7 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Hakikat Keterampilan Menulis Eksposisi
a. Pengertian Keterampilan
Kata keterampilan sama artinya dengan kata cekatan. Terampil atau
cekatan merupakan kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan dengan
cepat dan benar. Keterampilan memiliki cakupan arti yang sangat luas,
namun secara sempit kata keterampilan biasanya ditujukan kepada
kegiatan-kegiatan yang berupa perbuatan (Soemarjadi, Ramanto, &
Zahri, 2001: 2).
Sukmadinata dan Syaodih (2012: 184) mengemukakan bahwa
keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam menerapkan atau
menggunakan pengetahuan yang dikuasainya dalam sesuatu bidang
kehidupan. Penguasaan kecakapan atau keterampilan-keterampilan
tersebut biasanya dirumuskan dalam bentuk kompetensi.
Sanjaya (2008: 7) menyatakan bahwa keterampilan adalah sesuatu
yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas yang dibebankan.
Tugas tersebut berupa pengetahuan serta kompetensi yang harus
tergambar dalam pola perilaku.
Ichsan dan Nursanto (2013: 29) berpendapat bahwa keterampilan
yaitu kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi. Artinya
keterampilan memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung
dari awal hingga akhir.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
keterampilan yaitu kemampuan seseorang dalam melakukan suatu
pekerjaan yang dibebankan kepadanya dengan cepat dan tepat. Seseorang
dikatakan terampil apabila mampu mengerjakan tugas atau pekerjaannya
dengan cepat dan tepat. Apabila pekerjaan tersebut dilakukan dengan
cepat tetapi salah, maka seseorang tersebut belum bisa dikatakan
7
8
terampil. Begitu pula jika dilakukan dengan benar tetapi lambat juga
tidak bisa dikatakan terampil.
b. Pengertian Menulis
Tarigan
menurunkan
(1983)
atau
mengemukakan
melukiskan
pengertian
lambang
lambang
menulis
yaitu
grafis
yang
menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga
orang lain dapat membaca lambang grafis tersebut, kalau mereka
memahami bahasa dan lambang tersebut. Bahasa dan lambang tersebut
harus dirangkai secara utuh, lengkap, dan jelas (Haryadi & Zamzani,
1997: 77).
Alwasilah (1994) menyatakan bahwa menulis adalah kegiatan
produktif dalam berbahasa. Suatu proses psikolinguistik yang bermula
dengan formasi gagasan lewat aturan semantik, lalu di data dengan aturan
sintaksis, kemudian digelarkan dalam tatanan sistem penulisan (Susanto,
2013: 247).
Rahardi (2003) mengungkapkan definisi menulis ialah kegiatan
menyampaikan sesuatu menggunakan bahasa melalui tulisan, dengan
maksud dan pertimbangan tertentu untuk mencapai sesuatu yang
dikehendaki. Maksud tersebut
bisa
pengetahuan,
hidup
dan
pengalaman
berupa gagasan,
(Kusumaningsih,
ide,
ilmu
Saptono,
Suparmin, Sudiatmi, & Triyanto, 2013: 64)
Semi (2007: 14) mendefinisikan menulis sebagai suatu proses
kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Dalam
pengertian ini, menulis memiliki tiga aspek utama. Yang pertama adalah
tujuan atau maksud yang hendak dicapai. Kedua adanya gagasan atau
sesuatu yang hendak dikomunikasikan. Dan ketiga adanya sitem
pemindahan gagasan yang berupa bahasa.
Berdasarkan uraian beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa menulis adalah kegiatan melukiskan lambang lambang grafis yang
menggambarkan
suatu
bahasa
yang
dipahami
oleh
seseorang.
9
Tujauannya adalah menyampaikan suatu gagasan atau pikiran melalui
lambang grafis dengan aturan semantik tertentu.
c. Tahapan Menulis
Tompkins (Susanto, 2013: 256) menguraikan proses menulis
menjadi lima tahap yang diidentifikasikan melalui serangkaian penelitian
tentang proses menulis yang meliputi tahap pra-menulis, tahap
penyusunan draf tulisan, tahap perbaikan, tahap penyuntingan, dan tahap
pemublikasian:
1) Tahap pra-menulis (prewriting).
Tahap pra-menulis merupakan tahap siap menulis, atau disebut juga
dengan tahap penemuan menulis. Aktivitas dalam tahap ini meliputi:
a) memilih topik; b) memikirkan tujuan, bentuk, dan audiensi; dan c)
memanfaatkan dan mengorganisasi gagasan-gagasan. Pada tahap pramenulis siswa berusaha mengemukakan apa yang akan mereka tulis.
2) Tahap penyusunan draf tulisan (drafting).
Dalam proses menulis, siswa menulis dan menyaring tulisan mereka
melalui sejumlah konsep. Selama tahap penyusunan konsep siswa
terfokus dalam pengumpulan gagasan. Perlu disampaikan kepada
siswa bahwa dalam tahap ini tidak perlu merasa takut melakukan
kesalahan. Kesempatan dalam menuangkan ide-ide dilakukan dengan
sedikit memerhatikan ejaan, tanda baca, dan kesalahan mekanikal
yang lain. Aktivitas dalam tahap ini meliputi: a) menulis draf kasar; b)
menulis konsep utama; dan c) menekankan pada pengembangan isi.
3) Tahap perbaikan (revisi).
Dalam tahap perbaikan, penulis menyaring ide-ide dalam tulisan
mereka. Siswa biasanya mengakhiri proses menulis begitu mereka
mengakhiri dan melengkapi draf kasar, mereka percaya bahwa tulisan
mereka telah lengkap. Revisi bukan penyempurnaan tulisan, revisi
adalah mempertemukan kebutuhan pembaca dengan menambah,
mengganti, menghilangkan, dan menyusun kembali bahasa tulisan.
Aktivitas
ini
meliputi:
a)
membaca
ulang
draf
kasar;
b)
10
menyempurnakan
draf
kasar
dalam
proses
menulis;
dan
memmerhatikan bagian yang mendapat balikan kelompok menulis.
4) Tahap penyuntingan (editing).
Pada tahap keempat ini, siswa menyempurnakan tulisan mereka
dengan mengorek si ejaan dan kesalahan mekanikal yang lain.
Tujuannya agar membuat tulisan menjadi ‘siap baca secara optimal’
(optimally readable). Aktivitas dalam tahap ini meliputi: a)
mengambil jarak dari tulisan; b) mengoreksi awal dengan menandai
kesalahan; dan c) mengoreksi kesalahan.
5) Tahap pemublikasian (publishing).
Pada tahap akhir ini, siswa sudah siap memublikasikan tulisan mereka
dan menyempurnakannya dengan membaca pendapat dan komentar
yang diberikan teman atau siswa lain, orangtua, dan komunitas
mereka sebagai penulis. Hasil penulisannya melalui kegiatan berbagai
hasil tulisan (sharing), yaitu dilakukan dengan melalui kegiatan
penugasan siswa untuk membaca hasil karangan di depan kelas.
d. Manfaat Menulis
Dalam dunia pendidikan, menulis sangat berharga sebab menulis
membantu seseorang berfikir lebih mudah. Menulis sebagai suatu alat
dalam belajar dengan sendirinya memainkan peranan yang sangat
penting. Dilihat dari sudut pandang ini, Susanto (2013: 254) merinci
manfaat menulis sebagai berikut:
1) Menulis membantu kita menemukan kembali apa yang pernah kita
ketahui. Menulis mengenai suatu topik, merangsang pemikiran kita
mengenal topik tersebut dalam membantu kita membangkitkan
pengetahuan dari pengalaman masa lalu.
2) Menulis menghasilkan ide-ide baru. Tindakan menulis merangsang
pikiran kita untuk mengadakan hubungan, mencapai pertalian dan
menarik persamaan (analogi) antara ide-ide yang tidak pernah kan
terjadi, seandainya kita tidak menulis.
11
3) Menulis
membantu
kita
mengorganisasikan
pikiran,
dan
menempatkannya dalam suatu wacana yang berdiri sendiri.
4) Menulis membuat pikiran seseorang siap untuk dibaca dan dievaluasi.
Kita dapat membuat jarak dengan ide kita sendiri dan melihatnya lebih
objektif pada waktu kita siap menuliskannya.
5) Menulis membantu kita menyerap dan menguasai informasi baru. Kita
akan dapat menyimpannya lebih lama, jika kita menuangkannya
dalam bentuk tulisan.
6) Menulis
membantu kita
memecahkan masalah dengan jalan
memperjelas unsur-unsurnya dan menempatkannya dalam suatu
konteks visual, sehingga dapat diuji.
Berdasarkan uraian pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
menulis memiliki manfaat dan kegunaan yang banyak dan berguna untuk
kehidupan seseorang nantinya. Selain sebagai sarana komunikasi,
menulis juga memiliki manfaat untuk menggali informasi dan menyerap
pengetahuan serta untuk mengembangkan ide-ide dan gagasan yang
dimiliki oleh seseorang.
e. Fungsi dan Tujuan Menulis
Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para
siswa berpikir. Juga dapat menolong kita berpikir secara kritis. Juga
dapaat memudahkan kita merasakan dan menikmati hubungan-hubungan,
memperdalam daya tangkap atau persepsi kita, memecahkan masalahmasalah yang kita hadapi, menyusun urutan bagi pengalaman. Tidak
jarang kita menemui apa yang sebenarnya kita pikirkan dan rasakan
mengenai
orang-orang,
gagasan-gagasan,
masalah-masalah,
dan
kejadian-kejadian hanya dalam proses menulis yang aktual.
Fungsi menulis adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung
karena tidak langsung berhadapan dengan pihak lain yang membaca
tulisan kita tetapi melalui bahasa tulisan. Rusyana (Susanto, 2013: 252253) mengklasifikasikan fungsi menulis sesuai kegunaannya, sebagai
berikut:
12
1) Fungsi penataan, yaitu fungsi penataan terhadap gagasan, pikiran,
pendapat, imajinasi, dan lainnya, serta terhadap penggunaan bahasa,
sehingga menjadi tersusun.
2) Fungsi pengawetan, yaitu untuk mengawetkan pengaturan sesuatu
dalam wujud dokumen tertulis.
3) Fungsi penciptaan, yaitu mengarang berarti mewujudkan sesuatu
yang baru.
4) Fungsi
penyampaian,
yaitu
mengarang
berfungsi
dalam
menyampaikan gagasan, pikiran, imajinasi, dan lain-lain itu, yang
sudah diawetkan menjadi suatu karangan. Dalam penyampaiannya
tidak saja kepada orang dekat, dapat juga kepada yang berjauhan.
5) Fungsi melukiskan, yaitu menggambarkan atau mendeskripsikan
sesuatu.
6) Fungsi memberikan petunjuk, berarti dalam karangan itu penulis
memberikan petunjuk tentang cara atau aturan melaksanakan
sesuatu.
7) Fungsi
memerintahkan,
yaitu
penulis
memberikan perintah,
permintaan, anjuran, nasihat, agar pembaca menjalankannya, atau
larangan agar pembaca tidak melupakan apa yang dilarang ditulis.
8) Fungsi mengingat, yaitu penulis mencatat suatu peristiwa, keadaan,
keterangan, atau lainnya, dengan maksud agar tidak ada yang
terlupakan dalam karangan.
9) Fungsi korespondensi, yaitu fungsi surat dalam memberitahukan,
menanyakan, memerintahkan atau meminta sesuatu kepada orang
yang dituju, mengharapkan orang yang dituju, mengharapkan orang
itu
untuk
memenuhi
apa
yang
dikemukakannya
itu
serta
membalasnya dengan tertulis pula.
Tujuan utama menulis adalah sebagai alat komunikasi secara
tidak langsung. Penulis dan pembaca dapat berkomunikasi melalui
tulisan. Pada prinsipnya menulis adalah menyimpulkan pesan kepada
13
pembaca, sehingga pembaca memahami maksud yang dituangkan atau
maksud yang disampaikan melaui tulisan tersebut.
Mengingat proses komunikasi tersebut dilakukan secara tidak
langsung, tidak melaui tatap muka antara pembaca dan penulis maka isi
tulisan dan lambang grafik yang dipergunakan harus benar-benar jelas.
Isi tulisan dan lambang grafik tersebut harus dapat dipahami oleh
penulis dan pembaca. Hal ini bertujuan agar tulisan tersebut dapat
berfungsi sebagaimana yang dimaksudkan oleh penulis.
Pada dasarnya orang yang menulis mempunyai tujuan atau
maksud tertentu. Tarigan menyebutkan pada dasarnya menulis memiliki
tujuan sebagai berikut (Kusumaningsih, dkk., 2013: 67-69):
1) Tujuan Penugasan (Assigment Purpose).
Penulis tidak memilki tujuan untuk apa dia menulis, tanpa
mengetahui tujuannya. Dia menulis karena mendapat tugas, bukan
atas dasar keinginannya. Misalnya siswa ditugaskan merangkum
sebuah buku.
2) Tujuan Altruistik (Altruistic Purpose).
Kata altruistic mempunyai arti mendahulukan kepentingan orang
lain. Jadi tujuan altruistik pada dasarnya penulis ingin menolong
para pembaca untuk memahami suatu masalah atau peristiwa, dan
membuat hidup para pembaca lebih mudah melalui tulisan tersebut.
Dalam hal ini penulis harus benar-benar dapat mengkomunikasikan
suatu ide atau pendapatnya melalui tulisan untuk kepentingan
pembaca. Hanya dengan cara itulah tujuan altruistik tercapai.
3) Tujuan Persuasif (Persuassive Purpose).
Penulis bertujuan mempengaruhi pembaca, agar para pembaca yakin
akan kebenaran gagasan atau ide yang dituangkan atau diutarakan
oleh penulis untuk menawarkan sebuah produksi barang dagangan
atau kegiatan politik.
4) Tujuan Informasional atau Tujuan Penerangan (Informational
Purpose).
14
Penulis menuangkan ide atau gagasan dengan tujuan memberi
informasi atau keterangan kepada pembaca. Disini penulis berusaha
menyampaikan informasi agar menjadi lebih tahu mengenai apa
yang diinformasikan oleh penulis.
5) Tujuan Menyatakan Diri (Self Expressive Purpose).
Penulis berusaha memperkenalkan diri atau menyatakan dirinya
sendiri kepada pembaca dapat memahami siapa sebenarnya sang
penulis itu.
6) Tujuan Kreatif (Creative Purpose)
Penulis bertujuan agar para pembaca dapat memiliki nilai-nilai
artistik atau nilai-nilai kesenian dengan membaca tulisan si penulis.
Disini penulis bukan hanya memberikan informasi, melainkan lebih
dari itu. Dalam informasi yang disajikan oleh penulis, para pembaca
bukan hanya sekedar tahu apa yang disajikan oleh penulis, tetapi
juga merasa terharu membaca tulisan tersebut.
7) Tujuan Pemecahan Masalah (Problem Solving Purpose)
Penulis berusaha memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Dengan
tulisannya penulis berusaha memberikan kejelasan kepada pembaca
tentang bagaimana cara pemecahan suatu masalah.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
fungsi dan tujuan menulis secara umum adalah untuk menyampaikan
sesuatu, atau meyakinkan pembaca sesuai dengan fungsi dan tujuan yang
diinginkan penulis. Dari menentukan fungsi dan tujuan, penulis mampu
menentukan arah tulisan atau pun sasaran sesuai dengan fungsi dan
tujuannya.
f. Pengertian Eksposisi
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, terdapat beberapa
jenis menulis, diantaranya : menulis deskripsi, menulis narasi, menulis
eksposisi, menulis argumentasi, dan menulis persuasi. Menulis eksposisi
merupakan salah satu jenis karangan yang harus diperkenalkan kepada
siswa dan dikuasai oleh seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
15
Secara etimologis, eksposisi berasal dari kata exposition yang
berarti membuka atau menilai. Dalam hal ini eksposisi adalah wacana
yang bertujuan untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau
menerangkan sesuatu hal (Dalman, 2011: 120-121).
Slamet (2009: 103) berpendapat bahwa eksposisi adalah ragam
wacana yang dimaksudkan untuk menerangkan, menyampaikan, atau
menguraikan
sesuatu
hal
yang
dapat
memperluas
atau
menambahpengetahuan dan pandangan pembacanya. Sasarannya adalah
menginformasikan sesuatu tanpa ada maksud mempengaruhi pikiran,
perasaan, dan sikap pembaca. Fakta dan ilustrasi yang disampaikan
penulis sekedar memperjelas apa yang akan disampaikannya.
Zainurrahman (2013: 67) menyatakan bahwa eksposisi adalah
tulisan yang bersifat faktual. Eksposisi memberikan informasi mengenai
‘mengapa’
dan
‘bagaimana’,
menjelaskan
sebuah
proses,
atau
menjelaskan sebuah konsep.
Berdasarkan uraian pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
eksposisi adalah karangan atau suatu bentuk tulisan yang memiliki tujuan
yang bersifat informatif atau memberikan informasi kepada pembaca
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca. Menulis
eksposisi memiliki banyak manfaat, karena sebagian besar masyarakat
menyadari pentingnya sebuah informasi di dalam kehidupan.
g. Karakteristik Eksposisi
Suparno dan Yunus (2007: 112) menyebutkan ada beberapa ciri
atau karakteristik karangan eksposisi, antara lain: 1) Eksposisi itu
karangan yang berisi pendapat, gagasan, keyakinan, 2) Eksposisi
memerlukan fakta yang diperlukan dengan angka, statistik, peta, atau
grafik, 3) Eksposisi memerlukan analisis dan sintesis, 4) Eksposisi
menggali sumber ide dari pengalaman, pengamatan, dan penelitian, serta
sikap dan keyakinan, 5) Eksposisi menjauhi sumber daya khayal, 6)
Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang informatif dengan katakata yang denotatif, 7) Penutup eksposisi berupa penegasan.
16
Berdasarkan uraian diatas, dapat di simpulkan karakteristik
eksposisi adalah suatu bentuk karangan yang berupa gagasan yang
membutuhkan pengalaman atau penelitian si penulis secara runtut untuk
menyampaikan informasi dan menambah wawasan pembaca.
h. Tujuan Menulis Eksposisi
Etti (Dalman 2011: 121) mengemukakan tujuan dalam menulis
karangan eksposisi, yaitu : 1) Memberi informasi atau keterangan yang
sejelas-jelasnya tentang objek, meskipun pembaca belum pernah
mengalami atau mengamati sendiri, tanpa memaksa orang lain untuk
menerima gagasan atau
informasi,
2)
Memberitahu,
mengupas,
menguraikan, atau menerangkan sesuatu, 3) Menyajikan fakta dan
gagasan yang disusun sebaik-baiknya, sehingga mudah dipahami oleh
pembaca, 4) Digunakan untuk menjelaskan hakikat sesuatu, memberikan
petunjuk mencapai / mengerjakan sesuatu, menguaraikan proses dan
menerangkan pertalian antara satu hal dengan yang lain.
i. Pola Pengembangan Eksposisi
Ada beberapa pola pengembangan eksposisi, yaitu eksposisi grafik,
eksposisi perbandingan, eksposisi proses, eksposisi identifikasi, eksposisi
perbandingan, eksposisi proses, eksposisi identifikasi, eksposisi analogi,
eksposisi pertentangan, eksposisi contoh, dan eksposisi kausal (Dalman,
2011: 134). Namun pola pengembangan yang sering digunakan dalam
penulisan karya ilmiah eksposisi proses, eksposisi grafik, eksposisi
perbandingan, dan eksposisi identifikasi.
1) Eksposisi proses adalah karangan eksposisi yang menjelaskan teknik
pembuatan tertentu.
2) Eksposisi grafik adalah karangan eksposisi dengan menjelaskan grafik
/ bagan sehingga pembaca dapat mengetahui dan memahi isi dari
sebuah grafik / bagan.
3) Eksposisi perbandingan adalah karangan eksposisi yang menunjukkan
persamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih dengan
17
menggunakan dasar-dasar tertentu. Misalnya resep masakan atau
pembuatan suatu barang.
4) Eksposisi identifikasi adalah karangan eksposisi yang menentukan
identitas suatu hal.
Perlu kiranya dipertegas kembali bahwa karangan eksposisi adalah
karangan yang memaparkan suatu hal yang bertujuan untuk memperkaya
pengetahuan dan wawasan si pembaca. Dalam hal ini, penulis karangan
eksposisi perlu memperkaya diri terhadap tulisannya dengan cara banyak
membaca literatur (kajian pustaka) dan melakukan kajian
lapangan,
sehingga ia mampu menulis karangan eksposisi dengan baik.
Tujuan penulisan eksposisi adalah hanya semata-mata menambah
pengetahuan dan wawasan pembaca. Jadi, karangan ini tidak untuk
mempengaruhi pembaca. Apabila setelah si pembaca menyelesaikan
bacaannya, lalu ia bereksperimen atau menerapkan seperti yang
dibacanya, itu adalah haknya. Dalam hal ini penulis karangan eksposisi
tidak
akan
ikut
campur
terhadap
keinginan
pembaca
untuk
mengaplikasikan hasil bacaannya. Misalnya, setelah membaca karangan
eksposisi tentang “cara membuat tempe”. Tujuan utama si penulis
karangan eksposisi memaparkan tentang cara membuat tempe hanya
semata-mata untuk menambah pengetahuan dan wawasan pembaca
tentang cara membuat tempe. Jadi karangan tersebut ditulis bukan
bertujuan untuk mempengaruhi pembaca agar membuat tempe.
2. Hakikat Strategi Pembelajaran Inkuiri
a. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi berasal dari bahasa Yunani strategos yang berarti jenderal
atau panglima, sehingga diartikan sebagai imu kejendralan atau ilmu
kepanglimaan.
Pada awalnya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang
diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk
memenangkan suatu peperangan. Seorang yang berperan dalam mengatur
18
strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu
tindakan, ia akan menimbang bagaiamana kekuatan pasukan yang
dimilikinya baik dilihat dari kualitas maupun kuantitas; misalnya
kemampuan setiap personil, jumlah dan kekuatan persenjataan, motivasi
pasukannya, dan lain sebagainya. Selain itu ia juga akan mengumpulkan
informasi tentang lawan baik persenjataan maupun jumlah prajuritnya.
Demikian pula halnya dengan seorang pelatih sepak bola, ia akan
menentukan strategi yang dianggapnya tepat untuk memenangkan suatu
pertandingan setelah ia memahami segala potensi yang dimiliki timnya
serta memahami kondidi tim lawan. Dengan demikian dalam menyusun
strategi perlu memperhitungkan berbagai faktor, baik ke dalam maupun
ke luar.
Dari dua ilustrasi tersebut dapat kita simpulkan, bahwa strategi
digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan mencapai
tujuan.
Dalam dunia pendidikan, menurut David (1976) strategi diartikan
sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a
perticular educational goal (Sanjaya, 2009: 126). Jadi, dengan demikian
strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi
tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas.
Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian
kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai
sumber daya / kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun
untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan
penyusunan
langkah-langkah
pembelajaran,
pemanfaatan
berbagai
fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian
tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan
tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adlah
rohnya dalam implementasi suatu strategi.
19
Gerlach dan Ely mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
merupakan
cara-cara
pembelajaran.
yang
Selanjutnya
dipilih
mereka
untuk
menyampaikan
menjabarkan
bahwa
materi
strategi
pembelajaran dimaksudkan meliputi; sifat, lingkup, dan urutan kegiatan
pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa
(Ngalimun, 2012: 5).
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah
suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada
dengan pendapat Kemp, Dick and Carey (1985)
juga menyebutkan
bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur
pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan
hasil belajar pada siswa (Sanjaya 2006: 126).
Gulo (2005: 3) mengungkapkan strategi pembelajaran adalah
rencana dan cara-cara membawa pengajaran agar prinsip dasar dapat
terlaksana dan segala tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif. Caracara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum
perbuatan guru-murid dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar.
Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran adalah cara yang dipilih oleh guru dalam menyampaikan
pembelajaran kepada siswa, agar dapat tercapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan secara efektif serta efisien denga cara membawa pola ajar
untuk mewujudkan tujuan belajar mengajar. Pola ajar tersebut merupakan
suatu kerangka umum kegiatan belajar mengajar yang tersusun dalam
rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan.
b. Pengertian Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran dapat kita golongkan dalam dua kutub yang
ekstrem. Di satu pihak ialah strategi pembelajaran dimana siswa terlibat
secara maksimal dalam usaha mencari dan menemukan, sedangkan pada
kutub lain keterlibatan siswa sangat terbatas pada menerima informasi
dimana peranan guru sangat dominan. Yang pertama kita sebut strategi
20
inkuiri atau discovery, dan yang lain kita sebut strategi ekspositori. Inkuiri
yang dalam bahasa Inggris inquiry, berarti pertanyaan atau pemeriksaan,
penyelidikan (Gulo, 2005: 84).
Menurut Ngalimun (2012) strategi pembelajaran inkuiri adalah
suatu strategi yang membutuhkan siswa menemukan sesuatu dan
mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah dalam suatu penelitian
ilmiah. Sedangkan menurut Marsh (1991) strategi pembelajaran inkuiri
adalah strategi pengajaran di kelas yang memerlukan pembelajar
menggunakan operasi intelektual yang sama yang akan digunakan siswa
jika dia terlibat dalam suatu penelitian ilmiah yang mandiri (Ngalimun,
2012: 34).
Sanjaya (2006: 196) juga berpendapat bahwa strategi pembelajaran
inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara
guru dan siswa. Strategi pembelajaran inkuiri disebut juga strategi
heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu heuriskein yang berarti
saya menemukan.
Gulo (2005: 84-85) menyatakan bahwa strategi pembelajaran
inkuiri yaitu suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat
merumuskan
sendiri
penemuannya
dengan
penuh
percaya
diri.
Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
mengajar dimana kegiatan tersebut ialah kegiatan mental intelektual dan
emosional.
Menurut jurnal internasional yang ditulis oleh Avsec & Kojijancic
(2015: 309) mengemukakan “Inquiry-Based Learning is a learnercentered approach where critical thinking, problem solving, and
communication abilities are more important than simply having knowledge
21
about the content of learnin.”. (Pembelajaran Berbasis Inkuiri adalah
pendekatan berpusat pada peserta didik di mana pemikiran kritis,
pemecahan masalah, dan kemampuan komunikasi yang lebih penting dari
sekedar memiliki pengetahuan tentang isi pembelajaran).
Berdasarkan uraian dari
beberapa
pendapat
diatas,
dapat
disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri adalah suatu cara
penyampaian pembelajaran yang menekankan pada proses bepikir kritis
yang membutuhkan siswa untuk menemukan serta merumuskan sendiri
jawaban dari masalah dalam penelitian ilmiah yang ingin diselesaikannya.
Strategi ini sangat membutuhkan keterlibatan siswa untuk mendalami dan
memahami masalah yang dihadapinya.
c. Ciri-Ciri Strategi Pembelajaran Inkuiri
Sanjaya (2006: 196-197) mengemukakan ada beberapa hal yang
menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, antara lain:
1) Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal
untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan
siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak
hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru
secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti
dari materi pelajaran itu sendiri.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan,
sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan
guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan
motivator belajar siswa.
3) Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya
jawab antar guru dan siswa. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam
menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam
melakukan inkuiri.
22
4) Tujuan dari penggunaan
strategi pembelajaran inkuiri adalah
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan
kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran
inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran
akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang
dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu
dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Namun
sebaliknya,
siswa
akan
dapat
mengembangkan
kemampuan
berpikirnya manakala ia bisaa menguasai materi pelajaran.
d. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan stretgi pembelajaran yang
banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan.
Menurut Sanjaya (2006: 208) beberapa keunggulan strategi ini adalah :
1) Strategi inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan
kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik
secara seimbang. Sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap
lebih bermakna.
2) Strategi inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar
sesuai dengan gaya belajar mereka.
3) Strategi inkuiri yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi
belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan
tingkah laku berkat adanya pengalaman.
4) Strategi inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki
kemampuan di atas rata-rata. Artinya siswa yang memiliki
kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang
lemah belajar.
Menurut Marsh (1991) dalam Ngalimun (2012: 41) kelebihannya
antara lain :
1) Ekonomis dalam menggunakan pengetahuan, hanya pengetahuan yang
relevan dengan sebuah isu yang diamati.
23
2) Memungkinkan siswa dapat memandang konten (isi) dalam sebuah
cara yang lebih realistik dan positif karena mereka dapat menganalisis
dan menerapkan data untuk pemecahan masalah.
3) Secara instrinsik, strategi ini sangat memotivasi siswa. Siswa akan
termotivasi oleh dirinya sendiri untuk merefleksikan isu-isu tertentu,
mencari data-data yang relevan dan membuat keputusan-keputusan
yang sangat berguna bagi dirinya sendiri.
4) Strategi inkuiri memungkinkan hubungan guru dan siswa lebih hangat
karena guru lebih bertindak sebagai fasilitator pembelajaran dan
kurang mengarahkan aktivitas-aktivitas yang didominasi guru.
5) Strategi inkuiri memberikan nilai transfer yang unggul jika
dibandingkan dengan metode-metode lainnya.
Disamping
memiliki
keunggulan
atau
kelebihan,
strategi
pembelajaran inkuiri juga pasti mempunyai kekurangan. Sanjaya (2006:
208-209) mengungkapkan kekurangan strategi ini yaitu :
1) Jika strategi inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran, makan
akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2) Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena
terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3) Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu
yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan
waktu yang telah ditentukan.
4) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan
siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi inkuiri akan sulit
diimplementasikan oleh setiap guru.
Menurut Marsh (1991) dalam Ngalimun (2012: 41) kelemahan lain
strategi inkuiri, antara lain :
1) Strategi ini memerlukan jumlah jam pelajaran kelas yang banyak dan
juga waktu di luar kelas dibandingkan dengan metode pembelajaran
lainnya.
24
2) Pendekatan ini memerlukan proses mental yang berbeda, seperti
perangkat analitik dan kognitik. Hal ini mungkin kurang berguna
untuk semua bidang pembelajaran.
3) Strategi ini dapat berbahaya jika dikaitkan dengan beberapa problema
inkuiri terutama isu-isu kontroversial.
4) Siswa lebih menyukai pendekatan bab per bab yang tradisional.
5) Strategi ini sulit untuk dievaluasi dengan menggunakan tes prestasi
tradisional.
e. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Inkuiri
Menurut Sanjaya (2009: 201), secara umum proses pembelajaran
strategi inkuiri meliputi: 1) orientasi 2) perumusan masalah, 3) pengajuan
hipotesis, 4) pengumpulan data, 5) pengujian hipotesis, 6) penarikan
kesimpulan. Adapun penjelasannya di bawah ini :
1) Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan
siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran. Langkah orientasi
merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan strategi inkuiri
sangat
bergantung
pada
kemauan
siswa
untuk
beraktivitas
menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Tanpa
kemauan dan kemampuan itu tidak mungkin proses pembelajaran
akan berjalan dengan lancar. Beberapa hal yang dapat dilakukan
dalam tahapan orientasi ini adalah :
a) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan
dapat dicapai oleh siswa.
b) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh
siswa untuk mencapai tujuan.
c) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
2) Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu
persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan
25
adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan
teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam merumuskan masalah yang
ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa
disorong untuk mencari jawaban yang tepat. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya :
a) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan
memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam
merumuskan masalah yamg hendak dikaji.
b) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki
yang jawabannya pasti.
c) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah
diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
3) Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji
kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap
anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat
mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau
dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari
suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan
sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang
kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan
logis.
4) Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi
inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat
penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data
bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan
tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan
26
potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahap
ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong
siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5) Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap
diterimah sesuai denga data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji
hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang
diberikan.
Disamping
itu,
menguji
hipotesis
juga
berarti
mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran
jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan
tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
6) Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan
kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering
terjadi, oleh karena banyaknya data diperoleh, menyebabkan
kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang
hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang
akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana
yang relevan.
Adapun secara interaktif langkah inkuiri dapat dilihat pada
gambar 2.1 berikut ini :
27
Orientasi
Menarik
Kesimpulan
Merumuskan
Masalah
Merumuskan
Hipotesis
Siswa
Menguji
Hipotesis
Mengumpulkan
Data
Gambar 2.1 Proses Inkuiri
Sumber : Gulo (2005: 94)
f. Respon Siswa Terhadap Strategi Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri sebagai salah satu strategi yang
berorientasi pada siswa (student oriented learning) mampu menumbuhkan
minat belajar siswa secara aktif. Dengan melibatkan siswa secara aktif
diharapkan akan terjadi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan
(Hamdani, 2011: 108). Pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila mutu
belajar meningkat. Meningkatnya mutu belajar terjadi apabila interaksi
dalam pembelajaran terjadi baik pula.
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah
satu bentuk interaksi antara guru dan siswa yang terjadi ketika penerapan
strategi inkuiri dikelas.umpan balik hendaknya lebih untuk menguatkan
daripada melemahkan siswa. selain itu, cara memberikan umpan balik pun
harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri
dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten
memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan.
Hal ini lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada sekedar
angka.
28
g. Sistem Sosial Strategi Inkuiri
Suchman (Bruce & Joyce, 2009: 122) berpendapat bahwa dalam
strategi pembelajaran inkuiri, iklim kooperatif sangatlah dianjurkan oleh
karena siswa benar-benar dilibatkan dalam pembelajaran. Siswa perlu
menghipotesis secara cermat, menantang atau menguji bukti, mengkritisi
rancangan pengamatan, dan sebagainya. Selain itu siswa juga harus
mengakui pengetahuan tentatifnya dan berkembang dengan baik sebagai
suatu disiplin ilmiah yang telah berkembang dengan baik.
Guru sebagai fasilitator juga mendorong siswa untuk mulai
mengawali, memprakarsai, dan menjalankan penelitian sebisa mungkin.
Setelah satu periode praktik dalam sesi-sesi latian penelitian yang
dikontrol oleh guru, siswa dapat melakukan penelitian dalam setting yang
dikontrol oleh mereka sendiri. Suatu peristiwa yang merangsang
keingintahuan mulai bisa dirancang dalam kelas, dan siswa dapat
menelitinya sendiri dalam bentuk kelompok. Bergiliran antara sesi
penelitian yang berjalan terus-menerus dengan sesi pengumpulan data
berdasarkan materi-materi sumber. Dengan cara ini, siswa dapat bergerak
mundur dan maju antara sesi-sesi penelitian dengan kajian yang
dilakukannya secara mandiri. Model penelitian ini khususnya cocok pada
suasana kelas yang terbuka, dimana peran guru adalah mengendalikan dan
memantau pengajaran saja.
Dalam tahap awal penelitian, peran guru adalah memilih situasi
permasalahan,
menengahi
penelitian
menurut
prosedur-prosedur
penelitian, merespon penjajakan penelitian siswa dengan informasi yang
penting, membantu para peneliti pemula untuk fokus dalam penelitian
mereka,
dan
memfasilitasi diskusi
antara siswa
tentang
situasi
permasalahan tersebut.
h. Sarana Pendukung Strategi Inkuiri
Strategi inkuiri memerlukan dukungan yang optimal, yakni
seperangkat bahan/materi yang mengonfrontasi, seorang guru yang
memahami proses intelektual dan strategi penelitian, dan materi-materi
29
sumber yang menopang suatu permasalahan (Bruce & Joyce, 2009: 125).
Salah satu sistem sarana pendukung yang dibutuhkan dalam strategi ini
adalah seorang instruktur yang fleksibel dan terampil dalam proses
penelitian yang dapat menyediakan sumber-sumber data yang dibutuhkan
untuk melaksanakan penelitian. Selain itu, sistem sarana pendukung yang
lain adalah adanya perangkat-perangkat yang memadai untuk melancarkan
penerapan pengamatan yang dilakukan siswa.
3. Penelitian yang Relevan
Penelitian ini akan lebih kuat dengan adanya hasil penelitian yang
relevan. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan oleh Septiana Ika Wulandari (2015). Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Septiana menunjukkan bahwa penerapan model kooperatif
tipe Think Talk Write dapat meningkatkan keterampilan menulis eksposisi
siswa kelas V SD Negeri Bangsalan Teras Boyolali tahun ajaran 2014/2015.
Adapun data penelitiannya adalah pelaksanaan tindakan siklus I rata-rata
proses belajar siswa secara klasikal adalah 72,22% dikategorikan cukup baik
dan pada siklus II meningkat dari 72,22% menjadi 88,89% sehingga
dikategorikan baik sekali. Keterampilan siswa dalam menulis eksposisi pada
siswa kelas V SD Negeri Bangsalan Teras Boyolali juga mengalami
peningkatan. Pada pelaksanaan siklus I rata-rata kelas 73,5 dan siklus II
meningkat menjadi 77,28. Penelitian ini memiliki kesamaan variabel, yaitu
sama-sama membahas tentang keterampilan menulis eksposisi.
Penelitian kedua yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian
yang dilakukan oleh Uni Apriyani (2013). Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Uni menunjukkan bahwa penerapan model inkuiri dapat
meningkatkan pemahaman konsep batuan pada siswa kelas V SD Negeri 01
Tohudan Colomadu Karanganyar tahun ajaran 2012/2013. Adapun data
penelitiannya adalah pelaksanaan tindakan siklus I rata-rata proses belajar
siswa secara klasikal adalah 72,22% dikategorikan cukup baik dan pada
siklus II meningkat dari 72,22% menjadi 83,33% sehingga dikategorikan baik
30
sekali. Pada pelaksanaan siklus I rata-rata kelas 71,27 dan siklus II meningkat
menjadi 79,33. Penelitian ini memiliki kesamaan variabel, yaitu sama-sama
membahas tentang pembelajaran inkuiri.
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan saat proses pembelajaran
diperoleh kesimpulan bahwa keterampilan siswa kelas V SD Negeri Karangasem
IV No. 204 Laweyan Surakarta dalam menulis eksposisi dinilai dalam kategori
rendah. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru selama ini
masih
konvensional
karena
didominasi
ceramah
sehingga
belum
bisa
mengoptimalkan keterampilan siswa dalam menulis eksposisi.
Bertolak dari permasalahan di atas, diperlukan suatu tindakan
pembelajaran dengan menggunakan strategi yang dapat menjadikan peserta didik
berpartisipasi secara aktif sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa. Salah
satu strategi yang dapat digunakan adalah strategi pembelajaran Inkuiri. Strategi
ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa karena dianggap sesuai
dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah
proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Pembelajaran yang
awalnya dianggap membosankan, akan menjadi pembelajaran yang menarik dan
peserta didik akan lebih mudah memahami materi karena siswa akan terlibat
dalam memecahkan sendiri masalah yang ia hadapi melalui pengalaman dan
pengamatan.
Pada kondisi akhirnya nanti dalam penelitian ini dapat diperoleh hasil
bahwa
penggunaaan
strategi
pembelajaran
Inkuiri
dapat
meningkatkan
keterampilan menulis eksposisi pada siswa kelas V SD Negeri Karangasem IV
Laweyan Surakarta. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat
pada gambar 2.2 berikut :
31
Kondisi
Awal
Tindakan
Guru mengajar dengan
pendekatan pembelajaran
konvensional
Guru menerapkan
strategi pembelajaran
Inkuiri dalam
pembelajaran materi
menulis eksposisi
Keterampilan menulis
eksposisi siswa kelas
V SD N Karangasem
IV masih rendah
Siklus I
1.
2.
3.
4.
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi
Siklus II
1.
2.
3.
4.
Kondisi
Akhir
Penerapan strategi
pembelajaran Inkuiri dapat
meningkatkan keterampilan
menulis eksposisi siswa
kelas V SD Negeri
Karangasem IV No. 204
Laweyan Surakarta
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi
Siklus III
1.
2.
3.
4.
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi
32
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori, penelitian yang relevan, dan kerangka berpikir
yang telah diuraikan diatas, maka dalam penelitian ini dapat dikemukakan
hipotesis sebagai berikut:
1. Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan keterampilan
menulis eksposisi pada siswa kelas V SD Negeri Karangasem IV No.204
Laweyan Surakarta tahun ajaran 2015/2016.
2. Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri yang mengoptimalkan modalitas
belajar inkuiri melalui tahap orientasi, perumusan masalah, perumusan
hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan perumusan kesimpulan
dapat meningkatkan keterampilan menulis eksposisi pada siswa kelas V SD
Negeri Karangasem IV No.204 Laweyan Surakarta tahun ajaran 2015/2016.
Download