringkas mengenai
perilaku komunikasi petani. Namun, penelitian ini lebih cenderung mengamati
pentingnya komunikasi interpersonal dalam memperoleh informasi pertanian
petani. Hal tersebut dapat terlihat dari saran yang disajikan dalam penelitian
tersebut.
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN
Kebutuhan Informasi
Informasi adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di saat
petani berada dalam situasi bermasalah, yang mengurangi ketidakpastian,
diciptakan petani dalam pikirannya, bersifat subyektif, berguna, dan berharga
dalam usaha petani gurem untuk memenuhi kebutuhan dasar yaitu bekerja baik
menjalankan usahatani maupun pekerjaan lain. Informasi juga dikolaborasikan
dalam kaitannya dengan fungsinya. Beberapa fungsi informasi adalah mengurangi
ketidakpastian, khususnya sebagai masukan untuk pemecahan masalah,
pembuatan keputusan, perencanaan dan peningkatan pengetahuan (Dervin dalam
Ihsaniyati, 2010).
Menurut Nicholas (2000) dalam Ihsaniyati (2010) menjelaskan bahwa
kebutuhan informasi muncul ketika seseorang berkeinginan memenuhi satu atau
lebih dari tiga kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan fisiologis (makan,
tempat tinggal, dan lainnya); kebutuhan psikologis (kekuasaan, rasa aman); dan
kebutuhan kognitif (pendidikan, perencanaan). Meskipun bukan merupakan
kebutuhan primer, kebutuhan informasi merupakan hal yang penting karena
keberhasilan seseorang dalam memenuhi salah satu atau semua kebutuhan dasar
dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan informasi.
Hasil penelitian-penelitian yang diperoleh pada bab sebelumnya
menunjukkan bahwa kebanyakan informasi yang diterima oleh petani tidak sesuai
dengan kebutuhan dari petaninya itu sendiri. Hal tersebut mengakibatkan
ketidakefektivan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani. Ketidaksesuaian
informasi pertanian yang diperoleh oleh petani disebabkan oleh keterbatasan
akses yang dimiliki oleh petani. Petani hanya memanfaatkan hubungan antar
petani atau dengan penyuluh dalam memperoleh informasi pertanian. Informasi
pertanian tidak hanya diperoleh hanya dari sesama petani dan penyuluh semata,
tetapi media massa (televisi dan radio) dan media cetak (majalah, tabloit, pamflet,
dll) juga dapat memberikan informasi terkait pertanian.
Kenyataan yang diperoleh dari hasil penelitian-penelitian pada bab
sebelumnya menyatakan bahwa media massa maupun media cetak kurang
memberikan informasi terkait pertanian kepada petani. Media tersebut
kebanyakan menyajikan hiburan bagi khalayak yang mengaksesnya. Hal tersebut
yang menyulitkan petani dalam memperoleh informasi pertanian sesuai dengan
kebutuhan pertaniannya dan menyebabkan petani tidak dapat memperoleh
informasi pertanian lebih selain dari komunikasi interpersonal dan komunikasi
kelompok. Adapun jika media massa menyajikan informasi terkait pertanian,
petani tidak dapat memanfaatkannya karena kegiatan pertanian di lahan sawah
yang padat atau tayangan informasi pertanian tersebut tidak sesuai dengan jadwal
instirahat petani. Pemanfaatan media komunikasi selain komunikasi interpersonal
dan komunikasi kelompok kembali lagi terhadap minat, persepsi, dan motivasi
petani dalam menggunakannya. Semakin besar minat petani untuk menyaksikan
acara informasi pertanian maka akan semakin besar pula persepsi petani tentang
peranan media massa dan media cetak dalam penyebaran informasi pertanian.
25
Uses and Gratification
Teori uses and grtification ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert
Blumer dan Elihu Katz yang mengatakan bahwa pengguna media memainkan
peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut (Yosephine, 2012).
Menurut Severin (2008) dalam Yosephine (2012) pendekatan uses and
gratification ini tidak menekankan pada yang dilakukan media pada khalayak
(what media do to people) melainkan yang dilakukan khalayak terhadap media
(what people do to media). Khalayak dianggap secara aktif untuk menggunakan
media-media demi memenuhi kebutuhan mereka.
Teori uses and gratifications dimulai di lingkungan sosial, di mana yang
dilihat adalah kebutuhan khalayak. Lingkungan sosial meliputi ciri-ciri afiliasi
kelompok dan ciri-ciri kepribadian. Menurut Effendy (2003) dalam Yosephine
(2012) kebutuhan individual dikategorisasikan sebagai berikut:
1. Cognitive needs (Kebutuhan Kognitif)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi,
pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan ini
didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga
memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan.
2. Affective needs (Kebutuhan Afektif)
Yaitu
kebutuhan
yang
berkaitan
dengan
peneguhan
pengalamanpengalaman yang estetis, menyenangkan dan emosional.
3. Personal intergrative needs (Kebutuhan pribadi secara integratif)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas,
kepercayaan, stabilitas, dan status individual. Hal-hal tersebut diperoleh
dari hasrat akan harga diri.
4. Social integrative needs (kebutuhan sosial secara integratif)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan
keluarga, teman, dan dunia. Hal-hal tersebut didasarkan pada hasrat untuk
berafiliasi.
5. Escapist needs (kebutuhan Pelepasan)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan hasrat ingin melarikan diri dari
kenyataan, kelepasan emosi, ketegangan dan kebutuhan akan hiburan.
Dengan kata lain, pengguna media itu adalah pihak yang aktif dalam
proses komunikasi. Penggunaan media berusaha untuk mencari sumber media
yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinya teori uses and
gratification mengasumsikan bahwa pengguna mempunyai pilihan alternatif
untuk memuaskan kebutuhannya (Yosephine, 2012). Menurut Kriyantono (2006)
dalam Yosephine (2012) pandangan teori uses and gratification ini khalayak pada
dasarnya mempunyai motif-motif tertentu yang mendorong khalayak
menggunakan media sebagai salah satu cara mencapai tujuan dan memenuhi
kebutuhan mereka. Media dianggap berusaha memenuhi motif dari khalayak,
sehingga jika motif khalayak terpenuhi maka kebutuhan dari khalayak pun
tercapai. Inti Teori Uses and Gratification adalah khalayak pada dasarnya
menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu. Media dianggap
berusaha memenuhi motif khalayak.
26
Media Komunikasi
Dalam dunia pertanian, petani memperoleh informasi pertanian dari
berbagai sumber baik melalui media maupun non media yaitu komunikasi tatap
muka secara langsung (komunikasi antarpribadi). Media komunikasi yang
dimaksud dapat dikategorikan dalam dua bagian, yakni media umum dan media
massa. Media umum ialah media yang dapat digunakan oleh segala bentuk
komunikasi, contohnya telepon, handphone, telegram, OHP, LCD proyektor, dan
sebagainya (Hapsari, 2012).
Menurut Hapsari (2012), media massa adalah media yang digunakan untuk
komunikasi massa. Disebut demikian karena sifatnya yang massal, yang termasuk
dalam media komunikasi massa ialah pers, radio, film, televisi, dan media
dotcom. Komunikasi massa memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis
komunikasi lainnya. Karakterisitik tersebut ialah komunikator terlembagakan,
pesan bersifat umum, komunikannya anonim dan heterogen, media massa
menimbulkan keserempakan, komunikasi mengutamakan isi ketimbang
hubungan, dan komunikasi massa bersifat satu arah. Hapsari (2012) juga
mengemukakan bahwa kehadiran media massa memberikan efek terhadap
ekonomi, sosial, penjadwalan kegiatan sehari-hari, hilangnya perasaan tidak
nyaman, dan menumbuhkan perasaan tertentu. Sedangkan, efek pesan dari
komunikasi massa mempengaruhi kognitif, afektif, dan behavioral khalayak.
Dampak sosial media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan
khalayak. Media membentuk opini publik untuk membawanya pada perubahan
yang signifikan.
Hasil penelitian menurut Saleh (2006) mengungkapkann bahwa telah
terjadi pergeseran perilaku komunikasi dari komunikasi interperonal ke
komunikasi bermedia. Akan tetapi menurut Sumaryo (2006) dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa Peranan televisi dalam penyebaran informasi pertanian
tergolong rendah karena petani di daerah penelitian tersebut kurang tertarik untuk
menyaksikan acara informasi pertanian dengan alasan tidak sesuai dengan waktu
istirahat mereka. Pernyataan tersebut didukung oleh Widiyanti (2007) yang
menyatakan bahwa komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok masih
relevan dan lebih banyak digunakan oleh petani dalam memperoleh informasi
pertaniannya. Hal tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan media komunikasi
tak lepas dari karakteristik wilayah tempat tinggal petani, karakteristik dari petani
itu sendiri dalam memanfaatkan media komunikasi dalam memperoleh kebutuhan
informasi pertaniannya, dan karakteristik dari media komunikasi itu sendiri.
Perbedaan yang terjadi berdasarkan hasil penelitian sebelumnya tersebut
dapat disebebkan juga oleh karakteristik dari media komunikasi yang memiliki
kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga tidak semua petani dapat
menggunakan atau memanfaatkan media komunikasi yang ada. Karakteristik dari
media komunikasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. dan Tabel 2. sebagai
berikut:
27
Tabel 1. Perbedaan antara beberapa media komunikasi menurut kualitas fungsinya
Kualitas
Radio
Televisi,
Brosur
Artikel,
Poster
Fungsi Media
Video
Koran
Kemungkinan
+
+
0
0
menstimulasi
debat dalam
konteks
penerimaan
Kemudahan
+
+
0
+
mendapat
perhatian/
memobilisasi
minat
Kapasitas
0
0
+
0
untuk
mendalami dan
mendukung
belajar aktif
Potensi
0
−
+
0
+
berfungsi
sebagai
pengingat
Kemudahan
−
−
+
0
0
menyimpan
pesan-pesan
Kecepatan
+
0
0
+
(waktu
produksi
singkat)
Fleksibilitas
−
−
+
0
+
waktu
Fleksibilitas
0
−
+
0
+
spasial
Biaya yang
0
+
0
−
−
mungkin untuk
mengintervensi
organisasi
Biaya yang
0
+
−
0
mungkin bagi
penerima
Kebebasan
0
−
+
0
+
agen perubah
dalam
menentukan isi
perubahan
Keterangan: + = relatif tinggi dibandingkan dengan media massa lainnya (dalam
kebanyakan konteks); 0 = sebanding dengan media massa lainnya (dalam kebanyakan konteks); = relatif rendah dibandingkan dengan media massa lainnya (dalam kebanyakan konteks).
28
Sumber: Leeuwis (2004) dalam Mugniesyah (2010) dalam Hapsari (2012)
Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan
dari komunikator kepada khalayak (Cangara, 2007). Ada beberapa pakar psikologi
memandang bahwa dalam komunikasi antar manusia, media yang paling dominan
dalam berkomunikasi adalah pancaindra manusia, seperti mata dan telinga. Pesanpesan yang diterima pancaindra selanjutnya diproses dalam pikiran manusia untuk
mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan
dalam tindakan. Media yang dimaksud adalah media antarpribadi (kurir atau
utusan, surat, dan telepon), media kelompok (melibatkan khalayak lebih dari 15
orang), media publik (khalayak lebih dari 200 orang), dan media massa (surat
kabar, film, radio, dan televisi).
Kelemahan dan kelebihan masing-masing media komunikasi, dapat dilihat
dalam tabel berikut:
Tabel 2. Karakteristik Media Komunikasi
Karakteristik
Media
Antarpribadi
Kelompok
Masssa
Pikiran
Semua indra
Mata dan
Diterima oleh
telinga
Memutar
Langsung
Tidak
Umpan balik
dalam diri
langsung
Simbol dan
Tertulis, lisan,
Tertulis dan
Kode
persepsi
dan isyarat
lisan
Memusat
Du arah
Satu arah
Arus pesan
Liputan
Pada diri
Terbatas
Efek
Sikap dan
perilaku
Tinggi pada
sikap, rendah
pada kognitif
Kecepatan
Khalayak
Cepat pada
diri sendiri
Sendiri
Cepat dan
terbatas
Individu dan
kelompok
Muatan
pesan media
Terbatas diri
sendiri
Terbatas
setiap tempat
Publik
Semua indra
Bisa langsung,
bisa tidak
Lisan dan
isyarat
Bisa satu dan
dua arah
Banyak dan
Banyak dan
tanpa batas
terbatas
Rendah pada
Tinggi pada
sikap, tinggi
perilaku, tapi
pada kognitif
rendah pada
kognitif
Cepat dan luas
Cepat tapi
terbatas
Massa tak
Kelompok
terbatas
massa dan
terbatas
Banyak
Terbatas
(televisi,
(mimbar,
radio, surat
alun-alun,
kabar, film)
rapat akbar)
Sumber: Cangara (2007). Edisi Revisi. Pengantar Ilmu Komunikasi.
Selain media komunikasi di atas, masih banyak media komunikasi lain
seperti poster, leaflet, selebaran, brosur stiker, pamflet yang dapat diolongkan
sebagai media format kecil. Menurut Cangara (2007), media ini banyak digunakan
untuk penawaran barang dan jasa, kampanye, pameran, dan sebagainya.
29
Jika kita perhatikan karakteristik masing-masing media komunikasi,
mungkin timbul pertanyaan, media mana yang efektif dalam mencapai sasaran
komunikasi. Jawabannya sudah tentu kembali pada sifat media serta pemilikan
media pada khalayak. Sebab bagaimanapun banyaknya kelebihan media televisi,
kalau media tersebut tidak dimiliki oleh khalayak, sudah tentu informasi yang
disampaikan tidak akan mengena sasaran yang ingin dicapai.
KESIMPULAN
Hasil Rangkuman dan Pembahasan
Proses komunikasi tak akan lepas dari kehidupan manusia. Manusia perlu
melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat bertahan hidup
seiring dengan zaman yang terus berkembang. Zaman yang terus berkembang
mendorong petani untuk dapat berkomunikasi secara aktif dalam memenuhi
kebutuhan pertaniannya. Kebutuhan pertanian antar setiap petani tentunya
berbeda, oleh karena itu informasi yang diperlu oleh petani juga berbeda. Petani
tidak dapat memaksakan menggunakan informasi yang diperoleh dari petani lain
jika itu dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pertaniannya. Jika hal itu tetap
dilakukan maka hasil pertanian yang akan diperoleh bisa saja berkurang. Oleh
karena itu, petani dituntut berkomunikasi secara aktif untuk memperoleh
informasi sesuai dengan kebutuhannya. Kualitas informasi sangat ditentukan oleh
pengetahuan, pengalaman, selera, dan iman seseorang yang mengolah stimulus
menjadi informasi. Adapun kualitas pesan sangat ditentukan oleh kemampuan dan
kreativitas seseorang dalam mengolah informasi menjadi pesan. Sebuah informasi
yang berkualitas sangat ditentukan oleh kecermatan (accuracy), tepat waktu
(timeliness) dan relevansinya (relevancy). Keakuratan informasi adalah bila
informasi tersebut terbebas dari bias. Informasi dikatakan tepat waktu bila
dihasilkan pada saat diperlukan. Adapun relevansi suatu informasi berhubungan
dengan kepentingan pengambilan keputusan yang telah direncanakan.
Informasi yang disajikan pada zaman yang semakin modern ini juga tidak
harus diperoleh dari sesama petani saja, tetapi muncul media komunikasi lain
yang mampu mendukung kegiatan pertanian yang semakin hari bisa dikatakan
semakin berkurang ini. Berkurangnya kegiatan pertanian dapat disebabkan oleh
semakin berkurangnya lahan pertanian yang sudah dialihfungsikan menjadi lahan
yang lebih produktif lagi dan juga mungkin saja dikarenakan oleh petani yang
masih bergantung kepada petani lain dalam menjalankan kegiatan taninya. Hal
tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan media komunikasi selain media
komunikasi antarpribadi, yaitu dapat berupa komunikasi kelompok, komunikasi
publik, dan komunikasi massa.
Diantara masing-masing media komunikasi tersebut tentunya tidak
memiliki karakteristik yang sama, melainkan karakteristik yang dimiliki masingmasing media komunikasi berbeda-beda tetapi jika dalam penggunaannya
dikolaborasikan sesuai kebutuhan dapat saling menutupi kelemahan masingmasing media komunikasi. Penggunaan media komunikasi secara multimedia
(lebih dari satu media) dinilai jauh lebih baik dibandingkan dengan penggunaan
single media (satu media saja). Berdasarkan pada proses komunikasi juga
diperoleh umpan balik (feed-back) yang bersifat langsung dan tidak langsung.
Proses penerimaan umpan balik oleh komunikasn tersebut sangat tergantung dari
beberapa hal, antara lain: penampilan komunikator, isi pesan, dan cara yang
dipakai oleh komunikator dalam menyampaikan pesan. Penggunaan media
komunikasi dalam pemenuhan informasi pertanian dilihat dari waktu penggunaan
media, frekuensi penggunaan media, tempat penggunaan media, tingkat
kemudahan mengakses media, dan tujuan penggunaan media itu sendiri dimana
31
dikaitkan dengan karakteristik dari petani sebagai pengguna media komunikasi
sebagai upaya dalam pemenuhan kebutuhan informasi pertanian petani tersebut.
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian Skripsi
Penggunaan media komunikasi di kalangan petani berbeda-beda,
dikarenakan kebutuhan informasi antar setiap petani berbeda-beda pula. Perilaku
komunikasi petani menjadi kunci utama dalam membentuk pola komunikasi agar
media komunikasi yang digunakan juga dapat sesuai dengan kebutuhan informasi
petani. Oleh karena itu, berdasarkan kerangka pemikiran di bawah dapat diambil
beberapa pertanyaan analisis, antara lain:
1. Kebutuhan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh petani?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi petani dalam pemenuhan kebutuhan
informasi pertanian?
3. Bagaimana pengaruh kebutuhan informasi tersebut terhadap penggunaan
media komunikasi yang ada?
Usulan Kerangka Analisis Baru
Kerangka analisis yang dibuat merupakan gabungan kerangka analisis dari
semua pustaka yang telah diperoleh. Kerangka ini menunjukkan keterkaitan antar
variabel yang dijelaskan para penulis dalam pustakanya.
Kebutuhan pertanian antar setiap petani tentunya berbeda, oleh karena itu
informasi yang diperlu oleh petani juga berbeda. Petani tidak dapat memaksakan
menggunakan informasi yang diperoleh dari petani lain jika itu dianggap tidak
sesuai dengan kebutuhan pertaniannya. Jika hal itu tetap dilakukan maka hasil
pertanian yang akan diperoleh bisa saja berkurang. Oleh karena itu, petani dituntut
berkomunikasi secara aktif untuk memperoleh informasi sesuai dengan
kebutuhannya. Kualitas informasi sangat ditentukan oleh pengetahuan,
pengalaman, dan umur seseorang yang mengolah stimulus menjadi informasi.
Adapun kualitas pesan sangat ditentukan oleh kemampuan dan kreativitas
seseorang dalam mengolah informasi menjadi pesan. Sebuah informasi yang
berkualitas sangat ditentukan oleh kecermatan (accuracy), tepat waktu
(timeliness) dan relevansinya (relevancy). Keakuratan informasi adalah bila
informasi tersebut terbebas dari bias. Informasi dikatakan tepat waktu bila
dihasilkan pada saat diperlukan. Adapun relevansi suatu informasi berhubungan
dengan kepentingan pengambilan keputusan yang telah direncanakan.
Hal-hal
tersebut di atas dapat mempengaruhi media komunikasi yang digunakan oleh
petani dalam kegiatan pertaniannya karena harus menyesuaikan dengan kebutuhan
akan informasi tersebut. Penggunaan media komunikasi dalam pemenuhan
informasi pertanian dilihat dari frekuensi penggunaan media, intensitas
penggunaan media, dan kemudahan dalam menggunakan media.
32
X1 = Karakteristik Petani
X1.1 Usia
X1.2 Tingkat Pendidikan
X1.3 Minat Petani
X1.4 Persepsi Petani
X1.5 Motovasi Petani
Y1, X3 = Tingkat
Kebutuhan Informasi
Pertanian
X2 = Karakteristik Usaha
Tani
X2.1 Luas Lahan
X2.2 Komoditi Pertanian
Gambar 2. Kerangka Analisis
Keterangan:
Mempengaruhi
Y2 = Penggunaan Media
Komunikasi
Y2.1 Frekuensi
penggunaan media
Y2.2 Intensitas
penggunaan media
Y2.3 Kemudahan
penggunaan media
33
DAFTAR PUSTAKA
Armiati, Razak N, Yusmasari. 2010. Media Komunikasi Mendukung Percepatan
Alih Teknologi Produksi Padi Sawah di Tingkat Petani. J Agrisistem.
[Internet]. [diunduh tanggal 20 Oktober 2014]. 6(1): 1-14. Dapat diunduh
dari: http://www.stppgowa.ac.id/
Cangara H. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Edisi 1. Jakarta (ID). Rajawali
Pers.
Fuady F, Lubis DP, Lumintang RWE. 2012. Perilaku Komunikasi Petani dalam
Pencarian Informasi Pertanian Organik (Kasus Petani Bawang Merah di
Desa Srigading, Kabupaten Bantul). J Komunikasi Pembangunan. 10(2):
10-18.
Hapsari DR. 2012. Pemanfaatan Informasi oleh Petani Sayuran (Kasus di Desa
Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor). [tesis].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 99 hal.
Ihsaniyati H. 2010. Kebutuhan Informasi Petani Gurem (Kasus Desa Rowo,
Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung). J Agritext. [Internet].
[diunduh tanggal 20 Oktober 2014]. 28: 102-116. Dapat diunduh dari:
http://google.com/4.4%20Hanifah%20Ihsaniyati, %20SP,%20MSi.pdf
Nurmayanti AW. 2011. Hubungan Perilaku Komunikasi dengan Pemahaman
Petani terhadap Fungsi Radio Komunitas (Kasus Radio Komunitas Petani
Trisna Alami, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon
Progo, Provinsi D.I. Yogyakarta). [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor. 79 hal
Saleh A. 2006. Tingkat Penggunaan Media Massa dan Peran Komunikasi
Anggota Kelompok Peternak dalam Jaringan Komunikasi Penyuluhan
Sapi Potong. J Media Peternakan. [Internet]. [diunduh tanggal 20 Oktober
2014].
29(2):
107-120.
Dapat
diunduh
dari:
http://jesl.journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/view/874/24
7
Saleh A., Suwanda FN. 2008. Analisis Efektivitas Komunikasi Model Prima Tani
sebagai Diseminasi Teknologi Pertanian di Desa Citarik, Kabupaten
Karawang, Jawa Barat. J Komunikasi Pembangunan. [Internet]. [diunduh
tanggal 28 Desember 2014]. 6(2): 66-79. Dapat diunduh dari: 5669-160451-PB.pdf
Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta (ID). UI-Press.
Sulistiyono L, etc. 2008. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Petani Bawang
Merah dalam Penggunaan Pestisida (Studi Kasus di Kabupaten Nganjuk,
Provinsi Jawa Timur). J Agroland. [Internet]. [diunduh tanggal 20
Ooktober
2014].
15(1):
12-17.
Dapat
diunduh
dari:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=10795&val=752
Sumaryo. 2006. Peranan Media Massa dalam Penyebaran Informasi Pertanian di
Kalangan Petani Sayuran di Lampung. J Penyuluhan. [Internet]. [diunduh
tanggal 27 Desember 2014]. 2(5): 16-22. Dapat diunduh dari: 2111-41771-PB.pdf
Widiyanti E. 2007. Pola Komunikasi Petani dalam Rangka Ketahanan Pangan
Rumah Tangga Petani di Desa Ngabeyan, Kecamatan Sidoharjo,
Kabupaten Wonogiri. J M’Power. [Internet]. [diunduh tanggal 20 Oktober
34
2014]. 5(5): 24-35. Dapat diunduh dari: http://pppm.pasca.uns.ac.id/wpcontent/uploads/2012/09/Emi.pdf
Yosephine M. 2012. [Tanpa Judul]. [diunduh tanggal 13 Januari 2015]. Dapat
diunduh dari: e-journal.uajy.ac.id/604/2/1KOM03631.pdf
.
35
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Aldilla Puti dilahirkan di Jakarta, 10 Juni 1993
merupakan anak pertama dari pasangan Dodi Susanto dan Evy Magdalena.
Pendidikan formal yang pernah dijalani penulis adalah SD Negeri Menteng 02
Pagi (1999-2005), SMP Negeri 216 Jakarta (2005-2008), SMA Negeri 7 Bogor
(2008-2011). Pada tahun 2011, penulis diterima menjadi mahasiswa Departemen
Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia,
Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan IPB.
Selain aktif dalam kegiatan perkualiahan penulis juga aktif mengikuti
berbagai organisasi dan kepanitiaan, yaitu Dewan Gedung Asrama Putri A3
periode 2011-2012, pengurus Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (HIMASIERA) menjabat sebagai
Bendahara II pada masa kepengurusan 2012/2013 yang selanjutnya menjadi
Bendahara I pada masa kepengurusan 2013/2014, Pengurus Majalah Komunitas
FEMA (Divisi design pada tahun 2012 lalu menjadi kepala divisi design pada
masa kepengurusan 2012-2014), dan anggota Public Relation Community (PRC)
IPB Divisi Design periode 2014.
Download