Modul Kewarganegaraan [TM9]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
GEOPOLITIK
Modul Standar untuk digunakan
dalam Perkuliahan di Universitas
Mercu Buana
Fikom
Program Studi
Disini diisi Fakultas
penerbit Modul
Broadcasting
Tatap Muka
09
Kode MK
Disusun Oleh
MK10230
H.Ghazaly ama la nora,S.IP.,M.Si
Abstract
Kompetensi
Petunjuk Penggunaan Template
Modul Standar untuk digunakan
dalam modul perkuliahan
Universitas Mercu Buana
Dosen Pengampu dapat menerapkan
dan menggunakan template modul
standar untuk modul-modul yang akan
dipergunakannya
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari bab ini, pembaca diharapkan dapat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Menyebutkan pengertian dan makna geopolitik.
Menguraikan latar belakang filosofis Wawasan Nusantara.
Membedakan kedudukan, fungsi, dan tujuan Wawasan Nusantara.
Menjelaskan kedudukan Wawasan Nusantara.
Menjelaskan bentuk-bentuk Wawasan Nusantara.
Menjelaskan wadah Wawasan Nusantara.
Menjelaskan isi Wawasan Nusantara.
Menjelaskan tata laku Wawasan Nusantara.
Menguraikan implementasi Wawasan Nusantara dalam kehidupan politik, ekonomi,
sosial, serta pertahanan dan keamanan (hankam).
Deskripsi Singkat
Dalam bab ini Anda akan mempelajari pengertian dan latar belakang Wawasan Nusantara.
Pada ta- hap selanjutnya Anda akan memahami kedu-dukan, fungsi, tujuan, bentuk, wadah,
isi, dan tata laku Wawasan Nusantara. Pada akhir bab akan didiskusikan men^enai
implementasi Wawasan Nusantara dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan hankam.
Pokok Bah as an
I. Bahan Bacaan
1. Budiardjo, Meriam. 2005. Dasar-dasar llmu Politik. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
2. Herlia Tati. 2004. Fenomena Kultur dan Politik Indonesia. Jurnal Dephan. Jakarta.
3. Kansil dan Kansil. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Pradnya
Paramita. Jakarta.
4. Kusnardi, M. dan Bintan Saragih. 2000. llmu Negara. Gaya Media Pratama. Jakarta.
5. Muhammad, Mar'ie. 2005. Indonesia Menghadapi Abad XXI. Makalah pada Forum llmiah
ITB.
6. Muluk Hadi, 2005. Otonomi Daerah Akibatkan Perubahan Identitas Nasional. Perspektif,
Oktober 2005.
7. Syarbaini, Syahrial (Editor). 2005. Materi Perkuliahan Pendidikan Pewarganegaraan (PKn).
Suscadoswar, Dikti. Jakarta.
II. Pertanyaan Kunci
1. Sebutkan pengertian geopolitik dan apa pentingnya bagi Indonesia?
2. Jelaskan kedudukan dan fungsi Wawasan Nusantara!
‘13
2
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. Uraikan tentang bentuk-bentuk Wawasan Nusantara!
Jelaskan bagaimana implementasi Wawasan Nusantara dalam kehidupan sosial
budaya dan eko- nomi pada saat ini!
I.
Tugas
Anda harus membaca isi Bab 8 dan menuliskan pemahaman Anda pada Formulir 1 serta
menyerahkannya kepada dosen sebelum pertemuan dimulai.
A. Pettgertian Geopolitik
Banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini yang mengancam persatuan dan kesatuan
bangsa. Kita masih ingat bagaimana Pulau Sipadan dan Ligitan akhirnya lepas dari wilayah
Republik Indonesia, setelah permasalahan tersebut dibawa ke Mahkamah Internasional.
Kasus kedua adalah perselisihan Indonesia dan Malaysia terkait dengan sengketa Pulau
Ambalat. Sengketa ini membuat ketegangan diplomatik, militer, partisipasi masyarakat
dalam bentuk demonstrasi, dan lainnya. Kasus Aceh dan Papua, saat ini masih belum selesai
secara tuntas, dan potensi perpecahan di NKRI masih terjadi. Mengapa demikian? '* .
Jawaban dari permasalahan ini adalah peningkatan pemahaman dan implementasi
tentang negara dan kedaulatannya. Dalam menegakkan kedau- latan negara kita harus
mengerahkan semua potensi, dari politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan. Upaya
desentralisasi, pemerataan ekonomi, pemberlakuan hukum adat, dan partisipasi warga
riegar^afctfiTbertahanan merupakan upaya mempertahankan negara dan kedaulatannya.
Pada topik "Negara dan Kedaulatan atau Geopolitik* dibahas hal-hal yang berkaitan
dengan dasar-dasar terbentuknya suatu negara, berdirinya Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan hal-hal penting yang harus kita tegakkan, di mana kita semua berperan aktif
di dalamnya, agar keberadaan negara tercinta ini dapat dipertahankan, bahkan dapat
menyamakan dirinya dengan negara-negara besar dan negara maju di dunia.
Kata Geopolitik berasal dari kata geo dan politik. "Geo" berarti bumi, Makna "adalah
dan "politik" berasal dari bahasa Vunani politeia, berarti kesatuan masyara- kepentingan
umum warga kat yang berdiri sendiri, (yaitu, negara) dan te/'a, berarti urusan. Sementara
sua,u ne9ara dalam bahasa Inggris, politics adalah suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan, cara,
dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tujuan terten- tu. Dalam bahasa
Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga negara
suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara, dan alat
yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki.
Untuk dapat mempertahankan negara, kita sebagai bangsa harus mempunyai
kesatuan cara pandang yang dikenal sebagai Wawasan Nasional. Konsep Wawasan Nasional
setiap bangsa berbeda. Hal ini berkaitan dengan profil dari bangsa, sejarah, pandangan
hidup, ideologi, budaya, politik, dan geografi. Kedua unsur pokok, yaitu profil bangsa dan
kondisi geografi sebuah bangsa inilah yang harus diperhatikan dalam membuat konsep
geopolitik bangsa dan negara. Konsep Geopolitik ini memainkan peran yang sangat penting
dalam pembinaan kerja sama dan penyelesaian konflik antarnegara yang mungkin muncul
dalam proses pencapaian tujuan.
‘13
3
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Geopolitik atau wawasan nasional Indonesia dinamakan Wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara merupakan cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai
dirinya yang bhineka, dan lingkungan geografinya yang berwujud negara kepulauan
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Wawasan Nusantara ini dijiwai dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dan tetap menghargai serta menghormati
kebhinekaan dalam se- tiap aspek kehidupan nasional untuk mencapai tujuan nasional.
B. Latar Belakang Wawasan Nusantara
Dalam menentukan, membina, dan mengembangkan Wawasan Na- sionalnya, bangsa
Indonesia menggali dan mengembangkannya dari kondisi nyata yang terdapat di lingkungan
Indonesia sendiri. Wawasan Nasional Indonesia dibentuk dan dijiwai oleh pemahaman
kekuasaan bangsa Indonesia yang berlandaskan falsafah Pancasila dan oleh pandangan
geopolitik Indonesia yang berlandaskan pemikiran kewilayahan dan kehidupan bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, pembahasan latar belakang filosofis sebagai pemikiran dasar
pengembangan Wawasan Nasional Indonesia ditinjau dari:
1. Falsafah Pancasila
Nilai-nilai Pancasila mendasari pengembangan Wawasan Nasional, an- tara lain
memberi kesempatan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing,
sebagai wujud nyata penerapan HAM. Mengedepankan kepentingan masyarakat
yang lebih luas harus lebih diutamakan, tanpa mematikan kepentingan golongan.
Pengarhbilan keputusan yang me- nyangkut kepentingan bersama diusahakan
melalui musyawarah. Ke- makmuran yang hendak dicapai oleh masing-masing
warganya tidak merugikan orang lain. Sikap tersebut mewarnai Wawasan Nasional
yang dianut dan dikembangkan bangsa Indonesia.
2. Aspek Kewilayahan Nusantara
Kondisi objektif geografi Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, memiliki
karakteristik yang berbeda dengan negara lain. Pengaruh geografi merupakan suatu
fenomena yang mutlak diperhitungkan karena mengandung beraneka ragam
kekayaan alam (baik di dalam maupun di atas permukaan burrii) dan jumlah
penduduk yang besar. Dengan demikian, secara kontekstual kondisi geografi
Indonesia mengandung keunggulan sekaligus kelemahan/kerawanan. Kondisi ini
perlu diperhi- tungkan dan dicermati dalam perumusan geopolitik Indonesia.
3. Aspek Sosial Budaya
Menurut ahli antropologi, tidak mungkin ada masyarakat kalau tidak ada
kebudayaan, dan sebaliknya. Kebudayaan hanya mungkin ada di dalam masyarakat.
Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa yang masing- masing memiliki adat
istiadat, bahasa, agama, dan kepercayaan. Oleh karena itu, tata kehidupan nasional
yang berhubungan dengan interaksi antargolongan masyarakat mengandung potensi
konflik yang besar, ter- lebih lagi kasadaran nasional masyarakat masih relatif rendah
dan jumlah masyarakat yang terdidik relatif terbatas.
4. Aspek Historis
Perjuangan suatu bangsa dalam meraih cita-cita pada umumnya tum- buh dan
berkembang dari latar belakang sejarahnya. Dengan semangat kebangsaan yang
‘13
4
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
menghasilkan Proklamasi 17 Agustus 1945 di mana Indonesia mulai merdeka, maka
semangat ini harus tetap dipertahankan dengan semangat persatuan yang esensinya
adalah mempertahankan persatuan bangsa dan menjaga wilayah kesatuan
Indonesia. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Wawasan
Nasional Indonesia diwarnai oleh pengalaman sejarah yang tidak menghendaki terulangnya perpecahan dalam lingkungan bangsa dan negara Indonesia.
C. Kedudukan, Furtgsi, dan Tujuatt
1. Kedudukan Wawasan Nusantara
a. Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Nasional Bangsa Indonesia merupakan ajaran
yang diyakini kebenaran oleh seluruh rakyat agar tidak terjadi penyesatan dan
penyimpangan dalam upaya mencapai dan mewujudkan cita-cita dan tujuan
nasional. Dengan demikian, Wawasan Nusantara menjadi landasan visional dalam
menyeleng- garakan kehidupan nasional.
b. Wawasan Nusantara dalam paradigma nasional dapat dilihat dari spesifikasinya
sebagai berikut:
1)
Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa, dan dasar negara; berkedudukan
sebagai landasan idiil.
2)
Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sebagai landasan konstitusi negara;
berkedudukan sebagai landasan konstitusional.
3)
Wawasan Nusantara sebagai visi nasional; berkedudukan sebagai landasan
1
konsepsional.
4)
Ketahanan Nasional sebagai konsepsi nasional; berkedudukan sebagai landasan
konsepsional.
5)
GBHN sebagai politik dan strategi nasional atau sebagai kebi- jaksanaan dasar
nasional; berkedudukan sebagai landasan ope- rasional.
1. Fungsi Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan, serta ramburambu dalam menentukan segala kebijakan, keputusan, tin- dakan, dan perbuatan bagi
penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah, maupun bagi seluruh rakyat
Indonesia dalam kehidupan berma- syarakat, berbangsa, dan bernegara.
2. Tujuan Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara bertujuan mewujudkan nasionalisme yangtinggi di segala aspek
kehidupan rakyat Indonesia dalam segala bidang kehidupan. Demi tercapainya tujuan
nasional tersebut merupakan pancaran dari makin meningkatnya rasa, pemahaman,
dan semangat kebangsaan dalam jiwa bangsa Indonesia sebagai hasil pemahaman dan
penghayatan Wawasan Nusantara.
D. Kedudukan (Status) Wawasan Nusantara
Kedudukan (status) Wawasan Nusantara yang tersebut di atas, adalah posisi,
cara pandang, sikap, dan perilaku bangsa Indonesia mengenai dirinya yang memiliki
beragam suku bangsa, agama, bahasa, dan kondisi lingkung- an geografis yang
berwujud negara kepulauan, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
‘13
5
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Posisi bangsa Indonesia yang berada pada kondisi lingkungan geografis yang berwujud
negara kepulauan, terletak di antara dua benua, (Asia dan Australia) dan dua Samudra
(Samudra Hindia dan Samudra Pasifik) yang mana dapat memberi keuntungan dan juga
kerugian
Keuntungan yang diperoleh dari kondisi di atas bagi negara Indonesia adalah:
1. Menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional.
2. Meningkatkan penerimaan pajak.
3. Memudahkan Indonesia berinteraksi dengan negara lain.
4. Mempercepat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
5. Mempercepat proses akselerasi budaya asing, khususnya yang sesuai dengan nilai
luhur budaya bangsa.
6. Membuka peluang bagi peran Indonesia dalam penyelesaian konflik politik yang
terjadi di antara negara tetangga.
Sedangkan kerugian yang diterima oleh negara dan bangsa Indonesia adalah:
1. Terganggunya ketertiban dan keamanan nasional.
2. Terjadinya pencurian ikan.
3. Terjadi perompak atas kapal laut yang melewati jalur perdagangan.
Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional bagi bangsa Indonesia me- rupakan doktrin
dasar dalam pengaturan kehidupan nasional. Artinya bah- wa terwujudnya kehidupan
bangsa dan negara yang tertib, teratur, damai, dan sejahtera perlu memahami dan
menjalankan cara pandang Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dalam kehidupan
individu, masyarakat, bangsa, dan negara.
Secara hierarki sistem kehidupan nasional Indonesia, posisi atau status Wawasan
Nusantara menempati urutan ketiga setelah UUD 1945, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Pancasila sebagai filsafat, ideologi bangsa, dan dasar negara.
UUD 1945 sebagai konstitusi negara.
Wawasan Nusantara sebagai geopolitik bangsa Indonesia.
Ketahanan Nasional sebagai geostrategi bangsa dan negara Indonesia.
Politik dan strategi nasional sebagai kebijaksanaan dasar nasional dalam
pembangunan nasional.
E. Bentuk Wawasan Nusantara
Bentuk Wawasan Nusantara meliputi:
1.
Wawasan Nusantara sebagai landasan konsepsi Ketahanan Nasional. Bentuk ini
mempunyai arti bahwa konsepsi Wawasan Nusantara dipandang sebagai konsepsi
politik ketatanegaraan dalam upaya mewujudkan tujuan nasional.
Hal ini disadari bahwa ketahanan nasional merupakan geostrategi nasional untuk
mencapai sasaran-sasaran yang telah ditegaskan dalam Wa- wasan Nusantara. Untuk
itu, ketahanan nasional perlu dibina, dipeli- hara, dan ditingkatkan dengan
berpedoman pada Wawasan Nusantara.
‘13
6
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2.
Wawasan Nusantara sebagai wawasan Pembangunan Nasional Menu- rut UUD 1945.
Konsep ini mewajibkan MPR membuat GBHN (seka- rang RJPM-ed.). GBHN dan RJPM
merupakan wawasan pembangunan nasional adalah wujud dari Wawasan Nusantara
yang bersumber pada Pancasila dan berdasarkan pada UUD 1945. Wawasan Nusantara
sebagai cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan ling- kungannya
dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam
penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mencakup:
a. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik.
b. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi.
c. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial dan budaya.
d. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan pertahanan keamanan.
3. Wawasan Nusantara sebagai wawasan Pertahanan dan Keamanan Ne- gara. Artinya
bahwa Wawasan Nusantara adalah pandangan geopolitik Indonesia dalam mengartikan
tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan segenap
kekuatan negara. Sedang- kan kesatuan Hankamneg mengandung arti bahwa ancaman
terhadap sebagian wilayah, di mana pun, pada hakikatnya merupakan ancaman
terhadap seluruh bangsa dan negara.
3.
Wawasan Nusantara sebagai wawasan kewilayahan. Sebagai faktor eksistensi suatu
negara, wilayah nasional perlu ditentukan batas-batas- nya agar tidak terjadi sengketa
dengan negara tetangga. Mengenai batas negara, UUD 1945 tidak menjelaskan secara
jelas tentang batas negara, melainkan hanya menyebut "seluruh tumpah darah
Indonesia" (Pem- bukaan UUD 45) dan Pasal 18 UUD 1945 menyebutkan "pembagian
daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil." Namun demikian, mengenai batas
negara Rl dan tantangannya dapat diketahui dalam uraian berikut:
a. Risalah Sidang BPUPKI
Dalam risalah sidang BPUPKI tanggal 29 Mei-1 Juni 1945, tentang masalah wilayah
negara Rl dapat dicatat dari pendapat Dr. Supomo, SH dan Muh. Yamin pada tanggal
31 Mei; serta Ir. Soekarno pada tanggal-1 Juni 1945.
Supomo menyatakan, sebagai berikut:
"Tentang syarat mutlak lain-lainnya, pertama tentang daerah, saya mufakat dengan
pendapat yang mengatakan bahwa: pada dasarnya Indonesia yang meliputi batas
Hindia Belanda..." (Setneg Rl, tt. 25).
Muh. Yamin menyatakan sebagai berikut:
t
"Bahwa nusantara terang meliputi Sumatera, Jawa, Madura, Sunda Kecil, Borneo,
Selebes, Maluku-Ambon, dan Semenanjung Malaya, Timor, dan Papua. Daerah
kedaulatan negara Rl ialah daerah dela- pan yang menjadi wilayah pusaka Bangsa
Indonesia." (Setneg Rl, tt. 49)
Soekarno menyatakan dalam pidatonya, sebagai berikut:
" ... orang dan tempat tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi
yang ada di bawah kakinya
Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu
‘13
7
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kesatuan. Allah SWT membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat
peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana "kesatuan-kesatuan" itu. Seorang anak
kecil pun, jikalau ia melihat dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia
merupakan satu kesatuan...." (Setneg Rl, tt. 66). Mengapa batas negara tidak masuk
dalam UUD 1945? Menu- rut ketua PPKI, Ir. Soekarno, bahwa dalam UUD modern,
daerah (wilayah) tidak masuk dalam UUD (Setneg Rl, tt. 347).
Ordonantie (UU Belanda) tahun 1939
Yang disahkan pada tanggal 26 Agustus 1939 dimuat dalam staat- Ordonantie 1939
lebar iaut blad No. 422 Tahun 1939, tentang "Territoriale Zee en Maritieme Indonesia
sepanjang 3 mil Kriengen Ordonantie." Dalam ketentuan ordonantie ini, penentuan
lebar Iaut wilayah sepanjang 3 mil Iaut dengan cara menarik garis pangkal berdasarkan
garis air pasang surut, dikenal pula dengan countour pulau/darat. Ketentuan ini
membuat Indonesia bukan sebagai negara kesatuan, karena pada setiap wilayah Iaut
terdapat Iaut bebas yang berada di luar wilayah yurisdiksi nasional. Dengan demikian,
secara hukum dalam kantong-kantong Iaut nasional, tidak berlaku hukum nasional.
c. Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957
Perdana Menteri Ir. Juanda, mengeluarkan pengumuman Peme- rintah Rl tentang
wilayah perairan negara RI yang dikenal dengan "Deklarasi Juanda," yang pada
hakikatnya adalah melakukan pe- rubahan terhadap ketentuan ordonansi pada
lembaran negara (sta- atblad) No. 422 Tahup 1939, sebagai berikut:
1. Cara penarikan batas laut wilayah tidak lagi didasarkan pada garis pasang surut (low
water line), tetapi pada sistem penarikan garis lurus (straight basQ line) yang diukur
dari garis yang meng- hubungkan titik-titik ujung yang terluar dari pulau-pulau atau
bagian pulau yang termasuk ke dalam wilayah negara Rl (point to point theory).
2. Penentuan lebar laut wilayah dari 3 mil laut menjadi 12 mil laut. Deklarasi ini pada
hakikatnya adalah menerapkan asas archipelago atau asas nusantara. Di dalam
deklarasi ini terkan- dung kepentingan dan tujuan bangsa Indonesia, yaitu keutuhan
wilayah negara di lautan.
3. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sebagai rezim Hukum Internasional. Pada tanggal 21
Maret 1980, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pengumuman tentang ZEE
selebar 200 mil yang diukur dari garis pangkal wilayah laut Indonesia. Karena pengumuman tersebut, sampai saat ini telah ada lebih kurang 90 negara yang telah
mengeluarkan pernyataan pengakuan tentang ZEE ataupun Zona Perikanan yang
lebarnya 200 mil tersebut. Kenyataan ini menunjukkan praktik negara yang
konsisten se- hingga ada ataupun tidak konvensi mengenai hukum laut yang baru,
Zona Ekonomi Eksklusif telah menjadi bagian dari hukum internasional kebiasaan.
Dengan adanya ZEE ini, sumber daya hayati maupun sumber alam lainnya yang ada
di permukaan laut, dasar laut, dan bawah laut menjadi hak eksklusif negara Rl.
Artinya, semua kegiatan eksplorasi, eksploitasi, serta peneli- tian di ZEE harus
mendapat izin dari pemerintah Indonesia.
Dengan adanya Deklarasi Juanda, secara yuridis formal negara kita menjadi utuh dan tidak
terpecah lagi. Hal ini menimbulkan reaksi beberapa negara yang beragam dan dapat
dikategorikan menjadi empat macam (Kusumaatmadja, 2002: 26):
b. Negara ASEAN termasuk Australia dan kini Timor Leste.
c. Negara yang berkepentingan terhadap usaha perikanan laut.
‘13
8
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
d. Negara maritim yang memiliki armada angkutan niaga besar.
e. Negara maritim besar, terutama negara adidaya dalam rangka mencapai
global strategi.
Pandangan para pemikir geopolitik (Wawasan Nusantara) dapat dike- mukakan sebagai
berikut:
1. Friedrich Ratzel (1844-1904) dengan Teori Ruang. Intinya ia menyamakan negara sebagai makhluk hidup yang makin sempurna dan
membutuhkan ruang hidup yang makin meluas karena kebutuhan.
Dalam teorinya bahwa "bangsa yang berbudaya tinggi akan membutuhkan sumber daya manusia yang tinggi dan akhirnya mendesak
wilayah bangsa yang "primitif." Pendapat ini dipertegas oleh Rudolf
Kjellen (1864-1922) dengan Teori Kekuatan yang mengatakan bahwa
"Negara adalah satuan politik yang menyeluruh serta sebagai satuan
biologis yang memiliki intelektualitas." Dengan kekuatannya mampu
mengeksploitasi negara "primitif" agar negaranya dapat berswasembada. Beberapa pemikir sering menyebutnya sebagai Darwinisme Sosial.
2. Karl Haushofer (1869-1946) dengan Teori Pan Region, la ber- pendapat bahwa pada
hakikatnya dunia dapat dibagi dalam em- pat kawasan benua (pan region) dan
dipimpin oleh negara unggul. Teori ruang dan teori kekuatan merupakan hasil
penelitiannya, serta dikenal pula sebagai teori pan regional. Isi teori pan regional
antara lain:
1. Lebensraum (ruang hidup) yang "cukup."
2. Autarki (swasembada).
3. Dunia dibagi empat Pan Region yaitu: Pan Amerika, Pan Asia
Timur, Pan Rusia India, dan Pan Eropa Afrika.
3.
Sir Halford Mackinder (1861-1947) dengan Teori Daerah Jantung (Heartland).
Teorinya adalah:
1. Who rules East Europe commands the Heartland..
2. Who rules the Heartland commands the world Island.
3. Who rules the world Island commands the world.
4.
Sir Walter Raleigh (1554-1618) dan Alfred T. Mahan (1840-1914) dengan Teori
Kekuatan Maritim. Kedua pemikir teori tersebut mengatakan:
1. Sir W. Raleigh mengatakan, "Siapa yang menguasai laut akan
menguasai perdagangan dunia dan akhirnya akan menguasai
dunia."
2. Alfred T. Mahan mengatakan, "laut untuk kehidupan, SDA
banyak terdapat di laut, oleh karena harus dibangun armada
laut yang kuat untuk menjaganya." Dia juga mengatakan bahwa perlu juga memerhatikan masalah akses ke laut dan jumlah
‘13
9
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
penduduk karena faktor ini juga memungkinkan kemampuan
industri untuk kemandirian suatu bangsa dan negara.
5. Giulio Douhet (1869-1930) dan William Mitchel (1879-1936) dengan Teori Kekuatan
di Udara mengatakan, "Kekuatan udara mampu beroperasi hingga garis belakang
lawan serta kemenangan akhir ditentukan oleh kekuatan udara."
6. Nicholas J. Spykman (1893-1943) dengan Teori Daerali Batas (Rim- land Theory).
Menurutnya "Penguasaan daerah jantung harus me- miliki akses ke laut dan
hendaknya menguasai pantai sepanjang Eurasia." Dalam teorinya tersirat: „
a. Dunia terbagi empat, yaitu daerah jantung (heartland), bulan sabit dalam
(rimland), bulan sabit luar, dan dunia baru (benua Amerika).
b. Menggunakan kombinasi kekuatan darat, laut, dan udara untuk menguasai
dunia.
c. Daerah Bulan Sabit Dalam (Rimland) akan lebih besar penga- ruhnya dalam
percaturan politik dunia daripada daerah jantung.
d. Wilayah Amerika yang paling ideal dan menjadi negara ter- kuat.
e. Bangsa Indonesia.
Wawasan bangsa Indonesia tersirat melalui UUD 1945, antara lain:
1.
Ruang hidup bangsa terbatas diakui intemasional.
2.
Setiap bangsa sama derajatnya, berkewajiban menjaga
perdamaian dunia.
3.
Kekuatan bangsa untuk mempertahankan eksistensi dan
kemakmu- ran rakyat.
Sebagai kesimpulan bahwa Teori Geopolitik menjadi doktrin dasar bagi
terbentuknya negara nasional yang kuat dan tangguh. Sebagai doktrin
dasar, ada empat unsur yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Konsepsi ruang, merupakan aktualisasi dari pemikiran negara
sebagai organisasi hidup.
2. Konsepsi frontier, merupakan konsekuensi dari kebutuhan dan
ling- kungan.
3.
Konsepsi politik kekuatan, menjelaskan tentang
kehidupan berneg- ara.
4. Konsepsi keamanan negara dan bangsa, kemudian melahirkan
konsepsi geostrategi.
F. Wadah Wawasan Nusantara
Wadah meliputi tiga unsur:
1. Batas Ruang Lingkup
Bidang ini telah dibahas dalam asas kepulauan (archipelago), di manaWawasan
Nusantara mempunyai bentuk wujud sebagai:
a.
‘13
10
Nusantara.
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
b.
Manunggal dan utuh menyeluruh.
1. Nusantara
Dalam bentuk wujud nusantara, maka batas-batas negara ditentukan oleh lautan yang
di dalamnya pulau-pulau serta gugusan kepulauan yang saling berliubungan, tidak
dipisahkan oleh air, baik yang berupa laut maupun selat.
2. Manunggal
Seperti telah diuraikan di atas, tampak jelas sifat dan ciri pokok,
yaitu sebagai kesatuan dan persatuan (manunggal) seperti:
•
Wilayah Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau besar maupun kecil dan
dipisahkan serta dihubungkan oleh lautan, pulau, dan selat, harus dijaga dan diusahakan
tetap menjadi satu kebulatan wilayah nasional dengan segala isi dan kekayaannya.
Selain kebulatan wilayah, harus juga merupakan kesatuan wilayah, wadah, ruang
lingkup, matra, seluruh bangsa, serta menjadi modal milik bersama bangsa.
•
Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa, berbicara dalam
berbagai macam bahasa daerah, dan meyakini berbagai macam agama serta
kepercayaan. Oleh karena itu, harus diusahakan terwujudnya satu kesatuan bangsa yang
bulat.
2. Tata Susunan Pokok/lnti Organisasi
Sumber inti organisasi ialah Undang-undang Dasar (UUD) 1945, yang menyangkut:
a. Bentuk dan kedaulatan Bab I Pasal (1):
1. Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk repu- blik.
2. Kedaulatan ada di tangan rakyat, dan dilaksanakan menurut UUD.
b. Kekuasaan pemerintah negara, Bab III Pasal (4) dan (5), Presiden Republik Indonesia
memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar 1945.
c. Sistem pemerintahan yang ditegaskan dalam Undang-undang Dasar 1945 ialah:
1. Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum dan tidak berdasarkan
atas kekuasaan belaka.
2. Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi dan tidak berdasarkan
absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).
3. Tata Susunan Pelengkap/Kelengkapan Organisasi
Tata kelengkapan organisasi, antara lain:
a.
b.
c.
‘13
11
Aparatur Negara
Aparatur negara harus mampu mendorong, menggerakkan, serta mengarahkan
usaha-usaha pembangunan ke sasaran yang telah ditetapkan, untuk kepentingan
rakyat banyak.
Kesadaran Politik Masyarakat dan Kesadaran Bernegara
Kunci lain dalam pemantapan stabilitas politik juga terletak pada kesadaran politik
seluruh masyarakat, setiap orang, partai politik, organisasi masyarakat, organisasi
profesi/fungsional, juga seluruh tubuh pemerintahan.
Pers
Pers yang sehat dalam arti pers yang bebas bertanggung jawab, ju- jur, dan efektif
dengan tulisan-tulisan yang memberikan penjelasan- penjelasan yang jujur,
dedikatif, dan bertanggung jawab.
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
G. Isi Wawasan Nusantara
Isi Wawasan Nusantara terdiri atas tiga unsur, yaitu:
1. Tujuan
Tujuan yangterkandung dalam Wawasan Nusantara adalah seperti yang dirumuskan
dalam pembukaan UUD 1945, yaitu:
*
untuk membentuk suatu Pemerintahan Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial ...... "
Segenap aspek kehidupan nasional Indonesia juga selalu menganut dimanunggalkan
secara serasi dan berimbang, sesuai dengan makna negara Bhinneka Tunggal Ika,
yang merupakan ciri asasi dari falsafah negara Pancasila.
2. Sifat dan Ciri-ciri
Wawasan Nusantara mempunyai ciri-ciri atau sifat:
a.
Manunggal
Keserasian dan keseimbangan yang dinamis dalam segenap aspek kehidupan, baik
alamiah maupun sosial. Segenap aspek kehidupan sosial tersebut selalu menuntut
untuk dimanunggalkan secara serasi dan berimbang, sesuai dengan makna sesanti
Bhinek^i Tunggal Ika yang merupakan sifat asasi dari negara Pancasila.
b. Utuh Menyeluruh
Utuh menyeluruh bagi nusantara dan rakyat Indonesia sehingga merupakan satu
kesatuan yang utuh bulat dan tidak dapat dipecah- pecah oleh kesatuan apa pun dan
bagaimanapun, sesuai dengan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.
3. Cara Kerja
Cara kerja dalam Wawasan Nusantara berpedoman pada Pancasila sebagai
kebulatan pandangan hidup bangsa Indonesia. Kristalisasi kepribadian, berwujud
tata pergaulan dalam kehidupan yang dicita- citakan bersama serta asas
kenegaraan menurut UUD 1945, bahwa dalam pandangan hidup bangsa Indonesia,
yaitu Pancasila, telah terkandung pula cita-cita, asas-asas, serta nilai-nilai filosofis.
H. Tata Laku Wawasan Nusantara
Mengenai tata laku dapat dirinci dalam dua unsur, yaitu tata laku batiniah dan tata
laku lahiriah. Tata laku batiniah tumbuh dan terbentuk karena kondisi dalam proses
pertumbuhan hidupnya, pengaruh keyakinan pada suatu agama/kepercayaan termasuk
tuntutan budi pekerti, seperti pengaruh kondisi kekuasaan yang memungkinkan
berlangsungnya kebiasaan- kebiasaan hidupnya.
Wawasan Nusantara dalam wujud dan wadahnya, merupakan kesatuan:
1. Isi Republik Indonesia berupa falsafah Pancasila dan UUD 1945.
‘13
12
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Wadah Republik Indonesia berupa nusantara, yang manakala diisi atau diberi "isi"
menampakkan wujud dan wadahnya sebagai Wawasan Nusantara.
3. Tata laku Republik Indonesia berupa UUD 1945 yang bila dilaksanakan dan
diterapkan berdasarkan Wawasan Nusantara, akan menghasilkan Ketahanan
Nasional Indonesia.
I. Implementasi Wawasan Nusantara
Implementasi Wawasan Nusantara dimaksudkan menerapkan atau melak-sanakan
Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari secara nasional yang mencakup
kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta pertahanan nasional. Dalam
mengimplementasikan Wawasan Nusantara, maka pemikiran, sikap, dan tindak tanduk
warga negara Indonesia harus bercermin pada Wawasan Nusantara dengan mengutamakan
kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.
1. Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Politik
Penerapan Wawasan Nusantara dalam kehidupan politik dapat di- artikan bahwa
seluruh kehidupan, ketatanegaraan, baik menyangkut dasar dan sistem pemerintahan
Indonesia, harus mengutamakan persatuan dan kesatuan serta wilayah Indonesia. Untuk
mengimplementasikan Wawasan Nusantara beberapa hal berikut harus diperhatikan:
a. Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang-undang, se- perti UU Partai
Politik, UU Pemilihan Umum, UU Pemilihan Presiden, UU Susunan dan Kedudukan
MPR, DPR, DPD, DPRD I, dan DPRD II, serta pelaksanaannya harus sesuai hukum dan
mementingkan kepentingan persatuan bangsa. Pemilihan presiden, anggota DPR,
dan kepala daerah, di samping menjalankan prinsip demokratis dan mungkin menyebabkan kekecewaan dan kekurangadilan dalam praktik, tidak di- perbolehkan
sampai menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Demokrasi politik harus
diiringi dengan prinsip kedewasaan, yaitu siap menang, siap kalah, dan melakukan
kompromi.
b. Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia ha- rus
berdasarkan hukum yang berlaku. Implementasi dari adanya satu hukum, bahwa
seluruh Indonesia harus mempunyai dasar hukum yang sama bagi setiap warga
negara, dan tidak ada prinsip pengecualian. Di Indonesia terdapat banyak produk
hukum yang dapat diterbitkan oleh provinsi dan kabupaten, semua keputusan dalam
bentuk peraturan daerah (perda) tersebut tidak boleh bertentangan dengan hukum
yang berlaku di tingkat nasional, namun dapat mengakomodasi kepentingan daerah
atau hukum adat yang ada.
c. Mengembangkan hak asasi manusia dan sikap pluralisme untuk mem- persatukan
berbagai suku, agama, dan bahasa yang berbeda-beda. Dengan mengembangkan
hak asasi dan pluralisme akan menumbuhkan > rasa toleransi, sikap menghargai
terhadap perbedaan sehingga kesatuan bangsa lebih mudah dipelihara.
d. Memperkuat komitmen politik terhadap partai politik dan lembaga pemerintahan
untuk meningkatkan semangat kebangsaan, dan pertahan- an untuk menjaga
kesatuan bangsa yang terdiri atas pulau-pulau.
‘13
13
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
e. Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan memperkuat korps
diplomatik untuk mempertahankan posisi dan kedaulatan wilayah Indonesia dari
upaya pencaplokan wilayah Indonesia terutama pulau-pulau terluardan pulau
kosong.
2. Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Ekonomi
Implementasi dalam kehidupan ekonomi dimaksudkan sebagai upaya pemanfaatan
dan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di Indonesia dalam
rangka peningkatan pendapatan ekonomi dan harus memerhatikan asas manfaat, keadilan,
efisiensi, sesuai kebutuhan, dan menjaga kelestarian alam sehingga umur ekonomi dapat
diperpanjang untuk generasi mendatang, sehingga eksistensi negara Indonesia pada saat ini
dan masa mendatang akan terjamin. Untuk mengimplementasikan Wawasan Nusantara
beberapa hal berikut harus diperhatikan:
a. Wilayah Nusantara merupakan potensi ekonomi yang tinggi. Beberapa potensi
tersebut adalah: (1) posisi di khatulistiwa memungkinkan ma- tahari muncul setiap
hari dan dengan tanah yang subur menjadikan potensi pertanian yang besar; (2) luas
wilayah laut dengan diakuinya ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif), menjadikan Indonesia
mempunyai pan- tai terpanjang di dunia dan merupakan potensi bagi
pengembangan in- dustri kelautan; (3) Indonesia mempunyai luas hutan tropis yang
cukup besar untuk potensi industri kehutanan; (4) Indonesia mempunyai hasil
tambang dan minyak yarig relatif besar; dan (5) Indonesia mempunyai jumlah
penduduk yang besar, sehingga menjadi potensi tenaga kerja dan pasar sekaligus.
Melihat potensi yang besar, maka pembangunan ekonomi harus memaksimalkan
potensi yang ada. Fokus pembangunan ekonomi harus berdasarkan kondisi alam di
Indonesia, oleh sebab itu fokus pada sektor dan industri pertanian menjadi dasar
yang kuat bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
b. Pembangunan ekonomi harus memerhatikan keadilan dan keseimbang- an
antardaerah. Kepincangan ekonomi akan menyebabkan adanya disin- tegrasi
bangsa, oleh sebab itu adanya otonomi daerah merupakan salah satu jawaban
dalam upaya menciptakan keadilan ekonomi. Otonomi daerah harus didukung terus
dan dilakukan perbaikan berkelanjutan. Selain itu, untuk menciptakan keadilan,
alokasi dana umum (DAU) dan dana perimbangan pemerintah pusat dan daerah
harus tetap dijalankan dengan transparan untuk menciptakan keadilan, karena ada
daerah yang kaya dengan sumber daya alam dan ada yang miskin sumber daya alam.
c. Pembangunan ekonomi harus dirancang dengan melibatkan partisipasi rakyat, dan
karenanya pengembangan usaha kecil dan menengah yang jumlahnya sangat besar
perlu didorong dan diberikan fasilitas seperti kredit mikro, dan pemberian pelatihan
serta peluang pasar.
3. Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Sosial
Implementasi dalam kehidupan sosial dimaksudkan sebagai penerap- an budaya yang
berupa adat istiadat dan tata cara, serta unsur sosial seperti lembaga kemasyarakatan dan
lapisan masyarakat yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia sehingga dapat
memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mengimplementasikan Wawasan
Nusantara, beberapa hal berikut harus diperhatikan:
‘13
14
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
a. Mengembangkan perikehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang
berbeda, baik budaya maupun status sosial, dan daerah dengan tingkat
kemajuan yang sama, merata, dan seimbang dengan kemajuan bangsa. Hal
ini dapat dilakukan dengan pemerataan pendidikan, sehingga tingkat
pengetahuan antardaerah sama, program wajib belajar harus.berjalan dan
diprioritaskan bagi daerah yang masih tertinggal. Selain program wajib
belajar, program pertukaran anggota masyarakat dan siswa perlu dilakukan
untuk menciptakan keseimbangan antardaerah.
b. Pembangunan bidang sosial harus berorientasi pada pengembangan budaya
Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak sekali budaya karena faktor suku
dan daerah yang banyak. Budaya ini menjadi kekayaan Indonesia dan harus
dilestarikan. Program pelestarian budaya, pengembangan museum, dan
cagar budaya harus diperhatikan dan ditingkatkan untuk mengembangkan
kebudayaan Indonesia dan dapat dijadikan kegiatan pariwisata sebagai
sumber pendapatan nasional dan daerah.
4. Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Pertahanan dan Keamanan
Implementasi dalam kehidupan pertahanan dan keamanan dimaksud- kan untuk
melaksanakan kegiatan dalam pertahanan dan keamanan baik matra darat, laut, dan udara
dengan memerhatikan partisipasi aktif dari ma- syarakat dalam rangka menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia. Untuk mengimplementasikan Wawasan Nusantara,
beberapa hal berikut harus diperhatikan:
a. Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan
kesempatan kepada setiap warga negara untuk berperan aktif. Kegiatan
mempertahankan negara merupakan kewajiban setiap warga negara. Oleh
sebab itu, peran warga negara perlu ditingkatkan, seperti meme- lihara
lingkungan tempat tinggal, meningkatkan kemampuan disiplin, melaporkan
hal-hal yang mengganggu keamanan kepada aparat, dan bahkan kegiatan
belajar kemiliteran.
b. Membangun rasa persatuan, sehingga ancaman suatu daerah atau pu- lau
juga menjadi ancaman bagi daerah lain. Rasa persatuan ini dapat diciptakan
dengan membangun solidaritas dan hubungan erat antara warga negara yang
berbeda daerah dengan kekuatan keamanan. Program seperti
mengikutsertakan siswa dan mahasiswa serta masyarakat dalam kegiatan
operasional TNI dari satu daerah dengan daerah lain dapat memupuk rasa
persatuan.
c. Membangun TNI yang profesional serta menyediakan sarana dan prasarana
yang memadai bagi kegiatan pengamana wilayah Indonesia terutama pulau
dan wilayah terluar Indonesia.
‘13
15
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download